pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap intensitas nyeri post operasi Sectio Caesarea (SC) di RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Menurut World
Health Organisation (WHO), permintaan Sectio
Caesarea di sejumlah Negara berkembang melonjak pesat. Hasil penelitiaan
menunjukan bahwa permintaan persalinan Sectio
Caesarea paling banyak dilakukan oleh ibu yang melahirkan untuk pertama
kalinya. Faktor yang paling memepengaruhi ibu meminta tindakan persalinan
dengan cara Sectio Caesarea adalah
akibat rasa sakit yang di alami pada proses persalinan normal yang di takutkan
mereka dan tidak kuat menahan rasa sakit (Wulandari, 2014).
WHO (World
Health Organization) mengatakan standar rata-rata operasi SC sekitar 5-15%,
Bahkan data WHO Global survei on Maternal and perinatal Health 2011
menunjukkan 46,1% dari seluruh kelahiran dengan SC. Menurut statistik tentang
3.509 kasus SC yang disusun oleh Peel dan Chamberlain, indikasi untuk SC adalah
disproporsi janin panggul 21%, gawat janin 14%, Plasenta previa 11%, perna secsio
caesarea 11%, kelainan letak janin 10%, pre eklamsi dan hipertensi 7% .
Di indonesia, presentasi operasi SC sekitar 5-15%,
dirumah sakit pemerintah sekitar 11%, sementara dirumah sakit swasta bisa lebih
dari 30%. Menurut SDKI 2012, angka kejadian SC di Indonesia 921.000 dari
4.039.000 persalinan atau 22,8% dari seluruh persalinan. menurut data riset
kesehatan (RISKESDAS, 2013) menunjukkan SC 9,8%, dengan proporsi tertinggi di
DKI Jakarta (19,9%) dan terendah di Sulawesi Tenggara (3,3%).
Berdasarkan
data RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2012, tingkat pesalinan sectio
caesarea di Indonesia sudah melewati batas maksimal standar WHO 5-15%.
Tingkat persalinan sectio caesarea di Indonesia 15,3% sampel dari 20.591
ibu yang melahirkan dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yang di survey dari 33
provinsi. Gambaran adanya faktor resiko ibu saat melahirkan atau di operasi caesarea
adalah 13,4 % karena ketuban pecah dini, 5,49% karena Preeklampsia,
5,14% karena Perdarahan, 4,40% Kelainan letak Janin, 4,25% karena jalan lahir
tertutup, 2,3% karena rahim sobek (RISKESDAS, 2012).
Angka
persalinan SC di provinsi Lampung tahun 2013 menurut hasil Riskesdas, angka
kejadian secsio caesarea di Kota Bandar Lampung pada tahun 2012 adalah
3.401 dari 170.000 persalinan (20%) dari seluruh persalinan). Penyebab kasus
kematian ibu di Provinsi lampung tahun 2013 disebabkan oleh perdarahan sebanyak
47 kasus, eklamsi sebanyak 46 kasus, infeksi sebanyak 9 kasus, partus lama
sebanyak 1 kasus, aborsi sebanyak 1 kasus dan lain-lain sebanyak 54 kasus
(Dinkes Propinsi Lampung, 2014).
Berdasarkan
hasil pre-survey peneliti pada bulan januari 2017, di RSUD Dr. H Abdul Moeloek
Provinsi Lampung terdapat ibu post partum dengan persalinan Sectio
caesarea di RSUD Dr. H Abdul Moeloek Provinsi Lampung tahun 2012
yaitu terdapat 581 orang dengan rata-rata perbulan 48 orang. Pada tahun 2013
yaitu 722 orang dengan rata-rata perbulan 60 orang. Pada tahun 2014 yang
berjumlah 320 orang dengan rata-rata perbulan 30 orang . Pada tahun
2015 rata-rata perbulan berjumlah 26 orang. Pada bulan juli sampai desember tahun 2016
berjumlah 163 orang dengan rata-rata perbulan 27 orang. Dari hasil rekam
medik terdapat gambaran adanya faktor
resiko ibu saat melahirkan atau dioperasi caesarea dalam klasifikasi
13,4%, karena Preeklampsi Berat, 5,49%, kelainan letak, 5,14% karena plasenta
previa, dan 4,40% karena partus tak maju, sedangkan tindakan pembedahan secsio caesarea pada tahun 2014 di Rumah
Sakit Imanuel Bandar Lampung yaitu terdapat 258 orang dengan rata-rata perbulan
yaitu 22 orang.
Saat ini, timbul trend/kecenderungan
para wanita muda lebih memilih persalinan secara operasi Sectio Caesarea demi menghindari nyeri saat melahirkan pervagina.
Alasan lain para wanita lebih memilih operasi Caesar adalah dengan takut/fobia
terhadap proses persalinan, takut terhadap rasa nyeri yang diakibatkan selama
masa persalinan, bahkan juga dengan alasan ingin melahirkan pada hari, tanggal,
waktu yang ditentukan nya sendiri. Memang melahirkan bayi dengan cara operasi
lebih cepat dan mudah, ibu tidak usah bercapek-capek atau bersakit-sakit. Namun,
bukan berarti dengan operasi Sectio Caesarea ibu akan terbebas dari rasa nyeri
(Maryunani, 2010).
Dari hasil beberapa penelitian tentang melahirkan
melaui operasi Sectio Caesarea menunjukan
bahwa melahirkan secara Sectio Caesarea
akan memerlukan waktu penyembuhan luka uterus/rahim yang lebih lama dari pada
persalinan normal. Selama luka belum benar-benar sembuh, rasa nyeri bisa saja
timbul pada luka tersebut. Bahkan menurut pengakuan para ibu yang melahirkan
bayinya menggunakan prosedur operasi, rasa nyeri memang kerap terasa sampai
beberapa hari setelah operasi (Maryunani, 2010).
Permasalahan yang biasanya muncul pasca operasi Sectio Caesarea diantaranya, nyeri,
perdarahan, infeksi puerperal, cedera saluran kemih, kemungkinan rupture
uteri spontan pada kehamilan mendatang (jitowiyono & Kristiyanasari, 2010).
Kenyamanan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi begitu juga
pasien pasca operasi. Semua pasien pasca operasi akan mengalami nyeri setelah
efek anestesi hilang. Nyeri pasca operasi berdampak pada aktivitas sehari-hari,
istirahat serta tidurnya sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Nyeri merupakan suatu sensasi yang rumit, unik, universal dan
bersifat individual. Nyeri bersifat individual karena respon dari individu terhadap
sensasi nyeri berbeda antara satu dengan yang lain dan tidak bisa disamakan
satu dengan lainnya. Maka bagi perawat hal tersebut akan menjadi dasar dalam
mengatasi nyeri pada klien (Asmadi, 2009). Perawat tidak bisa melihat dan
merasakan nyeri yang dialami oleh klien, karena nyeri bersifat subyektif
(antara satu individu dengan individu lainnya berbeda dalam menyikapi nyeri).
Nyeri merupakan faktor utama yang menghambat kemampuan dan keinginan individu
untuk pulih dari suatu penyakit (Potter & Perry, 2006).
Menurut Penelitian Sandi (2015) dengan judul
Perbedaan Intensitas Nyeri Setelah Dilakukan Tindakan Teknik Distraksi dan
Relaksasi Pasien Post Sectio Caesarea
di Ruang Delima RSUD Dr. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Comparative. Menggunakan teknik Accidental
Sampling dengan besar sampel berjumlah 26 responden. Hasil penelitian
menunjukan bahwa nilai rata-rata intensitas nyeri terhadap responden setelah
dilakukan teknik distraksi sebesar 2.69 dan setelah dilakukan teknik relaksasi
sebesar 4.69 dengan nilai p value =0,00 <α =0,05 yang menunjukan bahwa ada
perbedaan intensitas nyeri setelah melakukan teknik distraksi dan relaksasi di
Ruang Delima RSUD Dr. H. Abdul moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015 yang mana
antara teknik distraksi dan teknik relaksasi menunjukan bahwa nilai rata-rata
teknik relaksasi lebih besar dibandingkan dengan teknik distraksi.
Dalam upaya penanganan nyeri pasca Sectio Caesarea perlu diadakan suatu
langkah edukasi bagi para wanita dan calon ibu untuk memiliki wawasan mengenai
nyeri dalam persalinan dan memberikan pengetahuan mengenai berbagai
metode/teknik terkini untuk mengatasi
atau mengurangi rasa nyeri yang datang saat melahirkan. Rasa takut dan stress
yang dirasakan pasien maka akan terasa nyeri, sebaliknya jika semakin tenang
dan rileks kondisi ibu maka nyeri akan
semakin berkurang bahkan nyeri bisa sampai hilang. Adapun cara yang dapat
membantu meredakan nyeri dengan memberikan intervensi pereda nyeri. Upaya untuk
mangatasi nyeri pada ibu pasca operasi sectio
caesarea (SC) dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan/menajemen
farmakologi maupun nonfarmakologi (Andarmoyo, 2013). Penatalaksanaa nyeri
dengan farmakologi yaitu dengan menggunakan obat-obat analgetik non narkotik,
dan adjuvant, sedangkan dengan
nonfarmakologi yaitu dengan bimbingan, antisipasi, terapi es dan
panas/kompres dingin dan panas, distraksi, relaksasi, imajinasi bimbingan,
hypnosis, massase (Andarmoyo, 2013). Memang metode pengelolaan nyeri persalinan
secara farmakologis lebih efektif dibandingkan dengan metode non farmakologi
namun metode farmakologi lebih mahal dan berpotensi mempunyai efek yang kurang
baik bagi ibu. Sedangkan metode non farmakologi bersifat murah, mudah dan tanpa
efek yang merugikan (Maryunani, 2010).
Salah satu cara untuk mengurangi nyeri pada pasien
pasca bedah adalah dengan teknik relaksasi. Teknik relaksasi merupakan
kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stress. Teknik relaksasi
memberikan individu kenyamanan diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau
nyeri, stress fisik dan emosi pada nyeri. Teknik relaksasi dapat digunakan ,
saat individu dalam keadaan sehat atau sakit. Teknik relaksasi dan imajinasi
salah satu teknik yang digunakan dalam menurunkan nyeri pada pasien, dalam
penelitian ini khususnya pada pasien pasca bedah. (Potter & Perry, 2006). Relaksasi
dapat memberikan pengaruh terhadap skala nyeri, didasarkan pada teori gate control dimana menurut teori ini menjelaskan
mekanisme tertutupnya transmisi sinyal nyeri ke otak pada jaras system saraf
pusat akan menurunkan intensitas nyeri, nyeri yang terjadi pada seseorang
akibat adanya rangsangan tertentu seperti tindakan operasi, dapat di blok
ketika terjadi interaksi antara stimulus nyeri yang mengirimkan sensasi nyeri
yang diblok pada susunan saraf-saraf, pemblokan ini dapat dilakukan melalui
mengalihkan perhatian ataupun tindakan relaksasi. Dengan adanya relaksasi, maka
impuls nyeri dari nervus trigeminus akan
dihambat dan mengakibatkan tertutupnya subtansia
gelatinosa di thalamus. Tertutupnya subtansia gelatinosa di thalamus
mengakibatkan stimulasi yang menuju korteks
serebri terhambat sehingga intensitas nyeri berkurang (Potter & Perry,
2006). Teknik relaksasi meliputi meditasi, yoga, Zen, teknik imajinasi, dan
latihan relaksasi progresif (Potter & Perry, 2006). Latihan relaksasi
progresif meliputi kombinasi latihan pernafasan yang terkontrol dan rangkaian
kontraksi serta relaksasi kelompok otot (Potter & Perry, 2006).
