MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POST OPERASI


MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POST OPERASI

Disusun oleh :

Firda Nuraini                          (1714401003)
Dwi Fitri Jumiati                     (1714401010)
Mutia Putri Balqist                  (1714401011)
Servita Renida                        (1714401017)
Annisa Thayibah                     (1714401021)
Shinta Windiyasti                   (1714401024)
Nurliana Sari                           (1714401028)
Wayan Gede Setiawan            (1714401046)







PRODI DIII JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
TAHUN AJARAN 2018/2019


KATA PENGANTAR
                
Alhamdulillah, segala puji kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT, atas luasnya limpahan rahmat dan hidayah-Nya hingga akhirnya makalah “Asuhan keperawatan pada pasien post operasi   ” ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
Penulisan proposal ini disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memenuhi tugas mata kuliah “KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II ”. Dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari beberapa pihak,
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan makalah ini penuh keterbatasan dan masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu, saran yang konstruktif merupakan bagian yang tak terpisahkan dan senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak. Allahumma Amin.

Bandar Lampung,    maret  2019



Kelompok 6














DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................... ii
DAFTAR ISI....................................................................................................................... iii

BAB  I PENDAHULUAN

1.1....... Latar Belakang....................................................................................................... 1
1.2... Rumusan Masalah....................................................................................................... 2
1.3.... Tujuan Penulisan....................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Keperawatan Pasca Operasi ......................................................................................... 3
2.2 Tahapan keperawatan pascaoperasi............................................................................... 4
2.3 Komplikasi yang muncul pada pasien pasca operasi.................................................... 8
2.4 Asuhan keperawatan pasien pasca operasi ................................................................... 10

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............ ....................................................................................................... 19
3.2 Saran..............................................................................................................................                                  9

DAFTAR PUSTAKA. ....................................................................................................... 20

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Selama periode pascaoperatif, proses keperawatan diarahkan pada menstabilkan kembali equibrium fisiologi pasien, menghilangkan nyeri, dan pencegahan komplikasi. Pengkajian yang cermat dan intervensi segera membantu pasien dalam kembali pada fungsi optimalnya dengan cepat, aman, dan senyaman mungkin.
Upaya yang besar diharapkan pada mengantisipasi dan mencegah masalah pada periode pascaoperatif. Pengkajian yang tepat mencegah komplikasi yang memperlama perawatan dirumah sakit atau membahayakan pasien. Perawatan pascaoperasi pada setiap pasien tidak selalu sama, bergantung pada kondisi fisik pasien, teknik anestesi, dan jenis operasi. Monitoring lebih ketat dilakukan pada pasien dengan risiko tinggi seperti: kelainan organ, syok yang lama, dehidrasi berat, sepsis, dan gangguan organ penting, seperti otak. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan (Baradero et al, 2008). Tindakan keperawatan yang dilakukan pasca-operasi terdiri dari 8 tindakan yang meliputi pengelolaan jalan napas, monitor sirkulasi, monitoring cairan dan elektrolit, monitoring suhu tubuh, menilai dengan aldrete score, pengelolan keamanan dan kenyamanan pasien, serah terima dengan petugas ruang operasi dan serah terima dengan petugas ruang perawatan (bangsal) (Rothrock, 1990).








1.2  Rumusan Masalah
1.2.1   Apa yang dimaksud dengan keperawatan pasca-operasi?
1.2.2   Apa saja tahapan-tahapan keperawatan pasca-operasi?
1.2.3   Apa saja komplikasi yang mungkin muncul pada pasien pasca-operasi?
1.2.4   Bagaimana pengkajian keperawatan pada pasien pasca-operasi?
1.2.5   Apa saja diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien pasca-operasi?
1.2.6   Bagaimana perencanaan tindakan keperawatan pasien pasca-operasi?
1.2.7   Bagaimana implementasi keperawatan pada pasien pasca-operasi?
1.2.8   Bagaimana evaluasi keperawatan pada pasien pasca-operasi?
1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1   Mengetahui pengertian keperawatan pasca-operasi
1.3.2   Mengetahui tahapan-tahapan keperawatan pasca-operasi
1.3.3   Mengetahui komplikasi yang mungkin muncul pada pasien pasca-operasi
1.3.4   Mengetahui pengkajian keperawatan pada pasien pasca-operasi
1.3.5   Mengetahui diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien pasca-operasi
1.3.6   Mengetahui perencanaan tindakan keperawatan pasien pasca-operasi
1.3.7   Mengetahui implementasi keperawatan pada pasien pasca-operasi
1.3.8   Mengetahui evaluasi keperawatan pada pasien pasca-operasi











BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Keperawatan Pasca-operasi
Tahap pasca-operasi dimulai dari memindahkan pasien dari ruangan bedah ke unit pasca-operasi dan berakhir saat pasien pulang. Pada tahap ini perawat berusaha untuk memulihkan fungsi pasien seoptimal dan secepat mungkin (Baradero et al,2008). Pasca-operasi adalah masa setelah dilakukan pembedahan yang dimulai saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya (Wibowo, 2001). 
Pada perawatan pasca-operasi diperlukan dukungan untuk pasien, menghilangkan rasa sakit, antisipasi dan mengatasi segera komplikasi, memelihara komunikasi yang baik dengan tim, rencana perawatan disesuaikan dengan kebutuhan pasien (Lestari, 2008). Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan (bangsal) setelah dilakukan operasi terutama yang menggunakan general aenesthesia, maka kita perlu melakukan penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat dipindahkan ke ruangan atau masih perlu di observasi di ruang pemulihan (recovery room). Pemindahan dari ruang operasi ke unit perawatan pasca-anastasia (PACU), yang juga disebut sebagai ruang pasca-anastesia (PARR). Memindahkan pasien pasca-operatif dari ruang operasi ke unit perawatan pasca-anastesia (PACU) adalah tanggung jawab ahli anastesi dengan anggota bedah yang bertugas. PACU biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi. Pasien yang masih dibawah pengaruh anastesia atau yang pulih dari anastesia ditepatkan di unit ini untuk kemudahan akses ke:
a.    Perawat yang disiapkan dalam merawat pasien pascaoperatif segera
b.    Ahli anastesi dan ahli bedah.
c.    Alat pemantau dan peralatan khusus, medikasi, dan penggantian.
Dalam lingkungan ini, pasien diberikan perawatan spesialis yang disediakan oleh mereka yang sangat berkualitas untuk memberikannya.


