MAKALAH PERAWAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM



MAKALAH
PERAWAT DALAM  PERSPEKTIF ISLAM


logo.png
 












Disusun Oleh:

ELLA INDARWATI (1615401035)
HARWI PIRANTI (1615401036)
DINA BELLA FRANSISKA (1615401037)





KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN DIII KEBIDANAN
TAHUN 2016


 
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena atas ridho Allah SWT kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Tak ada gading yang tak retak, dan kita tahu semua walaupun manusia merupakan makhluk yang sempurna ciptaan Allah SWT dari makhluk lainnya, tetapi tak ada satupun manusia yang tak luput dari kesalahan, jadi apabila ada kesalahan dalam makalah ini saya mohon maaf sebesar-besarnya. Kritik dan saran yang mendukung untuk kebaikan makalah ini sangat kami harapkan, semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua, amin.


Bandar Lampung,  September 2016



Penulis











DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................   i
KATA PENGANTAR................................................................................   ii
DAFTAR ISI...............................................................................................   iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.................................................................................   1
B.     Tujuan..............................................................................................   1
C.     Rumusan Masalah............................................................................   2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Profesi Keperawatan  Dalam Perspektif Islam................................   3
B.     Kewajiban Merawat Pasien..............................................................   5
C.     Hak-Hak Petugas Keperawatan.......................................................   6
D.    Sifat Perawat Muslim.......................................................................   9
E.     Tugas dan Kewajiban Seorang Perawat Muslim..............................   12
F.      Pendamping atau Pembimbing Pasien.............................................   17
G.    Upaya Yang Dapat Dilakukan Oleh Perawat Muslim Apabila
Menghadapi Pasien Yang Sakaratul Maut.......................................   20

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................................   22
B.     Saran................................................................................................   22

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam adalah salah satu agama yang diakui keberadaaannya di Indonesia. Jumlah penganut agama Islam di Indonesia sangat banyak dibandingan penganut agama non Islam. Islam adalah agama yang benar disisi Allah dan hamba-hambanya, sehingga Allah menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia(muslim) khusus untuk umat Nabi Muhammad Saw. Didalam Al-Qur’an ada ayat yang menerangkan bahwa salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai obat dan rohmat bagi orang – orang mukmin. Misalnya dengan ilmu8 kesehatan, ilmu ini zaman nabi pun ada tapi belum semaju sekarang karena adanya pengaruh globalisasi. Tokoh Islam yang terkenal di dunia kesehatan salah satunya yaitu Ibnu Sina.
Islam sangat menyarankan untuk selalu menjaga kesehatan karena dengan jiwa yang sehat akan mempermudah sekali kita untuk beribadah kepada Allah karena tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah kapada-Nya.

B. Tujuan
Kita sebagai umat Islam terkadang tidak menegetahui apa fungsi Islam dalam bidang kesehatan, kita hanya berfikir Islam adalah agama. Sebenarnya banyak sekali yang kita belum ketahui tentang Islam. Islam merupakan salah satu agama yang membahas seluruh aspek kehidupan misalnya dalam hal penyakit.
Maka dari itu penulis dalam makalah ini mengambil judul “PROFESI PERAWAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM” dengan tujuan untuk menambah wawasan kita (muslim) dalam memahami Islam tentang manfaatnya dalam dunia kesehatan.

C. Rumusan Masalah
Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode kajian pusataka yang artinya mencari dari buku – buku yang ada kaitannya dengan pembahasan mengenai Profesi Perawat Dalam Perspektif Islam, sebagai referensi lainya juga diperoleh dari Al-Qur’an, Kitab-kitab karangan para ulama dan situs web di internet yang membahas mengenai hal tersebut disertai dengan pemikiran penulis sendiri.











