GAMBARAN KADAR HEMOGLOBIN PADA SISWI-SISWI DI SMP NEGERI 2 PRINGSEWU TAHUN 2018
LAPORAN TUGAS AKHIR
DI SMP NEGERI 2 PRINGSEWU TAHUN 2018
Oleh:
VINSENSIA GUNAWAN
1513453078
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNGKARANG
PRODI
D.III ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2018
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Anemia
adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi
darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai
pembawa oksigen ke seluruh jaringan. Menurut WHO anemia adalah suatu keadaan
dimana kadar hemoglobin lebih rendah dari batas normal (Tarwoto dan Wasnidar,
2007: 30).
Angka
prevalensi anemia menurut WHO pada tahun 2011 menunjukkan angka kejadian
sebesar 29,0% wanita tidak hamil mengalami kasus ini (WHO, 2011: 8). Di
Indonesia secara nasional penduduk dengan keadaan anemia dengan jenis kelamin
wanita mencapai 23,9% (Balitbangkes, 2013: 256). Sebanyak 17 provinsi di
Indonesia mempunyai nilai rerata kadar hemoglobin pada wanita di bawah nilai
rerata nasional, yaitu 13,00 g/dl dengan prevalensi anemia 19,7% (Balitbangkes,
2007: 149-151), sedangkan di Provinsi Lampung prevalensi anemia pada wanita
dewasa (usia 14-45 tahun) tahun 2010 sebesar 25,9% (Dinas Kesehatan Provinsi
Lampung, 2013: 90). Program pemerintah pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada
siswi remaja guna pencegahan anemia di Lampung belum mencapai target (20%),
dilihat dari grafik persentase siswi remaja yang mendapat TTD Nasional sampai
dengan tahun 2017 sebesar 19,83% (Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, 2017:
14).
Ada
beberapa faktor penyebab anemia diantaranya kehilangan darah dapat menyebabkan
anemia karena perdarahan berlebih, pembedahan atau permasalahan dengan
pembekuan darah. Kehilangan darah yang banyak karena menstruasi pada remaja atau
wanita juga dapat menyebabkan anemia (Soebroto, 2009: 21-22). Asupan dan
serapan gizi yang tidak adekuat seseorang dipengaruhi oleh zat besi, asam folat
dan vitamin B12 (Arisman, 2009: 172-174).
Wanita
memiliki risiko yang lebih besar untuk menderita anemia dibandingkan dengan
pria. Khususnya pada siswi remaja yang setiap bulannya mengalami menstruasi dan
masih dalam masa pertumbuhan, hal ini akan mengakibatkan resiko terkena anemia
jika tidak diimbangi dengan gizi yang
adekuat. Cadangan besi
dalam tubuh wanita lebih sedikit daripada pria, sedangkan kebutuhan perharinya
justru lebih tinggi. Setiap harinya seorang wanita akan kehilangan 1-2 mg zat
besi melalui ekskresi secara normal, saat menstruasi kehilangan zat besi bisa
hingga 1 mg lagi. Anemia pada siswi dapat menimbulkan dampak negatif yang
berpengaruh pada aktivitas sehari-hari seperti, berkurangnya daya pikir atau
konsentrasi, berkurangnya prestasi, berkurangnya semangat belajar dan mudah
terserang penyakit (Soebroto, 2009: 24, 32).
Penulis
telah melakukan wawancara dengan pihak Puskesmas Pringsewu, terdapat program
pemerintah pemberian tablet Fe bagi siswi remaja di sekolah, namun hanya
diberikan satu tahun sekali dan setiap siswi diberi tablet Fe sebanyak 10 tablet,
dengan cara diminum 1 kali sehari pada saat menstruasi dan sisanya diminum
seminggu 1 kali. Dilakukan evaluasi terhadap siswi oleh pihak puskesmas,
didapatkan hasil bahwa siswi tidak meminum tablet Fe, dan ada yang minum tetapi
tidak teratur, dengan alasan berbau, tidak suka dan tidak boleh oleh
orangtuanya.
Selain
itu berdasarkan hasil pengamatan di lapangan yang telah penulis lakukan di 5 SMP
Negeri Kecamatan Pringsewu, penulis mendapat data bahwa di SMP Negeri 2
Pringsewu adalah sekolah dengan jumlah siswa/siswi terbanyak yaitu 840, siswa
sebanyak 450 anak dan siswi sebanyak 390 anak. Siswa/siswi dengan penerima bantuan PIP (Program Indonesia
Pintar) juga terbanyak dibandingkan SMP Negeri lainnya yaitu 31,3% (263
siswa/siswi), terdiri dari siswa 150 anak dan siswi 113 anak.
Program
Indonesia Pintar adalah pemberian bantuan tunai pendidikan kepada anak usia
sekolah (6-21 tahun) yang berasal dari keluarga miskin, rentan miskin yang
memiliki Kartu Keluarga Sejahterah (KKS), Peserta Program Harapan (PKH), anak
yatim piatu, anak penyandang disabilitas, dan anak korban bencana alam/musibah
dan akan diberi kartu KIP (Kartu Indonesia Pintar) sebagai tanda. (Maulipaksi, 2015).
Data
diperkuat dari hasil wawancara dengan bapak Cecep Irawan, S.Pd, M.Pd selaku
kepala sekolah SMP Negeri 2 Pringsewu, didapatkan data anak yang bersekolah di
SMP Negeri 2 Pringsewu berasal dari keluarga menengah kebawah. Hal ini
diketahui dari pihak sekolah berdasarkan hasil survey dan kunjungan rumah.
