MAKALAH ORAL PHYSIOTHERAPY
MAKALAH
ORAL PHYSIOTHERAPY

DOSEN PENGAMPU :
drg. RATNASARI DYAH P, M.Pd
DISUSUN
OLEH :
FADILA AMELIA
NIM
: 1812402019
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN
KEPERAWATAN GIGI
TAHUN
2019
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
yang berjudul MAKALAH PHYSIOTHERAPY.
Kami
meyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan
makalah ini.
Demikian
yang dapat kami sampaikan, kurang dan lebihnya kami mohon maaf. Atas
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Banadar
Lampung, Maret 2019
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................ ii
KATA PENGANTAR......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang.......................................................................................... 1
B. Tujuan ...................................................................................................... 1
C. Rumusan masalah..................................................................................... 1
BAB II TEKNIK MENYIKAT GIGI
A. Pengertian
Teknik Menyikat Gigi............................................................. 2
B. Macam-macam
Gerakan dalam Teknik Menyikat Gigi.......................... 13
C. Faktor-faktor dan Kesalahan dari Teknik Menyikat Gigi........................ 12
BAB III KESIMPULAN
A. Kesimpulan.............................................................................................. 15
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Teknik
menyikat gigi adalah cara yang umum dianjurkan untuk membersihkan deposit lunak
pada permukaan gigi dan gusi dan merupakan tindakan preventif dalam menuju
keberhasilan dan kesehatan rongga mulut yang optimal. Oleh karena itu teknik
menyikat gigi harus dimengerti dan dilaksanakan secara aktif dan teratur.
Terdapat teknik-teknik yang berbeda-beda untuk membersihkan gigi dan memijat
gusi dengan sikat gigi. Cara yang terbaik untuk seorang pasien dapat ditentukan
oleh dokter gigi atau perawat gigi setelah pemeriksaan mulut pasien dengan
teliti. Tidak semua alat cocok untuk setiap orang dan penggunaan alat yang
tidak sesuai justru dapat mengakibatkan kerugian-kerugian yang tidak
diharapkan.
Diakui bahwa sampai saat ini belum ada teknik
atau metode universal yang cocok bagi semua orang dan untuk semua pasien. Maka
harus dibuat suatu program pemeliharaan oral hygiene yang spesifik, misalnya
pemilihan macam sikat gigi yang harus digunakan, teknik menggosok gigi,
frekuensi, lamanya penggosokan gigi dan lain sebagainya. Oleh karena itu
pendidikan mengenai kesehatan gigi dan instruksi oral hygiene sangat penting.
B.
Tujuan
Penulisan makalah ini bertujuan :
a. Memenuhi
salah satu tugas
b. Sebagai
media pembelajaran menyusun makalah.
c. Menambah
pengetahuan tentang teknik menyikat gigi
C.
Rumusan masalah
a. Jelaskan pengertian teknik menyikat gigi
!
b. Jelaskan teknik-teknik menyikat gigi !
c. Jelaskan faktor-faktor suatu teknik
penyikatan !
d. Jelaskan kesalahan umum cara menyikat
gigi !
BAB
II
TEKNIK MENYIKAT GIGI
A.
Pengertian
Teknik Menyikat Gigi
Teknik menyikat gigi adalah cara yang umum
dianjurkan untuk membersihkan deposit lunak pada permukaan gigi dan gusi dan
merupakan tindakan preventif dalam menuju keberhasilan dan kesehatan rongga
mulut yang optimal.
Dalam
penyikatan gigi harus diperhatikan hal-hal berikut :
a. Teknik
penyikatan gigi harus dapat membersihkan semua permukaan gigi dan gusi secara
efisien terutama daerah saku gusi dan daerah interdental.
b. Pegerakan
dari sikat gigi tidak boleh menyebabkan kerusakan jaringan gusi atau abrasi.
c. Teknik
penyikatan harus sederhana, tepat, dan efisien dalam waktu.
Mengenai frekuensi
penyikatan gigi telah disetujui bahwa gigi sebaiknya dibersihkan 3 kali sehari,
setiap kali sesudah makan dan sebelum tidur. Manson (1971) berpendapat bahwa
penyikatan gigi sebaiknya dua kali sehari, yaitu setiap kali setelah makan pagi
dan sebelum tidur. Meskipun demikian, Loe (1965) telah menunjukan dengan suatu
percobaan bahwa dengan frekuensi penyikatan gigi satu kali sehari, secara
teliti sehingga semua plak hilang, gusi dapat dipertahankan dalam keadaan
sehat.
