Perkembangan Profesi Pelayanan dan Pendidikan Bidan Secara Nasional dan Internasional


MAKALAH KONSEP KEBIDANAN
Perkembangan Profesi Pelayanan dan Pendidikan Bidan Secara Nasional dan Internasional

Poltekkes_Tjk.jpg

Oleh :
Rosalinda Elvira Trianto Putri
Aila Chairini
Nur Putri Fitriyana
Farah Hanifah

Tk. 1/ Reguler 3

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI D3 KEBIDANAN TANJUNG KARANG
2018/2019

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang berjudul “PERKEMBANGAN PROFESI PELAYANAN DAN PENDIDIKAN BIDAN SECARA NASIONAL DAN INTERNASIONAL” Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi Kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita, amin .

Bandar Lampung,11  Agustus 2018




      Penyusun

















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... ……….4
            1.1 Latar Belakang.......................................................................................   ……….4
            1.2 Rumusan Masalah................................................................................................. 4  
            1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................................  .5  
1.4 Metode Penulisan………………………………………………………………...5
1.5 Sistematika Penulisan…………………………………………………………….5
BAB II TINJAUAN TEORI.................................................................................... …………6
            2.1 Sejarah Perkembangan Pelayanan Kebidanan......................................................6   
                        2.1.1 Sejarah Perkembangan Pelayanan  Kebidanan Nasional.....................  8
2.1.2 Sejarah Perkembangan Pelayanan  Kebidanan Internasional................12
2.2 Sejarah Perkembangan Pendidikan Kebidanan....................................................13  
2.2.1.Sejarah Perkembangan Pendidikan Kebidanan Nasional.....................14   
2.2.2 . Sejarah Perkembangan Pendidikan Kebidanan Internasional............. 19 
BAB III PENUTUP................................................................................................................21  
3.1 Kesimpulan..........................................................................................................21  
3.2 Saran ...................................................................................................................21   

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................22















BAB I
PEDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan setiap waktu mengalami perkembangan ,baik suatu kemajuan atau justru kemunduran. Perkembangan ini terjadi baik di Indonesia maupun di luar negeri. Sejarah kebidanan dimulai sejak awal kehidupan atau awal peradaban manusia. Zaman dahulu persalinan dan perempuan menstruasi dianggap kotor dan menjijikan sehingga cara persalinan terkesan tidak manusiawi. Tidak ada yang mencatat kapan dimulainya persalinan dilakukan oleh bidan. Dalam sejarah, perempuan dalam proses melahirkan dapat dilakukan sendiri atau dibantu oleh suami mereka. Ketika manusia tidak lagi berpindah-pindah dan membentuk kelompok masyarakat, para ibu melahirkan dijaga atau ditolong oleh seorang perempuan yang diangga mampu,yaitu seorang perempuan setengah baya yang telah menikah dan melahirkan, melalui percobaan dan tukar pengetahuan dia mengembangkan keahliannya yang disebut dukun bayi. Terdapat catatan yang menunjukan tindakan yang dilakukan bidan, terdapat ada patung Mochicha (500 SM), lukisan Papyri dan Tomb dalam Old Testament (Chamberlein, 1981), catatan tentang bidan Yahudi (Shipah dan Puah) yang berani mengambil risiko membel keselamatan bayi laki-laki Bangsa Yahudi yang diperintahkan utuk dibunuh oleh Firaun. Selanjutnya,profesi bidan terus berkembang dan sejalan dengan perkembangan itu,profesi bidan (midwife) telah diakui oleh masyarakat,khususnya oleh pengguna jasa bidan dan keluarganya. Pengertian bidan dan bidang praktiknya secara internasional telah diakui oleh International Confederation of Midwives (ICM) tahun 1972 dan International Federation of Gynaecologist an Obstertritian tahun 1973 WHO.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perkembangan pelayanan kebidanan nasional
2.      Bagimana  perkembangan pelayanan kebidanan internasional
3.      Bagimana perkembangan  pendidikan kebidanan nasional
4.      Bagimana mengetahui perkembangan pendidikan internasional








1.3 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah yang berjudul “Sejarah Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Kebidanan” sebagai berikut:
1. Sebagai tugas mata kuliah Konsep Kebidanan materi “Sejarah Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Kebidanan Nasional dan Internasional”.
2. Mengetahui bagaimana sejarah perkembangan pelayanan kebidanan nasional dan internasional
3. Mengetahui bagaimana sejarah perkembangan pendidikan kebidanan nasional dan internasional

1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini yaitu menggunakan metode studi literature, dimana sumber yang digunakan menggunakan sumber pustaka (buku) dan hasil browusing dari internet.

1.5  Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan makalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan meliputi : Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan
Bab II Pembahasan meliputi : perkembangan pelayanan kebidanan di dalam negeri yang mencakup  perkembangan pelayanan kebidanan di Indonesia, perkembangan  pelayanan kebidanan zaman dahulu, perkembangan  pelayanan kebidanan alam tahun terakhir, dan perkembangan  pelayanan kebidanan di masa depan.
Bab III Penutup meliputi kesimpulan dan saran













BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. SEJARAH PERKEMBANGAN PELAYANAN KEBIDANAN
Pelayanan kebidanan adalah semua tugas yang menjadi tanggung jawab praktik profesi bidan dalam system pelayanan kesehatan yang bertujuan meningkatkan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana dalam rangka mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarkat. Pelayanan kebidanan yang tepat akan meningkatan keamanan dan kesejahteraan ibu dan bayinya. Layanan kebidanan/oleh bidan dapat dibedakan meliputi :
a.       Layanan kebidanan primer yaitu layanan yang diberikan sepenuhnya atas tanggung jawab bidan.
b.      Layanan kolaborasi yaitu layanan yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim secara bersama-sama dengan profesi lain dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan.
c.       Layanan kebidanan rujukan yaitu merupakan pengalihan tanggung jwab layanan oleh bidan kepada sistem layanan yang lebih tinggi atau yang lebih kompeten ataupun pengambil alihan tanggung jawab layanan/menerima rujukan dari penolong persalinan lainnya seperti rujukan.

