MAKALAH SEJARAH PENEMUAN MIKROBA
MAKALAH
SEJARAH PENEMUAN MIKROBA
Dosen Pembimbing : Dra. Marhamah.M.Kes
![]() |
Disusun Oleh:
Renaldi Amar (1613353043)
Politeknik Kesehatan Tanjungkarang
Jurusan Analis Kesehatan
Prodi DIV Analis Kesehatan Bandar
Lampung
Tahun 2017
KATA PENGANTAR
Assalamu alaikum Wr.Wb.
Puji dan syukur penuils panjatkan kehadirat Allah SWT karena
berkat rahmat dan hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik dan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari akan kemampuan dan kesanggupan penulis
yang terbatas sehingga dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekeliruan
yang tentunya mengurangi makna kesempurnaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah-makalah berikutnya.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh
pembaca dan tentunya penulis sendiri.
Bandar lampung, April
2017
Penulis
DAFTAR ISI
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Mikroba didefenisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang
organisme mikroskopis. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani, mikros=kecil,
bios=hidup dan logos=ilmu. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisma muncul
kurang lebih 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks di lautan,
atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi.
Sebagai makhluk hidup pertama di bumi, mikroorganisma diduga merupakan nenk
moyang dari semua makhluk hidup. Awal mula munculnya ilmu mikrobiologi pada
pertengahan abad 19 pada waktu ilmuwan telah membuktikan bahwa mikroorganisma
berasal dari mikroorganisma sebelumnya bukan dari tanaman ataupun hewan yang
membusuk. Selanjutnya ilmuwan menunjukkan bahwa mikroorganisma bukan berasal
dari proses fermentasi tetapi merupakan penyebab proses fermentasi buah anggur
menjadi anggur dapat berubah. Ilmuwan juga menemukan bahwa mikroba tertentu
menyebabkan penyakit tertentu. Pengetahuan ini merupakan awal pengenalan dan
pemahaman akan pentingnya mikroorganisma bagi kesehatan dan kesejahteraan
manusia.
Selama awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganima mampu menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa organik yang baru. Hal inilah yang disebut dengan ‘biochemical diversity’ atau keaneka ragaman biokimia yang menjadi ciri khas mikroorganisma. Disamping itu, yang penting lainnya adalah bahwa mekanisma perubahan kimia oleh mikroorganisma sangat mirip dengan yang terjadi pada organisma tingkat tinggi. Konsep ini dikenal dengan ‘unity in biochemistry’ yang artinya bahwa proses biokimia pada mikroorganisma adalah sama dengan proses biokimia pada semua makhluk hidup termasuk manusia. Bukti yang lebih baru menunjukan bahwa informasi genetik pada semua organisma dari mikroba hingga manusia adalah DNA.
Selama awal abad 20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganima mampu menyebabkan berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa organik yang baru. Hal inilah yang disebut dengan ‘biochemical diversity’ atau keaneka ragaman biokimia yang menjadi ciri khas mikroorganisma. Disamping itu, yang penting lainnya adalah bahwa mekanisma perubahan kimia oleh mikroorganisma sangat mirip dengan yang terjadi pada organisma tingkat tinggi. Konsep ini dikenal dengan ‘unity in biochemistry’ yang artinya bahwa proses biokimia pada mikroorganisma adalah sama dengan proses biokimia pada semua makhluk hidup termasuk manusia. Bukti yang lebih baru menunjukan bahwa informasi genetik pada semua organisma dari mikroba hingga manusia adalah DNA.
Karena sifatnya yang sederhana dan perkembangbiakan yang
sangat cepat serta adanya berbagai variasi metabilma, maka mikroba digunakan
sebagai model penelitian di bidang genetika. Saat ini mikroorganisma diteliti
secara intensif untuk mengetahui dasar fenomena biologi. Mikroorganisma juga
muncul sebagai sumber produk dan proses yang menguntungkan masyarakat,
misalnya: alkohol yang dihasilkan melalui proses fermentasi dapat digunakan
sebagai sumber energi (gasohol). Strain-strain baru dari mikroorganima yang
dihasilkan melalui proses rekayasa genetika dapat menghasilkan bahan yang
penting bagi kesehatan manusia seperti insulin. Dan Jika kita membaca tentang
mikroorganisma anda akan menghargai, mengagum mikroorganisma anda akan
menghargai, mengagumi mikroorganisma seperti bakteri, algae, protozoa dan virus
yang merupakan organisma yang sering tidak terlihat.
Beberapa diantaranya bersifat patogen bagi manusia, hewan
maupun tumbuhan. Beberapa dapat menyebabkan lapuknya kayu dan besi. Tetapi
banyak diantaranya berperan penting dalam lingkungan sebagai dekomposer.
Beberapa diantaranya digunakan dalam menghasilkan (manufacture) substansi yang
penting di bidang kesehatan maupun industri makanan. Hal ini yang kemudian
mendorong kita untuk lebih mendalami mengenai sejarah penemuan, taksonomi, dan
karakteristik dari mikrorganisme.
1.2 Rumusan masalah
Berdasarkan penjelasan diatas maka kami dapat merumuskan
masalah sebagi berikut :
1) Bagaimana sejarah penemuan dari
masing-masing mikrororganisme yang disebutkan diatas?
2) Bagaimana taksonomi dari
masing-masing mikrorganisme yang disebutkan diatas?
