MAKALAH ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS PERSALINAN
MAKALAH
ASUHAN NEONATUS DENGAN JEJAS
PERSALINAN
Disusun
Oleh :
PEGY
SHASQIA POTRI
RETNOSARI
WIDOWATI
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN
DIII KESEHATAN KEBIDANAN
TAHUN
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
izin dan rahmat-Nya tugas makalah ini bisa terselesaikan. Saya berharap makalah
ini bisa bermanfaat bagi khalayak ramai. Meskipun makalah ini saya buat dengan
sebaik-baiknya, saya menyadari makalah ini masih banyak kekurangannya, jadi
saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca sekalian.
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................ ii........
DAFTAR ISI............................................................................................... iii........
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A. Latar Belakang.............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan............................................................................ 2
BAB
II TINJAUAN TEORI
A.
Cephalhematoma........................................................................... 3
B. Caput succedaneum....................................................................... 5
C. Fraktur humerus............................................................................. 8
D. Fraktur clavicula ......................................................................... 11
E. Fleksus brachialis......................................................................... 15
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 21
B. Saran............................................................................................... 22........
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kelahiran
seorang bayi merupakan saat yang membahagiakan orang tua, terutama bayi yang
sehat. Bayi yang nantinya tumbuh menjadi anak dewasa melalui proses yang
panjang, dengan tidak mengesampingkan factor lingkungan keluarga. Terpenuhinya
kebutuhan dasar anak (asah-asih-asuh)oleh keluarga akan memberi lingkungan yang
terbaik bagi anak, sehingga tumbuh kembang anak menjadi seoptimal mungkin.
Tetapi tidak semua bayi lahir dalam keadaan sehat. Beberapa bayi lahir dengan
gangguan pada masa prenatal, natal, pascanatal. Keadaan ini akan member
pengaruh bagi tumbun kembang selanjutnya. Seperti mengalami salah satunya
trauma pada fleksus brachialis dan masi banyak lagi gangguan yang tidak normal
pada bayi.
Asuhan
neonates dengan jejas ( trauma) persalinan sangat berpengaruh terhadap trauma
pada kelahiran. Trauma lahir adalah trauma mekanis yang disebabkan karena
persalinan/kelahiran. Pengertian yang lain tentang trauma lahir adalah trauma
pada bayi yang diterima dalam atau karenaproses kelahiran. Istilah
trauma digunakan untuk menunjukkan trauma mekanik dan anoksik, baik yang dapat
dihindarikan maupun yang dapat dihindarkan, yang didapat bayi pada masa
persalinan dan kelahiran. Trauma dapat terjadi sebagai akibat keterampilan atau
perhatian medic yang tidak pantas atau tidak memadai sama sekali,
atau dapat terjadi meskipun telah mendapat perawatan kebidanan yang terampil
dan kompeten dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan tindakan atau sikap
orang tua yang acuh tak acuh.
Insidensi
trauma pada kelahiran diperkirakan sebesar 2-7 per 1000 kelahiran hidup.
Walaupun insiden telah menurun pada tahun-tahun belakang ini, sebagian karena
kemajuan di bidang teknikdan penilaian obstektrik, trauma lahir masi merupakan
permasalahan pentiang, karena walaupun hanya trauma yang bersifat sementara
sering tampak nyata oleh orang tua dan menimbulkan cemas serta keraguan yang
memerlukan pembicaraan yang bersifat suportif dan informatif. Beberapa trauma
pada awalnya dapat bersifat laten, tetapi akan menimbulkan penyakit atau akibat
sisa yang berat. Trauma lahir merupakan salah satu factor penyebab utama
kematian perinatal. Di Indonesia angka kematian perinatal 44 per 1000 kelahiran
hidup dan 9,7% diantanya sebagai dari akibat dari trauma lahir.
Pada
saat persalina, perlukaan atau trauma persalinan kadang-kadang tidak dapat
dihindarkan dan lebih sering ditemukan pada persalinan yang terganggu oleh
beberapa sebab. Penangan persalinan secara sempurna dapat mengurangi frekuensi
peristiwa trauma pada fleksus brachialis dan mengurangi juga jumlah kematian.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah
asuhan neonatus dengan sefalofematoma?
2.
Bagaimanakah
asuhan neonates dengan caput succedeum?
3.
Bagaimanakah
asuhan neonates dengan fraktur humerus?
4.
Bagaimanakah
asuhan neonates dengan fraktur clavicula?
5.
Bagaimanakah
asuhan neonates dengan trauma pada fexus brachialis?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui asuhan neonatus dengan sefalofematoma?
2.
Untuk
mengetahui asuhan neonates dengan caput succedeum?
3.
Untuk
mengetahui asuhan neonates dengan fraktur humerus?
4.
Untuk
mengetahui asuhan neonates dengan fraktur clavicula?
5.
Untuk
mengetahui asuhan neonates dengan trauma pada fexus brachialis?
D.
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A. CEPHALHEMATOMA
1. Pengertian Cephalhematoma
Cephalhematoma
adalah subperiosteal akibat kerusakan jaringan periosteum karena tarikan atau
tekanan jalan lahir, dan tidak pernah melampaui batas sutura garis tengah.
Pemeriksaan x-ray tengkorak dilakukan, bila dicurigai ada nya faktur (mendekati
hampir 5% dari seluruh cephalhematoma). Kelainan ini agak lama menghilang (1-3
bulan). Pada gangguan yang luas dapat menimbulkan anemia dan
hiperbilirubinemia.Perlu pemantauan hemoglobin, hematokrik, dan
bilirubin.Aspirasi darah dengan jarum tidak perlu di lakukan. (Sarwono
Prawirohardjo,2007).
Cephalhematoma
adalah pembengkakan pada daerah kepala yang disebabkan karena adanya penumpukan
darah akibat pendarahan pada subperiostinum.( Vivian nanny lia dewi, 2010 )
2. Etiologi Cephalhematoma
Hematoma dapat terjadi karena (
Menurut : Prawiraharjo, Sarwono. 2002. IlmuKebidanan ):
1.