2.2.1     Tahapan Keperawatan Pascaoperasi
Maid et al. (2011) membagi perawatan pasca-operasi meliputi beberapa tahapan, diantaranya adalah:
a.    Pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan
Pemindahan pasien dari kamar operasi ke ruang pemulihan atau unit perawatan pasca-operasi (RR: Recovery Room) memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus. Pertimbangan itu diantaranya adalah letak insisi bedah, perubahan vaskuler dan pemajanan. Letak insisi bedah harus selalu dipertimbangkan setiap kali pasien pasca operatif dipidahkan. Selain itu pasien diposisikan sehingga ia tidak berbaring pada posisi yang menyumbat drain dan selang drainase. Hipotensi arteri yang serius dapat terjadi ketika pasien digerakkan dari satu posisi ke posisi lainnya. Posisi litotomi ke posisi horizontal atau dari posisi lateral ke posisi terlentang. Pemindahan pasien yang telah dianastesi ke brankard dapat menimbulkan  masalah  gangguan vaskuler. Pasien harus dipindahkan secara perlahan dan cermat. Segera setelah pasien dipindahkan ke barankard atau tempat tidur, gaun pasien yang basah (karena darah atau cairan lainnnya)  harus segera diganti dengan gaun yang kering untuk menghindari kontaminasi.
Selama perjalanan transportasi tersebut pasien diselimuti dan diberikan pengikatan diatas lutut dan siku serta side-rail harus  dipasang untuk mencegah terjadi resiko injuri, untuk  mempertahankan keamanan dan kenyamanan pasien. Selang dan peralatan drainase harus ditangani dengan cermat agar dapat berfungsi dengan optimal. Proses transportasi ini merupakan tanggung jawab  perawat sirkuler dan perawat anastesia dengan koordinasi dari dokter  anastesi yang bertanggung jawab.
b.    Perawatan pasca-operasi di ruang pemulihan
Pasien harus dirawat sementara di ruang pulih sadar (recovery  room: RR) sampai kondisi pasien stabil, tidak mengalami komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal perawatan). Perbandingan perawat-pasien saat pasien dimasukkan ke RR adalah 1:1 (Baradero et al, 2008). Alat monitoring yang terdapat di ruang ini digunakan untuk memberikan penilaian terhadap kondisi pasien. Jenis peralatan yang ada diantaranya  adalah alat bantu pernafasan: oksigen, laringoskop, set trakheostomi,  peralatan bronkhial, kateter nasal, ventilator mekanik dan peralatan  suction. Selain itu, di ruang ini juga harus terdapat alat yang digunakan untuk memantau status hemodinamika dan alat-alat untuk  mengatasi permasalahan hemodinamika, seperti: apparatus tekanan darah, peralatan parenteral, plasma ekspander, set intravena, set  pembuka jahitan, defibrilator, kateter vena, torniquet. Bahan-bahan  balutan bedah, narkotika dan medikasi kegawatdaruratan, set kateterisasi dan peralatan drainase.
Pasien pasca-operasi juga harus ditempatkan pada tempat tidur khusus yang nyaman dan aman serta memudahkan akses bagi pasien, seperti: pemindahan darurat. Kelengkapan yang digunakan untuk mempermudah perawatan, seperti tiang infus, side rail, tempat tidur beroda, dan rak penyimpanan catatan medis dan perawatan. Kriteria penilaian yang digunakan untuk menentukan kesiapan pasien untuk dikeluarkan dari RR adalah: fungsi pulmonal yang tidak terganggu, hasil oksimetri nadi menunjukkan saturasi oksigen yangadekuat, tanda-tanda vital stabil, termasuk tekanan darah, orientasi pasien terhadap tempat, waktu dan orang, haluaran urine tidak kurang dari 30 ml/jam, mual dan muntah dalam kontrol, nyeri minimal (majid etal, 2011).
Pasien tetap berada dalam RR sampai pulih sepenuhnya dari pengaruh anestesi, yaitu pasien telah mempunyai tekanan darah yang stabil, fungsi pernapasan adekuat, saturasi O2 minimum 95%, dan tingkat kesadaran yang baik. Beberapa petunjuk tentang keadaan yang memungkinkan terjadinya situasi krisis antara lain: TD: tekanan sistolik < 90–100 mmHg atau > 150 - 160 mmHg, diastolik < 50 mmHg atau > dari 90 mmHg; heart rate (HR) : < 60 x /menit atau >  10 x/menit; suhu: suhu > 38,3oC atau kurang < 35 oC; meningkatnya kegelisahan pasien dan pasien tidak BAK lebih dari 8 jam pasca-operasi (Gruendemann & Billie, 2005).
c.    Transportasi pasien ke ruang rawat (bangsal)
Transportasi pasien bertujuan untuk mentransfer pasien menuju ruang rawat dengan mempertahankan kondisi tetap stabil.  Jika anda dapat tugas mentransfer pasien, pastikan score pasca-operasi  7 atau 8 yang menunjukkan kondisi pasien sudah cukup stabil.  Waspadai adanya henti nafas, vomitus, aspirasi selama transportasi.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan pada saat transportasi klien:
1)        Perencanaan                    
Pemindahan klien merupakan prosedur yang dipersiapkan semuanya dari sumber daya manusia sampai dengan peralatannya.
2)        Sumber daya manusia (ketenagaan)
Bukan sembarang orang yang bisa melakukan prosedur ini. Orang yang boleh melakukan proses transfer pasien adalah orang yang bisa menangani keadaan kegawat-daruratan yang mungkin terjadi selama transportasi.
3)        Equipment (peralatan)
Peralatan yang dipersipkan untuk keadaan darurat, misal: tabung oksigen, sampai selimut tambahan untuk mencegah  hipotermi harus dipersiapkan dengan lengkap dan dalam kondisi siap pakai.
4)        Prosedur
Untuk beberapa pasien setelah operasi harus ke bagian  radiologi dulu dan sebagainya. Prosedur-prosedur pemindahan  pasien dan posisi pasien harus benar-benar diperhatikan demi keamanan dan kenyamanan pasien.