Rata- rata mereka berasal dari ekonomi sosial dengan pekerjaan orangtua yang
tidak tetap, dengan penghasilan tidak menentu kurang dari Rp 600.000,00 per
bulan. Tak jarang pada saat upacara bendera yang dilakukan rutin setiap hari
senin oleh pihak sekolah, terdapat empat sampai lima siswi lemas, pucat dan
bahkan pingsan, dikarenakan tidak sarapan. Menurut kepala sekolah, terdapat
siswi yang terlihat letih, lesu, lemas dan tidak semangat di dalam kelas, hal
ini mengakibatkan rendahnya prestasi siswi dalam bidang akademik.
Siswa/siswi
SMP umumnya berusia sekitar 13-15 tahun,
berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 proporsi anemia penduduk
Indonesia pada kelompok usia 5-14 tahun sebesar 26,4 %, usia 15-24 sebesar 18,4
% (Balitbangkes, 2013: 256). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya oleh Suryani, dkk (2015) menunjukkan bahwa prevalensi anemia gizi
besi pada remaja putri di Kota Bengkulu 43%. Nursari (2010) pada remaja putri
SMP Negeri 18 Kota Bogor tahun 2009 yang menunjukkan bahwa informan utama dari
kelas VII yang berjumlah 15 orang yang
memiliki kadar hemoglobin 8-11 g/dl dari 190 informan menderita anemia tingkat
sedang dengan kadar hemoglobin antara 8,7-10,8 g/dl. Berdasarkan hasil
penjaringan status hemoglobin yang dilakukan oleh petugas Puskesmas Bogor Timur
pada remaja putri kelas VII di SMPN 18 memiliki prevalensi anemia 59,3%.
Penelitian yang telah dilakukan oleh Rosmalina (2014) pada remaja di SMP Ampera
Kecamatan Batang Serangan Kabupaten Langkat menunjukkan bahwa prevalensi anemia
sebanyak 33,0%.
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka penulis melakukan penelitian mengenai gambaran
kadar hemoglobin pada siswi-siswi di SMP Negeri 2 Pringsewu Tahun 2018.
B.
Rumusan
Masalah
Perumusan
masalah dari penelitian ini adalah bagaimana gambaran kadar hemoglobin pada
siswi-siswi di SMP Negeri 2 Pringsewu Tahun 2018?
C.
Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan Umum
Diketahui
gambaran kadar hemoglobin pada siswi-siswi di SMP Negeri 2 Pringsewu Tahun 2018.
2.
Tujuan Khusus
a.
Diketahui kadar hemoglobin pada
siswi-siswi SMP Negeri 2 Pringsewu.
b.
Diketahui distribusi frekuensi kadar
hemoglobin siswi-siswi SMP
Negeri 2 Pringsewu.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian
ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.
Teoritis
a.
Menjadi data dan referensi di
perpustakaan Politeknik Kesehatan Tanjungkarang pada umumnya dan Jurusan Analis
Kesehatan Politeknik Kesehatan Tanjungkarang pada khususnya.
b.
Menjadi referensi terkait hemoglobin
sehingga dapat dimanfaatkan bagi peneliti lain ataupun institusi pendidikan.
2.
Aplikatif
a.
Peneliti
Menambah pengetahuan peneliti tentang
kadar hemoglobin pada siswi-siswi di SMP Negeri 2 Pringsewu. Menambah
pengalaman bagi peneliti tentang proses pemeriksaan kadar hemoglobin.
b.
Bagi pihak sekolah (SMP Negeri 2
Pringsewu)
Sebagai informasi kepada pihak sekolah
yaitu SMP Negeri 2 Pringsewu tentang kadar hemoglobin pada siswi-siswi SMP
Negeri 2 Pringsewu untuk menjadi data pendukung bagi sekolah untuk merencanakan
program UKS yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan bekerjasama
dengan pihak Puskesmas Pringsewu.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang
lingkup penelitian adalah hematologi, dengan variabel penelitian
kadar hemoglobin pada
siswi-siswi di SMP Negeri 2 Pringsewu. Penelitian ini hanya dibatasi pada
pemeriksaan kadar hemoglobin siswi-siswi di SMP Negeri 2 Pringsewu. Populasi
dalam penelitian ini adalah siswi kelas VII, VIII dan IX SMP Negeri 2
Pringsewu. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Pemeriksaan dilakukan
menggunakan alat POCT (Point Of Care Test)/Strip Test. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2018.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Tinjauan
Teori
1.
Darah
Darah merupakan
komponen esensial mahluk hidup yang berada dalam ruang vaskuler.
a.
Karakteristik Darah
Karakteristik umum
darah meliputi warna, darah arteri berwarna merah muda karena banyak oksigen
yang berikatan dengan hemoglobin dalam sel darah merah. Darah vena berwarna
tua/gelap karena kurang oksigen dibandingkan dengan darah arteri. Viskositas,
darah ¾ lebih tinggi dari pada viskositas air yaitu sekitar 1,048-1,066. pH,
darah bersifat alkalin dengan pH 7,35-7,45 (netral 7,00). Volume pada orang
dewasa volume darah sekitar 70-75 ml/kg BB, atau sekitar 4 sampai lima liter
darah (Tarwoto dan Wasdinar, 2007: 14-15).
b.
Komposisi Darah
Darah
terdiri atas dua komponen utama, yaitu plasma darah : bagian cair darah yang
sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan protein darah. Butir-butir
darah (blood corpuscles), yang
terdiri atas: Eritrosit : sel darah merah (SDM)-red blood cell (RBC). Leukosit : sel darah putih (SDP)-white blood cell (WBC). Trombosit :
butir pembeku-platelet (Bakta,
2006:1-2).
c.