Berdasarkan fenomena besarnya angka kejadian nyeri
pasca operasi tersebut diatas maka
peneliti tertarik untuk meneliti tentang pengaruh teknik relaksasi progresif
terhadap intensitas nyeri post operasi Sectio
Caesarea (SC) di RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah
di atas, maka rumusan masalah pada
penelitian ini adalah untuk melihat “Apakah ada pengaruh teknik relaksasi
progresif terhadap intensitas nyeri pasca operasi Sectio Caesarea di ruang Delima RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung ?”
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Diketahu
pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap intensitas nyeri pasca operasi Sectio Caesaria di ruang Delima RSUD Dr. Hi.Abdul Moeloek.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Diketahui
rata-rata intensitas nyeri pada pasien post SC sebelum dilakukan teknik
relaksasi progresif.
b. Diketahui
rata-rata intensitas nyeri pada pasien post SC setelah dilakukan teknik
relaksasi progresif.
c. Diketahui
pengaruh teknik relaksasi progresif terhadap intensitas nyeri pasca operasi Sectio
Caesarea.
1.4.
Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat teoritis
Penelitian
ini dapat menambah wawasan, tentang manajemen asuhan keperawataan terhadap
nyeri terkait pasca bedah.
1.4.2. Manfaat aplikatif
Memberikan
alternatif penanganan nyeri pada pasien pasca bedah Sectio Caesarea (SC), dan penurunan nyeri pasien pasca bedah secara
umum.
1.5.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup
dalam penelitian ini mengacu pada pengaruh teknik relaksasi progresif
terhadap intensitas nyeri pasca operasi Sectio
Caesarea di ruang Delima RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.
Berdasarkan penatalaksanaan nyeri yang ada yaitu dengan cara teknik relaksasi
progresif. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
kuantitatif dengan menggunakan desain quasi eksperimen. Teknik pengambilan
sampel dengan menggunakan teknik Accidental
sampling.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Nyeri
2.1.1.
Pengertian Nyeri
Nyeri merupakan suatu sensasi yang rumit, unik,
universal dan bersifat individual. Nyeri bersifat individual karena respon dari
individu terhadap sensasi nyeri berbeda antara satu dengan yang lain dan tidak
bisa disamakan satu dengan lainnya. Maka bagi perawat hal tersebut akan menjadi
dasar dalam mengatasi nyeri pada klien (Asmadi, 2009). Nyeri merupakan faktor
utama yang menghambat kemampuan dan keinginan individu untuk pulih dari suatu
penyakit (Potter & Perry, 2006:1502).
Mellzack dan Wall (1988) dalam Judha dkk. (2012) mengatakan bahwa nyeri
adalah pengalaman pribadi, subjektif, yang dipengaruhi oleh budaya, persepsi
seseorang, perhatian dan variabel-variabel psikologis lain, yang mengganggu
perilaku berkelanjutan dan memotivasi setiap orang untuk menghentikan rasa
tersebut.
2.1.2.
Sifat Nyeri
Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari sekedar
sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu (Potter & Perry,
2006: 1502). Nyeri adalah tanda peringatan tanda peringatan bahwa terjadi
kerusakan jaringan yang harus pertimbangan utama perawat saat mengkaji nyeri
(Andarmoyo, 2013: 18). Nyeri sangat bersifat subjektif dan individual dan bahwa
nyeri merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang menandakan adanya
masalah (Kozier, 2010: 689). Menurut Mc. Mahon (1994) menemukan empat atribut pasti untuk
pengalaman nyeri,
antar lain:
a.
Nyeri bersifat individu
b.
Tidak menyenangkan
c.
Merupakan satu kekuatan yang mendominasi
d.
Bersifat tidak berkesudahan
2.1.3.
Teori Pengontrolan Nyeri
Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965)
mengusulkan bahwa impuls nyeri dapat di atur atau dihambat oleh mekanisme
pertahanan di sepanjang saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri
dihantarkan saat sebuah pertahanan didibuka dan impuls dihambat saat sebuah
pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan tersebut merupakan dasar teori
menghilangkan nyeri. Suatu keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan
serabut desenden dari otak mengatur
proses pertahanan. Neuoron delta-A dan C melepaskan substansi P untuk
mentransmisi impuls melalui mekanisme pertahan. Selain itu, terdapat
mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang
melepaskan neuro transmitor penhambat. Apabila masukan yang dominan beasala
dari serabut beta-A, akan menutup mekanisme pertahanan. Mekanisme penutupan ini
diyakini dapat terlihat saat seorang perawat menggosok punggung klien dengan
lembut. Pesan yang dihasilkan akan menstimulsi mekanoreseptor, apabila masukan
yang dominan berasal dari serabut delta A dan serabut C maka akan membuka
pertahanan tersebut mempersepsikan sensasi
nyeri. Bahkan, jika impuls nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat korteks
yang lebih tinggi di otak yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden
melepaskan endogen, seperti endorphine
dan dinorfin, sautu pembunuh nyeri
alami yang berasal dari tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan
dengan menghambat pelepasan substansi P. Teknik distraksi, konseling dan
pemberian merupakan upaya untuk melepaskan endorphine
(Potter & Perry, 2006).
2.1.4.
Klasifikasi Nyeri Menurut Lokasi
Kalsifikasi
nyeri berdasarkan lokasinya menurut Potter dan Perry (2006) di bedakan sebagai berikut:
a.
Superficial atau Kutaneus Nyeri adalah
nyeri yang disebabkan stimulasi kulit. Karakteristik dari nyeri berlangsung
sebenta dan terlokalisasi. Nyeri biasanya terasa sebagai sensasi yang tajam.
Contohnya tertusuk jarum suntik dan luka potong kecil atau laserasi.
b. Viseral
Dalam
Nyeri dalam
adalah nyeri yang terjadi akibat stimulasi organ-organ internal. Karakteristik
nyeri bersifat difus dan dapat menyebar ke beberapa arah. Durasinya bervariasi
tetapi biasanya berlangsung lebih lama dari pada nyeri superficial. Pada nyeri
ini menimbulkan rasa tidak menyenangkan, dan berkaitan dengan mual dan
gejala-gejala otonom. Nyeri dapat terasa tajam, tumpul, atau unk tergantung
organ yang terlibat. Contoh sensasi pukul (crushing)
seperti angina pectoris dan sensasi terbakar seperti pada ulkus lambung.
c. Nyeri
Alih (Referred Pain)
Nyeri alih merupakan
fenomena umum dalam nyeri karena banyak organ tidak memiliki reseptor nyeri.
Jalan masuk neuron sensori dari organ yang terkena ke daam segmen medulla
spinalis sebagai neuron dari tempat asal nyeri dirasakan, persepsi nyeri
dirasakan, persepsi nyeri pada daerah yang tidak terkena. Karakteristik nyeri
dapat terasa di bagian tubuh yang terpisah dari sumber nyeri dan dapat terasa
dengan berbagai karakteristik.
d. Radiasi
Nyeri radiasi
merupakan sensasi nyeri yang meluas dari tempat awal cedera kebagian tubuh
lain. Karakteristiknya nyeri terasa seakan menyebar ke bagian tubuh bawah atau
sepanjang bagian tubuh. Nyeri dapat menjadi intermiten atau konstan.
2.1.5. Nyeri berdasarkan
tempatnya
a.
Pheriperal
pain, yaitu
nyeri yang terasa pada permukaan tubuh misalnya pada kulit, mukosa.
b.
Deep
pain, yaitu
nyeri yang terasa pada permukaan tubuh yang lebih dalam atau pada organ-organ
tubuh dalam.
c.
Refered
pain, yaitu
nyeri dalam yang disebabkan karena penyakit organ/struktur dalam tubuh yang
ditransmisikan ke bagian tubuh di daerah yang berbeda, bukan daerah asal
nyeri.
d.
Central
pain, yaitu
nyeri yang terjadi karena perangsangan pada saraf pusat, spinal cord, batang
otak, dan talamus.
2.1.6.
Nyeri berdasarkan sifatnya
a.
Incidental
pain, yaitu nyeri
yang timbul sewaktu-waktu lalu menghilang
b.
Steady
pain, yaitu nyeri yang
timbul dan menetap serta dirasakan dalam waktu yang lama.
c.
Poximal
pain, yaitu nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan
kuat sekali. Nyeri tersebut biasanya menetap kurang lebih 10-15, lalu
menghilang, kemudian timbul lagi. (Asmadi,2009).
2.1.7.
Nyeri berdasarkan Berat Ringannya
a.
Nyeri ringan, yaitu nyeri yaitu nyeri
dengan intensitas rendah.
b.
Nyeri sedang, yaitu nyeri yang
menimbulkan reaksi.
c.
Nyeri berat, yaitu nyeri dengan
intensitas yang tinggi (Asmadi 2009).
2.1.8.
Nyeri berdasarkan waktu yang lamanya serangan
a.
Nyeri akut, yaitu nyeri yang dirasakan
dalam waktu yang singkat dan berakhir kurang dari 6 bulan, sumber dan daerah
nyeri diketahui dengan jelas (Asmadi, 2009). Nyeri akut secara serius mengancam
proses penyembuhan klien, harus menjadi prioritas perawatan. Misalnya, nyeri pasca
operasi yang akut menghambat kemampuan klien untuk terlibat aktif dan
meningkatkan risiko komplikasi akibat imobilisasi (Potter & Perry,
2006:1510).
b.
Nyeri kronis, yaitu nyeri yang dirasakan
lebih dari 6 bulan. Nyeri kronis ini polanya beragam dan berlangsung
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun (Asmadi, 2009). Nyeri kronik berlangsung
lama, intensitas yang bervariasi, dan biasanya berlangsung lebih dari enam
bulan. Nyeri kronik disebabkan oleh kanker yang tidak terkontrol atau
pengobatan kanker tersebut, atau gangguan progresif lain, yang disebut nyeri
yang membandel atau nyeri maligna. Nyeri ini dapat berlangsung terus sampai
kematian. Nyeri non maligna, seperti nyeri punggung bagian bawah, merupakan
akibat dari cidera jaringan yang tidak sembuh atau yang tidak progresif. Akan
tetapi, nyeri tersebut berlangsung terus dan seringkali tidak berespon terhadap
pengobatan yang dilakukan. Seringkali penyebab nyeri non maligna tidak
diketahui. Daerah yang mengalami cidera mungkin telah memulih sejak lama, tetapi
nyeri menetap. Pada nyeri kronik, endorphin seringkali fungsinya berhenti.
Klien yang mengalami nyeri kronik seringkali mengalami periode remisi (gejala
hilang sebagian atau keseluruhan) dan eksaserbasi (keparahan meningkat). Sifat
nyeri kronik, yang tidak dapat di prediksi, membuat klien frustasi dan
seringkali mengarah pada depresi psikologis. Nyeri kronik merupakan penyebab
utama ketidakmampuan fisik dan psikologis sehingga muncul masalah-masalah,
seperti kehilangan pekerjaan, ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas
sehari-hari yang sederhana, disfungsi seksual, dan isolasi sosial dari keluarga
(Potter & Perry, 2006: 1510).
2.1.9.
Faktor Yang Mempengaruhi Respon Nyeri
McCaffery
dan Pasero (1999) dalam prasetyo (2010) menyatakan bahwa klienlah yang paling
mengerti dan memahami tentang nyeri yang dirasakan. Oleh karena itulah
ditetapkan klien sebagai expert tentang nyeri yang ia rasakan.
1. Usia
Anak yang masih kecil mempunyai
kesulitan memahami nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang menyebabkan
nyeri dan prosedur yang dilakukan perawat yang menyebabkan nyeri. Sebab, mereka
belum dapat mengucapkan kata-kata untuk mengungkapkan secara verbal dan
mengekspresikan nyeri kepada orang tua tau petugas kesehatan. Pada sebagian
anak, terkadang segan untuk mengungkapkan keberadaan nyeri yang ia alami di
sebabkan mereka takut akan tindakan perawatan yang harus mereka terima
nantinya.
