MODUL PENYAKIT GIGI DAN MULUT
MODUL PENYAKIT GIGI DAN MULUT

DISUSUN OLEH :
NOVIA MEBA
NIM. 1512402026
POLITEKNIK KESEHATAN
TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN
GIGI
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa kami ucapkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas segala rahmat, petunjuk,
dan karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan Modul ini untuk.
Modul ini dapat digunakan sebagai wahan
untuk menambah pengetahuan, sebagai teman belajar, dan sebagai referensi
tambahan dalam belajar tentang PRAKTEK
PENYAKIT GIGI DAN MULUT .
Semoga Modul ini dapat bermanfaat bagi
pembaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan tentang Jamur. Jangan segan
bertanya jika pembaca menemui kesulitan. Semoga keberhasilan selalu berpihak
pada kita semua.
Bandar Lampung, Oktober 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAM JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Mulut dan Bagian – Bagiannya.......................................................... 3
B. Pemeriksaan Gigi Dan Mulut............................................................. 3
C. Mengidentifikasi Jaringan Keras Gigi.............................................. 17
D. Mengidentifikasi
Jaringan Rongga Mulut........................................ 21
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan ...................................................................................... 27
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pada umumnya untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut
digunakan suatu Indeks. Indeks adalah suatu angka yang
menunjuukkan keadaan klinis yang diidapat pada waktu dilakukan pemeriksaan,
dengan cara mengukur luas dari permukaan gigi yang ditutupi oleh plak maupun
kalkulus, dengan demikian angka yang diperoleh berdasarkan penilaian yang
objektif. Apabila kita sudah mengetahui
nilai atau angka kebersihan gigi dan mulut dari seseorang pasien kita
dapat memberikan pendidikan dan penyuluhan, motivasi dan evaluasi yaitu dengan
melihat kemajuan ataupun kemunduran kebersihan gigi dan mulut seseorang atau
sekelompok orang, ataupun kita dapat melihat perbedaan keadaan klinis seseorang
atau sekelompok orang.
Kita dapat membedakan penilaian apabila penilaian yang
dilakukan oleh pemeriksaan seragam. oleh karena itu pada saat pengukuran
diperlukan sekali ketelitian dan keseragaman penilaian diantara pemeriksaan
sehingga diperoleh nilai yang akurat dan seragam dari setiao pemeriksaan. Untuk
mendapatkan nilai yang akurat tentunya diantara pemeriksaan harus mempunyai
pandangan yang sma dalam penilaian, oleh karena itu perlu sekali dilakukan
kalibrasi terlebih dahulu.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang
menjadi masalah dalam penelitian ini
adalah :
a.
Bagaimanakah anatomi mulut dan bagian – bagian mulut?
b.
Bagai mana cara pemeriksaan gigi dan mulut?
c.
Bagai mana cara Mengidentifikasi
jaringan keras gigi?
d.
Bagai mana cara Mengidetifikasi jaringan rongga mulut?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Mulut dan Bagian – Bagiannya
Mulut dibentuk oleh 2
rahang, yakni rahang atas dan rahang bawah. Pada rahang ini terdapat gigi dan
gusi. Gigi dan mulut sendiri berfungsi untuk menguyah, berbicara, dan
memberikan bentuk yang harmonis pada muka.
Gigi tersusun atas
lapisan-lapisan. Lapisan-lapisan pada gigi yakni :
1.
Email :
lapisan terluar yang keras dan kuat
2.
Dentin :
lapisan dibawah email yang lebih lunak mudah rusak
3.
Pulpa :
lapisan yang berisi pembuluh darah dan saraf
4.
Gusi : laringan lunak yang ada dalam
mulut
5.
Cementum : lapisan luar akar gigi
6.
Jar. Periodontal : jaringan
yang memegang gigi sehingga melekat pada rahang
7.
Tulang alveolar : tulang
tempat melekatnya gigi
B. Cara Pemeriksaan Gigi Dan Mulut
1.
Oral Hygiene Index (OHI)
Oral hygiene index adalah cara untuk mengukur atau menilai kebersihan gigi
dan mulut seseorang yang diperoleh dengan cara menjumlahkan debris indeks dan
calculus indeks. Setiap segmen diperiksa dan dipilih permukaan yang paling
buruk. Setiap indeks menggunakan skala nilai dari 0-3.
Debris Index (DI)
Adalah skor nilai dari endapan lunak yang terjadi karena adanya sisa
makanan yang melekat pada gigi penenti.
Calculus Index (CI)
Adalah
skor nilai dari endapan keras (karanga gigi) terjadi karena debris yang
mengalami pengapuran yang melekat pada gigi penentu.
Pada penilaian semua ini semua gigi diperiksa baik gigi-gigi pada rahang
atas maupun rahang bawah. Setiap rahang dibagi menjadi tiga segmen yaitu:
1.
Segmen pertama, mulai dari distal kaninus
sampai molar ketiga kanan rahang atas.
2.
Segmen kedua, diantara kaninus kanan dan kiri.
3.
Segmen ketiga, mulai dari mesial kaninus
sampai molar ketiga kiri.
Setelah semua gigi diperiksa, pilih gigi yang paling
kotor dari setiap segmen.
Pada Oral Hygiene Index, penentuan skor untuk tiap gigi
dilakukan sebagai berikut:
|
Skor 0
|
Gigi bersih
dari debris atau tidak ada debris dalam pewarnaan ekstrinsik (stain).
|
|
Skor 1
|
Apabila gigi ditutupi oleh debris lebih dari
1/3 dari permukaan gigi atau tidak ada debris tetapi terdapat stain baik pada
bagian fasial maupun lingual.
|
|
Skor 2
|
Apabila gigi ditutupi oleh debris lebih dari
1/3 tetapi kurang dari 2/3 dari luas permukaan gigi.
|
|
Skor 3
|
Apabila gigi ditutupi oleh debris lebih dari
2/3dari luas permukaan gigi. Skor debris indeks yaitu jumlah skor seluruh
rahang.
|
« Cara pemeriksaan :

