Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Dan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian DBD Di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun 2018.
JURNAL
PENELITIAN SKRIPSI
Fera Yulia Agustina
Hubungan Faktor Lingkungan
Fisik Dan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian DBD Di Desa Wonodadi Wilayah
Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun 2018.

Jika
dilihat dari target nasional sebesar < 55/100.000 penduduk, hal ini
dikarenakan masyarakat Kabupaten Pringsewu kurang memiliki kesadaran untuk
melakukan 3 M+ (mengubur, menutup, dan menguras) dan Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dilingkungan masing-masing serta masyarakat Kabupaten Pringsewu
lebih mengandalkan fogging. Jumlah kasus yang ditemukan sudah dilakukan
penanganan dengan CFR= 19%.
Hal
tersebut mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang kejadian
penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)
di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gading Rejo dalam penelitian yang
berjudul “Hubungan Faktor Lingkungan Fisik dan Perilaku Masyarakat dengan
kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD)
di Desa Wonodadi Wilayah kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
Kabupaten Pringsewu tahun 2018”.
Tujuan
dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Faktor Lingkungan Fisik
dan Perilaku Masyarakat dengan Kejadian Demam Berdarah di Desa Wonodadi Wilayah
Kerja Puskesmas Gadingrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu tahun
2018.
Jenis
penelitian ini merupakan studi deskriptif
analitk. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional.sampel dalam penelitian
ini sebanyak 337 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara,
pengamatan, dan pengukuran secara langsung. Hasil penelitian di uji secara
statistik menggunakan uji chi square
pada tingkat kepercayaan 95% menggunakanprogram SPSS versi 16.0
Hasil
penelitian menunjukan Ada hubungan antara menguras TPA (p= 0,029), ketersediaan
tutup pada kontainer (p= 0,020), menggunakan obat anti nyamuk (p= 0,001),
menggantung pakaian (p= 0,003), suhu (p= 0,003)
Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue ditularkan kepada manusia melalui
gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan
Aedes Albopictus (Kementerian Kesehatan RI, 2017).
Pada
umumnya penderita Demam Berdarah Dengue(DBD)
akan mengalami fase demam selama 2-7 hari, fase pertama: 1-3 hari ini penderita
akan merasakan demam yang cukup tinggi 400C, kemudian pada fase
ke-dua penderita mengalami fase kritis pada hari ke 4-5, pada fase ini
penderita akan mengalami turunnya demam hingga 370C dan penderita akan
merasa dapat melakukan aktivitas kembali (merasa sembuh kembali) pada fase ini
jika tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat dapat terjadi keadaan fatal,
akan terjadi penurunan trombosit secara drastis akibat pemecahan pembuluh darah
(pendarahan). Di fase yang ketiga ini akan terjadi pada hari ke 6-7 ini,
penderita akan merasakan demam kembali, fase ini dinamakan fase pemulihan, di
fase inilah trombosit akan perlahan naik kembali normal kembali (Kementerian Kesehatan RI, 2017).
Wonodadi
sebanyak 13 kasus dari bulan Januari-Mei
tahun 2018.
Jika
dilihat dari target nasional sebesar < 55/100.000 penduduk, hal ini
dikarenakan masyarakat Kabupaten Pringsewu kurang memiliki kesadaran untuk
melakukan 3 M+ (mengubur, menutup, dan menguras) dan Pemberantasan Sarang
Nyamuk (PSN) dilingkungan masing-masing serta masyarakat Kabupaten Pringsewu
lebih mengandalkan fogging. Jumlah kasus yang ditemukan sudah dilakukan
penanganan dengan CFR= 19%. (Seksi P2 Dinas Kesehatan Kab. Pringsewu, 2016).
Hal tersebut mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang
kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue
(DBD) di Desa
Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gading
Rejo dalam penelitian yang berjudul “Hubungan
Faktor Lingkungan Fisik dan Perilaku Masyarakat dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa
Wonodadi Wilayah kerja Puskesmas Gadingrejo
Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu tahun 2018”.
Rancangan
Penelitian
Jenis penelitian
yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif
analitik yaitu penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengapa fenomena
itu dapat terjadi. Desain dalam penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yaitu suatu penelitian
untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek,
menggunakan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada
suatu saat (point time approach),
artinya tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran
dilakukan terhadap status karakter atau variable subjek pada saat pemeriksaan
(Notoatmodjo, Soekidjo 2014: 37-38).
Waktu dan Lokasi
Penelitian
Waktu penelitian ini dilaksanakan pada Juni
sampai Juli 2018.Lokasi penelitian ini dilaksanakandi Desa Wonodadi Wilayah
Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu.
Subjek
Penelitian
1.
Populasi
Populasi
merupakan obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan
(Sugiyono, 2017:80).
Populasi dalam penelitian ini adalah
KK yang dalam anggota keluarganya pernah mengalami DBD dan tidak mengalami DBD
yaitu dengan jumlah populasi di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo sebanyak
8.971 jiwa dan 2.137 KK.
2.
Sampel
Sampel
adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
(Sugiyono, 2017:81).
Pengambilan sampel dalam
penelitian ini menggunakan rumus Slovin dalam
(Sugiyono, 2017) sebagai berikut:
Keterangan:
N = besar populasi
n
= besar sampel
d = tingkat presisi yang diinginkan: 0,05
n = 337 KK.
Teknik
Pengambilan Sampel
Menurut
Notoatmodjo ( 2012:120) teknik pengambilan sampel yang peneliti gunakan dalam
penelitian ini adalah dengan menggunakan random sampling yaitu pengambilan
sampel secara acak. Teknik random sampling ini digunakan apabila jumlah
populasi setiap unit atau anggota bersifat homogen atau diasumsikan homogen.
