MAKALAH ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
MAKALAH
ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

DISUSUN OLEH :
RIKI ADI KURNIA
YOGA PRATAMA ISKANDAR
AMANDA DESKA
FRANSISCA SIHOTANG
NUR FATIMAH A
DIAN SEPRIDA
SINDI AMANDA
RIA YUNIZA
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN FARMASI
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul ILMU KESEHATAN MASYARAKAT.
Kami
meyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu
kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan
makalah ini.
Demikian
yang dapat kami sampaikan, kurang dan lebihnya kami mohon maaf. Atas
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Banadar
Lampung, Novenber 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL....................................................................................... i
KATA
PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang..................................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah................................................................................. 2
1.3 Tujuan
pembahasan.............................................................................. 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Gizi..................................................................................... 4
2.2 Gizi dalam
kesehatan masyarakat........................................................ 5
2.3 Definisi
Status Gizi.............................................................................. 5
2.4 Indikator
Status Gizi............................................................................. 6
2.5 Faktor-Faktor
yang Memengaruhi Status Gizi Seseorang................... 6
2.6 Akibat
yang Ditimbulkan Karena Gizi Salah (Malnutrisi)................... 8
2.7 Cara-Cara
Perbaikan Status Gizi.......................................................... 9
2.8 Penanggulangan
Masalah Gizi............................................................. 9
2.9 Penilaian
Status Gizi............................................................................ 10
2.10 Gizi Daur
Kehidupan........................................................................ 14
2.11 Permasalahan
Gizi Masyarakat......................................................... 14
2.12 Solusi
Permasalahan Gizi Masyarakat.............................................. 17
BAB III PENUTUP
3.1
Kesimpulan.......................................................................................... 20
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Keadaan
gizi dan kesehatan masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi, Dewasa ini
Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah gizi kurang dan masalah
gizi lebih. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh kemiskinan, kurangnya
persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan (sanitasi), kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan, dan adanya
daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh
kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu yang disertai dengan minimnya
pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan. Dengan demikian,
sebaiknya masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kesehatan guna mencegah terjadinya
gizi salah (malnutrisi) dan risiko untuk menjadi kurang gizi.
Tingginya
angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. Mulai dari
bayi dilahirkan, masalahnya sudah mulai muncul, yaitu dengan banyaknya bayi
lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2.5 Kg). Masalah ini berlanjut dengan
tingginya masalah gizi kurang pada balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa
sampai dengan usia lanjut.
Masalah
gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan
kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena
itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait.
Suatu
penyakit timbul karena tidak seimbangnya berbagai faktor, baik dari sumber
penyakit (agens), pejamu (host) dan lingkungan (environment). Hal itu disebut
juga dengan istilah penyebab majemuk (multiple causation of diseases) sebagai
lawan dari peiiyebab tunggal (single causation).
Berlandaskan
oleh latar belakang di atas maka di dalam makalah ini akan dibahas mengenai
gizi masyarakat.
1.2
Rumusan Masalah
Makalah ini disusun berdasarkan
rumusan masalah sebagai berikut:
- Apakah yang dimaksud dengan gizi?
- Apakah yang dimaksud dengan gizi kesehatan masyarakat?
- Apakah yang dimaksud dengan status gizi?
- Apakah yang dimaksud indikator status gizi?
- Apa saja faktor-faktor yang memengaruhi status gizi seseorang?
- Apa saja akibat yang ditimbulkan karena gizi salah (malnutrisi)?
- Apa saja cara-cara dalam perbaikan status gizi?
- Bagaimana cara penanggulangan masalah gizi?
- Bagaimana cara penilaian status gizi?
- Bagaimana gizi menurut daur kehidupan?
- Bagaimana permasalahan gizi masyarakat?
- Bagaimana solusi permasalahan gizi masyarakat?
- Bagaimana cara program gizi dan kesehatan masa depan?
1.3 Tujuan pembahasan
Tujuan
dari penulisan makalah ini adalah:
- Mahasiswa dapat mengerti tentang pengertian gizi;
- Mahasiswa dapat memahami gizi dalam kesehatan masyarakat;
- Mahasiswa Dapat memahami definisi status gizi;
- Mahasiswa Dapat memahami definisi indikator status gizi;
- Mahasiswa Dapat memperluas wawasan tentang faktor-faktor yang memengaruhi status gizi seseorang;
- Mahasiswa Dapat memperkaya pengetahuan tentang akibat yang ditimbulkan karena gizi salah (malnutrisi);
- Mahasiswa Dapat menambah wawasan tentang cara-cara dalam perbaikan status gizi;
- Mahasiswa dapat memahami daur kehidupan gizi;
- Mahasiswa Dapat mengetahui beberapa cara penanggulangan masalah gizi.