5)        Passage (jalur lintasan)
Hendaknya memilih jalan yang aman, nyaman dan yang  paling singkat. Ekstra waspada terhadap kejadian lift yang macet dan sebagainya.
d.    Perawatan di ruang rawat  (bangsal)
Ketika pasien sudah mencapai bangsal, maka hal yang harus perawatlakukan, yaitu (Majid et al, 2011):
1)   Monitor tanda-tanda vital dan keadaan umum pasien, drainage, tube/selang, dan komplikasi.
2)   Manajemen luka
Amati  kondisi  luka  operasi  dan  jahitannya,  pastikan  luka  tidak mengalami perdarahan abnormal.
3)   Mobilisasi dini
Mobilisasi dini yang dapat dilakukan meliputi ROM (range of motion), nafas dalam dan juga batuk efektif yang penting untuk  mengaktifkan kembali fungsi neuromuskuler dan mengeluarkan sekret dan lendir.
4)   Rehabilitasi
Rehabilitasi diperlukan oleh pasien untuk memulihkan kondisi  pasien kembali. Rehabilitasi dapat berupa berbagai macam  latihan  spesifik yang diperlukan untuk memaksimalkan kondisi pasien seperti sedia kala.
5)   Discharge planning
Merencanakan kepulangan pasien dan memberikan informasi  kepada klien dan keluarganya tentang hal-hal yang perlu  dihindari  dan dilakukan sehubungan dengan kondisi/penyakitnya pasca-operasi.





2.2.2     Komplikasi  yang muncul pada pasien pasca-operasi
Menurut Rothrock  (1999), Komplikasi yang akan muncul saat pasca-operasi diantaranya:
a.       Pernapasan
Komplikasi pernapasan yang mungkin timbul termasuk hipoksemia yang tidak terdeteksi, atelektasis, bronkhitis, bronkhopneumonia,  pneumonia lobaris, kongesti pulmonal hipostatik, plurisi, dan  superinfeksi (Smeltzer & Bare, 2001). Gagal pernapasan merupakan fenomena pasca-operasi, biasanya karena kombinasi kejadian.  Kelemahan otot setelah pemulihan dari relaksan yang tidak adekuat, depresi sentral dengan opioid dan zat anestesi, hambatan batuk dan ventilasi alveolus yang tak adekuat sekunder terhadap nyeri luka bergabung untuk menimbulkan gagal pernapasan restriktif dengan retensi CO2sertakemudian narkosis CO2, terutama jika PO2  dipertahankan  dengan pemberian oksigen.
b.      Kardiovaskuler
Komplikasi kardiovaskuler yang dapat terjadi antara lain hipotensi, hipertensi, aritmia jantung, dan payah  jantung (Baradero et al, 2008). Hipotensi didefinisikan sebagai tekanan darah systole kurang dari 70  mmHg atau turun lebih dari 25% dari nilai sebelumnya. Hipotensi dapat disebabkan oleh hipovolemia yang diakibatkan oleh perdarahan, overdosis obat anestetika, penyakit kardiovaskuler seperti infark miokard, aritmia, hipertensi, dan reaksi hipersensivitas obat induksi, obat pelumpuh otot, dan reaksi transfusi. Hipertensi dapat meningkat pada periode induksi dan pemulihan anestesia. Komplikasi hipertensi disebabkan oleh analgesik dan hipnosis yang tidak adekuat, batuk, penyakit hipertensi yang tidak diterapi, dan ventilasi yang tidak adekuat (Baradero et al, 2008).
c.       Perdarahan
Penatalaksanaan perdarahan seperti halnya pada pasien syok. Pasien diberikan posisi terlentang dengan posisi tungkai kaki membentuk sudut 20 derajat dari tempat tidur sementara lutut harus di jaga tetap lurus. Penyebab perdarahan harus dikaji dan diatasi. Luka bedah harus selalu diinspeksi terhadap perdarahan. Jika perdarahan terjadi, kassa steril dan balutan yang kuat dipasangkan dan tempat perdarahan ditinggikan pada posisi ketinggian jantung. Pergantian cairan koloid disesuaikan dengan kondisi pasien (Majid et al, 2011). Manifestasi klinis meliputi gelisah, gundah, terus bergerak, merasa haus, kulit dingin-basah-pucat, nadi meningkat, suhu turun, pernafasan cepat dan dalam, bibir dan konjungtiva pucat dan pasien melemah. Penatalaksanaan pasien dibaringkan seperti pada posisi pasien syok, sedative atau analgetik diberikan sesuai indikasi, inspeksi luka bedah, balut kuat jika terjadi perdarahan pada luka operasi dan transfusi darah atau produk darah lainnya.
d.      Hipertermia maligna
Hipertermi malignan sering kali terjadi pada pasien yang dioperasi. Angka mortalitasnya sangat tinggi lebih dari 50%, sehingga diperlukan penatalaksanaan yang adekuat. Hipertermi malignan terjadi akibat gangguan otot yang disebabkan oleh agen anastetik. Selama anastesi, agen anastesi inhalasi (halotan, enfluran) dan relaksan otot (suksinilkolin) dapat memicu terjadinya hipertermi malignan.
e.       Hipotermia
Hipotermia adalah keadaan suhu tubuh dibawah 36,6 oC (normotermi : 36,6oC-37,5oC). Hipotermi yang tidak diinginkan mungkin saja dialami pasien sebagai akibat suhu rendah di kamar operasi (25oC-26,6oC), infus dengan cairan yang dingin, inhalasi gas-gas dingin, aktivitas otot yang menurun, usia lanjut atau obat-obatan yang digunakan (vasodilator, anastetik umum, dan lain-lain). Pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari hipotermi yang tidak diinginkan adalah atur suhu ruangan kamar operasi pada suhu ideal (25 oC-26,6oC), jangan lebih rendah dari suhu  tersebut, caiaran intravena dan irigasi dibuat pada suhu 37 oC, gaun operasi pasien dan selimut yang basah harus segera diganti dengan gaun dan selimut yang kering.

