MAKALAH TEKNIK PEMBERIAN OBAT MELALUI VAGINA, REKTUM, DAN KULIT


MAKALAH
TEKNIK PEMBERIAN OBAT MELALUI
VAGINA, REKTUM, DAN KULIT

















Disusun Oleh:
ELTA DHENATA OKTARI
FERTHI USPITA CATURINA
SELVIANI SOBRI















KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
JURUSAN IV KEBIDANAN
TAHUN 2015



 
KATA PENGANTAR


Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan atas berkat berkat dan rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini terdiri dari pokok pembahasan mengenai “Prosedur Pemberian Obat” Setiap pembahasan di bahas secara sederhana sehingga mudah dimengerti.
Makalah ini membahas tentang  Pentingnya obat dalam kebidanann, Standar dan reaksi obat, Faktor yang mempengaruhi reaksi obat, Masalah dalam pemberian obat dan intervensi keperawatan, Perhitungan obat, Konsep dan tehnik cara pemberian obat melalui vagin, rectum, dan kulit.
Kami sadar, sebagai mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan dalam makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Bandar Lampung, Maret 2015


Penulis


                                                                                                                       
















DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I PENDHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulis....................................................................................... 1...........
1.3 Rumusan Masalah.................................................................................. 1
1.4 Manfaat Penulis..................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Prinsip – Prinsip Pemberian Obat Pada Pasien..................................... 2
2.2 Teknik Pemberian Obat ........................................................................ 3
2.2.1 Melalui Vagina ........................................................................... 3...........
2.2.2 Melalui rektum............................................................................. 5
2.2.3 Melalui kulit................................................................................. 7

BAB IIIPENUTUP
3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 12
3.2 Saran ................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA










BAB I
PENDHULUAN


1.1  Latar Belakang
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah tentang kebutuhan  dasar manusia dan berfungsi untuk mencari ilmu dan menambah ilmu untuk memperluas suatu konsep dalam diri kita sendiri. Dan prilaku manusia untuk mencari bahan-bahan untuk suatu ilmu yang berkaitan tentang Kebutuhan  dasa manusiadan tak lupa untuk memperluas suatu ilmu pengetahuan didalam diri kita sendiri dan membuat untuk belajar yang lebih giat lagi. Supaya lebih luas pengetahuannya.

1.2  Tujuan Penulis
Penyusunan Laporan ini bertujuan untuk :
1.        Untuk mengetahui bagai mana prinsip prinsi pemberian obat yang benar.
2.        Untuk mengetahui paktor-paktor yang mempengaruhi peberian obat yang benar.
3.        Untuk mengetahui macam-macam bentuk pemberian obat

1.3  Rumusan Masalah
 Adapun rumusan masalah di dalam laporan makalah ini:
1.        Bagaimana cara pemberian obat melalui vagina ?
2.        Bagaimana cara pemberian obat melalui rectum ?
3.        Bagaimana cara pemberian obat melalui kulit?

1.4  Manfaat Penulis
Manfaat penulis dalam penbuatan makalah ini untuk mengetahui dimana adaya suatu pengertian dan untuk mengingat makalah dan materi.




BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Prinsip – Prinsip Pemberian Obat Pada Pasien

Menggambarkan 6 Benar dalam pemberian obat. JSupaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman, seorang perawat harus dapat melakukan 6 hal yangt benar; klien yang benar, obat yang benar, dosis yang benar, waktu yang benar, rute yang benar, dan dokumentasi yang benar.Memberikan pedoman keamanan dalam pemberian obatBeberapa pedoman umum dalam pemberian obat dijelaskan dalam prosedur pemberian obat obat yang benar yang terdiri dari 4 langkah (persiapan, pemberian, pencatatan, dan hal-hal yang tidak boleh dalam pemberian obat)
Persiapan :   
Cuci tangan sebelum menyiapkan obat
1.      Periksa riwayat, kardek dan riwayat alergi obat
2.      Periksa perintah pengobatan
3.      Periksa label tempat obat sebanyak 3 kali
4.      Periksa tanggal kadaluarsa
5.      Periksa ulang perhitungan dosis obat dengan perawat lain
6.      Pastikan kebenaran obat yang bersifat toksik dengan perawat lain atau ahli Farmasi
7.      Tuang tablet atau kapsul kedalam tempat obat. Jika dosis obat dalam unit,
 buka obat disisi  tempat  tidur pasien setelah memastikan   kebenaran
identifikasi pasien
8.      Tuang cairan setinggi mata. Miniskus atau lengkung terendah dari cairan
 harus berada pada garis dosis yang diminta
9.      Encerkan obat-obat yang mengiritasi mukosa lambung (kalium, aspirin)
atau berikan bersama-sama dengan makanan


