MAKALAH TEORI DASAR PENCEGAHAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT
MAKALAH
TEORI DASAR PENCEGAHAN PENYAKIT
GIGI DAN MULUT

DISUSUN OLEH :
NOVITA SARI
NIM.1712402048
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN GIGI
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Makalah Teori Dasar Pencegahan
Penyakit Gigi Dan Mulut.
Kami meyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh
karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna
penyempurnaan makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kurang dan lebihnya kami mohon maaf.
Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Banadar Lampung,Agustus
2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAM JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................................... 1
B. Rumusan masalah....................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Gigi berlubang (Caries).............................................................................. 2
B. Plak Gigi..................................................................................................... 3
C. Karang gigi................................................................................................. 4
D. Sakit gusi.................................................................................................... 6
E. Xerostomia................................................................................................. 8
F. Sariawan..................................................................................................... 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................. 11
B. Saran........................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Upaya
kesehatan gigi perlu ditinjau dari aspek lingkungan, pengetahuan, pendidikan,
kesadaran masyarakat dan penanganan kesehatan gigi termasuk pencegahan dan
perawatan. Namun sebagian besar orang masih mengabaikan kondisi kesehatan gigi
secara keseluruhan. Perawatan gigi dianggap tidak terlalu penting, padahal
manfaatnya sangat vital dalam menunjang kesehatan dan penampilan (Pratiwi, 2007).
Mulut bukan sekedar untuk pintu
masuknya makanan dan minuman, tetapi fungsi mulut lebih dari itu dan tidak
banyak orang mengetahui. Mulut merupakan bagian yang penting dari tubuh kita
dan dapat dikatakan bahwa mulut adalah cermin dari kesehatan gigi karena banyak
penyakit umum. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia
(PDGI), drg H Emmyr F Moeis, MARS mengatakan, kondisi gigi dan mulut bisa
mengungkapkan gejala-gejala awal penyakit berbahaya bahkan sampai memprediksi
kelahiran prematur.
Berdasarkan alasan-alasan diatas,
penulis tertarik untuk meneliti suatu permasalahan yaitu hubungan pengetahuan
tentang penyakit gigi dan mulut terhadap gejala awal penyakit yang berbahaya.
B.
Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
diatas, bisa dirumuskan permasalahan penulisan ini sebagai berikut, yaitu:
“TEORI PENCEGAHAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT ?”
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Gigi berlubang (Caries)
Gigi yang berlubang bukanlah
disebabkan ulat seperti anggapan orang pada zaman dahulu. Teori ini bertahan
hingga tahun 1700-an hingga Willoughby Miller seorang dokter gigi Amerika yang
bekerja di Universitas Berlin menemukan penyebab pembusukan gigi. Ia menemukan
bahwa lubang gigi disebabkan oleh pertemuan antara bakteri dan gula. Bakteri akan mengubah gula dari sisa
makanan menjadi asam yang menyebabkan lingkungan gigi menjadi asam (lingkungan
alami gigi seharusnya adalah basa) dan asam inilah yang akhirnya membuat lubang
kecil pada email gigi.
Saat lubang terjadi pada email gigi,
kita belum merasakan sakit gigi. Tetapi, lubang kecil pada email selanjutnya
dapat menjadi celah sisa makanan dan adanya bakteri akan membuat lubang semakin
besar yang melubangi dentin. Pada saat ini kita akan merasakan linu pada gigi
saat makan. Bila dibiarkan, lubang akan sampai pada lubang saraf sehingga kita
akan mulai merasakan sakit gigi. Proses ini tidak akan berhenti sampai akhirnya
gigi menjadi habis dan hanya tersisa akar gigi.
Sakit gigi tidak dapat dipandang
sebelah mata seperti anggapan beberapa orang, karena bila didiamkan, dapat
membuat gigimenjadi bengkak dan meradang. Selain itu gigi berlubang dapat
menjadi sarana saluran masuknya kuman penyakit menuju saluran darah yang dapat
menyebabkan penyakit ginjal, paru-paru, jantung maupun
penyakit lainnya.