Pada zaman merintahan Hindia Belanda, angka kematian ibu dan anak sangat tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun. Pada tahun 1807 (zaman Gubernur Jenderal Hendrik William Deandels) para dukun dilatih dalam pertolongan persalinan, tetapi keadaan ini tidak tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan. Adapun pelayanan kebidanan hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang ada di Indonesia. Tahun 1849 di buka pendidikan Dokter Jawa di Batavia (Di Rumah Sakit Militer Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto). Saat itu ilmu kebidanan belum merupakan pelajaran, baru tahun 1889 oleh Straat, Obstetrikus Austria dan Masland, Ilmu kebidanan diberikan sukarela. Seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut, pada tahun 1851, dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang dokter militer Belanda (dr. W. Bosch). Mulai saat itu pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bidan. Pada tahun 1952 mulai diadakan pelatihan bidan

Secara formal agar dapat meningkatkan kualitas pertolongan persalinan. Perubahan pengetahuandan keterampilan tentang pelayanan kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh di masyarakat dilakukan melalui kursus tambahan yang dikenal dengan istilah Kursus Tambahan Bidan (KTB) pada tahun 1953 di Yogyakarta yang akhirnya dilakukan pula dikota-kota besar lain di nusantara. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA). Dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu pelayanan terintegrasi kepada masyarakat yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) pada tahun 1957. Puskesmas memberikan pelayanan berorientasi pada wilayah kerja. Bidan yang bertugas di Puskesmas berfungsi dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan keluarga berencana. Mulai tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan masyarakat. Kebijakan ini melalui Instruksi Presiden secara lisan pada Sidang Kabinet Tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa.
Adapun tugas pokok bidan di desa adalah sebagai pelaksana kesehatan KIA, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk. Pembinaan dukun bayi. Dalam melaksanakan tugas pokoknya bidan di desa melaksanakan kunjungan rumah pada ibu dan anak yang memerlukannya, mengadakan pembinaan pada Posyandu di wilayah kerjanya serta mengembangkan Pondok Bersalin sesuai denga kebutuhan masyarakat setempat. Hal tersebut di atas adalah pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa. Pelayanan yang diberikan berorientasi pada kesehatan masyarakat berbeda halnya dengan bidan yang bekerja di rumah sakit, dimana pelayanan yang diberikan berorientasi pada individu. Bidan di rumah sakit memberikan pelayanan poliklinik antenatal, gangguan kesehatan reproduksi di poliklinik keluarga berencana, senam hamil, pendidikan perinatal, kamar bersalin, kamar operasi kebidanan, ruang nifas dan ruang perinatal. Titik tolak dari Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994 yang menekankan pada reproduktive health (kesehatan reproduksi), memperluas area garapan pelayanan bidan. Area tersebut meliputi :
1.      Safe Motherhood, termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus
2.      Family Planning 
3.      Penyakit menular seksual termasuk infeksi saluran alat reproduksi
4.       Kesehatan reproduksi pada remaja
5.      Kesehatan reproduksi pada orang tua.
Bidan dalam melaksanakan peran, fungsi dan tugasnya didasarkan pada kemampuan dan kewenangan yang diberikan. Kewenangan tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes). Permenkes yang menyangkut wewenang bidan selalu mengalami perubahan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Permenkes tersebut dimulai dari :
a.        Permenkes No. 5380/IX/1963, wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri, didampingi tugas lain.
b.      Permenkes No. 363/IX/1980, yang kemudian diubah menjadi Permenkes 623/1989 wewenang bidan dibagi menjadi dua yaitu wewenang umum dan khusus ditetapkan bila bidan meklaksanakan tindakan khusus di bawah pengawasan dokter. Pelaksanaan dari Permenkes ini, bidan dalam melaksanakan praktek perorangan di bawah pengawasan dokter
c.       Permenkes No. 572/VI/1996, wewenang ini mengatur tentang registrasi dan praktek bidan. Bidan dalam melaksanakan prakteknya diberi kewenangan yang mandiri. Kewenangan tersebut disertai dengan kemampuan dalam melaksanakan tindakan. Dalam wewenang tersebut mencakup :
·         Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak.
·         Pelayanan Keluarga Berencana
·         Pelayanan Kesehatan Masyarakat
d.      Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan revisi dari Permenkes No. 572/VI/1996. Dalam melaksanakan tugasnya, bidan melakukan kolaborasi, konsultasi dan merujuk sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan kemampuannya.