2.2    Asuhan  Keperawatan  Pasien  Pasca-operasi 
2.2.1   Pengkajian  Keperawatan Pasca-operasi
Pengkajian adalah usaha untuk mengumpulkan data-data sesuai dengan respon klien baik dengan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, Wawacara, observasi dan dokumentasi secara bio-psiko-sosio-spiritual (Doenges, 2001). Pada saat melakukan pengkajian di ruang pulih, agar lebih sistematis dan lebih mudah dapat dilakukan monitoring  B6 yaitu:
a.    Breath (nafas): sistem respirasi
Pasien yang belum sadar dilakukan evaluasi seperti pola  nafas, tanda-tanda obstruksi, pernafasan cuping hidung, frekuensi nafas, pergerakan rongga dada:apakah  simetris  atau  tidak,  suara  nafas tambahan:  apakah tidak ada obstruksi total, udara nafas  yang keluar dari hidung, sianosis pada ekstremitas, auskultasi:  adanya wheezing atau ronki, saat  pasien  sadar:  tanyakan  adakah keluhan pernafasan,  jika tidak  ada keluhan: cukup diberikan O2, jika terdapat tanda-tandaobstruksi: diberikan terapi sesuai kondisi (aminofilin,kortikosteroid, tindakan triple manuver airway).
b.    Blood (darah): sistem kardiovaskuler
Pada system kardiovaskuler dinilai tekanan darah, nadi, perfusi perifer, status hidrasi (hipotermi ± syok) dan kadar Hb.
c.    Brain (otak): sistem SSP
Pada system saraf pusat dinilai kesadaran pasien dengan GCS (Glasgow Coma Scale) dan perhatikan gejala kenaikan TIK 4.
d.    Bladder (kandung kemih): sistem urogenitalis
Pada sistem urogenitalis diperiksa kualitas, kuantitas, warna, kepekatan urine, untuk menilai apakah pasien masih dehidrasi, apakah ada kerusakan ginjal saat operasi, gagal ginjal akut (GGA).
e.    Bowel (usus): sistem gastrointestinalis
Pada system gastrointestinal diperiksa adanya dilatasi lambung, tanda-tanda cairan bebas, distensi abdomen, perdarahan lambung pasca-operasi, obstruksi atau hipoperistaltik, gangguan organ lain, misalnya hepar, pancreas, dilatasi usus halus. Pada pasien operasi mayor sering mengalami kembung yang mengganggu pernafasan, karena pasien bernafas dengan diafragma.
f.     Bone (tulang): sistem musculoskeletal
Pada system musculoskletal dinilai adanya tanda-tanda sianosis, warna kuku, perdarahan post-operasi, gangguan neurologis: gerakan ekstremitas. Data pengkajian pasien pasca-operasi menurut American Society of Post Anesthesia Nurses (ASPAN) dalam Baradero et al, (2008): jalan nafas, pernafasan, sirkulasi, kardiovaskular (kecepatan dan irama EKG, tekanan darah, suhu, dan keadaan kulit) pernafasan (kecepatan, irama, bunyi nafas (auskultasi paru), oksimetri nadi, jalan nafas, dan sistem pemberian oksigen), neurologis (respon terhadap stimulus, bias mengikuti perintah dan gerakan ekstermitas), ginjal (asupan dan haluaran, jalur intravena dan infuse, irigasi dan drain dan kateter).
2.2.2   Diagnosa Keperawatan Pasca-operasi
Diagnosa  keperawatan yang muncul pada pasien post operasi meliputi (Baradero, 2008; Carpenitto, 2006; Nanda, 2010 dalam Majid et al 2011):
a.      Gangguan pertukaran gas, berhubungan dengan efek sisa anesthesia, imobilisasi, nyeri
b.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka pembedahan, drain dan drainage.
c.       Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan dan posisi selama pembedahan.
d.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan intra dan post operasi.
e.       Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
f.        Pola nafas tidak efektif
g.      Risiko perdarahan



