MAKALAH ANATOMI FISIOLOGI MUSKULOSKELETAL
MAKALAH ANATOMI FISIOLOGI MUSKULOSKELETAL

DISUSUN OLEH :
DWI PUTRI PRATIWI
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN 2017
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul Makalah Anatomi Fisiologi Muskuloskeletal.
Kami meyadari dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan,
kurang dan lebihnya kami mohon maaf. Atas perhatiannya kami ucapkan terima
kasih.
Banadar Lampung, Januari 2018
Penulis
|
DAFTAR ISI
HALAM JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang................................................................................ 1
B. Tujuan Penulisan............................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian......................................................................................... 2
B. ( Muskulus / Muscle........................................................................... 2
C. Fungsi Sistem Otot............................................................................ 3
D. Ciri-Ciri Sistem Otot.......................................................................... 3
E. Jenis-Jenis Otot................................................................................ 4
F. Pembentukan Tulang................................................................................................... 11
G. Hubungan Antar Tulan....................................................................... 11
H. Kelainan Pada Sistem Muskuloskeletal............................................. 13
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan....................................................................................... 16
B. Saran................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Baik disadari maupun tidak, tubuh manusia selalu melakukan gerak. Bahkan seseorang yang memiliki
ketidaksempurnaan alat gerak pun tetap
melakukan gerak. Saat tersenyum,
mengedipkan mata, atau bernapas
sesungguhnya telah terjadi gerak yang disebabkan oleh kontraksi otot.
Dalam satu hari, banyak aktivitas yang kita lakukan,
misalnya mandi, makan, berjalan, berlari, berolahraga, dan sebagainya. Manusia dapat melakukan segala macam aktivitas bergerak itu karena dia memiliki sistem organ gerak
yaitu sistem muskuloskeletal.
Gerak adalah suatu tanggapan terhadap rangsangan baik dari dalam
maupun dari luar. Gerak tidak
terjadi begitu saja. Gerak terjadi
melelui mekanisme yang rumit dan melibatkan
banyak bagian tubuh.
Gerak pada manusia disebabkan oleh kontraksi
otot yang menggerakkan tulang. Jadi,
gerak merupakan kerjasama antara
tulang dan
otot. Maka dari itu, tubuh
manusia terdapat sistem
muskuloskeletal yang berperan dalam situasi
tersebut. Muskuloskeletal terdiri dari
otot dan tulang. Tulang sebagai alat
gerak pasif karena hanya mengikuti
kendali otot, sedangkan otot disebut alat gerak
aktif karena mampu berkontraksi, sehingga mampu menggerakan tulang.
B. Tujuan Penulisan
a.
Tujuan Umum
Membantu mahasiswa memahami tentang anatomi fisiologi
sistem muskuloskeletal tubuh manusia.
b.
Tujuan Khusus
i.
Mengetahui pengertian muskuloskeletal.
ii.
Memahami tentang otot (muskular)
iii.
Memahami tentang sistem rangka (skeletal)
iv.
Mengetahui
kelainan pada sistem muskuloskeletal
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Muskuloskeletal terdiri dari kata Muskulo yang berarti otot dan kata Skeletal yang berarti tulang. Muskulo
atau muskular adalah jaringan otot-otot tubuh. Ilmu yang mempelajari tentang
muskulo atau jaringan otot-otot tubuh adalah Myologi. Skeletal atau osteo
adalah tulang kerangka tubuh. Ilmu yang mempelajari tentang muskulo atau jaringan
otot-otot tubuh adalah Osteologi.
B. ( Muskulus / Muscle
Otot merupakan organ tubuh yang
mempunyai kemampuan mengubah energi kimia menjadi energi mekanik/gerak sehingga
dapat berkontraksi untuk menggerakkan rangka, sebagai respons tubuh terhadap
perubahan lingkungan.
Otot disebut alat gerak aktif karena
mampu berkontraksi, sehingga mampu menggerakan tulang. Semua sel-sel otot
mempunyai kekhususan yaitu untuk berkontraksi.
Otot membentuk 40-50% berat badan;
kira-kira1/3-nya merupakan protein tubuh dan ½-nya tempat terjadinya aktivitas
metabolik saat tubuh istirahat. Terdapat lebih dari 600 buah otot pada tubuh
manusia. Sebagian besar otot-otot tersebut dilekatkan pada tulang-tulang
kerangka tubuh, dan sebagian kecil ada yang melekat di bawah permukaan kulit.