Persalinan lama
Persalinan yang lama dan sukar,
dapat menyebabkan adanya tekanan tulang pelvis ibu terhadap tulang kepala bayi,
yang menyebabkan robeknya pembuluh darah.
2.
Tarikan vakum atau cunam
Persalinan yang dibantu dengan
vacuum atau cunam yang kuat dapat menyebabakan penumpukan darah akibat robeknya
pembuluh darah yang melintasi tulang kepala ke jaringan periosteum.
3. Kelahiran
sungsang yang mengalami kesukaran melahirkan kepala bayi.
3. Patofisiologi Cephalhematoma
1.
Cephal hematoma
terjadi akibat robeknya pembuluh darah yang melintasi tulang kepala ke jaringan
poriosteum. Robeknya pembuluh darah ini dapat terjadi pada persalinan lama.
Akibat pembuluh darah ini timbul timbunan darah di daerah sub periosteal yang
dari luar terlihat benjolan.
2.
Bagian kepala yang
hematoma biasanya berwarna merah akibat adanya penumpukan daerah yang
perdarahan sub periosteum.
(
Menurut : FK. UNPAD. 1985. ObstetriFisiologiBandung )
4. Tanda dan Gejala Cephalhematoma
Berikut ini adalah tanda-tanda dan
gejala Cephal hematoma:
·
Adanya
fluktuasi
·
Adanya
benjolan, biasanya baru tampak jelas setelah 2 jam setelah bayi lahir
·
Adanya
chepal hematoma timbul di daerah tulang parietal
Berupa benjolan timbunan kalsium dan sisa jaringan
fibrosa yang masih teraba.Sebagian benjolan keras sampai umur 1-2 tahun.
( Menurut : Prawiraharjo,
Sarwono.2002.Ilmu Kebidanan )
Menurut Vivian nanny lia dewi,
2010 :
Ø Kepala tampak bengkak dan
berwarna merah.
Ø Tampak benjolan dengan batas
yang tegas dan tidak melampaui tulang tengkorak
Ø Pada
perabaan terasa mula – mula keras kemudian menjadi lunak.
Ø
Benjolan tampak jelas lebih kurang 6 – 8 jam setelah lahir
Ø
Benjolan membesar pada hari kedua atau ketiga
Ø
Benjolan akan menghilang dalam beberapa minggu.
5. Komplikasi Cephalhematoma
Ø Ikterus
Ø Anemia
Ø Infeksi
Ø Klasifikasi mungkin
bertahan selama > 1 tahun
Gejala
lanjut yang mungkin terjadi yaitu anemia dan hiperbilirubinemia. Kadang-kadang
disertai dengan fraktur tulang tengkorak di bawahnya atau perdarahan intra
kranial.
6. Penatalaksanaan Cephalhematoma
Cephal hematoma umumnya tidak memerlukan perawatan khusus. Biasanya akan
mengalami resolusi khusus sendiri dalam 2-8 minggu tergantung dari besar
kecilnya benjolan. Namun apabila dicurigai adanya fraktur, kelainan ini akan
agak lama menghilang (1-3 bulan) dibutuhkan penatalaksanaan khusus antara lain
:
Ø Menjaga kebersihan luka
Ø Tidak
boleh melakukan massase luka/benjolan Cephal hematom
Ø Pemberian
vitamin K
Ø Bayi dengan Cephal hematoma
tidak boleh langsung disusui oleh ibunya karena Pergerakan dapat mengganggu
pembuluh darah yang mulai pulih.
(Menurut : Manuaba. Ida Bagus Gede, 1998. Ilmu Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan)
B. CAPUT SUCCEDANEUM
1. Defenisi Caput Succedaneum
Caput
succedaneum adalah edema kulit kepala anak yang terjadi karena tekanan dari
jalan lahir kepada kepala anak. Atau pembengkakan difus, kadang-kadang bersifat
ekimotik atau edematosa, pada jaringan lunak kulit kepala, yang mengenai bagian
kepala terbawah, yang terjadi pada kelahiran verteks. Karena tekanan ini vena
tertutup, tekanan dalam vena kapiler meninggi hingga cairan masuk ke dalam
jaringan longgar dibawah lingkaran tekanan dan pada tempat yang terendah. Dan
merupakan benjolan yang difus kepala, dan melampaui sutura garis tengah.
(Obstetri fisiologi, UNPAD.1985)
Caput
succedaneum ini ditemukan biasanya pada presentasi kepala, sesuai dengan posisi
bagian yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi oedema sebagai akibat
pengeluaran serum dari pembuluh darah. Caput succedaneum tidak memerlukan
pengobatan khusus dan biasanya menghilang setelah 2-5 hari.(Sarwono
Prawiroharjo.2002)
Kejadian
caput succedaneum pada bayi sendiri adalah benjolan pada kepala bayi akibat
tekanan uterus atau dinding vagina dan juga pada persalinan dengan tindakan
vakum ekstraksi.(Sarwono Prawiroharjo.2002)
2. Etiologi Caput Succedaneum
Banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya caput succedaneum pada bayi baru
lahir(Obstetri fisiologi,UNPAD, 1985, hal 254), yaitu :
1.
Persalinan
lama
Dapat
menyebabkan caput succedaneum karena terjadi tekanan pada jalan lahir yang
terlalu lama, menyebabkan pembuluh darah vena tertutup, tekanan dalam vena
kapiler meninggi hingga cairan masuk kedalam cairan longgar dibawah lingkaran
tekanan dan pada tempat yang terendah.
2.
Persalinan
dengan ekstraksi vakum
Pada
bayi yang dilahirkan vakum yang cukup berat, sering terlihat adanya caput vakum
sebagai edema sirkulasi berbatas dengan sebesar alat penyedot vakum yang
digunakan.