Hal ini berarti setiap sampel mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil
sampel.
Pengambilan
sampel secara acak sederhana yang peneliti gunakan adalah dengan melakukan
pengundian atau pengocokan anggota populasi di masyarakat di Desa Wonodadi
Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo.
Variabel
Penelitian
1.
Variabel
Dependen
Variabel
dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena
adanya variabel bebas (Sugiono, 2017:39).
Variabel
dependen dalam penelitian ini yaitu Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja
Puskesmas Gading Rejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
2.
Variabel
Independen
Variabel
independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab
perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiono, 2017:39). Variabel
independen dalam penelitian ini yaitu menguras TPA, menutup TPA, mengubur
barang-barang bekas, penggunaan obat anti nyamuk, kebiasaan menggunakan
kelambu, menggantung pakaian, keberadaan jentik, suhu dan kelembaban.
A.
HASIL
1.
Analisis
Univariat
Variabel
yang diteliti pada penelitian ini adalah beberapa faktor yang berhubungan
dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Kecamatan Gadingrejo 2018. Data tentang
variabel yang diteliti diambil dengan melakukan wawancara kepada responden
dengan menggunakan kuesioner dan melakukan observasi disetiap setiap rumah
responden. Sampel sebanyak 65 KK di Desa Wonodadi Kecamatan Gadingrejo 2018.
Kelurahan Wonodadi terdiri dari 8 RW dan 20 RW dan setiap jumlah kepala
keluarganya berbeda-beda. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh data sebagai
berikut:
a.
Menguras
Tempat Penampungan Air
Menguras tempat penampungan air yang dimaskudkan dalam
penelitian ini adalah responden yang menguras tempat penampungan air setidaknya
1 kali dalam seminggu. Berdasarkan hasil penelitian tentang kebiasaan menguras
tempat penampungan air adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Distribusi
Responden Menguras Tempat Penampungan Air di Desa Wonodadi Wilayah Kerja
Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
No
|
Menguras TPA
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
Tidak
|
135
|
40,1
|
|
2.
|
Ya
|
202
|
59,9
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden yang menguras tempat penampungan air sebanyak 202
responden (59,9%) sedangkan responden yang tidak menguras tempat penampungan
air sebanyak 135 responden (40,1%).
b.
Menutup
Tempat Penampungan Air
Menutup tempat penampungan air yang dimaksudkan dalam penelitian
ini adalah responden yang menutup tempat penampungan air dengan rapat-rapat.
Berdasarkan hasil penelitian tentang menutup tempat penampungan air adalah
sebagai berikut:
Tabel
4.2
Distribusi
Responden Menutup Tempat Penampungan Air di Desa Wonodadi
Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu
2018
|
No
|
Menutup TPA
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
Tidak
|
212
|
62,9
|
|
2.
|
Ya
|
125
|
37,1
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden yang tidak menutup tempat penampungan air sebanyak 212 responden (62,9%) sedangkan
responden yang menutup tempat penampungan air sebanyak 125 responden (37,1%).
c.
Mengubur
Barang-Barang Bekas
Mengubur barang-barang bekas yang dimaskudkan dalam penelitian
ini adalah responden yang mengubur barang-barang bekas seperti kaleng bekas,
botol air mineral, plastik bekas, dll. Berdasarkan hasil penelitian tentang
kebiasaan mengubur barang-barang bekas adalah sebagai berikut:
Tabel
4.3
Distribusi
Responden Mengubur Barang-Barang Bekas di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
No
|
Mengubur
Barang-Barang Bekas
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
Tidak
|
269
|
79,8
|
|
2.
|
Ya
|
68
|
20,2
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden yang tidak mengubur barang-barang bekas sebanyak 269 responden (79,8%) sedangkan responden
yang mengubur barang-barang bekas sebanyak 68
responden (20,2%).
d.
Menggunakan
Obat Anti Nyamuk
Menggunakan obat anti nyamuk yang dimaskudkan dalam penelitian
ini adalah responden yang menggunakan obat anti nyamuk untuk menghindari
gigitan nyamuk seperti obat nyamuk bakar, semprot atau elektrik dll.
Berdasarkan hasil penelitian tentang kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk
adalah sebagai berikut:
Tabel
4.4
Distribusi
Responden Menggunakan Obat
Anti Nyamuk di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan
Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
No
|
Menggunakan Obat Anti
Nyamuk
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
Tidak
|
107
|
31,8
|
|
2.
|
Ya
|
230
|
68,2
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.4 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak menggunakan
obat anti nyamuk sebanyak 107 responden (31,8%) sedangkan responden yang menggunakan obat
anti nyamuk sebanyak 230 responden (68,2%).
e.
Memakai
Kelambu
Memakai kelambu yang dimaskudkan dalam penelitian ini adalah
responden yang kebiasaan memakai kelambu saat tidur baik pagi, siang, atau sore
hari. Berdasarkan hasil penelitian tentang kebiasaan memakai kelambu adalah
sebagai berikut
Tabel
4.5
Distribusi
Responden Memakai Kelambu di
Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten
Pringsewu 2018
|
No
|
Memakai Kelambu
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
Tidak
|
265
|
78,6
|
|
2.
|
Ya
|
72
|
21,4
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.5 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak menggunakan
kelambu sebanyak 265 responden (78,6%) sedangkan responden yang menggunakan obat kelambu sebanyak 72 responden (21,4%).
f.
