TUGAS PENANGANAN LIMBAH CAIR


TUGAS
PENANGANAN LIMBAH CAIR



DISUSUN OLEH :
SELLA OKTA VIANI
TINGKAT 1
REGULER 1
NIM : 1813453037







POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT  yang  telah melimpahkan  rakhmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun  makalah  ini.
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak oleh karena itu  kami  menyampaikan rasa hormatdan terikakasih kepada Teman-teman  yang  memberikan dukungan penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari,bahwa makalah ini masih banya kkekurangan maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari anda sekalian demi menambah sempurnanya makalah ini semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi  kami  semua.



Bandar Lampung, 06 Juni 2018



Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB PENDAHULUAN.................................................................................. 1
A.    Latar Belakang..................................................................................... 1
B.     Tujuan................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 2
A.    Menjelaskan indikasi rujukan............................................................. 2
B.     Mengerjakan tindakan pertolongan pertama pada gigi dengan keluhan sakit4
C.     Mengidentifikasi jaringan keras gigi.................................................. 6
BAB III PENUTUP
A.  Kesimpulan........................................................................................... 12
B.  Saran..................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..13



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keadaan suatu daerah tidak selalu sama dengan keadaan didaerah lainnya, dan kondisi masyarakat disuatu saat berbeda dari saat lainnya. Masalah-masalah kesehatan dan cara penanganannya senantiasa berubah dan berkembang mengikuti perkembangan kemasyarakatan dan ilmu/teknologi. Banyak factor yang mempengaruhi kesehatan masyarakat di dunia ini.

B.     Tujuan
Untuk mengetahui factor factor yang mempengaruhi kesehatan



BAB II
PEMBAHASAN

MENJELASKAN INDIKASI RUJUKAN

Upaya kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari upaya kesehatan secaramenyeluruh yang penyelenggaraannya terintegrasi secara lintas program dan lintas sektoral.Rujukanupaya kesehatan gigi dan mulut.dilaksanakan melalui pelayanan medik gigidasar sampai dengan spesialistik. Banyak faktor yang mempengaruhi terselenggaranya rujukanupaya kesehatan gigi dan mulut, antara lain faktor lingkungan, geografi, transportasi, sosialekonomi dan sosial budaya.Tujuan umumnya adalah terwujudnya suatu tatanan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yangmerata, terjangkau ,bermutu, berdaya guna dan berhasil guna. Sedangkan tujuan khususnya, agarmantapnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut di setiap jenjangpelayanan kesehatan yang berlaku. Terwujudnya alur (arus) rujukan medik gigi dan rujukan kesehatan gigi. Sasaran sistem upaya rujukan gimul ialah setiap institusi pelayanan kesehatan pemerintah dan swasta.
A. Rujukan Medik Gigi :
 1.Rujukan kasus dengan atau tanpa pasien, untuk keperluan diagnostik, pengobatan,tindakan operatif dan pemulihan (model rahang)
2.Rujukan spesimen, untuk pemeriksaan penunjang /tambahan.
3.Rujukan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK); mendatangkan atau mengirimtenaga/ahli yang kompeten untuk memberikan dan mendapatkan bimbingan pengetahuandan ketrampilan kesehatan gigi dan mulut (gimul).
B. Rujukan Kesehatan Gigi :
 1.Bantuan teknologi berupa teknologi tepat guna, cukup sederhana, dapat dikuasai dandilksanakan, serta terjangkau masyarakat. Contoh: cara menyikat gigi yang baik danbenar, bentuk-bentuk sikat gigi yang benar.
2.Bantuan sarana berupa alat-alat, buku-buku, brosur, poster-poster,
leaflet-leaflet.
 3.Bantuan operasional berupa dana operasional dan pemeliharaan peralatan kesehatan gigidan mulut, terutama pada unit pelayanan kesehatan terdepan di poli gigi puskesmas.
(dikutip dari Buku Pedoman Rujukan Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut, Direktorat KesehatanGigi, Dirjen Pelayanan Medik, Depkes RI, Jakarta, 1994, hal. 2-3).
5 Indikasi Rujukan Kesehatan Gigi dan Mulut
Sesuai dengan sistem upayarujukan kesehatan gigi dan mulut (gimul), khususnya dalam pelayanan poli gigi puskesmas, perlu dikembangkan upaya rujukan medic gigi dan rujukankesehatan gigi yang terpadu.Setiap kasus yang akan dirujuk tetap memerlukan panduan mengenai bagaimana tata caranyamelakukan rujukan kasus gimul yang ada di wilayah kerja puskesmas.Rujukan kasus ini menyesuaikan dengan kondisi darimana kasus gimul tersebut didapatkan.Apakah berasal dari pelayanan jejaring puskesmas (luar gedung) ataukah dari pelayanan luargedung puskesmas (poli umum atau poli KIA-KB).Untuk efektifitas pelayanan kesehatan gimul, perlu diperhatikan indikasi rujukannya, antara lain:
1. Rujukan Kasus Dengan Atau Tanpa Pasien :
Dari posyandu/sekolah/pustu ke puskesmas,indikasinya :semua kelainan/kasus/keluhanyang ditemukan pada jaringan keras dan jaringa lunak didalam rongga mulut Dari poli gigi puskesmas ke rumah sakit yang lebih mampu,indikasinya :semuakelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi, perawat gigi) dipuskesmas yang memerlukan tindakan diluar kemampuannya.
2. Rujukan Model (Prothetic Atau Orthodonsi) : 
Indikasinya :pelayanan kesehatan gigi yang memerlukan pembuatan prothesa termasuk mahkota dan jembatan,
 plat orthodonsi, obturator, feeding plate, inlay, onlay, uplay
3. Rujukan Spesimen :
Indikasinya : semua kelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi,perawat gigi) di puskesmas yang memerlukan pemeriksaan penunjangdiagnostik/laboratorium sehubungan dengan kelainan dalam rongga mulutnya.
4. Rujukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi :
Indikasinya :keadaan dimana dibutuhkan peningkatan ilmu pengetahuan dan atauketrampilan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, agar dapat memberikan pelayanan yanglebih optimal.
5. Rujukan Kesehatan Gigi :
Indikasinya :semua kegiatan peningkatan promosi kesehatan dan pencegahan kasus yangmemerlukan bantuan teknologi, sarana dan biaya operasional.Dengan memperhatikan tata cara alur rujukan kasus gigi dan mulut tersebut, diharapkan berbagaimasalah kesehatan gimul yang terdapat di wilayah kerja puskesmas dapat teratasi dengan baik.

