MAKALAH TINDAKAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN
MAKALAH
TINDAKAN
KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM PERNAFASAN

Disusun
oleh :
Kelompok
5
1.
Anindhita
Desma Emni
2.
Erdi
Suandi
3.
M.
Zeri Zunnur’ain
4.
Reihan
Shadira Nur
5.
Tia
Puspita
6.
Yustinus
Anggun D
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KEMENKES TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2015
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT,
karena atas ridho Allah SWT kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul tindakan
keperawatan pada gangguan sistem pernafasan.
Tak ada gading yang tak retak, dan kita tahu semua walaupun
manusia merupakan makhluk yang sempurna ciptaan Allah SWT dari makhluk lainnya,
tetapi tak ada satupun manusia yang tak luput dari kesalahan, jadi apabila ada
kesalahan dalam makalah ini saya mohon maaf sebesar-besarnya. Kritik dan saran
yang mendukung untuk kebaikan makalah ini sangat kami harapkan, semoga makalah
ini dapat berguna bagi kita semua, amin.
Bandar Lampung, September 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR........................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang.......................................................................................... 1
B.
Rumusan
Masalah..................................................................................... 1
C.
Tujuan ....................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
dan fungsi............................................................................... 2
B.
Struktur
atau saluran histologi pernapasan................................................ 3
C.
Proses
pernafasan...................................................................................... 10
D.
Gangguan
pada sistem pernafasan............................................................ 15
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan................................................................................................ 16
B.
Saran ....................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Suatu organisme atau mahluk hidup
memiliki bermacam-macam sistem jaringan atau organ dalam tubuhnya, dimana
sistem tersebut memiliki fungsi dan peranan serta manfaat tertentu bagi mahluk
hidup. Salah satu sistem yang ada pada suatu organisme yakni
sistem pernapasan.
Sistem pernapasan ini sendiri
memiliki fungsi dan peranan yang sangat struktural dan terkoordinir.
Dalam ilmu histologi, sistem
pernapasan akan dibahas secara detail bahkan sampai anatominya, sehingga kita
bisa mengetahui organ dan saluran apa saja yang ikut berperanan dalam
menyalurkan oksigen (O2) yang kita
hirup.
Berdasarkan hal tersebut diatas,
penulis menyimpulkan untuk menggunakan “SISTEM PERNAPASAN .” Sebagai
judul mkalah.
B.
Rumusan Masalah
2. Apa pengertian dan fungsi
sistem pernapasan ?
3. Bagaimana struktur atau saluran
histologi, organ-organ dan mekanisme perrnapasan ?
4. Apa gangguan pada system pernafasan
?
C.
Tujuan
Tujuan inti dari penyusunan makalah
adalah untuk memenuhi tugas pada mata kuliah. selain itu, agar kita memahami
apa yang dimaksud dengan sistem dan Fungsi pernapasan serta struktur histologi
sistem pernapasan.
![]() |
BAB II
PEMBAHASAN
SISTEM PERNAPASAN PADA MANUSIA
A. PENGERTIAN
DAN FUNGSI
1.
Pengertian
Sistem pernapasan merupakan sistem
yang berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dalam
tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan homeostasis. Fungsi ini disebut
sebagai respirasi. Sistem pernapasan dimulai dari rongga hidung/mulut hingga ke
alveolus, di mana pada alveolus terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida dengan
pembuluh darah.
Respirasi adalah suatu proses mulai
dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbondioksida hingga penggunaan energi
di dalam tubuh.
Sistem respirasi atau sistem
pernafasan mencakup semua proses pertukaran gas yang terjadi antara atmosfir melalui
rongga hidung faring laring trakea bronkus paru-paru alveolus sel-sel melalui
dinding kapiler darah.
Sistem pernapasan biasanya dibagi
menjadi 2 daerah utama:
a) Bagian konduksi, meliputi rongga
hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan bronkiolus
terminalis
b) Bagian respirasi, meliputi
bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveolus.
Sebagian besar bagian konduksi
dilapisi epitel respirasi, yaitu epitel bertingkat silindris bersilia dengan
sel goblet. Dengan menggunakan mikroskop elektron dapat dilihat ada
5 macam sel epitel respirasi yaitu sel silindris bersilia, sel goblet mukosa,
sel sikat (brush cells), sel basal, dan sel granul kecil.
