MODUL TEORI PEMERIKSAAN GIGI DAN MULUT


MODUL TEORI PEMERIKSAAN  GIGI DAN MULUT


DISUSUN OLEH :
HANDI RIFANTO
NIM.1512402011










POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN GIGI
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah  yang berjudul MODUL TEORI PEMERIKSAAN  GIGI DAN MULUT.
Kami meyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kurang dan lebihnya kami mohon maaf. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.





                                                                        Banadar Lampung,Februari 2017
                                                                       

                                                               Penulis












DAFTAR ISI


HALAM JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................. 1
1.2   Rumusan Masalah....................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Mulut dan Bagian – Bagiannya.................................................... 4
2.2 Pemeriksaan Gigi Dan Mulut....................................................... 4
2.3 Mengidentifikasi Jaringan Keras Gigi......................................... 6
2.4 Mengidentifikasi Jaringan Rongga Mulut.................................... 9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan ................................................................................ 14
DAFTAR ISI









BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dan lainnya karena akan mempengaruhi kesehatan tubuh keseluruhan. Gigi merupakan salah satu bagian tubuh yang berfungsi untuk mengunyah, berbicara dan mempertahankan bentuk muka, sehingga penting untuk menjaga kesehatan gigi sedini mungkin agar dapat bertahan lama dalam rongga mulut. Kelainan-kelainan yang bisa terjadi di dalam mulut adalah gigi berlubang, penyakit atau radang gusi dan gigi berjejal. Karies gigi dan radang gusi (gingivitis) merupakan penyakit gigi dan jaringan pendukung gigi yang banyak dijumpai pada anak-anak sekolah dasar di Indonesia, serta cenderung meningkat setiap dasawarsa.
Masalah terbesar yang dihadapi penduduk Indonesia seperti juga di negara - negara berkembang lainnya di bidang kesehatan gigi dan mulut  adalah penyakit jaringan keras gigi (caries dentin). Hal ini karena prevalensi karies di Indonesia mencapai 80%. Usaha untuk mengatasinya belum memberikan hasil yang nyata bila diukur dengan indikator kesehatan gigi masyarakat. Tingginya prevalensi karies gigi serta belum berhasilnya usaha untuk mengatasinya mungkin dipengaruhi oleh faktor - faktor distribusi penduduk, faktor lingkungan, faktor perilaku, dan faktor pelayanan kesehatan gigi yang berbeda-beda pada masyarakat Indonesia.
Karies gigi adalah suatu proses kerusakan yang dimulai dari email terus ke dentin dan merupakan suatu penyakit yang berhubungan dengan banyak faktor. Ada empat faktor utama yang saling mempengaruhi untuk terjadinya karies yaitu faktor host yang meliputi gigi dan saliva, faktor ke dua ialah mikroorganisme, ke tiga adalah substrat dan ke empat adalah waktu.
Selain faktor langsung yang ada di dalam mulut, terdapat faktor-faktor tidak langsung yang disebut faktor risiko luar yang merupakan faktor predisposisi dan faktor penghambat terjadinya karies. Faktor luar antara lain adalah usia, jenis kelamin, keadaan penduduk dan lingkungan, pengetahuan, kesadaran dan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan gigi, misalnya pengetahuan mengenai jenis makanan dan minuman yang menyebabkan karies.
Studi epidemiologi menunjukkan bahwa kejadian karies sangat berbeda antara kelompok-kelompok penduduk, tetapi diet dipertimbangkan sebagai perbedaan utama antara kelompok-kelompok bangsa meskipun ada juga faktor genetik. Telah dibuktikan dari berbagai  penelitian bahwa gula dalam diet merupakan penyebab utama karies. Suku bangsa yang mengkonsumsi gula lebih tinggi, kariesnya lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi gula lebih rendah.
Peningkatan keadaan sosial ekonomi dan pola hidup masyarakat juga sangat berpengaruh pada peningkatan penyakit gigi dan mulut. Hal ini antara lain disebabkan karena adanya perubahan perilaku masyarakat serta kemampuan dalam menyediakan makanan yang bersifat kariogenik seperti gula, permen dan coklat.

