MAKALAH BERPIKIR KRITIS DAN BERPIKIR KREATIF
MAKALAH
BERPIKIR KRITIS DAN BERPIKIR KREATIF
![]() |
MEL
DISUSUN
OLEH:
LILIS
NOVITA SARI
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI
DIV KEBIDANAN TANJUNG KARANG
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha
Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya
dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang
sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu
acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam
profesi kebidanan.
Harapan saya semoga makalah
ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga
saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat
lebih baik.
Makalah ini saya akui masih
banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena
itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Bandar
Lampung,07 Maret 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar......................................................................................................... ii
Daftar Isi................................................................................................................. iii
Bab I Pendahuluan
A.
Latar
belakang ....................................................................................... 1
B.
Rumusan
masalah................................................................................... 3
C.
Tujuan ................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Berpikir Kritis................................................................ ....... 4
B. Kepentingan
Berfikir Kritis............................................................. ....... 6
C. Keterampilan
Inti Berfikir Kritis..................................................... ....... 7
D. Manfaat
Berpikir Kritis ................................................................. ....... 8
E. Contoh
Berfikir Kritis...................................................................... ..... 10
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan...................................................................................... ..... 14
B.
Saran................................................................................................ ..... 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam melakukan berbagai aktivitas tentunya kita harus
berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan apapun. Dengan memikirkan
dengan baik terlebih dahulu maka hasilnya pasti akan lebih baik.
Dalam ilmu kebidanan diperlukan cara berpikir yang kritis.
Berpikir secara kritis tentunya akan menunjukkan bagaimana kita akan menanggani
pasien dan memberikan perawatan yang terbaik bagi pasien.
Kemampuan
berpikir kritis merupakan kemampuan yang sangat esensial untuk kehidupan,
pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua aspek kehidupan lainnya. Berpikir
kritis telah lama menjadi tujuan pokok dalam pendidikan sejak 1942.
Penelitian dan berbagai pendapat tentang hal itu, telah menjadi topik pembicaraan
dalam sepuluh tahun terakhir ini (Patrick, 2000:1). Definisi berpikir kritis
banyak dikemukakan para ahli.
Kember (1997)
menyatakan bahwa kurangnya pemahaman pengajar tentang berpikir kritis
menyebabkan adanya kecenderungan untuk tidak mengajarkan atau melakukan
penilaian ketrampilan berpikir pada siswa. Seringkali pengajaran berpikir
kritis diartikan sebagai problem solving, meskipun kemampuan memecahkan masalah
merupakan sebagian dari kemampuan berpikir kritis (Pithers RT, Soden R., 2000).
Review yang
dilakukan dari 56 literatur tentang strategi pengajaran ketrampilan berpikir
pada berbagai bidang studi pada siswa sekolah dasar dan menengah menyimpulkan
bahwa beberapa strategi pengajaran seperti strategi pengajaran kelas dengan
diskusi yang menggunakan pendekatan pengulangan, pengayaan terhadap materi,
memberikan pertanyaan yang memerlukan jawaban pada tingkat berpikir
yang lebih tinggi, memberikan waktu siswa berpikir sebelum memberikan
jawaban dilaporkan membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan
berpikir. Dari sejumlah strategi tersebut, yang paling baik adalah
mengkombinasikan berbagai strategi. Faktor yang
menentukan keberhasilan program pengajaran ketrampilan berpikir
adalah pelatihan untuk para pengajar. Pelatihan saja tidak
akan berpengaruh terhadap peningkatan ketrampilan berpikir
jika penerapannya tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan, tidak disertai
dukungan administrasi yang memadai, serta program yang dijalankan tidak sesuai
dengan populasi siswa (Cotton K., 1991).