Agar tidak semakin bertambah parah,
maka bila Anda memiliki gigi berlubang sebaiknya Anda segera mengunjungi dokter
gigi untuk mengobatinya. Walaupun banyak orang tidak suka pergi ke dokter gigi
dengan alasan tidak peduli dengan keadaan gigi, khawatir biayanya mahal, takut
atau malu diejek karena gigi yang rusak, namun pergi ke dokter gigi adalah
solusi terbaik untuk mengatasi sakit gigi. Gigi berlubang tidak dapat sembuh
dengan sendirinya. Walaupun, mungkin setelah menderita sakit gigi, rasa
sakitnya dapat hilang tetapi tidak memperbaiki keadaan gigi. Gigi akan tetap berlubang,
bahkan lubangnya akan terus semakin membesar.
Untuk mencegah terjadinya lubang pada
gigi, Anda dapat melakukan langkah- langkah berikut:
·
Memeriksa gigi secara rutin
·
Menyikat gigi secara teratur dan pada waktu yang tepat
·
Menyikat gigi dengan cara yang benar.
·
Kumur setelah makan
·
Gunakan benang gigi untuk mengeluarkan sisa makanan
·
Pilih pasta gigi yang mengandung fluorida
·
Makan makanan yang berserat
·
Kurangi makanan yang mengandung gula dan tepung Sumber :
www.kumpulaninfosehat.com
ditulis pada Senin, 05 Januari 2009
B. Plak Gigi
Plak gigi adalah suatu
lapisan bening, sangat tipis , terdiri dari mucus dan kumpulan
bakteri yang menyelimuti permukaan gigi. Plak
gigi hanya dapat dilihat dengan pewarnaan pada gigi. Perwarna yang digunakan
juga khusus dikenal dengan nama disclosing
agent.
Gigi yang sudah disikat akan kembali
berkontak dengan saliva (ludah). Mucin (salah satu zat yang terkandung dalam
saliva) akan melapisi gigi. Lapisan ini kemudian dikenal dengan nama Acquired Pellicle (mucus). Acquired Pellicle ini sangat tipis,
berkisar 1 um. Selain mucin dan protein lainnya, saliva juga mengandung banyak
bakteri. Beberapa saat setelah Acquired Pellicle terbentuk bakteri juga akan
singgah dan berkoloni di lapisan tersebut. Keadaan inilah yang kemudian disebut
dengan plak gigi
atau dental plaque.
Plak merupakan penyebab lokal dan
utama terbentuknya penyakit gigidan mulut yang lain seperti karies (lubang
gigi), kalkulus (karang gigi), gingivitis (radang pada gusi), periodontitis
(radang pada jaringan penyangga gigi), dan lain sebagainya. Oleh karena plak
tidak dapat dihindari pembentukannya, maka mengurangi akumulasi plak adalah hal
yang sangat penting untuk mencegah terbentuknya panyakit gigi dan mulut.
Cara yang paling umum dan murah adalah
sikat gigi. Dengan atau tanpa pasta gigi, minimal 2 kali dalam sehari kita
harus menyikat gigi. Pagi dan sebelum tidur malam.
Lebih ideal jika kita menggunakan bantuan disclosing
agent untuk melihat apakah penyikatan gigi yang kita lakukan sudah benar-benar
sempurna. Gigi yang terbebas dari plak ditandai dengan tidak adanya pewarnaan
oleh disclosing pada gigi. Selain itu perabaan dengan lidah mengidentifikasikan
dalam bentuk gigi terasa kesat — bukan licin. Jika masih terasa licin maka
masih terdapat plak.
Sumber :
www.kumpulaninfosehat.com
ditulis pada 22 Desember 2007 pukul 14.00
C. Karang gigi
Karang gigi
merupakan kumpulan plak yang termineralisasi yang sangat lengket di atas email
gigi. Lapisan ini terlihat keputihan dan seiring waktu berubah kekuningan
setelah berasimilasi dengan air liur. Berdasarkan lokasinya, karang gigi ada di
supragingiva (permukaan gigi diatas gusi) dan
di subgingiva (permukaan gigi di bawah gusi).
