ROOLPLAY DAN STRATEGI KOMUNIKASI
ROOLPLAY DAN STRATEGI KOMUNIKASI

Disusun
oleh :
1.
Adistya
Rizky utami
2.
Ajeng
andarini
3.
Amanada
ika fitrial sn
4.
Andi
saputra
5.
Anindhita
desma emni
6.
Aulia
beni cahyadi
7.
Chandra
agung wibowo
8.
Devi
syaharani
9.
Dhanis
berkam
10.
Diah
mulyati suga
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN TANJUNG
KARANG TAHUN 2014/2015
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami
panjatkan kepada Allah SWT, karena atas ridho Allah SWT kami dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul BERFIKIR KRITIS.
Tak ada gading yang tak retak, dan
kita tahu semua walaupun manusia merupakan makhluk yang sempurna ciptaan Allah
SWT dari makhluk lainnya, tetapi tak ada satupun manusia yang tak luput dari
kesalahan, jadi apabila ada kesalahan dalam makalah ini saya mohon maaf
sebesar-besarnya. Kritik dan saran yang mendukung untuk kebaikan makalah ini
sangat kami harapkan, semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua, amin.
Bandar Lampung, April 2015
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL...................................................................................... i
KATA
PENGANTAR
.................................................................................. ii
DAFTAR ISI................................................................................................ iii
BAB IPENDAHULUAN
1.1 Latar belakang............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................ 1
1.3 Tujuan.......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian..................................................................................... 2
2.2 Definisi berfikir kritis................................................................... 3
2.3 Manfaat berfikir kritis................................................................... 4
2.4 keterampilan berfikir kritis............................................................ 5
2.5 indikator berfikir kritis.................................................................. 7
2.6 Proses berfikir kritis...................................................................... 8
2.7 study kasus dalam berfikir
kritis................................................. 12
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................. 13
3.2 Kritik & Saran............................................................................ 13
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berfikir merupakan suatu proses yang
berjalan secara berkesinambungan mencakup interaksi dari suatu rangkaian
pikiran dan persepsi. Sedangkan berfikir kritis merupakan konsep dasar yang
terdiri dari konsep berfikir yang berhubungan dengan proses belajar dan kritis
itu sendiri berbagai sudut pandang selain itu juga membahas tentang komponen
berfikir kritis dalam keperawatan yang di dalamnya dipelajari karakteristik,
sikap dan standar berfikir kritis, analisis pertanyaan kritis, hubungan
pemecahan masalah, pengambilan keputusaan dan kreatifitas dalam berfikir kritis
serta factor-faktor yang mempengaruhi berfikir kritis.
Perawat sebagai bagian dari pemberi
pelayanan kesehatan, yaitu memberi asuhan keperawatan dengan menggunakan proses
keperawatan akan selalu dituntut untuk berfikir kritis dalam berbagai situasi.
Penerapan berfikir kritis dalam proses keperawatan dengan kasus nyata yang akan
memberi gambaran kepada perawat tentang pemberian asuhan keperawatan yang
komprehensif dan bermutu. Seorang yang berfikir dengan cara kreatif akan
melihat setiap masalah dengan sudut yang selalu berbeda meskipun obyeknya sama,
sehingga dapat dikatakan, dengan tersedianya pengetahuan baru, seorang
profesional harus selalu melakukan sesuatu dan mencari apa yang paling efektif
dan ilmiah dan memberikan hasil yang lebih baik untuk kesejahteraan diri maupun
orang lain.
Proses berfikir ini dilakukan
sepanjang waktu sejalan dengan keterlibatan kita dalam pengalaman baru dan
menerapkan pengetahuan yang kita miliki, kita menjadi lebih mampu untuk
membetuk asumsi, ide-ide dan menbuat simpulan yang valid. Semua proses
tersebut tidak terlepas dari sebuah proses berfikir dan belajar.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Apakah
pengertian dari berfikir kritis?