Menggantung
Pakaian
Menggantung pakaian yang dimaskudkan dalam penelitian ini adalah
responden yang menggantung pakaian dengan dengan waktu yang lama. Berdasarkan
hasil penelitian tentang kebiasaan menggantung pakaian adalah sebagai berikut:
Tabel
4.6
Distribusi
Responden Menggantung
Pakaian di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan
Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
No
|
Menggantung Pakaian
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
Ya
|
239
|
70,9
|
|
2.
|
Tidak
|
98
|
29,1
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang memiliki
kebiasaan menggantung pakain sebanyak 239 responden (70,9%) sedangkan responden
yang tidak memiliki kebiasaan menggantung pakaian sebanyak 98 responden (29,1%).
g.
Keberadaan
Jentik
Keberadaan jentik yang dimaskudkan dalam penelitian ini adalah pemeriksaan
jentik Aedes aegypti pada kontainer diperoleh dari jumlah jentik yang terdapat pada kontainer
seperti di bak mandi, drum, tempayan, ban bekas dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian tentang keberadaan jentik telah di
dapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel
4.7
Distribusi
Keberadaan Jentik
di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan
Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
No
|
Keberadaan Jentik
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
Ada
|
58
|
17,2
|
|
2.
|
Tidak Ada
|
279
|
82,8
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa
sebagian besar responden yang rumahnya terdapat jentik sebanyak 58 responden
(17,2%) sedangkan responden yang rumahnya tidak terdapat jentik sebanyak 279 responden
(82,8%).
h.
Suhu
Suhu yang dimasudkan dalam penelitian ini adalah hasil
pengukuran suhu yang dilakukan di rumah responden Berdasarkan pengukuran suhu
tersebut di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel
4.8
Distribusi
Pengukuran Suhu di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan
Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
No
|
Suhu
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
Buruk
|
176
|
52,2
|
|
2.
|
Baik
|
161
|
47,8
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.8 dapat diketahui bahwa hasil pengukuran suhu di rumah responden yang termasuk
dalam kategori buruk sebanyak 176 responden (52,2%) sedangkan hasil pengukuran
suhu di rumah responden yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 161 responden
(47,8%).
i.
Kelembaban
Kelembaban yang dimasudkan dalam penelitian ini adalah hasil
pengukuran kelembaban yang dilakukan di rumah responden Berdasarkan pengukuran
kelembaban tersebut di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel
4.9
Distribusi
Pengukuran Kelembaban di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo
Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
No
|
Kelembaban
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
Buruk
|
64
|
19
|
|
2.
|
Baik
|
273
|
81
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.9 dapat diketahui bahwa hasil pengukuran kelembaban di rumah responden
yang termasuk dalam kategori buruk sebanyak 64 orang (19%) sedangkan hasil
pengukuran kelembaban di rumah responden yang termasuk dalam kategori baik sebanyak
273 responden (81%).
j.
Kejadian DBD
Kejadian
DBD dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil penelitian
mengenai kejadian DBD diperoleh dari hasil wawancara kepada responden, kemudian
dari hasil wawancara diketahui bahwa kejadian DBD yang yang menyerang
masyarakat Desa Wonodadi. Berdasarkan wawancara yang talah dilakukan terhadap
responden di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel
4.10
Distribusi
Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan
Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
No
|
Kejadian DBD
|
Frekuensi
|
Persen(%)
|
|
1.
|
DBD
|
85
|
25,2
|
|
2.
|
Tidak DBD
|
252
|
74,8
|
|
Jumlah
|
337
|
100
|
|
Berdasarkan
tabel 4.10 dapat diketahui bahwa hasil wawancara yang telah dilakukan di rumah responden
didapatkan jumlah responden yang terkena DBD sebanyak 85 orang (25,2%)
sedangkan responden yang tidak DBD sebanyak 252 responden (74,8%).
3.
Analisis Bivariat
Analisis bivariat bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Tujuan
penelitian ini adalah mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian
demam berdarah dengue di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018. Pengujian hipotesis
penelitian ini menggunakan uji Chi Square. Pengujian data penelitian
menggunakan bantuan program SPSS versi 16.0 for Windows diperoleh hasil
analisis sebagai berikut:
a. Hubungan
Menguras Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan
menguras tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi
Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu
2018 sebagai berikut:
Tabel 4.12
Hubungan Menguras Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD di
Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kabupaten
Pringsewu Tahun 2018
|
Menguras TPA
|
P
Value
|
|||||||
|
|
Tidak
|
Ya
|
Total
|
|||||
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
0,029
|
||
|
Kejadian DBD
|
DBD
|
25
|
7,4
|
60
|
27,8
|
85
|
25,2
|
|
|
Tidak DBD
|
110
|
32,6
|
142
|
42,1
|
252
|
74,8
|
||
|
Jumlah
|
135
|
40,1
|
202
|
59,9
|
337
|
100
|
||
Berdasarkan
Tabel 4.12 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah
sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252
responden, dimana responden yang sakit DBD dan tidak menguras tempat
penampungan air sebesar 7,4% (25 responden) dan
responden yang sakit DBD dengan menguras
tempat penumpangan air sebesar 27,8% (60 responden), sedangkan responden yang
tidak DBD dan tidak menguras tempat penampungan air sebesar (110 responden)
32,6% dan tidak DBD tetapi menguras tempat penampungan air sebesar (142
responden) 42%. Hasil ujistatistik Chi Square menunjukkan bahwa p value = 0,029 (p <0,05), artinya
terdapat hubungan antara menguras tempat penampungan air dengan kejadian DBD di
Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten
Pringsewu 2018.