2.2 Teknik Pemberian Obat
2.2.1 Melalui Vagina
Pemberian Obat Melalui Vagina
1.      Pengertian
Memberikan sejumlah obat ke dalam vagina
2.      Tujuan
a.             Untuk mengobati infeksi pada vagina
b.            Untuk menghilangkan nyeri, rasa terbakar dan ketidaknyamanan pada vagina
c.             Untuk mengurangi peradangan
3.      Persiapan alat
a.        Obat sesuai yang di perlukan (cream, jelly, foam, atau supositoria)
b.       Aplikator untuk krim vagina
c.        Pelumas untuk suppositoria
d.       Sarung tangan
e.        Pembalut
f.         Handuk bersih
g.       Gorden/pembatas/sketsel
4.      Prosedur kerja
a.       Cek kembali order pengobatan, mengenai jenis pengobatan, waktu, jumlah dan dosis.
b.      Siapkan klien
1)       Identifikasi klien dengan tepat dan tanyakan namanya
2)       Jaga privasi, dan mintalah klien untuk berkemih terlebih dahulu
3)       Atur posisi klien berbaring supinasi dengan kaki fleksi dan pinggul supinasi eksternal
4)       Tutup dengan selimut mandi dan buka pada daerah area perineal saja.


c.       Pakai sarung tangan
d.      Inspeksi vagina, catat adanya pengeluaran, bayu atau rasa yang tidak nyaman
e.       Lakukan tindakan perawatan perinium
f.        Suppositoria
1)      Buka bungkus aluminium foil suppositoria dan oleskan sejumlah pelumas yang pelumas yang larut dalam air pada ujung supositoria yang bulat dan halus. Oleskan jari tangan telunjuk yang telah dipasang sarung tangan dominan.
2)      Dengan tangan non dominan yang sudah terpasang sarung tangan, rengangkan lipatan labia
3)      Masukkan suppositoria sekitar 8-10 cm sepanjang dinding vagina posterior
4)      Tarik jari tangan dan bersihkan pelumas yang tersisa sekitar orifisium dan labia
5)      Mintalah klien untuk tetap berada pada
g.      Kream, vagina, jelly atau foam
1)       Isi aplikator, ikuti petunjuk yang tertera pada kemasan
2)       Rengangkan lipatan labia secara perlahan dengan tangan non dominan yang memakai sarung tangan
3)       Dengan tangan dominan yang telah memakai sarung tangan, masukkan aplikator ke dalam vagina sekitar 5 cm. dorong penarik untuk aplikator untuk menluarkan obat hingga aplikator kosong
4)       Tarik aplikator dan letakkan di atas handuk. Bersihkan sisa kream pada labia dan orifisium vaggina.
5)       Buang aplikator atau bersihkan kembali sesuai dengan petunjuk pengggunaan pabriknya
6)       Instrusikan klien untuk tetap berada pada posisi semula selama 5-10 menit
7)       Lepaskan sarung tangan, buang di tempat semestinya
8)       Cuci tangan
9)       Kaji respon klien
10)   Dokumentasikan semua tindakan

2.2.2 Melalui Rectum
Pemberian Obat via Anus/Rektum
Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum, dengan tujuan memberikan efek lokal dan sistemik. Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat suppositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat, menjadikan lunak pada daerah feses dan merangsang buang air besar.

