GAMBARAN PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN DIARE OLEH IBU-IBU DI KECAMATAN TANJUNG SENANG KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN 2018




GAMBARAN PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA
SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN DIARE OLEH IBU-IBU
 DI KECAMATAN TANJUNG SENANG
KOTA BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2018






Oleh:
LUKMANUL HAKIM
NIM: RPL 1748401081



















PROPOSAL LAPORAN TUGAS AKHIR
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI D III FARMASI
TAHUN 2018
Logo Poltekkes.jpg

GAMBARAN PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA
SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN DIARE OLEH IBU-IBU
 DI KECAMATAN TANJUNG SENANG
KOTA BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2018


Proposal Laporan Tugas Akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat menyelesaikan pendidikan pada Program Diploma III Farmasi
Politeknik Kesehatan Tanjungkarang


Oleh:
LUKMANUL HAKIM
NIM: RPL 1748401081












PROPOSAL LAPORAN TUGAS AKHIR
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI D III FARMASI
TAHUN 2018
LEMBAR PERSETUJUAN

Proposal Laporan Tugas Akhir
Gambaran Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga Sebagai Alternatif Pengobatan Diare Oleh Ibu-Ibu di Dikecamatan Tanjung Senang
                                      Kota Bandar LampungTahun 2018


Penulis
Lukmanul Hakim / NIM : RPL 1748401081


Telah diperiksa dan disetujui tim pembimbing Proposal Tugas Akhir Program
Studi Diploma III Politeknik Kesehatan Tanjungkarang Jurusan Farmasi
Bandar Lampung,  April 2018
Tim Pembimbing I




 Indra Gunawan, M.sc.
NIP. 19830624 201402 1 001



Pembimbing II




Hj.Hijrah,S.si,Apt,M.Kes.
NIP. 198210092003122002





KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya yang telah memberikan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Laporan Tugas Akhir yang berjudul Gambaran Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga Sebagai Alternatif Pengobatan Diare Oleh Ibu-ibu Di Kecamatan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung Tahun 2016yang disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program studi Diploma III di Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Tanjungkarang.
Terwujudnya Laporan Tugas Akhir ini karena bantuan dan bimbingan dari semua pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :
1.        Ibu Dra. Dias Ardini, Apt., MTA selaku Ketua Jurusan dan Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama proses perkuliahan di Jurusan Farmasi Poltekkes Tanjungkarang.
2.        Bapak Indra Gunawan, M.Sc selaku Pembimbing Utama yang telah memberikan banyak saran dan masukan kepada penulis dalam penulisan Laporan Tugas Akhir.
3.        Ibu Hj.Hijrah, S.Si, Apt, M.Kes. selaku Pembimbing Pendamping yang telah memberikan banyak saran dan masukan kepada penulis dalam penulisan Proposal Laporan Tugas Akhir
4.        Segenap dosen serta staf di Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Tanjungkarang.
5.        Rekan-rekan se-almamater dan semua pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan Proposal Laporan Tugas Akhir penulis.
Penulis menyadari atas keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang ada sehingga masih banyak kekurangan baik isi maupun penggunaan kalimat yang kurang tepat dalam penulisan Proposal Laporan Tugas Akhir ini. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan penyusunan Laporan Tugas Akhiryang akan datang dan dapat bermanfaat bagi pembaca dan perkembangan ilmu pengetahuan.

Wassalamu’alaikum warohmatulloh wabarokatuh


                                                                                    Bandar Lampung,  April 2018
         Penulis
                                                                                                Lukmanul Hakim

















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL LUAR........................................................................... i
HALAMAN JUDUL DALAM....................................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................ iii
KATA PENGANTAR..................................................................................... iv
DAFTAR ISI................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL............................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... x


BAB I  PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang........................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah...................................................................... 5
C.     Tujuan Penelitian........................................................................ 5
D.    Manfaat Penelitian..................................................................... 6
E.     Ruang Lingkup Penelitian.......................................................... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.    Tinjauan Pustaka........................................................................ 7
1.      Upaya Kesehatan................................................................. 7
2.      Pengobatan Tradisional........................................................ 8
3.      Diare..................................................................................... 19
B.     Kerangka Teori........................................................................... 24
C.     Kerangka Konsep....................................................................... 25
D.    Definisi Operasional................................................................... 26

BAB III METODE PENELITIAN
A.       Rancangan Penelitian................................................................ 28
B.       Subjek Penelitian...................................................................... 28
C.       Lokasi dan Waktu Penelitian.................................................... 29
D.       Alur Penelitian.......................................................................... 30
E.        Pengumpulan Data.................................................................... 31
F.        Pengolahan Data dan Analisis Data......................................... 31

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


























DAFTAR TABEL
Nomor Tabel                                                                                              Halaman
Tabel.1 Kasus Diare yang Ditangani  Puskesmas Rawat Inap
 Way Kandis Tahun 2017……………………………………………….4

Tabel 2            Definisi Operasional27



























DAFTAR GAMBAR
Nomor Gambar                                                                                         Halaman
Gambar 1        Daun Salam  13
Gambar 2        Buah Jamblang  13
Gambar 3        Kencur14
Gambar 4        Secang14
Gambar 5        Jambu Biji 15
Gambar 6.       Salak16
Gambar 7        Pisang 16
Gambar 8        Sirsak17
Gambar 9        Srikaya17
Gambar 10      Kunyit18
Gambar 11      Sawo18
Gambar 12      Kerangka Teori24
Gambar 13      Kerangka Konsep 25
Gambar 14      Alur Penelitian 30
















DAFTAR LAMPIRAN

Daftar Lampiran                                                                             
Lampiran 1.     Perhitungan pembuatan reagen
Lampiran 2.     Pembuatan reagen
Lampiran 3.     Lembar cheklist pengambilan sampel







 BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang kemungkinan setiap orang yang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Untuk mew ujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat, diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh (Undang-undang kesehatan Republik Indonesia No. 36 tahun 2009).
Pola hidup sehat adalah pilihan yang terbaik yang bisa dilakukan untuk menjaga badan tetap sehat. Tetapi bagi mereka yang terlanjur sakit obat menjadi salah satu faktor penting untuk mewujudkan kemampuan setiap penduduk untuk bisa kembali mendapatkan kesehatan yang diinginkan, sehingga untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut perlu tersedia obat dalam jenis dan jumlah yang cukup, sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat, aman penggunaannya, berkhasiat, dan memiliki mutu yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan, tersebar merata serta terjangkau oleh masyarakat (Agoes, 1992).
Bangsa Indonesia telah mengenal dan memanfaatkan tanaman yang memiliki khasiat obat sebagai salah satu upaya menanggulangi masalah kesehatan. Maraknya gerakan kembali ke alam (back to nature) menyebabkan penggunaan bahan obat alami di dunia semakin meningkat. Hal ini dilatarbelakangi oleh perubahan lingkungan, pola hidup manusia, dan perkembangan pola penyakit. Obat yang berasal dari alam memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan obat-obatan kimia (Zaenal, 2008).
Tanaman obat keluarga (Toga) adalah jenis tanaman yang sengaja dibudidayakan disekitar pekarangan rumah karena memiliki fungsi sebagai tanaman obat sehingga bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan keluarga dengan cara pengolahan atau peracikan yang dilakukan secara sederhana (Gendrowati, 2014).
Banyak negara-negara maju yang sudah memproduksi obat tradisional. Mereka percaya bahwa ramuan tradisional memang dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan tidak menimbulkan efek yang bisa membahayakan kesehatan. Berbagai jenis tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional, diantaranya buah-buahan, sayuran, tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan rempah-rempah (Septiatin, 2009). Keunggulan tanaman obat dari bahan alam yaitu efek samping obat tradisional relatif lebih kecil bila digunakan secara benar dan tepat, adanya efek komplementer dan sinergisme  dalam ramuan obat/komponen bioaktif tanaman obat, serta memiliki lebih dari satu efek farmakologi (Prasetyono, 2012).
Pada masyarakat terutama di desa-desa dan pemukiman yang belum terjangkau pelayanan kesehatan banyak menggunakan tanaman obat yang digunakan sebagai ramuan-ramuan. Tanaman obat ini banyak ditanam dan tersedia di berbagai daerah untuk pengobatan berbagai penyakit termasuk diare. Beberapa tanaman obat yang dimanfaatkan sebagai obat diare antara lain daun pepaya, daun salam, daun jambu biji, daun kunyit, dan daun serai (Hidayati, 2010).
Diare adalah pengeluaran kotoran(tinja) dengan frekuensi yang meningkat  (tiga kali dalam 24jam) disertai dengan perubahan konsistensi tinja menjadi lembek atau cair, dengan atau tanpa darah/lendir dalam tinja (Banister dkk. 2006 )
Penyakit diare banyak terdapat dinegara-negara berkembang dengan standar hidup rendah, dimana dehidrasi akibat diare merupakan salah satu penyebab utama kematian pada anak-anak (Tjay dan Raharja, 2010). Diperkirakan lebih dari 1,3 miliar serangan dan 3,2 juta kematian  per tahun pada balita disebabkan oleh diare. Setiap anak mengalami episode serangan diare rata-rata 3,3 kali setiap tahun. Lebih kurang 80% kematian terjadi pada anak berusia kurang dari dua tahun (Widoyono, 2008).
KecamatanTanjung Senang Kota Bandar Lampung memiliki jumlah penduduk 48.333 jiwa, terdiri dari 9.600 KK (Data kependudukan Kecamatan Tanjung Senang bulan januari tahun 2018). Data kasus diare yang di tangani di Puskesmas Rawat Inap Way Kandis  Tahun 2017 dapat dilihat pada Tabel 1. Penyakit diare di Kecamatan Tanjung Senang  menduduki peringkat keenam dari sepuluh besar penyakit yang ada di Puskesmas Rawat Inap Way Kandis.







Tabel.1 Kasus Diare yang Ditangani
Puskesmas Rawat Inap Way Kandis Tahun 2017

No
Kelurahan
Jumlah Penderita Diare
Persentase(%)
1
Tanjung Senang
262
29,33%
2
Way Kandis
331
37,0%
3
Labuhan Dalam
121
13,55%
4
Perumnas Way Kandis
130
14,55%
5
Pematang Wangi
49
5,48%

Total
893
100%
Sumber : Data Puskesmas Rawat Inap way Kandis Tahun 2017
Pada tahun 2017, penyakit diare menduduki peringkat keenam dari sepuluh besar penyakit yang ada di Puskesmas Rawat Inap Way Kandis. Data Sepuluh Besar Penyakit Puskesmas Rawat Inap Way Kandis Tahun 2017 dapat dilihat pada Lampiran 1. Dari hasil prasurvei yang telah dilakukan di Kecamatan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung, ibu merupakan sosok yang paling berperan dalam mengontrol kesehatan keluarga baik anak maupun suami seperti dalam pengobatan diare, dan ibu berperan penting dalam mengenal khasiat dari tanaman yang dipakai sebagai alternatif pengobatan diare. Dari hasil prasurvei juga masyarakatnya masih banyak yang menggunakan tanaman obat sebagai pengobatan diare karena  menurut masyarat pengobatan dengan obat tradisonal memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan obat-obatan kimia. Berdasarkan uraian diatas, penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai alternatif pengobatan diare oleh ibu- ibu di Kecamatan Tanjung senang Kota Bandar Lampung Tahun 2018.



