HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018
HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018
Skripsi
Oleh:
DIAH AYU KURNIAWATI NIM: 14331009
POLITEKNIK KESEHATAN LINGKUNGAN TANJUNGKARANG
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KESEHATAN LINGKUNGAN TAHUN 2018
HUBUNGAN
FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN
METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018
Skripsi ini
diajukan sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan pada program
Diploma IV Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang
Oleh:
DIAH AYU KURNIAWATI NIM: 14331009
POLITEKNIK KESEHATAN LINGKUNGAN TANJUNGKARANG
PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KESEHATAN LINGKUNGAN TAHUN 2018

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
PROGRAM
STUDI DIPLOMA IV KESEHATAN LINGKUNGAN
Skripsi,
Juli 2018 Diah Ayu Kurniawati
HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN
DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS
TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018
xvii + 797
halaman, 2 gambar,15 Tabel dan 11 lampiran
ABSTRAK
Diare hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab
utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan
semua kelompok usia bias diserang oleh diare, tetapi penyakit berat dengan
kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita
Tujuan penelitian adalah Mengetahui hubungan
faktor-faktor lingkungan dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Kecamatan
Metro Timur Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional (potong lintang).
Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan
hubungan antara dua variabel yaitu variabel independent dan variabel dependent.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan
sarana air bersih dengan kejadian diare di Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung
Kota Metro tahun 2018 dengan p-value
=
0,043 dan OR = 2,096. Ada hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare di Wilayah kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value
= 0,000 dan OR = 4,202. Ada hubungan sarana pembuangan air limbah dengan
kejadian diare di Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
dengan p-value = 0,002 dan OR =
2,544. Ada hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare di wilayah
kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value = 0,004 dan OR = 2,565. Saran, Diharapkan petugas pelayanan
kesehatan lebih meningkatkan dalam memberikan konseling pada pasien terutama
meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu juga diharapkan peran aktif dari perawat
kesehatan masyarakat untuk memberikan dorongan tambahan serta meminta bantuan
keluarga untuk memantau keluarganya yang terkena diare sehingga balita tidak
terjadi diare dan memberikan perawatan kepada yang sakit diare akut dengan
melakukan kunjungan rumah (home visit), serta umumnya pada seluruh pasien yang
ada di Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung untuk meminimalisir terjadinya
kejadian diare.
Kata Kunci : Sarana air bersih, tempat pembuangan
sampah, sarana pembuangan Air limbah,
tempat pembuangan tinja, diare
Daftar Bacaan : 40
(2000-2018)
![]() |
Skripsi ini kupersembahkan untuk:
Ayah Drs. H.
Sriyatman dan Ibu Hj. Wasirotun Halim Serta orang-orang yang aku sayangi.....
Kesempatan bukanlah hal yang
kebetulan. Kau yang harus menciptakannya.
Maka ciptakan kesempatan itu! (Chris Grosser)
“Do a kindness right now! ”
“Lebih baik merasakan sulitnya pendidikan
saat ini daripada rasa pahitnya kebodohan kelak”
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi ALLAH SWT yang telah memberikan
rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi
yang berjudul “Hubungan Faktor-Faktor
Lingkungan dengan Kejadian Diare di
Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro Tahun
2018” ini dapat diselesaikan.
Dalam proses pembuatan skripsi ini
penulis menyadari bahwa terselesaikannya tugas akhir ini tidak terlepas
bantuannya dari segala pihak yang ikut berpartisi membantu. Oleh karena itu
dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1.
Bapak Warjidin Aliyanto, SKM., M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Tanjungkarang.
2.
Bapak A. Fikri, ST, M.Si selaku
Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Tanjungkarang.
3.
Bapak Sarip Usman, SKM., M.Kes,
selaku Pembimbing I yang telah memberi
petunjuk dan bimbingan dalam pembuatan skripsi
ini.
4.
Ibu Mei Ahyanti, SKM., M.Kes selaku
Pembimbing II yang telah memberikan petunjuk dan bimbingan dalam pembuatan
skripsi ini.
5.
Bapak Dr. Sri Indra Trigunarso, SKM., M.Kes selaku Penguji.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan
Proposal Skripsi ini masih terdapat kekurangan karena keterbatasan penulis
sendiri, maka penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk
di berikan kepada penulis. Akhir kata penulis memohon maaf atas kekurangan dan
kelebihan yang ada, dan semoga Proposal Skipsi ini dapat bermanfaat bagi
pembaca.
Bandar Lampung, Juli 2018
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Judul............................................................................................................. i
Lembar Pengesahan.................................................................................................... ii
Lembar Persetujuan.................................................................................................... iii
Lembar Pernyataan
Orisinalitas................................................................................. iv
Lembar Abstrak......................................................................................................... v
Biodata Penulis.......................................................................................................... vi
Lembar Persembahan................................................................................................. vii
Motto.......................................................................................................................... viii
Kata Pengantar........................................................................................................... ix
Daftar Isi.................................................................................................................... x
Daftar Tabel............................................................................................................... xi
Daftar Gambar........................................................................................................... xii
Daftar Lampiran......................................................................................................... xiii
BAB I PENDAHULUAN
B.
Rumusan Masalah................................................................................. 5
D.
Manfaat Penelitian................................................................................ 7
E.
Ruang Lingkup..................................................................................... 8
E.
Kerangka Konsep................................................................................. 46
A.
Rancangan Penelitian............................................................................ 49
E.
Teknik Pengumpulan Data.................................................................... 56
F.
Pengolahan Data dan Analisis Data..................................................... 58
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Gambaran Umum Tempat
Penelitian................................................. 60
B.
Hasil Penelitian.................................................................................. 62
C.
Pembahasan........................................................................................ 69
A.
Kesimpulan....................................................................................... 78
B.
Saran.................................................................................................. 79
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Halaman
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel.................................................................... 52
Tabel 4.1 Distribusi Sarana Air Bersih di Desa Tejosari............................................ 62
Tabel 4.2 Distribusi Sarana Pembuangan Air Limbah di Desa Tejosari..................... 63
Tabel 4.3 Distribusi Tempat Pembuangan Sampah di Desa Tejosari......................... 63
Tabel 4.4 Distribusi Tempat Pembuangan Tinja di Desa Tejosari.............................. 64
Tabel 4.5 Distribusi Kejadian Diare di
Desa Tejosari................................................ 64
Tabel 4.6 Hubungan Sarana Air Bersih Dengan Kejadian Diare............................... 65
Tabel 4.7 Hubungan Tempat Pembuangan Sampah Dengan Kejadian
Diare............ 66
Tabel 4.8 Hubungan Sarana Air Bersih Dengan Kejadian Diare............................... 67
Tabel 4.9 Hubungan Tempat Pembuangan Tinja Dengan Kejadian
Diare................. 68
Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Penelitian...................................................................... 45
Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian.................................................................. 46
Gambar 4.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung............................................. 60
Gambar2.2 Diagram Tingkat Pendidikan................................................................. 61
![]() |
|
A. Latar Belakang
Diare hingga saat ini masih merupakan
salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah
geografis di dunia dan semua kelompok usia bisa diserang oleh diare, tetapi
penyakit berat dengan kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak
balita. Di negara berkembang, anak-anak menderita diare lebih dari 12 kali per
tahun dan hal ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari semua
penyebab kematian. Di negara berkembang, anak-anak balita mengalami rata-rata
3-4 kali kejadian diare per tahun tetapi di beberapa tempat terjadi lebih dari
9 kali kejadian diare per tahun atau hampir 15-20% waktu hidup anak dihabiskan
untuk diare (Kemenkes RI, 2016).
Penyakit diare di Indonesia merupakan
salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan karena
masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian terutama
pada balita.Angka kesakitan diare di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung
meningkat. Angka kesakitan diare pada tahun 2016 yaitu 422 per 1000 penduduk,
dengan jumlah kasus 10.980 penderita dengan jumlah kematian 277 (CFR 2,52%). Di
Indonesia dilaporkan terdapat 1,6 sampai 2 kejadian diare per tahun pada
balita, sehingga
secara
keseluruhan diperkirakan kejadian diare pada balita berkisar antara 40 juta
setahun dengan kematian sebanyak 200.000-400.000 balita(Kemenkes RI, 2016).
Angka kesakitan (Insidens Rate) diare untuk semua kelompok umur di Provinsi Lampung
dari tahun 2013 – 2016 cenderung meningkat, yaitu dari 9,8 per 1000 penduduk
menjadi 18,24 per 1000 penduduk tahun 2016. Angka ini bila dibandingkan dengan
rata-rata nasional, angka ini masih jauh dibawah angka nasional: 374 per 1.000
penduduk. Walaupun angka kesakitan meningkat namun angka kematian atau CFR
diare masih dibawah 1% (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2016).
Diare banyak disebabkan oleh pemakaian
air yang tidak bersih dan sehat, pengolahan makanan yang tidak higiens dan
ketiadaan jamban sehat, tahun 2010 yaitu 29,2 per 1000 penduduk dan tahun 2011
meningkat menjadi 33,03 per 1000 penduduk, dan tahun 2012 menurun menjadi 22,9
per 1000 penduduk dan terjadi peningkatan yang signifikan pada tahun 2013 yaitu
214 per 1000 penduduk, tahun 2014 yaitu 214 per 1000 penduduk, tahun 2015
adalah 214 per 1000 penduduk,
dan 2016 adalah 214 per 1000 penduduk (Profil Dinkes
Kota Metro, 2016).
Tahun 2015 kejadian diare di Puskesmas
Tejoagung kota Metro yaitu sebesar 100 kasus, tahun 2016 terdapat 117 kasus,
dan kejadian tahun 2017 terdapat 242 kasus yang artinya kasus diare di Wilayah
Kerja Puskesmas Tejoagung mengalami peningkatan yang signifikan di tahun 2017
kasus diare, dimana target penemuan penderita diare pada semua umur adalah
sebanyak 353, sehingga cakupan pelayanan penderita diare semua umur di
Puskesmas Tejoagung adalah 68,55%. Untuk angka kejadian diare di Kelurahan
Tejoagung pada Tahun 2017 terdapat 88 kasus diare dan di Kelurahan Tejosari
terdapat 154 kasus
diare.Di Wilayah
Kerja Puskesmas Tejoagung dengan jumlah penduduk sebanyak
4.578 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kelurahan
Tejoagung sebanyak 2.725 jiwa (59,62%). Sedangkan penduduk yang berada di
Kelurahan Tejosari sebanyak 1.853 jiwa (40,47%). Dan jumlah KK sebanyak 629
jiwa yang berada di Kelurahan Tejoagung, dan jumlah KK sebanyak 444 jiwa di
Kelurahan Tejosari.(Profil Puskesmas Tejoagung, 2017).
Puskesmas merupakan unit pelayanan
kesehatan yang di samping menonjolkan aspek kuratif, juga menonjolkan aspek
promotif dan preventif. Salah satu program puskesmas yang menelaah masalah
sanitasi lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan adalah klinik sanitasi.
Idealnya, setiap puskesmas memiliki klinik sanitasi (Depkes RI, 2004).
Gambaran klinik sanitasi di Puskesmas
Tejoagung di tahun 2015 pelayananya cukup maksimal yaitu jika ada pasien datang
ke puskesmas yang menderita penyakit berbasis lingkungan dengan latar belakang
buruknya kebersihan diri, keluarga dan lingkungan, maka pasien tersebut akan
dirujuk ke klinik sanitasi setelah diobati. Di sana, petugas klinik sanitasi akan
memberikan konseling mengenai penyakit berbasis lingkungan dan sanitasi
lingkungan. Jika dirasa perlu, petugas akan melakukan kunjungan ke rumah pasien
tersebut untuk menelaah penyebab utama penyakit dan masalah sanitasi pasien
tersebut dan memberi solusi untuk menyelesaikannya. Selain pasien penyakit
berbasis lingkungan, masyarakat umum juga dapat berkonsultasi di klinik
sanitasi, dimana mereka disebut dengan klien. Dalam kurun waktu sebulan,
petugas klinik sanitasi akan mengemukakan masalah kesehatan lingkungan yang
ada, dan akan berdiskusi dengan petugas
lainnya di puskesmas
mengenai solusi untuk
menyelesaikannya dan evaluasi program tersebut. Dengan
kegiatan konseling, kunjungan ke rumah pasien dan klien. Namun di tahun 2016
pelayanan klinik sanitasi di Puskesmas Tejoagung mengalami penurunan
dikarenakan ruangan klinik sanitasi Puskesmas dipindahkan ke lantai 2sehingga
pasien yang seharusnya mendatangi klinik
sanitasi untuk melakukan konsultasi mengenai penyakit yang diderita, tetapi
mereka enggan untuk mendatangi klinik sanitasi di Puskesmas Tejoagung.
Presentasi akses sanitasi di Wilayah
Kerja Puskesmas Tejoagung yang terbagi menjadi dua kelurahan yaitu Kelurahan
Tejoagung diketahui akses penyediaan air bersih yaitu 76,47%, akses tempat
pembuangan sampah 52,30%, akses pembuangan limbah 53,73%, akses pembuangan
kotoran manusia atau jamban 63,60%dan untuk presentasi akses sanitasi di
Kelurahan Tejosari diketahui akses
penyediaan air bersih yaitu 52,70%, akses tempat pembuangan sampah 51,12%,
akses pembuangan limbah 44,14%, akses pembuangan kotoran manusia atau jamban 47,52%
Ada beberapa faktor yang berkaitan
dengan kejadian diare yaitu tidak memadainya penyediaan air bersih, air
tercemar oleh tinja, kekurangan sarana kebersihan, pembuangan tinja yang tidak
higienis, kebersihan perorangan dan lingkungan. Banyak faktor yang secara
langsung maupun tidak langsung dapat menjadi faktor pendorong terjadinya diare,
terdiri dari faktor agent, penjamu, lingkungan dan perilaku.Faktor penjamu yang
menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap diare, diantaranya tidak
memberikan ASI selama 2 tahun, kurang gizi, dan penyakit campak. Faktor
lingkungan yang paling dominan yaitu
sarana
penyediaan air bersih dan pembuangan tinja, kedua faktor ini akan berinteraksi
bersama dengan perilaku manusia (Kemenkes RI, 2016).
Hasil penelitian Arimbawa (2016)
tentangHubunganFaktor PerilakudanFaktor Lingkungan terhadapKejadianDiare
padaBalitadiKelurahan Sukawati,KabupatenGianyar Bali Tahun2014,
hasilpenelitianmenunjukkanbahwa faktoryangberhubungandanberpengaruh secara
signifikanterhadapkejadiandiare balitaadalahperilakukebiasaanmemasakair
minum(p=0.018).
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka
perlu dilakukan penelitianuntuk menelititentang: Hubungan Faktor-Faktor Lingkungan
dengan Kejadian Diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Wilayah
Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro Tahun 2018.