2.2.3   Intervensi Keperawatan
Diagnosa Keperwatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Gangguan pertukaran gas, berhubungan dengan efek sisa anesthesia, imobilisasi, nyeri























Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan luka pemebedahan, drain dan drainage.















Nyeri berhubungan dengan incisi pembedahan dan posisi selama pembedahan.















Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan intra dan post operasi.



















Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif













Pola napas tidak efektif


























Risiko perdarahan
NOC :
Respiratory Status: Gas exchange
Respiratory status: ventilation
Vital Sign Status
Kriteria Hasil :
-        Klien mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
-        Memelihara kebersihan paru paru dan bebas dari tanda tanda distress  pernafasan
-        Tanda tanda vital dalam rentang normal
-        Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuar









NOC
-          Tissue Integrity: Skin and Mucous
-          Membranes
Kriteria Hasil :
-          Tidak ada luka/lesi pada kulit
-          Perfusi jaringan baik
-          Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya secara berulang
-          Klien mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan  perawatan alami







NOC
-          Pain Level
-          Pain control
-          Comfort level
Kriteria Hasil
-          Klien mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan).
-          Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri).
-          Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.





NOC:
-          Fluid balance
-          Hydration
-          Nutritional Status : Food and Fluid Intake
Kriteria Hasil :
-          Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal.
-          Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.
-          Tidak ada tanda tanda dehidrasi,
-          Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.









NOC
-          Immune status
-          Knowledge: infection control
-          Risk control
Kriteria hasil
-          Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
-          Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
-          Jumlah leukosit dalam batas normal
-          Menunjukkan perilaku hidup sehat



NOC
-          Respiratory status: ventilation
-          Respiratory status: airway patency
-          Vital sign status
Kriteria Hasil
-          Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara napas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernapas dengan mudah, tidak ada pursed lips)
-          Menunjukkan jalan napas yang paten (pasien tidak merasa tercekik,  irama napas, frekuensi pernapasan dalam rentang normal, tidak ada suara napas abnormal)
-          Tanda vital dalam rentang normal






NOC
-          Blood lose severity
-          Blood coagulation
Kriteria Hasil
-          Tidak ada hematuria dan hematemesis
-          Kehilangan darah yang terlihat
-          Tekanan darah dalam batas normal
-          Tidak ada perdarahan pervaginam
-          Tidak ada distensi abdominal
-          Hemoglobin dan hematokrit dalam batas normal
-          Plasma, PT, PTT dalam batas normal
NIC
Airway Management
-          Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
-          Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
-          Keluarkan sekret dengan batuk atau suction 
-          Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
-          Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
-          Monitor respirasi dan status O2
Respiratory Monitoring
-          Monitor rata-rata, kedalaman, irama dan usaha respirasi
-          Monitor suara napas
-          Monitor pola napas
-          Auskultasi suara napas
Vital Sign Monitoring
-          Kaji tanda-tanda vital pasien.
NIC
Pressure Management
-          Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
-          Hindari kerutan pada tempat tidur.
-          Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.
-          Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
-          Monitor kulit akan adanya kemerahan
-          Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada derah yang tertekan. 
-          Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat.