2.
Fungsi Sistem Pernapasan
Setiap sistem yang ada dalam tubuh
manusia khususnya, tentunya memiliki peranan dan fungsinya masing-masing.
Sistem pernapasan pun demikian, Sistem ini juga mempunyai fungsi tersendiri
bagi tubuh yang sudah terkoordinir oleh saluran dan organ tertentu sesuai
perintah otak.
Fungsi sistem pernapasan itu sendiri
antara lain sebagai berikut:
b) Sistem pernapasan digunakan untuk
membawa udara ke dalamparu-paru di mana terjadi pertukaran
gas.
c) Berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen
dan mengeluarkan karbondioksida dalam tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan
homeostasis (Respirasi).
B. STRUKTUR
ATAU SALURAN HISTOLOGI PERNAPASAN
1.
Saluran Sistem Pernapasan atau
Respirasi
Respirasi adalah pertukaran gas,
yaitu oksigen (O²) yang dibutuhkan tubuh untuk metabolisme sel dan
karbondioksida (CO²) yang dihasilkan dari metabolisme tersebut dikeluarkan dari
tubuh melalui paru.
Sistem respirasi terdiri dari:
a) Saluran nafas bagian atas. Pada
bagian ini udara yang masuk ke tubuh dihangatkan, disarung dan dilembabkan.
b) Saluran nafas bagian bawah. Bagian
ini menghantarkan udara yang masuk dari saluran bagian atas ke alveoli
c) Alveoli : terjadi pertukaran gas
anatara O2 dan CO2
d) Sirkulasi paru. Pembuluh darah arteri menuju
paru, sedangkan pembuluh darah vena meninggalkan paru.
e) Paru : terdiri dari : a. Saluran
nafas bagian bawah, b. Alveoli, c. Sirkulasi paru
f) Rongga Pleura. Terbentuk dari dua
selaput serosa, yang meluputi dinding dalam rongga dada yang
disebut pleura parietalis, dan yang meliputi paru atau pleura
veseralis
g) Rongga dan dinding dada. Merupakan
pompa muskuloskeletalyang mengatur pertukaran gas dalam proses
respirasi.
2.
Organ-organ sistem pernafasan
Organ-organ sistem pernapasan pada
manusia meliputi hidung, faring, laring, trakea, paru-paru (bronkus,brokiolus dan
alveolus). Berikut penjelasannya :
a. Hidung
Struktur berongga yang disebut
dengan rongga hidung (cavum nasalis). Memiliki rambut pendek dan tebal untuk
menyaring udara dan menangkap kotoran yang masuk bersama udara.
Rongga hidung terdiri atas
vestibulum dan fosa nasalis. Pada vestibulum di sekitar nares terdapat kelenjar
sebasea dan vibrisa (bulu hidung). Epitel di dalam vestibulum merupakan epitel
respirasi sebelum memasuki fosa nasalis. Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang
dibagi dua oleh septum nasi pada garis medial, terdapat konka (superior, media,
inferior) pada masing-masing dinding lateralnya. Konka media dan inferior
ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan konka superior ditutupi oleh epitel
olfaktorius yang khusus untuk fungsi menghidu/membaui. Epitel olfaktorius
tersebut terdiri atas sel penyokong/sel sustentakuler, sel olfaktorius (neuron
bipolar dengan dendrit yang melebar di permukaan epitel olfaktorius dan
bersilia, berfungsi sebagai reseptor dan memiliki akson yang bersinaps dengan
neuron olfaktorius otak), sel basal (berbentuk piramid) dan kelenjar
Bowman pada lamina propria. Kelenjar Bowman menghasilkan sekret yang
membersihkan silia sel olfaktorius sehingga memudahkan akses neuron untuk
membaui zat-zat. Adanya vibrisa, konka dan vaskularisasi yang khas pada rongga
hidung membuat setiap udara yang masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan
penghangatan sebelum masuk lebih jauh.
b. Faring
Tempat persimpangan antara saluran
pernapasan pada bagian depan (anterior) dan saluran pencernaan pada bagian
belakang (posterior). Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian
yang berkontak dengan palatum mole, sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe
skuamosa/gepeng.