B. Rumusan Masalah
Presentasi akses sanitasi di wilayah
kerja Puskesmas Tejoagung yang terbagi menjadi dua kelurahan yaitu Kelurahan
Tejoagung diketahui akses penyediaan air bersih yaitu 76,47%, akses tempat
pembuangan sampah 52,30%, akses pembuangan limbah 53,73%, akses pembuangan
kotoran manusia atau jamban 63,60%dan untuk presentasi akses sanitasi di
Kelurahan Tejosari diketahui akses penyediaan air bersih yaitu 52,70%, akses tempat
pembuangan sampah 51,12%, akses pembuangan limbah 44,14%, akses pembuangan
kotoran manusia atau jamban 47,52%
Sanitasi lingkungan yang buruk dapat
menimbulkan peningkatan kejadian diare di Kelurahan Tejosari, yang meliputi
sarana air bersih, tempat pembuangan
sampah,
tempat pembuangan limbah dan sarana pembuangan kotoran manusia atau jamban.
Berdasarkan data di atas, maka rumusan
masalahnya adalah:”Hubungan faktor-faktor lingkungan dengan kejadian diare di
Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota
Metro Tahun 2018”.
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umun
Mengetahui hubungan faktor-faktor lingkungan dengankejadian
diarediKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018.
2. Tujuan Khusus
a.
Mengetahui distribusi sarana air
bersih di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018
b.
Mengetahui distribusi sarana
pembuangan air limbah di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja
Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
c.
Mengetahui distribusi tempat
pembuangan sampah diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja
Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
d.
Mengetahui distribusi tempat
pembuangan tinja diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja
Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
e.
Mengetahui distribusi kejadian
diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018
f.
Mengetahui hubungan sarana air
bersih dengan kejadian diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah
Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro
tahun 2018
g.
Mengetahui hubungan tempat
pembuangan sampah dengan kejadian diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro
TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
h.
Mengetahui hubungan sarana
pembuangan air limbah dengan kejadian diare diKelurahan Tejosari Kecamatan
Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
i.
Mengetahui hubungan tempat
pembuangan tinja dengan kejadian diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro
TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung
Kota Metro tahun 2018
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas Tejoagung
Hasil penelitian diharapkan dapat
memberikan masukan dalam perencanaan dan perbaikan untuk meningkatkan kualitas
kesehatan lingkungan di Puskesmas Tejoagung Kota Metro.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan
dapatmenjadi bahan referensi, informasi dan kepustakaan khususnya bagi
mahasiswa Poltekkes Tanjungkarang
tentang
hubungan faktor-faktor lingkungan dengan tingginya angka kejadian diaredi
Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.
3. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
digunakan sebagai upaya dalam menyelesaikan masalah kesehatan lingkungan yang
ada di masyarakat yang berhubungan dengan penyakit diare.
E. Ruang Lingkup
Penelitian ini menggunakan
rancangan penelitian cross-sectional.
Dengan tujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor lingkungan dengan
kejadian diare. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juni - Juli 2018 di
Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh KK yang bertempat tinggal di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur
Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro, dimana dihitung setiap KK yang
anggota keluarganya mengalami diare lebih dari satu kali dihitung 1 kasus, yaitu
dengan jumlah sebanyak 444 KK, maka jumlah sampel yang akan diambil adalah
sebanyak 210 KK.
Variabel yang akan diteliti adalah
sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, dan
tempat pembuangan tinja dan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Kecamatan
Metro Timur Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.
9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
|
9
|
A. Diare
1.
Definisi Diare
Diare merupakan suatu penyakit dengan
tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi pada tinja, yang melembek
atau mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar lebih dari biasanya.
Diare adalah buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer
dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya, neonatus dinyatakan diare bila
frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi yang
berumur lebih dari satu bulan dan anak bila frekuensinya lebih dari 3 kali.
(Kemenkes RI, 2014).
Menurut Saydam (2011:134) diare
merupakan salah satu penyakit yang berulang-ulang buang air besar yang sifatnya
encer (cair). Bila seseorang dihinggapi dan menderita penyakit ini ia akan
sangat sering ke toilet untuk membuang hajat yang memang sifatnya cair dan
tidak bisa ditahan-tahan. Menurut Ariani (2016:12) diare adalah penyakit yang
ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali
sehari disertai perubahan konsentrasi tinja menjadi lebih cair atau setengah
padat dengan atau tanpa lendir atau darah.
Sedangkan menurut Widoyono (2011:193)
diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja. Lebih lanjut dalam
Widoyono, WHO mendefinisikan diare sebagai berak cair tiga kali atau lebih
dalam sehari semalam (24 jam). Sedangkan menurut Zein (2012), diare adalah
buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair
(setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200
g atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air
besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut
dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare yang berlangsung beberapa waktu
tanpa penanggulangan medis yang adekuat dapat menyebabkan kematian karena
kekurangan cairan di badan yang mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa asidosis
metabolik yang lanjut. Karena kehilangan cairan seseorang merasa haus, berat
badan berkurang, mata menjadi cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol,
turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini
disebabkan deplesi air yang isotonik.
2. Etiologi
Menurut teori konvensional penyakit
diare disebabkan oleh masuknya (invansi) kuman-kuman ke dalam usus yang
disebabkan oleh virus atau bakteri. Tetapi penyebab utama dikarenakan virus
(lebih dari 50 persen). Dalam kondisi ini gerakan perlintaa usus meningkat
tajam sehingga perlintasannya sangat dipercepat dan masih mengandung bahan cair
pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja.
Penyebab utama diare adalah bertumpuknya
cairan di usus akibat terganggunya penyerapan air. Lebih dari 70% kasus diare
yang disebabkan oleh
virus, biasanya disertai dengan infeksi saluran pelepasan,
karena itu anak-anak yang sedang dijangkit diare diikuti oleh bakteri, dan
tenggorokan merah serta infeksi telinga.
Pemaparan racun mikroba berlanjut ke
saluran cerna seperti juga penyakit kolera dan thypus. Karena ia disebabkan
oleh kegiatan kuman atau bakteri yang masuk melalui mulut. Kuman ini bisa saja
menyelinap melalui air, makanan, tangan, peralatan yang tidak bersih, makanan
sudah dihinggapi lalat serta kotoran yang melekat pada kuku tangan penderita.
Diare yang terjadi kadang-kadang disertai oleh muntah. Muntah ini dapat turut
membangun proses pengeluaran racun, namun nutrisi tidak dapat masuk ke dalam
tubuh penderita disebabkan ada yang masuk, langsung keluar lagi, sedangkan
tubuh penderita amat memerlukan kalori (Saydam, 2011:134).
Secara klinis penyebab diare dapat
dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri,
virus atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi
dan sebab-sebab lainnya (Departemen Kesehatan RI, 2011).
Menurut Widoyono (2011: 195) penyebab
diare dapat dikelompokkan menjadi :
a.
Virus : Rotavirus
(40-60%), Adenovirus.
b.
Bakteri : Escherichia coli (20-30%), Shigellasp
(1-2%), Vibrio cholerae, dan lain- lain.
c.
Parasit: Entamoebahistolytica (<1%), Giardia
lamblia, Cryptosporidium (4- 11%).
d.
Keracunan makanan.
e.
Malabsorpsi: kabrohidrat, lemak, dan protein.
f.
Alergi: makanan, susu sapi.
g.
Imunodefisiensi:
AIDS
Menurut Kemenkes RI (2014) beberapa
faktor pada penjamu dapat meningkatkan insiden beberapa penyakit dan lamanya
diare. Faktor-faktor tersebut adalah:
a.
Tidak memberikan ASI sampai 2
Tahun. ASI mengandung antibodi yang dapat melindungi kita terhadap berbagai
kuman penyebab diare seperti: Shigella dan
V. cholera.
b. Kurang
gizi beratnya penyakit, lama dan risiko kematian karena diare meningkat pada
anak-anak yang menderita gangguan gizi terutama pada penderita gizi buruk.
c. Campak
diare dan desentri sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang
sedang menderita campak dalam waktu 4 minggu terakhir hal ini sebagai akibat
dari penurunan kekebalan tubuh penderita.
d. Imunodefesiensi/Imunosupresi.
Keadaan ini mungkin hanya berlangsung sementara, misalnya sesudah infeksi virus
(seperti campak) atau mungkin yang berlangsung lama seperti pada penderita AIDS
(Automune Deficiensy Syndrome) pada
anak imunosupresi berat, diare dapat terjadi karena kuman yang tidak parogen
dan mungkin juga berlangsung lama.
e. Secara
proposional, diare lebih banyak terjadi pada golongan Balita (55%) Penyakit
diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan dua faktor yang
dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja kedua
faktor ini akan berinteraksi bersamadengan perilaku
manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare
serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, yaitu melalui
makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare (Kemenkes
RI, 2014).
Menurut Airani
(2016) terdapat 2 faktor penyebab diare yang meliputi :
a. Faktor Infeksi
1)
Faktor Enteral yaitu infeksi
saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama pada diare pada anak.
Infeksi enteral ini
meliputi:
a)
Infeksi bakteri: Vibrio E Coli, Salmonella Typhii, Shigella,
Compylobacter Jejuni, Yersinia,dan sebagainya.
b) Infeksi virus: Virus
terbanyak penyebab diare adalah Rotavirus,
Adenovirus, Minirotavirus, Calcivirus, dan sebagainya.
c)
Infeksi parasit: Patogenesis
terjadinya diare oleh karena cacing (Ascaris,
trichuris, oxyuris, strongilodes).
2)
Faktor Parenteran yaitu infeksi di
bagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), Tonsolofaringitis, Bronkopnuemonia,
Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan
anak berumur di bawah 2 tahun (Airani, 2016:
47).
b. Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi adalah gangguan pernyerapan
bahan makanan yang dimakan. Dengan demikian malabsorbsi dapat juga berupa
gangguan absorbsi: karbohidrat, lemak, protein dan vitamin. Pada anak yang
sering dijumpai adalah:
1)
Malabsorbsi karbohidrat (intoleransi laktosa)
Laktosa merupakan karbohidrat utama dari susu (susu sapi
mengandung 50 mg laktosa per liter). Maka pada bayi dan balita diare akibat
intoleransi laktosa mendapat perhatian khusus karena menjadi penyebab yang
cukup sering. Disakardia (intoleransi laktosa, maltose dan sukrosa),
monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa) pada bayi/anak yang
terpenting adalah intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa terjadi karena
defisiensi enzim laktosa dalam brush
border usus halus. Gejala klinis yang muncul baik pada yang bawaan maupun
yang didapat penderita menunjukkan gejala klinis yang sama yaitu diare yang
sangat frekuen, cair (watery) dan
berbau asam. Akibat gejala tersebut pertumbuhan anak akan terlambat bahkan
tidak jarang akan terjadi malnutrisi.
2)
Malabsorbsi lemak
Di alam bentuk trigliserida asam lemak umumnya mengandung
atom C lebih dari 14, seperti asam palmitat, asam stearat, asam oleat dan asam
linoleat. Bentuk ini disebut LCT (Long
Chain Tryangliceride). Disebut MCT (Medium
Chain Tryangliceride) adalah trigliserida dengan atom C6-12 buah. Untuk
pengobatan anak dengan malabsorbsi lemak, susu MCT telah banyak digunakan.
Absorbsi MCT berbeda dengan lemak (LCT). MCT dapat diabsorbsi dengan baik dan
cepat walaupun tidak terdapat lipase pankreas dan
congjugated bile
salts, apalagi karena tidak melalui pembentukan micelles dan kilomikron. MCT akhirnya
akan diangkut langsung melalui vena porta dan selanjutnya dalam hati akan
dimetabolisme.
Malabsorbsi lemak
dapat terjadi pada kelainan sebagai berikut:
a)
Penyakit pankreas: fibrosis kistik, insufisiensi
lipase pankreas
b) Penyakit hati:
hepatitis neonatal, atresia biliaris, sirosis
hepatitis
c)
Penyakit usus halus: reseksi usus
halus yang ekstensif (pada atresia,
volvulus, infark mesenterium), penyakit seliak dan malabsorbsi yang
sebabnya tidak diketahui. Mungkin sekali terjadi pada diare berulang dan kronis
pada malnutrisi protein.
d) Kelainan
limfe: limangiekstasia usus, gangguan limfe karena trauma, tuberkulosis,
kelainan kongeital.
e)
Neonatus kurang bulan.
Pengobatan lebih banyak ditujukan pada penyebab terjadinya
absorbsi lemak, kemudian untuk penyebab malabsorbsi lemaknya senidri diberikan
susu MCT.
3)
Malabsorbsi protein
Diare yang disebabkan karena malabsorbsi secara umum
mempunyai ciri tinja berair, berbui, perut kembung, tinja lengket, mengkilat
dan berlemak.
a)
Gangguan pankreas (enzim pencernaan terganggu).
b)
Kelainan mukosa usus pada pemeriksaan.
4)
Malabsorbsi asam
empedu.
a)
Terutama pada bayi pasca reseksi illeum.
b)
Asam empedu yang
tidak diabsorbsi (Ariani, 2016: 59).
3. Penularan Kuman yang Menyebabkan Diare
Menurut Widoyono (2011) penyakit diare
sebagian besar (75%) disebabkan oleh kuman seperti virus dan bakteri. Penularan
penyakit diare melalui orofekal terjadi dengan mekanisme berikut ini:
a. Melalui
air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi bila seseorang
menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik tercemar dari sumbernya,
tercemar selama perjalanan sampai kerumah-rumah, atau tercemar pada saat
disimpan di rumah. Pencemaran di rumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak
tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil
air dari tempat penyimpanan.
b. Melalui
tinja terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri
dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian
binatang tersebut hinggap di makanan, maka makanan itu dapat menularkan diare
ke orang yang memakannya.
Faktor-faktor yang
meningkatkan risiko diare adalah:
a. Pada
usia 4 bulan bayi sudah tidak diberi ASI Eksklusif lagi (ASI eksklusif adalah
pemberian ASI saja sewaktu bayi berusia 0-4 bulan).
b. Memberikan
susu formula dalam botol kepada bayi. Pemakaian botol akan meningkatkan risiko
pencemaran kuman, dan susu akan terkontaminasi oleh kuman dari botol. Kuman
akan cepat berkembang bila susu tidak segera diminum.
c. Menyimpan
makanan pada suhu kamar. Kondisi tersebut akan menyebabkan permukaan makanan
mengalami kontak dengan peralatan makan yang merupakan media yang sangat baik
bagi perkembangan mikroba.
d. Tidak
mencuci tangan pada saat memasak, makan, atau sesudah buang air besar (BAB)
akan memungkinkan kontaminasi langsung (Widoyono, 2011: 195).
4. Jenis-Jenis Diare
Menurut Kemenkes RI
(2014) pembagian diare adalah sebagai berikut:
a.