2.
Apakah definisi dari berfikir kritis ?
3.
Apakah manfaat dari berfikir kritis ?
1.3
Tujuan
- Mengetahui definisi dari berfikir kritis
- Mengetahui manfaat berfikir kritis
- Mengetahui indikator dari berfikir kritis
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Menurut Halpen (1996), berpikir
kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif
dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan
tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran merupakan bentuk
berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan
kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika
menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe
yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan
mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan
beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa
disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan
dituju.
Pendapat senada dikemukakan Anggelo
(1995: 6), berpikir kritis adalah mengaplikasikan rasional, kegiatan
berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan menganalisis, mensintesis,
mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan mengevaluasi.
Dari dua pendapat tersebut, tampak
adanya persamaan dalam hal sistematika berpikir yang ternyata berproses.
Berpikir kritis harus melalui beberapa tahapan untuk sampai kepada sebuah
kesimpulan atau penilaian.
Penekanan kepada proses dan tahapan
berpikir dilontarkan pula oleh Scriven, berpikir kritis yaitu proses intelektual
yang aktif dan penuh dengan keterampilan dalam membuat pengertian atau konsep,
mengaplikasikan, menganalisis, membuat sistesis, dan mengevaluasi. Semua
kegiatan tersebut berdasarkan hasil observasi, pengalaman, pemikiran,
pertimbangan, dan komunikasi, yang akan membimbing dalam menentukan sikap dan
tindakan (Walker, 2001: 1).
Pernyataan tersebut ditegaskan
kembali oleh Angelo (1995: 6), bahwa berpikir kritis harus memenuhi
karakteristik kegiatan berpikir yang meliputi : analisis, sintesis, pengenalan
masalah dan pemecahannya, kesimpulan, dan penilaian.
Berpikir yang ditampilkan dalam
berpikir kritis sangat tertib dan sistematis. Ketertiban berpikir dalam
berpikir kritis diungkapkan MCC General Education Iniatives. Menurutnya,
berpikir kritis ialah sebuah proses yang menekankan kepada sikap penentuan
keputusan yang sementara, memberdayakan logika yang berdasarkan inkuiri dan
pemecahan masalah yang menjadi dasar dalam menilai sebuah perbuatan atau
pengambilan keputusan.
Berpikir kritis merupakan salah satu
proses berpikir tingkat tinggi yang dapat digunakan dalam pembentukan sistem
konseptual siswa. Menurut Ennis (1985: 54), berpikir kritis adalah cara
berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan untuk
menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan.
2.2 Definisi Berpikir Kritis
Berpikir
kritis merupakan salah satu keterampilan
tingkat tinggi yang sangat penting diajarkan kepada siswa selain keterampilan
berpikir kreatif. Apa itu berpikir kritis? Berikut ini disajikan definisi
mengenai berpikir kritis (keterampilan berpikir kritis).
- Definisi berpikir kritis menurut Ennis (1962) : Berpikir kritis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pada pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan.
- Definisi berpikir kritis menurut Beyer (1985) : Berpikir kritis adalah kemampuan (1) menentukan kredibilitas suatu sumber, (2) membedakan antara yang relevan dari yang tidak relevan, (3) membedakan fakta dari penilaian, (4) mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi yang tidak terucapkan, (5) mengidentifikasi bias yang ada, (6) mengidentifikasi sudut pandang, dan (7) mengevaluasi bukti yang ditawarkan untuk mendukung pengakuan.
- Definisi berpikir kritis menurut Mustaji (2012): Berpikir kristis adalah berpikir secara beralasan dan reflektif dengan menekankan pembuatan keputusan tentang apa yang harus dipercayai atau dilakukan. Berikut adalah contoh-contoh kemampuan berpikir kritis, misalnya (1) membanding dan membedakan, (2) membuat kategori, (2) meneliti bagian-bagian kecil dan keseluruhan, (3) menerangkan sebab, (4) membuat sekuen / urutan, (5) menentukan sumber yang dipercayai, dan (6) membuat ramalan.