Dalam keadaan darurat bidan juga diberi wewenang pelayanan kebidanan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
Dalam aturan tersebut juga ditegaskan bahwa bidan dalam menjalankan
Praktek harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan, pendidikan, pengalaman serta berdasarkan standar profesi. Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Kepmenkes No. 900/2002 tidaklah mudah, karena kewenangan yang diberikan oleh Departemen Kesehatan ini mengandung tuntutan akan kemampuan bidan sebagai tenaga profesional dan mandiri.
Berikut adalah sejarah perkembangan pelayanan kebidanan yang ada di Indonesia maupun di dunia internasional

2.1.1. Sejarah Perkembangan Pelayanan Kebidanan Nasional
Perkembangan pelayanan kebidanan dimulai ketika Belanda menjajah Indonesia. Pada masa pemerintahan Belanda, Indonesia masih mengikuti kebiasaan lama,ibu ditolong oleh dukun paraji. Persalinan oleh dukun menggunakan mantra-mantra dan mengurut perut ibu.Perkembangan pelayanan kebidanan di Indonesia menurut catatan dimulai pada tahun1807 ketika angka kematian ibu dan bayi tinggi sehingga dukun dilatih untuk pertolongan persalinan di zaman Gubernur Jenderal Hendrik William Dandels, tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan. Adapun pelayanan kebidanan hanya diperuntukan bagi orang Belanda yang ada di Inonesia. Tahun 1849 dibuka pendidikan Dokter Jawa di Batavia tepatnya di Rumah Sakit Militer Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto. Seiring dengan dibukanya pendidikan dokter tersebut, pada tahun 1851,dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia oleh seorang dokter militer Belanda W.Bosch. Mulai saat itu pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bayi.Pada tahun 1952 ,mulai diadakan pelatihan bidan secara formal agar dapat meningkatkan kualitas pertolongan persalinan, pelatihan untuk dukun masih berlangsung sampai sekarang yang diberikan oleh bidan. Kursus Tambahan Bidan (KTB) pada tahun 1953 di Yogyakarta dilakukan pula di kota-kota besar di nusantara. Seiring pelatihan tersebut, didirikan pula Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dengan bidan sebagai penangung jawab. Pelayanan yang diberikan mencakup antenatan, postnatal, pemeriksaan bayi dan anak.Pada tahun 1957 bermula dari BKIA, kemudian terbentuklah sustu pelayanan terintegrasi bagi masyarakat yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pelayanan yang diberikan yaitu kesehatan ibu dan anak, serta keluarga berencana. Pelayanan kebidanan di Posyandu mencakup pemeriksaan kehamilan, pelayanan keluarga berencana, imunisasi gizi, dann kesehatan lingkungan. Sejak tahun 1990, pelayanan kebidanan diberikan secara merata sesuai kebutuhan masyarakat. Kebijakan ini merupakan Instruksi Presiden disampaikan pada Sidang Kabinet Tahun 1992. Kebijakan ini mengenai perlunya mendidik bidan untuk  ditempatkan di desa dengan tugas pokok sebagai pelaksana kesehatan KIA, khususnya ibu hamil, bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir termasuk pembinaan dukun bayi.Titik tolak Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994 menekankn pada kesehatan reproduksi, memperluasa area garapan pelayanan kebidanan. Area tersebut meliputi :
1. Safe motherhood termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus.
2. Keluarga berencana.
3. Penyakit menular seksual termasuk infeksi saluran alat reproduksi.
4. Kesehatan reproduksi remaja
5. Kesehatan reproduksi orang tua.

Bidan dalam melaksanakan peran, fungsi, dan tugasnya didasarkan pada kemampuan serta kewenangan yang diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permekes). Permenkes yang menyangkut wewenang bidan selalu mengalami perubahan sesuai kebutuhan dan perkembangan masyarakat serta kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Permenkes tersebut terdiri atas :

1. Permenkes No. 5380/IX/1963 yang menyatakan wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri, didampingi tugas lain.

2. Permenkes No. 363/IX/1980 diubah menjadi Permenkes No. 326 /1989 bahwa wewenang bidan dibagi menjadi wewenang umum dan khusus. Dalam wewenang khusus ditetapkan bahwa bidan melaksanakan tindakan dibawah pengawasan dokter. 

3. Permenkes No. 527/VI/1996 mengatur tentang registrasi dan praktik kebidanan. Bidan dalam melaksanakan praktiknya diberikan kewenangan yang mandiri yang disertai kemampuan dalam melaksanakan tindakan. Dalam wewenang tersebut mencakup :a. Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anakb. Pelayanan keluarga berencana. Pelayanan kesehatan masyarakat

4. Permenkes No. 900/Menkes/SK/XII/2002 mengatur tentang registrasi dan praktik bidan. Bidan dalam praktiknya diberi kewenangan  untuk memberikan pelayanan yang meliputi :
a. Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan pranikan, antenatal, intranatal,, postnatal, bayi baru lahir, dan balita.
b. Pelayanan keluarga berencana yang meliputi pemberian obat dan alat kontrasepsi melalui oral, suntikan, pemasangan dan pencabutan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan alat kontrasepsi bawah kulit (AKBR) tanpa penyulit.
Dalam melaksanakan tugasnya, bidan melakukan kolaborasi, konsultasi, dan rujukan sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan, serta kemampuannya. Wewenang bidan dalam pelayanan kebidanan  di bidang keluarga berencana mencakup penyedian alat kontrasepsi :oral (pil KB), suntik, kondom, tisu vaginal, alat kontrasepsi dalam rahi,, alat kontrasepsi bawah k Perkembangan pendidikan dan pelayanan kebidanan di Indonesia tidak terlepas dari masa penjajahan Belanda, era kemerdekaan, politik/ kebijakan pemerintah dalam pelayanan dan pendidikan tenaga kesehatan, kebutuhan mesyarakat serta kemajuan ilmu teknologi
·           Tahun 1807 :
Diadakan pelatihan dukun dalam pertolongan persalinan, tapi tidak berlangsung lama karena tidak ada pelatih bidan

·           Tahun 1849 :
Dibuka pendidikan dokter Jawa di Batavia dan pendidikan bidan bagi wanita pribumi oleh dr W Bosch

·           Tahun 1851Lulusan bidan bekerja di RS dan di masyarakat

·           Tahun 1952
Diadakan pelatihan bidan secara formal untuk meningkatkan kualitas pertolongan persalinan dan kursus untuk dukun masih berlangsung hingga sekarang dan yang memberikan kursus adalah bidan.

