MAKALAH RAGAM BAHASA
MAKALAH
RAGAM BAHASA

DOSE: DR. NURLAKSANA EKO RUSMINTO, M.PD
DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
1.
DICO
FITRAWAN (1712401019)
2.
PUTU
ASTI NIRAYANI (1712401035)
3.
INTAN
MARTHASARI (1712401016)
4.
KUMALA
IZAH (1712401001)
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN DIII TEKNIK GIGI
TAHUN
2018
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada
penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah Ragam Bahasa.
Penulis menyadari bahwa
makalah ini masih banyak kekurangan baik bentuk, isi, maupun teknik
penyajiannya. Oleh sebab itu, kritikan yang bersifat membangun dari berbagai
pihak penulis terima dengan tangan terbuka dan sangat diharapkan. Semoga
kehadiran makalah ini memenuhi sasarannya.
Bandar Lampung, Februari 2018
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang.................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah............................................................................ 1
C.
Tujuan................................................................................................. 2
D.
Manfaat............................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Ragam Bahasa............................................................. 3
B.
Macam
– macam Ragam Bahasa.................................................. 5
1. Ragam Bahasa Formal dan Nonformal................................... 5
2. Ragam Lisan dan Ragam Tulis................................................. 6
3. Ragam Sosial dan Ragam Fungsional.................................... 11
4. Ragam Bahasa Berdasarkan Waktu........................................ 12
5. Ragam Bahasa Berdasarkan Pesan Komunikasi................. 12
6. Ragam Bahasa Berdasarkan Situasi....................................... 16
C.
Bahasa
Yang Baik dan Bahasa Yang Benar................................ 21
PENUTU4
A.
Kesimpulan........................................................................................ 24
B.
Saran................................................................................................... 24
DAFTAR PUSATAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu dari
bangsa Indonesia yang sudah dipakai oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu jauh
sebelum Belanda menjajah Indonesia, namun tidak semua orang menggunakan tata
cara atau aturan-aturan yang benar, salah satunya pada penggunaan bahasa
Indonesia itu sendiri yang tidak sesuai dengan Ejaan maupun Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) oleh karena itu pengetahuan tentang ragam bahasa cukup penting
untuk mempelajari bahasa Indonesia secara menyeluruh yang akhirnya bisa
diterapkan dan dapat digunakan dengan baik dan benar sehingga identitas kita
sebagai bangsa Indonesia tidak akan hilang.
Bahasa Indonesia wajib dipelajari oleh semua
lapisan masyarakat. Tidak hanya pelajar dan mahasiswa saja, tetapi semua warga
Indonesia wajib mempelajari bahasa Indonesia. Dalam bahasan bahasa Indonesia
dimana ragam bahasa yaitu variasi bahasa Indonesia yang digunakannya
berbeda-beda. Ada ragam bahasa lisan dan ada ragam bahasa tulisan. Disini yang
lebih ditekankan adalah ragam bahasa lisan, karena lebih banyak digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Misalkan ngobrol, puisi, pidato, ceramah, dll.
B. RUMUSAN
MASALAH
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas
adalah sebagai berikut :
1. Apakah
yang dimaksud dengan ragam bahasa?
2. Apa
saja macam-macam ragam bahasa?
3. Bagaimana
cara menggunakan ragam bahasa yang baik dan benar?
C. TUJUAN
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui
tentang ragam bahasa Indonesia dan macam-macam ragam bahasa Indonesia ditinjau
dari berbagai aspek.
D. MANFAAT
Manfaat
dibuatnya makalah ini adalah :
1. Mahasiswa
dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan ragam bahasa.
2. Mengetahui
adanya berbagai ragam bahasa Indonesia
3. Penggunaan
ragam bahasa
4. Contoh
– contoh ragam bahasa
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ragam Bahasa
Komunikasi
dengan menggunakan bahasa selalu melibatkan dua pihak, yaitu pembicara
atau komunikator dan pendengar atau komunikan. Bahasa dapat dikomunikasikan dengan dua cara,
yakni secara lisan dan secara tulis. Dalam bahasa lisan yang terlibat dalam
kegiatan berbahasa adalah pembicara dan pendengar. Sedangkan dalam bahasa tulis yang terlibat
dalam kegiatan berbahasa adalah penulis dan pembaca. Situasi dan kondisi dari
dua pihak yang berbeda itulah yang menimbulkan berbagai ragam bahasa.Berikut
ini dikemukakan berbagai pengertian ragam bahasa dari beberapa pendapat seperti
berikut ini.
Menurut
pendapat Kridalaksana,
(1984:165) menyampaikan bahwa ragam bahasa
berdasarkan pemakaiannya dapat dibedakan menurut topik, hubungan pelaku, dan
medium pembicaraan. Jadi ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut
pemakaiannya, yang timbul menurut situasi dan fungsi yang memungkinkan adanya
variasi tersebut. Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang
baik (mempunyai prestise tinggi),
yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam kalangan ilmiah (karangan
teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat
menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasabaku atau ragam bahasa
resmi.
