MAKALAH EFIDANCE BASED DALAM ASUHAN NEONATUS BAYI BALITA DAN PRA SEKOLAH
MAKALAH
EFIDANCE BASED DALAM ASUHAN NEONATUS BAYI BALITA DAN
PRA SEKOLAH
Disusun Oleh :
JULITA DESTIRA MAKKI 1515404118
NI KADEK NIRMALA RIZKI 1515401063
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN DIII KEBIDANAN
TAHUN 2015
KATA
PENGANTAR
Puja dan puji syukur penulis panjatkan
ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmatNyalah penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Efidance
Basd Dalam Asuhan Neonatus Bayi Balita Dan Pra Sekolah” tepat pada waktunya.
Penulis mengucapkan terima
kasih pada pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Penulis
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu setiap pihak
diharapkan dapat memberikan masukan berupa kritik dan saran yang bersifat
membangun.
Bandar Lampung, September 2016
Penulis
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR ................................................................................ ii........
DAFTAR
ISI............................................................................................... iii........
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A. Latar Belakang.................................................................................. ........ 1
BAB II PEMBHASAN
A.
Evidence Based Midwifery (Practice).......................................... 2
BAB
V PENUTUP ................................................................................... 12
A.
Kesimpulan ................................................................................. 12
B.
Saran ........................................................................................... 12
DAFTAR
PUSTAKA...
BAB I
PEDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu kebidanan adalah
ilmu yang mempelajari tentang kehamilan,
,
bayi baru lahir dan kalanifas serta
kembalinya alat reproduksi ke keadaan normal. Tujuan ilmu kebidanan
adalah untuk mengantarkan kehamilan, persalinan,
dan kala nifasserta
pemberian ASI dengan selamat dengan kerusakan akibat persalinan sekecil-kecilnya
dan kembalinya alat reproduksi kekeadaan normal. Kemampuan pelayanan kesehatan
suatu negara ditentukan dengan perbandingan tinggi rendahnya angka kematian ibu
dan angka kematian perinatal. Dikemukakan bahwa angka kematian perinatal lebih
mencerminkan kesanggupan suatu negara untuk memberikan pelayanan kesehatan.
Indonesia, di lingkungan ASEAN, merupakan negara dengan angka kematian ibu dan
perinatal tertinggi, yang berarti kemampuan untuk memberikan pelayanan
kesehatan segara untuk memberikan pelayanan kesehatan masih memerlukan
perbaikan yang bersifat menyeluruh dan lebih bermutu.
Dengan
perkiraan persalinan di
Indonesia setiap tahunnya sekitar 5.000.000 jiwa dapat dijabarkan bahwa:
1.
Angka kematian ibu sebesar 19.500-20.000
setiap tahunnya atau terjadi setiap 26-27 menit. Penyebab kematian ibu adalah
perdarahan 30,5 %, infeksi 22,5.%, gestosis 17′,5 %, dan anestesia 2,0 %.
2.
Kematian bayi sebesar 56/10.000 menjadi
sekitar 280.000 atau terjadi setiap 18- 20 menit sekali. Penyebab kematian bayi
adalah asfiksia neonatorum 49-60 %, infeksi 24-34 %, prematuritas/BBLR 15-20 %,
trauma persalinan 2-7
%, dan cacat bawaan 1-3 %.
Memperhatikan angka
kematian ibu dan bayi, dapat dikemukakan bahwa:
1.
Sebagian besar kematian ibu dan
perinatal terjadi saat pertolongan pertama sangat dibutuhkan.
2.
Pengawasan antenatal masih belum memadai
sehingga penyulit hamil dan hamil dengan risiko tinggi tidak atau terlambat
diketahui.
3.
Masih banyak dijumpai ibu dengan jarak
hamil pendek, terlalu banyak anak, terlalu muda, dan terlalu tua untuk hamil.
4.
Gerakan keluarga berencana masih dapat
digalakkan untuk meningkatkan sumber daya manusia melalui norma keluarga kecil
bahagia dan sejahtera (NKKBS).
5.
Jumlah anemia pada ibu hamil cukup
tinggi.
6.
Pendidikan masyarakat yang rendah
cendrung memilih pemeliharaan kesehatan secara tradisional, dan belum siap
menerima pelaksanaan kesehatan modern.