BAB II
PEMBAHASAN

A. Profesi Keperawatan  Dalam Perspektif Islam
Islam menaruh perhatian yang besar sekali terhadap dunia kesehatan dan keperawatan guna menolong orang yang sakit dan meningkatkan kesehatan. Kesehatan merupakan modal utama untuk bekerja, beribadah dan melaksanakan aktivitas lainnya. Ajaran Islam yang selalu menekankan agar setiap orang memakan makanan yang baik dan halal menunjukkan apresiasi Islam terhadap kesehatan, sebab makanan merupakan salah satu penentu sehat tidaknya seseorang.
"Wahai sekalian manusia, makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang baik-baik yang Kami rezekikan kepadamu" (QS al-Baqarah: l68, l72).
Makanan yang baik dalam Islam, bukan saja saja makanan yang halal, tetapi juga makanan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan, baik zatnya, kualitasnya maupun ukuran atau takarannya. Makanan yang halal bahkan sangat enak sekalipun belum tentu baik bagi kesehatan.
Sebagian besar penyakit berasal dari isi lambung, yaitu perut, sehingga apa saja isi perut kita sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Karena itu salah satu resep sehat Nabi Muhammad SAW adalah memelihara makanan dan ketika makan, porsinya harus proporsional, yakni masing-masing sepertiga untuk makanan, air dan udara (HR. Turmudzi dan al-Hakim)..
Anjuran Islam untuk hidup bersih juga menunjukkan obsesi Islam untuk mewujudkan kesehatan masyarakat, sebab kebersihan pangkal kesehatan, dan kebersihan dipandang sebagai bagian dari iman. Itu sebabnya ajaran Islam sangat melarang pola hidup yang mengabaikan kebersihan, seperti buang kotoran dan sampah sembarangan, membuang sampah dan limbah di sungai/sumur yang airnya tidak mengalir dan sejenisnya. Islam sangat menekankan kesucian (al-thaharah), yaitu kebersihan atau kesucian lahir dan batin. Dengan hidup bersih, maka kesehatan akan semakin terjaga, sebab selain bersumber dari perut sendiri, penyakit seringkali berasal dari lingkungan yang kotor.
Islam juga sangat menganjurkan kehati-hatian dalam bepergian dan menjalankan pekerjaan, dengan selalu mengucapkan basmalah dan berdoa. Agama sangat melarang perilaku nekad dan ugal-ugalan, seperti bekerja tanpa alat pengaman atau ngebut di jalan raya yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (al-Baqarah:: l95).
Hal ini karena sumber penyakit dan kesakitan, tidak jarang juga berasal dari pekerjaan dan risiko perjalanan. Sekarang ini kecelakaan kerja masih besar disebabkan kurangnya pengamanan dan perlindungan kerja. Lalu lintas jalan raya; darat, laut dan udara juga seringkali diwarnai kecelakaan, sehingga kesakitan dan kematian karena kecelakaan lalu lintas ini tergolong besar setelah wabah penyakit dan peperangan.
Jadi walaupun seseorang sudah menjaga kesehatannya sedemikian rupa, risiko kesakitan masih besar, disebabkan faktor eksternal yang di luar kemampuannya menghindari. Termasuk di sini karena faktor alam berupa rusaknya ekosistem, polusi di darat, laut dan udara dan pengaruh global yang semakin menurunkan derajat kesehatan penduduk dunia. Karena itu Islam memberi peringatan antisipatif: jagalah sehatmu sebelum sakitmu, dan jangan abaikan kesehatan, karena kesehatan itu tergolong paling banyak diabaikan orang. Orang baru sadar arti sehat setelah ia merasakan sakit.