3. Manifestasi Klinis Caput Succedaneum
Menurut
Nelson dalam Ilmu Kesehatan Anak (Richard E, Behrman.dkk.2000), tanda dan
gejala yang dapat ditemui pada anak dengan caput succedaneum adalah sebagi
berikut :
1. Adanya edema dikepala
2. Pada perabaan teraba
lembut dan lunak
3. Edema melampaui sela-sela
tengkorak
4. Batas yang tidak jelas
5. Biasanya menghilang 2-3
hari tanpa pengobatan
4. Patofisiologi Caput Succedaneum
Kelainan
ini timbul karena tekanan yang keras pada kepala ketika memasuki jalan lahir
sehingga terjadi bendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran
cairan tubuh ke jaringan ekstra vaskuler. Benjolan caput ini berisi cairan
serum dan sering bercampur dengan sedikit darah. Benjolan dapat terjadi sebagai
akibat bertumpang tindihnya tulang kepala di daerah sutura pada suatu proses
kelahiran sebagai salah satu upaya bayi untuk mengecilkan lingkaran kepalanya
agar dapat melalui jalan lahir. Umumnya moulage ini ditemukan pada sutura
sagitalis dan terlihat segera setelah bayi lahir. Moulage ini umumnya jelas
terlihat pada bayi premature dan akan hilang sendiri dalam satu sampai dua
hari.
Menurut
Sarwono Prawiraharjo dalam Ilmu Kebidanan 2002, proses perjalanan penyakit
caput succedaneum adalah sebagi berikut :
1.
Pembengkakan
yang terjadi pada kasus caput succadeneum merupakan pembengkakan difus jaringan
otak, yang dapat melampaui sutura garis tengah.
2.
Adanya
edema dikepala terjadi akibat pembendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai
pengeluaran cairan tubuh. Benjolan biasanya ditemukan didaerah presentasi lahir
dan terletak periosteum hingga dapat melampaui sutura.
5. Pemeriksaan Diagnostik Caput Succedaneum
Sebenarnya
dalam pemeriksaan caput succedaneum tidak perlu dilakukan pemeriksaan
diagnostik lebih lanjut melihat caput succedaneum sangat mudah untuk dikenali.
Namun juga sangat perlu untuk melakukan diagnosa banding dengan menggunakan
foto rontgen (X-Ray) terkait dengan penyerta caput succedaneum yaitu fraktur
tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial. (Meida.2009)
6. Penatalaksanaan Caput Succedaneum
Menurut
Nelson dalam Ilmu Kesehatan Anak (Richard E, Behrman.dkk.2000), Pembengkakan
pada caput succedaneum dapat meluas menyeberangi garis tengah atau garis
sutura. Dan edema akan menghilang sendiri dalam beberapa hari. Pembengkakan dan
perubahan warna yang analog dan distorsi wajah dapat terlihat pada kelahiran
dengan presentasi wajah. Dan tidak diperlukan pengobatan yang spesifik, tetapi
bila terdapat ekimosis yang ektensif mungkin ada indikasi melakukan fisioterapi
dini untuk hiperbilirubinemia.
Moulase
kepala dan tulang parietal yang tumpang tindih sering berhubungan dengan adanya
caput succedaneum dan semakin menjadi nyata setelah caput mulai mereda,
kadang-kadang caput hemoragik dapat mengakibatkan syok dan diperlukan transfusi
darah.
Berikut
adalah penatalaksanaan secara umum yang bisa diberikan pada anak dengan caput
succedaneum :
1.
Bayi
dengan caput succedaneum diberi ASI langsung dari ibu tanpa makanan tambahan
apapun, maka dari itu perlu diperhatikan penatalaksanaan pemberian ASI yang
adekuat dan teratur.
2.
Bayi
jangan sering diangkat karena dapat memperluas daerah edema kepala.
3.
Atur
posisi tidur bayi tanpa menggunakan bantal
4.
Mencegah
terjadinya infeksi dengan :
·
Perawatan
tali pusat
·
Personal
hygiene baik
5.
Berikan
penyuluhan pada orang tua tentang :
·
Perawatan
bayi sehari-hari, bayi dirawat seperti perawatan bayi normal.
·
Keadaan
trauma pada bayi , agar tidak usah khawatir karena benjolan akan menghilang 2-3
hari
6.
Berikan
lingkungan yang nyaman dan hangat pada bayi.
7.
Awasi
keadaan umum bayi.
7. Komplikasi Caput Succedaneum
1.
Infeksi bisa
terjadi karena kulit kepala terluka
2.
Ikterus
bisa terjadi karena adanya inkompatibilitas faktor Rh atau golongan darah A, B,
O, antaraibu dan bayi.
3.
Anemia
C. FRAKTUR HUMERUS
1. Pengertian Fraktur Humerus
Mansjoer, Arif, (2000) Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang
yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa. ( Linda Juall C 1999) Fraktur adalah
rusaknya kontinuitas tulang yang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap oleh tulang.
Fraktur Humerus menurut (Mansjoer, Arif, 2000) yaitu diskontinuitas atau
hilangnya struktur dari tulang humerus. Sedangkan menurut ( Sjamsuhidayat 2004)
Fraktur humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan oleh
benturan atau trauma langsung maupun tidak langsung.
Fraktur humerus adalah Kelainan yang terjadi pada kesalahan teknik dalam
melahirkan lengan pada presentasi puncak kepala atau letak sungsang dengan
lengan membumbung ke atas. Pada keadaan ini biasanya sisi yang terkena tidak
dapat digerakkan dan refleks Moro pada sisi tersebut menghilang.
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini, jika ditemukan ada tekanan keras dan langsung pada tulang humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya berupa greenstick atau fraktur total.
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang fraktur. Pada kelahiran presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini, jika ditemukan ada tekanan keras dan langsung pada tulang humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya berupa greenstick atau fraktur total.
2. Klasifikasi dari Fraktur Humerus
Fraktur atau patah tulang humerus terbagi atas :
1. Fraktur Suprakondilar humerus, ini
terbagi atas:
• Jenis ekstensi yang terjadi
karena trauma langsung pada humerus distal melalui benturan pada siku dan
lengan bawah pada posisi supinasidan lengan siku dalam posisi ekstensi dengan
tangan terfikasi
• Jenis fleksi pada anak biasanya
terjadi akibat jatuh pada telapak tangan dengan tangan dan lengan bawah dalam
posisi pronasi dan siku dalam posisi sedikit fleksi.