·           Tahun 1953 :
Diadakan kursus tambahan bidan di Yogyakarta diiringi dengan didirikannya BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak) dimana bidan sebagai penanggung jawab pelayanan keadaan masyarakat yaitu ANC, PNC, pemeriksaan bayi, pertolongan persalinan di rumah dan kunjungan rumah sebagai tindak lanjut pasca persalinan.

·           Tahun 1957 :
BKIA berubah menjadi Puskesmas dengan pelayanan yang lebih terintegrasi, dimana bidan berfungsi
1.      memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk KB
2.      memberikan pelayanan di luar gedung puskesmas yaitu di rumah keluarga dan di posyandu : pemeriksaan kehamilan, pelayanan KB, imunisasi, gizi dan kesehatan lingkungan

·           Tahun 1990 :
Pelayanan kebidanan diberikan secara merata sesuai dengan kebutuhan di masyarakat

·           Tahun 1992 :
Melalui Instruksi Presiden pada sidang kabinet tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa.





·       Tahun 1994 :
Bertitik tolak dari Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo, menekankan pada reproduktif health dan memperluas area garapan pelayanan bidan :
1.      Safe motherhood termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus
2.      Familly planning
3.      PMS termasuk infeksi saluran alat reproduksi
4.      Kesehatan reproduksi remaja
5.      Kesehatan reproduksi pada orang tua

Kewenangan bidan diatur melalui Peraturan Menteri yang selalu berubah-ubah, dimulai dari :
1.      Permenkes no 5380/IX/1980 terbatas pada pertolongan persalinan secara mandiri
2.      Permenkes no 363/IX/1980 diubah menjadi no 623/1989 wewenang bidan dibagi dua yaitu umum dan khusus.
3.      Permenkes no 572/VI/1996, mengatur tentang registrasi praktek bidan, dalam wewenang mencakup
a.       Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak
b.      Pelayanan Keluarga Berencana
c.       Pelayanan kesehatan masyarakat.
4.      Kepmenkes no 900/ Menkes/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan.
5.      Permenkes NO.HK.02.02/MENKES/149/2010 tentang izin danpenyelenggara praktik bidan
6.      Permenkes RI No.1464/menkes/PER/X/2010 tentang izin dan penyelenggara praktik bidan

















2.1.2. Sejarah Perkembangan Pelayanan Kebidanan Internasional

2.1.2.1. Inggris
Bidan adalah pembantu kelahiran tradisional. Pengetahuan dan keterampilan diperoleh secara turun-temurun. Pada abad pertengahan, beberapa bidan tradisional dikutuk sebagai penyihir dan dibakar di tiang. Bidan juga dianggap sebagai suatu ancaman terhadap pria yang sedang berusaha untuk duduk sebagai pemegang tunggal seni keperawatan.Abad XIV di lembaga pensiun Inggris, bidan dibayar oleh kerajaan atas jasa yang diberikan. Bidan tersebut mendapat penghormatan yang tinggi.Abad XVII, muncul bidan pria/praktisi medis yang mempunyai spesialisasi dalam kelahiran anak. Kemunculan pembantu kelahiran pria menimbulkan peningkatan penerimaan masyarakat pada mereka dalam suatu area yang sebelumnya dipertimbangkan sebagai tanggung jawab perempuan. Hal ini secara tidak langsung menyebabkan kebebasan bidan telah rusak, sementara pendidikan dan kemampuan membaca para bidan rendah. Dan pada waktu yang sama adanya perubahan sosial tentang ledakan pengetahuan.William Harvey (1578-1657) menjelaskan tentang sirkulasi darah, fisiologi prasenta dan selaputnya (1616). Beliau adalah bapak kebidanan di Inggris. Beliau mencatat tentang pertumbuhan embrio dan fetus menyeluruh dalam berbagai tahap.

2.1.2.2. Belanda
Seiring dengan meningkatnya perhatian pemerintah Belanda terhadap kelahiran dan
kematian, pemerintah mengambil tindakan untuk masalah tersebut. Perempuan berhak untuk
memilih apakah ia mau melahirkan di rumah atau rumah sakit, hidup atau mati. Belanda
memiliki angka kelahiran yang sangat tinggi, sedangkan kematian prenatal relative
rendah. Prof. Geerit Van Kloosterman pada konferensinya di Tontoro tahun 1984,
menyatakan bahwa setiap kehamilan adalah normal, harus selalu dipantau dan mereka bebas
memilih untuk tinggal di rumah atau rumah sakit, dimana bidan yang sama akan memantau
kehamilannya. Astrid Limburg mengatakan : Seorang perawat yang baik tidak akan menjadi
seorang bidan yang baik karena perawat dididik untuk merawat orang yang sakit, sedangkan
bidan untuk kesehatan wanita. Tidak berbeda dengan ucapan Maria De Broer yang
mengatkan bahwa kebidanan tidak memiliki hubungan dengan keperawatan; kebidanan
adalah profesi yang mandiri. Pendidikan kebidanan di Amsterdam memiliki prinsip yakni
sebagaimana memberi anestesi dan sedatif pada pasien, begitulah kita harus mengadakan
pendekatan dan member dorongan pada ibu saat persalinan. Jadi pada praktiknya bidan
harus memandang ibu secara keseluruhan dan mendorong ibu untuk menolong dirinya
sendiri. Pada kasus resiko rendah dokter tidak ikut menangani, mulai dari prenatal, natal, dan
post natal. Pada resiko menengah mereka selalu memberi tugas tersebut pada bidan dan pada
kasus resiko tinggi dokter dan bidan saling bekerjasama. Bidan di belanda 75 % bekerja
secara mandiri,