3) Bagaimana karakteristik dari
masing-masing mikroorganisme yang disebutkan diatas?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Sejarah Penemuan virus
Penelitian
mengenai virus dimulai dengan penelitian mengenai penyakit mosaik yang
menghambat pertumbuhan tanaman tembakau dan membuat daun tanaman tersebut
memiliki bercak-bercak. Pada tahun 1883, Adolf Mayer, seorang ilmuwan Jerman,
menemukan bahwa penyakit tersebut dapat menular ketika tanaman yang ia teliti
menjadi sakit setelah disemprot dengan getah tanaman yang sakit. Karena tidak
berhasil menemukan mikroba di getah tanaman tersebut, Mayer menyimpulkan bahwa
penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri yang lebih kecil dari biasanya dan
tidak dapat dilihat dengan mikroskop.
Pada tahun 1892, Dimitri Ivanowsky dari Rusia menemukan bahwa getah daun tembakau yang sudah disaring dengan penyaring bakteri masih dapat menimbulkan penyakit mosaik. Ivanowsky lalu menyimpulkan dua kemungkinan, yaitu bahwa bakteri penyebab penyakit tersebut berbentuk sangat kecil sehingga masih dapat melewati saringan, atau bakteri tersebut mengeluarkan toksin yang dapat menembus saringan.
Kemungkinan kedua ini dibuang pada tahun 1897 setelah. Martinus Willem Beijerinck, ilmuwan Belanda melakukan percobaan berdasarkan penemuan Ivanovsky. ia mengoleskan getah daun tembakau hasil saringan dari satu tembakau ke tembakau lain secara berjenjang. Mula-mula dia menyaring getah daun tembakau yang terkena penyakit dengan saringan keramik, kemudian getah hasil saringan itu dioleskan ke daun tembakau yang sehat. tembakau yang sehat itu menjadi sakit. Selanjutnya getah daun yang sakit ini pun di saring lagi, dan hasilnya dioleskan ke daun tembakau yang sehat. Tembakau yang sehat ini juga terkena penyakit. Demikian seterusnya. Ini berarti bawa “bakteri” patogen itu mampu berkembang biak, ukurannya sangat kecil karena lolos dari saringan keramik. Saat itu orang hanya mengenal bakteri sehingga penyebab mosaik pada daun tembakau itu diduga diakibatkan oleh bakteri yang berukuran sangat kecil.
Ternyata dugaan tentang bakteri yang berukuran sangat kecil itu keliru. Pada Tahun 1995 Wendell Meredith Stanley, dari Rockefeller Institute ( Amerika Serikat ), berhasil mengisolasi dan mengkristalkan virus mosaik tembakau, dan ia menyimpulkan bahwa virus berbeda alias tidak sama dengan bakteri. Jika kristal virus diinjeksikan ke tanaman tembakau yang sehat, virus akan aktif, mengganda, dan menyebabkan penyakit. Karena virus dapat dikristalkan berarti ia bukan sel. Virus dianggap sebagai peralikah antara benda abiotik dan biotik. Virus yang menyerang tembakau diberi nama virus mosaik tembakau ( Tobacco Mosaik Virus, disingkat TMV ).
Pada tahun 1892, Dimitri Ivanowsky dari Rusia menemukan bahwa getah daun tembakau yang sudah disaring dengan penyaring bakteri masih dapat menimbulkan penyakit mosaik. Ivanowsky lalu menyimpulkan dua kemungkinan, yaitu bahwa bakteri penyebab penyakit tersebut berbentuk sangat kecil sehingga masih dapat melewati saringan, atau bakteri tersebut mengeluarkan toksin yang dapat menembus saringan.
Kemungkinan kedua ini dibuang pada tahun 1897 setelah. Martinus Willem Beijerinck, ilmuwan Belanda melakukan percobaan berdasarkan penemuan Ivanovsky. ia mengoleskan getah daun tembakau hasil saringan dari satu tembakau ke tembakau lain secara berjenjang. Mula-mula dia menyaring getah daun tembakau yang terkena penyakit dengan saringan keramik, kemudian getah hasil saringan itu dioleskan ke daun tembakau yang sehat. tembakau yang sehat itu menjadi sakit. Selanjutnya getah daun yang sakit ini pun di saring lagi, dan hasilnya dioleskan ke daun tembakau yang sehat. Tembakau yang sehat ini juga terkena penyakit. Demikian seterusnya. Ini berarti bawa “bakteri” patogen itu mampu berkembang biak, ukurannya sangat kecil karena lolos dari saringan keramik. Saat itu orang hanya mengenal bakteri sehingga penyebab mosaik pada daun tembakau itu diduga diakibatkan oleh bakteri yang berukuran sangat kecil.
Ternyata dugaan tentang bakteri yang berukuran sangat kecil itu keliru. Pada Tahun 1995 Wendell Meredith Stanley, dari Rockefeller Institute ( Amerika Serikat ), berhasil mengisolasi dan mengkristalkan virus mosaik tembakau, dan ia menyimpulkan bahwa virus berbeda alias tidak sama dengan bakteri. Jika kristal virus diinjeksikan ke tanaman tembakau yang sehat, virus akan aktif, mengganda, dan menyebabkan penyakit. Karena virus dapat dikristalkan berarti ia bukan sel. Virus dianggap sebagai peralikah antara benda abiotik dan biotik. Virus yang menyerang tembakau diberi nama virus mosaik tembakau ( Tobacco Mosaik Virus, disingkat TMV ).
Setelah
itu, pada tahun 1898, Loeffler dan Frosch melaporkan bahwa penyebab penyakit
mulut dan kaki sapi dapat melewati filter yang tidak dapat dilewati bakteri.
