Perkembangan Profesi Pelayanan dan Pendidikan Bidan Secara Nasional dan Internasional
MAKALAH KONSEP KEBIDANAN
Perkembangan Profesi Pelayanan dan Pendidikan Bidan
Secara Nasional dan Internasional

Oleh
:
Rosalinda
Elvira Trianto Putri
Aila
Chairini
Nur
Putri Fitriyana
Farah
Hanifah
Tk.
1/ Reguler 3
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNG KARANG
PRODI
D3 KEBIDANAN TANJUNG KARANG
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya
kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang berjudul “PERKEMBANGAN
PROFESI PELAYANAN DAN PENDIDIKAN BIDAN SECARA NASIONAL DAN INTERNASIONAL” Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi Kesempurnaan
makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.
Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita, amin .
Bandar Lampung,11 Agustus 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR..........................................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................................ii
BAB
I PENDAHULUAN......................................................................................... ……….4
1.1
Latar
Belakang....................................................................................... ……….4
1.2
Rumusan
Masalah................................................................................................. 4
1.3
Tujuan
Penulisan................................................................................................. .5
1.4 Metode Penulisan………………………………………………………………...5
1.5 Sistematika Penulisan…………………………………………………………….5
BAB
II TINJAUAN
TEORI.................................................................................... …………6
2.1
Sejarah Perkembangan Pelayanan Kebidanan......................................................6
2.1.1 Sejarah Perkembangan
Pelayanan Kebidanan
Nasional..................... 8
2.1.2 Sejarah
Perkembangan Pelayanan Kebidanan
Internasional................12
2.2 Sejarah Perkembangan Pendidikan Kebidanan....................................................13
2.2.1.Sejarah
Perkembangan Pendidikan Kebidanan Nasional.....................14
2.2.2 . Sejarah
Perkembangan Pendidikan Kebidanan Internasional............. 19
BAB
III
PENUTUP................................................................................................................21
3.1 Kesimpulan..........................................................................................................21
3.2 Saran
...................................................................................................................21
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................................22
BAB
I
PEDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sejarah perkembangan pelayanan dan pendidikan kebidanan
setiap waktu mengalami perkembangan ,baik suatu kemajuan atau justru
kemunduran. Perkembangan ini terjadi baik di Indonesia maupun di luar
negeri. Sejarah kebidanan dimulai sejak awal kehidupan atau awal peradaban
manusia. Zaman dahulu persalinan dan perempuan menstruasi dianggap kotor dan
menjijikan sehingga cara persalinan terkesan tidak manusiawi. Tidak ada yang
mencatat kapan dimulainya persalinan dilakukan oleh bidan. Dalam sejarah,
perempuan dalam proses melahirkan dapat dilakukan sendiri atau dibantu oleh
suami mereka. Ketika manusia tidak lagi berpindah-pindah dan membentuk kelompok
masyarakat, para ibu melahirkan dijaga atau ditolong oleh seorang perempuan
yang diangga mampu,yaitu seorang perempuan setengah baya yang telah menikah dan
melahirkan, melalui percobaan dan tukar pengetahuan dia mengembangkan
keahliannya yang disebut dukun bayi. Terdapat catatan yang menunjukan
tindakan yang dilakukan bidan, terdapat ada patung Mochicha (500 SM), lukisan
Papyri dan Tomb dalam Old Testament (Chamberlein, 1981), catatan tentang bidan
Yahudi (Shipah dan Puah) yang berani mengambil risiko membel keselamatan bayi
laki-laki Bangsa Yahudi yang diperintahkan utuk dibunuh oleh Firaun.
Selanjutnya,profesi bidan terus berkembang dan sejalan dengan perkembangan
itu,profesi bidan (midwife) telah diakui oleh masyarakat,khususnya oleh
pengguna jasa bidan dan keluarganya. Pengertian bidan dan bidang praktiknya
secara internasional telah diakui oleh International
Confederation of Midwives (ICM) tahun 1972 dan International Federation of Gynaecologist an Obstertritian tahun
1973 WHO.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana perkembangan pelayanan kebidanan nasional
2. Bagimana perkembangan pelayanan kebidanan internasional
3. Bagimana perkembangan pendidikan kebidanan nasional
4. Bagimana mengetahui perkembangan pendidikan internasional
1.3 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah yang berjudul “Sejarah
Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Kebidanan” sebagai berikut:
1. Sebagai tugas mata kuliah Konsep Kebidanan materi
“Sejarah Perkembangan Pelayanan dan Pendidikan Kebidanan Nasional dan
Internasional”.
2. Mengetahui bagaimana sejarah perkembangan pelayanan
kebidanan nasional dan internasional
3. Mengetahui bagaimana sejarah perkembangan pendidikan
kebidanan nasional dan internasional
1.4 Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam
penulisan makalah ini yaitu menggunakan metode studi literature, dimana sumber
yang digunakan menggunakan sumber pustaka (buku) dan hasil browusing dari
internet.
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan meliputi :
Latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode
penulisan dan sistematika penulisan
Bab II Pembahasan meliputi :
perkembangan pelayanan kebidanan di dalam negeri yang mencakup perkembangan
pelayanan kebidanan di Indonesia, perkembangan pelayanan kebidanan
zaman dahulu, perkembangan pelayanan kebidanan alam tahun
terakhir, dan perkembangan pelayanan kebidanan di masa depan.
Bab III Penutup meliputi kesimpulan dan saran
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
2.1. SEJARAH PERKEMBANGAN PELAYANAN
KEBIDANAN
Pelayanan kebidanan adalah semua tugas
yang menjadi tanggung jawab praktik profesi bidan dalam system pelayanan
kesehatan yang bertujuan meningkatkan kesehatan ibu, anak, dan keluarga
berencana dalam rangka mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarkat. Pelayanan kebidanan yang tepat
akan meningkatan keamanan dan kesejahteraan ibu dan bayinya. Layanan
kebidanan/oleh bidan dapat dibedakan meliputi :
a. Layanan kebidanan primer yaitu
layanan yang diberikan sepenuhnya atas tanggung jawab bidan.
b. Layanan kolaborasi yaitu layanan
yang dilakukan oleh bidan sebagai anggota tim secara bersama-sama dengan
profesi lain dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan.
c. Layanan kebidanan rujukan yaitu
merupakan pengalihan tanggung jwab layanan oleh bidan kepada sistem layanan
yang lebih tinggi atau yang lebih kompeten ataupun pengambil alihan tanggung
jawab layanan/menerima rujukan dari penolong persalinan lainnya seperti
rujukan.