Diare Akut Cair
Diare akut adalah buang air besar yang frekuensinya lebih
sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih) per hari dengan
konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 7 hari.
b.
Diare bermasalah
Diare bermasalah terdiri dari diare berdarah, kolera, diare
berkepanjangan (prolonged diarrhea),
diare persisten/kronik dan diare dengan malnutrisi.
c.
Diare berdarah
Diare berdarah atau disentri adalah diare dengan darah dan
lendir dalam tinja dan dapat disertai dengan adanya tenesmus.
d.
Kolera
Diare terus menerus, cair seperti air cucian, tanpa sakit
perut, disertai muntah dan mual diawal penyakit.
e.
Diare berkepanjangan
Diare berkepanjangan (prolonged
diarrhea) yaitu diare yang berlangsung lebih dari 7 hari dan kurang dari 14
hari. Penyebab diare berkepanjangan berbeda dengan diare akut. Pada keadaan ini
kita tidak lagi memikirkan infeksi virus melainkan infeksi bakteri, parasit,
malabsorpsi, dan beberapa penyebab lain dari diare persisten.
f.
Diare persisten/diare kronik
Diare persisten/diare kronik adalah diare dengan atau tanpa
disertai darah, dan berlangsung selama 14 hari atau lebih. Bila sudah terbukti
disebabkan oleh infeksi disebut sebagai diare persisten.
5. Dehidrasi
Menurut Ngastiyah dalam Sulvianti (2013)
kehilangan cairan akibat diare akut menyebabkan dehidrasi yang dapat bersifat
ringan, sedang atau berat. Pada diare akut, dehidrasi merupakan gejala yang
segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang. Dehidrasi terjadi
akibat kehilangan air dan elektrolit yang melebihi pemasukannya.
Gejala yang timbul akibat efek dehidrasi
adalah turgorkulit berkurang, nadi lemah atau tidak teraba, takikardi, mata
cekung, ubun-ubun cekung, suara parau, kulit dingin, jari sianosis, membran
mukosa kering.
Bila defisit air kurang dari 5% berat
badan, maka dehidrasi bersifat ringan dan gejala yang jelas ialah haus. Bila
defisit melebihi 5% berat badan penderita mungkin akan sangat haus. Hilangnya
cairan dalam rongga ekstrasel mengakibatkan turgor kulit berkurang, ubun-ubun
dan mata cekung dan mukosa
kering. Deplesi volume intravaskular mengakibatkan
takikardi, hipotensi, oliguri, dan anuri. Defisit cairan 5-10% berat badan
mengakibatkan dehidrasi sedang, sedangkan defisit cairan 10% atau lebih disebut
dehidrasi berat (Ngastiyah dalam Sulvianti, 2013).
Pemberian cairan
dehidrasi terbagi atas:
a.
2 jam pertama (rehidrasi inisial)
diberikan jumlah total kebutuhan cairan menurut rumus diberikan langsung.
b.
1 jam berikutnya pemberian
diberikan berdasarkan kehilangan cairan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi
inisial sebelumnya.
c.
Jam berikutnya pemberian cairan
diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja dan Insensible Water Loss (IWL) (Ngastiyah
dalam Sulvianti, 2013).
Pada keadaan dehidrasi ringan, dehidrasi dapat dilakukan
oleh ibu dengan menggunakan prinsippenanganan diare di rumah, yaitu:
a.
Beri cairan tambahan sebanyak anak
mau, dengan memberi penjelasan kepada
ibu:
a.
ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.
b.
Jika anak tidak memperoleh ASI
eksklusif, beri oralit atau air matang sebagai
tambahan.
c.
Jika anak tidak memperoleh ASI
eksklusif berikan 1 atau lebih cairan oralit, larutan gula garam, kuah sayur,
air tajin dan air matang.
Anak harus diberi
oralit di rumah jika:
1)
Anak telah diobati dengan rencana terapi C dalam kunjungannya.
2)
Anak tidak dapat kembali keklinik jika diare
bertambah parah.
Ajari
ibu mencampur dan memberi oralit dengan memberi 6 bungkus oralit (200ml) untuk
digunakan di rumah.
6. Epidemiologi
Diare akut merupakan masalah umum
ditemukan diseluruh dunia. Di Indonesia pada tahun 70 sampai 80-an, prevalensi
penyakit diare sekitar 200-400 per tahun. Dari angka prevalensi tersebut,
70-80% menyerang anak dibawah usia lima tahun (balita). Golongan usia ini
mengalami 2-3 episode diare per tahun. Diperkirakan kematian anak akibat diare
sekitar 200-250 ribu setiap tahunnya.
Angka CFR diare menurun dari tahun ke
tahun, pada tahub 1975 CFR sebesar 40-50%, tahun 1980-an CFR sebesar 24%.
Berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT), tahun 1990 CFR sebesar
12%, dan diharapkan pada tahun 1999 akan menurun menjadi 9% (Widoyono, 2011:
194).
Kejadian diare di negara berkembang
antara 3,5-7 episode setiap anak pertahun dalam dua tahun pertama dan 2-5
episode pertahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Departemen kesehatan RI dalam
surveinya tahun 2000 mendapatkan angka kesakitan diare sebesar 301/1000
penduduk, berarti meningkat dibanding survei tahun 1996 sebesar 280/1000
penduduk, diare masih merupakan penyebab kematian utama bayi dan balita. Hasil
Surkesnas 2010 mendapatkan angka kematian bayi 9,4% dan kematian balita 13,2%.Beberapa
faktor epidemiologis penting dipandang untuk mendekati pasien diare akut yang
disebabkan oleh infeksi. Makanan atau minuman terkontaminasi, berpergian,
penggunaan antibiotik, HIV positif atau AIDS, merupakan petunjuk penting
dalam
mengidentifikasi pasien beresiko tinggi untuk diare infeksi(Widoyono, 2011:
195).
7. Gejala dan Tanda
Beberapa gejala dan
tanda diare antara lain:
a.
Gejala Umum
1)
Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare.
2)
Muntah, biasanya menyertai diare pada
gastroenteritis akut.
3)
Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare.
4)
Gejala dehidrasi, yaitu mata
cekung, ketegangan kulit menurun, apatis, bahkan gelisah.
b.
Gejala Spesifik
1)
Vibrio cholera: diare hebat, warna tinja seperti
cucian beras dan berbau amis.
2)
Disenteriform: tinja berlendir dan berdarah
(Widoyono, 2011: 197).
B. Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Diare
Menurut Kartini (2011) faktor-faktor
yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor agent berupa virus,
bakteri, parasit yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Faktor Agent
Agent adalah faktor esensial yang harus
ada agar penyakit dapat terjadi. Agent dapat berupa benda hidup, tidak hidup,
energi, sesuatu yang abstrak, dan dalam jumlah yang berlebihan atau kurang
merupakan sebab esensial dalam
terjadinya
penyakit. Secara garis besar mikroorganisme penyebab diare ada tiga yaitu:
virus, bakteri dan parasit.
a. Virus
Beberapa virus penyebab diare yaitu rotovirus, enterovirus (virus echo,
coxsackie, poliomyelitis), astrovirus, norwalk virus, cytomegalovirus, virus
herpes simplex, virus hepatitis, dan lain-lain. Rotovirus sebagai penyebab
utama diare pada anak-anak. Virus ini menyerang sel-sel usus, mengubah absorbsi
dan sekresi. Keadaan ini menyebabkan diare dengan gejala umum malaise dan demam.
Rotovirus diperkirakan sebagai penyebab
diare sebesar 20-80% di dunia dan merupakan penyebab utarna kematian karena
diare. Sebanyak 440.000 kematian anak disebabkan karena rotovirus. Penelitian
yang dilakukan di 6 rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa 55% balita diare
disebabkan oleh rotovirus (Soenartoi, 2012 dalam Kartini, 2011).
Dari data tersebut dapat disimpulkan
bahwa infeksi rotovirus tidak banyak terpengaruh oleh status higienis karena
baik di negara berkembang rotovirus merupakan penyebab tertinggi.
b. Bakteri
Beberapa jenis bakteri penyebab diare
adalah Campylobactel, Yersinia, Vibrio,
Salmonella, Shigelta dan Eschericia Coli, dan sebagainya. Sampai pada tahun
1970-an, infeksi bakteri diperkirakan sebagai penyebab diare terbanyak di
Indonesia. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa bakteri bukanlah
penyebab utama diare pada anak. Bahkan pada penelitian tahun 2005-2011 di
rumah
sakit tipe A Yogyakarta ditemukan bahwa bakteri hanya menyebabkan 5% dan
penderita diare.
c. Parasit
Parasit masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau
minuman dan menetap dalam sistem pencernaan dan umumnya mengakibatkan diare
kronik. Biasanya parasit bukan penyebab sendiri tetapi bersamaan dengan
penyebab lain. Contohnya Giardia lamblia,
Entamoeba histolytica, Cryptosporidium, Trichomonas hominis, Cqndida albicans,
Ascaris, Trichuris, Oxyuris don Stongloides.
2. Faktor Lingkungan
Menurut Notoatmodjo (2014) faktor-faktor
yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor lingkungan berupa sarana
air bersih, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, dan
pembuangan kotoran manusia (jamban keluarga), sebagai berikut:
a. Sarana Air Bersih
Air sangat penting bagi kehidupan
manusia. Di dalam tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang
dewasa sekitar 55-60% berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65%
dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara
lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Di negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per
hari. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah
kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum dan masak air
harus mempunyai
persyaratan
khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia (Notoatmodjo,
2014:175).
Sumber air minum utama merupakan salah satu
sarana sanitasi yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian diare.
Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral.
Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda
yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan, dan makanan
yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar (Kemenkes RI, 2014).
Menurut Dirjen PPM dan PLP jenis-jenis
sarana air bersih yang lazim dipergunakan masyarakat adalah sebagai berikut:
1)
Sumur Gali
Sumur gali adalah sarana air bersih yang
mengambil/memanfaatkan air tanah dengan cara menggali lubang di tanah dengan
menggunakan tangan sampai mendapatkan air. lubang kemudian diberi dinding,
bibir tutup dan lantai serta saluran pembuangan limbah.
2) Perpiaan
Sarana perpipaan adalah bangunan berserta peralatan dan
perlengkapan nya yang menghasilkan, menyediakan dan membagikan air minum untuk
masyarakat melalui jaringan perpipaan/distribusi. Air yang dimanfaatkan adalah
air tanah atau air permukaan dengan atau tanpa
diolah.
3)
Sumur Pompa Tangan (SPT)
Sumur pompa tangan adalah sarana air bersih yang mengambil
atau memanfaatkan air tanah dengan membuat lubang di tanah dengan
menggunakan alat bor. Berdasarkan kedalaman air tanah dan
jenis pompa yang digunakan untuk menaikan air, bentuk sumur bor dibedakan atas:
a)
Sumur Pompa Tangan Dalam (SPTDL)
Sumur pompa tangan dalam adalah sumur bor yang pengambilan
airnya dengan menggunakan pompa dangkal. Pompa jenis ini mampu menaikan airnya
sampai kedalam maksimum 7 meter.
b)
Sumur Pompa Tangan Dalam (SPTDL)
Sumur pompa tangan dalam adalah sumur bor yang pengambilan
airnya dengan menggunakan pompa dalam. Pompa jenis ini mampu menaikan air dari
kedalaman 15 metersampai kedalaman maksimum 30
meter.
4)
Penampungan Air Hujan (PAH)
Penampungan air hujan adalah sarana air bersih yang
memanfaatkan untuk pengadaan air rumah tangga. Air hujan yang jatuh diatas atap
rumah atau bangunan penagkap air yang lain, melalui saluran atau alang kemudian
dialirkan dan di tampung kedalam penampungan air hujan.
Dalam Kemenkes RI (2014), hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam penyediaan air bersih adalah:
1)
Mengambil air dari sumber air yang bersih
2)
Mengambil dan menyimpan air dalam
tempat yang bersih dan tertutup serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air
3)
Memelihara atau menjaga sumber air
dari pencemaran oleh binatang, anak- anak dan sumber pengotoran. Jarak antara
sumber air minum dengan sumber pengotoran seperti septictank, tempat pembuangan sampah dan air limbah harus lebih
dari 10 meter
4)
Mengunakan air yang
direbus
5)
Mencuci semua peralatan masak dan
makan dengan air yang bersihdan cukup Air bersih adalah air yang memenuhi
persyaratan bagi sistem penyediaan air minum dimana persyaratan yang dimaksud
adalah dari segi kualitas air, unsur yang terkandung didalamnya dan dikelompokkan
menurut sifat fisik, kimia biologis dan mikrobiologis sehingga apabila
dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping.
Dalam Kemenkes RI (2014) air yang berada
di permukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber. Berdasarkan letak
sumbernya air dapat dibagi menjadi, air angkasa (hujan), air permukaan, dan air
tanah.
a.
Air Angkasa (Hujan)
Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di
bumi. Walau merupakan air yang paling bersih, air tersebut cenderung mengalami
pencemaran ketika berada di atmosfer. Pencemaran yang berlangsung di atmosfer
itu dapat disebabkan oleh partikel debu, mikroorganisme, dan gas, misalnya
karbondioksida, nitrogen, dan amoniak.
b.
Air Permukaan
Air permukaan yang meliputi badan- badan air semacam
sungai, danau, telaga, waduk, rawa,
airterjun, dan sumur permukaan, sebagian besar berasal dari air hujan yang
jatuh ke permukaan bumi.
c.
Air Tanah
Air tanah (ground water) berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi
yang kemudian mengalami perkolasi atau penyerapan ke dalam tanah dan
mengalami proses filtrasi secara alamiah. Proses-proses
yang telah dialami air hujan tersebut, di dalam perjalanannya ke bawah tanah,
membuat air tanah menjadi lebih murni dibandingkan air permukaan.
Dalam Kemenkes RI (2014) air yang tidak
memenuhi persyaratan kesehatan merupakan media penularan penyakit karena air
merupakansalah satu media dari berbagai macam penularan, terutama penyakit
perut dan diare. Penyediaan air bersih harus memenuhi dua syarat yaitu
kuantitas dan kualitas.
1)
Syarat Kuantitas
Syarat kuantitas adalah jumlah air yang dibutuhkan setiap
hari tergantung kepada aktifitas dan tingkat kebutuhan. Makin banyak aktifitas
yang dilakukan maka kebutuhan air akan semakin besar. Secara kuantitas di
Indonesia diperkirakan dibutuhkan air sebanyak 138,5 liter/orang/hari dengan
perincian yaitu untuk mandi, cuci kakus 12 liter, minum 2 liter, cuci pakaian
10,7 liter, kebersihan rumah 31,4 liter.