Berdasarkan
tingginya angka kematian ibu dan perinatal yang dialami sebagian besar negara
berkembang, maka WHO menetapkan salah satu usaha yang sangat penting untuk dapat
mencapai peningkatan pelayanan kebidanan
yang menyeluruh dan bermutu yaitu dilaksanakannnya praktek berdasar pada
evidence based. Dimana bukti secara ilmiah telah dibuktikan dan dapat digunakan
sebagai dasar praktek terbaru yang lebih aman dan diharapkan dapat
mengendalikan asuhan kebidanan
sehingga mampu memberikan pelayanan yang lebih bermutu dan menyeluruh dengan
tujuan menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian perinatal.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. EVIDENCE BASED MIDWIFERY (PRACTICE)
EBM
didirikan oleh RCM dalam rangka untuk membantu mengembangkan kuat profesional
dan ilmiah dasar untuk pertumbuhan tubuh bidan berorientasi
akademis. RCMBidan Jurnal telah
dipublikasikan dalam satu bentuk sejak 1887 (Rivers, 1987), dan telah lama
berisi bukti yang telah menyumbang untuk kebidanan
pengetahuan dan praktek. Pada awal abad ini, peningkatan jumlah bidan terlibat
dalam penelitian, dan dalam membuka kedua atas dan mengeksploitasi baru
kesempatan untuk kemajuan akademik. Sebuah kebutuhan yang berkembang
diakui untuk platform untuk yang paling ketat dilakukan dan melaporkan
penelitian. Ada juga keinginan untuk ini ditulis oleh dan untuk bidan.
EBM secara resmi diluncurkan sebagai sebuah jurnal mandiri untuk penelitian
murni bukti pada konferensi tahunan di RCM Harrogate, Inggris pada tahun 2003
(Hemmings et al, 2003). Itu dirancang 'untuk membantu bidan dalam
mendorong maju yang terikat pengetahuan kebidanan
dengan tujuan utama meningkatkan perawatan untuk ibu dan bayi '(Silverton,
2003).
EBM
mengakui nilai yang berbeda jenis bukti harus berkontribusi pada praktek dan
profesi kebidanan. Jurnal
kualitatif mencakup aktif serta sebagai penelitian kuantitatif, analisis
filosofis dan konsep serta tinjauan pustaka terstruktur, tinjauan sistematis,
kohort studi, terstruktur, logis dan transparan, sehingga bidan benar
dapat menilai arti dan implikasi untuk praktek, pendidikan dan penelitian lebih
lanjut.
B.
CONTOH EBM PADA ASUHAN BAYI BARU LAHIR DAN NEONATUS
1.
Memulai Pemberian Asi Dini dan
Ekslusif
Berdasarkan evidence
based yang up to date, upaya untuk peningkatan sumber daya manusia antara lain
dengan jalan memberikan ASI sedini mungkin (IMD) yang dimaksudkan untuk
meningkatkan kesehatan dan gizi bayi baru lahir yang akhirnya bertujuan untuk
menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB).
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, di mana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu).
Inisiasi Menyusui Dini (IMD) adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, di mana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu).
Pada prinsipnya
IMD merupakan kontak langsung antara kulit ibu dan kulit bayi, bayi
ditengkurapkan di dada atau di perut ibu selekas mungkin setelah seluruh badan
dikeringkan (bukan dimandikan), kecuali pada telapak tangannya. Kedua telapak
tangan bayi dibiarkan tetap terkena air ketuban karena bau dan rasa cairan
ketuban ini sama dengan bau yang dikeluarkan payudara ibu, dengan demikian ini
menuntun bayi untuk menemukan puting. Lemak (verniks) yang menyamankan kulit
bayi sebaiknya dibiarkan tetap menempel. Kontak antar kulit ini bisa dilakukan
sekitar satu jam sampai bayi selesai menyusu. Selain mendekatkan ikatan kasih
sayang (bonding) antara ibu dan bayi pada jam-jam pertama kehidupannya, IMD
juga berfungsi menstimulasi hormon oksitosin yang dapat membuat rahim ibu
berkontraksi dalam proses pengecilan rahim kembali ke ukuran semula. Proses ini
juga membantu pengeluaran plasenta, mengurangi perdarahan, merangsang hormon
lain yang dapat meningkatkan ambang nyeri, membuat perasaan lebih rileks,
bahagia, serta lebih mencintai bayi.
