MAKALAH MAXILO FACIAL PEOTESA WAJAH



MAKALAH MAXILO FACIAL PEOTESA WAJAH
DI SUSUN     : SUCI RAHMAWATI
NIM                : 13360033







POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN TANJUNG KARANG 2014/2015








KATA PENGANTAR

            Puji sukur ke pada Allah swtmyamg telah memberikan hidayah dan pemikiran yang baik,sehingga saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Protesa Wajah,yamg untuk memenuhi sarat perkuliahan tentang mata kuliah maxilo facial
            Kelebihan dan kekurangan saya dalam pembuatan makalah ini sangat lah tidak sempurna, untuk itu ,saya memerlukam keitik dan saean bagi para pembaca untuk membenahi diri saya agae membuat makalh yang baik dan benar,se,oga makalah ini dapat d baca dan di ,manfaatkan  oleh para pembaca














`                                                                                   Bandar Lampumg   2015
                                                                                    Suci rahmawati                      



BAB I PENDAHULUAN
A.Definisi trauma maxilofasial
            Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan sekitarnya. Trauma pada jaringan maksilofasial dapat mencakup jaringan lunak dan jaringan keras. Yang dimaksud dengan jaringan lunak wajah adalah jaringan lunak yang menutupi jaringan keras wajah. Sedangkan yang dimaksud dengan jaringan keras wajah adalah tulang kepala yang terdiri dari : tulang hidung, tulang arkus zigomatikus, tulang mandibula, tulang maksila, tulang rongga mata, gigi, tulang alveolus. Yang dimaksud dengan trauma jaringan lunak  antara lain :
1. Abrasi kulit, tusukan, laserasi, tato.
2. Cedera saraf, cabang saraf fasial.
3. Cedera kelenjar parotid atau duktus Stensen.
4. Cedera kelopak mata.
5. Cedera telinga.
6. Cedera hidung.
            Trauma maksilofasial merupakan trauma fisik yang dapat mengenai jaringan keras dan lunak wajah. Penyebab trauma maksilofasial bervariasi, mencakup kecelakaan lalu lintas, kekerasan fisik, terjatuh, olah raga dan trauma akibat senjata api. Trauma pada wajah sering mengakibatkan terjadinya gangguan saluran pernafasan, perdarahan, luka jaringan lunak, hilangnya dukungan terhadap fragmen tulang dan rasa sakit. Oleh karena itu, diperlukan perawatan kegawatdaruratan yang tepat dan secepat mungkin.1
                Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab dengan persentase yang tinggi terjadinya kecacatan dan kematian pada orang dewasa secara umum dibawah usia 50 tahun dan angka terbesar biasanya mengenai batas usia 21-30 tahun. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72% kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas. Pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan dapat mengalami cacat permanen.

Kedaruratan trauma maksilofasial merupakan suatu penatalaksanaan tindakan darurat pada orang yang baru saja mengalami trauma pada daerah maksilofasial (wajah). Penatalaksanaan kegawatdaruratan pada trauma maksilofasial oleh dokter umum  hanya mencakup bantuan hidup dasar (basic life support) yang berguna menurunkan tingkat kecacatan dan kematian pasien sampai diperolehnya penanganan selanjutnya di rumah sakit. Oleh karena itu, para dokter umum harus mengetahui prinsip dasar ATLS (Advance Trauma Life Support) yang merupakan prosedur-prosedur penanganan pasien yang  mengalami kegawatdaruratan.
Prinsip-prinsip untuk mengobati patah tulang wajah adalah sama seperti untuk patah lengan atau kaki. Bagian-bagian dari tulang harus berbaris (dikurangi) dan ditahan dalam posisi cukup lama untuk memungkinkan mereka waktu untuk menyembuhkan. Ini mungkin membutuhkan enam minggu atau lebih tergantung pada usia pasien dan kompleksitas fraktur itu.
Menghindari cedera merupakan hal yang terbaik, ahli bedah mulut dan maksilofasial menganjurkan penggunaan sabuk pengaman mobil, penjaga pelindung mulut, dan masker yang tepat dan helm untuk semua orang yang berpartisipasi dalam kegiatan atletik di tingkat manapun.