Lamanya penyikatan gigi
dianjurkan minimal 5 menit, tetapi sesungguhnya ini terlalu lama, umumnya orang
melakukan penyikatan gigi maksimum 2 menit. Cara penyikatan gigi harus
sistematis supaya tidak ada gigi yang terlampaui, yaitu mulai dari posterior ke
anterior dan berakhir pada bagian posterior sisi lainnya.
B.
Macam-macam
Gerakan dalam Teknik Menyikat Gigi
Teknik menyikat gigi
dapat digolongkan ke dalam 6 golongan atas dasar macam gerakan yang dilakukan,
yaitu :
1. Teknik
Vertikal
Teknik vertikal dilakukan dengan kedua rahang
tertutup, kemudian permukaan bukal gigi disikat dengan gerakan keatas dan
kebawah. Untuk permukaan lingual dan palatinal dilakukan gerakan yang sama
dengan mulut terbuka.
2. Teknik
Horisontal
Permukaan bukal dan lingual disikat dengan
gerakan kedepan dan ke belakang. Untuk permukaan oklusal gerakan horizontal
yang sering disebut “scrub brush technic” dapat dilakukan dan terbukti
merupakan cara yang sesuai dengan bentuk anatomis permukaan oklusal.
3. Teknik
Roll atau Modifikasi Stillman
Teknik ini disebut “ADA-roll Technic” dan
merupakan cara yang paling sering dianjurkan karena sederhana tetapi efisien
dan dapat digunakan diseluruh bagian mulut. Bulu-bulu sikat ditempatkan pada
gusi sejauh mungkin dari permukaan oklusal dengan ujung-ujung bulu sikat mengarah
ke apeks dan sisi bulu sikat digerakan perlahan-lahan melalui permukaan gigi
sehingga bagian belakang dari kepala sikat bergerak dengan lengkungan. Pada
waktu bulu-bulu sikat melalui mahkota klinis, kedudukannya hampir tegak lurus
permukaan email. Gerakan ini diulang 8-12 kali setiap daerah dengan sistimatis
sehingga tidak ada yang terlewat. Cara ini terutama sekali menghasilkan
pemijatan gusi dan juga diharapkan membersihkan sisa makanan dari daerah
interproksimal.
4. Vibratory
Technic
Vibratory technic diantaranya adalah : a.)
Charter’s technic, b.) Stillman-Mc Call technic dan c.) Bass technic.
a. Charter’s
technic
Pada
permukaan bukal dan labial, sikat dipegang dengan tangkai dalam kedudukan
horizontal. Ujung-ujung bulu diletakan pada permukaan gigi membentuk sudut
45° terhadap sumbu panjang gigi mengarah ke oklusal, hati-hati jangan sampai
menusuk gusi. Dalam posisi ini sisi dari bulu sikat berkontak dengan tepi gusi,
sedangkan ujung dari bulu-bulu sikat berada pada permukaan gigi. Kemudian sikat
ditekan sedemikian rupa sehingga ujung-ujung bulu sikat masuk ke interproksimal
dan sisi-sisi bulu sikat menekan tepi gusi. Sikat digetarkan dalam
lingkungan-lingkungan kecil sehingga kepala sikat bergerak secara sirkulasi,
tetapi ujung-ujung bulu sikat harus tetap di tempat semula, setiap kali dapat
dibersihkan dua atau tiga gigi. Setelah tiga atau empat lingkaran kecil, sikat
diangkat, lalau ditempatkan lagi pada posisi yang sama, setiap daerah dilakukan
tiga atau empat kali. Jadi pada teknik itu tidak dilakukan gerakan oklusal
maupun ke apical. Dengan demikian ujung-ujung bulu sikat akan melepaskan debris
dari permukaan gigi dan disisi bulu sikat memijat tepi gusi dan gusi
interdental.