B. Kewajiban Merawat Pasien
Setiap orang pasti pernah mengalami sakit, apakah itu sakit ringan ataupun sakit berat. Namun, baik ringan maupun berat, setiap orang berbeda dalam menyikapinya. Bagi sebagian orang, sakit ringan bisa dirasakan begitu menyiksa sehingga terlihat lebih berat dari semestinya. Akan tetapi, bagi sebagian lagi, sakit berat bisa dirasakan ringan jika hati menerimanya dengan ikhlas. Pasien adalah individu yang sedang rentan dalam periode kehidupan, sehingga seorang pasien membutuhkan pendampingan secara Psikoreligius.
Sakit adalah peringatan, sehingga seseorang akan makin giat melakukan peribadatan sehari-hari bahkan meninggkat dari biasanya dengan berdzikir, doa-doa, melakukan amaliah, atau bersedekah. Yang lebih penting, orang menjadi tersadarkan betapa ajal itu sudah dekat atau sekurang-kurangnya ingat bahwa ajal akan datang sewaktu-waktu.
Pendampingan keagamaan sangat penting di berikan bagi pasien, ketika medis membuat prediksi beratnya penyakit bahkan sampai kemudian dinyatakan sudah tidak bisa dilakukan apa-apa, bisa jadi pendamping keagamaan membawa pasien pada tingkat kepasrahan yang tinggi, setelah itu terjadi perbaikan dari penyakit itu.
Saat Allah menakdirkan kita untuk sakit, pasti ada alasan tertentu yang menjadi penyebab itu semua. Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala melakukan sesuatu tanpa sebab yang mendahuluinya atau tanpa hikmah di balik semua itu. Allah pasti menyimpan hikmah di balik setiap sakit yang kita alami. Karenanya, tidak layak bagi kita untuk banyak mengeluh, menggerutu, apalagi su’udzhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih parah lagi, kita sampai mengutuk taqdir. Na’udzu billah…
Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  pernah menemui Ummu As-Saa’ib, beliau bertanya : ”Kenapa engkau menggigil seperti ini wahai Ummu As-Saa’ib?” Wanita itu menjawab : “Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada barakahnya sama sekali.” Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam  bersabda : ”Jangan engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi”. (HR. Muslim)

C. Hak-Hak Petugas Keperawatan
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan yang merupakan salah satu dari praktik keperawatan tentunya seorang perawat memiliki hak dan kewajiban. Dua hal dasar yang harus dipenuhi, dimana ada keseimbangan antara tuntutan profesi dengan apa yang semestinya didapatkan dari pengembanan tugas secara maksimal. Memperoleh perlindungan hukum dan profesi sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi dan Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan salah satu hak perawat yang mempertahankan kredibilitasnya dibidang hukum serta menyangkut aspek legal atas dasar peraturan perundang-undangan dari pusat maupun daerah. Hal ini seperti dipaparkan pada materi sebelumnya sedang dipertimbangkan oleh berbagai pihak, baik dari PPNI, Organisasi profesi kesehatan yang lain, lembaga legislatif serta elemen pemerintahan lain yang berkepentingan.
Selain mendapatkan perlindungan hukum secara legal, perawat berhak untuk memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari klien dan atau keluarganya agar mencapai tujuan keperawatan yang maksimal. Jadi kepada klien dan keluarga yang berada dalam lingkup keperawatan tidak hanya memberikan informasi kesehatan klien kepada salah satu profesi kesehatan lainnya saja, akan tetapi perawat berhak mengakses segala informasi mengenai kesehatan klien, karena yang berhadapan langsung dengan klien tidak lain adalah perawat itu sendiri.
Hak perawat yang lain yaitu melaksanakan tugas sesuai dengan kompetensi dan otonomi profesi. Ini dimaksudkan agar perawat dapat melaksanakan tugasnya hanya yang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang didapat berdasarkan jenjang pendidikan dimana profesi lain tidak dapat melakukan jenis kompetensi ini. Perawat berhak untuk dapat memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi, dedikasi yang luar biasa dan atau bertugas di daerah terpencil dan rawan.’
HAK-HAK PERAWAT :
1.      Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan  profesinya.
2.      Mengembangkan diri melalui kemampuan spesialisasi sesuai latar belakang
3.      Menolak keinginan klien/pasien yang bertentangan dengan peraturan perundangan serta standar profesi dan kode etik profesi.
4.      Mendapatkan informasi lengkap dari klien/pasien yang tidak puas terhadap pelayanannya.
5.      Meningkatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan IPTEK dalam bidang keperawatan/kebidanan/kesehatan secara terus menerus.
6.      Diperlakukan adil dan jujur oleh rumah sakit maupun klien/pasien dan atau keluarganya.
7.      Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap risiko kerja yang berkaitan dengan tugasnya.
8.      Diikutsertakan dalam penyusunan/penetapan kebijakan pelayanan kesehatan di rumah sakit
9.      Diperhatikan privasinya dan berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan oleh klien/pasien dan atau keluarganya serta tenaga kesehatan lain.
10.  Menolak pihak lain yang memberi anjuran/permintaan tertulis untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan perundang-undangan, standar profesi dan kode etik profesi.
11.  Mendapatkan perhargaan imbalan yang layak dari jasa profesinya sesuai peraturan/ketentuan yang berlaku di rumah sakit.
12.  Memperoleh kesempatan mengembangkan karir sesuai dengan bidang profesinya.

