UPAYA ORANG TUA DAlAM MELALAKUKAN PENCEGAHAN KARIES PADA ANAK TUNA RUNGU DI SLB SUKARAME TAHUN 2018
UPAYA
ORANG TUA DAlAM MELALAKUKAN PENCEGAHAN KARIES PADA ANAK TUNA RUNGU DI SLB
SUKARAME TAHUN 2018
Oleh
:
JULIUS SAPUTRA
NIM 1512402016
PROPOSAL
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNG KARANG
JURUSAN
KEPERAWATAN GIGI
2018/2019

UPAYA ORANG TUA
DAlAM MELALAKUKAN PENCEGAHAN KARIES PADA ANAK TUNA RUNGU DI SLB SUKARAME TAHUN
2018
Karya Tulis
Ilmiah ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan
Pendidikan pada
Program Diploma III Keperawatan Gigi
Politeknik Kesehatan
Tanjung Karang
Oleh :
JULIUS
SAPUTRA
NIM
1512402016
PROPOSAL
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNG KARANG
JURUSAN
KEPERAWATAN GIGI
2018/2019
LEMBAR
PERSETUJUAN JUDUL
JUDUL : UPAYA ORANG TUA DALAM MELAKUKAKAN
PENCEGAHAN KARIES
GIGI PADA ANAK TUNA RUNGU DI SLB SUKARAME BANDAR LAMPUNG TAHUN 2018
NAMA :
JULIUS SAPUTRA
NIM :
1512402016
JENIS KTI : PENELITIAN
Bandar lampung 19 januari 2018
Mengetahui
|
Pembimbing
I
Lina
Sari S.Si,T M.Kes
NIP:197205041992032005
|
Pembimbing
II
Drg.
Lies Elina Prasetiowati M.Pd
NIP:196112031992032001
|
Mengetahui
Dosen pembimbing
kti
Poltekkkes
tanjung karang
Drg. Erni
gultom, MHSM
Nip;196403111990112001
LEMBAR
PERSETUJUAN
Proposal
UPYA
ORANG TUA DALAM MELAKUKAKAN PENCEGAHAN KARIES PADA ANAK TUNA RUNGU DI SLB
SUKARAME TAHU 2018
Penulis
Julius
Saputra / NIM 1512402016
Telah
di periksa dan di setujui tim pembimbing proposal program diploma iii
Politekhnik
kesehatan tanjung karang jurusan keperawatan gigi
Bandar
Lampung, 2018
Tim
Pembimbuing Proposal
Pembimbing
I
Linasari S.Sit M.Kes
NIP:197205041992032000
Pembimbimbing II
Drg. Lies elina prasetio wati
NIP;196112031992032001
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,
Karena berkat rahmat dan hidayah-Nya ,Sehingga penulis dapat menyelesaikan
Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Upaya Orang Tua Dalam Melakukan Pencegahan
Karies Pada Anak Tuna Rungu Di SLB Sukarame Tahun 2018”.
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu
syarat untuk menyelesaikan tugas akhir pada jenjang pendidikan Diploma III
Politeknik Kesehatan Tanjung Karang Jurusan Keperawatan Gigi.
Penulis menyadari selama penyusunan karya tulis
ilmiah ini penulis banyak mendapat bantuan, dorongan, dan masukan yang sangat
berharga bagi penulis. Untuk itu penulis dengan segala kerendahan hati
mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.
Allah SWT yang
telah memberikan kesehatan, kemudahan dalam berfikir dan senantiasa memberikan
karunia atas peenyelesaian karya tulis ilmiah ini.
2.
Teruntuk Kedua
Orang tua Mamak ku “Kartini S.Pd” Dan Bapak ku “Alfian”yang paling ku sayang
tempat ku berkeluh kesah menyuport menjadi semangat dan pacuan untuk terus
maju, dan aku sangat bangga sekali mempunnyai oran tua yang sangat baik yang
bisa menjadi contoh untuk panduan hidup
dan tidak lupa pada kakak ku engku setiwan, ayuk iparku siska damayanti
S.Pdi dan adikku agus triansyah dan mahtma ghandi,semua keluarga besar yang
menyayangi, mendoakan, memberikan semangat dan membantu serta menjadi motivasi ku untuk kelancaran
karya tulis ilmiah ini.