B Pemeriksaan dimulai bagian A3, kalau ada “debris” pada sonde diberi nilai
3.
B Bila bagian A3 bersih pindahkan ke A2, kalau ada “debris” pada sonde diberi
nilai 2.
B Bila bagian A2 bersih pindahlah ke A1, kalau ada “debris” pada sonde diberi
nilai 1.
B Bila bagian A1 bersih maka diberi nilai 0.
![]() |
Debris index adalah jumlah seluruh skor segmen dibagi jumlah segmen (=6)
Untuk pengukuran kalkulus sama dengan pengukuran debris,
yaitu sebagai berikut:
|
Skor 0
|
Gigi bersih dari kalkulus.
|
|
|
Skor 1
|
Apabila terdapat kalkulus tidak lebih dari1/3 permukaan
gigi mulai dari servikal.
|
|
|
Skor 2
|
Apabila terdapat
kalkulus supragingival lebih dari 1/3 tetapi kurang dari 2/3 dari permukaan
gigi atau terdapat sedikit subgingival kalkulus.
|
|
|
Skor 3
|
Apabila terdapat kalkuklus lebih dari 2/3 dari
permukaan gigi atau terdapat subgingival kalkulus yang melingkari servikal.
|
|
« Cara pemeriksaan:
B Pemeriksaan dimulai dari bagian insisal gigi dan untuk penilaiannya
perhatikan gambar-gambar berikut ini:
1.
Permukaan
gigi bersih, nilai 0.
Permukaan
gigi bersih, nilai 0.
2.

Kurang
dari sepertiga permukaan gigi
Kurang
dari sepertiga permukaan gigi
(dihitung dari batas gusi) tertutup
dengan
3.


