MAKALAH JENIS PENYAKIT KANDUNGAN (RADANG PADA GENETALIA EKSTERNA)
MAKALAH
JENIS PENYAKIT KANDUNGAN
(RADANG PADA GENETALIA EKSTERNA)
Disusun Oleh:
Kelompok 3
1.
Findawati (1715301011)
2.
Viancha Samiera Berliana (1715301012)
3.
Astri Yora Nita (1715301013)
4.
Riska Septiani (1715301014)
5.
Cindy Sari Agustin (1715301015)
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI D IV
KEBIDANAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena rahmat
dan ridho-Nya Makalah ‘’ Jenis Penyakit Kandungan (Radang Pada Genetalia
Eksterna)” ini dapat penulis selesaikan.
Makalah ini dibuat untuk mencapai tingkat ke
dalam memadai sebagai sumber belajar walaupun dalam wujudnya yang belum
sempurna, makalah ini diharapkan dapat menjadi sumber belajar bagi yang
memerlukan.
Kesempurnaan hanyalah milik Allah, oleh karena
itu kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan
oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan.
Akhirnya, semoga makalah ini berguna dan bermanfaat bagi kita semua
dan Allah Swt. berkenan menerima amal bakti yang diabadikan pada kita semua.
Amin.
Bandar Lampung, 01 Maret 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER..................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................................ iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................... 1
1.3 Tujuan Pembahasan................................................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bartonilitis.................................................................................................... 3
2.2 Vaginitis........................................................................................................ 7
2.3 Vulvovaginitis.............................................................................................. 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................................... 17
3.2 Saran................................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Radang pada genetalia eksterna meliputi bartolinitis,
vaginitis dan vulva vaginitis. Bartolinitis merupakan Infeksi pada kelenjar
bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat
kelamin luar wanita. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya
disebabkan oleh : Virus (kondiloma akuminata dan herpes simpleks), Jamur
(kandida albikan), Protozoa ( amobiasis dan trikomoniasis) dan Bakteri
(neiseria gonore).
Vaginitis merupakan suatu peradangan pada lapisan vagina.
Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita).
Vulvovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina. Penyebabnya adalah Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus), Jamur
(misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai
Vulvovaginitis adalah iritasi/inflamasi pada kulit daerah vulva dan vagina.
Iritasi ini dapat menyebabkan terjadinya: gatal-gatal
(45-58%) di sekitar daerah labia mayora (bibir vagina besar), labia minor
(bibir vagina kecil), dan daerah perineal (daerah perbatsan antara vagina dan
anus).
1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah
ini Secara terperinci, merumuskannya
sebagai berikut:
1.
Apa pengertian, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala, pengobatan
serta pencegahan dari bartolinitis?
2.
Apa pengertian, etiologi, tanda dan gejala, klasifikasi, pengobatan
serta penatalaksanaan dari vaginitis?
3.
Apa pengertian, etiologi, tanda dan gejala, pengobatan dari
vulvovaginitis?
1.3 Tujuan
Pembahasan
1.
Mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, tanda dan gejala,
pengobatan serta pencegahan dari bartolinitis.
2.
Mengetahui pengertian, etiologi, tanda dan gejala, klasifikasi, serta
pengobatan dari vaginitis.
3.
Mengetahui pengertian, etiologi, tanda dan gejala, pengobatan dari
vulvovaginitis.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Bartonilitis
2.1.1 Pengertian
Bartolinitis adalah
Infeksi pada kelenjar bartolin atau bartolinitis juga dapat menimbulkan
pembengkakan pada alat kelamin luar wanita. Biasanya, pembengkakan disertai
dengan rasa nyeri hebat bahkan sampai tak bisa berjalan. Juga dapat disertai
demam, seiring pembengkakan pada kelamin yang memerah.
2.1.2 Etiologi
Bartolinitis
disebabkan oleh infeksi kuman pada kelenjar bartolin yang terletak di bagian
dalam vagina agak keluar. Mulai dari chlamydia, gonorrhea, dan sebagainya.