3.
Bapak Warjidin
Aliyanto, SKM., M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Tanjung Karang.
4.
Drg. Erni
Gultom, MHSM selaku ketua Jurusan Keperawatan Gigi sekaligus penanggung jawab karya
tulis ilmiah,
5.
Lina Sari
S.Sit.,M.Kes selaku pembimbing utama pendamping karya tulis ilmiah yang telah
meluangkan waktunya dan membimbing saya selaku peneliti untuk menyelesaikan
karya tulis ilmiah.
6.
Drg. Lies Elina
prasetiowati M.Pd selaku ppembimbimbing ke dua meluangkan waktunya dan
membimbing saya selaku peneliti untuk menyelesaikan karya tulis ilmiah
7.
Drg. Avoanita
yosa selaku penguji karya tulis ilmiah yang telah memberikan bimbingan dan
saran kepada penulis.
8.
Drg. RR.
Ratnasari Dyah P, M.Pd selaku pembimbing akademik yang selalu senantiasa
membantu, memberikan masukan serta memotivasi penulis.
9.
Semua dosen dan
staf TU yang tidak bisa disebutkan satu persatu di Jurusan Keperawatan Gigi
Politeknik Kesehatan Tanjung Karang.
10.
Untuk semua teman-teman
ku jurusan Keperawatan Gigi tahun 2015 angkatan kompak konyol yang selalu menemani sedih, senang, serta
memberikan semangat dan membantu mencari
pasien dan menyelesaikan karya tulis ilmiah ini. Terima kasih atas kebersamaan
selama kita membina ilmu di Jurusan Keperawatan Gigi terimkasih untuk canda
tawa selama 3 tahun ini.
11. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan
Karya Tulis Ilmiah.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis
Ilmiah ini masih terdapat banyak kekurangan dan memerlukan pengkajian serta
penyempurnaan supaya bisa lebih mudah di mengerti. Untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi sempurnanya Karya
Tulis Ilmiah ini, semoga Karya Tulis Ilmiah ini bermanfaat bagi semua pihak.
Amin.
Bandar Lampung,
Maret 2018
Julius Saputra
DAFTAR ISI
COVER ........................................................................................................... i
COVER DALAM............................................................................................ ii
LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................ iii
KATA PENGANTAR..................................................................................... iv
DAFTAR ISI................................................................................................... v
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang..................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah................................................................................. 2
C. Tujuan
penelitian ................................................................................. 2
D. Manfaat................................................................................................ 2
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
A.
ORANG TUA...................................................................................... 4
B. Upaya
Orang Tua Dalam Melakukakan Pencegahan Karies................ 5
C.
Pengertian
Anak Tunarungu................................................................. 6
D. Kerangka teori..................................................................................... 11
E. Kerangka
Konsep................................................................................. 11
BAB
III METODOLOGI PENELITIAN
A.
Jenis Penelitian..................................................................................... 12
B. Populasi
dan Sampel............................................................................. 12
C. Tempat
dan Waktu Penelitian.............................................................. 13
D. Variabel
Penelitian................................................................................ 13
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gigi adalah bagian keras yang
terdapat didalam mulut dari banyak vertebrata. Gigi memeliki strukter yang
bervariasi yang melakukakn banyak tugas. Gigi memiliki struktur pelindung yang
di sebut email gigi, yang membantu mencegah lubang di gigi. (www.jurnalkedokterangigi.com)
Lubang gigi atau karies adalah
penyakit jaringan gigi yang di tandai dengan kerusakan jaringan di mulai dari
daerah permukaan gigi, ( email fisura,dan daerah interproksimal.( drg. Rasinta
taringgan)
Karies gigi sejauh ini masih menjadi masalah
kesehatan anak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
pada tahun 2003 menyatakan angka kejadian karies pada anak. Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) pada tahun 2003 menyatakan
angka kejadian karies pada anak masih sebesar 60-90%. Survey yang dilakukan
oleh Departemen Kesehatan Republik
Indonesia pada pelita III dan IV
menunjukkan prevalensi penduduk
Indonesia yang menderita karies
gigi sebesar
80%. Termasuk anak anak tuna rungu.
