PENATALAKSANAAN STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN RESIKO PRILAKU KEKERASAN DENGAN DIAGNOSA SKIZOFRENIA DI RUMAH PENITIPAN KLIEN GANGGUAN JIWA MITRA SAKTI KABUPATEN PESAWARAN TAHUN 2017

PENATALAKSANAAN STRATEGI
PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN RESIKO PRILAKU
KEKERASAN DENGAN DIAGNOSA
SKIZOFRENIA
DI RUMAH PENITIPAN KLIEN
GANGGUAN
JIWA MITRA SAKTI KABUPATEN
PESAWARAN TAHUN
2017
Feri ansyah
142000054
KEMETERIAN KESEHATAN
REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN
TANJUNGKARANG
JURUSAN DIII KEPERAWATAN
TANJUNGKARANG
TAHUN
2017
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kesehatan jiwa who (world
head organitation) adalah berbagai karakteristik positif
yang menggabarkan keselarasan dan keseimbangan jiwa yang mencerminkan
kedewasaan kepribadiannya. kesehatan jiwa menurut uu no. 3 tahun 1996 adalah
suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional
yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan keadaan orang
lain (direja, 2011).
Gangguan jiwa merupakan
kumpulan dari keadaan yang tidak normal baik yang berhubungan dengan fisik,
maupun dengan mental. keabnormalan tersebut dibagi dalam dua golongan yaitu :
gangguan jiwa (neurosa) dan sakit jiwa (psikosa). Gangguan
jiwa merupakan gangguan fikiran, perasaan atau tingkah laku sehingga
menimbulkan penderitaan dan terganggu nya fungsi atau kegiatan sehari – hari, Sedangkan sakit jiwa merupakan gangguan jiwa berat yang
memerlukan pengobatan dan perawatan khusus. keabnormalan terlihat dalam
berbagai macam gejala yang terpenting diantaranya adalah : ketegangan
(tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan – perbuataan
yang terpaksa (convulsive), histeria, rasa lemah, dan tidak mampu mencapai
tujuan, pikiran – pikiran buruk dan sebagainya (yosep,2009).
Salah satu gangguan jiwa
yang dimaksud skizofrenia adalah suatu
bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses pikir serta
disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses pikir, afek atau emosi,
kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama karna waham dan
halusinasi (direja,2011).
Menurut sulistiowati
(dalam isnaeni, 2008) prefalensi 2 skizofrenia di indonesia sendiri adalah tiga
sampai lima per seribu penduduk. bila dipikirkan jumlah penduduk sebanyak 220
juta orang akan terdapat gangguan jiwa dengan skizofrenia kurang lebih 660 ribu
sampai 1 juta orang. hal ini merupakan angka yang cukup besar serta perlu
penanganan yang serius. sedangkan skizofrenia katatonik ditandai dengan gejala
utama pada psikomotor seperti stuppor maupun gaduh gelisah katatonik (direja
2011).
Menurut buku kesehatan
jiwa karya budiana keliat tahmi 2005, perilaku kekerasaan atau amuk dapat
disebabkan karna frustasi, takut, manipulasi atau intimidasi. perilaku
kekerasaan, hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan. perilaku
kekerasaan menggambarkan rasa tidak aman, kebutuhan akan perhatian dan
ketergantungan pada orang lain.
Marah–marah, merasa
jengkel, menarik diri. data tersebut sudah memenuhi tanda dan gejala yang harus
ada pada pasien dengan perilaku kekerasaan. Menurut stearen kemarahan adalah kombinasi dari
segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan
frustasi. beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu
frustasi, hilang harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak
terpenuhi. menurut teori ini perilaku kekerasaan sebagai hasil akumulasi
frustasi yang terjadi apabila keingian individu untuk mencapai sesuatu gagal
atau terlambat. Keadaan terbuat dapat mendorong individu
berprilaku agresif karna perasaan frustasi akan berkurang melalui perilaku
kekerasan teori ini sesuai dengan yang dialami pasien dengan, dimana pasien
tidak bisa punya anak yang berakibat dirinya merasa malu dan akhirnya cendrung
melalukan hal –hal yang mengarah pada perilaku kekerasan.
Prilaku kekerasan atau
amuk dapat disebabkan karena frusatasi, takut, manipulasi atau intimidasi.
perilaku kekerasan hasil konflik emosional yang belum dapat diselesaikan.
perilaku kekerasan juga menggambarkan rasa tidak aman, kebutuhan akan perhatian
dan ketergantungan pada orang lain. ekspresi marah yang segera karena sesuatu
penyebab adalah wajar dan hal ini kadang menyulitkan karena secara kultural
ekspresi marah tidak diperbolehka. oleh karena itu marah sering diekspresikan
secara tidak langsung.
Beberapa faktor yang
mempengaruhi terjadinya kearahan yaitu frustasi, hilang nya harga diri,
kebutuhan akan status dan prestise (pujian atau sanjungan) yang tidak terpenuhi.
(keliat, 2004).
Gangguan jiwa adalah
kumpulan dari keadaan tidak normal baik yang berhungan dengan fisik maupun
mental (yosep, 2007) keabnormalan tersebut dibagi dalam dua golongan yaitu
gangguan jiwa (neurosa) dan sakit jiwa (pesikosa). keabnormalan terlihat dalam
berbagai macam gejala yang terpenting diantaranya adalah ketegangan (tension),
rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan – perbuatan yang terpaksa
(cunvulsive), histeria rasa lemah, dan tidak mampu mencapai tujuan, takut pikiran
– pikiran sebagainya (damayanti, 2010).
Perilaku kekerasaan adalah
suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan
secara fisik baik pada dirinya maupun orang lain, disertai dengan amuk dan
gaduh gelisah yang tidak terkontrol (kusumawati dan hartono, 2010).
Kekerasan adalah kekuatan
fisik yang diduganakan untuk menyerang atau merusak orang lain. perilaku
kekerasan merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakuan tindakan yang dapat
mebahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri orang lain maupun
lingkungan ( stuart dan sundeen dalam direja, 2011 ).
Perilaku kekerasan adalah
suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik
maupun psikologis. tanda dan gelaja dari
perilaku kekerasan diantara nya adalah muka merah dan tegang, pandangan tajam,
mengatup rahang dengan kuat, mengepal tangan, jalan mondar mandir, bicara
kasar, suara tinggi menjerit atau berteriak, mengancam secara verbal atau
fisik, melempar atau memukul benda atau orang lain, merusak barang atau benda,
tidak mempunyai kemampuan mencegah / mengontrol perilaku kekerasan (damayanti,
2010 ).
