MAKALAH RUBBER DAM
RUBBER DAM
DISUSUN OLEH:
POLITEKNIK KESEHATAN
TANJUNGKARANG
JURUSAN RPL KEPERAWATAN
GIGI
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya sehingga kami dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul “RUBBER
DAM” selesai dengan tepat waktu.
Harapan kami semoga makalah ini membantu
menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat
memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Kami
sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menyempurnakan
makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Bandar Lampung, Juni 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang................................................................................ 1
I.2 Rumusan Masalah........................................................................... 1
I.3 Tujuan.............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1
Pengertian (Sera Ayu Wulandari, 11-048).................................... 3
2.2 Isolator Karet untuk Mengisolasi
Daerah Kerja (Reza Yandi Medry, 11-050) 4
2.3 Pemilihan Bahan............................................................................ 4
2.4 Pembuatan Lubang (Fitriyani,
11-056).......................................... 7
2.5 Persiapan (Evy Christiana,
11-058)................................................ 8
2.6
Pemasangan (Dina Aulya Amli, 11-060)...................................... 8
2.7 Stabilisasi Karet (Dwiky Zulya,
11-062)....................................... 9
2.8 Membuka Isolator (Diang Fitri,
11-064)........................................ 10
2.9 Membuat Klem .............................................................................. 10
2.10 Pemasangan Klem Klas V (Silvia
Desrianita, 11-066)................ 10
2.11 Isolasi Jembatan Cekat (Dinda Rosmaulisa,
11-068)................... 12
2.12 Isolasi dengan Cara Bedah (Nadya
Pratiwi, 11-070)................... 13
PENUTUP
3.1
Kesimpulan..................................................................................... 14
3.2
Saran............................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Perawatan
konservasi gigi adalah suatu tindakan perbaikan yang dilakukan pada gigi untuk
mengembalikan bentuk struktur gigi. Perawatan konservasi gigi tersebut terdiri
atas perawatan operative dentistry
dan perawatan endodontik. Dalam melakukan perawatan operative dentistry dan endodontik, seorang dokter gigi harus bisa
mempertahankan daerah kerja karena banyak sekali masalah -masalah yang
ditemukan oleh dokter gigi. Gigi yang dibasahi oleh saliva, lidah yang
menggangu penglihatan, bahan kimia dan instrumen yang tertelan, gingival dan
mukosa yang berdarah, tuntutan hukum yang terjadi di berbagai daerah, akibat
tindakan dokter gigi yang kurang berhati - hati merupakan beberapa masalah yang
sering dihadapi dokter gigi dan harus diatasi, sebelum melakukan perawatan
dengan teliti dan tepat. Agar diperoleh daerah kerja yang bersih dan kering
serta memberikan banyak keuntungan bagi pasien yang dirawat, dokter gigi dan
memperkecil kerugian yang dapat terjadi pada waktu dokter gigi bekerja (Baum,
Lund & Philips, 1997 ; Pace, 2006 ; Torabinedjad & Walton, 1997).
Salah satu metode
modern dapat dipergunakan oleh dokter gigi untuk mengisolasi daerah kerja
antara lain, mempergunakan rubber dam atau nama lain isolator karet ( bendungan
karet ). Alat ini diperkenalkan oleh Standford Christie Barnum, seorang dokter
gigi di New York pada abad kesembilan belas tahun1863. Penemuan tersebut
didukung oleh Dr. C. E. Francis dengan memberitahukan kepada teman sejawat satu
profesinya untuk belajar.
I.2
Rumusan Masalah
1. Apa
itu pengertian isolator karet?
2. Bagaimana
isolator karet untuk mengisolasi daerah kerja?
3. Apa
saja pemilihan bahan untuk isolasi daerah kerja?
4. Bagaimana
pembuatan lubang pada isolator karet?
5. Apa
saja persiapan untuk mengisolasi daerah kerja?
6. Bagaimana
cara pemasangan isolator karet?
7. Bagaimana
stabilisasi karet?
8. Bagaimana
cara membuka isolator?
9. Bagaimana
cara membuat klem?