D. Sifat Perawat Muslim
Sebagai seorang perawat yang professional harus memiliki sikap caring yang harus dipertahankan dan ditingkatkan terus menerus. Hal ini sesuai dengan ajaran Islam yang telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara sempurna, seorang perawat harus memiliki sifat-sifat seperti di bawah ini:
1.      Tulus ikhlas karena Allah
Dalam bekerja menolong orang sakit harus ditanamkan perasaan tulus ikhlas karena Allah, bukan karena ingin mendapat pujian dari siapapun
Surat Al Bayyinah: 5
(Mereka hanya diperintahkan untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan ikhlas dan lurus mengerjakan agama karena Dia)
2.      Penyantun
Orang yang halus perasaan, cepat merasakan kesusahan dan penderitaan orang lain, turut berduka cita dengan orang yang kesusahan dan suka menolong orang lain dengan sekuat tenaga.
Surat Al A’raf: 56
(Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang yang berbuat kebajikan)
Sabda Nabi muhammad s.a.w:
(Orang yang tidak menyantuni manusia, tidak disantuni oleh Allah)
3.      Peramah
Bergaul dengan orang lain dengan ramah
Sabda Nabi Muhammad s.a.w:
(Sesungguhnya kamu tidak dapat melapangi manusia dengan hartamu, tetapi manis muka dan baik budilah yang dapat melapangi mereka)
4.      Sabar
Tidak lekas marah
Surah Asy Syura: 43
(Sungguh, orang yang sabar dan pemaaf adalah pekerjaannya itu termasuk pekerti yang sangat perlu dipelihara)
Sabda Nabi Muhammad s.a.w:
(Sebaik-baik, senjata orang mukmin ialah sabar dan do’a)
5.       Tenang
Tidak tergesa-gesa, tidak ribut dan heboh dalam bekerja
Sabda Nabi Muhammmad s.a.w:
(Tetaplah kamu bersikap tenang)
6.      Teliti
Seksama, dengan sikap hati-hati sekali, dengan cermat dan rapi
Sabda Nabi Muhammad s.a.w:
(Bila seseorang mengerjakan suatu pekerjaan, hendaklah dia mengerjakannya dengan teliti, karena yang demikian itu menyenangkan hati si pasien)
7.      Tegas
Sabda Nabi Muhammad s.a.w:
(Bila ada keraguan dalam hatimu, tinggalkanlah)
8.      Patuh pada peraturan
Suka menurut perintah
Sabda Nabi Muhammada s.a.w:
(Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
Dengarkanlah dan patuhlah, walaupun dijadikan kepala atasmu seorang budak hitam)
9.      Bersih, suci
Surat At Taubah: 108
(Allah menyukai orang-orang yang bersih)
10.  Menyimpan rahasia
Sabda Nabi Muhammad s.a.w:
(Bila seorang menutup rahasia/keaiban orang lain di dunia, pasti Allah menutup pula rahasia keaibannya di hari kiamat)
11.  Dapat dipercaya
Surat An Nisa: 58
(Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu supaya menyampaikan segala amanat yang dipercayakan kepada yang berhak)

