Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Dan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian DBD Di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun 2018.

JURNAL PENELITIAN SKRIPSI

Fera Yulia Agustina

Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Dan Perilaku Masyarakat Dengan Kejadian DBD Di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun 2018.

Poltekkes Tanjung Karang.jpg
Jika dilihat dari target nasional sebesar < 55/100.000 penduduk, hal ini dikarenakan masyarakat Kabupaten Pringsewu kurang memiliki kesadaran untuk melakukan 3 M+ (mengubur, menutup, dan menguras) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilingkungan masing-masing serta masyarakat Kabupaten Pringsewu lebih mengandalkan fogging. Jumlah kasus yang ditemukan sudah dilakukan penanganan dengan CFR= 19%.
Hal tersebut mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gading Rejo dalam penelitian yang berjudul “Hubungan Faktor Lingkungan Fisik dan Perilaku Masyarakat dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Wonodadi Wilayah kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu tahun 2018”.
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Hubungan Faktor Lingkungan Fisik dan Perilaku Masyarakat dengan Kejadian Demam Berdarah di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu tahun 2018.
Jenis penelitian ini merupakan studi deskriptif analitk. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional.sampel dalam penelitian ini sebanyak 337 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengamatan, dan pengukuran secara langsung. Hasil penelitian di uji secara statistik menggunakan uji chi square pada tingkat kepercayaan 95% menggunakanprogram SPSS versi 16.0
Hasil penelitian menunjukan Ada hubungan antara menguras TPA (p= 0,029), ketersediaan tutup pada kontainer (p= 0,020), menggunakan obat anti nyamuk (p= 0,001), menggantung pakaian (p= 0,003), suhu (p= 0,003)


Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus (Kementerian Kesehatan RI, 2017).
Pada umumnya penderita Demam Berdarah Dengue(DBD) akan mengalami fase demam selama 2-7 hari, fase pertama: 1-3 hari ini penderita akan merasakan demam yang cukup tinggi 400C, kemudian pada fase ke-dua penderita mengalami fase kritis pada hari ke 4-5, pada fase ini penderita akan mengalami turunnya demam hingga 370C dan penderita akan merasa dapat melakukan aktivitas kembali (merasa sembuh kembali) pada fase ini jika tidak mendapatkan pengobatan yang adekuat dapat terjadi keadaan fatal, akan terjadi penurunan trombosit secara drastis akibat pemecahan pembuluh darah (pendarahan). Di fase yang ketiga ini akan terjadi pada hari ke 6-7 ini, penderita akan merasakan demam kembali, fase ini dinamakan fase pemulihan, di fase inilah trombosit akan perlahan naik kembali normal kembali (Kementerian Kesehatan RI, 2017).
Wonodadi sebanyak 13  kasus dari bulan Januari-Mei tahun 2018.
Jika dilihat dari target nasional sebesar < 55/100.000 penduduk, hal ini dikarenakan masyarakat Kabupaten Pringsewu kurang memiliki kesadaran untuk melakukan 3 M+ (mengubur, menutup, dan menguras) dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilingkungan masing-masing serta masyarakat Kabupaten Pringsewu lebih mengandalkan fogging. Jumlah kasus yang ditemukan sudah dilakukan penanganan dengan CFR= 19%. (Seksi P2 Dinas Kesehatan Kab. Pringsewu, 2016).
Hal tersebut mendorong penulis untuk meneliti lebih lanjut tentang kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gading Rejo dalam penelitian yang berjudul “Hubungan Faktor Lingkungan Fisik dan Perilaku Masyarakat dengan kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Desa Wonodadi Wilayah kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu tahun 2018”.
Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah diskriptif analitik yaitu penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengapa fenomena itu dapat terjadi. Desain dalam penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek, menggunakan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (point time approach), artinya tiap subjek penelitian hanya diobservasi sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter atau variable subjek pada saat pemeriksaan (Notoatmodjo, Soekidjo 2014: 37-38).
Waktu dan Lokasi Penelitian
 Waktu penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Juli 2018.Lokasi penelitian ini dilaksanakandi Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu.



Subjek Penelitian
1.    Populasi
Populasi merupakan obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2017:80).
Populasi dalam penelitian ini adalah KK yang dalam anggota keluarganya pernah mengalami DBD dan tidak mengalami DBD yaitu dengan jumlah populasi di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo sebanyak 8.971 jiwa dan 2.137 KK.
2.      Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2017:81).
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin dalam (Sugiyono, 2017) sebagai berikut:
Keterangan:      
N = besar populasi
n = besar sampel        
d = tingkat presisi yang diinginkan: 0,05
 KK.
n = 337 KK.

Teknik Pengambilan Sampel
Menurut Notoatmodjo ( 2012:120) teknik pengambilan sampel yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak. Teknik random sampling ini digunakan apabila jumlah populasi setiap unit atau anggota bersifat homogen atau diasumsikan homogen. Hal ini berarti setiap sampel mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil sampel.
Pengambilan sampel secara acak sederhana yang peneliti gunakan adalah dengan melakukan pengundian atau pengocokan anggota populasi di masyarakat di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo.