10. Bagaimana
cara pemasangan klem klas V?
11. Apa
itu isolasi jembatan cekat?
12. Bagaimana
isolasi dengan cara bedah?
I.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa itu pengertian isolator karet.
2. Untuk
mengetahui bagaimana isolator karet untuk mengisolasi daerah kerja.
3. Untuk
mengetahui apa saja pemilihan bahan untuk isolasi daerah kerja.
4. Untuk
mengetahui bagaimana pembuatan lubang pada isolator karet.
5. Untuk
mengetahui apa saja persiapan untuk mengisolasi daerah kerja.
6. Untuk
mengetahui bagaimana cara pemasangan isolator karet.
7. Untuk
mengetahui bagaimana stabilisasi karet.
8. Untuk
mengetahui bagaimana cara membuka isolator.
9. Untuk
mengetahui bagaimana cara membuat klem.
10. Untuk
mengetahui bagaimana cara pemasangan klem klas V.
11. Untuk
mengetahui apa itu isolasi jembatan cekat.
12. Untuk
mengetahui bagaimana isolasi dengan cara bedah.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Pengertian (Sera Ayu Wulandari, 11-048)
Isolasi daerah
kerja merupakan suatu keharusan. Gigi yang dibasahi saliva, lidah yang
mengganggu pengelihatan dan ginggiva
yang berdarah adalah sedikit dari masalah masalah yang harus diatasi sebelum
kerja yang di teliti dan tepat dapat dilakukan.
Beberapa metode dapat digunakan untuk
mengisolasi daerah kerja :
·
Evakuasi kecepatan tinggi
(HVE)
·
Saliva ejektor
·
Gulungan kapas dan Isolator karet
Saliva
ejektor dan evakuator keceptan tinggi memiliki perbedaan :
|
Perbedaan
|
SALIVA EJEKTOR
|
EVAKUATOR KECEPATAN TINGGI
|
|
Diameter 4mm
|
Diameter 10mm
|
|
|
Untuk menghisap saliva yang tertumpuk didasar mulut
|
Untuk menyerap semua air dan debris dari daerah kerja
|
|
|
Dibiarkan tergantung didasar mulut
|
Dioperasikan oleh asisten dokter gigi
|
Ujung
saliva ejektor adalah bagian yang paling kritis karena terus berada didasar
mulut, dibawah tekanan negatif yang konstan dan dapat menarik jaringan lunak
kedalam orifisnya sehingga menimbulakn lesi yang jelek. Biasakan memiriksa
ejektor untuk memastikan tidak terjadinya penutupan pada ujung ejektor,
terutama menghilangkan respon respon sensori didasar mulut pasien saat melkukan
anastesi lokal.
Gulungan
kapas untuk menyerap saliva adalah cara yang cukup efektif dalam menghasilkan
isolasi jangka pendek, karena biasanya kapas harus sering diganti karena
gulungan kapas yang sudah dipenuhi oleh saliva.
2.2
Isolator Karet untuk Mengisolasi Daerah Kerja (Reza Yandi Medry, 11-050)
Lembaran karet ini
dengan gigi yang menonjol melalui lubang pada lembaran itu memberikan isolasi
yang positif,dan jangka panjang pada gigi-gigi yang perlu di rawat.
Keuntungan pemakaian isolator karet
ini adalah:
a. Memberikan
isolasi gigi yang sempurna dari saliva dan darah.
b. Mencegah
tertelannya instrumen endodontik yang digunakan.
c. Daerah
kerja kering dan jelas serta mudah didesenfeksi.
d. Melindungi
gusi, lidah dan pipi dari trauma iatrogenic (akibat tindakan operasi).
e. Mempersingkat
waktu perawatan yang dilakukan dokter gigi.
f.
Proteksi pasien dan
operator selama bekerja.
Sedangkan kerugiannya adalah:
a. Pasien
masih merasakan sensitif atau rasa nyeri setelah pemakaian rubber dam.
b. Membutuhkan
biaya perawatan yang besar dan waktu aplikasi yang lama.
c. Mempersulit
foto rontgen.
d. Dapat
terjadi trauma pada papilla gingival.