B.Rumusan Masalah
Bagaimana gambaran pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai alternatif pengobatan diare oleh ibu-ibu di Kecamatan Tanjung Senang kota Bandar Lampung Tahun 2018.

C.Tujuan Penelitian
1.    Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai alternatif pengobatan diare oleh ibu-ibu di Kecamatan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung Tahun 2017.
2.    Tujuan Khusus
a.         Untuk mengetahui jumlah dan presentase karakteristik responden yang memanfaatkan  tanaman obat keluarga sebagai obat diare berdasarkan usia, pendidikan, dan pekerjaan responden.
b.         Untuk mengetahui jumlah dan presentase jenis tanaman obat keluarga yang dipakai responden sebagai obat diare.
c.         Untuk mengetahui jumlah dan presentase bagian tanaman yang dipakai responden sebagai obat diare.
d.        Untuk mengetahui jumlah dan presentase cara pengolahan tanaman obat yang dibuat responden sebagai obat diare.
e.         Untuk mengetahui jumlah dan presentase lama penggunaan tanaman obat yang dibuat responden sebagai obat diare.
f.          Untuk membuat herbarium tanaman obat keluarga yang digunakan sebagai obat diare di Desa Karang Anyar
D.Manfaat Penelitian
1.    Bagi Penulis
            Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai penggunaan tanaman obat keluarga sebagai alternatif pengobatan diare serta sebagai pijakan dasar untuk perkembangan ilmu farmakognosi.
2.    Bagi Akademik
Menjadi sumber rujukan dan informasi bagi mahasiswa Politeknik Kesehatan Tanjung Karang Jurusan Farmasi terutama untuk mata kuliah Farmakognosi dan Farmasetika serta dapat dijadikan bahan referensi penelitian LTA mahasiswa Farmasi selanjutnya.
3.         Bagi Masyarakat
Menjadi sumber informasi bagi masyarakat atau pihak terkait yang ingin memanfaatkan tanaman obat keluarga sebagai alternatif pengobatan diare.

E.   Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini hanya dibatasi pada gambaran pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai alternatif pengobatan diare oleh ibu-ibu di Kecamatan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung Tahun 2018. Ruang lingkup tersebut meliputi: karakteristik responden, jenis tanaman, bagian tanaman, cara pengolahan, dan lama penggunaan tanaman obat yang dibuat sebagai obat diare serta pembuatan herbarium. Penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai Mei 2018 dengan menggunakan metode survei deskriptif. Sampel diambil secara Quota Proporsional Random Sampling.










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.Tinjauan Pustaka
1.         Upaya Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang kemungkinan setiap orang yang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Undang-undang kesehatan Republik Indonesia No.36 tahun 2009).
Menurut Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36 tahun  2009, Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan antara lain:
a.         Promotif: yaitu suatu rangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang lebih mengutamakan kegiatan yang bersifat promosi kesehatan.
b.         Preventif: yaitu suatu kegiatan pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan/penyakit.
c.         Kuratif: yaitu suatu kegiatan atau serangkaian kegiatan pengobatan yang ditujukan untuk penyembuhan penyakit, pengurangan penderita akibat penyakit, pengendalian penyakit, atau pengendalian kecacatan agar kualitas penderita dapat terjaga seoptimal mungkin.
d.        Rehabilitatif: yaitu kegiatan untuk mengembalikan bekas penderita ke dalam masyarakat sehingga dapat berfungsi lagi sebagai anggota masyarakat yang berguna untuk dirinya dan masyarakat semaksial mungkin dengan kemampuan. Penyelenggaraan upaya kesehatan juga dilaksanakan melalui beberapa kegiatan diantaranya pelayanan kesehatan nasional.
2.         Pengobatan Tradisional
a.       Pengobatan Tradisional
                 Pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau dengan cara, obat, dan pengobatan yang mengacu kepada pengalaman dan keterampilan turun temurun, dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat (UU no. 23 tahun 1992).
 Banyak negara-negara maju yang sudah memproduksi obat tradisional. Mereka percaya bahwa ramuan tradisional memang dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan tidak menimbulkan efek yang bisa membahayakan kesehatan. Berbagai jenis tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional, diantaranya buah-buahan, sayuran, tanaman pangan, tanaman perkebunan, dan rempah-rempah. Ramuan obat tradisional dihasilkan dengan cara meracik berbagai jenis tanaman tersebut dengan cara-cara tertentu dan dikonsumsi berdasarkan kadar atau takaran (Septiatin, 2009).
b.         Mengenal Tanaman Obat
Tanaman obat didefinisikan sebagai jenis tanaman yang sebagian, seluruh tanaman dan atau eksudat tanaman tersebut digunakan sebagai obat, bahan, atau ramuan obat-obatan. Tanaman berkhasiat obat juga dapat dibedakan menjadi tiga kelompok yaitu:
1)    Tumbuhan obat tradisonal
Tumbuhan obat tradisional merupakan spesies tumbuhan yang diketahui atau dipercaya masyarakat memiliki khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku tradisional.
2)    Tumbuhan obat modern
Tumbuhan obat modern merupakan spesies tumbuhan yang secara ilmiah telah dibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaanya dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
3)    Tumbuhan obat potensial
Tumbuhan obat potensial merupakan spesies tumbuhan yang diduga mengandung atau memiliki senyawa atau bahan bioaktif berkhasiat obat tetapi belum dibuktikan penggunaannya secara ilmiah-medis sebagai obat (Herbie, 2015).
c.         Pengambilan Tanaman
Pada saat hendak mengambil tanaman  obat, kita perlu melakukan pemilihan tanaman, mana yang bisa dan mana yang tidak bisa diambil. Proses seleksi ini perlu diperhatikan dengan teliti agar kita bisa mendapatkan bahan yang berkualitas baik. Kualitas bahan yang baik akan memengaruhi kualitas obat. Pengambilan tanaman juga harus dilakukan pada saat yang tepat dengan pedoman sebagai berikut.
1)   Bagian daun
Pemetikan sebaiknya dilakukan pada saat tanaman berbunga atau dilakukan sebelum buah matang.
2)   Bagian bunga
Pemetikan dilakukan sebelum atau sesegera mungkin setelah bunga mekar.
3)   Bagian buah
Pemetikan dilakukan pada saat buah masak/matang.
4)    Bagian biji
Pengumpulan biji sebaiknya diambil dari buah yang telah matang sempurna.
5)    Bagian akar, rimpang, umbi
Pengumpulannya sebaiknya dilakukan pada saat pertumbuhan tanaman sudah berhenti (Gendrowati, 2014).