Sedangkan
menurut Rahayu, (2009: 22) ragam
bahasa dimungkinkan karena adanya ragam wilayah pemakaian dan bermacam-macam
penutur. Faktor sejarah perkembangan masyarakat juga turut menimbulkan faktor sejumlah ragam bahasa. Ragam bahasa yang beraneka
ini, masih bahasa Indonesia karena ciri dan kaidah tata bunyi, pembentukan
kata, tata krama,
umumnya sama.
Selanjutnya menurut Nasucha dkk,
(2010:11) ragam bahasa menurut topik
pembicaraan mengacu pada pemakaian bahasa dalam bidang tertentu, seperti bidang
jurnalistik (persuratkabaran), kesusasteraan, dan pemerintahan. Ragam bahasa
menurut hubungan pelaku dalam pembicaraan atau gaya penuturan menunjuk pada
situasi formal atau informal. Medium pembicaraan atau cara pengungkapan dapat
berupa sarana atau cara pemakaian bahasa, misalnya bahasa lisan atau bahasa
tulis. Masing-masing ragam bahasa memiliki ciri-ciri tertentu sehingga ragam
yang satu berbeda dengan ragam yang lain.
Ragam Bahasa
adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang
dibicarakan, hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta
menurut medium pembicara (Bachman, 1990).
Hal-hal yang menyebabkan timbulnya ragam bahasa menurut Sugono
(1999: 9), sehubungan dengan pemakaian bahasa Indonesia, timbul dua masalah
pokok, yaitu masalah penggunaan bahasa baku dan tidak baku. Dalam situasi resmi, seperti di
sekolah, di kantor, atau di dalam pertemuan resmi digunakan bahasa baku. Sebaliknya dalam situasi tidak resmi,
seperti di rumah, di taman, di pasar, kita tidak dituntut menggunakan bahasa
baku.
Sebagai
gejala sosial, pemakaian bahasa tidak hanya ditentukan oleh faktor-faktor
kebahasaan, tetapi juga oleh faktor-faktor di luar kebahasaan. Faktor-faktor di
luar kebahasaan yang berpengaruh terhadap pemakaian bahasa antara lain faktor
lokasi geografis, waktu, sosiokultural, dan faktor situasi. Adanya
faktor-faktor tersebut menimbulkan perbedaan dalam pemakaian bahasa. Perbedaan
tersebut akan tampak pada segi pelafalan, pemilihan kata, dan penerapan kaidah
tata bahasa. Perbedaan atau varian dalam bahasa yang masing-masing menyerupai
pola umum bahasa induknya disebut ragam bahasa.
Ragam
bahasa yang berhubungan dengan faktor daerah atau letak geografis disebut
dialek geografis. Ragam bahasa yang berkaitan dengan perkembangan waktu disebut
kronolek. Ragam bahasa yang berhubungan dengan golongan sosial penuturnya
disebut dialek sosial. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa antara
lain tingkat pendidikan, usia dan tingkat sosial ekonomi. Bahasa golongan
buruh, bahasa golongan atas (bangsawan) dan bahasa golongan menengah
(orang-orang terpelajar) akan memperlihatkan perbedaan-perbedaan. Dalam bidang
tata bunyi misalnya bunyi fonem /f/, sering terdapat dalam ujaran kaum yang
berpendidikan seperti pada bentuk fakultas,
film, fitnah, frekuensi. Bagi
orang yang tidak dapat menikmati pendidikan formal, bentuk-bentuk tersebut
sering diucapkan pakultas, pilm, pitnah, prekuensi.
Ragam
bahasa menjadi banyak jumlahnya karena pemilihan corak bahasa yang digunakan
seseorang.
Keanekaragaman penggunaan bahasa yang dipakai seseorang untuk mengkomunikasikan
sesuatu memunculkan berbagi ragam bahasa. Dari berbagai sudut pandang situasi dan kondisi
pembicaraan, dari topik atau isi pembicaraan, dan dari hubungan antara dua
pihak yang menggunakan bahasa inilah akhirnya muncul berbagai ragam bahasa.
B. Macam – macam Ragam Bahasa
1. Ragam
Bahasa Formal dan Nonformal
1.1. Ragam
Bahasa Formal
Ragam bahasa formal adalah ragam bahasa yang biasa
digunakan dalam lingkungan resmi, formal, dan kedinasan. Lingkungan kedinasan
ini, contohnya adalah lembaga-lembaga pemerintahan, lembaga-lembaga pendidikan,
perusahaan-perusahaan, dan sebagainya. Ragam bahasa formal dibagi menjadi dua
bagian, yakni ragam bahasa lisan, dan ragam bahasa tulis. Masing-masing ragam
memiliki kekhasannya sendiri. Ragam lisan formal lebih menitikberatkan kepada
pilihan kata, sikap penutur, serta situasi pembicaraan. Sedangkan ragam tulis
formal lebih menitikberatkan pada pilihan kata (diksi), ejaan, serta
format-format yang resmi.