MENGERJAKAN TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA GIGI DENGAN KELUHAN SAKIT
Kegawatdaruratan gigi
Kegawatdaruratan gigi dapat terjadi karena adanya kecelakaan yang dialami oleh penderita. Akibat kecelakaan tersebut dapat menimbulkan adanya robekan, luka pada gigi,mulut ataupun gusi yang pada akhirnya muncul pendarahan atau pembengkakan gigi.
Terdapat beberapa pembahasanyang akan diulas terkait dengan kedaruratan gigi yaitu:
Sakit Gigi
Sakit gigi pada umumnyatimbul akibat gigi berlubang dan gangguan pada bagian gusi. Selain itu sakit gigi dapat juga disebabkan adanya kelainan laindari bagian luar gigi, seperti kelainan padatelinga, hidung, bahkan bisa juga disebabkan adanya kelainan pada jantung.
Pertolongan pertama sebelum memutuskan meminta pertolongan dokter untuk menangani masalah sakit gigi ini antara lain adalah:
  1. Konsumsi paracetamol atau aspirin. Penggunaan obat-obatan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan dari gejala sakit gigi, yang perlu digarisbawahi adalahobat jenis aspirin tidak diperbolehkan diberikan pada anak-anak karena dapat memicu komplikasi serius.
  2. Menghindari konsumsi makanan dan minuman manis, pedas, panas serta dingin. Makanan yang terllau manis, pedas, dingin, dan panasdapat menyebabkan iritasi gigi dan akan semakin meningkatkan kadar rasa sakit.
  3. Berkumur menggunakan air hangat yang dicampur garam pada tiap jam.
  4. Sakit gigi yang disebabkan gigi berlubang dapatmenutup bagian gigi berlubang dengan menggunakan kapas yang dibasahi minyak cengkeh.
  5. Jika sakit gigi belum juga reda, baru ambil langkah untuk pergi ke dokter.