Berdasarkan latar belakang
terbut maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam membuat karya
tulis ilmiah dengan judul :
“pentalaksanaan strategi pelaksaan tindakan
keperawatan pada klien resiko perilaku kekerasan dengan diagnosa skizofrenia
diklinik rehabilitasi jiwa mitra sakti pesawaran 2017”
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
masalah pasien resiko perilaku kekerasan diatas maka peneliti merumuskan
masalah penelitian ini adalah bagaimana penerapan tindakan strategi pelaksanaan
pasa asuhan keperawatan pasien skizofrenia diklinik rehabiltasi jiwa mitra
sakti peswaran 2017.
C. Tujuan
Penulisan
1.
Tujuan Umum
a.
Melaporkan
kasus pada klien dengan perilaku kekerasan diklinik rehabiltasi jiwa mitra
sakti
2.
Tujuan Khusus
a.
Penulis mampu melakukan pengkajian
pada klien dengan perilaku kekerasan.
b.
Penulis mampu merumuskan diagnosa
pada klien perilaku kekerasan.
c.
Penulis mampu menyusun rencana
asuhan keperawatan pada klien dengan
perilaku kekerasan.
d.
Penulis mampu melakukan
implementasi dengan klien perilaku kekerasan.
e.
Penulis mampu melakukan evaluasi
pada klien dengan perilaku kekerasan.
D. Manfaat
Penulisan
1.
Bagi Penulis
a.
Dapat mengerti dan menerapkan
asuhan keperawatan jiwa pada klien.
b.
Menambah pengetahuan dan
pengalaman dalam menerapkan asuhan keperawatan.
c.
Meningkatkan keterampilan dalam
memberikan asuhan keperawatan.
2.
Bagi Profesi
Sebagai bahan masukan
bagi tenaga kesehatan lainnya dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien
dengan perilaku kekerasan sehingga klien mendapatkan penanganan tepat dan optimal.
3.
Bagi Institusi
a.
Rumah sakit
1) Sebagai bahan masukan yang diperlukan dalam
pelaksanaan praktek pelayan keperawatan khususnya jiwa pada perilaku kekerasan.
2) Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan
lainnya.
Dalam melaksanakan
asuhan keperawatan pada klien dengan perilaku
kekerasan, sehingga klien dapat mendapatkan penanganan yang cepat, tepat
dan optimal
b.
Bagi Pendidikan
sebagai sumber bacaan
atau referensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan khususnya
pada klien dengan perilaku kekerasan dan dapat menambah pengetahuan bagi
pembaca.
E.
Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini mengacu pada
masalah pasien resiko prilaku kekerasan. pasien prilaku kekerasan dengan
skizoprenia di klinik rehabilitasi jiwa mitra sakti yang dilaksanakan setelah
proposal disetujui. penelitian yang dibahas tentang penatalaksanaan strategi
pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien resiko prilaku kekerasan dengan
diagnosa skizoperenia. desain ini menggunakan metode deskriptif. teknik
pengambilan data primer dengan wawancara dengan pasien, keluarga dan petugas
perawat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Konsep Kebutuhan Dasar
1. Pengertian
Perilaku
kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain (Yosep,
2007).Resiko perilaku kekerasan atau agresif adalah perilaku yang menyertai
marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih
terkontol(Yosep, 2007)
Dari beberapa pengertian diatas,
penulis dapat menarik kesimpulan bahwa perilaku kekerasan adalah ungkapan
perasaan marah dan bermusuhan yang mengakibatkan hilangnya kontrol diri dimana
individu bisa berperilaku menyerang atau melakukan suatu tindakan yang dapat
membahayakan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.Sedangkan resiko
perilaku kekerasan adalah adanya kemungkinan seseorang melakukan tindakandalam
bentuk destruktif dan masih terkontrol
.
2. Proses
terjadinya masalah perilaku kekerasan
Perilaku
kekerasan merupakan salah satu respons terhadap stressor yang dihadapi oleh
seseorang (Keliat, 2009). Stressor tersebut dapat muncul dari berbagai macam
faktor.
3.
Faktor predisposisi
Menurut Yosep (2009), terdapat
beberapa faktor penyebab perilaku kekerasan.
meliputi faktor biologis,
psikologis, sosialkultural dan spiritual.
a) Faktor Biologis
1)
Neurologic factor, beragam
komponen dari sistem syaraf seperti sinap, neurotransmitter, dendrit,
akson terminalis mempunyai peran memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan
pesan-pesan yang akan mempengaruhi sifat agresif.Sistem limbik sangat terlibat
dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan respon agresif.
2)
Genetic factor, adanya
faktor gen yang diturunkan melalui orang tua, menjadi potensi perilaku agresif.
Menurut riset Kazuo Murakami (2007) dalam gen manusia terdapat dormant
(potensi) agresif yang sedang tidur akan bangun jika terstimulasi oleh faktor
eksternal. Menurut penelitian genetik tipe karyotype XYY, pada umumnya
dimiliki oleh penghuni pelaku tindak kriminal serta orang-orang yang tersangkut
hukum akibat perilau agresif.
3)
Cycardian Rhytm (irama
sirkardian tubuh), memegang peranan pada individu. Menurut penelitian pada jam-jam
sibuk seperti menjelang masuk kerja dan menjelang berakhirnya pekerjaan sekitar
jam 9 dan 13. Pada jam tertentu orang lebih mudah terstimulasi untuk bersikap
agresif.
4)
Biochemistry factor (faktor
biokimia tubuh) seperti neurotransmitter di otak (epineprin,
norepineprin, dopamin, asetilkolin dan serotonin) sangat berperan dalam
penyampaian informasi melalui sistem persyarafan dalam tubuh, adanya stimulus
dari luar tubuh yang dianggap mengancam atau membahayakan akan dihantar melalui
.impuls neurotransmitter ke
otak dan meresponnya melalui serabut efferent. Peningkatan hormon
androgen dan norepineprin serta penurunan serotonin dan GABA pada cairan cerebrospinal
verterbra dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya perilaku agresif.
5)
Brain area disorder, gangguan
pada sistem limbik dan lobus temporal, sindrom otak organik, tumor otak, trauma
otak, penyakit ensepalitis, epilepsi ditemukan sangat berpengaruh terhadap
perilaku agresif dan tindak kekerasan.
b) Faktor Psikologis
1)
Teori psikoanalisa
Agresivitas dan kekerasan dapat
dipengaruhi oleh riwayat tumbuh kembang seseorang (life span history).
Teori ini menjelaskan bahwa adanya ketidakpuasan fase oral antara usia 0-2
tahun dimana anak tidak mendapat kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan air susu
yang cukup cenderung mengembangkan sikap agresif dan bermusuhan setelah dewasa
sebagai kompensasi adanya ketidakpercayaan pada lingkungannya. Tidak
terpenuhinya kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego
dan membuat konsep diri yang rendah. Perilaku agresif dan tindak kekerasan
merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaannya dan
rendahnya harga diri pelaku tindak kekerasan.
