MAKALAH JAMUR CANDIDA ALBICANS
MAKALAH
JAMUR
CANDIDA ALBICANS

DISUSUN OLEH:
MARISKA NAOMI NAPITUPULU (1613453005)
DWI
OKTA PIANI (1613453024)
NUR’AINI
FIRMAYA UTARI (1613453034)
YULIANA
PRADITA (1613453036)
POLTEKKES KESEHATANA
TANJUNGKARANG
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN 2018
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karna
rahmat dan hidayah-Nya, penyusunan makalah ini bisa diselesaikan.
Kami membuat makalah ini bertujuan untuk
menyelasaikan tugas yang diberikan oleh
dosen. Dari pembuatan makalah ini tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi
bertujuan menambah pengetahuan dan wawasan kita yang berkaitan dengan Jamur.
Kiranya makalah ini bisa menambah
pengetahuan bagi pembaca. Meski begitu, penulis sadar bahwa makalah ini perlu
untuk dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Untuk itu, saran dan kritik yang
membangun dari pembaca akan kami terima dengan senang hati.
Bandar Lampung, Desember
2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR............................................................................................. ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar belakang....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Candida albicans.................................................................. 2
B.
Morfologi .............................................................................................. 2
C.
Metabolisme Candida albicans............................................................. 3
D.
Patogenitas ............................................................................................ 4
E.
Epidemiologi.......................................................................................... 6
F.
Infeksi Candida albicans....................................................................... 6
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan.......................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Semua jamur merupakan organisme eukariotik, dan
tiap sel jamur memiliki setidaknya satu nukleus dan membran nukleus, retikulum
endoplasma, mitokondria, dan aparatus sekretorik. Kebanyakan jamur merupakan
aerob obligat atau fakultatif. Jamur bersifat kemotropis, menyekres
ienzim yang mendegradasi beragam substrat organik menjadi nutrien-nutrien,
mampu larut yang kemudian diserap secara pasif atau dibawa ke dalam sel dengan
transpor aktif.
Infeksi jamur disebut mikosis. Kebanyakan jamur
patogen bersifat eksogenik, habitat alamiahnya adalah air, tanah dan
debris organik.Mikosis dengan insiden tertinggi adalah kandidiasis dan
dermatofitosis disebabkan oleh jamur yang merupakan bagian dari flora
mikroba normal atau sudah sangat beradaptasi untuk bertahan dalam pejamu
manusia (Jawetz, dkk 2012).
Candida albicans merupakan flora normal pada beberapa
area tubuh manusia serta memiliki sifat opportunis sehingga apabila
kondisi mendukung,akan dapatberubah menjadi patogen (Ramali dan Werdani,2001).
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa pengertian Candida albicans ?
2.
Bagaimana morfologi Candida albicans ?
3.
Bagaimana metabolism Candida albicans ?
4.
Bagaimana epidemiologi Candida albicans ?
5.
Bagaimana patogenitas Candida albicans ?
6.
Bagaimana infeksi Candida albicans ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Candida albicans
Candida
albicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya untuk
tumbuh dalam 2 bentuk yang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan berkembang
menjadi blastospora dan menghasilkan kecambah yang akan membentuk hifa semu. Candida
albicans dapat tumbuh pada variasi pH yang luas, tetapi pertumbuhannya akan
lebih baik pada pH antara 4,5 – 6,5. Jamur Candida albicans dapat tumbuh
dalam perbenihan pada suhu 280 C – 370 C.
Candida albicans memperbanyak diri dengan membentuk
tunas yang akan terus memanjang membentuk hifa semu. Hifa semu terbentuk dengan
banyak kelompok blastospora berbentuk bulat atau lonjong di sekitar septum
(Tjampakasari, 2008).
Jamur Candida albicans dapat dibiakkan pada berbagai
media pertumbuhan antara lain pada PDA (Potatto Dextrose Agar), agar
tajin (Rice Cream Agar), agar dengan 0,1% glukosa, SDA (Sabaroud
Dextrose Agar) dan CMA (Corn Meal Agar).
Pada media SDA atau Glucose Yeast Extract Peptone
Water, Candida albicans berbentuk bulat atau oval yang biasa disebut dengan
bentuk khamir dengan ukuran 3,5– 6 × 6– 10 µm. Koloni bewarna krem, agak
mengkilat dan halus. Pada media CMA dapat membentuk Clamydospora(Jawetz,
2012).
