MAKALAH PNC (POSTNATAL CARE)
MAKALAH
PNC (POSTNATAL CARE)

DISUSUN
OLEH :
DWI
PUTRI PRATIWI
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
JURUSAN
KEPERAWATAN
TAHUN
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul PNC (POSTNATAL CARE).
Kami meyadari dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kurang dan
lebihnya kami mohon maaf. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Banadar Lampung, Januari 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAM JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN MATERI
A.
Pengertian Masa Nifas................................................................. 2
B.
Adaptasi Fisiologis....................................................................... 2
C.
Adaptasi Psikologis...................................................................... 5
D.
Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir............................. 6
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan................................................................................... 9
B.
Saran............................................................................................. 9
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas akan menyebabkan
terjadinya perubahan-perubahan pada organ reproduksi. Begitupun halnya dengan
kondisi kejiwaan (psikologis) ibu, juga mengalami perubahan. Menjadi orang
tua merupakan suatu krisis tersendiri dan ibu harus mampu melewati masa
transisi. Secara psikologis, seorang ibu akan merasakan gejala-gejala
psikiatrik setelah melahirkan. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh seorang
wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada beberapa
minggu atau bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun psikis.
Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi ada sebagian
lainnya yang tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan
psikologis dengan berbagai gejala atau sindrom yang oleh para peneliti dan
klinisi disebut dengan postpartum blues.
Postpartum blues ini dikategorikan sebagai sindrom
gangguan mental yang ringan. Oleh sebab itu, gangguan ini sering tidak
diperdulikan bahkan sering dianggap sebagai efek samping dari keletihan,
sehingga tidak terdiagnosis dan tidak tertangani sebagaimana seharusnya.
Akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan, dan
dapat membuat perasaan –perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya,
bahkan terkadang gangguan ini berkembang menjadi keadaan yang lebih berat
yaitu Depresi pascapersalinan yang mempunyai dampak lebih
buruk, terutama dalam masalah hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan
anaknya. Padahal data dari penelitian diseluruh dunia secara tegas menunjukkan
bahwa sekitar 50%-75% wanita mengalami postpartum blue.
BAB II
PEMBAHASAN MATERI
A. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas (puerperium) dimulai
setelah plasenta lahir dan berakhir ketika organ-organ reproduksi kembali
seperti keadaan sebelum hamil (Ambarwati, 2009).
Masa nifas (puerperium) ialah masa
sesudah persalinan yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ reproduksi,
biasanya sekitar 6 minggu.
Jadi yang dimaksud dengan masa nifas
adalah masa kembalinya organ reproduksi seperti keadaan sebelum hamil dalam
wkatu 6 minggu setelah melahirkan.
B. Adaptasi Fisiologis
PERUBAHAN-PERUBAHAN DARI ALAT-ALAT
BADAN
1.
Involusi Rahim
Setelah placenta lahir uterus
merupakan alat yang keras, karena kontraksi dan retraksi
otot-ototnya. Fundus uteri +/- 3 jari di bawah pusat. Selama 2
hari berikutnya, besarnya tidak seberapa berkurang, tetapi sesudah 2 hari ini
uterus mengecil dengan cepat, sehingga pada hari ke-10 tidak teraba lagi dari
luar. Setelah 6 minggu tercapai lagi ukurannya yang normal.
Sesudah placenta lahir beratnya
rahim 1000 gr, seminggu kemudian 500 gr, 2 minggu postpartum 375 gr, dan pada
akhir puerperium 50 gr. Involusi terjadi karena masing-masing sel menjadi lebih
kecil, karena cytoplasmanya yang berlebihan dibuang. Involusi disebabkan oleh
proses autolysis, pada mana zat protein dinding rahim dipecah, diabsropsi, dan
kemudian dibuang dengan air kencing.
Sebagai bukti dapat dikemukakan
bahwa kadar nitrogen dalam air kencing sangan tinggi. Pelepasan placenta dan
selaput janin dari dinding rahim terjadi pada stratum spongiosum bagian atas.
Setelah 2-3 hari tampak bahwa
lapisan atas dari stratum spongiosum yang tinggal menjadi nekrotis, sedangkan
lapisan yang bawahnya yang berhubungan dengan lapisan otot terpelihara dengan
baik. Bagian yang nekrotis dikeluarkan dengan lochia, sedangkan lapisan
yang tetap sehat menghasilkan endometrium yang baru.
Epitel baru terjadi dengan
proliferasi sel-sel kelanjar, sedangkan stroma baru dibentuk dari jaringan ikat
diantar kelenjar-kelenjar. Epitelisasi siap dalam 10 hari, kecuali pada
tempat placenta dimana epitelisasi memakan waktu 3 minggu.
2.
Involusi Tempat Plasenta
Setelah persalinan, tempat placenta
merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar
telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke 2
hanya sebesar 3-4cm, dan pada akhir nifas 1-2 cm.