Tuna rungu adalah seseorang yang mengalami difungsi pendengaran dan mempengaruhi
kehidupan sehari hari ( somantri 2007) (psikologi universitas sanata dharma
Yogyakarta 2017)
prevalensi anak tuna rungu di Indonesia berdasarkan data statistic dapertemen
pendidikan nasional Indonesia menunjukan bahwa jumlah anak anak tuna rungu di
Indonesia cukup tinggi mencapai
0,17% dimana dari 17 dari 10.000 anak
pra sekolah sampai umur 12 tahun mengalami tuna rungu.( riskesdas 2013)
Anak yang mempunyai kekurangan yaitu tuna rungu
biasa nya menjadi kendala di dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Berdasarkan penelitian yang di lakukan Gita.J.Tulangow pada anak Tuna Rungu di SLB YPAC MANADO pada tahun 2015. Menenujukan hasil
pemeriksaan status karies gigi menunjukan bahwa DMF-T pada anak berkebutuhan
khusus tuna rungu memiliki skor 3.5 kategori sedang dan status karies gigi anak kelas tuna
rungu ringan dengan persentasi 100%
pada anak tuna rungu sebanyak 10
orang.
Orang
tua adalah ujung tobak perkembangan anak. Dengan perluasan wawasan tersebut
orang tua di harapkan dapat memedulikan kesehatan anak secara umum mau pun
kesehatan gigi nya. Peran orang tua sangat di perlukan dalam membimbing,
memberikan pengertian, mengingatkan dan menyediakan fasilitas bagi anakagar
dapat memlihara kesehatan gigi dan mulut nya ( merawat gigi anak sejak usia
dini)
Berdasarkan
latar belakang tersebut peneliti terarik melakukan penelitaian mengenai “ Upaya Orang Tua Dalam Melakukakan Pencegahan Karies Gigi Pada Anak Tuna Rungu Di SLB
Sukarame Bandar Lampung Tahun 2018”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang telah di buat di
atas maka dapat di buat suatu
rumusan masalah sebagai berikut : ” untuk mengetahui upaya apa saja yang telah
di lakukakan oleh orang tua untuk melakukakn pencegahan karies pada anak
nya yang berkebutuhan khusus atau tuna
rungu di SLB Sukarame Bandar lampung
tahun 2018?”
C. Tujuan penelitian
Untuk mengetahui upaya- upaya apa saja
yang sudah di lakukakn oleh orang tua untuk melakukan pencegahan karies pada
anak tuna rungu di SLB Sukarame Bandar Lampung
D. Manfaat
1.
Manfaat bagi orang tua
anak slb sukarame Bandar lampung
a.
Memberikan informasi
kepada aorang tua siswa-siswi anak slb tuna
rungu mengenai cara merawat kesehatan gigi dan mulut yang baik dan benar.
b.
Memberikan informasi
kepada orang tua siswa siswi agar memriksakan
kesehatan gigi dan mulut anak
anak nya secara rutin ke pusat pelayanan kesehatan gigi minimal 2 ;kali dalam setahun
2.
Bagi institute untuk
menambah perbendahraan karya tulis ilmiah yang ada, dapat di jadikan refrensi
jika suatu saat di lakukakn penelitan dengan factor-faktor yang lain seperti DMF-T OHIS dan lain lain, serta
menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pembacanya, dan dapat bermanfaat
bagi mahasisaw jurusan keperawatan gigi.
3. manfaat
bagi penulis
Untuk
menyelesaikan karya tulis ilmiah pada smester akhir, menambah pengetahuan
mengenai pencegahan karies yang di alkukakn oleh orang tua anak tuna rungu slb
sukarame Bandar lampung. Dengan adanya penelitian ini dapat di gunakan untuk
mempraktikan ilmu yang di proleh selam kuliah mengikuti dengan keadaan sesunguh
nya di lapangan.