Variabel Penelitian
1.        Variabel Dependen
Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiono, 2017:39).
Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gading Rejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
2.        Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (Sugiono, 2017:39). Variabel independen dalam penelitian ini yaitu menguras TPA, menutup TPA, mengubur barang-barang bekas, penggunaan obat anti nyamuk, kebiasaan menggunakan kelambu, menggantung pakaian, keberadaan jentik, suhu dan kelembaban.

A.      HASIL
1.        Analisis Univariat
Variabel yang diteliti pada penelitian ini adalah beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Kecamatan Gadingrejo 2018. Data tentang variabel yang diteliti diambil dengan melakukan wawancara kepada responden dengan menggunakan kuesioner dan melakukan observasi disetiap setiap rumah responden. Sampel sebanyak 65 KK di Desa Wonodadi Kecamatan Gadingrejo 2018. Kelurahan Wonodadi terdiri dari 8 RW dan 20 RW dan setiap jumlah kepala keluarganya berbeda-beda. Berdasarkan hasil wawancara diperoleh data sebagai berikut:

a.      Menguras Tempat Penampungan Air
Menguras tempat penampungan air yang dimaskudkan dalam penelitian ini adalah responden yang menguras tempat penampungan air setidaknya 1 kali dalam seminggu. Berdasarkan hasil penelitian tentang kebiasaan menguras tempat penampungan air adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Distribusi Responden Menguras Tempat Penampungan Air di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Menguras TPA
Frekuensi
Persen(%)
1.
Tidak
135
40,1
2.
Ya
202
59,9
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang menguras tempat penampungan air sebanyak 202 responden (59,9%) sedangkan responden yang tidak menguras tempat penampungan air sebanyak 135 responden (40,1%).

b.        Menutup Tempat Penampungan Air
Menutup tempat penampungan air yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah responden yang menutup tempat penampungan air dengan rapat-rapat. Berdasarkan hasil penelitian tentang menutup tempat penampungan air adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2
Distribusi Responden Menutup Tempat Penampungan Air di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Menutup TPA
Frekuensi
Persen(%)
1.
Tidak
212
62,9
2.
Ya
125
37,1
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak menutup tempat penampungan air sebanyak 212 responden (62,9%) sedangkan responden yang menutup tempat penampungan air sebanyak 125 responden (37,1%).

c.         Mengubur Barang-Barang Bekas
Mengubur barang-barang bekas yang dimaskudkan dalam penelitian ini adalah responden yang mengubur barang-barang bekas seperti kaleng bekas, botol air mineral, plastik bekas, dll. Berdasarkan hasil penelitian tentang kebiasaan mengubur barang-barang bekas adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3
Distribusi Responden Mengubur Barang-Barang Bekas di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Mengubur Barang-Barang Bekas
Frekuensi
Persen(%)
1.
Tidak
269
79,8
2.
Ya
68
20,2
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak mengubur barang-barang bekas sebanyak 269 responden (79,8%) sedangkan responden yang mengubur barang-barang bekas sebanyak 68 responden  (20,2%).

d.        Menggunakan Obat Anti Nyamuk
Menggunakan obat anti nyamuk yang dimaskudkan dalam penelitian ini adalah responden yang menggunakan obat anti nyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk seperti obat nyamuk bakar, semprot atau elektrik dll. Berdasarkan hasil penelitian tentang kebiasaan menggunakan obat anti nyamuk adalah sebagai berikut:

Tabel 4.4
Distribusi Responden Menggunakan Obat Anti Nyamuk di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Menggunakan Obat Anti Nyamuk
Frekuensi
Persen(%)
1.
Tidak
107
31,8
2.
Ya
230
68,2
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak menggunakan obat anti nyamuk sebanyak 107 responden (31,8%) sedangkan responden yang menggunakan obat anti nyamuk sebanyak 230 responden (68,2%).



e.         Memakai Kelambu
Memakai kelambu yang dimaskudkan dalam penelitian ini adalah responden yang kebiasaan memakai kelambu saat tidur baik pagi, siang, atau sore hari. Berdasarkan hasil penelitian tentang kebiasaan memakai kelambu adalah sebagai berikut
Tabel 4.5
Distribusi Responden Memakai Kelambu di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Memakai Kelambu
Frekuensi
Persen(%)
1.
Tidak
265
78,6
2.
Ya
72
21,4
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang tidak menggunakan kelambu sebanyak 265 responden (78,6%) sedangkan responden yang menggunakan obat kelambu sebanyak 72 responden (21,4%).