Gigi patah
Gigi patah dapat disebabkan oleh adanya beberapa keadaan seperti lepasnya gigi pada bagian email gigi atau lepasnya gigi pada seluruhbagian mahkota gigi.
Adapun pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk mengobati gigi patah adalah:
  1. Mengompresbagian gigi yang patah dengan menggunakan kain yang telah dibasahi air dingin. Mengompres gigi dengan mempergunakan air dingin ini bermanfaat untuk meminimalisir pembengkakan.
  2. Menyimpan patahan gigi ke dalam tempat yang di dalamnya terdapat susu cair.Patahan gigi juga dapatdibungkus dengan menggunakan kain yang basa
  3. Segera pergi ke dokter gigi.
Gigi tanggal
Gigi tanggal dapat terjadi karena faktor ketidaksengajaanyang diakibatkan oleh pukulan ataupunterjatuh dan pertolongan pertama untuk gigi tanggal dapat digolongkan berdasarkan pada usia gigi, termasuk gigi permanen atau gigi susu.
Jika gigi yang tanggal merupakan gigi susu, yakni gigi pada anak yang berusia kurang dari 7tahun, maka pertolongan pertama yang harus dilakukan adalahmengompres bagian tempat gigitanggal dengan menggunakan air dingin. Jika anak tidak keberatan, anak dapat diminta untuk mengulum es batu untuk mengurangi pembengkakan.
Sementara jika gigi yang tanggal adalah gigi permanen atau gigi orang dewasa, maka gigi yang tanggal ini dapat dipasangkan kembalipada tempatnya dan jika masih dalam jangka waktu kurang dari 20 menit dapat segera pergi ke dokter gigi.
Untuk pertolongan pertama yang dapat dilakukan antara lain adalah:
  1. Pegang gigi yang tanggal pada bagian mahkotanya, bukan pada bagian akar.
  2. Hindari atau jangan membersihkan atau menggosokgigi dengan menggunakan benda apapun.
  3. Bilas gigi dengan menggunakan air dingin yang mengalir selama ±10 detik.
  4. Jika masih memungkinkan, tempatkan gigi kembali pada tempat semula.Selanjutnya gigit kain yang telah dibasahi air dingin untuk menahan gigi yang tanggal kembali pada posisi semula.
  5. Jika langkah-langkah di atas tidak cukup membantu, segera masukkan gigi pada tempat yang berisi susu cair atau biarkan tetap berada dalam mulut.
  6. Segera pergi ke dokter gigi.

MENGIDENTIFIKASI JARINGAN KERAS GIGI

HIPERSENSITIVITAS GIGI
Hipersentivitas gigi, sensitivitas dentin atau hipersensitivitas sering digunakan untuk mendeskripsikan kondisi klinis dari respon berlebihan dari stimulus exogen.
        Stimulus exogen termasuk thermal, taktil, atau perubahan osmotik. Yang mana stimulus ekstrim dapat membuat semua gigi sakit. Kata hipersensitivitas berarti respon sakit pada stimulus tidak normal yang berhubungan dengan nyeri (Garg,2010). Nyeri sering di deskripsikan “sebagai sensori tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan yang sebenarnya atau berpotensi terjadi kerusakan jaringan (Garg,2010)
Hipersensitivitas dentin terjadi karena terbukanya dentin yang pada umumnya disebabkan karena resesi gingiva akibat kesalahan menyikat gigi sehingga terjadi abrasi dan erosi. Pada umumnya terjadi di bagian servikal gigi dengan gejala sakit atau ngilu apabila terjadi kontak dengan rangsangan dari luar seperti panas dingin, dehidrasi (hembusan udara), asam, maupun alat alat kedokteran gigi misalnya sonde, pinset, dan lain-lain. Bagi penderita rasa ngilu itu merupakan suatu gangguan, dimana secara tidak langsung akan menimbulkan masalah lain seperti terganggunya pembersihan gigi dan mulut, sehingga kebersihan mulut kurang sempurna yang akhirnya akan menyebabkan kelainan periodontal. Untuk mencegah terjadinya kelainan lebih lanjut maka hipersensitivitas dentin perlu dirawat.(Prijantijo, 1996).
Reaksi hipersensitifitas pada gigi sering dikaitkan dengan teori hidrodinamik. Teori hidrodinamik pada sensitifitas dentin adalah proses penerusan perpindahan cairan dentin ke tubulus dentin, yang mana merupakan perpindahan ke salah satu arah yaitu ke arah luar (permukaan) atau ke arah dalam (pulpa) dan menstimulasi nervus sensoris pada dentin atau pulpa. Gerakan cairan sangat cepat dan terjadi sebagai respon terhadap perubahan temperatur, tekanan, atau mekanik yang menghasilkan deformasi mekanis pada odontoblas dan saraf di dekatnya (Ingle, 2002) . Teori hidrodinamik menjelaskan reaksi rasa sakit pulpa terhadap panas, dingin, pemotongan dentin, dan probing dentin. Panas mengembangkan cairan dentin, sedang dingin mengerutkan cairan dentin, memotong tubuli dentin memungkinkan cairan dentin keluar, dan melakukan probing pada permukaan dentin yang dipotong atau terbuka dapat merusak bentuk tubuli dan menyebabkan gerakan cairan. Semua rangsangan ini mengakibatkan gerakan cairan dentin dan menggiatkan ujung saraf.(Grossman, 1988).
Pada dasarnya dentin bersifat sensitif karena secara struktural mengandung serabut saraf yang berjalan dalam tubulus dari arah pulpa. Namun kesensitifan ini tidak menimbulkan masalah karena adanya jaringan lain yang melindungi dentin yaitu tubulus, enamel, dan ginggiva. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa tubulus dentin pada pesien dengan dentin hypersensitivity ditemukan lebih banyak dan berkembang dibandingkan dengan orang normal.Hasil ini selaras dengan hipotesis bahwa rasa nyeri dimediasi oleh mekanisme hidrodinamik. (Orchardson and Gillam, 2006).