Pelayanan kebidanan di Belanda memiliki keunikan tersendiri, karena
merupakan gabungan dari budaya dan sistem. Keunikan ini membuat bidan mampu
melakukan pendekatan kepada ibu dengan tidak meninggalkan profesionalismenya.
·                     Awal tahun 1970-an, angka persalinan di rumah berkisar 70%
·                     peraturan bahwa medis dan bidan harus mampu mengobservasi 15 persalinan selama pelatihan.
·                     Tahun 1980-an merupakan masa kebangkitan bidan di Belanda. Bidan menjadi sangat militan, karena harus mempertahankan persalinan di rumah. Bidan-bidan banyak menghasilkan buku-buku dan video pengajaran yang dipublikasikan
·                     Tahun 1990-an, merupakan masa pencerahan bagi profesi bidan dan membawa cara berfikir yang baru. Penelitian  kelahiran di RS sangat rendah kualitasnya angka kematian perinatal yang sangat tinggi  mengalami penghentian  persalinan di rumah meningkat kembali, tetapi persalinan yang ditolong oleh bidan mengalami penurunan  kompetisi dengan dokter umum (17-19%), sedangkan persalinan yang ditolong bidan pada awal 1990-an hanya sekitar 6%.
·                     Pemerintah lebih mendukung pelayanan yang diberikan oleh bidan dibandingkan pelayanan yang diberikan dokter umum. pendapatan bidan yang lebih tinggi dibandingkan dokter umum
·                     Dampak keputusan pemerintah ini menyebabkan peningkatan pertolongan persalinan di rumah oleh bidan.
karena kebidanan adalah profesi yang mandiri dan aktif. Sehubungan dengan hal tersebut, bidan harus mejadi role model di masyarakat dan harus menganggap kehamilan adalah sesuatu yang normal, sehingga apabila seorang perempuan merasa dirinya hamil dia dapat langsung memeriksakan diri ke bidan atau dianjurkan oleh keluarga, teman, atau siapa saja.

2.2. SEJARAH PERKEMBANGAN PENDIDIKAN KEBIDANAN
Perkembangan pendidikan bidan behubungan dengan perkembangan pelayanan kebidanan. Keduanya berjalan beriring, untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap pelayaan kebidanan. Bidan adalah seorang wanita yang telah menyelesaikan program pendidikan kebidanan yang diakui oleh negara dan memenuhi kualifikasi untuk daftar serta memiliki izin yang sah untuk menjalankan praktek kebidanan.Profesi kebidanan adalah salah satu profesi yang sudah diakui di Dunia Internasional sebagai profesi yang paling dekat dengan perempuan selama siklus kehidupannya. Pendidikan bidan mencakup pendidikan formal dan nonformal.
a) Pendidikan Formal
Pendidikan Formal dirancang dan diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta dengan dukungan IBI adalah Program D III dan D IV Kebidanan. Pemerintah juga menyediakan dana bagi bidan (disektor pemerintah) untuk tugas belajar ke luar negeri. IBI juga mengupayakan adanya badan-badan swasta dalam dan luar negeri untuk program jangka pendek dan kerjasama dengan Universitas di dalam negeri.


b) Pendidikan Non Formal

Pendidikan Non Formal telah dilaksanakan melalui program pelatihan, magang, seminar atau lokakarya dan program non formal lainnya yang merupakan kerjasama antara IBI dan lembaga Internasional yang dilaksanakan di berbagai propinsi. IBI juga telah mengembangkan suatu program mentorship dimana bidan senior membimbing bidan junior dalam konteks profesionalisme kebidanan.