1.2. Ragam
Bahasa Nonformal
Ragam bahasa nonformal sangat berbeda dengan ragam bahasa
formal. Ragam bahasa nonformal ini digunakan dalam situasi yang tidak resmi,
dalam situasi yang santai, sehingga menimbulkan keakraban antara para pemakai
bahasa (komunikator dan komunikan). Hal yang paling penting dalam komunikasi
nonformal adalah yang penting komunikatif, saling memahami dan tidak terjadi
kesalahan komunikasi.Ragam nonformal lisan dipakai untuk:berbicara sehari-hari
dirumah, bergunjing. bercerita. mengobrol. Ragam nonformal tulis dipakai
untuk:menulis surat kepada
kerabat, menulis surat kepada teman, menulis surat kepada pacar, menulis catatan harian.
2. Ragam
Lisan dan Ragam Tulis
2.1. Ragam
Lisan
Ragam lisan adalah bahasa yang diujarkan
oleh pemakai bahasa. Kita dapat
menemukan ragam lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau
memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah, dan ragam lisan yang non
standar, misalnya dalam percakapan antarteman, di pasar, atau dalam kesempatan
non formal lainnya.
Ciri-ciri
ragam bahasa lisan:
a. Memerlukan kehadiran orang lain
b.
Unsur gramatikal tidak
diunggkapkan secara lengkap
c.
Terikat ruang dan waktu
d.
Dipengaruhi oleh intonasi
suara
Contoh ragam lisan
Penggunaan bentuk kata
·
Nia
sedang baca surat kabar
·
Ari
mau nulis surat
·
Tapi
kau tak boleh nolak lamaran itu
·
Mereka
tinggal di Medan
·
Jalan
layang itu untuk mengatasi kemacetan
lalu linitas
Penggunaan kosa kata
·
Alzeta
bilang kita harus belajar
·
Kita
harus bikin karya tulis
·
Saya
sudah kasih tahu mereka tentang hal
itu
Penggunaan struktur kalimat
·
Rencana
ini sudah saya sampaikan kepada
Direktur
·
Dalam
“Asah Terampil” ini dihadiri juga oleh Gubernur Jakarta
Ragam bahasa
lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam
lisan, kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata, dan lafal. Dalam ragam
bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau
tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide.
Bahasa lisan
lebih ekspresif dimana mimik, intonasi, dan gerakan tubuh dapat bercampur
menjadi satu untuk mendukung komunikasi yang dilakukan. Lidah setajam pisau
atau silet oleh karena itu sebaiknya dalam berkata-kata sebaiknya tidak
sembarangan dan menghargai serta menghormati lawan bicara atau target
komunikasi.
Dalam ragam lisan lazimnya ditandai dan ditentukan oleh
penggunaan aksen-aksen bicara atau penekanan-penekanan tertentu dalam aktivitas
bertutur, pemakaian intonasi atau lagu kalimat tertentu. Demikian juga
tanda-tanda itu akan kelihatan dari wujud-wujud kosa kata, tata bahasa, dan
paragrafnya.
Dalam ragam bahasa lisan, kita tidak menyebutnya sebagai
kalimat akan tetapi sebagai ujaran atau tuturan. Adapun sebutan untuk paragraf atau alinea adalah paratone. Jadi, orang yang bertutur
denganbaik akan selalu memperhatikan wujud-wujud tuturan dan kerangka-kerangka
paratonenya. Wujud bahasa lisan dapat diekspresikan melalui aktivitas diskusi,
dialog, seminar, wawancara, bermain drama, pidato, dan sebagainya.
Selanjutnya ragam bahasa lisan dapat dibedakan menjadi
dua bagian, yakni ragam lisan baku dan ragam lisan nonbaku. Ragam lisan baku
digunakan dalam situasi-situasi formal atau resmi, misalnya bahasa pengantar di
lembaga-lembaga pendidikan, bahasa pengantar di lembaga-lembaga pemerintahan.
Sedangkan ragam bahasa lisan nonbaku dipergunakan di dalam lingkungan yang
tidak resmi, misalnya di pasar, di warung kopi, di pusat pebelanjaan, dan
lain-lain.
2.2. Ragam
Tulis
Ragam tulis adalah bahasa yang ditulis
atau yang tercetak. Ragam tulis
pun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun nonstandar. Ragam tulis yang standar kita temukan
dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis
nonstandar dalam majalah remaja, iklan, atau poster.
Ciri-ciri ragam bahasa tulis:
a.