c. Laring
Laring atau tekak (jakun) terdapat
di bagian belakang (posterior) faring. Organ ini terdiri atas 9 susunan tulang
rawan (kartilago) yang berbentuk kotak. Laring merupakan bagian yang
menghubungkan faring dengan trakea. Pada lamina propria laring terdapat tulang
rawan hialin dan elastin yang berfungsi sebagai katup yang mencegah masuknya
makanan dan sebagai alat penghasil suara pada fungsi fonasi. Epiglotis
merupakan juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan memiliki permukaan
lingual dan laringeal. Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh epitel
gepeng berlapis, sedangkan permukaan laringeal ditutupi oleh epitel respirasi
bertingkat bersilindris bersilia. Di bawah epitel terdapat kelenjar campuran
mukosa dan serosa.
Di bawah epiglotis, mukosanya
membentuk dua lipatan yang meluas ke dalam lumen laring: pasangan lipatan atas
membentuk pita suara palsu (plika vestibularis) yang terdiri dari epitel
respirasi dan kelenjar serosa, serta di lipatan bawah membentuk pita suara
sejati yang terdiri dari epitel berlapis gepeng, ligamentum vokalis (serat
elastin) dan muskulus vokalis (otot rangka). Otot muskulus vokalis akan
membantu terbentuknya suara dengan frekuensi yang berbeda-beda.
d. Trakea
Mendorong keluar debu-debu dan
bakeri dengan gerakan silia-silia di trakea. Permukaan trakea dilapisi oleh
epitel respirasi. Terdapat kelenjar serosa pada lamina propria dan tulang rawan
hialin berbentuk C (tapal kuda), yang mana ujung bebasnya berada di bagian
posterior trakea. Cairan mukosa yang dihasilkan oleh sel goblet dan sel
kelenjar membentuk lapisan yang memungkinkan pergerakan silia untuk mendorong
partikel asing. Sedangkan tulang rawan hialin berfungsi untuk menjaga lumen
trakea tetap terbuka. Pada ujung terbuka (ujung bebas) tulang rawan hialin yang
berbentuk tapal kuda tersebut terdapat ligamentum fibroelastis dan berkas otot
polos yang memungkinkan pengaturan lumen dan mencegah distensi berlebihan.
e. Paru-Paru (Pulmo)
Paru-paru pada manusia terdapat
sepasang yang menempati sebagian besar dalam cavum thoracis. Kedua paru-paru
dibungkus oleh pleura yang terdiri atas 2 lapisan yang saling berhubungan
sebagai pleura visceralis dan pleura parietalis.
Stuktur Paru-Paru (Pulmo) Unit
fungsional dalam paru-paru disebut lobulus primerius yang meliputi semua
struktur mulai bronchiolus terminalis, bronchiolus respiratorius, ductus
alveolaris, atrium, saccus alveolaris, dan alveoli bersama-sama dengan pembuluh
darah, limfe, serabut syaraf, dan jarinmgan pengikat.
Lobulus di daerah perifer
paru-paruberbentuk pyramidal atau kerucut didasar perifer, sedangkan untuk
mengisi celah-celah diantaranya terdapat lobuli berbentuk tidak teratur dengan
dasar menuju ke sentral.
Cabang terakhir bronchiolus
dalamlobulus biasanya disebut bronchiolus terminalis. Kesatuan paru-paru yang
diurus oleh bronchiolus terminalis disebut acinus. Bronchiolus Respiratorius
Memiliki diameter sekitar 0.5mm. saluran ini mula-mula dibatasi oleh epitel silindris selapis bercilia tanpa sel piala, kemudian epitelnya berganti dengan epitel kuboid selapis tanpa cilia.
Di bawah sel epitel terdapat jaringan ikat kolagen yang berisi anyaman sel-sel otot polos dan serbut elastis. Dalam dindingnya sudah tidak terdapat lagi cartilago.
Memiliki diameter sekitar 0.5mm. saluran ini mula-mula dibatasi oleh epitel silindris selapis bercilia tanpa sel piala, kemudian epitelnya berganti dengan epitel kuboid selapis tanpa cilia.
Di bawah sel epitel terdapat jaringan ikat kolagen yang berisi anyaman sel-sel otot polos dan serbut elastis. Dalam dindingnya sudah tidak terdapat lagi cartilago.
