MAKALAH STERILISASI KIMIAWI
MAKALAH
STERILISASI
KIMIAWI

DISUSUN OLEH :
GISKA INTAN FANDINI
NIM.1512402010
POLITEKNIK KESEHATAN
TANJUNGKARANG
JURUSAN DIII
KEPERAWATAN GIGI
TAHUN 2017
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul STERILISASI KIMIWI
Kami meyadari dalam penulisan makalah ini masih
banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kurang dan
lebihnya kami mohon maaf. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Banadar Lampung, Juli 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang............................................................................. 1
B.
Pembatasan Masalah.................................................................... 1
C.
Tujuan........................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Sterilisasi Kimiawi......................................................................... 2
B.
Ciri – Ciri Suatu Disinfektan Yang Ideal....................................... 4
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan................................................................................... 9
B.
Saran............................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sterilisasi adalah tindakan
yang dilakukan untuk mnghilangkan semua mikroorganisme termasuk endospora
bakeri dari benda - benda mati/instrumen.Sterilisasi dapat dilakukan
dalam beberapa cara salahsatunya dengan bahan kimia.Banyak zat kimia
dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme berkisar dari unsur logam berat
seperti perak dan tembaga sampai kepada molekul organik yang kompleks seperti
persenyawaan amonium kuartener. Berbagai substansi tersebut menunjukkan efek
anti mikrobialnya dalam berbagai cara dan terhadap berbagai macam
mikroorganisme. Efeknya terhadap permukaan benda atau bahan juga berbeda –
beda. Ada yang serasi dan ada yang bersifat merusak. Karena ini dan juga karena
variabel – variabel lain, maka perlu sekali diketahui terlebih dahulu perilaku
suatu bahan kimia sebelum digunakan untuk menerapkan praktis tertentu.
Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa kelas persenyawaan yang
digunakan untuk mengendalikan populasi mikrobe, menguraikan cara kerjanya,
serta menunjukkan penerapan praktisnya.
B. Pembatasan Masalah
Dalam makalah ini membahas hanya seputar
sifat, kegunaan dan cara dari bahan – bahan kimia yang sering
digunakan dalam sterilisasi.
C.
Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini diharapkan dapat :
1.
Menambah pengetahuan mahasiswa khususnya dalam melakukan
sterilisasisecara benar
2.
Mengetahui bahan kimia yang digunakan dalam sterilisasi
3. Mengaplikasikannya di dalam
masyarakat sebagai bentuk perlindungan infeksi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sterilisasi Kimiawi
Beribu –
ribu zat kimia untuk dipakai mengendalikan mikroorganisme. Penting sekali untuk
memahami ciri – ciri pembeda masing – masing zat ini dalam hal mikroorganisme
apa saja yang dapat dikendalikan serta bagaimana zat – zat tersebut dipengaruhi
oleh lingkungan pakainya. Setiap zat kimia mempunyai keterbatasan dalam
keefektifannya, bila digunakan dalam kondisi praktis, keterbatasan –
keterbatasan ini perlu diamati. Lagi pula, tujuan yang dikehendaki dalam
pengendalian mikroorganisme tidak selalu sama. Pada beberapa kasus mungkin
perlu mematikan semua mikroorganisme (sterilisasi). Sedangkan pada kasus lain
mungkin cukup mematikan sebagian besar mikroorganisme tetapi tidak semua
(sanitasi). Dengan demikian pemilihan suatu bahan kimia untuk penggunaan
praktis dipengaruhi juga oleh hasil antimikrobial yang diharapkan dari padanya.
Cara kerja
zat – zat kimia dalam menghambat atau mematikan mikroorganisme itu berbeda –
beda. Beberapa di antaranya mengubah struktur dinding sel atau membran sel dan
yang lain menghambat sintesis komponen – komponen selular yang vital atau yang
mengubah keadaan fisik bahan selular. Pengetahuan mengenai perilaku khusus
tentang bagaimana suatu zat kimia menghasilkan efek anti mikrobial itu sangat
berguna baik untuk mempertimbangkan kemungkinannya bagi penggunaan praktis
maupun untuk mengusulkan perbaikan – perbaikan apa yang mungkin dilakukan untuk
merancang bahan – bahan kimia baru.