Namun demikian, mereka menyimpulkan bahwa patogennya adalah bakteri yang sangat
kecil.
Pendapat
Beijerinck baru terbukti pada tahun 1935, setelah Wendell Meredith Stanley dari
Amerika Serikat berhasil mengkristalkan partikel penyebab penyakit mosaik yang
kini dikenal sebagai virus mosaik tembakau.Virus ini juga merupakan virus yang
pertama kali divisualisasikan dengan mikroskop elektron pada tahun 1939 oleh
ilmuwan Jerman G.A. Kausche, E. Pfankuch, dan H. Ruska.
1. Taksonomi Dan Karakteristik.
Struktur Taksonomi secara umum
adalah sebagai berikut:
a. Order : Virales
b. Family : Viridae
c. Subfamily : Virinae
d. Genus : Virus
e. Species : Virus
Di dalam setiap famili, subdivisi
disebut genera yang biasanya berdasarkan pada perbedaan serologi dan
fisikokimia. Kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan genera bervariasi
dari famili ke famili. Nama genus mempunyai akhiran –virus. Pada 4 famili
(Poxviridae, Herpesviridae, Parvoviridae, Paramyxoviridae), kelompok besar yang
disebut sub famili didefinisikan dengan mempertimbangkan kompleksitas hubungan
di antara anggota virus. Jenis – jenis virus digunakan untuk mengelompokkan
famili virus yang memiliki karakter yang umum. Hanya 1 jenis saat ini yang
telah didefinisikan, yaitu Famili Mononegavirales, meliputi famili Filoviridae,
Paramyxoviridae, dan Rhabdoviridae,. Sejak tahun 1995, The International
Committee on Taxonomy of Viruses telah mengumpulkan lebih dari 4000 virus binatang
dan tumbuhan menjadi 71 famili, 11 subfamili, dan 164 genera, tetapi masih ada
ratusan virus yang masih belum ditemukan, 24 famili virus diantaranya dapat
menginfeksi manusia dan binatang.
2. Dasar Klasifikasi
a. Morfologi virion, meliputi ukuran,
struktur, dan anatomi,
b. Bagian – bagian fisikokimia virion,
meliputi banyaknya molekul, berat jenis, stabilitas pH,stabilisasi suhu dan
tingkat pengaruhnya terhadap agen fisik dan kimiawi, khusunya eter dan
detergen.
c. Bagian – bagian gen virus
d. Bagian – bagian protein virus
e. Replikasi virus
f.
Bagian – bagian antigen
g. Bagian – bagian biologi
Virus terutama diklasifikasikan oleh fenotipik karakteristik, seperti
morfologi , asam nukleat jenis, cara
replikasi, organisme inang , dan jenis penyakit yang menyebabkan.. Saat ini ada
dua skema utama yang digunakan untuk klasifikasi virus: yang ICTV sistem dan
klasifikasi Baltimore sistem, yang menempatkan virus ke dalam salah satu dari
tujuh kelompok.. Mendampingi metode yang luas dari klasifikasi adalah konvensi
penamaan khusus dan pedoman klasifikasi lebih lanjut diatur oleh Komite
Internasional Taksonomi Virus .
Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat dan di luar inangnya menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus menyandi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.
Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksi sel organisme biologis. Virus hanya dapat bereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi sendiri. Dalam sel inang, virus merupakan parasit obligat dan di luar inangnya menjadi tak berdaya. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau kombinasi ketiganya. Genom virus menyandi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.
Virus merupakan organisme subselular
yang karena ukurannya sangat kecil, hanya dapat dilihat dengan menggunakan
mikroskop elektron. Ukurannya lebih kecil daripada bakteri sehingga virus tidak
dapat disaring dengan penyaring bakteri. Virus terkecil berdiameter hanya 20 nm
(lebih kecil daripada ribosom), sedangkan virus terbesar sekalipun sukar
dilihat dengan mikroskop cahaya.
Asam nukleat genom virus dapat
berupa DNA ataupun RNA. Genom virus dapat terdiri dari DNA untai ganda, DNA untai
tunggal, RNA untai ganda, atau RNA untai tunggal. Selain itu, asam nukleat
genom virus dapat berbentuk linear tunggal atau sirkuler. Jumlah gen virus
bervariasi dari empat untuk yang terkecil sampai dengan beberapa ratus untuk
yang terbesar. Bahan genetik kebanyakan virus hewan dan manusia berupa DNA, dan
pada virus tumbuhan kebanyakan adalah RNA yang beruntai tunggal.
Bahan genetik virus diselubungi oleh suatu lapisan pelindung. Protein yang menjadi lapisan pelindung tersebut disebut kapsid. Bergantung pada tipe virusnya, kapsid bisa berbentuk bulat (sferik), heliks, polihedral, atau bentuk yang lebih kompleks dan terdiri atas protein yang disandikan oleh genom virus. Kapsid terbentuk dari banyak subunit protein yang disebut kapsomer.
Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid (biasanya disebut protein nukleokapsid) terikat langsung dengan genom virus. Misalnya, pada virus campak, setiap protein nukleokapsid terhubung dengan enam basa RNA membentuk heliks sepanjang sekitar 1,3 mikrometer. Komposisi kompleks protein dan asam nukleat ini disebut nukleokapsid. Pada virus campak, nukleokapsid ini diselubungi oleh lapisan lipid yang didapatkan dari sel inang, dan glikoprotein yang disandikan oleh virus melekat pada selubung lipid tersebut. Bagian-bagian ini berfungsi dalam pengikatan pada dan pemasukan ke sel inang pada awal infeksi.