B.
Morfologi
Candida
albicans secara mikroskopis berbentuk oval dengan ukuran 2 – 5 ×
3 – 6 µm. Biasanya dijumpai Clamidospora yang tidak ditemukan pada
spesies Candida yang lain dan merupakan pembeda pada spesies tersebut
hanya Candida albicans yang mampu menghasilkan Clamydospora yaitu
spora yang dibentuk karena hifa, pada tempat-tempat tertentu membesar,membulat,
dan dinding menebal, letaknya di terminal lateral.(Jawetz, 2012).
Spesies Candida albicans memiliki 2 jenis
morfologi, yaitu bentuk seperti khamir dan bentuk hifa.Selain itu, fenotipe
atau penampakan mikroorganisme ini juga dapat berubah dari warna putih dan rata
menjadi kerut tidak beraturan, berbentuk bintang, lingkaran, bentuk seperti
topi dan tidak tembus cahaya.Jamur ini memiliki kemampuan untuk menempel pada
sel inang dan melakukan kolonisasi.

Gambar1.1
: Jamur Candida albicans (Jawetz, dkk 2012).
Klasifikasi
dari Candida albicans adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Fungi
Phylum
: Ascomycota
Subphylum
: Saccharomycotina
Class
: Saccharomycetes
Ordo
: Saccharomycetales
Family
: Saccharomycetaceae
Genus
: Candida
Spesies
: Candida
albicans(Jawetz, 2012).
C.
Metabolisme Candida albicans
Candida albicans dapat tumbuh pada variasi pH yang luas,
tetapi pertumbuhannya akan lebih baik pada pH antara 4,5 - 6,5. Jamur ini
dapat tumbuh dalam perbenihan pada suhu 280C-370C. Candida
albicans membutuhkan senyawa organik sebagai sumber karbon dan sumber
energi untuk pertumbuhan dan proses metabolismenya. Unsur karbon ini dapat
diperoleh dari karbohidrat.Jamur ini merupakan organisme anaerob fakultatif
yang mampu melakukan metabolisme sel, baik dalam suasana anaerob maupun
aerob.Proses akhir fermentasi anaerob menghasilkan persediaan bahan bakar yang
diperlukan untuk proses oksidasi dan pernafasan. Pada proses asimilasi,
karbohidrat dipakai oleh Candida albicans sebagai sumber karbon maupun
sumber energi untuk melakukan pertumbuhan sel(Tjampakasari, 2006).
Candida albicans dapat dibedakan dari spesies lain
berdasarkan kemampuannya melakukan proses fermentasi dan asimilasi. Pada kedua
proses ini dibutuhkan karbohidrat sebagai sumber karbon. Pada proses
asimilasikarbohidrat dipakai oleh Candida albicans sebagai sumber karbon
maupun sumber energi untuk melakukan pertumbuhan sel. Pada proses fermentasi,
jamur ini menunjukkan hasil terbentuknya gas dan asam pada glukosa dan maltosa,
terbentuknya asam pada sukrosa dan tidak terbentuknya asam dan gas pada
laktosa(Tjampakasari, 2006).
D.
Patogenitas
Berbagai faktor virulensi terlibat dalam patogenesis Candida
albicans.Peran kunci dimainkan oleh dinding sel dan protein yang
disekresikan.Permukaan sel Candida albicans adalah titik kontak pertama
dengan hospes, dan berperan penting dalam adhesi, kolonisasi, dan
imunomodulasi.
Dinding sel Candida albicans merupakan sebuah
struktur elastis yang menyediakan perlindungan fisik dan dukungan osmotik,
serta menentukan bentuk sel. Dinding sel adalah mediator utama interaksi antara
sel jamur dan substrat hospes. Interaksi ini mengakibatkan terjadinya proses adhesi
ke jaringan hospes dan diperkirakan sebagai salah satu faktor virulensi penting
dalam perkembangannya menjadi organisme patogen (Bates dan Rosa, 2006).
Mekanisme adhesi ke jaringan hospes merupakan
kombinasi dari mekanisme spesifik dan non-spesifik. Mekanisme spesifik meliputi
interaksi ligan-reseptor, sedangkan mekanisme non-spesifik meliputi agregasi,gaya
elektrostatik, dan hidrofobisitas permukaan sel. Interaksi
non-spesifik merupakan mekanisme utama tetapi bersifat reversibel. Sifat ini
akan menjadi irreversibel jika terjadi mekanisme spesifik dalam proses adhesi
yang mengakibatkan dinding sel Candida albicans berinteraksi dengan
reseptor atau ligan dari sel hospes (Tjampakasari, 2006).
Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa mannan,
mannoprotein, atau polisakarida merupakan substrat penting yang memperantarai
proses adhesi ini. Mannoprotein mempunyai sifat imunosupresif
sehingga mempertinggi pertahanan jamur terhadap imunitas hospes. Candida
albicans tidak hanya menempel, namun juga melakukan penetrasi ke dalam
mukosa. Enzim-enzim yang berperan sebagai faktor virulensi adalah enzim-enzim
hidrolitik seperti proteinase, lipase dan fosfolipase. Enzim proteinase
aspartil membantu Candida albicans pada tahap awal invasi jaringan untuk
menembus lapisan mukokutan yang berkeratin. Adapula faktor-faktor lain yang
mempengaruhi diantaranya hidrofobisitas permukaan sel, perubahan fenotip
Candida albicans, pH, dan suhu(Tjampakasari, 2006).
Hidrofobisitas permukaan sel berperan penting pada
patogenesis jamur oportunistik Candida albicans. Permukaan sel hidrofobik,
dibandingkan dengan sel hidrofilik, menunjukkan perlekatan yang
lebih besar pada epitel, sel endotel, dan protein matriks ekstraselular.
Permukaan sel hidrofobik ini akan menjadi lebih resisten terhadap sel
fagosit. Sehingga semakin hidrofobik permukaan sel, maka Candida
albicans akan semakin mudah melekat pada jaringan hospes (Pereira dan
Tatiana, 2008).
Faktor virulensi lainnya adalah sifat dimorfik Candida
albicans, bahkan sebagian peneliti menyatakan sifatnya yang polimorfik.Dua
bentuk utama Candida albicans adalah bentuk ragi dan bentuk pseudohifa
yang juga disebut sebagai miselium. Dalam keadaan patogen, Candida albicans lebih
banyak ditemukan dalam bentuk miselium atau filamen dibandingkan bentuk spora.
Bentuk hifa mempunyai virulensi yang lebih tinggi dibandingkan bentuk spora
karena ukuran yang lebih besar sehingga sulit untuk difagositosis oleh sel
makrofag (Pereira dan Tatiana, 2008).
E.
Epidemiologi
Jamur ragi termasuk spesies Candida
albicans yang merupakan flora komensal normal pada manusia dapat ditemukan
pula pada saluran gastrointestinal (mulut sampai anus).Pada vagina sekitar 13 %
kebanyakan Candida albicans dan Candida glabrata. Isolasi spesies
Candida komensal oral berkisar pada 30 – 60 % ditemukan pada orang
dewasa sehat (Sari, K 2013).
Di
Jerman ditemukan penyebab yang berbeda-beda pada diaper dermatitis pada 46
laki-laki dan perempuan. Pada 38 pasien menunjukkan penyebab yang spesifik, 63
% dengan kandidiasis, 16 % dengan dermatitis iritan, 11 % dengan ekzema, dan 11
% dengan psoriasis. Dari pasien tersebut, 37 orang diterapi dan 73 % dirawat 8
minggu setelah terapi (Sari, K 2013).
Di
Argentina,dianalisa 2073 sampel kulit, rambut, kuku, dan
membran mukosa oral didapatkan 1817 pasien yang datang ke bagian mirkobiologi
dari laboratorium sentral Dr. J.M. Cullen Hospital dari September 1999 sampai
dengan September 2003. Sampel tersebut diteliti dan diidentifikasi berdasarkan
lokalisasi dan tipe lesi. Dari total sampel, 55,6 % adalah positif, 63 %
terkena pada wanita dan 37 % terkena pada laki-laki (Sari, K 2013).
Di
Jepang, dilaporkan bahwa kutaneus kandidiasis terdapat pada 755 kasus (1 %)
dari 72.660 pasien yang keluar dari rumah sakit. Intertrigo347 kasusmerupakan
manifestasi klinis kandidiasis paling sering, erosi interdigitalis
terjadi pada 103 kasus, diaper kandidiasis tercatat 102 kasus.Sedangkan
di Bombay, India diperiksa 150 pasien dengan kandidiasis kutaneus. Kerokan
kulit diuji dengan KOH 10 % dan dikultur pada media SDA.Insiden tersering
adalah intertrigo 75 kasus, vulvovaginitis 19 kasus, dan paronikia 17
kasus. Sedangkan jamur yang diisolasi didapatkan Candida albicans 136
kasus, Candida tropicalis 12 kasus, danCandida guillermondi 2
kasus. Dan Diabetes Mellitus menjadi faktor predisposisi pada 22 orang pasien
(Sari, K 2013).