Pada pasien
lansia, seorang perawat harus melakukan pengkajian secara lebih rinci ketika
seorang lansia melaporkan adanya nyeri. Pada kondisi lansia sering kali
memiliki sumber nyeri yang lebih dari satu. Terkadang penyakit yang berbeda
yang di derita lansia menimbulakan gejala yang sama, sebagai contoh nyeri dada
tidak selalu mengindikasikan serangan jantung. Nyeri dada dapat timbul karena
gejala arthtristis pada spinal dan gejala pada gangguan abdomen. Sebagian
lansia terkadang pasrah terhadapa apa yang mereka rasakan. Mereka mengaggap hal
tersebut merupakan konsekuensi penuaan yang tidak bisa dihindari.
Meskipun banyak lansia mencari
perawatan kesehatan karena nyeri, yang lainnya enggan untuk mencari bantuan
bahkan ketika mengalami nyeri hebat, karena mereka menganggap bahwa nyeri yang
dirasakan adalah bagian dari proses penuaan yang yang normal yang terjadi pada
setiap lansia. Diperkirakan 85% dewasa tua mempunyai sedikitanya satu masalah
kesehatan kronbis yan g dapat menyebabkan nyeri. Lansia cenderung untuk
mengabaikan nyeri dan menahan nyeri yang berat dalam waktu nyang lama sebelum
melaporkannya atau mencari perawatan kesehatan. Lansia yang lainnya tidak
mencari perawatan karena merasa takut nyeri tersebut menandakan penyakit yang
serius atau takut kehilangan kontrol (Smeltzer & Bare, 2002).
2. Jenis
Kelamin
Secara umum, pria dan
wanita tidak berbeda secara secara bermakna dalam berespons terhadap nyeri.
Diragukan apakah hanya jenis kelamin saja yang merupakan suatu faktor dalam
pengekspresian nyeri (Gill, 1990 dalam Potter & Perry, 2006).
3. Kebudayaan.
Keyakinan dan
nilai-nilai kebudayaan mempengaruhi cara individu mengatasi nyeri. Individu
mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang diterima oleh kebudayaan mereka. Hal ini
meliputi bagaimana bereaksi terhadap nyeri (Calvillo dan Flaskerud, 1991 dalam
Potter & Perry, 2006).
4. Makna
Nyeri
Makna seseorang yang
dikaitkan dengan nyeri mempengaruhi pengalaman nyeri dan cara seseorang
beradaptasi terhadap nyeri. Hal ini juga dikaitkan secara dekat dengan latar
belakang budaya individu tersebut. Individu akan mempresepsikan nyeri dengan
cara berbeda-beda, apabila nyeri tersebut memberi kesan ancaman, suatu
kehilangan, hukuman, dan tantangan (Perry & Potter, 2006).
5. Perhatian
Tingkat seseorang klien
memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat mempengaruhi persepsi nyeri.
Perhatian yang meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningksat, sedangkan
upaya pengalihan (distraksi) dihubungkan dengan respons nyeri yang menurun
(Gill, 1990 dalam Potter & Perry, 2006).
6.
Ansietas
Hubungan antara nyeri
dan ansietras bersifat kompleks. Ansietas sering kali meningkatkan persepsi
nyeri, tetapi nyeri juga dapat menimbulkan suatu perasaan ansietas. (Paice
(1992) dalam Potter & Perry (2006), melaporkan suatu bukti bahwa stimulus
nyeri mengaktifkan bagian sistem limbik
yang diyakini mengendalikan emosi seseorang, khususnya ansietas. Sistem limbic
dapat memproses reaksi emosi terhadap nyeri, yakni memperburuk atau
menghilangkan nyeri.
7. Keletihan
Keletihan/kelelahan
yang dirasakan seseorang akan meningkatkan persepsi nyeri. Rasa kelelahan akan
menyebabkan sensasi nyeri semakin intensif dan menurunkan kemampuan koping.
Apanila keletihan disertai kesulitan tidur, persepsi nyeri bahkan dapat terasa
lebih berat lagi
(Potter & Perry, 2006).
8. Pengalaman
Sebelumnya
Apabila individu sejak lama
sering mengalami serangkaian episode nyeri tanpa pernah sembuh atau menderita
nyeri yang berat maka ansietas atau bahkan rasa takut dapat muncul. Sebaliknya,
apabila individu mengalami nyeri dengan jenis yang sama berulang-ulang, tetapi
kemudian nyeri tersebut dengan berhasil dihilangkan, akan lebih mudah bagi
individu tersebut untuk menginterprestasikan sensasi nyeri akibatnya, klien kan
lebih siap untuk melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk
menghilangkan nyeri (Potter & Perry, 2005).
9. Gaya
Koping
Nyeri dapat menyebabkan
ketidakmampuan, baik sebagian maupun keseluruhan/total. Klien sering kali
menemukan berbagai cara untuk mengembangkan
koping terhadap efek fisik dan psikologis nyeri. Sumber-sumber koping terhadap
selama ia mengalami nyeri. Sumber-sumber seperti berkomunikasi dengan keluarga
pendukung melakukan latihan atau menyanyi dapat digunakan dalam rencana asuhan
keperawatan dalam upaya mendukung klien dan mengurangi nyeri sampai tingkat
tertentu (Potter
& Perry, 2006). Berikut ini
macam-macam metode yang digunakan:
1). Gaya Koping Positif
Merupakan gaya koping yang mampu mendukung integritas ego, berikut ini
adalah macam gaya koping :
a)
Problem solving
Merupakan
usaha untuk memecahkan suatu masalah. Masalah harus dihadapi dan dipecahkan,
dan bukan dihindari atau ditekan dialam bawah sadar, seakan – akan masalah itu
tidak berarti, pemecahan masalah ini digunakan seabagai cara untuk menghindari
tekanan atau beban psikologis akibat adanya stressor yang masuk dalam diri
seseorang.
b)
Utitizing sociat support
Merupakan
tindak lanjut dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi ketika masalah itu
belum terselaikan. Hal ini tidak lepas dari keterbatasan manusia dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi. Tidak semua orang mampu menysaikan
masalahnya sendiri. Hal ini terjadi karena ruminya masalah yang dihadapi. Untuk
itu sebagai makhluk sosial, bila seseorang mempunyai masalah yang tidak mampu
diselesaikannya sendiri, seharusnya tidak disimpan sendiri dalam pikiran nya,
namun carilah dukungan dari ornag lain yang dapat dipercaya dan mampu
memberikan bantuan dalam bentuk masukan dan saran dalam menyelesaikan masalah
yang dihadapi tersebut. Semakin banyak dukungan dari orang lain, maka semakin
efektif upaya penyelesaian masalahnya.
c)
Lookingfor siver lining
Kepelikan
masalah yang dihadapi terkadang akan membawa kebuntuan dalam upaya
menyelesaikan.
2). Gaya
Koping Negatif
Merupakan
gaya koping yang akan menurunkan integritas, ego, dimana penentuan cara koping
akan merusak dan merugikan dirinya sendri, yang terdiri yang diantaranya
sebagai berikut:
a)
Avoidance
Merupakan
bentuk dari proses internalisasi terhadap suatu pemecahan masalah dalam alam
bawah sadar dengan menghilangkan atau membebaskan diri dari suatu tekana mental
akibat dari masalah-masalah yang di hadapi.
b)
Self-blame
Merupakan
bentuk dari ketidakberdayaan atas
masalah yang dihadapi dengan menyalahkan dirinya sendiri tanpa evaluasi diri
yang optimal.
c).
Wishfull thinking
Kegagalan
dalam mencapai tujuan yang diindinkan seharusnya menjadikan seseorang berada pada kepedihan
yang mendalam.
10. Dukungan
Keluarga dan Sosial
Faktor lain yang
bermakna mempengaruhi respons nyeri ialah kehadiran orang-orang terdekat klien
dan bagaimana sikap mereka terhadap klien. Individu yang mengalami nyeri
seringkali bergantung pada anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh
dukungan, bantuan, atau perlindungan. Walaupun nyeri tetap dirasakan, kehadiran
orang yang dicintai klien akan menimbulkan kesepian dan ketakutan. Apabila
tidak ada keluarga atau teman, sering kali pengalaman nyeri membuat klien
semakin tertekan. Kehadiran orang tua sangat penting bagi anak-anak yang sedang
mengalami nyeri (Potter & perry, 2006).
2.1.10.
Penilaian Respon Intensitas Nyeri
Intensitas
nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan individu. Individu
merupakan penilai terbaik dari nyeri yang dialaminya dan karenanya harus
diminta untuk menggambarkan dan membuat tingkatannya (Smeltzer, et al. 2010).
Penggunaan skala intensitas nyeri adalah metode yang mudah dalam menentukan intensitas nyeri. Sebagian
skala menggunakan kisaran 0-10 dengan 0 menandakan “tanpa nyeri” dan angka
tertinggi menandakan “kemungkinan nyeri terburuk” untuk individu tersebut
(Kozier, et al. 2010).
Intensitas nyeri
merupakan gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu,
pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan individual serta kemungkinan
nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang
berbeda. Pengukuran nyeri dengan pendekatan subjektif yang paling mungkin
adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Namun,
pengukuran dengan teknik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang
nyeri itu sendiri (Tamsuri, 2007).
Penilaian intensitas
nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan skala sebagai berikut:
a. Numeric Rating
Scale (NRS)
Skala penilaian NRS lebih digunakan sebagai pengganti
alat deskripsi kata. Dalam hal ini, klien menilai nyeri dengan menggunakan
skala nyeri 0-10. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri
sebelum dan sesudah intervensi terapeutik. Apabila digunakan skala untuk
menilai nyeri, maka direkomendasikan patokan 10 cm (Potter & Potter, 2006).
Contoh, pasien post-appendiktomi hari pertama menunjukan skala nyerinya 9, setelah
dilakukan intervensi keperawatan, hari ketiga perawatan pasien menunjukan skala
nyerinya 4.
Gambar
1.1. Skala Nyeri NRS
(Sumber: Potter &
Perry, 2006)
b.
Verbal Descriptor Scale (VDS)
VDS
merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga tiga smapai lima kata
pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis.
Pendeskripsi ini di ranking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak
tertahankan”. Perawat menunjukan klien skala tersebut dan meminta klien untuk
memilih intensitas nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri
terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak
menyakitkan. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk
mendeskripsikan nyeri (Potter & Perry, 2006).
Gambar 1.2. Skala Nyeri VDS
(Sumber:
Potter & Perry, 2006)
c. Visual
Analogue Scale (VAS)
VAS
merupakan suatu garis lurus yang mewakili intensitas nyeri dan memiliki alat
keterangan verbal pada setiap ujungnya (Potter & Perry 2006). VAS
berbentuk garis horizontal sepanjang 10 cm, dan ujungnya mengindikasikan nyeri
yang berat. Pasien diminta untuk menunjuk titik pada garis yang menunjukkan
letak nyeri terjadi di sepanjang rentang tersebut. Ujung kiri biasanya
menandakan “tidak ada” atau “tidak nyeri”, sedangkan ujung kanan menandakan
“berat” atau “nyeri yang paling buruk”. Untuk menilai hasil, sebuah penggaris
diletakkan sepanjang garis dan jarak yang dibuat pasien pada garis dari “tidak
ada nyeri” diukur dan ditulis dalam sentimeter (Smeltzer, et al. 2010).