Permukaan
oklusal disikat dengan gerakan yang sama, hanya ujung-ujung bulu sikat ditekan
kedalam pits dan fissures. Permukaan lingual dan palatinal akan sukar
dibersihkan karena bentuk lengkungan dari barisan gigi. Biasanya kepala sikat
tidak dipegang secara horizontal, jadi hanya bulu-bulu sikat pada bagian ujung
dari kepala sikat yang dapat digunakan. Metode Charter’s merupakan cara yang
baik untuk pemeliharaan jaringan tetapi keterampilan yang dibutuhkan cukup
tinggi, sehingga jarang pasien dapat melakukannya dengan sempurna.
b. Stillman-Mc Call Technic
Posisi
dari bulu-bulu sikat berlawanan dengan Charter’s, sikat gigi ditempatkan
sebagian pada gigi dan sebagian pada gusi, membentuk sudut 45° terhadap sumbu
panjang gigi mengarah ke apikal. Kemudian sikat gigi ditekankan sehingga gusi
memucat dan dilakukan gerakan rotasi kecil tanpa merubah kedudukan ujung bulu
sikat. Penekanan dilakukan dengan cara sedikit menekuk bulu-bulu sikat tanpa
mengakibatkan friksi atau trauma terhadap gusi. Bulu-bulu sikat dapat ditekuk
ketiga jurusan, tetapi ujung-ujung bulu sikat harus pada tempatnya.
Metode
Stillman-Mc Call ini telah diubah sedikit oleh beberapa ahli yaitu ditambah
dengan gerakan ke oklusal dari ujung-ujung bulu sikat tetap mengarah ke apikal.
Dengan demikian setiap gerakan berakhir dibawah ujung incisal dari mahkota, sedangkan
pada metode yang asli, penyikatannya hanya terbatas pada daerah servikal gigi
dan gusi.
c. Bass Technic
Pegang
sikat gigi secara horisontal dan letakkan kepala sikat gigi pada permukaan
gigi, lebih tepatnya di tepi gusi (batas gigi dengan gusi), karena
disinilah banyak plak menumpuk. Miringkan kepala sikat gigi kira-kira sebesar 45
derajat menghadap permukaan gigi. Tujuannya agar bulu sikat dapat masuk ke
celah antara gigi dengan gusi yang disebut saku gusi, dan membersihkan plak
yang ada di dalamnya. Di sebelah ini adalah gambar saku gusi. Gerakan sikat
secara horisontal dengan jarak yang sangat pendek atau kecil seperti suatu
getaran dan dengan tekanan yang lembut. Sikatlah dengan gerakan sebanyak 10-20
kali gosokan baru berpindah ke gigi-gigi di sebelahnya.
Gerakan sikat dalam teknik Bass memang
dilakukan secara horisontal. Namun, Anda juga dapat menggantinya dengan
gerakan melingkar dengan sudut dan letak bulu sikat yang sama.
Bagian yang kita fokuskan memang bagian tepi gusi, karena banyak plak menumpuk di daerah ini. Bagian mahkota yang belum tersikat, dapat Anda bersihkan dengan berbagai gerakan misalnya, gerakan melingkar atau vertikal dengan cara menarik bulu sikat dari gusi kearah mahkota.
Bagian yang kita fokuskan memang bagian tepi gusi, karena banyak plak menumpuk di daerah ini. Bagian mahkota yang belum tersikat, dapat Anda bersihkan dengan berbagai gerakan misalnya, gerakan melingkar atau vertikal dengan cara menarik bulu sikat dari gusi kearah mahkota.
Bersihkan semua bagian gigi Anda
dengan langkah sebagai berikut:
1.
Bersihkan permukaan gigi bagian luar yang menghadap ke bibir dan
pipi dengan menggunakan teknik Bass. Mulai pada rahang atas
terlebih dahulu lalu dilanjutkan dengan yang rahang bawah.
2. Bersihkan
permukaan kunyah gigi pada lengkung gigi sebelah kanan dan kiri dengan gerakan
maju mundur, atau mungkin boleh juga dengan sedikit diputar sebanyak 10-20 kali
gosokan juga. Lakukan pada rahang atas terlebih dulu lalu dilanjutkan dengan
rahang bawah. Bulu sikat gigi diletakkan tegak lurus menghadap permukaan gigi
kunyah.
3. Bersihkan
permukaan dalam gigi yang menghadap ke lidah dan langit-langit dengan menggunakan
teknik Bass untuk lengkung gigi sebelah kanan dan kiri. Untuk lengkung gigi
bagian depan dapat Anda bersihkan dengan cara memegang sikat gigi secara
vertikal menghadap ke depan. Lalu gunakan ujung sikat dengan gerakan menarik
dari gusi ke arah mahkota gigi. Lakukanlah pada rahang atas terlebih dulu dilanjutkan
kerahang bawah.