Pada zaman merintahan Hindia Belanda, angka
kematian ibu dan anak sangat tinggi. Tenaga penolong persalinan adalah dukun.
Pada tahun 1807 (zaman Gubernur Jenderal Hendrik William Deandels) para dukun
dilatih dalam pertolongan persalinan, tetapi keadaan ini tidak tidak
berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan. Adapun pelayanan
kebidanan hanya diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang ada di Indonesia.
Tahun 1849 di buka pendidikan Dokter Jawa di Batavia (Di Rumah Sakit Militer
Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto). Saat itu ilmu kebidanan belum merupakan
pelajaran, baru tahun 1889 oleh Straat, Obstetrikus Austria dan Masland, Ilmu
kebidanan diberikan sukarela. Seiring dengan dibukanya pendidikan dokter
tersebut, pada tahun 1851, dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di
Batavia oleh seorang dokter militer Belanda (dr. W. Bosch). Mulai saat itu
pelayanan kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bidan. Pada tahun
1952 mulai diadakan pelatihan bidan
Secara formal agar dapat meningkatkan kualitas
pertolongan persalinan. Perubahan pengetahuandan keterampilan tentang pelayanan
kesehatan ibu dan anak secara menyeluruh di masyarakat dilakukan melalui kursus
tambahan yang dikenal dengan istilah Kursus Tambahan Bidan (KTB) pada tahun
1953 di Yogyakarta yang akhirnya dilakukan pula dikota-kota besar lain di
nusantara. Seiring dengan pelatihan tersebut didirikanlah Balai Kesehatan Ibu
dan Anak (BKIA). Dari BKIA inilah yang akhirnya menjadi suatu pelayanan
terintegrasi kepada masyarakat yang dinamakan Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas) pada tahun 1957. Puskesmas memberikan pelayanan berorientasi pada
wilayah kerja. Bidan yang bertugas di Puskesmas berfungsi dalam memberikan
pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk pelayanan keluarga berencana. Mulai
tahun 1990 pelayanan kebidanan diberikan secara merata dan dekat dengan
masyarakat. Kebijakan ini melalui Instruksi Presiden secara lisan pada Sidang
Kabinet Tahun 1992 tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di
desa.
Adapun tugas pokok bidan di desa adalah sebagai
pelaksana kesehatan KIA, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu hamil,
bersalin dan nifas serta pelayanan kesehatan bayi baru lahir, termasuk.
Pembinaan dukun bayi. Dalam melaksanakan tugas pokoknya bidan di desa
melaksanakan kunjungan rumah pada ibu dan anak yang memerlukannya, mengadakan
pembinaan pada Posyandu di wilayah kerjanya serta mengembangkan Pondok Bersalin
sesuai denga kebutuhan masyarakat setempat. Hal tersebut di atas adalah
pelayanan yang diberikan oleh bidan di desa. Pelayanan yang diberikan berorientasi
pada kesehatan masyarakat berbeda halnya dengan bidan yang bekerja di rumah
sakit, dimana pelayanan yang diberikan berorientasi pada individu. Bidan di
rumah sakit memberikan pelayanan poliklinik antenatal, gangguan kesehatan
reproduksi di poliklinik keluarga berencana, senam hamil, pendidikan perinatal,
kamar bersalin, kamar operasi kebidanan, ruang nifas dan ruang perinatal. Titik
tolak dari Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994 yang
menekankan pada reproduktive health (kesehatan reproduksi), memperluas area
garapan pelayanan bidan. Area tersebut meliputi :
1. Safe Motherhood, termasuk bayi
baru lahir dan perawatan abortus
2. Family Planning
3. Penyakit menular seksual termasuk
infeksi saluran alat reproduksi
4. Kesehatan reproduksi pada
remaja
5. Kesehatan reproduksi pada orang
tua.
Bidan dalam melaksanakan peran,
fungsi dan tugasnya didasarkan pada kemampuan dan kewenangan yang diberikan.
Kewenangan tersebut diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes).
Permenkes yang menyangkut wewenang bidan selalu mengalami perubahan sesuai
dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Permenkes tersebut dimulai dari :
a. Permenkes No. 5380/IX/1963,
wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri,
didampingi tugas lain.
b. Permenkes No. 363/IX/1980, yang
kemudian diubah menjadi Permenkes 623/1989 wewenang bidan dibagi menjadi dua
yaitu wewenang umum dan khusus ditetapkan bila bidan meklaksanakan tindakan
khusus di bawah pengawasan dokter. Pelaksanaan dari Permenkes ini, bidan dalam
melaksanakan praktek perorangan di bawah pengawasan dokter
c. Permenkes No. 572/VI/1996,
wewenang ini mengatur tentang registrasi dan praktek bidan. Bidan dalam
melaksanakan prakteknya diberi kewenangan yang mandiri. Kewenangan tersebut
disertai dengan kemampuan dalam melaksanakan tindakan. Dalam wewenang tersebut
mencakup :
·
Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan
anak.
·
Pelayanan Keluarga Berencana
·
Pelayanan Kesehatan Masyarakat
d. Kepmenkes No.
900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan revisi dari
Permenkes No. 572/VI/1996. Dalam melaksanakan tugasnya, bidan melakukan
kolaborasi, konsultasi dan merujuk sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan
kemampuannya.
Dalam keadaan darurat bidan juga diberi wewenang
pelayanan kebidanan yang ditujukan untuk penyelamatan jiwa.