2)
Imitation, modeling, and information
processing theory
Menurut teori ini perilaku kekerasan
bisa berkembang dalam lingkungan yang mentolelir kekerasan. Adanya contoh,
model dan perilaku yang ditiru dari media atau lingkungan sekitar memungkinkan
individu meniru perilaku tersebut. Dalam suatu penelitian beberapa anak
dikumpulkan untuk menonton tayangan pemukulan pada boneka dengan reward
positif pula (makin keras pukulannya akan diberi coklat), anak lain menonton
tayangan cara mengasihi dan mencium boneka tersebut dengan reward positif pula
(makin baik belaiannya mendapat hadiah coklat). Setelah anak-anak keluar dan
diberi boneka ternyata masing-masing anak berperilaku sesuai dengan tontonan
yang pernah dialaminya.
3)
Learning theory
Perilaku kekerasan merupakan hasil
belajar individu terhadap lingkungan terdekatnya. Ia mengamati bagaimana respons
ayah saat menerima kekecewaan dan mengamati bagaimana respons ibu saat marah.
Ia juga belajar bahwa agresivitas lingkungan sekitar menjadi peduli, bertanya,
menanggapi,
c) Faktor Sosial budaya
Kontrol masyarakat yang rendah dan
kecenderungan menerima perilaku kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah
dalam masyarakat merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan.
Hal ini dipicu juga dengan maraknya demonstrasi, film-film kekerasan, mistik,
tahayul dan perdukunan dalam tayangan telivisi. Emosi marah sering merangsang
kemarahan dari orang lain, dan menimbulkan penolakan dari orang lain. Sebagian
klien menyalurkan kemarahan dengan nilai dan mengkritik tingkah laku orang
lain, sehingga orang lain merasa sakit hati. Proses tersebut dapat mengasingkan
individu sendiri menjauhkan diri dari orang lain.
d) Faktor spiritual
Kepercayaan, nilai, dan moral
mempengaruhi ungkapan marah individu dengan lingkungan. Hal ini bertentangan
dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan yang dimanifestasikan
dengan amoral dan rasa tidak berdosa. Individu yang percaya kepada Tuhan selalu
meminta kebutuhan dan bimbingan kepada-Nya.
4.
Faktor presipitasi
Seseorang akan berespon dengan marah
apabila merasa dirinya terancam. Ancaman tersebut dapat berupa injuri secara
psikis, atau lebih dikenal dengan adanya ancaman terhadap konsep diri
seseorang. Ketika seseorang merasa terancam, mungkin dia tidak menyadari sama
sekali apa yang menjadi sumber kemarahannya. Oleh karena itu, baik perawat
maupun klien harus bersama-sama mengidentifikasinya.
Ancaman
dapat berupa internal ataupun eksternal. Contoh stresor eksternal: serangan
secara psikis, kehilangan hubungan yang dianggap bermakna, dan adanya kritikan
dari orang lain. Sedangkan contoh dari stresor internal: merasa gagal dalam
bekerja, merasa kehilangan orang yang dicintai, dan ketakutan terhadap penyakit
yang diderita (Yosep, 2009).![]() |
a. Rentang Respon Marah
Prilaku kekerasan merupakan statu
rentang emosi dan ungkapan kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik.
kemarahan tersebut merupakan suatu bentuk komunikasi dan proses penyampaian
pesan dari individu. Orang yang mengalami kemarahan sebenarnya ingin
menyampaikan pesan bahwa ia ”tidak setuju, tersinggung, merasa tidak dianggap,
merasa tidak diturut atau diremehkan”. Rentang respon kemarahan individu
dimulai dari respon normal (asertif) sampai pada respon sangat tidak normal
(maladaptif).
Respon
adaptif Respon maladaptif
|
Asertif
|
Frustasi
|
Pasif
|
Agresif
|
Kekerasan
|
|
Klien mampu mengungkapkan marah tanpa menyalahkan
orang lain dan memberikan kelegaan
|
Klien gagal mencapai tujuan kepuasan/sangat marah
dan tidak dapat menemukan alternatif
|
Klien merasa tidak dapat mengungkapkan perasaannya,
tidak berdaya dan menyerah
|
Klien mengekspresikan secara fisik, tetapi masih
kontrol, mendorong orang lain denganm ancaman
|
Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat dan hilang
kontrol, disertai amuk, merusak lingkungan
|
b. Pengkajian Prilaku Asertif, Pasif,
dan Agresif/Kekerasan
perawat perlu memahami dan membedakan barbagai prilaku
yang ditampilkan klien. Hal ini dapat diannalisa dari perbandingan berikut :
|
Aspek
|
Pasif
|
Asertif
|
Agresif
|
|
Isi pembicaraan
|
Negatif, merendahkan diri, misalnya : “biasakan saya
melakukan hal itu? Bisakah anda melakukannya?
|
Positip menawarkan diri, misalnya : “saya mampu,
saya bisa, anda boleh, anda dapat”
|
Menyombongkan diri, merendahkan oranmg lain,
misalnya : “kamu pasti tidak bisa, kamu selalu melanggar, kamu tidak pernah
menurut, kamu tidak akan bisa”
|
|
Tekanan suara
|
Lambat, mengeluh
|
Sedang
|
Keras ngotot
|
|
Posisi badan
|
Menundukan kepala
|
Tegap dan santai
|
Kaku, condong kedepan
|
|
Jarak
|
Menjaga jarak dengan sikap mengabaikan
|
Mempertahankan jarak yang nyaman
|
Siap dengan jarak akan menyerang
orang lain
|
|
Penampilan
|
Loyo, tidak dapat tenang
|
Sikap tenang
|
Mengancam, posisi menyerang
|
|
Kontak mata
|
Sedikit/sama sekali tidak
|
Mempertahan kan kontak mata sesuai
dengan hubungan
|
Mata melotot dan dipertahankan
|
c. Pengkajian Mekanisme Koping Klien
Perawat perlu mengidentifikasikan mekanisme koping klien, sehingga dapat membantu klien untuk
mengembangkan mekanisme koping yang kontruktif dalam mengekspresikan marahnya.
Mekanisme koping yang umum digunakan adalah hak mekanisme pertahanan ego
seperti displacement(dapat
mengungkapkan kemarahan pada objek yang salah, misalnya pada saat marah pada
dosen, mahasiswa mengungkapkan kemarahan dengan memukul tembok. Mekanisme
koping yang lainya adalah represi, dimana individu merasa seolah-olah tidak
marah dan tidak kesal, ia tidak mencoba menyampaikannya kepada orang terdekat
atau ekspres feeling, sehingga rasa marahnya tidak terungkap dan di tekan
sampai iya melupakannya.
Prilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi
berduka yang berkepanjangan dari seseorang karena ditinggal oleh seseorang yang
di anggap sangat berpengaruh dalam hidupnya. Bila kondisi tersebut tidak
berakhir dapat menyebabkan perasaan harga diri rendah sehingga sulit untuk
bergaul dengan orang lain.
Contoh Rencana Keperawatan Prilaku Kekerasan
Dalam Bentuk Setrategi Pelaksanaan
|
No
|
KLIEN
|
KELUARGA
|
|
SP1P
|
SPIK
|
|
|
1
2
3
4
5
6
7
|
Mengidentifikasi
penyebab prilaku kekerasan
Mengidentifikasi
tanda dan gejala prilaku kekerasan.
Mengidentifikasi
prilaku kekerasan yang dilakukan.
Mengidentifikasi
akibat prilaku kekerasan .
Menyebutkan
cara mengontrol prilaku kekerasan .
|
Mendskusikan
masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.
Menjelaskan
pengertian perilaku kekerasan tanda dan gejala perilaku kekerasan serta
proses terjadinya perilaku kekersan
|
|
|
SP2P
|
SP2K
|
|
1
2
3
|
Mengevakuasi
jadwal kegiatan klien.
Melatih
klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara fisik 2: pukul kasur dan
bantal
Menganjurkan
klien memasukan kedalam kegiatan harian
|
Melatih
keluarga memparaktikan cara merawat klien dengan perilaku kekerasan
Melatih
keluarga cara melatih langsung kepada klien perilaku kekerasan.
|
|
|
SP3P
|
SP3K
|
|
1
2
3
|
Mengevakuasi
kegiatan klien
Melatih
klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara sosial/verbal
Menganjurkan
klien memasukan kedalam kegiatan harian
|
Membantu
keluarga membuat jadwal aktivitas dirumah termasuk minum obat(discharge planning)
Menjelaskan
follow up klien setelah pulang
|
|
|
SP4P
|
SP4K
|
|
1
2
3
|
Mengevaluasi
jadwal kegiatan klieen
Melatih
klien mengontrol perilaku kekerasan dengan cara spiritual
Menganjurkan
klien memasukan kedalam kegiatan harian
|
|
|
|
SP5P
|
SP5K
|
|
1
2
3
|
Mengevaluasi
jadwal harian klien
Melatih
klien mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat
Menganjurkan
klien memasukan kedalam kegiatan harian
|
|
B.
Tinjauan
Asuhan Keperawatan
Klien yang mengalami
resiko perilaku kekerasan sukar mengontrol diri dan susah berhubungan dengan
orang lain. Untuk itu, perawat harus mempunyai kesadaran yang tinggi agar dapat
mengenal, menerima dan mengevaluasi perasaan sensitif sehingga dapat memakai
dirinya secara teraupetik dalam merawat klien. Dalam memberikan asuhan
keperawatan pasien, perawat harus jujur, empati, terbuka dan penuh penghargaan,
tidak larut dalam resiko prilaku kekerasan klien dan tidak menyangkal.
1.
Pengkajian
Untuk
dapat menjaring data yang diperlukan umumnya, dikembangkan formulir pengkajian
dan petunjuk teknis pengkajian agar memudahkan dalam pengkajian.
Isi pengkajian
meliputi:
a. Identitas
klien
b. Keluhan
utama atau alasan masuk
c. Faktor
predisposisi
d. Aspek
fisik atau biologis
e. Aspek
psikososial
f. Status
mental
g. Kebutuhan
persiapan pulang
h. Mekanisme
koping
i. Maslah
psikososial
j. Pengetahuan
k. Aspek
medik
Kemudian data yang diperoleh dapat
dikelompokan menjadi dua macam sebagai berikut:
a. Data
objektif ialah data yang ditemukan secara nyata. dat ini didapatkan melalui
observasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.
b. Data
subjektif ialah data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga.
Data ini diperoleh melalui wawancara perawat kepada klien dan keluarga. Data
yang langsung di dapat oleh perawat disebut sebagai data primer, dan data yang
diambil dari hasil catatan tim kesehatan lain sebagai data sekunder.
2.
Diagnosa
Keperawatan
Adapun
diagnosa keperawatan klien yang muncul klien dengan gangguan persepsi sensori:
resiko perilaku kekerasan adalah sebagai berikut
a.
Risiko Perilaku
kekerasan
b.
Gangguan persepsi
sensori: halusinasi (diri sendiri, orang
lain, lingkungan,dan verbal)
c.
Isolasi social
C.
Tinjauan
Konsep Penyakit
1.
Pengertian Skizofrenia
Skizofrenia adalah suatu penyakit yang
memengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan,
dan perilaku yang aneh dan terganggu. Skizofrenia tidak dapat didefinisikan
sebagai penyakit tersendiri, melainkan diduga sebagai suatu sindrom atau proses
penyakit yang mencakup banyak jenis dengan berbagai gejala seperti jenis
kanker. Selama berpuluh-puluh tahun, skizofrenia sering disalahartikan oleh
masyarakat. Penyakit ini ditakuti sebagai gangguan jiwa yang berbahaya dan
tidak dapat dikontrol, dan mereka yang terdiagnosis penyakit ini digambarkan
sebagai individu yang mengalami masalah emosional atau psikologis yang
terkendali dan memperlihatkan perilaku yang aneh dan amarah. Kebanyakan
individu yakin bahwa penderita skizofrenia perlu diasingkan dari masyarakat dan
dikirim ke institusi. Hanya baru-baru ini saja, komunitas kesehatan jiwa
menyadari untuk belajar dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat bahwa
skizofrenia adalah gangguan jiwa yang memliki berbagai tanda dan gejala dan
skizofrenia merupakan penyakit yang dapat dikendalikan dengan obat. Dengan
meningkatnya efektivitas antipsikotik atipikal terbaru dan kemajuan terapi
berbasis di masyarakat, banyak klien dapat berhasil hidup dalam masyarakat.
Klien yang penyakitnya diawasi dan dijaga secara medis sering kali dapat terus
hidup dan kadang-kadang dapat bekerja di masyarakat dengan dukungan mereka.
Skizofrenia biasanya terdiagnosis pada
masa remaja akhir dan dewasa awal. Skizofrenia jarang terjadi pada masa
kanak-kanak. Insiden puncak awitannya ialah 15 sampai 25 tahun untuk pria dan
25 sampai 35 tahun untuk wanita (DSM-IV-TR, 2000). Prevalensi skizofrenia
diperkirakan sekitar 1% dari seluruh penduduk. Di Amerika Serikat angka
tersebut menggambarkan bahwa hampir tiga juta penduduk yang sedang, telah, atau
akan terkena penyakit tersebut. Insiden dan prevalensi seumur hidup secara
kasar sama di seluruh dunia (Buchanan & Carpenter, 2000).