- Definisi berpikir kritis menurut Walker (2006) :Berpikir kritis adalah suatu proses intelektual dalam pembuatan konsep, mengaplikasikan, menganalisis, mensintesis, dan atau mengevaluasi berbagai informasi yang didapat dari hasil observasi, pengalaman, refleksi, di mana hasil proses ini diguanakan sebagai dasar saat mengambil tindakan.
- Definisi berpikir kritis menurut Hassoubah (2007):Berpikir kritis adalah kemampuan memberi alasan secara terorganisasi dan mengevaluasi kualitas suatu alasan secara sistematis.
- Definisi berpikir kritis menurut Chance (1986) :Berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis fakta, mencetuskan dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah.
- Definisi berpikir kritis menurut Mertes (1991) :Berpikir kritis adalah sebuah proses yang sadar dan sengaja yang digunakan untuk menafsirkan dan mengevaluasi informasi dan pengalaman dengan sejumlah sikap reflektif dan kemampuan yang memandu keyakinan dan tindakan.
- Definisi berpikir kritis menurut Paul (1993) :Berpikir kritis adalah mode berpikir – mengenai hal, substansi atau masalah apa saja – di mana si pemikir meningkatkan kualitas pemikirannya dengan menangani secara terampil struktur-struktur yang melekat dalam pemikiran dan menerapkan standar-standar intelektual padanya.
- Definisi berpikir kritis menurut Halpern (1985) :Berpikir kritis adalah pemberdayaan kognitif dalam mencapai tujuan.
- Definisi berpikir kritis menurut Angelo (1995):Berpikir kritis adalah mengaplikasikan rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, meliputi kegiatan menganalisis, mensintesis, mengenali permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan serta mengevaluasi.
2.3 Manfaat berfikir kritis

1. Memiliki banyak alternatif jawaban dan ide kreatif
Membiasakan diri berpikir kritis akan melatih Anda memiliki
kemampuan untuk berpikir jernih dan rasional. Dimana Anda juga akan dapat
berpikir secara mandiri dan reflektif. Berpikir dan bertindak reflektif adalah
tindakan dan pikiran yang tidak Anda rencanakan, terjadi secara spontan dan
begitu saja, secara refleks otak Anda akan memikirkan suatu hal serta melakukan
hal-hal lain tanpa perlu Anda memikirkan atau menyuruh otak Anda untuk
memikirkan secara ulang. Terbiasa berpikir kritis juga akan membuat Anda
memiliki banyak alternatif jawaban serta ide-ide kreatif. Jika Anda mempunyai
suatu masalah, Anda tidak hanya terpaku pada satu jalan keluar atau
penyelesaian, Anda akan memiliki banyak opsi atau pilihan penyelesaian masalah
tersebut. Berpikir kritis akan membuat Anda memiliki banyak ide-ide kreatif dan
inovatif serta out of the box.
2. Mudah memahami sudut pandang orang lain
Berpikir kritis membuat pikiran dan otak Anda lebih
fleksibel. Anda tidak akan terlalu kaku dalam berpikir atas pendapat atau
ide-ide dari orang lain. Anda lebih mudah untuk menerima pendapat orang lain
dan persepsi yang berbeda dari persepsi Anda sendiri. Hal ini memang tidak
mudah untuk dilakukan, namun jika Anda telah terbiasa untuk berpikir kritis,
maka dengan sendirinya, secara spontanitas, hal ini akan mudah untuk Anda
lakukan. Keuntungan lain dari memiliki pikiran yang lebih fleksibel dari
berpikir kritis adalah Anda lebih mudah memahami sudut pandang orang lain.
Tidak terlalu terpaku pada pendapat Anda sendiri, dan lebih terbuka terhadap
pemikiran, ide, atau pendapat orang lain.