Infeksi ini kemudian menyumbat mulut kelenjar tempat diproduksinya cairan
pelumas vagina.
2.1.3 Etiologi Infeksi
1.
Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh:
Virus
: kondiloma akuminata dan herpes simpleks.
Jamur
: kandida albikan.
Protozoa
: amobiasis dan trikomoniasis.
Bakteri
: neiseria gonore.
2.
Infeksi alat kelamin wanita bagian atas :
Virus
: klamidia trakomatis dan parotitis epidemika.
Jamur
: asinomises.
Bakteri
: neiseria gonore, stafilokokus dan E.coli.
2.1.4 Patofisiologi
Lama kelamaan cairan
memenuhi kantong kelenjar sehingga disebut sebagai kista (kantong berisi
cairan). “Kuman dalam vagina bisa menginfeksi salah satu kelenjar bartolin
hingga tersumbat dan membengkak. Jika tak ada infeksi, tak akan menimbulkan
keluhan.
2.1.5 Tanda
dan Gejala
1)
Pada vulva : perubahan warna kulit,membengkak, timbunan nanah dalam kelenjar,
nyeri tekan.
2)
Kelenjar bartolin membengkak,terasa nyeri sekali bila penderia berjalan
atau duduk,juga dapat disertai demam.
3)
Kebanyakkan wanita dengan penderita ini datang ke PUSKESMAS dengan keluhan keputihan dan gatal,
rasa sakit saat berhubungan dengan suami, rasa sakit saat buang air kecil, atau
ada benjolan di sekitar alat kelamin.
4)
Terdapat abses pada daerah kelamin
5)
Pada pemeriksaan fisik ditemukan cairan mukoid berbau dan bercampur
dengan darah.
2.1.6 Pengobatan
Pengobatan yang cukup
efektif saat ini adalah dengan: antibiotika golongan cefadroxyl 500 mg, diminum
3×1 sesudah makan, selama sedikitnya 5-7 hari, dan asam mefenamat 500 mg
(misalnya: ponstelax, molasic, dll), diminum 3×1 untuk meredakan rasa nyeri dan
pembengkakan, hingga kelenjar tersebut mengempis.
2.1.7 Pemeriksaan Penunjang
1)
Laboratorium
2)
Vullva
3)
In speculo
2.1.8
Penatalaksanaan
A. Tatalaksana Infeksi Alat Kelamin Wanita
Berikut ini adalah
beberapa infeksi alat kelamin wanita yang sering dijumpai di Puskesmas dan
tatalaksana yang disesuaikan dengan sarana diagnosis dan obat-obatan yang
tersedia.
1.
Gonore (GO)
a.
Anamnese :
1)
99 kasus GO pada wanita menyerang servik uteri dan 50-75 % kasus pada
wanita tidak ada gejala atau keluhan.
2)
Kalau ada keluhan biasanya disuria dan lekore, yang sering diabaikan
oleh penderita.
3)
Sering anamnese hanya didapatkan riwayat kontak dengan penderita.
b.
Pemeriksaan :
Pemeriksaan dengan
spekulum : ostium uteri eksternum bisa tampak normal, kemerahan atau erosif.
Tampak vaginal discharge dengan sifat mukoid keruh, mukopurulen atau purulen.
Mungkin didapatkan komplikasi seperti : bartolinitis, salpingitis, abses tubo
ovarii bahkan pelvik peritonitis. Ketiga komplikasi tersebut terahir disebut
Pelvis Inflamatory Disease (PID).
c.
Laboratorium :
Asupan servik atau
vaginal discharge : Diplokokus gram negatif intraseluler lekosit.
2.
Uretritis Non Gonore
a.
Anamnese :
Biasanya tidak ada
keluhan. Kalau ada, keluhan biasanya adalah disuria dengan atau tanpa
discharge. Sering juga dikeluhkan keluar darah pada akhir dari buang air kecil
(terminal dysuria). Sering bersifat kumat-kumatan (yang membedakan dengan GO)
Riwayat kontak sering (+).
b.
Pemeriksaan :
Mungkin ada discharge
uretra. Bila disertai sistitis, mungkin ada nyeri tekan suprapubis.