Skizofrenia merupakan sekelompok
gangguan psikotik dengan gangguan dasar pada kepribadian, distorsi khas pada
proses pikir kadang kadang merasa dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari luar,
terdapat waham, gangguan persepsi afek abnormal dan autisme. Kesadaran yang
jernih dan kapasitas intelektual biasanya tidak terganggu.
2.
Jenis dan tipe skizofrenia
a. Tipe
paranoid
Dsm-IV
menyebutkan bahwa tipe paranoid ditandai oleh keasykan (preokupasi) pada satu
atau lebih waham atau halusinasi dengar dan tidak ada prilaku spesifik lain
yang mengarahkan pada tipe terdisorganisasi atau katatonik. Secara klasik,
skizofrenia tipe paranoid ditandai oleh waham persekutorik (wahan kejar) dan
atau waham kebesaran. Cetusan skizofrenia paranoid pada umur lebih tua
dibanding pasien skizofrenia yang terdisorganisasi atau katatonik. Pasien yang
sehat sampai akhir usia 20 atau 30 tahunan biasanya mencapai kehidupan sosial
yang dapat membantu mereka melewati penyakitnya. Kekuatan ego pasien paranoid
cenderung mempunyai ide kebesaran
dibanding pasien katatonik dan terdisorganisasi. Pasien skizofrenia
paranoid menunjukkan regresi lambat dalam hal kemampuan mental. Respon
emosional dan prilakunya dibandingkan skizofrenia tipe lainnya. Pasien
skizofrenia paranoid mempunyai sikap tegang, pencuriga berhati hati dan tak
ramah. Mereka dapat bersikap bermusuhan atau agresif. Pasien skizofrenia
paranoid kadang-kadang dapat menempatkan
diri mereka sendiri secara adekuat didalam situasi sosial. Kecerdasan
mereka tetap utuh dan tidak terpengaruh oleh kecenderungan psikosis mereka.
b. Tipe hebefrenik
Ditandai oleh regresi yang nyata pada
prilaku primitif, terdisinhibisi dan tidak teratur. Tidak ada gejala yang
memenuhi kriteria untuk tipe katatonik. Onset biasanya lebih awal yaitu sebelum usia 25 tahun. Pasien
terdisorganisasi biasanya aktif namun dengan cara yang tidak bertujuan dan
tidak konstruktif. Isi pikir dan arus pikir sangat terdisorganisasi dan
terlihat sangat menonjol dan kontak dengan kenyataan sedemikian buruknya.
Penampilan pribadi dan prilaku sosialnya berada dalam keadaan yang rusuk.
Respon emosionalnya tidak sesuai dan mereka sering memperlihatkan tingkah laku
aneh seperti misalnya tertawanya yang meledak tanpa alasan. Meringis dan
seringai wajah sering ditemukan pada tipe pasien ini. Prilaku tersebut
digambarkan sebagai kekanak-kanakan atau bodoh.
c. Tipe katatonik
Walaupun tipe katatonik ditemukan pada
beberapa dekade yang lalu. Pada saat sekarang itu jarang ditemukan. Ciri klasik
dari tipe katatonik terlihat dengan adanya gangguan nyata pada fungsi motorik,
berupa stupor. Ciri penyerta misalnya stereotipik, manerisme, dan fleksibelitas
lilin (waxy fleksibility). Mutisme
sering pula ditemukan. Selama stupor atau kegembiraan katatonik, pasien
skizofrenia memerlukan pengawasan yang ketat karena pasien dapat melukai
dirinya sendiri atau orang lain. Perawatan medis mungkin diperlukan karena
kemungkinan adanya malnutrisi, kelelahan, hiperperiksia atau cidera yang
disebabkan oleh diri sendiri.
d. Tipe tidak tergolongkan
Pasien jelas skizofrenia, namun tidak
dapat dimasukan kedalam salah satu tipe, berdasarkan DSM-IV. Pasien tersebut
diklasifikasikan sebagai tipe tidak tergolongkan.
e. Tipe residual
Pernah terjadi paling sedikit satu
episode skizofrenia. Gambaran klinis pada saat diperiksa tidak menunjukan
gejala psikotik yang menonjol, meskipun tanda penyakit masih tetap ada. Yang
umum ditemukan adalah penumpulan emosi, penarikan diri dari hubungan sosial,
tingkah laku eksentrik, pikiran tak logis, dan pelonggaran asosiasi.
3.
Tanda dan Gejala Skizofrenia
Secara
general gejala serangan skizofrenia dibagi menjadi 2 (dua), yaitu gejala
positif dan gejala negatif.
a. Gejala
positif
Halusinasi
selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak mampu
menginterpretasikan dan merespons pesan atau rangsangan yang datang. Klien
skizofrenia mungkin mendengar
suara-suara atau melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau mengalami
suatu sensasi yang tidak biasa pada tubuhnya. Auditory halusinasi, gejala yang biasa timbul, yaitu klien
merasakan ada suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu dirasakan menyejukkan
hati, tapi kadang suara itu menyuruhnya melakukan sesuatu yang sangat
berbahaya, seperti bunuh diri.
Menginterpretasikan
sesuatu yang kadang berlawanan dengan kenyataaan. Misalnya, pada penderita
skizofrenia, lampu traffic di jalan raya yang berwarna merah-kuning-hijau,
dianggap sebagai suatu isyarat dari luar angkasa. Beberapa penderita
skizofrenia berubah menjadi seorang paranoid. Mereka selalu merasa sedang
diamat-amati, diintai, atau hendak diserang.
Kegagalan
berpikir mengarah kepada masalah dimana klien skizofrenia tidak mampu memproses
dan mengatur pikirannya. Kebanyakan klien tidak mampu memahami hubungan antara
kenyataan dan logika. Karena klien skizofrenia tidak mampu mengatur pikirannya
membuat mereka berbicara secara serampangan dan tidak bisa ditangkap secara
logika. Ketidakmampuan dalam berpikir mengakibatkan ketidakmampuan
mengendalikan emosi dan perasaan. Hasilnya, kadang penderita skizofrenia
tertawa atau berbicara sendiri dengan keras tanpa mempedulikan sekelilingnya.