2.3
Pemilihan Bahan
a. Isolator
Karet ( Rubber Dam )
Bahan ini harus
yang baru.setelah dalam 2-3 tahun dalam rak, isolator mudah berubah dan mudah
koyak bila tertarik di atas gigi. Karena warnanya kontras dengan warna gigi
yang putih, di pilih warna yang gelap karena lebih efektif. Ukuran standar
untuk anak-anak adalah 5x5 inci dan untuk dewasa adalah 6x6 inci.
Isolator
karet tersedia dalam berbagai ketebalan
: tipis (0,15 mm), sedang (0,20 mm), tebal (0,25 mm), ekstra tebal (0,30 mm),
khusus ekstra tebal (0,35 mm). Juga tersedia dalam berbagai warna : hijau dan
biru. Keuntungan isolator karet yang tipis adalah mudah di pasang dan memberikan
rasa nyaman pada pasien.sedangkan keuntungan isolator karet tebal adalah
kemampuannya menarik jaringan lunak dan daya tahannya terhadap goresan bur
gigi.
Walaupun kesukaan
individu berbeda sesuai dengan lokasi dan pemakaian tiap tipe,ketebalan medium
dianjurkan untuk gigi molar,tebal (atau ekstra tebal)untuk gigi-gigi anterior
dan premolar
b.Klem
(Helsi Yuliastri, 11-052)
Penjangkaran karet
pada ujung distalnya dilakukan dengan klem.Bahan dasar untuk klem adalah dua
jaw,dan 4prong,busur,lubang-lubang dan sayap,klem berbeda mengenai prong mesial
dan distalnya tergantung pada keliling eksternal dan bentuk gigi.keempat prong
harus memegang gigi dengan tepat pada keempat sudutnya.Bila prong mesial dan
distal ditutup,maka menggenggam hanya permukaan bukal dan lingual gigi bila
berjauhan akan tergantung bebs,membuat logam penghubung mencekeram gigi melalui
kontak tangensial.keadaan terakhir ini lebih buruk disbanding yang sebelumnya
karena klem cenderung terdorong kebelakang dan kedepan,mengikis sementum lunak
dariakar dan mengenai jaringan lunak gingiva.
Rasio dan proporsi
ditentukan oleh mata hati operator ketika ia memilih klem untuk gigi
anterior,premolar atau molar.diikuti dengan mencoba mengepaskan klem
kegigi.dengan melalui percobaan ini klem yang diinginkan kemudian dipilih
.Busur dari klem karena terbuat dari
baja pegas yang dipanaskan,lebih berat dan lebih kasar untuk klem
molar,sedangkan busur dari klem untuk gigi anterior dan premolar yang lebih
kecil adalah lebih halus.
Gigi yang erupsi sebagian
sering kali sulit dipegang ,sehingga membutuhkan klem dengan prong inverted
.Lubang-lubang dalam suatu klem harus sesuai dengan paruh dari tang
klem.seringkali lubang-lubang tidak sesuai dengan paruh tang tersebut.paruh
dari beberapa tang mungkin cukup kecil sehingga bisa masuk kelubang klem tetapi
terlalu besar untuk mengeluarkan klem sesudah dipasang kegigi,pabrik klem da
tang tidak terlalu teliti dalam control kualitas mengenai hal ini,dan
modifikasi oleh dokter gigi mungkin
diprlukan untuk membuatnya dapat digunakan.
Suatu klem dapat
memiliki 4sayap proyeksi,2di lateral dan 2 dianterior ,karena ditunjukan untk
menahan karet agar tidak menutupi daerah kerja ,sayap-sayap ini seringkali
menghalangi penempatan penempatan retainer matriks dan instrument-instrumen
lainnya ketika bekerja.pda tiap tingkatan,mahasiswa didorong untuk mengunakan
isolator karet sesering mungkin,tiap pemakaian memiliki pengetahuan menyeluruh
mengenai pemakaiannya,dapat dipilih klem yang tepat an dipasang karet dengan
terampil.latihan adalah penting keterampilan sebagaidokter gigi
operatif,pertama kali haruslah berupa terampil dalam memasang isolator karet.