Gambar
1.3. Skala Nyeri VAS
Keterangan:
0 :
Tidak nyeri
1-3 : Nyeri ringan : secara
obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik
4-6 : Nyeri sedang: secara obyektif klien mendesis,
menyeringai, dapat menunjukan lokasi
nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik.
7-9 : Nyeri berat: secara obyektif tidak
dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukan
lokasi nyeri, tidak dapat mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih
posisi nafas panjang dan distraksi.
10 : Nyeri sangat berat: pasien sudah
tidak mampu lagi berkomunikasi, memukul.
(Potter & Perry, 2006).
2.1.11. Penilaian
Respons Intensitas Nyeri yang Dipilih
Penilaian
respon intensitas nyeri yang dipilih yaitu dengan menggunakan skala penilaian
NRS. Karena menurut Andarmoyo (2013:77) Skala numerik merupakan skal paling
efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan sesudah intervensi
terapeutik. Berdasarkan penilaian respon intensitas yang dipilih maka standar
operasional prosedur penilaian nyeri sebagai berikut:
a.
Peneliti
memperlihatkan lembar penilaian skala nyeri NRS kepada pasien
b.
Peneliti
menjelaskan makna karakteristik skala nyeri tersebut, yaitu sakala nyeri 0
menggambarkan kondisi klien tidak meraskan nyeri dan skala nyeri 10
menggambarkan kondidi klien yang merasakan nyeri hebat
c.
Peneliti
bertanya kepada pasein mengenai penglaman nyeri apa yang pernah dirasakan oleh
pasien (proses ini dilakukan sebagai perbandingan nyeri antara nyeri yang dulu
pernah dirasakan dengan nyeri sekarang yang dirasakan) dan Pasien
mempersepsikan sendiri berapa nilai skala nyeri yang ia rasakan saat ini.
2.2.
Sectio
Caesarea (SC)
2.2.1.
Pengertian Sectio Caesarea
Sectio Caesarea
adalah suatu pembedahan untuk melahirkan janin melalui insisi pada dinding
abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan melalui perut
dan dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan utuh dan
sehat (jitowiyono &
Kristiyanasari, 2010). Menurut
Mochtar, Sectio Caesarea (SC) adalah
suatu cara melahirkan janin dengan sayatan pada dinding uterus melalui dinding
depan perut (jitowiyono & Kristiyanasari, 2010).
2.2.2.
Indikasi Sectio Caesarea (SC)
Hal-hal yang
perlu dilakukan tindakan operasi Sectio Caesarea (SC) antara lain:
a. Pada
Ibu
Primigravida dengan kelainan letak,
disproporsi sefalo-pelvik (
ketidakseimbangan ukuran kepala dan panggul), riwayat kehamilan dan persalinan
yang buruk, kesempitan panggul, plasenta
previa, solutsio plasenta tingkat I – II, preeklamsia dan ekslamsia, atas permintaan, partus dengan komplikasi penyakit (jantung, DM), adanya kista
ovarium, mioma uteri dan sebagainya).
b. Pada
Anak
Gawat janin, mal
presentasi dan mal posisi kedudukan janin, prolapsus tali pusat dengan
pembukaan kecil, kegagalan persalinan vakum atau forcep ekstraksi (jitowiyono
& Kristiyanasari, 2010).
2.2.3.
Kontra indikasi Sectio Caesarea (SC)
Hal-hal
yang tidak boleh dilakukannya operasi Sectio Caesarea adalah sebagaiberikut:
a. Jika
janin mati atau dalam keadaan buruk
sehingga kemungkinan hidup kecil.
b. Jika
jalan lahir ibu mengalami infeksi yang luas dan fasilitas untuk Caesarea extraperitoneal tidak tersedia.
c. Jika
dokter bedahnya tidak berpengalaman, jika keadaannya tidak menguntungkan bagi
pembedahan, jika tidak tersedia tenaga asisten yang memadai (Oxorn dan Forte,
2010 dalam Dwi, 2014).
2.2.4.
Jenis-Jenis Operasi Sectio Caesarea
(SC)
a. Abdomen
(Sectio Caesarea Abdominalis)
1) Sectio Caesarea transperitonialis:
a). Sectio
caesarea klasik atau corporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri .
b). Sectio caesarea ismika atau profunda
atau low cervical dengan insisi pada segmen bawah rahim .
2) Sectio Caesarea
ekstraperitonealis, yaitu tanpa
membuka perietalis dengan demikian
tidak membuka kavum abdominal.
b.
Vagina (Sectio Caesarea Vaginalis)
Menurut
sayatan pada rahim, Sectio Caesarea
dapat dilakukan sebagai berikut:
1) Sayatan
memanjang (longitudinal) menurut
Kronig
2) Sayatan
melintang (transversal) menurut Kerr
3) Sayatan
huruf T (T-incision)
1.
Sectio
Caesarea klasik.
Dilakukan
dengan membuat sayatan memanjang pada
korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm
2.
Sectio
caesarea ismika (profunda)
Dilakukan dengan membuat sayatan
melintang-konkaf pada segmen bawah rahim kira-kira 10 cm.
(jitowiyono
& Kristiyanasari, 2010).
2.2.5.
Komplikasi Operasi Sectio Caesarea
(SC)
Kemungkinan yang timbul setelah
dilakukan operasi ini antara lain:
a. Infeksi
puerperal
1) Ringan;
dengan kenaikan suhu beberapa hari saja.
2)
Sedang; dengan kenaikan suhu yang lebih
tinggi, disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung.
3)
Berat; dengan peritonitis, sepsis dan
ileus paralitik. Hal ini sering kita jumpai pada partus terlantar, dimana
sebelumnya telah terjadi infeksi intrapartal karena ketuban yang telah pecah
terlalu lama.
b. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada
waktu pembedahan jika cabang arteri ikut terbuka, atau karena atonia arteri.
c. Luka
kandung kemih, emboli paru.
d. Kemungkinan
rupture uteri spontan pada kehamilan mendatang
(jitowiyono & Kristiyanasari,
2010).
2.2.6. Nyeri pada Ibu Post Operasi Sectio Caesarea (SC)
Permasalahan
yang biasanya muncul pasca operasi
Sectio Caesarea diantaranya, nyeri,
perdarahan, infeksi puerperal, cedera saluran kemih, kemungkinan rupture
uteri spontan pada kehamilan mendatang (jitowiyono & Kristiyanasari, 2010).
Banyak ibu sangat takut mengalami rasa takut persalinan pervagina sehingga
memilih persalinan Caesarea untuk
mengeluarkan bayinya. Menurut para ahli ini merupakan reaksi jujur dan wajar
serta sering dialami ibu yang baru pertama kali melahirkan. Biasanya rasa takut
semakin mencekam ketika tanggal persalinan semakin dekat. Sebagian besar yang
telah melahirkan, pada saat kontraksi mereka merasakan sakit yang luar biasa.
Apalagi proses pembukaan dari 1-10 berlangsung tidak sama setiap wanita.
Pembukaan yang cepat sekitar 1-2 jam, tetapi ada yang sampai 24-48 jam. Keadaan
tersebut yang sering menakutkan sebagaian wanita yang akan melahirkan sehingga
banyak yang memutuskan lebih baik melahirkan dengan operasi sectio caesarea (Sari, 2013).
Dari
hasil beberapa penelitian tentang melahirkan melaui operasi Sectio Caesarea
menunjukan bahwa melahirkan secara Sectio
Caesarea akan memerlukan waktu penyembuhan luka uterus/rahim yang lebih
lama dari pada persalinan normal. Selama luka belum benar-benar sembuh, rasa
nyeri bisa saja timbul pada luka tersebut. Bahkan menurut pengakuan para ibu
yang melahirkan bayinya menggunakan prosedur operasi, rasa nyeri memang kerap
terasa sampai beberapa hari setelah operasi (Maryunani, 2010).
Meskipun
ibu mendapat obat pereda rasa sakit terbaik di rumah sakit, tetapi rasa sakit,
tidak nyaman, dan kelelahan pasca operasi baru hilang selama 6 minggu.
Khususnya rasa sakit diderita dari daerah perut (Departemen Kesehatan RI,
2006). Menurut Townsend, yang menyatakan bahwa pasien pasca pembedahan Sectio Caesarea nyeri bersifat akut,
durasinya lama sampai beberapa hari. Sehingga membutuhkan penanganan yang segera mungkin, apabila tidak
ditangani segera maka pasien akan merasa kesakitan dan menggau aktivitas
(Potter & Perry, 2006).
Secara
teori nyeri yang dihasilkan dari operasi Sectio
Caesarea adalah akibat luka sayatan yang tentunya akan menembus kulit,
otot, rahim beserta seluruh persyarafan yang dilewatinya. Luka pada lapisan
organ tubuh yang berbeda akan menghasilkan nyeri yang berbeda (Sari, 2013). Nyeri
pada pasien pasca bedah Sectio Caesarea di
klasifikasikan menjadi , Nyeri ringan, yaitu nyeri dengan intensitas rendah,
nyeri sedang, yaitu nyeri yang menimbulkan reaksi, nyeri berat, yaitu nyeri
dengan intensitas yang tinggi (Asmadi 2009).
2.3.
Penatalaksanaan nyeri pasca Sectio
Caesarea (SC)
Dalam
upaya penanganan nyeri pasca Sectio
Caesarea perlu diadakan suatu langkah edukasi bagi para wanita dan calon
ibu untuk memiliki wawasan mengenai nyeri dalam persalinan dan memberikan
pengetahuan mengenai berbagai metode/teknik
terkini untuk mengatasi atau mengurangi rasa nyeri yang datang saat melahirkan.
Rasa takut dan stress yang dirasakan pasien maka akan terasa nyeri, sebaliknya
jika semakin tenang dan rileks kondisi
ibu maka nyeri akan semakin berkurang bahkan nyeri bisa sampai hilang. Adapun
cara yang dapat membantu meredakan nyeri dengan memberikan intervensi pereda
nyeri. Upaya untuk mangatasi nyeri pada ibu paca operasi sectio caesarea (SC) dapat dilakukan dengan menggunakan
pendekatan/menajemen farmakologi maupun non farmakologi (Andarmoyo, 2013).
Penatalaksanaa nyeri dengan farmakolgi yaitu dengan menggunakan obat- obat
analgetik non narkotik, dan adjuvant. Dengan non farmakologi yaitu dengan
bimbingan, antisipasi, terapi es dan panas/kompres dingin dan panas, distraksi,
relaksasi, imajinasi bimbingan, hypnosis, massase (Andarmoyo, 2013).
Meskipun
ibu mendapat obat pereda rasa sakit terbaik di rumah sakit, tetapi rasa sakit,
tidak nyaman, dan kelelahan pasca operasi baru hilang selama 6 minggu.
Khususnya rasa sakit diderita dari daerah perut (Departemen Kesehatan RI,
2006). Menurut Townsend, yang menyatakan bahwa pasien pasca pembedahan Sectio Caesarea nyeri bersifat akut,
durasinya lama sampai beberapa hari. Sehingga membutuhkan penanganan yang segera mungkin, apabila tidak
ditangani segera maka pasien akan merasa kesakitan dan menggau aktivitas
(Potter & Perry, 2006).
Memang
metode pengelolaan nyeri persalinan secara farmakologis lebih efektif
dibandingkan dengan metode non farmakologi namun metode farmakologi lebih mahal
dan berpotensi mempunyai efek yang kurang baik bagi ibu. Sedangkan metode non
farmakologi bersifat murah, mudah dan tanpa efek yang merugikan (Maryunani,
2010). Metode dan teknik yang dapat dilakukan dalam upaya untuk mengatasi nyeri
antara lain sebagai berikut:
1)
Distraksi
Distraksi merupakan metode
pengalihan perhatian klien ke hal lain dan dengan demikian menurunkan
kewaspadaan klien terhadap nyeri, bahkan meningkatkan toleransi terhadap nyeri
sehingga nyeri berkurang (Potter & Perry, 2006).
