MAKALAH PENYAKIT GIGI DAN MULUT
MAKALAH
PENYAKIT GIGI DAN MULUT

DISUSUN
OLEH :
EKA
APRIYANTI
NIM.
1612402001
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN
KEPERAWATAN GIGI
TAHUN
2017/2018
KATA
PENGANTAR
Puja
dan puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rakhmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat
menyusun makalah ini.
Dalam
penyusunan makalah ini penulis banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak
oleh karena itu kami menyampaikan rasa hormatdan
terikakasih kepada Teman-teman yang memberikan dukungan
penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari,bahwa
makalah ini masih banya kkekurangan maka dari itu kami mengharapkan
kritik dan saran dari anda sekalian demi menambah sempurnanya makalah ini
semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca umumnya dan
bagi kami semua.
Bandar Lampung, 06 Juni
2018
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL....................................................................................... i
KATA
PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR
ISI.................................................................................................... iii
BAB
PENDAHULUAN.................................................................................. 1
A.
Latar Belakang..................................................................................... 1
B.
Tujuan................................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN................................................................................. 2
A.
Menjelaskan
indikasi rujukan............................................................. 2
B.
Mengerjakan tindakan pertolongan pertama pada
gigi dengan keluhan sakit4
C.
Mengidentifikasi jaringan keras gigi.................................................. 6
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan........................................................................................... 12
B. Saran..................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keadaan
suatu daerah tidak selalu sama dengan keadaan didaerah lainnya, dan kondisi
masyarakat disuatu saat berbeda dari saat lainnya. Masalah-masalah kesehatan
dan cara penanganannya senantiasa berubah dan berkembang mengikuti perkembangan
kemasyarakatan dan ilmu/teknologi. Banyak factor yang mempengaruhi kesehatan
masyarakat di dunia ini.
B. Tujuan
Untuk
mengetahui factor factor yang mempengaruhi kesehatan
BAB II
PEMBAHASAN
MENJELASKAN INDIKASI RUJUKAN
Upaya kesehatan gigi dan
mulut merupakan bagian integral dari upaya kesehatan secaramenyeluruh yang
penyelenggaraannya terintegrasi secara lintas program dan lintas sektoral.Rujukanupaya
kesehatan gigi dan mulut.dilaksanakan melalui pelayanan medik gigidasar sampai
dengan spesialistik. Banyak faktor yang mempengaruhi terselenggaranya rujukanupaya
kesehatan gigi dan mulut, antara lain faktor lingkungan, geografi,
transportasi, sosialekonomi dan sosial budaya.Tujuan umumnya adalah terwujudnya
suatu tatanan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yangmerata, terjangkau
,bermutu, berdaya guna dan berhasil guna. Sedangkan tujuan khususnya,
agarmantapnya pelayanan kesehatan gigi dan mulut
di setiap jenjangpelayanan kesehatan
yang berlaku. Terwujudnya alur (arus)
rujukan medik gigi dan rujukan kesehatan gigi. Sasaran sistem
upaya rujukan gimul ialah setiap institusi pelayanan kesehatan
pemerintah dan swasta.
A. Rujukan
Medik Gigi :
1.Rujukan kasus
dengan atau tanpa pasien, untuk keperluan diagnostik, pengobatan,tindakan
operatif dan pemulihan (model rahang)
2.Rujukan spesimen, untuk
pemeriksaan penunjang /tambahan.
3.Rujukan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK); mendatangkan atau mengirimtenaga/ahli yang kompeten untuk memberikan dan
mendapatkan bimbingan pengetahuandan ketrampilan kesehatan gigi dan mulut
(gimul).
B. Rujukan
Kesehatan Gigi :
1.Bantuan teknologi
berupa teknologi tepat guna, cukup sederhana, dapat dikuasai dandilksanakan,
serta terjangkau masyarakat. Contoh: cara menyikat gigi yang baik danbenar,
bentuk-bentuk sikat gigi yang benar.
2.Bantuan sarana berupa
alat-alat, buku-buku, brosur, poster-poster,
leaflet-leaflet.