Laboratorium :
Uretral discharge :
diplokokus (-), lekosit >10/lapangan pandang.
Urin : berawan atau
didapat benang-benang pendek (threads).
3.
Trikomoniasis
a.
Anamnese :
Keluhan utama
biasanya adalah adanya keputihan dengan jumlah banyak, berwarna kuning atau
putih kehijauan. Sakit pada saat berhubungan sex (dyspareunia) juga sering
dikeluhkan. Riwayat suami kencing nanah perlu ditanyakan, karena > 50%
penderita GO wanita disertai dengan trikomoniasis.
b.
Pemeriksaan :
Pemeriksaan in
speculo : terasa sakit, fluor albus cair dengan jumlah banyak dan berwarna
kuning atau putih kehijauan, khas : didapat bintik-bintik merah (punctatae red
spots atau strawbery cervix) di dinding vagina.
Laboratorium :
Fluor albus : dengan
mikroskup cahaya Trichomonas vaginalis (+).
4.
Kandidiasis
a.
Anamnese :
Keluhan utama
biasanya adalah keputihan dan gatal di vagina. Mungkin juga dikeluhkan adanya rasa sakit
waktu melakukan aktivitas sexual. Faktor predisposisi : diabetes militus,
pemakaian Pil KB, dan pemakaian antibiotika yang tidak terkontrol serta
kegemukan.
b.
Pemeriksaan :
·
Vulva : tampak merah, udem, adanya plak putih, mungkin didapat juga
fisura atau erosi (Vulvovaginitis).
·
In speculo : Terasa sakit, Discharge kental, sedikit, putih seperti keju
dan biasanya menutup portio.
c.
Laboratorium :
Sel ragi (yeast
cells) atau tunas (budding body) dan pseudohypha atau spora.
2.2
Vaginitis
2.2.1 Pengertian
Vaginitis adalah suatu peradangan pada lapisan vagina.
vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar wanita). vulvovaginitis
adalah peradangan pada vulva dan vagina.
2.2.2 Etiologi
Penyebabnya bisa berupa:
1.
Infeksi
-
Bakteri (misalnya
klamidia, gonokokus)
-
Jamur (misalnya kandida),
terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai antibiotic
-
Protozoa (misalnya
trichomonas vaginalis)
-
Virus (misalnya virus
papiloma manusia dan virus herpes)
2.
Zat atau benda yang
bersifat iritatif
-
Spermisida, pelumas,
kondom, diafragma, penutup serviks dan spons
-
Sabun cuci dan pelembut
pakaian
-
Deodoran
-
Zat di dalam air mandi
-
Pembilas vagina
-
Pakaian dalam yang
terlalu ketat, tidak berpori-pori dan tidak menyerap keringat
-
Tinja
3.
Tumor ataupun jaringan
abnormal lainnya
4.
Terapi penyinaran
obat-obatan
5.
Perubahan hormonal
2.2.3 Gejala
Gejala yang paling sering ditemukan adalah keluarnya
cairan abnormal dari vagina. Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak,
baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri. Cairan yang abnormal
sering tampak lebih kental dibandingkan cairan yang normal dan warnanya
bermacam-macam. misalnya bisa seperti keju, atau kuning kehijauan atau
kemerahan.
Infeksi vagina karena bakteri cenderung mengeluarkan
cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh kekuningan dan berbau amis. Setelah
melakukan hubungan seksual atau mencuci vagina dengan sabun, bau cairannya
semakin menyengat karena terjadi penurunan keasaman vagina sehingga bakteri
semakin banyak yang tumbuh. Vulva terasa agak gatal dan mengalami iritasi.
Infeksi jamur menyebabkan gatal-gatal sedang sampai
hebat dan rasa terbakar pada vulva dan vagina. Kulit tampak merah dan terasa
kasar. Dari vagina keluar cairan kental seperti keju. Infeksi ini cenderung
berulang pada wanita penderita diabetes dan wanita yang mengkonsumsi
antibiotik.