Dalam aturan tersebut juga ditegaskan bahwa bidan
dalam menjalankan
Praktek harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan,
pendidikan, pengalaman serta berdasarkan standar profesi. Pencapaian kemampuan
bidan sesuai dengan Kepmenkes No. 900/2002 tidaklah mudah, karena kewenangan
yang diberikan oleh Departemen Kesehatan ini mengandung tuntutan akan kemampuan
bidan sebagai tenaga profesional dan mandiri.
Berikut adalah sejarah perkembangan
pelayanan kebidanan yang ada di Indonesia maupun di dunia internasional
2.1.1. Sejarah Perkembangan
Pelayanan Kebidanan Nasional
Perkembangan pelayanan kebidanan dimulai ketika Belanda
menjajah Indonesia. Pada masa pemerintahan Belanda, Indonesia masih mengikuti
kebiasaan lama,ibu ditolong oleh dukun paraji. Persalinan oleh dukun
menggunakan mantra-mantra dan mengurut perut ibu.Perkembangan pelayanan
kebidanan di Indonesia menurut catatan dimulai pada tahun1807 ketika angka
kematian ibu dan bayi tinggi sehingga dukun dilatih untuk pertolongan
persalinan di zaman Gubernur Jenderal Hendrik William Dandels, tetapi keadaan
ini tidak berlangsung lama karena tidak adanya pelatih kebidanan. Adapun
pelayanan kebidanan hanya diperuntukan bagi orang Belanda yang ada di Inonesia.
Tahun 1849 dibuka pendidikan Dokter Jawa di Batavia tepatnya di Rumah Sakit
Militer Belanda sekarang RSPAD Gatot Subroto. Seiring dengan dibukanya pendidikan
dokter tersebut, pada tahun 1851,dibuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di
Batavia oleh seorang dokter militer Belanda W.Bosch. Mulai saat itu pelayanan
kesehatan ibu dan anak dilakukan oleh dukun dan bayi.Pada tahun
1952 ,mulai diadakan pelatihan bidan secara formal agar dapat meningkatkan
kualitas pertolongan persalinan, pelatihan untuk dukun masih berlangsung sampai
sekarang yang diberikan oleh bidan. Kursus Tambahan Bidan (KTB) pada tahun 1953
di Yogyakarta dilakukan pula di kota-kota besar di nusantara. Seiring pelatihan
tersebut, didirikan pula Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) dengan bidan
sebagai penangung jawab. Pelayanan yang diberikan mencakup antenatan,
postnatal, pemeriksaan bayi dan anak.Pada tahun 1957 bermula dari BKIA, kemudian
terbentuklah sustu pelayanan terintegrasi bagi masyarakat yang dinamakan Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pelayanan yang diberikan yaitu kesehatan ibu
dan anak, serta keluarga berencana. Pelayanan kebidanan di Posyandu mencakup
pemeriksaan kehamilan, pelayanan keluarga berencana, imunisasi gizi, dann
kesehatan lingkungan. Sejak tahun 1990, pelayanan kebidanan diberikan
secara merata sesuai kebutuhan masyarakat. Kebijakan ini merupakan Instruksi
Presiden disampaikan pada Sidang Kabinet Tahun 1992. Kebijakan ini mengenai
perlunya mendidik bidan untuk ditempatkan di desa dengan tugas pokok
sebagai pelaksana kesehatan KIA, khususnya ibu hamil, bersalin dan nifas serta
pelayanan kesehatan bayi baru lahir termasuk pembinaan dukun bayi.Titik tolak
Konferensi Kependudukan Dunia di Kairo pada tahun 1994 menekankn pada kesehatan
reproduksi, memperluasa area garapan pelayanan kebidanan. Area tersebut
meliputi :
1. Safe motherhood termasuk bayi baru lahir dan perawatan
abortus.
2. Keluarga berencana.
3. Penyakit menular seksual termasuk infeksi saluran alat
reproduksi.
4. Kesehatan reproduksi remaja
5. Kesehatan reproduksi orang tua.
Bidan dalam melaksanakan peran, fungsi, dan tugasnya
didasarkan pada kemampuan serta kewenangan yang diatur melalui Peraturan
Menteri Kesehatan (Permekes). Permenkes yang menyangkut wewenang bidan selalu
mengalami perubahan sesuai kebutuhan dan perkembangan masyarakat serta
kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Permenkes
tersebut terdiri atas :
1. Permenkes No. 5380/IX/1963 yang menyatakan wewenang
bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri, didampingi
tugas lain.
2. Permenkes No. 363/IX/1980 diubah menjadi Permenkes No.
326 /1989 bahwa wewenang bidan dibagi menjadi wewenang umum dan khusus. Dalam
wewenang khusus ditetapkan bahwa bidan melaksanakan tindakan dibawah pengawasan
dokter.
3. Permenkes No. 527/VI/1996 mengatur tentang registrasi
dan praktik kebidanan. Bidan dalam melaksanakan praktiknya diberikan kewenangan
yang mandiri yang disertai kemampuan dalam melaksanakan tindakan. Dalam
wewenang tersebut mencakup :a. Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu
dan anakb. Pelayanan keluarga berencana. Pelayanan kesehatan masyarakat
4. Permenkes No. 900/Menkes/SK/XII/2002 mengatur tentang
registrasi dan praktik bidan. Bidan dalam praktiknya diberi kewenangan
untuk memberikan pelayanan yang meliputi :
a. Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan pranikan,
antenatal, intranatal,, postnatal, bayi baru lahir, dan balita.
b. Pelayanan keluarga berencana yang meliputi pemberian
obat dan alat kontrasepsi melalui oral, suntikan, pemasangan dan pencabutan
alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan alat kontrasepsi bawah kulit (AKBR)
tanpa penyulit.