Gabungan otot berbentuk kumparan dan terdiri dari :
a.
Fascia, adalah
jaringan yang membungkus dan mengikat jaringan lunak. Fungsi fascia yaitu mengelilingi otot, menyedikan tempat tambahan otot,
memungkinkan struktur bergerak satu sama lain
dan menyediakan tempat peredaran darah dan saraf.
b.
Ventrikel
(empal), merupakan bagian tengah yang mengembung.
c.
Tendon (urat otot), yaitu kedua
ujung yang mengecil, tersusun dari jaringan
ikat dan besrifat liat. Berdasarkan
cara melekatnya pada tulang, tendon
dibedakan sebagai berikut.
i.
Origo, merupakan tendon yang melekat pada tulang yang tidak berubah kedudukannya
ketika otot berkontraksi.
ii.
Inersio. Merupakan tendon yang melekat pada tulang yang bergerak ketika otot berkontraksi.
C. Fungsi Sistem Otot
a.
Pergerakan
Otot menghasilkan gerakan pada tulang tempat otot
tersebut melekat dan bergerak dalam bagian organ internal tubuh.
b.
Penopang tubuh dan mempertahankan postur
Otot menopang rangka dan mempertahankan tubuh saat
berada dalam posisi berdiri atau saat duduk terhadap gaya gravitasi.
c.
Produksi panas
Kontraksi otot-otot secara metabolis menghasilkan panas
untuk mepertahankan suhu tubuh normal.
D. Ciri-Ciri Sistem Otot
Otot memendek jika sedang
berkontraksi dan memanjang jika sedang berelaksasi. Kontraksi otot terjadi jika
otot sedang melakukan kegiatan. Relaksasi otot terjadi jika otot sedang
beristirahat. Dengan demikian otot memiliki 3 karakter, yaitu:
a.
Kontrakstilitas, yaitu serabut otot
berkontraksi dan menegang, otot menjadi lebih
pendek dari ukuran semula.
b.
Ekstensibilitas, yaitu serabut otot
memiliki kemampuan untuk menegang melebihi
panjang otot saat rileks (memanjang).
c.
Elastisitas, yaitu serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah berkontraksi atau meregang.
E. Jenis-Jenis Otot
a.
Berdasarkan letak dan struktur selnya, dibedakan
menjadi:
i. Otot Rangka (Otot Lurik)
Otot rangka merupakan otot lurik,
volunter (secara sadar atas perintah
dari otak), dan melekat pada rangka, misalnya yang terdapat pada otot paha,
otot betis, otot dada. Kontraksinya sangat cepat dan kuat Struktur mikroskopis
otot skelet/rangka yaitu Memiliki bentuk
sel yang panjang seperti benang/filament. Setiap serabut
memiliki banyak inti yang terletak di tepi dan tersusun di bagian perifer.
Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris dengan lebar
berkisar antara 10 mikron sampai 100 mikron.
ii. Otot Polo
Otot polos merupakan otot tidak berlurik dan involunter (bekerja secara
tak sadar). Jenis otot ini dapat
ditemukan pada dinding berongga
seperti kandung kemih dan uterus, serta pada dinding tuba, seperti
pada sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi, urinarius, dan sistem sirkulasi
darah. Kontraksinya kuat dan lamban.
Struktur Mikroskopis Otot Polos
yaitu memiliki bentuk sel otot seperti silindris/gelendong dengan kedua ujung
meruncing. Serabut sel ini berukuran kecil, berkisar antara 20 mikron (melapisi
pembuluh darah). Memiliki satu buah inti sel yang terletak di tengah sel otot
dan mempunyai permukaan sel otot yang polos dan halus/licin.
iii. Otot Jantung
Otot Jantung juga otot serat lintang
involunter, mempunyai struktur yang sama dengan otot lurik. Otot ini hanya
terdapat pada jantung. Bekerja terus- menerus setiap saat tanpa henti, tapi
otot jantung juga mempunyai masa istirahat, yaitu setiap kali berdenyut.
Memilki banyak inti sel yang terletak di tepi agak ke tengah. Panjang sel
berkisar antara 85-100 mikron dan diameternya sekitar 15 mikron.
b. Berdasarkan gerakannya dibedakan menjadi :
i.
