MODUL PENYAKIT GIGI DAN MULUT


MODUL PENYAKIT GIGI DAN MULUT


DISUSUN OLEH :
NOVIA MEBA
NIM. 1512402026





POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN GIGI
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas  segala rahmat, petunjuk, dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Modul ini untuk.
Modul ini dapat digunakan sebagai wahan untuk menambah pengetahuan, sebagai teman belajar, dan sebagai referensi tambahan dalam belajar tentang PRAKTEK  PENYAKIT GIGI DAN MULUT .
Semoga Modul ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang Jamur. Jangan segan bertanya jika pembaca menemui kesulitan. Semoga keberhasilan selalu berpihak pada kita semua.

Bandar Lampung, Oktober  2017


Penulis












DAFTAR ISI

HALAM JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang.................................................................................... 1
B.  Rumusan Masalah.............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Mulut dan Bagian – Bagiannya.......................................................... 3
B. Pemeriksaan Gigi Dan Mulut............................................................. 3
C. Mengidentifikasi Jaringan Keras Gigi.............................................. 17
D. Mengidentifikasi Jaringan Rongga Mulut........................................ 21
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ...................................................................................... 27
DAFTAR ISI













BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada umumnya untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut digunakan suatu Indeks. Indeks adalah suatu angka yang menunjuukkan keadaan klinis yang diidapat pada waktu dilakukan pemeriksaan, dengan cara mengukur luas dari permukaan gigi yang ditutupi oleh plak maupun kalkulus, dengan demikian angka yang diperoleh berdasarkan penilaian yang objektif. Apabila kita sudah mengetahui  nilai atau angka kebersihan gigi dan mulut dari seseorang pasien kita dapat memberikan pendidikan dan penyuluhan, motivasi dan evaluasi yaitu dengan melihat kemajuan ataupun kemunduran kebersihan gigi dan mulut seseorang atau sekelompok orang, ataupun kita dapat melihat perbedaan keadaan klinis seseorang atau sekelompok orang.
Kita dapat membedakan penilaian apabila penilaian yang dilakukan oleh pemeriksaan seragam. oleh karena itu pada saat pengukuran diperlukan sekali ketelitian dan keseragaman penilaian diantara pemeriksaan sehingga diperoleh nilai yang akurat dan seragam dari setiao pemeriksaan. Untuk mendapatkan nilai yang akurat tentunya diantara pemeriksaan harus mempunyai pandangan yang sma dalam penilaian, oleh karena itu perlu sekali dilakukan kalibrasi terlebih dahulu.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah :
a.       Bagaimanakah anatomi mulut dan bagian – bagian mulut?
b.      Bagai mana cara pemeriksaan gigi dan mulut?
c.       Bagai mana cara  Mengidentifikasi jaringan keras  gigi?
d.      Bagai mana cara Mengidetifikasi jaringan rongga mulut?























BAB II
PEMBAHASAN

A.    Mulut dan Bagian – Bagiannya
Mulut dibentuk oleh 2 rahang, yakni rahang atas dan rahang bawah. Pada rahang ini terdapat gigi dan gusi. Gigi dan mulut sendiri berfungsi untuk menguyah, berbicara, dan memberikan bentuk yang harmonis pada muka.
Gigi tersusun atas lapisan-lapisan. Lapisan-lapisan pada gigi yakni :
1.      Email                       : lapisan terluar yang keras dan kuat
2.      Dentin                      : lapisan dibawah email yang lebih lunak mudah rusak
3.      Pulpa                        : lapisan yang berisi pembuluh darah dan saraf
4.      Gusi                         : laringan lunak yang ada dalam mulut
5.      Cementum               : lapisan luar akar gigi
6.      Jar. Periodontal       : jaringan yang memegang gigi sehingga melekat pada rahang
7.      Tulang alveolar        : tulang tempat melekatnya gigi

B.     Cara Pemeriksaan Gigi Dan Mulut
1.       Oral Hygiene Index (OHI)
Oral hygiene index adalah cara untuk mengukur atau menilai kebersihan gigi dan mulut seseorang yang diperoleh dengan cara menjumlahkan debris indeks dan calculus indeks. Setiap segmen diperiksa dan dipilih permukaan yang paling buruk. Setiap indeks menggunakan skala nilai dari 0-3.
Flowchart: Alternate Process: Rumus OHI= Debris Index (DI) + Calculus Index (IC)