Erosi gigi dapat meningkatkan sensitivitas dari dentin sehingga gigi lebih sensitif saat terpapar rangsangan, terutama rangsangan  suhu.   Keadaan   ini   sering   disebut   hipersensitivitas   dentin   yang   semakin   hari semakin   sering   dijumpai.   Hipersensitivitas   dentin   ini   dapat   diketahui   dari  intensitas   nyeri   yang   dihasilkan.   Semakin   berat   hipersensitivitas   dentin   yang terjadi, semakin berat pula intensitas nyeri yang dihasilkan.(Mitchell, 2004).
Gigi sensitif diakibatkan oleh terbukanya lapisan dentin. Ketika lapisan dentin terbuka, rangsang termal akan mudah terdeteksi, sehingga akan membuat gigi terasa linu ketika makan/ minum dengan suhu yang dingin. Beberapa perawatan gigi ada juga yang mengakhibatkan gigi sensitif. Di antaranya pemutihan gigi, pembersihan karang gigi / skeling, perawatan kawat gigi, dan penambalan gigi (Ardyan, 2010). Penambalan  gigi harus dilakukan dengan prosedur yang tepat, selain itu menjaga kebersihan mulut tetaplah penting. Gigi yang telah ditambal dan tidak dijaga kebersihannya memungkinkan terjadinya karies sekunder. Karies sekunder ini merupakan karies kompleks yang terbentuk setelah karies primer. Karies sekunder akan berakhibat terbukanya lapisan dentin lebih dalam menuju pulpa, sehingga rangsang termal akan lebih mudah masuk ke ujung saraf di pulpa, akhibatnya sensitifitas gigi akan meningkat. ( David, 2008 ).