Strategi
pengajaran berpikir kriti s pada program sarjana
kedokteran yang dilakukan di Melaka Manipal Medical College India adalah dengan
memberikan penilaian menggunakan pertanyaan yang memerlukan
ketrampilan berpikir pada level yang lebih tinggi dan belajar ilmu
dasar menggunakan kasus klinik untuk mata kuliah yang sudah terintegrasi
menggunakan blok yang berbasis pada sistem organ. Setelah kuliah
pendahuluan, mahasiswa diberikan kasus klinik serta sejumlah pertanyaan
yang harus dijawab beserta alasan sebagai penugasan. Jawaban didiskusikan
pada pertemuan berikutnya untuk meluruskan a danya kesalahan konsep dan
memperjelas materi yang belum dipahami oleh mahasiswa. Hasilnya
menunjukkan bahwa mahasiswa pada program tersebut
menunjukkan prestasi yang lebih baik dalam mengerjakan soal-soal hapalan
maupun soal yang menuntut jawaban yang memerlukan telaah yang
lebih dalam. Mahasiswa juga termotivasi untuk belajar (Abraham RR., et
al., 2004)
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
pengertian berpikir kritis?
2.
Apa
kepentingan dalam berfikir kritis?
3.
Apa
keterampilan inti berfikir kritis?
4.
Apa
manfaat berpikir kritis?
5.
Apa
contoh berfikir kritis?
C.
Tujuan
1. Mengetahui pengertian berpikir
kritis
2. Mengetahui kepentingan dalam
berfikir kritis
3. Mengetahui keterampilan inti
berfikir kritis
4.
Mengetahui
manfaat berpikir kritis
5. Mengetahui contoh dalam berfikir
krirtis
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Berpikir Kritis
Menurut Halpen
(1996), berpikir kritis adalah memberdayakan keterampilan atau strategi
kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah
menentukan tujuan, mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran
merupakan bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan
masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat
keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam
konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga merupakan kegiatan
mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang akan diambil manakala menentukan
beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan. Berpikir kritis juga biasa
disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus yang akan
dituju.
Pendapat
senada dikemukakan Anggelo (1995: 6), berpikir kritis adalah
mengaplikasikan rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan
menganalisis, mensintesis, mengenal permasalahan dan pemecahannya,
menyimpulkan, dan mengevaluasi.
Dari dua
pendapat tersebut, tampak adanya persamaan dalam hal sistematika berpikir yang
ternyata berproses. Berpikir kritis harus melalui beberapa tahapan untuk sampai
kepada sebuah kesimpulan atau penilaian.
Penekanan
kepada proses dan tahapan berpikir dilontarkan pula oleh Scriven, berpikir
kritis yaitu proses intelektual yang aktif dan penuh dengan keterampilan dalam
membuat pengertian atau konsep, mengaplikasikan, menganalisis, membuat
sistesis, dan mengevaluasi. Semua kegiatan tersebut berdasarkan hasil
observasi, pengalaman, pemikiran, pertimbangan, dan komunikasi, yang akan
membimbing dalam menentukan sikap dan tindakan (Walker, 2001: 1).
Pernyataan
tersebut ditegaskan kembali oleh Angelo (1995: 6), bahwa berpikir kritis harus
memenuhi karakteristik kegiatan berpikir yang meliputi : analisis, sintesis,
pengenalan masalah dan pemecahannya, kesimpulan, dan penilaian.
Berpikir yang
ditampilkan dalam berpikir kritis sangat tertib dan sistematis. Ketertiban
berpikir dalam berpikir kritis diungkapkan MCC General Education Iniatives.
Menurutnya, berpikir kritis ialah sebuah proses yang menekankan kepada sikap
penentuan keputusan yang sementara, memberdayakan logika yang berdasarkan
inkuiri dan pemecahan masalah yang menjadi dasar dalam menilai sebuah perbuatan
atau pengambilan keputusan.
Berpikir kritis merupakan salah satu proses berpikir tingkat tinggi yang dapat digunakan dalam pembentukan sistem konseptual siswa. Menurut Ennis (1985: 54), berpikir kritis adalah cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan untuk menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan.