Pada dinding bronchiolus
respiratorius tidak ditemukan kelenjar. Disana-sini terdapat penonjolan dinding
sebagai alveolus dengan sebagian epitelnya melanjutkan diri. Karena adanya
alveoli pada dinding bronchiolus inilah maka saluran tersebut dinamakan
bronchiolus respiratorius.
a)
Bronkus
Bronkus terdiri dari dua bagian
yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Mukosa bronkus secara struktural mirip
dengan mukosa trakea, dengan lamina propria yang mengandung kelenjar serosa ,
serat elastin, limfosit dan sel otot polos. Tulang rawan pada bronkus lebih
tidak teratur dibandingkan pada trakea; pada bagian bronkus yang lebih besar,
cincin tulang rawan mengelilingi seluruh lumen, dan sejalan dengan mengecilnya
garis tengah bronkus, cincin tulang rawan digantikan oleh pulau-pulau tulang
rawan hialin.
b) Bronkiolus
Percabangan bronkus yang banyak
mengandung otot polos. Bronkiolus tidak memiliki tulang rawan dan kelenjar pada
mukosanya. Lamina propria mengandung otot polos dan serat elastin. Pada segmen
awal hanya terdapat sebaran sel goblet dalam epitel. Pada bronkiolus yang lebih
besar, epitelnya adalah epitel bertingkat silindris bersilia, yang makin
memendek dan makin sederhana sampai menjadi epitel selapis silindris bersilia
atau selapis kuboid pada bronkiolus terminalis yang lebih kecil. Terdapat sel
Clara pada epitel bronkiolus terminalis, yaitu sel tidak bersilia yang
memiliki granul sekretori dan mensekresikan protein yang bersifat
protektif. Terdapat juga badan neuroepitel yang kemungkinan berfungsi sebagai
kemoreseptor.
c) Alveolus
dikelilingi kapiler-kapiler darah
yang dibatasi oleh membran alveoli-kapiler tempat terjadinya
pertukaran O2 dan CO2 atau pernapasan eksternal. Alveolus merupakan struktur
berongga tempat pertukaran gas oksigen dan karbondioksida antara udara dan
darah. Septum interalveolar memisahkan dua alveolus yang berdekatan, septum
tersebut terdiri atas 2 lapis epitel gepeng tipis dengan kapiler, fibroblas, serat
elastin, retikulin, matriks dan sel jaringan ikat.
Terdapat sel alveolus tipe 1 yang
melapisi 97% permukaan alveolus, fungsinya untuk membentuk sawar dengan
ketebalan yang dapat dilalui gas dengan mudah. Sitoplasmanya mengandung banyak
vesikel pinositotik yang berperan dalam penggantian surfaktan (yang dihasilkan
oleh sel alveolus tipe 2) dan pembuangan partikel kontaminan kecil. Antara sel
alveolus tipe 1 dihubungkan oleh desmosom dan taut kedap yang mencegah
perembesan cairan dari jaringan ke ruang udara.
Sel alveolus tipe 2 tersebar di
antara sel alveolus tipe 1, keduanya saling melekat melalui taut kedap dan
desmosom. Sel tipe 2 tersebut berada di atas membran basal, berbentuk kuboid
dan dapat bermitosis untuk mengganti dirinya sendiri dan sel tipe 1. Sel tipe 2
ini memiliki ciri mengandung badan lamela yang berfungsi menghasilkan surfaktan
paru yang menurunkan tegangan alveolus paru.
3.
Mekanisme pernapasan
Mekanisme sistem pernapasan dalam
mengambil nafas ke dalam tubuh dan membuang napas ke udara dilakukan dengan dua
cara pernapasan yakni pernapasan dada dan perut.
a.
Pernapasan
Dada (Costal Breathing).
Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antar tulang rusuk. Otot antar tulang rusuk luar
berkontraksi atau mengerut, Tulang rusuk terangkat ke atas, Rongga dada
membesar yang mengakibatkan tekanan udara dalam dada kecil sehingga udara masuk
ke dalam badan.
Mekanismenya dapat dibedakan sebagai
berikut :
1) Fase Inspirasi. Fase ini berupa
berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada membesar, akibatnya
tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga
udara luar yang kaya oksigen masuk.