2)
Syarat Kualitas
Syarat kualitas meliputi parameter fisik, kimia, mikro
biologis dan radioaktivitas yang memenuhi syarat kesehatan menurut (Permenkes
RI No. 32/2017) tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan
Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua,
dan Pemandian Umum, sebagai berikut:
a)
Parameter Fisik
Dalam Permenkes RI No. 32/2017 tentang Standar Baku Mutu
Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene
Sanitasi,
Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum menyatakan
bahwa air yang layak pakai sebagai sumber air bersih antara lain harus memenuhi
persyaratan secara fisik yaitu, tidak berbau, tidak berasa, tidak keruh
(jernih) dan tidak berwarna.
b)
Parameter Kimia
Air yang baik adalah air yang tidak tercemar secara
berlebihan oleh zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia, antara
lain Air raksa (Hg), Aluminium (Al), Arsen (As), Barium (Ba), Besi (Fe),
Flourida (F) Calsium (Ca), derajat keasaman (pH) dan zat-zat kimia lainnya.
Kandungan zat kimia yang ada didalam air bersih yang digunakan sehari-hari
hendaknya tidak melebihi dari kadar maksimum (ketentuan maksimum) yang
diperbolehkan seperti yang tercantum dalam (Permenkes RI No 32/2017).
Penggunaan air yang mengandung bahan-bahan berbahaya kimia beracun dan zat-zat
kimia yang melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan akan berakibat tidak baik
lagi bagi kesehatan dan material yang digunakan manusia, contohnya pH air
sebaiknya netral. pH yang dianjurkan untuk air bersih adalah 6,5-9.
c)
Parameter Radioaktif
Persyaratan radioaktif sering juga dimasukkan sebagai
bagian persyaratan fisik, namun sering dipisahkan karena jenis pemeriksaannya
sangat berbeda, dan pada wilayah tertentu menjadi sangat serius seperti
disekitar reaktor nuklir.
Berdasarkan hasil penelitian Kartini (2011) bahwa balita
yang mempunyai sarana air bersih yang kurang baik beresiko 2,9 kali terhadap
diare dibandingkan
dengan balita yang mempunyai sarana air bersih yang baik.
Hal ini sejalan dengan penelitian Cahyono (2012) yang menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang signifikan antara sarana air bersih dengan kejadian
diare pada balita.
Hubungan jenis sarana dengan kejadian
diare pada penelitian Lit.bang.Kes di Provinsi NTT, menunjukkan bahwa kelompok
yang menggunakan sarana sumur gali dapat meningkatkan resiko diare pada balita
1,2 kali lebih besar dari pada yang menggunakan air PAM/ledeng, perpipaan atau
sumur artesis (Muhadjir, 2012).
b. Tempat Pembuangan Sampah
Sampah adalah sesuatu bahan atau benda
pada yang yang tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah
digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan
masyarakat Amerika membuat batasan, sampah (waste)
adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau
sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi
dengan sendirinya. Dari batasan ini jelas bahwa sampah adalah hasil suatu
kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna. Sehingga bukan semua
benda padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut sampah, misalnya: benda-benda alam, benda-benda yang keluar dari
bumi akibat gunung meletus, banjir, pohon di hutan yang tumbang akibat angin
ribut, dan sebagainya (Notoatmojdo, 2014:160).
Sampah erat kaitannya dengan kesehatan
masyarakat, karena dari sampah tersebut akan hidup berbagai mikro organisme
penyebab penyakit (bakteri
patogen),
dan juga binatang serangga sebagai pemindah/penyebar penyakit (vektor).
Cara-cara
pengelolaan sampah antara lain sebagai berikut:
a.
Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah
Pengumpulan sampah dimulai di tempat sumber dimana sampah
tersebut dihasilkan. Dari lokasi sumbernya sampah tersebut diangkut dengan alat
angkut sampah. Sebelum sampai ke tempat pembuangan kadang-kadang perlu adanya
suatu tempat penampungan sementara(Kemenkes RI, 2014).
Dari sini sampah dipindahkan dari alat
angkut yang lebih besar dan lebih efisien, misalnya dari gerobak ke truk atau
dari gerobak ke truk pemadat. Adapun Syarat tempat sampah yang di anjurkan:
1)
Terbuat dari bahan yang kedap air, kuat, dan tidak
mudah bocor
2)
Mempunyai tutup yang
mudah di buka, dikosongkan isinya, mudah dibersihkan
3)
Ukurannya di atur agar dapat di angkut oleh 1 orang
(Kemenkes RI, 2014).
Sedangkan syarat kesehatan pada tempat pengumpulan sampah
sementara yaitu:
1)
Terdapat dua pintu: untuk masuk dan untuk keluar
2)
Lamanya sampah di bak maksimal tiga hari
3)
Tidak terletak pada daerah rawan banjir
4)
Volume tempat penampungan sampah
sementara mampu menampung sampah untuk tiga hari
5)
Ada lubang ventilasi tertutup kasa untuk mencegah
masuknya lalat
6)
Harus ada kran air untuk membersihkan
7)
Tidak menjadi perindukan vektor
8)
Mudah di jangkau oleh masyarakat dan kendaraan
pengangkut
b.
Pemusnahan dan pengolahan sampah
1)
Di taman (Landfill), yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang ditanah
kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan
tanah
2)
Dibakar (Incineration), yaitu memusnahkan sampah dengan jalan membakar di
dalam tungku pembakaran (incenerator)
3)
Dijadikan pupuk (Composting), yaitu pengolahan sampah
menjadi pupuk (kompos), khususnya untuk sampah organik daun-daunan, sisa
makanan, dan sampah lain yang dapat membusuk (Kemenkes RI, 2014).
c. Sarana Pembuangan Air Limbah
Air limbah adalah cairan buangan yang
berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya dan
biasanya mengandung bahan- bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kehidupan
manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan. Air limbah atau air buangan
adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun
tempat-tempat umum lainnya dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat
yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan
hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan
dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran
dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yang
mungkin ada.
Berdasarkan batasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia,
baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti industri, perhotelan,
dan sebagainya. Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena
lebih kurang 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia
sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar).
Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan akan digunakan
oleh manusia lagi (Notoadmojdo, 2014: 194).
Air limbah baik limbah pabrik atau
limbah rumah tangga harus dikelola sedemikian rupa agar tidak menjadi sumber
penularan penyakit. Sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat
akan menimbulkan bau, mengganggu estetika dan dapat menjadi tempat perindukan
nyamuk dan bersarangnya tikus, kondisi ini dapat berpotensi menularkan penyakit
seperti leptospirosis, filariasis untuk daerah yang endemis filaria. Bila ada
saluran pembuangan air limbah di halaman, secara rutin harus dibersihkan, agar
air limbah dapat mengalir, sehingga tidak menimbulkan bau yang tidak sedap dan
tidak menjadi tempat perindukan nyamuk (Kemenkes RI, 2014).
Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan
akhir harus menjalani pengelolaan terlebih dahulu, untuk dapat melaksanakan
pengelolaan air limbah yang efektif perlu rencana pengelolaan yang baik. Sistem
pengelolaan air limbah yang diterapkan harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
1)
Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber
sumber air minum
2)
Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan
3)
Tidak menimbulkan pencemaran air
untuk perikanan, air sungai, atau tempat- tempat rekreasi serta untuk keperluan
sehari-hari
4)
Tidak dihinggapi oleh lalat,
serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit
penyakit dan vektor
5)
Tidak terbuka dan harus tertutup jika tidak diolah
Tidak
menimbulkan bau atau aroma tidak sedap. Beberapa metode sederhana yang dapat
digunakan untuk mengelola air limbah (Kemenkes RI, 2014).
d. Pembuangan Kotoran Manusia (Jamban Keluarga)
Kotoran manusia adalah semua benda atau
zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam
tubuh. Zat-zat yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja
(feses), air seni (urine), dan CO2. Dengan bertambahnya penduduk
yang tidak sebanding dengan area pemukiman, masalah pembuangan kotoran manusia
meningkat. Dilihat dari segi kesehatan masyarakat masalah pembuangan kotoran
manusia merupakan masalah yang pokok untuk sedini mungkin diatasi. Karena
kotoran manusia (feses) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks.
Penyebaran penyakit yang bersumber pada feses
dapat melalui berbagai macam jalan atau cara (Notoatmodjo, 2014:182).
Pembuangan kotoran disembarang tempat
berdampak negatif terhadap kesehatan manusia yang hidup disekitarnya karena
kotoran tersebut menjadi bahan sumber penyakit yang dapat di tularkan melalui
serangga lalat dan kecoa secara mekanis. Sedangkan melalui air, tanah dan
makanan dapat terjadi secara tidak langsung ataupun melalui kontak langsung.
Jamban adalah suatu bangunan yang
digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran manusia dalam suatu tempat
tertentu, sehingga kotoran tersebut tidak menjadi penyebab penyakit dan
mengotori lingkungan pemukiman.
Menurut Kemenkes RI (2014) ada beberapa
ketentuan jamban yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu:
a. Kotoran tidak
mencemari permukaan tanah, air tanah, dan air
permukaan
b. Jarak jamban dengan
sumber air bersih tidak kurang dari 10 meter
c.
Konstruksi kuat
d.
Pencahayaan minimal 100 lux
e.
Tidak menjadi sarang serangga (nyamuk, lalat, kecoa)
f.
Dibersihkan minimal 2x dalam sebulan
g. Ventilasi 20% dari
luas lantai
h.
Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap
air dan berwarna terang
i.
Murah
j.
Memiliki saluran dan pembuangan
akhir yang baik yaitu lubang selain tertutup juga harus disemen agar tidak
mencemari lingkungannya
Pembuangan tinja merupakan bagian yang
penting dari kesehatan lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan
memudahkan terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penulurannya melalui
tinja antara lain penyakit diare.
Menurut Munzir dalam Muhadjir (2012)
menyatakan bahwa keluarga yang tidak mempunyai jamban mempunyai resiko terkena
diare lebih besar dibandingkan dengan keluarga yang mempunyai jamban.
Berdasarkan Susenas
1998, resiko untuk terkena diare pada keluarga yang tidak
merniliki jamban 1,3 kali dibandingkan keluarga yang memiliki jamban
(Herryanto, 1999). Sedangkan hasil penelitian Madjid, 2011 menyebutkan bahwa
balita yang kondisi jamban keluarganya tidak saniter mempunyai resiko 2,07 kali
untuk terkena diare dibandingkan dengan balita yang kondisi jamban keluarganya
saniter.
Pengalaman di beberapa negara
membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam
penurunan risiko terhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban
harus membuat jamban dan keluarga harus buang air besar di jamban (Kemenkes RI,
2014).
3. Faktor Perilaku
Menurut Howard & Bartram (2012)
faktor-faktor perilaku yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor
kebiasaan mencuci tangan yang dijelaskan sebagai berikut:
a. Kebiasaan Mencuci Tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan
kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci
tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah
membuang tinja anak, sebelum menyuapi makan anak dan sesudah makan, mempunyai
dampak dalam kejadian diare. Praktek adalah cara seseorang dalam melaksanakan
kegiatan atau menjalankan pekerjaan, perbuatan secara nyata sesuai dengan teori
atau pengalaman yang di dapat, praktek ini sangat terkait dengan bagaimana cara
pencegahan (diare) dan merawat penderita di rumah serta mengaplikasikan dari
pengalaman yang didapat dari pendidikan atau dari media massa.
Diare
merupakan salah satu penyakit yang
penularannya berkaitan dengan
penerapan perilaku hidup sehat. Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur oral. Kuman-kuman tersebut ditularkan dengan perantara air atau bahan yang tercemar tinja yang mengandung mikroorganisme
patogen dengan melalui air minum. Pada penularan
seperti ini, tangan memegang
peranan penting, karena lewat tangan yang tidak bersih makanan atau minuman tercemar kuman penyakit masuk ke tubuh
manusia.
Pemutusan rantai penularan penyakit
seperti ini sangat berhubungan dengan penyediaan fasilitas yang dapat
menghalangi pencemaran sumber perantara oleh tinja serta menghalangi masuknya
sumber perantara tersebut kedalam tubuh melalui mulut. Kebiasaan mencuci tangan
pakai sabun adalah perilaku amat penting bagi upaya mencegah diare. Kebiasaan
mencuci tangan diterapkan setelah buang air besar, setelah menangani tinja
anak, sebelum makan atau memberi makan anak dan sebelum menyiapkan makanan.
Kejadian diare makanan terutama yang berhubungan langsung dengan makanan anak
seperti botol susu, cara menyimpan makanan serta tempat keluarga membuang tinja
anak(Howard & Bartram, 2012).
Kegiatan mencuci tangan dengan sabun dan
air yang mengalir dilakukan 40-60 detik. Langkah-langkah teknik mencuci tangan
yang benar menurut anjuran WHO dalam Kemenkes (2014) yaitu sebagai berikut :
a.
Pertama, basuh tangan dengan air
bersih yang mengalir, ratakan sabun dengan kedua telapak tangan
b.
Kedua, gosok punggung tangan dan
sela–sela jari tangan kiri dan tangan kanan, begitu pula sebaliknya
c.
Ketiga, gosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan
d.
Keempat, jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci
e.
Kelima, gosok ibu jari kiri
berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya
f.
Keenam, gosok dengan memutar ujung
jari-jari tangan kanan di telapak tangan
kiri dan sebaliknya
g.
Ketujuh, bila kedua tangan dengan air yang mengalir
dan keringkan
Hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare dikemukakan oleh Bozkurt et al (2012)
di Turki, orang tua yang tidak mempunyai kebiasaan mencuci tangan
sebelum merawat anak, anak mempunyai risiko lebih besar terkena diare. Heller (1998) juga mendapatkan adanya hubungan antara kebiasaan cuci tangan ibu dengan kejadian
diare pada anak di Betim-Brazil. Tinja
anak, terutama yang sedang menderita diare merupakan sumber penularan
diare bagi penularan diare bagi orang lain. Tidak hanya anak yang sakit, anak sehatpun tinjanya juga dapat menjadi carrier asimptomatik
yang sering kurang mendapat perhatian.
Oleh karena itu cara membuang tinja
anak penting sebagai upaya mencegah terjadinya diare (Sunoto dkk, 2012). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Aulia dkk., (2012) di Sumatera Selatan, kebiasaan ibu membuang tinja anak di tempat terbuka
merupakan faktor risiko yang
besar terhadap kejadian diare dibandingkan dengan kebiasaan ibu membuang tinja anak di jamban.