Fungsi Darah
Secara
umum fungsi darah adalah:
1)
Transport Internal
Darah
membawa berbagai macam substansi untuk fungsi metabolisme. Respirasi, nutrisi,
sekresi, mempertahankan air, elektrolit dan keseimbangan asam basa dan juga
berperan dalam hemostasis, regulasi metabolisme, hormon dan enzim atau keduanya
mempunyai efek dalam aktivitas metabolisme sel, dibawa dalam plasma.
2)
Proteksi terhadap cedera dan perdarahan.
Proteksi terhadap respon peradangan lokal terhadap cedera jaringan.
Pencegahan perdarahan merupakan fungsi
dari trombosit.
3)
Mempertahankan temperatur tubuh
(Tarwoto, dkk, 2009: 224-225).
2.
Sel Darah Merah
Sel
darah merah atau eritrosit berbentuk cakram bikonkaf dengan diameter sekitar 7,5
mikron, tebal bagian tepi 2 mikron dan bagian tengahnya 1 mikron atau kurang,
tersusun atas membran yang sangat tipis dan sitoplasma, tetapi tidak mempunyai
inti sel (Tarwoto, dkk, 2009: 211).
a.
Komponen sel darah merah (eritrosit)
1)
Membran eritrosit
2)
Sistem enzim : G6PD (Glucose 6-phosphate dehydrogenase)
3)
Hemoglobin : berfungsi sebagai alat angkut
oksigen. Komponennya terdiri
atas: Heme yang
merupakan gabungan protoporfirin dengan globin. Globin bagian protein yang
terdiri atas 2 rantai alfa dan 2 rantai beta (Bakta, 2006: 10). Hemoglobin menyusun
95% dari berat sel darah merah (Tarwoto, dkk, 2009: 225).
b.
Pembentukan eritosit
Proses pembentukan dan
pematangan eritrosit disebut eritropoiesis. Eritrosit dibentuk dalam sumsum
tulang dengan bentuk awal sebagai rubliblas
(pronormoblas). Dalam proses pematangan, nukleus pronormoblas akan
mengalami penyusutan dan pemadatan sehingga nukleus menjadi lebih kecil,
sitoplasma terlihat berwarna biru karena ribosom mulai dibentuk melalui proses
sintesis. Pada tahap tersebut sel dinamakan prorubrisit
(normoblas basofilik). Sel akan terus berkembang menjadi lebih kecil,
sitoplasma tampak biru dan merah karena sel mulai menghasilkan hemoglobin, sel
ini dinamakan rubrist (normoblas
polikromatik). Semakin lama warna sitoplasma semakin merah dan warna biru
menghilang, karena sitoplasma semakin eosinofilik. Sel tersebut dinamakan metarubrisit (normoblas otokromik atau
normoblas asidofil). Pada fase berikutnya nukleus dikeluarkan dari sel dan
akan membentuk retikulosit, di dalam sitoplasma retikulosit masih mengandung
RNA dan masih mampu mensintesis hemoglobin. Retikulosit akan masuk peredaran
darah, dalam waktu 1-2 hari RNA akan menghilang dan retikulosit akan menjadi
eritrosit matang dengan jumlah hemoglobin yang cukup di dalam sel (Nugraha,
2015: 9-10).
Sumber: Nugraha,
2015
Gambar
2.1 Eritropoiesis
3.
Hemoglobin
Hemoglobin
adalah protein berpigmen merah yang terdapat dalam sel darah merah. Normalnya
dalam darah pada laki-laki 15,5 g/dl dan pada wanita 14,0 g/dl (Susan M
Hinchliff, 1996). Rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCHC = Mean Cell
Concentration of Haemolobin) pada sel darah merah 31 g/dl.
Fungsi
hemoglobin adalah mengangkut oksigen dari paru-paru dan dalam peredaran darah
untuk dibawa ke jaringan. Ikatan hemoglobin dengan oksigen disebut
oksihemoglobin (HbO2). Disamping oksigen, hemoglobin juga membawa
karbondioksida dan dengan karbon monoksi hemoglobin (HbCO), juga berperan dalam
keseimbangan pH darah.
Struktur
hemoglobin terdiri dari dua unsur utama yaitu besi yang mengandung pigmen heme
dan protein gobin, seperti halnya protein lain, globin mempunyai rantai panjang
dari asam amino. Ada empat rantai globin yaitu alpha (α), beta (β), delta (δ),
gamma (γ) (Tarwoto dan Wasnidar, 2007: 17).
a.
Sintesis hemoglobin
Sintesis
hemoglobin terjadi selama proses eritropoiesis, pematangan sel darah merah akan
mempengaruhi fungsi hemoglobin (Tarwoto dan Wasnidar, 2007:17). Dimulai dari
eritroblas sampai berlangsung sampai tingkat normoblas dan retikulosit.
Sintesis
heme terutama terjadi di mitokondria melalui suatu ragkaian reaksi biokimia
yang bermula dengan kondensasi glisin dan suksinil koenzim A oleh kerja enzim
kunci yang bersifat membatasi kecepatan reaksi yaitu asam δ-aminolevulinat
(ALA) sintase. Piridoksal fosfat (vitamin B6) adalah suatu koenzim untuk reaksi
ini, yang dirangsang oleh eritropoietin. ALA akan diangkut keluar mitokondria
menuju sitosol, melalui serangkaian reaksi biokimia akan membentuk
ko-proporfirinogen. Molekul tersebut akan masuk kembali ke dalam mitokondria
dan menjadi protoporfirin. Akhirnya, protoporfirin bergabung dengan besi dalam
bentuk ferro (Fe2+) untuk membentuk heme, masing-masing molekul heme
bergabung dengan satu rantai globin yang dibuat pada poliribosom. Suatu
tetramer yang terdiri dari empat rantai globin masing-masing dengan gugus
hemenya sendiri dalam suatu “kantung” kemudian dibentuk untuk menyusun satu
molekul hemoglobin dalam ribosom retikulum endoplasma (Hoffbrand, 2005: 13-14),
(Syaifuddin, 2009: 27) (Nugraha, 2015: 12-13).