2.2.1. Sejarah Perkembangan Pendidikan Kebidanan Nasional
Pendidikan bidan Indonesia di mulai pada masa penjajahan Hindia Belanda. Pada tahun 1851, seorang dokter militer Belanda  (Dr. W. Bosch) membuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia.Pendidikan bidan bagi wanita pribumi dibuka kembali dirumah sakit militer di Batavi pada tahun 1902. Pda tahun 1904, pendidikan bidan bagi wanita Indonesia juga dibuka di Makasar. Lulusan ini mendapat tunjangan dari pemerintah.Tahun 1911-1912, di mulai program pendidikan tenaga perawatan secara terencana di Rumah Sakit Umum Pusat Semarang dan juga Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo di Batavia dengan lama pendidikan Selama 4 tahun. Pada tahun 1914, peserta didik wanita mulai di terima untuk mengkuti program endidikan tersebut. Setelah menyelesaikan pendidikan kebidanan tersebut, perawat wanita dapat meneruskan ke pendidikan kebidanan selama dua tahun.Pada tahun 1935-1938, perintah kolonial Belanda mulai membuka pendidikan bidan lulusan mulo (setingkat SMP) dan pada waktu yang hampir bersamaan di buka sekolah bidan di beberapa kota besar antara lain di Jakarta ( RSB Budi Kemulian) serta di Semarang (RSB Palang Dua dan RSB Mardi Waluyono).  Bidan dengan dasar  pendidikan Mulo dan pendidikan kebidanan selama tiga tahun disebut Bidan Kelas Satu (Vroedurouw eerste Klas) serta bidan dari lulusan perawat (mantrio) disebut Bidan Kelas Dua (Vroedurouw tweede Klas).Pada tahun 1950-1953, di buka sekolah bidan untuk lulusan smp dengan batasan usia  17 dan lama pendidikan tiga tahun. Kebutuhan tenaga untuk menolong persalinan cukup banyak maka dibuka pendidikan pembantu bidan di sebut penjenang kesehatan E (PK/E) atau pembantu bidan. Pendidikan ini dilanjutkan sampai tahun 1976 dan setelah itu ditutup.  Peserta didik PK/E adalah lulusan SMP di tambah 2 tahun kebidanan dasar. Lulusan dari PK/E melanjutkan pendidikan bidan selama dua tahun.Tahun 1953 dibuka khursus tambahan bidan (KTB) di Yogyakarta, selama khursus antara 7 sampai dengan 12 minggu. Pada tahun 1960, KTB dipindahkan ke Jakarta pada tahun 1967, KTB ditutup.Pada 1954 dibuka pendidikan guru bidan secara bersama-sama dengan guru perawat dan perawt kesehatan masyarakat di B andung. Pada awal tahun 1972, institusi pendidikan ini di lebur menjadi Sekolah Guru Perawat (SGP). Pendidikan ini menerima calon dari lulusan sekolah perawat dan sekolah bidan. Pada tahun 1970, dibuka program pendidikan bidan yang menerima lulusan dari Sekolah Pengatur Rawat (SPR) ditambah 2 tahun pendidikan bidan yang di sebut pendidikan lanjutan jurusan kebidanan (SPLJK).Pada tahun 1974, mengingat jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak (24 katagori), dapertemen kesehatan menyederhanakan pendidikan tenaga kesehatan nonsarjana. Sekolah bidan ditutup dan dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Dengan mencapai tujuan tenaga multitujuan di lapangan yang salah satunya tugas adalah menolong persalinan normal.Pada tahun 1975 sampai 1984, institusi pendidikan bidan ditutup sehingga Selama 10 tahun tidak menghasilkan bidan.Pada tahun 1985, dibuka lagi program pendidikan bidan (PPB) yang menerima lulusan dari SPR dan SPK. Tahun 1989 dibuka bidan pendidikan bidan secara nasional yang memperoleh lulusan SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan. Mulai tahun 1996 status bidan di desa adalah sebegai pegawai tidak tetap ( Bidan PTT) kontrak dengan pemerintah selama tiga tahun yang kemudian dapat di perpanjang sampai 2-3 tahun lagi. Penempatan bidan di desa (BDD) ini menyebabkan orientasi sebagai tenaga kesehatan berubah. Lulusan pendidikan ini kenyataanya juga tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan seperti yank di harapkan sebagai seorang bidan professional.Pada tahun 1993, di buka pendidikan bidan program B yang peserta didiknya dari lulsan akademi perawatan (AKPER) dengan lama pendidikan satu tahun. Tujuan program ini adalah menyiapakan tenaga mengajar pendidikan bidang program A. pendidkan ini hanya berlangsung selama 2 angkatan (1995 dan 1996) kemudian ditutup.Pada tahun 1993, juga di buka pendidikan  bidan program C yang menerima murid dari lulusan SMP. Pendidikan ini memiliki kurikulum 3700 jam  dan dapat di selesaikan dengan waktu 6 semester. Selain program pendidikan bidan di atas, sejak tahun 1994-1995, pemerintah juga menyelenggarakan ujicoba pendidikan bidang jarak jauh (distance learning) di tiga provensi yaitu jawa barat, jawa tengah, dan jawa timur. Diklat jarak jauh (DJJ) bidan di tujukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan bidan agar mampu melaksakan tugasnya serta mengharapkan dapat  memberi dampak atas penurunan Angka Kematian Bayi. Pendidikan ini dikoordinasikan oleh Pusdiklat Depkes dan di laksanakan oleh Bapelkes di Provensi.   Selain pelatihan DJJ, pada tahun 1994` juga dilaksanakan pelatihan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal (Life Savenig Skill, LSS).Pada tahu 1996, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bekerjasama dengan dapetermen kesehatan dan Amacin College of Nurse Midwife ( ACNM) serta rumah sakit swasta mengadakan Training of Trainer (TOT) LSS yang pesertanya adalah anggota IBI berjumlah 8 orang, yang kemudian menjadi tim pelatih LSS inti di pengurus pusat IBI. Pada tahun 1995-1998, IBI bekerja sama dengan Mother Care melakukan pelatihan pada peer review bagi bidan rumah sakit, bidan pukesmas, serta bidan desa di provensi Kalimantan Selatan.Padatahun 2000, telah ada tim pelatihan Asuhan persalinan Normal (APN) yang di koordinasikan oleh Maternal Neonatal Health (MNH). Pelatihan LSS dan APN tidak hanya di tunjukan untuk bidan di pelayanan tetapi juga bidan yang menjadi guru dosen di sekolah/akedemi kebidanan.Tahun 2000 dibuka program D IV Bidan Pendidik yang diselenggarakan di FK UGM Yogyakarta, dengan lama pendidikan 2 semester. Terdapat juga di UNPAD (2002), USU(2004), STIKES Nguri Waluyo Semarang, STIKIM Jakarta(2003). Sebagaimana kita ketahui bahwa D IV pendidik dengan masa studi 1 tahun terdiri dari beban materi profesi kurang lebih 60% dan 40% beban materi kependidikan.Kemudian tahun 2006 S2 Kebidanan telah dibuka di UNPAD Bandung. Berikut merupakan data perkembangan pendidikan kebidanan nasional :
Ø  Tahun 1851 :
Perkembangan pendidikan bidan dimulai pada masa penjajahan Hindia Belanda yang dibuka oleh dr. W Bosch tapi tidak berlangsung lama karena kurangnya peserta didik dan adanya larangan bagi wanita untuk keluar rumah.