Teknik
distraksi yang dapat dilakukan diantaranya adalah:
a) Bernafas
lambat dan berirama secara teratur
b) Menyanyi
berirama dan menghitung ketukannya
c) Mendengarkan
musik
d) Mendorong
untuk mengahayal (guide imagery)
yaitu melakukan bimbingan yang baik kepda klien untuk mengahayal (Asmadi,
2010).
2) Hypnobirthing
Hipnosis adalah suatu proses sederhana agar diri kita berada pada kondisi
rileks, tenang dan berfokus guna mencapai suatu hasil atau tujuan. Hypnobirthing
merupakan metode relaksasi yang mendasarkan pada keyakinan bahwa ibu hamil bisa
mengalami persalinan melalui insting dan memberikan sugesti bahwa melahirkan
itu nikmat (Maryunani, 2010).
3) Akupuntur
Menurut Sukandar (2009), Akupuntur
merupakan suatu cara pengobatan dengan menusukan jarum pada titik-titik
tertentu di kulit untuk mengobati berbagai penyakit, telah dikenal sejak
4000-5000 tahun yang lalu. Akupuntur analgesia adalah akupuntur pada persalinan
yang bertujuan untu mengurangi nyeri, dimana cara analgesic dan pengaturan
fungsi fisiologik tubuh manusia dengan penusukan jarum (Maryunani, 2010).
4) Akupresur
Akupresur merupakan salah satu
teknik nonfarmakologi yang paling efektif dalam manajemen persalinan.
5) Massase
(pijatan).
Massase adalah melakukan tekanan
tangan pada jaringan lunak , biasanya otot, atau ligamenrum, tanpa menyebabkan
gerakan atau perubahan posisi sendi untuk meredakan nyeri, menghasilkan
relaksasi, dan memperbaiki sirkulasi (Maryunani,2010).
6) Teknik
relaksasi
Teknik relaksasi merupakan
kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stress. Teknik relaksasi
memberikan individu entati diri ketika terjadi rasa tidak nyaman atau nyeri,
stress fisik dan emosi pada nyeri.Teknik relaksasi dapat digunakan , saat
individu dalam keadaan sehat atau sakit. Teknik relaksasi dan imajinasi salah
satu teknik yang digunakan dalam menurunkan nyeri pada pasien, dalam penelitian
ini khususnya pada pasien pasca bedah. (Potter & Perry, 2006). Terapi relaksasi merupakan salah satu metode
manajemen nyeri non farmakologi dalam strategi penanggulangan nyeri, disamping
metode Tens (Transcutaneons Electeric
Nerve Stimulation), biofeedback, placebo
dan distraksi. Manajemen nyeri dengan melakukan teknik relaksasi merupakan
tindakan eksternal yang mempengaruhi respon internal individu terhadap nyeri.
Manajemen nyeri dengan tindakan relaksasi mencakup latihan pernafasan
diafragma, teknik relaksasi progresif, guided imagery, dan meditasi, beberapa
penelitian telak menunjukkan bahwa relaksasi nafas dalam sangat efektif dalam
menurunkan nyeri pasca operasi.
Teknik ini didasarkan kepada keyakinan bahwa tubuh
berespon pada ansietas yang merangsang pikiran karena nyeri atau kondisi
penyakitnya. Teknik relaksasi dapat menurunkan ketegangan fisiologis. Teknik
ini dapat dilakukan dengan kepala ditopang dalam posisi berbaring atau duduk di
kursi. Hal utama yang dibutuhkan dalam pelaksanaan teknik relaksasi adalah
klien dengan posisi yang nyaman, klien dengan pikiran yang beristirahat, dan
lingkungan yang tenang (Asmadi, 2009). Relaksasi dapat memberikan pengaruh
terhadap skala nyeri, didasarkan pada teori gate
control dimana menurut teori ini menjelaskan mekanisme tertutupnya
transmisi sinyal nyeri ke otak pada jaras system saraf pusat akan menurunkan
intensitas nyeri, nyeri yang terjadi pada seseorang akibat adanya rangsangan
tertentu seperti tindakan operasi, dapat di blok ketika terjadi interaksi
antara stimulus nyeri yang mengirimkan sensasi nyeri yang diblok pada susunan
saraf-saraf, pemblokan ini dapat dilakukan melalui mengalihkan perhatian
ataupun tindakan relaksasi. Dengan adanya relaksasi, maka impuls nyeri dari nervus trigeminus akan dihambat dan
mengakibatkan tertutupnya subtansia
gelatinosa di thalamus.
Tertutupnya subtansia gelatinosa di
thalamus mengakibatkan stimulasi yang menuju korteks serebri terhambat sehingga intensitas nyeri berkurang
(Potter & Perry, 2006). Teknik relaksasi meliputi meditasi, yoga, Zen,
teknik imajinasi, dan latihan relaksasi otot progresif (Potter & Perry,
2006).
2.4.
Teknik Relaksasi Otot Progresif
2.4.1. Pengertian Teknik Relaksasi
Otot Progresif
Teknik relaksasi
progresif adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menurunkan nyeri pada
pasien (Potter & Perry, 2006). Manajemen nyeri dengan tindakan relaksasi
mencakup latihan pernafasan diafragma, teknik relaksasi progresif, guided
imagery, dan meditasi, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa relaksasi
nafas dalam sangat efektif dalam menurunkan nyeri pasca operasi. Teknik ini
didasarkan kepada keyakinan bahwa tubuh berespon pada ansietas yang merangsang
pikiran karena nyeri atau kondisi penyakitnya. Teknik relaksasi dapat
menurunkan ketegangan fisiologis. Teknik ini dapat dilakukan dengan kepala
ditopang dalam posisi berbaring atau duduk di kursi. Hal utama yang dibutuhkan
dalam pelaksanaan teknik relaksasi adalah klien dengan posisi yang nyaman,
klien dengan pikiran yang beristirahat, dan lingkungan yang tenang (Asmadi,
2009).
Relaksasi
progresif pada seluruh tubuh memakan waktu sekitar 15 menit. Memperlihatkan
daerah ketegangan. Daerah yang tegang digantikan dengan rasa hangat dan
relaksasi. Latihan relaksasi progresif meliputi kombinasi latihan pernafasan
yang terkontrol dan rangkaian kontraksi serta relaksasi kelompok otot (Potter
& Perry, 2006).
2.4.2. Efek Teknik Relaksasi Otot
Progresif
Relaksasi dengan atau tanpa teknik imajinasi
menghilangkan nyei kepala, nyeri persalinan, antisipasi rangkaian nyeri akut
misalnya jarum suntik dan gangguan nyeri kronik (Potter & Perry, 2006).
Relaksasi memiliki beberapa efek antara lain:
a) Penurunan
nadi, tekanan darah, dan pernapasan
b) Penurunan
konsumsi oksigen
c) Penurunan
ketegangan otot
d) Penurunan
kecepatan metabolisme
e) Peningkatan
kesadaran global
f) Perasaan
damai dan sejahtera
(Potter
& Perry, 2006).
2.4.3. Indikasi
a)
Klien yang memiliki kemungkinan untuk
mengalami dan perlu mengembangkan koping dengan interval nyeri pasca operasi yang
lama
b)
Klien yang memperoleh manfaat dari upaya
menghindari atau mengurangi terapi obat
c)
Klien yang mengekspresikan kecemasan
atau ketakutan
d)
Klien merasa bahwa intervensi tersebut
menarik
e)
Klien yang masih merasakan nyeri setelah
menggunakan terapi nonfarmakologis (Potter & Perry, 2006).
2.4.4. Kontra Indikasi
Beberapa
hal yang dapat menjadi kontra indikasi latihan relaksasi otot progresif antara lain cidera akut atau
ketidaknyamanan musculoskeletal, infeksi atau inflamasi dan penyakit jantung
berat atau akut. Latihan relaksasi otot
progresif juga tidak dilakukan pada
bagian otot yamg sakit.
2.4.5. Karakteristik
Pasien
Pasien yang dapat diberikan relaksasi otot progresif pada pasien gangguan fisik nyeri adalah:
a) Bersedia
jadi responden
b) Pasien
dengan gangguan fisik nyeri sedang dan berat
c) Tidak
mengalami penurunan kesadaran
d) Fungsi
pendengaran baik
e) Tidak
mengalami ketidaknyamanan musculoskeletal
seperti:
1. Tidak
mengalami infeksi atau inflamasi pada musculoskeletal
2. Tidak
mengalami trauma pada leher dan kepala
3. Tidak
mengalami penyakit jantung berat dan akut
4. Tidak
mengalami fraktur/trauma tulang.
2.4.6. Teknik Pelaksanaan Terapi Relaksasi
Otot Progresif
Relaksasi otot progresif merupakan
kontraksi dan relaksasi kelompok otot mulai dari kaki atas atau dari kepala kearah bawah.
Pelasanaan terapi ini diberikan 2 kali selama 15 menit setiap kali tindakan,
tindakan pertama dan kedua berselang 30 menit. Setiap gerakan yang dilakukan
dalam terapi relaksasi otot progresif ini dilakukan sesuai kemampuan pasien
sehingga klien tidak akan merasakan nyeri pada saat menegangkan otot. Adapun
rangkaian tindakannya yaitu Pasien berbaring
dengan posisi yang nyaman, lalu Meminta pasien untuk
menarik napas dalam dan menghembuskan napas dengan panjang secara perlahan dan
rasakan relaksasinya. Tegangkan dan kencangkan kepalan tangan
kanan anda dan fokuskan perasaan anda
pada tegangan saat melakukannya. Tegangkan
dan kencangkan kepalan tangan kanan anda
dan fokuskan perasaan anda pada tegangan saat
melakukannya. Tegangkan dan kencangkan kepalan tangan kanan anda dan fokuskan perasaan anda pada tegangan
saat melakukannya. Tegangkan dan
kencangkan kepalan tangan kanan anda dan
fokuskan perasaan anda pada tegangan saat
melakukannya. Buka kepalan secara perlahan, biarkan otot pada kepalan
tangan kanan lemas hingga anda merasakan
rileks dan nyaman.
Meminta kembali pasien untuk menarik napas dalam dan menghembuskan napas dengan
panjang secara perlahan dan rasakan relaksasinya. Lakukan hal
yang sama dan dengan cara yang sama pada tangan kiri atau pada tangan
sebelahnya. Lakukan hal yang sama dan dengan cara yang sama pada tangan kiri
atau pada tangan sebelahnya.
Meminta kembali pasien untuk menarik napas dalam dan menghembuskan napas dengan
panjang secara perlahan dan rasakan relaksasinya. Sekarang
tegangkan dan kepalkan kedua tangan, kemudian buka kepalan secara perlahan,
kemudian fokus dan nikmati perasaan relaksasi tersebut. Meminta kembali pasien untuk
menarik napas dalam dan menghembuskan napas dengan panjang secara perlahan dan
rasakan relaksasinya. Kencangkan dan relakskan tiap kelompok
otot tubuh seperti: jari kaki,
pergelangan kaki, bokong dan lipat paha, otot dada dan dahi, otot rahang. Lakukan
napas dalam bersamaan dengan relaksasi progresif. Sembari melemaskan otot anda,
tarik napas dalam, kirimkan napas tersebut ke kepalan tangan atau kelompok otot
lain dan hembuskan napas secara perlahan hingga anda merasa nyaman (Kozier,
2011).