Bahan genetik virus diselubungi oleh suatu lapisan pelindung. Protein yang menjadi lapisan pelindung tersebut disebut kapsid. Bergantung pada tipe virusnya, kapsid bisa berbentuk bulat (sferik), heliks, polihedral, atau bentuk yang lebih kompleks dan terdiri atas protein yang disandikan oleh genom virus. Kapsid terbentuk dari banyak subunit protein yang disebut kapsomer.
Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid (biasanya disebut protein nukleokapsid) terikat langsung dengan genom virus. Misalnya, pada virus campak, setiap protein nukleokapsid terhubung dengan enam basa RNA membentuk heliks sepanjang sekitar 1,3 mikrometer. Komposisi kompleks protein dan asam nukleat ini disebut nukleokapsid. Pada virus campak, nukleokapsid ini diselubungi oleh lapisan lipid yang didapatkan dari sel inang, dan glikoprotein yang disandikan oleh virus melekat pada selubung lipid tersebut. Bagian-bagian ini berfungsi dalam pengikatan pada dan pemasukan ke sel inang pada awal infeksi.
Kapsid virus sferik menyelubungi
genom virus secara keseluruhan dan tidak terlalu berikatan dengan asam nukleat
seperti virus heliks. Struktur ini bisa bervariasi dari ukuran 20 nanometer
hingga 400 nanometer dan terdiri atas protein virus yang tersusun dalam bentuk
simetri ikosahedral. Jumlah protein yang dibutuhkan untuk membentuk kapsid
virus sferik ditentukan dengan koefisien T, yaitu sekitar 60t protein. Sebagai
contoh, virus hepatitis B memiliki angka T=4, butuh 240 protein untuk membentuk
kapsid. Seperti virus bentuk heliks, kapsid sebagian jenis virus sferik dapat
diselubungi lapisan lipid, namun biasanya protein kapsid sendiri langsung
terlibat dalam penginfeksian sel.
Seperti yang telah dijelaskan pada virus campak, beberapa jenis virus memiliki unsur tambahan yang membantunya menginfeksi inang. Virus pada hewan memiliki selubung virus, yaitu membran menyelubungi kapsid. Selubung ini mengandung fosfolipid dan protein dari sel inang, tetapi juga mengandung protein dan glikoprotein yang berasal dari virus. Selain protein selubung dan protein kapsid, virus juga membawa beberapa molekul enzim di dalam kapsidnya. Ada pula beberapa jenis bakteriofag yang memiliki ekor protein yang melekat pada “kepala” kapsid. Serabut-serabut ekor tersebut digunakan oleh fag untuk menempel pada suatu bakteri. Partikel lengkap virus disebut virion. Virion berfungsi sebagai alat transportasi gen, sedangkan komponen selubung dan kapsid bertanggung jawab dalam mekanisme penginfeksian sel inang.
Seperti yang telah dijelaskan pada virus campak, beberapa jenis virus memiliki unsur tambahan yang membantunya menginfeksi inang. Virus pada hewan memiliki selubung virus, yaitu membran menyelubungi kapsid. Selubung ini mengandung fosfolipid dan protein dari sel inang, tetapi juga mengandung protein dan glikoprotein yang berasal dari virus. Selain protein selubung dan protein kapsid, virus juga membawa beberapa molekul enzim di dalam kapsidnya. Ada pula beberapa jenis bakteriofag yang memiliki ekor protein yang melekat pada “kepala” kapsid. Serabut-serabut ekor tersebut digunakan oleh fag untuk menempel pada suatu bakteri. Partikel lengkap virus disebut virion. Virion berfungsi sebagai alat transportasi gen, sedangkan komponen selubung dan kapsid bertanggung jawab dalam mekanisme penginfeksian sel inang.
2.2
Sejarah Penemuan Bakteri
Bakteri,
dari kata Latin bacterium (jamak, bacteria), adalah kelompok besar Prokariota,
selain Archaea, yang berukuran sangat kecil serta memiliki peran besar dalam kehidupan
di bumi. Mereka sangatlah kecil (mikroskopik) dan kebanyakan uniselular (bersel
tunggal), dengan struktur sel yang relatif sederhana: tanpa nukleus/inti sel,
kerangka sel, dan organel-organel lain seperti mitokondria dan kloroplas.
Struktur sel mereka dijelaskan lebih lanjut dalam artikel mengenai prokariota,
karena bakteri merupakan prokariota, untuk membedakan mereka dengan organisme
yang memiliki sel lebih kompleks, yang disebut eukariota. Istilah “bakteri”
telah diterapkan untuk semua prokariota atau untuk sebagian besarnya,
tergantung pada gagasan mengenai hubungan mereka.
Bakteri
dianggap sebagai organisme paling melimpah di bumi. Mereka tersebar dan
menghuni hampir semua tempat: di tanah, air, udara, atau dalam simbiosis dengan
organisme lain. Banyak patogen merupakan bakteri. Kebanyakan dari mereka kecil,
biasanya hanya berukuran 0,5-5 μm, meski ada jenis dapat menjangkau 0,3 mm
dalam diameter (Thiomargarita). Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti
sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda
(peptidoglikan). Banyak bakteri yang bergerak menggunakan flagela, yang berbeda
dalam strukturnya dari flagela kelompok lain
Keberadaan
bakteri pertama kali ditemukan oleh Antony van Leeuwenhoek pada 1674 dengan
menggunakan mikroskop buatannya sendiri. Istilah bacterium diperkenalkan di
kemudian hari oleh Ehrenberg pada tahun 1828, diambil dari kata Yunani
βακτηριον (bakterion) yang memiliki arti “batang-batang kecil”. Perkembangan
pengetahuan tentang bakteri berkembang setelah serangkaian percobaan oleh Louis
Pasteur, yang melahirkan cabang ilmu mikrobiologi. Bakteriologi adalah cabang
mikrobiologi yang mempelajari biologi bakteri.