Debris Index (DI)
Adalah skor nilai dari endapan lunak yang terjadi karena adanya sisa makanan yang melekat pada gigi penenti.
Calculus Index (CI)
Adalah  skor nilai dari endapan keras (karanga gigi) terjadi karena debris yang mengalami pengapuran yang melekat pada gigi penentu.
Pada penilaian semua ini semua gigi diperiksa baik gigi-gigi pada rahang atas maupun rahang bawah. Setiap rahang dibagi menjadi tiga segmen yaitu:
1.       Segmen pertama, mulai dari distal kaninus sampai molar ketiga kanan rahang atas.
2.       Segmen kedua, diantara kaninus kanan dan kiri.
3.       Segmen ketiga, mulai dari mesial kaninus sampai molar ketiga kiri.
Setelah semua gigi diperiksa, pilih gigi yang paling kotor dari setiap segmen.
Pada Oral Hygiene Index, penentuan skor untuk tiap gigi dilakukan sebagai berikut:
Skor 0
Gigi bersih dari debris atau tidak ada debris dalam pewarnaan ekstrinsik (stain).
Skor 1
Apabila gigi ditutupi oleh debris lebih dari 1/3 dari permukaan gigi atau tidak ada debris tetapi terdapat stain baik pada bagian fasial maupun lingual.
Skor 2
Apabila gigi ditutupi oleh debris lebih dari 1/3 tetapi kurang dari 2/3 dari luas permukaan gigi.
Skor 3
Apabila gigi ditutupi oleh debris lebih dari 2/3dari luas permukaan gigi. Skor debris indeks yaitu jumlah skor seluruh rahang.


«  Cara pemeriksaan :
B  Pemeriksaan dimulai bagian A3, kalau ada “debris” pada sonde diberi nilai 3.
B  Bila bagian A3 bersih pindahkan ke A2, kalau ada “debris” pada sonde diberi nilai 2.
B  Bila bagian A2 bersih pindahlah ke A1, kalau ada “debris” pada sonde diberi nilai 1.
B  Bila bagian A1 bersih maka diberi nilai 0.



Debris index adalah jumlah seluruh skor segmen dibagi jumlah segmen (=6)
Untuk pengukuran kalkulus sama dengan pengukuran debris, yaitu sebagai berikut:
Skor 0
Gigi bersih dari kalkulus.
Skor 1
Apabila terdapat kalkulus tidak lebih dari1/3 permukaan gigi mulai dari servikal.
Skor 2
Apabila terdapat kalkulus supragingival lebih dari 1/3 tetapi kurang dari 2/3 dari permukaan gigi atau terdapat sedikit subgingival kalkulus.

Skor 3
Apabila terdapat kalkuklus lebih dari 2/3 dari permukaan gigi atau terdapat subgingival kalkulus yang melingkari servikal.


«  Cara pemeriksaan:
B  Pemeriksaan dimulai dari bagian insisal gigi dan untuk penilaiannya perhatikan gambar-gambar berikut ini:
1.                                                            Permukaan gigi bersih, nilai 0.


2.                                                          Kurang dari sepertiga permukaan gigi
                                              (dihitung dari batas gusi) tertutup dengan
          karang gigi. Nilai= 1      


3.                                                         Lebih dari sepertiga tetapi kurang dari dua
         pertiga permukaan gigi (dihitung dari
         batas gusi) tertutup dengan karang gigi.
          Nilai = 2 


 
4.                                                         Lebih dari dua pertiga gigi (dihitung dari
                                             batas gusi) tertutup dengan karang gigi.
    Nilai = 3.

Untuk memeriksa adanya karang gigi dan subgingival selalu dilakukan pada bagian AL dari permukaan gigi, dan untuk penilaiannya perhatikan gambar-gambar berikut ini:
5.                                                            Permukaan gigi bersih tetapi pada
                                                bagian servikal ada bercak-bercak
                                                karang gigi. Nilai = 2








 


6.                                                            Permukaan gigi bersih tetapi pada
                                                bagian servikal karang gigi yang
melingkari gigi seperti sebuah pita.
Nilai = 3.