Infeksi karena trichomonas vaginalis menghasilkan
cairan berbusa yang berwarna putih, hijau keabuan atau kekuningan dengan bau
yang tidak sedap. Gatal-gatalnya sangat hebat.
Cairan yang encer dan terutama jika mengandung darah,
bisa disebakan oleh kanker vagina, serviks (leher rahim) atau endometrium.
Polip pada serviks bisa menyebabkan perdarahan vagina setelah melakukan
hubungan seksual. Rasa gatal atau rasa tidak enak pada vulva bisa disebabkan
oleh infeksi virus papiloma manusia maupun karsinoma in situ (kanker stadium
awal yang belum menyebar ke daerah lain).
Luka terbuka yang menimbulkan nyeri di vulva bisa
disebabkan oleh infeksi herpes atau abses. Luka terbuka tanpa rasa nyeri bisa
disebabkan ole kanker atau sifilis. Kutu kemaluan (pedikulosis pubis) bisa
menyebabkan gatal-gatal di daerah vulva.
2.2.4
Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil
pemeriksaan fisik dan karakteristik cairan yang keluar dari vagina. Contoh
cairan juga diperiksa dengan mikroskop dan dibiakkan untuk mengetahui organisme
penyebabnya. Untuk mengetahui adanya keganasan, dilakukan pemeriksaan pap
smear.
Pada vulvitis menahun yang tidak memberikan respon
terhadap pengobatan biasanya dilakukan pemeriksaan biopsi jaringan.
2.2.5 Pengobatan
Jika cairan yang keluar dari vagina normal, kadang
pembilasan dengan air bisa membantu mengurangi jumlah cairan. Cairan vagina
akibat vaginitis perlu diobati secara khusus sesuai dengan penyebabnya. Jika
penyebabnya adalah infeksi, diberikan antibiotik, anti-jamur atau anti-virus,
tergantung kepada organisme penyebabnya. Untuk mengendalikan gejalanya bisa dilakukan
pembilasan vagina dengan campuran cuka dan air. Tetapi pembilasan ini tidak
boleh dilakukan terlalu lama dan terlalu sering karena bisa meningkatkan resiko
terjadinya peradangan panggul.
Jika akibat infeksi labia (lipatan kulit di sekitar
vagina dan uretra) menjadi menempel satu sama lain, bisa dioleskan krim
estrogen selama 7-10 hari.
Selain antibiotik, untuk infeksi bakteri juga
diberikan jeli asam propionat agar cairan vagina lebih asam sehingga mengurangi
pertumbuhan bakteri. Pada infeksi meular seksual, untuk mencegah berulangnya
infeksi, kedua pasangan seksual diobati pada saat yang sama.
Penipisan lapisan vagina pasca menopause diatasi
dengan terapi sulih estrogen. Estrogen bisa diberikan dalam bentuk tablet,
plester kulit maupun krim yang dioleskan langsung ke vulva dan vagina.
Selain obat-obatan, penderita juga sebaiknya memakai
pakaian dalam yang tidak terlalu ketat dan menyerap keringat sehingga sirkulasi
udara tetap terjaga (misalnya terbuat dari katun) serta menjaga kebersihan
vulva (sebaiknya gunakan sabun gliserin). Untuk mengurangi nyeri dan
gatal-gatal bisa dibantu dengan kompres dingin pada vulva atau berendam dalam
air dingin.
Untuk mengurangi gatal-gatal yang bukan disebabkan
oleh infeksi bisa dioleskan krim atau salep corticosteroid dan antihistamin
per-oral (tablet). Krim atau tablet acyclovir diberikan untuk mengurangi gejala
dan memperpendek lamanya infeksi herpes. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan
obat pereda nyeri.
2.3
Vulvovaginitis
2.3.1
Pengertian
Vulvovaginitis adalah peradangan atau infeksi pada
vulva dan vagina.
Vulvovaginal kandidiasis adalah nama yang sering
diberikan untuk Candida albicans vagina infeksi berhubungan dengan dermatitis
dari vulva (gatal ruam). 'Vaginal thrush', dan 'monilia' juga nama-nama untuk
Candida albicans infeksi.