12.  Bertanggung jawab
(Dan janganlah engkau menurut saja apa-apa yang tidak engkau ketahui, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, hati itu masing-masingnya adalah bertanggung jawab)

E. Tugas dan Kewajiban Seorang Perawat Muslim
Perawat adalah unsur utama dalam kegiatan Rumah sakit terutama dalam perawatan dan  pertolongan pasien, dan merekalah yang paling dekat kepada pasien dan pengunjung rumah sakit lainnya.
Perawat sebagai seorang muslim, tidak boleh melepaskan diri dari tugas dan kewajibannya menegakan dan menjungjung tinggi Agama islam; Dengan kata lain Perawat tidak terlepas dari pada tugas dan kewajiban melaksankan da’wah islamiyah sesuai dengan kemampuannya di dalam bidangnya masing-masing.
Adapun tugas dan kewajiban seorang perawat muslim adalah :
1.          Melaksanakan tugas dengan tulus ikhlas karena Allah semata:
a.       Merawat pasien hendaklah diniati untuk pengabdian (ibadah) QS.Albayyinah, 5
b.      Benar-benar dengan niat yang ikhlas untuk beramal. Karena amal yang diterima Allah hanyalah amal yang didasarkan pada keikhlasan. HR. Abu Dawud & Nasa’idari abi umamah.
c.       Tidak mengharapkan balasan atau pujian. QS.Ad Dahr 8-9
d.      Selalu optimis akan berhasil dalam tugasnya dengan baik. HR.Al-Khatib dari Anas bin malik
2.          Bersifat penyantun
a.      Orang yang penyantun ialah yang halus perasaannya, lekas dapat merasakan kesukaran orang lain, dan bisa bersikap menyesuaikan diri bila ia berhadapan dengan orang yang ditimpa musibah dan cepat memberi pertolongan, karena cepat mengerti kebutuhan orang lain yang dihadapinya. QS.Al-Baqarah, 45
b.      Perawat harus yakin bahwa rahmat Allah selalu dekat kepada orang yang berbuat santun. QS.Al-A’raf, 56
c.       Tutur katanya lemah lembut kepada siapa saja terutama kepada pasien, rela dan cepat memaafkan kesalahan orang lain. Karena memberi maaf kepada orang lain itu adalah lebih utama dari memberi shadfaqah atau harta benda kepadanya. QS.Al-Baqarah 263
d.      Hanya orang penyantunlah yang disantuni pula oleh Allah yang maha penyantun. HR.Tirmidzi dan Abu Dawud
3.          Ramah tamah berdasarkan ukhuwah dalam pergaulan, kapan dan dimana ia berada, terutama terhadap pasien dan orang-orang yang dho’if (lemah/miskin).HR. Bukhori Muslim dan Turmudzi
a.       Ketahilah bahwa bermuka manis kepada orang yang sedang menderita sakit adalah merupakan sebagian dari pada pengobatan. QS.Al-Imran, 15
b.      Dan ketahuilah bahwa yang bisa meringankan penderitaan orang sakit, bukanlah harta benda, akan tetapi wajah yang berseri-seri dan budi perkerti yang baik. HR.Ibnu Ja’la disyahkan oleh Hakim dari Abi Hurairah.
4.          Sabar dan tidak lekas marah
a.      Penyabar dan pemaaf adalah salah satu dari budi pekerti yang luhur, yang sangat penting dipelihara. QS.Asy-Syura, 43
b.      Walaupun semua pasien membutuhkan pertolongan dan kasih sayang, tetapi tidak semua pasien menunjukan perasaan kasih sayang, bahkan tidak kurang adanya pasien yang justru yang menjengkelkan dan tidak menunjukan simpati sama sekali. Akan tetapi melayaninya dengan sabar adalah perbuatan yang terpuji disisi Allah . HR.Tirmidzi dari Abu Huraira
c.       Sebaik-baik senjata perawat adalah bersabar dan berdo’a. HR.Dailami dari Ibnu Abbas
5.          Harus tenang dan tidak tergopoh-gopoh
a.      Jiwa orang sangat membutuhkan ketenangan dan ketentraman, jauh dari pada suara-suara yang keras, gerakan-gerakannya yang hiruk pikuk dan gaduh. Disamping itu tugas-tugas perawat itu sendiri membutuhkan keteangan dan perhatian yang sungguh-sungguh. Oleh sebab itu maka perawat harus memiliki sifat yang tenang, berhati-hati dan menghindari gerakan-gerakan yang bisa menimbulkan suara-suara keras dan gaduh. HR.Thabrani dari Baihaqi dari abu Musa
b.      Orang yang melaksanakan pekerjaan dengan tenang dan hati-hati, Allah akan memudahkan pekerjaan itu baginya dan akan terhindar dari pada pelbagai kesukaran dan kekeliruan. HR. Bukhari