c. Pelumas
Isolator karet
lebih mudah dipasang bila digunakan pelumas.bila pelumasnya dapat larut dalam
minyak dan dapat larut dalam air,akan berpenetrasi dan dengan cepat menyebabkan
karet menjadi rusak.sabun cukur adalah pilihan pertama sebagai pelumas.gosok
permukaan batangan abun yang basah,ambil yang hacur dengan jari dan oleskan ke
lubang-lubang pada prmukaan dalam isolator karet tersebut.
d.Handuk
(Reza Andika Putra, 11-054)
Handuk digunakan untuk kenyamanan
pasien.Keringat dan saliva yang keluar mudah di blok oleh handuk untuk
memisahkan isolator dari kulit.
e. Pemegang
Isolator Karet
Isolator katet
harus di tarik umtuk mendapatkan akses yang luas ke rongga mulut. Ada berbagai
type dan desain pemegang isolator karet. Pada dasarnya meliputi, (a).traksi
servikal, dengan strap di sekeliling kepala atau leher atau (b).rangka fasialn
yang menghasilkan tarikan sirkumferensial di sekeliling mulut itu sendiri.
Yang pertama lebih
menguntungkan dari sudut pandang operator karena bisa menarik karet ke belakang
dan memnjaganya tetap setinggi wajah.Traksi servikal memberikan akses yang
lebih besar dan memperbaiki tumpuan jari,karena tangan operator dapat di
letakan lebih dekat ke daerah kerja.Strap kadang\-kadang menggangu pasien
karena potongan rambutnya menjadi rusak.Juga jika metode ini fiksasi strap di
gunakan,lebih sulit menempatkan penyedot kecepatan tinggi dan menggontrol
aliran air selama prosedur pengeboran.
Rangka fasial
lebih mudah serta lebih cepat di pasang dan lebih cepat di tolerir oleh
pasien.Meskipun demikian,rangka memang menghambat pergeraakan operator dan
tidak memberikan keamanan dan pengjangkaran sebanyak type servikal.
Pemakaian salah
satu type tersebut dapat memenuhi kebutuhan operator,dan keduanya harus di
kuasai-rangka untuk kegiatan rutin dan type servikal untuk pemakaian yg sulit
atau kompleks.
2.4
Pembuatan Lubang (Fitriyani, 11-056)
Lubang-lubang
dibuat untuk mempertegas kurvatur rahang dan diberi jarak sesuai dengan jarak
di antara gigi-gigi. Untuk memastikan keseragaman batas-batas karet setelah
pemasangan, 2 tanda utama harus selalu diingat. Pertama, untuk pemasangan
rahang atas, gigi-gigi insisivus harus terletak 1 ici dari batas atas. Kedua,
untuk pemasangan rahang bawah, lubang yang paling posterior sedikit ke kanan
atau ke kiri dari pusat karet.
Keliling dari
rahang juga menentukan lokasi lubang. Tujuan menjarakkan lubang agar karet
dengan mudah menempati tiap gigi tanpa mengkerut. Bila terlalu rapat atau tidak
tepat gigi bisa dimasukkan dalam lubang tetapi karet akan ditarik ke samping,
sehingga memungkinkan saliva keluar.
Buat lubang gigi
dalam jumlah cukup banyak pada pemasangan isolator karet untuk prosedur-prosedur
operatif. Misalnya, pemasangan di anterior harus meliputi sedikitnya 7 gigi.
Gigi yang menonjol keluar melalui karet memberikan akses pada operator, emnarik
bibir, dan memberikan sejumlah gigi anterior kering yang berfungsi sebagai
tempat tumpuan jari. Pemasangan posterior harus mencakup dari M1 atau M2 ke
kaninus di seberangnya. Klem diletakkan satu gigi lebih distal dari gigi yang
sedang dikerjakan.
Pemakaian dan
pemeliharaan yang cermat dari pembuatan lubang tidak boleh diabaikan. Pembuatan
lubang harus diberi minyak, tidak boleh di autoklaf, dan harus disimpan di
tempat yang kering. Di atas segalanya,
operator harus yakin bahwa kon pembuat lubang sebelum ditekan untuk melubangi
karet. Kecerobohan dalam hal ini akan merusak instrument yang mahal ini.