Lebih
dari sepertiga tetapi kurang dari dua

Lebih
dari sepertiga tetapi kurang dari dua
pertiga permukaan gigi (dihitung dari
batas gusi) tertutup dengan karang gigi.
Nilai = 2
![]() |
4.

Lebih
dari dua pertiga gigi (dihitung dari

batas gusi) tertutup
dengan karang gigi.
Nilai
= 3.
Untuk memeriksa adanya karang gigi dan
subgingival selalu dilakukan pada bagian AL dari permukaan gigi, dan untuk
penilaiannya perhatikan gambar-gambar berikut ini:
5.
Permukaan
gigi bersih tetapi pada
Permukaan
gigi bersih tetapi pada
bagian
servikal ada bercak-bercak
![]() |
|||
6.
Permukaan
gigi bersih tetapi pada
bagian
servikal karang gigi yang
Nilai = 3.
Kalkulus indeks adalah jumlah seluruh skor
segmen dibagi jumlah segmen (=6)
2.
ORAL HYGIENE INDEX SIMPLIFIED (OHI-S)
Untuk penilaian oral hygiene yang melibatkan
banyak populasi maka menggunakan OHI-S (Oral Hygiene Index – Simplified), 6
gigi yang diperiksa adalah molar pertama kanan kiri bawah (bagian lingual),
molar pertama kanan kiri atas (bagian palatal), dan incicivus kanan atas
(labial), serta incicivus kiri bawah (lingual) untuk dapat mewakili segmen depan maupun belakang dari
seluruh pemeriksaan gigi yang ada dalam rongga-rongga mulut.
F
Maksud:
S Mengumpulkan data kebersihan gigi dan mulut sasaran
S Merencanakan tindakan promotif preventif
F
Persiapan:
S Menyiapakan sasaran dan tempat
S Menyiapakan fomulir OHI-S (terlampir)
S Menyiapkan alat pemeriksaan dan bahan desinfektan
F
Pelaksanaan:
S Menetukan gigi penentu untuk pemeriksaan Debris Index (DI) dan Calculus
Index (CI)
Rahang atas:
gigi 6 kanan kiri permukaan
bukal
gigi1 kanan permukaan bukal
Rahang bawah: gigi 6
kanan kiri permukaan lingual gigi
1 kiri permukaan labial
Gigi penentu :
|
|
buc
|
labial
|
-
|
buc
|
|
Rahang atas
|
6
|
1
|
-
|
6
|
|
Rahang bawah
|
6
|
-
|
1
|
6
|
|
|
ling
|
-
|
lab
|
ling
|