Contoh pemberian obat yang memiliki efej lokal seperti obat dulcolac supositoria yang berfungsi secara lokal untuk meningkatkan defekasi dan contoh efek sistemik pada obat aminofilin suppositoria dengan berfungsi mendilatasi bronkus. Pemberian obat supositoria ini diberikan tepat pada dnding rektal yang melewati sfingter ani interna. Kontra indikasi pada pasien yang mengalami pembedahan rektal.
Alat dan Bahan:
1.      Obat suppositoria dalam tempatnya.
2.      Sarung tangan.
3.      Kain kasa.
4.      Vaselin/pelicin/pelumas.
5.      Kertas tisu.
Prosedur Kerja:
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3.      Gunakan sarung tangan.
4.      Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5.      Oleskan ujung pada obat suppositoria dengan pelicin.
6.      Regangkan glutea dengan tangan kiri, kemudian masukkan suppositoria dengan perlahan melalui anus, sfingter anal interna dan mengenai dinding rektal kurang lebih 10 cm pada orang dewasa, 5 cm pada bayi atau anak.
7.      Setelah selesai tarik jari tangan dan bersihkan daerah sekitar anal dengan tisu.
8.      Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang atau miring selama kurang lebih 5 menit.
9.      Setelah selesai lepaskan sarung tangan ke dalam bengkok.
10.  Cuci tangan.
11.  Catat obat, jumlah dosis, dan cara pemberian

2.2.3 Melalui kulit
Definisi Pemberian obat secara Topikal
Pemberian obat secara topikal adalah pemberian obat secara lokal dengan cara mengoleskan obat pada permukaan kulit atau membran area mata, hidung, lubang telinga, vagina dan rectum. Obat yang biasa digunakan untuk pemberian obat topikal pada kulit adalah obat yang berbentuk krim, lotion, atau salep. Hal ini dilakukan dengan tujuan melakukan perawatan kulit atau luka, atau menurunkan gejala gangguan kulit yang terjadi (contoh : lotion).
Pemberian obat topikal pada kulit terbatas hanya pada obat-obat tertentu karena tidak banyak obat yang dapat menembus kulit yang utuh. Keberhasilan pengobatan topical pada kulit tergantung pada: umur, pemilihan agen topikal yang tepat, lokasi dan luas tubuh yang terkena atau yang sakit, stadium penyakit, konsentrasi bahan aktif dalam vehikulum, metode aplikasi, penentuan lama pemakaian obat, penetrasi obat topical pada kulit.
Anatomi Fisiologi Kulit
Kulit tersusun dari berbagai macam jaringan, termasuk pembuluh darah, kalenjar lemak, kalenjar keringat, organ pembuluh perasa dan urat saraf, jaringan pengikat, otot polos dan lemak.Luas permukaan kulit ± 18 kaki kuadrat dan beratnya tanpa lemak adalah ± 8 pond.

Kulit terdiri dari 3 lapisan yaitu :
1.          Epidermis : untuk mencegah atau menghambat kehilangan air dari badan.
2.          Dermis : bertanggung jawab dalam sifat-sifat penting dalam kulit.
3.          Jaringan subkutan berlemak : bekerja sebagai bantalan dan isolator panas.
Pada epidermis dibedakan atas lima lapisan kulit, yaitu :
a.    Lapisan tanduk (stratum corneum)
Merupakan lapisan epidermis yang paling atas, dan menutupi semua lapisan epiderma lebih ke dalam. Lapisan tanduk terdiri atas beberapa lapis sel pipih, tidak memiliki inti, tidak mengalami proses metabolisme, tidak berwarna dan sangat sedikit mengandung air.
b.    Lapisan bening (stratum lucidum)
Disebut juga lapisan barrier, terletak tepat di bawah lapisan tanduk, dan dianggap sebagaipenyambung lapisan tanduk dengan lapisan berbutir.Lapisanbening terdiri dari protoplasma sel-sel jernih yang kecil-kecil, tipisdan bersifat translusen sehingga dapat dilewati sinar (tembuscahaya).
c.    Lapisan berbutir (stratum granulosum)
Tersusun oleh sel-sel keratinosit berbentuk kumparan yang mengandung butir-butir di dalam protoplasmanya, berbutir kasa dan berinti mengkerut.Lapisan ini tampak paling jelas pada kulit telapak tangan dan telapak kaki.
d.    Lapisan bertaju (stratum spinosum)
Disebut juga lapisan malphigi terdiri atas sel-sel yang saling berhubungan dengan perantaraanjembatan-jembatan protoplasma berbentuk kubus.
e.    Lapisan benih (stratum germinativum atau stratum basale)
Merupakan lapisan terbawah epidermis, dibentuk oleh satu baris sel toraks (silinder) dengan kedudukan tegak lurus terhadap permukaan dermis.