F.
Infeksi Candida albicans
Kandidiasis oral merupakan salah satu penyakit pada rongga mulut
berupa lesi merah dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis Candida sp,
dimana Candida albicans merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab
utama. Kandidiasis oral pertama sekali dikenalkan oleh Hipocrates pada tahun
377 SM, yang melaporkan adanya lesi oral yang kemungkinan disebabkan oleh genus
Candida. Terdapat 150 jenis jamur dalam famili Deutromycetes, dan
tujuh diantaranya ( C.albicans, C. tropicalis, C. parapsilosi, C. krusei, C.
kefyr, C. glabrata, dan C. guilliermondii ) dapat menjadi patogen, dan C.
albicansmerupakan jamur terbanyak yang terisolasi dari tubuh manusia
sebagai flora normal dan penyebab infeksi oportunistik. Terdapat sekitar 30-40%
Candida albicans pada rongga mulut orang dewasa sehat, 45% pada
neonatus, 45-65% pada anak-anak sehat, 50-65% pada pasien yang memakai gigi
palsu lepasan, 65-88% pada orang yang mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang,
90% pada pasien leukemia akut yang menjalani kemoterapi, dan 95% pada pasien
HIV/AIDS.
Pada orang yang sehat, Candida albicans umumnya tidak menyebabkan
masalah apapun dalam rongga mulut. Namun karena berbagai faktor, jamur tersebut
dapat tumbuh secara berlebihan dan menginfeksi rongga mulut. Faktor-faktor tersebut
dibagi menjadi dua, yaitu :
a.
Patogenitas jamur
Beberapa faktor yang berpengaruh pada patogenitas dan proses infeksi Candida
adalah adhesi, perubahan dari bentuk ragi ke bentuk hifa, dan produksi enzim
ekstraseluler. Adhesi merupakan proses melekatnya sel Candida ke dinding
sel epitel host.Perubahan bentuk dari ragi ke hifa diketahui berhubungan
dengan patogenitas dan proses penyerangan Candida terhadap sel host.
Produksi enzim hidrolitik ekstraseluler seperti aspartyc proteinase juga
sering dihubungkan dengan patogenitas Candida albicans.
b. Faktor Host
Faktor host dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor lokal dan
faktor sistemik. Termasuk faktor lokal adalah adanya gangguan fungsi kelenjar
ludah yang dapat menurunkan jumlah saliva. Saliva penting dalam mencegah
timbulnya kandidiasis oral karena efek pembilasan dan antimikrobial protein
yang terkandung dalam saliva dapat mencegah pertumbuhan berlebih dari Candida,
itu sebabnya kandidiasis oral dapat terjadi pada kondisi Sjogren syndrome,
radioterapi kepala dan leher, dan obat-obatan yang dapat mengurangi sekresi
saliva. Selain dikarenakan faktor lokal, kandidiasis juga dapat dihubungkan
dengan keadaan sistemik, yaitu usia dan penyakit sistemik seperti diabetes,
kondisi imunodefisiensi seperti HIV, keganasan seperti leukemia, defisiensi
nutrisi, dan pemakaian obat-obatan seperti antibiotik spektrum luas dalam
jangka waktu lama, kortikosteroid, dan kemoterapi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi Candida albicans di
rongga mulut, adalah :
1. Saliva
Gigi tiruan yang dipasang di dalam rongga mulut akan berkontak dengan
saliva dan membentuk lapisan organik tipis yang disebut pelikel yang mengandung
protein yang dapat mengikat mikroorganisme Candida albicans sehingga melekat
pada permukaan gigitiruan dan menyebabkan saliva pada pemakai gigi tiruan tidak
dapat mengalir dengan baik sehingga perlekatan mikroorganisme pada mukosa
semakin besar.
2. pH
Candida albicans adalah spesies Candida yang paling banyak ditemukan dalam rongga
mulut normal rata-rata 45% yaitu pada dorsum lidah, mukosa dan permukaan gigi
yang ditutupi plak.Jumlah Candida albicans pada pH yang normal (7,2-7,5)
adalah kurang dari 100 koloni atau 300-500 organisme permilimeter saliva.