3.Bantuan
operasional berupa dana operasional dan pemeliharaan
peralatan kesehatan gigidan
mulut, terutama pada unit
pelayanan kesehatan terdepan di poli gigi puskesmas.
(dikutip dari Buku
Pedoman Rujukan Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut, Direktorat KesehatanGigi,
Dirjen Pelayanan Medik, Depkes RI, Jakarta, 1994, hal. 2-3).
5 Indikasi Rujukan
Kesehatan Gigi dan Mulut






Sesuai dengan sistem upayarujukan kesehatan gigi dan mulut (gimul),
khususnya dalam pelayanan
poli gigi puskesmas, perlu dikembangkan upaya rujukan medic gigi dan
rujukankesehatan gigi yang terpadu.Setiap kasus yang akan dirujuk tetap
memerlukan panduan mengenai bagaimana tata caranyamelakukan rujukan kasus gimul
yang ada di wilayah kerja puskesmas.Rujukan kasus ini menyesuaikan dengan
kondisi darimana kasus gimul tersebut didapatkan.Apakah berasal dari pelayanan
jejaring puskesmas (luar gedung) ataukah dari pelayanan luargedung puskesmas
(poli umum atau poli KIA-KB).Untuk efektifitas pelayanan kesehatan gimul, perlu
diperhatikan indikasi rujukannya, antara lain:
1. Rujukan Kasus Dengan
Atau Tanpa Pasien :
Dari
posyandu/sekolah/pustu ke puskesmas,indikasinya :semua
kelainan/kasus/keluhanyang ditemukan pada jaringan keras dan jaringa lunak
didalam rongga mulut Dari poli
gigi puskesmas ke rumah sakit yang lebih mampu,indikasinya
:semuakelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi,
perawat gigi) dipuskesmas yang memerlukan tindakan diluar kemampuannya.
2. Rujukan Model
(Prothetic Atau Orthodonsi) :
Indikasinya :pelayanan kesehatan gigi yang memerlukan pembuatan
prothesa termasuk mahkota dan jembatan,
plat orthodonsi,
obturator, feeding plate, inlay, onlay, uplay
3. Rujukan Spesimen :
Indikasinya : semua
kelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi,perawat gigi)
di puskesmas yang memerlukan pemeriksaan penunjangdiagnostik/laboratorium
sehubungan dengan kelainan dalam rongga mulutnya.
4. Rujukan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi :
Indikasinya :keadaan dimana dibutuhkan peningkatan ilmu pengetahuan
dan atauketrampilan pelayanan kesehatan gigi dan mulut, agar dapat memberikan
pelayanan yanglebih optimal.
5. Rujukan Kesehatan Gigi
:
Indikasinya :semua kegiatan peningkatan promosi kesehatan dan
pencegahan kasus yangmemerlukan bantuan teknologi, sarana dan biaya
operasional.Dengan memperhatikan tata cara alur rujukan kasus gigi dan mulut
tersebut, diharapkan berbagaimasalah kesehatan gimul yang terdapat di wilayah
kerja puskesmas dapat teratasi dengan baik.
MENGERJAKAN
TINDAKAN PERTOLONGAN PERTAMA PADA GIGI DENGAN KELUHAN SAKIT
Kegawatdaruratan
gigi
Kegawatdaruratan gigi dapat terjadi karena adanya kecelakaan yang dialami oleh penderita. Akibat kecelakaan tersebut dapat menimbulkan adanya robekan, luka pada gigi,mulut ataupun gusi yang pada akhirnya muncul pendarahan atau pembengkakan gigi.
Kegawatdaruratan gigi dapat terjadi karena adanya kecelakaan yang dialami oleh penderita. Akibat kecelakaan tersebut dapat menimbulkan adanya robekan, luka pada gigi,mulut ataupun gusi yang pada akhirnya muncul pendarahan atau pembengkakan gigi.
Terdapat beberapa
pembahasanyang akan diulas terkait dengan kedaruratan gigi yaitu:
Sakit Gigi
Sakit gigi pada umumnyatimbul akibat gigi berlubang dan gangguan pada bagian gusi. Selain itu sakit gigi dapat juga disebabkan adanya kelainan laindari bagian luar gigi, seperti kelainan padatelinga, hidung, bahkan bisa juga disebabkan adanya kelainan pada jantung.