b. Hubungan
Menutup Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan
menutup tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi
Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu
2018 sebagai berikut:
Tabel 4.13
Hubungan Menutup Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD di
Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun 2018
|
Kebiasaan Menutup TPA
|
P value
|
|||||||
|
|
Tidak
|
Ya
|
Total
|
|||||
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
0,020
|
||
|
Kejadian DBD
|
DBD
|
44
|
13,1
|
41
|
12,2
|
85
|
25,2
|
|
|
Tidak DBD
|
168
|
49,9
|
84
|
24,9
|
252
|
74,8
|
||
|
Jumlah
|
212
|
62,9
|
125
|
37,1
|
337
|
100
|
||
Berdasarkan
Tabel 4.13 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah
sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252
responden, dimana responden yang sakit DBD dan tidak menutup tempat penampungan
air sebesar 13,1% (44
responden)
dan responden yang sakit DBD dengan menutup tempat penampungan air sebesar 12,2%
(41 responden), sedangkan responden yang tidak
DBD dan tidak menutup tempat penampungan air sebesar 49,9% (168 responden) dan
responden tidak DBD dan menutup tempat penampungan air sebesar 24,9% (84
responden). Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p = 0,020
(p <0,05) artinya terdapat hubungan antara frekuensi menutup tempat
penampungan air dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
c.
Hubungan Mengubur Barang-Barang Bekas dengan Kejadian DBD
Hasil pengujian hipotesis yang
menyatakan tidak ada hubungan antara frekuensi mengubur barang-barang bekas
dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi disajikan pada Tabel 4.14 berikut ini:
Tabel 4.14
Hubungan Mengubur
Barang-Barang Bekas dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
Mengubur Barang-Barang Bekas
|
P value
|
|||||||
|
|
Tidak
|
Ya
|
Total
|
|||||
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
0,407
|
||
|
Kejadian DBD
|
DBD
|
71
|
21,1
|
14
|
4,2
|
85
|
25,2
|
|
|
Tidak DBD
|
198
|
58,8
|
54
|
16
|
252
|
74,8
|
||
|
Jumlah
|
269
|
79,8
|
68
|
20,2
|
337
|
100
|
||
Berdasarkan
Tabel 4.14 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah
sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252
responden, dimana responden yang DBD dan tidak mengubur barang-barang bekas
sebesar 21,1% (71) dan responden yang DBD dan mengubur barang-barang bekas
sebesar 4,2% (14 responden), sedangkan yang tidak DBD dan tidak menubur
barang-barang bekas (198 responden) 79,8% dan responden yang tidak DBD dann
mengubur barang-barang bekas sebesar (54 responden) 16%. Hasil uji statistik Chi
Square menunjukkan bahwa p value =
0,407 (p > 0,05) artinya tidak terdapat hubungan antara mengubur
barang-barang bekas dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja
Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
d.
Hubungan Menggunakan Obat Anti Nyamuk dengan Kejadian DBD
Berdasarkan
hasil analisa bivariat hubungan menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian
DBD di
Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten
Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.15
Hubungan Menggunakan Obat Anti Nyamuk dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
|
Kebiasaan Menggunakan Obat Anti Nyamuk
|
P value
|
|||||||
|
|
Tidak
|
Ya
|
Total
|
|||||
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
0,001
|
||
|
Kejadian DBD
|
DBD
|
40
|
11,9
|
45
|
13,4
|
85
|
25,2
|
|
|
Tidak DBD
|
67
|
19,9
|
185
|
54,8
|
252
|
74,8
|
||
|
Jumlah
|
107
|
31,8
|
230
|
68,2
|
337
|
100
|
||
Berdasarkan
Tabel 4.15 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah
sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252
responden, dimana responden yang DBD dan tidak menggunakan obat anti nyamuk
sebesar 11,9% (40 responden) dan resoponden yang DBD dan menggunakan obat anti
nyamuk sebesar (185 responden) 54,8%, sedangkan responden yang tidak DBD dan
tidak menggunakan obat anti nyamuk sebesar (67 responden) 19,9% dan responden
yang tidak DBD dan menggunakan obat anti nyamuk sebesar (185 responden) 54,8% .
Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p = 0,001 (p <0,05),
artinya terdapat hubungan antara frekuensi menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian
DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
Kabupaten Pringsewu 2018.
e.
Hubungan Menggunakan Kelambu dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan
menggunakan kelambu dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.16
Hubungan
Menggunakan Kelambu dengan Kejadian DBD di
Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten
Pringsewu 2018
|
Kebiasaan Menggunakan Kelambu
|
P value
|
|||||||
|
|
Tidak
|
Ya
|
Total
|
|||||
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
0,840
|
||
|
Kejadian DBD
|
DBD
|
68
|
20,2
|
17
|
5
|
85
|
25,2
|
|
|
Tidak DBD
|
197
|
58,5
|
55
|
16,3
|
252
|
74,8
|
||
|
Jumlah
|
265
|
78,6
|
72
|
21,4
|
337
|
100
|
||
Berdasarkan
Tabel 4.15 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah
sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252
responden, dimana responden yang DBD dan tidak menggunakan kelambu sebesar (68
responden) 20,2% dan responden yang DBD dan menggunakan kelambu sebesar (17
responden) 5%, sedangkan responden yang tidak DBD dan tidak memakai kelambu
sebesar (197 responden) 78,6% dan responden yang tidak DBD dan menggunakan
kelambu sebesar (55 responden) 16,3%. Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan
bahwa p value = 0,840 (p >0,05),
artinya tidak terdapat hubungan antara menggunakan kelambu dengan kejadian DBD
di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
Kabupaten Pringsewu 2018.
f.