1.3        Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah :
a.       Bagaimanakah anatomi mulut dan bagian – bagian mulut?
b.      Bagai mana cara pemeriksaan gigi dan mulut?
c.       Bagai mana cara  Mengidentifikasi jaringan keras  gigi?
d.      Bagai mana cara Mengidetifikasi jaringan rongga mulut?














BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Mulut dan Bagian – Bagiannya
Mulut dibentuk oleh 2 rahang, yakni rahang atas dan rahang bawah. Pada rahang ini terdapat gigi dan gusi. Gigi dan mulut sendiri berfungsi untuk menguyah, berbicara, dan memberikan bentuk yang harmonis pada muka.
Gigi tersusun atas lapisan-lapisan. Lapisan-lapisan pada gigi yakni :
1.      Email                       : lapisan terluar yang keras dan kuat
2.      Dentin                      : lapisan dibawah email yang lebih lunak mudah rusak
3.      Pulpa                        : lapisan yang berisi pembuluh darah dan saraf
4.      Gusi             : laringan lunak yang ada dalam mulut
5.      Cementum   : lapisan luar akar gigi
6.      Jar. Periodontal       : jaringan yang memegang gigi sehingga melekat pada rahang
7.      Tulang alveolar        : tulang tempat melekatnya gigi

2.2 Pemeriksaan Gigi Dan Mulut
Alat – alat pemeriksaan :
·         Sonde
·         Kaca mulut
·         Pinset

Posisi pemeriksaan pasien :
·         Dataran occlusal sejajar dengan siku operator
·         Lampu pemeriksaan menyinari daerah mulut, jangan terkena mata
·         Operator memegang alat pemeriksaan
·         Pemeriksaan rahang atas :
o   Operator berada di sebelah kanan belakang pasien
o   Tangan kanan memegang sonde, tangan kiri merangkul dari belakang memegang kaca mulut
·         Pemeriksaan rahang bawah :
o   Operator berada di samping kanan pasien
o   Tangan kanan memegang sonde, tangan kiri memegang kaca mulut
Pemeriksaan ekstra oral :
·         Adakah kelainan : pembengkakan, asimetri (tentukan lokasi dan batasnya)
Pemeriksaan intra oral :
·         Pemeriksaan karies
o   Sebelum memeriksa gigi, bersihkan karies dari sisa makanan
o   Periksa : kedalaman karies, tes vitalitas, tes perkusi
·         Tes vitalitas
o   Tes mekanik :
§  Memakai sonde, gores pada dasar kavitas
§  Hati – hati pada karies profunda karena dekat pulpa gigi
o   Tes termis
§  Semprotkan kloretil pada kapas kecil di sebelah pasien, semprotkan ke arah yang berlawanan dengan pasien
§  Sentuhkan kapas yang telah disemprot pada bagian cervical gigi
o   Tes perkusi : ketukkan gagang sonde pada gigi yang akan diperiksa
·         Pemeriksaan daerah sekitar gigi : ada / tidak tanda – tanda peradangan di sekitar gigi, kalkulus (tentukan lokasi dan batasnya)

2.3 Mengidentifikasi Jaringan Keras Gigi
Jaringan keras gigi terdiri dari enamel dan dentin. Enamel dan dentin memiliki susunan bahan yang berbeda, sehingga memiliki sifat fisik dan mekanis yang berbeda pula. Pulpa merupakan jaringan lunak yang ada di dalam gigi, yang berisi pembuluh darah dan saraf, berfungsi untuk memberikan nutrisi pada gigi.
Sebenarnya ada satu lapisan lagi yaitu sementum yang terletak pada akar gigi., namun pada artikel ini tidak akan di bahas, kami hanya akan membahas 2 struktur jaringan keras gigi saja.