 
Kalkulus indeks adalah jumlah seluruh skor segmen dibagi jumlah segmen (=6)
2.       ORAL HYGIENE INDEX SIMPLIFIED (OHI-S)
Untuk penilaian oral hygiene yang melibatkan banyak populasi maka menggunakan OHI-S (Oral Hygiene Index – Simplified), 6 gigi yang diperiksa adalah molar pertama kanan kiri bawah (bagian lingual), molar pertama kanan kiri atas (bagian palatal), dan incicivus kanan atas (labial), serta incicivus kiri bawah (lingual) untuk dapat  mewakili segmen depan maupun belakang dari seluruh pemeriksaan gigi yang ada dalam rongga-rongga mulut.
F    Maksud:
S  Mengumpulkan data kebersihan gigi dan mulut sasaran
S  Merencanakan tindakan promotif preventif
F    Persiapan:
S  Menyiapakan sasaran dan tempat
S  Menyiapakan fomulir OHI-S (terlampir)
S  Menyiapkan alat pemeriksaan dan bahan desinfektan
F    Pelaksanaan:
S  Menetukan gigi penentu untuk pemeriksaan Debris Index (DI) dan Calculus Index (CI)
Rahang atas:          gigi 6 kanan kiri permukaan bukal
gigi1 kanan permukaan bukal
Rahang bawah: gigi 6 kanan kiri permukaan lingual                                     gigi 1 kiri permukaan labial
Gigi penentu    :                                 

buc
labial
-
buc
Rahang atas
6
1
-
6
Rahang bawah
6
-
1
6

ling
-
lab
ling
Reserved: Gigi 16 pada permukaan bukal
Gigi 11 pada permukaan labial
Gigi 26 pada permukaan bukal
Gigi 36 pada permukaan lingual
Gigi 31 pada permukaan labial
Gigi 46 pada permukaan lingual







Permukaan  yang diperiksa adalah permukaan gigi yang jelas terlihat dalam mulut, yaitu permukaan klinis bukan permukaan anatomis.
Apabila gigi indeks pada suatu segmen tidak ada, maka dilakukan penggantian gigi tersebut dengan ketentuan sebagai berikut:
Ø  Apabila gigi molar pertama tidak ada maka penilaian dilakukan pada gigi molar kedua, apabila gigi molar pertama dan kedua tidak ada penilaian dilakukan pada molar ketika akan tetapi bila gigi molar pertama, kedua dan ketiga tidak ada maka tidak ada penilaian untuk segmen tersebut.
Ø  Apabila gigi incisivus pertama kanan atas tidak ada, maka dapat diganti oleh gigi incisivus kiri dan bila apalagi gigi incisivus kiri bawah tidak ada, dapat diganti dengan gigi incisivus pertama kanan bawah, akan tetapi bila gigi incisivus pertama kiri atau kanan tidak ada, maka tidak ada penilaian untuk segmen tersebut.
Ø  Gigi indeks dianggap tidak ada pada keadaan-keadaan seperti: gigi hilang karena dicabut, gigi yang merupakan sisa akar, gigi yang merupakan mahkota jaket baik yang terbuat dari akrilik maupun logam, mahkota gigi sudah hilang atau rusak lebih dari ½ bagian pada permukaan index akibat karies maupun fraktur, gigi yang erupsi belum mencapai ½ tinggi mahkota klinis.
Ø  Penilaian dapat dilakukan  apabila minimal ada dua gigi index yang dapat diperiksa.
Untuk mempermudah penilaian, sebelum melakukan penilaian debris, kita dapat membagi permukaan gigi yang akan dinilai garis khayal menjadi 3 bagian sama besar/luasnya secara horizontal.

3.       Mencatat Skor Debris
Oral debris adalah bahan lunak di permukaan gigi yang dapat merupakan plak, material alba dan food debris. Kriteria skor debris terdapat pada tabel berikut:
Skor
Kondisi
Skor 0
Tidak ada debris atau stain


Skor 1
Plak menutup tidak lebih dari 1/3 permukaan servikal, atau terdapat stain ekstrensik di permukaan yang diperiksa
Skor 2
Plak menutup lebih dari 1/3 tapi kurang dari 2/3 permukaan yang diperiksa



