MAKALAH ORAL PHYSIOTHERAPY
MAKALAH ORAL
PHYSIOTHERAPY

DOSEN PENGAMPU :
drg. RATNASARI
DYAH P, M.Pd
DISUSUN OLEH :
NAMA : SYUAIB MAULADNA
NIM : 1812402038
POLITEKNIK KESEHATAN
TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN GIGI
TAHUN
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul MAKALAH PHYSIOTHERAPY.
Kami meyadari dalam penulisan
makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan,
kurang dan lebihnya kami mohon maaf. Atas perhatiannya kami ucapkan terima
kasih.
Banadar Lampung, Maret 2019
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................ ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................... 1
B. Tujuan ..................................................................................................... 1
C. Rumusan Masalah.................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Oral Physiotherapy.................................................................................. 2
B. Dasar Pemikiran Biologik
untuk Kontrol Plak Personal ........................ 2
C. Aplikasi Klinis......................................................................................... 3
D. Teknik Perawatan di Rumah
(Home Care).............................................. 3
E. Frekuensi Pembersihan Plak.................................................................... 5
F. Kontrol Plak dengan Bahan
Kimia........................................................... 5
G. Irigasi di Rumah sebagai
Perawatan Penyakit Periodontal..................... 6
H. Irigasi dan Implan.................................................................................... 6
I. Aplikasi Klinis........................................................................................... 6
J. Agen untuk Hipersensitivitas
dan Karies Akar......................................... 6
K. Hipersensitivitas Dentin........................................................................... 7
L. Instruksi Kebersihan
Mulut dan Heath Promotion................................... 7
M. Kemauan dan Motivasi
Pasien................................................................ 7
N. Pengkajian Pemeliharaan
di Rumah................................................................... 10
O. Strategi untuk
Meningkatkan Kinerja Perawatan di Rumah.................. 10
P. Kompensasi untuk
Kebersihan Mulut yang Buruk................................. 11
Q. Efek Buruk dari Peralatan
Kebersihan Mulut......................................... 12
R. Terapi Non Bedah................................................................................... 13
S. Dasar Pemikiran dan
Fakta...................................................................... 14
T. Tantangan dan Pembatasan..................................................................... 14
U. Rencana Perawatan dan
Urutan.............................................................. 15
V. Evaluasi dari Hasil.................................................................................. 16
BAB III KESIMPULAN
A. Kesimpulan...............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ada perbedaan dalam menjaga
kebersihan mulut yang dilakukan personal (dilakukan oleh pasien) dan
professional debridement (dilakukan oleh dokter gigi). Sebagian besar penyakit
periodontal dapat dicegah. Seperti penyakit kronis lainnya, perilaku atau gaya
hidup memegang peranan penting dalam pathogenesis periodontitis. Beberapa
faktor resiko yang terlibat dalam penyakit periodontal diantaranya flora
subgingiva, predisposisi faktor genetik, stress, dan penyakit sistemik. Beberapa faktor resiko seperti faktor genetik
tidak dapat diatasi. Sedangkan perawatan dapat dilakukan pada penyakit
periodontal akibat rendahnya faktor kebersihan mulut.
Diakui bahwa sampai saat ini belum
ada teknik atau metode universal yang cocok bagi semua orang dan untuk semua
pasien. Maka harus dibuat suatu program pemeliharaan oral hygiene yang
spesifik, misalnya pemilihan macam sikat gigi yang harus digunakan, teknik
menggosok gigi, frekuensi, lamanya penggosokan gigi dan lain sebagainya. Oleh
karena itu pendidikan mengenai kesehatan gigi dan instruksi oral hygiene sangat
penting.
B. Tujuan
Penulisan makalah ini
bertujuan :
a.
Memenuhi
salah satu tugas mata kuliah
b.
Sebagai
media pembelajaran menyusun makalah.
c.