f.         Menggantung Pakaian
Menggantung pakaian yang dimaskudkan dalam penelitian ini adalah responden yang menggantung pakaian dengan dengan waktu yang lama. Berdasarkan hasil penelitian tentang kebiasaan menggantung pakaian adalah sebagai berikut:
Tabel 4.6
Distribusi Responden Menggantung Pakaian di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Menggantung Pakaian
Frekuensi
Persen(%)
1.
Ya
239
70,9
2.
Tidak
98
29,1
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang memiliki kebiasaan menggantung pakain sebanyak 239 responden (70,9%) sedangkan responden yang tidak memiliki kebiasaan menggantung pakaian sebanyak 98 responden (29,1%).



g.        Keberadaan Jentik
Keberadaan jentik yang dimaskudkan dalam penelitian ini adalah pemeriksaan jentik Aedes aegypti pada kontainer diperoleh dari  jumlah jentik yang terdapat pada kontainer seperti di bak mandi, drum, tempayan, ban bekas dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian tentang keberadaan jentik telah di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.7
Distribusi Keberadaan Jentik di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Keberadaan Jentik
Frekuensi
Persen(%)
1.
Ada
58
17,2
2.
Tidak Ada
279
82,8
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.7 dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang rumahnya terdapat jentik sebanyak 58 responden (17,2%) sedangkan responden yang rumahnya tidak terdapat jentik sebanyak 279 responden (82,8%).

h.        Suhu
Suhu yang dimasudkan dalam penelitian ini adalah hasil pengukuran suhu yang dilakukan di rumah responden Berdasarkan pengukuran suhu tersebut di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.8
Distribusi Pengukuran Suhu di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Suhu
Frekuensi
Persen(%)
1.
Buruk
176
52,2
2.
Baik
161
47,8
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa hasil pengukuran suhu di rumah responden yang termasuk dalam kategori buruk sebanyak 176 responden (52,2%) sedangkan hasil pengukuran suhu di rumah responden yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 161 responden (47,8%).



i.          Kelembaban
Kelembaban yang dimasudkan dalam penelitian ini adalah hasil pengukuran kelembaban yang dilakukan di rumah responden Berdasarkan pengukuran kelembaban tersebut di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.9
Distribusi Pengukuran Kelembaban di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Kelembaban
Frekuensi
Persen(%)
1.
Buruk
64
19
2.
Baik
273
81
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.9 dapat diketahui bahwa hasil pengukuran kelembaban di rumah responden yang termasuk dalam kategori buruk sebanyak 64 orang (19%) sedangkan hasil pengukuran kelembaban di rumah responden yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 273 responden (81%).

j.          Kejadian DBD
Kejadian DBD dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil penelitian mengenai kejadian DBD diperoleh dari hasil wawancara kepada responden, kemudian dari hasil wawancara diketahui bahwa kejadian DBD yang yang menyerang masyarakat Desa Wonodadi. Berdasarkan  wawancara yang talah dilakukan terhadap responden di dapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.10
Distribusi Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

No
Kejadian DBD
Frekuensi
Persen(%)
1.
DBD
85
25,2
2.
Tidak DBD
252
74,8
Jumlah
337
100

Berdasarkan tabel 4.10 dapat diketahui bahwa hasil wawancara yang telah dilakukan di rumah responden didapatkan jumlah responden yang terkena DBD sebanyak 85 orang (25,2%) sedangkan responden yang tidak DBD sebanyak 252 responden (74,8%).
3.        Analisis Bivariat
Analisis bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian demam berdarah dengue di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018. Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan uji Chi Square. Pengujian data penelitian menggunakan bantuan program SPSS versi 16.0 for Windows diperoleh hasil analisis sebagai berikut:

a.      Hubungan Menguras Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan menguras tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.12
Hubungan Menguras Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kabupaten
 Pringsewu Tahun 2018

Menguras TPA
P
Value

Tidak
Ya
Total
Frek
%
Frek
%
Frek
%
0,029
Kejadian DBD
DBD
25
7,4
60
27,8
85
25,2
Tidak DBD
110
32,6
142
42,1
252
74,8
Jumlah
135
40,1
202
59,9
337
100

Berdasarkan Tabel 4.12 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252 responden, dimana responden yang sakit DBD dan tidak menguras tempat penampungan air sebesar 7,4% (25 responden) dan responden yang sakit DBD dengan  menguras tempat penumpangan air sebesar 27,8% (60 responden), sedangkan responden yang tidak DBD dan tidak menguras tempat penampungan air sebesar (110 responden) 32,6% dan tidak DBD tetapi menguras tempat penampungan air sebesar (142 responden) 42%. Hasil ujistatistik Chi Square menunjukkan bahwa p value = 0,029 (p <0,05), artinya terdapat hubungan antara menguras tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
b.      Hubungan Menutup Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan menutup tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.13
Hubungan Menutup Tempat Penampungan Air dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kabupaten Pringsewu Tahun 2018

Kebiasaan Menutup TPA
P value

Tidak
Ya
Total
Frek
%
Frek
%
Frek
%
0,020
Kejadian DBD
DBD
44
13,1
41
12,2
85
25,2
Tidak DBD
168
49,9
84
24,9
252
74,8
Jumlah
212
62,9
125
37,1
337
100

Berdasarkan Tabel 4.13 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252 responden, dimana responden yang sakit DBD dan tidak menutup tempat penampungan air sebesar 13,1% (44 responden) dan responden yang sakit DBD dengan menutup tempat penampungan air sebesar 12,2% (41 responden), sedangkan responden yang tidak DBD dan tidak menutup tempat penampungan air sebesar 49,9% (168 responden) dan responden tidak DBD dan menutup tempat penampungan air sebesar 24,9% (84 responden). Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p = 0,020 (p <0,05) artinya terdapat hubungan antara frekuensi menutup tempat penampungan air dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.


c.         Hubungan Mengubur Barang-Barang Bekas dengan Kejadian DBD
Hasil pengujian hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan antara frekuensi mengubur barang-barang bekas dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi disajikan pada Tabel 4.14 berikut ini:
Tabel 4.14
Hubungan Mengubur Barang-Barang Bekas dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

Mengubur Barang-Barang Bekas
P value

Tidak
Ya
Total
Frek
%
Frek
%
Frek
%
0,407
Kejadian DBD
DBD
71
21,1
14
4,2
85
25,2
Tidak DBD
198
58,8
54
16
252
74,8
Jumlah
269
79,8
68
20,2
337
100

Berdasarkan Tabel 4.14 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252 responden, dimana responden yang DBD dan tidak mengubur barang-barang bekas sebesar 21,1% (71) dan responden yang DBD dan mengubur barang-barang bekas sebesar 4,2% (14 responden), sedangkan yang tidak DBD dan tidak menubur barang-barang bekas (198 responden) 79,8% dan responden yang tidak DBD dann mengubur barang-barang bekas sebesar (54 responden) 16%. Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p value = 0,407 (p > 0,05) artinya tidak terdapat hubungan antara mengubur barang-barang bekas dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.

d.        Hubungan Menggunakan Obat Anti Nyamuk dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.15
Hubungan Menggunakan Obat Anti Nyamuk dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.

Kebiasaan Menggunakan Obat Anti Nyamuk
P value

Tidak
Ya
Total
Frek
%
Frek
%
Frek
%
0,001
Kejadian DBD
DBD
40
11,9
45
13,4
85
25,2
Tidak DBD
67
19,9
185
54,8
252
74,8
Jumlah
107
31,8
230
68,2
337
100

Berdasarkan Tabel 4.15 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252 responden, dimana responden yang DBD dan tidak menggunakan obat anti nyamuk sebesar 11,9% (40 responden) dan resoponden yang DBD dan menggunakan obat anti nyamuk sebesar (185 responden) 54,8%, sedangkan responden yang tidak DBD dan tidak menggunakan obat anti nyamuk sebesar (67 responden) 19,9% dan responden yang tidak DBD dan menggunakan obat anti nyamuk sebesar (185 responden) 54,8% . Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p = 0,001 (p <0,05), artinya terdapat hubungan antara frekuensi menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.


e.         Hubungan Menggunakan Kelambu dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan menggunakan kelambu dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.16
Hubungan Menggunakan Kelambu dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

Kebiasaan Menggunakan Kelambu
P value

Tidak
Ya
Total
Frek
%
Frek
%
Frek
%
0,840
Kejadian DBD
DBD
68
20,2
17
5
85
25,2
Tidak DBD
197
58,5
55
16,3
252
74,8
Jumlah
265
78,6
72
21,4
337
100

Berdasarkan Tabel 4.15 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252 responden, dimana responden yang DBD dan tidak menggunakan kelambu sebesar (68 responden) 20,2% dan responden yang DBD dan menggunakan kelambu sebesar (17 responden) 5%, sedangkan responden yang tidak DBD dan tidak memakai kelambu sebesar (197 responden) 78,6% dan responden yang tidak DBD dan menggunakan kelambu sebesar (55 responden) 16,3%. Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p value = 0,840 (p >0,05), artinya tidak terdapat hubungan antara menggunakan kelambu dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.

f.         Hubungan Menggantung Pakaian dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan menggantung pakaian dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.17
Hubungan Menggantung Pakaian dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo
Kabupaten Pringsewu 2018

Kebiasaan Menggantung Pakaian
P value

Tidak
Ya
Total
Frek
%
Frek
%
Frek
%
0,003
Kejadian DBD
DBD
49
14,5
36
10,7
85
25,2
Tidak DBD
190
56,4
62
18,4
252
74,8
Jumlah
239
70,9
98
29,1
337
100

Berdasarkan Tabel 4.17 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD sebesar 252 responden, dimana (49 responden) 14,5% responden DBD dan tidak menggantung pakaian dan (36 responden) 10,7% responden yang DBD dan menggantung pakaian, sedangkan responden yang tidak sakit DBD dan tidak menggantung pakain sebesar (190 responden) 56,4% dan responden yang tidak DBD dan mengantung pakaian sebesar (62 responden) 18,4%. Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p = 0,003 (p <0,05), artinya terdapat hubungan antara menggantung pakaian dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.

g.      Hubungan Keberadaan Jentik dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan keberadaan jentik dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.18
Hubungan Keberadaan Jentik dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

Keberadaan Jentik
P value

Ada
Tidak ada
Total
Frek
%
Frek
%
Frek
%
0,088
Kejadian DBD
DBD
9
2,7
76
22,6
85
25,2
Tidak DBD
49
14,5
203
60,2
252
74,8
Jumlah
58
17,2
279
82,8
337
100

Berdasarkan Tabel 4.18 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah sakit DBD ada 85 responden dan responden yang tidak pernah sakit sebesar 252 responden, dimana 9 rumah responden (2,7%) yang DBD dan terdapat jentik di dalam kontainer dan 76 rumah responden (22,6%) yang DBD dan tidak terdapat jentik di dalam kontainer, sedangkan responden yang tidak DBD dan ada jentik di dalam kontainer sebesar 49 rumah responden (14,5%) dan responden yang tidak DBD dan tidak terdapat jentik sebesar 203 rumah responden (60,2). Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p value = 0,088 (p >0,05), artinya tidak terdapat hubungan antara keberadaan jentik dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.

h.        Hubungan Suhu dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan suhu dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.19
Hubungan Suhu dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

Suhu
P value

Buruk
Baik
Total
Frek
%
Frek
%
Frek
%
0,003
Kejadian DBD
DBD
32
9,5
53
15,7
85
25,2
Tidak DBD
144
42,7
108
32
252
74,8
Jumlah
176
52,2
161
47,8
337
100

Berdasarkan Tabel 4.19 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah sakit DBD ada 85 responden dan responden yang tidak pernah sakit ada 252 responden, dimana 32 rumah (9,5%) yang DBD dan suhu dalam keadaan dan 53 rumah (15,7%) yang DBD dan suhu dalam keadaan baik sedangkan responden yang tidak DBD dan suhu rumah dalam keadaan buruk sebesar 144 rumah (52,2%). Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p value= 0,003 (p <0,05), artinya ada hubungan antara suhu dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.

i.          Hubungan Kelembaban dengan Kejadian DBD
Berdasarkan hasil analisa bivariat hubungan kelembaban dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 sebagai berikut:
Tabel 4.20
Hubungan Kelembaban dengan Kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018

Kebiasaan Kelembaban
P value

Buruk
Baik
Total
0,163
Frek
%
Frek
%
Frek
%
Kejadian DBD
DBD
21
6,2
64
19
85
25,2
Tidak DBD
43
12,8
209
62
252
74,8
Jumlah
64
19
273
81
337
100

Berdasarkan Tabel 4.20 diatas dapat diketahui bahwa kejadian DBD pada responden yang pernah sakit DBD ada 85 responden dan yang tidak pernah sakit DBD ada 252 responden, dimana 21 rumah (6,2%) responden yang DBD dan kelembaban dalam keadaan buruk dan 64 rumah (19%) responden yaang DBD dan kelembaban dalam keadaan baik sedangkan responden yang tidak DBD dan kelembaban rumah buruk sebesar 43 rumah (12,8%) dan responden yang tidak DBD dan kelembaban baik sebesar 209 rumah (62%). Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan bahwa p = 0,163 (p >0,05), artinya tidak terdapat hubungan antara kelembaban dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.

B.       PEMBAHASAN
1.    Hubungan Menguras Tempat Penampungan Air (TPA) dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian mengenai kejadian DBD dengan menguras tempat penampungan air menunjukkan bahwa menguras tempat penampungan air mempunyai hubungan terhadap kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 dimana nilai p value= 0,029 yang artinya ada hubungan bermakna antara menguras tempat penampungan air dengan kejadian DBD. Hal ini bisa jadi disebabkan karena secara umum nyamuk meletakkan telurnya pada dinding tempat penampungan air, oleh karena itu pada waktu pengurasan atau pembersihan tempat penampungan air dianjurkan menggosok atau menyikat dinding dindingnya menggunakan sabun (Winarsih, 2013).
Pengurasan tempat-tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembangbiak di tempat itu. Bila PSN DBD dilaksanakan oleh seluruh masyarakat, maka populasi nyamuk Aedes aegypti dapat ditekan serendah-rendahnya, sehingga penularan DBD tidak terjadi lagi (Depkes RI, 2016). Kemauan dan tingkat kedisiplinan untuk menguras kontainer pada masyarakat memang perlu ditingkatkan, mengingat bahwa kebersihan air selain untuk kesehatan manusia juga untuk menciptakan kondisi bersih lingkungan. Dengan kebersihan lingkungan diharapkan dapat menekan terjadinya berbagai penyakit yang timbul akibat dari lingkungan yang tidak bersih.
penelitian menemukan data bahwa dari 337 responden penelitian ada 202 responden (59,9%) melakukan pengurasan dan 135 responden (40,1%) tidak melakukan pengurasan < 1 kali dalam 1 minggu.
Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menguras tempat penampungan air dapat mengakibatkan tumbuhnya jentik nyamuk untuk hidup dan dapat memicu terjadinya kasus demam berdarah dengue. Oleh karena itu responden yang menguras tempat penampungan air pada kontainer lebih dari 1 kali dalam 1 minggu hal tersebut dapat  memicu munculnya kejadian DBD.

2.    Hubungan Menutup Tempat Penampungan Air (TPA) dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian mengenai kejadian DBD dengan menutup tempat penampungan air menunjukkan bahwa ada hubungan antara ketersediaan tutup pada kontainer dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 dimana nilai p value = 0,020 yang artinya ada  hubungan yang bermakna antara menutup tempat penampungan air dengan kejadian DBD.
Pentingnya ketersediaan tutup pada kontainer sangat diperlukan untuk menekan jumlah nyamuk yang hinggap pada kontainer, dimana kontainer tersebut menjadi media berkembangbiaknya nyamuk Aedes aegypti. Apabila semua masyarakat telah menyadari pentingnya penutup kontainer, diharapkan keberadaan nyamuk dapat diberantas, namun kondisi ini tampaknya belum dilaksakanakan secara maksimal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 212 responden (62,9%) yang tidak terdapat tutup pada tempat penampungan airnya. Hal tersebut dikarenakan banyak masyarakat yang kurang mengerti pentingnya tutup pada tempat penampungan air dan bahwa semakin banyaknya tempat penampungan air maupun tempat berair lainnya yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk merupakan kondisi yang potensial untuk terjadinya DBD. 

3.    Hubungan Mengubur Barang-Barang Bekas dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian mengenai mengubur barang-barang bekas dengan kejadian DBD menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara mengubur barang-barang bekas dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 dimana nilai p value = 0,407.
Salah satu cara untuk mencegah dan memberantas nyamuk Aedes aegypti adalah dengan mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas dan sampah-sampah lain yang dapat menampung air hujan sehingga tidak dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 269 responden (79,8%) yang tidak mengubur barang-barang bekas dan 68 responden (20,2%) yang mengubur barang-barang bekas. Hal tersebut dikarenakan banyak rumah masyarakat yang tidak memliki barang bekas, kemungkinan masyarakat menjual barang-barang bekas yang masih memiliki nilai jual dan kebiasaan masyarakat membakar sampah beserta barang-barang bekas yang sudah tidak berguna.

4.    Hubungan Menggunakan Obat Nyamuk dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian mengenai menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian DBD menunjukkan bahwa ada hubungan antara menggunakan obat anti nyamuk dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 dimana nilai p value = 0,001.
Menurut WHO (2005: 66 dalam Winarsih,2013 ), penolak serangga merupakan sarana perlindungan diri terhadap nyamuk dan serangga yang umum digunakan. Benda ini secara garis besarnya dibagi menjadi dua kategori, penolak alami dan kimiawi. Minyak esensial dan ekstrak tanaman merupakan bahan pokok penolak alami.
Penolak serangga kimiawi dapat memberikan perlindungan terhadap nyamuk Aedes aegypti, Aedes albopictus selama beberapa jam. Hal ini sesuai dengan teori Hendrawan Nadesul (2004: 43 dalam Winarsih, 2013), bahwa cara lain untuk menghindari gigitan nyamuk adalah dengan membaluri kulit badan dengan obat anti nyamuk (repellent).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 107 responden (31,8%) tidak menggunakan obat anti nyamuk dan 230 responden (68,2%) menggunakan obat nyamuk.

5.    Hubungan Menggunakan Kelambu dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian mengenai menggunakan kelambu dengan kejadian DBD menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara menggunakan kelambu dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 dimana nilai p value = 0,840.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 265 responden (78,6%) tidak menggunakan kelambu saat tidur dan 72 responden (21,4%) menggunakan kelambu saat tidur. Hal tersebut dikarenakan masyarakat Desa Wonodadi merasa merasa panas jika tidur menggunakan kelambu. Kebanyakan masyarakat yang menggunakan kelambu yaitu masyarakat yang memiliki balita.

6.        Hubungan Menggantung Pakaian dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian mengenai kebiasaan menggantung pakaian dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018 menunjukkan dimana nilai p value = 0,003 yang artinya ada hubungan bermakna antaa menggantung pakaian dengan kejadian DBD.
Hasil penelitian lapangan menunjukkan bahwa dari 337 responden ada 4239 responden (70,9%) memiliki kebiasaan menggantung pakaian dan 98 responden (29,1) tidak menggantung pakaian, hal tersebut berarti bahwa responden yang masih memiliki kebiasaan menggantung pakaian memiliki peluang untuk bisa terkena penyakit DBD dari pada responden yang tidak memiliki kebiasaan menggantung pakaian.
Masyarakat di Desa Wonodadi mempunyai kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai di dalam kamar karena kemudahan untuk dipakai lagi keesokan harinya, seperti seragam sekolah anak, pakaian dinas yang masih layak dipaka keesokan harinya. Jika pun mereka punya lemari untuk menyimpan tempat menyimpan pakaian bekas , mereka jarang menggantungnya di dalam lemari karena tidak ingin baju yang bersih terkena bau yang kurang sedap dari baju bekas pakai.
Seharusnya pakaian-pakaian yang tergantung di balik lemari atau di balik pintu sebaiknya dilipat dan disimpan dalam almari khusus, sebelumnya pakaian dijemur dahulu sehingga baunya tidak melekat dibaju, kemudian ditutup rapat sehingga nyamuk tidak hinggap/beristirahat di tempat tersebut.

7.        Hubungan Keberadaan Jentik dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian mengenai keberadaan jentik Aedes aegypti pada kontainer dengan kejadian DBD menunjukkan bahwa nilai p value = 0,088 yang artinya tidak ada hubungan antara keberadaan jentik dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
Perkembangbiakan nyamuk dengan cara membasmi jentik-jentik nyamuk dengan melakukan 3 M plus sehingga tidak sampai menjadi nyamuk dewasa. Kegiatan 3 M plus harus sering dilakukan oleh masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Keberadaan jentik nyamuk yang hidup sangat memungkinkan terjadinya demam berdarah dengue. Jentik nyamuk yang hidup di berbagai tempat seperti bak air, atau hinggap di lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah pisang, potongan bambu (Kemekes RI, 2017). Virus dengue ini memiliki masa inkubasi yang tidak terlalu lama yaitu antara 3-7 hari, virus akan terdapat di dalam tubuh manusia (Ariani, 2016). Oleh kerena itu apabila keberadaan jentik nyamuk dibiarkan maka yang terjadi adalah kejadian demam berdarah dengue yang akan terus meningkat.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari 337 rumah responden yang diperiksa ada jentik sebanyak 58 rumah responden (17,2%) dan 279 rumah responden (82,8%) tidak terdapat jentik. Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa keberadaan jentik tidak berhubungan dengan kejadian DBD di desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu. Hal ini dikarenakan masyarakat Desa Wonodadi mempunyai pekerjaan atau aktivitas sehari-harinya di luar Desa Wonodadi, jadi masyarakat Desa Wonodadi memiliki kemungkinan terkena DBD di luar Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.

8.        Hubungan Suhu dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian mengenai suhu dengan kejadian DBD menunjukkan bahwa nilai p = 0,003 yang artinya ada hubungan antara suhu dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
Nyamuk dapat bertahan hidup pada suhu rendah, tetapi metabolisme menurun atau bahkan terhenti bila suhunya turun sampai di bawah 100C. Pada suhu yang lebih tinggi dari 350C, nyamuk juga akan mengalami perubahan, dalam arti lebih lambatnya proses-proses fisiologis. Rata-rata suhu ideal untuk pertumbuhan nyamuk adalah 250C-270C. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1077/MENKES/PER/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang  Rumah yaitu suhu yang baik untuk pertumbuhan nyamuk berkisar antara 180C-300C.
Dari 337 rumah responden yang suhu rumahnya buruk sebanyak 176 rumah (52,2) dan 161 responden (47,8%) suhu rumah dalam keadaan baik.
Hasil penelitian ini tidak relevan dengan penelitian Tadulako (2016) yang menyatakan bahwa suhu tidak ada hubungan dengan kejadian DBD dengan nilai p = 270. Pada saat pengukuran suhu di lapangan, suhu pada rumah responden banyak yang tidak memenuhi syarat terlihat pada hasil pengukuran yang menunjukan tingginya suhu rumah. Hal tersebut disebabkan karena keadaan iklim dan cuaca yang tidak menentu.

9.        Hubungan Kelembaban dengan Kejadian DBD
Hasil penelitian mengenai kelembaban dengan kejadian DBD menunjukkan bahwa nilai p = 0,163 yang artinya tidak ada hubungan antara kelembaban dengan kejadian DBD di Desa Wonodadi Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kecamatan Gadingrejo Kabupaten Pringsewu 2018.
Kelembaban udara yang terlalu tinggi di dalam rumah mengakibatkan rumah dalam keadaan basah dan lembab yang memungkinkan berkembangbiaknya bakteri atau kuman penyebab penyakit. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan nyamuk berkisar antara 60%-80% sedangkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.1077/MENKES/PER/V/2011 tentang Pedoman Penyehatan Udara Dalam Ruang  Rumah yaitu kelembaban yang  baik untuk pertumbuhan nyamuk berkisar 40%-70%.
Dalam kehidupan nyamuk kelembaban udara mempengaruhi kebiasaan meletakkan telurnya. Hal ini berkaitan dengan nyamuk atau serangga pada umumnya bahwa kehidupannya ditentukan oleh faktor kelembaban. Sistem pernafasan nyamuk Aedes Aegypti dengan menggunakan pipa-pipa udara yang disebut trachea, dengan lubang pada dinding tubuh nyamuk yang disebut spiracle. Adanya spirakel yang terbuka lebar tanpa ada mekanisme pengaturannya, maka pada kelembaban rendah akan menyebabkan penguapan air di dalam tubuh nyamuk. Pada kelembaban di bawah 60% nyamuk tidak dapat bertahan hidup, akibatnya umur nyamuk menjadi lebih pendek, sehingga nyamuk tersebut tidak dapat menjadi vektor karena tidak cukup waktu untuk perpindahan virus dari lambung ke kelenjar ludahnya (Widodo, Nur Purwono, 2012).
Pada saat melakukan pengukuran di lapangan , walaupun rata-rata suhu yang didapatkan tinggi berkisar 30-340C, tetapi hasil kelembaban masih memenuhi syarat kesehatan.  Berdasarkan hasil pengukuran bahwa semakin rendah suhu maka kelembaban akan semakin tinggi.
Dari hasil pengukuran 337 rumah responden yang diperiksa, responden yang kelembaban rumahnya dalam keadaan baik sebanyak 273 rumah responden (81%) dan kelembaban rumah responden dalam keadaan buruk sebanyak 164rumah responden (19). Hasil penelitian ini tidak relevan dengan penelitian Tadulako (2016) yang menyatakan bahwa kelembaban tidak ada hubungan dengan kejadian DBD dengan nilai p = 187.





DAFTAR PUSTAKA

Ariani, Ayu Puti, 2016, Demam Berdara Dengue. Nuha Medika, Yogyakarta, 116 Halaman.
Basuki, Bastaman, 2000, Aplikasi Metode Kasus-Kontrol, Bagian Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jalan Pegangsaan Timur No. 16 Jakarta 10320, 208 Halaman.
Desniawati, Faradillah, 2014, Pelaksanaan 3M Plus Terhadap Keberadaan Larva Aedes Aegypty Di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Kota Tangerang Selatan Bulan Mei-Juni Tahun 2014, Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi Lampung, 2016, Profil Kesehatan Provinsi Lampung 2015, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Teluk Betung, 252 Halaman.
Eudea, Lumingas; Wulan, Kaunang; Asrifuddin, Afnal, 2017, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kerja Puskesmas Tanawangko, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi, Manado.
Hairani, Lila Kesuma, 2009, Gambaran Epidemiologi, Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok.
Kemennterian Kesehatan RI, 2016, Infodatinn (Pusat Data dan Informasi Kemenkes RI), Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI, 2017, Demam Berdarah Dengue (DBD), www.kemkes.go.id (16, Maret 2018).
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan.
Kusumawardani, Erna, 2012, Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Wilayah Pedesaan Tahun 2012 (Daerah Perbatasan Kabupaten Bogor Dan Kabupaten Lebak), Skripsi Sarjana, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Depok.
Nasiatin, Titin, 2015, Hubungan Faktor Lingkungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Kecamatan Rangkasbitung, Prodi Kesehatan Masyarakat STIKES Faletehan, Serang.
Notoatmodjo, Soekidjo, 2014, Metodologi Penelitian Kesehatan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 242 Halaman.
                                       , 2014, Kesehatan Masyarakat Ilmu & Seni, PT Rineka Cipta, Jakarta, 382 Halaman.
                                        , 2014, Ilmu Perilaku Kesehatan, PT Rineka Cipta,    Jakarta, 173 Halaman.

Pratiwi, Diantika, 2017, Pengaruh Faktor Iklim dan Kepadatan Jentik aedes Aegypti Terhadap Kejadian DBD di Kabupaten Pringsewu Tahun 2011-2015, Skripsi Diploma, Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan Tanjung Karang, Lampung.
Santoso, Imam, 2013, Manajemen Data Untuk Analisis Data Penelitian Kesehatan, Gosyen Publishing, Yogyakarta, 118 Halaman.
Septianto, Argi, 2014, Hubungan Antara Praktik Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Dengan Kebberadaan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti Di RW 7 Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunumgpati Kota Semarang, Skripsi, Jurusan KesehatanMasyarakat Fakultas Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Semarang.
Sugiono, 2017, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Alfabeta CV, Bandung, 334 Halaman.
Soedarto, 2012, Demam Berdarah Dengue (Dengue Heamorrhagic Fever) : Virus Dengue, Aedes, Spektrum Klinis, Tatalaksan, Pencegahan, Sagug Seto, Jakarta, 202 Halaman.
Sofia; Suhartono; Wahyuningsih, Nur Endah, 2014. Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah Dan Perilaku Keluarga Dengan Kejadian DBD Di Kabupaten Aceh Besar, Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia.
Widodo, Nur Purwono, 2012, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara  Barat Tahun 2012, Tesis, Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Epidemiologi Universitas Indonesia, Depok.
Winarsih, Sri, 2013. Hubungan Kondisi Lingkungan Rumah Dan Perilaku PSN Dengan Kejadian DBD, Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Semarang.


















Komentar

Postingan Populer