Karang gigi terutama timbul pada daerah-daerah gigi yang
sulit dibersihkan.
Pembersihan Karang gigi
Seringkali kita tidak mengetahui bahwa telah terdapat
plak pada gigi . Karang gigi berkembang dari plak gigi yang menempel pada tepi
gusi. Bila ini terus dibiarkan akan menyebabkan peradangan gusi, dan pada
akhirnya membuat aroma mulut tidak sedap. Pembersihan karang gigi memerlukan
bantuan dokter atau perawat gigi.Jika dilakukan dengan cara yang baik dan
benar, pembersihan karang tidak akan merusak gigi. Yang tidak jarang terjadi
adalah gigi jadi ngilu karena bagian - bagian leher gigi yang tadinya tertutup
karang jadi terbuka. Gusi juga mungkin sedikit berdarah karena tepi gusi yang
tertutup karang memang lebih sensitif, tapi pendarahan akan berhenti setelah
karang gigi dibersihkan.
Pencegahan karang gigi :
1.
Menjaga kebersihan oral dengan cara menyikat gigi dua kali
sehari, dapat mencegah pembentukan plak pada permukaan email gigi.
2.
Bersihkan sisa-sisa makanan dari sela-sela gigi dengan
menggunakan benang gigi (dental floss) atau sikat interdental
3.
Perbanyak minum air putih
4.
Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung gula dan tepung.
5.
Melakukan pemeriksaan gigi secara berkala, 6 bulan sekali.
Sumber :
4. Sakit gusi
Ada dua jenis utama penyakit gusi: gingivitis dan
periodontitis.
Gingivitis Radang gusi
Pada radang gusi, gusi Anda menjadi
terganggu oleh plak - campuran makanan, bakteri dan produk-produk limbah
bakteri yang terbentuk pada gigi Anda setelah makan. Jika plak tidak
dibersihkan dari gigi Anda secara teratur, gusi Anda akan menjadi merah, bengkak dan mengkilat,
dan mereka. Jika plak dihapus, gusi akan sembuh. Jika
plak tidak dibersihkan dari gigi, gingivitis akan tetap, dan dapat berkembang
menjadi periodontitis.

The effects of gum disease Efek dari permen penyakit
Periodontitis
Jika tidak diobati gingivitis, gusi
mulai menarik diri dari gigi Anda, meninggalkan saku kecil di sekitar gigi.
Saku ini perangkap plak bahwa Anda tidak dapat mencapai dengan sikat gigi.
Seiring waktu, plak mengeras untuk tartar (kalkulus). Plak dan tartar membangun,
menyebabkan iritasi lebih lanjut.
Iiritasi ini secara bertahap menyebar
ke struktur tulang di sekitar gigi Anda. Dengan berjalannya waktu, mendapatkan
kantong lebih dalam dan lebih sulit dibersihkan, dan gusi dan tulang dapat
menyusut.. Hal ini disebut periodontitis. Gusi menyusut dapat mengekspos
beberapa akar gigi Anda, membuat mereka goyah dan sensitif.. Apabila tidak
diobati selama beberapa tahun, gigi Anda mungkin akan jatuh, atau harus diambiloleh dokter gigi.
Ini jarang mungkin untuk membuat
struktur tulang tumbuh kembali, sehingga kantong periodontal tidak reversibel.
Namun, jika Anda mendapatkan perawatan yang tepat dan pastikan Anda floss dan
sikat gigi Anda dengan baik, perkembangan penyakit ini dapat dihentikan.
Gejala penyakit gusi :
Anda mungkin tidak tahu bahwa anda
memiliki penyakit gusi. Terkadang itu tidak menyakitkan dan beberapa orang
dengan penyakit gusi tidak memiliki gejala. Ini adalah salah satu alasan
mengapa penting bahwa anda mengikuti pemeriksaan rutin dengan dokter gigi Anda,
sebagai dokter gigi Anda akan dapat melihat tanda-tanda awal penyakit gusi.