B. Anatomi Maksilofasial
Pertumbuhan kranium terjadi sangat cepat pada tahun pertama dan kedua setelah lahir dan lambat laun akan menurun kecepatannya. Pada anak usia 4-5 tahun, besar kranium sudah mencapai 90% cranium dewasa. Maksilofasial tergabung dalam tulang wajah yang tersusun secara baik dalam membentuk wajah manusia.
Daerah maksilofasial dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama adalah wajah bagian atas, di mana patah tulang melibatkan frontal dan sinus. Bagian kedua adalah midface tersebut. Midface dibagi menjadi bagian atas dan bawah. Para midface atas adalah di mana rahang atas Le Fort II dan III Le Fort fraktur terjadi dan / atau di mana patah tulang hidung, kompleks nasoethmoidal atau zygomaticomaxillary, dan lantai orbit terjadi. Bagian ketiga dari daerah maksilofasial adalah wajah yang lebih rendah, di mana patah tulang yang terisolasi ke rahang bawah.




BAB II
PEMBAHASAN

A. Epidemiologi
Dari data Kejadian fraktur mandibula dan maksila terbanyak diantara 2 tulang lainnya, yaitu masing-masing sebesar 29,85 %, disusul fraktur zigoma 27,64 % dan fraktur nasal 12, 66 %. Penderita fraktur maksilofasial ini terbanyak pada laki-laki usia produktif,yaitu usia 21-30 tahun, sekitar 64,38 % disertai cedera di tempat lain, dan trauma penyerta terbanyak adalah cedera otak ringan sampai berat, sekitar 56%. Penyebab terbanyak adalah kecelakaan lalu lintas dan sebagian besar adalah pengendara sepeda motor.

B. Etiologi Trauma Maksilofasial
Trauma wajah di perkotaan paling sering disebabkan oleh perkelahian, diikuti oleh kendaraan bermotor dan kecelakaan industri. Para zygoma dan rahang adalah tulang yang paling umum patah selama serangan. Trauma wajah dalam pengaturan masyarakat yang paling sering adalah akibat kecelakaan kendaraan bermotor, maka untuk serangan dan kegiatan rekreasi. Kecelakaan kendaraan bermotor menghasilkan patah tulang yang sering melibatkan midface, terutama pada pasien yang tidak memakai sabuk pengaman mereka. Penyebab penting lain dari trauma wajah termasuk trauma penetrasi, kekerasan dalam rumah tangga, dan pelecehan anak-anak dan orang tua.
Bagi pasien dengan kecelakaan lalu lintas yang fatal menjadi masalah karena harus rawat inap di rumah sakit dengan cacat permanen yang dapat mengenai ribuan orang per tahunnya. Berdasarkan studi yang dilakukan, 72% kematian oleh trauma maksilofasial paling banyak disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas (automobile).







Berikut ini tabel etiologi trauma maksilofasial :


Penyebab  pada orang dewasa
Persentase (%)
Kecelakaan  lalu lintas
40-45
Penganiayaan / berkelahi
10-15
Olahraga
5-10
Jatuh
5
Lain-lain
5-10



Penyebab  pada orang anak
Persentase (%)
Kecelakaan  lalu lintas
10-15
Penganiayaan / berkelahi
5-10
Olahraga (termasuk naik sepeda)
50-65
Jatuh
5-10





C.  Klasifikasi Trauma Maksilofasial
Trauma maksilofasial dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu trauma jaringan keras wajah dan trauma jaringan lunak wajah. Trauma jaringan lunak biasanya disebabkan trauma benda tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau dan golok pada perkelahian.
            1.trauma jarimgam lunak
Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar.
Trauma pada jaringan lunak wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan : 3,5
1. Berdasarkan jenis luka dan penyebab:
a. Ekskoriasi
b. Luka sayat, luka robek , luka bacok.
c. Luka bakar
d. Luka tembak
2. Berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan
3. Dikaitkan dengan unit estetik
Menguntungkan atau tidak menguntungkan, dikaitkan dengan garis Langer.