Tatalaksana
inisiasi menyusu dini:
a.
Inisiasi dini sangat membutuhkan
kesabaran dari sang ibu, dan rasa percaya diri yang tinggi dan membutuhkan
dukungan yang kuat dari sang suami dan keluarga, jadi akan membantu ibu apabila
saat inisiasi menyusu dini suami atau keluarga mendampinginya.
b.
Obat-obatan kimiawi, seperti pijat,
aroma therapi, bergerak, hypnobirthing dan lain sebagainya coba untuk
dihindari.
c.
Ibulah yang menentukan posisi
melahirkan, karena dia yang akan menjalaninya.
d.
Setelah bayi dilahirkan, secepat mungkin
keringkan bayi tanpa menghilangkan vernix yang menyamankan kulit bayi.
e.
Tengkurapkan bayi di dada ibu atau perut
ibu dengan skin to skin contact, selimuti keduanya dan andai memungkinkan dan
dianggap perlu beri si bayi topi.
f.
Biarkan bayi mencari puting ibu sendiri.
Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut dengan tidak memaksakan bayi
ke puting ibunya.
g.
Dukung dan bantu ibu untuk mengenali
tanda-tanda atau perilaku bayi sebelum menyusu (pre-feeding) yang dapat
berlangsung beberapa menit atau satu jam bahkan lebih, diantaranya:
•
Istirahat sebentar dalam keadaan siaga, menyesuaikan
dengan lingkungan
•
Memasukan tangan ke mulut, gerakan mengisap,
atau mengelurkan suara.
•
Bergerak ke arah payudara.
•
Daerah areola biasanya yang menjadi
sasaran.
•
Menyentuh puting susu dengan tangannya.
•
Menemukan puting susu, reflek mencari
puting (rooting) melekat dengan mulut terbuka lebar.
•
Biarkan bayi dalam posisi skin to skin
contact sampai proses menyusu pertama selesai.
h. Bagi ibu-ibu yang melahirkan dengan tindakan seperti oprasi, berikan kesempatan skin to skin contact.
i. Bayi baru dipisahkan dari ibu untuk ditimbang dan diukur setelah menyusu awal. Tunda prosedur yang invasif seperti suntikan vit K dan menetes mata bayi.
h. Bagi ibu-ibu yang melahirkan dengan tindakan seperti oprasi, berikan kesempatan skin to skin contact.
i. Bayi baru dipisahkan dari ibu untuk ditimbang dan diukur setelah menyusu awal. Tunda prosedur yang invasif seperti suntikan vit K dan menetes mata bayi.
J. Dengan
rawat gabung, ibu akan mudah merespon bayi. Andaikan bayi dipisahkan dari
ibunya, yang terjadi kemudian ibu tidak bisa merespon bayinya dengan cepat
sehingga mempunyai potensi untuk diberikan susu formula, jadi akan lebih
membantu apabila bayi tetapi bersama ibunya selama 24 jam dan selalu hindari makanan
atau minuman pre-laktal.
Setelah pemberian Inisiasi Menyusu Dini (IMD),
selanjutnya bayi diberikan ASI secara eksklusif. Yang dimaksud dengan pemberian ASI
secara eksklusif di sini adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman
tambahan lain pada bayi berumur 0 - 6 bulan. Setelah bayi berumur 6
bulan, baru ia mulai diperkenalkan dengan makanan padat, sedangkan ASI dapat
terus diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih. ASI
eksklusifsangat penting untuk peningkatan SDM di masa yang
akan datang, terutama dari segi kecukupan gizi sejak dini. Memberikan ASI
secara eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan akan menjamin tercapainya
pengembangan potensial kecerdasan anak secara optimal. Hal ini karena ASI
merupakan nutrien yang ideal dengan komposisi yang tepat serta disesuaikan
dengan kebutuhan bayi.
2.
Baby Friendly
Baby
friendly atau dikenal dengan Baby Friendly Initiative (inisiasi sayang bayi)
adalah suatu prakarsa internasional yang didirikan oleh WHO/ UNICEF pada tahun
1991 untuk mempromosikan, melindungi dan mendukung inisiasi dan kelanjutan
menyusui.