2. Fraktur interkondiler humerus
Fraktur yang
sering terjadi pada anak adalah fraktur kondiler lateralis dan fraktur kondiler
medialis humerus
3. Fraktur batang humerus
Fraktur ini
disebabkan oleh trauma langsung yang mengakibatkan fraktur spiral (fraktur yang
arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi)
4. Fraktur kolum humerus
Fraktur ini
dapat terjadi pada kolum antomikum (terletak di bawah kaput humeri) dan kolum
sirurgikum (terletak di bawah tuberkulum).
3. Etiologi Fraktur Humerus
Fraktur tulang humerus umumnya terjadi pada kelahiran letak sungsang dengan
tangan menjungkit ke atas. Kesukaran melahirkan tangan yang menjungkit
merupakan penyebab terjadinya tulang humerus yang fraktur. Pada kelahiran
presentasi kepala dapat pula ditemukan fraktur ini, jika ditemukan ada tekanan
keras dan langsung pada tulang humerus oleh tulang pelvis. Jenis frakturnya
berupa greenstick atau fraktur total. Fraktur menurut Strek,1999 terjadi paling
sering sekunder akibat kesulitan kelahiran (misalnya makrosemia dan disproporsi
sefalopelvik, serta malpresentasi).
4. Patofisiologi Fraktur Humerus
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekekuatan dan gaya pegas untuk
menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang
datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada
tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang
(Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh
darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus
tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah
hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian
tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya
respon inflamasi yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan
leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar
dari proses penyembuhan tulang nantinya (Black, J.M, et al, 1993)
5. Gejala Fraktur Humerus
•
Berkurangnya
gerakan tangan yang sakit
•
Refleks
moro asimetris
•
Terabanya
deformitas dan krepotasi di daerah fraktur disertai rasa sakit
•
Terjadinya
tangisan bayi pada gerakan pasif
•
Letak
fraktur umumnya di daerah diafisi. Diagnosa pasti ditegakkan dengan pemeriksaan
radiologik.
6. Gejala Klinis Fraktur Humerus
•
Diketahui
beberapa hari kemudian dengan ditemukan adanya gerakan kaki yang berkurang dan
asimetris.
•
Adanya
gerakan asimetris serta ditemukannya deformitas dan krepitasi pada tulang
femur.
•
Diagnosis
pasti ditegakkan dengan pemeriksaan radiologik.
7. Penanganan Fraktur Humerus
•
Imobilisasi
lengan pada sisi bayi dengan siku fleksi 90 derajat selama 10 sampai 14 hari
serta control nyeri.
•
Daya
penyembuhan fraktur tulang bagi yang berupa fraktur tulang tumpang tindih
ringan dengan deformitas, umumnya akan baik.
•
Dalam
masa pertumbuhan dan pembentukkan tulang pada bayi, maka tulang yang fraktur
tersebut akan tumbuh dan akhirnya mempunyai bentuk panjang yang normal
D. FRAKTUR
CLAVICULA
1. Definisi Fraktur
Clavicula
Fraktur adalah retaknya tulang,
biasanya disertai dengan cedera di jaringan sekitarnya. Kebanyakan fraktur
disebabkan oleh trauma dimana terdapat tekanan yang berlebihan pada tulang,
baik berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung.
Clavicula merupakan tulang yang berbentuk
huruf S, bagian medial melengkung lebih besar dan menuju ke anterior.
Lengkungan bagian lateral lebih kecil dan menghadap ke posterior. Ujung medial
clavicula disebut extremitas sternalis, membentuk persendian dengan sternum,
dan uJung lateral disebut extremitas acromialis, membentuk persendian dengan
acromion. Facies superior clavicula agak halus, dan pada facies inferior di
bagian medial terdapat tuberositas costalis. Disebelah lateral tuberositas
tersebut terdapat sulcus subclavius, tempat melekatnya m. Subclavius, dan
disebelah lateralnya lagi terdapat tuberositas coracoidea, tempat melekat lig.
Coracoclaviculalis.
Clavicula adalah tulang yang paling pertama
mengalami pertumbuhan pada masa fetus, terbentuk melalui 2 pusat ossifikasi
atau pertulangan primer yaitu medial dan lateral clavicula, dimana terjadi saat
minggu ke-5 dan ke-6 masa intrauterin. Kernudian ossifikasi sekunder pada epifise
medial clavicula berlangsung pada usia 18 tahun sampai 20 tahun. Dan epifise
terakhir bersatu pada usia 25 tahun sampai 26 tahun.
Pada tulang ini bisa terjadi banyak proses
patologik sama seperti pada tulang yang lainnya yaitu bisa ada kelainan congenital,
trauma (fraktur), inflamasi, neoplasia, kelainan metabolik tulang dan yang
lainnya. Fraktur clavicula bisa disebabkan oleh benturan ataupun kompressi yang
berkekuatan rendah sampai yang berkekuatan tinggi yang bisa menyebabkan
terjadinya fraktur tertutup ataupun multiple trauma.
Fraktur ini merupakan jenis yang tersering
pada bayi baru lahir,yang mungkin terjadi apabila terdapat kesulitan
mengeluarkan bahu pada persalinan. Hal ini dapat timbul pada kelahiran
presentasi puncak kepala dan pada lengan yang telentang pada kelahiran
sungsang. Gejala yang tampak pada keadaan ini adalah kelemahan lengan pada sisi
yang terkena, krepitasi, ketidakteraturan tulang mungkin dapat diraba,
perubahan warna kulit pada bagian atas yang terkena fraktur serta menghilangnya
refleks Moro pada sisi tersebut. Diagnosis dapat ditegakkan dengan palpasi dan
foto rontgent. Penyembuhan sempurna terjadi setelah 7-10 hari dengan
imobilisasi dengan posisi abduksi 60 derajat dan fleksi 90 derajat dari siku
yang terkena.
2. Epidemiologi Fraktur Clavicula
Menurut data epidemiologi pada orang dewasa
insiden fraktur clavicula sekitar 40 kasus dari 100.000 orang, dengan
perbandingan laki-laki perempuan adalah 2 : 1. Fraktur pada midclavicula yang
paling sering terjadi yaitu sekitar 85% dari semua fraktur clavicula, sementara
fraktur bagian distal sekitar 10% dan bagian proximal sekitar 5%.