2.Trauma jaringan keras wajah
Klasifikasi trauma pada jaringan keras wajah di lihat dari fraktur tulang yang terjadi dan dalam hal ini tidak ada klasifikasi yg definitif. Secara umum dilihat dari terminologinya, trauma pada jaringan keras wajah dapat diklasifikasikan berdasarkan :

1. Dibedakan berdasarkan lokasi anatomic dan estetik.a
a. Berdiri Sendiri : fraktur frontal, orbita, nasal, zigomatikum, maxilla, mandibulla, gigi dan alveolus.
b. Bersifat Multiple : Fraktur kompleks zigoma, fronto nasal dan fraktur kompleks mandibula


a Berdasarkan Tipe fraktur :
a. Fraktur simpel
• Merupakan fraktur sederhana, liniear yang tertutup misalnya pada kondilus, koronoideus, korpus dan mandibula yang tidak bergigi.
• Fraktur tidak mencapai bagian luar tulang atau rongga mulut. Termasuk greenstik fraktur yaitu keadaan retak tulang, terutama pada anak dan jarang terjadi.

b. Fraktur kompoun
• Fraktur lebih luas dan terbuka atau berhubungan dengan jaringan lunak.
• Biasanya pada fraktur korpus mandibula yang mendukung gigi, dan hampir selalu tipe fraktur kompoun meluas dari membran periodontal ke rongga mulut, bahkan beberapa luka yang parah dapat meluas dengan sobekan pada kulit.

c. Fraktur komunisi
• Benturan langsung terhadap mandibula dengan objek yang tajam seperti peluru yang mengakibatkan tulang menjadi bagian bagian yang kecil atau remuk.
• Bisa terbatas atau meluas, jadi sifatnya juga seperti fraktur kompoun dengan kerusakan tulang dan jaringan lunak.

d. Fraktur patologis
• keadaan tulang yang lemah oleh karena adanya penyakit penyakit tulang, seperti Osteomyelitis, tumor ganas, kista yang besar dan penyakit tulang sistemis sehingga dapat menyebabkan fraktur spontan.