Sakit gigi pada umumnyatimbul akibat gigi berlubang dan gangguan pada bagian gusi. Selain itu sakit gigi dapat juga disebabkan adanya kelainan laindari bagian luar gigi, seperti kelainan padatelinga, hidung, bahkan bisa juga disebabkan adanya kelainan pada jantung.
Pertolongan
pertama sebelum memutuskan meminta pertolongan dokter untuk menangani masalah
sakit gigi ini antara lain adalah:
- Konsumsi paracetamol atau aspirin. Penggunaan obat-obatan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi rasa sakit yang ditimbulkan dari gejala sakit gigi, yang perlu digarisbawahi adalahobat jenis aspirin tidak diperbolehkan diberikan pada anak-anak karena dapat memicu komplikasi serius.
- Menghindari konsumsi makanan dan minuman manis, pedas, panas serta dingin. Makanan yang terllau manis, pedas, dingin, dan panasdapat menyebabkan iritasi gigi dan akan semakin meningkatkan kadar rasa sakit.
- Berkumur menggunakan air hangat yang dicampur garam pada tiap jam.
- Sakit gigi yang disebabkan gigi berlubang dapatmenutup bagian gigi berlubang dengan menggunakan kapas yang dibasahi minyak cengkeh.
- Jika sakit gigi belum juga reda, baru ambil langkah untuk pergi ke dokter.
Gigi patah
Gigi patah dapat disebabkan oleh adanya beberapa keadaan seperti lepasnya gigi pada bagian email gigi atau lepasnya gigi pada seluruhbagian mahkota gigi.
Gigi patah dapat disebabkan oleh adanya beberapa keadaan seperti lepasnya gigi pada bagian email gigi atau lepasnya gigi pada seluruhbagian mahkota gigi.
Adapun
pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk mengobati gigi patah adalah:
- Mengompresbagian gigi yang patah dengan menggunakan kain yang telah dibasahi air dingin. Mengompres gigi dengan mempergunakan air dingin ini bermanfaat untuk meminimalisir pembengkakan.
- Menyimpan patahan gigi ke dalam tempat yang di dalamnya terdapat susu cair.Patahan gigi juga dapatdibungkus dengan menggunakan kain yang basa
- Segera pergi ke dokter gigi.
Gigi tanggal
Gigi tanggal dapat terjadi karena faktor ketidaksengajaanyang diakibatkan oleh pukulan ataupunterjatuh dan pertolongan pertama untuk gigi tanggal dapat digolongkan berdasarkan pada usia gigi, termasuk gigi permanen atau gigi susu.
Gigi tanggal dapat terjadi karena faktor ketidaksengajaanyang diakibatkan oleh pukulan ataupunterjatuh dan pertolongan pertama untuk gigi tanggal dapat digolongkan berdasarkan pada usia gigi, termasuk gigi permanen atau gigi susu.
Jika gigi yang tanggal merupakan
gigi susu, yakni gigi pada anak yang berusia kurang dari 7tahun, maka
pertolongan pertama yang harus dilakukan adalahmengompres bagian tempat
gigitanggal dengan menggunakan air dingin. Jika anak tidak keberatan, anak
dapat diminta untuk mengulum es batu untuk mengurangi pembengkakan.
Sementara jika gigi yang tanggal
adalah gigi permanen atau gigi orang dewasa, maka gigi yang tanggal ini dapat
dipasangkan kembalipada tempatnya dan jika masih dalam jangka waktu kurang dari
20 menit dapat segera pergi ke dokter gigi.
Untuk
pertolongan pertama yang dapat dilakukan antara lain adalah:
- Pegang gigi yang tanggal pada bagian mahkotanya, bukan pada bagian akar.
- Hindari atau jangan membersihkan atau menggosokgigi dengan menggunakan benda apapun.
- Bilas gigi dengan menggunakan air dingin yang mengalir selama ±10 detik.
- Jika masih memungkinkan, tempatkan gigi kembali pada tempat semula.Selanjutnya gigit kain yang telah dibasahi air dingin untuk menahan gigi yang tanggal kembali pada posisi semula.