Penyembuhan luka bekas placenta khas
sekali. Pada permulaan nifas bekas placenta mengandung banyak pembuluh
darah besar yang tersumbat oleh thrombus.
Biasanya luka yang demikian sembuh
dengan menjadi parut, tetapi luka bekas placenta tidak meninggalkan
parut. Hal ini disebabkan karena luka ini sembuh dengan cara yang luar
biasa, ialah dilepaskan dari dasarnya dengan pertumbuhan endometrium baru
dibawah permukaan luka. Endometrium ini tumbuh dari pinggir luka dan juga
dari sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.
3.
Perubahan Pembuluh Darah Rahim
Dalam kehamilan, uterus mempunyai
banyak pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi karena setelah persalinan
tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak, maka arteri harus mengecil
lagi dalam nifas..
Orang menduga bahwa
pembuluh-pembuluh yang besar tersumbat karena perubahan-perubahan pada
dindingnya dan diganti oleh pembuluh-pembuluh yang lebih kecil.
4.
Perubahan Pada Cervix Dan Vagina
Beberapa hari setelah persalinan, osteum
externum dapat dilalui oleh 2 jari, pinggir-pinggirnya tidak rata
tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan. Pada akhir minggu
pertama hanya dapat dilalui oleh satu jari saja, dan lingkaran retraksi
berhubungan dengan bagian atas dari canalis cervikallis.
Pada cervix terbentuk sel-sel otot
baru. Karena hyperplasi ini dan karena retraksi dari cervix, robekan
cervix menjadi sembuh. Walaupun begitu, setelah involusi selesai, osteum
externum tidak serupa dengan keadaannya sebelum hamil; pada umumnya osteum
externum lebih besar dan tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada
pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya. Oleh karena robekan ke
samping ini terbentuk bibir depan dan bibir belakang oleh cervix.
Vagina yang sangat regang waktu
persalinan, lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal. Pada minggu
ke-3 postpartum rugae mulai nampak kembali.
5.
Dinding Perut Dan Peritoneum
Setelah persalinan dinding perut
longgar karena regang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6
minggu. Kadang-kadang pada wanita yang asthenis terjadi dilatasis dari
otot-otot rectus abdominis sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah
hanya terdiri dari peritoneum, fascia tipis, dan kulit. Tempat yang lemah
ini menonjol kalau berdiri atau mengejan.
6.
Saluran kencing
Dinding kandung kencing
memperlihatkan oedema dan hiperemia. Kadang-kadang oedema dari trigonum,
menimbulkan obstruksi dari urethra sehingga terjadi retensi urinae.
Kandung kencing dalam puerperium
kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah, sehingga kandung kencing penuh atau
sesudah kencing masih tinggal urine residual. Sisa urine ini dan trauma
pada dinding kandung kencing waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi.
Dilatasi ureter dan pyelum, normal
kembali dalam waktu 2 minggu.
7.
Laktasi
Masing-masinh buah dada terdiri dari
15-24 lobi yang terletak radial dan terpisah satu sama lain oleh jaringan
lemak. Tiap lobus terdiri dari lobuli yang terdiri pula dari acini.Acini
ini menghasilkan air susu. Tiap lobulus mempunyai saluran halus untuk
mengalirkan air susu. Saluran-saluran yang halus ini bersatu menjadi satu
saluran untuk tiap lobus. Saluran ini disebut ductus lactiferosus yang
memusat menuju ke putting susu dimana masing-masih bermuara.
Keadaan buah dada pada 2 hari
pertama nifas sama dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu ini buah
dada belum mengandung susu, melainkan colostrum yang dapat dikeluarkan dengan
memijat areola mamae.
Susunan air susu kurang lebih :
Protein 1-2%
Lemak 3-5%
Gula 6,5-8%
Garam 0,1-0,2%
Susunan air susu ini berbeda dari
ibu ke ibu dan pada seorang ibupun berbeda dari waktu ke waktu. Hal-hal
yang mempengaruhi susunan air susu ialah : diet, gerak badan (mengurangi
protein), serta keadaan jiwa.
Banyaknya air susu sangat tergantung
pada banyaknya cairan yang diminum ibu. Juga beberapa obat mempengaruhi
banyaknya air susu. Berbagai obat yang diminum ibu keluar dengan air
susu. Air susu juga mengandung zat immun misalnya difteri anti toksin
dan thypus agglutinin.
C. Adaptasi Psikologis
PROSES ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU MASA
NIFAS
Reva Rubin membagi menjadi 3 bagian,
antara lain :
1.
Periode “Taking In”
a.
Merupakan periode ketergantungan
b.
Berlangsung dari hari 1-2 setelah melahirkan
c.
Fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri
d.
Dapat disebabkan karena kelelahan
e.
Pada fase ini ibu cenderung pasif terhadap lingkungannya
2.
Pada fase ini perlu diperhatikan pemberian ekstra makanan
untuk proses pemulihannya.
Periode “Taking Hold”
a.
Berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan
b.
Ibu merasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa tanggung
jawabnya dalam merawat bayi
c.
Memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan
yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya
sehingga tumbuh rasa percaya diri
d.
pada masa ini, ibu biasanya agak sensitive dan merasa tidak
mahir dalam melakukan hal-hal tersebut.
Tahap
ini merupakan waktu yang tepat bagi bidan untuk memberikan bimbingan cara
perawat bayi, namunn harus selalu diperhatikan teknik bimbingannya, jangan
sampai menyinggung perasaan atau membuat perasaan ibu tidak nyaman karena ia
sangat sensitive.
3.
Periode “Letting Go”
a.
Berlangsung 10 hari setelah melahirkan
b.
Merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran
barunya. Ibu sudah memulai menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayinya
D. Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir
Masa transisi pada postpartum yang
harus diperhatikan oleh pasangan :
1.
Fase Honeymoon
Adalah fase setelah anak lahir dan
terjadi kontak yang lama antara ibu, ayah, dan anak. Masa ini dapat dikatakan
sebagai psikis honeymoon yang memerlukan hal-hal romantis, masing-masing saling
memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru.
2.
Bounding Attachment
Merupakan satu langkah awal untuk
mengungkapkan perasaan afeksi (kasih sayang). Attachment merupakan interaksi
antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.
Ini dimulai sejak dini begitu bayi
dilahirkan/pada kala IV. Bounding adalah suatu istilah untuk menerangkan
hubungan antara ibu dan bayi, sedangkan attachment adalah suatu keterikatan
antara orang tua dan anak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
suksesnya masa transisi ke masa menjadi orang tua pada saat post partum, antara
lain :
a.
Respon dan dukungan keluarga dan teman
Bagi ibu yang post partum, apalagi
pada ibu yang baru pertama kali melahirkan akan berada pada kondisi stabil,
baik fisik maupun psikologisnya.
Dengan respon positif dari
lingkungan, akan mempercepat proses adaptasi peran ini sehingga akan memudahkan
bagi bidan untuk memberikan asuhan yang sehat.
b.
Hubungan dari pada pengalaman melahirkan terhadap harapan
dan aspirasi
Hal yang dialami oleh ibu ketika
melahirkan akan sangat mewarnai alam perasaaannya terhadap perannya sebagai
ibu. Ia akhirnya menjadi tahu bahwa begitu beratnya ia harus berjuang untuk
melahirkan bayinya dan hal tersebut akan memperkaya pengalaman hidupnya untuk
lebih dewasa.
c.
Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu
Walaupun kali ini adalah
pengalamannya yang pertama melahirkan bayinya, namun kebutuhan untuk
mendapatkan dukungan positif dari lingkungannya tidak berbeda dengan ibu yang
beru pertama melahirkan anak pertama.
d.
Pengaruh budaya
Adanya adat istiadat yang dianut
oleh lingkungan dan keluarga sedikit banyak akan memengaruhi keberhasilan ibu
dalam melewai saat transisi ini. Dalam hal ini bidan harus bijaksana dalam
menyikapi, namun tidak mengurangi kualitas asuhan yang harus diberikan.
Keterlibatan keluarga dari awal dalam menentukan bentuk asuhan dan perawatan
yang harus diberikan pada ibu dan bayi akan memudahkan bidan dalam pemberian
asuhan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah melahirkan, ibu mengalami
perubahan fisiologis dan psikologis yang juga mengakibatkan adanya
beberapa perubahan dari psikisnya. Ia mengalami stimulasi kegembiraan yang luar
biasa, mengalami proses eksplorasi dan asimilasi terhadap bayinya, berada di
bawah tekanan untuk dapat menyerap pembelajaran yang diperlukan tentang apa
yang harus diketahuinya dan perawatan untuk bayinya, dan merasa tanggung jawab
yang luar biasa sekarang untuk menjadi “ibu”.
Perubahan
fisiologis antara lain :
a.
Involusi Rahim
b.
Involusi Tempat Plasenta
c.
Perubahan Pembuluh Darah Rahim
d.
Perubahan Pada Cervix Dan Vagina
e.
Dinding Perut Dan Peritoneum
f.
Saluran kencing
g.
Laktasi
Adapun
adaptasi pada ibu postpartum menurut Reva Rubin dibagi menjadi 3
bagian, antara lain :
a.
Periode “Taking In”
b.
Periode “Taking Hold”
c.
Periode “Letting Go”
B. Saran
Penulis menyadari masih banyak terdapat
kekurangan pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan sekali
kritik yang membangun bagi makalah ini, agar penulis dapat berbuat lebih baik
lagi di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pada
khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Buku ajar asuhan kebidanan pada ibu Nifas : ari sulistyawati
: ANDI jogjakarta. 2009
Buku ajar asuhan kebidanan Nifas Normal : bahiyatun, s,pd,
s.si.t : EGC. Jakarta. 2009
Bagian Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran
Universitas Padjajaran Bandung.1983. Obstetri Fisiologi. Bandung: Eleman
Komentar
Posting Komentar