Hasil penelitian yang dilakukan Zakianis
(2012) menyatakan bahwa prilaku ibu yang buruk beresiko
menyebabkan diare pada bayi sebesar
1,57 kali
jika dibandingkan dengan prilaku ibu yang baik. Demikian
juga hasil penelitian Thoyib (2012) yang menyatakan bahwa pada anak yang kurang
dari 2 tahun, dari ibu yang tidak mencuci tangan sebelum memberi makan atau
minum pada anaknya mernpunyai resiko terserang diare 4,67 kali jika
dibandingkan dengan anak dari kelompok ibu yang mencuci tangan sebelum memberi
makan pada anaknya. Penelitian Alamsyah (2012) menyatakan bahwa ada hubungan
mencuci tangan sebelum memberi makan kepada anak dengan terjadinya diare pada balita.
b. Pola Makan
Menurut Simanjutak (2012) faktor-faktor
perilaku yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktorpola makan bahwa
makanan dan minuman dapat menjadi penyebab baik secara langsung maupun tidak
langsung terjadinya diare oleh V.Cholerae.
Maka dengandemikian kebiasaan jajan anak yang tidak higienis diduga menjadi
salah satu penyebab terjadinya diare dikarenakan V. Cholerae.
Sofran Mukti dalam Kartini (2011)
menyatakan bahwa dari survei tempat pengelolaan makanan yang dilaksanakan pada
tahun l989 di 8 provinsi mendapatkan bahwa tingkat kontaminasi 3l,3%-33,3% dari
contoh makanan di tempat pengelolaan makanan. Pernyataan tersebut mendukung
penelitian ini karena konsumsi yang terbanyak adalah warung dan pedagang
keliling yang memungkinkan hygiene dan
sanitasi makanan dan minuman kurang baik, sehingga membeli
makanan/minuman/jajan yang tercemar oleh kuman akan menyebabkan penyakit diare.
c. Memasak Air
Menurut Hairani (2017) faktor-faktor
perilaku yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor memasak air yang
dijelaskan sebagai berikut:
Air yang tidak dikelola dengan standar
pengelolaan air minum rumah tangga (PAM-RT) dapat menimbulkan penyakit. Air
untuk minum harus diolah terlebih dahulu dan wadah air harus bersih dan
tertutup. Diare yang terjadi karena air minum yang tidak bersih
biasanya berkaitan dengan agen
mikrobiologis dan kimia yang masuk kesaluran pencernaan. Penularan diare
dapat terjadi melalui mekanisme fecal-oral,
termasuk melalui air minum yang tercemar atau terkontaminasi. Proses
memasak/merebus air hingga mendidih, yakni hingga 100oC efektif
membunuh kuman-kuman penyakit,termasuk kuman-kuman penyebab diare yang
kemungkinan besar terdapat pada air minum (Hairani, 2017:14).
4. Faktor Karakteristik
Menurut Notoatmodjo (2014) faktor-faktor
karakteristik yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor pendidikan
dan pengetahuan sebagai berikut:
a. Pendidikan
Pendidikan secara umum adalah segala
upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok
atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku
pendidikan, yang tersirat dalam pendidikan adalah: input adalah sasaran
pendidikan (individu, kelompok, dan masyarakat), pendidik adalah (pelaku
pendidikan), proses
adalah
(upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain), output adalah
(melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).
Pendidikan kesehatan adalah aplikasi
atau penerapan pendidikan dalam bidang kesehatan. Secara operasional pendidikan
kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan,
sikap,praktek baik individu, kelompok atau masyarakat dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka sendiri(Notoadmodjo, 2014:109).
b. Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2014:148)
menjelaskan bahwa, pengetahuan adalah hal yang diketahui oleh orang atau
responden terkait dengan sehat dan sakit atau kesehatan, misal: tentang
penyakit (penyebab, cara penularan, cara pencegahan), gizi, sanitasi, pelayanan
kesehatan, kesehatan lingkungan, keluarga berencana, dan sebagainya.
Pengetahuan
yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni:
1) Tahu
(know), tahu diartikan sebagai
mengingat suatu materi yang telah dipelajari
2) Memahami
(comprehension), memahami diartikan
sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui,
dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar
3) Aplikasi,
aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya)
4) Analisis,
analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut,
dan masih ada kaitannya satu sama lain
5) Sintesis,
sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan
bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru
6) Evaluasi,
evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek
Pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Apabila penerimaan
perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari
oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan
bersifat langgeng (long lasting).
Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran
akan tidak berlangsung lama.
5. Pencegahan
Menurut Widoyono (2011) pencegahan diare
dapat dijelaskan sebagai berikut:
Penularan diare menyebar melalui jalur
fekal-oral, penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang
baik. Ini termasuk menggunakan air bersih, memasak air sampai mendidih sebelum
diminum untuk mematikan sebagian besar kuman penyakit, mencuci tangan
menggunakan sabun setelah keluar dari toilet dan khususnya selama mengolah
makanan, memberikan ASI pada anak sampai berusia dua tahun, menggunakan jamban
sehat, membuang tinja bayi dan anak dengan benar. Kotoran manusia harus
diasingkan dari daerah
pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran
manusia. Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus
diberikan perhatian khusus. Minum air, air yang digunakan untuk membersihkan
makanan, atau air yang digunakan untuk memasak harus disaring dan diklorinasi.
Jika ada kecurigaan tentang keamanan air atau air yang tidak dimurnikan yang
diambil dari danau atau air, harus direbus dahulu beberapa menit sebelum
dikonsumsi. Ketika berenang di danau atau sungai, harus diperingatkan untuk
tidak menelan air(Widoyono, 2011: 199).
Vaksinasi cukup menjanjikan dalam
mencegah diare infeksius, tetapi efektivitas dan ketersediaan vaksin sangat
terbatas. Pada saat ini, vaksin yang tersedia adalah untuk V. colera, dan demam tipoid. Vaksin kolera parenteral kini tidak
begitu efektif dan tidak direkomendasikan untuk digunakan. Vaksin oral kolera
terbaru lebih efektif, dan durasi imunitasnya lebih panjang. Vaksin tipoid
parenteral yang lama hanya 70% efektif dan sering memberikan efek samping.
Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70%, tetapi hanya memerlukan 1 dosis
dan memberikan efek samping yang lebih sedikit. Vaksin tipoid oral telah
tersedia, hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan
memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya (Kemenkes RI, 2014).
Menurut Widoyono (2011) tindakan dan
pengobatan diare dapat dijelakan sebagai berikut:
6. Tindakan atau Pengobatan
Pengobatan diare
berdasarkan derajat dehidrasinya
a.
Tanpa dehidrasi, dengan terapi A
Pada keadaan ini, buang air besar terjadi 3-4 kali sehari
atau disebut mulai mencret. Anak yang mengalami kondisi ini masih lincah dan
masih perlu makan dan minum seperti biasa. Pengobatan dapat dilakukan oleh ibu
atau anggota keluarga lainnya dengan memberikan makanan dan minuman yang ada di
rumah seperti air kelapa, larutan gula garam (LGG), air tajin, air teh, maupun
oralit (pengobatan terapi A).
b.
Dehidrasi ringan atau sedang, dengan terapi B
Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya
cairan sampai 5% dari berat badan, sedangkan pada diare sedang terjadi
kehilangan cairan 6- 10% dari berat badan. Untuk mengobati penyakit diare pada
derajat dehidrasi ringan atau sedang digunakan terapi B, yaitu sebagai berikut:
Pada tiga jam pertama jumlah oralit yang digunakan : usia
<1 tahun 350 mL, usia 1-4 tahun 600 mL, usia >5 tahun 1200 mL. Setelah
itu, tambahkan setiap kali mencret: usia <1 tahun 100 mL, usia 1-4 tahun 200
mL, dan usia >5 tahun
400
mL.
c.
Dehidrasi berat, dengan terapi C
Diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret
terus-menerus, biasanya lebih dari 10 kali disertai muntah, kehilangan cairan
lebih dari 10% berat badan. Diare ini diatasi dengan terapi C, yaitu perawatan
di puskesmas atau rumah sakit untuk diinfus RL (Ringer laktat).
d.
Teruskan pemberian
makan
Pemberian makan seperti semula diberikan sedini mungkin dan
disesuaikan dengan kebutuhan.
e.
Antibiotik bila perlu (Widoyono, 2011: 198).
Pengobatan spesifik: Penggantian ciran dan elektrolit
penting jika diare cair atau adanya tanda dehidrasi. Peranan pengobatan
antibiotika terhadap infeksi E.Coli lainnya
tidak jelas. Bahkan beberapa kejadian menunjukan bahwa pengobatan dengan TMP-SMX Fluorquinolones (Kunoli, 2013:157).
Prinsip pengobatan diare adalah
menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan
cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air
tajin, tepung beras dan sebagainya), seperti obat anti sekresi, obat anti
spasmolitik, obat pengeras tinja dan
antibiotika (Kemenkes RI, 2014).
C. Penelitian Terkait
1.
Penelitian Novalia (2011),
menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya diare pada balita di Wilayah
Puskesmas Teba Magelang
terdiri dari
3 faktor, yaitu faktor Pendidikan, persepsi dan lingkungan.
Penelitian menyimpulkan ada pengaruh yang signifikan antara faktor pendidikan
dan lingkungan terhadap terjadinya diare pada balita di Wilayah Puskesmas Teba
Magelang tahun 2011.
2.
Penelitian Retno (2012) tentang
faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam merawat balita diare
di Wilayah Kerja Puskesmas Dayamurni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Lampung
Barat tahun 2012. Hasil
uji statistik dengan regresi logistik diketahui bahwa di
antara Faktor-faktor yang berhubungankejadian diare pada balita di Wilayah
Kerja Puskesmas Dayamurni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Lampung Barat tahun
2012, pola makan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan
tingkat kejadian diare pada balita dengan OR =
0,4.
D. Kerangka Teori
Berdasarkan penelusuran dari kajian
pustaka yang meliputi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare maka dapat
dibuat kerangka teori faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian diare
sebagai berikut:
![]() |
|||
Gambar 2.1
KerangkaTeori
Sumber: Kartini (2011), Notoatmodjo (2012), Howard &
Bartman (2012) dan Kemenkes (2014), Simanjutak (2012), Hairani (2017)
Model di atas menggunakan model sistem
yang merupakan modifikasi Teori Kartini (2011) (yang berupa faktor Agent
meliputi virus, bakteri dan parasit), Teori Notoatmodjo (2012) (yang berupa
faktor lingkungan meliputi sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana
pembuangan air limbah dan jamban keluarga), Teori Notoatmodjo (2012) (yang
berupa faktor karakteristik meliputi pendidikan dan pengetahuan), Teori Howard
& Bartman (2012) dan Kemenkes (2014) (yang berupa faktor perilaku meliputi
kebiasaan mencuci tangan), Teori Simanjutak (2012) (meliputi pola makan) dan
Teori Hairani (2017) (yang meliputi memasak air). Dari kerangka diatas dapat
dijelaskan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kejadian diare yaitu:
Faktor Agent (berupa virus, bakteri, dan parasit), faktor lingkungan (berupa
sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dan
jamban keluarga), faktor karakteristik (berupa pendidikan dan pengetahuan) dan
faktor perilaku (berupa kebiasaan mencuci tangan, pola makan dan memasak air).
E. Kerangka Konsep
Berdasarkan kerangka teori di atas, maka
dapat disusun kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut:
![]() |
|||
Gambar 2.2
Kerangka Konsep
F. Hipotesis
Hipotesis dalam
penelitian ini adalah
Ho:
1.
Terdapat hubungan sarana air bersih
dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung
Kota Metro tahun 2018.
2.
Terdapat hubungan tempat pembuangan
sampah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018.
3.
Terdapat hubungan sarana pembuangan
air limbah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018.
4.
Terdapat hubungan tempat pembuangan
tinja dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018.
![]() |
48
BAB III METODE
PENELITIAN
|
48
|
A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan
adalah cross-sectional (potong
lintang), yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara
faktor- faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi, atau
pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point
time approach). Rancangan untuk menggambarkan hubungan variabel sebab atau
risiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur atau
dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2012:37).
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Waktu Penelitian dilakukan pada bulan
Juni-Juli 2018 dengan lokasi penelitian di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja
Puskesmas Tejoagung Kota Metro.
C. Subjek Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan
penelitian populasi (Arikunto,
2013: 173).
Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh KK di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro
dengan jumlah sebanyak 444
KK. Dan populasi sasaran pada penelitian ini adalah KK yang
dalam anggota keluarganya yang mengalami diare, dimana jika KK yang dalam
anggota keluarga dalam kurun waktu 3 bulan terakhir mengalami diare lebih dari
1 kali yaitu tetap dihitung 1 kasus.
2. Sampel
n
1)
Keterangan:
N
= besar populasi n = besar sampel
210 KK
1 444 0,0025
n = 210 KK
3. Teknik Pengambilan Sampel
MenurutNotoatmodjo (2012:120)teknik
pengambilan sampel yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak.Teknik random
sampling ini digunakan apabila jumlah populasi setiap unit atau anggota
bersifat homogen atau diasumsikan
homogen.
Hal itu berarti setiap sampel mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil
sebagai sampel.
Pengambilan sampel secara acak sederhana
yang peneliti gunakan adalah dengan melakukan pengundian atau pengocokkan
anggota populasi di masyarakat di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro.
D. Variabel dan Definisi Operasional
1. Variabel
Variabel penelitian pada dasarnya
merupakan segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut. Sedangkan
operasionalisasi variabel penelitian berarti menjelaskan secara terperinci
mengenai variabel-variabel yang ada di dalamnya menjadi beberapa bagian yaitu
dimensi, indikator, ukuran, dan skala. Variabel-variabel dari penelitian ini
terdiri dari variabel X (variabel independen) sebagai variabel bebas dan
variabel Y (variabel dependen) sebagai variabel terikat.
a.
Variabel Independen
Variabel independenyang akan diteliti adalah sarana air
bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dantempat
pembuangan tinja.
b.
Variabel Dependen
Variabel dependen pada penelitian ini adalah kejadian diare
2. Definisi Operasional
Definisi operasional variabel adalah
uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur
oleh variabel yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2012:112).
Agar variabel dapat diukur dengan
menggunakan instrumen atau alat ukur, maka variabel harus diberi batasan atau
definisi yang operasional atau “definisi operasional variabel”. Definisi
operasional penting dan diperlukan agar pengukuran variabel atau pengumpulan
data (variabel) itu konsisten antara
sumber data (responden) yang satu dengan responden yang lain
(Notoatmodjo, 2012:111).
![]() |
|||
52
Tabel 1
|
52
|
Definisi Operasional Variabel
|
Variabel
|
Definisi Operasional
|
Cara ukur
|
Alat ukur
|
Hasil ukur
|
Skala
|
|
Variabel independen
(X)
|
|||||
|
Sarana air bersih
|
Merupakan
sumber air
bersih di rumah yang terdiri dari:
a. Sumur
gali
b. Sumur
Bor
c. PDAM
d. Tidak
ada
Wadah/tempat/alat
yang berfungsi untuk menyimpan
dan menampung air, bersih yang terdiri dari:
b. Bak
Wadah
atau tempat pentimpanan air harus tertutup, wadah harus selalu bersih, letaknya sedemikian rupa sehingga jauh dari jangkauan serangga atau vektor lainnya
c. Ember
d. Tong
Air
e. Tidak
Ada
|
Observasi
|
Ceklist
|
1. Memenuhisyarat apabila:
a. Sumurgali
Dengan lantai sekitar
sumur dibuat dengan jarak minimal 1 meter dari dinding sumur, dan dibuat kedap air untuk
mencegah perembesan air kotor
b.