3. Menjadi rekan kerja yang baik
Lebih banyak manfaat-manfaat lain yang bisa Anda peroleh
karena berpikir kritis. Dan manfaat-manfaat itu pada umumnya saling berkaitan.
Misalnya saja Anda lebih mudah, terbuka, menerima, serta tidak kaku dalam
menerima pendapat orang lain, Anda tentu kaan lebih dihormati oleh rekan kerja
Anda. Karena Anda mau menerima pendapat orang lain dengan pikiran terbuka. Maka
rekan kerja Anda pasti akan menganggap Anda sebagai rekan kerja yang baik. Di
dalam lingkungan kerja, hal lain yang penting selain pekerjaan dan hubungan
dengan atasan adalah lingkungan kerja. Lingkungan kerja ini tentu saja
dipengaruhi oleh rekan-rekan kerja Anda. Jika hubungan Anda baik dengan rekan
kerja, situasi lingkungan kerja juga akan lebih baik dan lebih kondusif serta
produktif dalam bekerja.
4. Lebih Mandiri
Berpikir kritis membuat Anda mampu berpikir lebih mandiri,
artinya tidak harus selalu mengandalkan orang lain. Saat dihadapkan pada
situasi yang rumit dan sulit serta harus segera mengambil keputusan, Anda tidak
perlu menunggu seseorang yang Anda anggap mampu menyelesaikan masalah, karena
Anda sendiri juga mampu menyelesaikan masalah tersebut. Dengan memiliki pikiran
yang kritis, Anda dapat memunculkan ide-ide, gagasan, serta saran-saran
penyelesaian masalah yang baik. Dengan berpikir kritis, akan melatih otak Anda
untuk berpikir lebih kritis, tajam, kreatif, serta inovatif.
5. Sering menemukan peluang baru
Dengan berpikir kritis, lebih memungkinkan Anda untuk
menemukan peluang-peluang baru dalam segala hal, bisa dalam pekerjaan maupun
bisnis atau usaha Anda. Berpikir kritis membuat pikiran Anda lebih tajam dalam
menganalisa suatu masalah atau keadaan. Tentu saja hal ini akan berdampak pada
kewaspadaan Anda itu sendiri. Untuk menemukan peluang, dibutuhkan pikiran yang
tajam serta mampu menganalisa peluang yang ada pada suatu keadaan. Berpikir
kritis akan menguntungkan Anda, karena Anda akan lebih cepat dalam menemukan
peluang tersebut jika dibandingkan dengan orang yang tidak terbiasa berpikir
kritis.
6. Meminimalkan salah persepsi
Salah persepsi akan sering terjadi bila Anda tidak terbiasa
berpikir kritis. Saat Anda menerima sebuah pernyataan dari orang lain dan orang
lain tersebut juga percaya akan pernyataan tersebut maka jika Anda memiliki
pemikiran yang kritis Anda akan mencari kebenaran akan persepsi tersebut. Anda
tidak akan mudah salah dalam sebuah persepsi yang belum tentu benar hanya
dengan orang lain mengatakan hal tersebut adalah benar. Saat Anda tahu sebuah
persepsi dari orang lain tersebut salah Anda akan membantu bukan hanya diri
Anda tapi juga orang tersebut. Dengan semakin Anda berpikir kritis hal ini akan
meminimalkan salah persepsi.
7. Tidak mudah ditipu
Berpikir kritis membuat Anda dapat berpikir lebih rasional
serta beralasan. Anda mengambil keputusan berdasarkan fakta, atau Anda akan
menganalisa suatu anggapan terlebih dahulu kemudian Anda kaitkan dengan sebuah
fakta. Anda tidak mudah percaya dengan perkataan orang lain. Sehingga hal
tersebut akan memudahkan Anda untuk tidak tertipu atau ditipu oleh orang lain.