6.          Cepat, Cermat, teliti dan lincah
a.      Pekerjaan perawat cukup ruwet dan sulit. Oleh sebab itu maka perawat hendaklah senantiasa teliti dan berhati-hati dalam menunaikan tugasnya
b.      Apabila menghadapi suatu persoalan yang meragukan atau kurang jelas maka lebih baik ditanyakan lebih dahulu kepada yang lebih mengerti. Sebab pekerjaan yang dilakukan dengan ragu-ragu, lebih besar kemungkinan akan menimbulkan bahaya. HR.Ibnu Sa’ad Atha’
7.          Patuh dan disiplin
a.       Perawat harus patuh pada petunjuk atasannya baik lisan maupun tulisan
b.      Perawat harus disiplin dalam menunaikan tugasnya agar bisa dilaksankan dengan tertib dan teratur
c.       Mematuhi dan melaksanakan petunjuk atasan tanpa membantah sekalipun kurang menyenangkan, selama petunjuk itu tidak menyelahi ajaran islam, norma-norma kemanusiaan maupun etika perawat.
8.          Bersih dan menjaga kebersihan, rapih, baik jasmani maupun rohani:
a.      Rohani atau jiwa perawat hendaknya selalu  bersih dan suci dari sifat-sifat dengki, sentimen, sombong dan lain-lain sifat yang tidak baik. Sebab hanya dengan jiwa yang bersih dan sucilah akan memancar sifat-sifat yang terpuji, sikap yang baik dan ucapan yang menyenangkan. HR. Bukhori
b.      Tubuh dan pakaian perawat harus selalu bersih, rapih, sederhana dan tidak berlebih-lebihan dalam berhias. HR. Bokori Muslim dan Abu Dawud
9.          Kuat menyimpan rahasia
a.      Penyakit adalah salah satu aib bagi orang yang sakit. Ada beberapa macam penyakit yang merupakan aib yang sangat dirahasiakan oleh penderitannya. Yang banyak mengetahui penyakit seseorang ialah Dokter dan Perawat. Agama islam tidak membenarkan seseorang membuka aib orang lain. Oleh sebab itu Perawat tidak boleh membuka rahasia orang yang dirawatnya kepada orang lain. QS. Al-Mudatsir 4.
b.      Orang yang suka menyiarkan atau menyebut-nyebut rahasia orang lain. Allah mengancam dengan siksaan yang sangat pedih, baik di Dunia maupun diakherat kelak. HR. Turmudzi dan Sa’ad
c.       Perawat harus bersifat jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakannya:
1)      Berbahagialah orang yang dapat memelihara amanat dan menepati janjinya.HR. Abu Dawud
2)      Tugas dan kewajiban yang dibenarkan kepada Perawat adalah amat yang wajib ditunaikan. QS. Al-Mukminun, 8.
3)      Jujur dapat dipercaya, suka berterus terang, selalu menepati janji adalah sikap terpuji yang dimiliki oleh Perawat. QS. Al-Maidah, 1