Sumber: Hoffbrand,
2005
Gambar 2.2 Sintesis
hemoglobin
b.
Katabolisme Hemoglobin
Sekitar
1 % sel darah merah disingkirkan dari
sirkulasi setiap hari oleh sistem retikuloendotel. Sel-sel ini diganti oleh
sistem retikulosit dari sumsum tulang. Selain perubahan metabolik, hilangnya
membran sel darah merah menyebabkan kelenturan sel berkurang. Sewaktu sel-sel
tua ini disingkirkan dalam sistem retikuloendotel ekstravaskuler, molekul
hemoglobin diuraikan menjadi komponen-komponennya. Sekitar 5-7 g hemoglobin
dikatabolisme setiap hari. Bagian globin dari molekul hemoglobin diuraikan
menjadi asam-asam amino yang diresirkulasi ke kompartemen asam amino. Komponen
porfirin dari molekul heme diuraikan oleh serangkaian reaksi katabolik menjadi
senyawa yang disebut bilirubin, yaitu pigmen kuning kecoklatan. Bilirubin
terikat ke albumin dan diangkut ke hati. Di hati zat ini dikonjugasikan melalui
penambahan glukuronida untuk membentuk senyawa diglukuronida, yang larut air
dan diekskresikan di empedu. Sebagian kecil dari senyawa ini direabsorpsi dan
diekskresi. Melalui kerja bakteri usus, konjugat bilirubin diuraikan lebih
lanjut menjadi urobilinogen dan sterkobilinogen dan diekskresikan melalui
tinja. Sejumlah kecil dari senyawa-senyawa ini direabsorpsi melalui sirkulasi
enterohepatik dan diekskresikan melalui urine (Sacher, 2004: 51).
Sumber:
Thenurseupdate.com, 2015
Gambar 2.3. Katabolisme
hemoglobin
c.
Faktor yang mempengaruhi hemoglobin
Kadar
hemoglobin dalam darah maupun kerja atau fungsi hemoglobin yang optimal dalam
tubuh dipengaruhi oleh beberapa hal, meliputi:
1)
Kekurangan zat besi dalam makanan yang
dikonsumsi.
2)
Kekurangan zat besi dan asam folat.
3)
Penyakit infeksi, cacingan dan penyakit
kronis.
4)
Kehilangan darah yang disebabkan oleh
perdarahan menstruasi yang banyak, perdarahan akibat luka, dan karena penyakit
tertentu (Tarwoto dan Wasnidar: 2007: 12-13).
4.
Anemia
Anemia
adalah kondisi dimana berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi
darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai
pembawa oksigen keseluruh jaringan. Menurut WHO (1992) anemia adalah suatu
keadaan dimana kadar hemoglobin lebih rendah dari batas normal untuk kelompok
orang yang bersangkutan. Anemia secara laboratorik yaitu keadaan apabila
terjadi penurunan dibawah kadar hemoglobin, hitung eritrosit dan hematrokit
(pack red cell).
Kriteria
anemia menurut WHO adalah:
Laki-laki
dewasa : hemoglobin <13 g/dl
Wanita
dewasa tidak hamil : hemoglobin
<12 g/dl
Wanita
hamil :
hemoglobin <11 g/dl
Anak
umur 6-14 tahun : hemoglobin <12 g/dl
Anak
umur 6 bulan-6 tahun : hemoglobin
<11 g/dl
(Tarwoto
dan Wasnidar, 2007: 30-31).
Anemia
yang dalam bahasa Yunani berarti tanpa darah, adalah penyakit kurang darah yang
ditandai dengan kadar hemoglobin dan sel darah merah lebih rendah dibandingkan
normal. Jika kadar hemoglobin kurang dari 14 g/dl dan eritrosit kurang dari 41%
pada pria, maka pria tersebut dikatakan anemia. Pada wanita yang memiliki kadar
hemoglobin kurang dari 12 g/dl dan eritrosit kurang dari 37%, maka wanita itu
dikatakan anemia (Soebroto, 2009: 19).
a.
Penyebab umum anemia
Berikut
adalah kemungkinan dasar penyebab anemia:
1)
Penghancuran sel darah merah yang
berlebihan
Biasa disebut anemia
hemolitik, muncul saat sel darah merah dihancurkan lebih cepat dari normal
(umum sel darah merah normalnya 120 hari, anemia hemolitik umur sel darah merah
lebih pendek).
2)
Kehilangan darah.
Kehilangan darah dapat
menyebabkan anemia karena perdarahan berlebihan, pembedahan atau permasalahan
dengan pembekuan darah. Kehilangan darah yang banyak karena menstruasi pada
remaja atau perempuan juga dapat menyebabkan anemia. Semua faktor ini akan
meningkatkan kebutuhan tubuh akan zat besi, karena zat besi dibutuhkan untuk
membuat sel darah merah baru.