Anda akan memproses suatu informasi apakah relevan atau sesuatu yang
mustahil sehingga Anda dapat simpulkan sebagai sesuatu yang tidak benar
atau mengandung unsur kebohongan. Berpikir kritis menuntun Anda lebih selektif
dalam mengolah informasi, sehingga Anda tidak akan mudah tertipu karena setiap
mendapat suatu informasi, Anda tidak akan langsung mempercayainya begitu saja,
namun Anda akan menganalisisnya kembali secara rasional.
2.4 Keterampilan berfikir kritis
Keterampilan berfikir kritis meliputi : interpretasi, analisis, evaluasi,
inferensi, penjelasan, regulasi diri, Memahami hubungan-hubungan logis antar
gagasan, Mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum dalam pemberian alasan,
serta Mengidentifikasi, mengkontruksi, dan mengevaluasi argument, dll
Facion
(dalam Istanto, 2012) mengungkapkan enam kemampuan berpikir kritis yang paling
utama yaitu :
1.
Interpretasi : kategorisasi, dekode,
mengklarifikasi makna
2.
Analisis : memeriksa gagasan,
mengidentifikasi argumen
3.
Evaluasi : menilai pernyataan, menilai
argumen
4.
Inferensi : mempertanyakan pernyataan,
memikirkan alternatif, menarik kesimpulan, memecahkan masalah, membuat
keputusan
5.
Penjelasan : menyatakan masalah, menyatakan
hasil, mengemukakan kebenaran prosedur, mengemukakan argumen
6.
Regulasi diri : meneliti diri, mengoreksi diri
2.5
Indikator berfikir kritis
Wade (1995) mengidentifikasi delapan
karakteristik berpikir kritis, yakni meliputi:
1. Kegiatan merumuskan pertanyaan,
2. membatasi permasalahan,
3. menguji data-data,
4. menganalisis berbagai pendapat dan
bias,
5. menghindari pertimbangan yang sangat
emosional,
6. menghindari penyederhanaan
berlebihan,
7. mempertimbangkan berbagai
interpretasi, dan
8. mentoleransi ambiguitas.
Karakteristik
lain yang berhubungan dengan berpikir kritis, dijelaskan Beyer (1995: 12-15)
secara lengkap dalam buku Critical Thinking, yaitu:
a. Watak (dispositions)
Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis
mempunyai sikap skeptis, sangat terbuka, menghargai sebuah kejujuran, respek
terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian,
mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika
terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik.
b. Kriteria (criteria)
Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau
patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk
diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa
sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan
menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan
fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari
logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang.
c. Argumen (argument)
Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh
data-data. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan,
penilaian, dan menyusun argumen.
d. Pertimbangan atau pemikiran
(reasoning)
Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau
beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara
beberapa pernyataan atau data.
e. Sudut pandang (point of view)
Sudut pandang adalah cara memandang atau menafsirkan dunia
ini, yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan
kritis akan memandang sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Prosedur penerapan kriteria
(procedures for applying criteria)
Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan
Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan permasalahan, menentukan
2.6 Proses berpikir
kritis
a)
Keterampilan
Menganalisis
Keterampilan menganalisis merupakan
suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur ke dalam komponen-komponen agar
mengetahui pengorganisasian struktur tersebut . Dalam keterampilan tersebut
tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara menguraikan
atau merinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan
terperinci. Pertanyaan analisis, menghendaki agar pembaca mengindentifikasi
langkah-langkah logis yang digunakan dalam proses berpikir hingga sampai pada
sudut kesimpulan (Harjasujana, 1987: 44).