Lubang-lubang harus jelas dan rapi. Lubang dengan sisi yang bergeruntul akan
menyebabkan robeknya karet bila ditarik kuat-kuat.
Dalam memasang
isolator karet, ada tiga langkah yang harus dilakukan : persiapan, pemasangan,
dan stabilisasi.
2.5
Persiapan (Evy Christiana, 11-058)
Penyiapan
bahan-bahan dan inspeksi gigi-gigi adalah hal yang penting.
Peralatan:
1. Peralatan
dasar: kaca mulut, sonde, penjepit kapas, instrument plastic.
2. Pelubang
isolator karet
3. Tang
klem isolator karet
4. Isolator
karet yang telah ditandai untuk dilobangi
5. Pemegang
isolator karet
6. Handuk
isolator karet
7. Dua
potong pita gigi (dental tape) panjang
18 inci
8. Pelumas
karet
9. Saliva
ejector
10. Gunting
11. Klem
R-D
Kalkulus dan
debris lainyya dibersihkan, titik kontak diperiksa dengan meewatkan pita gigi,
dan sudu-sudut tajam dari email yang dapat mengoyakkan isolator karet dibuang.
Nklem yanb akan digunakan telah dicoba ke gigi dan telah diuji untuk memastikan
agar klem tidak lepas. Pita gigi harus dikaitkan ke busur sebagai jaminan agar
klem tidak lepas. Pasien juga diberi ppelumas seperti Borofax ke bibir,
terutama pada sudut bibir.
2.6
Pemasangan (Dina Aulya Amli, 11-060)
Urutan yang dianjurkan :
1. Pemasangan
klem
2. Pemberian
pelumas pada karet
3. Pemasangan
karet ke gigi distal dan klem termasuk semua sayap.
4. Pemasangan
handuk isolator karet.
5. Pemasangan
pemegang. Suatu tanda identifikasi dalam bentuk lubang dibuat pada sudut kanan
bawah darv karet untuk patokan dalam mengorientasikan karet sebelum pemasangan
pemegang.
6. Karet
kemudian di tarik ke gigi seberangnya. Biasanya gigi caninus atau premolar
7. Bekerja
dari gigi ini kebelakang klem, karet ditarik dengan ibu jari pada permukaan
labial dan jari telunjuk pada permukaan lingual. Untuk membantunya, kuku ibu
jari dari tangan lain dapat digunakan.
8. Pita
gigi sekarang digunakan untuk melewatkan karet melalui satu atau dua titik
kontak yang tersisa.
2.7
Stabilisasi Karet (Dwiky Zulya, 11-062)
1) Gunakan
klem isolator karet,tentu saja untuk memegang ujung distal dari karet sekng
paeliling gigi yaling posterior.kadang
perlu menggunakan klem lain untuk menahan karet sekeliling kaninus atau
premolar pertama pada sisi rahang yang berlawanan.ini dapat dicegah dengan
menggunakan sepotong “ pipa karet” yang lebar yang di ambil dari sudut
karet.menahan dan menariknya untuk mendapat sepotong pita gigi dan melewatkannya
melalui titik kontak kaninus dn premolar pertama.tegangan yang dilepaskan akan
memungkinkan karet mengikat kembali dan dengan kuat memeluk gigi pada embrasure
ginggiva untuk mencegah isolator karet lepas dari antara gigi- gigi ( gambar
8-27)
2) Pemeriksaan
pada karet yang mengelilingi gigi yang di klem dapat menunjukan suatu sayap
yang tidak di lingkari oleh karet atau beberapa jaringan gigi distal yang
dimasukan bersama gigi.manipulasi karet dengan jari atau instrumen plastic
dapat dengan mudah membetulkan posisi karet untuk memblokir masuk nya cairan
mulut.