Dalam melaksanakan tugasnya, bidan
melakukan kolaborasi, konsultasi, dan rujukan sesuai dengan kondisi pasien,
kewenangan, serta kemampuannya. Wewenang bidan dalam pelayanan kebidanan
di bidang keluarga berencana mencakup penyedian alat kontrasepsi :oral
(pil KB), suntik, kondom, tisu vaginal, alat kontrasepsi dalam rahi,, alat
kontrasepsi bawah k
Perkembangan pendidikan dan pelayanan kebidanan di Indonesia tidak terlepas
dari masa penjajahan Belanda, era kemerdekaan, politik/ kebijakan pemerintah
dalam pelayanan dan pendidikan tenaga kesehatan, kebutuhan mesyarakat serta
kemajuan ilmu teknologi
· Tahun
1807 :
Diadakan pelatihan dukun dalam
pertolongan persalinan, tapi tidak berlangsung lama karena tidak ada pelatih
bidan
· Tahun
1849 :
Dibuka pendidikan dokter Jawa di
Batavia dan pendidikan bidan bagi wanita pribumi oleh dr W Bosch
· Tahun
1851Lulusan bidan bekerja di RS dan di masyarakat
· Tahun
1952
Diadakan pelatihan bidan secara
formal untuk meningkatkan kualitas pertolongan persalinan dan kursus untuk
dukun masih berlangsung hingga sekarang dan yang memberikan kursus adalah
bidan.
· Tahun
1953 :
Diadakan kursus tambahan bidan di
Yogyakarta diiringi dengan didirikannya BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak)
dimana bidan sebagai penanggung jawab pelayanan keadaan masyarakat yaitu ANC,
PNC, pemeriksaan bayi, pertolongan persalinan di rumah dan kunjungan rumah
sebagai tindak lanjut pasca persalinan.
· Tahun
1957 :
BKIA berubah menjadi Puskesmas
dengan pelayanan yang lebih terintegrasi, dimana bidan berfungsi
1. memberikan
pelayanan kesehatan ibu dan anak termasuk KB
2. memberikan
pelayanan di luar gedung puskesmas yaitu di rumah keluarga dan di posyandu :
pemeriksaan kehamilan, pelayanan KB, imunisasi, gizi dan kesehatan lingkungan
· Tahun
1990 :
Pelayanan kebidanan diberikan secara
merata sesuai dengan kebutuhan di masyarakat
· Tahun
1992 :
Melalui Instruksi Presiden pada
sidang kabinet tentang perlunya mendidik bidan untuk penempatan bidan di desa.
· Tahun 1994 :
Bertitik tolak dari Konferensi
Kependudukan Dunia di Kairo, menekankan pada reproduktif health dan memperluas
area garapan pelayanan bidan :
1. Safe
motherhood termasuk bayi baru lahir dan perawatan abortus
2. Familly
planning
3. PMS
termasuk infeksi saluran alat reproduksi
4. Kesehatan
reproduksi remaja
5. Kesehatan
reproduksi pada orang tua
Kewenangan bidan diatur melalui
Peraturan Menteri yang selalu berubah-ubah, dimulai dari :
1. Permenkes
no 5380/IX/1980 terbatas pada pertolongan persalinan secara mandiri
2. Permenkes
no 363/IX/1980 diubah menjadi no 623/1989 wewenang bidan dibagi dua yaitu umum
dan khusus.
3. Permenkes
no 572/VI/1996, mengatur tentang registrasi praktek bidan, dalam wewenang
mencakup
a. Pelayanan
kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak
b. Pelayanan
Keluarga Berencana
c. Pelayanan
kesehatan masyarakat.
4. Kepmenkes
no 900/ Menkes/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan.
5. Permenkes
NO.HK.02.02/MENKES/149/2010 tentang izin danpenyelenggara praktik bidan
6. Permenkes
RI No.1464/menkes/PER/X/2010 tentang izin dan penyelenggara praktik bidan
2.1.2. Sejarah Perkembangan
Pelayanan Kebidanan Internasional
2.1.2.1. Inggris
Bidan adalah pembantu kelahiran tradisional. Pengetahuan
dan keterampilan diperoleh secara turun-temurun. Pada abad pertengahan,
beberapa bidan tradisional dikutuk sebagai penyihir dan dibakar di tiang. Bidan
juga dianggap sebagai suatu ancaman terhadap pria yang sedang berusaha untuk
duduk sebagai pemegang tunggal seni keperawatan.Abad XIV di lembaga pensiun Inggris, bidan
dibayar oleh kerajaan atas jasa yang diberikan. Bidan tersebut mendapat
penghormatan yang tinggi.Abad XVII, muncul bidan pria/praktisi medis
yang mempunyai spesialisasi dalam kelahiran anak. Kemunculan pembantu kelahiran
pria menimbulkan peningkatan penerimaan masyarakat pada mereka dalam suatu area
yang sebelumnya dipertimbangkan sebagai tanggung jawab perempuan. Hal ini
secara tidak langsung menyebabkan kebebasan bidan telah rusak, sementara
pendidikan dan kemampuan membaca para bidan rendah. Dan pada waktu yang sama
adanya perubahan sosial tentang ledakan pengetahuan.William Harvey (1578-1657)
menjelaskan tentang sirkulasi darah, fisiologi prasenta dan selaputnya (1616).
Beliau adalah bapak kebidanan di Inggris. Beliau mencatat tentang pertumbuhan
embrio dan fetus menyeluruh dalam berbagai tahap.