Sumur Bor
Bebas
dari pencemaran maupun kontaminasi
limbah, bagian atas sumur bor terdapat tutup,
terdapat dinding atau tembok dibagian atas
c.
PDAM
Pendistribusian air bersihnya cukup dan terpenuhi bagi masyarakat
d. Tong
Air
Wadah
atau tempat penyimpanan air harus
tertutup, wadah harus selalu bersih, letaknya
sedemikian rupa sehingga jauh dari
jangkauan serangga atau vektor
lainnya
2. Tidak memenuhi syarat apabila tidak sesuai dengan ketentuan
persyaratan pewadah air bersih
|
Ordinal
|
|
Tempat pembuangan sampah
|
Merupakan
ketersediaan sarana pembuangan
sampah di
rumah yang terdiri dari:
a. Kantong
Plastik
b. Kotak
Kardus
|
Observasi
|
Ceklist
|
1. Memenuhi syarat apabila:
a.
Kantong Plastik
Tidak
dekat dengan sumber air minum, tidak terletak pada daerah rawan banjir,
|
Ordinal
|
|
|
c.
Tempat Sampah
Plastik
d. Lubang
Ditanah
|
|
|
lamanya sampah di bak maksimal tiga hari,
volume tempat penampungan sampah sementara mampu menampung sampah untuk tiga hari, tidak bocor, terdapat penutup
b.
Kotak Kardus
Tidak dekat dengan
sumber air
minum, tidak terletak pada daerah
rawan banjir, lamanya sampah di bak maksimal tiga hari, volume tempat
penampungan sampah sementara mampu menampung sampah untuk tiga hari, tidak
bocor, terdapat penutup
c. Tempat
Sampah Plastik
Tidak dekat dengan sumber air minum, tidak
terletak pada daerah rawan banjir, lamanya sampah di bak maksimal tiga hari,
volume tempat penampungan sampah sementara mampu menampung sampah untuk tiga
hari, tidak bocor, terdapat penutup
d. Lubang
Ditanah
Tidak
menjadi sarang vektor, tempat sampah yang berupa
tanah hanya dipergunakan selama 1 bulan dan kemudian di urug dengan tanah
2. Tidak memenuhi syarat apabila tidak sesuai
dengan ketentuan persyaratan pewadah tempat pembuangan sampah
|
|
|
Sarana pembuangan air
limbah
|
Merupakan
ketersediaan sarana pembuangan air limbah di rumah yang terdiri dari:
a. Panjang
saluran lebih dari 10 meter
b. Kedap
air
c. Tertutup
d.
Tidak menjadi sarang
vektor
|
Observasi
|
Ceklist
|
1. Memenuhi syarat apabila:
a. Tidak mengakibatkan
kontaminasi terhadap sumber sumber air minum
b. Tidak mengakibatkan
pencemaran air permukaan
c.
menimbulkan pencemaran air untuk
|
Ordinal
|
|
|
e. Bersih/terawat
|
|
|
perikanan, air sungai, atau tempat-tempat
rekreasi serta untuk keperluan sehari-hari
d.
Tidak dihinggapi oleh lalat, serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat
berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor
e.
Tidak terbuka dan harus tertutup jika tidak diolah
f.
Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap
Beberapa metode sederhana yang dapat digunakan untuk mengelola air limbah
2.
Tidak memenuhisyarat apabila tidak sesuai dengan ketentuan persyaratan sarana
pembuangan air limbah (SPAL)
|
|
|
Kepemilikan jamban keluarga
|
Merupakan kepemilikan
jamban oleh keluarga sesuai dengan standar kesehatan.
Tempat/ jenis jamban yang digunakan
antara lain adalah:
a. Leher
Angsa/Bowl
b. Jamban
Cemplung
c. Lubang
Terbuka
d. Tidak
Ada
|
Wawancara danobservasi
|
Ceklist
|
1. Memenuhi Syarat apabila:
a.
Jarak tempat pembuangan/tanki septictank dengan
sumber air lebih dari 10 meter
b.
Buangan kotoran tidak menimbulkan bau serta tidak memungkinkan serangga
dapat masuk ke penampungan tinja. Misalnya dapat dilakukan dengan menutup
lubang jamban atau dengan sistem leher angsa
c. Konstruksi dudukan
jamban dibuat dengan baik dan aman bagi penggunannya
d.
Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang
e. Lantai kedap air
f. Tersedia air yang
cukup dan alat pembersih.
2.
Tidak memenuhi syarat apabila tidak
|
Ordinal
|
|
|
|
|
|
sesuai dengan ketentuan persyaratan
sarana pembuangan
kotoran manusia/jamban
|
|
|
Variabel Dependen
(Y)
|
|||||
|
Kejadian diare
|
Buang air besar yang tidak normal atau
bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya, sehari
lebih dari 3 kali.
|
Observasi
|
Ceklist
|
Jumlah kasus diare yang
terjadi atau menimpa pada responden dengan tanda tanda sebagai berikut:
1.
Diare
a. Buang air besar
encer dan sering
b. Nyeri perut
c. Demam
d. Kembung
e. Kadang disertai
darah dalam tinja
|
Ordinal
|
|
|
|
|
|
2. Tidak Diare
|
|
Teknik Pengumpulan Data
1.
Sumber Data
a.
Data Primer
Data primer penelitian ini yaitu data yang diperoleh dari
hasil pengamatan (observasi) dan wawancara (interview)
pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.
b.
Data Sekunder
Data sekunder penelitian ini yaitu data yang diperoleh dari
pihak Puskesmas Tejoagung Kota Metro. Data sekunder yang diperoleh meliputi:
Profil Puskesmas Tejoagung Kota Metro, data jumlah penderita diare di Wilayah
kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.
2. Metode Pengumpulan Data
a.
Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk
mengumpulkan data, dimana penelitian mendapatkan keterangan atau informasi
secara lisan dari seorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap
berhadapan muka dengan orang tersebut (Notoatmodjo, 2012:139).
Metode wawancara ini dapat dilakukan menggunakan alat
pengumpul data berupa quesioner. Quesioner adalah daftar pertanyaan yang
dilakukan untuk mendapatkan informasi tambahan pengetahuan masyarakat tentang
penyakit diare.
b.
Pengamatan (Observasi)
Pengamatan adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif
dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan (Notoatmodjo, 2012:131).
Metode observasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan
alat pengumpul data berupa checklist.
Checklist adalah suatu daftar
pengecek yang berisi variabel kejadian diare dan kondisi lingkungan.
3. Uji Validitas dan Realibilitas
Teknik pengumpulan data adalah pengisian lembar kuisioner
secara langsung oleh responden melalui wawancara oleh peneliti kemudian data
langsung dikumpulkan pada hari itu juga. Sedangkan kuisioner diberikan kepada
responden terlebih dahulu dilakukan uji instrument yaitu uji validitas dan
realibilitas.
1.
Pengujian Validitas
Alat ukur instrument penelitian yang dapat diterima sesuai
standar adalah alat ukur yang telah melalui uji validitas dan realibilitas
data. Uji validitas dapat menggunakan rumus Pearson
Product Moment, setelah itu diuji dengan menggunakan uji t dan lalu baru
dilihat penafsiran dari indeks korelasinya (Hidayat, 2007). Pengujian validitas
instrument dilakukan melalui program komputer.
rhitung
n∑XY- (∑X) (∑Y)
Keterangan :
rhitung =
Koefisien korelasi
∑Xi = Jumlah skor item
∑Yi = Jumlah skor total (item) N =
Jumlah responden
2.
Pengujian Realibilitas
Setelah mengukur validitas maka perlu mengukur realibilitas
data apakah alat ukur dapat digunakan atau tidak. Realibilitas adalah indeks
yang menunjukan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan
(Hidayat, 2007). Realibilitas sebenarnya adalah alat ukur untuk mengukur suatu
kuisioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu konstruk
atau variabel dikatakan realibel jika memberikan nilai Cronbach Alpha> R tabel.
Hasil Uji Validitas dan Realibilitas terlampir
4. Pengolahan Data danAnalisis Data
a.
Pengolahan Data
Pengolahan data
dilakukandengancara:
1)
Editing
yaitu merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan dan
perbaikan isian formulir atau instrumen.
2)
Coding
yaitu merupakan kegiatan mengubah data berbentuk kalimat atau
huruf menjadi data angka atau bilangan. Kegunaan dari coding adalah untuk
mempermudah pada analisis data dan juga mempercepat pada saat entry data.
3)
Processing
data (memasukan data) yaitu jawaban dari masing-masing responden
yang dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukan ke dalam program atau “software” komputer untuk dianalisis.
Pemrosesan dapat dilakukan dengan cara meng-entry
data dari kuisioner ke paket program komputer.
4)
Cleaning
(pembersihan data) yaitu pengecekan kembali untuk melihat
kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan
sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi (Notoatmodjo,
2012:176).
b. Analisis Data
Data-data yang diperoleh kemudian di
analisa secara univariat dan bivariat untuk mengetahui apakah ada
hubungan faktor-faktor lingkungan dengan tingginya angka kejadian diare di
Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro dengan menggunakan
uji Chi-square.
1) Analisis Univariat
Analisa univariat berfungsi untuk
meringkas kumpulan data hasil pengukuran sehingga kumpulan data tersebut
berubah menjadi informasi yang berguna. Peringkasan tersebut dapat berupa
ukuran statistik, tabel, grafik. Analisa univariat dilakukan per masing–masing
variabel yang diteliti yang disajikan dengan bentuk frekuensi dan proporsi.
2) Analisis Bivariat
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E.
Gambaran Umum Tempat Penelitian
1. Keadaan Geografi
Puskesmas Tejoagung Kota Metro terletak
di Kelurahan Tejoagung Kecamatan Metro Timur. Luas wilayah kerja Puskesmas
Tejoagung seluas 492 Ha/m2, terbagi dari 2 (dua) wilayah Kelurahan
yaitu Tejoagung dan Tejosari batas wilayah wilyah kerja Puskesmas Tejoagung
secara administratif adalah sebagai berikut:
a.
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lampung Timur
b.
Sebelah Barat berbatasan dengan
Kecamatan Metro Barat dan Metro Selatan
c.
Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Iringmulyo
d.
Sebelah Selatan berbatasan dengan
Kecamatan Batanghari Lampung Timur
Peta Wilayah Pelayanan Puskesmas Tejoagung Metro Timur
![]() |
Gambar 4.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung
2. Demografi atau Kependudukan
Penduduk wilayah
kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro sebanyak
4.578 jiwa. Yang terbagi dari 2 Kelurahan, penduduk
terbanyak berada di wilayah Kelurahan
Tejoagung yaitu sebanyak 2.725 jiwa (59,62%) dan di Kelurahan Tejosari sebanyak
1.853 jiwa (40,47%).
3. Pendidikan
Salah satu faktor penting dalam
peningkatan derajat kesehatan adalah pendidikan. Semakin tinggi tingkatan
pendidikan rata-rata masyarakat dalam suatu wilayah maka semakin mudah
masyarakat diajak bekerja sama dalam mendukung pengembangan di bidang kesehatan.
Tingkat pendidikan masyarakat di wilayah
kerja Puskesmas Tejoagung terbanyak adalah tamatan SD.
![]() |
Gambar 4.2
Diagram tingkat pendidikan
3. Mata Pencaharian
Mata pencaharian penduduk di wilayah
Puskesmas Tejoagung Kota Metro meliputi petani, buruh tani, pedagang, industri
kecil, kerajinan dan pegawai negeri. Untuk masyarakat dengan tingkat
penghasilan yang lebih tinggi maka semakin mudah masyarakat diajak bekerja sama
dalam mendukung pengembangan di bidang kesehatan dengan membangun sarana
kesehatan lingkungan.
Keadaan penduduk di wilayah Puskesmas
Tejoagung Kota Metro terdiri dari penduduk pendatang dan penduduk asli.
F. Hasil Penelitian
1.
Analisis Univariat
a. Sarana air bersih
Tabel 4.1
Distribusi
sarana air bersih di Kelurahan Tejosari tahun 2018
|
Sarana air bersih
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Memenuhi syarat
|
152
|
72,4
|
|
Tidak memenuhi syarat
|
58
|
27,6
|
|
Jumlah
|
210
|
100
|
Berdasarkan tabel di atas, diketahui
bahwa sebagain besar sarana air bersih pada responden di Kelurahan Tejosari
wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi
persyaratan 72,4% dan tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 27,6%.
b. Sarana pembuangan air limbah
Tabel 4.2
Distribusi
pembuangan air limbah di Kelurahan Tejosari tahun 2018
|
Pembuangan air
limbah
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Memenuhi syarat
|
74
|
35,2
|
|
Tidak memenuhi syarat
|
136
|
64,8
|
|
Jumlah
|
210
|
100
|
Berdasarkan tabel di atas, diketahui
bahwa sebagain besar pembuangan air limbahpada responden di Kelurahan Tejosari
wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi
persyaratan sebanyak 35,2% dan tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 64,8%.
c. Tempat pembuangan sampah
Tabel 4.3
Distribusi tempat pembuangan sampah di Kelurahan Tejosari tahun 2018
|
`Tempat
pembuangan
sampah
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
|
|
|
|
Memenuhi syarat
|
93
|
44,3
|
|
Tidak memenuhi syarat
|
117
|
55,7
|
|
Jumlah
|
210
|
100
|
Berdasarkan tabel di atas, diketahui
bahwa sebagain besar tempat pembuangan sampahpada responden di Kelurahan
Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi
persyaratan sebanyak 44,3% dan tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 55,7%.
d. Tempat pembuangan tinja
Tabel 4.4
Distribusi
tempat pembuangan tinja di Kelurahan Tejosari tahun 2018
|
Tempat pembuangan
tinja
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Memenuhi syarat
|
133
|
63,3
|
|
Tidak memenuhi syarat
|
77
|
36,7
|
|
Jumlah
|
210
|
100
|
Berdasarkan tabel di atas, diketahui
bahwa sebagain besar tempat pembuangan tinjapada responden di Kelurahan
Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi
persyaratan sebanyak 63,3% dan tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 36,7%.
e. Kejadian diare
Tabel 4.5
Distribusi
Kejadian Diare di Kelurahan Tejosari tahun 2018
|
Kejadian Diare
|
Jumlah
|
Persentase
|
|
Tidak Diare
|
83
|
39,5
|
|
Diare
|
127
|
60,5
|
|
Jumlah
|
210
|
100
|
Berdasarkan tabel di atas, diketahui
bahwa kejadian diarepada responden di Kelurahan Tejosari wilayah kerja
Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi persyaratan sebanyak
sebanyak 39,5% dan tidak memenuhi syarat 60,5%.