PULPITIS
        Pulpa adalah organ formatif gigi dan membangung dentin primer selama perkembangan gigi, dentin sekunder setelah erupsi dan dentin reparative sebagai respon terhadap stimulasi selama odontoblas tetpau utuh. Pulpa bereaksi terhadap stimuli panas dan dingin yang hanya dirasakan sebagai rasa skait. Pulpa biasanya tahan terhadap sushu sekitar 16 derajat celcius dan 55 derajat celcius yang dikenakan secara langsung pada daerah superfisial. Rasa sakit merupakan suatu reaksi protektif yang menjadi tanda bahwa terjadi suatu peradangan atau kerusakan pada pulpa. Apabila terjadi kerusakan pada pulpa sangat kecil kemungkinan untuk kembali seperti semula. Semua ini tergantung pada aktivitas seluler, suplai nutrisi, usia, metabolik dan parameter fisiologis yang lainnya.
        Etiologi yang sering didapatkan pada kerusakan yang terjadi pada pulpa adalah fisis (mekanis ,thermal, listrik, dan radiasi), kimiawi (asam fosfat, monomer akriik, erosi akibat asam) dan bacterial (toksin yang diproduksi oleh bakteri, invasi bakterial secara langsung kedalam pulpa, dan kolonisasi microbial didalam pulpa).
        Pupitis adalah keadaan dimana daerah pulpa mengalami inflamasi akut maupun kronis, sebgian atau seluruhnya dan dapa pula dalam keadaan terinfeksi atau streril. Dua jenis inflamasi pulpa yaitu kronis dan akut :
1.     pulpitis kronis berasal dari pulpa yang terbuka akibat karies atau trauma.
2.     pulpitis akut umunya mengalami rasa sakit yang cepat, sebentar.
Pulpitis itu sendiri ada yang bersifat reversible dan ireversibel. Pulpitis reversible adalah suatu kondisi inflamasi ringan sampai sedang yang disebabkan oleh stimulus noksius, tetapi kemampuan pulpa untuk kembali seperti semula memiliki kemungkinan yang masih besar dan rasa sakit akan hilang bila stimulus dihilangkan. Rasa sakit yang berlangsung sebentar dapat diakibatkan oleh stimulus thermal, trauma maupun stimulus kimiawi. Pulpitis reversible simtomatik ditandain dengan rasa sakit yang tajam, hanya sebentar, lebih sering diakibatkan oleh suhu dingin daripada panas atau oleh udara dingin. Tidak timbul secara spontan dan tidak berlanjut jika etiologi dihilangkan. Perbedaan dengan pulpitis ireversibel adalah dimana pada pulpitis ireversibel rasa sakit yang terjadi biasanya lebih parah dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama, tetap erasa sakit meskipun etiologi telah dihilangkan  dan sering disertai dengan rasa sakit yang spontan. Pulpitis ireversibel biasanya disertain dengan keadaan pulpa yang infeksi.
        Perawatan terbaik untuk pulpitis reversible adalah pencegahan. Perawatan periodik untuk mencegah perkembangan karies, penumpatan awal bila kavitas meluas. Tes vitalitas merupakan suatu hal yang penting untuk memastikan terdapat suatu keadaan nekrosis pada sekitar daerah pulpa atau jaringan sekitarnya. Namun dalam penanganan inflamasi hendaknya dianggap sebagai pulpitis ireversibel.
        Prognosis untuk untuk pulpa adalah baik jika etiologi dihilangkan sedini mungkin. Hal ini berguna untuk mencegah terjadiya perluasan kearah pulpitis ireversibel yang semakin parah
(Grossman, et al., 1988)

