MAKALAH SANITASI LINGKUNGAN
MAKALAH
SANITASI LINGKUNGAN

DISUSUN OLEH :
ANDIKA AFRI DERMAWAN
16133553046
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur atas kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rakhmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini penulis
banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak oleh karena
itu kami menyampaikan rasa hormatdan terikakasih kepada
Teman-teman yang memberikan dukungan penyelesaian makalah
ini.
Kami menyadari,bahwa makalah ini
masih banya kekurangan maka dari itu kami mengharapkan kritik dan
saran dari anda sekalian demi menambah sempurnanya makalah ini semoga makalah
ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi kami semua.
Bandar Lampung, Desember
2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL....................................................................................... i
KATA
PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................... 3
1.3 Tujuan....................................................................................................... 3
1.4 Manfaat..................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan...................................... 4
2.2 Masalah-Masalah Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi........................... 8
2.3 Solusi Menangani masalah Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan.......... 10
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpuan ............................................................................................. 18
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah kesehatan adalah suatu
masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dengan masalah-masalah lain
di luar kesehatan itu sendiri. Demikian pula pemecahan masalah kesehatan
masyarakat, tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya sendiri tetapi harus
dilihat dari seluruh segi yang ada pengaruhnya terhadap masalah
"sehat-sakit" atau kesehatan tersebut.
Sebelum lebih jauh membahas mengenai
kesehatan lingkungan marilah kita bahas lebih dulu pengertian dari kesehatan
lingkungan. Menurut Walter R. Lym kesehatan lingkungan adalah hubungan timbal
balik antara manusia dengan lingkungan yang berakibat atau mempengaruhi derajat
kesehatan manusia. Sedangkan menurut WHO kesehatan lingkungan adalah ilmu dan
keterampilan yang memusatkan perhatiannya pada usaha pengendalian semua faktor
yang ada pada lingkungan fisik manusia yang diperkirakan menimbulkan atau akan
menimbulkan hal-hal yang merugikan perkembangan fisiknya, kesehatannya ataupun
kelangsungan hidupnya. Jadi Ilmu Kesehatan Lingkungan berkisar pada usaha
manusia mengelola lingkungan sedemikian rupa, sehingga derajat kesehatan
manusia dapat lebih ditingkatkan.
Banyak faktor yang mempengaruhi
kesehatan, baik kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat. Untuk hal ini
Hendrik L. Blum menggambarkan adanya empat faktor yang mempengaruhi kesehatan,
yaitu: keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayan kesehatan. Keempat faktor
tersebut disamping berpengaruh langsung kepada kesehatan, juga saling
berpengaruh satu sama lainnya. Status kesehatan akan tercapai secara optimal
bilamana keempat faktor tersebut secara bersama-sama mempunyai kondisi yang
optimal pula. Salah satu faktor saja berada dalam keadaan yang terganggu (tidak
optimal) maka status kesehatan akan tergeser ke arah dibawah optimal.
Kesehatan lingkungan pada hakekatnya
adalah suatu kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh
positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup
kesehatan lingkungan tersebut antara lain mencakup perumahan, pembuangan kotoran
manusia (tinja), penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor
(air limbah), rumah hewan ternak (kandang) dan sebagainya.
Dengan kata lain dapat disimpulkan
bahwa kesehatan lingkungan adalah Ilmu yang merupakan cabang dari ilmu
kesehatan masyarakat yang lebih menitikberatkan perhatiarnnya pada perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, pengkoordinasian dan penilaian dari
semua faktor yang ada pada lingkungan fisik manusia yang diperkirakan ada
hubungan atau berhubungan dengan perkembangan fisik, kesehatan ataupun
kelangsungan hidup manusia, sedemikian rupa sehingga derajat kesehatan dapat
lebih ditingkatkan.
Adapun yang dimaksud dengan usaha
kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan
lingkungan hidup manusia agar merupakan media yang baik untuk terwujudnya
kesehatan optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya. Usaha memperbaiki atau
meningkatkan kondisi lingkungan ini dari masa ke masa dan dari masyarakat satu
ke masyarakat yang lain bervariasi dan bertingkat-tingkat, dari yang paling
sederhana (primitif) sampai kepada yang paling mutakhir (modern). Dengan
perkataan lain bahwa teknologi di bidang kesehatan lingkungan sangat
bervariasi, dari teknologi primitif, teknologi menengah (teknologi tepat guna)
sampai dengan teknologi mutakhir.