Tidak memerlukan kehadiran
orang lain
b.
Unsur gramatikal
dihadirkan secara lengkap
c.
Tidak terikat ruang dan
waktu
d.
Dipengaruhi oleh ejaan
(tanda baca)
Kelebihan
ragam bahasa tulis :
a. Informasi
yang disajikan bisa pilih untuk dikemas sebagai media atau materi yang menarik
dan menyenangkan.
b. Umumnya
memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat.
c. Sebagai
sarana memperkaya kosakata.
d. Dapat
digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu
mencanggihkan wawasan pembaca
Kelemahan
ragam bahasa tulis :
a. Alat
atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan tidak ada
akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna.
b. Tidak
mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus mengikuti
kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cenderung miskin daya pikat dan nilai jual.
c. Yang
tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong oleh karena itu
dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar.
Rahardi
(2009: 18) menyampaikan bahwa yang dimaksud
ragam tulis adalah ragambahasa yang hanya tepat muncul dalam konteks tertulis.
Bahasa Indonesia dalam ragam tulis harus sangat cermat dalam pemakaian tanda
baca, dalam pemakaian ejaan, dalam pemilihan kata, frasa, dan klausa, dalam
penulisan kalimat maupun paragraf, dan sebagainya.
Selanjutnya
Rahardi (2009: 18)
menyebutkan ketentuan-ketentuan yang lazim ditemukan dalam ragam baku tulis
sebagai berikut: (1) Memakai
ucapan baku, (2) Memakai
ejaan resmi, (3) Menghindari
unsur kedaerahan, (4) Memakai
fungsi gramatikal secara eksplisit, (5) Memakai konjungsi ‘bahwa’ secara eksplisit,
(6) Pemakaian bentuk kebahasaan secara lengkap,
(7) Pemakaian partikel secara konsisten,
(8) Pemakaian kata depan secara tepat,
(9) Pemakaian rangkaian: aspek –pelaku–tindakan, secara
konsisten, (10) Memakai
bentuk sintesis,
(11) Menghindari unsur leksikal yang terpengaruh bahasa daerah.
Dalam
ragam tulis ini, seorang penulis harus sadar betul bahwa tulisannya akan dibaca oleh banyak manusia dengan beragam tingkat pendidikan
maupun aspek sosiokulturalnya. Maka dia harus memilih kosa kata yang luas, dan menyusun kalimat-kalimat sederhana yang tidak menimbulkan ambivalensi.
Dalam
nada yang hampir sama, Rahayu (2009: 23) mengatakan bahwa dalam ragam tulis, orang yang diajak
berbicara (pembaca) tidak berhadapan langsung, akibatnya bahasa yang kita
pergunakan haruslah terang dan jelas, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir.
Contoh
perbedaan ragam bahasa lisan dan tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata)
Tata Bahasa
(Bentuk kata, Tata bahasa,
Sturktur kalimat, Kosa kata)
Ragam bahasa lisan :
·
Nia sedang baca surat kabar
·
Ari mau nulis surat
Ragam
bahas tulis :
·
Nia sedang membaca surat kabar
·
Mereka bertempat tinggal di
Menteng
·
Namun, engkau tidak boleh
menolak lamaran itu
·
Akan saya tanyakan soal itu
Kosa kata
Ragam bahasa lisan :
·
Ariani bilang kalau kita harus
belajar
·
Kita harus bikin karya tulis
Ragam bahasa tulis :
·
Ariani mengatakan bahwa kita
harus belajar
·
Kita harus membuat karya tulis
3. Ragam
Sosial dan Ragam Fungsional
3.1. Ragam
Sosial
Ragam
sosial dapat didefinisikan sebagai ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya
didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil
dalam masyarakat. Ragam sosial membedakan penggunaan bahasa berdasarkan
hubungan orang, misalnya berbahasa dengan keluarga, teman akrab dan atau
sebaya, serta tingkat status sosial orang yang menjadi lawan bicara.
Ragam
sosial ini juga berlaku pada ragam tulis maupun ragam lisan. Sebagai contoh
orang takkan sama dalam menyebut lawan bicara jika berbicara dengan teman dan
orang yang punya kedudukan sosial yang lebih tinggi. Pembicara dapat menyebut
“kamu” pada lawan bicara yang merupakan teman, tetapi takkan melakukan itu jika
berbicara dengan orang dengan status sosial yang lebih tinggi atau kepada orang
tua.
3.2. Ragam
Fungsional
Ragam
fungsioanal, sering juga disebut
ragam professional merupakan ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi,
lembaga, lingkungan kerja, atau kegiatan tertentu lainnya.Sebagai contoh, yaitu
adanya ragam keagamaan, ragam kedokteran, ragam teknologi dll.Ragam fungsional
ini memiliki fungsi pada dunia mereka sendiri.