Otot Antagonis,
yaitu hubungan antarotot yang cara kerjanya bertolak belakang/tidak
searah, menimbulkan gerak berlawanan. Contohnya:
1.
Ekstensor
(meluruskan) dengan fleksor (membengkokkan), misalnya otot bisep
dan otot trisep.
2.
Depressor
(gerakan ke bawah) dengan elevator
(gerakan ke atas), misalnya gerak kepala
menunduk dan menengadah.
ii.
Otot Sinergis,
yaitu hubungan antar otot yang cara kerjanya saling
mendukung/bekerjasama, menimbulkan gerakan searah. Contohnya pronator teres dan pronator kuadrus. (Marieb &
Mallat 2001)
iii. Berdasarkan letaknya, otot dapat dite mukan diberbagai dae rah bagian tubuh dengan nama-nama otot tertentu, dapat dilihat pada gambar berikut.
c. Mekanisme Kontraksi Otot
Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop e lektron
dan difraksi sinar X, Hansen dan Huxly (1995) mengemukakan teori kontraksi otot yang disebut
model Sliding Filamens. Model ini menyatakan bahwa kontraksi terjadi berdasarkan adanya dua set filamen didalam sel otot kontraktil yang berupa
filamen aktin dan
miosin.
Ketika otot berkontraksi, aktin dan
miosin bertautan dan saling menggelincir satu sama lain, sehingga sarkomer pun
juga memendek.
Dalam otot terdapat zat yang sangat
peka terhadap rangsang disebut asetilkolin. Otot yang terangsang menyebabkan
asetilkolin terurai membentuk miogen yang merangsang pembentukan aktomiosin.
Hal ini menyebabkan otot berkontraksi sehingga otot yang melekat pada tulang
bergerak.
Saat berkontraksi, otot membutuhkan
energi dan oksigen. Oksigen diberikan oleh darah, sedangkan energi diperoleh
dari penguraian ATP (adenosin trifosfat) dan kreatinfosfat. ATP terurai menjadi
ADP (adenosin difosfat) + Energi. Selanjutnya, ADP terurai menjadi AMP (adenosine
monofosfat) + Energi. Kreatinfosfat terurai menjadi kreatin + fosfat + energi.
Energienergi ini semua
digunakan untuk kontraksi otot.
d. Rangka (skeletal)
Sistem rangka adalah bagian tubuh
yang terdiri dari tulang, sendi, dan
tulang rawan (kartilago) sebagai tempat menempelnya otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan posisi.
Tulang sebagai alat gerak pasif
karena hanya mengikuti kendali
otot. Akan tetapi tulang tetap mempunyai peranan penting karena gerak tidak
akan terjadi tanpa tulang.
i. Fungsi Rangka
1. Penyangga;
berdirinya tubuh, tempat melekatnya
ligamen- ligamen, otot, jaringan
lunak dan organ.
2. Penyimpanan
mineral (kalsium dan fosfat) dan lipid
(yellow marrow)
3.
Produksi sel darah (red marrow)
4. Pelindung;
membentuk rongga melindungi organ yang halus dan lunak.
5. Penggerak;
dapat mengubah arah dan kekuatan otot rangka saat bergerak karena adanya persendian.
ii. Jenis Tulang
1.
Berdasarkan jaringan penyusun dan
sifat-sifat fisiknya, yaitu:
a.
Tulang Rawan (kartilago)
Ada 3 macam tulang rawan, yaitu:
i.
Tulang Rawan Hyalin: kuat dan elastis
terdapat pada ujung tulang pipa.
ii.
Tulang Rawan Fibrosa: memperdalam
rongga dari cawan- cawan (tl.
Panggul) dan rongga glenoid dari skapula.
iii.
Tulang Rawan Elastik: terdapat dalam daun telinga,
epiglotis dan faring.
b.
Tulang Sejati (osteon)
Tulang bersifat keras dan berfungsi
menyusun be rbagai sistem rangka. Permukaan luar tulang dilapisi selubung
fibrosa (periosteum). Lapis tipis jaringan ikat (endosteum) melapisi rongga
sumsum dan meluas ke dalam kanalikuli tulang kompak.
Secara mikroskopis tulang terdiri dari :
c.
Sistem Havers (saluran yang berisi serabut saraf, pembuluh darah, aliran limfe
d.
Lamella (lempeng tulang yang tersusun konsentris
e.