Kata-kata operasional yang
mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, diantaranya: menguraikan,
membuat diagram, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, memerinci,
dsb.
b)
Keterampilan
Mensintesis
Keterampilan mensintesis merupakan
keterampilan yang berlawanan dengan keteramplian menganallsis. Keterampilan
mensintesis adalah keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah
bentukan atau susunan yang baru. Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk
menyatupadukan semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga
dapat menciptakan ide-ide baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam
bacaannya. Pertanyaan sintesis ini memberi kesempatan untuk berpikir bebas
terkontrol (Harjasujana, 1987: 44).
c)
Keterampilan
Mengenal dan Memecahkan Masalah
Keterampilan ini merupakan
keterampilan aplikatif konsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini
menuntut pembaca untuk memahami bacaan dengan kritis sehinga setelah kegiatan
membaca selesai siswa mampu menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga
mampu mempola sebuah konsep. Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pembaca
mampu memahami dan menerapkan konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang
lingkup baru (Walker, 2001:15).
d)
Keterampilan
Menyimpulkan
Keterampilan menyimpulkan ialah
kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan pengertian/pengetahuan (kebenaran)
yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian/pengetahuan (kebenaran)
yang baru yang lain (Salam, 1988: 68). Berdasarkan pendapat tersebut dapat
dipahami bahwa keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu menguraikan dan
memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu formula baru
yaitu sebuah simpulan. Proses pemikiran manusia itu sendiri, dapat menempuh dua
cara, yaitu : deduksi dan induksi. Jadi, kesimpulan merupakan sebuah proses
berpikir yang memberdayakan pengetahuannya sedemikian rupa untuk menghasilkan
sebuah pemikiran atau pengetahuan yang baru.
e)
Keterampilan
Mengevaluasi atau Menilai
Keterampilan ini menuntut pemikiran
yang matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada.
Keterampilan menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang
nilai yang diukur dengan menggunakan standar tertentu (Harjasujana, 1987: 44).
Dalam taksonomi belajar, menurut
Bloom, keterampilan mengevaluasi merupakan tahap berpikir kognitif yang paling
tinggi. Pada tahap ini siswa ituntut agar ia mampu mensinergikan aspek-aspek
kognitif lainnya dalam menilai sebuah fakta atau konsep.
Pengukuran indikator-indikator yang
dikemukan oleh beberapa ahli di atas dapat dilakukan dengan menggunakan
universal intellectual standars. Pernyataan ini diperkuat oleh pendapat Paul
(2000: 1) dan Scriven (2000: 1) yang menyatakan, bahwa pengukuran keterampilan
berpikir kritis dapat dilakukan dengan menjawab pertanyaan: “Sejauh manakah
siswa mampu menerapkan standar intelektual dalam kegiatan berpikirnya”.
Universal inlellectual standars
adalah standardisasi yang harus diaplikasikan dalam berpikir yang digunakan
untuk mengecek kualitas pemikiran dalam merumuskan permasalahan, isu-isu, atau
situasi-situasi tertentu. Berpikir kritis harus selalu mengacu dan berdasar
kepada standar tersebut (Eider dan Paul, 2001: 1).
Berikut ini akan dijelaskan
aspek-aspek tersebut.
a) Clarity (Kejelasan)
Kejelasan merujuk kepada pertanyaan: “Dapatkah permasalahan
yang rumit dirinci sampai tuntas?”; “Dapatkah dijelaskan permasalahan itu
dengan cara yang lain?”; “Berikanlah ilustrasi dan contoh-contoh!”.
Kejelasan merupakan pondasi standardisasi. Jika pernyataan
tidak jelas, kita tidak dapat membedakan apakah sesuatu itu akurat atau
relevan. Apabila terdapat pernyataan yang demikian, maka kita tidak akan dapat
berbicara apapun, sebab kita tidak memahami pernyataan tersebut.