- Mahasiswa dapat mengetahui penilaian status gizi;
- Mahasiswa dapat memahami permasalahan gizi masyarakat;
- Mahasiswa dapat mengetahui solusi permasalahan gizi masyarakat;
- Mahasiswa dapat memahami program perbaikan gizi dan kesehatan masa depan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian Gizi
Gizi
adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi
secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan
energi.
Tak
satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat
seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu,
setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan
yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI
adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang
dirinya secara wajar dan sehat.
Makan
makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang
beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang
diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi
biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung
zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas
kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan
dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang
beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat
pembangun dan zat pengatur.
Makanan
sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar,
kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak
juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas
sehari-hari.
Makanan
sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah
kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur,
ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun
berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan
seseorang.
Makanan
sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini
mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan
bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.
2.2
Gizi dalam kesehatan masyarakat
Terkait
erat dengan ”gisi kesehatan masyarakat” adalah ”kesehatan gizi masyarakat,”
yang mengacu pada cabang populasi terfokus kesehatan masyarakat yang memantau
diet, status gizi dan kesehatan, dan program pangan dan gizi, dan memberikan
peran kepemimpinan dalam menerapkan publik kesehatan prinsip-prinsip untuk
kegiatan yang mengarah pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit melalui
pengembangan kebijakan dan perubahan lingkungan.
Definisi
Gizi kesehatan masyarakat merupakan penyulingan kompetensi untuk gizi kesehatan
masyarakat yang disarankan oleh para pemimpin nasional dan internasional
dilapangan.
Gizi
istilah dalam kesehatan masyarakat mengacu pada gizi sebagai komponen dari
cabang kesehatan masyarakat , ”gizi dan kesehatan masyarakat” berkonotasi
koeksistensi gizi dan kesehatan masyarakat, dan gizi masyarakat mengacu pada
cabang kesehatan masyarakat yang berfokus pada promosi kesehatan individu, keluarga,
dan masyarakat dengan menyediakan layanan berkualitas dan program-program
berbasis masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan yang unik dari komunitas
yang berbeda dan populasi. Gizi masyarakat meliputi program promosi kesehatan,
inisiatif kebijakan dan legislatif, pencegahan primer dan sekunder, dan
kesehatan di seluruh rentang hidup
2.3
Definisi Status Gizi
Status
gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu
atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan indikator baik-buruknya
penyediaan makanan sehari-hari. Adapun definisi lain menurut Suyatno, Ir. Mkes,
Status gizi yaitu Keadaan yang diakibatkan oleh status keseimbangan antara
jumlah asupan (“intake”) zat gizi dan jumlah yang dibutuhkan (“requirement”)
oleh tubuh untuk berbagai fungsi biologis: (pertumbuhan fisik, perkembangan,
aktivitas, pemeliharaan kesehatan, dan lainnya). Status gizi yang baik
diperlukan untuk mempertahankan derajat kebugaran dan kesehatan, membantu
pertumbuhan bagi anak, serta menunjang pembinaan prestasi olahragawan. Status
gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk
terjadinya kesakitan atau kematian. Status gizi yang baik pada seseorang akan
berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses
pemulihan kesehatan. Status gizi juga dibutuhkan untuk mengetahui ada atau
tidaknya malnutrisi pada individu maupun masyarakat. Dengan demikian, status
gizi dapat dibedakan menjadi gizi kurang, gizi baik, dan gizi lebih.
2.4
Indikator Status Gizi
Indikator
status gizi yaitu tanda-tanda yang dapat memberikan gambaran tentang keadaan
keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh. Indikator status
gizi umumnya secara langsung dapat terlihat dari kondisi fisik atau kondisi
luar seseorang. contoh: pertumbuhan fisik → ukuran tubuh → antropometri (berat
badan, tinggi badan, dan lainnya).
2.5
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Status Gizi Seseorang
Faktor Lingkungan
Lingkungan yang buruk seperti air
minum yang tidak bersih, tidak adanya saluran penampungan air limbah, tidak
menggunakan kloset yang baik, juga kepadatan penduduk yang tinggi dapat
menyebabkan penyebaran kuman patogen.