4. Ragam
Bahasa Berdasarkan Waktu
4.1. Ragam
bahasa lama lazim digunakan dalam penulisan naskah-naskah lama (kuno).Raga ini
perlu dipahami oleh setiap orang yang bermaksud mengkaji peristiwa-peristiwa
masa lalu.
4.2. Ragam
bahasa baru (modern) ditandai dengan penggunaan kata-kata baru, Ejaan yang disempurnakan,
dan mengekspresikan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, misalnya internet,
jaringan, dan seluler.
5. Ragam
Berdasarkan Pesan Komunikasi
5.1. Ragam
Bahasa Ilmiah
Ragam bahasa ilmiah adalah
sarana verbal yang efektif, efisien, baik, dan benar. Ragam ini lazim digunakan
untuk mengkomunikasikan proses kegiatan dan hasil penalaran ilmiah, misalnya
dalam penulisan:
a. proposal
kegiatan ilmiah, proposal penelitian.
b. laporan
kegiatan yang berbentuk makalah, surat, artikel, naskah.
c. karya
tulis ilmiah: skripsi, tesis, dan disertasi.
d. laporan
rutin suatu pekerjaan yang berbentuk surat, artikel, maupun naskah.
e. laporan
pertanggungjawaban: laporan kegiatan, laporan keuangan, laporan pemegang saham,
laporan uji coba, laporan proyek, laporan evaluasi, laporan auditing, laporan
penelitian.
f. laporan
penelitian yang berbentuk: laporan analisis, laporan diskriptif, laporan
rekomendasi, laporan deskriptif analisis.
Ciri ragam bahasa ilmiah
a. struktur
kalimat jelas dan bermakna lugas
b.
struktur wacana bersifat
formal, mengacu pada standar konvensi naskah
c. singkat,
berisi analisis dan pembuktian menyajikan konsep secara lengkap.
d. cermat
dalam menggunakan unsur baku istilah/kata, ejaan, bentuk kata, kalimat,
paragraf, wacana.
e. cermat
dan konsisten menggunakan penalaran dari penentuan topik, pendahuluan,
deskripsi teori, deskripsi data, analisis data, hasil analisis sampai dengan
kesimpulan dan saran.
f. menggunakan
istilah khusus yang bersifat teknis dalam bidang ilmu tertentu
g. objektif
dapat diukur kebenarannya secara terbuka oleh umum, menghindarkan bentuk
persona dan ungkapan subjektif
h. konsisten
dalam pembahasan topik, sudut pandang, pendahuluan, landasan teori, deskripsi
data, analisis data, hasil analisis, sampai kesimpulan dan saran.
5.2. Ragam
Bahasa Pidato
Ragam
bahasa pidato dipengaruhi oleh: (1) tujuan (menghibur, memberitahu, mengajak),
(2) situasi (resmi, setengah resmi, tidak resmi) (3) pendekatan isi pidato
(pendekatan akademis (intelektual), pendekatan moral, pendekatan sosial).
a. Ragam
Pidato Ilmiah
Pidato ilmiah terdiri beberapa jenis,
antara lain: presentasi makalah ilmiah, presentasi skripsi, presentasi tesis,
presentasi disertasi, dan pidato pengukuhan guru besar. Untuk mendapatkan hasil
optimal, presenter ilmiah harus memperhatikan etika ilmiah, ketentuan lembaga,
kemampuan personal, kemampuan teknis dan keunggulan perilaku.
1. Etika
Ilmiah:
a. menggunakan
ragam bahasa ilmiah
b. menggunakan
penalaran ilmiah
c. bersifat
objektif, menggunakan kalimat yang terukur kebenarannya.
d. mematuhi
aturan formal presentasi ilmiah
mempresentasikan seluruh materi (secara
ringkas) sesuai dengan waktu yang ditentukan.
e. mengutip
konsep, data, pendapat dengan menyebutkan sumbernya
f. menggunakan
data yang relevan dengan pembuktian
g. tidak
mempresentasikan materi di luar bahasan karya ilmiahnya
h. dapat
menjawab pertanyaan pendengar (penguji) atas konsekuensi logis dari karya tulis
ilmiahnya,
i. mencermati
setiap pertanyaan atau respon pendengar (pengujinya).
2. Ketentuan
Lembaga (universitas)
a. mengikuti
format penulisan sesuai dengan ketentuan lembaga/ universitas.
b. mengikuti
prosedur/aturan yang berlaku pada lembaga/universitas
c. mengikuti
sistem yang berlaku pada lembaga/universitas.