RESTORASI
        Pada kasus yang dialami pasien, pasien ingin ditambal sewarna gigi. Hal ini bisa diatasi dengan komposit. Komposit kini telah digunakan dalam restorasi dan dalam memperoleh estetik yang baik, yang sebelumnya menggunakan amalgam (Horsted, et.al. 1999). Sebelum kita melakukan suatu penumpatan alangkah baiknya kita menetukan klasifikasi dari kavitas yang aka kita tumpat tersebut. Adapun klasifikasi kavitas Menurut Black, lesi karies diklasifikasikan menjadi:
–         Kelas I: mengenai pits dan/atau fissure serta berhubungan dengan lesi karies
–        Kelas II: mengenai permukaan proksimal gigi posterior
–        Kelas III: mengenai permukaan proksimal gigi anterior
–       Kelas IV: mengenai permukaan proksimal gigi anterior dan melibatkan sudut incisal
–       Kelas V: mengenai permukaan servikal
(Qualtrough et al, 2005)
RESIN KOMPOSIT
Generasi resin komposit yang kini beredar mulai dikenal di akhir tahun enam puluhan. Sejak itu, bahan tersebut merupakan bahan restorasi anterior yang banyak dipakai karena pemakaiannya gampang, warnanya baik, dan mempunyai sifat fisik yang lebih baik dibandingkan dengan bahan tumpatan lain. Sejak akhir tahun enam puluhan tersebut, perubahan komposisi dan pengembangan formulasi kimianya relatif sedikit.Bahan yang terlebih dulu diciptakan adalah bahan yang sifatnya autopolimerisasi (swapolimer), sedangkan bahan yang lebih baru adalah bahan yang polimerisasinya dibantu dengan sinar. Resin komposit mempunyai derajat translusensi yang tinggi. Warnanya tergantung pada macam serta ukuran pasi dan pewarna yang dipilih oleh pabrik pembuatnya, mengingat resin itu sendiri sebenarnya transparan. Dalam jangka panjang, warna restorasi resin komposit dapat bertahan cukup baik. Biokompabilitas resin komposit kurang baik jika dibandingkan dengan bahan restorasi semen glass ionomer, karena resin komposit merupakan bahan yang iritan terhadap pulpa jika pulpa tidak dilindungi oleh bahan pelapik. Agar pulpa terhindar dari kerusakan, dinding dentin harus dilapisi oleh semen pelapik yang sesuai, sedangkan teknik etsa untuk memperoleh bonding mekanis hanya dilakukan di email perifer.
·      Indikasi restorasi komposit :
Resin komposit dapat digunakan pada sebagian besar aplikasi klinis. Secara umum, resin komposit digunakan untuk:
a.   Restorasi kelas I, II, III, IV, V dan VI
b.   Fondasi atau core buildups
c.   Sealant dan restorasi komposit konservatif (restorasi resin preventif)
d.     Prosedur estetis tambahan
1.     Partial veneers
2.     Full veneers
3.     Modifikasi kontur gigi
4.     Penutupan/perapatan diastema
e.  Semen (untuk restorasi tidak langsung).
f.  Restorasi sementara
g.  Periodontal splinting
            Restorasi kavitas klas I komposit, The American Dental Association(ADA) mengindikasikan kelayakan resin komposit untuk digunakan sebagai pit dan fissure sealant, resin preventif, lesi awal kelas I dan II yang menggunakan modifikasi preparasi gigi konservatif, restorasi kelas I dan II yang berukuran sedang, restorasi kelas V, restorasi pada tempat-tempat yang memerlukan estetika, dan restorasi pada pasien yang alergi atau sensitif terhadap logam.
        ADA tidak mendukung penggunaan komposit pada gigi dengan tekanan oklusal yang besar, tempat atau area yang tidak dapat diisolasi, atau pasien yang alergi atau sensitif terhadap material komposit. Jika komposit digunakan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ADA menyatakan bahwa “ketika digunakan dengan benar pada gigi-geligi desidui dan permanen, resin berbahan dasar komposit dapat bertahan seumur hidup sama seperti restorasi amalgam kelas I, II, dan V. ́
·      Komponen resin komposit :
1.     Komponen resin organik: filler anorganik
2.     Coupling agent untuk menggabungkan resin dan filler
3.     Inisiator dan aktivator untuk mengaktifkan mekanisme setting
4.     InhibitorPigmen dan komponen lainnya
·      Keuntungan penggunaan resin komposit :
1.     Penghubung dengan sistem adesive dentin, dapat ditempatkan dengan minimal atau tanpa preparasi gigi.
2.     Light curing memungkinkan segera dilakukan finishing dan polishing setelah pengisian kavitas (Sherwood, 2010).
3.     Restorasi, jika diletakkan secara tepat pada gigi yang dimaksud maka akan mengurangi marginal linkage yang dapat menyebabkan staining, karies sekunder, dan gigi sensitif.
4.     Operator dapat melakukan refinish, memperbaharui atau merestorasi tambalan tersebut.
Hasilnya lebih konservative dan perawatannya sedikit mungkin menghilangkan bagian gigi.
·      Kerugian penggunaan resin komposit :
1.     Polimerisasi shringkage 2-3% dapat mengganggu marginal adaptasi dari material, fraktur pada tonjol yang lemah terutama pada premolar, dan menghasilkan post-operative sensitivity.
2.     Bonding ke dentin menjadi suatu masalah, terutama pada tepi preparasi, contoh : lantai dibawah box ketika lantai dibawah cemento-enamel junction(CEJ) di preparasi proximal.
3.     Absorbsi air pada permukaan dan marginal staining setelah beberapa tahun perawatan
4.     Sensitivitas pasien dan operator terhadap bahan adesive resin terutama hydroxyethylmethacrylate (HEMA).
5.     Kurang radiopak dibandingkan amalgam pada interpretasi radiografi sehingga sedikit menyulitkan dalam pemeriksaan.