Lacuna (ruangan
kecil yang terdapat di antara
lempengan- lempengan yang mengandung
sel tulang)
f.
Kanalikuli (memancar di antara lacuna dan tempat difusi makanan sampai
ke osteon)
2.
Berdasarkan matriksnya, yaitu:
a.
Tulang kompak, yaitu tulang dengan matriks yang padat dan rapat.
b.
Tulang Spons, yaitu tulang dengan matriksnya berongga.
3.
Berdasarkan bentuknya, yaitu:
a.
Ossa
longa (tulang pipa/panjang),
yaitu tulang yang ukuran panjangnya terbesar. Contohnya os humerus dan os femur.
b.
Ossa
brevia (tulang pendek), yaitu tulang yang
ukurannya pendek. Contohnya tulang yang terdapat pada pangkal kaki, pangkal lengan, dan ruas-ruas tulang belakang.
c.
Ossa
plana (tulang pipih), yaitu
tulang yang ukurannya lebar. Contohnya os scapula (tengkorak), tulang
belikat, tulang rusuk.
d.
Ossa
irregular (tulang tak beraturan),
yaitu tulang dengan bentuk yang tak tentu.
Contohnya os vertebrae (tulang belakang).
e.
Ossa
pneumatica (tulang berongga udara). Contohnya os
maxilla.
iii. Sel – Sel Penyusun Tulang
1.
Osteobast,
merupakan sel tulang muda yang menghasilkan jaringan osteosit dan mengkresikan fosfatase dalam pengendapan
kalsium dan fosfat ke dalam matriks
tulang.
2.
Osteosit,
yaitu sel- sel tulang dewasa yang bertindak sebagai lintasan untuk pertukaran kimiawi melaui tulang yang padat
3.
Osteoclast,
yaitu sel-sel yang dapat mengabsorbsi
mineral dan matriks tulang.
iv. Organisasi Sistem Rangk
Sistem skeletal dibentuk oleh 206
buah tulang yang membentuk suatu kerangka tubuh. Rangka digolongkan kedalam
tiga bagian sebagai berikut.
v. Rangka Aksia
Rangka Aksial terdiri dari 80 tulang yang membentuk
aksis panjang tubuh dan melindungi organ-organ pada kepala, leher, dan dada.
1.
Tengkorak
(cranium), yaitu
tulang yang tersusun dari 22 tulang; 8 tulang
kranial dan 14 tulang
fasial.
·
Tulang kranial membungkus dan
melindungi otak, terdiri dari:
Tulang baji (sfenoid) :
1 buah
Tulang tapis (etmoid) :
1 buah
Tulang pelipis (temporal) : 2
buah
Tulang dahi (frontal) :
1 buah
Tulang ubun-ubun (parietal): 2 buah Tulang kepala belakang (oksipital):
1 buah
·
Tulang fasial membentuk wajah, terdiri dari: Tulang rahang atas (maksila):
2 buah Tulang rahang bawah (mandibula)
: 2 buah
Tulang pipi (zigomatikus) : 2 buah
Tulang
langit- langit (palatinum) : 2 buah
Tulang hidung (nasale) : 2 buah
Tulang mata (lakrimalis) : 2 buah
Tulang
pangkal lidah (Konka inferor) : 1 buah
2.
Tulang Pendengaran (Auditory),
terdiri dari: Tulang martil (maleus):
2 buah
Tulang landasan (inkus) : 2 buah
Tulang sanggurdi (stapes): 2 buah
3.
Tulang Hioid,
yaitu tulang yang berbentuk huruf U, terdapat
diantara laring dan mandibula, berfungsi sebagai pelekatan beberapa otot mulut dan lidah.
: 1 buah
4.
Tulang Belakang
(vertebra),
berfungsi menyangga berat tubuh dan memungkinkan
manusia melakukan berbagai macam posisi dan gerakan, misalnya berdiri, duduk, atau berlari. Tulang belakang berjumlah 26 buah yang terdiri dari
Tulang leher (servikal): 7 buah
Tulang punggung (dorsalis):
12 buah
Tulang pinggang (lumbal): 5 buah
Tulang kelangkang (sakrum): 1 buah
Tulang
ekor (koksigea)
4 ruas
berfusi menjadi satu:
1 buah
5.