E. Ruang lingkup
Sasaran
dari pnelitian ini adalah orang tua siswa siswi anak tuna rungu di SLB sukarame.
penelitian ini di lakukakn untuk mengetahui upaya apa yang telah di lakukakn
oleh orang tua dalam melakukan pencegahan karies gigi pada anak tuna rungu .
penelitian ini berlokasi di Slb Sukarame Bandar Lampung
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
ORANG
TUA
Orang tua adalah ayah dan/atau ibu seorang anak,
baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Umumnya, orang tua memiliki
peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu/ayah
dapat diberikan untuk perempuan/pria yang bukan orang tua kandung (biologis)
dari seseorang yang mengisi peranan ini
Anak (jamak: anak-anak)
adalah seorang lelaki atau perempuan yang
belum dewasaatau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan keturunan kedua,
di mana kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, orang dewasa adalah
anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah dewasa
1.
Cara
Orang Tua Mendidik Anak
Mendidik
anak harus dengan bahasa anak Bila ingin mendidik anak agar disiplin, tidak harus dengan
bentakan seperti militer, tapi menididk disiplin dengam menumbuhkan kebebasan,
dengan dialog, irama atau tempo yang sseuai dengan asing masing anak.
Jadikan
lah pendidikan kesehatan gigi sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi
anak, karena dengan mendidik anak tentang kesehatan gigi. Orang tua tidak perlu
berteriak teriak mengingatkan anak untuk mnneyikat gigi dan orang tua tidak
tergaganggu tidur nya karena anak sakit gigi.
Penyakit
gigi berlubang dapat di cegah dengan cara menyikat gigi dengan benar setiap
selelsai makan/minuum susu dan setiap mau tidur malam.
2. Upaya orang tua dalam
menjaga kesehatan gigi dan mulut
a. Memilih
makan yang menguatkan dan menyehatkan yaitu 4 sehat 5 sempurna/ gizi seimbang
bagi anak
b. Kebiasaan pola mkanan terutama di pengaruhi oleh
kelurga serta teman sebaya. Makna yang mengandung air merupakan factor penting
pada aliran liur pada waktu pengunyahan. Berbabgai jenis makana yang mampu
merangsang keluar nya air liur secra tidak langsung dapat mencegah terjadinya
pennyakit di rongga mulut.
c. Mengurangi
makan-makanan yang manis dan melekat pada gigi karena dapat mempercepat
kerudakan gigi.
d.
Mengurani frekuensi
intake makanan yang mengandung karbohidrat yang terfermentai seperti snack(
makanan ringan), juice, dan minuman, ringan yang mengandung soda karena dapat
memperprah terjadinya karies. Sebagai ganti nya dianjuurkan mengkonsmsi permen
karet yang mengandung xylitol, juga snak yang mengandung xylitol.
e. anjurkan
pada orang tua nya untuk segera membawa anak nya beerobat ke dokter gigi bila
di temukan kelainan/penyakit gigi
f. Pemeriksaan
kesehatan gigi dan mulut bagi anak tuna
rungu secara berkala setiap bulan yang di lakukakan oleh orang tua.
g. Pemeriksaan
kesehatan gigi dan mulut secara berkala setiap 6 bulan sekali ke dokter gigi/
pusat pelayanan kesehatan gigi.
B.
Upaya
Orang Tua Dalam Melakukakan Pencegahan Karies
1. Menyikat
gigi dengan cara yang tepat dan teratur :
2. Pagi
hari sesudah mkan
3. Malam
hari sebelum tidur
4. Menggukan
pasta gigi yang mengandungg flour.
5.
Waktu menyikat gigi
karies gigi adalah penyakit
jaringan gigi yang di tandai dengan kersakan jaringan, di mulai dari permukaan
gigi ( pits, fissure dan daerah interproximal) meluas kearah pulpa (braeur)
karies gigi dapat di
alami oleh setiap orang dan dapat timbul pada stu permukaan gigi atau lebih dan
dapat meluas kebagian yang
lebiih dalam darri gigi miisal nya ;dari email ke dentin atau ke pulpa. Karies
karena berbagia sebab diantaranya adalah
a. Karbohidra
b. Mikroorganisme
dan air ludah
c. Permukaan
dan bentuk gigi
Karbohidrat yang tertinggal didalam mulut
dan mikroorganisme, merupakan penyebab karies gigi, penyebab ksries gigi yang
tidak langsung adalah permukaan dan bentuk dari gigi tersebut.