D. PERAWATAN MAKSILOFASIAL
Perawatan trauma maksilofasial untuk pasien prostetik dengan cacat bawaan dan kraniofasial tidak hanya mengatasi kekurangan fisik dan fungsional tetapi idealnya juga mengevaluasi efek psikologis yang mungkin timbul dari pada deformitas wajah.3
Perawatan protesa maksilofasial menawarkan perbaikan dalam fungsi penampilan, kesehatan dari pasien dengan kelainan bawaan dan cacat kraniofasial.3
Tujuan utama dalam merehabilitasi pasien dengan trauma maksilofasial adalah mengembalikan fungsi mastikasi, mengembalikan bentuk anatomi sehingga menjadi normal kembali dan mencapai estetik yang baik pada wajah
E.Tujuan maxilofacial
            Prostesa maksilofasial adalah perawatan khusus kedokteran gigi yang bertujuan untuk memulihkan wajah cacat yang disebabkan oleh kelainan anatomi oleh kanker, trauma atau kongenital melalui perangkat buatan, yang umumnya melekat pada kulit dengan bantuan perekat.
Protesa maksilofasial mempunyai peran yang penting dalam rehabilitasi pasien yang menderita cacat pada wajah yang parah yang disebabkan oleh kanker, trauma, penyakit atau kelainan bawaan.
Perangkat prostetik maksilofasial dapat dipasang dengan bantuan perekat, dengan cara mekanis, implant kraniofasial dan anatomi jaringan lunak. Perekat merupakan metode yang efektif dan umum digunakan.
Pemulihan bagian tubuh yang hilang karena kelainan bawaan atau akibat dari kejadian umum seperti kecelakaan dan penggantian bagian tubuh tersebut berfungsi untuk memulihkan fungsi dan estetika yang hilang, yang dilakukan dengan menggunakan bahan bio-kompatibel.Penggunaan bahan tersebut untuk memulihkan bagian tubuh yang hilang telah digunakan selama bertahun-tahun sampai sekarang.
F. BAHAN PROTESA MAKSILOFASIAL
Untuk saat ini, tidak ada bahan-bahan yang tersedia secara komersial yang memenuhi semua persyaratan bahan yang ideal.Setiap bahan memiliki keuntungan dan kerugian tersendiri. Penelitian kedepannya diharapkan dapat fokus pada dua tujuan utama yaitu :
-           Meningkatkan sifat bahan, sehingga akan sama kurang lebih seperti jaringan pada manusia.
-          Warna dari pewarna stabil untuk mewarnai protesa wajah.12
Yang paling penting dalam pengobatan prostetik pada pasien seperti ini yaitu retensi yang memadai, kestabilan dan juga dukungan. Ukuran dan lokasi cacat biasanya mempengaruhi jumlah gangguan dan kesulitan dalam rehabilitasi prostetik.12
Adapun selama berabad – abad protesa digunakan untuk menutupi kerusakan maksilofasial.Meski ada perbaikan dalam teknik bedah dan restorasi, bahan – bahan yang digunakan dalam prostetik maksilofasial adalah jauh dari ideal. Sebagai tambahan, bahan tersebut harus menyerupai kulit dalam warna dan tekstur.13
Adapun bahan maksilofasial yaitu :
-          Lateks. Adalah bahan lunak dan tidak mahal yang digunakan untuk membuat protesa yang menyerupai bentuk sesungguhnya. Sayangnya bahan ini lemah, cepat mengalami degenerasi, menunjukkan ketidakstabilan warna serta dapat menyebabkan reaksi alergi. Akibatnya, lateks jarang digunakan dalam pembentukan protesa maksilofasial.
-          Vinil Plastisol. Resin vinil yang diplastiskan kadang – kadang digunakan dalam aplikasi maksilofasial. Plastisol adalah cairan kental berisi partikel kecil vinil yang tersebar dalam suatu bahan pembuat plastis. Bahan pewarna ditambahkan pada bahan ini untuk menyesuaikan warna kulit individu. Sayangnya, vinil plastisol mengeras dengan bertambahnya waktu karena hilangnya bahan pembuat plastis. Sinar ultraviolet juga memiliki efek samping terhadap bahan – bahan ini, untuk alasan inilah penggunaan vinil plastisol menjadi terbatas.
-          Karet Silikon. Silicon yang digunakan saat ini adalah silicon vulkanisasi panas dan vulkanisasi temperatur ruangan, keduanya mempunyai keuntungan dan kekurangan.
Polimer Poliuretan. Poliuretan adalah bahan yang paling sering digunakan akhir – akhir ini dalam prostetik maksilofasial. Pembuatan protesa poliuretan memerlukan perbandingan
G.KANKER WAJAH DAN LEHER
Kanker kepala dan leher adalah istilah yang diterapkan pada kelompok tumor ganas yang terjadi di daerah anatomis kepala dan leher. Kanker paling umum melibatkan rongga mulut adalah sel karsinoma skuamosa.8
Rekonstruksi cacat kepala dan leher dapat dicapai dengan operasi, pembuatan protesa, atau keduanya. Tujuan rekonstruksi pembedahan adalah untuk memperbaiki cacat, memungkinkan keberhasilan penyembuhan luka, mengembalikan fungsi, dan penyediaan estetik yang lebih baik.8
Kanker kepala dan kanker leher mencapai 17% dari semua kasus kanker.Ini mempengaruhi struktur fisik dari wajah dan rongga mulut.Hal ini mempengaruhi berbagai fungsi seperti fungsi menelan, pengucapan, pernapasan dan estetika. Hal ini juga mempengaruhi kualitas hidup individu.9
Dalam rehabilitasi, ada keterbatasan bedah di mana satu-satunya pilihan adalah sebuah prostesa. Prostesis maksilofasial adalah cabang dasar kedokteran gigi yang berhubungan dengan rehabilitasi protesa buatan untuk cacat bawaan atau yang diperoleh dari mulut dan wajah yang mempengaruhi fungsi dan estetik.9
Obturators termasuk ke dalam jenis protesa hibrid. Istilah ini digunakan untuk desain komposisi campuran maupun konvensional, yang mempunyai manfaat untuk memperbaiki kerusakan sebagian atau total pada bagian rahang. Ini adalah suatu perangkat yang dibuat untuk mengembalikan fungsi mastikasi, artikulasi atau pengucapan, dan estetik.9
Rekonstruksi pada bagian kepala dan leher yang cacat dapat dilakukan dengan pembedahan, pembuatan protesa, ataupun keduanya. Tujuan dari operasi rekonstruksi adalah untuk memperbaiki yang bagian yang rusak pada wajah, memungkinkan penyembuhkan luka, mengembalikan fungsi, dan menyediakan estetik yang baik.
H. . ECTODERMAL DYSPLASIA
Ectodermal Displasia (ED) didefinisikan oleh National foundation for ectodermal dysplasia sebagai gangguan genetik di mana ada cacat bawaan lahir dari dua atau lebih struktur ektodermal.10
Thurman menerbitkan laporan pertama dari pasien dengan ED pada tahun 1848, tetapi laporan tersebut tidak dapat dibuktikan sampai pada tahun 1929 dibuktikan oleh Weech.10
Jumlah pasien perempuan yang terkena penyakit ini lebih banyak  dibandingkan laki-laki akan tetapi pada perempuan hanya menunjukkan sedikit tanda – tanda atau bahkan tidak menunjukkan kondisi apapun.10
Lamartine pada tahun 2003 telah menggambarkan berbagai definisikan mengenai ectodermal displasia yaitu :
-          Hypohidrotic (anhidrotic),
-          Hidrotic (Clouston’syndrome),
-          Ectrodactyly-ectodermal dysplasia-cleft syndrome (EEC),
-          Rapp- Hodgkin Syndrome,
-          Hay-Wells syndrome or ankyloblepharon ectodermal dysplasia.10
Biasanya ektodermal dysplasia dibagi menjadi dua jenis berdasarkan pada jumlah dan fungsi kelenjar keringat sebagai berikut :
-          Hypohidrotic (anhidrotic) ectodermal displasia (Christ-Siemens-Tourine Syndrome)
-          Hidrotic Ectodermal Dysplasia (Clouston Syndrome).10
Ektodermal displasia sering melibatkan fitur yang tumpang tindih, sehingga rumit mengidentifikasi klasifikasinya. Beberapa sindrom ektodermal displasia mungkin ada yang ringan sedangkan yang lainnya dapat mematikan.11
Diagnosis menjadi sulit karena karakteristik dari ektodermal displasia tidak jelas selama kelahiran, meskipun selama periode neonatal ada skala yang luas pada kulit.