3)
Produksi sel darah merah yang tidak
optimal
Ini terjadi saat sumsum
tulang tidak dapat membentuk sel darah dalam jumlah cukup. Ini dapat akibat
infeksi virus, paparan terhadap kimia beracun, radiasi, atau obat-obatan
(antibiotik, anti kejang atau obat kanker). Anemia dapat terjadi saat tubuh
tidak dapat membentuk sel darah merah yang sehat karena defisiensi zat besi. Besi
sangat penting dalam pembentukkan hemoglobin dan kekurangan besi dapat berakibat
anemia defisiensi besi (Soebroto, 2009: 21-22).
4)
Kekurangan zat gizi
Kekurangan zat gizi
dalam makanan yang dikonsumsi. Faktor kemiskinan dan perubahan pola makan,
kebudayaan, ketimpangan gender menjadi penyebab hal tersebut (Tarwoto dan
Wasnidar, 2007: 13).
b.
Jenis-jenis anemia
1)
Anemia defisiensi besi
Anemia
yang paling banyak terjadi adalah anemia akibat kekurangan zat besi. Zat besi
merupakan bagian dari molekul hemoglobin. Oleh sebab itu, ketika tubuh
kekurangan zat besi, hemoglobin pun akan menurun. Gejala disfagia, atrofi papil
lidah, stomatitis angularis.
2)
Anemia defisiensi vitamin C
Anemia karena
kekurangan vitamin C adalah sejenis anemia yang jarang terjadi, yang disebabkan
oleh kekurangan vitamin C yang berat dalam jangka waktu lama. Penyebab
kekurangan vitamin C biasanya adalah kekurangan asupan vitamin C dalam makanan
sehari-hari. Salah satu fungsi vitamin C adalah membantu penyerapan zat besi,
sehingga jika terjadi kekurangan vitamin C, maka jumlah zat besi yang diserap
akan berkurang dan bisa terjadi anemia.
3)
Anemia hemolitik
Anemia hemolitik
terjadi apabila sel darah merah dihancurkan jauh lebih cepat dari normal
(Soebroto, 2009: 31-41).
4)
Anemia aplastik
Anemia
aplastik terjadi akibat ketidak sanggupan sumsum tulang membentuk sel-sel
darah. Kegagalan tersebut disebabkan kerusakan primer sistem sel. Gejala
perdarahan kulit atau mukosa dan tanda-tanda infeksi.
5)
Anemia defisiensi vitamin B12
Merupakan gangguan autoimun
karena tidak adanya intrinsik faktor (IF) yang diperoduksi di sel parietal lambung
sehingga terjadi gangguan absorpsi vitamin B12.
6)
Anemia defisiensi asam folat
Kebutuhan folat sangat
kecil, biasanya terjadi pada orang yang kurang makan sayuran dan buah-buahan,
gangguan pada pencernaan, alkoholik dapat meningkatkan kebutuhan folat, wanita
hamil, masa pertumbuhan. Biasanya terdapat gejala lidah merah (Tarwoto dan
Wasnidar, 2007: 49-51).
7)
Anemia pada penyakit kronik
Salah satu anemia yang
paling sering terjadi pada pasien yang menderita berbagai penyakit keganasan
dan radang kronik. Contoh penyakit radang kronik, yaitu infeksi pada abses
paru, TB, osteomielitis, pneumonia, penyakit non infeksius misalnya lupus
eritematosus sistemik, penyakit keganasan misalnya karsinoma, sarkoma
(Hoffbrand, 2005: 34).
c.
Gejala anemia
Gejala anemia sangat bervariasi, bisa
menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga, dan kepala terasa melayang.
Gejala yang sering muncul pada penderita anemia diantaranya:
1)
Lemah, letih, lesu, mudah lelah dan
lunglai
2)
Wajah tampak pucat
3)
Mata berkunang-kunang
4)
Nafsu makan berkurang
5)
Sulit berkonsentrasi dan mudah lupa
6)
Sering sakit
7)
Jika anemia disebabkan penghancuran
berlebihan dari sel darah merah, maka terdapat gejala lain seperti warna kuning
pada bagian putih mata, pembesaran limpa dan warna urin seperti teh (Soebroto,
2009: 23).
8)
Perubahan warna tinja, tinja hitam,
tinja lengket, berbau busuk dan berwarna merah marun atau tampak berdarah jika
anemia karena kehilangan darah melalui saluran pencernaan.
9)
Tekanan darah rendah
10)
Pusing atau kepala terasa ringan
11)
Pingsan (Proverawati, 2011: 22-23).
5.
Anemia Gizi
Anemia
gizi adalah keadaan dengan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah sel darah
merah yang lebih rendah dari nilai normal, sebagai akibat dari salah satu atau
beberapa unsur makanan esensial yang dapat mempengaruhi timbulnya defisiensi
tersebut.
Anemia
gizi disebabkan oleh defisiensi zat besi, asam folat, dan atau vitamin B12,
semuanya berakar pada asupan yang tidak adekuat, ketersediaan hayati
rendah (buruk), dan kecacingan yang masih tinggi. Di Indonesia, anemia gizi
masih merupakan salah satu masalah gizi yang utama. Dari ketiga penyebab
tersebut, defisiensi vitamin B12 merupakan penyebab yang paling jarang terjadi.
Secara
umum, ada tiga penyebab anemia defisiensi zat besi, yaitu kehilangan darah
secara kronis sebagai dampak pendarahan kronis, asupan zat besi tidak cukup dan
penyerapan tidak adekuat, peningkatan kebutuhan akan zat besi untuk pembentukan
sel darah merah yang lazim pada masa pertumbuhan bayi, masa pubertas, masa
kehamilan dan menyusui (Arisman, 2009: 172-173).