3. Kemampuan
Personal
a. bersikap
simpatik, sopan, dan hormat kepada pendengar (penguji),
b. bersikap
santun dalam setiap tutur kata, tidak menunjukan kehebatan diri, rendah hati,
dan tidak menunjukan kemampuan diri berlebihan,
c. hindarkan
subjektivitas: aku, saya rasa, saya pikir, menurut saya. Gunakanlah: pengalaman membuktikan …, pengamatan
membuktikan, uji coba menunjukan …, dan lain-lain.
d. Berpakaian
sopan (pemakalah),
e. Berpakaian
lengkap untuk ujian skripsi, tesis, disertasi,
f. Menunjukan
sikap positif, serius, cermat, cendekia, dan percaya diri.
4. Kemampuan
teknis
a. menganalisis
data primer dan sekunder baik kualitatif maupun kuantitatif,
b. mengaplikasikan
penggunaan data pustaka,
c. melengkapi
pembuktian (sumber teori, buku atau foto kopi halaman yang dikutif jika buku
asli tidak mungkin diperoleh (langka),
d. menggunakan
sarana visual: LCD (komputer) dan infokus, OHP, peraga dan data (dokumen)
e. memvisualkan
data pendukung: gambar, grafik, atau data lain yang relevan.
b. Ragam
Pidato Resmi
1) kata
resmi mempunyai beberapa pengertian. resmi karena situasinya, misalnya pidato
kenegaraan oleh pejabat negara,
2) resmi
karena kemuliaan isi dan situasinya, misalnya kotbah jumat di masjid.
3) resmi
karena informasi dan kekidmatan situasi penyampaian dalam suatu upacara,
misalnya pidato akad nikah/perkawinan.
4) resmi
karena isi atau materi mengandung kebenaran universal dan disampaikan untuk
mewakili suatu negara.
c. Ragam
Bahasa Tulis Resmi
Ragam bahasa tulis remi ditandai oleh:
1) penyajian
materi/pesan bersifat mulia dan kebenaran yang bersifat universal,
2) penggunaan
fungsi-fungsi gramatikal secara eksplisit dan konsisten,
3) penggunaan
bentuk lengkap, bentuk tidak disingkat,
4) penggunaan
imbuhan secara eksplisit dan konsisten
5) penggunaan
kata ganti resmi dan menghindari penggunaan kata ganti tidak resmi,
6) penggunaan
pola frasa yang baku,
7) penggunaan
ejaan yang baku pada bahasa tulis, dan lafal yang baku pada bahasa lisan,
8) tidak
menggunakan unsur tidak baku, misalnya unsur kedaerahan dan asing.
d. Ragam
Bahasa Sastra
Ragam ini mengutamakan
unsur-unsur keindahan seni, penulis cenderung menekankan gaya pengungkapan
simbolik dangan memadukan unsur intrinsik dan ekstrinsik, misalnya dalam roman,
novel, cerita pendek, dan lain-lain.
e. Ragam
Bahasa Berita
Ragam bahasa berita
lazim digunakan dalam pemberitaan: media elektronik (televisi, radio), media
cetak (majalah, surat kabar), dan jurnal. Bahasa berita menyajikan fakta secara
utuh dan objektif. Untuk menjamin objektivitas berita, penyaji perlu memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
1) tidak
menambah/mengurangi fakta yang disajikan,
2) tidak
mengubah fakta berdasarkan pendapat penyaji,
3) tidak
menambah tanggapan pribadi,
4) tidak
memihak kepada siapapun, dan
5) tidak
menggunakan perasaan suka atau tidak suka.
6. Ragam
Bahasa Berdasarkan Situasi
Ragam bahasa
berdasarkan situasi memunculkan tiga ragam bahasa, yaitu ragam bahasa resmi,
ragam bahasa tidak resmi dan ragam bahasa akrab.
6.1. Ragam
Bahasa Resmi
Sikap dan kedudukan
penutur terhadap kawan bicara akan menentukan tingkat keresmian bahasa.
Demikian pula halnya jarak penutur dengan kawan bicara. Makin formal jarak
antara pelaku komunikasi tersebut akan makin formal dan makin tinggi kebakuan
bahasa yang digunakan.
Ciri-ciri ragam bahasa
resmi
1) Menggunakan
unsur gramatikal secara eksplisit dan konsisten
2) Menggunakan
imbuhan secara lengkap
3) Menggunakan
kata ganti resmi
4) Menggunakan
kata baku
5) Menggunakan
EYD
6) Menghindari
unsur kedaerahan
Situasi resmi yang
menuntut pemakaian ragam bahasa baku tercermin dalam situasi-situasi berikut
ini:
1. Komunikasi
resmi, yaitu dalam surat-menyurat resmi,
surat menyurat dinas, pengumuman-pengumuman yang dikeluarkanoleh
instansi-instansi resmi, penamaan dan peristilahan resmi, perundang-undangan
dan sebagainya.