3) Invaginasi
karet di sekeliling leher gigi hanya diperlukan pada daerah yang akan
dirawat.tetapi memasukan karet kedalam sulkus disekeliling semua gigi akan
menghasilkan suatu lapangan kerja yang sangat rapi dan bersih.
4) Pemegang
diperiksa untuk kenyaman pasien dan karet dibawah hidung diperiksa untuk
memastikan pasien dapat bernapas dengan bebas.
5) Dengan
adanya lipatan pada karet,kerutan berlebihan pada isolator yang menutupi dagu
dapat dihilangkan.
6) Banyak
pasien tidak membutuhkan saliva ejektor tetapi bila diperlukan harus diletakan
tanpa menggangu kenyaman pasien sebaik nya melalui lubang didalam isolator
karet (gambar 8-29)lubang tersebut harus dibuat berlawanan dengan daerah kerja
agar tidak mengganggu pemakaian
henpis.sebagai suatu pilihan,ejektor dapat dilewatkan dibawah isolator karet
dan masker muka.
7) Daerah
tersebut harus disiram,difakum,dikeringkan.
2.8
Membuka Isolator (Diang Fitri, 11-064)
Membuka isolator karet relatif
sederhana. Caranya sebagai berikut:
1. Pertama-tama
klem dibuka dan dikesampingkan
2. Dengan
menarik karet ke bukal atau lingual, operator memotong karet pada tiap septum
dengan gunting.
3. Masker
karet sekarang dibuka diikuti dengan penempatan handuk dingin untuk melap bibir
dan menyegarkan pasien kembali.
Walaupun
pembukaannya mudah, pemotongannya septal dari karet dapat tertinggal tanpa
diketahui. Secara rutin, operator harus memengang penutupnya ke atas ke arah
cahaya untuk membuka apakah ada fragmem-fragmen karet yang tertinggal yang
mungkin masih terdapat di sulkus ginggiva.
2.9
Membuat Klem
Walaupun bentuk
dan ukurannya sesuai dengan hampir semua gigi, perubahan-perubahan pada jaw,
sayap dan prongnya harus dilakukan sebagai hal yang rutin. Bur fisur yang kasar
dengan cepat mengubah klem stok menjadi yamg siap pakai. Walaupun suatu klem
telah di modifikasi, tidak perlu di buang karena bisa di simpan untuk pemakaian
di lain waktu.
2.10
Pemasangan Klem Klas V (Silvia Desrianita, 11-066)
Tujuan pemasangan
klem adalah untuk menstabilkan isolator karet dan mengisolasi daerah kerja pada
atau dekat akar.Pemasangan sangat penting untuk klem tipe 212.Mamfaat
terbesarnya adalah kesderhanaan dan busurnya yang rapuh, yang memungkinkan
akses ke daerah kerja.
Salah
satu persyaratan dari klem ini yang berbeda dari yang lain adalah kepasifannya.
Semua klem baik yang terdapat dari baja tahan karat atau baja berlapis kromium,
tidak dapat dibengkokkan. Klem ini akan membuka kembali bila dibengkokkan dan tekanan
yang melewati batas elastisitasnya akan menyebabkan fraktur.hal ini tidak
dijumpai pada klem 212. Walaupun pun kuat dan kaku klem ini bias dibengkokkan
dan diubah bentuknya. Begitu telah selsesai dibuat, klem baja tahan karat sulit
dilunakkan dan diubah lagi. Klem dari baja yang tinggi kadar karbonnya, dapat
dilebur dengan memanaskannya sampai merah dan membiarkannya mendingin.
Pada
umumnya suatu klem pasif yang belum dibentuk tidak memeluk gigi seketat klem
yang telah terbentuk, dan harus ditangani dengan baik hati-hati dan teliti
sementara meretraksi ginggiva. Bila paruh dari klem sudah terlalu terbuka,
dapat dirapatkan kembali dengan jari dan dipasang krmbalike gigi. Pemasangan
klem ke gigi dilakukan sebelum pemasangan isolator karet. Akan merupakan
keadaan yang ideal bila lokasi batas ginggiva dari lesi di bukal sama tingginya
dengan tepi ginggiva di lingual. Tang dapat membengkokkan paruh k eats atau ke
bawah agar mendapatkan keadaan pas yang di inginkan ( gambar(8-38 dan gambar
8-39).