Adapun Posisi tubuh untuk melakukan teknik relaksasi
adalah sebagai berikut:
a. Duduk
1. Duduk
dengan seluruh punggung bersandar pada kursi
2. Letakkan
kaki datar pada lantai
3. Letakkan
kaki terpisah satu sama lain
4. Gantungkan
lengan pada sesi atau letakkan pada lengan kursi
5. Pertahankan
kepala sejajar dengan tulang belakang
b. Bebaring
1. Letakkan
kaki terpisah satu sama lain dengan jari-jari kaki agak meregang lurus kearah
luar
2. Letakkan
lengan pada sisi tanpa menyentuh sisi tubuh
3. Pertahankan
kepala posisi sejajar dengan tulang belakang
4.
Gunakan bantal yang tipis dan kecil di
bawah kepala
(Potter & Perry, 2006).
2.5.
Penelitian Terkait
Menurut Penelitian Andika Sandi (2015) dengan judul
Perbedaan Intensitas Nyeri Setelah Dilakukan Tindakan Teknik Distraksi dan
Relaksasi Pasien Post Sectio Caesarea
di Ruang Delima RSUD Dr. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian Comparative. Menggunakan teknik Accidental
Sampling dengan besar sampel berjumlah 26 responden. Hasil penelitian
menunjukan bahwa nilai rata-rata intensitas nyeri terhadap responden setelah
dilakukan teknik distraksi sebesar 2.69 dan setelah dilakukan teknik relaksasi
sebesar 4.69 dengan nilai p value =0,00 <α =0,05 yang menunjukan bahwa ada
perbedaan intensitas nyeri setelah melakukan teknik distraksi dan relaksasi di
Ruang Delima RSUD Dr. H. Abdul moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan yang
meneliti mengenai pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap nyeri pada
psien pasca operasi section caesarea di
RSUD Djojonegoro Temanggung dengan menggunakan penelitan eksperimen dengan
metode kuesioner pre test-post test kepada
26 informan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan tenggapan
informanmengenai efektivitas tindakan relaksasi nafas dalam untuk menurunkan
tindakan skala nyeri, yang memberi jawaban efektive adalah 14 orang atau
53,85%, efektivitas sadang adalah sebanyak 8 orang atau 30,77% dan tidak
efektif sebanyak 4 orang atau 15,38%. Hal ini juga menunjukkan adanya
efektivitas teknik relaksasi nafas dalam mengurangi nyeri yang signifikan atau p=<0.05 (Sari, 2013).
2.6.
Kerangka Teori
Indikasi Sectio Caesarea Faktor yang
mempengaruhi nyeri
1.
Faktor
ibu 1.
Usia 5. Ansietas
-
Panggul
sempit. 2.
Kebudayaan 6.
Dukungan
-
Disproporsi
3.
Keletihan 7. Pengalaman
Sefalopelvik 4. Gaya
koping sebelumnya
-
Ruptura
uteri 8.
Perhatian
mengancam.
-
Partus
lama
(prolonged labor) Tindakan Sectio Nyeri post
SC
-
Partus
takmaju Caesarea
(obstructed
labor).
-
Distosia
seviks.
-
Pre-eklamsi
dan Terapi Terapi
hipertensi. Farmakologi Nonfarmakologi
2.
Faktor janin
Malpresentasi janin: Obat
analgesik 1.
Bimbingan
-
letak lintang non
narkotika antisipasi
-
letak
bokong dan NSAID, 2. Terapi es dan panas
-
primigravida opiat dan obat (kompres es dan panas)
-
janin
besar tambahan 3. TENS
-
-
presentasi dahi adjuvant 4. Distraksi
dan muka (letak
defleksi) 5.
Imajinasi
-
Gemeli terbimbing
-
gawat
janin. 6.
Hipnosis
-
Plasenta
previa Intensitas 7. Akupuntur
Sentralis Nyeri
dan lateralis 8.
Masase
(posterior). 10.Relaksasi
Relaksasi
Otot Progresif
Gambar 4.1.
Kerangka teori
(Sumber: Suyanto; Potter &Perry, 2006;
Andarmoyo, 2013)
2.7.
Kerangka Konsep
Kerangka
konsep penelitian adalah suatu uraian dan visualisasi hubungan atau kaitan
antara konsep satu terhadap konsep lainnya, atau antara variabel yang satu
dengan variabel lain dari masalah yang akan diteliti (Notoatmodjo, 2010). Kerangka
konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep
yang ingin diamati atau di ukur melalui penelitian yang akan dilakukan.
Kerangka konsep ini dikembangkan atau diacukan kepada tujuan penelitian yang
telah dirumuskan, serta didasari oleh kerangka teori yang telah disajikan dalam
tinjauan kepustakaan sebelumnya (Notoatmodjo, 2010).
Berdasarkan
kerangka teori diatas maka peneliti mengambil variabel yang diteliti adalah
Intensitas nyeri pada tindakan teknik relaksasi progresif. Kemudian dapat
digambarkan kerangka konsep penelitian sebagai berikut:
|
Nyeri
pasien post SC
sebelum
intervensi
|
|
Teknik relaksasi otot progresif
|
|
Intensitas nyeri post intervensi
relaksasi
|
Gambar 5.1.
Kerangka konsep
2.8.
Hipotesis
Hipotesa Alternatif (Ha). Ada pengaruh
rata-rata intensitas nyeri pada pasien post SC yang sudah dilakukan tindakan
teknik relaksasi otot progresif di Ruang Delima RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1.
Jenis Penelitian
Jenis
penelitian yang telah digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kuantitatif,
pada jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deduktif, logik, empiris dan
dapat diukur. Metode ini bersifat formal, objektif, sistematis dan menggunakan
data numerik untuk mendapatkan informasi yang berupa data (Suyanto, 2011).
3.2.
Desain dan Rancangan Penelitian
Desain
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kuasi
eksperimen, metode ini bertujuan menjelaskan atau mengklarifikasi terjadinya
sebuah hubungan dan menjelaskan hubungan sebab sehingga dapat dijadikan sebagai
dasar memprediksi suatu fenomena (Suyanto, 2011). Sedangkan desain kuasi
eksperimen yang digunakan adalah desain one group pre-post test, rancangan ini
tidak ada kelompok pembanding (kontrol), tetapi paling tidak sudah dilakukan
observasi pertama (pretest) untuk menguji perubahan-perubahan yang terjadi
setelah adanya eksperimen (program) (Notoatmodjo, 2010).
3.3.
Subyek Penelitian
3.3.1.
Populasi penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek
penelitian atau objek yang diteliti tersebut (Notoatmodjo, 2010). Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2011:80). Populasi
dalam penelitian ini adalah ibu post SC <
6 jam pasca operasi di ruang Delima RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.
Jumlah pasien pasca operasi Sectio
Caesarea (SC) selama tahun 2016 di
ruang delima yaitu terdapat 304 orang.
3.3.2.
Sampel penelitian
Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Sampel adalah bagian dari jumlah
dan karakterik yang dimiliki oleh suatu populasi tersebut (Sugiyono, 2011).
Adapun
kriteria responden dalam penelitian ini sebagai berikut :
a. Kriteria
Inklusi
1. Pasien
telah bersedia menjadi responden
2. Pasien
telah dilakukan operasi Sectio Caesarea
< 6 jam pasca operasi
3. Pasien
dalam kesadaran penuh dan dapat berkomunikasi dengan baik.
4. Pasien
telah menandatangani informed consent
b. Kriteria
Ekslusi
1.
Pasien yang telah dilakukan operasi Sectio Caesarea >6
jam pasca operasi
2.
Pasien yang mengalami penurunan
kesadaran
3.3.3.
Besar Sampel dan Teknik Sampling
Besar
sampel dalam penelitian adalah dengan menggunakan ukuran sampel minimum yang
layak dalam penelitian yaitu sebanyak 30 sampel
(Sugiyono,
2011). Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik Accidental sampling, yaitu Pengambilan
data yang didasarkan pada suatu pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti
sendiri, berdasarkan ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui
sebelumnya (Notoatmodjo, 2010).
3.4.
Variabel penelitian
Peneliti menggunakan dua variabel yaitu :
1. Variabel
independen : Terapi relaksasi progresif
2. Variabel
dependen : Nyeri pasca operasi Sectio Caesarea
3.5.
Definisi operasional variabel
Dalam
membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diteliti, maka
variabel-variabel tersebut diberi definisi operasiaonal. Definisi operasional
ini bermanfaat untuk mengarahkan kepada
pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan serta
pengembangan instrument (alat ukur)
(Notoatmodjo, 2010). Variabel adalah suatu sifat atau nilai dari obyek
atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012).
Tabel 1.1.
Definisi Operasional
|
No
|
Variabel
|
Definisi
operasional
|
Cara
ukur
|
Alat
ukur
|
Hasil
ukur
|
Skala
data
|
|
1.
|
Dependen
nyeri post operasi Sectio Caesarea
|
Rasa
nyeri yang dialami oleh responden di daerah luka setelah operasi SC dengan
rentang skala nyeri 1-10.
|
Mengukur
skala nyeri
|
Lembar
chek list (NRS)
|
Rata-rata
skala nyeri antara 0-10
|
Ratio
|
|
2.
|
Independen
Terapi
relaksasi progresif
|
Terapi
relaksasi dengan gerakan mengencangkan dan melemaskan otot-otot pada beberapa
bagian tubuh tertentu.
|
Observasi
|
Lembar
panduan teknik relaksasi progresif
|
|
|
(Potter & Perry, 2006).
4.6.
Pengumpulan
data
3.6.1. Instrumen pengumpulan data
Instrumen atau alat yang digunakan dalam pengumpulan
data ini adalah lembar NRS dengan menggunakan skala nyeri 0-10 dan lembar
observasi untuk variabel nyeri pasca operasi Sectio Caesarea. Alat pengumpulan data dilakukan dengan cara
pengisian lembar instrumen test mengenai
pengaruh terapi relaksasi progresif terhadap penurunan nyeri post operasi
Sectio Caesarea di ruang Delima RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung.
3.6.2. Alat dan bahan penelitian
Alat pengumpul data adalah macam-macam alat yang
akan digunakan untuk mengumpulkan data (Notoatmodjo, 2010). Alat yang digunakan
dalam penelitian ini adalah lembar NRS
dengan menggunakan skala nyeri 0-10 dan lembar observasi.
3.6.3. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang
paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah
mendapatkan data (Notoatmodjo, 2010). Secara umum pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah dengan cara mengukur tingkat nyeri sebelum dilakukan dan setelah
itu dilakukan teknik relaksasi progresif, kemudian ukur kembali tingkat nyeri
setelah di lakukan teknik relaksasi progresif.
3.7.
Tahapan
pelaksanaan penelitian
Adapun
langkah-langkah tahapan pelaksanaan dalam penelitian ini menggunakan 3 fase
yaitu fase pre intervensi, intervensi, dan post intervensi.
3.7.1.
Fase
pre intervensi
a. Memilih
pasien post operasi Sectio Caesarea
(SC) <6 jam setelah operasi dan
lakukan prosedur dengan cara one (pasien) by one (perawat).
b. Dijelaskan
tujuan dan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga.
c. Disiapkan
peralatan: Lembar observasi, Lembar informed
consent, Lembar NRS untuk observasi intensitas nyeri.
d. Pasien
mengisi informed concent.
e. Diusahakan
pasien tetap rileks dan tenang.
f. Diukur
intensitas nyeri pasien yang saat ini dirasakan dengan menggunakan SOP
penilaian nyeri.
3.7.2.
Fase
Intervensi
a.