1. Enamel

Enamel merupakan lapisan terluar dari gigi yang menutupi sebagian besar permukaan gigi (Lee, 2007). Enamel tersusun atas 95% struktur anorganik, yang terdiri dari 90% hingga 92% hidroksiapatit. 1% struktur enamel tersusun dari bahan organik dan 4% merupakan air (Anusavice dkk., 2012). Enamel memiliki ketebalan yang berbeda-beda untuk setiap jenis dan bagian gigi. Ketebalan enamel rata-rata pada incisal edge adalah 2 mm, pada cusp premolar 2,3 hingga 2,5 mm, dan pada cusp molar 2,5 hingga 3 mm. Kepadatan dan kekerasan enamel akan semakin berkurang, dari lapisan terluar menuju dentino enamel junction (DEJ).
Enamel tersusun atas jutaan enamel rods yang memanjang dari dentino enamel junction ke permukaan enamel bagian luar. Susunan enamel rods memberikan kemampuan untuk menahan gaya pengunyahan secara maksimal. Arah enamel rods juga perlu diperhatikan terutama saat melakukan preparasi gigi. Pada sudut gigi, enemel rods memiliki arah miring dari dentino enamel junction menuju permukaan gigi, kemudian akan semakin tegak saat mengarah pada permukaan insisal atau oklusal.