2) Fase Ekspirasi. Fase ini merupakan
fase relaksasi atau kembalinya otot antara tulang rusuk ke posisi semula yang
dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai
akibatnya, tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan
luar, sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
Bagan mekanisme pernafasan dada :
|
Inspirasi
a. Kontraksi otot – otot antar
tulang rusuk ekspirasi
b. Tulang rusuk terangkat
c. Volum rongga dada membesar
d. Tekanan udara di paru – paru
menurun
|
Ekspirasi
a. Kontraksi otot – otot antar tulang
b. tulang rusuk tertekan
c. volum rongga dada mengecil
d. tekanan udara di paru-paru
membesar
|
b.
Pernapasan Perut (Diaphragmatic
Breathing)
Pernapasan perut adalah pernapasan yang melibatkan otot diafragma. Otot difragma pada perut mengalami
kontraksi, Diafragma datar, Volume rongga dada menjadi besar yang mengakibatkan
tekanan udara pada dada mengecil sehingga udara pasuk ke paru-paru.
Mekanismenya dapat dibedakan sebagai
berikut :
1) Fase Inspirasi. Fase ini berupa berkontraksinya
otot diafragma sehingga rongga dada membesar, akibatnya tekanan dalam rongga
dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya
oksigen masuk.
2) Fase Ekspirasi. Fase ini merupakan
fase relaksasi atau kembalinya otot diaframa ke posisi semula yang dikuti oleh
turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Sebagai akibatnya,
tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar,
sehingga udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.
Bagan pernafasan perut :
1. Inspirasi
2. ekspirasi
Kontraksi otot diafragma relaksasi otot diafragma
Otot diafragma
mendatar diafragma melengkung keatas
Volum rongga dada
membesar
volum rongga dada mengecil
Tekanan udara di paru – paru
mengecil tekanan udara di paru – paru
Membesar
Manusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas
dan membuang karbondioksida ke lingkungan. Respirasi dapat dibedakan atas dua
jenis, yaitu :
a) Respirasi Luar (Ekternal) yaitu
pertukaran antara O2 dan CO2 antara darah dan udara yang terjadi di sekitar
alveoli.
b) Respirasi Dalam (Internal) yaitu
pertukaran O2 dan CO2 dari aliran darah ke sel-sel tubuh.
C. PROSES
PERNAFASAN
Pernafasan terdiri dari 4 proses:
1. Ventilansi
Frekuwensi nafas normal 12-15
x/menit.Pada orang dewasa setiap 1x nafas (tidal volume Vt) udara masuk 500 cc
atau 10 ml/kg BB.sehingga setiap menit udara msuk kesistem nafas 6-8
liter(menit ,MV).udara yang sampai ke alveoli di sebut ventilasi
alveolair.Ventilasi alveolir lbih kecil dari minute volume,karena sebagian
udara dijalan nafas tidak ikut pertukaran gas.VA normal ± 80ml/kg/menit.VD
normal 2-3 ml/kg/BB.
2. Distribusi
Gangguan distribusi dsebabkan oleh:
a. Retensi seputum menyebabkan obstruksi
bronkioli,hipoventasi arveolair dan atelektasis .
b. Aspirasi masuknya benda asing
kejalan nafas.
c. Bronchospasme karena asthma
bronchiale atau alergi.
3. Disfusi
Difusi oksigen berjalan lancar bila
alveoli mengembang baik dari jarak trans-mambran pendek edema menyebabkan jarak
a oksigen menjauh hingga kadar O2 dalam darah menurun (xipoxemia).difusi CO2
tidak pernah terganggu karena kapasitas disfusi CO2 jauh lebih besar dari pada
O2 pada edema paru tahap awal terjadi penumpukan cairan dalam jaringan di
sekitar alveoli dan kapiler (interstitial edema)pada tahap lanjut caiaran masuk
ke dalam alveoli,alveolar edema.
4. Perfusi
Aliran darah dikapiler
paru(perfusi)ikut menentukan jumlah O2 yang dapat di angkut masalah yang timbul
jika terjadi ketidakseimbangan ventilasi alveolair(VA)dengan perfusi (Q)yang
lazim di sebut VA/Q imbalance.