4. Terakhir,
sikat pula permukaan lidah untuk membersihkan bakteri yang berada di permukaan lidah.Permukaan
lidah yang kasar dan berpapil membuat bakteri mudah menempel di sana. Selain
dengan sikat gigi, Anda juga bisa membersihkan lidah menggunakan sikat lidah.
Lidah yang bersih juga akan membuat mulut Anda terasa lebih segar.
5. Fones Technic atau Teknik Sirkuler
Bulu-bulu sikat ditempatkan tegak
lurus pada permukaan bukal dan labial dengan gigi dalam keadaan oklusi. Sikat
digerakan dalam lingkaran-lingkaran besar sehingga gigi dan gusi rahang atas
dan rahang bawah disikat sekaligus. Daerah interproksimal tidak diberi
perhatian khusus. Setelah semua permukaan bukal dan labial disikat, mulut
dibuka lalu permukaan lingual dan palatinal disikat dengan gerakan sama, hanya
dalam lingkaran-lingkaran yang lebih kecil. Karena cara ini agak sukar
dilakukan gerakan maju mundur untuk daerah ini.
Teknik ini dilakukan untuk meniru jalannya
makanan didalam mulut waktu mengunyah. Fones technic dianjurkan untuk anak
kecil karena mudah dilakukan.
6. Physiologic Technic
Untuk teknik ini digunakan sikat
gigi dengan bulu-bulu yang lunak. Tangkai sikat gigi dipegang secara horizontal
dengan bulu-bulu sikat tegak lurus dengan permukaan gigi. Metode ini didasarkan
atas anggapan bahwa penyikatan gigi harus menyerupai jalannya makanan, yaitu dari
mahkota kearah gusi. Setiap kali dilakukan gerakan sebelum berpindah ke daerah
selanjutnya. Teknik ini sukar dilakukan pada permukaan lingual dari premolar
dan molar rahang bawah, sehingga dapat diganti gerakan getaran dalam lingkaran
kecil.
Cara
yang lebih efektif adalah metode penyikat gigi dalam arah vertical pada semua
permukaan dan hanya kurang lebih setengah keliling gigi dibersihkan. Tidak
mengherankan bahwa pada kebanyakan pasien deposit lunak maupun keras di regio
inter dental dan lingual tidak terbersihkan. Oleh karena itu pasien-pasien
perlu diberi intruksi dan pendidikan-pendidikan khusus mengenai cara-cara
pemeliharaan kebersihan mulut dan giginya yang termasuk dalam tindakan oral
fisioterapi. Tindakan oral fisioterpi ini harus mengerti dan dilakukan sendiri
secara aktif oleh pasien dan harus dianggap sebagai tindakan preventif dan terapeutik
bukan hanya sebagai cara atau latihan untuk membersihkan mulut. Diantara sekian
banyak teknik penyikatan gigi yang dilakukan pada pembersihan interdental, metode
Charters (1928) masih paling efisien menurut para ahli. Bulu-bulu sikat gigi
ditempatkan pada sudut kurang lebih 45 terhadap sumbu panjang gigi ke arah
oklusal, kemudian dengan menggunakan tekanan bulu-bulu sikat digetarkan di
antara gigi-gigi disertai gerakan-gerakan rotasi kecil. Dengan demikian sisi
dari bulu-bulu sikat berkontak dengan pinggiran gusi dan menghasilkan pemijatan
yang ideal. Setelah 3 atau 4 lingkaran kecil tanpa merubah posisi bulu-bulu sikat
di angkat dan diletakan kembali posisi yang sama. Prosedur ini dilakukan sampai
seluruh permukaan bukal, labial dan lingual serta interproksimal bersih.
Permukaan oklusal dibersihkan dengan cara menekan bulu sikat kedalam pit dan
fissure-fissure kemudian dilakukan gerakanrotasi kecil, sikat diangkat dan
diletakan kembali. Prosedur ini harus dilakukan berulang kali sampai seluruh
permukaan kunyah menjadi bersih.
Namun
metode ini dan juga metode lain yang serupa memakan waktu yang agak lama dan
sulit dilaksanakan oleh kebanyakan pasien tanpa pengawasan khusus, sehingga
disamping pengguna sikat gigi perlu
ditambah pula teknik-teknik lain seperti penggunaan dental flos, dental tape,
interdental stimulator untuk menyempurnakan pembersihan seluruh permukaan gigi.