Berpikir kritis merupakan salah satu proses berpikir tingkat tinggi yang dapat digunakan dalam pembentukan sistem konseptual siswa. Menurut Ennis (1985: 54), berpikir kritis adalah cara berpikir reflektif yang masuk akal atau berdasarkan nalar yang difokuskan untuk menentukan apa yang harus diyakini dan dilakukan.
B. Kepentingan Berfikir Kritis
Berpikir
kritis merupakan hal penting yang harus lakukan diantaranya karena:
1. Berpikir kritis memungkinkan siswa
memanfaatkan potensi seseorang dalam melihat masalah, memecahkan masalah, menciptakan,
dan menyadari diri.
2. Berpikir kritis merupakan
keterampilan universal. Kemampuan berpikir jernih dan rasional diperlukan pada
pekerjaan apapun, ketika mempelajari bidang ilmu apapun, untuk memecahkan
masalah apapun, jadi merupakan aset berharga bagi karir seorang.
3. Berpikir kritis sangat penting di
era informasi dan teknologi. Seorang harus merespons perubahan dengan cepat dan
efektif, sehingga memerlukan keterampilan intelektual yang fleksibel, kemampuan
menganalisis informasi, dan mengintegrasikan berbagai sumber pengetahuan untuk
memecahkan masalah.
4. Berpikir kritis meningkatkan
keterampilan verbal dan analitik. Berpikir jernih dan sistematis dapat
meningkatkan cara mengekspresikan gagasan, berguna dalam mempelajari cara
menganalisis struktur teks dengan logis, meningkatkan kemampuan untuk
memahami.
5. Berpikir kritis meningkatkan
kreativitas. Untuk menghasilkan solusi kreatif terhadap suatu masalah tidak
hanya perlu gagasan baru, tetapi gagasan baru itu harus berguna dan relevan
dengan tugas yang harus diselesaikan. Berpikir kritis berguna untuk
mengevaluasi ide baru, memilih yang terbaik, dan memodifikasi bisa perlu.
6. Berpikir kritis penting untuk
refleksi diri. Untuk memberi struktur kehidupan sehingga hidup menjadi lebih
berarti (meaningful life), maka diperlukan kemampuan untuk mencari kebenaran
dan merefleksikan nilai dan keputusan diri sendiri. Berpikir kritis merupakan meta-thinking
skill, ketrampilan untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri terhadap
nilai dan keputusan yang diambil, kemudian dalam konteks membuat hidup lebih
berarti yaitu melakukan upaya sadar untuk menginternalisasi hasil refleksi itu
ke dalam kehidupan sehari-hari.
C. Keterampilan Inti Berfikir Kritis
·
Interpretasi
kategorisasi, dekode, mengklarifikasi makna
·
Analisis
memeriksa gagasan, mengidentifikasi argumen, menganalisis
argumen
·
Evaluasi
menilai klaim (pernyataan), menilai argumen
·
Inferensi
mempertanyakan klaim, memikirkan alternatif (misalnya,
differential diagnosis), menarik kesimpulan, memecahkan masalah, mengambil
keputusan
·
Penjelasan
menyatakan masalah, menyatakan hasil, mengemukakan kebenaran
prosedur, mengemukakan argumen
·
Regulasi
diri
meneliti diri, mengoreksi diri
·
Memahami
hubungan-hubungan logis antar gagasan
·
Mengidentifikasi,
mengkontruksi, dan mengevaluasi argumen
·
Mendeteksi
inkonsistensi dan kesalahan umum dalam pemberian alasan
·
Memecahkan
masalah secara sistematis.