Dapat terjadi;
a) ventilasi normal,perfusi normal, semua
O2 di ambil darah
b) ventilasi normal,perfusi kurang ventilasi
berlebihan,tak semua O2 sempat diambil unit ini dinamai”dead space”yang terjadi
pada shock dan emboli paru.
c) Ventilasi
berkurang perfusi normal.darah tidak
mendapat cukup oksigen(desaturasi unit ini disebut “shunt”.terjadi pada
atelektasis edema paru.ARDS dan aspirasi caiaran
Silent unit: tidak ada ventilansi dan perfusi.
Volume Udara Pernapasan
·
Volume
Tidal (1/2 liter) =
Voulume udara hasil inspirasi/ekspirasi pada setiap kali bernapas normal
·
Volume
Residu (1 liter) = Volume udara yang masih tetap berada dalam paru-paru setelah
ekspirasi kuat
·
Kapasitas
Vital Paru-paru (4 liter) = Volume udara yang keluar masuk paru-paru
·
Kapasitas
Total (5 liter) = Udara dalam volum paru-paru
Frekuensi Pernapasan
Cepat lambatnya bernapas bergantung pada:
1.
Usia
: Semakin tua semakin lambat
2.
Jenis
Kelamin : Laki-laki lebih cepat
3.
Kegiatan
: Semakin
berat semakin cepat
4.
Posisi
tubuh : Berdiri/duduk lebih cepat daripada
berbaring/tidur.
Pertukaran O2 dan CO2 :
Udara masuk ke alveolus (ke kapiler-kapiler darah) secara difusi
Terjadi proses oksihemoglobin , yaitu hemoglobin (Hb) mengikat O2
O2 diedarkan oleh darah ke seluruh jaringan tubuh
Darah melepaskan O2 sehingga oksihemoglobin
menjadi hemoglobin
O2 digunakan untuk oksidasi menghasilkan Energi +
CO2 + Uap air
CO2 larut dalam darah dan diangkut darah ke
paru-paru, masuk ke alveolus secara difusi
CO2 keluar melalui alat pernapasan di rongga
hidung
Kelainan dan Penyakit pada Sistem
Pernapasan
1. Asfiksi
·
kekurangan
oksigen yang diperlukan untuk proses Terganggunya pengangkutan oksigen ke
sel-sel atau jaringan tubuh.
·
Terjadi
pada paru-paru, pembuluh darah atau pada jaringan tubuh.
Penyebab :
·
Adanya
bakteri’’ Diplococcus pneumonia” sehingga alveolus terisi oleh
cairan limfe.
·
Adanya
gas racun karbonmonoksida (CO) yang memiliki daya ikat terhadap hemoglobin jauh
lebih besar dari pada Oksigen (O2). Akibatnya
tubuh oksidasi zat makanan.
2. TBC (TuBerCulosis)
·
Infeksi
paru-paru yang disebabkan oleh bakteri ‘’Mycobacterium tuberculosis’’
·
Gejala
: kelelahan, kehilangan berat badan, berkeringat pada malam hari, dada sakit,
batuk dengan mengeluarkan dahak/darah, napas pendek.
3. Bronkitis
·
Peradangan
pada bronkus/bronkiolus yang mengiritasi silia (rambut-rambut halus) dalam
bronkus / bronkiolus sehingga berhenti fungsinya dan kotoran akan menumpuk dan
mengeluarkan lendir (mukus) secara berlebih
·
Gejala
: Batuk-batuk, demam, sakit di
bagian dada
·
Penyebab : Debu, virus, bakteri, merokok,
menghirup bahan
kimia pencemar,
4. Tonsilitis
·
Peradangan
pada tonsil
·
Gejala
: Sakit tenggorokan, sulit
menelan, demam
·
Penyebab : Bakteri/virus
5. Sinusitis
·
Peradangan rongga hidung bagian atas
·
Gejala : Sakit kepala, rasa sakit
di bagian wajah, demam,
keluar ingus bening,
rasa sesak di rongga hidung, tenggorokan sakit, batuk
Penyebab :
·
Segala
sesuatu yang mengganggu/menghambat aliran udara ke dalam rongga hidung /
keluarnya mukus (cairan) hidung keluar dari hidung, seperti mengerasnya ingus.