Biasanya tanda gingivitis pertama adalah pendarahan dari gusi saat Anda
menggosok gigi Anda.. gusi Anda mungkin juga merah dan bengkak. Jika gingivitis
telah berkembang menjadi periodontitis, gigi Anda mungkin goyah dan Anda
mungkin mendapatkan gusi abses (pengumpulan nanah di bawah gusi). Jika Anda
memiliki gejala- gejala tersebut, penyakit gusi Anda mungkin sudah cukup maju.
Anda akan melihat dokter gigi Anda segera.
Penyebab penyakit gusi :
. Penyakit gusi terjadi ketika plak
terbentuk di sekitar gigi yang tidak dibersihkan dengan sempurna.. Hal ini
lebih cenderung terjadi jika Anda menemukan kesulitan untuk membersihkan gigi
dengan baik, misalnya jika Anda memakai kawat gigi atau gigi palsu, atau
penyimpangan dalam gigi Anda bahwa Anda tidak dapat mencapai dengan sikat gigi.
Ada faktor lain yang dapat membuat
Anda lebih cenderung mendapatkan penyakit gusi. Ini termasuk:
·
merokok
·
diabetes
·
perubahan hormonal, misalnya selama kehamilan atau pubertas
Dalam semua kasus ini meskipun,
penyebab utama penyakit gusi adalah membangun plak.
Pencegahan penyakit gusi :
Mencegah penyakit gusi melibatkan
mengendalikan jumlah plak dan tartar yang terbentuk pada gigi Anda. Kunjungan
Reguler ke dokter gigi atau ahli kesehatan, menyikat gigi dan flossing gigi
Anda dengan benar dan berhenti merokok akan membantu untuk melakukan hal ini.
. Dokter gigi atau ahli kesehatan
dapat menunjukkan kepada Anda cara yang benar untuk kuas, benang dan menggunakan
sikat antar-gigi. sikat gigi antar-digunakan untuk menghilangkan plak dan
partikel makanan dari sela gigi dan di bawah garis gusi. Ini adalah daerah yang
sikat gigi tidak dapat mencapai.
. Bahkan menyeluruh menyikat gigi dan
flossing tidak dapat menghapus setiap jejak plak. Kebanyakan orang memiliki
penyimpangan dalam plak gigi mereka di mana bisa membangun di luar jangkauan
dan mengeras menjadi tartar. Hal ini hanya dapat dihapus oleh dokter gigi atau
ahli kesehatan selama scaling.
Sumber :
5. Xerostomia
Xerostomia adalah mulut kering
akibat produksi kelenjar ludah yang berkurang. Gangguan produksi kelenjar
ludah tersebut dapat diakibatkan oleh gangguan / penyakit pada pusat ludah, syaraf pembawa rangsang ludah
ataupun oleh perubahan komposisi faali elektrolit ludah. Gangguan tersebut
diatas dapat terjadi oleh karena rasa takut /
cemas, depresi,
tumor
otak, obat-obatan tertentu, penyakit kencing manis, penyakit ginjal dan
penyakit radang selaput otak.
Xerostomia yang berarti mulut kering
berasal dari kata xeros = kering dan stoma = mulut. Xerostomia merupakan
karakteristik klinis dari suatu keadaan berkurangnya produksi saliva. Produksi
saliva yang berkurang dapal menimbulkan gejala-gejala klinis, seperti : kering
dan pecah-pecah pada Iidah dan bibir; pipi kering; lidah berlapis; gingivitis;
kandidiasis; dan merah pada mukosa bibir, lidah dan pipi; adanya karies rampan.