Di luar aspek medik,
klasifikasi masalah gizi adalah masalah yang diakibatkan:
a.
Kemiskinan
Masalah
gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga dan ukuran
yang dipakai adalah garis kemiskinan.
b.
Sosial-budaya
Masalah
gizi karena sosial-budaya indikatornya antara lain adalah stabilitas keluarga
dan ukuran frekuensi nikah-cera-rujuk, anak-anak yang dilahirkan di lingkungan
keluarga yang tidak stabil akan sangat rentan terhadap penyakit gizi kurang.
c.
Kurangnya pengetahuan dan pengertian
Masalah
gizi karena kurangnya pengetahuan dan keterampilan di bidang memasak, konsumsi
anak, keragaman bahan dan keragaman jenis makanan yang mempengaruhi kejiwaan
misalnya kebosanan.
d.
Pengadaan pangan dan distribusi pangan
Masalah
gizi karena pengadaan dan distribusi pangan, indikator pengadaan pangan yang
biasanya diperhitungkan dalam bentuk neraca bahan pangan.
e.
Bencana alam
Masalah
gizi karena bencana alam, seperti bencana alam insidental misalnya gempa bumi,
gunung api meletus dan lainnya (Santoso dan Ranti, 2009: 73).
6.
Remaja
Definisi
remaja menurut WHO adalah periode usia antara 10-19 tahun, sedangkan menurut
PBB menyebut kaum muda untuk usia anatara 15-24 tahun. Sementara itu, menurut
The Health Resources and Services Administration Guidelines Amerika Serikat,
rentang usia remaja adalah 11-21 tahun. Definisi ini kemudian disatukan dalam
terminologi kaum muda yang mencakup usia 10-24 tahun.
Definisi
remaja sendiri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang:
a.
Secara kronologis, remaja adalah
individu yang berusia antara 11-12 tahun sampai 20-21 tahun.
b.
Secara fisik, remaja ditandai oleh ciri
perubahan pada penampilan fisik dan fungsi fisiologis, terutama yang terkait
dengan kelenjar seksual.
c.
Secara psikologis, remaja merupakan masa
di mana individu mengalami perubahan dalam aspek kognitif, emosi, sosial, dan
moral di antara masa anak-anak menuju dewasa (Kusmiran, 2011: 4).
Gizi
Remaja
Cukup
banyak masalah yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan gizi remaja. Dalam
beberapa hal, masalah gizi remaja serupa atau merupakan kelanjutan dari masalah
gizi pada usia anak, yaitu anemia defisiensi besi serta kelebihan dan
kekurangan berat badan.
Kebiasaan makan yang diperoleh semasa
remaja akan berdampak pada kesehatan dalam fase kehidupan selanjutnya, setelah
dewasa dan berusia lanjut. Kekurangan besi dapat menimbulkan anemia dan
keletihan. Remaja memerlukan lebih banyak zat besi (Arisman, 2009: 77-78).
Faktor resiko terjadinya anemia lebih
besar terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Cadangan besi dalam tubuh
wanita lebih sedikit dari pada pria, sedangkan kebutuhan perharinya justru
lebih tinggi. Setiap harinya seorang wanita akan kehilangan 1-2 mg zat besi
melalui ekskresi secara normal. Pada saat menstruasi, kehilangan zat besi bisa
hingga 1 mg lagi.
Faktor
lain yang menyebabkan wanita rentan mengalami anemia adalah pola makan. Dengan
alasan takut gemuk, terkadang wanita melakukan diet secara membabi buta. Para
wanita cenderung makan dalam jumlah yang kurang dan tidak mengonsumsi daging. Tanpa
disadari, diet yang belum tentu membuat berat badan turun itu justru dapat
menyebabkan kurangnya asupan zat besi dari makanan (Soebroto, 2009: 32-33).
Ada
tiga alasan mengapa remaja dikatagorikan rentan. Pertama, percepatan
pertumbuhan dan perkembangan tubuh memerlukan energi dan zat gizi yang lebih
banyak. Kedua, perubahan gaya hidup dan kebiasaan pangan menuntut penyesuaian
masukan energi dan zat gizi. Ketiga, kehamilan, keikutsertaan dalam olahraga,
kecanduan alkohol dan obat, meningkatkan kebutuhan energi dan zat gizi
(Arisman, 2009: 78-79).
7.
Menstruasi
Menstruasi
merupakan perdarahan periodik sebagai bagian integral dari fungsional biologis
wanita sepanjang siklus kehidupannya. Menstruasi adalah proses alamiah yang terjadi
pada wanita. Menstruasi merupakan perdarahan teratur dari uterus sebagai tanda
bahwa alat kandungan telah menunaikan
faalnya. Masa ini akan mengubah perilaku dari beberapa aspek, misalnya
psikologi dan lain-lain. Pada wanita biasanya pertama kali mengalami menstruasi
(menarche) pada usia 12-16 tahun. Siklus menstruasi normal terjadi setiap 22-35
hari, dengan lamanya menstruasi selama 2-7 hari.
Siklus Menstruasi
Umumnya
siklus menstruasi terjadi secara periodik setiap 28 hari (ada pula setiap 21 dan
30 hari), yaitu pada 1-14 terjadi pertumbuhan dan perkembangan folikel primer
yang diransang oleh hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone/ hormon perangsang
folikel). Pada saat tersebut, sel oosit akan membelah dan menghasilkan ovum
yang haploid. Saat folikel berkembang menjadi folikel de Graaf yang masuk,
folikel ini juga menghasilkan hormon estrogen yang merangsang keluarnya LH
(Luteinizing Hormone) dari hipofisis. Estrogen yang keluar berfungsi merangsang
perbaikan dinding uterus, yaitu endometrium, yang habis terkelupas saat
menstruasi. Selain itu, estrogen menghambat pembentukan FSH dan memerintahkan hipofisis menghasilkan
LH yang berfungsi merangsang folikel de
Graaf yang masak untuk mengadakan
ovulasi yang terjadi pada hari ke-14, waktu di sekitar terjadinya ovulasi
disebut fase estrus.