Sekitar 2% sampai 5% dari semua jenis fraktur
merupakan fraktur clavicula. Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeon,
frekuensi fraktur clavicula sekitar 1 kasus dari 1000 orang dalam satu tahun.
Fraktur clavicula juga merupakan kasus trauma pada kasus obstetrik dengan
prevalensi 1 kasus dari 213 kasus kelahiran anak yang hidup.
3. Etiologi Fraktur
Clavicula
Penyebab farktur clavicula biasanya disebabkan oleh trauma pada bahu akibat
kecelakaan apakah itu karena jatuh atau kecelakaan kendaraan bermotor, namun
kadang dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non traumatik. Berikut beberapa
penyebab pada fraktur clavicula yaitu :
1.
Fraktur
clavicula pada bayi baru lahir akibat tekanan pada bahu oleh simphisis pubis
selama proses melahirkan.
2.
Fraktur
clavicula akibat kecelakaan termasuk kecelakaan kendaraan bermotor, jatuh dari
ketinggian dan yang lainnya.
3.
Fraktur
clavicula akibat kompresi pada bahu dalam jangka waktu lama, misalnya pada
pelajar yang menggunakan tas yang terlalu berat.
4.
Fraktur
clavicula akibat proses patologik, misalnya pada pasien post radioterapi,
keganasan clan lain-lain.
Penyebab farktur clavicula biasanya disebabkan
oleh trauma pada bahu akibat trauma jalan lahir dengan gejala:
1.
Bayi
tidak dapat menggerakkan lengan secara bebas pada sisi yang terkena,
2.
Krepitasi
dan ketidakteraturan tulang,
3.
Kadang-kadang
disertai perubahan warna pada sisi fraktur,
4.
Tidak
adanya refleks moro pada sisi yang terkena,
5.
Adanya
spasme otot sternokleidomastoideus yang disertai dengan hilangnya depresi
supraklavikular pada daerah fraktur.
6.
Biasanya
diikuti palsi lengan
Faktor
predisposisi fraktur klavikula adalah:
1.
Bayi
yang berukuran besar
2.
Distosia
bahu
3.
Partus
dengan letak sungsang
4.
Persalinan
traumatic .
Pengklasifikasian
fraktur clavicula didasari oleh lokasi fraktur pada clavicula tersebut. Ada
tiga lokasi pada clavicula yang paling sering mengalami fraktur yaitu pada
bagian midshape clavikula dimana pada anak-anak berupa greenstick, bagian
distal clavicula dan bagian proksimal clavicula.
Menurut Neer secara umum fraktur klavikula
diklasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu :
1.
Tipe
I : Fraktur pada bagian tengah clavicula. Lokasi yang paling sering terjadi
fraktur.
2.
Tipe
II : Fraktur pada bagian distal clavicula. Lokasi tersering kedua mengalami
fraktur setelah midclavicula.
3.
Tipe
III : Fraktur pada bagian proksimal clavicula. Fraktur yang paling jarang
terjadi dari semua jenis fraktur clavicula, insidensnya hanya sekitar 5%.
Ada beberapa subtype fraktur clavicula bagian distal, menurut Neer ada 3 yaitu:
1.
Tipe
I : merupakan fraktur dengan kerusakan minimal, dimana ligament
tidak mengalami kerusakan.
2.
Tipe
: merupakan fraktur pada daerah medial ligament coracoclavicular.
3.
Tipe
III : merupakan fraktur pada daerah distal ligament coracoclavicular dan
melibatkan permukaan tulang bagian distal clavicula pada AC joint.
4. Diagnosis Fraktur Clavicula
Hasil pemeriksaan
1.
Adanya
pembengkakan pada sektor daerah fractur.
2.
Krepitasi.
3.
Pergerakan
lengan berkurang.
4.
Iritable
selama pergerakan lengan.
Diagnosis RO tidak selalu diindikasikan, 80% tidak mempunyai gejala dan hanya
didapatkan hasil pemeriksaan yang minimal.
5. Penatalaksanaan Fraktur Clavicula
Adapun penatalaksanaan terhadap bayi yang mengalami fraktur klavikula, yaitu:
1.
Bayi
jangan banyak digerakkan
2.
Immobilisasi
lengan dan bahu pada sisi yang akit dan abduksi lengan dalam stanhoera menopang
bahu belakang dengan memasang ransel verband
3.
Rawat
bayi dengan hati-hati
4.
Nutrisi
yang adekuat (pemberian asi yang adekuat dengan cara mengajarkan pada ibu acar
pemberian asi dengan posisi tidur, dengan sendok atau pipet)
5.
Rujuk
bayi kerumah sakit
Umumnya 7-10 hari sakit berkurang,
pembentukan kalus bertambah beberapa bulan (6-8 minggu) terbentuk tulang
normal.
E. FLEKSUS BRACHIALIS
1. Pengertian fleksus brachialis
Fleksus brakialis adalah sebuah jaringan saraf tulang belakang yang berasal dari
belakang leher, meluas melalui aksila (ketiak), dan menimbulkan saraf untuk
ekstremitas atas. Pleksus brakialis dibentuk oleh penyatuan bagian dari kelima
melalui saraf servikal kedelapan dan saraf dada pertama, yang semuanya berasal
dari sumsum tulang belakang.
Serabut saraf akan didistribusikan ke beberapa bagian lengan. Jaringan saraf
dibentuk oleh cervical yang bersambungan dengan dada dan tulang belakang urat
dan pengadaan di lengan dan bagian bahu.
Trauma lahir pada pleksus brakialis dapat dijumpai pada persalinan yang
mengalami kesukaran dalam melahirkan kepala atau bahu. Pada kelahiran
presentasi verteks yang mengalami kesukaran melahirkan bahu, dapat terjadi
penarikan balik cukup keras ke lateral yang berakibat terjadinya trauma di
pleksus brakialis. Trauma lahir ini dapat pula terjadi pada kelahiran letak
sungsang yang mengalami kesukaran melahirkan kepala bayi.