1. Taksonomi Dan Karakteristik
Dasar
klasifikasi sebagian besar didasarkan pada morfologi dan bentuk metabolisme
komposisi asam nukleat seperti perbandingan dari guanin dan citosin dari DNA
baru-baru ini juga ditentukan dalam taksonomi bakteri. Bargeys Manual dalam
bukunya “Determinative Bacteriology” mengklasifikasikan bakteri ke dalam 35
kelompok bakteri. Kelompok-kelompok tersebut digambarkan berdasarkan bentuk,
struktur sel, kemampuan bergerak dan kemampuan metabolisme. Bakteri mempunyai
beberapa bentuk yaitu batang, bulat, spiral. Ukuran panjang bakteri dari 0,1 mm
sampai dengan > 500 mm.
Dalam tumbuh kembang bakteri baik melalui peningkatan jumlah maupun penambahan jumlah sel sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni seperti ph, suhu temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia dan zat sisa metabolisme.
Dalam tumbuh kembang bakteri baik melalui peningkatan jumlah maupun penambahan jumlah sel sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni seperti ph, suhu temperatur, kandungan garam, sumber nutrisi, zat kimia dan zat sisa metabolisme.
Ciri-Ciri Bakteri :
a. Umumnya tidak berklorofil
b. Hidupnya bebas atau sebagai parasit
/ pathogen
c. Bentuknya beraneka ragam
d. Memiliki ukuran yang kecil rata-rata
1 s/d 5 mikron
e. Tidak mempunyai membran inti sel /
prokariot
f.
Kebanyakan Uniseluler (memiliki satu sel)
g. Bakteri di lingkungan ekstrim
dinding sel tidak mengandung peptidoglikan, sedangkan yang kosmopolit
mengandung peptidoglikan
2.3
Sejarah Penemuan, taksonomi dan
karakteristik Actinomyces
Actinomyces
dari Yunani “actino” yang berarti mukas dan jamur, adalah genus dari Actinobacteria
kelas bakteri .. Mereka semua Gram-positif dan ditandai dengan menyebar
berdekatan, dan granulomatous peradangan supuratif, dan pembentukan abses
multiple dan saluran sinus yang mungkin belerang butiran debit Mereka. “dapat
berupa anaerob atau anaerob fakultatif . Actinomyces spesies tidak membentuk
endospora , dan , sedangkan individu bakteri berbentuk batang, morfologi
Actinomyces membentuk koloni jamur -seperti jaringan bercabang dari hyphae .
Aktinomikosis pada manusia pertama kali dilaporkan oleh Lebert tahun 1857 dan
pada tahun 1891 Wolf dan Israel berhasil membiakkan penyakit ini secara anaerob
yaitu Actinomyces israelii. Aktinomikosis adalah suatu penyakit jamur sistemik
yang disebabkan oleh jamur yang temasuk actinomyces anaerob yaitu suatu parasit
obligat (sejati) bagi manusia yaitu Actinomices bovis = Actinomyces israelii.
2.4
Sejarah Penemuan Jamur
Jamur
dalam bahasa Indonesia sehari-hari mencakup beberapa hal yang agak berkaitan.
Arti pertama adalah semua anggota kerajaan Fungi dan beberapa organisme yang
pernah dianggap berkaitan, seperti jamur lendir dan “jamur belah” (Bacteria).
Arti kedua berkaitan dengan sanitasi dan menjadi sinonim bagi kapang. Arti
terakhir, yang akan dibahas dalam artikel ini, adalah tubuh buah yang lunak
atau tebal dari sekelompok anggota Fungi (terutama Basidiomycetes) yang
biasanya muncul dari permukaan tanah atau substrat tumbuhnya.
Penemuan
jamur dimulai Setelah perang, Flemming secara aktif mencari agen anti-bakteri
setelah menyaksikan banyak kematian pada prajurit saat perang, akibat luka yang
terinfeksi.Sementara,penggunaan antiseptik malah membunuh sistem pertahanan
tubuh pasien, lebih efektif dibanding membunuh bakteri.Dalam sebuah artikel
yang dipublikasikan di The Lancet selama perang Dunia I, Fleming menceritakan
penelitiannya.Dia menjelaskan,mengapa antiseptik lebih berbahaya bagi tentara
di banding infeksi.
Tahun
1928,Fleming menyelidiki sifat sifat stahylococci.Dia memiliki laboratorium
yang sering kali berantakan, tidak terawat. Pada 3 September 1928,setelah
berlibur, Fleming kembali ke laboratorium.Sebelum meninggalkan laboratorium dia
melakukan kultur staphylococci di sebuah bangku di sudut laboratorium.Saat
kembali, Fleming melihat satu kultur bakteri telah terkontaminasi dengan
jamur.Koloni staphylococci yang mengelilinginya, sudah dihancurkan,sementara
koloni yang jauh dari jamur tetap normal.