d.        Pemakaian Tanaman Obat
 Menurut Muhlisah (2004) hal-hal yang harus diketahui pula, untuk menghindari hal-hal yang tidak dikehendaki pemakaian tanaman obat ini antara lain:
1)    Bahan Tanaman
Bahan tanaman yang hendak digunakan untuk pengobatan harus dalam keadaan segar. Jika digunakan kering, keadaan bahan harus baik. Hindari pemakaian bahan yang terkena kotoran, lembap, berjamur, dimakan serangga, atau tergeletak di tempat yang kotor. Sebaiknya sebelum digunakan, bahan dicuci terlebih dahulu dengan air sampai bersih benar. Bagian akar tanaman yang mengandung tanah sebaiknya dicuci bersih karena bagian ini dapat mambawa bibit penyakit atau bahkan telur cacing. Bahan tanaman  utuh yang dikonsumsi segar, misalnya rimpang, buah, atau daun, sebaiknya dijaga kesegaran dengan menyimpannya ditempat yang bersih dan jauh dari panas atau sinar matahari langsung. Akan lebih baik bila bahan disiapkan atau dipetik pada hari itu juga, jadi tidak perlu disimpan. Persyaratan di atas tidak berlaku untuk ramuan yang dicampur minyak serta ramuan bercampur bahan kering, seperti serbuk dan pil.
2)    Peralatan yang Digunakan
Tak dapat dipungkiri bahwa kelemahan utama pengobatan tradisional ialah kurangnya perhatian pada peralatan yang digunakan. Hal ini tidak boleh dianggap sepele. Alat yang digunakan dapat menularkan penyakit, mambawa kotoran lain, atau bahkan menghilangkan khasiat obat jika tidak bersih atau alatnya salah.
3)    Air
Air yang sehat ialah air yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan bening. Air yang kekuningan, berbau, dan mengandung kotoran sebaiknya tidak digunakan. Yang harus digunakan adalah air yang masak dan bersih.
4)    Jangka Waktu Pemakaian
Ramuan tradisional umumnya dibuat dengan cara perebusan, diperas, atau dimakan mentah. Ramuan yang direbus boleh disimpan sehari atau 24 jam. Setelah jangka waktu tersebut, sebaiknya ramuan dibuang dan dibuat lagi yang baru bila memerlukan. Jika ramuan dibuat dari perasan tanpa rebusan, hanya boleh disimpan selama 12 jam. Lebih dari itu jangan digunakan lagi karena dapat tercampur kuman atau kotoran dari udara atau lingkungan sekitarnya
5)    Tindakan Medis Lainnya
Meskipun menganjurkan pemakaian obat tradisional sebagai tindakan pengobatan penyakit tidak berarti pengobatan medis atau kedokter modern diabaikan. Penderita tetap boleh dibawa kerumah sakit, puskesmas, atau dokter yang terdekat, terlebih lagi bila penyakitnya parah.

e.       Pengolahan Ramuan
Beberapa cara mengolah tanaman obat, diantaranya memipis, merebus, dan menyeduh.
1)    Memipis
Bahan tanaman yang digunakan berupa bagian tanaman atau tanaman yang masih segar seperti daun, biji, bunga, dan rimpang. Bahan tersebut dihaluskan dengan ditambahkan sedikit air. Bahan yang sudah halus diperas hingga ¼ cangkir. Jika kurang dari ¼ cangkir, air matang ditambahkan ke dalam ampas, kemudian diperas kembali.
2)    Merebus
Tanaman obat direbus agar zat-zat yang berkhasiat didalam tanaman larut kedalam air. Api yang digunakan untuk merebus sebaiknya yang volumenya mudah diatur. Air yang digunakan dalam perebusan adalah air yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan bening.
3)    Menyeduh
Bahan baku yang digunakan dapat berupa bahan yang masih segar atau bahan yang sudah dikeringkan. Sebelum diramu, bahan-bahan dipotong kecil-kecil. Setelah siap, bahan diseduh dengan air panas. Setelah didiamkan selama 5 menit, bahan hasil sudah siap disaring (Muhlisah, 2008).
f.          Ramuan Tanaman Obat yang Berkhasiat Mengobati Diare
Ada beberapa ramuan tanaman obat yang populer dimasyarakat Indonesia sehingga mudah digunakan untuk pengobatan diare antara lain adalah daun salam, jamblang, kencur, dan secang. Ada beberapa contoh ramuan yang digunakan sebagai berikut:
1)      Daun Salam (Syzygium polyanthum)
Gambar daun salam dapat dilihat pada gambar 1:



Gambar 1. Daun salam

Bahan-bahan: 15 lebar daun salam segar.
Cara mengolah bahan:
a)      Rebus dalam 2 gelas air sampai mendidih selama 15 menit.
b)      Tambahkan sedikit garam.
c)      Setelah dingin, saring dan air saringan diminum sekaligus (Agoes, 2010).
2)      Jamblang (Syzygium cumini)
Gambar buah jamblang dapat dilihat pada gambar 2
 