Candida albicans adalah jamur ragi biasanya
bertanggung jawab atas vulva gatal dan pengosongan. Hal ini umumnya pelaku
bahwa perempuan selalu merujuk pada setiap Vulvovaginal gatal sebagai
"infeksi jamur," tapi perlu diketahui bahwa semua tidak selalu gatal
disebabkan oleh ragi.
2.3.2
Etiologi
Vulvovaginitis dapat mempengaruhi perempuan dari
segala usia dan sangat umum. Hal ini dapat disebabkan oleh bakteri, ragi,
virus, dan parasit lain. Beberapa penyakit menular seksual juga dapat menyebabkan
vulvovaginitis, seperti yang bisa ditemukan berbagai bahan kimia gelembung
mandi, sabun, dan parfum. Faktor-faktor lingkungan seperti kebersihan yang
buruk dan alergen juga dapat menyebabkan kondisi ini.
Candida albicans, yang menyebabkan infeksi jamur,
adalah salah satu penyebab paling umum vulvovaginitis perempuan dari segala
usia. Penggunaan antibiotik dapat menyebabkan infeksi jamur dengan membunuh
antijamur normal bakteri yang hidup di vagina. Infeksi jamur kelamin biasanya
menyebabkan gatal-gatal dan tebal, putih discharg vagina, dan gejala lain.
Untuk informasi lebih lanjut, lihat: ragi infeksi vagina.
Penyebab lain adalah vulvovaginitis bakteri vaginosis,
suatu pertumbuhan berlebih dari jenis bakteri tertentu dalam vagina. Bakteri vaginosis
dapat menyebabkan tipis, warna abu-abu vagina dan bau amis.
Sebuah penyakit menular seksual yang disebut
Trichomonas vaginitis infeksi adalah penyebab umum lain. Infeksi ini mengarah
ke kelamin gatal, bau vagina, dan vagina yang berat, yang mungkin kuning-abu
atau warna hijau.
Gelembung mandi, sabun, vagina kontrasepsi, feminin
semprotan, dan parfum dapat menyebabkan iritasi ruam gatal di daerah genital,
sedangkan nonabsorbent ketat atau pakaian kadang-kadang menyebabkan ruam panas.
Jengkel jaringan lebih rentan terhadap infeksi
daripada jaringan normal, dan banyak organisme penyebab infeksi berkembang
dalam lingkungan yang hangat, lembab, dan gelap. Tidak hanya faktor-faktor ini
dapat berkontribusi pada penyebab vulvovaginitis, mereka sering memperpanjang
periode pemulihan.
Kurangnya estrogen pada wanita postmenopause dapat
menyebabkan kekeringan vagina dan penipisan kulit vagina dan vulva, yang juga
dapat menyebabkan atau memperburuk kelamin gatal dan terbakar.
Nonspesifik vulvovaginitis (di mana penyebab dapat
diidentifikasi) dapat dilihat dalam semua kelompok usia, tetapi paling sering
terjadi pada anak gadis sebelum pubertas. Setelah pubertas dimulai, vagina
menjadi lebih asam, yang cenderung untuk membantu mencegah infeksi.
Vulvovaginitis nonspesifik dapat terjadi pada anak
perempuan dengan genital miskin kebersihan dan ditandai oleh berbau busuk,
coklat-hijau pelepasan dan iritasi labia dan vagina. Kondisi ini sering
dikaitkan dengan pertumbuhan berlebih dari suatu jenis bakteri yang biasanya ditemukan
di dalam tinja. Bakteri ini kadang-kadang menyebar dari anus ke area vagina
dengan mengusap dari belakang ke depan setelah menggunakan kamar mandi.
Pelecehan seksual harus dipertimbangkan pada anak-anak
dengan infeksi yang tidak biasa dan berulang episode dijelaskan vulvovaginitis.
Neisseria gonorrhoeae, organisme yang menyebabkan gonore, menghasilkan
gonokokal vulvovaginitis di gadis-gadis muda. Gonocorrhea vaginitis terkait
dianggap sebagai penyakit menular seksual. Jika tes laboratorium mengkonfirmasi
diagnosis ini, gadis-gadis muda harus dievaluasi untuk pelecehan seksual.