2. Wacana
teknis, yaitu dalam laporan resmi dan kerangka teknis
3. Pembicaraan
di depan umum, yaitu dalam ceramah, kuliah, khotbah dan sebagainya
4. Pembicaraan
dengan orang lain yang dihormati
Dilihat dari segi pemerolehannya, biasanya bahasa baku
dipelajari lewat pemeliharaan norma dan kaidah. Bahasa baku adalah ragam yang
dikembangkan dan diterima kalangan masyarakat khas sebagai bahasa resmi karena
sifatnya itulah salah satu ciri bahasa baku adalah keseragaman dalam norma dan kaidah bahasa.
Keseragaman itu berhubungan dengan ciri bahasa baku yang
lain, yaitu kemantapan dinamis. Sifat
mantap dan dinamis dicirikan oleh adanya kaidah yang tetap, tetapi tetap ada
peluang untuk memodifikasi kecil di sana sini sesuai dengan perubahan
kebudayaan dan bahasa. Selain itu kemantapan itu cukup terbuka untuk perubahan
yang bersistem di bidang kosa kata dan peristilahan.
Ciri yang lain melekat pada bahasa baku adalah sifat kecendekiaan, sifat ini sering
dianggap ciri yang menandai kemodernan bahasa. Dalam hai ini, bahasa Indonesia
harus mampu mengungkapkan proses pemikiran yang rumit dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi serta antarhubungan manusia tanpa menghilangkan
kodrat dan kepribadiannya.
Bahasa baku memiliki empat fungsi, yaitu (1) fungsi
pemersatu, (2) fungsi penanda kepribadian, (3) fungsi penambah wibawa, (4)
fungsi sebagai kerangka acuan. Tiga yang pertama bersifat pelambang atau
simbolis, satu bersifat objektif. Bangsa Indonesia adalah negara yang bhineka,
bhineka dari segi etniknya, bahasanya, budayanya, dan agamanya. Namun, sejarah mencatat bahwa bangsa Indonesia tetap
satu berkat perekat bahasa Indonesia.
Fungsi penanda kepribadian yang diemban bahasa baku
membedakan orang Indonesia dengan bahasa lain lewat pemakaian bahasa Indonesia.
Karena fungsi itu, bahasa baku memperkuat kepribadian nasional masyarakat
bahasa yang memakainya. Adanya satu bahasa resmi yang dimiliki suatu bangsa
merupakan salah satu ciri kultural, yang ke dalam menunjukan kesatuan dan ke
luar menunjukan perbedaan dengan bangsa lain.
Pemakaian bahasa baku membawa serta wibawa atau pretise.
Fungsi ini akan terwujud jika bahasa baku dapat dipautkan dengan hasil
teknologi modern dan unsur kebudayaan baru. Secara psikologis, warga masyarakat
akan mengidentikkan bahasa Indonesia dengan kehidupan modern jika nama-nama
lembaga, jalan-jalan raya, nama-nama kompleks perumahan mewah menggunakan
bahasa Indonesia. Demikian pula, wibawa akan bertumbuh jika bahasa Indonesia
dipakai oleh kalangan yang berpengaruh dalam berbagai bidang kehidupan.
Terakhir, bahasa baku berfungsi sebagai kerangka acuan bagi pemakaian bahasa dengan adanya norma dan
kaidah yang dikodifikasi. Norma dan kaidah tersebut menjadi tolok ukur bagi tepat
tidaknya pemakaian bahasa di dalam situasi tertentu
6.2. Ragam
Bahasa Tidak Resmi
Ragam
bahasa tidak resmi adalah bahasa yang digunakan dalam situasi tak resmi,
seperti dalam pergaulan, dan percakapan pribadi.
Ciri-ciri
ragam bahasa tidak resmi kebalikan dari ragam bahasa resmi. Ragam bahasa tidak
resmi ini digunakan ketika kita berada dalam situasi yang tidak formal. Ragam
tidak baku dipelajari dalam lingkungan keluarga atau lewat pergaulan dalam
lingkungan masyarakat.
Contohnhya
bahasa yang digunakan oleh anak muda adalah ragam bahasa santai atau tidak
resmi.
6.3. Ragam
Bahasa Akrab
Penggunaan
kalimat-kalimat pendek merupakan ciri ragam bahasa akrab.Kalimat-kalimat pendek
ini menjadi bermakna karena didukung oleh bahasa nonverbal seperti anggukan kepala,
gerakan kaki dan tangan, atau ekspresi wajah.
C. Bahasa Indonesia yang Baik dan
Bahasa Indonesia yang Benar
Ada dua hal yang harus dijelaskan
secara terpisah, yakni bahasa Indonesia yang baik dan bahasa Indonesia
yang benar. Bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa Indonesia yang sesuai
dengan situasi dan kondisi pembicaraan. Dalam setiap komunikasi bahasa selalu
melibatkan dua buah pihak yang lazim disebut sebagai komunikator dan komunikan.