Fleming menunjukkan kultur yang terkontaminasi itu pada bekas asistennya,Merlin Price, yang mengatakan ” itulah cara Anda menemukan lisozim”. Fleming mengidentifikasi jamur yang telah mencemari kulturnya berasal dari genus Penicillium, dan setelah beberapa bulan menyebutnya sebagai “jus jamur”. Nama penisilin dirilis pada 7 Maret 1929.
Ia menyelidiki efek anti bakteri penisilin pada banyak organisme.Ia menemukan, antibiotik ini efektif untuk staphylococci, dan patogen gram positif lain yang menyebabkan demam berdarah, radang paru paru, meningitis dan difteri,tetapi tidak tipus demam atau demam paratipus,yang disebabkan oleh bakteri gram negatif.Penisilin juga efektif untuk neisseria gonorrhoea, yang menyebabkan gonore walau bakteri ini adalah gram negatif.
Fleming mempublikasikan temuannya pada tahun 1929 di Britishjournal of Experimental Pathology.Tetapi, hanya segelintir orang yang memberi perhatian.Fleming meneruskan penyelidikan,tapi budidaya penicillium cukup sulit.Dan setelah tumbuh, sulit untuk mengisolasi agen antibiotik.Awalnya, Fleming beranggapan bahwa penisilin bukan hal penting dalam mengobati infeksi.Dia menjadi yakin bahwa penisilin tidak akan bertahan cukup lama di dalam tubuh manusia ( in vivo), untuk membunuh bakteri secara efektif.Banyaknya penelitian yang tidak bisa di simpulkan, mungkin karena penisilin lebih banyak di gunakan sebagai antiseptik.Tetapi pada tahun 1930 an, pemelitian Fleming menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan.Ia terus melanjutkan penelitiannya samapi 1940.Namun apabila ada yang bertanya, “Sejak kapan dunia ini ada jamur?” Jawabannya sangat sederhana yaitu, “Sejak Tuhan Yang Maha Esa ini menciptakan dunia (bumi) sudah ada jamur.)
Fleming menunjukkan kultur yang terkontaminasi itu pada bekas asistennya,Merlin Price, yang mengatakan ” itulah cara Anda menemukan lisozim”. Fleming mengidentifikasi jamur yang telah mencemari kulturnya berasal dari genus Penicillium, dan setelah beberapa bulan menyebutnya sebagai “jus jamur”. Nama penisilin dirilis pada 7 Maret 1929.
Ia menyelidiki efek anti bakteri penisilin pada banyak organisme.Ia menemukan, antibiotik ini efektif untuk staphylococci, dan patogen gram positif lain yang menyebabkan demam berdarah, radang paru paru, meningitis dan difteri,tetapi tidak tipus demam atau demam paratipus,yang disebabkan oleh bakteri gram negatif.Penisilin juga efektif untuk neisseria gonorrhoea, yang menyebabkan gonore walau bakteri ini adalah gram negatif.
Fleming mempublikasikan temuannya pada tahun 1929 di Britishjournal of Experimental Pathology.Tetapi, hanya segelintir orang yang memberi perhatian.Fleming meneruskan penyelidikan,tapi budidaya penicillium cukup sulit.Dan setelah tumbuh, sulit untuk mengisolasi agen antibiotik.Awalnya, Fleming beranggapan bahwa penisilin bukan hal penting dalam mengobati infeksi.Dia menjadi yakin bahwa penisilin tidak akan bertahan cukup lama di dalam tubuh manusia ( in vivo), untuk membunuh bakteri secara efektif.Banyaknya penelitian yang tidak bisa di simpulkan, mungkin karena penisilin lebih banyak di gunakan sebagai antiseptik.Tetapi pada tahun 1930 an, pemelitian Fleming menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan.Ia terus melanjutkan penelitiannya samapi 1940.Namun apabila ada yang bertanya, “Sejak kapan dunia ini ada jamur?” Jawabannya sangat sederhana yaitu, “Sejak Tuhan Yang Maha Esa ini menciptakan dunia (bumi) sudah ada jamur.)
1. Taksonomi Dan Karakteristik
Jamur
merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof,
tipe sel: sel eukarotik. Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler. Tubuhnya
terdiri dari benang-benang yang disebut hifa, hifa dapat membentuk anyaman
bercabang-cabang yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara
vegetatif ada pula dengan cara generatif. Dalam klasifikasi lima kingdom, jamur
dapat dibedakan menjadi divisi Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota, dan Deuteromycota.
Myxomycota danOomycota termasuk dalam kingdom Protista.
Nama Zygomycota berasal dari jenis perbanyakan diri seksual, terutama pada pembentukan zigospora. Zigospora terjadi karena peleburan dua gametangium yang menghubungkan kedua hifa induk seperti jembatan penghubung. Ciri-ciri jamur yang termasuk dalam divisi Zygomycota adalah:
Nama Zygomycota berasal dari jenis perbanyakan diri seksual, terutama pada pembentukan zigospora. Zigospora terjadi karena peleburan dua gametangium yang menghubungkan kedua hifa induk seperti jembatan penghubung. Ciri-ciri jamur yang termasuk dalam divisi Zygomycota adalah:
a. biasa hidup sebagai saprofit;
b. miselium bercabang banyak dan hifa
tidak bersekat sehingga terlihat seperti pipa atau buluh;
c. dinding sel terdiri atas kitin,
tidak memiliki zoospora sehingga sporanya merupakan sel-sel yang berdinding.
Spora inilah yang tersebar ke mana-mana;
d. perkembangbiakan secara aseksual
dilakukan dengan spora yang berasal dari sporangium yang telah pecah. Beberapa
hifa akan tumbuh dan ujungnya membentuk sporangium. Sporangium berisi spora.