Gigi dengan fissure yang dalam
mengakibatkan sisa sisa makanan mudah
melekat dan bertahan, sehingga produksi asam oleh bakteri akan berlansung
dengan cepat dan menimbulkan karies gigi.
Karies gigi terdapat diseluruh dunia
tanpa memandang umur, bangsa aaupun keadaan ekonomi. Menurut penelitian di
Negara Negara eropa, amerika dan asia termasuk Indonesia, ternyata bahwa 80-95%
dari anak anak di bawah umur 18 tahun terserang karies gigi
C.
Pengertian Anak
Tunarungu
Anak
tunarungu merupakan anak yang
mempunyai gangguan pada pendengarannya
sehingga tidak dapat mendengar bunyi dengan sempurna atau bahkan tidak dapat mendengar
sama
sekali, tetapi dipercayai bahwa tidak ada satupun manusia yang
tidak bisa mendengar sama sekali. Walaupun
sangat sedikit, masih
ada
sisa-sisa pendengaran yang masih
bisa dioptimalkan pada anak tunarungu tersebut. Berkenaan dengan tunarungu, terutama tentang pengertian tunarungu terdapat beberapa pengertian sesuai dengan pandangan dan
kepentingan
masing-masing.Menurut Andreas Dwidjosumarto (dalam Sutjihati Somantri, 1996:74)
Mengemukakan bahwa: seseorang yang tidak atau kurang mampu
mendengar suara dikatakan tunarungu. Ketunarunguan dibedakan menjadi
dua kategori, yaitu tuli (deaf) atau kurang dengar (hard of hearing). Tuli
adalah anak
yang indera pendengarannya
mengalami
kerusakan
dalam
taraf berat sehingga
pendengarannya tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar adalah anak yang
indera pendengarannya mengalami kerusakan,
tetapi masih dapat berfungsi untuk
mendengar,
baik
dengan
maupun tanpa menggunakan alat bantu
dengar (hearing aids).
Beberapa
pengertian dan definisi tunarungu di atas merupakan
definisi yang
termasuk kompleks, sehingga dapat disimpulkan bahwa anak
tunarungu adalah
anak yang
memiliki gangguan dalam pendengarannya, baik secara
keseluruhan ataupun masih memiliki sisa
pendengaran.
Meskipun anak tunarungu sudah diberikan alat bantu dengar, tetap saja
anak
tunarungu masih memerlukan pelayanan pendidikan khusus
3.
Karakteristik Anak Tunarungu
Karakteristik
anak
tunarungu
dari
segi
fisik tidak memiliki karakteristik
yang khas, karena secara fisik anak tunarungu tidak
mengalami gangguan yang
terlihat. Sebagai dampak ketunarunguannya, anak tunarungu memiliki karakteristik yang
khas dari segi yang berbeda. Permanarian Somad dan Tati Hernawati (1995)
a.
Karakteristik
dari
segi
intelegensi
Intelegensi anak tunarungu tidak berbeda
dengan anak normal yaitu
tinggi, rata-rata dan rendah. Pada
umumnya
anak tunarungu memiliki
entelegensi normal
dan rata-rata.
Prestasi anak
tunarungu seringkali lebih rendah daripada prestasi anak normal karena
dipengaruhi oleh kemampuan anak tunarungu dalam mengerti pelajaran yang
diverbalkan. Namun untuk pelajaran yang
tidak diverbalkan, anak tunarungu memiliki perkembangan
yang sama cepatnya dengan anak normal. Prestasi anak tunarungu yang
rendah bukan disebabkan karena intelegensinya rendah namun
karena anak tunarungu tidak dapat memaksimalkan intelegensi yang dimiliki. Aspek intelegensi yang
bersumber pada verbal seringkali rendah, namun aspek intelegensi yang bersumber pada
penglihatan dan motorik
akan berkembang Karakteristik
dari
segi
bahasa dan
bicara
Kemampuan anak tunarungu
dalam berbahasa
dan berbicara berbeda dengan anak normal pada umumnya karena
kemampuan tersebut
sangat erat kaitannya dengan
kemampuan mendengar. Karena anak
tunarungu tidak bisa mendengar bahasa, maka
anak tunarungu mengalami
hambatan dalam berkomunikasi. Bahasa
merupakan alat dan sarana utama
seseorang
dalam berkomunikasi.