            I.Penatalaksanaan
Penatalaksanaan awal pada pasien dengan kecurigaan trauma masilofasial yaitu meliputi :
1. Periksa kesadaran pasien.
2. Perhatikan secara cermat wajah pasien :
·         Apakah asimetris atau tidak.
·                  Apakah hidung dan wajahnya menjadi lebih pipih.
3. Apakah ada Hematoma :
a. Fraktur Zygomatikus
·         Terjadi hematoma yang mengelilingi orbita, berkembang secaracepat sebagai permukaan yang bersambungan secara seragam.
·         Periksa mulut bagian dalam dan periksa juga sulkus bukal atas apakah ada hematoma, nyeri tekan dan krepitasi pada dinding zigomatikus.
b.Fraktur nasal
·                  Terdapat hematoma yang mengelilingi orbita, paling berat kearah medial.
c. Fraktur Orbita
·         Apakah mata pasien cekung kedalam atau kebawah ?
·         Apakah sejajar atau bergeser ?
·         Apakah pasien bisa melihat ?
·         Apakah dijumpai diplopia ? Hal ini karena :
o   Pergeseran orbita
o   Pergeseran bola mata
o   Paralisis saraf ke VI
o   Edema 
d. Fraktur pada wajah  dan tulang kepala.
·         Raba secara cermat seluruh bagian kepala dan wajah : nyeri tekan, deformitas,    iregularitas dan krepitasi.
·         Raba tulang zigomatikus, tepi orbita, palatum dan tulang hidung,pada fraktur Le Fort tipe II atau III banyak fragmen tulang kecil sub cutis pada regio ethmoid. Pada pemeriksaan ini jika rahang tidak menutup secara sempurna berarti pada rahang sudah terjadi fraktur. 

e. Cedera saraf 
·         Uji anestesi pada wajah ( saraf infra orbita) dan geraham atas (saraf gigi atas). 
f. Cedera gigi
·         Raba giginya dan usahakan menggoyangkan gigi bergerak abnormal dan juga disekitarnya.

2.11 Prosedur penatalaksanaan kegawatdaruratan trauma maksilofacial.11
Pada pasien dengan trauma hebat atau multiple trauma akan dievaluasi dan ditangani secara sistematis, di titik beratkan pada penentuan prioritas tindakan berdasarkan atas riwayat terjadinya kecelakaan dan derajat beratnya trauma.