2.1.2.2. Belanda
Seiring dengan meningkatnya perhatian
pemerintah Belanda terhadap kelahiran dan
kematian, pemerintah mengambil tindakan
untuk masalah tersebut. Perempuan berhak untuk
memilih apakah ia mau melahirkan di rumah
atau rumah sakit, hidup atau mati. Belanda
memiliki angka kelahiran yang sangat
tinggi, sedangkan kematian prenatal relative
rendah. Prof. Geerit Van Kloosterman
pada konferensinya di Tontoro tahun 1984,
menyatakan bahwa setiap kehamilan adalah
normal, harus selalu dipantau dan mereka bebas
memilih untuk tinggal di rumah atau rumah
sakit, dimana bidan yang sama akan memantau
kehamilannya. Astrid Limburg mengatakan :
Seorang perawat yang baik tidak akan menjadi
seorang bidan yang baik karena perawat
dididik untuk merawat orang yang sakit, sedangkan
bidan untuk kesehatan wanita. Tidak
berbeda dengan ucapan Maria De Broer yang
mengatkan bahwa kebidanan tidak memiliki
hubungan dengan keperawatan; kebidanan
adalah profesi yang mandiri. Pendidikan
kebidanan di Amsterdam memiliki prinsip yakni
sebagaimana memberi anestesi dan sedatif
pada pasien, begitulah kita harus mengadakan
pendekatan dan member dorongan pada ibu
saat persalinan. Jadi pada praktiknya bidan
harus memandang ibu secara keseluruhan dan
mendorong ibu untuk menolong dirinya
sendiri. Pada kasus resiko rendah dokter
tidak ikut menangani, mulai dari prenatal, natal, dan
post natal. Pada resiko menengah mereka selalu
memberi tugas tersebut pada bidan dan pada
kasus resiko tinggi dokter dan bidan
saling bekerjasama. Bidan di belanda 75 % bekerja
secara mandiri,
Pelayanan
kebidanan di Belanda memiliki keunikan tersendiri, karena
merupakan
gabungan dari budaya dan sistem. Keunikan ini membuat bidan mampu
melakukan
pendekatan kepada ibu dengan tidak meninggalkan profesionalismenya.
·
Awal
tahun 1970-an, angka persalinan di rumah berkisar 70%
·
peraturan
bahwa medis dan bidan harus mampu mengobservasi 15 persalinan selama pelatihan.
·
Tahun
1980-an merupakan masa kebangkitan bidan di Belanda. Bidan menjadi sangat
militan, karena harus mempertahankan persalinan di rumah. Bidan-bidan banyak
menghasilkan buku-buku dan video pengajaran yang dipublikasikan
·
Tahun
1990-an, merupakan masa pencerahan bagi profesi bidan dan membawa cara berfikir
yang baru. Penelitian kelahiran di RS
sangat rendah kualitasnya angka kematian perinatal yang sangat tinggi mengalami penghentian persalinan di rumah meningkat kembali, tetapi
persalinan yang ditolong oleh bidan mengalami penurunan kompetisi dengan dokter umum (17-19%),
sedangkan persalinan yang ditolong bidan pada awal 1990-an hanya sekitar 6%.
·
Pemerintah
lebih mendukung pelayanan yang diberikan oleh bidan dibandingkan pelayanan yang
diberikan dokter umum. pendapatan bidan yang lebih tinggi dibandingkan dokter
umum
·
Dampak
keputusan pemerintah ini menyebabkan peningkatan pertolongan persalinan di
rumah oleh bidan.
karena kebidanan adalah profesi yang mandiri dan aktif.
Sehubungan dengan hal tersebut, bidan harus mejadi role model di masyarakat dan
harus menganggap kehamilan adalah sesuatu yang normal, sehingga apabila seorang
perempuan merasa dirinya hamil dia dapat langsung memeriksakan diri ke bidan
atau dianjurkan oleh keluarga, teman, atau siapa saja.
2.2. SEJARAH PERKEMBANGAN
PENDIDIKAN KEBIDANAN
Perkembangan pendidikan bidan
behubungan dengan perkembangan pelayanan kebidanan. Keduanya berjalan beriring,
untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap pelayaan kebidanan. Bidan adalah seorang wanita yang
telah menyelesaikan program pendidikan kebidanan yang diakui oleh negara dan
memenuhi kualifikasi untuk daftar serta memiliki izin yang sah untuk
menjalankan praktek kebidanan.Profesi kebidanan adalah salah satu profesi yang
sudah diakui di Dunia Internasional sebagai profesi yang paling dekat dengan
perempuan selama siklus kehidupannya. Pendidikan bidan mencakup
pendidikan formal dan nonformal.
a) Pendidikan Formal
Pendidikan Formal dirancang dan
diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta dengan dukungan IBI adalah Program D
III dan D IV Kebidanan. Pemerintah juga menyediakan dana bagi bidan (disektor
pemerintah) untuk tugas belajar ke luar negeri. IBI juga mengupayakan adanya
badan-badan swasta dalam dan luar negeri untuk program jangka pendek dan
kerjasama dengan Universitas di dalam negeri.
b) Pendidikan Non Formal
Pendidikan Non Formal telah
dilaksanakan melalui program pelatihan, magang, seminar atau lokakarya dan
program non formal lainnya yang merupakan kerjasama antara IBI dan lembaga
Internasional yang dilaksanakan di berbagai propinsi. IBI juga telah
mengembangkan suatu program mentorship dimana bidan senior membimbing bidan
junior dalam konteks profesionalisme kebidanan.
2.2.1. Sejarah Perkembangan
Pendidikan Kebidanan Nasional
Pendidikan bidan Indonesia di mulai pada masa penjajahan
Hindia Belanda. Pada tahun 1851, seorang dokter militer Belanda (Dr. W.