Alat komunikasi terdiri dan membaca, menulis dan
berbicara, sehingga anak tunarungu akan
tertinggal dalam tiga
aspek
penting
ini. Anak tunarungu
memerlukan penanganan khusus dan lingkungan berbahasa intensif yang
dapat meningkatkan kemampuan berbahasanya. Kemampuan berbicara anak
tunarungu
juga
dipengaruhi oleh kemampuan berbahasa yang dimiliki
oleh anak tunarungu. Kemampuan berbicara pada anak
tunarungu akan berkembang
dengan
sendirinya namun memerlukan upaya
terus menerus serta latihan dan bimbingan secara profesional. Dengan cara yang demikianpun banyak dari mereka yang belum bisa berbicara seperti anak normal baik suara, irama
dan tekanan suara terdengar monoton berbeda dengan anak normal.
b.
Karakteristik
dari
segi
emosi dan social
Ketunarunguan dapat menyebabkan keterasingan
dengan lingkungan. Keterasingan tersebut akan menimbulkan beberapa efek
negatif seperti: egosentrisme yang
melebihi anak normal, mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas, ketergantungan terhadap
orang lain, perhatian mereka lebih sukar dialihkan, umumnya memilik sifat yang polos dan tanpa banyak masalah, dan lebih mudah marah dan cepat
tersinggung.
1)
Egosentrisme yang melebihi anak normal
Sifat ini disebabkan oleh anak tunarungu memiliki dunia yang kecil akibat interaksi
dengan lingkungan sekitar yang sempit.
Karena
mengalami gangguan dalam pendengaran, anak tunarungu hanya
melihat dunia
sekitar dengan penglihatan. Penglihatan hanya melihat apa yang
di depannya saja, sedangkan pendengaran dapat mendengar sekeliling lingkungan. Karena anak tunarungu mempelajari sekitarnya
dengan menggunakan penglihatannya,
maka
aka timbul sifat ingin
tahu yang
besar, seolah-olah mereka haus untuk melihat, dan hal itu semakin
membesarkan egosentrismenya.
2)
Mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang
lebih luas
Perasaan takut yang menghinggapi anak tunarungu seringkali
disebabkan oleh kurangnya penguasaan terhadap lingkungan yang
berhubungan dengan kemampuan
berbahasanya yang rendah. Keadaan menjadi tidak jelas karena anak tunarungu tidak mampu menyatukan dan menguasai
situasi yang baik.
3)
Ketergantungan terhadap orang lain
Sikap ketergantungan terhadap orang
lain atau terhadap apa yang sudah dikenalnya dengan baik, merupakan gambaran bahwa
mereka sudah putus asa dan selalu mencari
bantuan serta bersandar pada orang lain
4)
Perhatian mereka lebih sukar dialihkan
Sempitnya kemampuan berbahasa pada anak tunarungu
menyebabkan sempitnya alam fikirannya. Alam fikirannya selamanya
terpaku pada hal-hal yang
konkret. Jika sudah berkonsentrasi kepada suatu hal, maka anak tunarungu akan sulit dialihkan perhatiannya ke
hal-hal lain yang
belum dimengerti atau
belum
dialaminya.
Anak tunarungu lebih
miskin akan fantasi.
5)
Umumnya memiliki sifat yang polos, sederhana dan tanpa banyak masalah
Anak tunarungu tidak bisa
mengekspresikan perasaannya
dengan baik. Anak tunarungu akan jujur
dan
apa adanya
dalam mengungkapkan perasaannya.
Perasaan anak
tunarungu biasanya dalam keadaan ekstrim
tanpa banyak nuansa.