Spora yang terhambur inilah yang akan tumbuh menjadi miselium baru;
e. Perkembangbiakan secara seksual
dilakukan dengan peleburan dua hifa, yaitu hifa betina dan hifa jantan. Hifa
jantan adalah hifa yang memberikan isi selnya. Hifa betina adalah hifa yang
menerima isi selnya. Perkembangbiakan ini dilakukan dengan gametangium yang
sama bentuknya (hifa jantan dan hifa betina) yang mengandung banyak inti.
Selanjutnya, gametangium mengadakan kopulasi.
Beberapa contoh jamur yang termasuk dalam divisi Zygomycota adalah sebagai berikut.
Beberapa contoh jamur yang termasuk dalam divisi Zygomycota adalah sebagai berikut.
1) Murcor mucedo, hidup sebagai
saprofit pada sisa tumbuhan dan hewan, misalnya, kotoran hewan dan roti busuk.
Dari miselium pada subtratnya muncul benang-benang tegak dengan sporangium pada
ujungnya. Sporangium ini berisi spora. Jika sporangium sudah matang, akan pecah
sehingga spora akan tersebar keluar. Spora akan tumbuh menjadi miselium baru.
Perkembangbiakan secara seksual dilakukan dengan gametangium.
2) Murcor javanicus, berperan dalam
pembuatan tapai karena jamur ini terdapat dalam ragi tapai. Jamur ini termasuk
makhluk hidup yang mempunyai daya untuk mengubah tepung menjadi gula.
3) Rhizopus sp., yang terdapat pada
ragi tempe ini mempunyai daya untuk memecah putih telur dan lemak. Oleh karena
itu, ia berperan dalam pembuatan tempe dan oncom putih. Jamur tempe mempunyai
hifa yang berguna untuk menyerap makanan dari kacang kedelai. Dalam waktu dua
sampai tiga hari, kumpulan hifa tersebut akan membungkus kedelai yang kemudian
disebut tempe. Selain pada tempe, jamur ini juga dapat tumbuh di tempat-tempat
yang lembap.
Kita telah mengenal jamur dalam kehidupan sehari-hari
meskipun tidak sebaik tumbuhan lainnya. Hal itu disebabkan karena jamur hanya
tumbuh pada waktu tertentu, pada kondisi tertentu yang mendukung, dan lama
hidupnya terbatas. Sebagai contoh, jamur banyak muncul pada musim hujan di
kayu-kayu lapuk, serasah, maupun tumpukan jerami. namun, jamur ini segera mati
setelah musim kemarau tiba. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, manusia telah mampu membudidayakan jamur dalam medium buatan,
misalnya jamur merang, jamur tiram, dan jamur kuping.
2.5
CIRI-CIRI UMUM JAMUR
Jamur merupakan kelompok organisme
eukariotik yang membentuk dunia jamur atau regnum fungi. Jamur pada umumnya
multiseluler (bersel banyak). Ciri-ciri jamur berbeda dengan organisme lainnya
dalam hal cara makan, struktur tubuh, pertumbuhan, dan reproduksinya.
a. Struktur Tubuh
Struktur tubuh jamur tergantung pada
jenisnya. Ada jamur yang satu sel, misalnyo khamir, ada pula jamur yang
multiseluler membentuk tubuh buah besar yang ukurannya mencapai satu meter,
contohnyojamur kayu. Tubuh jamur tersusun dari komponen dasar yang disebut
hifa. Hifa membentuk jaringan yang disebut miselium. Miselium menyusun
jalinan-jalinan semu menjadi tubuh buah.
Gbr. Hifa yang membentuk miselium
dan tubuh buah
Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik. Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.
Hifa adalah struktur menyerupai benang yang tersusun dari dinding berbentuk pipa. Dinding ini menyelubungi membran plasma dan sitoplasma hifa. Sitoplasmanya mengandung organel eukariotik. Kebanyakan hifa dibatasi oleh dinding melintang atau septa. Septa mempunyai pori besar yang cukup untuk dilewati ribosom, mitokondria, dan kadangkala inti sel yang mengalir dari sel ke sel. Akan tetapi, adapula hifa yang tidak bersepta atau hifa senositik. Struktur hifa senositik dihasilkan oleh pembelahan inti sel berkali-kali yang tidak diikuti dengan pembelahan sitoplasma. Hifa pada jamur yang bersifat parasit biasanya mengalami modifikasi menjadi haustoria yang merupakan organ penyerap makanan dari substrat; haustoria dapat menembus jaringan substrat.
b. Cara Makan dan Habitat Jamur
Semua jenis jamur bersifat
heterotrof. Namun, berbeda dengan organisme lainnya, jamur tidak memangsa dan
mencernakan makanan. Clntuk memperoleh makanan, jamur menyerap zat organik dari
lingkungan melalui hifa dan miseliumnya, kemudian menyimpannya dalam bentuk
glikogen. Oleh karena jamur merupakan konsumen maka jamur bergantung pada
substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia
lainnya. Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk
heterotrof, jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau
saprofit.
c. Parasit obligat
merupakan sifat jamur yang hanya
dapat hidup pada inangnya, sedangkan di luar inangnya tidak dapat hidup.