Tulang Iga/R usuk (costae),
yaitu tulang yang bersama-sama dengan tulang
dada membentuk perisai pelindung bagi
organ-organ penting yang terdapat di dada,
seperti paru-paru dan jantung. Tulang rusuk juga berhubungan
dengan tulang belakang, berjumlah 12
ruas, terdiri dari :
Tulang Rusuk Sejati (costae vera) : 7 pasang Tulang Rusuk Palsu
(costae spuria) : 3 pasang Rusuk
Melayang (costae fliktuantes) : 2 pasang
6.
Tulang Dada
(sternum) terdiri
atas tulang-tulang yang berbentuk pipih, antara lain:
Tulang hulu (manubrium) : 1 buah
Tulang badan (gladiolus) :
1 buah
Tulang bahu pedang (sifoid) : 1 buah (ketiganya
bergabung menjadi satu buah
tulang dada)
vi. Rangka Apendikular
Rangka apendikuler merupakan rangka
yang tersusun dari tulang-tulang bahu, tulang panggul, dan tulang anggota gerak
atas dan bawah terdiri atas 126 tulang.
Secara umum rangka apendikular menyusun alat gerak,
tangan dan kaki. Tulang rangka apendikular dibagi kedalam 2 bagian, yaitu :
1. Ektremitas Atas, yaitu terdiri dari
tulang bahu dan tulang anggota gerak atas.
a.
Tulang bahu, terdiri atas dua bagian:
Tulang belikat (skapula) 2 buah T
Tulang selangka (klavikula) : 2 buah
b.
Tulang anggota gerak
atas, terdiri dari:
Tulang lengan atas (humerus): 2 buah
Tulang hasta (ulna): 2 buah
Tulang pengumpil (radius): 2 buah Tulang pergelangan tangan (karpal):
16 buah (8 pada tiap tangan)
Tulang
tapak tangan (metakarpal): 10 buah (5 pada tiap tangan)
Tulang jari-jari (phalanges) : 28 buah (2
kali 14 ruas jari)
2. Ektremitas
Bawah, yaitu terdiri dari tulang panggul dan tulang anggota gerak bawah.
a.
Tulang panggul (pelvis), terdiri atas tiga bagian:
Tulang usus (ileum): 2 buah
Tulang duduk (iskhium): 2 buah
Tulang kemaluan (pubis): 2 buah
b.
Tulang anggota gerak
bawah, terdiri dari: Tulang paha (femur): 2 buah Tulang tempurung lutut
(patela):
2 buah Tulang betis (fibula):
2 buah
Tulang kering (tibia): 2 buah Tulang pergelangan kaki (tarsal): 14 buah (7 pada tiap kaki)
Tulang
tapak kaki (metatarsal):
10 buah (5 pada tiap kaki)
Tulang
jari kaki (phalanges):
28 buah (2 kali 14 ruas jari)
F. Pembentukan Tulang
Proses pembentukan tulang telah
bermula sejak umur embrio 6-7 minggu dan
berlangsung sampai dewasa. Pada rangka manusia,
rangka yang pertama kali terbentuk adalah
tulang rawan (kartilago) yang berasal dari jaringan mesenkim. Kemudian akan terbentuk osteoblas atau sel-sel pembentuk tulang.
Osteoblas ini akan mengisi
rongga-rongga tulang
rawan.
Sel-sel tulang dibentuk terutama dari arah dalam keluar, atau proses pembentukannya konsentris. Setiap
satuan-satuan sel tulang mengelilingi
suatu pembuluh darah dan saraf membentuk suatu sistem yang disebut sistem
Havers.
Disekeliling sel-sel tulang terbentuk senyawa protein yang akan
menjadi matriks tulang.
Kelak didalam senyawa pro tein ini terdapat pula kapur dan
fosfor sehingga matriks tulang
akan mengeras. Proses ini disebut
osifikasi.
G. Hubungan Antar Tulan
Hubungan antartulang disebut
artikulasi. Agar artikulasi dapat bergerak, diperlukan struktur khusus yang disebut sendi. Sendi yang menyusun kerangka
manusia terdapat di beberapa tempatTerdapat
tiga jenis hubungan antartulang, yaitu:
a. Sinartrosis
Sinartrosis disebut juga dengan sendi
mati, yaitu hubungan antara dua tulang yang tidak dapat digerakkan sama sekali.