·
Mengidentifikasi
relevansi dan kepentingan gagasan
·
Merefleksikan
kebenaran keyakinan dan nilai-nilai diri sendiri
D. Manfaat Berpikir Kritis
1. Manfaat berpikir kritis
Arief
Achmad, 2009, menyatakan kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang
sangat esensial untuk kehidupan, pekerjaan, dan berfungsi efektif dalam semua
aspek kehidupan lainnya.
Keuntungan
yang didapatkan sewaktu kita tajam dalam berpikir kritis, kita bisa menilai
bobot kemampuan seseorang dari perkataan yang ia keluarkan, kita juga dengan
tidak gampangnya menyerap setiap informasi tanpa memikirkan terlebih dahulu hal
yang sedang disampaikan. Bayangkan! Jika kita semua terbentuk dengan kebiasaan
ini, bisa dipastikan akan muncul kreatifitas yang baru dan kita bisa terus
menerus mengalami pertumbuhan yang lebih baik di setiap aspek dari bidang yang
sedang kita tekuni.
Dengan berpikir kritis maka seseorang:
a. Terhindar dari
berbagai upaya penipuan, manipulasi, pembodohan, dan penyesatan.
b. Selalu fokus pada
suatu hal yang sebenarnya.
c. Hidup dalam dunia
nyata daripada dunia fantasi.
d. Terhindar dari
berbagai kesalahan, seperti membuang waktu, uang, dan melibatkan emosi dalam
kepercayaan atau ajaran atau dogma atau ideologi yang salah dan menyesatkan.
e. Selalu terlibat
dalam perziarahan kemanusiaan yang menarik dan menantang dalam upaya memahami
diri sendiri dan dunia di mana kita berada.
f. Selalu mampu
memberikan sumbangsih kemanusiaan yang nyata dan bermanfaat demi menemukan dan
mengedepankan kebenaran yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan akal sehat.
g. Mampu menyaring
semua informasi yang diperoleh dari semua sumber.
h. Mampu memperbaiki
dan meningkatkan kemampuan dalam hal menjelaskan dan berargumentasi mengenai
banyak topik/fenomena serta mampu meyakinkan orang lain yang didasarkan pada
akal sehat, kejujuran, dan kebijaksanaan.
E. Contoh Berfikir Kritis
Berpikir
Kritis di Kelas
Kamu sebenarnya
sudah mulai berpikir kritis di kelas ketika kamu berdiskusi kelompok dan
mengkritik reportase temanmu. Tentu sebagai mahasiswa kamu seharusnya selalu
bersikap kritis di kelas. Dunia perguruan tinggi tentu berbeda dengan
keadaan ketika kamu masih di SLTA. Berpikir kritis telah menjadi bagian yang
mengkonstitusikan jati diri mahasiswa.
Sebenarnya kuliah
pemikiran kritis ini bisa membantu meningkatkan keterampilan berpikir kamu.
Diharapkan keterampilan dan kemampuan berpikir kritis dan logis bisa meningkatkan
performa kamu di kelas. Kalau sebelumnya kamu adalah mahasiswa yang mendengar
dan menerima begitu saja apa yang dikatakan dosen atau teman-temanmu, maka
sekaranglah saatnya kamu berani berpikir dan mempertanyakan argumentasi dosen
atau teman. Dengan kemampuan berpikir kritis, kamu seharusnya bisa:
1. Memahami
argumentasi-argumentasi dan keyakinan-keyakinan dosen dan teman-temanmu.
2. Mengevaluasi
dan menilai argumentasi dan keyakinan tersebut secara kritis.
3. Membangun
dan mempertahankan argument-argumen Anda yang sudah Anda bangun secara
meyakinkan.
Tentu sebagai
mahasiswa kamu harus mempelajari dan menguasai bidang ilmu tertentu. Apakah
kuliah berpikir kritis bisa membantu kamu menguasai bidang keilmuan tersebut?