Hubungan Menggantung Pakaian dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan
menggantung pakaian dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.17
Hubungan Menggantung Pakaian dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
Kabupaten
Pringsewu 2018
|
Kebiasaan Menggantung Pakaian
|
P value
|
|||||||
|
|
Tidak
|
Ya
|
Total
|
|||||
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
0,003
|
||
|
Kejadian DBD
|
DBD
|
49
|
14,5
|
36
|
10,7
|
85
|
25,2
|
|
|
Tidak DBD
|
190
|
56,4
|
62
|
18,4
|
252
|
74,8
|
||
|
Jumlah
|
239
|
70,9
|
98
|
29,1
|
337
|
100
|
||
Berdasarkan
Tabel 4.17 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah
sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252
responden, dimana (49 responden) 14,5% responden DBD dan tidak menggantung
pakaian dan (36 responden) 10,7% responden yang DBD dan menggantung pakaian,
sedangkan responden yang tidak sakit DBD dan tidak menggantung pakain sebesar
(190 responden) 56,4% dan responden yang tidak DBD dan mengantung pakaian
sebesar (62 responden) 18,4%. Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan
bahwa p = 0,003 (p <0,05), artinya terdapat hubungan antara menggantung
pakaian dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo
Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
g. Hubungan
Keberadaan Jentik dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan
keberadaan jentik dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.18
Hubungan Keberadaan Jentik dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
Keberadaan Jentik
|
P value
|
|||||||
|
|
Ada
|
Tidak ada
|
Total
|
|||||
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
0,088
|
||
|
Kejadian DBD
|
DBD
|
9
|
2,7
|
76
|
22,6
|
85
|
25,2
|
|
|
Tidak DBD
|
49
|
14,5
|
203
|
60,2
|
252
|
74,8
|
||
|
Jumlah
|
58
|
17,2
|
279
|
82,8
|
337
|
100
|
||
Berdasarkan
Tabel 4.18 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah
sakit DBD ada 85 responden dan responden yang tidak pernah sakit sebesar 252
responden, dimana 9 rumah responden (2,7%) yang DBD dan terdapat jentik di
dalam kontainer dan 76 rumah responden (22,6%) yang DBD dan tidak terdapat
jentik di dalam kontainer, sedangkan responden yang tidak DBD dan ada jentik di
dalam kontainer sebesar 49 rumah responden (14,5%) dan responden yang tidak DBD
dan tidak terdapat jentik sebesar 203 rumah responden (60,2). Hasil uji
statistik Chi Square menunjukkan bahwa p value = 0,088 (p >0,05), artinya tidak terdapat hubungan antara
keberadaan jentik dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
h.
Hubungan Suhu dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan
suhu dengan kejadian DBD di
Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten
Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.19
Hubungan Suhu dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
Suhu
|
P value
|
|||||||
|
|
Buruk
|
Baik
|
Total
|
|||||
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
0,003
|
||
|
Kejadian DBD
|
DBD
|
32
|
9,5
|
53
|
15,7
|
85
|
25,2
|
|
|
Tidak DBD
|
144
|
42,7
|
108
|
32
|
252
|
74,8
|
||
|
Jumlah
|
176
|
52,2
|
161
|
47,8
|
337
|
100
|
||
Berdasarkan
Tabel 4.19 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah
sakit DBD ada 85 responden dan responden yang tidak pernah sakit ada 252
responden, dimana 32 rumah (9,5%) yang DBD dan suhu dalam keadaan dan 53 rumah
(15,7%) yang DBD dan suhu dalam keadaan baik sedangkan responden yang tidak DBD
dan suhu rumah dalam keadaan buruk sebesar 144 rumah (52,2%). Hasil uji
statistik Chi Square menunjukkan bahwa p value= 0,003 (p <0,05), artinya ada hubungan antara suhu dengan kejadian
DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
Kabupaten Pringsewu 2018.
i.
Hubungan Kelembaban dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan
kelembaban dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo
Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.20
Hubungan Kelembaban dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018
|
Kebiasaan Kelembaban
|
P value
|
|||||||
|
|
Buruk
|
Baik
|
Total
|
0,163
|
||||
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
Frek
|
%
|
|||
|
Kejadian DBD
|
DBD
|
21
|
6,2
|
64
|
19
|
85
|
25,2
|
|
|
Tidak DBD
|
43
|
12,8
|
209
|
62
|
252
|
74,8
|
||
|
Jumlah
|
64
|
19
|
273
|
81
|
337
|
100
|
||
Berdasarkan
Tabel 4.20 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah
sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD ada 252 responden,
dimana 21 rumah (6,2%) responden yang DBD dan kelembaban dalam keadaan buruk
dan 64 rumah (19%) responden yaang DBD dan kelembaban dalam keadaan baik
sedangkan responden yang tidak DBD dan kelembaban rumah buruk sebesar 43 rumah
(12,8%) dan responden yang tidak DBD dan kelembaban baik sebesar 209 rumah
(62%). Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p = 0,163 (p
>0,05), artinya tidak terdapat hubungan antara kelembaban dengan kejadian
DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
Kabupaten Pringsewu 2018.
B.
PEMBAHASAN
1.
Hubungan
Menguras Tempat Penampungan Air (TPA) dengan Kejadian DBD
Hasil
penelitian mengenai kejadian DBD dengan menguras tempat penampungan air
menunjukkan bahwa menguras tempat penampungan air mempunyai hubungan terhadap
kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan
Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 dimana nilai p value= 0,029 yang artinya ada hubungan bermakna antara menguras
tempat penampungan air dengan kejadian DBD. Hal ini bisa jadi disebabkan karena
secara umum nyamuk meletakkan telurnya pada dinding tempat penampungan air,
oleh karena itu pada waktu pengurasan atau pembersihan tempat penampungan air
dianjurkan menggosok atau menyikat dinding dindingnya menggunakan sabun (Winarsih,
2013).