LH
merangsang folikel yang telah kosong untuk berubah menjadi badan kuning (corpus luteum). Badan kuning
menghasilkan hormon progesteron yang berfungsi mempertebal lapisan endometrium
yang kaya dengan pembuluh darah untuk mempersiapkan datangnya embrio. Periode
ini disebut fase luteal. Selain itu,
progesteron juga berfungsi menghambat pembentukan FSH dan LH, akibatnya korpus
luteum mengecil dan menghilang. Pembentukan progesteron berhenti sehingga pemberian
nutrisi kepada endometrium terhenti. Endometrium menjadi mengering dan
selanjutnya akan terkelupas dan terjadilah perdarahan (menstruasi) pada hari
ke-28. Fase ini disebut fase perdarahan atau fase menstruasi (Kusmiran, 2011: 105-108).
8.
Gambaran Umum SMP Negeri 2 Pringsewu
Kecamatan Pringsewu
SMP
Negeri 2 Pringsewu atau yang lebih dikenal dengan nama SPENDA, adalah salah
satu SMP Negeri yang ada di Kecamatan Pringsewu. SMP ini didirikan pada tanggal
19 Oktober 1982, dan sudah mengalami pergantian kepala sekolah 12 kali, kepala
sekolah saat ini adalah Bapak Cecep Irawan. SMP Negeri 2 Pringsewu memiliki
akreditasi A dengan nilai 87, ditetapkan pada tanggal 8 Januari 2015. SMP ini
terletak di jalan Pelita No 001 Kelurahan Pringsewu, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten
Pringsewu. SMP ini memiliki siswa/siswi yang berjumlah 840 siswa/siswi, dengan
siswa berjumlah 450 anak dan siswi berjumlah 390 anak. SMP Negeri 2 Pringsewu
adalah salah satu SMP yang mendapat bantuan dari pemerintah berupa Program
Indonesia Pintar (PIP) dengan siswa/siswi yang paling banyak, yaitu berujumlah
263 (31,3%) dibandingkan SMP lainnya yang ada di Kecamatan Pringsewu.
Siswa/siswi
yang menerima bantuan Program Indonesia Pintar adalah anak dari keluarga
peserta Program Keluarga Harapan, anak dari keluarga penerima Kartu Keluarga
Sejahterah, anak yatim piatu dari panti asuhan/panti sosial, anak dari keluarga
tidak mampu yang rentan putus sekolah. Pihak sekolah akan menjaring penerima
PIP agar tepat sasaran, lalu kepala sekolah atau operator akan memasukkan data
penerima KIP (kartu identitas penerima PIP) ke dalam data pokok pendidikan.
Calon penerima manfaat PIP kemudian akan
diajukan ke Kemendikbud, Kementerian Agama, atau Balai Latihan Kerja (BLK)
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Selanjutnya Kemendikbud, Kemenag dan
Kemnakertransakan melakukan verifikasi, kemudian menerbitkan SK penetapan
penerima manfaat PIP. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota akan mengirimkan surat
pemberitahuan ke pihak sekolah, lalu pihak sekolah memberitahukan kepada
orangtua siswa/siswi mengenai lokasi dan waktu pengambilan dana bantuan.
B.
Kerangka
Teori
|
Kehilangan
darah/kehilangan zat besi
|
|
Siswi-siswi SMP Negeri 2 Pringsewu
|
|
Asupan dan
serapan gizi yang tidak adekuat
|
|
Perdarahan
akibat menstruasi pada siswi
|
|
Zat besi
dalam tubuh tidak tercukupi
|
|
-
Kemiskinan
-
Sosial-budaya
-
Kurangnya pengetahuan dan pengertian
-
Pengadaan pangan dan distribusi pangan
-
Bencana alam
|
|
Hemolisis
darah
|
|
Anemia
|
|
Penurunan kadar
hemoglobin
|
|
Sintesis
hemoglobin terganggu
|
C.
Kerangka
Konsep
|
Siswi-siswi
SMP Negeri 2 Pringsewu
|
|
Kadar
hemoglobin
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Rancangan
Penelitian
Rancangan
penelitian ini bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran tentang kadar
hemoglobin siswi-siswi SMP Negeri 2 Pringsewu Tahun 2018, dengan variabel
penelitian yaitu kadar hemoglobin siswi-siswi
SMP Negeri 2 Pringsewu.
B.
Lokasi
dan Waktu Penelitian
Pengambilan sampel penelitian dan pemeriksaan
kadar hemoglobin dilakukan di SMP Negeri 2 Pringsewu Kecamatan Pringsewu pada
bulan Maret-April 2018.
C.
Subjek
Penelitian
1.
Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah
siswi-siswi kelas VII, VIII dan IX di SMP Negeri 2 Pringsewu dengan jumlah 390 siswi.
2.
Sampel
Sampel
pada penelitian ini berjumlah 110 siswi yang diambil dari populasi dengan
kriteria sebagai berikut:
a.
Siswi yang mendapat bantuan Program
Indonesia Pintar.
b.
Siswi yang sudah mengalami menstruasi.
c.
Bersedia menjadi responden.