- Jika langkah-langkah di atas tidak cukup membantu, segera masukkan gigi pada tempat yang berisi susu cair atau biarkan tetap berada dalam mulut.
- Segera pergi ke dokter gigi.
MENGIDENTIFIKASI JARINGAN KERAS GIGI
HIPERSENSITIVITAS GIGI
Hipersentivitas gigi, sensitivitas
dentin atau hipersensitivitas sering digunakan untuk mendeskripsikan kondisi
klinis dari respon berlebihan dari stimulus exogen.
Stimulus exogen termasuk thermal, taktil, atau perubahan osmotik. Yang mana
stimulus ekstrim dapat membuat semua gigi sakit. Kata hipersensitivitas berarti
respon sakit pada stimulus tidak normal yang berhubungan dengan nyeri
(Garg,2010). Nyeri sering di deskripsikan “sebagai sensori tidak menyenangkan
dan pengalaman emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan yang
sebenarnya atau berpotensi terjadi kerusakan jaringan (Garg,2010)
Hipersensitivitas dentin terjadi
karena terbukanya dentin yang pada umumnya disebabkan karena resesi gingiva
akibat kesalahan menyikat gigi sehingga terjadi abrasi dan erosi. Pada
umumnya terjadi di bagian servikal gigi dengan gejala sakit atau ngilu apabila
terjadi kontak dengan rangsangan dari luar seperti panas dingin, dehidrasi (hembusan
udara), asam, maupun alat alat kedokteran gigi misalnya sonde, pinset, dan
lain-lain. Bagi penderita rasa ngilu itu merupakan suatu gangguan, dimana
secara tidak langsung akan menimbulkan masalah lain seperti terganggunya
pembersihan gigi dan mulut, sehingga kebersihan mulut kurang sempurna yang
akhirnya akan menyebabkan kelainan periodontal. Untuk mencegah terjadinya
kelainan lebih lanjut maka hipersensitivitas dentin perlu dirawat.(Prijantijo,
1996).
Reaksi hipersensitifitas pada gigi
sering dikaitkan dengan teori hidrodinamik. Teori hidrodinamik pada
sensitifitas dentin adalah proses penerusan perpindahan cairan dentin ke
tubulus dentin, yang mana merupakan perpindahan ke salah satu arah yaitu ke
arah luar (permukaan) atau ke arah dalam (pulpa) dan menstimulasi nervus
sensoris pada dentin atau pulpa. Gerakan cairan sangat cepat dan terjadi
sebagai respon terhadap perubahan temperatur, tekanan, atau mekanik yang
menghasilkan deformasi mekanis pada odontoblas dan saraf di dekatnya (Ingle,
2002) . Teori hidrodinamik menjelaskan reaksi rasa sakit pulpa terhadap panas,
dingin, pemotongan dentin, dan probing dentin. Panas
mengembangkan cairan dentin, sedang dingin mengerutkan cairan dentin, memotong
tubuli dentin memungkinkan cairan dentin keluar, dan melakukan probing pada
permukaan dentin yang dipotong atau terbuka dapat merusak bentuk tubuli dan
menyebabkan gerakan cairan. Semua rangsangan ini mengakibatkan gerakan cairan
dentin dan menggiatkan ujung saraf.(Grossman, 1988).
Pada dasarnya dentin bersifat sensitif
karena secara struktural mengandung serabut saraf yang berjalan dalam
tubulus dari arah pulpa. Namun kesensitifan ini tidak menimbulkan masalah
karena adanya jaringan lain yang melindungi dentin yaitu tubulus, enamel, dan
ginggiva. Pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa tubulus dentin pada
pesien dengan dentin hypersensitivity ditemukan lebih banyak
dan berkembang dibandingkan dengan orang normal.Hasil ini selaras dengan
hipotesis bahwa rasa nyeri dimediasi oleh mekanisme hidrodinamik. (Orchardson and
Gillam, 2006).