Pengurasan
tempat-tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya
seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembangbiak di tempat itu. Bila PSN
DBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk Aedes aegypti
dapat ditekan serendah-rendahnya, sehingga penularan DBD tidak terjadi lagi
(Depkes RI, 2016). Kemauan dan tingkat kedisiplinan untuk menguras kontainer
pada masyarakat memang perlu ditingkatkan, mengingat bahwa kebersihan air
selain untuk kesehatan manusia juga untuk menciptakan kondisi bersih
lingkungan. Dengan kebersihan lingkungan diharapkan dapat menekan terjadinya
berbagai penyakit yang timbul akibat dari lingkungan yang tidak bersih.
penelitian
menemukan data bahwa dari 337 responden penelitian ada 202 responden (59,9%)
melakukan pengurasan dan 135 responden (40,1%) tidak melakukan pengurasan <
1 kali dalam 1 minggu.
Kurangnya
kesadaran masyarakat dalam menguras tempat penampungan air dapat mengakibatkan
tumbuhnya jentik nyamuk untuk hidup dan dapat memicu terjadinya kasus demam
berdarah dengue. Oleh karena itu responden yang menguras tempat
penampungan air pada kontainer lebih dari 1 kali dalam 1 minggu hal tersebut
dapat memicu munculnya kejadian DBD.
2.
Hubungan
Menutup Tempat Penampungan Air (TPA) dengan Kejadian DBD
Hasil
penelitian mengenai kejadian DBD dengan menutup tempat penampungan air menunjukkan
bahwa ada hubungan antara ketersediaan tutup pada kontainer dengan kejadian DBD
di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
Kabupaten Pringsewu 2018 dimana nilai p value
= 0,020 yang artinya ada hubungan yang
bermakna antara menutup tempat penampungan air dengan kejadian DBD.
Pentingnya
ketersediaan tutup pada kontainer sangat diperlukan untuk menekan jumlah nyamuk
yang hinggap pada kontainer, dimana kontainer tersebut menjadi media
berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti. Apabila semua masyarakat telah
menyadari pentingnya penutup kontainer, diharapkan keberadaan nyamuk dapat
diberantas, namun kondisi ini tampaknya belum dilaksakanakan secara maksimal.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 212 responden (62,9%) yang
tidak terdapat tutup pada tempat penampungan airnya. Hal tersebut dikarenakan
banyak masyarakat yang kurang mengerti pentingnya tutup pada tempat penampungan
air dan bahwa semakin banyaknya tempat penampungan
air maupun tempat berair lainnya yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk
merupakan kondisi yang potensial untuk terjadinya DBD.
3.
Hubungan
Mengubur Barang-Barang Bekas dengan Kejadian DBD
Hasil
penelitian mengenai mengubur barang-barang bekas dengan kejadian DBD menunjukkan
bahwa tidak ada hubungan antara mengubur barang-barang bekas dengan kejadian
DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
Kabupaten Pringsewu 2018 dimana nilai p value
= 0,407.
Salah satu cara untuk mencegah dan memberantas nyamuk Aedes
aegypti adalah dengan mengubur atau menyingkirkan
barang-barang bekas dan sampah-sampah lain yang dapat menampung air hujan
sehingga tidak dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 269 responden (79,8%) yang tidak
mengubur barang-barang bekas dan 68 responden (20,2%) yang mengubur
barang-barang bekas. Hal tersebut dikarenakan banyak rumah masyarakat yang
tidak memliki barang bekas, kemungkinan masyarakat menjual barang-barang bekas
yang masih memiliki nilai jual dan kebiasaan masyarakat membakar sampah beserta
barang-barang bekas yang sudah tidak berguna.
4.
Hubungan
Menggunakan Obat Nyamuk dengan Kejadian DBD
Hasil
penelitian mengenai menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian DBD
menunjukkan bahwa ada hubungan antara menggunakan obat anti nyamuk dengan
kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan
Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 dimana nilai p value = 0,001.
Menurut WHO (2005: 66 dalam Winarsih,2013 ), penolak serangga
merupakan sarana perlindungan diri terhadap nyamuk dan serangga yang umum
digunakan. Benda ini secara garis besarnya dibagi menjadi dua kategori, penolak
alami dan kimiawi. Minyak esensial dan ekstrak tanaman merupakan bahan pokok
penolak alami.
Penolak serangga kimiawi dapat memberikan perlindungan terhadap
nyamuk Aedes
aegypti, Aedes albopictus selama
beberapa jam. Hal ini sesuai dengan teori Hendrawan Nadesul (2004: 43 dalam
Winarsih, 2013), bahwa cara lain untuk menghindari gigitan nyamuk adalah dengan
membaluri kulit badan dengan obat anti nyamuk (repellent).
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 107 responden (31,8%) tidak
menggunakan obat anti nyamuk dan 230 responden (68,2%) menggunakan obat nyamuk.
5.
Hubungan
Menggunakan Kelambu dengan Kejadian DBD
Hasil
penelitian mengenai menggunakan kelambu dengan kejadian DBD menunjukkan bahwa tidak
ada hubungan antara menggunakan kelambu dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi
Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu
2018 dimana nilai p value = 0,840.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 265 responden (78,6%) tidak
menggunakan kelambu saat tidur dan 72 responden (21,4%) menggunakan kelambu
saat tidur. Hal tersebut dikarenakan masyarakat Desa
Wonodadi merasa merasa panas jika tidur menggunakan kelambu. Kebanyakan
masyarakat yang menggunakan kelambu yaitu masyarakat yang memiliki balita.