Skor 3
Plak menutup lebih dari 2/3 permukaan yang diperiksa

Cara pemeriksaan debris dapat dilakukan dengan menggunakan disclosing solution ataupun tanpa menggunakan disclosing solution.
Jika digunakan disclosing solution, alangkah baiknya sebelum penetesan disclosing bibir pasien dibersihkan dari lipstik kemudian ulasi bibir dengan vaselin agar disclosing tidak menempel pada bibir. Pasien diminta untuk mengangkat lidahnya keatas teteskan disclosing sebanyak sebanyak tiga tetes dibawah lidah. Dalam keadaan mulut terkatup sebarkan disclosing dengan lidah keseluruh permukaan gigi. Setelah disclosing tersebar, pasien diperbolehkan meludah, diusahakan tidak kumur. Periksalah gigi indeks pada permukaan indeksnya dan catat skor sesuai dengan kriteria.
Jika tidak menggunakan disclosing solution, maka gunakansonde biasa atau dental probe untuk pemeriksaan debris. Gerakkan sonde secara mendatar pada permukaan gigi, dengan demikian debris akan terbawa oleh sonde. Periksalah gigi indeks mulai dengan menelusuri mulai dari 1/3 bagian incisal/oklusal, apabila pada bagian ini tidak ditemukan debris lanjutkan terus pada 2/3 bagian gigi, apabila disinipun tidak dijumpai teruskan sampai ke 1/3 bagian servikal.
a.       Mencatat Skor Kalkulus
Kalkulus adalah deposit keras yang terjadi akibat pengendapan garam-garam anorganik yang komposisi utamanya adalah kalsium karbonat dan kalsium fosfat yang bercampur dengan debris, mikroorganisme dan sel-sel epitel deskuamasi. Kriteria skor kalkulus terdapat pada tabel berikut:
Skor
Kondisi
Skor 0
Tidak ada kalkulus


Skor 1
Kalkulus supra gingiva menutup tidak lebih dari 1/3 permukaan servikal yang diperiksa


Skor 2
Kalkulus supragingiva menutup lebih dari 1/3 tapi kurang dari 2/3 permukaan yang diperiksa, atau ada bercak-bercak kalkulus subgingiva disekeliling servikal gigi



Skor 3

Kalkulus supragingiva menutup lebih dari 2/3 permukaan atau ada kalkulus subgingiva yang kontinyu disekelilimg servikal gigi.




b.         Menghitung Skor Debris Indeks, Skor Kalkulus Indeks dan Skor OHI-S
Skor Debris Indeks maupun skor Kalkulus Indeks ditentukan dengan cara menjumlahkan seluruh skor kemudian membaginya dengan jumlah segmen yang diperiksa.
Cara menghitung Debris Indeks:


Cara menghitung Kalkulus Indeks:


Misalkan pada suatu pencatatan indeks debris dan indeks kalkulus didapat hasil sebagai berikut:
2
1
3
2
2
3
2
0
2
2
1
2



 
                            DI                                                    CI

Maka Skor DI =   = 2,17
         Skor CI  =     = 1,50
Sedangkan skor OHIS adalah jumlah Skor Debris dan Skor Kalkulus, sehingga pada perhitungan diatas Skor OHIS didapat 3,67.
c.          Menentukan Kriteria Debris Indeks, Kalkulus Indeks dan OHI-S
Menurut Greene dan Vermillion, kriteria penilaian debris dan kalkulus sama, yaitu:
Baik     : Apabila nilainya antara 0 – 0,6
Sedang : Apabila nilainya antara 0,6 – 1,8
Buruk   : Apabila nilainya antara 1,9 – 3,0

OHI-S mempunyai kriteria tersendiri yaitu mengikuti ketentuan sebagai berikut:
Baik     : Apabila nilainya antara 0,0 – 1,2
Sedang : Apabila nilainya antara 1,3 – 3,0
Buruk   : Apabila nilainya antara 3,1 – 6,0

Dengan demikian, untuk contoh perhitungan diatas, kriteria Debris Indeks untuk pasien dengan nilai 2,17 adalah buruk, kriteria Kalkulus Indeks dengan nilai 1,50 adalah sedang dan kriteria OHI-S dengan nilai 3,67 adalah buruk.

C.    Mengidentifikasi Jaringan Keras Gigi
Jaringan keras gigi terdiri dari enamel dan dentin. Enamel dan dentin memiliki susunan bahan yang berbeda, sehingga memiliki sifat fisik dan mekanis yang berbeda pula. Pulpa merupakan jaringan lunak yang ada di dalam gigi, yang berisi pembuluh darah dan saraf, berfungsi untuk memberikan nutrisi pada gigi.
Sebenarnya ada satu lapisan lagi yaitu sementum yang terletak pada akar gigi., namun pada artikel ini tidak akan di bahas, kami hanya akan membahas 2 struktur jaringan keras gigi saja.