Misalnya, Pneumonia carinii (khamir yang menginfeksi paru-paru penderita AIDS).
d. Parasit fakultatif
adalah jamur yang bersifat parasit
jika mendapatkan inang yang sesuai, tetapi bersifat saprofit jika tidak
mendapatkan inang yang cocok.
e. Saprofit
merupakan jamur pelapuk dan pengubah
susunan zat organik yang mati. Jamur saprofit menyerap makanannya dari organisme
yang telah mati seperti kayu tumbang dan buah jatuh. Sebagian besar jamur
saprofit mengeluar-kan enzim hidrolase pada substrat makanan untuk
mendekomposisi molekul kompleks menjadi molekul sederhana sehingga mudah
diserap oleh hifa. Selain itu, hifa dapat juga langsung menyerap bahanbahan
organik dalam bentuk sederhana yang dikeluarkan oleh inangnya.
Cara hidup jamur lainnya adalah
melakukan simbiosis mutualisme. Jamur yang hidup bersimbiosis, selain menyerap
makanan dari organisme lain juga menghasilkan zat tertentu yang bermanfaat bagi
simbionnya. Simbiosis mutualisme jamur dengan tanaman dapat dilihat pada
mikoriza, yaitu jamur yang hidup di akar tanaman kacang-kacangan atau pada
liken.
Jamur berhabitat pada bermacam-macam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.
Jamur berhabitat pada bermacam-macam lingkungan dan berasosiasi dengan banyak organisme. Meskipun kebanyakan hidup di darat, beberapa jamur ada yang hidup di air dan berasosiasi dengan organisme air. Jamur yang hidup di air biasanya bersifat parasit atau saprofit, dan kebanyakan dari kelas Oomycetes.
2.6
Pertumbuhan dan Reproduksi
Reproduksi jamur dapat secara
seksual (generatif) dan aseksual (vegetatif). Secara aseksual, jamur
menghasilkan spora. Spora jamur berbeda-beda bentuk dan ukurannya dan biasanya
uniseluler, tetapi adapula yang multiseluler. Apabila kondisi habitat sesuai,
jamur memperbanyak diri dengan memproduksi sejumlah besar spora aseksual. Spora
aseksual dapat terbawa air atau angin. Bila mendapatkan tempat yang cocok, maka
spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi jamur dewasa.
Reproduksi secara seksual pada jamur
melalui kontak gametangium dan konjugasi. Kontak gametangium mengakibatkan
terjadinya singami, yaitu persatuan sel dari dua individu. Singami terjadi
dalam dua tahap, tahap pertama adalah plasmogami (peleburan sitoplasma) dan
tahap kedua adalah kariogami (peleburan inti). Setelah plasmogami terjadi, inti
sel dari masing-masing induk bersatu tetapi tidak melebur dan membentuk
dikarion. Pasangan inti dalam sel dikarion atau miselium akan membelah dalam
waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun. Akhimya inti sel melebur membentuk
sel diploid yang segera melakukan pembelahan meiosis.
BAB III
KESIMPULAN
3.1
Kesimpulan
a. Berdasarkan penjelasn diatas maka
dapat disimpulkan sebagai berikut:
Mikroba adalah sebagai ilmu yang mempelajari tentang organisme mikroskopis. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani, mikros = kecil, bios = hidup dan logos = ilmu. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di laut, atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. Sebagai makhluk hidup pertama di bumi, mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua makhluk hidup.
Mikroba adalah sebagai ilmu yang mempelajari tentang organisme mikroskopis. Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani, mikros = kecil, bios = hidup dan logos = ilmu. Ilmuwan menyimpulkan bahwa mikroorganisme sudah dikenal lebih kurang 4 juta tahun yang lalu dari senyawa organik kompleks yang terdapat di laut, atau mungkin dari gumpalan awan yang sangat besar yang mengelilingi bumi. Sebagai makhluk hidup pertama di bumi, mikroorganisme diduga merupakan nenek moyang dari semua makhluk hidup.
b. Awal perkembangan ilmu mikrobiologi
pada pertengahan abad 19 oleh beberapa ilmuwan dan telah membuktikan bahwa
mikroorganisme berasal dari mikroorganisme sebelumnya bukan dari tanaman
ataupun hewan yang membusuk. Selanjutnya ilmuwan membuktikan bahwa
mikroorganisme bukan berasal dari proses fermentasi tetapi merupakan penyebab
proses fermentasi, misalnya buah anggur menjadi minuman yang mengandung
alkohol. Ilmuwan juga menemukan bahwa mikroba tertentu menyebabkan penyakit
tertentu. Pengetahuan ini merupakan awal pengenalan dan pemahaman akan
pentingnya mikroorganisme bagi kesehatan dan kesejahteraan manusia. Awal abad
20 ahli mikrobiologi telah meneliti bahwa mikroorganisme mampu menyebabkan
berbagai macam perubahan kimia baik melalui penguraian maupun sintesis senyawa
organik yang baru.
c. Karakteristik dan taksonomi
masing-masing mikroorganisme memilki perbedaan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/821/1/biologi-nunuk.pdf. Diakses Tanggal 25 Februari
Anonim. 2011. http://educorolla2.blogspot.com/2009/03/sejarah-penemuan-virus.html. Diakses Tanggal 25 Februari
Anonim. 2011. http://filzahazny.wordpress.com/2008/10/31/klasifikasi-virus/. Diakses Tanggal 25 Februari
Anonim. 2011. http://en.wikipedia.org/wiki/Virus_classification. Diakses Tanggal 25 Februari Anonim. 2011.
http://usupress.usu.ac.id/files/Mikrobiologi%20Umum_Final_Minasari%20&%20Lista%20Unita%20Rasyid_bab%201.pdf. Diakses Tanggal 25 Februari

Komentar
Posting Komentar