Bosch) membuka pendidikan bidan bagi wanita pribumi di Batavia.Pendidikan bidan
bagi wanita pribumi dibuka kembali dirumah sakit militer di Batavi pada tahun
1902. Pda tahun 1904, pendidikan bidan bagi wanita Indonesia juga dibuka di
Makasar. Lulusan ini mendapat tunjangan dari pemerintah.Tahun 1911-1912, di mulai program pendidikan
tenaga perawatan secara terencana di Rumah Sakit Umum Pusat Semarang dan juga
Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo di Batavia dengan lama pendidikan Selama 4
tahun. Pada tahun 1914, peserta didik wanita mulai di terima untuk mengkuti
program endidikan tersebut. Setelah menyelesaikan pendidikan kebidanan
tersebut, perawat wanita dapat meneruskan ke pendidikan kebidanan selama dua tahun.Pada tahun
1935-1938, perintah kolonial Belanda mulai membuka pendidikan bidan lulusan
mulo (setingkat SMP) dan pada waktu yang hampir bersamaan di buka sekolah bidan
di beberapa kota besar antara lain di Jakarta ( RSB Budi Kemulian) serta di
Semarang (RSB Palang Dua dan RSB Mardi Waluyono). Bidan dengan dasar
pendidikan Mulo dan pendidikan kebidanan selama tiga tahun disebut Bidan
Kelas Satu (Vroedurouw eerste Klas) serta bidan dari lulusan perawat (mantrio)
disebut Bidan Kelas Dua (Vroedurouw tweede Klas).Pada tahun 1950-1953, di buka
sekolah bidan untuk lulusan smp dengan batasan usia 17 dan lama
pendidikan tiga tahun. Kebutuhan tenaga untuk menolong persalinan cukup banyak
maka dibuka pendidikan pembantu bidan di sebut penjenang kesehatan E (PK/E)
atau pembantu bidan. Pendidikan ini dilanjutkan sampai tahun 1976 dan setelah
itu ditutup. Peserta didik PK/E adalah lulusan SMP di tambah 2 tahun
kebidanan dasar. Lulusan dari PK/E melanjutkan pendidikan bidan selama dua tahun.Tahun 1953
dibuka khursus tambahan bidan (KTB) di Yogyakarta, selama khursus antara 7
sampai dengan 12 minggu. Pada tahun 1960, KTB dipindahkan ke Jakarta pada tahun
1967, KTB ditutup.Pada 1954 dibuka pendidikan guru bidan
secara bersama-sama dengan guru perawat dan perawt kesehatan masyarakat di B
andung. Pada awal tahun 1972, institusi pendidikan ini di lebur menjadi Sekolah
Guru Perawat (SGP). Pendidikan ini menerima calon dari lulusan sekolah perawat
dan sekolah bidan. Pada tahun 1970, dibuka program pendidikan bidan yang
menerima lulusan dari Sekolah Pengatur Rawat (SPR) ditambah 2 tahun pendidikan
bidan yang di sebut pendidikan lanjutan jurusan kebidanan (SPLJK).Pada tahun
1974, mengingat jenis tenaga kesehatan menengah dan bawah sangat banyak (24
katagori), dapertemen kesehatan menyederhanakan pendidikan tenaga kesehatan
nonsarjana. Sekolah bidan ditutup dan dibuka Sekolah Perawat Kesehatan (SPK).
Dengan mencapai tujuan tenaga multitujuan di lapangan yang salah satunya tugas
adalah menolong persalinan normal.Pada tahun 1975 sampai 1984, institusi
pendidikan bidan ditutup sehingga Selama 10 tahun tidak menghasilkan bidan.Pada tahun
1985, dibuka lagi program pendidikan bidan (PPB) yang menerima lulusan dari SPR
dan SPK. Tahun 1989 dibuka bidan pendidikan bidan secara nasional yang
memperoleh lulusan SPK untuk langsung masuk program pendidikan bidan. Mulai
tahun 1996 status bidan di desa adalah sebegai pegawai tidak tetap ( Bidan PTT)
kontrak dengan pemerintah selama tiga tahun yang kemudian dapat di perpanjang
sampai 2-3 tahun lagi. Penempatan bidan di desa (BDD) ini menyebabkan orientasi
sebagai tenaga kesehatan berubah. Lulusan pendidikan ini kenyataanya juga tidak
memiliki pengetahuan dan keterampilan seperti yank di harapkan sebagai seorang
bidan professional.Pada tahun 1993, di buka pendidikan bidan
program B yang peserta didiknya dari lulsan akademi perawatan (AKPER) dengan
lama pendidikan satu tahun. Tujuan program ini adalah menyiapakan tenaga
mengajar pendidikan bidang program A. pendidkan ini hanya berlangsung selama 2
angkatan (1995 dan 1996) kemudian ditutup.Pada tahun 1993, juga di buka pendidikan
bidan program C yang menerima murid dari lulusan SMP. Pendidikan ini
memiliki kurikulum 3700 jam dan dapat di selesaikan dengan waktu 6 semester. Selain
program pendidikan bidan di atas, sejak tahun 1994-1995, pemerintah juga
menyelenggarakan ujicoba pendidikan bidang jarak jauh (distance learning) di
tiga provensi yaitu jawa barat, jawa tengah, dan jawa timur. Diklat jarak jauh
(DJJ) bidan di tujukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
bidan agar mampu melaksakan tugasnya serta mengharapkan dapat memberi
dampak atas penurunan Angka Kematian Bayi. Pendidikan ini dikoordinasikan oleh
Pusdiklat Depkes dan di laksanakan oleh Bapelkes di Provensi.
Selain pelatihan DJJ, pada tahun 1994` juga dilaksanakan pelatihan
pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal (Life Savenig Skill, LSS).Pada
tahu 1996, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) bekerjasama dengan dapetermen kesehatan
dan Amacin College of Nurse Midwife ( ACNM) serta rumah sakit swasta mengadakan
Training of Trainer (TOT) LSS yang pesertanya adalah anggota IBI berjumlah 8
orang, yang kemudian menjadi tim pelatih LSS inti di pengurus pusat
IBI. Pada tahun 1995-1998, IBI bekerja sama dengan Mother Care melakukan
pelatihan pada peer review bagi bidan rumah sakit, bidan pukesmas, serta bidan
desa di provensi Kalimantan Selatan.Padatahun 2000, telah
ada tim pelatihan Asuhan persalinan Normal (APN) yang di koordinasikan oleh
Maternal Neonatal Health (MNH). Pelatihan LSS dan APN tidak hanya di tunjukan
untuk bidan di pelayanan tetapi juga bidan yang menjadi guru dosen di
sekolah/akedemi kebidanan.Tahun 2000 dibuka program D IV Bidan
Pendidik yang diselenggarakan di FK UGM Yogyakarta, dengan lama pendidikan 2
semester. Terdapat juga di UNPAD (2002), USU(2004), STIKES Nguri Waluyo
Semarang, STIKIM Jakarta(2003). Sebagaimana kita ketahui bahwa D IV pendidik
dengan masa studi 1 tahun terdiri dari beban materi profesi kurang lebih 60%
dan 40% beban materi kependidikan.Kemudian tahun 2006 S2 Kebidanan telah dibuka
di UNPAD Bandung. Berikut merupakan data perkembangan pendidikan kebidanan
nasional :
Ø Tahun
1851 :
Perkembangan
pendidikan bidan dimulai pada masa penjajahan Hindia Belanda yang dibuka oleh
dr. W Bosch tapi tidak berlangsung lama karena kurangnya peserta didik dan
adanya larangan bagi wanita untuk keluar rumah.