Gambar 2. Buah Jamblang

Bahan-bahan: Jamblang segar yang belum matang 6 g, beras yang sudah digongseng sampai kuning 6 g.
Cara mengolah bahan:
a)      jamblang dan beras masukkan kedalam mangkuk.
b)      Tambahkan air secukupnya sampai semua bahan terendam, lalu tim sampai matang.
c)      Setelah dingin, makan keseluruhannya.
d)     Lakukan 3x sehari, selama 10 hari (Agoes, 2010).
3)      Kencur (Kaempferia galanga L)
Gambar kencur  dapat dilihat pada gambar 3:



Gambar 3. Kencur

Bahan-bahan: 2 rimpang kencur sebesar ibu jari, 1 cangkir air hangat.
Cara mengolah bahan:
a)      Parut kencur dan tambahkan air hangat.
b)      Peras lalu saring, dan oleskan kencur pada perut (Agoes, 2010).
4)      Secang (Caesalpinia sappan L)
Gambar secang dapat dilihat pada gambar 4:


Gambar 4. Kayu Secang
Gambar 4. Kayu Secang

Bahan-bahan: Kayu secang sebanyak 5 g, 2 gelas air bersih.
Cara mengolah bahan:
a)      Potong kecil-kecil kayu secang dan rebus dengan air 15 menit.
b)      Kemudian saring, setelah dingin bagi menjadi 2 bagian, lalu minum ramuan pada pagi dan sore hari (Agoes, 2010).
5)      Jambu Biji (Psidium guajava)
Gambar Jambu biji dapat dilihat pada gambar 5:



Gambar 5. Jambu biji
Bahan-bahan: 5 lembar daun jambu biji, 1 potong akar + kulit dan batang, 1,5 liter air.

Cara mengolah bahan:
a)      Semua bahan direbus sampai mendidih, kemudian disaring.
b)      Lalu diminum 2 kali sehari pagi dan sore (Agoes, 2010).




6)      Salak (Salacca zalacca)
Gambar salak dapat dilihat pada gambar 6:
Gambar 6. Salak
Bahan-bahan: buah salak
Cara mengolah bahan:
a)      Mengkonsumsi buah salak 20 gram, usahakan mengkonsumsi salak yang masih muda (Septiatin, 2009).
7)      Pisang (Musa brachycarpa)
Gambar pisang dapat dilihat pada gambar 7:




Gambar 7. Pisang
Bahan-bahan: buah pisang kapur mentah

Cara mengolah:
a)      Buah pisang dibakar, lalu langsung dimakan (Septiatin, 2009).

8)      Sirsak (Annona muricata L)
Gambar sirsak Dapat dilihat pada gambar 8:





Bahan-bahan: buah sirsak yang sudah matang
Cara mengolah:
a)      Bauh sirsak diperas, dan disaring untuk diambil airnya.
b)      Airnya diminumkan pada bayi yang mencret sebanyak 2-3 sendok makan (Septiatin, 2009).
9)      Srikaya (Annona squamosa L)
Gambar srikaya dapat dilihat pada gambar 9:




Gambar 9. Srikaya
Bahan-bahan: 6-10 g kulit batang srikaya, gula merah, dan air 4 gelas.



Cara mengolah:
a)      Kulit batang srikaya dicuci hingga bersih dan dipotong-potong kecil, lalu tambahkan gula merah.
b)      Rebus dengan 4 gelas air hingga tersisa 2 gelas,dinginkan kemudian diminum (Septiatin, 2009).
10)  Kunyit (Curcuma domestica L)
Gambar kunyit dapat dilihat pada gambar 11:



Gambar 11. Kunyit
Bahan-bahan: sari kunyit, sedikit air kapur sirih, beberapa tetes sari pinang
Cara mengolah:
a)      Semua bahan dicampur dan diminum sekaligus (Septiatin, 2009).
11)  Sawo (Manilkara zapota)
Gambar sawo dapat dilihat pada gambar 12:
                 Gambar 12. Sawo
                 (http://sawo.org/)


Bahan-bahan: 2 buah sawo muda.
Cara mengolah:
a)      Ambil 2 buah sawo muda, kemudian cuci bersih dan parut lalu beri air matang sedikit dan saring/peras untuk diambil air.
b)      Kemudian minum air perasan (Agoes, 2010).
3.      Diare
a.    Definisi Diare
Diare adalah perubahan frekuensi dan konsistensi tinja. WHO pada tahun 1984 mendefinisikan diare sebagai berak cair tiga kali atau lebih dalam sehari selama (24jam). Para ibu mungkin mempunyai istilah tersendiri seperti lambek, cair, berdarah, berlendir, atau dengan muntah yaitu muntaber (Widoyono, 2008).
Sedangkan menurut Tjay dan Kirana (2010), diare adalah keadaan buang air dengan banyak cairan (mencret) dan merupakan gejala dari penyakit-penyakit tertentu dengan gangguan lain. Kasus ini banyak terdapat di negara-nerga berkembang dengan standar hidup yang rendah dimana dehidrasi akibat diare merupakan salah satu penyebab kematian penting pada anak-anak.
b.    Penyebab Diare
Menurut teori klasik diare disebabkan oleh meningkatnya peristaltik usus tersebut, sehingga pelintasan chymus sangat dipercepat dan masih mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja.
Diare dibedakan manjadi dua berdasarkan waktu serangan (onset) yaitu:
1)      Diare akut (<2 minggu).
2)      Diare kronik (>2 minggu) (Widoyono, 2008).
1.    Diare akut adalah diare yang disebabkan oleh infeksi virus atau kuman, atau dapat pula akibat efek samping obat atau gejala dari gangguan saluran cerna. Umumnya gangguan ini bersifat self-limiting dan bila tanpa komplikasi tidak perlu ditangani dengan obat, kecuali rehidrasi oral bila ada bahaya dehidrasi (Tjay dan Kirana, 2007).
2.      Diare kronik adalah diare yang bertahan lebih dari 2 minggu, umumnya disebut kronis dan harus selalu diselidiki penyebabnya, antara lain melalui sigmoidoscopy dan biopsi retal karena kemungkinan adanya tumor di usus besar atau penyakit usus beradang kronis (Tjay dan Kirana, 2007).
Diare juga dapat disebabkan oleh:
1.      Virus: Rotavirus (40-60%), Adenovirus.
2.      Bakteri: Escherichia coli (20-30%), Shigella sp. (1-2%), Vibria cholerae, dan lain-lain.
3.      Parasit: Entamoeba histolytica (1%), Giardia lamblia, Cryptosporiduim (4-11%), contoh penularan Giardia lamblia.
4.      Keracunana makanan.
5.      Malabsorpsi: Karbohidrat, lemak, dan protein.
6.      Alergi: makanan, susu sapi.
7.      Imunodefisiensi: AIDS (Widoyono, 2008).
c.    Jenis-jenis diare
1)         Diare akibat virus
Misalnya ‘influenza perut’ dan ‘travellers diarrhoea’ yang disebabkan antara lain oleh rotavirus dan adenovirus. Virus melekat pada sel-sel mukosa usus yang menjadi rusak sehingga kapasitas resorpsi menurun dan sekresi air dan elektrolit memegang peranan. Diare yang terjadi bertahan terus sampai beberapa hari sesudah virus lenyap dengan sendirinya, biasanya dalam 3-6 hari (Tjay dan Kirana, 2007).
2)        Diare bakterial invasif (bersifat menyerbu)
Agak sering terjadi, tetapi mulai berkurang berhubung semakin meningkatnya derajat higiene masyarakat. Kuman pada keadaan tertentu menjadi invasif dan menyerbu ke dalam mukosa, dimana terjadi perbanyakan diri sambil membentuk toksin. Diare ini bersifat “self limiting”, artinya akan sembuh dengan sendirinya dalam 5 hari tanpa pengobatan, setelah sel-sel rusak diganti dengan sel-sel mukosa baru (Tjay dan Kirana, 2007).
3)        Diare parasiter
Akibat protozoa seperti Entamoeba histolytica dan Giardia lamblia, yang terutama terjadi didaerah (sub) tropis. Diare akibat parasit ini biasanya bercirikan mencret cairan yang intermiten dan bertahan lebih lama dari satu minggu (Tjay dan Kirana, 2007).
4)        Akibat penyakit
Misalnya Colitis ulcerosa, P.clorin, Irritable Bowel Syndromem (IBS), kanker colon dan infeksi HIV. Juga akibat gangguan-gangguan seperti alergi terhadap makanan/minuman, protein susu sapi dan gluten (coeliakie) serta intoleransi untuk laktosa karena devisiensi  enzim laktase (Tjay dan Kirana, 2007).



5)        Akibat obat
Yaitu digoksin, kinidin, garam MG dan litium, sorbitol, beta blockers, printing ACE, reserpin, sitostatika, dan antibiotika berspektrum luas (ampisilin, amoksisilinm, sefalosporin, klindamisin, tetrasiklin) semua obat ini menimbulkan diare “baik” tanpa kejang perut dan pendarahan (Tjay dan Kirana, 2007).
6)        Akibat keracunan makanan
Sering terjadi, misalnya pada waktu perhelatan anak-anak sekolah atau karyawan perusahaan dan biasanya disertai muntah-muntah. Keracunan makanan didefinisikan sebagai penyakit yang bersifat infeksi atau toksis dan diperkirakan atau disebabkan oleh mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar (Tjay dan Kirana, 2007).
d. Gejala dan tanda-tanda diare
                1). Gejala Umum
          a. Buang air besar cair/lembek dan sering adalah gejala khas diare.
                      b. Muntah, biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut.
          c. Demam, dapat mendahului atau tidak mendahului gejala diare.
                      d. Gejala dehidrasi, yaitu mata cekung, ketegangan kulit menurun,    apatis, bahkan gelisah.
                 2) Gejala Spesifik
                      a. Vibrio cholera: diare hebat, warna tinja seperti cucian beras dan berbau amis.
 b. Disenteriform: tinja berlendir dan berdarah (Widoyono, 2008).


       e. Diare dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:
a)         Keadaan lingkungan
b)         Perilaku masyarakat
c)         Pelayanan masyarakat
d)        Gizi
e)         Kependudukan
f)          Pendidikan
g)         Keadaan sosial ekonomi (Widoyono, 2008).












Upaya Kesehatan
B. Kerangka Teori
Tanaman Obat
Tradisional
Modern
Potensial
Tanaman Obat Keluarga (Toga)

Diare
Pengobatan Tradisional
Pengobatan Tradisional
 











Gambar 13. Kerangka Teori (Herbie, 2015)












C. Kerangka Konsep
1.      Karakteristik responden yang memanfaatkan tanaman obat sebagai pengobatan diare
2.      Jenis tanaman obat yang dimanfaatkan sebagai pengobatan diare
3.      Bagian tanaman yang dimanfaatkan untuk pengobatan diare
4.      Cara pengolahan obat yang digunakan sebagai pengobatan diare
5.      Lama penggunaan sediaan tanaman obat
6.      Pembuatan herbarium tanaman obat yang digunakan sebagai obat diare
Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga
 






                  

Gambar 14. Kerangka Konsep















D.    Definisi Operasional


Tabel 2. Definisi Operasional
No
Variabel
Definisi Operasional
Cara Ukur
Alat Ukur
Hasil Ukur
Skala Ukur
1.
Karakteristik Responden a.Usia


Lama hidup dilihat dari ulang tahun terakhir responden



Wawancara


Kuisioner


1.      20-40 tahun
2.      41-60 tahun
3.      > 60 tahun


Ordinal

b.Tingkat Pendidikan
Pendidikan formal yang telah ditempuh oleh responden dan mendapat ijazah
Wawancara
Kuisioner
1.      Tidak tamat SD
2.      Tamat SD
3.      Tamat SMP
4.      Tamat SMA
5.      Perguruan Tinggi

Ordinal

c. Pekerjaan
Jenis pekerjaan yang dilakukan responden
Wawancara
Kuisioner
1.      Wiraswasta
2.      PNS
3.      Rumah Tangga
4.      Petani
5.      Karyawan Swasta
6.      Lain-lain

Nominal
2.
Jenis tanaman obat
Macam-macam tanaman obat yang digunakan responden sebagai obat diare
Wawancara
Kuisioner
1.      Jambu biji
2.      Daun salam
3.      Kencur
4.      Kunyit
5.      Lain-lain

Nominal
3.
Jumlah tanaman yang dipakai
Banyaknya tanaman obat yang dipakai responden sebagai obat diare
Wawancara
Kuisioner
1.      1-5 jenis tanaman
2.      6-10 jenis tanaman
3.      > 10 jenis tanaman
Ordinal
4.
Bagian tanaman
Bagian tanaman yang digunakan sebagai obat oleh responden
Wawancara
Kuisioner



1.      Akar
2.      Umbi/rimpang
3.      Batang
4.      Daun
5.      Buah
6.      Biji

Nominal
5.
Cara Pengolahan
Tindakan yang dilakukan untuk menyiapkan tanaman untuk pengobatan diare
Wawancara
Kuisioner
1.      Dilalap
2.      Direbus
3.      Diperas
4.      Diseduh
5.      Ditumbuk
6.      Lain-lain

Nominal
6.
Lama penggunaan
Jangka waktu pemakaian sediaan tanaman obat yang digunakan untuk pengobatan diare

Wawancara
Kuisioner
1.   1– 2 hari
2.   2 - 3 hari
3.    > 3 hari

Nominal









BAB III
METODA PENELITIAN

A.    Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif yaitu untuk mengetahui gambaran atau deskripsi tentang pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai alternatif pengobatan sederhana penyakit diare, dengan mengolah data primer yang diperoleh dari wawancara serta alat kuisioner oleh peneliti di dalam rumah dan menceklis data-data pertanyaan yang telah disiapkan dan disajikan dalam bentuk distribusi persentase.

B.     Subjek Penelitian
1.      Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat di Kecamatan Tanjung Senang kota Bandar lampung Tahun 2018. yang terdapat 5 Kelurahan dan KK sebanyak 9600.
2.      Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan Quota Proporsional Random Sampling dengan kriteria ibu yang memanfaatkan tanamanan obat keluarga sebagai obat diare. Kriteria inklusi adalah seorang ibu yang memanfaatkan tanaman obat untuk pengobatan diare. Pengambilan sampel dilakukan pada masing-masing dusun dengan menggunakan metode penelitian survei deskriptif.


Menurut Notoatmodjo (2005) bahwa besarnya sampel tergantung dari jenis penelitian, untuk penelitian deskriptif yaitu sebagai berikut :
Keterangan :
n          = Jumlah Sampel
N         = Jumlah Populasi
d          = Presisi (d = 0,1)
Perhitungan  total sampel di Kecamatan Tanjung Senang Bandar Lampung
    9.600 
  1+ 9.600 (0,1)2
    99,98 di bulatkan jadi 100 keluarga
Jadi total sampel dalam penelitian ini adalah 100 keluarga.
Contoh perhitungan sampel dari dusun yang ada di Desa Karang Anyar adalah sebagai berikut:
Kelurahan Tanjung Senang    :
Selanjutnya dapat dilihat pada lampiran 2.

                     
C.    Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan dengan cara pengambilan data di Lima kelurahan Kecamatan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung pada bulanApril -Mei Tahun 2018.
D.    Rounded Rectangle: Survei
Pra Penelitian
Alur Penelitian


 

















Gambar 15. Alur Penelitian






E.     Pengumpulan Data
       Teknik pengumpulan data tentang pemanfaatan tanaman obat keluarga sebagai alternatif pengobatan diare oleh ibu di Kecamatan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung dengan cara observasi data primer yang berasal dari wawancara dan kuisioner.
Langkah-langkah prosedur pengambilan data dan sampel :
1.      Mendatangi rumah responden.
2.      Mewawancarai responden dan mengisi kuisioner.
3.      Mendatangi rumah responden lain sampai jumlah sampel terpenuhi.
4.      Mengumpulkan kuisioner yang telah terisi.
5.      Pembuatan herbarium.

F.     Pengolahan Data dan Analisa Data
1.      Cara Pengolahan Data
a.    Editing
            Hasil kuisioner yang diperoleh, dikumpulkan untuk dilakukan proses editing yaitu pengecekan isi jawaban lembar kuisioner lengkap atau tidak. Jika ada jawaban yang tidak legkap maka dapat digantikan jawaban kuisioner oleh responden yang lain dengan cara penelitian kembali. Editing bertujuan untuk memperbaiki kualitas data dan menghilangkan   keraguan data.
b.    Coding
            Setelah semua lembar kuisioner diedit, selanjutnya dilakukan pengkodean atau coding, yaitu mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi angka atau bilangan. Coding dilakukan untuk memberikan kode yang spesifik pada jawaban responden untuk memudahkan proses pencatatan data. Pada penelitian ini dilakukan coding seperti untuk variabel pendidikan, dilakukan coding 1 = tidak tamat SD, 2 = tamat SD, 3 = tamat SMP, 4 = tamat SMA, 5 = tamat perguruan tinggi. Coding variabel pekerjaan, 1 = wiraswasta, 2 = PNS ,3 = petani , 4 = ibu rumah tangga, 5 = karyawan swasta, 6 = lainnya. Variabel usia dengan coding, 1= 20-40 tahun, 2 = 41-60 tahun, 3 = >60 tahun. Dilakukan cara yang sama untuk memberi kode pada masing-masings variabel lainnya.  Saat data sudah diubah dalam bentuk angka atau bilangan, maka peneliti akan lebih mudah mentransfer data ke dalam komputer dan mencari program perangkat lunak (Microsoft office excel) yang sesuai dengan data untuk digunakan sebagai sarana analisa.
c.    Data Entry atau Processing
Lamgkah selanjutnya data di editing dan coding adalah data dimasukkan data primer yang didapatkan dari hasil wawancara dengan kuesioner. Data primer tersebut meliputi data demografi responden yang telah diberi kode dan kode jawaban responden pada setiap pertanyaan, nantinya dikumpulkan dalam tabel dan ditransfer data kedalam komputer dengan memasukkan kode yang telah dibuat pada masing-masing variabel ke dalam program perangkat lunak yang sesuai .
d.    Cleaning
Setelah data selesai dimasukkan, dilakukan pengecekan kemungkinan adanya kesalahan kode saat entry data. Langkah yang dilakukan adalah pengecekan data untuk konsistensi. Pengecekan konsistensi meliputi pemeriksaan data yang memiliki nilai tidak sesuai dengan jawaban responden, missing value yaitu nilai kosong karena tidak terisi, maupun nilai dari suatu variabel yang diketahui dikarenakan jawaban responden yang membingungkan. Apabila data sudah terbebas dari kesalahan, langkah selanjutnya adalah analisis data.
e.    Tabulasi
            Tabulasi data merupakan proses pengolahan data yang dilakukan dengan cara memasukkan data ke dalam tabel, dan menyajikan data dalam bentuk tabel untuk memudahkan dalam pengamatan dan evaluasi. Data yang disajikan dalam tabel yaitu data responden berdasarkan usia, pekerjaan, pendidikan, jenis tanaman yang dipakai, bagian yang digunakan, cara pengolahan yang dibuat, dan lama penggunaan ramuan tanaman obat. Hasil tabulasi data ini dapat menjadi gambaran tentang hasil penelitian karena data-data yang diperoleh dari lapangan sudah tersusun dan terangkum dalam tabel-tabel yang mudah dipahami maknanya. Selanjutnya peneliti bertugas untuk memberi penjelasan atau keterangan dengan menggunakan kalimat atas data-data yang telah diperoleh.
2.    Analisis Data
Analisis data merupakan kelanjutan dari pengolahan data. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat dimana setelah data diolah kemudian disajikan dalam bentuk persentase dalam tabel distribusi frekuensi untuk menyimpulkan data (Notoatmodjo, 2010).






DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Azwar dan Jacob. 1992. Antropologi Kesehatan Indonesia Jilid I, Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Agoes, Azwar. 2010. Tanaman Obat Indonesia jilid 1, Jakarta: Selemba Medika 126 halaman.     

Anonim, Undang-undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, Jakarta.

Gendrowati, Fitri. 2014. ” TOGA Tanaman Obat Keluarga “, Jakarta Timur: Padi, 118 halaman

Handayani, Tuty. 2013. Khasiat Ampuh Akar-Batang-Daun, Jakarta: Infra Pustaka, 114 halaman.

Herbie, Tandi. 2015. Kitab Tanaman Obat Berkhasiat Obat 226 Tumbuhan Obat Untuk Penyembuhan Penyakit dan Kebugaran Tubuh, Depok Sleman Yogyakarta: OCTOPUS Publishing House

Hidayati, Milasih, 2010, Uji Efek Antidiare Ekstrak Etanol 50% daun salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp.) Terhadap Mencit Jantan yang Diinduksi Oleum Ricin, Skrip Sarjana, Fakultas Farmasi Universitas Muhammaddiyah Surakarta, Surakarta.

Muhlisah, Fauziah. 2004. Tanaman Obat Keluarga, Penebar Swadaya, Jakarta, 94 halaman.

Muhlisah, Fauziah. 2008. Tanaman Obat Keluarga, Penebar Swadaya, Jakarta, 84 halaman.

Murni Pinta. 2015, Lokakarya Pembuatan Herbarium UntukPengembangan Media Pembelajaran Biologi di MAN Cendikia Muaro Jambi, Jurnal Pengabdian Msyarakat Vol 30, Jambi, 2015.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodeologi Penelitian Kesehatan, Jakarta:Rineka Cipta, 208 halaman.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta, 243 Halaman.

Prasetyono, Dwi Sunar. 2012. A-Z Daftar Obat Ampuh di Sekitar Kita, Banguntapan Yogyakarta: FlashBook.
Septiatin, Entin. 2009. Apotek Hidup dari Tanaman Buah,  Bandung: 114 halaman
Tjay, Tan Hoan, Rahardja, Kirana. 2007. Obat–Obat Penting Khasiat, Penggunaan, Dan Efek - Efek Sampingnya, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.

Tjay, Tan Hoan, Rahardja, Kirana. 2010. Obat-obat penting, PT Elex Medika Komputindo, Kelompok Gramedia-Jakarta, anggota IKAPI, Jakarta, 967 halaman

Undang-undang Kesehatan No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan dan Peraturan
Pemerintah RI No. 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, Fokusmedia, Jakarta. 149 halaman.

Widoyono, Rina Astikawati (Ed). 2008. Penyakit Tropis, Semarang: 151 halaman.
Zaenal, Nur Hayati. 2008. Optimalisasi Produksi Obat Tradisional Pada Taman Syifa Di Kota Bogor, Jawa Barat. Skripsi Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor




Komentar

Postingan Populer