Efeksivitas
sebernya dari klem No. 212 klas V tidak diberikan oleh logam itu sendiri,
tetapi oleh bahan cetak kompoun yang melekatkannya dengan kuat ke gigi.
Gigi-gigi dapat sedikit dgosok dengan peroksida atau dilapisi dengan vernis
kavitas untuk menjamin perlekatan yang lebih baik dari kompoun tersebut.
Pemberian
kompoun tidak sulit. Petunjuk-petunjuk berikut
sangat membantu dalam pemasangan klem 212.
1. Jari-jari
diolesi sedikit dengan pelumas (Borofax atau Petroleum jelly)untuk mencegah
kompoun melekat ke jari (Beberapa operator lebih menyukai air untuk tujuan ini
dan juga untuk membentuk kompoun).
2. Klem
distabilisasi memegang paruh bukal menggunakan ibu jari sampai kompoun tersebut
telah dilekatkan seluruhnya, dibentuk, dan didinginkan.
3. Pemberian
kompoun yang pertama adalah di bawah busur distal. Setelah dibentuk, ulangi
untuk busur mesial.
4. Setelah
kompoun tersebut dilekatkan dan dibentuk, pendinginan dapat dipercepat dengan
meletakkan gulungan kapas yang basah ke kompoun tersebut. Aksi penguapan
mendinginkan kompoun tersebut ketika udara disemprotkan ke permukaannya.
2.11
Isolasi Jembatan Cekat (Dinda Rosmaulisa, 11-068)
Isolasi gigi yang
telah diberi jembatan cekat yang terletak di sebelah bagian yang di solder,
perlu di isolasi. Selain bahan-bahan standarn jarum jahit melingkar nomor 4
(ujung tumpul) dan pemegang jarum juga di gunakanm. Lubang-lubang dibuat dengan
cara yang sama, termasuk lubang-lubang yang lebih besar ukurannya untuk tiap
unit jembatan. Isolator karet diletakkan diatas semua gigi kecuali untuk geligi
tiruan sebagian cekat.
Jarum diberi
benang dengan pita gigi dan dilewatkan melalui sisi bukal dari lubang nomor 1
(pilar (abutment) anterior di bawah pertemuan solder anterior dan keluar dari
sisi lingual lubang no1 juga. Dengan mengubah arah jarum tersebut sekarang
ditarik ke belakang melalui sisi lingual dari lubang nomor2 (pontik), tetapi
masih di bawah penyatuan solder medial, dan keluar dari sisi fasial lubang
nomor2. Kedua ujung pita tersebut disatukan dan diikat kuat dengan satu simpul
persegi dan dipotong. Dengan cara yang sama, pita ditarik di bawah penyatuan
solder posterior melalui lubang nomor3 (pilar posterior) dalam arah lingual dan
kembali melalui lubang nomor 2 dalam arah fasial. Pita tersebut ditarik kuat,
diikat, dan dipotong (gambar 8-50 sampai 8-54). Setelah kerja tersebut selesai
dilakukan, pembukaan isolator dapat dengan mudah dilakukan dengan memotong
daerah intersepsial karet di atas penyatuan solder menggunakan instrumen yang
tajam. Potongan-potongan pita yang kecil dibuang dan mulut diperiksa untuk
melihat ada tidaknya fragmen-fragmen karet yang tersisa.
2.12
Isolasi dengan Cara Bedah (Nadya Pratiwi, 11-070)
Dua metode lain
dapat dilakukan oleh dokter gigi bila ingin mendapatkan dareah kerja yang kering dan akses dalam melakukan
pelayanan klinis.Dua metode ini melibatkan invasi bedah jaringan lunak di
sebelahnya dan kedua metode ini digunakan untuk mendapatkan akses kepermukaan
akar yang biasanya berada di bawah jarngan gingiva.