Ø Tahun
1902 :
Dibuka
kembali di RS Militer di Batavia
Ø Tahun
1904 :
Dibuka
pendidikan bidan bagi wanita Indo di Makasar dan lulusan tersebut harus
bersedia ditempatkan dimana saja dan harus mau menolong masyarakat yang tidak
mampu secara cuma-cuma.
Ø Tahun
1911/1912 :
Dimulai
pendidikan tenaga keperawatan di RSUP Semarang dan Batavia, yang diterima lulusan
HIS (SD 7 tahun), masa pendidikan 4 tahun dan awalnya diterima adalah pria.
Ø Tahun
1914 :
Mulai
diterima peserta didik wanita dan dapat melanjutkan kependidikan kebidanan
selama 2 tahun.
Ø Tahun 1935-1938 :
Pemerintah Belanda mulai mendidik bidan
lulusan MULO (SLTP bagian B) dan bersamaan dibukanya sekolah bidan di kota-kota
besar yaitu Jakarta, RSB Budi Kemuliaan, RSB Palang Dua, RSB Mardi Waluyo di
Semarang
Mulai diberlakukan peraturan yang
membedakan lulusan bidan berdasarkan latar belakang pendidikan dan membedakan
gaji pokok dan tunjangan bagi bidan. Antara lain :
Dengan latar belakang MULO dan
pendidikan selama 3 tahun disebut bidan kelas I
Dari
lulusan perawat disebut bidan kelas II
Ø Tahun
1950-1953 :
Dibuka
sekolah bidan lulusan SMP dengan batas usia maksimal 17 tahun dan lama
pendidikan 3 tahun
Dibuka
juga sekolah penjenag Kesehatan I (pembantu bidan) untuk meningkatkan kebutuhan
tenaga bidan, tapi tahun 1945 pendidikan ini ditutup.
Ø Tahun
1953 :
Dibuka
Kursus Tambahan Bidan (KTB) di Yogyakarta lamanya 7-12 minggu.
Ø Tahun
1954 :
Dibuka
pendidikan guru bidan bersama-sama dengan guru perawat dan perawat kesehatan
masyarakat di bandung. Awalnya berlangsung 1 tahun, kemudian menjadi 2 tahun
dan terakhir menjadi 3 tahun.
Ø Tahun
1960 :
KTB
dipindahkan ke Jakarta yang bertujuan memperkenalkan pada lulsan bidan mengenai
perkembangan program KIA dan pelayanan kesehatan masyarakat.Sebelum memulai
tugasnya, KTB ini ditutup.
Ø Tahun
1972 :
Pendidikan
guru bidan dan perawat dilebur menjadi sekolah guru perawat dari lulusan
sekolah perawat dan sekolah bidan.
Ø Tahun
1970 :
Dibuka
PPB dari lulusan SPR ditambah 2 tahun pendidikan disebut sekolah pendidikan
lanjutan jurusan kebidanan
Ø Tahun
1974 :
Depkes
melakukan penyederhanaan, sekolah bidan ditutup dan dibuka SPK.
Ø Tahun
1975-1984 :
Pendidikan
bidan ditutup dan IBI tetap ada dan hidup secara wajar
Ø Tahun
1981 :
Dibuka
pendidikan D I Kesehatan Ibu dana anak, berlangsung 1 tahun.
Ø Tahun
1985
Dibuka
lagi PPB dari SPK dan SPR, lama pendidikan 1 tahun dan lulusannya dikembalikan
ke institusi yang mengirim.
Ø Tahun
1989 :
Dibuka
secara nasional yang memperbolehkan lulusan SPK langsung masuk pendidikan bidan
(PPB A) lama pendidikan 1 tahun dan langsung di tempatkan kedaerah pedesaan
sebagai pegawai negeri sipil
Ø Tahun
1994 :
Status
bidan di desa menjadi PTT dengan kontrak 3 tahun yang dapat diperpanjang 2 x 3
tahun lagi.
IBI
bekerjasama dengan depkes dan ACNM dan RS swasta mengadakan training of trainer
kepada IBI sebanyak 8 orang untuk LSS dan menjadi pelatih LSS (Live Save
Skills) di PP IBI.
Ø Tahun
1993 :
Dibuka
PPB B dari lulusan Akper dengan lama pendidikan 1 tahun untuk mempersiapkan
tenaga pengajar bagi PPB A. Pendidikan ini hanya berlangsung 2 angkatan.
Juga
dibuka PPB C dari lulusan SMP di 11 propinsi dan diselesaikan dalam 6 semester.
Ø Tahun
1994-1995 :
Pemerintah
menyelenggarakan uji coba pendidikan Bidan Jarak Jauh (Distance Learning) di 3
propinsi yang diatur dalam SK Menkes no.1247/Menkes/SK/XII/1994.
Ø Tahun
1995-1998 :
IBI
bekerjasama dengan Mother Care melakukan pelatihan dan Peer Review bagi bidan
RS, bidan puskesmas dan desa di kalimantan selatan.
Ø Tahun
1996 :
Ø Tahun
2000
Tim
pelatih APN yang dikoordinasikan oleh Maternal Neonatal Health, tidak hanya
untuk pelatihan juga guru, dosen-dosen dari akademi Kebidanan.
Ø Tahun
2000 :
Dibuka
pendidikan D IV Kebidanan di UGM dan tahun 2002 di UNPAD, tahun 2005 di
Poltekkes Padang dan Poltekkes Bandung.