Diakui bahwa sampai saat ini belum terdapat sesuatu teknik atau metode
universal yang cocok bagi semua orang dan untuk semua pasien. Harus dibuat
suatu program pemeliharaan oral hygiene yang spesifik, misalnya pemilihan macam
sikat gigi yang harus digunakan, teknik menggosok gigi, frekuensi, lamanya
penggosokan gigi dan lain sebagainya. Oleh karena itu pendidikan mengenai
kesehatan gigi dan instruksi oral hygiene sangat penting. Dalam memberi
pendidikan kesehatan gigi pada pasien seharusnya juga digunakan disclosing
solution/ tablet untuk membantu memperhatikan pada pasien-pasien tersebut
mengenai keadaan kebersihan giginya serta kemajuan yang telah dicapai setelah
melakukan prosedur pemeliharaan yang diinstruksikan.
Laporan-laporan
mengenai percobaan-percobaan tentang hubungan antara prekuensi penyikatan gigi
dengan keadaan oral hygiene sangat bervariasi. Loe dan kawan-kawan (1965) meneliti
efek terhadap giginya yang tercapai dengan cara
menyikat gigi 2 hari sekali dengan teliti. Penelitian ini didasarkan pada
observasi bahwa timbulnya gingivitis mempunyai hubungan erat dengan umr plak.
Ternyata bahwa dengan frekunsi penyikatan gigi 2 hari sekali tersebut gingival
nya tetap sehat. Meskipun telah dibuktikan bahwa perubahan sub klinis pada
gingiva erjadi 2 sampai 3 hari setelah plak terbentuk, tetapi belum diketahui
dengan pasti pada tingkatan mana suatu plak mulai bersifat kariogenik. Oleh
karena itu sebaiknya harus diusahakan agar semua permukaan gigi selalu bebas
dari dental plak. Observasi klinis menunjukan bahwa keadaan ini dapat dicapai dengan
menyikat 2 kali sehari. Sebenarnya bila diinginkan untuk mencapai hasil
kebersihan semaksimal mungkin penyikatan gigi setiap kali setelah makan,
sebelum tidur disertai dengan penggunaan alat-alat pembantu lain, dan dengan
teknik yang sempurna. Pada pasien-pasien yang telah diberi instruksi mengenai
cara-cara pemeliharaan oral hygiene yang baik, yang mau berusaha dan
menyediakan waktu serta tenaga, cara-cara mekanis yang dilakukan ternyata cukup
efektif untuk mencegah pembentukan dental plak (Lovdal et al, 1967:Lighter et al,
1968:Suomi et al, 1969). Tetapi juga
terdapat bukti-bukti di dalam praktek dan di dalam percobaan (Dahl dan Davis,
1954, Massler, 1957; Lindle dan Koch, 1967; Anerud, 1970) bahwa keterampilan
teknis, waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mempertahankan kebersihan ulu dan
gigi dalam suatu standar yang tinggi, ternyata berada diatas kemampuan
rata-rata manusia. Oleh karena itu produer-produser mekans tidak dapat
sepenuhnya memecahkan problema mengenai pencegahan dan kontrol terhadap pembentukan
dental plak bagi masyarakat. Usaha-usaha lain yang dapat dilakukan untuk
membantu mencegah pembentukan plak adalah memperbaiki susunan gigi yang tidak
rata, memperbaiki pinggiran restorasi yang buruk, menghaluskan permukaan gigi
yang kasar dansebagainya dengan tujuan mengurangi “plak traps”, tempat-tempat plak mudah terbentuk.
Ditinjau
dari sudut bakteriologis, tidak dapat dijamin bahwa tindakan-tindakan mekanis
seperti penyikatan gigi dan flossing yang baik akan dapat menghilangkan semua
plak dari permukaan gigi, tetapi mengingat cara-cara lain untuk mengontrol atau
mencegah pembentukan dental plak secara efektif belum ditemukan, maka sampai
saat ini pembersihan gigi secara mekanis masih tetap merupakan cara yang paling
efektif.
Meskipun
terdapat banyak macam tekhnik yang dianjurkan, hanya sedikit
penelitian-penelitian yang telah dilakukan mengenai efektivitas masing-masing tekhnik penelitian-penelitian
untuk membandingkan efektivitas relative dari tekhnik-tekhnik penyikatan
tersebut menghadapi berbagai problem yang sulit yaitu:
1. Cara yang digunakan untuk menentukan
atau mengukur efektivitas masing-masing teknik.