Erosi gigi dapat meningkatkan
sensitivitas dari dentin sehingga gigi lebih sensitif saat terpapar rangsangan,
terutama rangsangan suhu. Keadaan ini
sering disebut hipersensitivitas
dentin yang semakin hari
semakin sering dijumpai.
Hipersensitivitas dentin ini
dapat diketahui dari intensitas
nyeri yang dihasilkan. Semakin
berat hipersensitivitas dentin yang
terjadi, semakin berat pula intensitas nyeri yang dihasilkan.(Mitchell, 2004).
Gigi sensitif diakibatkan oleh
terbukanya lapisan dentin. Ketika lapisan dentin terbuka, rangsang termal akan
mudah terdeteksi, sehingga akan membuat gigi terasa linu ketika makan/ minum
dengan suhu yang dingin. Beberapa perawatan gigi ada juga yang mengakhibatkan
gigi sensitif. Di antaranya pemutihan gigi, pembersihan karang gigi / skeling,
perawatan kawat gigi, dan penambalan gigi (Ardyan, 2010). Penambalan gigi
harus dilakukan dengan prosedur yang tepat, selain itu menjaga kebersihan mulut
tetaplah penting. Gigi yang telah ditambal dan tidak dijaga kebersihannya
memungkinkan terjadinya karies sekunder. Karies sekunder ini merupakan karies
kompleks yang terbentuk setelah karies primer. Karies sekunder akan berakhibat
terbukanya lapisan dentin lebih dalam menuju pulpa, sehingga rangsang termal
akan lebih mudah masuk ke ujung saraf di pulpa, akhibatnya sensitifitas gigi
akan meningkat. ( David, 2008 ).
PULPITIS
Pulpa adalah organ formatif gigi dan
membangung dentin primer selama perkembangan gigi, dentin sekunder setelah
erupsi dan dentin reparative sebagai respon terhadap stimulasi selama
odontoblas tetpau utuh. Pulpa bereaksi terhadap stimuli panas dan dingin yang
hanya dirasakan sebagai rasa skait. Pulpa biasanya tahan terhadap sushu sekitar
16 derajat celcius dan 55 derajat celcius yang dikenakan secara langsung pada
daerah superfisial. Rasa sakit merupakan suatu reaksi protektif yang menjadi
tanda bahwa terjadi suatu peradangan atau kerusakan pada pulpa. Apabila terjadi
kerusakan pada pulpa sangat kecil kemungkinan untuk kembali seperti semula.
Semua ini tergantung pada aktivitas seluler, suplai nutrisi, usia, metabolik
dan parameter fisiologis yang lainnya.
Etiologi yang sering didapatkan pada kerusakan yang terjadi pada pulpa adalah
fisis (mekanis ,thermal, listrik, dan radiasi), kimiawi (asam fosfat, monomer
akriik, erosi akibat asam) dan bacterial (toksin yang diproduksi oleh bakteri,
invasi bakterial secara langsung kedalam pulpa, dan kolonisasi microbial
didalam pulpa).
Pupitis adalah keadaan dimana daerah pulpa mengalami inflamasi akut maupun
kronis, sebgian atau seluruhnya dan dapa pula dalam keadaan terinfeksi atau
streril. Dua jenis inflamasi pulpa yaitu kronis dan akut :
1. pulpitis
kronis berasal dari pulpa yang terbuka akibat karies atau trauma.
2. pulpitis
akut umunya mengalami rasa sakit yang cepat, sebentar.
Pulpitis itu sendiri ada yang
bersifat reversible dan ireversibel. Pulpitis reversible adalah suatu kondisi
inflamasi ringan sampai sedang yang disebabkan oleh stimulus noksius, tetapi
kemampuan pulpa untuk kembali seperti semula memiliki kemungkinan yang masih
besar dan rasa sakit akan hilang bila stimulus dihilangkan. Rasa sakit yang
berlangsung sebentar dapat diakibatkan oleh stimulus thermal, trauma maupun
stimulus kimiawi. Pulpitis reversible simtomatik ditandain dengan rasa sakit
yang tajam, hanya sebentar, lebih sering diakibatkan oleh suhu dingin daripada
panas atau oleh udara dingin. Tidak timbul secara spontan dan tidak berlanjut
jika etiologi dihilangkan. Perbedaan dengan pulpitis ireversibel adalah dimana
pada pulpitis ireversibel rasa sakit yang terjadi biasanya lebih parah dan
berlangsung dalam jangka waktu yang lama, tetap erasa sakit meskipun etiologi
telah dihilangkan dan sering disertai dengan rasa sakit yang spontan.