Semua
itu membuat penderita skizofrenia tidak dapat memahami siapa dirinya, tidak
berpakaian, dan tidak bisa mengerti apa itu manusia. Dia juga tidak bisa
mengerti kapan dia lahir, dimana dia berada, dan sebagainya.
b. Gejala
Negatif
Klien
skizofrenia kehilangan motivasi dan apatis berarti kehilangan energi dan minat
dalam hidup yang membuat klien menjadi orang yang malas. Karena klien
skizofrenia hanya memiliki energi yang sedikit, mereka tidak bisa melakukan
hal-hal yang lain selain tidur dan makan. Perasaan yang tumpul membuat emosi
klien skizofrenia menjadi datar. Klien skizofrenia tidak memiliki ekspresi baik
dari raut muka maupun gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak memiliki emosi
apapun. Tapi ini tidak berarti bahwa klien skizofrenia tidak bisa merasakan
perasaan apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan perhatian orang
lain, tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.
Depresi
yang tidak mengenal perasaan ingin ditolong dan berharap, selalu menjadi bagian
dari hidup klien skizofrenia. Mereka tidak merasa memiliki perilaku yang
menyimpang, tidak bisa membina hubungan relasi dengan orang lain, dan tidak
mengenal cinta. Perasaan depresi adalah sesuatu yang sangat menyakitkan.
Disamping itu, perubahan otak secara biologis juga memberi andil dalam depresi.
Depresi yang berkelanjutan akan membuat klien skizofrenia menarik diri dari
lingkungannya. Mereka selalu merasa aman bila sendirian. Dalam beberapa kasus,
skizofrenia menyerang manusia usia muda antara 15 hingga 30 tahun, tetapi
serangan kebanyakan terjadi pada usia 40 tahun ke atas. Skizofrenia bisa
menyerang siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin, ras, maupun tingkat sosial
ekonomi. Diperkirakan penderita skizofrenia sebanyak 1% dari jumlah manusia
yang ada di bumi.
4. Pengobatan skizofrenia
Pengobatan
harus secepat mungkin, karena ada keadaan psikotik yang lama menimbulkan
kemungkinan lebih besar penderita menuju ke kemunduran mental. Terapis jangan
melihat ke penderita skizofrenia sebagai penderita yang tidak dapat di
sembuhkan lagi atau suatu makhluk yang aneh dan inverior, seperti orang dengan
penyakit lepra dahulu. Bila sudah diadakan kontrak, maka dilakukan bimbingan
hal-hal yang praktis.
Biarpun
penderita tidak sembuh sempurna, tetapi dengan pengobatan dan bimbingan yang
baik penderita dapat ditolong untuk
berfungsi terus, bekerja sederhana di rumah atau diluar rumah serta dapat
membesarkan dan menyekolahkan anaknya.
Keluarga
atau orang lain dilingkungan penderita di beri penerangan (manipulasi lingkungan) agar mereka
lebih sabar menghadapinya.
a. Farmakoterapi
Indikasi
pemberian obat antipsikotik pada skizofrenia adalah pertama untuk mengendalikan
gejala aktif dan kedua
mencegah
kekambuhan.
Efektivitas
antipsikotik dalam pengobatan skizofrenia telah dibuktikan oleh berbagai
penelitian buta ganda yang terkontrol. Untuk anti psikotik tipikal atau
generasi pertama, tidak ada bukti bahwa obat yang satu lebih baik daripada obat
yang lain untuk gejala-gejala tertentu.
Strategi
pengobatan tergantung pada fase penyakit apakah akut atau kronis. Fase akut
biasanya ditandai oleh gejala psikotik (yang baru dialami atau kambuh) yang
perlu segera diatasi. Tujuan pengobatan disini adalah mengurangi gejala
psikotik yang parah. Dengan fenoiazin biasanya waham dan halusinasi. Hilang
dalam waktu 2-3 minggu. Biarpun tetap masih ada waham dan halusinasi penderita
tidak begitu terpengaruh lagi dan menjadi lebih kooperatif, mau ikut serta
dalam kegiatan lingkungannya dan mau turut terapi kerja.
Setelah
4-8 minggu, pasien masuk ke tahap stabilisasi sewaktu gejala sedikit banyak
sudah teratasi, tetapi resiko relaps masih tinggi, apalagi jika pengobatan
terputus dan mengalami stress. Sesudah gejala-gejala mereda, maka dosis di
pertahankan setelah beberapa bulan lagi, jika serangan itu baru yang pertama
kali. Jika serangan skizofrenia itu sudah lebih dari satu kali, maka sesudah
gejala-gejala mereda, obat diberi terus selama atu atau dua tahun.
Setelah
6 bulan, pasien masuk fase rumatan (maintenance)
yang bertujuan untuk mencegah kekambuhan. Kepada pasien dengan skizofrenia
menahun, neuroleptika diberi dalam jangka waktu yang tidak ditentukan lamanya
dengan dosis yang naik-turun sesuai dengan keadaan pasien (seperti juga
pemberian obat kepada pasien dengan penyakit badaniah yang menahun, misalnya
diabetes melitus, hipertensi, payah jantung, dan sebagainya). Senantiasa kita
harus waspada terhadap efek samping obat.
Strategi
rumatan adalah menemukan dosis efektif terendah yang dapat memberikan
perlindungan terhadap kekambuhan dan tidak mengganggu fungsi psikososial
pasien.
Hasil
pengobatan akan lebih baik bila antipsikotik mulai diberi dalam dua tahun
pertama dari penyakit. Tidak ada dosis standar untuk obat ini, tetapi dosis
ditetapkan secara individual.
Pemilihan
obat lebih banyak berdasarkan profil efek samping dan respons pasien pada
pengobatan sebelumnya. Ada beberapa kondisi khusus yang perlu diperhatikan,
misalnya pada wanita hamil lebih dianjurkan haloperidol, karena obat ini
mempunyai data keamanan yang paling baik. Pada pasien yang sensitif terhadap
efek samping ekstrapiramidal lebih baik diberi antipsikotik atipik, demikian pula pada pasien yang
menunjukkan gejala kognitif atau gejala negatif yang menonjol.
Untuk
pasien yang baru pertama kali mengalami episode skizofrenia, pemberian obat
harus diupayakan agar tidak terlalu memberikan efek samping karena pengalaman
yang buruk dengan pengobatan akan mengurangi ketaatberobatan (compliance) atau kesetiaberobatan (adherence). Dianjurkan untuk menggunakan
antipsikotik atipik atau antipsikotik tipikal, tetapi dengan dosis yang rendah.
b.
Terapi Elektro-konvulsi
(TEK)
Seperti
juga konvulsi yang lain, cara kerja elektrokonvulsi belum diketahui dengan
jelas. Dapat dikatakan bahwa terapi konvulsi dapat memperpendek serangan
skizofrenia dan mempermudah kontak dengan penderita. Akan tetapi terapi ini
tidak dapat mencegah serangan yang akan datang.
