MAKALAH PERAWAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM
MAKALAH
PERAWAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM
![]() |
Disusun Oleh:
ELLA
INDARWATI (1615401035)
HARWI PIRANTI (1615401036)
DINA BELLA FRANSISKA (1615401037)
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN DIII KEBIDANAN
TAHUN 2016
![]() |
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada
Allah SWT, karena atas ridho Allah SWT kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Tak ada gading yang tak retak, dan kita tahu
semua walaupun manusia merupakan makhluk yang sempurna ciptaan Allah SWT dari
makhluk lainnya, tetapi tak ada satupun manusia yang tak luput dari kesalahan,
jadi apabila ada kesalahan dalam makalah ini saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Kritik dan saran yang mendukung untuk kebaikan makalah ini sangat kami
harapkan, semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua, amin.
Bandar Lampung,
September 2016
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.................................................................................. i
KATA PENGANTAR................................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang................................................................................. 1
B. Tujuan.............................................................................................. 1
C. Rumusan
Masalah............................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Profesi Keperawatan Dalam Perspektif Islam................................ 3
B.
Kewajiban Merawat Pasien.............................................................. 5
C.
Hak-Hak Petugas Keperawatan....................................................... 6
D.
Sifat Perawat
Muslim....................................................................... 9
E.
Tugas dan Kewajiban Seorang
Perawat Muslim.............................. 12
F.
Pendamping atau Pembimbing
Pasien............................................. 17
G.
Upaya Yang Dapat Dilakukan
Oleh Perawat Muslim Apabila
Menghadapi Pasien Yang Sakaratul Maut....................................... 20
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan...................................................................................... 22
B.
Saran................................................................................................ 22
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam adalah
salah satu agama yang diakui keberadaaannya di Indonesia. Jumlah penganut agama
Islam di Indonesia sangat banyak dibandingan penganut agama non Islam. Islam
adalah agama yang benar disisi Allah dan hamba-hambanya, sehingga Allah
menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi pedoman hidup bagi manusia(muslim) khusus
untuk umat Nabi Muhammad Saw. Didalam Al-Qur’an ada ayat yang menerangkan bahwa
salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai obat dan rohmat bagi
orang – orang mukmin. Misalnya dengan ilmu8 kesehatan, ilmu ini zaman nabi pun
ada tapi belum semaju sekarang karena adanya pengaruh globalisasi. Tokoh Islam
yang terkenal di dunia kesehatan salah satunya yaitu Ibnu Sina.
Islam sangat
menyarankan untuk selalu menjaga kesehatan karena dengan jiwa yang sehat akan
mempermudah sekali kita untuk beribadah kepada Allah karena tujuan kita
diciptakan adalah untuk beribadah kapada-Nya.
B. Tujuan
B. Tujuan
Kita sebagai
umat Islam terkadang tidak menegetahui apa fungsi Islam dalam bidang kesehatan,
kita hanya berfikir Islam adalah agama. Sebenarnya banyak sekali yang kita
belum ketahui tentang Islam. Islam merupakan salah satu agama yang membahas
seluruh aspek kehidupan misalnya dalam hal penyakit.
Maka dari
itu penulis dalam makalah ini mengambil judul “PROFESI PERAWAT DALAM PERSPEKTIF
ISLAM” dengan tujuan untuk menambah wawasan kita (muslim) dalam memahami Islam
tentang manfaatnya dalam dunia kesehatan.
C. Rumusan Masalah
C. Rumusan Masalah
Dalam
pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode kajian pusataka yang artinya
mencari dari buku – buku yang ada kaitannya dengan pembahasan mengenai Profesi
Perawat Dalam Perspektif Islam, sebagai referensi lainya juga diperoleh dari
Al-Qur’an, Kitab-kitab karangan para ulama dan situs web di internet yang
membahas mengenai hal tersebut disertai dengan pemikiran penulis sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Profesi Keperawatan Dalam Perspektif
Islam
Islam
menaruh perhatian yang besar sekali terhadap dunia kesehatan dan keperawatan
guna menolong orang yang sakit dan meningkatkan kesehatan. Kesehatan merupakan
modal utama untuk bekerja, beribadah dan melaksanakan aktivitas lainnya. Ajaran
Islam yang selalu menekankan agar setiap orang memakan makanan yang baik dan
halal menunjukkan apresiasi Islam terhadap kesehatan, sebab makanan merupakan
salah satu penentu sehat tidaknya seseorang.