D. Variabel dan Definisi Operasional
Penelitian
|
|
No
|
Variabel
Penelitian
|
Definisi
|
Cara Ukur
|
Alat Ukur
|
Hasil Ukur
|
Skala
|
|
2
|
Kadar
Hemoglobin
|
Kadar
hemoglobin siswi-siswi SMP Negeri 2 Pringsewu yang diperiksa dengan menggunakan alat POCT/strip test
|
Metode digital
strip test
|
POCT/Strip
test
|
g/dl
|
Ratio
|
E.
Pengumpulan
Data
Data yang dikumpulkan berupa data primer. Data primer yang meliputi
hasil pemeriksaan laboratorium yaitu kadar hemoglobin, hasil observasi dan wawancara
terhadap siswi-siswi SMP Negeri 2 Pringsewu. Pengumpulan data ini dilakukan dengan
langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Peneliti meminta surat izin penelitian dari
Poltekkes Tanjungkarang Jurusan Analis Kesehatan.
2.
Peneliti mengajukan surat izin penelitian
ke Kesatuan Kebangsaan dan Politik Kabupaten Pringsewu.
3.
Setelah disetujui oleh Kesatuan Kebangsaan
dan Politik Kabupaten Pringsewu melanjutkan surat izin penelitian ke SMP Negeri
2 Pringsewu.
4.
Setelah disetujui, peneliti melakukan penelitian.
a.
Bahan Penelitian
1)
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah : Hb meter digital, autoclik, lanset darah.
2)
Bahan yang digunakan adalah kapas kering,
kapas alkohol 70%.
3)
Bahan pemeriksaan yaitu sampel yang digunakan adalah darah kapiler.
b.
Prosedur Kerja
1)
Pengambilan Darah Kapiler
a)
Dibersihkan bagian jari yang akan diambil
darahnya dengan kapas alkohol 70%.
b)
Dipegang jari yang akan ditusuk supaya tidak
bergerak dan tekan sedikit supaya rasa nyeri berkurang.
c)
Ditusuk dengan cepat memakai lanset steril.
Pada jari tusuklah dengan arah tegak lurus pada garis-garis sidik kulit jari,
jangan sejajar dengan itu. Tusukan harus cukup dalam supaya darah mudah keluar.
Jangan hendaknya sampai menekan-nekan jari untuk mendapatkan darah.
d)
Dibuang tetes darah yang pertama keluar dengan
memakai kapas kering. Tetes darah yang berikutnya boleh dipakai untuk pemeriksaan
(Gandasoebrata, 2002: 7).
c.
Pemeriksaan Kadar Hemoglobin
Metode
yang dipakai pada pemeriksaan ini adalah strip test dengan menggunakan alat Point
Of Care Testing/strip test (hemoglobin testing system Quick-Check). Prinsipnya adalah
eritrosit dalam spesimen dilisiskan untuk melepaskan hemoglobin. Hemoglobin
diubah menjadi methemoglobin. Intensitas warna yang dihasilkan dari reaksi ini sebanding
dengan konsentrasi hemoglobin.
Cara
kerja pemeriksaan hemoglobin adalah sebagai berikut:
1)
Prosedur Kerja Penggunaan Alat
a)
Dipasang baterai pada alat.
b)
Diatur jam, tanggal dan tahun ketika alat
menyala.
c)
Masuk ke sub menu optical check dari
setup screen.
d)
Ditunggu sampai alat menampilkan simbol
strip.
e)
Dimasukkan kontrol strip kelubang strip
kearah yang sama dengan arah yang tertera di strip.
f)
Ditekan tombol tengah untuk memulai
optical check.
g)
Dilihat pada layar jika menampilkan
“yes” sistem optik bekerja dengan baik, jika alat menampilkan “no” sistem optik
tidak berfungsi.
h)
Diulangi test dengan strip kontrol yang
baru, yang tidak terkontaminasi, bengkok, rusak dan berubah warna.
i)
Jika alat menampilkan “no” setelah dilakukan
test lagi. Dihubungi distributor untuk panduan.
2)
Prosedur Pemeriksaan Sampel
a)
Dimasukkan kode chip kedalam alat dan setel
alat sesuai kode.
b)
Dibandingkan nomor kode pada chip dengan
yang tertera pada botol strip, dan pastikan angka tersebut sama untuk menghindari
ketidak akuratan hasil.
c)
Dikeluarkan strip yang dibutuhkan dari botol
strip dan segera digunakan.
d) Ditutup
kembali botol strip setelah dikeluarkan strip yang dibutuhkan.
e)
Ditunggu sampai alat menunjukkan simbol
strip.
f)
Dimasukkan strip kelubang strip sesuai dengan
arah yang tertera pada strip test sampai bagian putih pada sekitar garis hitam tidak
terlihat.
g)
Diambil 10 µl darah kapiler dan diteteskan
darah pada strip yang terpasang pada alat dan ditunggu sebentar, hasil akan keluar
setelah 15 detik pada layar.
h)
Dibaca hasil yang tertera pada layar dan
dibandingkan dengan nilai normal (Brosur Quick-Check Hb hemoglobin testing
sytem).
F. Pengolahan dan Analisa Data
Data yang diperoleh dianalisa secara analisa univariat
untuk mendapatkan distribusi frekuensi dari masing-masing variabel yang
digunakan dalam penelitian dengan menggunakan rumus:
x100%
x100%
x100%
x100%
Keterangan:
A
: Siswi dengan kadar hemoglobin rendah
B
: Siswi dengan kadar hemoglobin normal
C
: Siswi dengan kadar hemoglobin tinggi
Komentar
Posting Komentar