Lingkungan yang mempunyai iklim tertentu berhubungan dengan jenis tumbuhan yang dapat hidup sehingga berhubungan dengan produksi tanaman.
Lingkungan yang mempunyai iklim tertentu berhubungan dengan jenis tumbuhan yang dapat hidup sehingga berhubungan dengan produksi tanaman.
Faktor Ekonomi
Di banyak negara yang secara
ekonomis kurang berkembang, sebagian besar penduduknya berukuran lebih pendek
karena gizi yang tidak mencukupi dan pada umunya masyarakat yang berpenghasilan
rendah mempunyai ukuran badan yang lebih kecil.
Masalah gizi di negara-negara miskin
yang berhubungan dengan pangan adalah mengenai kuantitas dan kualitas.
Kuantitas menunjukkan penyediaan pangan yang tidak mencukupi kebutuhan energi
bagi tubuh. Kualitas berhubungan dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi khusus
yang diperlukan untuk petumbuhan, perbaikan jaringan, dan pemeliharaan tubuh
dengan segala fungsinya.
Faktor Sosial-Budaya
Indikator masalah gizi dari sudut
pandang sosial-budaya antara lain stabilitas keluarga dengan ukuran frekuensi
nikah-cerai-rujuk, anak-anak yang dilahirkan di lingkungan keluarga yang tidak
stabil akan sangat rentan terhadap penyakit gizi kurang. Juga indikator
demografi yang meliputi susunan dan pola kegiatan penduduk, seperti peningkatan
jumlah penduduk, tingkat urbanisasi, jumlah anggota keluarga, serta jarak
kelahiran.
Tingkat pendidikan juga termasuk
dalam faktor ini. Tingkat pendidikan berhubungan dengan status gizi karena
dengan meningkatnya pendidikan seseorang, kemungkinan akan meningkatkan
pendapatan sehingga dapat meningkatkan daya beli makanan.
Faktor Biologis/Keturunan
Sifat yang diwariskan memegang kunci
bagi ukuran akhir yang dapat dicapai oleh anak. Keadaan gizi sebagian besar
menentukan kesanggupan untuk mencapai ukuran yang ditentukan oleh pewarisan
sifat tersebut. Di negara-negara berkembang memperlihatkan perbaikan gizi pada
tahun-tahun terakhir mengakibatkan perubahan tinggi badan yang jelas.
Faktor Religi
Religi atau kepercayaan juga
berperan dalam status gizi masyarakat, contohnya seperti tabu mengonsumsi
makanan tertentu oleh kelompok umur tertentu yang sebenarnya makanan tersebut
justru bergizi dan dibutuhkan oleh kelompok umur tersebut. Seperti ibu hamil
yang tabu mengonsumsi ikan.
2.6
Akibat yang Ditimbulkan Karena Gizi Salah (Malnutrisi)
Gizi
salah berpengaruh negatif terhadap perkembangan mental, perkembangan fisik,
produktivitas, dan kesanggupan kerja manusia. Gizi salah yang diderita pada
masa periode dalam kandungan dan periode anak-anak, menghambat kecerdasan anak.
Anak yang menderita gizi salah tingkat berat mempunyai otak yang lebih kecil
daripada ukuran otak rata-rata dan mempunyai sel otak yang kapasitasnya 15%-20%
lebih rendah dibandingkan dengan anak yang bergizi baik. Studi di beberapa
negara menunjukkan bahwa anak yang pernah menderita gizi salah, hasil tes
mentalnya kurang bila dibandingkan dengan hasil tes mental anak lain yang
bergizi baik. Anak yang menderita gizi salah mengalami kelelahan mental serta
fisik, dan dengan demikian mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi di dalam
kelas, dan seringkali ia tersisihkan dari kehidupan sekitarnya.
Anak
yang berasal dari keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah telah diteliti
memiliki persentase di bawah ukuran normal bagi tinggi dan berat badan anak
sehat. Sedangkan hubungan antara zat gizi dan produktivitas kerja telah dikenal
baik sejak satu abad yang lalu oleh orang-orang yang mempunyai budak belian
yang melihat bahwa gizilah berarti penurunan nilai modal. Produktivitas pekerja
yang disiksa atau mendapat tekanan akan memberikan hasil yang lebih rendah bila
dibandingkan dengan keadaan yang diurus dengan baik, dalam artian diberikan
makanan yang bergizi cukup baik.