6.
Hubungan Menggantung Pakaian dengan Kejadian DBD
Hasil
penelitian mengenai kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD di Desa
Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten
Pringsewu 2018 menunjukkan dimana nilai p value
= 0,003 yang artinya ada hubungan bermakna antaa menggantung pakaian dengan
kejadian DBD.
Hasil
penelitian lapangan menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 4239 responden
(70,9%) memiliki kebiasaan menggantung pakaian dan 98 responden (29,1) tidak
menggantung pakaian, hal tersebut berarti bahwa responden yang masih memiliki
kebiasaan menggantung pakaian memiliki peluang untuk bisa terkena penyakit DBD
dari pada responden yang tidak memiliki kebiasaan menggantung pakaian.
Masyarakat
di Desa Wonodadi mempunyai kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai di dalam
kamar karena kemudahan untuk dipakai lagi keesokan harinya, seperti seragam
sekolah anak, pakaian dinas yang masih layak dipaka keesokan harinya. Jika pun
mereka punya lemari untuk menyimpan tempat menyimpan pakaian bekas , mereka
jarang menggantungnya di dalam lemari karena tidak ingin baju yang bersih
terkena bau yang kurang sedap dari baju bekas pakai.
Seharusnya
pakaian-pakaian yang tergantung di balik lemari atau di balik pintu sebaiknya
dilipat dan disimpan dalam almari khusus, sebelumnya pakaian dijemur dahulu
sehingga baunya tidak melekat dibaju, kemudian ditutup rapat sehingga nyamuk
tidak hinggap/beristirahat di tempat tersebut.
7.
Hubungan
Keberadaan Jentik dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian
mengenai keberadaan jentik Aedes aegypti pada kontainer dengan kejadian DBD menunjukkan
bahwa nilai p value = 0,088 yang
artinya tidak ada hubungan antara keberadaan jentik dengan kejadian DBD di Desa
Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten
Pringsewu 2018.
Perkembangbiakan
nyamuk dengan cara membasmi jentik-jentik nyamuk dengan melakukan 3 M plus
sehingga tidak sampai menjadi nyamuk dewasa. Kegiatan 3 M plus harus sering
dilakukan oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing.
Keberadaan jentik nyamuk yang hidup sangat memungkinkan terjadinya demam
berdarah dengue. Jentik nyamuk yang hidup di berbagai tempat seperti bak
air, atau hinggap di lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa,
pelepah pisang, potongan bambu (Kemekes RI, 2017). Virus dengue ini
memiliki masa inkubasi yang tidak terlalu lama yaitu antara 3-7 hari, virus
akan terdapat di dalam tubuh manusia (Ariani, 2016). Oleh kerena itu apabila
keberadaan jentik nyamuk dibiarkan maka yang terjadi adalah kejadian demam
berdarah dengue yang akan terus meningkat.
Hasil
penelitian memperlihatkan bahwa dari 337 rumah responden yang diperiksa ada
jentik sebanyak 58 rumah responden (17,2%) dan 279 rumah responden (82,8%)
tidak terdapat jentik. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa keberadaan
jentik tidak berhubungan dengan kejadian DBD di desa Wonodadi Wilayah Kerja
Puskesmas Gadingrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Hal ini
dikarenakan masyarakat Desa Wonodadi mempunyai pekerjaan atau aktivitas
sehari-harinya di luar Desa Wonodadi, jadi masyarakat Desa Wonodadi memiliki
kemungkinan terkena DBD di luar Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.
8.
Hubungan Suhu dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian
mengenai suhu dengan kejadian
DBD menunjukkan bahwa nilai p = 0,003 yang artinya ada hubungan antara
suhu dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan
Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
Nyamuk
dapat bertahan hidup pada suhu rendah, tetapi metabolisme menurun atau bahkan
terhenti bila suhunya turun sampai di bawah 100C. Pada suhu yang
lebih tinggi dari 350C, nyamuk juga akan mengalami perubahan, dalam
arti lebih lambatnya proses-proses fisiologis. Rata-rata suhu ideal untuk
pertumbuhan nyamuk adalah 250C-270C. Menurut Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1077/MENKES/PER/V/2011 tentang Pedoman
Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah yaitu
suhu yang baik untuk pertumbuhan nyamuk berkisar antara 180C-300C.
Dari 337
rumah responden yang suhu rumahnya buruk sebanyak 176 rumah (52,2) dan 161
responden (47,8%) suhu rumah dalam keadaan baik.
Hasil penelitian ini tidak relevan dengan penelitian Tadulako
(2016) yang menyatakan bahwa suhu tidak ada hubungan dengan kejadian DBD dengan
nilai p = 270. Pada saat pengukuran
suhu di lapangan, suhu pada rumah responden banyak yang tidak memenuhi syarat terlihat
pada hasil pengukuran yang menunjukan tingginya suhu rumah. Hal tersebut
disebabkan karena keadaan iklim dan cuaca yang tidak menentu.
9.
Hubungan Kelembaban dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian
mengenai kelembaban dengan kejadian
DBD menunjukkan bahwa nilai p = 0,163 yang artinya tidak ada hubungan
antara kelembaban dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas
Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
Kelembaban
udara yang terlalu tinggi di dalam rumah mengakibatkan rumah dalam keadaan
basah dan lembab yang memungkinkan berkembangbiaknya bakteri atau kuman
penyebab penyakit. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan nyamuk berkisar antara
60%-80% sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.1077/MENKES/PER/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang Rumah yaitu kelembaban yang baik untuk pertumbuhan nyamuk berkisar
40%-70%.