Perkembangan
produk – produk baru kadang – kadang mengisyaratkan perkembangan metode –
metode baru untuk sterilisasinya. Misalnya, alat – alat kedokteran yang terbuat
dari plastik tidak dapat disterilkan dengan autoklaf tanpa merusaknya sehingga
dikembangkan peralatan komersial yang menggunakan etilenokside. Bahan – bahan
kimia baru masih terus – menerus disintesisi dan dievaluasi kemampuan
antimikrobialnya dengan harapan dapat menemukan bahan – bahan antimikrobe yang
lebih efektif.
Kelompok utama zat kimia yang
bersifat antimikrobial :
|
KELOMPOK UTAMA
|
MEKANISME KERJA
|
CIRI TAMBAHAN
|
PERSENYAWAAN SPESIFIK
|
KEGUNAAN YANG DIANJURKAN
|
KETERBATASAN
|
|
Fenol dan persenyawaan fenolik
|
Mendenaturasikan protein ;
Merusak membran sel
|
Turunannya (heksilreksorsinol) dan
menurunkan tegangan permukaan
|
Kresol (lebih germisidal daripada
fenol) ; heksilreksorsinol
|
Desinfektan umum
|
Keefektifan mikrobial terbatas,
mengakibatkan iritasi dan karat
|
|
Alkohol
|
Mendenaturasikan protein ;
Merusak membran sel ;
Sarana dehidrasi ;
Aksi deterjen
|
Makin banyak karbon dalam alkohol
membuatnya makin germisidal
|
Metil (sifat bakterisidal paling
kecil, paling beracun) ; etil (paling kurang beracun, digunakan dalam kosentrasi
50 – 70 %) ; propil butil, amil, dsb.
|
Antiseptik kulit. Pada konsentrasi
60 % mematikan virus bila tak ada bahan organik asing
|
Antiseptik
|
|
Halogen Iodium
|
Halogenasi tiroksin ;
Menginaktifkan enzim dan protein
|
Efektif terhadap bakteri dan spora
|
Iodium tinktur (dilarutkan
alkohol) ; iodofor (+zat aktif permukaan)
|
Disinfeksi kulit
|
Mengiritasi selaput lendir
|
|
Klor (dan persenyawaanya
|
Bergabung dengan protein membran
sel dan enzim
|
Klor digunakan untuk mendisinfeksi
air ; persenyawaan klor lebih mudah digunakan dan banyak aplikasinya.
|
Hipoklorit (sanitasi perabotan dan
peralatan) ; kloramil (oksidator)
|
Disinfeksi air
|
Diinaktifkan oleh bahan organik ;
keefektifannya bergantung pada Ph ; rasa dan bau tidak sedap kecuali bila
dibawah pengawasan ketat
|
|
Aldehide
|
Memecah ikatan hidrogen ;
Mendenaturasikan protein ;
|
Efektif terhadap semua
mikroorganisme kecuali spora bakteri
|
Glutaraldehide
|
Mensterilkan perkakas fumigasi
|
Kestabilan terbatas, tidak
sporisidal
|
|
Fermaldehide ; larutan formalin
|
Mensterilkan peralatan ; fumigasi
; pengawetan jaringan
|
Daya rembes kurang ; menimbulkan
karat
|
|||
|
Komosterilisator gas
|
Etilenokside mengakilasi senyawa
organik ;
Menginaktifkan enzim
|
Mematikan semua bentuk kehidupan
|
Etilenokside
|
Mensterilkan benda peka panas,
perkakas, peralatan besar dan kasur
|
Mudah terbakar ; dapat meledak
dalam bentuk murni ; bekerja lambat
|
|
Persenyawaan amonium kuarterner
(deterjen kationik)
|
Mendenaturasikan protein ;
Merusak membran sel
|
Lebih germisidal daripada deterjen
lain ; kebanyakan bakterisida terhadap bakteri gram positif fungisidal
|
Setilpiridinium kloride ;
zephiran, phemerol
|
Disinfeksi kulit, sanitiser
|
Tidak sporosidal
|
B. Ciri – Ciri Suatu Disinfektan Yang Ideal
Tidak ada satupun zat kimia yang terbaik
bagi semua tujuan.
-
Aktivitas antimicrobial
Memiliki aktivitas antimikrobial dengan spektrum luas
-
Kelarutan
-
Dapat larut
-
Stabilitas
-
Tidak bersifat racun bagi manusia maupun hewan lain.
-
Keserbasamaan (homogeneity)
-
Tidak bergabung dengan bahan organik
-
Aktivitas antimikrobial pada suhu kamar atau suhu tubuh
-
Kemampuan untuk menembus
-
Tidak menimbulkan karat dan warna
-
Kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap
-
Berkemampuan sebagai detergen
-
Ketersediaan dan biaya
Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam memilih bahan antimikrobial kimiawi dengan tujuan praktis:
-
Sifat bahan yang akan diberi perlakuan
-
Tipe mikroorganisme
-
Keadaan lingkungan.
Menurut Lay dan Hastowo (1992), bahan yang menjadi rusak
bila disterilkan pada suhu yang tinggi dapat disterilkan secara kimiawi dengan
menggunakan gas. Bahan kimia yang sering digunakan antara lain :
1) Alkohol
-
Daya kerjanya adalah mengkoagulasi protein
-
Cairan alkohol yang umum digunakan berkonsentrasi 70-80 %
karena konsentrasi yang lebih tinggi atau lebih rendah kurang efektif.
2) Khlor
-
Gas khlor dengan air akan menghasilkan ion hipokloride yang
akan mengkoagulasikan protein sehingga membran sel rusak dan terjadi inaktivasi
enzim.
3) Yodium
-
Daya kerjanya adalah bereaksi dengan tyrosin,
suatu asam amino dalam emzim atau protein mikroorganisme.
-
Antiseptik berbasis iodium tidak tepat bila digunakan pada
sterilisasi alat medis atau gigi, karena dapat meninggalkan noda.
4) Formaldehida 8 %
-
Merupakan konsentrasi yang cukup ampuh untuk
mematikan sebagian besar mikroorganisme.
-
Daya kerjanya adalah berkaitan dengan amino dalam protein
mikrobia.
-
Bahan ini bekerja secara lambat dan memerlukan tingkat
kelembaban relative sekitar 70%.
-
Formaldehide biasa dijual dalam bentuk polimer padat
paraformaldehide dalam bentuk flakes atau tablet atau dalam bentuk formalin.
5) Glutaraldehide
-
Bahan ini bersifat non korosif dan bekerja lebih
cepat daripada formaldehid, hanya diperlukan beberapa jam untuk membunuh
bakteri.
-
Bahan ini aktif melawan bakteri vegetatif, spora, jamur,
virus yang mengandung lipid maupun yang tidak.
6) Gas etilen oksida
-
Gas ini digunakan terutama untuk mensterilkan
bahan yang dibuat dari plastik.
7) Natrium diklorososianurat
-
Bahan ini berbentuk bubuk, berisi 60% klor.
-
Diterapkan pada tumpahan darah atau cairan yang bersifat
memiliki bahaya biologi lain selama 10 menit baru kemudian dilanjutkan dengan
pembersihan yang lebih lanjut.
8) Kloramina
-
Bahan ini berbentuk serbuk berisi 25% klor, dan
hamper tidak berbau.
-
Bahan ini dapat digunakan untuk membasmi kuman air pada
minuman.
-
Ketika digunakan pada konsentrasi akhir dengan hanya
mengandung 1-2 mg/L klor.
9) Klor dioksida
-
Bahan ini adalah sebuah germisida kuat dan
bekerja secara cepat.
-
Bahan aktif ini didapat dengan cara mereaksikan asam klorida
dengan natrium hipoklorit.
10) Senyawa fenolik
-
Senyawa ini aktif melawan bakteri vegetatif dan
virus lipid, namun tidak aktif dalam melawan spora.
-
Senyawa ini biasanya berupa Triklosan dan Klorosilenol yang
biasa digunakan sebagai antiseptik.
11) Senyawa Amonium Kuartener
-
Banyak digunakan sebagai campuran dan juga
dikombinasikan dengan germisida lain, seperti alkohol.
12) Hidrogen peroksida dan peracis
-
Merupakan oksidan kuat dan germisida efektif yang
berspektrum luas.
-
Bahan ini dinilai lebih aman bagi manusia dan lingkunagn
daripada klor.
Kelompok – kelompok utama bahan
antimikrobial kimiawi :
1.
Fenol dan persenyawaan fenolat
Fenol (asam karbolat), yang digunakan untuk pertama kalinya
oleh Lister sekitar tahun 1860 – an di dalam pekerjaannya untuk mengembangkan
teknik – teknik pembedahan aseptik, telah lama merupakan standar pembanding
bagi desinfektan lain untuk mengevaluasi aktivitas bakterisidanya. Pada masa
kini telah tersedia banyak desinfektan lain jauh.
2.
Alkohol
Sterilisasi dengan bahan kimia digunakan alkohol 70 %.
Menurut Gupte (1990), etil alkohol sangan efektif pada kadar 70 % daripada 100
% dan ini tidak membunuh spora. Sterilisasi dengan alkohol dilakukan pada
proses pembuatan kultur stok dan teknik isolasi. Alkohol 70 % disemprotkan pada
tangan praktikan dan alat-alat seperti makropipet dan mikropipet. Menurut Volk
dan Wheeler (1988), alkohol bila digunakan pada kulit kontaknya terlalu pendek
untuk menimbulkan banyak efek germisida dan alkohol segera menguap karena
sifatnya mudah menguap. Namun alkohol dapat menyingkirkan minyak, partikel
debu, dan bakteri. Menurut Gupte (1990), alkohol 70 % dapat menyebabkan
denaturasi protein dan koagulaasi.
3.
Halogen
4.
Logam berat dan persenyawaannya
5.
Deterjen
6.
Aldehide
7.
Kemosterilisator gas
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masing-masing
bahan disinfektan tersebut mempunyai karakteristik sendiri dan tidak dapat
saling mengganti satu sama lain. Karakteristik disinfektan yang ideal yaitu
bersprektum luas, membunuh kuman secara cepat, tidak dipengaruhi faktor
lingkungan, tidak toksik, tidak korosif atau merusak bahan, tidak berbau, mudah
pemakaiaanya, ekonomis, larut dalam air, dan mempunyai efek pembersih.
Sterilisasi dengan kimiawi dapat dilakukan dengan bahan klor, alkohol, yodium,
formaldehida 8 %, glutaraldehide dan lain – lain.
B. Saran
Sebelum melakukan sterilisasi dengan
kimiawi perlu dikaji terlebih dahulu benda yang akan di sterilisasi. Setelah
itu pilih bahan yang efektif sesuai dengan tujuan sterilisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Pelczar,M.J,
E.C.S. Chan. 1988. “Dasar – Dasar Mikrobiologi”. Jilid 2. Jakarta : Universitas
Indonesia (UI- Press).
Anonim,
1995 Farmakope Indonesia, IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia,Jakarta.
Fardiaz,
Srikandi. 1992. ikrobiologi Pangan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. PAU
Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor.
Lay, B. W. dan Hastowo.
1982.Mikrobiologi. Rajawali Press Jakarta.
Hadioetomo, R.S. 1985. Mikrobiologi
Dasar dalam Praktek. PT.Gramedia.Jakarta.
Volk, W.A.
dan Wheeler, M.F. 1988. Mikrobiologi Dasar. Penerbit Erlangga. Jakarta
![]() |

Komentar
Posting Komentar