Program
ini mendorong rumah sakit dan fasilitas bersalin yang menawarkan tingkat
optimal perawatan untuk ibu dan bayi. Sebuah fasilitas Baby Friendly Hospital/
Maternity berfokus pada kebutuhan bayi dan memberdayakan ibu untuk memberikan
bayi mereka awal kehidupan yang baik. Dalam istilah praktis, rumah sakit sayang
bayi mendorong dan membantu wanita untuk sukses memulai dan terus menyusui bayi
mereka dan akan menerima penghargaan khusus karena telah melakukannya. Sejak
awal program, lebih dari 18.000 rumah sakit di seluruh dunia telah menerapkan
program baby friendly. Negara-negara industri seperti Australia, Austria,
Denmark, Finlandia, Jerman, Jepang, Belanda, Norwegia, Spanyol, Swiss, Swedia,
Inggris, dan Amerika Serikat telah resmi di tetapka sebagai rumah sakit sayang
bayi.
Dalam rangka mencapai program Baby Friendly Inisiative, semua provider rumah sakit dan fasilitas bersalin akan:
a.
Memiliki kebijakan tertulis tentang
menyusui secara rutin dan dikomunikasikan kepada semua staf tenaga kesehatan.
b.
Melatih semua staf tenaga kesehatan
dalam keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan ini.
c.
Member tahu semua ibu hamil tentang
manfaat dan penatalaksanaan menyusui
d.
Membantu ibu untuk memulai menyusui dalam
waktu setengah jam kelahiran.
e.
Tampilkan pada ibu bagaimana cara
menyusui dan cara mempertahankan menyusui jika mereka harus dipisahkan dari
bayi mereka.
f.
Berikan ASI pada bayi baru lahir, kecuali
jika ada indikasi medis.
g.
Praktek rooming-in agar memungkinkan ibu
dan bayi tetap bersama-sama
h.
Mendorong menyusui on demand
i.
Tidak memberikan dot kepada bayi
menyusui
j.
Mendorong pembentukan kelompok pendukung
menyusui dan menganjurkan ibu menghubungi mereka setelah pulang dari rumah
sakit atau klinik.
3.
Regulasi Suhu Bayi Baru Lahir
dengan Kontak Kulit ke Kulit
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya,
sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam
rahim ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini
menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit pada lingkungan yang dingin,
pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi
untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Kontak kulit bayi dengan ibu dengan
perawatan metode kangguru dapat mepertahankan suhu bayi dan mencegah bayi
kedinginan/ hipotermi. Keuntungan cara perawatan bayi dengan metode ini selain
bisa memberikan kehangatan, bayi juga akan lebih sering menetek, banyak tidur,
tidak rewel dan kenaikan berat badan bayi lebih cepat. Ibu pun akan merasa
lebih dekat dengan bayi, bahkan ibu bisa tetap beraktivitas sambil menggendong
bayinya.
Cara melakukannya:
-
Gunakan tutup kepala karena 25% panas
hilang pada bayi baru lahir adalah melalui kepala.
-
Dekap bayi diantara payudara ibu dengan
posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti kodok serta kepala menoleh ke
satu sisi.
-
Metode kangguru bisa dilakukan dalam
posisi ibu tidur dan istirahat
-
Metode ini dapat dilakukan pada ibu,
bapak atau anggota keluarga yang dewasa lainnya.
Kontak kulit ke kulit sangat berguna untuk memberi
bayi kesempatan dalam menemukan puting ibunya, sebelum memulai proses menyusui
untuk pertama kalinya. Inilah kunci dari inisiasi menyusui dini yang akan
sangat berpengaruh dalam proses ASI
Eksklusif selama
6 bulan setelahnya.
4.