Klasifikasi Obat
Berdasarkan bentuk
1.          Lotion
Lotion ini mirip dengan shake lotion tapi lebih tebal dan cenderung lebih emollient di alam dibandingkan dengan shake lotion. Lotion biasanya terdiri dari minyak dicampur dengan air, dan tidak memiliki kandungan alkohol. Bisanya lotion akan cepat mengering jika mengandung alkohol yang tinggi.
2.          Shake lotion
Shake lotion merupakan campuran yang memisah menjadi dua atau tiga bagian apabila didiamkan dalam jangka waktu tertentu. Minyak sering dicampur dengan larutan berbasis air.Perlu dikocok terlebih dahulu sebelum digunakan.
3.          Cream/ Krim
Cream adalah campuran yang lebih tebal dari lotion dan akan mempertahankan bentuknya apabila dikeluarkan wadahnya. Cream biasanya digunakan untuk melembabkan kulit. Cream memiliki risiko yang signifikan karena dapat menyebabkan sensitifitas imunologi yang tinggi. Cream memiliki tingkat penerimaan yang tinggi oleh pasien. Cream memiliki variasi dalam bahan, komposisi, pH, dan toleransi antara merek generik.
4.          Salep
Salep adalah sebuah homogen kental, semi-padat, tebal, berminyak dengan viskositas tinggi, untuk aplikasi eksternal pada kulit atau selaput lendir.Salep digunakan sebagai pelembaban atau perlindungan, terapi, atau profilaksis sesuai dengan tingkat oklusi yang diinginkan.Salep digunakan pada kulit dan selaput lendir yang terdapat pada mata (salep mata), vagina, anus dan hidung.Salep biasanya sangat pelembab, dan baik untuk kulit kering selain itu juga memiliki risiko rendah sensitisasi akibat beberapa bahan minyak atau lemak.(Jean Smith, Joyce Young dan patricia carr, 2005 : 684)
a.       Pada Kulit
Obat yang biasa digunakan untuk pemberian obat topikal pada kulit adalah obat yang berbentuk krim, lotion, sprei atau salep. Hal ini dilakukan dengan tujuan melakukan perawatan kulit atau luka, atau menurunkan gejala gangguan kulit yang terjadi (contoh : lotion). Krim, dapat mengandung zat anti fungal (jamur), kortikosteorid, atau antibiotic yang dioleskan pada kulit dengan menggunakan kapas lidi steril.

Krim dengan antibiotic sering digunakan pada luka bakar atau ulkus dekubitus. Krim adalah produk berbasis air dengan efek mendinginkan dan emolien. Mereka mengandung bahan pengawet untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur, tetapi bahan pengawet tertentu dapat menyebabkan sensitisasi dan dermatitis kontak alergi.Krim kurang berminyak dibandingkan salep dan secara kosmetik lebih baik ditoleransi.