Artikulasi ini tidak memiliki celah sendi dan dihubungkan dengan jaringan
serabut. Dijumpai pada hubungan tulang pada tulang-tulang tengkorak yang disebut
sutura/suture.
b. Amfiartosi
Amfiartosis disebut juga dengan sendi kaku, yaitu hubungan antara dua tulang yang dapat digerakkan
secara terbatas. Artikulasi ini dihubungkan
dengan kartilago. Dijumpai pada hubungan ruas-ruas tulang belakang, tulang rusuk
dengan tulang belakang.
c. Diartosi
Diartosis disebut juga dengan sendi hidup, yaitu hubungan antara dua tulang
yang dapat digerakkan secara leluasa atau tidak terbatas.
Untuk melindungi bagian ujung-ujung tulang sendi, di daerah persendian terdapat rongga yang
berisi minyak sendi/cairan synovial
yang berfunggsi sebagai pelumas
sendi.
Diartosis dapat dibedakan
menjadi:
i. Sendi Engsel
Sendi engsel yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan gerakan hanya satu arah saja. Dijumpai pada hubungan tulang Os. Humerus dengan Os. Ulna dan Os. Radius/sendi pada siku, hubungan antar Os. Femur dengan Os. Tibia dan Os. Fibula/sendi pada lutut.
ii. Sendi Putar
Sendi putar yaitu hubungan antar tulang yang memungkinkan salah satu tulang berputar terhadap tulang yang lain sebagai porosnya. Dijumpai pada hubungan antara Os. Humerus dengan Os. Ulna dan Os. Radius, hubungan antar Os. Atlas dengan Os. Cranium.
iii. Sendi Pelana/Sendi Sellari
Sendi pelana yaitu hubungan antar tulang yang
memungkinkan gerakan ke segala arah/gerakan bebas. Dijumpai pada hubungan Os.
Scapula dengan Os. Humerus, hubungan antara Os. Femur dengan Os. Pelvis
virilis.
iv. Sendi Kondiloid atau Elipsoid
Sendi Kondiloid yaitu hubungan antar tulang yang
memungkinkan gerakan berporos dua, dengan gerak ke kiri dan ke kanan; gerakan
maju dan mundur; gerakan muka/depan dan belakang. Ujung tulang yang satu
berbentuk oval dan masuk ke dalam suatu lekuk yang berbentuk elips. Dijumpai
pada hubungan Os. Radius dengan Os. Carpal.
v. Sendi Peluru
Sendi peluru yaitu hubungan antar tulang yang
memungkinkan gerakan ke segala arah/gerakan bebas. Dijumpai pada hubungan Os.
Scapula dengan Os. Humerus, hubungan antara Os. Femur dengan Os. Pelvis
virilis.
vi. Sendi Luncur
Sendi luncur yaitu hubungan antar tulang yang
memungkinkan gerakan badan melengkung ke depan (membungkuk) dan ke belakang
serta gerakan memutar (menggeliat). Hubungan ini dapat terjadi pada hubungan
antarruas tulang belakang, persendian antara pergelangan tangan dan tulang
pengumpil.
H. Kelainan Pada Sistem Muskuloskeletal
Beberapa gangguan kesehatan dan
kelainan yang terjadi sistem muskuloskeletal adalah sebagai berikut.
a.
Fraktura /patah tulang
Pada kelainan tulang ini, tulang
mengalami retak/patah tulang akibat mengalami
benturan keras, misalnya karena
kecelakaan. Pemulihan untuk kelainan
ini,
yaitu dengan mengembalikan pada susunan semula
secepat mungkin. Pada kasus patah tulang, untuk menyambungkannya ditambahkan
pen atau platina. Setelah tulang mengalami pertumbuhan dan menyatu, pen/platina
akan diambil kembali.
b.
Fisura/retak tulang
Fisura yaitu kelainan tulang yang menimbulkan keretakan pada tulang.
c.
Gangguan yang Terjadi pada
Tulang Belakang
Gangguan ini disebabkan karena kebiasaan tubuh yang salah, kelainan ini
antara lain seperti berikut.
a.
Lordosis,
yaitu keadaan tulang belakang
yang melengkung ke depan.
b.
Kifosis,
adalah keadaan tulang belakang
melengkung ke belakang, sehingga badan
terlihat bongkok.
c.
Skoliosis,
yaitu keadaan tulang belakang melengkung ke samping kiri atau kanan.
d.