Tentu saja bisa. Memang kuliah logika atau berpikir kritis tidak akan membuat
mata kuliah lain menjadi lebih mudah dipahami. Meskipun demikian, kamu akan
menyadari betapa pemikiran kritis membantu kamu mempelajari mata kuliah lain
dengan perspektif yang lebih terfokus. Berpikir kritis akan memudahkan kamu
memahami mata kuliah lain secara lebih mendalam persis ketika kamu memiliki
sikap untuk tidak percaya begitu saja pada apa yang dipaparkan, kamu berusaha
mencari informasi secara lebih mendalam dan lengkap, kamu mengevaluasi
konsistensi logis dari pemikiran-pemikiran yang disajikan, dan sebagainya.
Selain itu,
keterampilan berpikir kritis yang kamu miliki akan membantu kamu mengevaluasi
secara kritis apa yang sudah kamu pelajari di kelas. Sekali lagi berpikir
kritis akan mendorong kamu untuk selalu melihat segala sesuatu dari banyak
perspektif dan dari perspektif yang jauh lebih luas. Pemikiran kritis juga
memampukan kamu membangun argumentasi atau penikiran sendiri mengenai suatu
topik, pemikiran atau pendapat. Misalnya, setelah mempelajari sikap
paternalistik dokter dalam menangani pasien atau sikap represif polisi
menghalau para demonstran di istana negara, kamu bisa menulis atau mengajukan
argumentasi-argumentasimu mengenai peristiwa tersebut.
Belajar kimia, seperti halnya pelajaran sains
lainnya memiliki karakteristik tertentu, namun secara umum berpikir kritis
dengan rasa ingin tahu yang tinggi adalah modal untuk bisa menguasai hampir
semua pelajaran. Guru-guru kita sering mengingatkan bahwa jika ingin pintar
banyak-lah bertanya. Bertanya model apa sih yang dimaksud itu?
Sebenarnya dalam setiap pokok bahasan banyak hal
baru. Hal-hal baru itu perlahan akan dijelaskan pada rentetan kalimat-kalimat
yang mengikutinya. Meskipun demikian tidak semua yang ada pada kalimat itu
dapat dimengerti. Bagian yang tidak dimengerti inilah yang layak untuk
dipertanyakan kepada guru, atau kepada siapa saja yang bisa dijumpai, dan yang
lebih gampang adalah mencari-nya dengan menggunakan search engine – internet.
Berpikir kritis adalah sutau proses mental untuk
menganalisis, mengevaluasi informasi yang diterima. Bagaimana caranya agar
siswa atau siapa saja dapat berpikir kritis. Tentu kita harus memenuhi
prasyarat-nya. Kita memiliki rasa ingin tahu, memiliki berbagai bahan yang
mendukung atas apa yang hendak kita kritisi. Kritis itu adalah mencoba
menghubungkan berbagai informasi dari apa yang kita ketahui, memecahkan apa
yang mungkin untuk dikoneksikan dengan hal yang satu ke yang lainnya.
Contoh berpikir kritis itu seperti berikut ini, (ada
pada tulisan dengan judul hubungan molaritas, molalitas, dan densitas).
Misal dalam pokok bahasan sifat koligatif larutan ada pendahuluan tentang
satuan konsentrasi, molal dan molar. Kadang untuk soal yang menantang ada yang
meminta siswa mengkonversi dari satuan molar ke molal atau sebaliknya. Tentu
dengan tambahan data densitas atau massa jenis zat. Densitas ini sering kurang
mendapat perhatian dalam pokok bahasan yang melibatkan konsentrasi larutan.
Tapi dalam banyak buku kimia kurang mendapat perhatian.
Pernyataan menantang
yang saya contohkan:
·
Densitas dapatkah digunakan untuk
menyatakan konsentrasi? Bukankah satuan densitas juga g/mL?
·
Apakah densitas itu memang salah satu
pernyataan konsentrasi?
·
Dapatkah kita melakukan konversi molar
ke molal tanpa diketahui densitas zat terlarutnya?
·
Jika volume larutan tidak 1 Liter
(misalnya larutannya hanya 250 mL atau 500 mL) apakah rumus konversi di atas
perlu diubah atau tidak?
Dengan memperhatikan
arti dari masing-masing satuan konsentrasi (molal dan molar) serta densitas,
ternyata dapat ditarik hubungan antara ketiganya. Sekali lagi ini jarang
dijumpai dalam buku pelajaran di sekolah, karena kurikulum tidak menuntut hal
itu. Anehnya pada tataran soal-soal itu tidak jarang ditanyakan, lebih-lebih
pada soal olimpiade sains. Andai saja siswa bisa menurunkan rumus hubungan
antara ketiga-nya tentu mereka dapat menjawab berbagai pertanyaan kritis di
atas.
Hal-hal seperti di
atas itulah yang harus ditanamkan kepada siswa dan guru, sehingga kekreatifan
berpikir meningkat. Yang sering terjadi adalah siswa bahkan kadang guru enggan
menggunakan informasi yang miliki sebelumnya untuk mengkritisi sesuatu. Tapi
yang seperti itu patut dicuragai bahwa sesungguh mereka belum siap belajar,
belum memiliki informasi yang terkait dengan apa yang hendak dipelajarinya.
Jika ini yang terjadi tentu suasana belajar menjadi membosankan. Untuk itulah
baik siswa dan guru sudah selayaknya banyak memasukkan informasi yang kelak
jika dibutuhkan bisa jadi modal untuk mengkritisi sesuatu (baca pelajaran/bahan
bacaan).
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Berpikir
kritis adalah usaha berpikir yang dilakukan untuk diri sendiri. Setiap
individu harus memikirkan sesuatu isu/masalah yang telah, sedang dan akan
berlaku berdasarkan pemikiran sendiri, tanpa dipengaruhi oleh pemikiran orang
lain. Pemikiran kritis mengajak kita agar berfikir dengan lebih bersistem dan
terarah dalam membuat sesuatu keputusan.
Komponen berpikir kritis meliputi pengetahuan dasar
spesifik, pengalaman dan kompetensi.
.
B.
Saran
Agar
pembaca dapat memahami dan mengerti apa maksud dan tujuan dari makalah ini
sertan dapat mengrti apa inti pokok bahasan dari makalah ini. Sebaiknya pembaca
membaca dengan teliti dan menyimpulkan apa yang telah di dapat dalam makalah
ini. Sehingga tidak terjadi perbedaan asumsi yang melenceng dari inti bahasan
makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Maryam,
R.Siti, S.Kep.,Ns. Santun Setiawati, S.Kep,. Ns. Mia Fatma Ekasari,
S.Kep.,2008. Buku Ajar Berpikir Kritis
dalam Proses Keperawatan. Jakarta; EGC
Sambas, Syukriadi, Mantik
Kaidah Berpikir Islam, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000.
Santrock,
John W. Psikologi Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2007.
Izzati, N. (2009),Berpikir
Kreatif dan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis: Apa, Mengapa, dan Bagaimana
Mengembangkannya Pada Peserta Didik. Prosiding
Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika, Bandung 19 Desember
2009, hal. 49-60
Bonnie
dan Potts. (2003). Strategies for Teaching Critical Thinking.
Practical Assesment, Research & Evaluation. [online]. Tersedia: http
://edresearch.org/pare/getvn.asp?v=4&n=3 [2 Juli 2003].
Ennis,
R. H (1996). Critical Thinking. USA : Prentice Hall, Inc.
Joko,
Sulianto. 2011. Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika untuk
Meningkatkan berpikir Kritis pada siswa Sekolah Dasar. Artikel diambil dari
Krulik, S & Rudnick. 1999.” Innovative Taks to
Improve Critical and Creative Thinking Skills. Develoving Mathematical
Raesoning in Grades K-12”, pp.138-145.
![]() |


Komentar
Posting Komentar