Ø  Tahun 1902 :
Dibuka kembali di RS Militer di Batavia

Ø  Tahun 1904 :
Dibuka pendidikan bidan bagi wanita Indo di Makasar dan lulusan tersebut harus bersedia ditempatkan dimana saja dan harus mau menolong masyarakat yang tidak mampu secara cuma-cuma.

Ø  Tahun 1911/1912 :
Dimulai pendidikan tenaga keperawatan di RSUP Semarang dan Batavia, yang diterima lulusan HIS (SD 7 tahun), masa pendidikan 4 tahun dan awalnya diterima adalah pria.

Ø  Tahun 1914 :
Mulai diterima peserta didik wanita dan dapat melanjutkan kependidikan kebidanan selama 2 tahun.

Ø  Tahun 1935-1938 :
Pemerintah Belanda mulai mendidik bidan lulusan MULO (SLTP bagian B) dan bersamaan dibukanya sekolah bidan di kota-kota besar yaitu Jakarta, RSB Budi Kemuliaan, RSB Palang Dua, RSB Mardi Waluyo di Semarang
Mulai diberlakukan peraturan yang membedakan lulusan bidan berdasarkan latar belakang pendidikan dan membedakan gaji pokok dan tunjangan bagi bidan. Antara lain :
Dengan latar belakang MULO dan pendidikan selama 3 tahun disebut bidan kelas I
Dari lulusan perawat disebut bidan kelas II

Ø  Tahun 1950-1953 :
Dibuka sekolah bidan lulusan SMP dengan batas usia maksimal 17 tahun dan lama pendidikan 3 tahun
Dibuka juga sekolah penjenag Kesehatan I (pembantu bidan) untuk meningkatkan kebutuhan tenaga bidan, tapi tahun 1945 pendidikan ini ditutup.


Ø  Tahun 1953 :
Dibuka Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta lamanya 7-12 minggu.

Ø  Tahun 1954 :
Dibuka pendidikan guru bidan bersama-sama dengan guru perawat dan perawat kesehatan masyarakat di bandung. Awalnya berlangsung 1 tahun, kemudian menjadi 2 tahun dan terakhir menjadi 3 tahun.

Ø  Tahun 1960 :
KTB dipindahkan ke Jakarta yang bertujuan memperkenalkan pada lulsan bidan mengenai perkembangan program KIA dan pelayanan kesehatan masyarakat.Sebelum memulai tugasnya, KTB ini ditutup.



Ø  Tahun 1972 :
Pendidikan guru bidan dan perawat dilebur menjadi sekolah guru perawat dari lulusan sekolah perawat dan sekolah bidan.

Ø  Tahun 1970 :
Dibuka PPB dari lulusan SPR ditambah 2 tahun pendidikan disebut sekolah pendidikan lanjutan jurusan kebidanan

Ø  Tahun 1974 :
Depkes melakukan penyederhanaan, sekolah bidan ditutup dan dibuka SPK.

Ø  Tahun 1975-1984 :
Pendidikan bidan ditutup dan IBI tetap ada dan hidup secara wajar

Ø  Tahun 1981 :
Dibuka pendidikan D I Kesehatan Ibu dana anak, berlangsung 1 tahun.

Ø  Tahun 1985
Dibuka lagi PPB dari SPK dan SPR, lama pendidikan 1 tahun dan lulusannya dikembalikan ke institusi yang mengirim.

Ø  Tahun 1989 :
Dibuka secara nasional yang memperbolehkan lulusan SPK langsung masuk pendidikan bidan (PPB A) lama pendidikan 1 tahun dan langsung di tempatkan kedaerah pedesaan sebagai pegawai negeri sipil






Ø  Tahun 1994 :
Status bidan di desa menjadi PTT dengan kontrak 3 tahun yang dapat diperpanjang 2 x 3 tahun lagi.
IBI bekerjasama dengan depkes dan ACNM dan RS swasta mengadakan training of trainer kepada IBI sebanyak 8 orang untuk LSS dan menjadi pelatih LSS (Live Save Skills) di PP IBI.

Ø  Tahun 1993 :
Dibuka PPB B dari lulusan Akper dengan lama pendidikan 1 tahun untuk mempersiapkan tenaga pengajar bagi PPB A. Pendidikan ini hanya berlangsung 2 angkatan.
Juga dibuka PPB C dari lulusan SMP di 11 propinsi dan diselesaikan dalam 6 semester.

Ø  Tahun 1994-1995 :
Pemerintah menyelenggarakan uji coba pendidikan Bidan Jarak Jauh (Distance Learning) di 3 propinsi yang diatur dalam SK Menkes no.1247/Menkes/SK/XII/1994.

Ø  Tahun 1995-1998 :
IBI bekerjasama dengan Mother Care melakukan pelatihan dan Peer Review bagi bidan RS, bidan puskesmas dan desa di kalimantan selatan.

Ø  Tahun 1996 :


Ø  Tahun 2000
Tim pelatih APN yang dikoordinasikan oleh Maternal Neonatal Health, tidak hanya untuk pelatihan juga guru, dosen-dosen dari akademi Kebidanan.

Ø  Tahun 2000 :
Dibuka pendidikan D IV Kebidanan di UGM dan tahun 2002 di UNPAD, tahun 2005 di Poltekkes Padang dan Poltekkes Bandung.

Ø  1996 DIII Kebidanan, dari D1 bidan selama 5  semester selama 2,5 th

Ø  1998 D III dari SMU selama 6 semester

Ø  1999  D III dari SPK selama 6 semester

Ø  2001 ada 65 institusi penyelenggara D III, Depkes, TNI,  Pemda, Swasta.