Gizi
salah merupakan sebab-sebab penting yang berhubungan dengan tingginya angka
kematian di antara orang dewasa meskipun tidak begitu mencolok bila
dibandingkan dengan angka kematian di antara anak-anak yang masih muda. Dampak
relatif yang ditimbulkan oleh gizi salah ialah melemahkan daya tahan tehadap
penyakit yang biasanya tidak mematikan dan perbaikan gizi adalah suatu faktor
utama yang membantu meningkatkan daya tahan terhadap penyakit. Status gizi juga
berhubungan langsung dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk penyembuhan
setelah menderita infeksi, luka, dan operasi yang berat.
2.7
Cara-Cara Perbaikan Status Gizi
Pengaturan
makanan adalah upaya untuk meningkatkan status gizi, antara lain menambah berat
badan dan meningkatkan kadar Hb. Berikut adalah pengaturan makanan yang
bertujuan untuk meningkatkan status gizi:
- Kebutuhan energi dan zat gizi ditentukan menurut umur, berat badan, jenis kelamin, dan aktivitas;
- Susunan menu seimbang yang berasal dari beraneka ragam bahan makanan, vitamin, dan mineral sesuai dengan kebutuhan
- Menu disesuaikan dengan pola makan;
- Peningkatan kadar Hb dilakukan dengan pemberian makanan sumber zat besi yang berasal dari bahan makanan hewani karena lebih banyak diserap oleh tubuh daripada sumber makanan nabati;
- Selain meningkatkan konsumsi makanan kaya zat besi, juga perlu menambah makanan yang banyak mengandung vitamin C, seperti pepaya, jeruk, nanas, pisang hijau, sawo kecik, sukun, dll.
2.8
Penanggulangan Masalah Gizi
Seperti
yang telah kita ketahui, masalah gizi yang salah kian marak di negara kita.
Dengan demikian diperlukan penanggulangan guna memperbaiki gizi masyarakat
Indonesia. Berikut ini cara-cara yang dapat dilakukan untuk menanggulangi gizi
salah, baik gizi kurang maupun gizi lebih.
a)
Penanggulangan masalah gizi kurang
Ø Upaya pemenuhan persediaan pangan
nasional terutama melalui peningkatan produksi beraneka ragam pangan;
Ø Peningkatan usaha perbaikan gizi
keluarga (UPGK) yng diarahkan pada pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan
ketahanan pangan tingkat rumah tangga;
Ø Peningkatan upaya pelayanan gizi
terpadu dan sistem rujukan dimulai dari tingkat Pos Pelayanan Terpadu
(Posyandu), hingga Puskesmas dan Rumah Sakit;
Ø Peningkatan upaya keamanan pangan
dan gizi melalui Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG);
Ø Peningkatan komunikasi, informasi,
dan edukasi di bidang pangan dan gizi masyarakat;
Ø Peningkatan teknologi pangan untuk
mengembangkan berbagai produk pangan yang bermutu dan terjangkau oleh
masyarakat luas;
Ø Intervensi langsung kepada sasaran
melalui pemberian makanan tambahan (PMT), distribusi kapsul vitamin A dosis
tinggi, tablet dan sirup besi serta kapsul minyak beriodium;
Ø Peningkatan kesehatan lingkungan;
Ø Upaya fortifikasi bahan pangan
dengan vitamin A, Iodium, dan Zat Besi;
Ø Upaya pengawasan makanan dan
minuman;
Ø Upaya penelitian dan pengembangan
pangan dan gizi.
b)
Penanggulangan masalah gizi lebih
Dilakukan dengan cara menyeimbangkan
masukan dan keluaran energi melalui pengurangan makanan dan penambahan latihan
fisik atau olahraga serta menghindari tekanan hidup/stress. Penyeimbangan
masukan energi dilakukan dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta
menghindari konsumsi alkohol.
2.9
Penilaian Status Gizi
Status
gizi adalah Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk
variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel
tertentu, contoh gondok endemik merupakan keadaaan tidak seimbangnya pemasukan
dan pengeluaran yodium dalam tubuh.
Macam-macam penilaian status gizi
- Penilaian status gizi secara langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi
empat penilaian yaitu antropometri, klinis, biokimia dan biofisik.
a. Antropometri
1) Pengertian
Secara umum antropometri artinya
ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut pandang gizi, maka antropometri gizi
berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh
dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
2) Penggunaan
Antropometri secara umum digunakan
untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan
ini terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti
lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh.
3) Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass
Index (BMI)
Salah satu contoh penilaian ststus
gizi dengan antropometri adalah Indeks Massa Tubuh. Indeks Massa Tubuh (IMT)
atau Body Mass Index (BMI) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk
memantau status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan
dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang dapat meningkatkan resiko
terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko
terhadap penyakit degeneratif. Oleh karena itu, mempertahankan berat badan normal
memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup yang lebih panjang.
Pedoman ini bertujuan memberikan
penjelasan tentang cara-cara yang dianjurkan untuk mencapai berat badan normal
berdasarkan IMT dengan penerapan hidangan sehari-hari yang lebih seimbang dan
cara lain yang sehat.
Untuk memantau indeks masa tubuh
orang dewasa digunakan timbangan berat badan dan pengukur tinggi badan.
Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa berumur > 18 tahun dan
tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan.
Untuk mengetahui nilai IMT ini,
dapat dihitung dengan rumus berikut:
Berat Badan (Kg)
IMT = ——————————————————-
Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)
Pada akhirnya diambil kesimpulan,
batas ambang IMT untuk Indonesia adalah sebagai berikut:
|
|
Kategori
|
IMT
|
|
Kurus
|
Kekurangan berat badan tingkat
berat
|
<>
|
|
Kurus sekali
|
Kekurangan berat badan tingkat
ringan
|
17,0 – 18,4
|
|
Normal
|
Normal
|
18,5 – 25,0
|
|
Gemuk
|
Kelebihan berat badan tingkat
ringan
|
25,1 – 27,0
|
|
Obes
|
Kelebihan berat badan tingkat berat
|
> 27,0
|
Untuk mengukur status gizi anak baru
lahir adalah dengan menimbang berat badannya yaitu : jika ≤ 2500 gram maka
dikategorikan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) jika 2500 – 3900 gram Normal dan
jika ≥ 4000 gram dianggap gizi lebih.
Untuk Wanita hamil jika LILA (LLA)
atau Lingkar lengan atas <>
b. Klinis
1) Pengertian
Pemeriksaan klinis adalah metode
yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan
atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan
zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel (supervicial epithelial
tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ yang
dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
2) Penggunaan
Penggunaan metode ini umumnya untuk
survei klinis secara cepat (rapid clinical surveys). Survei ini dirancang untuk
mendeteksi secara cepat tanda-tanda klinis umum dari kekurangan salah satu atau
lebih zat gizi. Di samping itu digunakan untuk mengetahui tingkat status gizi seseorang
dengan melakukan pemeriksaan fifik yaitu tanda (sign) dan gejala (Symptom) atau
riwayat penyakit.
c. Biokimia
1) Pengertian
Penilaian status gizi dengan
biokimia adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara laboratoris yang
dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan
antara lain : darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati
dan otot.
2) Penggunaan
Metode ini digunakan untuk suata
peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi keadaan malnutrisi yang lebih parah
lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali
dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik.
d. Biofisik
1) Pengertian
Penentuan status gizi secara
biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi
(khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan.
2) Penggunaan
Umumnya dapat digunaakan dalam
situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik (epidemic of night
blindnes). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.
Penilaian gizi secara tidak langsung
Penilaian status gizi secara tidak
langsung dapat dibagi tiga yaitu : Survei Konsumsi makanan, statistik
vital dan faktor ekologi.
a. Survei Konsumsi Makanan
1) Pengertian
Survei konsumsi makanan adalah
metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan
jenis zat gizi yang dikonsumsi.
2) Penggunaan
Pengumpulan data konsumsi makanan
dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi pada masyarakat,
keluarga dan individu. Survei ini dapat mengidentifikasikan kelebihan dan
kekurangan zat gizi.
b. Statistik Vital
1) Pengertian
Pengukuran status gizi dengan
statistik vital adalah dengan menganalisis dan beberapa statistik kesehatan
seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat
penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan.
2) Penggunaan
Penggunaannya dipertimbangkan
sebagai bagian dari indikator tidak langsung pengukuran status gizi masyarakat.
c. Faktor Ekologi
1) Pengertian
Bengoa mengungkapkan bahwa
malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor
fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat
tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dll.