2. Analisis Bivariat
a. Hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare
Tabel 4.6
Hubungan Sarana Air Bersih dengan Kejadian Diare di Kelurahan Tejosari
tahun 2018
|
Sarana air bersih
|
Kejadian diare
|
Total
|
P-
value
|
OR 95 % CI
|
||||
|
Tidak Diare
|
Diare
|
N
|
%
|
|||||
|
N
|
%
|
N
|
%
|
|||||
|
Memenuhi
syarat
|
67
|
44,1
|
85
|
55,9
|
65
|
100
|
0,043
|
2,096
(1,071-
3,999)
|
|
Tidak memenuhi
syarat
|
16
|
27,6
|
42
|
72,4
|
14
5
|
100
|
||
|
Jumlah
|
83
|
39,5
|
12
7
|
60,5
|
21
0
|
100
|
||
Berdasarkan tabel di atas, diketahui
bahwa dari 65 orang yang memiliki sarana air bersihmemenuhi syarat dan tidak
mengalami diare sebanyak 44,1%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 55,9%.
Sedangkan dari 145 orang yang memiliki sarana air bersihtidak memenuhi syarat
dan tidak mengalami diare sebanyak 27,6%, sedangkan yang mengalami diare
sebanyak 72,4%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,043 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan sarana air
bersih dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,096 yang berarti
bahwa responden dengan sarana air bersihnya tidak memenuhi syarat mempunyai
risiko sebanyak 2,096 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang
sarana air bersihnya memenuhi syarat.
b. Hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare
Tabel 4.7
Hubungan tempat pembuangan sampah dengan Kejadian Diare di Kelurahan
Tejosari tahun 2018
|
Pembuangan sampah
|
Kejadian diare
|
Total
|
P-
value
|
OR 95 % CI
|
||||
|
Tidak Diare
|
Diare
|
n
|
%
|
|||||
|
N
|
%
|
N
|
%
|
|||||
|
Memenuhi
syarat
|
55
|
58,1
|
39
|
41,9
|
93
|
100
|
0,000
|
4,202
(2,334-
7,565)
|
|
Tidak memenuhi
syarat
|
29
|
24,8
|
88
|
75,2
|
117
|
100
|
||
|
Jumlah
|
83
|
39,5
|
127
|
60,5
|
210
|
100
|
||
Berdasarkan tabel di atas, diketahui
bahwa dari 93 orang yang memiliki tempat pembuangan sampahmemenuhi syarat dan
tidak mengalami diare sebanyak 58,1%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak
41,9%. Sedangkan dari 117 orang yang memiliki tempat pembuangan sampahtidak
memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 24,8%, sedangkan yang
mengalami diare sebanyak 75,2%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,000 (p- value< α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan tempat
pembuangan sampah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja
Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 4,202 yang
berarti bahwa responden tempat pembuangan sampahnya tidak memenuhi syarat
mempunyai risiko sebanyak 4,202 kali mengalami diare dibandingkan dengan
responden yang tempat pembuangan sampahnya memenuhi syarat.
c. Hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare
Tabel 4.8
Hubungan sarana pembuangan air limbah dengan Kejadian Diare di
Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
|
Pembuangan limbah
|
Kejadian diare
|
Total
|
P-
value
|
OR 95 % CI
|
||||
|
Tidak Diare
|
Diare
|
n
|
%
|
|||||
|
N
|
%
|
N
|
%
|
|||||
|
Memenuhi
syarat
|
40
|
54,1
|
34
|
45,9
|
74
|
100
|
0,002
|
2,544
(1,421-
4,557)
|
|
Tidak memenuhi
syarat
|
43
|
31,6
|
93
|
68,4
|
136
|
100
|
||
|
Jumlah
|
83
|
39,5
|
127
|
60,5
|
210
|
100
|
||
Berdasarkan tabel di atas, diketahui
bahwa dari 74 orang yang memiliki sarana pembuangan air limbah memenuhi syarat
dan tidak mengalami diare sebanyak 54,1%, sedangkan yang mengalami diare
sebanyak 45,9%. Sedangkan dari 136 orang yang memiliki sarana pembuangan air
limbah tidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 31,6%,
sedangkan yang mengalami diare sebanyak 68,4%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,002 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan sarana
pembuangan air limbah dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,544 yang berarti
bahwa responden sarana pembuangan air limbahnya tidak memenuhi syarat mempunyai
risiko sebanyak 2,544 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang
sarana pembuangan air limbahnya memenuhi syarat.
d. Hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare
Tabel 4.9
Hubungan tempat pembuangan tinja dengan
Kejadian Diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota
Metro tahun 2018
|
Pembuangan tinja
|
Kejadian diare
|
Total
|
P-
value
|
OR 95 % CI
|
||||
|
Tidak Diare
|
Diare
|
n
|
%
|
|||||
|
N
|
%
|
N
|
%
|
|||||
|
Memenuhi
syarat
|
63
|
47,4
|
70
|
52,6
|
133
|
100
|
0,004
|
2,565(1,3
90-4,733)
|
|
Tidak memenuhi
syarat
|
20
|
26,0
|
57
|
74,0
|
77
|
100
|
||
|
Jumlah
|
83
|
39,5
|
127
|
60,5
|
210
|
100
|
||
Berdasarkan tabel di atas, diketahui
bahwa dari 133 orang yang memiliki tempat pembuangan tinja memenuhi syarat dan
tidak mengalami diare sebanyak 47,4%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak
52,6%. Sedangkan dari 77 orang yang memiliki tempat pembuangan tinja tidak
memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 26,0%, sedangkan yang
mengalami diare sebanyak 74,0%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,004 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan tempat
pembuangan tinja dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja
Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,565 yang
berarti bahwa responden tempat pembuangan tinjanya tidak memenuhi syarat
mempunyai risiko sebanyak 2,565 kali mengalami diare dibandingkan dengan
responden yang tempat pembuangan tinjanya memenuhi syarat.
G. Pembahasan
1.
Hubungan sarana air
bersih dengan kejadian diare
Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa diketahui bahwa dari 65 orang yang memiliki sarana air bersihmemenuhi
syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 44,1%, sedangkan yang mengalami diare
sebanyak 55,9%. Sedangkan dari 145 orang yang memiliki sarana air bersihtidak
memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 27,6%, sedangkan yang
mengalami diare sebanyak 72,4%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,043 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan sarana air
bersih dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,096 yang berarti
bahwa responden dengan sarana air bersihnya tidak memenuhi syarat mempunyai
risiko sebanyak 2,096 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang
sarana air bersihnya memenuhi syarat
Air sangat penting bagi kehidupan
manusia. Di dalam tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang
dewasa sekitar 55-60% berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65%
dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara
lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Di negara-negara
berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per
hari. Di antara kegunaan- kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah
kebutuhan untuk
minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum dan masak air
harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit
bagi manusia (Notoatmodjo, 2014:175).
Sumber air minum utama merupakan salah
satu sarana sanitasi yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian
diare. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal
oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau
benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan, dan
makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar (Kemenkes
RI, 2014).
Hasil peneltian sejalan dengan hasil
penelitian Kartini (2011) bahwa balita yang mempunyai sarana air bersih yang
kurang baik beresiko 2,9 kali terhadap diare dibandingkan dengan balita yang
mempunyai sarana air bersih yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian
Cahyono (2012) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
sarana air bersih dengan kejadian diare pada
balita.
Hasil peneltiian sejalan
denganpenelitian hubungan jenis sarana dengan kejadian diare pada penelitian
Lit.bang.Kes di Provinsi NTT, menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan
sarana sumur gali dapat meningkatkan resiko diare pada balita 1,2 kali lebih
besar dari pada yang menggunakan air PAM/ledeng, perpipaan atau sumur artesis
(Muhadjir, 2012)
2. Hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare
Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa dari 93 orang yang memiliki tempat pembuangan sampah memenuhi syarat dan
tidak mengalami diare sebanyak 58,1%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak
41,9%. Sedangkan dari 117 orang yang memiliki tempat pembuangan sampah tidak
memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 24,8%, sedangkan yang
mengalami diare sebanyak 75,2%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,000 (p- value< α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan tempat
pembuangan sampah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja
Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 4,202 yang
berarti bahwa responden tempat pembuangan sampahnya tidak memenuhi syarat
mempunyai risiko sebanyak 4,202 kali mengalami diare dibandingkan dengan
responden yang tempat pembuangan sampahnya memenuhi syarat.
Sampah adalah sesuatu bahan atau benda
pada yang yang tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah
digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan
masyarakat Amerika membuat batasan, sampah (waste)
adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau
sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi
dengan sendirinya. Dari batasan ini jelas bahwa sampah adalah hasil suatu
kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna. Sehingga bukan semua
benda padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut sampah, misalnya: benda-benda
alam, benda-benda yang keluar dari bumi akibat gunung
meletus, banjir, pohon di hutan yang tumbang akibat angin ribut, dan sebagainya
(Notoatmojdo, 2014:160).
Sampah erat kaitannya dengan kesehatan
masyarakat, karena dari sampah tersebut akan hidup berbagai mikro organisme
penyebab penyakit (bakteri patogen), dan juga binatang serangga sebagai
pemindah/penyebar penyakit (vektor).
3. Hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare
Berdasarkan hasil penelitian diketahui
bahwa dari 74 orang yang memiliki sarana pembuangan air limbah memenuhi syarat
dan tidak mengalami diare sebanyak 54,1%, sedangkan yang mengalami diare
sebanyak 45,9%. Sedangkan dari 136 orang yang memiliki sarana pembuangan air
limbah tidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 31,6%,
sedangkan yang mengalami diare sebanyak 68,4%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,002 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan sarana
pembuangan air limbah dengan kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,544 yang berarti
bahwa responden sarana pembuangan air limbahnya tidak memenuhi syarat mempunyai
risiko sebanyak 2,544 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang
sarana pembuangan air limbahnya memenuhi syarat.
Air limbah adalah cairan buangan yang
berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya dan
biasanya mengandung
bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kehidupan
manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan. Air limbah atau air buangan
adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun
tempat-tempat umum lainnya dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat
yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan
hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan
dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran
dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yang
mungkin ada.
Berdasarkan batasan tersebut dapat
disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia,
baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti industri, perhotelan,
dan sebagainya. Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena
lebih kurang 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia
sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar).
Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan akan digunakan
oleh manusia lagi (Notoadmojdo, 2014: 194).
Air limbah baik limbah pabrik atau
limbah rumah tangga harus dikelola sedemikian rupa agar tidak menjadi sumber
penularan penyakit. Sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat
akan menimbulkan bau, mengganggu estetika dan dapat menjadi tempat perindukan
nyamuk dan bersarangnya tikus, kondisi ini dapat berpotensi menularkan penyakit
seperti leptospirosis, filariasis untuk daerah
yang
endemis filaria. Bila ada saluran pembuangan air limbah di
halaman, secara rutin harus dibersihkan, agar air limbah dapat mengalir,
sehingga tidak menimbulkan bau yang tidak sedap dan tidak menjadi tempat
perindukan nyamuk (Kemenkes RI, 2014).
Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan
akhir harus menjalani pengelolaan terlebih dahulu, untuk dapat melaksanakan
pengelolaan air limbah yang efektif perlu rencana pengelolaan yang baik.
4. Hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare
Berdasarkan hasil penelitian diketahui
dari 133 orang yang memiliki tempat pembuangan tinja memenuhi syarat dan tidak
mengalami diare sebanyak 47,4%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 52,6%.
Sedangkan dari 77 orang yang memiliki tempat pembuangan tinja tidak memenuhi
syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 26,0%, sedangkan yang mengalami diare
sebanyak 74,0%.
Hasil
analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,004 (p-value< α
= 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan tempat pembuangan
tinja dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,565 yang berarti
bahwa responden tempat pembuangan tinjanya tidak memenuhi syarat mempunyai risiko sebanyak 2,565 kali mengalami
diare dibandingkan dengan responden yang tempat pembuangan tinjanya memenuhi syarat.
Kotoran manusia adalah semua benda atau
zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam
tubuh. Zat-zat yang
harus dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja
(feses), air seni (urine), dan CO2. Dengan bertambahnya penduduk
yang tidak sebanding dengan area pemukiman, masalah pembuangan kotoran manusia
meningkat. Dilihat dari segi kesehatan masyarakat masalah pembuangan kotoran
manusia merupakan masalah yang pokok untuk sedini mungkin diatasi. Karena
kotoran manusia (feses) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks.
Penyebaran penyakit yang bersumber pada feses
dapat melalui berbagai macam jalan atau cara (Notoatmodjo, 2014:182).
Pembuangan kotoran disembarang tempat
berdampak negatif terhadap kesehatan manusia yang hidup disekitarnya karena
kotoran tersebut menjadi bahan sumber penyakit yang dapat di tularkan melalui
serangga lalat dan kecoa secara mekanis. Sedangkan melalui air, tanah dan
makanan dapat terjadi secara tidak langsung ataupun melalui kontak langsung.
Jamban adalah suatu bangunan yang
digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran manusia dalam suatu tempat
tertentu, sehingga kotoran tersebut tidak menjadi penyebab penyakit dan
mengotori lingkungan pemukiman.
Pembuangan tinja merupakan bagian yang
penting dari kesehatan lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan
memudahkan terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penulurannya melalui
tinja antara lain penyakit diare.
Hasil penelitian ini sejalan dengan
peneltiian Munzir dalam Muhadjir (2012) menyatakan bahwa keluarga yang tidak
mempunyai jamban
mempunyai resiko terkena diare lebih besar dibandingkan
dengan keluarga yang mempunyai jamban. Berdasarkan Susenas 1998, resiko
untuk terkena diare pada keluarga yang
tidak memiliki jamban 1,3 kali dibandingkan keluarga yang memiliki jamban
(Herryanto, 1999). Sedangkan hasil penelitian Madjid, 2011 menyebutkan bahwa
balita yang kondisi jamban keluarganya tidak saniter mempunyai resiko 2,07 kali
untuk terkena diare dibandingkan dengan balita yang kondisi jamban keluarganya
saniter.
Kondisi Klinik Sanitasi
PuskesmasTejoagung Kota Metro yang ada saat ini untuk pelayanan Klinik Sanitasi
pada tahun 2015 cukup memadai dan cukup baik, namun pada tahun 2016 pelayanan
konsultasi atau konseling di klinik sanitasi mulai sepi karena tenaga kesehatan
yang menjadi sanitarian di puskesmas berkurang sehingga kegiatan rujukan untuk
konseling di Klinik Sanitasi sudah tidak dijalankan kembali sehingga angka
kasus penyakit berbasis lingkungan dan menurunnya kesehatan lingkungan yang
merupakan masalah bagi masyarakat, karena tidak berjalannya program Klinik
Sanitasi dan tidak berjalannya kegiatan penyuluhan, dan inspeksi sanitasi
lingkungan yang berupa sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat
pembuangan tinja dan tempat pembuangan kotoran manusia atau jamban.