"Wahai
sekalian manusia, makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang terdapat
di bumi. Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa yang baik-baik yang
Kami rezekikan kepadamu" (QS al-Baqarah: l68, l72).
Makanan yang
baik dalam Islam, bukan saja saja makanan yang halal, tetapi juga makanan yang
sesuai dengan kebutuhan kesehatan, baik zatnya, kualitasnya maupun ukuran atau
takarannya. Makanan yang halal bahkan sangat enak sekalipun belum tentu baik
bagi kesehatan.
Sebagian
besar penyakit berasal dari isi lambung, yaitu perut, sehingga apa saja isi
perut kita sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Karena itu salah satu resep
sehat Nabi Muhammad SAW adalah memelihara makanan dan ketika makan, porsinya
harus proporsional, yakni masing-masing sepertiga untuk makanan, air dan udara
(HR. Turmudzi dan al-Hakim)..
Anjuran
Islam untuk hidup bersih juga menunjukkan obsesi Islam untuk mewujudkan
kesehatan masyarakat, sebab kebersihan pangkal kesehatan, dan kebersihan
dipandang sebagai bagian dari iman. Itu sebabnya ajaran Islam sangat melarang
pola hidup yang mengabaikan kebersihan, seperti buang kotoran dan sampah
sembarangan, membuang sampah dan limbah di sungai/sumur yang airnya tidak
mengalir dan sejenisnya. Islam sangat menekankan kesucian (al-thaharah), yaitu
kebersihan atau kesucian lahir dan batin. Dengan hidup bersih, maka kesehatan
akan semakin terjaga, sebab selain bersumber dari perut sendiri, penyakit
seringkali berasal dari lingkungan yang kotor.
Islam juga
sangat menganjurkan kehati-hatian dalam bepergian dan menjalankan pekerjaan,
dengan selalu mengucapkan basmalah dan berdoa. Agama sangat melarang perilaku
nekad dan ugal-ugalan, seperti bekerja tanpa alat pengaman atau ngebut di jalan
raya yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
“Dan
janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (al-Baqarah::
l95).
Hal ini
karena sumber penyakit dan kesakitan, tidak jarang juga berasal dari pekerjaan
dan risiko perjalanan. Sekarang ini kecelakaan kerja masih besar disebabkan
kurangnya pengamanan dan perlindungan kerja. Lalu lintas jalan raya; darat,
laut dan udara juga seringkali diwarnai kecelakaan, sehingga kesakitan dan
kematian karena kecelakaan lalu lintas ini tergolong besar setelah wabah
penyakit dan peperangan.
Jadi
walaupun seseorang sudah menjaga kesehatannya sedemikian rupa, risiko kesakitan
masih besar, disebabkan faktor eksternal yang di luar kemampuannya menghindari.
Termasuk di sini karena faktor alam berupa rusaknya ekosistem, polusi di darat,
laut dan udara dan pengaruh global yang semakin menurunkan derajat kesehatan
penduduk dunia. Karena itu Islam memberi peringatan antisipatif: jagalah
sehatmu sebelum sakitmu, dan jangan abaikan kesehatan, karena kesehatan itu
tergolong paling banyak diabaikan orang. Orang baru sadar arti sehat setelah ia
merasakan sakit.
B. Kewajiban Merawat Pasien
Setiap orang pasti
pernah mengalami sakit, apakah itu sakit ringan ataupun sakit berat. Namun,
baik ringan maupun berat, setiap orang berbeda dalam menyikapinya. Bagi
sebagian orang, sakit ringan bisa dirasakan begitu menyiksa sehingga terlihat
lebih berat dari semestinya. Akan tetapi, bagi sebagian lagi, sakit berat bisa
dirasakan ringan jika hati menerimanya dengan ikhlas. Pasien adalah individu
yang sedang rentan dalam periode kehidupan, sehingga seorang pasien membutuhkan
pendampingan secara Psikoreligius.