Pemakaian gigi tiruan dapat menyebabkan pH antara permukaan gigi tiruan yang
berkontak dengan mukosa bersifat lebih asam (pH 5,0-5,5), sehingga dapat
meningkakan pertumbuhan Candida albicans dalam rongga mulut.
3. Adhesi
Mekanisme perlekatan Candida albicans melibatkan interaksi antara
sel ligan Candida dan sel reseptor inang. Reseptor ligan Candida
albicans adalah mannoprotein.
4.
Mannoprotein
Dinding sel Candida albicans terdiri atas mannan polisakarida,
glukan dan kitin. Mannan dan mannoprotein merupakan lapisan terluar dinding sel
Candida albicans dengan persentasi 15,2-22,9%, protein 6-25%, lipid 1-7%
dan kitin kira-kira 0,6-9% (Abu-Elteen KH, 2005).
5.
Hidrofobik Permukaan Sel
Hidrofobik permukaan sel Candida albicans melibatkan perlekatan
blastospora pada sel epitel rongga mulut. Hidrofobik sel Candida albicans berikatan
dengan jaringan rongga mulut yang merupakan sel hidrofilik.
6. Bakteri
Rongga Mulut
Bakteri rongga mulut seperti Streptococcus sanguis, Streptococcus
gordinii, Streptococcus anginosus akan mendukung kolonisasi dan
proliferasi Candida albicans di rongga mulut.
7. Hifa
Bentuk hifa Candida albicans dihubungkan dengan perlekatannya pada
sel epitel rongga mulut. Germ tube Candida albicans akan meningkatkan
perlekatan ke sel mukosa, hal ini merupakan mekanisme virulensi spesies Candida.
Beberapa faktor yang mengatur perubahan bentuk blastospora Candida albicans ke
bentuk hifa diantaranya temperatur 37-40◦ C, pH media pertumbuhan 6,5-7, dan
media pertumbuhan (Abu-Elteen KH, 2005).
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Candida
albicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya untuk tumbuh dalam 2
bentuk yang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan berkembang menjadi
blastospora dan menghasilkan kecambah yang akan membentuk hifa semu.
Berbagai
faktor virulensi terlibat dalam patogenesis Candida albicans.Peran kunci
dimainkan oleh dinding sel dan protein yang disekresikan.Permukaan sel Candida
albicans adalah titik kontak pertama dengan hospes, dan berperan penting dalam
adhesi, kolonisasi, dan imunomodulasi.
Jamur
ragi termasuk spesies Candida albicans yang merupakan flora komensal normal
pada manusia dapat ditemukan pula pada saluran gastrointestinal (mulut sampai
anus).
DAFTAR PUSTAKA
Bates S, Rosa JM. (2007). “Candida albicans Iff11,
A secreted protein required for cell wall structure and virulence”. J Infect
and Immun.; 75(6): 2922- 2928.
Budiarto, E. (2003). “Metodologi
Penelitian Kedokteran Sebuah Pengantar”.EGC.
Jakarta.
Budiman, C, (2008). “Metodologi
Penelitian Kesehatan”. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Jawetz, Melnick, & Adelberg / Geo
F. Brooks.(2012). “Mikrobiologi Kedokteran” EGC. Jakarta.
Hasdianah.(2012). “Mengenal Diabetes
Mellitus Pada Orang Dewasa dan Anak-anak dengan Solusi Herbal”.Nuha Medika.
Yogyakarta.
Kuswadji. (2002). ”Kandidiosis di
dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin”. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI.
pp: 103-106.
Atun.(2010). “Diabetes Mellitus
Memahami, Mencegah, dan Merawat Penderita Penyakit Gula”. Kreasi Wacana.
Bantul.
Novitasari, R. (2012). “Diabetes
Mellitus”. Nuha Medika. Yogyakarta.
Pereira-Cenci dan Tatiana, et al.
(2008).“Development ofCandida-associated dentureStomatitis new
insights”.J Appl Oral Sci.; 16(2): 86-94.
Ramali L.M dan Werdani S. (2001).“Kandidiasis Kutan dan Mukokutan”.
Dalam: Dermatomikosis Superficialis. Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit
dan Kelamin Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. pp: 55-65.
![]() |
Komentar
Posting Komentar