Ruang lingkup kesehatan lingkungan
tersebut antara lain mencakup perumahan, pembuangan kotoran manusia (tinja),
penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air kotor (air limbah),
rumah hewan ternak (kandang) dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan usaha
kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan
lingkungan hidup manusia agar merupakan media yang baik untuk terwujudnya
kesehatan optimum bagi manusia yang hidup di dalamnya. Usaha memperbaiki
atau meningkatkan kondisi lingkungan ini dari masa ke masa dan dari masyarakat
satu ke masyarakat yang lain bervariasi dan bertingkat-tingkat, dari yang
paling sederhana (primitif) sampai kepada yang paling mutakhir (modern). Dengan
perkataan lain bahwa teknologi di bidang kesehatan lingkungan sangat
bervariasi, dari teknologi primitif, teknologi menengah (teknologi tepat guna)
sampai dengan teknologi mutakhir.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah
pengertian sanitasi dan kesehatan lingkungan?
2. Apakah
masalah-masalah kesehatan lingkungan yang dihadapi masyarakat?
3. Bagaimanakah
solusi untuk menangani masalah-masalah kesehatan lingkungan yang dialami
masyarakat?
1.3 Tujuan
Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:
1.
Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Pendidikan Lingkungan Hidup.
2.
Untuk menambah pengetahuan tentang
sanitasi dan kesehatan lingkungan, mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah
kesehatan masyarakat.
1.4 Manfaat
Manfaat yang
diperoleh dari makalah ini adalah:
1. Mahasiswa
dapat menambah pengetahuan tentang sanitasi dan kesehatan lingkungan.
2. Mahasiswa
dapat mengetahui bagaimana cara mengatasi masalah lingkungan, dan prosedur apa
saja yang digunakan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan
Sanitasi
merupakan salah satu komponen dari kesehatan lingkungan, yaitu perilaku yang
disengaja untuk membudayakan hidup bersih untuk mencegah manusia bersentuh
langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya, dengan harapan
dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
Kesehatan
lingkungan di Indonesia masih memprihatinkan. Belum optimalnya sanitasi
di Indonesia ini ditandai dengan masih tingginya angka kejadian penyakit
infeksi dan penyakit menular di masyarakat. Pada saat negara lain pola penyakit
sudah bergeser menjadi penyakit degeneratif, Indonesia masih direpotkan oleh
kasus demam berdarah, Diare, Kusta, serta Hepatitis A yang seakan tidak
ada habisnya.
Kondisi
sanitasi di Indonesia memang tertinggal cukup jauh dari Negara-negara
tetangga. Dengan Vietnam saja Indonesia hampir disalip, apalagi
dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang memiliki komitmen tinggi
terhadap kesehatan lingkungan di negaranya. Jakarta hanya menduduki
posisi nomor 2 dari bawah setelah Laos dalam pencapaian cakupan sanitasinya.
Sanitasi
sangat menentukan keberhasilan dari paradigma pembangunan kesehatan lingkungan
lima tahun ke depan yang lebih menekankan pada aspek pencegahan dari aspek
pengobatan. Dengan adanya upaya pencegahan yang baik, angka kejadian
penyakit yang terkait dengan kondisi lingkungan dapat di cegah. Selain
itu anggaran yang diperlukan untuk preventif juga relative lebih terjangkau
daripada melakukan upaya pengobatan.Macam-macam sanitasi:
1. Saniatsi Uap
Sanitasi uap
menggunakan uap mengalir 76,7oC selama 15 menit atau 93,3oC
selama 5 menit. Sanitasi uap dapat dilakukan untuk sanitasi bahan dan peralatan
misalnya dengan menggunakan Autoklaf.
2. Sanitasi Air
Panas
Sanitasi ini dilakukan dengan
merendam alat atau bahan dalam air panas (peralatan kecil seperti pisau,
piring, wadah yang berukuran kecil), dengan menggunakan suhu diatas 80oC
(bukan dengan cara menuang air panas/membilas karena tidak efektif). Efek yang ditimbulkan karena denaturasi molekul protein sel mikroba.
3. Sanitasi
Udara Panas
Sanitasi ini
menggunakan suhu panas 82,2oC selama 20 menit. Sanitasi ini biasanya
digunakan untuk sterilisasi alat (Sterilisasi kering) yaitu dengan menggunakan
oven.
4. Sanitasi
Radiasi
Sanitasi ini
yaitu dengan pemanfaatan sinar UV atau sinar γ dengan panjang gelombang 2500 A, dimana harus berkontak dengan
mikroba minimal 2 menit.
5. Sanitasi
Kimia
Sanitasi kimia yaitu menggunakan
bahan kimia untuk membunuh mikroba. Umumnya dikelompokkan ke dalam golongan
aldehid atau golongan pereduksi, yaitu bahan kimia yang mengandung gugus - COH;
golongan alkohol, yaitu senyawa kimia yang mengandung gugus -OH; golongan
halogen atau senyawa terhalogenasi, yaitu senyawa kimia golongan halogen atau
yang mengandung gugus - X; golongan fenol, golongan garam amonium, golongan
pengoksidasi, dan golongan biguanida.
Efektifitas
sanitasi kimia dipengaruhi oleh :
a. Waktu kontak
(minimum 2 menit)
b. Suhu optimum (21,1-37,8Oc), jika lebih tinggi maka akan menguap (yodium)
dan bersifat korosif (klorin), dan jika lebih rendah maka tidak efektif.
c. pH optimum 6-7, tidak efektif pada pH yang basa.
d. Kebersihan
alat
e. Kesadahan
air (mempengaruhi pH, air sadah bersifat basa dan bersifat korosif.
f.
Kontaminasi
agen lain (misalnya deterjen)
6. Untuk produk pangan segar, pencucian dapat menurunkan potensi bahaya akibat
mikroorganisme. Pencucian atau pembilasan sayuran dapat menghilangkan kotoran
dan kontaminan lainnya. Pencucian dapat dilakukan dengan air, deterjen, larutan
bakterisidal seperti klorin dan lain-lain.
Kesehatan Lingkungan
Ada beberapa definisi dari kesehatan
lingkungan :
Ø Menurut WHO (World Health Organization), kesehatan lingkungan adalah suatu
keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat
menjamin keadaan sehat dari manusia.
Ø Menurut HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) kesehatan
lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan
ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung
tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.
Ø Menurut
Walter R. Lym kesehatan lingkungan adalah hubungan timbal balik antara manusia
dengan lingkungan yang berakibat atau mempengaruhi derajat kesehatan manusia.
Ø Jadi Ilmu
Kesehatan Lingkungan berkisar pada usaha manusia mengelola lingkungan
sedemikian rupa, sehingga derajat kesehatan manusia dapat lebih ditingkatkan.
Ruang lingkup
kesehatan masyarakat
Menurut World Health
Organization (WHO) ada 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan, yaitu :
1. Penyediaan Air Minum
2. Pengelolaan air Buangan dan pengendalian pencemaran
3. Pembuangan Sampah Padat
4. Pengendalian Vektor
5. Pencegahan/pengendalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
6. Higiene makanan, termasuk higiene susu
7. Pengendalian pencemaran udara
8. Pengendalian radiasi
9. Kesehatan kerja
10. Pengendalian kebisingan
11. Perumahan dan pemukiman
12. Aspek kesling dan transportasi udara
13. Perencanaan daerah dan perkotaan
14. Pencegahan kecelakaan
15. Rekreasi umum dan pariwisata
16. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi/wabah,
bencana alam dan perpindahan penduduk
17. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan.
Di Indonesia, ruang lingkup kesehatan
lingkungan diterangkan dalam Pasal 22 ayat (3) UU No 23 tahun 1992 ruang
lingkup kesling ada 8, yaitu :
1. Penyehatan Air dan Udara
2. Pengamanan Limbah padat/sampah
3. Pengamanan Limbah cair
4. Pengamanan limbah gas
5. Pengamanan radiasi
6. Pengamanan kebisingan
7. Pengamanan vektor penyakit
8. Penyehatan dan pengamanan lainnya, sepeti keadaan pasca bencana
Sasaran Kesehatan
Lingkungan
Menurut Pasal 22 ayat (2) UU 23/1992,
Sasaran dari pelaksanaan kesehatan lingkungan adalah sebagai berikut :
1. Tempat umum : hotel, terminal, pasar, pertokoan, dan usaha-usaha yang
sejenis
2. Lingkungan pemukiman : rumah tinggal, asrama/yang sejenis
3. Lingkungan kerja : perkantoran, kawasan industri/yang sejenis
4. Angkutan umum : kendaraan darat, laut dan udara yang digunakan untuk umum
5. Lingkungan lainnya : misalnya yang bersifat khusus seperti lingkungan yang
berada dlm keadaan darurat, bencana perpindahan penduduk secara besar2an,
reaktor/tempat yang bersifat khusus.
2.2 Masalah-Masalah
Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi
Masalah Kesehatan lingkungan merupakan masalah kompleks yang untuk
mengatasinya dibutuhkan integrasi dari berbagai sector terkait. Di Indonesia
permasalah dalam kesehatan lingkungan antara lain :
1.
Air Bersih
Air bersih adalah
air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat
kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.Air bersih
banyak hubungannya dengan persampahan, pengelolaan sampah yang setiap hari
diproduksi oleh masyarakat serta pembuangan air limbah yang langsung dialirkan
pada saluran sungai.Hal tersebut menyebabkan pandangkalan saluran/sungai,
tersumbatnya saluransungai karena sampah. Pada saat musim penghujan selalu
terjadi banjir dan menimbulkan penyakit. Beberapa penyakit yang ditimbulkan
oleh sanitasi yang kurang baik serta pembuangan sampah dan air limbah yang
kurang baik diantaranya adalah:
a.
Diare
b.
Demam berdarah
c.
Disentri
d.
Hepatitis A
e.
Kolera
f.
Tiphus
g.
Cacingan dan Malaria
2.
Kesehatan Pemukiman
Sebenarnya penduduk dalam suatu
negara merupakan suatu potensi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan negara
itu sendiri sebagai pelaksana sekaligus objek dari pembangunan. Namun apabila
jumlahnya terlampau banyak dan di sisi lain kualitas SDM (Sumber Daya Manusia)
itu sendiri tidak memadai untuk menjadi pelaksana pembangunan, maka hal ini
akan menjadi masalah karena penduduk hanya menjadi objek pembangunan bukan
pelaksana. Sehingga negara harus bekerja lebih untuk menanggung kehidupan dari
penduduknya agar setidaknya dapat merasakan kehidupan yang layak. Namun
faktanya masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dalam kondisi yang sangat
memprihatinkan. Kepadatan penduduk yang terjadi di Indonesia mengakibatkan
terbatasnya lahan untuk tempat tinggal sehingga hal ini memaksa masyarakat
untuk membentuk suatu pemukiman kumuh. Tentu saja kondisi ini menyebabkan sulitnya penduduk untuk memperoleh fasilitas
kehidupan yang layak.
3.
Sampah
Pertumbuhan ekonomi di Indonesia
telah meningkatkan taraf kehidupan penduduknya. Peningkatan pendapatan di
negara ini ditunjukkan dengan pertumbuhan kegiatan produksi dan konsumsi.
Pertumbuhan ini juga membawa pada penggunaan sumber semula jadi yang lebih
besar dan pengeksploitasian lingkungan untuk keperluan industri, bisnis dan
aktivitas sosial. Di bandar-bandar negara dunia ketiga, pengurusan sampah
sering mengalami masalah. Pembuangan sampah yang tidak diurus dengan baik, akan
mengakibatkan masalah besar. Karena penumpukan sampah atau membuangnya
sembarangan ke kawasan terbuka akan mengakibatkan pencemaran tanah yang juga
akan berdampak ke saluran air tanah. Demikian juga pembakaran sampah akan
mengakibatkan pencemaran udara, pembuangan sampah ke sungai akan mengakibatkan
pencemaran air, tersumbatnya saluran air dan banjir (Sicular 1989). Selain itu,
Eksploitasi lingkungan adalah menjadi isu yang berkaitan dengan pengurusan
terutama sekitar kota. Masalah sampah sudah saatnya dilihat dari konteks
nasional. Kesukaran untuk mencari lokasi landfill sampah, perhatian terhadap
lingkungan, dan kesehatan telah menjadi isu utama pengurusan negara dan sudah
saatnya dilakukan pengurangan jumlah sampah, air sisa, serta peningkatan
kegiatan dalam menangani sampah
4.
Serangga dan
Binatang Pengganggu
Serangga sebagai
reservoir (habitat dan suvival) bibit penyakit yang kemudian
disebut sebagai vektor misalnya : pinjal tikus untuk penyakit pes/sampar,
Nyamuk Anopheles sp untuk penyakit Malaria, Nyamuk Aedes sp untuk Demam
Berdarah Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp untuk Penyakit Kaki Gajah/Filariasis
5.
Tempat Umum dan Pengolahan Makanan
(TUPM)
Makanan termasuk minuman, merupakan
kebutuhan pokok dan sumber utama bagi kehidupan manusia, namun makanan yang
tidak dikelola dengan baik justru akan menjadi media yang sangat efektif
didalam penularan penyakit saluran pencernaan (Food Borne Deseases). Terjadinya
peristiwa keracunan dan penularan penyakit akut yang sering membawa kematian
banyak bersumber dari makanan yang berasal dari tempat pengolahan makanan (TPM)
khususnya jasaboga, rumah makan dan makanan jajanan yang pengelolaannya tidak
memenuhi syarat kesehatan atau sanitasi lingkungan. Sehingga upaya pengawasan terhadap sanitasi
makanan amat penting untuk menjaga kesehatan konsumen atau masyarakat.
2.3 Solusi Menangani
masalah Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan
1.
Fasilitas Air Sehat
Agar air minum tidak menyebabkan penyakit maka air
tersebut hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan,
setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat harus
mempunyai persyaratan sebagai berikut :
Ø Syarat Fisik
Persyaratan fisik untuk air minum
yang sehat adalah bening (tak berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara
diluarnya sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang memenuhi
persyaratan fisik ini tidak sukar.
Ø Syarat
Bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat
harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk
mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan
memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat
kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut sudah memenuhi syarat
kesehatan.
Ø Syarat Kimia
Air minum yang sehat harus
mengandung zat-zat tertentu didalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau
kelebihan salah satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis
pada manusia. Bahan-bahan atau zat kimia yang terdapat dalam air yang ideal
antara lain sebagai berikut :
Sesuai dengan prinsip teknologi
tepat guna di pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur
dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi ketiga
persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh kotoran-kotoran
terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh karena itu mata air atau sumur yang
ada di pedesaan harus mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak
dicemari oleh penduduk yang menggunakan air tersebut.
Sumber-Sumber Air Minum
Pada prinsipnya semua air dapat diproses menjadi air
minum. Sumber-sumber air ini, sebagai berikut :
1. Air Hujan
Air hujan dapat ditampung kemudian
dijadikan air minum. Tetapi air hujan ini tidak mengandung kalsium. Oleh karena
itu agar dapat dijadikan air minum yang sehat perlu ditambahkan kalsium
didalamnya.
2. Air Sungai
dan Danau
Menurut asalnya sebagian dari air
sungai dan air danau ini juga dari air hujan yang mengalir melalui
saluran-saluran ke dalam sungai atau danau ini. Kedua sumber air ini sering juga
disebut air permukaan. Oleh karena air sungai dan danau ini sudah
terkontaminasi atau tercemar oleh berbagai macam kotoran maka bila akan
dijadikan air minum harus diolah terlebih dahulu.
3. Mata Air
Air yang keluar dari mata air ini
berasal dari air tanah yang muncul secara alamiah. Oleh karena itu air dari
mata air ini bila belum tercemar oleh kotoran sudah dapat dijadikan air minum
langsung. Tetapi karena kita belum yakin apakah betul belum tercemar maka
alangkah baiknya air tersebut direbus dahulu sebelum diminum.
4. Air Sumur
Dangkal
Air ini keluar dari dalam tanah maka
juga disebut air tanah. Air berasal dari lapisan air didalam tanah yang
dangkal. Dalamnya lapisan air ini dari permukaan tanah dari tempat yang satu ke
yang lain berbeda-beda. Biasanya berkisar antara 5 sampai dengan 15 meter dari
permukaan tanah. Air sumur pompa dangkal ini belum begitu sehat karena
kontaminasi kotoran dari permukaan tanah masih ada. Oleh karena itu perlu
direbus dahulu sebelum diminum.
5. Air Sumur
Dalam
Air ini berasal dari lapisan air
kedua didalam tanah. Dalamnya dari permukaan tanah biasanya diatas 15 meter.
Oleh karena itu sebagaian besar air sumur dalam ini sudah cukup sehat untuk
dijadikan air minum yang langsung (tanpa melalui proses pengolahan).
Pengolahan Air Minum Secara
Sederhana
Seperti telah disebutkan didalam uraian terdahulu
bahwa air minum yang sehat harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu.
Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak
terlindung (protected) sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi
persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu.
Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain
sebagai berikut :
1. Pengolahan
Secara Alamiah
Pengolahan ini dilakukan dalam
bentuk penyimpanan (storage) dari air yang diperoleh dari berbagai macam
sumber, seperti air danau, air kali, air sumur dan sebagainya. Didalam
penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya. Kemudian akan
terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk
endapan.
Air akan menjadi jernih karena
partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap.
2. Pengolahan
Air dengan Menyaring
Penyaringan air secara sederhana
dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Lebih lanjut akan diuraikan
kemudian. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM
(Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.
3. Pengolahan
Air dengan Menambahkan Zat Kimia
Zat kimia yang digunakan dapat
berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya
mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi
untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya
chlor).
4. Pengolahan
Air dengan Mengalirkan Udara
Tujuan utamanya adalah untuk
menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak
diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.
5. Pengolahan
Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih
Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman
yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi
kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya,
pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni :
a. Pengolahan
Air Minum untuk Umum
1)
Penampungan Air Hujan
Air hujan
dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan
partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut
melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa
atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat ditampung dengan bak-bak
ferosemen dan disekitarnya dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di
sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk
umum. Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan
tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban
keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut.
2) Pengolahan
Air Sungai
Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I
melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel
besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir,
kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini
dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil
penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan
diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu.
3) Pengolahan
Mata Air
Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu
dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh
kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui
pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber
yang sudah terlindungi tersebut.
b. Pengolahan
Air Untuk Rumah Tangga
1) Air Sumur
Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah
cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan
masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat
pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali.
Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh
kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut :
-
Harus ada bibir sumur agar bila
musim hujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke dalamnya.
-
Pada bagian atas kurang lebih 3 m
dari permukaan tanah harus ditembok, agar air dari atas
tidak dapat mengotori air sumur.
-
Perlu diberi lapisan kerikil di
bagian bawah sumur tersebut untuk mengurangi kekeruhan.
Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat
dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat
(tawas). Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan
menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.
2) Air Hujan
Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan
melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan
air hujan dari atapnya masing-masing melalui aliran talang. Pada musim hujan
hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi
masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang
lebih besar agar mempunyai tandon (storage) untuk musim kemarau.
2.
Pemukiman
Secara umum rumah
dapat dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Memenuhi kebutuhan fisiologis, yaitu : pencahayaan, penghawaan dan ruang
gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu
b. Memenuhi kebutuhan psikologis, yaitu : privasi yang cukup, komunikasi yang
sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah
c. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antarpenghuni rumah
dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga, bebas
vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan, cukup sinar
matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran, disamping
pencahayaan dan penghawaan yang cukup
d. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul
karena keadaan luar maupun dalam rumah antara lain persyaratan garis sempadan
jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar, dan tidak
cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.
3.