6)
Lebih mudah marah dan cepat
tersinggung
Karena banyak merasakan kekecewaan akibat tidak bisa
dengan mudah
mengekspresikan perasaannya, anak
tunarungu akan
mengungkapkannya dengan kemarahan. Semakin luas bahasa yang
mereka miliki semakin mudah mereka mengerti perkataan orang
lain, namun semakin sempit bahasa yang
mereka miliki akan semakin sulit untuk
mengerti perkataan orang lain
sehingga anak tunarungu
mengungkapkannya dengan kejengkelan dan kemarahan.
Berdasarkan
karakteristik
anak
tunarungu dari beberapa aspek yang sudah dibahas diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sebagai dampak dari ketunarunguannya tersebut hal yang menjadi perhatian adalah kemampuan berkomunikasi anak tunarungu yang
rendah. Intelegensi anak tunarungu
umumnya
berada pada tingkatan rata-rata atau bahkan tinggi, namun
prestasi anak tunarungu terkadang
lebih rendah karena pengaruh
kemampuan berbahasanya yang rendah. Maka dalam pembelajaran di
sekolah anak
tunarungu harus
mendapatkan penanganan
dengan menggunakan
metode yang sesuai dengan
karakteristik
yang
dimiliki. Anak tunarungu akan berkonsentrasi dan cepat memahami kejadian yang
sudah dialaminya dan bersifat konkret bukan hanya hal yang diverbalkan. Anak tunarungu membutuhkan metode yang tepat untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya yaitu metode yang dapat menampilkan kekonkretan sesuai dengan apa yang
sudah dialaminya. Metode pembelajaran untuk anak tunarungu haruslah yang
kaya akan bahasa konkret dan tidak
membiarkan anak untuk
berfantasi mengenai hal yang
belum diketahui.
D.
Kerangka teori
Kerangka teori
E. Kerangka Konsep
Kerangka
konsep meruppakan formulasi dari kerangka teori atau teori teori yang mendukung
penelilitian tersebut. Kerangka konsep adalah suatu hubungan atau kaitan
variable variable yang akan di amati, (notoatmojo,2012)
|
BAB
III
METODOLOGI
PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif . Suatu metode
penelitian yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau
deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif (Notoatmojo,2010). Dalam
penelitian ini peneliti ingin melihat gambaran
Pengetahuan
oranng tua dalam melakukakan pencegahan karies pada anak tuna rungu di slb
sukarame tahun 2018
Metode
yang digunakan adalah survey dengan pendekatan cross sectional yang berarti
objek penelitian diamati pada waktu yang sama dan dilakukan satu kali
pengukuran terhadap status variabel objek pada saat pemeriksaan (
notoatmodjo,2010)
B.
Populasi
dan Sampel
1.
Populasi
Populasi
adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang akan diteliti (
Notoatmodjo, 2010). Populasi pada penelitian ini adalah orang tua dari anak SD
tuna rungu di SLB sukarame sebanyak 72
orang
2.
Sample
Sampel
adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo,2010). Adapun teknik pengambilan sampel
adalah simple random sampling yakni
pengambilan secara acak (Notoatdmodjo 2012)
Sampel
dalam penelitian ini menunjukkan rumus sebagai berikut :
1 +N(d)²
Keterangan
:
n =
Jumlah sampel
N =
Jumlah populasi
d =
Derajat penyimpangan terhadap populasi yang diinginkan : 10% (0,1)
perhitungan
:
1 +N(d²)
1 + 72(0,01²)
1.72
n =
41,86
n =
42
Didapatkan sampel sebanyak 42
orang tua dari seluruh jumlah siswa/i anak Tuna Rungu Di Sd Slb Sukarame
Bandar Lampung. Selanjutnya menentukan
C.
Tempat
dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian
Penelitian
dilakukan Di SLB Sukarame jl. Hendro suratmin kec. sukarame Bandar Lampung
2. Waktu
Penelitian
Waktu
penelitian dilakukan pada bulan Mei 2018
D.
Variabel
Penelitian
Variabel
adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki
atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang suatu konsep pengertian tertentu
(Notoatmojo,2012 :103)
Variabel
dalam penelitian ini yaitu :
1.
Pengetahuan orang tua
2. Karies
gigi

Komentar
Posting Komentar