Gejala klinis trauma lahir pleksus brakialis berupa gangguan fungsi dan posisi
otot ekstremitas atas. Gangguan otot tersebut tergantung dari tinggi rendahnya
serabut syaraf pleksus braklialis yang rusak dan tergantung pula dari berat
ringannya kerusakan serabut syaraf tersebut. Paresis atau paralisis akibat
kerusakan syaraf perifer ini dapat bersifat temporer atau permanen. Hal ini
tergantung kerusakan yang terjadi pada serabut syaraf di pangkal pleksus
brakialis yang akut berupa edema biasa, perdarahan, perobekan atau tercabutnya
serabut saraf.
Sesuai dengan tinggi rendahnya pangkal serabut saraf pleksus brakialis, trauma
lahir pada saraf tersebut dapat dibagi menjadi paresis/paralisis (1)
paresis/paralisis Duchene-Erb (C.5-C.6) yang tersering ditemukan (2)
paresis/paralisi Klumpke (C.7.8-Th.1) yang jarang ditemukan, dan (3) kelumpuhan
otot lengan bagian dalam yang lebih sering ditemukan dibanding dengan trauma
Klumpke.
Anatomi dari anyaman ini, dibagi menjadi : Roots, Trunks,
Divisions, Cords, dan Branches maka cedera di masing-masing level ini
akan memberikan cacat/trauma yang berbeda-beda.
1.
Roots : berasal dari akar saraf di leher
dan thorax pada level C5-C8, T1
2.
Trunks : dari Roots bergabung
menjadi 3 thrunks
3.
Divisions : dari 3
thrunks masing-masing membagi 2 menjadi 6division
4.
Cords : 6
division tersebut bergabung menjadi 3 cords
5.
Branches : cords tersebut
bergabung menjadi 5 branches, yaitu : n.musculocutaneus,
n.axilaris,n.radialis,n. medianus, dan n.ulnaris
Trauma pada pleksus brakialis yang dapat menyebabkan paralisis lengan atas
dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim
paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Trauma pleksus brakialis sering
terjadi pada penarikan lateral yang dipaksakan pada kepala dan leher, selama
persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan
berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan
berlebihan pada bahu.
Luka
pada pleksus brakialis mempengaruhi saraf memasok bahu, lengan lengan bawah,
atas dan tangan, menyebabkan mati rasa, kesemutan, nyeri, kelemahan, gerakan
terbatas, atau bahkan kelumpuhan ekstremitas atas. Meskipun cedera bisa terjadi
kapan saja, banyak cedera pleksus brakialis terjadi selama kelahiran. Bahu bayi
mungkin menjadi dampak selama proses persalinan, menyebabkan saraf pleksus
brakialis untuk meregang atau robek. Secara garis besar macam-macam plesksus
brachialis yaitu :
a. Paralisis Erb-Duchene
Kerusakan cabang-cabang C5 – C6 dari pleksus brakialis menyebabkan kelemahan
dan kelumpuhan lengan untuk fleksi, abduksi, dan memutar lengan keluar serta
hilangnya refleks biseps dan morro. Gejala pada kerusakan fleksus ini, antara
lain hilangnya reflek radial dan biseps, refleks pegang positif. Pada waktu
dilakukan abduksi pasif, terlihat lengan akan jatuh lemah di samping badan
dengan posisi yang khas.
b. Paralisis Klumpke
Kerusakan cabang-cabang C7 – Th1 pleksus brakialis menyebabkan kelemahan lengan
otot-otot fleksus pergelangan, maka bayi tidak dapat mengepal. Secara klinis
terlihat refleks pegang menjadi negatif, telapak tangan terkulai lemah,
sedangkan refleksi biseps dan radialis tetap positif. Jika serabut simpatis
ikut terkena, maka akan terlihat sindrom Horner yang ditandai
antara lain oleh adanya gejalaprosis, miosis, enoftalmus, dan hilangnya
keringat di daerah kepala dan muka homolateral dari trauma lahir tersebut.
c. Paralisis otot lengan bagian
dalam
Kerusakan terjadi pada serabut pleksus brakialis lebih luas dan lebih dalam,
yang berakibat fungsi ekstremitas atas akan hilang sama sekali. Ekstremitas
atas akan terkulai lemah, sedangkan semua refleks otot menghilang. Pada keadaan
ini sering dijumpai adanya defisit sensoris pada lengan. Pada kasus trauma
pleksus brakialis, pemeriksaan radiologik dada dan lengan atas dapat dianjurkan
untuk menyingkirkan kemungkinan adanya fraktur klavikula atau fraktur lengan
atas, di samping untuk mencari komplikasi lain seperti kelumpuhan otot
diafragma.
Ada
empat jenis cedera pleksus brakialis:
a.
Avulsion,
jenis yang paling parah, di mana saraf rusak di tulang belakang;
b.
Pecah,
di mana saraf robek tetapi tidak pada lampiran spinal;
c.
Neuroma,
di mana saraf telah berusaha untuk menyembuhkan dirinya sendiri, tetapi
jaringan parut telah berkembang di sekitar cedera, memberi tekanan pada saraf
dan mencegah cedera saraf dari melakukan sinyal ke otot-otot.
d.
Neurapraxia
atau peregangan, di mana saraf telah rusak tetapi tidak robek. Neurapraxia
adalah jenis yang paling umum dari cedera pleksus brakialis.
2. Etiologi Fleksus Brakhialis
Etiologi trauma fleksus brakhialis pada bayi baru lahir. Trauma fleksus
brakhialis pada bayi dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain:
1)
Faktor
bayi sendiri : makrosomia, presentasi ganda, letak sunsang, distosia bahu,
malpresentasi, bayi kurang bulan
2)
Faktor
ibu : ibu sefalo pelvic disease (panggul ibu yang sempit), umur ibu yang sudah
tua, adanya penyulit saat persalinan
3)
Faktor
penolong persalinan : tarikan yang berlebihan pada kepala dan leher saat
menolong kelahiran bahu pada presentasi kepala, tarikan yang berlebihan pada
bahu pada presentasi bokong.