Bila
dibandingkan dengan terapi koma insulin, maka dengan TEK lebih sering terjadi
serangan ulang. Akan tetapi TEK lebih mudah diberikan, dapat dilakukan secara
ambulant, bahaya lebih sedikit, lebih murah dan tidak memerlukan tenaga yang
khusus seperti pada terapi koma insulin.
TEK
baik hasilnya pada jenis katatonik terutama stupor. Terhadap skizofrenia
simplex efeknya mengecewakan: bila gejala hanya ringan lantas diberi TEK,
kadang-kadang gejala menjadi lebih berat.
c. Psikoterapi
dan Rehabilitasi
Psikoterapi
dalam bentuk psikoanalisis tidak membawa hasil yang diharapkan, bahkan ada yang
berpendapat tidak boleh dilakukan pada penderita dengan skizofrenia karena
justru dapat menambah isolasi dan autisme. Yang dapat membantu penderita adalah
psikoterapi suportif individual atau kelompok, serta bimbingan yang praktis
dengan maksud mengembalikan penderita ke masyarakat. Teknik terapi perilaku
kognitif (cognitive behaviour therapy)
belakangan dicoba pada penderita skizofrenia dengan hasil yang menjanjikan.
Terapi
kerja adalah baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi dengan orang
lain, penderita lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya ia tidak
mengasingkan diri lagi, karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk
kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan
bersama. Pemikiran masalah filsafat atau kesenian bebas dalam bentuk melukis
bebas atau bermain musik bebas, tidak dianjurkan sebab dapat menambah autisme.
Bila dilakukan juga, maka harus ada pemimpin dan ada tujuan yang lebih dahulu
sudah ditentukan.
Perlu
juga diperhatikan lingkungan penderita. Bila mungkin, diatur sedemikian rupa
sehingga ia tidak mengalami stres terlalu terlalu banyak. Bila mungkin,
sebaiknya ia dikembalikan ke pekerjaan sebelum sakit, dan tergantung pada
tingkat kesembuhannya apakah tanggung jawabnya dalam pekerjaan itu akan penuh
atau tidak.
Lingkungan
sekitar yang tidak setabil serta hostilitas dan ikut campur emosional (expressed emotion) yang tinggi yang
dialami pasien dari orang-orang yang dekat dengannya biasanya keluarga akan
membawa risiko tinggi untuk kambuh. Untuk ini terapi keluarga dapat bermanfaat.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Fokus
Asuhan Keperawatan
Pada laporan
tugas akhir ini penulis menggunakan pendekatan asuhan keperawatan yang berfokus
kepada tindakan keperawatan. Tindakan keperawatan yang di pilih adalah “strategi pelaksaan
tindakan keperawatan pada pasien resiko prilaku kekerasan” yang bertujuan agar Klien yang mengalami resiko prilaku kekerasan
dapat mengontrol diri dan mudah berhubungan dengan orang lain. Konsep asuhan keperawatan yang dipakai oleh
penulis adalah asuhan keperawatan jiwa dan berfokus pada tindakan keperawatan yang di pilih.
B.
Subjek
Asuhan
Dalam asuhan
keperawatan yang berfokus pada tindakan keperawatan ini penelitian akan dilakukan
di tempat klinik jiwa
Mitra Sakti pada pasien yang menjalani rawat inap, saat dilakukan survey
diidentifikasi terdapat 24 pasien yang dirawat. Penelitian fokus pada subjek
asuhan 2 klien yang mengalami gangguan jiwa dengan masalah utama resiko prilaku kekerasan dengan
kriteria,diantaranya :
1.
Klien yang sudah menjalani perawatan
selama 3 hari
2.
Klien tidak mengalami masalah fisik
berat
3.
Mampu berkomunikasi dua arah
C.
Lokasi
dan Waktu
1. Lokasi penelitian
Lokasi
penelitian dilakukan di Klinik Mitra Sakti Kabupaten Pesawaran Lampung.
2. Waktu penelitian
Penelitian
akan dilakukan pada bulan april 2017, dan batas waktu pengumpulan data sampai
dengan mei 2017.
D.
Definisi
Operasional
Resiko prilaku kekerasan adalah suatu prilaku yang
dilakukan seseorang untuk melukai orang lain baik secara fisik ataupun
psikologi. Cara untuk mengatasi resiko
prilaku kekerasan antaralain dengan memberikan pasien strategi pelaksanaan.
1.
Sp
1 dilakukan bertujuan untuk mengatasi masalah resiko prilaku kekerasan dengan
mengekspresikan kemarahan dengan memukul bantal atau benda lunak. Selain itu
mengalihkan kemarahan dengan teknik relaksasi nafas dalam
2.
Sp
2 di lakukan bertujuan untuk mengatasi secara verbal,contoh menolak dengan baik
,meminta dengan baik dan mengungkapkan perasaan dengan baik
3.
Sp
3 dilakukan bertujuan untuk mengatasi masalah resiko prilaku kekerasan dengan
cara spiritual:solat dan berdoa
4.
Sp
4 dilakukan bertujuan untuk mengatasi masalah resiko prilaku kekerasan dengan
cara minum obat secara teratur dengan prinsip (benar pasien, benar obat, benar
rute, benar waktu, benar dosis, benar dokumentasi)
E.
Pengumpulan
data
1. Alat pengumpulan data
Pengumpulan
data pada Asuhan Keperawatan fokus tindakan keperawatan ini dengan menggunakan
format pengkajian dan lembar observasi, Dan kemudian dari hasil pengukuran di
tulis dilembar format pengkajian atau
observasi.
2. Pengumpulan data
Dalam
laporan tugas akhir ini penulis menggunakan dua teknik pengumpulan data antara
lain:
a. Wawancara/Anamnesis
Wawancara yang
dilakukan penulis adalah menanyakan atau tanya jawab yang berhubungan dengan
masalah yang dihadapi oleh pasien
resiko prilaku kekerasan dan
merupakan suatu komunikasi yang direncanakan. unsur-unsur yang diperhatikan
penulis dalam anamnesis sebagai berikut:
1) Memperhatikan
pesan yang disampaikan
2) Mengurangi
hambatan-hambatan seperti suara yang gaduh, kurangnya privasi, adanya interupsi
dari perawat lain, perasaan
terburu-buru, klien merasa cemas, nyeri atau mengantuk, perawar sedang
memikirkan hal lain atau tidak fokus pada klien, klien tidak senang dengan
perawat atau sebaliknya.
3) Posisi
duduk sebaiknya berhadapan dan dengan jarak yang sesuai.
4) Mendengarkan
penuh dengan perasaan terhadap setiap yang dikatakan klien.
5) Memberi
kesempatan klien untuk beristirahat.
b. Penulis
menggunakan observasi untuk mengamati perilaku dan keadaan klien untuk
memperoleh data tentang masalah kesehatan dan keperawatan klien dengan gangguan
jiwa. Penulis akan memperhatikan hal-hal yang perlu dalam melakukan observasi
adalah:
1) Sebaiknya
tidak diketahui oleh klien sehingga data yang diperoleh murni.