Dalam
kehidupan nyamuk kelembaban udara mempengaruhi kebiasaan meletakkan telurnya.
Hal ini berkaitan dengan nyamuk atau serangga pada umumnya bahwa kehidupannya
ditentukan oleh faktor kelembaban. Sistem pernafasan nyamuk Aedes Aegypti
dengan menggunakan pipa-pipa udara yang disebut trachea, dengan lubang pada
dinding tubuh nyamuk yang disebut spiracle. Adanya spirakel yang terbuka lebar
tanpa ada mekanisme pengaturannya, maka pada kelembaban rendah akan menyebabkan
penguapan air di dalam tubuh nyamuk. Pada kelembaban di bawah 60% nyamuk tidak
dapat bertahan hidup, akibatnya umur nyamuk menjadi lebih pendek, sehingga nyamuk
tersebut tidak dapat menjadi vektor karena tidak cukup waktu untuk perpindahan
virus dari lambung ke kelenjar ludahnya (Widodo, Nur Purwono, 2012).
Pada saat melakukan pengukuran di lapangan , walaupun rata-rata
suhu yang didapatkan tinggi berkisar 30-340C, tetapi hasil
kelembaban masih memenuhi syarat kesehatan.
Berdasarkan hasil pengukuran bahwa semakin rendah suhu maka kelembaban
akan semakin tinggi.
Dari
hasil pengukuran 337 rumah responden yang diperiksa, responden yang kelembaban
rumahnya dalam keadaan baik sebanyak 273 rumah responden (81%) dan kelembaban
rumah responden dalam keadaan buruk sebanyak 164rumah responden (19). Hasil penelitian ini tidak relevan dengan penelitian Tadulako
(2016) yang menyatakan bahwa kelembaban tidak ada hubungan dengan kejadian DBD
dengan nilai p = 187.
DAFTAR PUSTAKA
Ariani,
Ayu Puti, 2016, Demam Berdara Dengue.
Nuha Medika, Yogyakarta, 116 Halaman.
Basuki,
Bastaman, 2000, Aplikasi Metode
Kasus-Kontrol, Bagian Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jalan Pegangsaan Timur No. 16 Jakarta 10320, 208 Halaman.
Desniawati,
Faradillah, 2014, Pelaksanaan 3M Plus
Terhadap Keberadaan Larva Aedes Aegypty Di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Kota
Tangerang Selatan Bulan Mei-Juni Tahun 2014, Fakultas Kedokteran Dan Ilmu
Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Dinas
Kesehatan Pemerintah Provinsi Lampung, 2016, Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2015, Dinas Kesehatan Provinsi
Lampung, Teluk Betung, 252 Halaman.
Eudea,
Lumingas; Wulan, Kaunang; Asrifuddin, Afnal, 2017, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Demam Berdarah Dengue Di Wilayah
Kerja Puskesmas Tanawangko, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam
Ratulangi, Manado.
Hairani,
Lila Kesuma, 2009, Gambaran Epidemiologi,
Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok.
Kemennterian
Kesehatan RI, 2016, Infodatinn (Pusat
Data dan Informasi Kemenkes RI), Indonesia.
Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang
Persyaratan Kesehatan Perumahan.
Kusumawardani,
Erna, 2012, Kejadian Demam Berdarah
Dengue (DBD) Di Wilayah Pedesaan Tahun 2012 (Daerah Perbatasan Kabupaten Bogor
Dan Kabupaten Lebak), Skripsi Sarjana, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia, Depok.
Nasiatin,
Titin, 2015, Hubungan Faktor Lingkungan
Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Kecamatan Rangkasbitung, Prodi Kesehatan
Masyarakat STIKES Faletehan, Serang.
Notoatmodjo,
Soekidjo, 2014, Metodologi Penelitian
Kesehatan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 242 Halaman.
Pratiwi,
Diantika, 2017, Pengaruh Faktor Iklim dan
Kepadatan Jentik aedes Aegypti Terhadap Kejadian DBD di Kabupaten Pringsewu
Tahun 2011-2015, Skripsi Diploma,
Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Tanjung Karang, Lampung.
Santoso,
Imam, 2013, Manajemen Data Untuk Analisis
Data Penelitian Kesehatan, Gosyen Publishing, Yogyakarta, 118 Halaman.
Septianto,
Argi, 2014, Hubungan Antara Praktik
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Dengan Kebberadaan Jentik Nyamuk Aedes
Aegypti Di RW 7 Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunumgpati Kota Semarang,
Skripsi, Jurusan KesehatanMasyarakat Fakultas Keolahragaan Universitas Negeri
Semarang, Semarang.
Sugiono,
2017, Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D, Alfabeta CV, Bandung, 334 Halaman.
Soedarto,
2012, Demam Berdarah Dengue (Dengue
Heamorrhagic Fever) : Virus Dengue, Aedes, Spektrum Klinis, Tatalaksan,
Pencegahan, Sagug Seto, Jakarta, 202 Halaman.
Sofia;
Suhartono; Wahyuningsih, Nur Endah, 2014. Hubungan
Kondisi Lingkungan Rumah Dan Perilaku Keluarga Dengan Kejadian DBD Di Kabupaten
Aceh Besar, Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia.
Widodo,
Nur Purwono, 2012, Faktor-Faktor Yang
Berhubungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Mataram
Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2012,
Tesis, Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Epidemiologi Universitas
Indonesia, Depok.
Winarsih,
Sri, 2013. Hubungan Kondisi Lingkungan
Rumah Dan Perilaku PSN Dengan Kejadian DBD, Jurusan Ilmu Kesehatan
Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Semarang.
Komentar
Posting Komentar