3. Patofisiologis Fleksus Brakhialis
Bagian cord akar saraf dapat
terjadi avulsi atau pleksus mengalami traksi atau kompresi. Setiap trauma yang
meningkatkan jarak antara titik yang relatif fixed pada prevertebral
fascia dan mid fore armakan melukai pleksus.
Traksi dan kompresi dapat juga menyebabkan iskemi, yang akan merusak pembuluh darah. Cedera pleksus brakialis dianggap disebabkan oleh traksi yang berlebihan diterapkan pada saraf. Cedera ini bisa disebabkan karena distosia bahu, penggunaan traksi yang berlebihan atau salah arah, atau hiperekstensi dari alat ekstraksi sungsang. Mekanisme ukuran panggul ibu dan ukuran bahu dan posisi janin selama proses persalinan untuk menentukan cedera pada pleksus brakialis. Secara umum, bahu anterior terlibat ketika distosia bahu, namun lengan posterior biasanya terpengaruh tanpa adanya distosia bahu. Karena traksi yang kuat diterapkan selama distosia bahu adalah mekanisme yang tidak bisa dipungkuri dapat menyebabkan cedera, cedera pleksus brakialis
Traksi dan kompresi dapat juga menyebabkan iskemi, yang akan merusak pembuluh darah. Cedera pleksus brakialis dianggap disebabkan oleh traksi yang berlebihan diterapkan pada saraf. Cedera ini bisa disebabkan karena distosia bahu, penggunaan traksi yang berlebihan atau salah arah, atau hiperekstensi dari alat ekstraksi sungsang. Mekanisme ukuran panggul ibu dan ukuran bahu dan posisi janin selama proses persalinan untuk menentukan cedera pada pleksus brakialis. Secara umum, bahu anterior terlibat ketika distosia bahu, namun lengan posterior biasanya terpengaruh tanpa adanya distosia bahu. Karena traksi yang kuat diterapkan selama distosia bahu adalah mekanisme yang tidak bisa dipungkuri dapat menyebabkan cedera, cedera pleksus brakialis
Kompresi yang berat dapat
menyebabkan hematome intraneural,dimana akan menjepit jaringan
saraf sekitarnya.
4. Tanda dan Gejala Fleksus Brakhialis
Tanda dan gejala trauma fleksus brachialis antara lain :
a.
Gangguan
motorik pada lengan atas
b.
Paralisis
atau kelumpuhan pada lengan atas dan lengan bawah
c.
Lengan
atas dalam keadaan ekstensi dan abduksi
d.
Jika
anak diangkat maka lengan akan lemas dan tergantung
e.
Reflex
moro negative
f.
Tangan
tidak bisa menggenggam
g.
Reflex
meraih dengan tangan tidak ada
5. Komplikasi Trauma fleksus
brakhialis
a.
Kontraksi
otot yang abnormal (kontraktur)atau pengencangan otot-otot, yang mungkin
menjadi permanen pada bahu, siku atau pergelangan tangan
b.
Permanen,
parsial, atau total hilangnya fungsi saraf yang terkena, menyebabkan kelumpuhan
lengan atau kelemahan lengan
6. Penanganan Terhadap Trauma Fleksus
Brakhialis
Penanganan
atau penatalaksanaan kebidanan meliputi rujukan untuk membebat yang terkena
dekat dengan tubuh dan konsultasi dengan tim pediatric. Penanganan
terhadap trauma pleksus brakialis ditujukan untuk mempercepat penyembuhan
serabut saraf yang rusak dan mencegah kemungkinan komplikasi lain seperti
kontraksi otot. Upaya ini dilakukan antara lain dengan cara:
1)
Pada
trauma yang ringan yang hanya berupa edema atau perdarahan ringan pada pangkal
saraf, fiksasi hanya dilakukan beberapa hari atau 1 – 2 minggu untuk memberi
kesempatan penyembuhan yang kemudian diikuti program mobilisasi atau latihan.
2)
Immobilisasi
lengan yang lumpuh dalam posisi lengan atas abduksi 90 derajat, siku fleksi 90
derajat disertai supine lengan bawah dan pergelangan tangan dalam
keadaan ekstensi
3)
Beri
penguat atau bidai selama 1 – 2 minggu pertama kehidupannya dengan cara
meletakkan tangan bayi yang lumpuh disebelah kepalanya.
4)
Rujuk
ke rumah sakit jika tidak bisa ditangani.
Penatalaksanaan
dengan bentuk kuratif atau pengobatan. Pengobatan tergantung pada lokasi dan
jenis cedera pada pleksus brakialis dan mungkin termasuk terapi okupasi dan
fisik dan dalam beberapa kasus, pembedahan. Beberapa cedera pleksus brakialis
menyembuhkan sendiri. Anak-anak dapat pulih atau sembuh dengan 3 sampai 4
bulan.
Prognosis
juga tergantung pada lokasi dan jenis cedera pleksus brakialis menentukan
prognosis. Untuk luka avulsion dan pecah tidak ada potensi untuk pemulihan
kecuali rekoneksi bedah dilakukan pada waktu yang tepat. Untuk cedera neuroma
dan neurapraxia potensi untuk pemulihan bervariasi. Kebanyakan pasien dengan
cedera neurapraxia sembuh secara spontan dengan kembali 90-100% fungsi.
Penanganan
lesi pleksus brachialis efektif bila cepat terdeteksi atau dimulai pada usia
antara 3 sampai 6 bulan. Ada dua terapi utama untuk lesi pleksus brachialis
yaitu :
1.
Latihan
fisik melalui fisioterapi (occupational therapy)
2.
Penanganan
bedah
Penanganan
awal penderita lesi plekus brachialis pada bayi lebih difokuskan pada
mempertahankan pergerakan seluruh sendi disamping terapi fisik sebagai
antisipasi bila tidak terjadi perbaikan spontan dari fungsi saraf. Perbaikan
spontan terjadi pada umumnya pada sebagian besar kasus dengan terapi fisik
sebagai satu-satunya penanganan. Ada atau tidaknya fungsi motorik pada 2 sampai
6 bulan pertama merupakan acuan dibutuhkannya penanganan bedah. Graft bedah
mikro untuk komponen utama pleksus brachialis dapat dilakukan pada kasus-kasus
avulsi akar saraf atau ruptur yang tidak mengalami perbaikan.