Sedangkan salep, dapat digunakan untuk melindungi kulit dari iritasi atau laserasi kulit akibat kelembaban kulit pada kasus inkontenansia urin atau fekal.  Salep tidak mengandung air, mereka adalah produk berbasis minyak yang dapat membentuk lapisan penutup diatas permukaan kulit yang membantu kulit untuk mempertahankan air. Salep nenghidrasi kulit yang kering dan bersisik serta meningkatkan penyerapan zat aktif, dan  karena itu berguna dalam kondisi kulit kering kronis. Salep tidak mengandung bahan pengawet.

Losion adalah suspensi berair yang dapat digunakan pada permukaan tubuh yang luas dan pada daerah berbulu.Losion memiliki efek mengeringkan dan mendinginkan.

Obat transdermal adalah obat yang dirancang untuk larut kedalam kulit untuk mendapatkan efek sistemik.Tersedia dalam bentuk lembaran.Lembaran obat tersebut dibuat dengan membran khusus yang membuat zat obat menyerap perlahan kedalam kulit. Lembaran ini juga dapat sekaligus mengontrol frekuensi penggunaan obat selama 24 ± 72 jam
Tujuan pemberian pada kulit, yaitu :
a.       Untuk mempertahankan hidrasi
b.      Melindungi permukaan kulit
c.       Mengurangi iritasi kulit
d.      Mengatasi infeksi
Tindakan
Alat &Bahan :
a.        Obat dalam tempatnya (seperti losion, krim, aerosal, sprei)
b.       Pinset anatomis
c.        Kain kasa
d.       Balutan
e.        Pengalas
f.         Air sabun, air hangat
g.       Sarung tangan
Prosedur Kerja :
1.       Cuci tangan
2.       Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.       Pasang pengalas dibawah daerah yang akan dilakukan tindakan
4.       Gunakan sarung tangan
5.       Bersihkan daerah yang akan diberi obat dengan air hangat (apabila terdapat kulit mengeras) dan gunakan pinset anatomis
6.       Berikan obat sesuai dengan indikasi dan cara pemakaian seperti mengoleskan atau mengompres
7.       Jika diperlukan, tutup dengan kain kasa atau balutan pada daerah diobati
8.       Cuci tangan
























BAB III
PENUTUP


3.1  Kesimpulan
Menggambarkan 6 Benar dalam pemberian obat. JSupaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman, seorang perawat harus dapat melakukan 6 hal yangt benar; klien yang benar, obat yang benar, dosis yang benar, waktu yang benar, rute yang benar, dan dokumentasi yang benar.Memberikan pedoman keamanan dalam pemberian obatBeberapa pedoman umum dalam pemberian obat dijelaskan dalam prosedur pemberian obat obat yang benar yang terdiri dari 4 langkah (persiapan, pemberian, pencatatan, dan hal-hal yang tidak boleh dalam pemberian obat).

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah tentang kebutuhan  dasar manusia dan berfungsi untuk mencari ilmu dan menambah ilmu untuk memperluas suatu konsep dalam diri kita sendiri. Dan prilaku manusia untuk mencari bahan-bahan untuk suatu ilmu yang berkaitan tentang Kebutuhan  dasa manusiadan tak lupa untuk memperluas suatu ilmu pengetahuan didalam diri kita sendiri dan membuat untuk belajar yang lebih giat lagi. Supaya lebih luas pengetahuannya.

3.2  Saran
Dalam kesempatan ini penulis menyadari banyak kesalahan dan kekeliriuan oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran demi terwujudnya makalah yang lebih baik di masa yang akan datang.







DAFTAR PUSTAKA

http://mahasiswafarmasibicara.blogspot.com/2013/10/pemberian-obat-secara-topikal.html

L, Kee Joyce & R, Hayes evelyn ; farmakologi Pendekatan proses Keperawatan, 996 ; EGC; Jakarta.

Priharjo, Robert; Tekhnik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, 1995; EGC; Jakarta.

Aziz, Azimul; Kebutuhan dasar manusia II.
Bouwhuizen, M; Ilmu Keperawatan Bagian 1; 1986; EGC; Jakarta.

http://indylaurenz.blogspot.com/p/pemberian-obat-via-anusrektum.html










 

Komentar

Postingan Populer