2. Keterampilan masing-masing individu
dalam menggunakan sikat gigi.
3. Bentuk barisan bulu sikat yang
sering tidak memenuhi syarat untuk penerapan tekhnik yang bersangkutan.
4. Kesukaran dalam mengajarkan teknik
penyikatan secara seragam.
Faktor-faktor
lain yang juga harus dipikirkan dalam mengevaluasi efektivitas suatu tekhnik
penyikatan adalah:
1. Efek jangka pendek dan panjang
terhadap jaringan.
2. Kemampuan untuk membersihkan saku
gusi.
3. Kesenangan tiap individu.
4. Pendidikan dan motivasi individu.
5. Tipe geligi pasien.
6. Tingkatan penyembuhan gusi pasien.
Hanya
sedikit laporan-laporan mengenai penelitian yang ditujukan untuk mengevaluasi
efektivitas dari barbagai tekhnik penyikatan yang dianjurkan, tetapi tekhnik
roll merupakan tekhnik yang paling sering dianjurkan, oleh karena sederhana dan mudah dilakukan
oleh pasien. Meskipun kita dapat mendidik pasien dalam satu tekhnik yang kita
anggap baik, kadang-kadang kita harus menghindarkan suatu disiplin yang terlalu
ketat.
C.
Faktor-faktor dan Kesalahan dari
Teknik Menyikat Gigi
10 esalahan Umum Cara Sikat Gigi :
1.
Tidak Menggunakan Sikat Gigi yang Tepat
Richard
H Price, DMD, penasihat American Dental Association (ADA) mengatakan, “Jika
Anda harus membuka rahang cukup besar untuk membiarkan gagang sikat masuk ke dalam
mulut, bisa jadi sikat gigi terlalu besar untuk Anda. Gagangnya pun harus
nyaman digenggam, sensasinya harus senyaman saat Anda memegang garpu saat
makan. Semakin nyaman sikat gigi Anda, makin sering Anda akan menggunakannya
dengan benar.”
2.
Memilih Bulu Sikat yang Salah
Menurut
para dokter gigi di WebMD, jenis bulu sikat tidak terlalu penting dan tak ada
pengaruh lebih. Tampaknya, yang lebih penting adalah teknik membersihkannya
ketimbang bentuk sikatnya. Para dokter gigi ADA menyarankan agar memilih sikat
yang lembut, jangan yang kasar atau kaku karena bisa merusak/menyakiti gusi.
Carilah bulu sikat yang cukup kaku untuk mengangkat plak, tetapi tidak cukup kuat
untuk merusak gigi.
3.
Kurang Sering atau Kurang Lama
Menurut ahli kesehatan gigi di WebMD, frekwensi sikat gigi tiga kali dalam sehari adalah yang terbaik. Ketika jarak waktu menyikat gigi terlalu jauh, plak bakteri akan menumpuk, bisa membuat radang gusi dan masalah lain pada mulut. Disarankan untuk menyikat gigi setidaknya 2 menit setiap kali, akan lebih baik lagi jika dilakukan selama 3 menit. Angka waktu tersebut sebenarnya tidak terlalu penting, namun dipatok agar kita bisa mempunyai waktu yang cukup untuk membersihkan permukaan gigi.
Menurut ahli kesehatan gigi di WebMD, frekwensi sikat gigi tiga kali dalam sehari adalah yang terbaik. Ketika jarak waktu menyikat gigi terlalu jauh, plak bakteri akan menumpuk, bisa membuat radang gusi dan masalah lain pada mulut. Disarankan untuk menyikat gigi setidaknya 2 menit setiap kali, akan lebih baik lagi jika dilakukan selama 3 menit. Angka waktu tersebut sebenarnya tidak terlalu penting, namun dipatok agar kita bisa mempunyai waktu yang cukup untuk membersihkan permukaan gigi.
4.
Menyikat Gigi Terlalu Sering atau Terlalu
Keras
Terlalu sering menyikat gigi, misal 4 kali dalam sehari, bisa membuat akar gigi teriritasi dan menyakiti gusi. Menyikat terlalu keras juga bisa merusak enamel (lapisan teratas gigi). Cara terbaik adalah menyikat gigi secara perlahan dan lembut selama 2-3 menit.