Sakit adalah
peringatan, sehingga seseorang akan makin giat melakukan peribadatan
sehari-hari bahkan meninggkat dari biasanya dengan berdzikir, doa-doa,
melakukan amaliah, atau bersedekah. Yang lebih penting, orang menjadi
tersadarkan betapa ajal itu sudah dekat atau sekurang-kurangnya ingat bahwa
ajal akan datang sewaktu-waktu.
Pendampingan
keagamaan sangat penting di berikan bagi pasien, ketika medis membuat prediksi
beratnya penyakit bahkan sampai kemudian dinyatakan sudah tidak bisa dilakukan
apa-apa, bisa jadi pendamping keagamaan membawa pasien pada tingkat kepasrahan
yang tinggi, setelah itu terjadi perbaikan dari penyakit itu.
Saat Allah
menakdirkan kita untuk sakit, pasti ada alasan tertentu yang menjadi penyebab
itu semua. Tidak mungkin Allah subhanahu wa ta’ala melakukan sesuatu tanpa
sebab yang mendahuluinya atau tanpa hikmah di balik semua itu. Allah pasti menyimpan
hikmah di balik setiap sakit yang kita alami. Karenanya, tidak layak bagi kita
untuk banyak mengeluh, menggerutu, apalagi su’udzhan kepada Allah subhanahu wa
ta’ala. Lebih parah lagi, kita sampai mengutuk taqdir. Na’udzu billah…
Rasulullah
shallallahu ’alayhi wasallam pernah menemui Ummu As-Saa’ib, beliau
bertanya : ”Kenapa engkau menggigil seperti ini wahai Ummu As-Saa’ib?” Wanita
itu menjawab : “Karena demam wahai Rasulullah, sungguh tidak ada barakahnya
sama sekali.” Rasulullah shallallahu ’alayhi wasallam bersabda : ”Jangan
engkau mengecam penyakit demam. Karena penyakit itu bisa menghapuskan dosa-dosa
manusia seperti proses pembakaran menghilangkan noda pada besi”. (HR. Muslim)
C. Hak-Hak Petugas Keperawatan
Dalam melaksanakan
asuhan keperawatan yang merupakan salah satu dari praktik keperawatan tentunya
seorang perawat memiliki hak dan kewajiban. Dua hal dasar yang harus dipenuhi,
dimana ada keseimbangan antara tuntutan profesi dengan apa yang semestinya
didapatkan dari pengembanan tugas secara maksimal. Memperoleh perlindungan
hukum dan profesi sepanjang melaksanakan tugas sesuai standar profesi dan
Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan salah satu hak perawat yang
mempertahankan kredibilitasnya dibidang hukum serta menyangkut aspek legal atas
dasar peraturan perundang-undangan dari pusat maupun daerah. Hal ini seperti
dipaparkan pada materi sebelumnya sedang dipertimbangkan oleh berbagai pihak,
baik dari PPNI, Organisasi profesi kesehatan yang lain, lembaga legislatif
serta elemen pemerintahan lain yang berkepentingan.
Selain mendapatkan
perlindungan hukum secara legal, perawat berhak untuk memperoleh informasi yang
lengkap dan jujur dari klien dan atau keluarganya agar mencapai tujuan
keperawatan yang maksimal. Jadi kepada klien dan keluarga yang berada dalam
lingkup keperawatan tidak hanya memberikan informasi kesehatan klien kepada
salah satu profesi kesehatan lainnya saja, akan tetapi perawat berhak mengakses
segala informasi mengenai kesehatan klien, karena yang berhadapan langsung dengan
klien tidak lain adalah perawat itu sendiri.
Hak perawat yang lain yaitu melaksanakan tugas sesuai dengan
kompetensi dan otonomi profesi. Ini dimaksudkan agar perawat dapat melaksanakan
tugasnya hanya yang sesuai dengan ilmu pengetahuan yang didapat berdasarkan
jenjang pendidikan dimana profesi lain tidak dapat melakukan jenis kompetensi
ini. Perawat berhak untuk dapat memperoleh penghargaan sesuai dengan prestasi,
dedikasi yang luar biasa dan atau bertugas di daerah terpencil dan rawan.’
HAK-HAK PERAWAT :
1.
Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan
tugas sesuai dengan profesinya.
2.
Mengembangkan diri melalui kemampuan
spesialisasi sesuai latar belakang
3.
Menolak keinginan klien/pasien yang bertentangan
dengan peraturan perundangan serta standar profesi dan kode etik profesi.
4.
Mendapatkan informasi lengkap dari klien/pasien
yang tidak puas terhadap pelayanannya.
5.
Meningkatkan pengetahuan berdasarkan
perkembangan IPTEK dalam bidang keperawatan/kebidanan/kesehatan secara terus
menerus.
6.
Diperlakukan adil dan jujur oleh rumah sakit
maupun klien/pasien dan atau keluarganya.
7.
Mendapatkan jaminan perlindungan terhadap risiko
kerja yang berkaitan dengan tugasnya.
8.
Diikutsertakan dalam penyusunan/penetapan
kebijakan pelayanan kesehatan di rumah sakit
9.
Diperhatikan privasinya dan berhak menuntut
apabila nama baiknya dicemarkan oleh klien/pasien dan atau keluarganya serta
tenaga kesehatan lain.
10. Menolak pihak lain yang
memberi anjuran/permintaan tertulis untuk melakukan tindakan yang bertentangan
dengan perundang-undangan, standar profesi dan kode etik profesi.
11. Mendapatkan perhargaan
imbalan yang layak dari jasa profesinya sesuai peraturan/ketentuan yang
berlaku di rumah sakit.
12. Memperoleh kesempatan
mengembangkan karir sesuai dengan bidang profesinya.
D. Sifat
Perawat Muslim
Sebagai
seorang perawat yang professional harus memiliki sikap caring yang harus
dipertahankan dan ditingkatkan terus menerus. Hal ini sesuai dengan ajaran
Islam yang telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara sempurna,
seorang perawat harus memiliki sifat-sifat seperti di bawah ini:
1.
Tulus ikhlas karena
Allah
Dalam bekerja menolong
orang sakit harus ditanamkan perasaan tulus ikhlas karena Allah, bukan karena
ingin mendapat pujian dari siapapun
Surat Al Bayyinah: 5
Surat Al Bayyinah: 5
(Mereka hanya
diperintahkan untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan ikhlas dan lurus mengerjakan
agama karena Dia)
2.
Penyantun
Orang yang halus
perasaan, cepat merasakan kesusahan dan penderitaan orang lain, turut berduka
cita dengan orang yang kesusahan dan suka menolong orang lain dengan sekuat
tenaga.
Surat Al A’raf: 56
(Sesungguhnya rahmat
Allah itu dekat kepada orang yang berbuat kebajikan)
Sabda Nabi muhammad s.a.w:
Sabda Nabi muhammad s.a.w:
(Orang yang tidak
menyantuni manusia, tidak disantuni oleh Allah)
3.
Peramah
Bergaul dengan orang
lain dengan ramah
Sabda Nabi Muhammad
s.a.w:
(Sesungguhnya kamu
tidak dapat melapangi manusia dengan hartamu, tetapi manis muka dan baik budilah
yang dapat melapangi mereka)
4.
Sabar
Tidak lekas marah
Surah Asy Syura: 43
(Sungguh, orang yang
sabar dan pemaaf adalah pekerjaannya itu termasuk pekerti yang sangat perlu
dipelihara)
Sabda Nabi Muhammad
s.a.w:
(Sebaik-baik, senjata
orang mukmin ialah sabar dan do’a)
5.
Tenang
Tidak tergesa-gesa,
tidak ribut dan heboh dalam bekerja
Sabda Nabi Muhammmad
s.a.w:
(Tetaplah kamu bersikap
tenang)
6.
Teliti
Seksama, dengan sikap
hati-hati sekali, dengan cermat dan rapi
Sabda Nabi Muhammad
s.a.w:
(Bila seseorang
mengerjakan suatu pekerjaan, hendaklah dia mengerjakannya dengan teliti, karena
yang demikian itu menyenangkan hati si pasien)
7.
Tegas
Sabda Nabi Muhammad
s.a.w:
(Bila ada keraguan
dalam hatimu, tinggalkanlah)
8.
Patuh pada peraturan
Suka menurut perintah
Sabda Nabi Muhammada
s.a.w:
(Anas bin Malik
meriwayatkan, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
Dengarkanlah dan
patuhlah, walaupun dijadikan kepala atasmu seorang budak hitam)
9.
Bersih, suci
Surat At Taubah: 108
(Allah menyukai
orang-orang yang bersih)
10. Menyimpan
rahasia
Sabda Nabi Muhammad
s.a.w:
(Bila seorang menutup
rahasia/keaiban orang lain di dunia, pasti Allah menutup pula rahasia
keaibannya di hari kiamat)
11. Dapat
dipercaya
Surat An Nisa: 58
(Sesungguhnya Allah
memerintahkan kamu supaya menyampaikan segala amanat yang dipercayakan kepada
yang berhak)
12. Bertanggung
jawab
(Dan janganlah engkau
menurut saja apa-apa yang tidak engkau ketahui, sesungguhnya pendengaran,
penglihatan, hati itu masing-masingnya adalah bertanggung jawab)
E. Tugas dan Kewajiban Seorang
Perawat Muslim
Perawat adalah unsur utama dalam kegiatan Rumah sakit
terutama dalam perawatan dan pertolongan pasien, dan merekalah yang
paling dekat kepada pasien dan pengunjung rumah sakit lainnya.
Perawat sebagai seorang muslim, tidak boleh melepaskan diri dari tugas dan kewajibannya menegakan dan menjungjung tinggi Agama islam; Dengan kata lain Perawat tidak terlepas dari pada tugas dan kewajiban melaksankan da’wah islamiyah sesuai dengan kemampuannya di dalam bidangnya masing-masing.
Perawat sebagai seorang muslim, tidak boleh melepaskan diri dari tugas dan kewajibannya menegakan dan menjungjung tinggi Agama islam; Dengan kata lain Perawat tidak terlepas dari pada tugas dan kewajiban melaksankan da’wah islamiyah sesuai dengan kemampuannya di dalam bidangnya masing-masing.
Adapun
tugas dan kewajiban seorang perawat muslim adalah :
1.
Melaksanakan tugas dengan tulus ikhlas karena Allah
semata:
a. Merawat
pasien hendaklah diniati untuk pengabdian (ibadah) QS.Albayyinah, 5
b. Benar-benar
dengan niat yang ikhlas untuk beramal. Karena amal yang diterima Allah hanyalah
amal yang didasarkan pada keikhlasan. HR. Abu Dawud & Nasa’idari abi
umamah.
c. Tidak
mengharapkan balasan atau pujian. QS.Ad
Dahr 8-9
d. Selalu
optimis akan berhasil dalam tugasnya dengan baik. HR.Al-Khatib dari Anas bin malik
2.
Bersifat penyantun
a. Orang
yang penyantun ialah yang halus perasaannya, lekas dapat merasakan kesukaran
orang lain, dan bisa bersikap menyesuaikan diri bila ia berhadapan dengan orang
yang ditimpa musibah dan cepat memberi pertolongan, karena cepat mengerti
kebutuhan orang lain yang dihadapinya. QS.Al-Baqarah,
45
b. Perawat
harus yakin bahwa rahmat Allah selalu dekat kepada orang yang berbuat santun. QS.Al-A’raf, 56
c. Tutur
katanya lemah lembut kepada siapa saja terutama kepada pasien, rela dan cepat
memaafkan kesalahan orang lain. Karena memberi maaf kepada orang lain itu
adalah lebih utama dari memberi shadfaqah atau harta benda kepadanya. QS.Al-Baqarah 263
d. Hanya
orang penyantunlah yang disantuni pula oleh Allah yang maha penyantun.
HR.Tirmidzi dan Abu Dawud
3.
Ramah tamah berdasarkan ukhuwah dalam pergaulan,
kapan dan dimana ia berada, terutama terhadap pasien dan orang-orang yang dho’if
(lemah/miskin).HR. Bukhori Muslim dan Turmudzi
a. Ketahilah
bahwa bermuka manis kepada orang yang sedang menderita sakit adalah merupakan
sebagian dari pada pengobatan. QS.Al-Imran,
15
b. Dan
ketahuilah bahwa yang bisa meringankan penderitaan orang sakit, bukanlah harta
benda, akan tetapi wajah yang berseri-seri dan budi perkerti yang baik. HR.Ibnu Ja’la disyahkan oleh Hakim dari Abi
Hurairah.
4.
Sabar dan tidak lekas marah
a.
Penyabar dan pemaaf adalah salah satu dari budi
pekerti yang luhur, yang sangat penting dipelihara. QS.Asy-Syura, 43
b.
Walaupun semua pasien membutuhkan pertolongan dan
kasih sayang, tetapi tidak semua pasien menunjukan perasaan kasih sayang,
bahkan tidak kurang adanya pasien yang justru yang menjengkelkan dan tidak
menunjukan simpati sama sekali. Akan tetapi melayaninya dengan sabar adalah
perbuatan yang terpuji disisi Allah . HR.Tirmidzi dari Abu Huraira
c.
Sebaik-baik senjata perawat adalah bersabar dan
berdo’a. HR.Dailami dari Ibnu Abbas
5.
Harus tenang dan tidak tergopoh-gopoh
a.
Jiwa orang sangat membutuhkan ketenangan dan
ketentraman, jauh dari pada suara-suara yang keras, gerakan-gerakannya yang
hiruk pikuk dan gaduh. Disamping itu tugas-tugas perawat itu sendiri
membutuhkan keteangan dan perhatian yang sungguh-sungguh. Oleh sebab itu maka
perawat harus memiliki sifat yang tenang, berhati-hati dan menghindari
gerakan-gerakan yang bisa menimbulkan suara-suara keras dan gaduh. HR.Thabrani
dari Baihaqi dari abu Musa
b.
Orang yang melaksanakan pekerjaan dengan tenang dan
hati-hati, Allah akan memudahkan pekerjaan itu baginya dan akan terhindar dari
pada pelbagai kesukaran dan kekeliruan. HR. Bukhari
6.
Cepat, Cermat, teliti dan lincah
a.
Pekerjaan perawat cukup ruwet dan sulit. Oleh sebab
itu maka perawat hendaklah senantiasa teliti dan berhati-hati dalam menunaikan
tugasnya
b.
Apabila menghadapi suatu persoalan yang meragukan
atau kurang jelas maka lebih baik ditanyakan lebih dahulu kepada yang lebih
mengerti. Sebab pekerjaan yang dilakukan dengan ragu-ragu, lebih besar
kemungkinan akan menimbulkan bahaya. HR.Ibnu
Sa’ad Atha’
7.
Patuh dan disiplin
a. Perawat
harus patuh pada petunjuk atasannya baik lisan maupun tulisan
b. Perawat
harus disiplin dalam menunaikan tugasnya agar bisa dilaksankan dengan tertib
dan teratur
c. Mematuhi
dan melaksanakan petunjuk atasan tanpa membantah sekalipun kurang menyenangkan,
selama petunjuk itu tidak menyelahi ajaran islam, norma-norma kemanusiaan
maupun etika perawat.
8.
Bersih dan menjaga kebersihan, rapih, baik
jasmani maupun rohani:
a. Rohani
atau jiwa perawat hendaknya selalu bersih dan suci dari sifat-sifat
dengki, sentimen, sombong dan lain-lain sifat yang tidak baik. Sebab hanya
dengan jiwa yang bersih dan sucilah akan memancar sifat-sifat yang terpuji,
sikap yang baik dan ucapan yang menyenangkan. HR. Bukhori
b. Tubuh
dan pakaian perawat harus selalu bersih, rapih, sederhana dan tidak
berlebih-lebihan dalam berhias. HR. Bokori Muslim dan Abu Dawud
9.
Kuat menyimpan rahasia
a. Penyakit
adalah salah satu aib bagi orang yang sakit. Ada beberapa macam penyakit yang
merupakan aib yang sangat dirahasiakan oleh penderitannya. Yang banyak
mengetahui penyakit seseorang ialah Dokter dan Perawat. Agama islam tidak
membenarkan seseorang membuka aib orang lain. Oleh sebab itu Perawat tidak
boleh membuka rahasia orang yang dirawatnya kepada orang lain. QS. Al-Mudatsir
4.
b. Orang
yang suka menyiarkan atau menyebut-nyebut rahasia orang lain. Allah mengancam
dengan siksaan yang sangat pedih, baik di Dunia maupun diakherat kelak. HR.
Turmudzi dan Sa’ad
c. Perawat
harus bersifat jujur dan bertanggung jawab atas segala tindakannya:
1)
Berbahagialah orang yang dapat memelihara amanat
dan menepati janjinya.HR. Abu Dawud
2)
Tugas dan kewajiban yang dibenarkan kepada
Perawat adalah amat yang wajib ditunaikan. QS. Al-Mukminun, 8.
3)
Jujur dapat dipercaya, suka berterus terang,
selalu menepati janji adalah sikap terpuji yang dimiliki oleh Perawat. QS.
Al-Maidah, 1
F. Pendamping atau Pembimbing
Pasien
“Hilangkanlah penyakit wahai Rabb manusia dan
berilah kesembuhan, sesungguhnya Engkau adalah Maha Menyembuhkan, tidak ada
kesembuhan kecuali dengan kesembuhan dari-Mu, (berilah) kesembuhan total yang
tidak menyisakan penyakit.”
1.
Membimbing pasien ketika tiba waktu sholat
قَنِتِيْنَ الِلَّهِ وَقُوْمُوْ
وَالصَّلوةِالْوُسْطَ الصَّلَوتِ اعَلَى حَافِظُوْ
“Jagalah (peliharah) segala
shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam
shalatmu) dengan khusyu’.” (Al-Baqarah [2]: 238).
2. Tata Cara Shalat Bagi Orang Sakit
a. Diwajibkan berdiri meskipun tidak
tegak atau bersandar pada dinding atau bertumpu pada tongkat
b. Bila tidak mampu berdiri maka
hendaklah solat dengan duduk
c. Bila tidak mampu duduk maka solat
dengan berbaring miring dengan bertumpu pada sisi tubuh sebelah kanan menghadap
kiblat
d. Jika tidak mampu berbaring maka
dapat dengan telentang dan kaki menuju arah kiblat dan kepala agak ditinggikan
e. Jika tidak mampu juga maka solat
dengan menggunakan isyarat tubuh seperti kepala jika kepala tidak mampu maka
dengan mata
f. Jika memang semua itu tidak mampu
maka dapat solat didalam hati
g. Jika orang sakit merasa kesulitan
mengerjakan solat pada waktunya, maka dibolehkan menjamak
3. Membimbing pasien untuk
bertayamum
Membimbing pasien untuk bertayamun
jika pasien ingin melaksanakan ibadah shalat karena pasien belum bisa
untuk terkena air karena kondisi nya yang tidak memungkin kan untuk berhubungan
dengan air terlebih dahulu.
“Wahai orang-orang yang beriman!
Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu
sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua
mata kaki. Jika kamu junub maka mandilah. Dan jika kamu sakit atau dalam
perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan,
maka jika kamu tidak memperoleh air, bertayammumlah dengan debu yang baik
(suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan debu itu. Allah tidak ingin
menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan
nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur” (Al-Maidah : 6)
4. Membimbing pasien membaca Al-Quran
Bimbing pasien dengan membaca
Al-Quran terutama ayat-ayat dengan orang sakit, rahmat allah, dan karunia
allah, dengan begitu pasien akan termotivasi untuk sembuh. Dan memberikan pengertian
bagi pasien supaya membaca Al-Quran daripada mengeluh atas penyakit yang
dideritanya.
لْمُنْكَرِوَلَذِكْرُاللَّهِأَكْبَرُ
عَنِالْفَحْشَاءِو إِنَّالصَّلَاةَتَنْهَىٰ وَأَقِمِالصَّلَاةَ مِنَالْكِتَابِ
لَيْكَ إِ مَاأُوحِيَ اتْلُ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan
kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat
itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat
yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al-Ankabut : 45)
5. Membimbing pasien untuk berpuasa
Jika kondisinya memungkinkan bagi
pasien yang ingin melaksanakan ibadah puasa misalnya dibulan ramadhan. Serta
memberi pengertian kepada pasien yang kondisinya tidak memungkinkan untuk
melaksanakan ibadah puasa.
6. Mengingatkan untuk selalu berdoa
kepada Allah
دَاخِرِينَجَهَنَّ سَيَدْخُلُونَ
عِبَادَتِي عَنْ الَّذِينَيَسْتَكْبِرُون إِن لَكُمْ أَسْتَجِبْ
رَبُّكُمُادْعُونِي وَقَالَ
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan
hina dina”. (Ghafir : 60)
7. Membimbing agar selalu berdzikir kepada
Allah
تَطْمَئِنُّالْقُلُوبُ
أَلَابِذِكْرِاللَّهِ بِذِكْرِاللَّهِ قُلُوبُهُمْ واوَتَطْمَئِنُّآمَنُالَّذِينَ
“(yaitu) orang-orang yang beriman
dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.“
Dengan berdzikir hati pasien yang
tidak tenang akan menjadi lebih tanang dan akan menjadi lebih dekat
kepada Allah.
G. Upaya Yang Dapat Dilakukan Oleh Perawat Muslim Apabila Menghadapi Pasien
Yang Sakaratul Maut
Sakaratul maut adalah saat-saat
kritis seseorang itu sedang menghadapi kematian yang sudah tidak
diharapkan lagi akan kesembuhannya atau akan hidup kembali seperti biasa.
Mengenai tanda-tanda khusul khotimah
atau su'ul khotimah seseorang yang sedang sakaratul maut, Usman bin Affan perna
berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:
"perhatikanlah orang yang
hampir mati,seandainya kedua matanya terbelalak, dahinya berkeringat, dan dua
lubang hidungnya bertambah besar,membuktikan bahwa ia sedang memperoleh kabar
gembira,tetapi jika dia mendengar seperti orang yang sedang mendengkur (ngorok)
atau tercekik,wajahnya pucat,mulutnya bertambah besar,berarti ia telah mendapat
kabar buruk"
Adapun orang-orang mukmin yang
sedang sakaratul maut, Nabi Muhammad saw telah menggambarkan dengan sabdanya:
"ketika menjelang roh orang
mukmin dicabut,maka datanglah malaikat pencabut nyawa membawa kain sutra yang
didalamnya ada minyak kasturi dan sejambak bunga yang wangi, kemudian roh orang
Mukmin itu pun dicabut dengan lemah lembut seperti mencabut rambut dari adonan
tepung,lalu diserukan kepadanya:
"Wahai jiwa yang tenteram
kembalillah kepada Tuhan-Mu dalam keadaan ridho dan diridhoi dan kembalilah
kepada rahmat dan kasih sayang Allah.
Jika seorang Muslim mengetahui atau
meyaksikan seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut, maka hendaklah dia
melakukan hal-hal seperti berikut
a. 1.Menghadapkannya ke arah kiblat.
caranya jika ia berbaring,maka lambung kanannya diarahkan ke lantai.
b. 2.Mengajarkannya atau
mengingatkannya untuk mengucapkan kalimat syahadat yaitu La ilaha illallah
Muhammad Rasulullah.
c. Mendo'akannya agar dosanya diampunin
dan dimudahkan keluarnya ruh .Wallahu A'lam.
d. Menasehatinya supaya ia bertobat dan
berbaik sangka kepada Allah dengan mengharap ampunan dan rahmat-Nya
e. Menjaga supaya pakaian dan tempat
yang didiaminya senantiasa bersih dan suci
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari apa
yang dijabarkan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa ketika seorang menganggap
dirinya sebagai seorang professional maka ia harus memliki unsur bertauhid,
amanah, berakhlaq, memiliki ilmu, ikeahlian dan tanggung jawab. Sebagai sebagai
calon perawat sudah seharusnya menganut hal tersebut karena sebagai landasan
seorang perawat yang profesional.
B. Saran
Allah
menciptakan manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini, tapi apabila manusia
sudah menjadi pemimpin mereka lupa dengan masyarakat yang dia pimpin. Sebagai
calon pemimpin dalam bidang keperawatan atau kesehtan jangan membeda-bedakan
masyarakat antara sikaya dan si miskin apabila dalam merawat pasien.
DAFTAR
PUSTAKA
Hidayat A. Aziz Alimul. (2007). Pengantar Konsep Dasar
Keperawatan Eds 2. Salemba Medika: Jakarta
http://www.doamuslim.com/doa-mohon-kesembuhan-dari-penyakit/
http://www.rsunurhidayah.com/berita-197-bimbingan-agama-untuk-kesembuhan.html
Kisyik, Abdul Hamid. 1991. Mati Menebus Dosa. Jakarta:
Gema Insani Press.
Potter dan Perry. 2002. Fundamental Keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika.


Komentar
Posting Komentar