Pemotongan Tali Pusat
Berdasarkan evidence based, pemotongan tali pusat
lebih baik ditunda karena sangat tidak menguntungkan baik bagi bayi maupun bagi
ibunya. Mengingat fenomena yang terjadi di Indonesia antara lain tingginya
angka morbiditas ataupun mortalitas pada bayi salah satunya yang disebabkan
karena Asfiksia Hyperbillirubinemia/ icterik neonatorum, selain itu juga
meningkatnya dengan tajam kejadian autis pada anak-anak di Indonesia tahun ke
tahun tanpa tahu pemicu penyebabnya. Ternyata salah satu asumsi sementara atas
kasus fenomena di atas adalah karena adanya ICC (Imediettly Cord Clamping) di
langkah APN yaitu pemotongan tali pusat segera setelah bayi lahir. Benar atau
tidaknya asumsi tersebut, beberapa hasil penelitian dari jurnal-jurnal
internasional di bawah ini mungkin bisa menjawab pertanyaan di atas.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kinmond, S. et al. (1993) menunjukkan bahwa pada bayi prematur, ketika pemotongan tali pusat ditunda paling sedikit 30 menit atau lebih, maka bayi akan:
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kinmond, S. et al. (1993) menunjukkan bahwa pada bayi prematur, ketika pemotongan tali pusat ditunda paling sedikit 30 menit atau lebih, maka bayi akan:
1.
Menunjukkan penurunan kebutuhan untuk
tranfusi darah
2.
Terbukti sedikit mengalami gangguan
pernapasan
3.
Hasil tes menunjukkan tingginya level oksigen
4.
Menunjukkan indikasi bahwa bayi tersebut
lebih viable dibandingkan dengan bayi yang dipotong tali pusatnya segera
setelah lahir
6.
Menunjukkan jumlah hematokrit dan
hemoglobin dalam darah yang lebih baik.
Dalam jurnal
ilmiah yang dilakukan oleh George Marcom Morley (2007) dikatakan bahwa seluruh
proses biasanya terjadi dalam beberapa menit setelah kelahiran, dan pada saat
bayi mulai menangis dan kulitnya berwarna merah muda, menandakan prosesnya
sudah komplit. Menjepit dan memotong tali pusat pada saat proses sedang
berlangsung, dari sirkulasi oksigen janin menjadi sistem sirkulasi bayi sangat
menggangu sistem pendukung kehidupan ini dan bisa menyebabkan penyakit serius.
Dalam penelitian ini dikatakan bahwa saat talipusat dilakukan pengekleman,
pulse rate dan cardiac out put berkurang 50% karena 50% dari vena yang kembali
ke jantung telah dimatikan (clamped off). Banyak sekali akibat yang tidak
menguntungkan pada pemotongan tali pusat segera setelah bayi lahir dan dalam
penelitian ini dikatakan resiko untuk terjadinya brain injury, cerebral palsy,
asfiksia, autis, kejadian bayi kuning bahkan anemia pada bayi sangatlah banyak.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Eillen K. Hutton (2007) bahwa dengan penundaan pemotongan tali pusat dapat:
• Peningkatan kadar hematokrit dalam darah
• Peningkatan kadar hemoglobin dalam darah
• Penurunan angka Anemia pada bayi
• Penurunan resiko jaudice/ bayi kuning
Mencermati dari hasil-hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemotongan tali pusat segera setelah bayi lahir sangat tidak menguntungkan baik bagi bayi maupun bagi ibunya. Namun dalam praktek APN dikatakan bahwa pemotongan tali pusat dilakukan segera setelah bayi lahir. Dari situ kita bisa lihat betapa besarnya resiko kerugian, kesakitan maupun kematian yang dapat terjadi.
5.
Perawatan Tali Pusat
Saat bayi
dilahirkan, tali pusar (umbilikal) yang menghubungkannya dan plasenta ibunya
akan dipotong meski tidak semuanya. Tali pusar yang melekat di perut bayi, akan
disisakan beberapa senti. Sisanya ini akan dibiarkan hingga pelan-pelan
menyusut dan mengering, lalu terlepas dengan sendirinya. Agar tidak menimbulkan
infeksi, sisa potongan tadi harus dirawat dengan benar.
Cara merawatnya adalah sebagai berikut:
Cara merawatnya adalah sebagai berikut:
a. Saat
memandikan bayi, usahakan tidak menarik tali pusat. Membersihkan tali pusat
saat bayi tidak berada di dalam bak air. Hindari waktu yang lama bayi di air
karena bisa menyebabkan hipotermi.
b. Setelah
mandi, utamakan mengerjakan perawatan tali pusat terlebih dahulu.
c.