Ø 1996
DIII Kebidanan, dari D1 bidan selama 5 semester selama 2,5 th
Ø 1998
D III dari SMU selama 6 semester
Ø 1999 D
III dari SPK selama 6 semester
Ø 2001
ada 65 institusi penyelenggara D III, Depkes, TNI, Pemda, Swasta.
Ø 2004
D III dari D1 Progsus selama 5 semester dlm 2 th: 96 sks.
Ø 2000
DIV Bidan Pendidik UGM, 2001 UNPAD, 2004 USU dan stikes Ngudi waluyo.
Ø 2006
S2 Kebidanan UNPAD.
Ø Program
S1 Bidan dari SMU
Ø 2011
S2 Sains Terapan Kesehatan Kebidanan
2.2.2. Sejarah Perkembangan
Pendidikan Kebidanan Internasional
2.2.2.1. Inggris
William Smelliei (1697-1763) dokter Scotlandia, dari
London ke Perancis sampai di Inggris untuk memperdalam ilmu kebidanan. William
Smelliei melakukan sesuatu untuk menunjukkan peran dokter obstetrik. Beliau
mendirikan pelatihan bagi bidan pria dan mengakui pentingnya pelatihan bagi
bidan. Peningkatan beberapa bidan antara lain adalah Ny Sarah Stone (1737),
menerbitkan “Praktik Lengkap Kebidanan”. Beliau juga menekankan pentingnya
pengetahuan menyeluruh tentang anatomi dan merekomendasikan bantua operasi.
Untuk mengatasi peningkatan bidan pria, Ny Sarah Stone menyarankan harus
meningkatkan (menunjukkan) kemampuan mereka dalam kasus abnormal.Pendidikan
kebidanan di inggris terdiri dari 2 jalur, yaitu Direct entry yang berasal dari
High school (lulusan SMU) ditambah 3 tahun dan Nurse (perawat) ditambah 18
bulan.Mayoritas pendidikan bidan di Inggris adalah lulusan diploma. Sejak tahun
1995 dibentuk pendidikan kebidanan setingkat universitas (Degree-Bachelor),
yang berasal dari SMU ditambah 3-4 tahun. Lulusan ini bisa melanjutkan ke S2
kebidanan. Sistem yang dianut ialah APEL (Accreditation of Prior Experiental
Learning), yaitu untuk akreditasi 5x study day dalam 3 tahun yang terdiri atas
sertifikat, critical analisis, reflection, evaluation, dan find evidence.
2.2.2.2. Belanda
Belanda merupakan salah satu Negara yang teguh
berpendapat bahwa pendidikan kebidanan harus dilakukan terpisah dari pendidikan
perawat, dan berkembang menjadi profesi yang berbeda. Akademik pendidikan
kebidanan pertama kali pada tahin 1816 di Rumah Sakit Universitas Amsterdam.
Akademik kedua dibuka pada tahun yang sama bertempat di Rotterdam dan yang
ketiga pada tahun 1913 di Hearland. Pada awalnya pendidikan bidan 2 tahun
kemudian menjadi 3 tahun dan kini tahun (sejak 1994). Pendidikannya
adalah direct entry dengan dasar lulusan SLTA 3 tahun. Di Belanda, ada tiga
institusi kebidanan dan menerima 66 mahasiswa setiap tahunnya. Hampir setiap
tahun 800 calon mahasiswa (95 % wanita dan 5 % laki – laki) mengikuti tes
syarat masuk untuk mengikuti pendidikan di usia minimal 19 tahun. Mahasiswa
kebidanan tidak menerima gaji dan tidak membayar biaya pendidikan.Selama
pendidikan, ketiga institusi tersebut menekankan bahwa kehamilan, persalinan,
dan nifas merupakan proses fisiologis. Ini diterapkan dengan menempatkan
mahasiswa untuk praktik di kamar bersalin, dimana terdapat perempuan dengan
resiko rendah melahirkan. Bila ada masalah, mahasiswa baru akan berkonsultasi
dengan ahli kebidanan. Mahasiswa diwajibkan mempunyai pengalaman 40 persalinan
selama pendidikan. Ketika lulus ujian akhir, mereka akan menerima ijazah, yang
di dalamnya tercantum nilai ujian.
BAB
III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Pelayanan
kebidanan di Indonesia perlu ditingkatkan mengingat masih tingginya angka
kematian ibu dan anak (AKIA). Perubahan-perubahan yang dilakukan dalam
pelayanan kebidanan zaman dahulu dengan pelayana kebidanan zaman sekarang merupakan
wujud peningkatan pelayanan kebidanan. Tetepi dalam melakukan perubahan
tersebut tidaklah mudah, butuh proses dan waktu yang tidak singkat untuk
mewujudkan pelayanan kebidanan yang berkualitas.
3.2 Saran
Dengan
penulisan makalah ini penulis berharap lembaga kesehatan dalam hal ini para
bidan mampu meningkatkan pelayanan dan pendidikan kebidanan guna membangun
generasi muda dan generasi penerus bangsa menjadi manusia yang sehat.
DAFTAR
PUSTAKA
Asrinah., dkk. Konsep Kebidanan. Yogyakata: Graha Ilmu.
Nurhayati., dkk. 2012. Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba
Medika.
Purwandari, Atik. 2008. Konsep Kebidanan : Sejarah &
Profesionalisme. Jakarta: EGC.
Sari, Rury Narulita. 2012. Konsep Kebidanan. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
Soepardan, Suryani. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta: EGC.
Yoana Bidan Today. (2008)
http://yoanabidantoday.blogspot.com/2008/05/perkembangan-kebidanan-di-indonesia.html
indahidayatulh2393.blogspot.com/2013/04/makalah-perkembangan-pelayanan.html
Danim,Prof.Dr.Sudarwan&Darwis,S.Kp.2003.Metode
Penelitian Kebidanan.Jakarta.EGC
Komentar
Posting Komentar