2) Penggunaan
Pengukuran faktor ekologi dipandang
sangat penting untuk mengetahui penyebab malnutrisi di suatu masyarakat sebagai
dasar untuk melakukan program intervensi gizi.
2.10
Gizi Daur Kehidupan
United
Nations (Januari, 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan
upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur, dengan mengikuti siklus
kehidupan. Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat
perhatian pada upaya perbaikan gizi. Pada bagan 1 ini diperlihatkan juga faktor
yang mempengaruhi memburuknya keadaan gizi, yaitu pelayanan kesehatan yang
tidak memadai, penyakit infeksi, pola asuh, konsumsi makanan yang kurang, dan
lain-lain yang pada akhirnya berdampak pada kematian.
Ket :
WUS = Wanita Usia Subur
BUMIL = Ibu Hamil
MP- ASI = Makanan Pendamping ASI
BB = Berat Badan
KEK = Kurang energi kronis
KEP = Kurang Energi dan Protein
BBLR = Berat Bayi Lahir Rendah
MMR = Maternal Mortality Rate = Angka Kematian Ibu
Melahirkan
IMR = Infant Mortality Rate = Angka Kematian Bayi (anak usia
<>
ASI Eksklusif = Pemberian kepada bayi hanya ASI saja (sampai
6 bulan)
2.11
Permasalahan Gizi Masyarakat
Permasalahan Gizi Masyarakat dapat
dilihat pada bagan berikut :
UNICEF (1988) telah mengembangkan
kerangka konsep makro (lihat skema.) sebagai salah satu strategi untuk
menanggulangi masalah kurang gizi. Dalam kerangka tersebut ditunjukkan bahwa
masalah gizi kurang dapat disebabkan oleh:
1. Penyebab langsung
Makanan
dan penyakit dapat secara langsung menyebabkan gizi kurang. Timbulnya gizi
kurang tidak hanya dikarenakan asupan makanan yang kurang, tetapi juga
penyakit. Anak yang mendapat cukup makanan tetapi sering menderita sakit, pada
akhirnya dapat menderita gizi kurang. Demikian pula pada anak yang tidak
memperoleh cukup makan, maka daya tahan tubuhnya akan melemah dan akan mudah
terserang penyakit.
2. Penyebab tidak langsung
Ada
3 penyebab tidak langsung yang menyebabkan gizi kurang yaitu :
Ø Ketahanan pangan keluarga yang
kurang memadai. Setiap keluarga diharapkan mampu untuk memenuhi kebutuhan
pangan seluruh anggota keluarganya dalam jumlah yang cukup baik jumlah maupun
mutu gizinya.
Ø Pola pengasuhan anak kurang memadai.
Setiap keluarga dan mayarakat diharapkan dapat menyediakan waktu, perhatian,
dan dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh kembang dengan baik baik fisik,
mental dan sosial.
Ø Pelayanan kesehatan dan lingkungan
kurang memadai. Sistim pelayanan kesehatan yang ada diharapkan dapat menjamin
penyediaan air bersih dan sarana pelayanan kesehatan dasar yang terjangkau oleh
setiap keluarga yang membutuhkan.
Ø Ketiga faktor tersebut berkaitan
dengan tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan keluarga. Makin tinggi
tingkat pendidikan, pengetahuan dan ketrampilan, makin baik tingkat ketahanan
pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan maka akan makin banyak keluarga
yang memanfaatkan pelayanan kesehatan.
3. Pokok masalah di masyarakat
Kurangnya
pemberdayaan keluarga dan kurangnya pemanfaatan sumber daya masyarakat
berkaitan dengan berbagai faktor langsung maupun tidak langsung.
4. Akar masalah
Kurangnya
pemberdayaan wanita dan keluarga serta kurangnya pemanfaatan sumber daya
masyarakat terkait dengan meningkatnya pengangguran, inflasi dan kemiskinan
yang disebabkan oleh krisis ekonomi, politik dan keresahan sosial yang menimpa
Indonesia sejak tahun 1997. Keadaan tersebut teleh memicu munculnya kasus-kasus
gizi buruk akibat kemiskinan dan ketahanan pangan keluarga yang tidak memadai.