Permukaan yang diperiksa adalah
permukaan gigi yang jelas terlihat dalam mulut, yaitu permukaan klinis bukan permukaan
anatomis.
Apabila gigi indeks pada suatu segmen tidak ada, maka dilakukan penggantian
gigi tersebut dengan ketentuan sebagai berikut:
Ø Apabila gigi molar pertama tidak ada maka penilaian dilakukan pada gigi
molar kedua, apabila gigi molar pertama dan kedua tidak ada penilaian dilakukan
pada molar ketika akan tetapi bila gigi molar pertama, kedua dan ketiga tidak
ada maka tidak ada penilaian untuk segmen tersebut.
Ø Apabila gigi incisivus pertama kanan atas tidak ada, maka dapat diganti
oleh gigi incisivus kiri dan bila apalagi gigi incisivus kiri bawah tidak ada,
dapat diganti dengan gigi incisivus pertama kanan bawah, akan tetapi bila gigi
incisivus pertama kiri atau kanan tidak ada, maka tidak ada penilaian untuk
segmen tersebut.
Ø Gigi indeks dianggap tidak ada pada keadaan-keadaan seperti: gigi hilang
karena dicabut, gigi yang merupakan sisa akar, gigi yang merupakan mahkota
jaket baik yang terbuat dari akrilik maupun logam, mahkota gigi sudah hilang
atau rusak lebih dari ½ bagian pada permukaan index akibat karies maupun
fraktur, gigi yang erupsi belum mencapai ½ tinggi mahkota klinis.
Ø Penilaian dapat dilakukan apabila
minimal ada dua gigi index yang dapat diperiksa.
Untuk mempermudah penilaian, sebelum melakukan
penilaian debris, kita dapat membagi permukaan gigi yang akan dinilai garis
khayal menjadi 3 bagian sama besar/luasnya secara horizontal.
3.
Mencatat Skor Debris
Oral debris adalah bahan lunak di permukaan gigi yang dapat merupakan plak,
material alba dan food debris. Kriteria skor debris terdapat pada tabel
berikut:
|
Skor
|
Kondisi
|
|
Skor 0
|
Tidak ada debris atau stain |
|
Skor 1
|
Plak menutup tidak lebih dari 1/3 permukaan
servikal, atau terdapat stain ekstrensik di permukaan yang diperiksa
![]() |
|
Skor 2
|
Plak menutup lebih dari 1/3 tapi kurang dari 2/3 permukaan yang diperiksa |
|
Skor 3
|
Plak
menutup lebih dari 2/3 permukaan yang diperiksa
![]() |
Cara pemeriksaan debris dapat dilakukan dengan menggunakan disclosing
solution ataupun tanpa menggunakan disclosing solution.
Jika digunakan disclosing solution, alangkah baiknya sebelum penetesan
disclosing bibir pasien dibersihkan dari lipstik kemudian ulasi bibir dengan
vaselin agar disclosing tidak menempel pada bibir. Pasien diminta untuk
mengangkat lidahnya keatas teteskan disclosing sebanyak sebanyak tiga tetes
dibawah lidah. Dalam keadaan mulut terkatup sebarkan disclosing dengan lidah
keseluruh permukaan gigi. Setelah disclosing tersebar, pasien diperbolehkan
meludah, diusahakan tidak kumur. Periksalah gigi indeks pada permukaan indeksnya
dan catat skor sesuai dengan kriteria.
Jika tidak menggunakan disclosing solution, maka gunakansonde biasa atau
dental probe untuk pemeriksaan debris. Gerakkan sonde secara mendatar pada
permukaan gigi, dengan demikian debris akan terbawa oleh sonde. Periksalah gigi
indeks mulai dengan menelusuri mulai dari 1/3 bagian incisal/oklusal, apabila
pada bagian ini tidak ditemukan debris lanjutkan terus pada 2/3 bagian gigi,
apabila disinipun tidak dijumpai teruskan sampai ke 1/3 bagian servikal.
a.
Mencatat Skor Kalkulus
Kalkulus adalah deposit keras yang terjadi
akibat pengendapan garam-garam anorganik yang komposisi utamanya adalah kalsium
karbonat dan kalsium fosfat yang bercampur dengan debris, mikroorganisme dan
sel-sel epitel deskuamasi. Kriteria skor kalkulus terdapat pada tabel berikut:
|
Skor
|
Kondisi
|
|
Skor 0
|
Tidak ada kalkulus |
|
Skor 1
|
Kalkulus supra gingiva menutup tidak lebih dari 1/3 permukaan servikal
yang diperiksa |
|
Skor 2
|
Kalkulus supragingiva menutup lebih dari 1/3
tapi kurang dari 2/3 permukaan yang diperiksa, atau ada bercak-bercak
kalkulus subgingiva disekeliling servikal gigi |
|
Skor 3
|
Kalkulus supragingiva menutup
lebih dari 2/3 permukaan atau ada kalkulus subgingiva yang kontinyu
disekelilimg servikal gigi. |
b.
Menghitung
Skor Debris Indeks, Skor Kalkulus Indeks dan Skor OHI-S
Skor Debris Indeks maupun skor
Kalkulus Indeks ditentukan dengan cara menjumlahkan seluruh skor kemudian
membaginya dengan jumlah segmen yang diperiksa.
Cara menghitung Debris Indeks:

Cara menghitung Kalkulus Indeks:

Misalkan pada suatu pencatatan
indeks debris dan indeks kalkulus didapat hasil sebagai berikut:
|
2
|
1
|
3
|
|
2
|
2
|
3
|
|
2
|
0
|
2
|
|
2
|
1
|
2
|
DI CI
Maka Skor DI
=
= 2,17
Skor CI =
= 1,50
Sedangkan skor OHIS adalah jumlah Skor Debris dan Skor Kalkulus, sehingga
pada perhitungan diatas Skor OHIS didapat 3,67.
c.
Menentukan
Kriteria Debris Indeks, Kalkulus Indeks dan OHI-S
Menurut Greene dan Vermillion,
kriteria penilaian debris dan kalkulus sama, yaitu:
Baik : Apabila nilainya antara 0 – 0,6
Sedang : Apabila nilainya antara 0,6 – 1,8
Buruk : Apabila nilainya antara 1,9 – 3,0
OHI-S mempunyai kriteria tersendiri
yaitu mengikuti ketentuan sebagai berikut:
Baik : Apabila nilainya antara 0,0 – 1,2
Sedang : Apabila nilainya antara 1,3 – 3,0
Buruk : Apabila nilainya antara 3,1 – 6,0
Dengan demikian, untuk contoh
perhitungan diatas, kriteria Debris Indeks untuk pasien dengan nilai 2,17
adalah buruk, kriteria Kalkulus Indeks dengan nilai 1,50 adalah sedang dan
kriteria OHI-S dengan nilai 3,67 adalah buruk.
C. Mengidentifikasi Jaringan Keras Gigi
Jaringan keras gigi terdiri dari enamel dan
dentin. Enamel dan dentin memiliki susunan bahan yang berbeda, sehingga
memiliki sifat fisik dan mekanis yang berbeda pula. Pulpa merupakan jaringan
lunak yang ada di dalam gigi, yang berisi pembuluh darah dan saraf, berfungsi
untuk memberikan nutrisi pada gigi.
Sebenarnya ada satu lapisan
lagi yaitu sementum yang terletak pada akar gigi., namun pada artikel ini tidak
akan di bahas, kami hanya akan membahas 2 struktur jaringan keras gigi saja.

1. Enamel
Enamel
merupakan lapisan terluar dari gigi yang menutupi sebagian besar permukaan gigi
(Lee, 2007). Enamel tersusun atas 95% struktur anorganik, yang terdiri dari 90%
hingga 92% hidroksiapatit. 1% struktur enamel tersusun dari bahan organik dan
4% merupakan air (Anusavice dkk., 2012). Enamel memiliki ketebalan yang
berbeda-beda untuk setiap jenis dan bagian gigi. Ketebalan enamel rata-rata
pada incisal edge adalah 2 mm, pada cusp premolar 2,3 hingga 2,5 mm, dan pada
cusp molar 2,5 hingga 3 mm. Kepadatan dan kekerasan enamel akan semakin
berkurang, dari lapisan terluar menuju dentino enamel junction (DEJ).