Menambah
pengetahuan
C. Rumusan Masalah
- Jelaskan Pengertian Oral Physiotherapy
- Jelaskan Teknik-Teknik Oral Physiotherapy
- Jelaskan Faktor-Faktor Oral Physiotherapy
- Jelaskan Kesalahan Umum Cara Oral Physiotherapy
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Oral Physiotherapy
Beberapa istilah yang digunakan
untuk mendeskripsikan metode yang dilakukan pasien untuk menghilangkan plak
antara lain home care, oral hygiene, oral physiotherapy, personal
oral hygiene, dan personal plaque
control.
Ada
perbedaan dalam menjaga kebersihan mulut yang dilakukan personal (dilakukan
oleh pasien) dan professional debridement
(dilakukan oleh dokter gigi). Sebagian besar penyakit periodontal dapat
dicegah. Seperti penyakit kronis lainnya, perilaku atau gaya hidup memegang peranan
penting dalam pathogenesis periodontitis. Beberapa faktor resiko yang terlibat
dalam penyakit periodontal diantaranya flora subgingiva, predisposisi faktor
genetik, stress, dan penyakit sistemik.
Beberapa faktor resiko seperti faktor genetik tidak dapat diatasi.
Sedangkan perawatan dapat dilakukan pada penyakit periodontal akibat rendahnya
faktor kebersihan mulut.
B.
Dasar Pemikiran Biologik
untuk Kontrol Plak Personal
Kontrol plak adalah salah satu
variabel yang menentukan status periodontal seseorang, dan merupakan variabel
yang dapat dimodifikasi. Plak dapat berada di supragingiva atau subgingiva, dan
dapat bersifat adherent atau nonadherent ke jaringan atau gigi.
Komposisi mikrobial plak berbeda di setiap individu dan di tiap daerah dalam
rongga mulut. Plak supragingiva adalah agen penyebab gingivitis. Sebuah eksperimen
pada 1960 dilakukan, dimana terdapat suatu kelompok studi dengan faktor oral hygiene yang diabaikan. Hasilnya,
pada subjek penelitian terbentuk plak supragingiva dan gingivitis berkembang
dalam 2 sampai 3 minggu. Ketika kebersihan mulut pasien dijaga, kondisi gingiva
kembali membaik. Hal ini membuktikan bahwa plak supragingiva merupakan agen
penyebab gingivitis.
Keberadaan flora sebagai penyebab
gingivitis belum spesifik. Ketika plak menumpuk dan menjadi lebih tebal, komposisi
flora dalam rongga mulut berubah dari gram positif menjadi flora anaerob gram
negatif. Perubahan ini ditandai dengan pembengkakan ringan dari margin gingiva
yang membawa bakteri anaerob ke daerah subgingiva. Kemudian, peradangan ini
menghasilkan eksudat kaya protein yang membutuhkan organisme asaccharolytic
sebagai sumber energi dan karbon. Akumulasi plak supragingiva terbukti berpengaruh
terhadap komposisi mikrobiota subgingiva, khususnya pada saat probing pada poket yang kurang dari 6mm.
Plak akan terbentuk lebih cepat pada gingiva yang terinflamasi, karena eksudat
radang pada gingivitis lebih kondusif dalam menyokong pertumbuhan bakteri
patogen periodontal. Kontrol plak telah terbukti dapat mengurangi inflamasi,
bahkan pada daerah subgingiva yang belum dilakukan debridement.
Meskipun tidak semua kasus
gingivitis berlanjut menjadi periodontitis, gingivitis merupakan langkah awal
sebelum terjadi periodontitis. Dalam sebuah studi pada orang yang gemar minum
teh dan tidak menjaga kebersihan mulut di Sri Lanka, angka kejadian
periodontitis adalah 89% dari subjek penelitian dengan gingivitis kronis.
Karena gingivitis dapat dicegah dengan perawatan dari dokter gigi dan individu
sendiri, maka sama halnya dengan periodontitis yang juga dapat dicegah dengan menjaga
kebersihan mulut yang rutin.