Masalah
gizi terbagi menjadi masalah gizi makro dan mikro. Masalah gizi makro adalah
masalah yang utamanya disebabkan kekurangan atau ketidakseimbangan asupan energi
dan protein. Manifestasi dari masalah gizi makro bila terjadi pada wanita
usia subur dan ibu hamil yang Kurang Energi Kronis (KEK) adalah berat badan
bayi baru lahir yang rendah (BBLR). Bila terjadi pada anak balita akan
mengakibatkan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor dan selanjutnya
akan terjadi gangguan pertumbuhan pada anak usia sekolah. Anak balita yang
sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan
antara berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi, apabila sesuai
dengan standar anak disebut Gizi Baik. Kalau sedikit di
bawah standar disebut Gizi Kurang, sedangkan jikajauh
di bawah standar disebut Gizi Buruk. Bila gizi buruk disertai
dengan tandatanda klinis seperti ; wajah sangat kurus, muka
seperti orang tua, perut cekung, kulit keriput disebut Marasmus,
dan bila ada bengkak terutama pada kaki, wajah membulat dan sembab
disebut Kwashiorkor. Marasmus dan Kwashiorkor atau Marasmus
Kwashiorkor dikenal di masyarakat sebagai “busung lapar”. Gizi
mikro (khususnya Kurang Vitamin A, Anemia Gizi Besi, dan Gangguan Akibat Kurang
Yodium).
Menurut
Hadi (2005), Indonesia mengalami beban ganda masalah gizi yaitu masih banyak
masyarakat yang kekurangan gizi, tapi di sisi lain terjadi gizi lebih.
2.12
Solusi Permasalahan Gizi Masyarakat
Menurut
Hadi (2005), solusi yang bisa kita lakukan adalah berperan bersama-sama.
Peran Pemerintah dan Wakil Rakyat (DPRD/DPR). Kabupaten Kota daerah membuat
kebijakan yang berpihak pada rakyat, misalnya kebijakan yang mempunyai filosofi
yang baik “menolong bayi dan keluarga miskin agar tidak kekurangan gizi dengan
memberikan Makanan Pendamping (MP) ASI.
Peran Perguruan Tinggi. Peran perguruan tinggi juga
sangat penting dalam memberikan kritik maupun saran bagi pemerintah agar supaya
pembangunan kesehatan tidak menyimpang dan tuntutan masalah yang riil berada di
tengah-tengah masyarakat, mengambil peranan dalam mendefinisikan ulang
kompetensi ahli gizi Indonesia dan memformulasikannya dalam bentuk kurikulum
pendidikan tinggi yang dapat memenuhi tuntutan zaman.
Menurut Azwar (2004). Solusi yang bisa dilakukan adalah :
- Upaya perbaikan gizi akan lebih efektif jika merupakan bagian dari kebijakan penangulangan kemiskinan dan pembangunan SDM. Membiarkan penduduk menderita masalah kurang gizi akan menghambat pencapaian tujuan pembangunan dalam hal pengurangan kemiskinan. Berbagai pihak terkait perlu memahami problem masalah gizi dan dampak yang ditimbulkan begitu juga sebaliknya, bagaimana pembangunan berbagai sektor memberi dampak kepada perbaikan status gizi. Oleh karena itu tujuan pembangunan beserta target yang ditetapkan di bidang perbaikan gizi memerlukan keterlibatan seluruh sektor terkait.
- Dibutuhkan adanya kebijakan khusus untuk mempercepat laju percepatan peningkatan status gizi. Dengan peningkatan status gizi masyarakat diharapkan kecerdasan, ketahanan fisik dan produktivitas kerja meningkat, sehingga hambatan peningkatan ekonomi dapat diminimalkan.
- Pelaksanaan program gizi hendaknya berdasarkan kajian ‘best practice’ (efektif dan efisien) dan lokal spesifik. Intervensi yang dipilih dengan mempertimbangkan beberapa aspek penting seperti: target yang spesifik tetapi membawa manfaat yang besar, waktu yang tepat misalnya pemberian Yodium pada wanita hamil di daerah endemis berat GAKY dapat mencegah cacat permanen baik pada fisik maupun intelektual bagi bayi yang dilahirkan. Pada keluarga miskin upaya pemenuhan gizi diupayakan melalui pembiayaan publik.
- Pengambil keputusan di setiap tingkat menggunakan informasi yang akurat dan evidence basedalam menentukan kebijakannya. Diperlukan sistem informasi yang baik, tepat waktu dan akurat. Disamping pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang baik dan kajian-kajian intervensi melalui kaidah-kaidah yang dapat dipertanggung jawabkan.