1. Enamel

Enamel merupakan lapisan terluar dari gigi yang menutupi sebagian besar permukaan gigi (Lee, 2007). Enamel tersusun atas 95% struktur anorganik, yang terdiri dari 90% hingga 92% hidroksiapatit. 1% struktur enamel tersusun dari bahan organik dan 4% merupakan air (Anusavice dkk., 2012). Enamel memiliki ketebalan yang berbeda-beda untuk setiap jenis dan bagian gigi. Ketebalan enamel rata-rata pada incisal edge adalah 2 mm, pada cusp premolar 2,3 hingga 2,5 mm, dan pada cusp molar 2,5 hingga 3 mm. Kepadatan dan kekerasan enamel akan semakin berkurang, dari lapisan terluar menuju dentino enamel junction (DEJ).
Enamel tersusun atas jutaan enamel rods yang memanjang dari dentino enamel junction ke permukaan enamel bagian luar. Susunan enamel rods memberikan kemampuan untuk menahan gaya pengunyahan secara maksimal. Arah enamel rods juga perlu diperhatikan terutama saat melakukan preparasi gigi. Pada sudut gigi, enemel rods memiliki arah miring dari dentino enamel junction menuju permukaan gigi, kemudian akan semakin tegak saat mengarah pada permukaan insisal atau oklusal.

2. Dentin

Dentin merupakan lapisan penyusun gigi yang berada di bawah enamel. Dentin memiliki warna yang lebih kuning dan lebih lunak apabila dibandingkan dengan enamel. Dentin tersusun atas 75% struktur anorganik, terutama kristal hidroksipatit kecil. Dentin memiliki struktur organik lebih besar daripada enamel, yaitu 20% organik, dengan kandungan kolagen mencapai 90%, dan 5% struktur dentin terdiri dari air. Pertemuan antara lapisan enamel dan dentin, disebut sebagai dentino enamel junction (DEJ), merupakan bagian dari struktur dentin yang relatif lemah sehingga saat terjadi infeksi bakteri pada enamel yang menembus dentin, maka infeksi yang terjadi pada dentin dapat lebih besar bahkan hingga mencapai lapisan pulpa.
Dentin memiliki kekuatan tekan yang lebih besar daripada enamel, sehingga dentin dapat berperan sebagai penahan enamel ketika gaya pengunyahan mengenai permukaan enamel. Di dalam struktur dentin terdapat tubulus, yang disebut sebagai tubulus dentin . Tubulus dentin terletak diantara serabut-serabut kolagen, khususnya serabut kolagen tipe I. Jumlah serabut kolagen pada dentin relatif banyak, sehingga karies yang telah mencapai dentin akan lebih mudah menyebar dan meluas lebih cepat daripada karies yang terjadi pada enamel.
 Saat proses preparasi gigi untuk menempatkan bahan restorasi pada gigi, maka akan terdapat smear layer yang mungkin akan menutupi tubulus dentin. Penutupan tubulus dentin oleh smear layer dapat mengganggu infiltrasi dan polimerisasi dari bahan adhesif, yang dibutuhkan saat melakukan restorasi dengan bahan komposit.