Pulpitis ireversibel biasanya disertain dengan keadaan pulpa yang infeksi.
Perawatan terbaik untuk pulpitis reversible adalah pencegahan. Perawatan
periodik untuk mencegah perkembangan karies, penumpatan awal bila kavitas
meluas. Tes vitalitas merupakan suatu hal yang penting untuk memastikan
terdapat suatu keadaan nekrosis pada sekitar daerah pulpa atau jaringan
sekitarnya. Namun dalam penanganan inflamasi hendaknya dianggap sebagai
pulpitis ireversibel.
Prognosis untuk untuk pulpa adalah baik jika etiologi dihilangkan sedini
mungkin. Hal ini berguna untuk mencegah terjadiya perluasan kearah pulpitis
ireversibel yang semakin parah
(Grossman, et al., 1988)
RESTORASI
Pada kasus yang dialami pasien, pasien ingin ditambal sewarna gigi. Hal ini
bisa diatasi dengan komposit. Komposit kini telah digunakan dalam restorasi dan
dalam memperoleh estetik yang baik, yang sebelumnya menggunakan amalgam
(Horsted, et.al. 1999). Sebelum kita melakukan suatu penumpatan alangkah
baiknya kita menetukan klasifikasi dari kavitas yang aka kita tumpat tersebut.
Adapun klasifikasi kavitas Menurut Black, lesi karies diklasifikasikan menjadi:
–
Kelas I: mengenai pits dan/atau fissure serta berhubungan dengan
lesi karies
–
Kelas II: mengenai permukaan proksimal gigi posterior
–
Kelas III: mengenai permukaan proksimal gigi anterior
–
Kelas IV: mengenai permukaan proksimal gigi anterior dan melibatkan sudut
incisal
–
Kelas V: mengenai permukaan servikal
(Qualtrough et al, 2005)
RESIN KOMPOSIT
Generasi resin komposit yang kini
beredar mulai dikenal di akhir tahun enam puluhan. Sejak itu, bahan tersebut
merupakan bahan restorasi anterior yang banyak dipakai karena pemakaiannya
gampang, warnanya baik, dan mempunyai sifat fisik yang lebih baik dibandingkan
dengan bahan tumpatan lain. Sejak akhir tahun enam puluhan tersebut, perubahan
komposisi dan pengembangan formulasi kimianya relatif sedikit.Bahan yang
terlebih dulu diciptakan adalah bahan yang sifatnya autopolimerisasi
(swapolimer), sedangkan bahan yang lebih baru adalah bahan yang polimerisasinya
dibantu dengan sinar. Resin komposit mempunyai derajat translusensi yang
tinggi. Warnanya tergantung pada macam serta ukuran pasi dan pewarna yang
dipilih oleh pabrik pembuatnya, mengingat resin itu sendiri sebenarnya
transparan. Dalam jangka panjang, warna restorasi resin komposit dapat bertahan
cukup baik. Biokompabilitas resin komposit kurang baik jika dibandingkan dengan
bahan restorasi semen glass ionomer, karena resin komposit merupakan bahan yang
iritan terhadap pulpa jika pulpa tidak dilindungi oleh bahan pelapik. Agar
pulpa terhindar dari kerusakan, dinding dentin harus dilapisi oleh semen
pelapik yang sesuai, sedangkan teknik etsa untuk memperoleh bonding mekanis
hanya dilakukan di email perifer.
·
Indikasi restorasi komposit :
Resin komposit dapat digunakan pada
sebagian besar aplikasi klinis. Secara umum, resin komposit digunakan untuk:
a. Restorasi kelas I,
II, III, IV, V dan VI
b. Fondasi atau core
buildups
c. Sealant dan
restorasi komposit konservatif (restorasi resin preventif)
d. Prosedur
estetis tambahan
1. Partial
veneers
2. Full
veneers
3.