Peneliti melakukan pretest dengan memberikan responden lembar numerical rating scale (NRS).
b. Peneliti
memperlihatkan dan menjelaskan lembar skala NRS 0-10 kepada klien, yaitu skala
nyeri 0 menggambarkan kondisi klien tidak merasakan nyeri, skala 1 nyeri ringan seperti gatal,
tersetrum/nyut-nyut ,skala 2 nyeri ringan seperti melilit atau terpukul, skala
3 nyeri ringan seperti perih, skala 4: Nyeri sedang seperti keram, skala 5
nyeri sedang seperti tertekan atau tergesek, skala 6 nyeri sedang seperti terbakar, ditusuk-tusuk
atau disayat-sayat, skala 7-9 nyeri berat
sangat nyeri tetapi dapat dikontrol oleh klien dengan aktivitas yang
biasa dilakukan, skala 10 sangat nyeri dan tidak dapat dikontrol oleh klien
c. Peneliti
bertanya kepada klien mengenai pengalaman nyeri apa yang pernah dirasakan oleh
klien dan tanyakan berapa intensitas nyeri yang dirasakan saat ini
d. Catat
di lembar observasi intensitas nyeri sebelum dilakukan intervensi
e. Dilakukan
intervensi pada pasien dengan melakukan teknik relaksasi otot progresif sesuai
dengan prosedur
f. Setelah
pasien berhenti melakukan relaksasi otot progresif langsung ukur intensitas
nyeri klien dengan memberikan lembar skala nyeri kepada pasien.
g. Dicatat
kembali di lembar observasi intensitas nyeri setelah dilakukan intervensi.
3.7.3.
Fase
post intervensi
a. Peneliti
mengevaluasi intensitas nyeri yang
dirasakan oleh pasien menggunakan lembar NRS
b. Melakukan
kontrak selanjutnya untuk diberikan terapi relaksasi progresif Sectio Caesarea yang dilakukan teknik
relaksasi otot progresif
3.8.
Etika
Penelitian
Peneliti
mengurus surat izin dari institusi Poltekkes Prodi Keperawatan Tanjung karang
kepada kepala pimpinan RSUD Dr. Hi. Abdul Moeloek Provinsi Lampung, lalu
peneliti meminta persetujuan kepada responden dengan mengisi Informed Consent.
3.9.
Pengolahan
data
3.9.1.
Tahap
pengolahan data
Menurut
Notoatmodjo (2010), proses pengolahan data instrumen test akan melalui tahapan
sebagai berikut:
1. Editing
(Penyuntingan)
Dilakukan
pengecekan dan perbaikan isian instrumen test sehingga jawaban di instrumen test sudah lengkap,
jelas, relevan dan konsisten.
2. Coding
(Pemberian Code)
Semua kuesioner diedit atau
disunting, selanjutnya dilakukan pengkodean atau coding, yaitu data diubah dari
bentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Pada proses
pengkodean variabel teknik relaksasi progresif, yaitu 1 = Belum dilakukan
intervensi, dan 2 = Sudah dilakukan intervensi. Sedangkan pada variabel
intensitas nyeri pasien post operasi Sectio
Caesarea, yaitu 1 = Skala nyeri sebelum dilakukan intervensi, dan 2 = Skala
nyeri setelah dilakukan intervensi
3. Entry
Data (Memasukkan Data)
Data dimasukan dalam bentuk kode
(angka atau huruf) kedalam program sofware
komputer. Setelah selesai dilakukan pengkodingan pada lembar jawaban responden
data kemudian di entry kedalam
program komputer sesuai pengkodingan sebelumnya.
4. Cleaning
(Pembersihan Data)
Yang terakhir, peneliti telah
mengecek kembali data yang telah dientry valid atau tidak, ternyata data
valid dan tidak terdapat missing pada data yang telah di entry, kemudian data dilakukan analisis.
3.9.2. Analisis data
Analisis
data dilakukan untuk menjawab dan membuktikan diterima atau ditolak hipotesa
yang telah ditetapkan. Lazimnya langkah pertama analisis data adalah melakukan
analisis deskriptif atau disebut juga univariat atau analisis sederhana,
kemudian diikuti analisis bivariat Analisis Univariat.
a. Analisa
Univariat
Analisis Univariat bertujuan untuk
menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada
umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan
presentase dari tiap variabel (Notoatmodjo, 2010). Penelitian ini dilakukan
analisis untuk mengetahui mean, median,
modus, dan standar deviasi pada intensitas nyeri setelah dilakukan tindakan
teknik relaksasi otot progeresif.
b.
Analisis Bivariat
Analisis
Bivariat dilakukan untuk mengetahui pengaruh intensitas nyeri sebelum dan
setelah dilakukan teknik relaksasi progresif. Dalam penelitian ini untuk
menguji validitas item dan komparatif antar faktor digunakan uji t dependen.
Berdasarkan
hasil perhitungan statistik dapat dilihat kemaknaan pengaruh antara dua
variabel, yaitu:
1. Probalitas
(p-value) < a (0.05) artinya bermakna atau
signifikan, yaitu ada pengaruh yang bermakna antara variabel independen dengan
variabel dependent atau hipotesis (Ho) ditolak.
2. Probalitas (p-value)
>a (0.05) artinya tidak bermakna
atau signifikan, yaitu tidak ada pengaruh yang bermakna antara variabel
independen dengan variabel dependent atau hipotesis (Ho) diterima.
BAB
IV
HASIL
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian
4.1.1.
Gambaran
Umum RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
a.
Sejarah
Singkat Berdirinya RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
RSUD
Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung didirikan tahun 1914 sebagai Rumah Sakit
Perkebunan Pemerintah Hindia Belanda untuk merawat buruh perkebunannya.
Kepemilikan Rumah Sakit ini terus berubah sejalan dengan perubahan pemerintah,
sejak tahun 1942 - 1945 nama rumah sakit dirubah menjadi Rumah Sakit Tentara
Jepang. Kemudian pada tahun 1945 – 1950 sebagai RSU yang dikelola oleh
Pemerintah Pusat RI. Lalu pada tahun 1950 – 1964 sebagai RSU yang diambil alih
oleh Pemerintah Daerah Sumatera Selatan. Namun pada tahun 1964-1965 rumah sakit
umum diambil alih lagi oleh Kodya Tanjungkarang dan pada 1965-sekarang rumah
sakit umum akhirnya menjadi RSUD Pemerintah Daerah Provinsi Lampung. RSUD Dr.
H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung memiliki letak yang strategis, dengan luas tanah 81.486 m² dan
luas bangunannya 39.043 m².
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung adalah Rumah Sakit milik Pemerintah Provinsi Lampung dan merupakan
Rumah Sakit Rujukan Tertinggi di Provinsi Lampung. Pada tahun 2008, RSUD Dr. H.
Abdul Moeloek Provinsi Lampung ditetapkan menjadi Rumah Sakit Tipe B Pendidikan
berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI no. HK.03.05/I/2603/08 tentang Penetapan
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek sebagai Rumah Sakit Pendidikan.
b.
Struktur Organisasi
RSUD
Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung mempunyai tugas pokok dalam melaksanakan
tugasnya, yaitu melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah
dibidang layanan rumah sakit, tugas dekonsentrasi, dan tugas pembantuan yang
diberikan pemerintah kepada Gubernur serta tugas lain sesuai dengan kebijakan
yang ditetapkan oleh Gubernur berdasarkan peraturan perundang – undangan yang
berlaku (Perda Provinsi Lampung No. 12 Tahun 2009 pasal 29 ayat 1) tentang
Organisasi dan Tata Kerja RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. (Struktur organisasi terlampir)
1. Visi, Misi, dan Motto RSUD Dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung
a)
Visi
Visi RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
adalah Rumah Sakit Profesional Kebanggaan Masyarakat Lampung.
b)
Misi
1)
Misi
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung adalah :
2)
Memberikan pelayanan prima disegala bidang
pelayanan rumah sakit
3) Menyelenggarakan
dan mengembangkan pusat-pusat pelayanan
unggulan
4)
Membentuk sumber daya manusia professional
bidang kesehatan
5)
Menjadikan pusat penelitian bidang kesehatan
c)
Motto
Motto
RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung adalah ASRI (Aktif, Segera, Ramah
dan Inovatif
2.
Kapasitas
dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang dimiliki
Fasilitas
pelayanan kesehatan yang dimiliki oleh RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung berdasarkan Surat Keputusan Direktur RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung Nomor 800/139/1.3/I/2008 tanggal 14 Januari 2008 tentang Relokasi
Tempat Tidur di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung, maka kapasitas
ditetapkan menjadi 600 tempat tidur, yang terdistribusi sebagai berikut:
Fasilitas Pelayanan RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung:
a)
Instalasi
Gawat Darurat
b)
Instalasi Rawat Jalan
c)
Instalasi
Rawat Inap
d)
Instalasi
Bedah sentral
e)
Instalasi
radiologi
f)
Instalasi
patologi klinik
g)
Instalasi
patologi anatomi
h)
Bank
darah
i)
Instalasi intensif terpadu (ICU, ICCU, PICU)
j)
Pelayanan perinatologi
k)
Instalasi rehabilitasi medik
l)
Instalasi farmasi
m)
Instalasi gizi
n)
Instalasi laundry dan kamar jenazah
o)
Instalasi sanitasi
p)
Instalasi penunjang pemeliharaan sarana rumah
sakit (IPSRS)
q)
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat)
r)
Sistem informasi manajemen (SIM)
4.2.
Hasil Penelitian
Berdasarkan
hasil analisis data tentang pengaruh intensitas nyeri setelah dilakukan
tindakan teknik relaksasi progresif pada pasien post sectio caesarea (SC) di Ruang Delima RSUD Dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung tahun 2017 Peneliti sajikan data karakteristik
responden,analisa univariat, dan analisis bivariat sebagai berikut
4.2.1. Karakteristik Responden
a. Usia
Data penelitian mengenai usia responden dikategorikan
menjadi 3 tingkat yaitu 17-25 tahun, 26-35 tahun, dan 36-45 tahun.
Tabel 1.2
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden
Berdasarkan Umur di Ruang Delima RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
Tahun 2017
|
Umur
|
|
Intensitas
Nyeri
|
|
Frekuensi
|
Presentasi
|
|
|
|
Ringan
|
Sedang
|
Berat
|
|
|
|
|
17-25
|
-
|
6
|
2
|
8
|
27
|
|
|
26-35
|
2
|
15
|
-
|
17
|
57
|
|
|
36-45
|
1
|
4
|
-
|
5
|
16
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
30
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 1.2 dapat diperoleh bahwa umur responden yang
terbanyak yaitu pada rentang umur antara 26-35 tahun sebanyak 17 orang dengan
presentasi 57.
4.2.2. Riwayat SC
Data penelitian mengenai riwayat SC yang
pernah dialami responden dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu melakukan
relaksasi progresif dengan pertama kali SC, dan melakukan relaksasi progresif
dengan lebih dari satu kali SC.
Tabel 1.3
Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden
Berdasarkan Riwayat SC Di Ruang Delima RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung Tahun 2017
|
Riwayat SC
|
|
Nyeri
|
|
Frekuensi
|
Presentasi
|
|
|
|
Ringan
|
Sedang
|
Berat
|
|
|
|
|
Relaksasi dengan pertama kali SC
|
3
|
21
|
2
|
26
|
87
|
|
|
Relaksasi dengan lebih dari satu kali SC
|
1
|
3
|
-
|
4
|
13
|
|
|
|
|
Jumlah
|
|
30
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 1.3 dapat diketahui riwayat SC pada
responden sebagian besar merupakan responden relaksasi dengan pertama kali SC
yaitu sebanyak 26 responden dengan persentase 87.
4.3.
Analisis Univariat
Hasil penelitian dari
analisis univariat mengenai perbedaan intensitas nyeri setelah dilakukan
tindakan teknik relaksasi progresif di Ruang Delima RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung tahun 2017 dikategorikan sebagai berikut:
Tabel 1.4
Distribusi Frekuensi Rata-Rata
Intensitas Nyeri di Ruang Delima RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
Tahun 2017
|
Variabel
|
Jumlah
|
Mean
|
Standar deviasi
|
Median
|
Nilai minimum
|
Nilai maksimum
|
|
Intensitas nyeri pre relaksasi
|
30
|
6,67
|
0,88
|
7,00
|
5
|
8
|
|
Intensitas nyeri post relaksasi
|
30
|
4,97
|
1,09
|
5,00
|
3
|
7
|
Berdasarkan table 1.4 didapatkan data intensitas nyeri
sebelum dilakukan tindakan teknik relaksasi dengan hasil mean 6,67, standar deviasi 0,88, median 7,00, nilai minimum 5, dan
nilai maksimum 8. Sedangakn data intensitas nyeri setelah dilakukan tindakan teknik
relaksasi dengan hasil mean 4,97,
standar deviasi 1,09, median 5,00, nilai minimum 3, dan nilai maksimum 7.
4.4.
Analisis Bivariat
Analisa bivariat pada penelitian ini didapatkan hasil sebagai
berikut:
Tabel 1.5
Distribusi frekuensi intensitas nyeri
responden sebelum melakukan tindakan teknik relaksasi dan setelah melakukan tindakan teknik relaksasi di Ruang
Delima RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2017
|
Variabel
|
Mean
|
N
|
Standar deviasi
|
Standar Error
|
Ρ value (0,05)
|
|
Intensitas nyeri pre relaksasi
|
6,67
|
30
|
0,88
|
0,16
|
0,00
|
|
Intensitas nyeri post relaksasi
|
4,97
|
30
|
1,09
|
0,20
|
|
Berdasarkan tabel 1.5 didapatkan hasil statistik dengan Ρ value (0,00) < α (0,05) yang berarti Ho ditolak. Hal ini
menunjukan ada perbedaan bermakna antara intensitas nyeri responden sebelum
melakukan teknik relaksasi dan intensitas nyeri responden setelah melakukan
teknik relaksasi.
4.5.
Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil statistik didapatkan nilai Ρ value (0,00)
< α (0,05) yang berarti Ho ditolak. Hal ini menunjukan ada perbedaan
bermakna antara intensitas nyeri responden sebelum melakukan teknik relaksasi
progresif dan intensitas nyeri responden setelah melakukan teknik relaksasi
progresif pada pasien post SC di Ruang Delima RSUD. Dr. H. Abdul Moeloek
Provinsi Lampung Tahun 2017.
Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri
yang dibahas dalam penelitian ini yaitu umur dan Riwayat SC. Depkes RI (2015)
mengkategorikan umur menjadi 9 kelompok umur. Adapun yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu masa remaja akhir dengan rentang umur 17-25 tahun, masa
dewasa awal 26-35 tahun, dan masa dewasa akhir 36-45 tahun. Pada tabel 1.2
menunjukan hasil bahwa responden yang terbanyak mengalami nyeri sedang yaitu
pada rentang umur antara 35-45 tahun sebanyak 4 dari 5 responden. Hasil ini
menunjukan bahwa semakin tua umur seseorang maka akan semakin kecil intensitas
nyerinya dan sesuai dengan pendapat Smeltzer & Bare, menyatakan bahwa
semakin bertambah usia akan mengalami
perubahan neurofisiologis dan mungkin mangalami penurunan persepsi sensori
stimulus serta peningkatan ambang nyeri. Selain itu, pada usia tua saat
bereaksi terhadap nyeri dapat berbeda dengan cara bereaksi orang yang lebih muda.
Karena semakin tua usia seseorang maka akan mempunyai metabolisme yang lebih
lambat dan rasio lemak tubuh terhadap massa otot lebih besar dibanding individu
yang berusia lebih muda (Potter & Perry, 2006).
Pada tabel 1.3 menunjukan hasil bahwa
responden yang terbanyak mengalami nyeri sedang terdapat pada pasien yang
melakukan relaksasi progresif dengan riwayat lebih dari satu kali SC yaitu
sebanyak 4 responden, 3 responden memiliki intensitas nyeri sedang dan 1
responden memiliki intensitas ringan sedangkan yang memiliki intensitas nyeri
berat tidak ada. Hasil ini menunjukan bahwa semakin sering seseorang melakukan
operasi SC maka akan semakin kecil intensitas nyerinya dan sesuai dengan
pendapat Potter & Perry (2006) bahwa apabila individu mengalami nyeri
dengan jenis yang sama berulang-ulang, tetapi kemudian nyeri tersebut dengan
berhasil dihilangkan, akan lebih mudah bagi individu tersebut dengan berhasil
dihilangkan, akan lebih mudah bagi individu tersebut untuk menginterpretasikan
sensasi nyeri. Akibatnya, klien akan lebih siap untuk tindakan-tindakan yang
diperlukan untuk menghilangkan nyeri. Menurut Potter &
Perry (2006), menyebutkan bahwa umumnya individu yang sering mengalami nyeri
cenderung mengantisipasi terjadi nya nyeri yang lebih hebat. Hal ini terjadi
karena adanya proses pengontrolan pusat yang kuat tentang reaksi nyeri yang
dihasilkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa riwayat SC mempengaruhi respon
seseorang terhadap nyeri yang dirasakan.
Salah satu cara untuk mengurangi nyeri pada
pasien pasca bedah adalah dengan teknik relaksasi. Teknik relaksasi merupakan
kebebasan mental dan fisik dari ketegangan dan stress. Teknik relaksasi
merupakan salah satu teknik yang
digunakan dalam menurunkan nyeri pada pasien, dalam penelitian ini khususnya
pada pasien pasca bedah operasi SC (Potter & Perry, 2006). Teknik yang
efektif digunakan untuk mengatasi nyeri yaitu teknik relaksasi progresif. Latihan
relaksasi progresif meliputi kombinasi latihan pernafasan yang terkontrol dan
rangkaian kontraksi serta relaksasi kelompok otot (Potter & Perry, 2006). Relaksasi
otot progresif merupakan kontraksi dan relaksasi kelompok otot mulai dari
kaki ke atas atau dari kepala kearah
bawah.
Teknik relaksasi progresif dapat
menurunkan nyeri dikarenakan setelah melakukan teknik relaksasi tubuh akan
menstimulus substansi yang disebut endorphine. Merupakan sIstem penekan
nyeri yang dapat diaktifkan dengan merangsang daerah reseptor endorphine di zat periaqueduktus otak
tengah. endorphine mempengaruhi
transmisi impuls yang
diinterpretasikan sebagai nyeri. endorphine.
Kemungkinan bertindak sebagai neuromedulator yang menghambat transmisi dari
pesan nyeri. Jadi, adanya endorfin pada
sinaps sel-sel saraf menyebabkan status penurunan dalam sensasi nyeri.
Kegagalan melepaskan endorphine memungkinkan
terjadinya nyeri terjadi. Opiate
seperti morphine atau endorphine (kadang-kadang) disebut
enkephalin), kemungkinan menghambat transmisi pesan nyeri dengan mengaitkan
tempat reseptor opiate pada
saraf-saraf otak dan tulang belakang (Andarmoyo, 2013:20).
Menurut
Penelitian Sandi (2015) dengan judul Perbedaan Intensitas Nyeri Setelah
Dilakukan Tindakan Teknik Distraksi dan Relaksasi Pasien Post Sectio Caesarea di Ruang Delima RSUD Dr.
Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode penelitian Comparative.
Menggunakan teknik Accidental Sampling dengan
besar sampel berjumlah 26 responden. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai
rata-rata intensitas nyeri terhadap responden setelah dilakukan teknik
distraksi sebesar 2.69 dan setelah dilakukan teknik relaksasi sebesar 4.69
dengan nilai p value =0,00 <α =0,05 yang menunjukan bahwa ada perbedaan
intensitas nyeri setelah melakukan teknik distraksi dan relaksasi di Ruang
Delima RSUD Dr. H. Abdul moeloek Provinsi Lampung Tahun 2015. Selain itu,
menurut hasil
penelitian yang dilakukan oleh Kurniawan (2013)
yang meneliti mengenai pengaruh teknik relaksasi nafas dalam terhadap nyeri
pada pasien pasca operasi sectio caesarea
di RSUD Djojonegoro Temanggung menggunakan penelitan eksperimen dengan
metode kuesioner pre test-post test kepada
26 informan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan tanggapan
mengenai efektivitas tindakan relaksasi nafas dalam untuk menurunkan tindakan
skala nyeri, yang memberi jawaban efektif adalah 14 orang atau 53,85%,
efektivitas sadang adalah sebanyak 8 orang atau 30,77% dan tidak efektif
sebanyak 4 orang atau 15,38%. Hal ini juga menunjukkan adanya efektivitas
teknik relaksasi nafas dalam mengurangi nyeri yang signifikan atau p=<0.05.
Menurut peneliti mekanisme
perbedaan intensitas nyeri sebelum diberikan tindakan teknik relaksasi
progresif dan setelah diberikan teknik relaksasi progresif terhadap pasien yang
mengalami nyeri post SC di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun
2017 dikarenakan stimulasi yang diberikan setelah diberikan teknik relaksasi
progresif dapat menciptakan ketenangan dan kegiatan ini menciptakan sensasi
melepaskan ketidaknyamanan dan stress. Secara bertahap, klien dapat
merelaksasikan otot-otot tersebut. Saat klien mencapai relaksasi penuh, maka
persepsi nyeri berkurang dan rasa cemas terhadap pengalaman nyeri menjadi
minimal dari pada sebelum diberikan teknik relaksasi progresif. Selama saraf
berfungsi normal,bertambah aktifitas sistem organ yang satu akan memerlukan
efek dari sistem lain. Pada saat individu mengalami ketegangan, yang bekerja
adalah sistem saraf simpatis dan pada saat rileks yang bekerja adalah sistem
saraf parasimpatis. Dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang secara
timbal balik sehingga timbul penghilangan.
BAB
V
SIMPULAN
DAN SARAN
5.1. Simpulan
Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut:
5.1.1.
Rata-rata intensitas nyeri
pada pasien post SC sebelum melakukan tindakan teknik relaksasi progresif
adalah 6,67.
5.1.2.
Rata-rata intensitas nyeri
pada pasien post SC setelah melakukan
tindakan teknik relaksasi progresif adalah 4,97.
5.1.3.
Ada perbedaan yang bermakna
antara pasien post SC sebelum melakukan tindakan teknik relaksasi dan setelah
melakukan tindakan teknik relaksasi progresif di Ruang Delima RSUD. Dr. H.
Abdul Moeloek Provinsi Lampung Tahun 2017 dengan Ρ value = 0,00.
5.2. Saran
Berdasarkan
kesimpulan bahwa adanya Pengaruh Teknik Relaksasi Progresif Terhadap Intensitas
Nyeri Post Sectio Caesarea di Ruang Delima RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Tahun
2017, peneliti menyarankan :
5.2.1.
Bagi
Ruang
Delima RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung
Kepada pihak
Ruangan Delima khususnya tenaga kebidanan disarankan untuk melakukan asuhan
keperawatan maternitas untuk mengurangi intensitas nyeri pada pasien post SC
dengan teknik relaksasi progresif dan standar asuhan keperawatan maternitas.
5.2.2.
Bagi
Poltekkes Tanjungkarang Jurusan Keperawatan
Bagi Institusi
Poltkkes Tanjung karang khususnya jurusan keperawatan mengenai mata ajar
keperawatan perioperatif dan keperawatan maternitas agar lebih mengenalkan dan
menambah literatur tentang pengaruh teknik relaksasi progresif khususnya pada
penanganan nyeri post operasi SC
Komentar
Posting Komentar