2. Dentin

Dentin merupakan lapisan penyusun gigi yang berada di bawah enamel. Dentin memiliki warna yang lebih kuning dan lebih lunak apabila dibandingkan dengan enamel. Dentin tersusun atas 75% struktur anorganik, terutama kristal hidroksipatit kecil. Dentin memiliki struktur organik lebih besar daripada enamel, yaitu 20% organik, dengan kandungan kolagen mencapai 90%, dan 5% struktur dentin terdiri dari air. Pertemuan antara lapisan enamel dan dentin, disebut sebagai dentino enamel junction (DEJ), merupakan bagian dari struktur dentin yang relatif lemah sehingga saat terjadi infeksi bakteri pada enamel yang menembus dentin, maka infeksi yang terjadi pada dentin dapat lebih besar bahkan hingga mencapai lapisan pulpa.
Dentin memiliki kekuatan tekan yang lebih besar daripada enamel, sehingga dentin dapat berperan sebagai penahan enamel ketika gaya pengunyahan mengenai permukaan enamel. Di dalam struktur dentin terdapat tubulus, yang disebut sebagai tubulus dentin . Tubulus dentin terletak diantara serabut-serabut kolagen, khususnya serabut kolagen tipe I. Jumlah serabut kolagen pada dentin relatif banyak, sehingga karies yang telah mencapai dentin akan lebih mudah menyebar dan meluas lebih cepat daripada karies yang terjadi pada enamel.
 Saat proses preparasi gigi untuk menempatkan bahan restorasi pada gigi, maka akan terdapat smear layer yang mungkin akan menutupi tubulus dentin. Penutupan tubulus dentin oleh smear layer dapat mengganggu infiltrasi dan polimerisasi dari bahan adhesif, yang dibutuhkan saat melakukan restorasi dengan bahan komposit.
2.4 Mengidentifikasi Jaringan Rongga Mulut
Di dalam rongga mulut, makanan akan  mengalami pencernaan secara mekanik dan kimiawi. Pencernaan mekanik terjadi pada saat makanan berukuran besar dihaluskan dengan bantuan gigi, makanan digigit, dipotong, dikunyah hingga berukuran kecil, dibantu lidah dan otot pipi. Pencernaan kimiawi dapat terjadi karena pada rongga mulut terdapat kelenjar pencernaan penghasil enzim.
 Adapun organ-organ yang membantu dalam proses pencernaan adalah :
  1. Gigi
  2. Lidah
  3. Kelenjar ludah
1.      Gigi
Terdapat empat macam gigi, yaitu gigi seri (insisivus = I) , gigi taring (caninus = C), geraham depan  (premolar = P), dan geraham belakang (molar = M). Makanan dipotong dengan gigi seri, dirobek dengan gigi taring dan dikunyah dengan gigi geraham.  Gigi memiliki tiga bagian utama meliputi:
  1. Mahkota gigi yang terletak menonjol di atas tulang
  2. Leher gigi
  3. Akar gigi, tertanam di dalam tulang rahang
Gigi tersusun atas empat macam jaringan, yaitu jaringan email, dentin, pulpa, dan sementum. Jaringan email merupakan jaringan gigi yang paling keras. Email ini melindungi mahkota gigi.  Dentin merupakan komponen utama pembentuk gigi.  Pada bagian dalam gigi terdapat pulpa (rongga gigi).  Pulpa berisi pembuluh darah dan serabut saraf. Sementum merupakan bagian dentin yang masuk ke dalam rahang. Sementum menutupi akar gigi.  Bagian yang menutup dan mengelilingi leher gigi disebut gusi, disebut juga pelapis tulang gigi.
Gambar 1. Struktur gigi manusia
Berdasarkan tahapan perkembangannya, gigi manusia terdiri atas dua kelompok, yakni :
  1.  Gigi susu (dentis desidue), merupakan gigi yang tumbuh pada anak usia 6  bulan hingga 8 tahun.  Jumlah gigi ini pada anak yakni 20 buah dengan rincian 8 buah gigi seri, 4 buah gigi taring, dan 8 buah gigi geraham.  Sejak usia 6 tahun hingga usia 14 tahun, gigi susu akan tanggal satu persatu dan digantikan dengan gigi dewasa.
  2. Gigi dewasa atau gigi tetap (dentis permanen), merupakan gigi orang dewasa yang berjumlah 32 buah.  Rinciannya 8 buah gigi seri, 4 buah gigi taring, 8 buah gigi geraham depan, dan 12 buah gigi geraham belakang.  Apabila gigi dewasa tanggal, tidak terjadi pergantian gigi lagi alias tidak tumbuh.
gugi 
Gambar 2. Bagian-bagian gigi: (a) gigi seri, (b) gigi taring, (c) gigi geraham depan, dan (d) gigi geraham belakang
Gambar 3. Rumus gigi susu dan gigi dewasa
2. Lidah
Lidah merupakan organ pencernaan yang tersusun atas otot lurik. Permukaannya terdapat papila-papila, dalam papila terdapat puting-puting pengecap rasa asam, asin, manis, dan pahit.  Selain itu, saraf pada lidah sensitif terhadap panas, dingin, dan tekanan.
Terkait proses pencernaan, fungsi lidah antara lain untuk mengatur letak makanan dalam mulut, mencampur makanan dengan ludah, dan membantu membentuk makanan menjadi sebuah bulatan yang disebut bolus.  Selama penelanan, lidah akan mendorong bolus ke bagian belakang rongga mulut dan akhirnya ke dalam faring.
bagian-lidah 
3. Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah menghasilkan ludah atau air liur (saliva). Komponen ludah terdiri atas 98% air dan 2% lendir, garam, dan enzim ptialin.  Pada manusia, lebih dari satu liter ludah disekresikan ke dalam rongga mulut setiap hari. Ludah banyak mengandung zat anti bakteri.
 Kelenjar ludah dalam mulut ada tiga pasang, yaitu :
  1. Sepasang kelenjar parotis, yang terletak di bawah daun telinga di antara otot pengunyah dengan kulit pipi terletak di bawah telinga. Kelenjar parotis menghasilkan ludah yang berbentuk cair dan mengandung enzim amilase.
  2. Sepasang kelenjar submandibularis, terletak di rahang bawah.
  3. Sepasang kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah.
Kelenjar submandibularis dan kelenjar sublingualis menghasilkan getah yang mengandung air dan lendir.
kelenjar-ludah 
Gambar 5. Letak kelenjar ludah
Ketiga kelenjar tersebut menghasilkan air ludah yang berfungsi untuk :
  1. Membantu memudahkan pencernaan.
  2. Mengubah amilum menjadi maltosa, yaitu enzim ptialin.
  3. Melindungi pengaruh asam dan basa.
  4. Melindungi pengaruh panas dan dingin.
Adanya enzim ptialin (amilase) dapat mengubah amilum menjadi maltosa dan glukosa. Coba kunyahlah nasi, setelah beberapa saat nasi akan terasa manis. Hal ini disebabkan karena amilum dalam nasi diubah menjadi maltosa, yaitu sejenis gula yang rasanya manis. Jadi, pencernaan kimiawi amilum dimulai dari mulut.







BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Gigi yang sehat adalah gigi yangrapih, bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi yang sehat, yaitu gusi yang kencang dan bewarna merah muda. Untuk mencapai kesehatan gigi dan mulut yang optimal, maka harus dilakukan perawatan secara berkala, sehingga didapatkan kondisi gigi dan jaringan rongga mulut yang sehat. Hal tersebut dapat dicapai dengan memeriksakan kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dan bukan hanya apabila terdapat keluhan saja.















DAFTAR ISI





http://chyrun.com/struktur-jaringan-keras-gigi/







 

Komentar

Postingan Populer