·      Indikasi penggunaan resin komposit :
1.     Kecil, medium, besar restorasi oklusal pada gigi posterior
2.     Kecil, medium, besar pada restorasi proximal pada gigi premolar dan kecil sampai sedang pada preparasi proximal gigi molar permanen.
3.     Lesi cervikal pada semua gigi
4.     Restorasi incisal edge
5.     Fissure sealant dan preventive restorasi resi 
·      Kontraindikasi penggunaan resin komposit
1.     Preparasi proximal yang besar pada gigi molar permanen yang ada tuntutan perbaikan tonjol.
2.     Restorasi lesi karies akar yang lebih baik menggunakan semen ionomer kaca .
3.     Pada pasien yang mempunyai alergi pada satu atau lebih komponen resin-base-restorative-material termasuk adesive sistem.
4.     Kavitas interproxinal yang sangat dalam sehingga sinar tidak dapat mengjangkau.
(Ireland, 2006)
Keluhan pasien yang lain yaitu sisa makanan masih sering terselip di gigi yang ditambal dengan amalgam, ini berarti tambalan dengan amalgam tersebut tidak bagus, dan tidak benar-benar merestorasi karies yang terdapat pada gigi pasien. Hal ini bisa diatasi dengan menumpat lubang-lubang di sela-sela gigi dengan komposit dengan prosedur yang tepat sehingga kejadian seperti tumpatan amalgam yang lalu tidak terjadi lagi. Teknik komposit posterior jauh lebih memerlukan ketepatan teknis dibandingkan restorasi amalgam dan untuk menyelesaikan restorasinya memerlukan waktu lebih banyak (Horsted, et.al. 1999). Material restorasi ini juga bertahan lama, sehingga cenderung memberikan kerapatan yang paling baik (Walton, 2008).


KARIES SEKUNDER
Karies sekunder adalah lesi pada tepi restorasi yang telah ada sebelumnya. Pemeriksaan histologis menunjukan suatu demineralisasi jaringan sepanjang dinding kavitas. Karies sekunder berbeda dengan 3 wall lesions ́ dan merupakan hasil dari suatu microleakage. Dan juga berbeda dengan residual karies yang merupakan sisa jaringan terdemineralisasi yang tertinggal saat preparasi kavitas. Karies sekunder muncul pada area penumpukan plak. Karena alasan inilah, batas cervical dari tambalan yang umumnya terkena (Edwina, 2001).
·      Mekanisme terjadinya karies sekunder
1.     Proses terjadinya karies Menurut Teori Kimia parasit (WD. Miller)
Enzim dalam air ludah seperti amilase, maltose akan mengubah polisakarida menjadi glukose dan maltose. Glukosa akan menguraikan enzim-enzim yang dikeluarlan oleh mikroorganisme terutama laktobasilus dan streptokokus akan menghasilkan asam susu dan asam laktat, maka pH rendah dari asam susu (pH 5,5) akan merusak bahan-bahan anorganik dari email (93 %) sehingga terbentuk lubang kecil (Yuwono, 1993). Predisposisi untuk terjadinya karies gigi yaitu Keadaan gigi yang porus, lunak (Hipoplasia), adanya fisur-fisur yang dalam seperti foramen saekum, posisi gigi yang tidak teratur, pada wanita hamil, penderita penyakit Diabetus militus, rematik dan lain lain
2. Teori endogen-pulpogene phospatase (Csernyei, 1932).
·      Penyebab-penyebab karies sekunder          
Kegagalan restorasi resin komposit yang menyebabkan kebocoran dari resin komposit, dikarenakan:
1.     Perbedaan masing-masing koefisien thermal ekspansi diantara resin komposit, dentin, dan enamel.
2.     Penggunaan oklusi dan pengunyahan yang normal .
3.     Kesulitan karena adanya kelembaban, mikroflora yang ada, lingkungan mulut bersifat asam.
(Hermina, 2003)
4.     Adanya mikroleakage, yang merupakan suatu celah berukuran mikro antara bahan restorasi dengan struktur gigi, sehingga margin restorasi terbuka serta (Yuwono, 1990).
5.     Adaptasi yang buruk, yang menyebabkan masuknya cairan oral, bakteri maupun toksinnya sehingga menyebabkan karies sekunder (Sularsih, 2007).

·      Tindakan restoratif yang bisa dilakukan pada karies sekunder
Diagnosis dari sekunder karies merujuk pada penempatan kembali dari restorasi. Diagnosis dan perawatan harus mengikuti prosedur yang sama seperti lesi karies primer yaitu dengan replacement seluruh restorasi (Mjor,2006).




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Factor factor yang mempengaruhi kesehatan adalah dari berbagai hal,  lingkungan menjadi factor yang utama dalam mempengaruhi kesehatan. Masalah kesehatan merupakan masalah yang mempunyai banyak factor

B.     Saran
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan, maka dari itu kami membutuhkan berbagai masukan-masukan ataupun saran yang bersifat konskruktif untuk memperbaiki pembuatan makalah selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA


Komentar

Postingan Populer