Sampah
Teknik pengelolaan
sampah yang baik dan benar harus memperhatikan faktor-faktor unsur, berikut:
1) Penimbunan sampah. Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah adalah
jumlah penduduk dan kepadatannya, tingkat aktivitas, pola kehidupan/tk sosial
ekonomi, letak geografis, iklim, musim, dan kemajuan teknologi
2) Penyimpanan sampah
3) Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali
4) Pengangkutan
5) Pembuangan
Dengan mengetahui
unsur-unsur pengelolaan sampah, kita dapat mengetahui hubungan dan urgensinya
masing-masing unsur tersebut agar kita dapat memecahkan masalah-masalah ini
secara efisien.
4.
Serangga
Penanggulangan/pencegahan
dari penyakit tersebut diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan
makanan dengan rat proff (rapat tikus), Kelambu yang
dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan Nyamuk Anopheles sp, Gerakan
3 M (menguras mengubur dan menutup) tempat penampungan air untuk mencegah
penyakit DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin di rumah atau dengan pestisida
untuk mencegah penyakit kaki gajah dan usaha-usaha sanitasi.
Binatang pengganggu
yang dapat menularkan penyakit misalnya anjing dapat menularkan penyakit rabies/anjing
gila. Kecoa dan lalat dapat menjadi perantara perpindahan bibit penyakit ke
makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat menyebabkan Leptospirosis dari
kencing yang dikeluarkannya yang telah terinfeksi bakteri penyebab.
5.
Tempat Umum dan Pengolahan Makanan
(TUPM)
Agar kesehatan masyarakat selalu
terjaga perlu digalakkan gerakan hidup bersih dan sehat. Pola hidup bersih dan
sehat dapat diartikan sebagai hidup di lingkungan yang memiliki standar
kebersihan dan kesehatan serta menjalankan pola/perilaku hidup bersih dan
sehat. Lingkungan yang sehat dapat memberikan efek terhadap kualitas kesehatan.
Kesehatan seseorang akan menjadi baik jika lingkungan yang ada di sekitarnya
juga baik. Begitu juga sebaliknya, kesehatan seseorang akan menjadi buruk jika
lingkungan yang ada di sekitarnya kurang baik. Dalam penerapan hidup bersih dan
sehat dapat dimulai dengan mewujudkan lingkungan yang sehat. Lingkungan yang
sehat memiliki ciri-ciri tempat tinggal (rumah) dan lingkungan sekitar rumah
yang sehat
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berbagai masalah kesehatan
lingkungan yang sering dihadapi masalah dimanapun,seperti masalah:
1. Sanitasi
2. Masalah
Pemukiman
3. Sampah
4. Serangga
5. TUPM
Adalah masalah yang dapat
ditanggulangi apabila masyarakat sadar dan mau melakukan pola hidup bersih dan
sehat.
Agar kesehatan masyarakat selalu terjaga perlu
digalakkan gerakan hidup bersih dan sehat. Pola hidup bersih dan sehat dapat
diartikan sebagai hidup di lingkungan yang memiliki standar kebersihan dan
kesehatan serta menjalankan pola/perilaku hidup bersih dan sehat. Lingkungan
yang sehat dapat memberikan efek terhadap kualitas kesehatan. Kesehatan
seseorang akan menjadi baik jika lingkungan yang ada di sekitarnya juga baik.
Begitu juga sebaliknya, kesehatan seseorang akan menjadi buruk jika lingkungan
yang ada di sekitarnya kurang baik. Dalam penerapan hidup bersih dan sehat
dapat dimulai dengan mewujudkan lingkungan yang sehat. Lingkungan yang sehat
memiliki ciri-ciri tempat tinggal (rumah) dan lingkungan sekitar rumah yang
sehat
DAFTAR PUSTAKA
Notoadmojo,
Soekidjo. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: Rineka Cipta
Riyadi,
Sugeng. Kesehatan Lingkungan
Sri
Budiyati. Tanpa tahun. Kesehatan Lingkungan. Bogor: Departemen Biologi FMIPA
IPB
http://rahdianaangga08.blogspot.com/2013/11/contoh-makalah-sanitasi-lingkungan.html
Komentar
Posting Komentar