Terlalu sering menyikat gigi, misal 4 kali dalam sehari, bisa membuat akar gigi teriritasi dan menyakiti gusi. Menyikat terlalu keras juga bisa merusak enamel (lapisan teratas gigi). Cara terbaik adalah menyikat gigi secara perlahan dan lembut selama 2-3 menit.
5.
Tidak Menyikat dengan Cara yang Benar
Buat sudut 45 derajat dari garis gusi dan
buat gerakan pendek-pendek saat menyikat. Gerakan menyikat panjang di sepanjang
garis gusi bisa menyebabkan abrasi pada gusi. Sikatlah perlahan ke arah atas
dan bawah dari gigi, jangan dengan gerakan menyamping pada gigi. Buat gerakan
sirkular vertikal, jangan horizontal. Lakukan pada bagian permukaan gigi bagian
depan, belakang, atas dan bawah serta pada lidah.
6.
Selalu Memulai Pada tempat yang Sama
Kebanyakan
orang akan memulai pada titik yang sama setiap kali akan mulai menyikat gigi.
“Mulailah di tempat-tempat yang berbeda supaya Anda tidak menjadi ‘malas’ untuk
membersihkan titik yang lainnya. Jika Anda memulai di titik yang sama, Anda
cenderung semangat di titik tersebut, kemudian malas membersihkan di titik yang
terakhir,” jelas Price.
7.
Mengabaikan Bagian Dalam Gigi
Kebanyakan
orang ternyata sering kali lupa membersihkan bagian dalam gigi, bagian yang
bersentuhan dengan lidah. Plak yang tersembunyi sama pentingnya untuk
dibersihkan seperti plak yang terlihat. Titik yang paling sering dilupakan
untuk dibersihkan adalah pada bagian dalam gigi depan.
8.
Kurang Bersih Membilas
Bakteri
bisa tumbuh pada sikat gigi yang lupa dibersihkan. Jika ini terjadi, bakteri
tersebut bisa tumbuh dan kembali hinggap pada mulut Anda di sesi penyikatan
berikutnya. Bersihkan sikat gigi setelah Anda menggunakannya dan pastikan tak
ada yang menyangkut atau pasta gigi yang tersisa.
9.
Membiarkan Sikat Gigi dalam Keadaan Basah
Sikat
gigi yang basah dan lembab pun akan menjadi tempat favorit bakteri. Tak hanya
itu, sikat gigi yang lembab akan merusak bulu sikatnya jika dibiarkan begitu
saja. Akan lebih baik jika sikat gigi disimpan tertutup dalam keadaan kering.
Biarkan kering, baru tutup dengan tutupnya.
10.
Tidak Mengganti Sikat Gigi Cukup Sering
Rekomendasi
ADA untuk mengganti sikat gigi setelah 3-4 bulan pemakaian atau langsung
ganti ketika bulu sikatnya terlihat mulai rusak. Ketimbang Anda mematok waktu,
perhatikan sikat gigi Anda. Saat ini sudah ada sikat gigi yang bulunya
diberikan penanda warna. Saat warna memudar, maka sudah waktunya sikat tersebut
diganti. Atau ketika Anda menemukan sudah ada bulu sikat gigi yang rontok, atau
fleksibilitasnya mulai berkurang, segera ganti.
Adapun
faktor-faktor lain yang juga harus dipikirkan dalam mengevaluasi efektivitas
suatu teknik penyikatan adalah :
a. Efek
jangka pendek dan panjang terhadap jaringan
b. Kemampuan
untuk membersihkan saku gusi
c. Kesenangan
tiap individu
d. Pendidikan
dan motivasi individu
e. Tipe
geligi pasien
f. Tingkatan
penyembuhan gusi pasien
BAB
III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Teknik menyikat
gigi adalah cara yang umum dianjurkan untuk membersihkan deposit lunak pada
permukaan gigi dan gusi dan merupakan tindakan preventif dalam menuju
keberhasilan dan kesehatan rongga mulut yang optimal.
Teknik menyikat
gigi dapat digolongkan kedalam 6 golongan atas dasar macam gerakan, yaitu :
1. Teknik
Vertikal
2. Teknik
Horizontal
3. Teknik
Roll / Modifikasi Stillman
4. Vibratory
Technic
·
Charter’s Technic
·
Stillman-Mc Call Technic
·
Bass Technic
5. Fones
Technic / Teknik Sirkuler
6. Physiologic
Technic
DAFTAR PUSTAKA


Komentar
Posting Komentar