F. Pendamping atau Pembimbing Pasien
 “Hilangkanlah penyakit wahai Rabb manusia dan berilah kesembuhan, sesungguhnya Engkau adalah Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali dengan kesembuhan dari-Mu, (berilah) kesembuhan total yang tidak menyisakan penyakit.”
1.      Membimbing pasien ketika tiba waktu sholat
 قَنِتِيْنَ الِلَّهِ وَقُوْمُوْ وَالصَّلوةِالْوُسْطَ الصَّلَوتِ اعَلَى حَافِظُوْ
“Jagalah (peliharah) segala shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah [2]: 238).
2. Tata Cara Shalat Bagi Orang Sakit
a.       Diwajibkan berdiri meskipun tidak tegak atau bersandar pada dinding atau bertumpu pada tongkat
b.      Bila tidak mampu berdiri maka hendaklah solat dengan duduk
c.       Bila tidak mampu duduk maka solat dengan berbaring miring dengan bertumpu pada sisi tubuh sebelah kanan menghadap kiblat
d.      Jika tidak mampu berbaring maka dapat dengan telentang dan kaki menuju arah kiblat dan kepala agak ditinggikan
e.       Jika tidak mampu juga maka solat dengan menggunakan isyarat tubuh seperti kepala jika kepala tidak mampu maka dengan mata
f.       Jika memang semua itu tidak mampu maka dapat solat didalam hati
g.      Jika orang sakit merasa kesulitan mengerjakan solat pada waktunya, maka dibolehkan menjamak

3. Membimbing pasien untuk bertayamum  
Membimbing pasien untuk bertayamun jika pasien ingin melaksanakan ibadah shalat karena pasien  belum bisa untuk terkena air karena kondisi nya yang tidak memungkin kan untuk berhubungan dengan air terlebih dahulu.
 “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, maka jika kamu tidak memperoleh air, bertayammumlah dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur” (Al-Maidah : 6)
4.     Membimbing pasien membaca Al-Quran
 Bimbing pasien dengan membaca Al-Quran terutama ayat-ayat dengan orang sakit, rahmat allah, dan karunia allah, dengan begitu pasien akan termotivasi untuk sembuh. Dan memberikan pengertian bagi pasien supaya membaca Al-Quran daripada mengeluh atas penyakit yang dideritanya.
لْمُنْكَرِوَلَذِكْرُاللَّهِأَكْبَرُ عَنِالْفَحْشَاءِو إِنَّالصَّلَاةَتَنْهَىٰ وَأَقِمِالصَّلَاةَ مِنَالْكِتَابِ لَيْكَ إِ  مَاأُوحِيَ اتْلُ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al-Ankabut : 45)
5.     Membimbing pasien untuk berpuasa
            Jika kondisinya memungkinkan bagi pasien yang ingin melaksanakan ibadah puasa misalnya dibulan ramadhan. Serta memberi pengertian kepada pasien yang kondisinya tidak memungkinkan untuk melaksanakan ibadah puasa.
6.     Mengingatkan untuk selalu berdoa kepada Allah

دَاخِرِينَجَهَنَّ سَيَدْخُلُونَ عِبَادَتِي عَنْ الَّذِينَيَسْتَكْبِرُون إِن لَكُمْ أَسْتَجِبْ رَبُّكُمُادْعُونِي وَقَالَ
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Ghafir : 60)
7.     Membimbing agar selalu berdzikir kepada Allah
تَطْمَئِنُّالْقُلُوبُ أَلَابِذِكْرِاللَّهِ بِذِكْرِاللَّهِ قُلُوبُهُمْ واوَتَطْمَئِنُّآمَنُالَّذِينَ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.“
 Dengan berdzikir hati pasien yang tidak tenang akan menjadi lebih tanang dan akan menjadi  lebih dekat kepada Allah.