Enamel tersusun atas jutaan
enamel rods yang memanjang dari dentino enamel junction ke permukaan enamel
bagian luar. Susunan enamel rods memberikan kemampuan untuk menahan gaya
pengunyahan secara maksimal. Arah enamel rods juga perlu diperhatikan terutama
saat melakukan preparasi gigi. Pada sudut gigi, enemel rods memiliki arah miring
dari dentino enamel junction menuju permukaan gigi, kemudian akan semakin tegak
saat mengarah pada permukaan insisal atau oklusal.
2. Dentin
Dentin
merupakan lapisan penyusun gigi yang berada di bawah enamel. Dentin memiliki
warna yang lebih kuning dan lebih lunak apabila dibandingkan dengan enamel.
Dentin tersusun atas 75% struktur anorganik, terutama kristal hidroksipatit
kecil. Dentin memiliki struktur organik lebih besar daripada enamel, yaitu 20%
organik, dengan kandungan kolagen mencapai 90%, dan 5% struktur dentin terdiri
dari air. Pertemuan antara lapisan enamel dan dentin, disebut sebagai dentino
enamel junction (DEJ), merupakan bagian dari struktur dentin yang relatif lemah
sehingga saat terjadi infeksi bakteri pada enamel yang menembus dentin, maka
infeksi yang terjadi pada dentin dapat lebih besar bahkan hingga mencapai
lapisan pulpa.
Dentin memiliki kekuatan
tekan yang lebih besar daripada enamel, sehingga dentin dapat berperan sebagai
penahan enamel ketika gaya pengunyahan mengenai permukaan enamel. Di dalam
struktur dentin terdapat tubulus, yang disebut sebagai tubulus dentin . Tubulus
dentin terletak diantara serabut-serabut kolagen, khususnya serabut kolagen
tipe I. Jumlah serabut kolagen pada dentin relatif banyak, sehingga karies yang
telah mencapai dentin akan lebih mudah menyebar dan meluas lebih cepat daripada
karies yang terjadi pada enamel.
Saat proses preparasi
gigi untuk menempatkan bahan restorasi pada gigi, maka akan terdapat smear
layer yang mungkin akan menutupi tubulus dentin. Penutupan tubulus dentin oleh
smear layer dapat mengganggu infiltrasi dan polimerisasi dari bahan adhesif,
yang dibutuhkan saat melakukan restorasi dengan bahan komposit.

D.
Mengidentifikasi Jaringan Rongga Mulut
Di dalam
rongga mulut, makanan akan mengalami pencernaan secara mekanik dan
kimiawi. Pencernaan mekanik terjadi pada saat makanan berukuran besar
dihaluskan dengan bantuan gigi, makanan digigit, dipotong, dikunyah hingga
berukuran kecil, dibantu lidah dan otot pipi. Pencernaan kimiawi dapat terjadi
karena pada rongga mulut terdapat kelenjar pencernaan penghasil enzim.
Adapun organ-organ yang membantu dalam proses
pencernaan adalah :
- Gigi
- Lidah
- Kelenjar ludah
1.
Gigi
Terdapat empat macam gigi, yaitu gigi seri (insisivus = I) ,
gigi taring (caninus = C), geraham depan (premolar = P), dan geraham
belakang (molar = M). Makanan dipotong dengan gigi seri, dirobek dengan gigi
taring dan dikunyah dengan gigi geraham. Gigi memiliki tiga bagian utama
meliputi:
- Mahkota gigi yang terletak menonjol di atas tulang
- Leher gigi
- Akar gigi, tertanam di dalam tulang rahang
Gigi
tersusun atas empat macam jaringan, yaitu jaringan email, dentin, pulpa, dan
sementum. Jaringan email merupakan jaringan gigi yang
paling keras. Email ini melindungi mahkota gigi. Dentin merupakan
komponen utama pembentuk gigi. Pada bagian dalam gigi terdapat pulpa (rongga
gigi). Pulpa berisi pembuluh darah dan serabut saraf. Sementum merupakan
bagian dentin yang masuk ke dalam rahang. Sementum menutupi akar gigi.
Bagian yang menutup dan mengelilingi leher gigi disebut gusi,
disebut juga pelapis tulang gigi.