a. Metode
1
Retraksi
bedah adalah salah satu cara untuk mendapatkan akses ini.Hal ini dilakukan
dengan cara membebaskan jaringan dari perlekatannya,yang sering melibatkan
insisi,dan membuka flap ke atas (atau kebawah) sehingga tidak menutupi dareah
kerja .Isolator karet dangan klem,di
pasang untuk mengontrol cairan dan menahan gingival selam proses operatif
dilakukan.Bila telah selesai,klem dan karet dibuka dan jaringan direposisi
kembali dan di tahan di tempatnya,biasanya dengan jahitan atau pak periodontal.
b. Metode
2
Menghilangkan
jaringan yang tidak diinginkan dengan bedah elektro.Pendarahan pada bedah
elektro biasnya bukan karena ujung –ujung arteri di kauterisasi dengan aksi
memotong.Pemakaian utama dari bedah elektro adalah untuk preparasi mahkota; tetapi sering
digunakan untuk membuka permukaan fasial gigi.Karena itu metode ini dapat
digunakan dengan atau tanpa isolator karet ,tergantung keadaan pada saat
tersebut.
Semua prosedur
operativ sebaiknya dilakukan di permukaan yang kering dan tidak terkontaminasi sehingga bahan yang
di gunakan dapat memberikan sifat-sifat fisisnya yang optimal pada dokter
gigi.Pada sisi lain,mata operator dapat melihat dengan jelas dan tak terganggu
bila daerah kering dan tidak di tutupi debris.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Isolasi daerah
kerja merupakan suatu keharusan. Gigi yang dibasahi saliva, lidah yang
mengganggu pengelihatan dan ginggiva
yang berdarah adalah sedikit dari masalah masalah yang harus diatasi sebelum
kerja yang di teliti dan tepat dapat dilakukan.
Beberapa metode dapat digunakan untuk
mengisolasi daerah kerja :
·
Evakuasi kecepatan tinggi
(HVE)
·
Saliva ejektor
·
Gulungan kapas dan Isolator karet
Keuntungan pemakaian isolator karet
ini adalah:
a.
Memberikan isolasi gigi
yang sempurna dari saliva dan darah.
b.
Mencegah tertelannya
instrumen endodontik yang digunakan.
c.
Daerah kerja kering dan
jelas serta mudah didesenfeksi.
d.
Melindungi gusi, lidah
dan pipi dari trauma iatrogenic (akibat tindakan operasi).
e.
Mempersingkat waktu
perawatan yang dilakukan dokter gigi.
f.
Proteksi pasien dan
operator selama bekerja.
Sedangkan kerugiannya adalah:
a. Pasien
masih merasakan sensitif atau rasa nyeri setelah pemakaian rubber dam.
b. Membutuhkan
biaya perawatan yang besar dan waktu aplikasi yang lama.
c. Mempersulit
foto rontgen.
d. Dapat
terjadi trauma pada papilla gingival.
3.2 Saran
Dalam melakukan
perawatan operative dentistry dan
endodontik, seorang dokter gigi harus bisa mempertahankan daerah kerja karena
banyak sekali masalah -masalah yang ditemukan oleh dokter gigi. Sebaiknya
melakukan isolasi daerah kerja karena gigi yang dibasahi saliva, lidah yang
mengganggu pengelihatan dan ginggiva
yang berdarah adalah sedikit dari masalah masalah yang harus diatasi sebelum
kerja yang di teliti dan tepat dapat dilakukan.
DAFTAR
PUSTAKA
Amy. 2011. Isolasi
Daerah Kerja. (http://www.scribd.com/doc/61577875/My-Skripsi),
diakses 6 November 2012.
Asmalia, Dha. 2010. Penggunaan Alat Kedokteran Gigi Secara Rasional - modul 302. (http://dhaasmalia.blogspot.com/2010/11/penggunaan-alat-kedokteran-gigi-secara.html),
diakses 6 November 2012.
Baum, Lund & Philips. 1995. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi. edisi III. EGC : Jakarta.
Hasanah, Iradatul Syahril. 2011. Pulp Cuping Tutorial-Isolasi. (http://www.scribd.com/doc/110821492/Pulp-Capping-Tutorial),
diakses 6 November 2012.
Komentar
Posting Komentar