·
Kurangnya
kelembapan udara
·
Obat
antihistamin
·
Penyakit
tertentu
6. SARS (Serve Acute Respiratory
Syndrome)
·
Penyakit
saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh virus SARS-associated coronavirus
(SARS-CoV)
·
Gejala
: Sakit kepala, demam tinggi (>380C), batuk-batuk, susah bernapas,
tenggorokan gatal, lesu, nyeri tubuh
Penularan
: Kontak langsung dengan penderita atau benda-benda yang terkontaminasi dengan
ludah penderita dan mengenai mata, hidung / mulut orang sehat.
7. ASMA
·
Peradangan
pada saluran pernapasan yang menyebabkan pembengkakan dan penyempitan saluran
pernapasan karena adanya lendir yang berlebih sehingga penderita sukar
bernapas, terasa sesak di dada dan batuk-batuk.
·
Penyebab
: Alergi terhadap suatu benda, asap tembakau, psikis (pikiran),
keturunan
·
Pengobatan
: Obat yang dihirup (inhaler), obat tablet maupun cair
8. Kanker Paru-Paru
·
Kanker
yang terjadi pada paru-paru
·
Gejala
: Batuk, napas pendek, dahak berdarah, sakit dada
·
Penyebab
: Rokok / tembakau
·
Pengobatan
: Operasi, terapi radiasi, kemoterapi
D. GANGGUAN
PADA SISTEM PERNAFASAN
Gangguan pada sistem pernapasan
dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti:
1.
karena
terganggunya pengangkutan O2 ke sel-sel atau jaringan tubuh (asfiksi) atau keracunan
gas-gas berbahaya.
2.
Pneumonia.
terisinya alveolus dengan cairan limfa karena infeksi Diplokokus pneumonia atau
Pneumokokus
3.
Polip,
Amandel, dan Adenoid. disebabkan karena penyumbatan saluran pernapasan oleh
kelenjar limfa
4.
Radang;
peradangan pada rongga hidung bagian atas (Sinusitis), peradangan pada bronkus
(Bronkitis), serta radang pada pleura (Pleuritis)
5.
TBC
kerusakan pada paru-paru akibat terinfeksi Mycobacterium tuber culosis
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Dari pembahasan yang uraikan diatas
dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain :
1.
Sistem
pernapasan merupakan sistem yang berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen dan
mengeluarkan karbondioksida dalam tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan
homeostasis. Fungsi ini disebut sebagai respirasi. Sistem pernapasan dimulai
dari rongga hidung/mulut hingga ke alveolus, di mana pada alveolus terjadi
pertukaran oksigen dan karbondioksida dengan pembuluh darah.
2.
Sistem
Pernapasan atau Respirasi adalah suatu proses mulai dari pengambilan oksigen (O2), pengeluaran karbondioksida (CO2) hingga penggunaan energi di dalam tubuh.
Sistem respirasi itu sendiri mencakup semua proses pertukaran gas yang terjadi
antara atmosfir melalui rongga hidung faring
laring trakea bronkus
paru-paru alveolus
sel-sel melalui dinding kapiler darah.
3.
Organ-organ
sistem pernapasan meliputi hidung, faring, laring,
trakea, Paru-paru atau pulmo yang terdiri dari
bronkus, brokiolus dan alveolus.
4.
Mekanisme
Pernapasan meliputi Pernapasan dada atau costal breathing dan
Pernapasan perut atau diaphragmatic breathing yangmelalui
masing-masing dua fase yaitu fase inspirasi dan ekspirasi yang melibatkan
pernapasan eksternal (luar) dan pernapasan internal (dalam).
5.
Gangguan
pada sistem pernapasan bisa disebabkan karena terganggunya pengangkutan O2 ke
sel-sel atau jaringan tubuh (asfiksi) atau keracunan gas-gas berbahaya.
B.
SARAN
Agar tidak terjadi gangguan pada
sistem pernapasan kita, hindarilah polusi udara dan gas-gas beracun, serta
rawatlah paru-paru (pulmo) agar tetap bersih, karena Paru-paru mudah sekali
terserang penyakit infeksi sehingga menimbulkan kerusakan jaringannya.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L.J 2007. Buku Saku: Diagnosa Keperawatan. Edisi
ke-10. Jakarta : EGC
Doenges,M.E. 2000. Rencana Asuhan Keperawata. Edisi
3. Jakarta : EGC
Muttaqin, A. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika

Komentar
Posting Komentar