Kondisi Klinik Sanitasi di Puskesmas
yaitu merupakan salah satu pelayanan puskesmas yang mengintegrasikan antara
upaya promotif, preventif kuratif, dan rehabilitatif mempunyai peran antara
lain, sebagai pusat informasi, pusat rujukan, fasilitator bidang kesehatan
lingkungan dan
penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan
lingkungan permukiman, yang difokuskan pada penduduk yang beresiko tinggi di
Wilayah Kerja puskesmas.
Faktor pengetahuan yang baik dan sikap
setuju (positif) tentang Klinik Sanitasi diduga belum cukup membuat cakupan
layanan konseling Klinik Sanitasi menjadi tinggi. Namun perilaku tersebut tidak
menjadi faktor dominan terhadap rendahnya cakupan layanan konseling Klinik
Sanitasi, karena masih ada faktor eksternal lain yaitu ketersediaan sarana dan
prasarana, dana Klinik Sanitasi serta faktor kurangnya dukungan dari kepala
puskesmas dan petugas poli klinik.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil
penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.
Sarana air bersih pada responden di
Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang
memenuhi syarat sebanyak 27,6%.
2.
Sebagain besar pembuangan air
limbah pada responden di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota
Metro tahun 2018tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 64,8%.
3.
Sebagain besar tempat pembuangan
sampah pada responden di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun
2018 tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 55,7%.
4.
Sebagain besar tempat pembuangan tinja
pada responden di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota
Metro tahun 2018tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 36,7%.
5.
Kejadian diarepada responden di
Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun sebanyak 60,5%.
6.
Ada hubungan sarana air bersih
dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung
Kota Metro tahun 2018 dengan p-value
= 0,043 dan OR =
2,096.
7.
Ada hubungan tempat pembuangan
sampah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value
= 0,000 dan OR = 4,202.
8.
Ada hubungan sarana pembuangan air
limbah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value
= 0,002 dan OR = 2,544.
9.
Ada hubungan tempat pembuangan
tinja dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas
Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value
= 0,004 dan OR = 2,565.
C. Saran
Berdasarkan
kesimpulan, maka dapat diberikan saran sebagai berikut:
1.
Bagi Petugas Pelayanan Kesehatan di
Puskesmas Tejoagung Kota Metro Diharapkan
petugas
pelayanan kesehatan lebih
meningkatkan program
konseling di Klinik Sanitasi Puskesmas pada pasien terutama
meningkatkan pengetahuan tentang faktor-faktor lingkungan yang berupa sarana
air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dan sarana
pembuangan kotoran manusia sehingga tidak terjadi diare dan memberikan
perawatan kepada yang sakit diare akut dengan melakukan kunjungan rumah (home visit), serta umumnya pada seluruh
pasien yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung untuk meminimalisir
terjadinya kejadian diare dan adanya program sanitasi puskesmas.
2.
Bagi Masyarakat
Bagi masyarakat untuk lebih
memperhatikan dan meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap kondisi
lingkungan yang berupa sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana
pembuangan air limbah dan sarana pembuangan kotoran manusia karena dapat
menimbulkan penyakit diare.
3.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Dalam penelitian ini peneliti hanya
meneliti tentang sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan
air limbah dan tempat pembuangan tinja. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya
untuk menggali faktor-faktor lain seperti faktor lingkungan, sosial ekonomi
yang berhubungan dengan kejadian diare.
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, 2012. Hubungan Mencuci Tangan Sebelum Memberi
Makan Kepada Anak Dengan Terjadinya Diare Pada Balita. Skirpsi
Ariani, 2016. Diare Pendegahan dan Pengobatannya. Nuha Medika, Yogyakarta.
156 halaman
Arikunto, Suharsimi, 2012. Prosedur Penelitian. RinekaCipta.
Jakarta
Aulia dkk. 2011. Gizi Seimbang Untuk Mencegah Penyakit
Lingkungan. PT Gramedia PustakaUtama, Jakarta. Jurnal Penelitian
Bozkurt et al, 2012. Hubungan kebiasaan
mencuci tangan dengan kejadian diare.
Turki
Cahyono, 2012. Hubungan jenis sarana dengan kejadian diare
pada penelitian Lit.bang.Kes di Provinsi NTT. Skripsi
Departemen Kesehatan RI, 2005. UUD Kesehatan . Jakarta FKUI. Jakarta
, 2008. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare.
Jakarta FKUI.
Jakarta
, 2011. Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare.
Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta
, 2014. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare.
Lampung : Dinas
Kesehatan Provinsi Lampung
Dinas KesehatanProvinsi Lampung, 2012. Profil Dinkes Provinsi Lampung 2012.
Bandar Lampung
Dinas Kesehatan
Kabupaten Kota Metro, 2015. Profil Dinkes
Kota Metro, Kota Metro
, 2016. Profil Dinkes Kota Metro, Kota Metro
Euis,
2012.Tentang hubungan status gizi dengan
kejadian diare di Puskesmas Kota Karang Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar
Lampung Tahun2012. Skripsi
Friedman. 2011. Keluarga dan Peran Serta. Pelita Harapan. Jakarta
Hairani,
2017. Hubungan Pengetahuan Ibu dan
Perilaku Memasak Air Minum dengan Kejadian Diare Balita di Puskesmas Baringin
Kabupaten Tapin tahun 2014, Jurnal Penelitian
Hendarwanto, 2012. Diare
akut Karena Infeksi, Dalam: Waspadji S, Rachman AM, Lesmana LA, dkk,
editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I
Howard & Bartram, 2012.Domestic Water Quantity, Service Level and Health.
Jurnal Diare,
Jakarta
Kartini,
2012. Penyakit Berbasis Lingkungan.
Jurnal Penelitian Kementerian Kesehatan RI, 2013.Riskesdas, Jakarta
, 2014.Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta
Kunoli,2013. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular,CV Trans Info Media.
Jakarta Timur,
174 halaman
Miller,2011. Fungsi dan Peran Keluarga. Pustaka Sinar
Harapan. Jakarta Muhadjir, 2012. Etiologi
dan Gambaran Klinis Diare Akut Di RSUP Dr. Kariadi
Semarang. Karya Tulis
Ilmiah. Semarang
Nadesul,
Hendrawan. 2011. Makanan Untuk Balita.
Puspa Swara. Jakarta Notoatmodjo, 2012. Metodologi
Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta
, 2014.Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni.
Rineka Cipta, Jakarta
Novalia, 2006. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Diare Pada
Balita di Wilayah Puskesmas Kupang Teba Bandar Lampung. Skripsi
Ngastiyah, Perawatan
Anak Sakit, Edisi 2. Buku Kedokteran. EGC
Pedoman
Pemberantasan Penyakit Diare, Mentri Kesehatan Republik Indonesia.
Available from :
http://www.depkes.go.id/downloads/SK1216-01.pdf Profil Kesehatan
Propinsi Lampung, 2012. Dinas Kesehatan Propinsi Lampung Profil Puskesmas
Tejoagung, 2017. Puskesmas Tejoagung Kota Metro
Sahrensi,
2013.Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Penyakit Diare di Kampung Karang Agung Kecamatan Pakuan Ratu
Kabupaten Way Kanan Tahun 2012, Tesis Mitra Lampung
Soebagyo, 2008.Diare Akut pada Anak. Surakarta.
Universitas Sebelas Maret Press
Soemirat, J. ,2012. Kesehatan Lingkungan, cetakan kelima.
Yogyakarta :Gadjah Mada University. Press
Suharyono,
2008.Diare Akut, Gramedia Pustaka.
Jakarta Sulvianti, 2013.Dehidrasi,
Jurnal Ilmiah Penyakit Menular
Sunotodkk,
2011.Pengantar Pangandan Gizi,
Yayasan Obor. Jakarta Sukarni, M., 2012. Kesehatan
Keluarga dan Lingkungan.Kanisius. Bandung Suririnah, 2012. Diare dan faktor Penyebab. Artikel.
Jakarta
Widoyono, 2011.Penyakit
Tropis. Erlangga. Jakarta.
Yulisir,
2012. Faktor-Faktor Yang Berhubungan
Dengan Kejadian Penyakit Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Dayamurni
Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2012, Tesis Mitra
Lampung
Zakianis,
2012. Dalam Kartini, 2014. Penyakit
Berbasis Lingkungan. Kanisius, Bandung
Zein, 2012. Memahami Berbagai Penyakit, Alfabet. Jakarta










KUISIONER PENELITIAN
HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018
Petunjuk
Pengisian
1.
Bacalah pernyataan atau pertanyaan
di bawah ini dengan baik dan berilah tanda (√) pada alternative jawaban yang
dianggap benar.
2.
Isilah titik-titik yang kosong
3.
Partisipasi anda sangat bermanfaat
dalam penelitian ini dan saya ucapkan terimakasih.
Identitas Responden
1.
No Responden : ………….
2.
Nama Responden : ………….
3.
Umur Responden :…………….
4. No Telepon/Hp :…………………………………
5. Alamat :…………………………………
A. Kejadian Diare
1.
Apakah anda menderita diare dalam 2-3 bulan terakhir?
1. Ya (1)
2.
Tidak (0)
2.
Jika tidak adakah anggota keluarga yang sedang mengalaminya?
1. Ya (1)
2. Tidak (0)
3.
Apakahterjadi mencret/buang air
dalam bentuk lembek atau encer>3 kali dalam 1 hari (24 jam)?
1. Ya (1)
2. Tidak (0)
B. Sarana air bersih
1.Dari mana sumber air
bersih yang paling sering digunakan keluarga sehari hari
?
1.
Tidak Ada(0)
2.
Sumur Gali (1)
3.
PAM (1)
2.
Berapa jarak antara sumur dengan tempat pembuangan
tinja ?
1. < 10 m (0)
2. ≥ 10 m (1)
3.
Untuk keperluan minum, apakah air dimasak sampai
mendidih ?
1. Ya (1)
2. Tidak (0)
4.
Dimanakan anda menyimpan air yang sudah dimasak?
1.
Dalam Panci Yang Tertutup (1)
2.
Dalam Teko/Ketel/Ceret (1)
3.
Dalam Botol/Termos(1)
4.
Tidak disimpan (0)
5.
Apakah anda puas dengan kualitas air yang digunakan
saat ini ?
1. Ya (1)
6.
Jika tidak, apa yang membuat anda merasa kurang puas ?
1.
Air Berasa (0)
2.
Air Berbau (0)
3.
Air Keruh (0)
4. Lain-Lain...........
C. Tempat Pembuangan Sampah
1.
Sehari-hari, bagaimanakah keluarga ini membuang
sampah ?
1.
Dibuang dipekarangan (0)
2.
Dibuang di lubang galian (0)
3.
Dibakar (1)
4.
Dibuang ke TPS (1)
2.
Tempat sampah (dalam rumah)
1.
Ada (1)
2.
Tidak ada (0)
3.
Tempat penampungan sampah yang digunakan :
1.
Kantong Plastik (0)
2.
Kotak Kardus (0)
3.
Lubang ditanah (1)
4.
Tempat Sampah Plastik (1)
4.
Apakah sampah yang ditampung ditempat sampah dibuang
kurang dari 3 hari
?
1. Ya (1)
5.
Apakah tempat sampah diletakan dekat dengan jarak
penghasil sampah ?
1. Ya (1)
2. Tidak (0)
D.
No
PENGAMATAN
1 = Ya
2 = Tidak
1
Memiliki Saluran pembuangan (SPAL)
2
Panjang SPAL minimal 10 m
3
SPAL Kedap air
4
SPAL Tertutup
5
Jarak SPAL terhadap sumber air
........meter
Sarana
Pembuangan Air Limbah PENGAMATAN
|
1.
Jika tidak memiliki, mengapa anda belum/tidak
membuat SPAL ?
1.
Kebiasaan (0)
2.
Tidak terjangkau biaya pembuatannya (0)
3.
Tidak tahu teknik/cara pembuatannya (0)
2.
Disatukan dari dapur/kamar mandi 2. Ya (1)
3.
Tidak (0)
3.
Kondisi :
1.
Bersih (1)
2.
Terpelihara (1)
3.
Tak terawatt (0)
E. Kepemilikan jamban keluarga
1.
Apakah di rumah mempunyai jamban keluarga (kakus) ?
1. Ya (1)
2.
Tidak (0)
2.
Bilaya, apa jenis jamban di rumah ?
1.
Jamban dengan tangki septic / leher angsa (1)
2.
Jamban tanpa tangki septic / jamban cemplung (0)
3.
Terbuka (0)
3.
Jika ada balita, Apakah ibu membuang tinja balita
kejamban ?
1. Ya (1)
2. Tidak (0)
4.
Apakah tersedia sabun untuk mencuci tangan?
1. Ya (1)
2. Tidak (0)
5.
Apakah di jamban selalu tersedia air yang cukup ?
1. Ya (1)
2. Tidak (0)
6.
Apakah kondisi jamban selalu bersih dan bebas vektor
(lalat) ?
1. Ya (1)
2. Tidak (0)
7.
Apakah jarak dengan sumber air 10 m?
1. Ya (1)
2.
Tidak (0)
Skoring:
1.
Variabel air bersih : Apabila
jumlah kode >3 maka dinyatakan
“memenuhi syarat”
2.
Variabel sampah : Apabila jumlah
kode >3 maka dinyatakan “memenuhi syarat”
3.
Variabel limbah : Apabila jumlah
kode >3 maka dinyatakan “memenuhi syarat”
4.
Variabel jamban : Apabila jumlah
kode >5 maka dinyatakan “memenuhi syarat”
5.
Variabel Kejadian Diare: Apabila
jumlah kode >1 maka dinyatakan “diare”
Memenuhi syarat : Kode 1 Tidak Memenuhi : Kode 2 Diare :
Kode 2
Tidak Diare :
Kode 1





Tempat Pembuangan
Sampah (Galian Tanah)
Sumur Gali Tidak Disemen lantainya

Tempat
Penampungn Air Minum Kondisi Jamban
![]() |
![]() |
Pengukuran Jarak
Sumber Air Bersih Dengan Tempat Pembuangan Tinja

Wawancara Terhadap Responden
![]() |
![]() |
Sampah Dibuang
Dipekarangan
![]() |
Kondisi Jamban Tidak Bersih

SPAL Tertutup SPAL
Kedap Air Dan Tidak Tertutup
![]() |
![]() |
Kondisi Sumur Tidak Bersih

























Komentar
Posting Komentar