Sekitar 20% dari non-hamil wanita usia 15-55 pelabuhan
Candida albicans dalam vagina. Sebagian besar tidak mempunyai gejala dan itu
berbahaya bagi mereka. Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans
menyebabkan berat dadih putih seperti vagina, rasa panas di vagina dan vulva
dan / atau ruam gatal di vulva dan kulit di sekitarnya.
Estrogen menyebabkan lapisan vagina untuk dewasa dan
mengandung glikogen, sebuah substrat yang Candida albicans berkembang.
Kurangnya estrogen pada wanita yang lebih muda dan lebih tua membuat
kandidiasis Vulvovaginal jarang terjadi.
Pertumbuhan yang berlebihan dari Candida albicans
terjadi paling sering dengan:
§
Kehamilan
§
Dosis tinggi pil KB kombinasi
dan estrogen berbasis terapi penggantian hormone
§
Sebuah rangkaian
antibiotik spektrum luas seperti tetracycline atau amoxiclav
§
Diabetes mellitus
§
Anemia kekurangan zat
besi
§
Defisiensi imunologis
misalnya, infeksi HIV
§
Di atas kondisi kulit
yang lain, sering psorias , Planus lumut atau lumut sclerosus.
§
Penyakit lain
2.3.3
Patofisiologis
Proses infeksi dimulai dengan perlekatan Candida sp.
pada sel epitel vagina. Kemampuan melekat ini lebih baik pada C.albicans
daripada spesies Candida lainnya. Kemudian, Candida sp. mensekresikan enzim
proteolitik yang mengakibatkan kerusakan ikatan-ikatan protein sel pejamu
sehingga memudahkan proses invasi. Selain itu, Candida sp. juga mengeluarkan
mikotoksin diantaranya gliotoksin yang mampu menghambat aktivitas fagositosis
dan menekan sistem imun lokal. Terbentuknya kolonisasi Candida sp. memudahkan
proses invasi tersebut berlangsung sehingga menimbulkan gejala pada pejamu.
2.3.4
Pencegahan
Untuk mencegah infeksi jamur, mengenakan pakaian katun
agar udara dapat bersirkulasi. Walaupun sejumlah obat untuk mengobati infeksi
jamur baru-baru ini akan tersedia over-the-counter, berhati-hati dalam membuat
diagnosis diri terburu-buru.
Penggunaan kondom selama hubungan seksual bisa
mencegah sebagian besar infeksi menular seksual vagina. Tepat pas dan memadai
penyerap pakaian, dikombinasikan dengan baik kebersihan daerah genital juga
mencegah banyak kasus infeksi non-vulvovaginitis.
Anak-anak harus diajarkan bagaimana cara benar
membersihkan daerah genital saat memandikan atau mandi. Tepat menyeka setelah
menggunakan toilet juga akan membantu (anak harus selalu menyeka dari depan ke
belakang untuk menghindari memperkenalkan bakteri dari anus ke vagina).
Tangan harus dicuci bersih sebelum dan setelah
menggunakan kamar mandi.
2.3.5
Penatalaksanaan
Kadang-kadang Candida albicans infeksi tetap ada meski
terapi konvensional yang memadai. Pada beberapa wanita hal ini mungkin
merupakan tanda kekurangan zat besi , diabetes melitus atau masalah imun, dan
tes yang sesuai harus dilakukan.
Perempuan yang mengalami berulang Vulvovaginal Candida
albicans melakukannya karena infeksi persisten, daripada infeksi ulang. Tujuan
dari perawatan dalam situasi ini adalah untuk menghindari pertumbuhan berlebih
dari kandida yang mengarah ke gejala, daripada harus mampu mencapai
pemberantasan menyelesaikan atau menyembuhkan.
Ada beberapa bukti bahwa langkah-langkah berikut dapat
membantu:
-
Kapas atau uap
air-wicking pakaian dalam dan pakaian longgar, menghindari stoking nilon.