- Mengembangkan kemampuan (capacity building) dalam upaya penanggulangan masalah gizi, baik kemampuan teknis maupun kemampuan manajemen. Gizi bukan satu-satunya faktor yang berperan untuk pembangunan sumber daya manusia, oleh karena itu diperlukan beberapa aspek yang saling mendukung sehingga terjadi integrasi yang saling sinergi, misalnya kesehatan, pertanian, pendidikan diintegrasikan dalam suatu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.
- Meningkatkan upaya penggalian dan mobilisasi sumber daya untuk melaksanakan upaya perbaikan gizi yang lebih efektif melalui kemitraan dengan swasta, LSM dan masyarakat.
Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan
Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta
bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah, maka diperlukan
program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten, provinsi,
maupun nasional. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting,
selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah.
Berikut ini merupakan pemikiran untuk program yang akan
datang, antara lain:
- Banyak hal yang harus diperkuat untuk melaksanakan program perbaikan gizi, mulai dari ketersediaan data dan informasi secara periodik untuk dapat digunakan dalam perencanaan program yang benar dan efektif. Kajian strategi program yang efisien untuk masa yang datang mutlak diperlukan, mulai dari tingkat nasional sampai dengan kabupaten.
- Melakukan penanggulangan program perbaikan gizi dan kesehatan yang bersifat preventif untuk jangka panjang, sementara kuratif dapat diberikan pada kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Bentuk program efektif seperti perbaikan perilaku kesehatan dan gizi tingkat keluarga dilakukan secara professional mulai dipikirkan, dan tentunya dengan ketentuan atau kriteria yang spesifik lokal.
- Melakukan strategi program khusus untuk penanggulangan kemiskinan, baik di daerah perkotaan maupun perdesaan dalam bentuk strategi pemberdayaan keluarga dan menciptakan kerja sama yang baik dengan swasta.
- Secara bertahap melakukan peningkatan pendidikan, strategi ini merupakan strategi jangka panjang yang dapat mengangkat Indonesia dari berbagai masalah gizi dan kesehatan
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan maka dapat dibuat beberapa kesimpulan yaitu
:
- Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
- Definisi Gizi kesehatan masyarakat merupakan penyulingan kompetensi untuk gizi kesehatan masyarakat yang disarankan oleh para pemimpin nasional dan internasional dilapangan.
- Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau dapat dikatakan bahwa status gizi merupakan indikator baik-buruknya penyediaan makanan sehari-hari
- Indikator status gizi yaitu tanda-tanda yang dapat memberikan gambaran tentang keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh
- Beberapa faktor yang memengaruhi status gizi seseorang yaitu faktor lingkungan, faktor ekonomi, faktor sosial-budaya, faktor biologis/keturunan, dan faktor religi.
- Akibat yang ditimbulkan karena gizi salah (malnutrisi) akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan mental, perkembangan fisik, produktivitas, dan kesanggupan kerja manusia.
- Cara-cara perbaikan status gizi yaitu dengan pengaturan makanan yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi.
- Penanggulangan masalah gizi terdiri dari: Penanggulangan masalah gizi kurang dan Penanggulangan masalah gizi lebih
- Gizi Daur Kehidupan. United Nations (Januari, 2000) memfokuskan usaha perbaikan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur, dengan mengikuti siklus kehidupan. Pada bagan 1 dapat dilihat kelompok penduduk yang perlu mendapat perhatian pada upaya perbaikan gizi.
- Permasalahan Gizi Masyarakat. Penyebab langsung, Penyebab tidak langsung, Pokok masalah di masyarakat dan Akar masalah.
- Solusi Permasalahan Gizi Masyarakat. Menurut Hadi (2005), solusi yang bisa kita lakukan adalah berperan bersama-sama, Peran Pemerintah dan Wakil Rakyat (DPRD/DPR) dan Peran Perguruan Tinggi.
- Program Perbaikan Gizi Dan Kesehatan Masa Depan. Berangkat dari besarnya masalah gizi dan kesehatan serta bervariasinya faktor penyebab masalah ini antar wilayah, maka diperlukan program yang komprehensif dan terintegrasi baik di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional. Jelas sekali kerja sama antar sektor terkait menjadi penting, selain mengurangi aktivitas yang tumpang tindih dan tidak terarah.
DAFTAR PUSTAKA
https://hakimkep.wordpress.com/2012/06/08/makalah-gizi-masyarakat/
Komentar
Posting Komentar