Modifikasi kontur gigi
4.
Penutupan/perapatan diastema
e. Semen (untuk restorasi
tidak langsung).
f. Restorasi sementara
g. Periodontal splinting
Restorasi kavitas klas I komposit, The American Dental
Association(ADA) mengindikasikan kelayakan resin komposit untuk
digunakan sebagai pit dan fissure sealant, resin
preventif, lesi awal kelas I dan II yang menggunakan modifikasi preparasi gigi
konservatif, restorasi kelas I dan II yang berukuran sedang, restorasi kelas V,
restorasi pada tempat-tempat yang memerlukan estetika, dan restorasi pada
pasien yang alergi atau sensitif terhadap logam.
ADA tidak mendukung penggunaan komposit pada gigi dengan tekanan oklusal yang
besar, tempat atau area yang tidak dapat diisolasi, atau pasien yang alergi
atau sensitif terhadap material komposit. Jika komposit digunakan seperti yang
telah disebutkan sebelumnya, ADA menyatakan bahwa “ketika digunakan dengan
benar pada gigi-geligi desidui dan permanen, resin berbahan dasar komposit
dapat bertahan seumur hidup sama seperti restorasi amalgam kelas I, II, dan V.
́
·
Komponen resin komposit :
1. Komponen
resin organik
: filler anorganik
2. Coupling
agent untuk menggabungkan resin dan filler
3. Inisiator
dan aktivator untuk mengaktifkan mekanisme setting
4. Inhibitor
Pigmen dan komponen lainnya
·
Keuntungan penggunaan resin komposit :
1. Penghubung
dengan sistem adesive dentin, dapat ditempatkan dengan minimal atau tanpa
preparasi gigi.
2. Light
curing memungkinkan segera dilakukan finishing dan polishing setelah
pengisian kavitas (Sherwood, 2010).
3.
Restorasi, jika diletakkan secara tepat pada gigi yang dimaksud maka akan
mengurangi marginal linkage yang dapat menyebabkan staining, karies sekunder,
dan gigi sensitif.
4. Operator
dapat melakukan refinish, memperbaharui atau merestorasi tambalan tersebut.
Hasilnya lebih konservative dan
perawatannya sedikit mungkin menghilangkan bagian gigi.
·
Kerugian penggunaan resin komposit :
1.
Polimerisasi shringkage 2-3% dapat mengganggu marginal adaptasi dari material,
fraktur pada tonjol yang lemah terutama pada premolar, dan menghasilkan
post-operative sensitivity.
2. Bonding
ke dentin menjadi suatu masalah, terutama pada tepi preparasi, contoh : lantai
dibawah box ketika lantai dibawah cemento-enamel junction(CEJ) di preparasi
proximal.
3. Absorbsi
air pada permukaan dan marginal staining setelah beberapa tahun perawatan
4.
Sensitivitas pasien dan operator terhadap bahan adesive resin terutama
hydroxyethylmethacrylate (HEMA).
5. Kurang
radiopak dibandingkan amalgam pada interpretasi radiografi sehingga sedikit
menyulitkan dalam pemeriksaan.
·
Indikasi penggunaan resin komposit :
1. Kecil,
medium, besar restorasi oklusal pada gigi posterior
2. Kecil,
medium, besar pada restorasi proximal pada gigi premolar dan kecil sampai
sedang pada preparasi proximal gigi molar permanen.
3. Lesi
cervikal pada semua gigi
4. Restorasi
incisal edge
5. Fissure
sealant dan preventive restorasi resi
·
Kontraindikasi penggunaan resin komposit
1. Preparasi
proximal yang besar pada gigi molar permanen yang ada tuntutan perbaikan
tonjol.
2. Restorasi
lesi karies akar yang lebih baik menggunakan semen ionomer kaca .
3. Pada
pasien yang mempunyai alergi pada satu atau lebih komponen
resin-base-restorative-material termasuk adesive sistem.
4. Kavitas
interproxinal yang sangat dalam sehingga sinar tidak dapat mengjangkau.