Keadaan mulut yang kering dapat terlihat berupa kesulitan mengunyah dan
menelan, atau kesulitan dalam mempergunakan gigi timan. Pada pemakaian gigi
tiruan, saliva mernpunyai peranan yang penting, yaitu sebagai faktor retensi
dan faktor stabilisasi, Pada pasien yang menderita xerostomia akan lebih sulit
untuk memasang / memakai gigi timan penuh karena sedikitnya / tidak adanya
saliva yang membantu memberikan retensi, stabilisasi dan dukungan pada gigi
tiruan penuh tersebut
Sumber :
www.wikipedia.com
Merry Chritie
Ellora Lumban Toruan pada 13 Mei 2008
6. Sariawan
Sariawan merupakan bahasa awam untuk
berbagai macam lesi/benjolan yang timbul di rongga mulut. Namun biasanya jenis
sariawan yang sering timbul sehari-hari pada rongga mulut kita disebut (dalam
istilah kedokteran gigi) Stomatitis
Aftosa Rekuren (SAR)
Gejalanya berupa rasa sakit atau rasa
terbakar satu sampai dua hari yang kemudian bisa timbul luka (ulser) di rongga
mulut. Rasa sakit dan rasa panas pada sariawan ini membuat kita susah makan dan
minum. Sehingga kadang pasien dengan SAR datang ke dokter gigi dalam keadaan
lemas.
Ini sering menyerang siapa saja.
Tidak mengenal umur maupun jenis kelamin.Biasanya daerah yang paling sering
timbul SAR ini adalah di mukosa pipi bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah
serta di langit-langit.
Penyebabnya :
Sampai saat ini penyebab utama dari
SAR belum diketahui. Namun para ahli telah menduga banyak hal yang menjadi
penyebab timbulnya sariawan ini, diantaranya adalah :
1.
Defisiensi (kekurangan) vitamin B12 dan zat besi.
2.
Infeksi virus dan bakteri juga diduga sebagai pencetus
timbulnya SAR ini. Ada pula yang mengatakan bahwa sariawan merupakan reaksi
imunologik abnormal pada rongga mulut.
3.
Nah yang cukup sering terjadi pada kita, terutama warga kota
yang sibuk, adalah stress. Faktor psilkologis ini (stress) telah diselidiki berhubungan dengan timbulnya SAR.
Pencegahan :
Dengan mengetahui penyebabnya,
diharapkan kita dapat menghindari timbulnya sariawan ini, diantaranya dengan
menjaga kebersihan rongga mulut serta mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama
yang mengandung vitamin B12 dan zat besi. Juga selain itu, jangan lupa untuk
menghindari stress. Namun bila ternyata sariwan selalu hilang timbul, anda
dapat mencoba dengan kumur-kumur air garam hangat dan pergi ke dokter gigi
untuk meminta obat yang tepat untuk sariawannya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ada hubungan antara penyakit gigi dan mulut dengan gejala awal penyakit
yang berbahaya pada manusia. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran, kemauan dan
kemampuan untuk mewujudkan hidup sehat, termasuk kesehatan gigi dan mulut bagi
setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
B.
Saran
Alangkah baiknya menanamkan sejak kecil pada anak, tentang pentingnya
kesehatan gigi dan mulut beserta cara perawatan dan pemeliharaannya agar
nantinya bisa terhidar dari berbagai penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Bence, R. 1990. Buku Pedoman Endodontik Klinik. Terjemahan
dari Handbook of Clinical Endodontics. Sundoro, E.H. (Penterjemah). Jakarta: Universitas
Indonesia Press.
2.
Rahayu, Y.C. 2007. Infeksi Anaerob Dentofasial dan Nyeri
Orofasial. Jember: Laboratorium
Biologi Mulut FKG Universitas Jember.
3.
Sukandar, S.D. & Elisabeth, W. 1995. Efek Analgesik
Akupuntur pada Periodontitis
Apikalis Akuta. Cermin Dunia Kedokteran. 105:
5-10.
4.
Walton, R.E. & Torabinejad, M. 1997. Prinsip dan Praktik
Ilmu Endodonsi. Terjemahan dari
Principles and Practice of Endodontics. Narlan Sumawinata (Ed). Jakarta: EGC.
Komentar
Posting Komentar