D.     Mengidentifikasi Jaringan Rongga Mulut
Di dalam rongga mulut, makanan akan  mengalami pencernaan secara mekanik dan kimiawi. Pencernaan mekanik terjadi pada saat makanan berukuran besar dihaluskan dengan bantuan gigi, makanan digigit, dipotong, dikunyah hingga berukuran kecil, dibantu lidah dan otot pipi. Pencernaan kimiawi dapat terjadi karena pada rongga mulut terdapat kelenjar pencernaan penghasil enzim.
 Adapun organ-organ yang membantu dalam proses pencernaan adalah :
  1. Gigi
  2. Lidah
  3. Kelenjar ludah
1.      Gigi
Terdapat empat macam gigi, yaitu gigi seri (insisivus = I) , gigi taring (caninus = C), geraham depan  (premolar = P), dan geraham belakang (molar = M). Makanan dipotong dengan gigi seri, dirobek dengan gigi taring dan dikunyah dengan gigi geraham.  Gigi memiliki tiga bagian utama meliputi:
  1. Mahkota gigi yang terletak menonjol di atas tulang
  2. Leher gigi
  3. Akar gigi, tertanam di dalam tulang rahang
Gigi tersusun atas empat macam jaringan, yaitu jaringan email, dentin, pulpa, dan sementum. Jaringan email merupakan jaringan gigi yang paling keras. Email ini melindungi mahkota gigi.  Dentin merupakan komponen utama pembentuk gigi.  Pada bagian dalam gigi terdapat pulpa (rongga gigi).  Pulpa berisi pembuluh darah dan serabut saraf. Sementum merupakan bagian dentin yang masuk ke dalam rahang. Sementum menutupi akar gigi.  Bagian yang menutup dan mengelilingi leher gigi disebut gusi, disebut juga pelapis tulang gigi.
Gambar 1. Struktur gigi manusia
Berdasarkan tahapan perkembangannya, gigi manusia terdiri atas dua kelompok, yakni :
  1.  Gigi susu (dentis desidue), merupakan gigi yang tumbuh pada anak usia 6  bulan hingga 8 tahun.  Jumlah gigi ini pada anak yakni 20 buah dengan rincian 8 buah gigi seri, 4 buah gigi taring, dan 8 buah gigi geraham.  Sejak usia 6 tahun hingga usia 14 tahun, gigi susu akan tanggal satu persatu dan digantikan dengan gigi dewasa.
  2. Gigi dewasa atau gigi tetap (dentis permanen), merupakan gigi orang dewasa yang berjumlah 32 buah.  Rinciannya 8 buah gigi seri, 4 buah gigi taring, 8 buah gigi geraham depan, dan 12 buah gigi geraham belakang.  Apabila gigi dewasa tanggal, tidak terjadi pergantian gigi lagi alias tidak tumbuh.
gugi 
Gambar 2. Bagian-bagian gigi: (a) gigi seri, (b) gigi taring, (c) gigi geraham depan, dan (d) gigi geraham belakang
Gambar 3. Rumus gigi susu dan gigi dewasa
2. Lidah
Lidah merupakan organ pencernaan yang tersusun atas otot lurik. Permukaannya terdapat papila-papila, dalam papila terdapat puting-puting pengecap rasa asam, asin, manis, dan pahit.  Selain itu, saraf pada lidah sensitif terhadap panas, dingin, dan tekanan.
Terkait proses pencernaan, fungsi lidah antara lain untuk mengatur letak makanan dalam mulut, mencampur makanan dengan ludah, dan membantu membentuk makanan menjadi sebuah bulatan yang disebut bolus.  Selama penelanan, lidah akan mendorong bolus ke bagian belakang rongga mulut dan akhirnya ke dalam faring.
bagian-lidah 
3. Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah menghasilkan ludah atau air liur (saliva). Komponen ludah terdiri atas 98% air dan 2% lendir, garam, dan enzim ptialin.  Pada manusia, lebih dari satu liter ludah disekresikan ke dalam rongga mulut setiap hari. Ludah banyak mengandung zat anti bakteri.
 Kelenjar ludah dalam mulut ada tiga pasang, yaitu :
  1. Sepasang kelenjar parotis, yang terletak di bawah daun telinga di antara otot pengunyah dengan kulit pipi terletak di bawah telinga. Kelenjar parotis menghasilkan ludah yang berbentuk cair dan mengandung enzim amilase.
  2. Sepasang kelenjar submandibularis, terletak di rahang bawah.
  3. Sepasang kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah.
Kelenjar submandibularis dan kelenjar sublingualis menghasilkan getah yang mengandung air dan lendir.
kelenjar-ludah 
Gambar 5. Letak kelenjar ludah
Ketiga kelenjar tersebut menghasilkan air ludah yang berfungsi untuk :
  1. Membantu memudahkan pencernaan.
  2. Mengubah amilum menjadi maltosa, yaitu enzim ptialin.
  3. Melindungi pengaruh asam dan basa.
  4. Melindungi pengaruh panas dan dingin.
Adanya enzim ptialin (amilase) dapat mengubah amilum menjadi maltosa dan glukosa. Coba kunyahlah nasi, setelah beberapa saat nasi akan terasa manis. Hal ini disebabkan karena amilum dalam nasi diubah menjadi maltosa, yaitu sejenis gula yang rasanya manis. Jadi, pencernaan kimiawi amilum dimulai dari mulut.














BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gigi yang sehat adalah gigi yangrapih, bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi yang sehat, yaitu gusi yang kencang dan bewarna merah muda. Untuk mencapai kesehatan gigi dan mulut yang optimal, maka harus dilakukan perawatan secara berkala, sehingga didapatkan kondisi gigi dan jaringan rongga mulut yang sehat. Hal tersebut dapat dicapai dengan memeriksakan kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dan bukan hanya apabila terdapat keluhan saja.










DAFTAR ISI





http://chyrun.com/struktur-jaringan-keras-gigi/







 

Komentar

Postingan Populer