1. Apakah Pasien dapat bernapas ?
Jika sulit : Ada obstruksi.  Lidahnya jatuh kearah belakang atau tidak.
2.Curiga adanya Fraktur Mandibula. 
Kait dengan jari tangan anda mengelilingi bagian belakang palatum durum, dan tarik tulang wajah bag tengah dengan lembut kearah atas dan depan memperbaiki jalan napas dan
sirkulasi mata. Reduksi ini diperlukan pengetahuan dan ketrampilan yang baik juga gaya yang besar jika fraktur terjepit dan jika reduksi tidak berhasil lakukan Tracheostomi.
Untuk melepaskan himpitan tulang pegang alveolus maksilaris dengan forcep khusus (Rowes) atau forcep bergerigi tajam yang kuat dan goyangkan. 
3. Jika lidah atau rahang bawah jatuh ke arah belakang
Lakukan beberapa jahitan atau jepitkan handuk melaluinya,dan secara lembut tarik kearah depan, lebih membantu jika posisi pasien berbaring, saat evakuasi sebaiknya dibaringkan pada salah satu sisi
4. Jika cedera rahang yang berat dan kehilangan banyak jaringan
Pada saat mengangkutnya, baringkan pasien dengan kepalapada salah satu ujung sisi dan dahinya ditopang dengan pembalut di antara pegangan.
5. Jika pasien merasakan lebih enak dengan posisi duduk 
Biarkan posisi demikian mungkin jalan napas akan membaik dengan cepat ketika ia melakukannya. Hisap mulutnya dari sumbatan bekuan darah. Jalan napas buatan (OPA, ETT) mungkin tidak membantu. 
6. Jika hidungnya cedera parah dan berdarah
Hisap bersih (suction) dan pasang NPA atau pipa karet tebalyang sejenis ke satu sisi.
Jika terjadi perdarahan : Ikat pembuluh darah yang besar atau jika terjadi perdarahan yang sulit gunakan tampon yang direndam adrenalin yang dipakai untuk ngedep perdarahan yang hebat. Tampon post nasal selalu dapat menghentikan perdarahan. Jika perlu gunakan jahitan hemostasis sementara.
Tujuan Perawatan pasien trauma maksilofasial :
a.               Memperbaiki jalan napas.
b.      Mengontrol perdarahan.
c.               Dapat menggigit secara normal reduksi akan sempurna.
d.      Cegah deformitas reduksi pada fraktur hidung dan zigoma
7. Pemeriksaan Intra Oral. 
Yang harus di perhatikan pada saat melakukan pemeriksaan intra oral adalah adanya  floating pada susunan tulang-tulang wajah, seperti :
·         Mandibular floating.
·         Maxillar floating.
·         Zygomaticum floating
Yang dimaksud dengan floating disini adalah keadaan dimana salah satu dari struktur tulang diatas terasa seperti melayang saat dilakukan palpasi, jika terbukti adanya floating, berarti ada kerusakan atau fraktur pada tulang tersebut.3
Pasien dengan trauma maksilofasial harus dikelola dengan segera, dimana dituntut tindakan diagnostik yang cepat dan pada saat yang sama juga diperlukan juga tindakan resusitasi yang cepat. Resusitasi mengandung prosedur dan teknik terencana untuk mengembalikan pulmonary alveolaris ventilasi, sirkulasi dan tekanan darah yang efektif dan untuk memperbaiki efek yang merugikan lainnya dari trauma maksilofasial. Tindakan pertama yang dilakukan ialah tindakan Primary Survey yang meliputi pemeriksaan vital sign secara cermat, efisien dan cepat. Kegagalan dalam melakukan salah satu tindakan ini dengan baik dapat berakibat fatal.11

Jadi secara umum dapat disimpulkan, penderita trauma maksilofasial dapat dibagi dalam 2  kelompok  :
1. Kelompok perlukaan maksilofasial sekunder pada relative trauma kecil, misalnya dipukul atau ditendang, dapat di terapi pada intermediate atau area terapi biasa pada ruang gawat darurat.
2. Kelompok perlukaan maksilofasial berat sekunder kedalam trauma tumpul berat, misalnya penurunan kondisi secara cepat dari kecelakaan lalulintas atau jatuh dari ketinggian, harus diterapi di tempat perawatan kritis pada instalasi gawat darurat :
1.Trauma maksilofasial berat harus di rawat di ruang resusitasi atau kritis area  diikuti dengan teknik ATLS
2.Yakinkan dan jaga potensi jalan napas dengan immobilisasi tulang leher.
a. Setengah duduk jika tidak ada kecurigaan perlukaan spinal, atau jika penderita perlu melakukannya.
b. Jaw trush dan chin lift.
c. Traksi lidah : Dengan jari, O-slik suture atau dengan handuk 
3. Endotrakel intubasi :  oral intubasi sadar atau RSI atau krikotiroidotomi
4. Berikan oksigenasi yang adekuat .
5.Monitor tanda vital setiap 5 ± 10 menit, EKG, cek pulse oximetry.
6. Pasang 1 atau 2 infus perifer dengan jarum besar untuk  pengantian cairan.
7. Laboratorium : Crossmatch golongan darah, darah lengkap, ureum /elektrolit / kreatinin.
8. Fasilitas penghentian perdarahan yang berlangsung.
a. Penekanan langsung. Jepitan hidung,Tampon hidung atau tenggorokan.
b. Bahan haemostatic asam tranexamid (cyclokapron). Dosis : 25mg/kg BB IV bolus pelan selama 5 ± 10  menit.3,11