2) Hasilnya
dicatat dalam catatan keperawatan sehingga dapat dibaca dan dimengerti.
E. Penyajian data
1. Narasi
Penulis
akan menggunakan penyajian secara teks yaitu penyajian data hasil laporan tugas
akhir akan ditulis dalam bentuk kalimat. Misalnya, menjelaskan hasil pengkajian
klien sebelum dilakukan tindakan keperawatan dan menuliskan hasil setelah
dilakukan tindakan keperawatan. Kalimat penyajian berbentuk teks hanya bisa
digunakan penulis untuk memberi informasi melalui kalimat yang mudah dipahami
pembaca.
2. Tabel
Penulis
menggunakan tabel untuk menjelaskan hasil menggunakan angka-angka yang akan
dimasukkan kedalam tabel, salah satu contoh yang akan digunakan penulis adalah
untuk pengkajian pada klien, penulis tentunya akan mengkaji fungsi kognitif
klien sebelum diberikan tindakan keperawatan, dimana tabel diperlukan dalam
penilaian fungsi kognitif klien. Penulis juga akan menuliskan hasil laporan
dalam bentuk tabel yaitu berisi hasil respons klien sebelum dan sesudah
diberikan strategi
pelaksanaan tindakan keperawatan
sebagai
perbandingan respons klien.
3. Grafik
Penulis
selanjutnya menggunakan grafik data disebut juga diagram data, adalah penyajian data dalam bentuk
gambar-gambar. Grafik data biasanya berasal dari tabel dan grafik biasanya
dibuat bersama-sama, yaitu tabel dilengkapi dengan grafik. Penulis menggunakan
grafik untuk melihat hasil tabel dan dituangkan dalam bentuk grafik.
F.
Prinsip
etik
Prinsip etik
menurut perry dan potter (2005) yang digunakan penulis dalam membuat alasan
asuhan keperawatan focus tndakan keperawatan ini adalah prinsip etika
keperawatan dalam memberikan layanan keperawatan kepada individu, kelompok/keluarga
dan masyarakat, yaitu:
1.
Otonomi (Autonomi) prinsip otonomi
didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat
keputusan sendiri. Maka penulis menggunakan prinsip ini untuk memberikan hak
kepada kien dalam memberikan keputusan sendiri untuk ikut serta sebagai sasaran
asuhan penulis.
2.
Beneficience (Berbuat Baik) prinsip ini
menuntut penulis untuk melakukan hal yang baik dengan begitu dapat mencegah
kesalahan atau kejahatan. Penulis menggunakan prinsip ini sebagai perawat untuk
memberikan tindakan dalam asuhan keperawatan kepada klien isolasi sosial dengan
baik.
3.
Justice (Keadilan) nilai ini
direfleksikan dalam praktek professional ketika perawat bekerja untuk terapi
yang benar sesuai hukum, standar praktik dan keyakinan yang sangat benar untuk
memperoleh kualias pelayanan kesehatan. Maka penulis akan menuliskan hasil
didalam dokumentasi asuhan keperawatan sesuai dengan hukum dan standart praktik
keperawatan.
4.
Nonmaleficince (tidak murugikan) prinsip
ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien.
Penulisan akan sangat memperhatikan kondisi klien isolasi sosial agar tidak
menimbulkan bahaya atau cidera fisik pada saat dilakukan tindakan keperawatan.
5.
Veracity (Kejujuran) nilai ini bukan
cuman dimiliki oleh perawat namun harus dimiliki oleh seluruh pemberi layanan
kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada setiap klien untuk meyakinkan agar
klien mengerti. Informasi yang diberikan harus akurat, komprehensif, dan
objektif. Penulis akan menggunakan kebenaran yang merupakan dasar membina
hubungan saling percaya. Klien memiliki
otonomi sehingga mereka berhak mendapatkan informasi yang iya ingin tau dari
penulis.
6.
Fidelity (Menepati janji) tanggung jawab
besar seorang perawat adalah meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit,
memulihkan kesehatan, dan meminimalkan penderitaan. Untuk mencapai itu penulis
harus memiliki komitmen menepati janji dan menghargai komitmennya kepada orang
lain.
7.
Confidentianlity (Kerahasiaan) penulis
akan menjaga informasi tentang klien dokumentasi tentang keadaan kesehatan klien
hanya bisa dibaca guna keperluan pengobatan dan peningkatan kesehatan lansia
klien. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan harus dihindari.
8.
Accountability (Akuntabilitasi)
akuntabilitas adalah standar yang pasti bahwa tindakan seorang professional
dalam dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanda terkecuali. Penulis
menggunakan prinsip ini untuk memberikan jawaban kepada otoritas yang lebih
tinggi atas tindakan yang telah diberikan oleh penulis kepada klien.
Karena dalam pelaksanaan sebuah
penelitian mengingat penelitian keperawatan akan berhubungan langsung dengan
manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan karena manusia mempunyai
hak asasi dalam kegiatan ini.
Dalam sebuah keperawatan focus
tindakan keperawatan ini sebelumnya penulis menandatangani lansia untuk meminta
kesediaan menjadi partisipan. Penulis juga harus melalui beberapa tahap
pengurusan perijinan dan setelah mendapat persetujuan barulah dilaksanakan
penelitian dengan memperhatikan etika-etika penelitian yaitu:
1.
Informed consent
Penulis
menggunakan informed consent sebagai suatu cara persetujuan antara penulis
dengan pemilik klinik, dengan memberikan lembar persetujuan (Informed consent).
Informed consent tersebut diberikan sebelum tindakan keperawatan dilaksanakan
dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi sasaran asuhan penulis.
Tujuan Informed consent adalah agar pemilik klien atau keluarga klien mengerti
maksud dan tujuan, mengetahui dampaknya, jika klien bersedia maka mereka harus
menandatangani lembar persetujuan, serta bersedia untuk direkam dan jika klien
tidak bersedia maka penulis harus menghormati hak klien.
2.
Anonymity (tanpa nama)
Penulis
menggunakan etika penelitian keperawatan dengan cara tidak memberikan atau
mencantumkan nama klien pada lembar alat ukur dan hanya menuliskan kode pada
lembar pengumpulan data atau hasil laporan yang disajikan.
3.
Kerahasiaan (confidentiality)
Penulis
menggunakan etika dalam penelitian untuk menjamin kerahasiaan dari hasil
laporan baik informasi maupun masalah-masalah lainnya, semua klien yang telah
dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh penulis, hanya kelompok data ter
tentu yang
dilaporkan pada hasil laporan.

Komentar
Posting Komentar