Penanganan
sekunder dapat dilakukan pada pasien bayi sampai orang dewasa. Prosedur ini
lebih umum dilakukan daripada bedah mikro dan dapat juga dilakukan sebagai
kelanjutan bedah mikro. Penanganan bedah ini meliputi soft-tissue release,
osteotomi, dan transfer tendo (Dr. Kumar Kadiyala). 9
Semua graft saraf yang dibuat pada operasi diimobilisasi selama 2 sampai 6 minggu. Rehabilitasi sempurna diharapkan mulai setelah 6 minggu. Kemudian dilanjutkan dengan fisoterapi setelah 6 minggu dan follow up setiap 3 bulan.
Semua graft saraf yang dibuat pada operasi diimobilisasi selama 2 sampai 6 minggu. Rehabilitasi sempurna diharapkan mulai setelah 6 minggu. Kemudian dilanjutkan dengan fisoterapi setelah 6 minggu dan follow up setiap 3 bulan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Cephalhematoma
adalah subperiosteal akibat kerusakan jaringan periosteum karena tarikan atau
tekanan jalan lahir, dan tidak pernah melampaui batas sutura garis tengah.
Pemeriksaan x-ray tengkorak dilakukan, bila dicurigai ada nya faktur (mendekati
hampir 5% dari seluruh cephalhematoma). Kelainan ini agak lama menghilang (1-3
bulan).Pada gangguan yang luas dapat menimbulkan anemia dan
hiperbilirubinemia.Perlu pemantauan hemoglobin, hematokrik, dan
bilirubin.Aspirasi darah dengan jarum tidak perlu di lakukan. (Sarwono
Prawirohardjo,2007).
Caput
succedaneum adalah edema kulit kepala anak yang terjadi karena tekanan dari
jalan lahir kepada kepala anak. Atau pembengkakan difus, kadang-kadang bersifat
ekimotik atau edematosa, pada jaringan lunak kulit kepala, yang mengenai bagian
kepala terbawah, yang terjadi pada kelahiran verteks. Karena tekanan ini vena
tertutup, tekanan dalam vena kapiler meninggi hingga cairan masuk ke dalam
jaringan longgar dibawah lingkaran tekanan dan pada tempat yang terendah. Dan
merupakan benjolan yang difus kepala, dan melampaui sutura garis tengah.
(Obstetri fisiologi, UNPAD.1985)
Fraktur
Humerus menurut (Mansjoer, Arif, 2000) yaitu diskontinuitas atau hilangnya
struktur dari tulang humerus. Sedangkan menurut ( Sjamsuhidayat 2004 ) Fraktur
humerus adalah fraktur pada tulang humerus yang disebabkan oleh benturan atau
trauma langsung maupun tidak langsung.
Fraktur
humerus adalah Kelainan yang terjadi pada kesalahan teknik dalam melahirkan
lengan pada presentasi puncak kepala atau letak sungsang dengan lengan
membumbung ke atas. Pada keadaan ini biasanya sisi yang terkena tidak dapat
digerakkan dan refleks Moro.
Clavicula
merupakan tulang yang berbentuk huruf S, bagian medial melengkung lebih besar
dan menuju ke anterior. Lengkungan bagian lateral lebih kecil dan menghadap ke
posterior. Ujung medial clavicula disebut extremitas sternalis, membentuk
persendian dengan sternum, dan uJung lateral disebut extremitas acromialis,
membentuk persendian dengan acromion. Facies superior clavicula agak halus, dan
pada facies inferior di bagian medial terdapat tuberositas costalis. Disebelah
lateral tuberositas tersebut terdapat sulcus subclavius, tempat melekatnya m.
Subclavius, dan disebelah lateralnya lagi terdapat tuberositas coracoidea,
tempat melekat lig. Coracoclaviculalis.
Fleksus brakialis adalah sebuah jaringan saraf tulang belakang yang berasal dari
belakang leher, meluas melalui aksila (ketiak), dan menimbulkan saraf untuk
ekstremitas atas. Pleksus brakialis dibentuk oleh penyatuan bagian dari kelima
melalui saraf servikal kedelapan dan saraf dada pertama, yang semuanya berasal
dari sumsum tulang belakang.
B. Saran
Dalam melakukan pertolongan persalinan
perlu diperhatikan posisi dankondisi bayi saat melewati jalan lahir. Proses
pertolongan yang tidak cermat dan professional beresiko tinggi dapat
menyebabkan trauma pada bayi saat berada di jalan lahir. Tentu hal ini akan
berdampak pada kesehatan bayi pasca persalinan.
Pengetahuan yang baik tentang kesehatan
bayi, posisi bayi dan jalan lahir serta metode persalinan yang tetap akan
sangat menentukan keselamatan bayi saat dilahirkan.
DAFTAR
PUSTAKA
Behrman R., Vaughan V., Trauma lahir,
dalam Nelson- Ilmu Kesehatan Anak, Ed. XII, EGC, Jakarta, 1994
: 608-614.
Dewi, Vivian NL.2010.Asuhan Neonatus
Bayi dan Anak Balita.Jakarta: Medika Salemba
Hasan R., Alatas H., Ilmu
Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, Jakarta, 1985.
Henderson, Christine, dkk. 2006.Buku
Ajar Konsep Kebidanan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.Markum, A.H.
1991. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
Manuaba.1998.Ilmu kebidanan, Penyakit
kandungan, dan Keluarga Berencana untuk Pendidik Bidan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran
Marku, A.H. 1991. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Anak. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Wiknjosastro H., 1997. Perlukaan
persalinan, dalam Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta.
Mochtar, Rustam.1998.Sinopsis
Obstetri.Jakarta : EGC .
Muslihatun, Wafi Nur. 2010. Asuhan
Neonatus, Bayi dan Balita.Fitramaya Yogyakarta
Prawiroraharjo, Sarwono. 2009. Ilmu
Kebidanan. PT. Bina Pustaka Jakarta
Saifuddin, Abdul Bari.2002.Buku Panduan
Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Wiknjosastro,Hanifa. 2000. Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatus. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka
Komentar
Posting Komentar