Situasi dan kondisi pembicaraan antara komunikator dan komunikan inilah yang
menyebabkan apakah bahasa yang mereka pergunakan itu baik atau tidak baik. Ada
berbagai varian situasi yang menuntut norma kebahasaan yang berbeda. Ada
situasi yang sedang duka cita, situasi darurat (emergensi), situasi khusuk,
situasi santai, situasi kekeluargaan yang akrab, dan sebagainya. Hampir semua
situasi tersebut menuntut penggunaan bahasa yang sesuai dengan konteks
sosialnya.
Kriteria pemakaian bahasa yang baik adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang
sesuai dengan peristiwa atau keadaan yang dihadapi. Orang yang mahir memilih
ragam bahasa dianggap berbahasa dengan baik.Bahasanya membuahkan efek atau
hasil karena sesuai dengan tuntutan situasi.Pemilihan ragam bahasa tidak dapat
diabaikan begitu saja.Pemanfaatan ragambahasa yang tetap dan serasi menurut
golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa itulah yang disebut bahasa yang
baik.
Bahasa yang
benar adalah bahasa
yang menerapkan kaidah dengan konsisten. Bahasa yang benar adalah bahasa dengan ragam formal yang taat pada
kaidah bahasa baku. Kriteria yang dipakai untuk menentukan bahasa
Indonesia yang benar adalah kaidah bahasa. Kaidah-kaidah bahasa yang dimaksud
tersebut meliputi aspek a) tata bentuk (Morfologi) b) tata bunyi (Fonologi), c)
tata kalimat (Sintaksis), d) tata makna (Semantik), d) tata Tulis (Ejaan Yang
disempurnakan). Bahasa Indonesia yang benar adalah pemakaian bahasa yang mengikuti
kaidah bahasa indonesia. Contoh bahasa yang dipakai: perkuliahan, rapat formal,
sidang pengadilan, seminar, siaran berita radio/televisi.
Bahasa yang benar dengan sendirinya
tergolong baik jika sesuai dengan situasi pemakaiannya.Bahasa yang benar pun menjadi
tidak baik kalau tidak sesuai dengan situasi pemakaiannya (misalnya sesama
teman dalam suasana santai memakai ragam formal).Jadi bahasa yang baik dan
benar adalah bahasa yang maknanya dapat dipahami dan sesuai dengan situasi
pemakaiannya serta tidak menyimpang dari kaidah bahasa baku. Yang perlu dicatat
dan dipahami oleh pemakai bahasa adalah kewajiban mempertimbangkan situasi
sebelum menetapkan pilihan ragam bahasa yang dipakai. Selanjutnya, ragam bahasa
akan menghasilkan bahasa Anda tergolong baik saja, benar saja, atau baik dan
juga benar. Orang yang mahir memilih ragam bahasa dianggap berbahasa dengan
baik.Bahasanya membuahkan efek atau hasil karena sesuai dengan tuntutan
situasi.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ragam bahasa adalah
variasi bahasa menurut pemakaian yang berbeda-beda menurut topik yang
dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan,
serta menurut medium pembicara.
B. Saran
Sebaiknya kita atau
siapapun penduduk di Indonesia menggunakan ragam bahasa yang baik dan benar
sehingga keberadaan ragam bahasa itu sendiri tidak punah dengan adanya
bahasa-bahasa yang terkadang jauh dari aturan bahasa yang ada di Indonesia
bahkan bertentangan.
DAFTAR
PUSTAKA
Alek A dan H. Achmad H.P. 2010.Bahasa Indonesia untuk Perguruan
Tinggi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Arifin, E. Zaenal dan S. Amran Tasai.2009. Cermat Berbahasa
Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo.
_____. 2012. Berbahasa Indonesia Sebagai Mata Kuliah Pengembang
Kepribadian. Tangerang: Pustaka Mandiri.
Depdikbud.1991.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: PN Balai Pustaka.
Finoza,
Lamuddin. 2010. Komposisi Bahasa
Indonesia. Cet. Ke-XVIII. Jakarta: Diksi Insan Mulia.
Hs, Widjono.
2012. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Grasindo.
Keraf.Gorys
1993.Komposisi. Ende: Nusa Indah.
Kuntarto,
Niknik M. 2007. Cermat dalam Barbahasa
Teliti dalam Berpikir. Jakarta: Mitra Wahana Media.
Kridalaksana,
Harimurti. 1993. Kamus Linguistik.
Jakarta: Gramedia.
Nasucha,
Yakub dkk. 2009. Bahasa Indonesia untuk
Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Yogyakarta: Media Perkasa.
Rahayu, Minto. 2009. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi: Mata Kuliah Pengembang
Kepribadian. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Rahardi,
R. Kunjana. 2010. Bahasa Indonesia untuk perguruan Tinggi. Jakarta: Erlangga.
Satata,
Sri, Devi Suswandari dan Dadi Waras Suhardjono. 2012. Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembang Kepribadian. Jakarta: Mitra
Wacana Media.
Komentar
Posting Komentar