Ø  2004 D III dari D1 Progsus selama 5 semester dlm 2 th: 96 sks.

Ø  2000 DIV Bidan Pendidik UGM, 2001 UNPAD, 2004 USU dan stikes Ngudi waluyo.

Ø  2006 S2 Kebidanan UNPAD.

Ø  Program S1 Bidan dari SMU

Ø  2011 S2 Sains Terapan Kesehatan Kebidanan

2.2.2. Sejarah Perkembangan Pendidikan Kebidanan Internasional

2.2.2.1. Inggris
William Smelliei (1697-1763) dokter Scotlandia, dari London ke Perancis sampai di Inggris untuk memperdalam ilmu kebidanan. William Smelliei melakukan sesuatu untuk menunjukkan peran dokter obstetrik. Beliau mendirikan pelatihan bagi bidan pria dan mengakui pentingnya pelatihan bagi bidan. Peningkatan beberapa bidan antara lain adalah Ny Sarah Stone (1737), menerbitkan “Praktik Lengkap Kebidanan”. Beliau juga menekankan pentingnya pengetahuan menyeluruh tentang anatomi dan merekomendasikan bantua operasi. Untuk mengatasi peningkatan bidan pria, Ny Sarah Stone menyarankan harus meningkatkan (menunjukkan) kemampuan mereka dalam kasus abnormal.Pendidikan kebidanan di inggris terdiri dari 2 jalur, yaitu Direct entry yang berasal dari High school (lulusan SMU) ditambah 3 tahun dan Nurse (perawat) ditambah 18 bulan.Mayoritas pendidikan bidan di Inggris adalah lulusan diploma. Sejak tahun 1995 dibentuk pendidikan kebidanan setingkat universitas (Degree-Bachelor), yang berasal dari SMU ditambah 3-4 tahun. Lulusan ini bisa melanjutkan ke S2 kebidanan. Sistem yang dianut ialah APEL (Accreditation of Prior Experiental Learning), yaitu untuk akreditasi 5x study day dalam 3 tahun yang terdiri atas sertifikat, critical analisis, reflection, evaluation, dan find evidence.

2.2.2.2. Belanda
Belanda merupakan salah satu Negara yang teguh berpendapat bahwa pendidikan kebidanan harus dilakukan terpisah dari pendidikan perawat, dan berkembang menjadi profesi yang berbeda. Akademik pendidikan kebidanan pertama kali pada tahin 1816 di Rumah Sakit Universitas Amsterdam. Akademik kedua dibuka pada tahun yang sama bertempat di Rotterdam dan yang ketiga pada tahun 1913 di Hearland. Pada awalnya pendidikan bidan 2 tahun kemudian menjadi 3 tahun dan kini  tahun (sejak 1994). Pendidikannya adalah direct entry dengan dasar lulusan SLTA 3 tahun. Di Belanda, ada tiga institusi kebidanan dan menerima 66 mahasiswa setiap tahunnya. Hampir setiap tahun 800 calon mahasiswa (95 % wanita dan 5 % laki – laki) mengikuti tes syarat masuk untuk mengikuti pendidikan di usia minimal 19 tahun. Mahasiswa kebidanan tidak menerima gaji dan tidak membayar biaya pendidikan.Selama pendidikan, ketiga institusi tersebut menekankan bahwa kehamilan, persalinan, dan nifas merupakan proses fisiologis. Ini diterapkan dengan menempatkan mahasiswa untuk praktik di kamar bersalin, dimana terdapat perempuan dengan resiko rendah melahirkan. Bila ada masalah, mahasiswa baru akan berkonsultasi dengan ahli kebidanan. Mahasiswa diwajibkan mempunyai pengalaman 40 persalinan selama pendidikan. Ketika lulus ujian akhir, mereka akan menerima ijazah, yang di dalamnya tercantum nilai ujian.




























BAB III
PENUTUP

3.1.  Kesimpulan
Pelayanan kebidanan di Indonesia perlu ditingkatkan mengingat masih tingginya angka kematian ibu dan anak (AKIA). Perubahan-perubahan yang dilakukan dalam pelayanan kebidanan zaman dahulu dengan pelayana kebidanan zaman sekarang merupakan wujud peningkatan pelayanan kebidanan. Tetepi dalam melakukan perubahan tersebut tidaklah mudah, butuh proses dan waktu yang tidak singkat untuk mewujudkan pelayanan kebidanan yang berkualitas.

3.2 Saran
Dengan penulisan makalah ini penulis berharap lembaga kesehatan dalam hal ini para bidan mampu meningkatkan pelayanan dan pendidikan kebidanan guna membangun generasi muda dan generasi penerus bangsa menjadi manusia yang sehat.






















DAFTAR PUSTAKA

Asrinah., dkk. Konsep Kebidanan. Yogyakata: Graha Ilmu.
Nurhayati., dkk. 2012. Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Purwandari, Atik. 2008. Konsep Kebidanan : Sejarah & Profesionalisme. Jakarta: EGC.
Sari, Rury Narulita. 2012. Konsep Kebidanan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Soepardan, Suryani. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC.
Yoana Bidan Today. (2008) http://yoanabidantoday.blogspot.com/2008/05/perkembangan-kebidanan-di-indonesia.html
indahidayatulh2393.blogspot.com/2013/04/makalah-perkembangan-pelayanan.html
Danim,Prof.Dr.Sudarwan&Darwis,S.Kp.2003.Metode Penelitian Kebidanan.Jakarta.EGC




Komentar

Postingan Populer