Perawatan sehari-hari cukup dibungkus
dengan kasa steril kering tanpa diolesi dengan alkohol. Jangan pakai betadine
karena yodium yang terkandung di dalamnya dapat masuk ke dalam peredaran darah
bayi dan menyebabkan gangguan pertumbuhan kelenjar gondok.
d.
Jangan mengolesi tali pusat dengan
ramuan atau menaburi bedak karena dapat menjadi media yang baik bagi tumbuhnya
kuman.
e.
Tetaplah rawat tali pusat dengan
menutupnya menggunakan kasa steril hingga tali pusat lepas secara sempurna.
6.
Stimulasi Pertumbuhan dan
Perkembangan Bayi dan Balita
Istilah tumbuh
kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling
berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Menurut Soetjiningsih, pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter). Sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Stimulasi pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir yang dilakukan setiap hari untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan perabaan, pembauan, dan pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi dengan suasana bermain dan kasih sayang akan memicu kecerdasan anak.
Menurut Soetjiningsih, pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter). Sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Stimulasi pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita adalah rangsangan yang dilakukan sejak bayi baru lahir yang dilakukan setiap hari untuk merangsang semua sistem indera (pendengaran, penglihatan perabaan, pembauan, dan pengecapan). Selain itu harus pula merangsang gerak kasar dan halus kaki, tangan dan jari-jari, mengajak berkomunikasi serta merangsang perasaan yang menyenangkan dan pikiran bayi dan balita. Rangsangan yang dilakukan sejak lahir, terus menerus, bervariasi dengan suasana bermain dan kasih sayang akan memicu kecerdasan anak.
Waktu yang ideal untuk stimulasi adalah saat bayi bangun tidur/ tidak mengantuk, tenang, siap bermain dan sehat. Gunakan peralatan yang aman dan bersih antara lain tidak mudah pecah, tidak mengandung racun/ bahan kimia, tidak tajam dan sebagainya.
Stimulasi
dilakukan setiap ada kesempatan berinteraksi dengan bayi atau balita setiap
hari, terus-menerus, bervariasi, dan disesuaikan dengan umur perkembangan
kemampuannya. Stimulasi juga harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan
dan kegembiraan antara pengasuh dan bayi/ balitanya. Jangan memberikan
stimulasi yang terburu-buru dan tidak memperhatikan minat atau keinginan bayi/
balita, atau bayi sedang mengantuk, bosan atau ingin bermain yang lain.
Pengasuh yang sering marah, bosan, sebal, maka tanpa disadari pengasuh justru
memberikan rangsangan emosional yang negatif. Karena pada prinsipnya semua
ucapan, sikap dan perbuatan pengasuh merupakan stimulasi yang direkam, diingat
dan akan ditiru atau justru menimbulkan ketakutan bagi bayi/ balitanya.
BAB
III
PNUTUP
A. KESIMPULAN
Paradigma
baru (aktif) yang disebutkan sebelumnya yang berdasarkan evidence based
terkini, terbukti dapat mencegah atau mengurangi komplikasi yang sering
terjadi. Hal ini memberi manfaat yang nyata dan mampu membantu upaya penurunan
angka kematian bayi baru lahir. Jika semua penolong persalinan dilatih
agar kompeten untuk melakukan upaya pencegahan atau deteksi dini secara aktif
terhadap berbagai komplikasi yang mungkin terjadi, memberikan pertolongan
secara adekuat dan tepat waktu, dan melakukan upaya rujukan yang optimal maka
semua upaya tersebut dapat secara bermakna menurunkan jumlah kesakitan atau
kematian bayi baru lahir.
B. SARAN
Diharapkan
akan adanya peningkatan jumlah bidan terlibat
dalam penelitian,akan pengetahuan berdasar bukti mengenai asuhan kebidanan
khususnya dalam memberikan pelayanan kesehatan pada ibu dan anak dalam upaya
penurunan AKI dan AKB.
DAFTAR PUSTAKA
Pusdiknakes – WHO – JHPIEGO, 2003, Asuhan Intrapartum, Jakarta.
www.google.com
Komentar
Posting Komentar