Beberapa pegangan pada bedah plastik dapat digunakan dalam menangani trauma dan luka pada wajah :
1.  Asepsis.
2. Debridement, bersihkan seluruh kotoran dan benda asing.
3. Hemostasis, sedemikian rupa sehingga setetes darah pun tidak bersisa sesudah dijahit.
4. Hemat jaringan, hanya jaringan yang nekrosis saja yang boleh dieksisi dari pinggir luka.
5. Atraumatik, seluruh tindakan bedah dengan cara dan bahan atraumatik.
6. Approksimasi, penjahitan kedua belah sisi pinggir luka secara tepat dan teliti.
7. Non tensi, tidak boleh ada tegangan dan tarikan pinggir luka sesudah dijahit. Benang hanya berfungsi sebagai pemegang
8. Eksposure, luka sesudah dijahit sebaiknya dibiarkan terbuka karena penyembuhan dan perawatan luka lebih baik, kecuali ditakutkan ada perdarahan di bawah luka yang harus ditekan (pressur

  J .Gambar trauma wajah



http://image.slidesharecdn.com/traumamaksilofasialyenianggraini-130515133747-phpapp01/95/trauma-maksilofasial-6-638.jpg?cb=1368625187


















BAB III  KESIMPULAN
 KESIMPULAN
Dari data – data dan penjelasan yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa :
-                     Cacat pada daerah wajah dapat disebabkan oleh penyakit tertentu, perubahan patologis, radiasi, luka bakar, atau karena intervensi bedah atau campur tangan dari bedah.
-                     Berdasarkan data yang ada, diperoleh data bahwa terdapat empat faktor umum serta yang menyebabkan perlunya penanganan dengan protesa maksilofasial yaitu akibat kelainan bawaan, trauma, kanker atau tumor dan post operasi.
-          Para penderita dengan kehilangan mata dapat menyebabkan masalah fisik dan emosional yang signifikan. Rehabilitasi seorang pasien yang telah menderita trauma psikologis dari hilangnya mata membutuhkan prostesis yang akan memberikan hasil estetik dan fungsional yang optimal.
-          Kanker kepala dan kanker leher mencapai 17% dari semua kasus kanker. Ini mempengaruhi struktur fisik dari wajah dan rongga mulut. Hal ini mempengaruhi berbagai fungsi seperti fungsi menelan, pengucapan, pernapasan dan estetika. Hal ini juga mempengaruhi kualitas hidup individu.
-                     Ectodermal Displasia (ED) didefinisikan oleh National foundation for ectodermal dysplasia sebagai gangguan genetik di mana ada cacat bawaan lahir dari dua atau lebih struktur ektodermal.
-                     Kemungkinan penyebab lebih banyaknya kasus tidak ditangani dibandingkan yang ditangani yaitu kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini seperti drg spesialis prostetik, kurangnya alat, bahan dan tempat yang diperlukan untuk melakukan perawatan dengan protesa maksilofasial, kurangnya ekonomi dari pasien yang ingin melakukan perawatan dengan protesa maksilofasial serta kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya estetik.





















DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.com/search?q=trauma+wajah&ie=utf-8&oe=utf-8#q=cacat++wajah
http://muniraulfahanwar.blogspot.co.id/2011/10/trauma-maksilofasial.html
https://www.google.com/search?q=TRAUMA++wajah&biw=1024&bih=615&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0CAYQ_AUoAWoVChMIhvTb1MK6yAIVQySUCh3btQGw#imgrc=SeRnIJWwhnE8BM%3A




Komentar

Postingan Populer