Contoh, pertanyaan berikut tidak
jelas: “Apa yang harus dikerjakan pendidik dalam sistem pendidikan di
Indonesia?” Agar pertanyaan itu menjadi jelas, maka kita harus memahami betul
apa yang dipikirkan dalam masalah itu. Agar menjadi jelas, pertanyaan itu harus
diubah menjadi, “Apa yang harus dikerjakan oleh pendidik untuk memastikan bahwa
siswanya benar-benar telah mempelajari berbagai keterampilan dan kemampuan
untuk membantu berbagai hal agar mereka berhasil dalam pekerjaannya dan mampu
membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari?”.
b) Accuracy (keakuratan, ketelitian,
kesaksamaan)
Ketelitian
atau kesaksamaan sebuah pernyataan dapat ditelusuri melalui pertanyaan: “Apakah
pernyataan itu kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan?”; “Bagaimana cara
mengecek kebenarannya?”; “Bagaimana menemukan kebenaran tersebut?” Pernyataan
dapat saja jelas, tetapi tidak akurat, seperti dalam penyataan berikut, “Pada
umumnya anjing berbobot lebih dari 300 pon”.
c) Precision (ketepatan)
Ketepatan
mengacu kepada perincian data-data pendukung yang sangat mendetail. Pertanyaan
ini dapat dijadikan panduan untuk mengecek ketepatan sebuah pernyataan. “Apakah
pernyataan yang diungkapkan sudah sangat terurai?”; “Apakah pernyataan itu
telah cukup spesifik?”. Sebuah pernyataan dapat saja mempunyai kejelasan dan
ketelitian, tetapi tidak tepat, misalnya “Aming sangat berat” (kita tidak
mengetahui berapa berat Aming, apakah satu pon atau 500 pon!)
d) Relevance (relevansi, keterkaitan)
Relevansi
bermakna bahwa pernyataan atau jawaban yang dikemukakan berhubungan dengan
pertanyaan yang diajukan. Penelusuran keterkaitan dapat diungkap dengan
mengajukan pertanyaan berikut: “Bagaimana menghubungkan pernyataan atau respon
dengan pertanyaan?”; “Bagaimana hal yang diungkapkan itu menunjang
permasalahan?”. Permasalahan dapat saja jelas, teliti, dan tepat, tetapi tidak
relevan dengan permasalahan. Contohnya: siswa sering berpikir, usaha apa yang
harus dilakukan dalam belajar untuk meningkatkan kemampuannya. Bagaimana pun
usaha tidak dapat mengukur kualitas belajar siswa dan kapan hal tersebut
terjadi, usaha tidak relevan dengan ketepatan mereka dalam meningkatkan
kemampuannya.
e) Depth (kedalaman)
Makna
kedalaman diartikan sebagai jawaban yang dirumuskan tertuju kepada pertanyaan
dengan kompleks, Apakah permasalahan dalam pertanyaan diuraikan sedemikian
rupa? Apakah telah dihubungkan dengan faktor-faktor yang signifikan terhadap
pemecahan masalah? Sebuah pernyatan dapat saja memenuhi persyaratan kejelasan,
ketelitian, ketepatan, relevansi, tetapi jawaban sangat dangkal (kebalikan dari
dalam). Misalnya terdapat ungkapan, “Katakan tidak”. Ungkapan tersebut biasa
digunakan para remaja dalam rangka penolakan terhadap obat-obatan terlarang
(narkoba). Pernyataan tersebut cukup jelas, akurat, tepat, relevan, tetapi
sangat dangkal, sebab ungkapan tersebut dapat ditafsirkan dengan
bermacam-macam.
f) Breadth (keluasaan)
Keluasan
sebuah pernyataan dapat ditelusuri dengan pertanyaan berikut ini. Apakah
pernyataan itu telah ditinjau dari berbagai sudut pandang?; Apakah memerlukan
tinjauan atau teori lain dalam merespon pernyataan yang dirumuskan?; Menurut
pandangan..; Seperti apakah pernyataan tersebut menurut… Pernyataan yang
diungkapkan dapat memenuhi persyaratan kejelasan, ketelitian, ketepatan,
relevansi, kedalaman, tetapi tidak cukup luas. Seperti halnya kita mengajukan
sebuah pendapat atau argumen menurut pandangan seseorang tetapi hanya
menyinggung salah satu saja dalam pertanyaan yang diajukan.
g) Logic (logika)
Logika
bertemali dengan hal-hal berikut: Apakah pengertian telah disusun dengan konsep
yang benar?; Apakah pernyataan yang diungkapkan mempunyai tindak lanjutnya?