G. Upaya Yang Dapat Dilakukan Oleh Perawat Muslim Apabila Menghadapi Pasien Yang Sakaratul Maut
Sakaratul maut adalah saat-saat kritis seseorang  itu sedang menghadapi kematian yang sudah tidak diharapkan lagi akan kesembuhannya atau akan hidup kembali seperti biasa.
Mengenai tanda-tanda khusul khotimah atau su'ul khotimah seseorang yang sedang sakaratul maut, Usman bin Affan perna berkata bahwa Nabi Muhammad  saw bersabda:
"perhatikanlah orang yang hampir mati,seandainya kedua matanya terbelalak, dahinya berkeringat, dan dua lubang hidungnya bertambah besar,membuktikan bahwa ia sedang memperoleh kabar gembira,tetapi jika dia mendengar seperti orang yang sedang mendengkur (ngorok) atau tercekik,wajahnya pucat,mulutnya bertambah besar,berarti ia telah mendapat kabar buruk"
Adapun orang-orang mukmin yang sedang sakaratul maut, Nabi Muhammad saw telah menggambarkan dengan sabdanya:
"ketika menjelang roh orang mukmin dicabut,maka datanglah malaikat pencabut nyawa membawa kain sutra yang didalamnya ada minyak kasturi dan sejambak bunga yang wangi, kemudian roh orang Mukmin itu pun dicabut dengan lemah lembut seperti mencabut rambut dari adonan tepung,lalu diserukan kepadanya:
"Wahai jiwa yang tenteram kembalillah kepada Tuhan-Mu dalam keadaan ridho dan diridhoi dan kembalilah kepada rahmat dan kasih sayang Allah. 
Jika seorang Muslim mengetahui atau meyaksikan seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut, maka hendaklah dia melakukan hal-hal seperti berikut
a.       1.Menghadapkannya ke arah kiblat. caranya jika ia berbaring,maka lambung kanannya diarahkan ke lantai.
b.      2.Mengajarkannya atau mengingatkannya untuk mengucapkan kalimat syahadat yaitu La ilaha illallah Muhammad Rasulullah.
c.       Mendo'akannya agar dosanya diampunin dan dimudahkan keluarnya ruh .Wallahu A'lam.
d.      Menasehatinya supaya ia bertobat dan berbaik sangka kepada Allah dengan mengharap ampunan dan rahmat-Nya
e.       Menjaga supaya pakaian dan tempat yang didiaminya senantiasa bersih dan suci










BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari apa yang dijabarkan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa ketika seorang menganggap dirinya sebagai seorang professional maka ia harus memliki unsur bertauhid, amanah, berakhlaq, memiliki ilmu, ikeahlian dan tanggung jawab. Sebagai sebagai calon perawat sudah seharusnya menganut hal tersebut karena sebagai landasan seorang perawat yang profesional.

B.     Saran
Allah menciptakan manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini, tapi apabila manusia sudah menjadi pemimpin mereka lupa dengan masyarakat yang dia pimpin. Sebagai calon pemimpin dalam bidang keperawatan atau kesehtan jangan membeda-bedakan masyarakat antara sikaya dan si miskin apabila dalam merawat pasien.








DAFTAR PUSTAKA

Hidayat A. Aziz Alimul. (2007). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan Eds 2. Salemba Medika: Jakarta
http://www.doamuslim.com/doa-mohon-kesembuhan-dari-penyakit/
http://www.rsunurhidayah.com/berita-197-bimbingan-agama-untuk-kesembuhan.html
Kisyik, Abdul Hamid. 1991. Mati Menebus Dosa. Jakarta: Gema Insani Press.
Potter dan Perry. 2002. Fundamental Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Komentar

Postingan Populer