(Ireland, 2006)
Keluhan pasien yang lain yaitu sisa
makanan masih sering terselip di gigi yang ditambal dengan amalgam, ini berarti
tambalan dengan amalgam tersebut tidak bagus, dan tidak benar-benar merestorasi
karies yang terdapat pada gigi pasien. Hal ini bisa diatasi dengan menumpat
lubang-lubang di sela-sela gigi dengan komposit dengan prosedur yang tepat
sehingga kejadian seperti tumpatan amalgam yang lalu tidak terjadi lagi. Teknik
komposit posterior jauh lebih memerlukan ketepatan teknis dibandingkan
restorasi amalgam dan untuk menyelesaikan restorasinya memerlukan waktu lebih
banyak (Horsted, et.al. 1999). Material restorasi ini juga bertahan lama,
sehingga cenderung memberikan kerapatan yang paling baik (Walton, 2008).
KARIES SEKUNDER
Karies sekunder adalah lesi pada
tepi restorasi yang telah ada sebelumnya. Pemeriksaan histologis menunjukan
suatu demineralisasi jaringan sepanjang dinding kavitas. Karies sekunder
berbeda dengan 3 wall lesions ́ dan merupakan hasil dari suatu microleakage. Dan
juga berbeda dengan residual karies yang merupakan sisa jaringan
terdemineralisasi yang tertinggal saat preparasi kavitas. Karies sekunder
muncul pada area penumpukan plak. Karena alasan inilah, batas cervical dari
tambalan yang umumnya terkena (Edwina, 2001).
· Mekanisme
terjadinya karies sekunder
1. Proses
terjadinya karies Menurut Teori Kimia parasit (WD. Miller)
Enzim dalam air ludah seperti
amilase, maltose akan mengubah polisakarida menjadi glukose dan maltose.
Glukosa akan menguraikan enzim-enzim yang dikeluarlan oleh mikroorganisme
terutama laktobasilus dan streptokokus akan menghasilkan asam susu dan asam
laktat, maka pH rendah dari asam susu (pH 5,5) akan merusak bahan-bahan
anorganik dari email (93 %) sehingga terbentuk lubang kecil (Yuwono, 1993).
Predisposisi untuk terjadinya karies gigi yaitu Keadaan gigi yang porus, lunak
(Hipoplasia), adanya fisur-fisur yang dalam seperti foramen saekum,
posisi gigi yang tidak teratur, pada wanita hamil, penderita penyakit Diabetus
militus, rematik dan lain lain
2. Teori endogen-pulpogene
phospatase (Csernyei, 1932).
· Penyebab-penyebab
karies sekunder
Kegagalan restorasi resin komposit
yang menyebabkan kebocoran dari resin komposit, dikarenakan:
1. Perbedaan
masing-masing koefisien thermal ekspansi diantara resin komposit, dentin, dan
enamel.
2.
Penggunaan oklusi dan pengunyahan yang normal .
3. Kesulitan
karena adanya kelembaban, mikroflora yang ada, lingkungan mulut bersifat asam.
(Hermina, 2003)
4. Adanya
mikroleakage, yang merupakan suatu celah berukuran mikro antara bahan restorasi
dengan struktur gigi, sehingga margin restorasi terbuka serta (Yuwono, 1990).
5. Adaptasi
yang buruk, yang menyebabkan masuknya cairan oral, bakteri maupun toksinnya
sehingga menyebabkan karies sekunder (Sularsih, 2007).
· Tindakan
restoratif yang bisa dilakukan pada karies sekunder
Diagnosis dari sekunder karies
merujuk pada penempatan kembali dari restorasi. Diagnosis dan perawatan harus
mengikuti prosedur yang sama seperti lesi karies primer yaitu dengan replacement seluruh
restorasi (Mjor,2006).
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Factor
factor yang mempengaruhi kesehatan adalah dari berbagai
hal, lingkungan menjadi factor yang utama dalam mempengaruhi
kesehatan. Masalah kesehatan merupakan masalah yang mempunyai banyak factor
B. Saran
Kami
menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak kekurangan, maka dari itu
kami membutuhkan berbagai masukan-masukan ataupun saran yang bersifat
konskruktif untuk memperbaiki pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar