HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018




HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018



Skripsi








Oleh:
DIAH AYU KURNIAWATI NIM: 14331009













POLITEKNIK KESEHATAN LINGKUNGAN TANJUNGKARANG PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KESEHATAN LINGKUNGAN TAHUN 2018


HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018




Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan pada program Diploma IV Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Tanjung Karang




Oleh:
DIAH AYU KURNIAWATI NIM: 14331009











POLITEKNIK KESEHATAN LINGKUNGAN TANJUNGKARANG PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KESEHATAN LINGKUNGAN TAHUN 2018




L









POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV KESEHATAN LINGKUNGAN
Skripsi, Juli 2018 Diah Ayu Kurniawati
HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018

xvii + 797 halaman, 2 gambar,15 Tabel dan 11 lampiran

ABSTRAK


Diare hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia bias diserang oleh diare, tetapi penyakit berat dengan kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita
Tujuan penelitian adalah Mengetahui hubungan faktor-faktor lingkungan dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional (potong lintang). Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara dua variabel yaitu variabel independent dan variabel dependent.
Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare di Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value
= 0,043 dan OR = 2,096. Ada hubungan tempat pembuangan sampah dengan  kejadian diare di Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value = 0,000 dan OR = 4,202. Ada hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare di Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value = 0,002 dan OR = 2,544. Ada hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value = 0,004 dan OR = 2,565. Saran, Diharapkan petugas pelayanan kesehatan lebih meningkatkan dalam memberikan konseling pada pasien terutama meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu juga diharapkan peran aktif dari perawat kesehatan masyarakat untuk memberikan dorongan tambahan serta meminta bantuan keluarga untuk memantau keluarganya yang terkena diare sehingga balita tidak terjadi diare dan memberikan perawatan kepada yang sakit diare akut dengan melakukan kunjungan rumah (home visit), serta umumnya pada seluruh pasien yang ada di Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung untuk meminimalisir terjadinya kejadian diare.

Kata Kunci      : Sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan Air limbah, tempat pembuangan tinja, diare


Daftar Bacaan : 40 (2000-2018)









Persembahan
Skripsi ini kupersembahkan untuk:
Ayah Drs. H. Sriyatman dan Ibu Hj. Wasirotun Halim Serta orang-orang yang aku sayangi.....

Motto

Kesempatan bukanlah hal yang kebetulan. Kau yang harus menciptakannya.
Maka ciptakan kesempatan itu! (Chris Grosser)



“Do a kindness right now!


Lebih baik merasakan sulitnya pendidikan saat ini daripada rasa pahitnya kebodohan kelak

KATA PENGANTAR



Segala puji bagi ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Hubungan Faktor-Faktor Lingkungan dengan Kejadian Diare di  Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro Tahun 2018” ini dapat diselesaikan.
Dalam proses pembuatan skripsi ini penulis menyadari bahwa terselesaikannya tugas akhir ini tidak terlepas bantuannya dari segala pihak yang ikut berpartisi membantu. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1.        Bapak    Warjidin    Aliyanto,    SKM.,   M.Kes    selaku    Direktur    Politeknik Kesehatan Tanjungkarang.
2.        Bapak A. Fikri, ST, M.Si selaku Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Tanjungkarang.
3.        Bapak Sarip Usman, SKM., M.Kes, selaku Pembimbing I yang telah  memberi petunjuk dan bimbingan dalam pembuatan skripsi ini.
4.        Ibu Mei Ahyanti, SKM., M.Kes selaku Pembimbing II yang telah memberikan petunjuk dan bimbingan dalam pembuatan skripsi ini.
5.        Bapak Dr. Sri Indra Trigunarso, SKM., M.Kes selaku Penguji.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan Proposal Skripsi ini masih terdapat kekurangan karena keterbatasan penulis sendiri, maka penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk di berikan kepada penulis. Akhir kata penulis memohon maaf atas kekurangan dan kelebihan yang ada, dan semoga Proposal Skipsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bandar Lampung, Juli 2018



Penulis











DAFTAR ISI






Halaman
Lembar Judul............................................................................................................. i
Lembar Pengesahan.................................................................................................... ii
Lembar Persetujuan.................................................................................................... iii
Lembar Pernyataan Orisinalitas................................................................................. iv
Lembar Abstrak......................................................................................................... v
Biodata Penulis.......................................................................................................... vi
Lembar Persembahan................................................................................................. vii
Motto.......................................................................................................................... viii
Kata Pengantar........................................................................................................... ix
Daftar Isi.................................................................................................................... x
Daftar Tabel............................................................................................................... xi
Daftar Gambar........................................................................................................... xii
Daftar Lampiran......................................................................................................... xiii





BAB I     PENDAHULUAN

E.     Teknik Pengumpulan Data.................................................................... 56
F.     Pengolahan Data dan Analisis Data..................................................... 58
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.      Gambaran Umum Tempat Penelitian................................................. 60
B.       Hasil Penelitian.................................................................................. 62
C.       Pembahasan........................................................................................ 69
A.        Kesimpulan....................................................................................... 78
B.       Saran.................................................................................................. 79

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN





Halaman




Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel.................................................................... 52

Tabel 4.1 Distribusi Sarana Air Bersih di Desa Tejosari............................................ 62

Tabel 4.2 Distribusi Sarana Pembuangan Air Limbah di Desa Tejosari..................... 63

Tabel 4.3 Distribusi Tempat Pembuangan Sampah di Desa Tejosari......................... 63

Tabel 4.4 Distribusi Tempat Pembuangan Tinja di Desa Tejosari.............................. 64

Tabel 4.5 Distribusi Kejadian Diare di Desa Tejosari................................................ 64

Tabel 4.6 Hubungan Sarana Air Bersih Dengan Kejadian Diare............................... 65

Tabel 4.7 Hubungan Tempat Pembuangan Sampah Dengan Kejadian Diare............ 66

Tabel 4.8 Hubungan Sarana Air Bersih Dengan Kejadian Diare............................... 67

Tabel 4.9 Hubungan Tempat Pembuangan Tinja Dengan Kejadian Diare................. 68






Halaman





Gambar 2.1 Kerangka Teori Penelitian...................................................................... 45
Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian.................................................................. 46
Gambar 4.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung............................................. 60
Gambar2.2  Diagram Tingkat Pendidikan................................................................. 61



 








1
 
BAB I PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang


Diare hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semua kelompok usia bisa diserang oleh diare, tetapi penyakit berat dengan kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan anak balita. Di negara berkembang, anak-anak menderita diare lebih dari 12 kali per tahun dan hal ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari semua penyebab kematian. Di negara berkembang, anak-anak balita mengalami rata-rata 3-4 kali kejadian diare per tahun tetapi di beberapa tempat terjadi lebih dari 9 kali kejadian diare per tahun atau hampir 15-20% waktu hidup anak dihabiskan untuk diare (Kemenkes RI, 2016).
Penyakit diare di Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama, hal ini disebabkan karena masih tingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan banyak kematian terutama pada balita.Angka kesakitan diare di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Angka kesakitan diare pada tahun 2016 yaitu 422 per 1000 penduduk, dengan jumlah kasus 10.980 penderita dengan jumlah kematian 277 (CFR 2,52%). Di Indonesia dilaporkan terdapat 1,6 sampai 2 kejadian diare per tahun pada balita, sehingga




secara keseluruhan diperkirakan kejadian diare pada balita berkisar antara 40 juta setahun dengan kematian sebanyak 200.000-400.000 balita(Kemenkes RI, 2016).
Angka kesakitan (Insidens Rate) diare untuk semua kelompok umur di Provinsi Lampung dari tahun 2013 – 2016 cenderung meningkat, yaitu dari 9,8 per 1000 penduduk menjadi 18,24 per 1000 penduduk tahun 2016. Angka ini bila dibandingkan dengan rata-rata nasional, angka ini masih jauh dibawah angka nasional: 374 per 1.000 penduduk. Walaupun angka kesakitan meningkat namun angka kematian atau CFR diare masih dibawah 1% (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2016).
Diare banyak disebabkan oleh pemakaian air yang tidak bersih dan sehat, pengolahan makanan yang tidak higiens dan ketiadaan jamban sehat, tahun 2010 yaitu 29,2 per 1000 penduduk dan tahun 2011 meningkat menjadi 33,03 per 1000 penduduk, dan tahun 2012 menurun menjadi 22,9 per 1000 penduduk dan terjadi peningkatan yang signifikan pada tahun 2013 yaitu 214 per 1000 penduduk, tahun 2014 yaitu 214 per 1000 penduduk, tahun 2015 adalah 214 per 1000 penduduk,
dan 2016 adalah 214 per 1000 penduduk (Profil Dinkes Kota Metro, 2016).

Tahun 2015 kejadian diare di Puskesmas Tejoagung kota Metro yaitu sebesar 100 kasus, tahun 2016 terdapat 117 kasus, dan kejadian tahun 2017 terdapat 242 kasus yang artinya kasus diare di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung mengalami peningkatan yang signifikan di tahun 2017 kasus diare, dimana target penemuan penderita diare pada semua umur adalah sebanyak 353, sehingga cakupan pelayanan penderita diare semua umur di Puskesmas Tejoagung adalah 68,55%. Untuk angka kejadian diare di Kelurahan Tejoagung pada Tahun 2017 terdapat 88 kasus diare dan di Kelurahan Tejosari terdapat 154 kasus




diare.Di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung dengan jumlah penduduk sebanyak

4.578 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kelurahan Tejoagung sebanyak 2.725 jiwa (59,62%). Sedangkan penduduk yang berada di Kelurahan Tejosari sebanyak 1.853 jiwa (40,47%). Dan jumlah KK sebanyak 629 jiwa yang berada di Kelurahan Tejoagung, dan jumlah KK sebanyak 444 jiwa di Kelurahan Tejosari.(Profil Puskesmas Tejoagung, 2017).
Puskesmas merupakan unit pelayanan kesehatan yang di samping menonjolkan aspek kuratif, juga menonjolkan aspek promotif dan preventif. Salah satu program puskesmas yang menelaah masalah sanitasi lingkungan dan penyakit berbasis lingkungan adalah klinik sanitasi. Idealnya, setiap puskesmas memiliki klinik sanitasi (Depkes RI, 2004).
Gambaran klinik sanitasi di Puskesmas Tejoagung di tahun 2015 pelayananya cukup maksimal yaitu jika ada pasien datang ke puskesmas yang menderita penyakit berbasis lingkungan dengan latar belakang buruknya kebersihan diri, keluarga dan lingkungan, maka pasien tersebut akan dirujuk ke klinik sanitasi setelah diobati. Di sana, petugas klinik sanitasi akan memberikan konseling mengenai penyakit berbasis lingkungan dan sanitasi lingkungan. Jika dirasa perlu, petugas akan melakukan kunjungan ke rumah pasien tersebut untuk menelaah penyebab utama penyakit dan masalah sanitasi pasien tersebut dan memberi solusi untuk menyelesaikannya. Selain pasien penyakit berbasis lingkungan, masyarakat umum juga dapat berkonsultasi di klinik sanitasi, dimana mereka disebut dengan klien. Dalam kurun waktu sebulan, petugas klinik sanitasi akan mengemukakan masalah kesehatan lingkungan yang ada, dan akan berdiskusi dengan petugas lainnya di puskesmas mengenai solusi untuk




menyelesaikannya dan evaluasi program tersebut. Dengan kegiatan konseling, kunjungan ke rumah pasien dan klien. Namun di tahun 2016 pelayanan klinik sanitasi di Puskesmas Tejoagung mengalami penurunan dikarenakan ruangan klinik sanitasi Puskesmas dipindahkan ke lantai 2sehingga pasien yang  seharusnya mendatangi klinik sanitasi untuk melakukan konsultasi mengenai penyakit yang diderita, tetapi mereka enggan untuk mendatangi klinik sanitasi di Puskesmas Tejoagung.
Presentasi akses sanitasi di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung yang terbagi menjadi dua kelurahan yaitu Kelurahan Tejoagung diketahui akses penyediaan air bersih yaitu 76,47%, akses tempat pembuangan sampah 52,30%, akses pembuangan limbah 53,73%, akses pembuangan kotoran manusia atau jamban 63,60%dan untuk presentasi akses sanitasi di Kelurahan Tejosari  diketahui akses penyediaan air bersih yaitu 52,70%, akses tempat pembuangan sampah 51,12%, akses pembuangan limbah 44,14%, akses pembuangan kotoran manusia atau jamban 47,52%
Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kejadian diare yaitu tidak memadainya penyediaan air bersih, air tercemar oleh tinja, kekurangan sarana kebersihan, pembuangan tinja yang tidak higienis, kebersihan perorangan dan lingkungan. Banyak faktor yang secara langsung maupun tidak langsung dapat menjadi faktor pendorong terjadinya diare, terdiri dari faktor agent, penjamu, lingkungan dan perilaku.Faktor penjamu yang menyebabkan meningkatnya kerentanan terhadap diare, diantaranya tidak memberikan ASI selama 2 tahun, kurang gizi, dan penyakit campak. Faktor lingkungan yang paling dominan yaitu




sarana penyediaan air bersih dan pembuangan tinja, kedua faktor ini akan berinteraksi bersama dengan perilaku manusia (Kemenkes RI, 2016).


Hasil penelitian Arimbawa (2016) tentangHubunganFaktor PerilakudanFaktor Lingkungan terhadapKejadianDiare padaBalitadiKelurahan Sukawati,KabupatenGianyar Bali Tahun2014, hasilpenelitianmenunjukkanbahwa faktoryangberhubungandanberpengaruh secara signifikanterhadapkejadiandiare balitaadalahperilakukebiasaanmemasakair minum(p=0.018).
Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka perlu dilakukan penelitianuntuk menelititentang: Hubungan Faktor-Faktor Lingkungan  dengan Kejadian Diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro Tahun 2018.

B.   Rumusan Masalah


Presentasi akses sanitasi di wilayah kerja Puskesmas Tejoagung yang terbagi menjadi dua kelurahan yaitu Kelurahan Tejoagung diketahui akses penyediaan air bersih yaitu 76,47%, akses tempat pembuangan sampah 52,30%, akses pembuangan limbah 53,73%, akses pembuangan kotoran manusia atau jamban 63,60%dan untuk presentasi akses sanitasi di Kelurahan Tejosari diketahui akses penyediaan air bersih yaitu 52,70%, akses tempat pembuangan sampah 51,12%, akses pembuangan limbah 44,14%, akses pembuangan kotoran manusia atau jamban 47,52%
Sanitasi lingkungan yang buruk dapat menimbulkan peningkatan kejadian diare di Kelurahan Tejosari, yang meliputi sarana air bersih, tempat pembuangan




sampah, tempat pembuangan limbah dan sarana pembuangan kotoran manusia atau jamban.
Berdasarkan data di atas, maka rumusan masalahnya adalah:”Hubungan faktor-faktor lingkungan dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro Tahun 2018”.

C.   Tujuan Penelitian


1.   Tujuan Umun

Mengetahui hubungan faktor-faktor lingkungan dengankejadian diarediKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018.

2.   Tujuan Khusus


a.                  Mengetahui distribusi sarana air bersih di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
b.                 Mengetahui distribusi sarana pembuangan air limbah di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
c.                  Mengetahui distribusi tempat pembuangan sampah diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
d.                 Mengetahui distribusi tempat pembuangan tinja diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018




e.                  Mengetahui distribusi kejadian diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
f.                   Mengetahui hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja  Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
g.                 Mengetahui hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
h.                 Mengetahui hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018
i.                    Mengetahui hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare diKelurahan Tejosari Kecamatan Metro TimurWilayah Kerja  Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018

D.   Manfaat Penelitian


1.    Bagi Puskesmas Tejoagung

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan masukan dalam perencanaan dan perbaikan untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di Puskesmas Tejoagung Kota Metro.

2.    Bagi Institusi Pendidikan


Hasil penelitian ini diharapkan dapatmenjadi bahan referensi, informasi dan kepustakaan khususnya bagi mahasiswa Poltekkes Tanjungkarang




tentang hubungan faktor-faktor lingkungan dengan tingginya angka kejadian diaredi Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.

3.    Bagi Masyarakat


Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai upaya dalam menyelesaikan masalah kesehatan lingkungan yang ada di masyarakat yang berhubungan dengan penyakit diare.

E.   Ruang Lingkup

Penelitian ini menggunakan rancangan  penelitian  cross-sectional. Dengan tujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor lingkungan dengan kejadian diare. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Juni - Juli 2018 di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh KK yang bertempat tinggal di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro, dimana dihitung setiap KK yang anggota keluarganya mengalami diare lebih dari satu kali dihitung 1 kasus, yaitu dengan jumlah sebanyak 444 KK, maka jumlah sampel yang akan diambil adalah sebanyak 210 KK.
Variabel yang akan diteliti adalah sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, dan tempat pembuangan tinja dan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Kecamatan Metro Timur Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.











9
 
BAB II TINJAUAN PUSTAKA





A.     Diare


1.       Definisi Diare

Diare merupakan suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi pada tinja, yang melembek atau mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar lebih dari biasanya. Diare adalah buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya, neonatus dinyatakan diare bila frekuensi buang air besar sudah lebih dari 4 kali, sedangkan untuk bayi yang berumur lebih dari satu bulan dan anak bila frekuensinya lebih dari 3 kali. (Kemenkes RI, 2014).

Menurut Saydam (2011:134) diare merupakan salah satu penyakit yang berulang-ulang buang air besar yang sifatnya encer (cair). Bila seseorang dihinggapi dan menderita penyakit ini ia akan sangat sering ke toilet untuk membuang hajat yang memang sifatnya cair dan tidak bisa ditahan-tahan. Menurut Ariani (2016:12) diare adalah penyakit yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali sehari disertai perubahan konsentrasi tinja menjadi lebih cair atau setengah padat dengan atau tanpa lendir atau darah.




Sedangkan menurut Widoyono (2011:193) diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja. Lebih lanjut dalam Widoyono, WHO mendefinisikan diare sebagai berak cair tiga kali atau lebih dalam sehari semalam (24 jam). Sedangkan menurut Zein (2012), diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare yang berlangsung beberapa waktu tanpa penanggulangan medis yang adekuat dapat menyebabkan kematian karena kekurangan cairan di badan yang mengakibatkan renjatan hipovolemik atau karena gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang lanjut. Karena kehilangan cairan seseorang merasa haus, berat badan berkurang, mata menjadi cekung, lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor kulit menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan deplesi air yang isotonik.

2.       Etiologi


Menurut teori konvensional penyakit diare disebabkan oleh masuknya (invansi) kuman-kuman ke dalam usus yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Tetapi penyebab utama dikarenakan virus (lebih dari 50 persen). Dalam kondisi ini gerakan perlintaa usus meningkat tajam sehingga perlintasannya sangat dipercepat dan masih mengandung bahan cair pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja.
Penyebab utama diare adalah bertumpuknya cairan di usus akibat terganggunya penyerapan air. Lebih dari 70% kasus diare yang disebabkan oleh




virus, biasanya disertai dengan infeksi saluran pelepasan, karena itu anak-anak yang sedang dijangkit diare diikuti oleh bakteri, dan tenggorokan merah serta infeksi telinga.
Pemaparan racun mikroba berlanjut ke saluran cerna seperti juga penyakit kolera dan thypus. Karena ia disebabkan oleh kegiatan kuman atau bakteri yang masuk melalui mulut. Kuman ini bisa saja menyelinap melalui air, makanan, tangan, peralatan yang tidak bersih, makanan sudah dihinggapi lalat serta kotoran yang melekat pada kuku tangan penderita. Diare yang terjadi kadang-kadang disertai oleh muntah. Muntah ini dapat turut membangun proses pengeluaran racun, namun nutrisi tidak dapat masuk ke dalam tubuh penderita disebabkan ada yang masuk, langsung keluar lagi, sedangkan tubuh penderita amat memerlukan kalori (Saydam, 2011:134).
Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri, virus atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi dan sebab-sebab lainnya (Departemen Kesehatan RI, 2011).
Menurut Widoyono (2011: 195) penyebab diare dapat dikelompokkan menjadi :
a.        Virus : Rotavirus (40-60%), Adenovirus.

b.        Bakteri : Escherichia coli (20-30%), Shigellasp (1-2%), Vibrio cholerae, dan lain- lain.
c.        Parasit: Entamoebahistolytica (<1%), Giardia lamblia, Cryptosporidium (4- 11%).




d.        Keracunan makanan.

e.        Malabsorpsi: kabrohidrat, lemak, dan protein.

f.         Alergi: makanan, susu sapi.

g.        Imunodefisiensi: AIDS

Menurut Kemenkes RI (2014) beberapa faktor pada penjamu dapat meningkatkan insiden beberapa penyakit dan lamanya diare. Faktor-faktor tersebut adalah:
a.  Tidak memberikan ASI sampai 2 Tahun. ASI mengandung antibodi yang dapat melindungi kita terhadap berbagai kuman penyebab diare seperti: Shigella dan V. cholera.
b.  Kurang gizi beratnya penyakit, lama dan risiko kematian karena diare meningkat pada anak-anak yang menderita gangguan gizi terutama pada penderita gizi buruk.
c.  Campak diare dan desentri sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang sedang menderita campak dalam waktu 4 minggu terakhir hal ini sebagai akibat dari penurunan kekebalan tubuh penderita.
d.  Imunodefesiensi/Imunosupresi. Keadaan ini mungkin hanya berlangsung sementara, misalnya sesudah infeksi virus (seperti campak) atau mungkin yang berlangsung lama seperti pada penderita AIDS (Automune Deficiensy Syndrome) pada anak imunosupresi berat, diare dapat terjadi karena kuman yang tidak parogen dan mungkin juga berlangsung lama.
e.  Secara proposional, diare lebih banyak terjadi pada golongan Balita (55%) Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan dua faktor yang dominan, yaitu sarana air bersih dan pembuangan tinja kedua




faktor ini akan berinteraksi bersamadengan perilaku manusia. Apabila faktor lingkungan tidak sehat karena tercemar kuman diare serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula, yaitu melalui makanan dan minuman, maka dapat menimbulkan kejadian penyakit diare (Kemenkes RI, 2014).
Menurut Airani (2016) terdapat 2 faktor penyebab diare yang meliputi :

a.       Faktor Infeksi


1)                Faktor Enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama pada diare pada anak.
Infeksi enteral ini meliputi:

a)        Infeksi bakteri: Vibrio E Coli, Salmonella Typhii, Shigella, Compylobacter Jejuni, Yersinia,dan sebagainya.
b)       Infeksi   virus:       Virus terbanyak penyebab diare adalah Rotavirus, Adenovirus, Minirotavirus, Calcivirus, dan sebagainya.
c)        Infeksi parasit: Patogenesis terjadinya diare oleh karena cacing (Ascaris, trichuris, oxyuris, strongilodes).
2)          Faktor Parenteran yaitu infeksi di bagian tubuh lain di luar alat pencernaan, seperti Otitis Media Akut (OMA), Tonsolofaringitis, Bronkopnuemonia, Ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur di bawah 2 tahun (Airani, 2016: 47).




b.      Faktor Malabsorbsi


Malabsorbsi adalah gangguan pernyerapan bahan makanan yang dimakan. Dengan demikian malabsorbsi dapat juga berupa gangguan absorbsi: karbohidrat, lemak, protein dan vitamin. Pada anak yang sering dijumpai adalah:
1)                Malabsorbsi karbohidrat (intoleransi laktosa)

Laktosa merupakan karbohidrat utama dari susu (susu sapi mengandung 50 mg laktosa per liter). Maka pada bayi dan balita diare akibat intoleransi laktosa mendapat perhatian khusus karena menjadi penyebab yang cukup sering. Disakardia (intoleransi laktosa, maltose dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa) pada bayi/anak yang terpenting adalah intoleransi laktosa. Intoleransi laktosa terjadi karena defisiensi enzim laktosa dalam brush border usus halus. Gejala klinis yang muncul baik pada yang bawaan maupun yang didapat penderita menunjukkan gejala klinis yang sama yaitu diare yang sangat frekuen, cair (watery) dan berbau asam. Akibat gejala tersebut pertumbuhan anak akan terlambat bahkan tidak jarang akan terjadi malnutrisi.
2)                    Malabsorbsi lemak

Di alam bentuk trigliserida asam lemak umumnya mengandung atom C lebih dari 14, seperti asam palmitat, asam stearat, asam oleat dan asam linoleat. Bentuk ini disebut LCT (Long Chain Tryangliceride). Disebut MCT (Medium Chain Tryangliceride) adalah trigliserida dengan atom C6-12 buah. Untuk pengobatan anak dengan malabsorbsi lemak, susu MCT telah banyak digunakan. Absorbsi MCT berbeda dengan lemak (LCT). MCT dapat diabsorbsi dengan baik dan cepat walaupun tidak terdapat lipase pankreas dan




congjugated bile salts, apalagi karena tidak melalui pembentukan micelles dan kilomikron. MCT akhirnya akan diangkut langsung melalui vena porta dan selanjutnya dalam hati akan dimetabolisme.
Malabsorbsi lemak dapat terjadi pada kelainan sebagai berikut:

a)        Penyakit pankreas: fibrosis kistik, insufisiensi lipase pankreas

b)       Penyakit hati: hepatitis neonatal, atresia biliaris, sirosis hepatitis

c)        Penyakit usus halus: reseksi usus halus yang ekstensif (pada atresia, volvulus, infark mesenterium), penyakit seliak dan malabsorbsi yang sebabnya tidak diketahui. Mungkin sekali terjadi pada diare berulang dan kronis pada malnutrisi protein.
d)       Kelainan limfe: limangiekstasia usus, gangguan limfe karena trauma, tuberkulosis, kelainan kongeital.
e)        Neonatus kurang bulan.

Pengobatan lebih banyak ditujukan pada penyebab terjadinya absorbsi lemak, kemudian untuk penyebab malabsorbsi lemaknya senidri diberikan susu MCT.
3)                Malabsorbsi protein

Diare yang disebabkan karena malabsorbsi secara umum mempunyai ciri tinja berair, berbui, perut kembung, tinja lengket, mengkilat dan berlemak.
a)          Gangguan pankreas (enzim pencernaan terganggu).

b)         Kelainan mukosa usus pada pemeriksaan.

4)                    Malabsorbsi asam empedu.

a)         Terutama pada bayi pasca reseksi illeum.

b)         Asam empedu yang tidak diabsorbsi (Ariani, 2016: 59).






3.       Penularan Kuman yang Menyebabkan Diare


Menurut Widoyono (2011) penyakit diare sebagian besar (75%) disebabkan oleh kuman seperti virus dan bakteri. Penularan penyakit diare melalui orofekal terjadi dengan mekanisme berikut ini:
a.  Melalui air yang merupakan media penularan utama. Diare dapat terjadi bila seseorang menggunakan air minum yang sudah tercemar, baik tercemar dari sumbernya, tercemar selama perjalanan sampai kerumah-rumah, atau tercemar pada saat disimpan di rumah. Pencemaran di rumah terjadi bila tempat penyimpanan tidak tertutup atau apabila tangan yang tercemar menyentuh air pada saat mengambil air dari tempat penyimpanan.
b.  Melalui tinja terinfeksi. Tinja yang sudah terinfeksi mengandung virus atau bakteri dalam jumlah besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh binatang dan kemudian binatang tersebut hinggap di makanan, maka makanan itu dapat menularkan diare ke orang yang memakannya.
Faktor-faktor yang meningkatkan risiko diare adalah:

a.  Pada usia 4 bulan bayi sudah tidak diberi ASI Eksklusif lagi (ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja sewaktu bayi berusia 0-4 bulan).
b.  Memberikan susu formula dalam botol kepada bayi. Pemakaian botol akan meningkatkan risiko pencemaran kuman, dan susu akan terkontaminasi oleh kuman dari botol. Kuman akan cepat berkembang bila susu tidak segera diminum.




c.  Menyimpan makanan pada suhu kamar. Kondisi tersebut akan menyebabkan permukaan makanan mengalami kontak dengan peralatan makan yang merupakan media yang sangat baik bagi perkembangan mikroba.
d.  Tidak mencuci tangan pada saat memasak, makan, atau sesudah buang air besar (BAB) akan memungkinkan kontaminasi langsung (Widoyono, 2011: 195).

4.       Jenis-Jenis Diare


Menurut Kemenkes RI (2014) pembagian diare adalah sebagai berikut:

a.        Diare Akut Cair

Diare akut adalah buang air besar yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih) per hari dengan konsistensi cair dan berlangsung kurang dari 7 hari.
b.        Diare bermasalah

Diare bermasalah terdiri dari diare berdarah, kolera, diare berkepanjangan (prolonged diarrhea), diare persisten/kronik dan diare dengan malnutrisi.
c.        Diare berdarah

Diare berdarah atau disentri adalah diare dengan darah dan lendir dalam tinja dan dapat disertai dengan adanya tenesmus.
d.        Kolera

Diare terus menerus, cair seperti air cucian, tanpa sakit perut, disertai muntah dan mual diawal penyakit.




e.        Diare berkepanjangan

Diare berkepanjangan (prolonged diarrhea) yaitu diare yang berlangsung lebih dari 7 hari dan kurang dari 14 hari. Penyebab diare berkepanjangan berbeda dengan diare akut. Pada keadaan ini kita tidak lagi memikirkan infeksi virus melainkan infeksi bakteri, parasit, malabsorpsi, dan beberapa penyebab lain dari diare persisten.
f.         Diare persisten/diare kronik

Diare persisten/diare kronik adalah diare dengan atau tanpa disertai darah, dan berlangsung selama 14 hari atau lebih. Bila sudah terbukti disebabkan oleh infeksi disebut sebagai diare persisten.

5.       Dehidrasi


Menurut Ngastiyah dalam Sulvianti (2013) kehilangan cairan akibat diare akut menyebabkan dehidrasi yang dapat bersifat ringan, sedang atau berat. Pada diare akut, dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang. Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan elektrolit yang melebihi pemasukannya.
Gejala yang timbul akibat efek dehidrasi adalah turgorkulit berkurang, nadi lemah atau tidak teraba, takikardi, mata cekung, ubun-ubun cekung, suara parau, kulit dingin, jari sianosis, membran mukosa kering.
Bila defisit air kurang dari 5% berat badan, maka dehidrasi bersifat ringan dan gejala yang jelas ialah haus. Bila defisit melebihi 5% berat badan penderita mungkin akan sangat haus. Hilangnya cairan dalam rongga ekstrasel mengakibatkan turgor kulit berkurang, ubun-ubun dan mata cekung dan mukosa




kering. Deplesi volume intravaskular mengakibatkan takikardi, hipotensi, oliguri, dan anuri. Defisit cairan 5-10% berat badan mengakibatkan dehidrasi sedang, sedangkan defisit cairan 10% atau lebih disebut dehidrasi berat (Ngastiyah dalam Sulvianti, 2013).
Pemberian cairan dehidrasi terbagi atas:

a.                  2 jam pertama (rehidrasi inisial) diberikan jumlah total kebutuhan cairan menurut rumus diberikan langsung.
b.                 1 jam berikutnya pemberian diberikan berdasarkan kehilangan cairan selama 2 jam pemberian cairan rehidrasi inisial sebelumnya.
c.                  Jam berikutnya pemberian cairan diberikan berdasarkan kehilangan cairan melalui tinja dan Insensible Water Loss (IWL) (Ngastiyah dalam Sulvianti, 2013).
Pada keadaan dehidrasi ringan, dehidrasi dapat dilakukan oleh ibu dengan menggunakan prinsippenanganan diare di rumah, yaitu:
a.        Beri cairan tambahan sebanyak anak mau, dengan memberi penjelasan kepada ibu:
a.        ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.

b.        Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri oralit atau air matang sebagai tambahan.
c.        Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif berikan 1 atau lebih cairan oralit, larutan gula garam, kuah sayur, air tajin dan air matang.
Anak harus diberi oralit di rumah jika:

1)         Anak telah diobati dengan rencana terapi C dalam kunjungannya.




2)         Anak tidak dapat kembali keklinik jika diare bertambah parah.

Ajari ibu mencampur dan memberi oralit dengan memberi 6 bungkus oralit (200ml) untuk digunakan di rumah.

6.       Epidemiologi


Diare akut merupakan masalah umum ditemukan diseluruh dunia. Di Indonesia pada tahun 70 sampai 80-an, prevalensi penyakit diare sekitar 200-400 per tahun. Dari angka prevalensi tersebut, 70-80% menyerang anak dibawah usia lima tahun (balita). Golongan usia ini mengalami 2-3 episode diare per tahun. Diperkirakan kematian anak akibat diare sekitar 200-250 ribu setiap tahunnya.
Angka CFR diare menurun dari tahun ke tahun, pada tahub 1975 CFR sebesar 40-50%, tahun 1980-an CFR sebesar 24%. Berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT), tahun 1990 CFR sebesar 12%, dan diharapkan pada tahun 1999 akan menurun menjadi 9% (Widoyono, 2011: 194).
Kejadian diare di negara berkembang antara 3,5-7 episode setiap anak pertahun dalam dua tahun pertama dan 2-5 episode pertahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Departemen kesehatan RI dalam surveinya tahun 2000 mendapatkan angka kesakitan diare sebesar 301/1000 penduduk, berarti meningkat dibanding survei tahun 1996 sebesar 280/1000 penduduk, diare masih merupakan penyebab kematian utama bayi dan balita. Hasil Surkesnas 2010 mendapatkan angka kematian bayi 9,4% dan kematian balita 13,2%.Beberapa faktor epidemiologis penting dipandang untuk mendekati pasien diare akut yang disebabkan oleh infeksi. Makanan atau minuman terkontaminasi, berpergian, penggunaan antibiotik, HIV positif atau AIDS, merupakan petunjuk penting




dalam mengidentifikasi pasien beresiko tinggi untuk diare infeksi(Widoyono, 2011: 195).

7.       Gejala dan Tanda


Beberapa gejala dan tanda diare antara lain:

a.          Gejala Umum

1)         Berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas diare.

2)         Muntah, biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut.

3)         Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare.

4)         Gejala dehidrasi, yaitu mata cekung, ketegangan kulit menurun, apatis, bahkan gelisah.
b.          Gejala Spesifik

1)         Vibrio cholera: diare hebat, warna tinja seperti cucian beras dan berbau amis.

2)         Disenteriform: tinja berlendir dan berdarah (Widoyono, 2011: 197).



B.      Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian Diare


Menurut Kartini (2011) faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor agent berupa virus, bakteri, parasit yang dijelaskan sebagai berikut:

1.       Faktor Agent


Agent adalah faktor esensial yang harus ada agar penyakit dapat terjadi. Agent dapat berupa benda hidup, tidak hidup, energi, sesuatu yang abstrak, dan dalam jumlah yang berlebihan atau kurang merupakan sebab esensial dalam




terjadinya penyakit. Secara garis besar mikroorganisme penyebab diare ada tiga yaitu: virus, bakteri dan parasit.

a.       Virus


Beberapa virus penyebab diare yaitu rotovirus, enterovirus (virus echo, coxsackie, poliomyelitis), astrovirus, norwalk virus, cytomegalovirus, virus herpes simplex, virus hepatitis, dan lain-lain. Rotovirus sebagai penyebab utama diare pada anak-anak. Virus ini menyerang sel-sel usus, mengubah absorbsi dan sekresi. Keadaan ini menyebabkan diare dengan gejala umum malaise dan demam.
Rotovirus diperkirakan sebagai penyebab diare sebesar 20-80% di dunia dan merupakan penyebab utarna kematian karena diare. Sebanyak 440.000 kematian anak disebabkan karena rotovirus. Penelitian yang dilakukan di 6 rumah sakit di Indonesia menunjukkan bahwa 55% balita diare disebabkan oleh rotovirus (Soenartoi, 2012 dalam Kartini, 2011).
Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa infeksi rotovirus tidak banyak terpengaruh oleh status higienis karena baik di negara berkembang rotovirus merupakan penyebab tertinggi.

b.      Bakteri


Beberapa jenis bakteri penyebab diare adalah Campylobactel, Yersinia, Vibrio, Salmonella, Shigelta dan Eschericia Coli, dan sebagainya. Sampai pada tahun 1970-an, infeksi bakteri diperkirakan sebagai penyebab diare terbanyak di Indonesia. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa bakteri bukanlah penyebab utama diare pada anak. Bahkan pada penelitian tahun 2005-2011 di




rumah sakit tipe A Yogyakarta ditemukan bahwa bakteri hanya menyebabkan 5% dan penderita diare.

c.       Parasit


Parasit masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman dan menetap dalam sistem pencernaan dan umumnya mengakibatkan diare kronik. Biasanya parasit bukan penyebab sendiri tetapi bersamaan dengan penyebab lain. Contohnya Giardia lamblia, Entamoeba histolytica, Cryptosporidium, Trichomonas hominis, Cqndida albicans, Ascaris, Trichuris, Oxyuris don Stongloides.

2.       Faktor Lingkungan


Menurut Notoatmodjo (2014) faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor lingkungan berupa sarana air bersih, sarana pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, dan pembuangan kotoran manusia (jamban keluarga), sebagai berikut:

a.       Sarana Air Bersih


Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Di dalam tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa sekitar 55-60% berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per hari. Di antara kegunaan-kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum dan masak air harus mempunyai




persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia (Notoatmodjo, 2014:175).
Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian diare. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan, dan makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar (Kemenkes RI, 2014).
Menurut Dirjen PPM dan PLP jenis-jenis sarana air bersih yang lazim dipergunakan masyarakat adalah sebagai berikut:
1)    Sumur Gali

Sumur gali adalah sarana air bersih yang mengambil/memanfaatkan air tanah dengan cara menggali lubang di tanah dengan menggunakan tangan sampai mendapatkan air. lubang kemudian diberi dinding, bibir tutup dan lantai serta saluran pembuangan limbah.
2)    Perpiaan

Sarana perpipaan adalah bangunan berserta peralatan dan perlengkapan nya yang menghasilkan, menyediakan dan membagikan air minum untuk masyarakat melalui jaringan perpipaan/distribusi. Air yang dimanfaatkan adalah air tanah atau air permukaan dengan atau tanpa diolah.
3)    Sumur Pompa Tangan (SPT)

Sumur pompa tangan adalah sarana air bersih yang mengambil atau memanfaatkan air tanah dengan membuat lubang di tanah dengan




menggunakan alat bor. Berdasarkan kedalaman air tanah dan jenis pompa yang digunakan untuk menaikan air, bentuk sumur bor dibedakan atas:
a)  Sumur Pompa Tangan Dalam (SPTDL)

Sumur pompa tangan dalam adalah sumur bor yang pengambilan airnya dengan menggunakan pompa dangkal. Pompa jenis ini mampu menaikan airnya sampai kedalam maksimum 7 meter.
b)  Sumur Pompa Tangan Dalam (SPTDL)

Sumur pompa tangan dalam adalah sumur bor yang pengambilan airnya dengan menggunakan pompa dalam. Pompa jenis ini mampu menaikan air dari kedalaman 15 metersampai kedalaman maksimum 30 meter.
4)    Penampungan Air Hujan (PAH)

Penampungan air hujan adalah sarana air bersih yang memanfaatkan untuk pengadaan air rumah tangga. Air hujan yang jatuh diatas atap rumah atau bangunan penagkap air yang lain, melalui saluran atau alang kemudian dialirkan dan di tampung kedalam penampungan air hujan.
Dalam Kemenkes RI (2014), hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyediaan air bersih adalah:
1)                Mengambil air dari sumber air yang bersih

2)                Mengambil dan menyimpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta menggunakan gayung khusus untuk mengambil air
3)                Memelihara atau menjaga sumber air dari pencemaran oleh binatang, anak- anak dan sumber pengotoran. Jarak antara sumber air minum dengan sumber pengotoran seperti septictank, tempat pembuangan sampah dan air limbah harus lebih dari 10 meter




4)                Mengunakan air yang direbus

5)                Mencuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersihdan cukup Air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum dimana persyaratan yang dimaksud adalah dari segi kualitas air, unsur yang terkandung didalamnya dan dikelompokkan menurut sifat fisik, kimia biologis dan mikrobiologis sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping.
Dalam Kemenkes RI (2014) air yang berada di permukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber. Berdasarkan letak sumbernya air dapat dibagi menjadi, air angkasa (hujan), air permukaan, dan air tanah.
a.          Air Angkasa (Hujan)

Air angkasa atau air hujan merupakan sumber utama air di bumi. Walau merupakan air yang paling bersih, air tersebut cenderung mengalami pencemaran ketika berada di atmosfer. Pencemaran yang berlangsung di atmosfer itu dapat disebabkan oleh partikel debu, mikroorganisme, dan gas, misalnya karbondioksida, nitrogen, dan amoniak.
b.          Air Permukaan

Air permukaan yang meliputi badan- badan air semacam sungai, danau,  telaga, waduk, rawa, airterjun, dan sumur permukaan, sebagian besar berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi.
c.          Air Tanah

Air tanah (ground water) berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi yang kemudian mengalami perkolasi atau penyerapan ke dalam tanah dan




mengalami proses filtrasi secara alamiah. Proses-proses yang telah dialami air hujan tersebut, di dalam perjalanannya ke bawah tanah, membuat air tanah menjadi lebih murni dibandingkan air permukaan.
Dalam Kemenkes RI (2014) air yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan merupakan media penularan penyakit karena air merupakansalah satu media dari berbagai macam penularan, terutama penyakit perut dan diare. Penyediaan air bersih harus memenuhi dua syarat yaitu kuantitas dan kualitas.
1)                Syarat Kuantitas

Syarat kuantitas adalah jumlah air yang dibutuhkan setiap hari tergantung kepada aktifitas dan tingkat kebutuhan. Makin banyak aktifitas yang dilakukan maka kebutuhan air akan semakin besar. Secara kuantitas di Indonesia diperkirakan dibutuhkan air sebanyak 138,5 liter/orang/hari dengan perincian yaitu untuk mandi, cuci kakus 12 liter, minum 2 liter, cuci pakaian 10,7 liter, kebersihan rumah 31,4 liter.
2)                Syarat Kualitas

Syarat kualitas meliputi parameter fisik, kimia, mikro biologis dan radioaktivitas yang memenuhi syarat kesehatan menurut (Permenkes RI No. 32/2017) tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum, sebagai berikut:
a)        Parameter Fisik

Dalam Permenkes RI No. 32/2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi,




Kolam Renang, Solus Per Aqua, dan Pemandian Umum menyatakan bahwa air yang layak pakai sebagai sumber air bersih antara lain harus memenuhi persyaratan secara fisik yaitu, tidak berbau, tidak berasa, tidak keruh (jernih) dan tidak berwarna.
b)       Parameter Kimia

Air yang baik adalah air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat-zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan manusia, antara lain Air raksa (Hg), Aluminium (Al), Arsen (As), Barium (Ba), Besi (Fe), Flourida (F) Calsium (Ca), derajat keasaman (pH) dan zat-zat kimia lainnya. Kandungan zat kimia yang ada didalam air bersih yang digunakan sehari-hari hendaknya tidak melebihi dari kadar maksimum (ketentuan maksimum) yang diperbolehkan seperti yang tercantum dalam (Permenkes RI No 32/2017). Penggunaan air yang mengandung bahan-bahan berbahaya kimia beracun dan zat-zat kimia yang melebihi kadar maksimum yang diperbolehkan akan berakibat tidak baik lagi bagi kesehatan dan material yang digunakan manusia, contohnya pH air sebaiknya netral. pH yang dianjurkan untuk air bersih adalah 6,5-9.
c)        Parameter Radioaktif

Persyaratan radioaktif sering juga dimasukkan sebagai bagian persyaratan fisik, namun sering dipisahkan karena jenis pemeriksaannya sangat berbeda, dan pada wilayah tertentu menjadi sangat serius seperti disekitar reaktor nuklir.
Berdasarkan hasil penelitian Kartini (2011) bahwa balita yang mempunyai sarana air bersih yang kurang baik beresiko 2,9 kali terhadap diare dibandingkan




dengan balita yang mempunyai sarana air bersih yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian Cahyono (2012) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sarana air bersih dengan kejadian diare pada balita.
Hubungan jenis sarana dengan kejadian diare pada penelitian Lit.bang.Kes di Provinsi NTT, menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan sarana sumur gali dapat meningkatkan resiko diare pada balita 1,2 kali lebih besar dari pada yang menggunakan air PAM/ledeng, perpipaan atau sumur artesis  (Muhadjir, 2012).

b. Tempat Pembuangan Sampah


Sampah adalah sesuatu bahan atau benda pada yang yang tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan masyarakat Amerika membuat batasan, sampah (waste) adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan sendirinya. Dari batasan ini jelas bahwa sampah adalah hasil suatu kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna. Sehingga bukan semua benda padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut sampah, misalnya: benda-benda alam, benda-benda yang keluar dari bumi akibat gunung meletus, banjir, pohon di hutan yang tumbang akibat angin ribut, dan sebagainya (Notoatmojdo, 2014:160).
Sampah erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah tersebut akan hidup berbagai mikro organisme penyebab penyakit (bakteri




patogen), dan juga binatang serangga sebagai pemindah/penyebar penyakit (vektor).
Cara-cara pengelolaan sampah antara lain sebagai berikut:

a.        Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah

Pengumpulan sampah dimulai di tempat sumber dimana sampah tersebut dihasilkan. Dari lokasi sumbernya sampah tersebut diangkut dengan alat angkut sampah. Sebelum sampai ke tempat pembuangan kadang-kadang perlu adanya suatu tempat penampungan sementara(Kemenkes RI, 2014).
Dari sini sampah dipindahkan dari alat angkut yang lebih besar dan lebih efisien, misalnya dari gerobak ke truk atau dari gerobak ke truk pemadat. Adapun Syarat tempat sampah yang di anjurkan:
1)                Terbuat dari bahan yang kedap air, kuat, dan tidak mudah bocor

2)                Mempunyai   tutup   yang mudah di buka, dikosongkan isinya, mudah dibersihkan
3)                Ukurannya di atur agar dapat di angkut oleh 1 orang (Kemenkes RI, 2014).

Sedangkan syarat kesehatan pada tempat pengumpulan sampah sementara yaitu:
1)                Terdapat dua pintu: untuk masuk dan untuk keluar

2)                Lamanya sampah di bak maksimal tiga hari

3)                Tidak terletak pada daerah rawan banjir

4)                Volume tempat penampungan sampah sementara mampu menampung sampah untuk tiga hari
5)                Ada lubang ventilasi tertutup kasa untuk mencegah masuknya lalat




6)                Harus ada kran air untuk membersihkan

7)                Tidak menjadi perindukan vektor

8)                Mudah di jangkau oleh masyarakat dan kendaraan pengangkut

b.        Pemusnahan dan pengolahan sampah

1)         Di taman (Landfill), yaitu pemusnahan sampah dengan membuat lubang ditanah kemudian sampah dimasukkan dan ditimbun dengan tanah
2)         Dibakar (Incineration), yaitu memusnahkan sampah dengan jalan membakar di dalam tungku pembakaran (incenerator)
3)         Dijadikan pupuk (Composting), yaitu pengolahan sampah menjadi pupuk (kompos), khususnya untuk sampah organik daun-daunan, sisa makanan, dan sampah lain yang dapat membusuk (Kemenkes RI, 2014).

c.       Sarana Pembuangan Air Limbah


Air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya dan biasanya mengandung bahan- bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan. Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yang mungkin ada.




Berdasarkan batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti industri, perhotelan, dan sebagainya. Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena lebih kurang 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan akan digunakan oleh manusia lagi (Notoadmojdo, 2014: 194).
Air limbah baik limbah pabrik atau limbah rumah tangga harus dikelola sedemikian rupa agar tidak menjadi sumber penularan penyakit. Sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan bau, mengganggu estetika dan dapat menjadi tempat perindukan nyamuk dan bersarangnya tikus, kondisi ini dapat berpotensi menularkan penyakit seperti leptospirosis, filariasis untuk daerah yang endemis filaria. Bila ada saluran pembuangan air limbah di halaman, secara rutin harus dibersihkan, agar air limbah dapat mengalir, sehingga tidak menimbulkan bau yang tidak sedap dan tidak menjadi tempat perindukan nyamuk (Kemenkes RI, 2014).
Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani pengelolaan terlebih dahulu, untuk dapat melaksanakan pengelolaan air limbah yang efektif perlu rencana pengelolaan yang baik. Sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1)                Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber sumber air minum

2)                Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan




3)                Tidak menimbulkan pencemaran air untuk perikanan, air sungai, atau tempat- tempat rekreasi serta untuk keperluan sehari-hari
4)                Tidak dihinggapi oleh lalat, serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor
5)                Tidak terbuka dan harus tertutup jika tidak diolah

Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap. Beberapa metode sederhana yang dapat digunakan untuk mengelola air limbah (Kemenkes RI, 2014).

d.      Pembuangan Kotoran Manusia (Jamban Keluarga)


Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Zat-zat yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja (feses), air seni (urine), dan CO2. Dengan bertambahnya penduduk yang tidak sebanding dengan area pemukiman, masalah pembuangan kotoran manusia meningkat. Dilihat dari segi kesehatan masyarakat masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah yang pokok untuk sedini mungkin diatasi. Karena kotoran manusia (feses) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Penyebaran penyakit yang bersumber pada feses dapat melalui berbagai macam jalan atau cara (Notoatmodjo, 2014:182).
Pembuangan kotoran disembarang tempat berdampak negatif terhadap kesehatan manusia yang hidup disekitarnya karena kotoran tersebut menjadi bahan sumber penyakit yang dapat di tularkan melalui serangga lalat dan kecoa secara mekanis. Sedangkan melalui air, tanah dan makanan dapat terjadi secara tidak langsung ataupun melalui kontak langsung.




Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran manusia dalam suatu tempat tertentu, sehingga kotoran tersebut tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman.
Menurut Kemenkes RI (2014) ada beberapa ketentuan jamban yang memenuhi syarat kesehatan, yaitu:
a.       Kotoran tidak mencemari permukaan tanah, air tanah, dan air permukaan

b.      Jarak jamban dengan sumber air bersih tidak kurang dari 10 meter

c.       Konstruksi kuat

d.      Pencahayaan minimal 100 lux

e.       Tidak menjadi sarang serangga (nyamuk, lalat, kecoa)

f.       Dibersihkan minimal 2x dalam sebulan

g.      Ventilasi 20% dari luas lantai

h.      Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang

i.        Murah

j.        Memiliki saluran dan pembuangan akhir yang baik yaitu lubang selain tertutup juga harus disemen agar tidak mencemari lingkungannya
Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penulurannya melalui tinja antara lain penyakit diare.
Menurut Munzir dalam Muhadjir (2012) menyatakan bahwa keluarga yang tidak mempunyai jamban mempunyai resiko terkena diare lebih besar dibandingkan dengan keluarga yang mempunyai jamban. Berdasarkan Susenas




1998, resiko untuk terkena diare pada keluarga yang tidak merniliki jamban 1,3 kali dibandingkan keluarga yang memiliki jamban (Herryanto, 1999). Sedangkan hasil penelitian Madjid, 2011 menyebutkan bahwa balita yang kondisi jamban keluarganya tidak saniter mempunyai resiko 2,07 kali untuk terkena diare dibandingkan dengan balita yang kondisi jamban keluarganya saniter.
Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan risiko terhadap penyakit diare. Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat jamban dan keluarga harus buang air besar di jamban (Kemenkes RI, 2014).


3.       Faktor Perilaku


Menurut Howard & Bartram (2012) faktor-faktor perilaku yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor kebiasaan mencuci tangan yang dijelaskan sebagai berikut:

a.       Kebiasaan Mencuci Tangan


Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyuapi makan anak dan sesudah makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare. Praktek adalah cara seseorang dalam melaksanakan kegiatan atau menjalankan pekerjaan, perbuatan secara nyata sesuai dengan teori atau pengalaman yang di dapat, praktek ini sangat terkait dengan bagaimana cara pencegahan (diare) dan merawat penderita di rumah serta mengaplikasikan dari pengalaman yang didapat dari pendidikan atau dari media massa.




Diare merupakan salah satu penyakit yang penularannya berkaitan dengan penerapan perilaku hidup sehat. Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur oral. Kuman-kuman tersebut ditularkan dengan perantara air atau bahan yang tercemar tinja yang mengandung mikroorganisme patogen dengan melalui air minum. Pada penularan seperti ini, tangan memegang peranan penting, karena lewat tangan yang tidak bersih makanan atau minuman tercemar kuman penyakit masuk ke tubuh manusia.
Pemutusan rantai penularan penyakit seperti ini sangat berhubungan dengan penyediaan fasilitas yang dapat menghalangi pencemaran sumber perantara oleh tinja serta menghalangi masuknya sumber perantara tersebut kedalam tubuh melalui mulut. Kebiasaan mencuci tangan pakai sabun adalah perilaku amat penting bagi upaya mencegah diare. Kebiasaan mencuci tangan diterapkan setelah buang air besar, setelah menangani tinja anak, sebelum makan atau memberi makan anak dan sebelum menyiapkan makanan. Kejadian diare makanan terutama yang berhubungan langsung dengan makanan anak seperti botol susu, cara menyimpan makanan serta tempat keluarga membuang tinja anak(Howard & Bartram, 2012).
Kegiatan mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir dilakukan 40-60 detik. Langkah-langkah teknik mencuci tangan yang benar menurut anjuran WHO dalam Kemenkes (2014) yaitu sebagai berikut :
a.        Pertama, basuh tangan dengan air bersih yang mengalir, ratakan sabun dengan kedua telapak tangan




b.        Kedua, gosok punggung tangan dan sela–sela jari tangan kiri dan tangan kanan, begitu pula sebaliknya
c.        Ketiga, gosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan

d.        Keempat, jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci

e.        Kelima, gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya
f.         Keenam, gosok dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di  telapak tangan kiri dan sebaliknya
g.        Ketujuh, bila kedua tangan dengan air yang mengalir dan keringkan

Hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare dikemukakan oleh Bozkurt et al (2012) di Turki, orang tua yang tidak mempunyai kebiasaan mencuci tangan sebelum merawat anak, anak mempunyai risiko lebih besar terkena diare. Heller (1998) juga mendapatkan adanya hubungan antara kebiasaan cuci tangan ibu dengan kejadian diare pada anak di Betim-Brazil. Tinja anak, terutama yang sedang menderita diare merupakan sumber penularan diare bagi penularan diare bagi orang lain. Tidak hanya anak yang sakit, anak sehatpun tinjanya juga dapat menjadi carrier asimptomatik yang sering kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu cara membuang tinja anak penting sebagai upaya mencegah terjadinya diare (Sunoto dkk, 2012). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Aulia dkk., (2012) di Sumatera Selatan, kebiasaan ibu membuang tinja anak di tempat terbuka merupakan faktor risiko yang besar terhadap kejadian diare dibandingkan dengan kebiasaan ibu membuang tinja anak di jamban.
Hasil penelitian yang dilakukan Zakianis (2012) menyatakan bahwa prilaku ibu yang buruk beresiko menyebabkan diare pada bayi sebesar 1,57 kali




jika dibandingkan dengan prilaku ibu yang baik. Demikian juga hasil penelitian Thoyib (2012) yang menyatakan bahwa pada anak yang kurang dari 2 tahun, dari ibu yang tidak mencuci tangan sebelum memberi makan atau minum pada anaknya mernpunyai resiko terserang diare 4,67 kali jika dibandingkan dengan anak dari kelompok ibu yang mencuci tangan sebelum memberi makan pada anaknya. Penelitian Alamsyah (2012) menyatakan bahwa ada hubungan mencuci tangan sebelum memberi makan kepada anak dengan terjadinya diare pada balita.

b.      Pola Makan


Menurut Simanjutak (2012) faktor-faktor perilaku yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktorpola makan bahwa makanan dan minuman dapat menjadi penyebab baik secara langsung maupun tidak langsung terjadinya diare oleh V.Cholerae. Maka dengandemikian kebiasaan jajan anak yang tidak higienis diduga menjadi salah satu penyebab terjadinya diare dikarenakan V. Cholerae.
Sofran Mukti dalam Kartini (2011) menyatakan bahwa dari survei tempat pengelolaan makanan yang dilaksanakan pada tahun l989 di 8 provinsi mendapatkan bahwa tingkat kontaminasi 3l,3%-33,3% dari contoh makanan di tempat pengelolaan makanan. Pernyataan tersebut mendukung penelitian ini karena konsumsi yang terbanyak adalah warung dan pedagang keliling yang memungkinkan hygiene dan sanitasi makanan dan minuman kurang baik, sehingga membeli makanan/minuman/jajan yang tercemar oleh kuman akan menyebabkan penyakit diare.




c.       Memasak Air


Menurut Hairani (2017) faktor-faktor perilaku yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor memasak air yang dijelaskan sebagai berikut:
Air yang tidak dikelola dengan standar pengelolaan air minum rumah tangga (PAM-RT) dapat menimbulkan penyakit. Air untuk minum harus diolah terlebih dahulu dan wadah air harus bersih dan tertutup. Diare  yang  terjadi karena air minum yang tidak bersih biasanya berkaitan dengan agen  mikrobiologis dan kimia yang masuk kesaluran pencernaan. Penularan diare dapat terjadi melalui mekanisme fecal-oral, termasuk melalui air minum yang tercemar atau terkontaminasi. Proses memasak/merebus air hingga mendidih, yakni hingga 100oC efektif membunuh kuman-kuman penyakit,termasuk kuman-kuman penyebab diare yang kemungkinan besar terdapat pada air minum (Hairani, 2017:14).


4.       Faktor Karakteristik


Menurut Notoatmodjo (2014) faktor-faktor karakteristik yang berhubungan dengan kejadian diare adalah faktor pendidikan dan pengetahuan sebagai berikut:

a.       Pendidikan


Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu, kelompok atau masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan, yang tersirat dalam pendidikan adalah: input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok, dan masyarakat), pendidik adalah (pelaku pendidikan), proses




adalah (upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain), output adalah (melakukan apa yang diharapkan atau perilaku).
Pendidikan kesehatan adalah aplikasi atau penerapan pendidikan dalam bidang kesehatan. Secara operasional pendidikan kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan dan meningkatkan pengetahuan, sikap,praktek baik individu, kelompok atau masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri(Notoadmodjo, 2014:109).

b.      Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2014:148) menjelaskan bahwa, pengetahuan adalah hal yang diketahui oleh orang atau responden terkait dengan sehat dan sakit atau kesehatan, misal: tentang penyakit (penyebab, cara penularan, cara pencegahan), gizi, sanitasi, pelayanan kesehatan, kesehatan lingkungan, keluarga berencana, dan sebagainya.
Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni:
1)  Tahu (know), tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
2)  Memahami (comprehension), memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar
3)  Aplikasi, aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya)




4)  Analisis, analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain
5)  Sintesis, sintesis menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru
6)  Evaluasi, evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behaviour). Apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, dimana didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku tersebut akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama.


5.       Pencegahan


Menurut Widoyono (2011) pencegahan diare dapat dijelaskan sebagai berikut:
Penularan diare menyebar melalui jalur fekal-oral, penularannya dapat dicegah dengan menjaga higiene pribadi yang baik. Ini termasuk menggunakan air bersih, memasak air sampai mendidih sebelum diminum untuk mematikan sebagian besar kuman penyakit, mencuci tangan menggunakan sabun setelah keluar dari toilet dan khususnya selama mengolah makanan, memberikan ASI pada anak sampai berusia dua tahun, menggunakan jamban sehat, membuang tinja bayi dan anak dengan benar. Kotoran manusia harus diasingkan dari daerah




pemukiman, dan hewan ternak harus terjaga dari kotoran manusia. Karena makanan dan air merupakan penularan yang utama, ini harus diberikan perhatian khusus. Minum air, air yang digunakan untuk membersihkan makanan, atau air yang digunakan untuk memasak harus disaring dan diklorinasi. Jika ada kecurigaan tentang keamanan air atau air yang tidak dimurnikan yang diambil dari danau atau air, harus direbus dahulu beberapa menit sebelum dikonsumsi. Ketika berenang di danau atau sungai, harus diperingatkan untuk tidak menelan air(Widoyono, 2011: 199).
Vaksinasi cukup menjanjikan dalam mencegah diare infeksius, tetapi efektivitas dan ketersediaan vaksin sangat terbatas. Pada saat ini, vaksin yang tersedia adalah untuk V. colera, dan demam tipoid. Vaksin kolera parenteral kini tidak begitu efektif dan tidak direkomendasikan untuk digunakan. Vaksin oral kolera terbaru lebih efektif, dan durasi imunitasnya lebih panjang. Vaksin tipoid parenteral yang lama hanya 70% efektif dan sering memberikan efek samping. Vaksin parenteral terbaru juga melindungi 70%, tetapi hanya memerlukan 1 dosis dan memberikan efek samping yang lebih sedikit. Vaksin tipoid oral telah tersedia, hanya diperlukan 1 kapsul setiap dua hari selama 4 kali dan memberikan efikasi yang mirip dengan dua vaksin lainnya (Kemenkes RI, 2014).
Menurut Widoyono (2011) tindakan dan pengobatan diare dapat dijelakan sebagai berikut:




6.       Tindakan atau Pengobatan


Pengobatan diare berdasarkan derajat dehidrasinya

a.          Tanpa dehidrasi, dengan terapi A

Pada keadaan ini, buang air besar terjadi 3-4 kali sehari atau disebut mulai mencret. Anak yang mengalami kondisi ini masih lincah dan masih perlu makan dan minum seperti biasa. Pengobatan dapat dilakukan oleh ibu atau anggota keluarga lainnya dengan memberikan makanan dan minuman yang ada di rumah seperti air kelapa, larutan gula garam (LGG), air tajin, air teh, maupun oralit (pengobatan terapi A).
b.        Dehidrasi ringan atau sedang, dengan terapi B

Diare dengan dehidrasi ringan ditandai dengan hilangnya cairan sampai 5% dari berat badan, sedangkan pada diare sedang terjadi kehilangan cairan 6- 10% dari berat badan. Untuk mengobati penyakit diare pada derajat dehidrasi ringan atau sedang digunakan terapi B, yaitu sebagai berikut:
Pada tiga jam pertama jumlah oralit yang digunakan : usia <1 tahun 350 mL, usia 1-4 tahun 600 mL, usia >5 tahun 1200 mL. Setelah itu, tambahkan setiap kali mencret: usia <1 tahun 100 mL, usia 1-4 tahun 200 mL, dan usia >5 tahun
400 mL.

c.        Dehidrasi berat, dengan terapi C

Diare dengan dehidrasi berat ditandai dengan mencret terus-menerus, biasanya lebih dari 10 kali disertai muntah, kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan. Diare ini diatasi dengan terapi C, yaitu perawatan di puskesmas atau rumah sakit untuk diinfus RL (Ringer laktat).




d.        Teruskan pemberian makan

Pemberian makan seperti semula diberikan sedini mungkin dan disesuaikan dengan kebutuhan.
e.        Antibiotik bila perlu (Widoyono, 2011: 198).

Pengobatan spesifik: Penggantian ciran dan elektrolit penting jika diare cair atau adanya tanda dehidrasi. Peranan pengobatan antibiotika terhadap infeksi E.Coli lainnya tidak jelas. Bahkan beberapa kejadian menunjukan bahwa pengobatan dengan TMP-SMX Fluorquinolones (Kunoli, 2013:157).
Prinsip pengobatan diare adalah menggantikan cairan yang hilang melalui tinja dengan atau tanpa muntah, dengan cairan yang mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras dan sebagainya), seperti obat anti sekresi, obat anti spasmolitik, obat  pengeras tinja dan antibiotika (Kemenkes RI, 2014).


C.     Penelitian Terkait


1.           Penelitian Novalia (2011), menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya diare pada balita di Wilayah Puskesmas Teba Magelang terdiri dari
3 faktor, yaitu faktor Pendidikan, persepsi dan lingkungan. Penelitian menyimpulkan ada pengaruh yang signifikan antara faktor pendidikan dan lingkungan terhadap terjadinya diare pada balita di Wilayah Puskesmas Teba Magelang tahun 2011.
2.           Penelitian Retno (2012) tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu dalam merawat balita diare di Wilayah Kerja Puskesmas Dayamurni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Lampung Barat tahun 2012. Hasil




uji statistik dengan regresi logistik diketahui bahwa di antara Faktor-faktor yang berhubungankejadian diare pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Dayamurni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Lampung Barat tahun 2012, pola makan merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan tingkat kejadian diare pada balita dengan OR = 0,4.


D.     Kerangka Teori

Berdasarkan penelusuran dari kajian pustaka yang meliputi faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian diare maka dapat dibuat kerangka teori faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian diare sebagai berikut:







Text Box: Kejadian Diare



Gambar 2.1 KerangkaTeori

Sumber: Kartini (2011), Notoatmodjo (2012), Howard & Bartman (2012) dan Kemenkes (2014), Simanjutak (2012), Hairani (2017)




Model di atas menggunakan model sistem yang merupakan modifikasi Teori Kartini (2011) (yang berupa faktor Agent meliputi virus, bakteri dan parasit), Teori Notoatmodjo (2012) (yang berupa faktor lingkungan meliputi sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dan jamban keluarga), Teori Notoatmodjo (2012) (yang berupa faktor karakteristik meliputi pendidikan dan pengetahuan), Teori Howard & Bartman (2012) dan Kemenkes (2014) (yang berupa faktor perilaku meliputi kebiasaan mencuci tangan), Teori Simanjutak (2012) (meliputi pola makan) dan Teori Hairani (2017) (yang meliputi memasak air). Dari kerangka diatas dapat dijelaskan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kejadian diare yaitu: Faktor Agent (berupa virus, bakteri, dan parasit), faktor lingkungan (berupa sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dan jamban keluarga), faktor karakteristik (berupa pendidikan dan pengetahuan) dan faktor perilaku (berupa kebiasaan mencuci tangan, pola makan dan memasak air).


E.      Kerangka Konsep


Berdasarkan kerangka teori di atas, maka dapat disusun kerangka konsep dalam penelitian ini sebagai berikut:






Text Box: Kejadian diare


Gambar 2.2 Kerangka Konsep




F.      Hipotesis


Hipotesis dalam penelitian ini adalah

Ho:

1.        Terdapat hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018.
2.        Terdapat hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018.
3.        Terdapat hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018.
4.        Terdapat hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018.



 









48
 
BAB III METODE PENELITIAN



A.     Rancangan Penelitian


Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross-sectional (potong lintang), yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor- faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi, atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach). Rancangan untuk menggambarkan hubungan variabel sebab atau risiko dan akibat atau kasus yang terjadi pada objek penelitian diukur atau dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2012:37).

B.      Lokasi dan Waktu Penelitian


Waktu Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Juli 2018 dengan lokasi penelitian di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.

C.     Subjek Penelitian


1.       Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi (Arikunto, 2013: 173).
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh KK di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro dengan jumlah sebanyak 444




KK. Dan populasi sasaran pada penelitian ini adalah KK yang dalam anggota keluarganya yang mengalami diare, dimana jika KK yang dalam anggota keluarga dalam kurun waktu 3 bulan terakhir mengalami diare lebih dari 1 kali yaitu tetap dihitung 1 kasus.

2.       Sampel


Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2013: 174). Pengambilan sampel dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung yaitu Desa Tejoagung sebanyak 210 KK. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovindalam (Sugiono, 2012) sebagai berikut:
n
1)
Keterangan:

N = besar populasi n = besar sampel
d = tingkat presisi yang diinginkan: 5% (0,05) n

n              444

210 KK

1   444 0,0025

n = 210 KK


3.       Teknik Pengambilan Sampel


MenurutNotoatmodjo (2012:120)teknik pengambilan sampel yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak.Teknik random sampling ini digunakan apabila jumlah populasi setiap unit atau anggota bersifat homogen atau diasumsikan




homogen. Hal itu berarti setiap sampel mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel.
Pengambilan sampel secara acak sederhana yang peneliti gunakan adalah dengan melakukan pengundian atau pengocokkan anggota populasi di masyarakat di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.

D.     Variabel dan Definisi Operasional


1.       Variabel

Variabel penelitian pada dasarnya merupakan segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut. Sedangkan operasionalisasi variabel penelitian berarti menjelaskan secara terperinci mengenai variabel-variabel yang ada di dalamnya menjadi beberapa bagian yaitu dimensi, indikator, ukuran, dan skala. Variabel-variabel dari penelitian ini terdiri dari variabel X (variabel independen) sebagai variabel bebas dan variabel Y (variabel dependen) sebagai variabel terikat.
a.        Variabel Independen

Variabel independenyang akan diteliti adalah sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dantempat pembuangan tinja.
b.        Variabel Dependen

Variabel dependen pada penelitian ini adalah kejadian diare




2.       Definisi Operasional


Definisi operasional variabel adalah uraian tentang batasan variabel yang dimaksud, atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan (Notoatmodjo, 2012:112).
Agar variabel dapat diukur dengan menggunakan instrumen atau alat ukur, maka variabel harus diberi batasan atau definisi yang operasional atau “definisi operasional variabel”. Definisi operasional penting dan diperlukan agar pengukuran variabel atau pengumpulan data (variabel) itu konsisten antara  sumber data (responden) yang satu dengan responden yang lain (Notoatmodjo, 2012:111).









Text Box: 52
 









52
 
Tabel 1

Definisi  Operasional Variabel


Variabel
Definisi Operasional
Cara ukur
Alat ukur
Hasil ukur
Skala
Variabel independen (X)
Sarana air bersih
Merupakan sumber air bersih di rumah yang terdiri dari:
a.   Sumur gali
b.  Sumur Bor
c.   PDAM
d.  Tidak ada

Wadah/tempat/alat yang berfungsi untuk menyimpan dan menampung air, bersih yang terdiri dari:
b.  Bak
Wadah atau tempat pentimpanan air harus tertutup, wadah harus selalu bersih, letaknya sedemikian rupa sehingga jauh dari jangkauan serangga atau vektor lainnya
c.  Ember
d.  Tong Air
e.  Tidak Ada
Observasi
Ceklist
1.      Memenuhisyarat apabila:
a.    Sumurgali
Dengan lantai sekitar sumur dibuat dengan jarak minimal 1 meter dari dinding sumur, dan dibuat kedap air untuk mencegah perembesan air kotor
b.    Sumur Bor
Bebas dari pencemaran maupun kontaminasi limbah, bagian atas sumur bor terdapat tutup, terdapat dinding atau tembok dibagian atas
c.      PDAM
Pendistribusian air bersihnya cukup dan terpenuhi bagi masyarakat
d.  Tong Air
Wadah atau tempat penyimpanan air harus tertutup, wadah harus selalu bersih, letaknya sedemikian rupa sehingga jauh dari jangkauan serangga atau vektor lainnya

2. Tidak memenuhi syarat apabila tidak sesuai dengan ketentuan persyaratan pewadah air bersih
Ordinal
Tempat pembuangan sampah
Merupakan ketersediaan sarana pembuangan sampah di rumah yang terdiri dari:

a.    Kantong Plastik
b.  Kotak Kardus
Observasi
Ceklist
1.      Memenuhi syarat apabila:

a.        Kantong Plastik
Tidak dekat dengan sumber air minum, tidak terletak pada daerah rawan banjir,
Ordinal



Text Box: 53
 







c.   Tempat Sampah Plastik
d.  Lubang Ditanah


lamanya sampah di bak maksimal tiga hari, volume tempat penampungan sampah sementara mampu menampung sampah untuk tiga hari, tidak bocor, terdapat penutup
b.      Kotak Kardus
Tidak dekat dengan sumber air minum, tidak terletak pada daerah rawan banjir, lamanya sampah di bak maksimal tiga hari, volume tempat penampungan sampah sementara mampu menampung sampah untuk tiga hari, tidak bocor, terdapat penutup
c.      Tempat Sampah Plastik
Tidak dekat dengan sumber air minum, tidak terletak pada daerah rawan banjir, lamanya sampah di bak maksimal tiga hari, volume tempat penampungan sampah sementara mampu menampung sampah untuk tiga hari, tidak bocor, terdapat penutup
d.      Lubang Ditanah
Tidak menjadi sarang vektor, tempat sampah yang berupa tanah hanya dipergunakan selama 1 bulan dan kemudian di urug dengan tanah

2. Tidak memenuhi syarat apabila tidak sesuai dengan ketentuan persyaratan pewadah tempat pembuangan sampah

Sarana pembuangan air limbah
Merupakan ketersediaan sarana pembuangan air limbah di rumah yang terdiri dari:
a.      Panjang saluran lebih dari 10 meter
b.      Kedap air
c.      Tertutup
d.      Tidak menjadi sarang vektor
Observasi
Ceklist
1. Memenuhi syarat apabila:
a.      Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber sumber air minum
b.      Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan
c.      menimbulkan pencemaran air untuk
Ordinal



Text Box: 54
 







e. Bersih/terawat


perikanan, air sungai, atau tempat-tempat rekreasi serta untuk keperluan sehari-hari
d.      Tidak dihinggapi oleh lalat, serangga dan tikus dan tidak menjadi tempat berkembangbiaknya berbagai bibit penyakit dan vektor
e.      Tidak terbuka dan harus tertutup jika tidak diolah
f.       Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap Beberapa metode sederhana yang dapat digunakan untuk mengelola air limbah

2. Tidak memenuhisyarat apabila tidak sesuai dengan ketentuan persyaratan sarana pembuangan air limbah (SPAL)

Kepemilikan jamban keluarga
Merupakan kepemilikan jamban oleh keluarga sesuai dengan standar kesehatan. Tempat/ jenis jamban yang digunakan antara lain adalah:
a.      Leher Angsa/Bowl
b.      Jamban Cemplung
c.      Lubang Terbuka
d.      Tidak Ada
Wawancara danobservasi
Ceklist
1. Memenuhi Syarat apabila:
a.      Jarak tempat pembuangan/tanki septictank dengan sumber air lebih dari 10 meter
b.      Buangan kotoran tidak menimbulkan bau serta tidak memungkinkan serangga dapat masuk ke penampungan tinja. Misalnya dapat dilakukan dengan menutup lubang jamban atau dengan sistem leher angsa
c.      Konstruksi dudukan jamban dibuat dengan baik dan aman bagi penggunannya
d.      Dilengkapi dinding dan atap pelindung, dinding kedap air dan berwarna terang
e.      Lantai kedap air
f.       Tersedia air yang cukup dan alat pembersih.

2. Tidak memenuhi syarat apabila tidak
Ordinal



Text Box: 55
 










sesuai dengan ketentuan persyaratan
sarana pembuangan kotoran manusia/jamban


Variabel Dependen (Y)
Kejadian diare
Buang air besar yang tidak normal atau bentuk tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya, sehari lebih dari 3 kali.
Observasi
Ceklist
Jumlah kasus diare yang terjadi atau menimpa pada responden dengan tanda tanda sebagai berikut:
1.     Diare
a.      Buang air besar encer dan sering
b.     Nyeri perut
c.      Demam
d.     Kembung
e.      Kadang disertai darah dalam tinja
Ordinal




2. Tidak Diare





Teknik Pengumpulan Data

1.         Sumber Data

a.         Data Primer

Data primer penelitian ini yaitu data yang diperoleh dari hasil pengamatan (observasi) dan wawancara (interview) pada masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.
b.        Data Sekunder

Data sekunder penelitian ini yaitu data yang diperoleh dari pihak Puskesmas Tejoagung Kota Metro. Data sekunder yang diperoleh meliputi: Profil Puskesmas Tejoagung Kota Metro, data jumlah penderita diare di Wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro.

2.         Metode Pengumpulan Data


a.         Wawancara

Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana penelitian mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari seorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (Notoatmodjo, 2012:139).
Metode wawancara ini dapat dilakukan menggunakan alat pengumpul data berupa quesioner. Quesioner adalah daftar pertanyaan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi tambahan pengetahuan masyarakat tentang penyakit diare.
b.        Pengamatan (Observasi)

Pengamatan adalah suatu hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya rangsangan (Notoatmodjo, 2012:131).




Metode observasi ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat pengumpul data berupa checklist. Checklist adalah suatu daftar pengecek yang berisi variabel kejadian diare dan kondisi lingkungan.

3.         Uji Validitas dan Realibilitas


Teknik pengumpulan data adalah pengisian lembar kuisioner secara langsung oleh responden melalui wawancara oleh peneliti kemudian data langsung dikumpulkan pada hari itu juga. Sedangkan kuisioner diberikan kepada responden terlebih dahulu dilakukan uji instrument yaitu uji validitas dan realibilitas.
1.        Pengujian Validitas

Alat ukur instrument penelitian yang dapat diterima sesuai standar adalah alat ukur yang telah melalui uji validitas dan realibilitas data. Uji validitas dapat menggunakan rumus Pearson Product Moment, setelah itu diuji dengan menggunakan uji t dan lalu baru dilihat penafsiran dari indeks korelasinya (Hidayat, 2007). Pengujian validitas instrument dilakukan melalui program komputer.


rhitung

n∑XY- (∑X) (∑Y)





Keterangan :

rhitung      = Koefisien korelasi

∑Xi       = Jumlah skor item

∑Yi       = Jumlah skor total (item) N            = Jumlah responden




2.        Pengujian Realibilitas

Setelah mengukur validitas maka perlu mengukur realibilitas data apakah alat ukur dapat digunakan atau tidak. Realibilitas adalah indeks yang menunjukan sejauh mana alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Hidayat, 2007). Realibilitas sebenarnya adalah alat ukur untuk mengukur suatu kuisioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu konstruk atau variabel dikatakan realibel jika memberikan nilai Cronbach Alpha> R tabel.
Hasil Uji Validitas dan Realibilitas terlampir


4.         Pengolahan Data danAnalisis Data


a.         Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukandengancara:

1)                    Editing yaitu merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan dan perbaikan isian formulir atau instrumen.
2)                    Coding yaitu merupakan kegiatan mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Kegunaan dari coding adalah untuk mempermudah pada analisis data dan juga mempercepat pada saat entry data.
3)                    Processing data (memasukan data) yaitu jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk kode (angka atau huruf) dimasukan ke dalam program atau “software” komputer untuk dianalisis. Pemrosesan dapat dilakukan dengan cara meng-entry data dari kuisioner ke paket program komputer.
4)                    Cleaning (pembersihan data) yaitu pengecekan kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya kesalahan kode, ketidaklengkapan, dan




sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi (Notoatmodjo, 2012:176).

b.        Analisis Data


Data-data yang diperoleh kemudian di analisa secara univariat dan bivariat untuk mengetahui apakah ada hubungan faktor-faktor lingkungan dengan tingginya angka kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro dengan menggunakan uji Chi-square.

1)              Analisis Univariat


Analisa univariat berfungsi untuk meringkas kumpulan data hasil pengukuran sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna. Peringkasan tersebut dapat berupa ukuran statistik, tabel, grafik. Analisa univariat dilakukan per masing–masing variabel yang diteliti yang disajikan dengan bentuk frekuensi dan proporsi.

2)              Analisis Bivariat


Analisis bivariat yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara dua variabel yaitu variabel independent dan variabel dependent. Karena jenis datanya adalah kategorik maka uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-square. Persepsi nilai menggunakan uji Chi-square, dengan menggunakan program komputer SPSS yaitu nilai p, kemudian dibandingkan dengan nilai =0,05. Apabila nilai p < dari =0,05 maka  ada hubungan atau perbedaan antara dua variabel tersebut.







BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


E.      Gambaran Umum Tempat Penelitian

1.       Keadaan Geografi

Puskesmas Tejoagung Kota Metro terletak di Kelurahan Tejoagung Kecamatan Metro Timur. Luas wilayah kerja Puskesmas Tejoagung seluas 492 Ha/m2, terbagi dari 2 (dua) wilayah Kelurahan yaitu Tejoagung dan Tejosari batas wilayah wilyah kerja Puskesmas Tejoagung secara administratif adalah sebagai berikut:
a.        Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Lampung Timur

b.        Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Metro Barat dan Metro Selatan
c.        Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Iringmulyo

d.        Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Batanghari Lampung Timur
Peta Wilayah Pelayanan Puskesmas Tejoagung Metro Timur



Gambar 4.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung





2.       Demografi atau Kependudukan


Penduduk wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro sebanyak

4.578 jiwa. Yang terbagi dari 2 Kelurahan, penduduk terbanyak berada di  wilayah Kelurahan Tejoagung yaitu sebanyak 2.725 jiwa (59,62%) dan di Kelurahan Tejosari sebanyak 1.853 jiwa (40,47%).

3.         Pendidikan


Salah satu faktor penting dalam peningkatan derajat kesehatan adalah pendidikan. Semakin tinggi tingkatan pendidikan rata-rata masyarakat dalam suatu wilayah maka semakin mudah masyarakat diajak bekerja sama dalam mendukung pengembangan di bidang kesehatan.
Tingkat pendidikan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tejoagung terbanyak adalah tamatan SD.




Gambar 4.2 Diagram tingkat pendidikan




3. Mata Pencaharian


Mata pencaharian penduduk di wilayah Puskesmas Tejoagung Kota Metro meliputi petani, buruh tani, pedagang, industri kecil, kerajinan dan pegawai negeri. Untuk masyarakat dengan tingkat penghasilan yang lebih tinggi maka semakin mudah masyarakat diajak bekerja sama dalam mendukung pengembangan di bidang kesehatan dengan membangun sarana kesehatan lingkungan.
Keadaan penduduk di wilayah Puskesmas Tejoagung Kota Metro terdiri dari penduduk pendatang dan penduduk asli.

F.      Hasil Penelitian


1.       Analisis Univariat

a.       Sarana air bersih

Tabel 4.1
Distribusi sarana air bersih di Kelurahan Tejosari tahun 2018

Sarana air bersih
Jumlah
Persentase
Memenuhi syarat
152
72,4
Tidak memenuhi syarat
58
27,6
Jumlah
210
100

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa sebagain besar sarana air bersih pada responden di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi persyaratan 72,4% dan tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 27,6%.




b.      Sarana pembuangan air limbah


Tabel 4.2
Distribusi pembuangan air limbah di Kelurahan Tejosari tahun 2018

Pembuangan air limbah
Jumlah
Persentase
Memenuhi syarat
74
35,2
Tidak memenuhi syarat
136
64,8
Jumlah
210
100

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa sebagain besar pembuangan air limbahpada responden di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi persyaratan sebanyak 35,2% dan tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 64,8%.


c.       Tempat pembuangan sampah


Tabel 4.3
Distribusi tempat pembuangan sampah di Kelurahan Tejosari tahun 2018

`Tempat pembuangan
sampah
Jumlah
Persentase



Memenuhi syarat
93
44,3
Tidak memenuhi syarat
117
55,7
Jumlah
210
100

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa sebagain besar tempat pembuangan sampahpada responden di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi persyaratan sebanyak 44,3% dan tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 55,7%.




d.      Tempat pembuangan tinja


Tabel 4.4
Distribusi tempat pembuangan tinja di Kelurahan Tejosari tahun 2018

Tempat pembuangan tinja
Jumlah
Persentase
Memenuhi syarat
133
63,3
Tidak memenuhi syarat
77
36,7
Jumlah
210
100

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa sebagain besar tempat pembuangan tinjapada responden di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi persyaratan sebanyak 63,3% dan tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 36,7%.

e.       Kejadian diare


Tabel 4.5
Distribusi Kejadian Diare di Kelurahan Tejosari tahun 2018

Kejadian Diare
Jumlah
Persentase
Tidak Diare
83
39,5
Diare
127
60,5
Jumlah
210
100

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa kejadian diarepada responden di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi persyaratan sebanyak sebanyak 39,5% dan tidak memenuhi syarat 60,5%.





2.       Analisis Bivariat


a.       Hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare

Tabel 4.6
Hubungan Sarana Air Bersih dengan Kejadian Diare di Kelurahan Tejosari tahun 2018

Sarana air bersih
Kejadian diare
Total
P-
value
OR 95 % CI
Tidak Diare
Diare
N
%
N
%
N
%
Memenuhi
syarat
67
44,1
85
55,9
65
100


0,043


2,096
(1,071-
3,999)
Tidak memenuhi
syarat
16
27,6
42
72,4
14
5
100
Jumlah
83
39,5
12
7
60,5
21
0
100

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa dari 65 orang yang memiliki sarana air bersihmemenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 44,1%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 55,9%. Sedangkan dari 145 orang yang memiliki sarana air bersihtidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 27,6%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 72,4%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,043 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,096 yang berarti bahwa responden dengan sarana air bersihnya tidak memenuhi syarat mempunyai risiko sebanyak 2,096 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang sarana air bersihnya memenuhi syarat.





b.      Hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare


Tabel 4.7
Hubungan tempat pembuangan sampah dengan Kejadian Diare di Kelurahan Tejosari tahun 2018

Pembuangan sampah
Kejadian diare
Total
P-
value
OR 95 % CI
Tidak Diare
Diare
n
%
N
%
N
%
Memenuhi
syarat
55
58,1
39
41,9
93
100


0,000

4,202
(2,334-
7,565)
Tidak memenuhi
syarat
29
24,8
88
75,2
117
100
Jumlah
83
39,5
127
60,5
210
100

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa dari 93 orang yang memiliki tempat pembuangan sampahmemenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 58,1%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 41,9%. Sedangkan dari 117 orang yang memiliki tempat pembuangan sampahtidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 24,8%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 75,2%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,000 (p- value< α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 4,202 yang berarti bahwa responden tempat pembuangan sampahnya tidak memenuhi syarat mempunyai risiko sebanyak 4,202 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang tempat pembuangan sampahnya memenuhi syarat.




c.       Hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare


Tabel 4.8
Hubungan sarana pembuangan air limbah dengan Kejadian Diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018

Pembuangan limbah
Kejadian diare
Total
P-
value
OR 95 % CI
Tidak Diare
Diare
n
%
N
%
N
%
Memenuhi
syarat
40
54,1
34
45,9
74
100


0,002

2,544
(1,421-
4,557)
Tidak memenuhi
syarat
43
31,6
93
68,4
136
100
Jumlah
83
39,5
127
60,5
210
100


Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa dari 74 orang yang memiliki sarana pembuangan air limbah memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 54,1%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 45,9%. Sedangkan dari 136 orang yang memiliki sarana pembuangan air limbah tidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 31,6%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 68,4%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,002 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,544 yang berarti bahwa responden sarana pembuangan air limbahnya tidak memenuhi syarat mempunyai risiko sebanyak 2,544 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang sarana pembuangan air limbahnya memenuhi syarat.




d.      Hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare


Tabel 4.9
Hubungan tempat pembuangan tinja dengan Kejadian Diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018

Pembuangan tinja
Kejadian diare
Total
P-
value
OR 95 % CI
Tidak Diare
Diare
n
%
N
%
N
%
Memenuhi
syarat
63
47,4
70
52,6
133
100


0,004


2,565(1,3
90-4,733)
Tidak memenuhi
syarat
20
26,0
57
74,0
77
100
Jumlah
83
39,5
127
60,5
210
100

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa dari 133 orang yang memiliki tempat pembuangan tinja memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 47,4%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 52,6%. Sedangkan dari 77 orang yang memiliki tempat pembuangan tinja tidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 26,0%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 74,0%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,004 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,565 yang berarti bahwa responden tempat pembuangan tinjanya tidak memenuhi syarat mempunyai risiko sebanyak 2,565 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang tempat pembuangan tinjanya memenuhi syarat.




G.     Pembahasan


1.       Hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa diketahui bahwa dari 65 orang yang memiliki sarana air bersihmemenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 44,1%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 55,9%. Sedangkan dari 145 orang yang memiliki sarana air bersihtidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 27,6%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 72,4%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,043 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,096 yang berarti bahwa responden dengan sarana air bersihnya tidak memenuhi syarat mempunyai risiko sebanyak 2,096 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang sarana air bersihnya memenuhi syarat
Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Di dalam tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Tubuh orang dewasa sekitar 55-60% berat badan terdiri dari air, untuk anak-anak sekitar 65% dan untuk bayi sekitar 80%. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci dan sebagainya. Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia tiap orang memerlukan air antara 30-60 liter per hari. Di antara kegunaan- kegunaan air tersebut, yang sangat penting adalah kebutuhan untuk




minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum dan masak air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia (Notoatmodjo, 2014:175).
Sumber air minum utama merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah pentingnya berkaitan dengan kejadian diare. Sebagian kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari-jari tangan, dan makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar (Kemenkes RI, 2014).
Hasil peneltian sejalan dengan hasil penelitian Kartini (2011) bahwa balita yang mempunyai sarana air bersih yang kurang baik beresiko 2,9 kali terhadap diare dibandingkan dengan balita yang mempunyai sarana air bersih yang baik. Hal ini sejalan dengan penelitian Cahyono (2012) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sarana air bersih dengan kejadian diare pada balita.
Hasil peneltiian sejalan denganpenelitian hubungan jenis sarana dengan kejadian diare pada penelitian Lit.bang.Kes di Provinsi NTT, menunjukkan bahwa kelompok yang menggunakan sarana sumur gali dapat meningkatkan resiko diare pada balita 1,2 kali lebih besar dari pada yang menggunakan air PAM/ledeng, perpipaan atau sumur artesis (Muhadjir, 2012)




2.       Hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare


Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 93 orang yang memiliki tempat pembuangan sampah memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 58,1%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 41,9%. Sedangkan dari 117 orang yang memiliki tempat pembuangan sampah tidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 24,8%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 75,2%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,000 (p- value< α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 4,202 yang berarti bahwa responden tempat pembuangan sampahnya tidak memenuhi syarat mempunyai risiko sebanyak 4,202 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang tempat pembuangan sampahnya memenuhi syarat.
Sampah adalah sesuatu bahan atau benda pada yang yang tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang. Para ahli kesehatan masyarakat Amerika membuat batasan, sampah (waste) adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia, dan tidak terjadi dengan sendirinya. Dari batasan ini jelas bahwa sampah adalah hasil suatu kegiatan manusia yang dibuang karena sudah tidak berguna. Sehingga bukan semua benda padat yang tidak digunakan dan dibuang disebut sampah, misalnya: benda-benda




alam, benda-benda yang keluar dari bumi akibat gunung meletus, banjir, pohon di hutan yang tumbang akibat angin ribut, dan sebagainya (Notoatmojdo, 2014:160).
Sampah erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, karena dari sampah tersebut akan hidup berbagai mikro organisme penyebab penyakit (bakteri patogen), dan juga binatang serangga sebagai pemindah/penyebar penyakit (vektor).

3.       Hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare


Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 74 orang yang memiliki sarana pembuangan air limbah memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 54,1%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 45,9%. Sedangkan dari 136 orang yang memiliki sarana pembuangan air limbah tidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 31,6%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 68,4%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,002 (p- value < α = 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,544 yang berarti bahwa responden sarana pembuangan air limbahnya tidak memenuhi syarat mempunyai risiko sebanyak 2,544 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang sarana pembuangan air limbahnya memenuhi syarat.
Air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya dan biasanya mengandung




bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan. Air limbah atau air buangan adalah sisa air yang dibuang yang berasal dari rumah tangga, industri maupun tempat-tempat umum lainnya dan pada umumnya mengandung bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan bagi kesehatan manusia serta mengganggu lingkungan hidup. Batasan lain mengatakan bahwa air limbah adalah kombinasi dari cairan dan sampah cair yang berasal dari daerah pemukiman, perdagangan, perkantoran dan industri, bersama-sama dengan air tanah, air permukaan dan air hujan yang mungkin ada.
Berdasarkan batasan tersebut dapat disimpulkan bahwa air buangan adalah air yang tersisa dari kegiatan manusia, baik kegiatan rumah tangga maupun kegiatan lain seperti industri, perhotelan, dan sebagainya. Meskipun merupakan air sisa, namun volumenya besar, karena lebih kurang 80% dari air yang digunakan bagi kegiatan-kegiatan manusia sehari-hari tersebut dibuang lagi dalam bentuk yang sudah kotor (tercemar). Selanjutnya air limbah ini akhirnya akan mengalir ke sungai dan akan digunakan oleh manusia lagi (Notoadmojdo, 2014: 194).
Air limbah baik limbah pabrik atau limbah rumah tangga harus dikelola sedemikian rupa agar tidak menjadi sumber penularan penyakit. Sarana pembuangan air limbah yang tidak memenuhi syarat akan menimbulkan bau, mengganggu estetika dan dapat menjadi tempat perindukan nyamuk dan bersarangnya tikus, kondisi ini dapat berpotensi menularkan penyakit seperti leptospirosis, filariasis untuk daerah yang




endemis filaria. Bila ada saluran pembuangan air limbah di halaman, secara rutin harus dibersihkan, agar air limbah dapat mengalir, sehingga tidak menimbulkan bau yang tidak sedap dan tidak menjadi tempat perindukan nyamuk (Kemenkes RI, 2014).
Air limbah sebelum dilepas ke pembuangan akhir harus menjalani pengelolaan terlebih dahulu, untuk dapat melaksanakan pengelolaan air limbah yang efektif perlu rencana pengelolaan yang baik.

4.       Hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare


Berdasarkan hasil penelitian diketahui dari 133 orang yang memiliki tempat pembuangan tinja memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 47,4%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 52,6%. Sedangkan dari 77 orang yang memiliki tempat pembuangan tinja tidak memenuhi syarat dan tidak mengalami diare sebanyak 26,0%, sedangkan yang mengalami diare sebanyak 74,0%.
Hasil analisis dengan chi square diperoleh p-value = 0,004 (p-value< α

= 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari wilayah kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018. Kemudian diperoleh OR = 2,565 yang berarti bahwa responden tempat pembuangan tinjanya tidak memenuhi syarat mempunyai risiko sebanyak 2,565 kali mengalami diare dibandingkan dengan responden yang tempat pembuangan tinjanya memenuhi syarat.
Kotoran manusia adalah semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Zat-zat yang




harus dikeluarkan dari dalam tubuh ini berbentuk tinja (feses), air seni (urine), dan CO2. Dengan bertambahnya penduduk yang tidak sebanding dengan area pemukiman, masalah pembuangan kotoran manusia meningkat. Dilihat dari segi kesehatan masyarakat masalah pembuangan kotoran manusia merupakan masalah yang pokok untuk sedini mungkin diatasi. Karena kotoran manusia (feses) adalah sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Penyebaran penyakit yang bersumber pada feses dapat melalui berbagai macam jalan atau cara (Notoatmodjo, 2014:182).
Pembuangan kotoran disembarang tempat berdampak negatif terhadap kesehatan manusia yang hidup disekitarnya karena kotoran tersebut menjadi bahan sumber penyakit yang dapat di tularkan melalui serangga lalat dan kecoa secara mekanis. Sedangkan melalui air, tanah dan makanan dapat terjadi secara tidak langsung ataupun melalui kontak langsung.
Jamban adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran manusia dalam suatu tempat tertentu, sehingga kotoran tersebut tidak menjadi penyebab penyakit dan mengotori lingkungan pemukiman.
Pembuangan tinja merupakan bagian yang penting dari kesehatan lingkungan. Pembuangan tinja yang tidak menurut aturan memudahkan terjadinya penyebaran penyakit tertentu yang penulurannya melalui tinja antara lain penyakit diare.
Hasil penelitian ini sejalan dengan peneltiian Munzir dalam Muhadjir (2012) menyatakan bahwa keluarga yang tidak mempunyai jamban




mempunyai resiko terkena diare lebih besar dibandingkan dengan keluarga yang mempunyai jamban. Berdasarkan Susenas 1998, resiko untuk  terkena diare pada keluarga yang tidak memiliki jamban 1,3 kali dibandingkan keluarga yang memiliki jamban (Herryanto, 1999). Sedangkan hasil penelitian Madjid, 2011 menyebutkan bahwa balita yang kondisi jamban keluarganya tidak saniter mempunyai resiko 2,07 kali untuk terkena diare dibandingkan dengan balita yang kondisi jamban keluarganya saniter.
Kondisi Klinik Sanitasi PuskesmasTejoagung Kota Metro yang ada saat ini untuk pelayanan Klinik Sanitasi pada tahun 2015 cukup memadai dan cukup baik, namun pada tahun 2016 pelayanan konsultasi atau konseling di klinik sanitasi mulai sepi karena tenaga kesehatan yang menjadi sanitarian di puskesmas berkurang sehingga kegiatan rujukan untuk konseling di Klinik Sanitasi sudah tidak dijalankan kembali sehingga angka kasus penyakit berbasis lingkungan dan menurunnya kesehatan lingkungan yang merupakan masalah bagi masyarakat, karena tidak berjalannya program Klinik Sanitasi dan tidak berjalannya kegiatan penyuluhan, dan inspeksi sanitasi lingkungan yang berupa sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja dan tempat pembuangan kotoran manusia atau jamban.
Kondisi Klinik Sanitasi di Puskesmas yaitu merupakan salah satu pelayanan puskesmas yang mengintegrasikan antara upaya promotif, preventif kuratif, dan rehabilitatif mempunyai peran antara lain, sebagai pusat informasi, pusat rujukan, fasilitator bidang kesehatan lingkungan dan




penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan lingkungan permukiman, yang difokuskan pada penduduk yang beresiko tinggi di Wilayah Kerja puskesmas.
Faktor pengetahuan yang baik dan sikap setuju (positif) tentang Klinik Sanitasi diduga belum cukup membuat cakupan layanan konseling Klinik Sanitasi menjadi tinggi. Namun perilaku tersebut tidak menjadi faktor dominan terhadap rendahnya cakupan layanan konseling Klinik Sanitasi, karena masih ada faktor eksternal lain yaitu ketersediaan sarana dan prasarana, dana Klinik Sanitasi serta faktor kurangnya dukungan dari kepala puskesmas dan petugas poli klinik.













BAB V KESIMPULAN DAN SARAN



B.      Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1.       Sarana air bersih pada responden di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 yang memenuhi syarat sebanyak 27,6%.
2.       Sebagain besar pembuangan air limbah pada responden di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 64,8%.
3.       Sebagain besar tempat pembuangan sampah pada responden di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 55,7%.
4.       Sebagain besar tempat pembuangan tinja pada responden di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018tidak memenuhi syarat yaitu sebanyak 36,7%.
5.       Kejadian diarepada responden di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun sebanyak 60,5%.




6.       Ada hubungan sarana air bersih dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value
= 0,043 dan OR = 2,096.

7.       Ada hubungan tempat pembuangan sampah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value = 0,000 dan OR = 4,202.
8.       Ada hubungan sarana pembuangan air limbah dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value = 0,002 dan OR = 2,544.
9.       Ada hubungan tempat pembuangan tinja dengan kejadian diare di Kelurahan Tejosari Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung Kota Metro tahun 2018 dengan p-value = 0,004 dan OR = 2,565.

C.     Saran


Berdasarkan kesimpulan, maka dapat diberikan saran sebagai berikut:

1.        Bagi Petugas Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Tejoagung Kota Metro Diharapkan   petugas   pelayanan   kesehatan   lebih   meningkatkan   program
konseling di Klinik Sanitasi Puskesmas pada pasien terutama meningkatkan pengetahuan tentang faktor-faktor lingkungan yang berupa sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dan sarana pembuangan kotoran manusia sehingga tidak terjadi diare dan memberikan perawatan kepada yang sakit diare akut dengan melakukan kunjungan rumah (home visit), serta umumnya pada seluruh pasien yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Tejoagung untuk meminimalisir terjadinya kejadian diare dan adanya program sanitasi puskesmas.




2.        Bagi Masyarakat

Bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan dan meningkatkan pengetahuan dan sikap terhadap kondisi lingkungan yang berupa sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dan sarana pembuangan kotoran manusia karena dapat menimbulkan penyakit diare.
3.        Bagi Peneliti Selanjutnya

Dalam penelitian ini peneliti hanya meneliti tentang sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah dan tempat pembuangan tinja. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya untuk menggali faktor-faktor lain seperti faktor lingkungan, sosial ekonomi yang berhubungan dengan kejadian diare.

DAFTAR PUSTAKA



Alamsyah, 2012. Hubungan Mencuci Tangan Sebelum Memberi Makan Kepada Anak Dengan Terjadinya Diare Pada Balita. Skirpsi

Ariani, 2016. Diare Pendegahan dan Pengobatannya. Nuha Medika, Yogyakarta.
156 halaman

Arikunto, Suharsimi, 2012. Prosedur Penelitian. RinekaCipta. Jakarta

Aulia dkk. 2011. Gizi Seimbang Untuk Mencegah Penyakit Lingkungan. PT Gramedia PustakaUtama, Jakarta. Jurnal Penelitian

Bozkurt et al, 2012. Hubungan kebiasaan mencuci tangan dengan kejadian diare.
Turki

Cahyono, 2012. Hubungan jenis sarana dengan kejadian diare pada penelitian Lit.bang.Kes di Provinsi NTT. Skripsi

Departemen Kesehatan RI, 2005. UUD Kesehatan . Jakarta FKUI. Jakarta

                                          , 2008. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare.
Jakarta FKUI. Jakarta
                                          , 2011. Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta

                                          , 2014. Buku Pedoman Pengendalian Penyakit Diare.
Lampung : Dinas Kesehatan Provinsi Lampung

Dinas KesehatanProvinsi Lampung, 2012. Profil Dinkes Provinsi Lampung 2012.
Bandar Lampung

Dinas Kesehatan Kabupaten Kota Metro, 2015. Profil Dinkes Kota Metro, Kota Metro

                                                                  , 2016. Profil Dinkes Kota Metro, Kota Metro

Euis, 2012.Tentang hubungan status gizi dengan kejadian diare di Puskesmas Kota Karang Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung Tahun2012. Skripsi

Friedman. 2011. Keluarga dan Peran Serta. Pelita Harapan. Jakarta

Hairani, 2017. Hubungan Pengetahuan Ibu dan Perilaku Memasak Air Minum dengan Kejadian Diare Balita di Puskesmas Baringin Kabupaten Tapin tahun 2014, Jurnal Penelitian

Hendarwanto, 2012. Diare akut Karena Infeksi, Dalam: Waspadji S, Rachman AM, Lesmana LA, dkk, editor. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I

Howard & Bartram, 2012.Domestic Water Quantity, Service Level and Health.
Jurnal Diare, Jakarta

Kartini, 2012. Penyakit Berbasis Lingkungan. Jurnal Penelitian Kementerian Kesehatan RI, 2013.Riskesdas, Jakarta
                                          , 2014.Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta

Kunoli,2013. Pengantar Epidemiologi Penyakit Menular,CV Trans Info Media.
Jakarta Timur, 174 halaman
Miller,2011. Fungsi dan Peran Keluarga. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta Muhadjir, 2012. Etiologi dan Gambaran Klinis Diare Akut Di RSUP Dr. Kariadi
Semarang. Karya Tulis Ilmiah. Semarang

Nadesul, Hendrawan. 2011. Makanan Untuk Balita. Puspa Swara. Jakarta Notoatmodjo, 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta
                    , 2014.Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Rineka Cipta, Jakarta

Novalia, 2006. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Diare Pada Balita di Wilayah Puskesmas Kupang Teba Bandar Lampung. Skripsi

Ngastiyah, Perawatan Anak Sakit, Edisi 2. Buku Kedokteran. EGC

Pedoman Pemberantasan Penyakit Diare, Mentri Kesehatan Republik Indonesia.
Available from : http://www.depkes.go.id/downloads/SK1216-01.pdf Profil Kesehatan Propinsi Lampung, 2012. Dinas Kesehatan Propinsi Lampung Profil Puskesmas Tejoagung, 2017. Puskesmas Tejoagung Kota Metro
Sahrensi, 2013.Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Diare di Kampung Karang Agung Kecamatan Pakuan  Ratu  Kabupaten Way Kanan Tahun 2012, Tesis Mitra Lampung

Soebagyo, 2008.Diare Akut pada Anak. Surakarta. Universitas Sebelas Maret Press

Soemirat, J. ,2012. Kesehatan Lingkungan, cetakan kelima. Yogyakarta :Gadjah Mada University. Press


Suharyono, 2008.Diare Akut, Gramedia Pustaka. Jakarta Sulvianti, 2013.Dehidrasi, Jurnal Ilmiah Penyakit Menular
Sunotodkk, 2011.Pengantar Pangandan Gizi, Yayasan Obor. Jakarta Sukarni, M., 2012. Kesehatan Keluarga dan Lingkungan.Kanisius. Bandung Suririnah, 2012. Diare dan faktor Penyebab. Artikel. Jakarta
Widoyono, 2011.Penyakit Tropis. Erlangga. Jakarta.

Yulisir, 2012. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Diare Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Dayamurni Kecamatan Tumijajar Kabupaten Tulang Bawang Barat Tahun 2012, Tesis Mitra Lampung

Zakianis, 2012. Dalam Kartini, 2014. Penyakit Berbasis Lingkungan. Kanisius, Bandung

Zein, 2012. Memahami Berbagai Penyakit, Alfabet. Jakarta



















KUISIONER PENELITIAN




HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DI KELURAHAN TEJOSARI KECAMATAN METRO TIMUR WILAYAH KERJA PUSKESMAS TEJOAGUNG KOTA METRO TAHUN 2018

Petunjuk Pengisian

1.        Bacalah pernyataan atau pertanyaan di bawah ini dengan baik dan berilah tanda (√) pada alternative jawaban yang dianggap benar.
2.        Isilah titik-titik yang kosong

3.        Partisipasi anda sangat bermanfaat dalam penelitian ini dan saya ucapkan terimakasih.

Identitas Responden


1.        No Responden                        : ………….

2.        Nama Responden                     : ………….

3.        Umur Responden                    :…………….

4.  No Telepon/Hp                        :…………………………………

5.  Alamat                                    :…………………………………



A.       Kejadian Diare


1.          Apakah anda menderita diare dalam 2-3 bulan terakhir?

1.    Ya (1)

2.        Tidak (0)

2.          Jika tidak adakah anggota keluarga yang sedang mengalaminya?

1. Ya (1)

2.      Tidak (0)

3.        Apakahterjadi mencret/buang air dalam bentuk lembek atau encer>3 kali dalam 1 hari (24 jam)?
1. Ya (1)

2. Tidak (0)



B.        Sarana air bersih


1.Dari mana sumber air bersih yang paling sering digunakan keluarga sehari hari

?

1.          Tidak Ada(0)

2.          Sumur Gali (1)

3.          PAM (1)

2.      Berapa jarak antara sumur dengan tempat pembuangan tinja ?

1.    < 10 m (0)

2.    ≥ 10 m (1)

3.      Untuk keperluan minum, apakah air dimasak sampai mendidih ?

1.    Ya (1)

2.    Tidak (0)

4.      Dimanakan anda menyimpan air yang sudah dimasak?

1.          Dalam Panci Yang Tertutup (1)

2.          Dalam Teko/Ketel/Ceret (1)

3.          Dalam Botol/Termos(1)

4.          Tidak disimpan (0)

5.        Apakah anda puas dengan kualitas air yang digunakan saat ini ?

1.    Ya (1)


6.        Jika tidak, apa yang membuat anda merasa kurang puas ?

1.          Air Berasa (0)

2.          Air Berbau (0)

3.          Air Keruh (0)

4.    Lain-Lain...........



C.     Tempat Pembuangan Sampah


1.          Sehari-hari, bagaimanakah keluarga ini membuang sampah ?

1.         Dibuang dipekarangan (0)

2.         Dibuang di lubang galian (0)

3.         Dibakar (1)

4.         Dibuang ke TPS (1)

2.        Tempat sampah (dalam rumah)

1.         Ada (1)

2.         Tidak ada (0)

3.        Tempat penampungan sampah yang digunakan :

1.          Kantong Plastik (0)

2.          Kotak Kardus (0)

3.          Lubang ditanah (1)

4.          Tempat Sampah Plastik (1)

4.        Apakah sampah yang ditampung ditempat sampah dibuang kurang dari 3 hari

?

1.    Ya (1)


5.        Apakah tempat sampah diletakan dekat dengan jarak penghasil sampah ?

1.    Ya (1)

2.    Tidak (0)

D.    
No
PENGAMATAN
1 = Ya
2 = Tidak
1
Memiliki Saluran pembuangan (SPAL)


2
Panjang SPAL minimal 10 m


3
SPAL Kedap air


4
SPAL Tertutup


5
Jarak SPAL terhadap sumber air
........meter


 
Sarana Pembuangan Air Limbah PENGAMATAN












1.          Jika tidak memiliki, mengapa anda belum/tidak membuat SPAL ?

1.               Kebiasaan (0)

2.               Tidak terjangkau biaya pembuatannya (0)

3.               Tidak tahu teknik/cara pembuatannya (0)

2.          Disatukan dari dapur/kamar mandi 2.  Ya (1)
3.               Tidak (0)

3.          Kondisi :

1.             Bersih (1)

2.             Terpelihara (1)

3.             Tak terawatt (0)

E.      Kepemilikan jamban keluarga


1.          Apakah di rumah mempunyai jamban keluarga (kakus) ?

1.       Ya (1)

2.               Tidak (0)

2.        Bilaya, apa jenis jamban di rumah ?

1.               Jamban dengan tangki septic / leher angsa (1)

2.               Jamban tanpa tangki septic / jamban cemplung (0)

3.               Terbuka (0)

3.        Jika ada balita, Apakah ibu membuang tinja balita kejamban ?

1.       Ya (1)

2.       Tidak (0)

4.        Apakah tersedia sabun untuk mencuci tangan?

1.       Ya (1)

2.       Tidak (0)

5.        Apakah di jamban selalu tersedia air yang cukup ?

1.    Ya (1)

2.    Tidak (0)

6.        Apakah kondisi jamban selalu bersih dan bebas vektor (lalat) ?

1.    Ya (1)

2.    Tidak (0)

7.        Apakah jarak dengan sumber air 10 m?

1.    Ya (1)

2.         Tidak (0)

Skoring:

1.        Variabel air bersih : Apabila jumlah kode >3 maka dinyatakan “memenuhi syarat”
2.        Variabel sampah : Apabila jumlah kode >3 maka dinyatakan “memenuhi syarat”
3.        Variabel limbah : Apabila jumlah kode >3 maka dinyatakan “memenuhi syarat”
4.        Variabel jamban : Apabila jumlah kode >5 maka dinyatakan “memenuhi syarat”
5.        Variabel Kejadian Diare: Apabila jumlah kode >1 maka dinyatakan “diare”


Memenuhi syarat : Kode 1 Tidak Memenuhi : Kode 2 Diare                         : Kode 2
Tidak Diare                 : Kode 1








DOKUMENTASI


 

Tempat Pembuangan Sampah (Galian Tanah)

Sumur Gali Tidak Disemen lantainya


 
Tempat Penampungn Air Minum                             Kondisi Jamban







Pengukuran Jarak Sumber Air Bersih Dengan Tempat Pembuangan Tinja


 

Wawancara Terhadap Responden









Sampah Dibuang Dipekarangan




Kondisi Jamban Tidak Bersih


 

SPAL Tertutup                            SPAL Kedap Air Dan Tidak Tertutup








Kondisi Sumur Tidak Bersih

Komentar

Postingan Populer