-
Perendaman dalam garam
mandi. Hindari sabun
-
Menggunakan pembersih
non-sabun atau krim untuk mencuci berair.
-
Terapkan hidrokortison
krim untuk mengurangi gatal dan mengobati sekunder dermatitis mempengaruhi
vulva.
-
Perlakukan dengan krim
anti jamur sebelum setiap periode menstruasi dan sebelum terapi antibiotik
untuk mencegah kambuh. Sebuah perjalanan panjang sebuah antijamur
topikal agen kadang-kadang diperlukan (tapi hal ini mungkin sendiri
menyebabkan dermatitis atau hasil dalam non-proliferasi candida albicans).
-
Antijamur oral obat-obatan
(itrakonazol atau flukonazol) dapat diambil secara teratur dan
sebentar-sebentar (misalnya sekali sebulan). Dosis dan frekuensi yang cukup
bervariasi, tergantung pada keparahan gejala. Oral agen antijamur mungkin tidak
sesuai pada kehamilan. Mereka membutuhkan resep.
-
Asam borat (boraks) 600mg
sebagai supositoria pada malam hari dapat membantu untuk mengasamkan vagina dan
mengurangi kehadiran khamir (albicans dan non-candida albicans).
Langkah-langkah berikut belum ditunjukkan untuk
membantu.
-
Perawatan pasangan
seksual - laki-laki mungkin mendapatkan singkat reaksi kulit pada penis, yang
membersihkan cepat dengan krim antijamur. Memperlakukan laki-laki tidak
mengurangi jumlah episode kandidiasis pada pasangan wanita mereka.
-
Khusus gula rendah,
rendah ragi atau yoghurt tinggi diet
-
Menempatkan yoghurt dalam
vagina
-
Obat alami (dengan
pengecualian asam borat)
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Bartolinitis merupakan Infeksi pada kelenjar bartolin
atau bartolinitis juga dapat menimbulkan pembengkakan pada alat kelamin luar
wanita. Infeksi alat kelamin wanita bagian bawah biasanya disebabkan oleh : Virus (kondiloma
akuminata dan herpes simpleks), Jamur (kandida albikan), Protozoa
(amobiasis dan trikomoniasis) dan Bakteri (neiseria gonore)
(amobiasis dan trikomoniasis) dan Bakteri (neiseria gonore)
Vaginitis merupakan suatu peradangan pada lapisan
vagina. Vulvitis adalah suatu peradangan pada vulva (organ kelamin luar
wanita).
Vovaginitis adalah peradangan pada vulva dan vagina.
Penyebabnya adalah Bakteri (misalnya klamidia, gonokokus), Jamur
(misalnya kandida), terutama pada penderita diabetes, wanita hamil dan pemakai
Vulvovaginitis adalah iritasi/inflamasi pada kulit daerah vulva dan vagina.
3.2 Saran
Penulis menyadari bahwa makalah ini
belumlah sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang sifatnya membangun
sangat penulis harapkan demi kesempurnaan penulisan makalah yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Chapman, Vicky.
2006. Asuhan Kebidanan Persalinan dan
Kelahiran. Jakarta: ECG.
Martius, Gerhard.
1887. Bedah ginekologi. Jakarta: CV
EGC Penerbit buku kedokteran.
Sulistiawati. dkk.
2010. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin.
Jakarta: Salemba Medika.
Varney, Helen,
dkk. 2007. Buku Ajar Asuhan
Kebidanan Edisi 4 Volume 2. Jakarta: EGC.
Taber,
Ben-Zion.1994. Kedaruratan Obstetric dan
Ginekologi. Jakarta: EGC.
Yulianti, Lia, dkk.2010. Asuhan Kebidanan IV.
Jakarta : Trans Info Media.
Varney, Hellen. 2006. Buku
Ajar Asuhan Kebidanan Vol.1. Jakarta: EGC.
Oxorn, Harry
and Forte, William R. 2010. Ilmu Kebidanan: Patologi dan Fisiologi Persalinan. Yogyakarta: penerbit Andi.
Komentar
Posting Komentar