Osteoporosis
Orang yang menderita kelainan ini,
keadaan tulangnya akan rapuh dan keropos. Ini disebabkan karena berkurangnya
kadar kalsium dalam tulang. Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, maka
kadar kalsium akan berkurang sedikit demi sedikit.
e.
Rakhitis
Penyakit ini menyebabkan kondisi tulang
seseorang yang lunak. Hal ini disebabkan dalam tubuh
seseorang kekurangan vitamin D. Vitamin ini berfungsi untuk mengabsorpsi fosfor dan berperan
dalam metabolisme kalsium. Penderita
ini disarankan banyak mengkonsumsi
telur, susu, dan minyak hati ikan. Selain
itu, pada pagi hari,
penderita disarankan berjemur di bawah
sinar matahari karena sinar
matahari pagi dapat membantu pembentukan vitamin D dalam tubuh.
f.
Kram
Kram merupakan keadaan otot berada dalam keadaan kejang. Keadaan ini
antara lain disebabkan karena
terlalu lamanya aktivitas otot secara terus menerus.
g.
Hipertropi
Suatu keadaan otot yang lebih besar
dan lebih kuat. Hal ini disebabkan karena otot sering dilatih bekerja dan
berolahraga. Hipertrofi otot ini sering dimiliki oleh atlet binaragawan.
h.
Atrofi
Keadaan otot yang lebih kecil dan
lemah kontraksinya. Kelainan ini disebabkan karena infeksi virus polio.
Pemulihannya dengan pemberian latihan otot, pemberian stimulant listrik, atau
dipijat dengan teknik tertentu.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Muskuloskeletal adalah suatu sistem pada tubuh manusia yang meliputi sistem gerak
yang terdiri dari otot dan tulang.
Otot merupakan organ tubuh yang mempunyai kemampuan berkontraksi untuk
menggerakkan rangka. Sistem rangka adalah bagian tubuh yang terdiri dari tulang, sendi, dan tulang rawan (kartilago) sebagai tempat menempelnya otot dan memungkinkan tubuh untuk mempertahankan sikap dan posisi.
Otot merupakan alat gerak pasif dan memiliki karakteristik, antara lain kontraktibilitas,
ekstensibilitas, dan elastisitas.
Berdasarkan perlekatannya, otot terdiri atas origo
dan insersi. Jenis-jenis otot
antara lain yaitu otot lurik, otot polos, dan otot jantung.
Tulang dibedakan menjadi skeleton aksial dan skeleton apendikuler. Skeleton aksial terdiri atas tulang-tulang
tengkorak, ruas tulang belakang, tulang iga atau rusuk, dan tulang dada,
sedangkan skeleton apendikuler terdiri atas tulang pinggul, bahu, lengan,
telapak tangan, tungkai dan telapak kaki. Berdasarkan jenisnya, tulang
dibedakan menjadi 2, yaitu tulang rawan dan tulang sejati. Tulang sejati,
dilihat dari matriksnya terdiri atas tulang kompak dan tulang spons.
Berdasarkan bentuknya, tulang dibedakan menjadi 3, yaitu tulang pipa, tulang
pipih, dan tulang pendek. Hubungan antartulang disebut persendian atau
artikulasi. Sendi dibedakan menjadi 3, yaitu amfiartrosis, sinartrosis, dan
diartrosis.
B. Saran
a.
Pentingnya pengetahuan mengenai
sistem muskuloskeletal sehingga diharapkan mahasiswa
lebih mendalami pemahaman tentang
anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal.
b.
Dari berbagai teori anatomi fisiologi sistem muskuloskeletal tentang
berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan
sistem tersebutdiharapkan mahasiswa mampu memberikan tindakan keperawatan dengan
tepat.
c.
Dengan memahami anatomi fisiologi
sistem muskuloskeletal, mahasiswa diharapkan mampu melaksanakan pelayanan keperawatan dengan baik.
|
Pratiwi, D.A. 2000. Buku
Penuntun Biologi untuk SMU kelas 2. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Ethel, Sloane. 2004. Anatomi dan Fisiologi Untuk Pemula.
Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC
Lewis, Heitkemper & Dirksen. 2000. Medical
Surgical Nursing. Mosby.
Philadelphia.
http://www.medicastore.com/alovell/isi.php?isi=tulang,
10/12/2014, 13.42 WIB.
![]() |
![]() |

Komentar
Posting Komentar