NIC
Pain Management
-          Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
-          Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
-          Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri  pasien
-          Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.

NIC
Fluid management
-          Timbang popok/pembalut jika diperlukan.
-          Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.
-          Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan.
-          Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian.
-          Monitor status nutrisi
-          Dorong masukan oral.
-          Berikan penggantian nesogatrik sesuai output.
-          Dorong keluarga untuk membantu pasien makan.

NIC
Infection Control
-          Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
-          Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
-          Pertahankan teknik asepsis pada pasien yang berisiko
-          Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
-          Ajarkan cara menghindari infeksi

NIC
Airway Management
-          Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan
-          Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
-          Keluarkan sekret dengan batuk atau suction 
-          Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
-          Atur intake untuk cairan mengoptimalkan keseimbangan.
-          Monitor respirasi dan status O2
Oxygen Therapy
-          Pertahankan jalan napas yang paten
-          Atur peralatan oksigenasi
-          Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi
Vital sign monitoring

NIC
Bleeding precaution
-          Monitor tanda-tanda perdarahan
-          Catat nilai Hb dan Ht sebelum dan sesudah terjadi perdarahan
-          Monitor nilai lab (PT, PTT, trombosit)
-          Monitor TTV
Bleeding reduction
-          Indentifikasi penyebab perdarahan
-          Monitor tekanan darah
-          Monitor penentu pengiriman oksigen ke jaringan (PaO2 dan level Hb dan cardiac output)
-          Pertahankan patensi IV line





















2.2.4   Implementasi
Impementasi keperawatan dilaksanakan berdasarkan intervensi keperawatan yang telah direncanakan sebelumnya.

2.2.5   Evaluasi
Untuk  mengevaluasi  berhasilnya intervensi keperawatan, perlu dibandingkan antara perilaku pasien dan hasil yang diharapkan (Baradero et al. 2008). Intervensi keperawatan dikatakan berhasil apabila pasien dapat:
a.    Mempertahankan  jalan  nafas  yang  paten,  dan  auskultasi  paru  yang tidak menunjukkan rales;
b.    Bisa batuk secara efektif;
c.    Mempertahankan frekuensi nadi dan tekanan darah pada tahap pra-operasi;
d.    Orientasi  yang  baik  terhadap  waktu,  orang,  tempat  dan  bisa menggerakkan semua ekstermitas;
e.    Memiliki haluaran urin lebih dari 30 ml/jam dan tidak ada edema;
f.     Mengungkapkan  bahwa  nyeri  dapat  ditoleransi,  ekspansi  wajah relaks dan tidak ada nyeri;
g.    Suhu tubuh dalam batas normal;
h.    Memiliki kulit utuh, tanpa lecet, kemerahan;
i.      Tidak ada mual-muntah, dapat minum sedikit-sedikit tanpa muntah;
j.      Menunjukkan tanda penyembuhan luka tanpa infeksi.










BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
a.       Tujuan perawatan pasca operasi adalah pemulihan kesehatan fisiologi dan psikologi kembali normal
b.      Periode postoperatif meliputi waktu dari akhir prosedur pada ruang operasi sampai pasien melanjutkanrutinitas normaldan daya hidupnya
c.       Pedoman perawat pasca operatif harus sesuai dengan elemen-elemen seperti tanda-tanda vital perawatan luka, penanganan nyeri, posisi tempat tidur, pengantian cairan, diet
3.2    Saran
Pada pasien post operasi sebaiknya pemberian nutrisi segera setelah operasi lebih diutamakan karena telah dibuktikan memiliki banyak keuntungan untuk mempercepat proses penyembuhan. 


















DAFTAR PUSTAKA

Carpenito,  Linda  Juall Moyet. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10. Jakarta: EGC

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC

NANDA. 2010. Panduan Diagnosa Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta: Prima Medika

Doenges, et al. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan (terjemahan). Jakarta: EGC

Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume I (terjemahan). Jakarta: EGC

Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah Volume I. (terjemahan). Bandung: Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran

Guyton, Arthur C. 1987. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Jakarta: EGC


Komentar

Postingan Populer