Gambar 1. Struktur gigi manusia
Berdasarkan tahapan perkembangannya,
gigi manusia terdiri atas dua kelompok, yakni :
- Gigi susu (dentis desidue), merupakan gigi yang tumbuh pada anak usia 6 bulan hingga 8 tahun. Jumlah gigi ini pada anak yakni 20 buah dengan rincian 8 buah gigi seri, 4 buah gigi taring, dan 8 buah gigi geraham. Sejak usia 6 tahun hingga usia 14 tahun, gigi susu akan tanggal satu persatu dan digantikan dengan gigi dewasa.
- Gigi dewasa atau gigi tetap (dentis permanen), merupakan gigi orang dewasa yang berjumlah 32 buah. Rinciannya 8 buah gigi seri, 4 buah gigi taring, 8 buah gigi geraham depan, dan 12 buah gigi geraham belakang. Apabila gigi dewasa tanggal, tidak terjadi pergantian gigi lagi alias tidak tumbuh.
Gambar 2. Bagian-bagian gigi: (a)
gigi seri, (b) gigi taring, (c) gigi geraham depan, dan (d) gigi geraham belakang

Gambar 3. Rumus gigi susu dan gigi
dewasa
2. Lidah
Lidah merupakan
organ pencernaan yang tersusun atas otot lurik. Permukaannya terdapat
papila-papila, dalam papila terdapat puting-puting pengecap rasa asam, asin,
manis, dan pahit. Selain itu, saraf pada lidah sensitif terhadap panas,
dingin, dan tekanan.
Terkait
proses pencernaan, fungsi lidah antara lain untuk mengatur letak makanan dalam
mulut, mencampur makanan dengan ludah, dan membantu membentuk makanan menjadi
sebuah bulatan yang disebut bolus. Selama penelanan, lidah
akan mendorong bolus ke bagian belakang rongga mulut dan akhirnya ke dalam
faring.
3. Kelenjar Ludah
Kelenjar
ludah menghasilkan ludah atau air liur (saliva). Komponen ludah terdiri
atas 98% air dan 2% lendir, garam, dan enzim ptialin. Pada manusia, lebih
dari satu liter ludah disekresikan ke dalam rongga mulut setiap hari. Ludah
banyak mengandung zat anti bakteri.
Kelenjar ludah dalam mulut ada
tiga pasang, yaitu :
- Sepasang kelenjar parotis, yang terletak di bawah daun telinga di antara otot pengunyah dengan kulit pipi terletak di bawah telinga. Kelenjar parotis menghasilkan ludah yang berbentuk cair dan mengandung enzim amilase.
- Sepasang kelenjar submandibularis, terletak di rahang bawah.
- Sepasang kelenjar sublingualis, terletak di bawah lidah.
Kelenjar
submandibularis dan kelenjar sublingualis menghasilkan getah yang mengandung
air dan lendir.
Gambar 5. Letak kelenjar ludah
Ketiga kelenjar tersebut
menghasilkan air ludah yang berfungsi untuk :
- Membantu memudahkan pencernaan.
- Mengubah amilum menjadi maltosa, yaitu enzim ptialin.
- Melindungi pengaruh asam dan basa.
- Melindungi pengaruh panas dan dingin.
Adanya
enzim ptialin (amilase) dapat mengubah amilum menjadi maltosa dan glukosa. Coba
kunyahlah nasi, setelah beberapa saat nasi akan terasa manis. Hal ini disebabkan
karena amilum dalam nasi diubah menjadi maltosa, yaitu sejenis gula yang
rasanya manis. Jadi, pencernaan kimiawi amilum dimulai dari mulut.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gigi yang sehat adalah gigi yangrapih,
bersih, bercahaya dan didukung oleh gusi yang sehat, yaitu gusi yang kencang
dan bewarna merah muda. Untuk mencapai kesehatan gigi dan mulut yang optimal,
maka harus dilakukan perawatan secara berkala, sehingga didapatkan kondisi gigi
dan jaringan rongga mulut yang sehat. Hal tersebut dapat dicapai dengan
memeriksakan kesehatan gigi dan mulut ke dokter gigi setiap enam bulan sekali
dan bukan hanya apabila terdapat keluhan saja.
DAFTAR ISI
http://chyrun.com/struktur-jaringan-keras-gigi/
![]() |















Komentar
Posting Komentar