Bagaimana tindak lanjutnya? Sebelum apa yang dikatakan dan sesudahnya,
bagaimana kedua hal tersebut benar adanya? Ketika kita berpikir, kita akan
dibawa kepada bermacam-macam pemikiran satu sama lain. Ketika kita berpikir
dengan berbagai kombinasi, satu sama lain saling menunjang dan mendukung
perumusan pernyataan dengan benar, maka kita berpikir logis. Ketika berpikir
dengan berbagai kombinasi dan satu sama lain tidak saling mendukung atau
bertolak belakang, maka hal tersebut tidak logis
2.7
Study kasus berfikir kritis
Seorang bidan
menangani seorang ibu X primipara berusia 35 tahun. Bidan tersebut menggali
informasi mulai dari riwayat kesehatan keluarga. Kehamilan Ibu X berusia 14
minggu dan ini kehamilan yang direncanakan. Pada akhir pertemuan Ibu X tersebut
mengeluarkan pendapat tentang persalinannya. Ibu X menyatakan tentang persalinan
SC sebagai pilihannya. Bidan menjelaskan bahwa persalinan SC untuk kasus
komplikasi. Bidan tersebut tidak melanjutkan diskusinya karena takut memberikan
informasi yang salah dan terjadi konflik. Maka bidan menyarankan Ibu X untuk
konsultasi ke dokter kandungan
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berpikir kritis adalah suatu
aktifitas kognitif yang berkaitab dengan
penggunaan nalar. Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan
proses-proses mental, seperti memperhatikan, mengkategorikan, seleksi, dan
menilai/memutuskan.
penggunaan nalar. Belajar untuk berpikir kritis berarti menggunakan
proses-proses mental, seperti memperhatikan, mengkategorikan, seleksi, dan
menilai/memutuskan.
Kemampuan dalam berpikir kritis
memberikan arahan yang tepat dalam
berpikir dan bekerja, dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu
dengan yang lainnya dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir
kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah / pencarian solusi, dan
pengelolaan proyek.
berpikir dan bekerja, dan membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu
dengan yang lainnya dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir
kritis sangat dibutuhkan dalam pemecahan masalah / pencarian solusi, dan
pengelolaan proyek.
Pengembangan kemampuan berpikir
kritis merupakan integrasi beberapa bagian pengembangan kemampuan, seperti
pengamatan (observasi), analisis,
penalaran, penilaian, pengambilan keputusan, dan persuasi. Semakin baik
pengembangan kemampuan-kemampuan ini, maka kita akan semakin dapat
mengatasi masalah-masalah/proyek komplek dan dengan hasil yang memuaskan
penalaran, penilaian, pengambilan keputusan, dan persuasi. Semakin baik
pengembangan kemampuan-kemampuan ini, maka kita akan semakin dapat
mengatasi masalah-masalah/proyek komplek dan dengan hasil yang memuaskan
3.2 Kritik & Saran
Saya merasa pada makalah ini saya
banyak kekurangan, karena kurangnya referensidan pengetahuan pada saat
pembuatan makalah ini, saya sebagai penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun pada pembaca agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Krulik, S &
Rudnick. 1999.” Innovative Taks to Improve Critical and Creative Thinking
Skills. Develoving Mathematical Raesoning in Grades K-12”, pp.138-145.
Redhana,
I Wayan. 2003. Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Melalui
Pembelajaran Kooperatif Dengan Strategi Pemecahan Masalah. Jurnal
Pendidikan Dan Pengajaran XXXVI. II: 11-21.
Watson, G dan Glaser, E. M. (1980). Critical
Thinking Appraisal. New York: Harcourt Brace Jovanovich, Inc.
Komentar
Posting Komentar