Beberapa studi telah mempelajari
efek dari kontrol plak yang tidak adekuat dalam tindakan terapeutik, menyatakan
bahwa terapi periodontal tidak ada hubungannya dengan perawatan di rumah yang
tidak adekuat. Kenyataannya, studi dari beberapa teknik bedah periodontal
menunjukkan bahwa faktor terpenting yang menentukan peningkatan status
periodontal bukanlah tipe bedah yang digunakan, tetapi tingkat kontrol plak
pasien dan kemauan pasien dalam memelihara periodontalnya.
Hubungan antara kebersihan mulut
dan perkembangan suatu penyakit merefleksikan hubungan yang kompleks dari
faktor resiko eksogen dan host.
Menentukan faktor resiko akan memudahkan dokter gigi dalam memperkirakan individu
yang beresiko tinggi, sehingga dapat ditangani dengan perawatan yang tepat. Meskipun
plak supragingival merupakan faktor yang penting, terdapat juga beberapa
faktor-faktor resiko lainnya yang dapat mempengaruhi perkembangan penyakit
peridontal.
C.
Aplikasi Klinis
Setiap orang memiliki status periodontal
yang berbeda, contohnya pada perokok atau pasien dengan diabetes mellitus. Oleh
karena itu, diperlukan kontrol plak yang tepat dan memulai perawatan di rumah (home care) untuk mendapatkan kesehatan
periodontal yang lebih baik.
D.
Teknik Perawatan di Rumah
(Home Care)
Menjaga
kebersihan mulut bertujuan untuk mendestruksi biofilm secara fisika dan kimia
secara kontinyu.
1.
Sikat
Gigi
Sikat
gigi merupakan teknik menjaga kebersihan mulut yang paling dasar.
a.
Sikat
gigi manual
Bulu
sikat gigi yang membulat terbukti lebih baik daripada ujung bulu yang tajam
karena rendahnya resiko merusak gingiva dan gigi. Sebuah studi menjelaskan
bahwa penggantian sikat gigi setiap 2 minggu berpengaruh terhadap pembersihan
plak. Namun, terdapat juga studi yang melaporkan bahwa bulu sikat yang
digunakan selama 3 bulan masih seperti yang baru dan tidak berpengaruh terhadap
pembersihan plak.
1) Teknik
sikat gigi manual
Teknik sikat gigi yang berdasarkan
tipe gerakan yang digunakan :
a)
Teknik
Bass
Bulu
sikat diarahkan 45 derajat terhadap margin gingiva dan masuk dengan lembut
kedalam sulkus, lalu digetarkan pendek-pendek. Bulu sikat dimasukkan ke dalam
sulkus untuk mengangkat plak subgingiva (dimasukan kira-kira 1mm).
b)
Teknik
Charter
Bulu
sikat diarahkan tegak lurus terhadap sumbu gigi, dimasukkan ke embrasure interproksimal dengan lembut
sehingga bulu sikat melengkung pada permukaan oklusal gigi. Sisi bulu sikat
biasanya bersandar pada permukaan gingiva. Teknik charter baik digunakan untuk memijat
gingiva dan pada kasus periodontitis lanjut dengan embrasure interdental yang terbuka, dan pasien paska operasi.
c)
Teknik
Roll
Bulu
sikat ditempatkan seperti teknik bass, tetapi bulu sikat bukan digetarkan,
melainkan kepala sikat diputar sehingga bulu sikat berada pada permukaan
oklusal dengan gerakan memutar.
d)
Teknik
Stillman modifikasi
Mirip
dengan teknik roll, namun ujung bulu sikat diletakkan masuk kedalam sulkus dan
diatas marginal margin sebelum dilakukan gerakan memutar.
2) Sikat gigi elektromekanik
Sikat gigi elektromekanik generasi
baru terlihat lebih efektif dalam pembersihan plak dibandingkan dengan sikat
gigi manual, khususnya pada area interproksimal. Penggunaan sikat gigi
elektromagnetik tidak menyebabkan terjadinya abrasi atau resesi jika digunakkan
dengan aturan yang benar. Sikat gigi elektromagnetik tidak dibutuhkan oleh
semua pasien, karena banyak pasien dapat menjaga kebersihan mulut yang adekuat
dengan sikat gigi manual yang dikombinasikan dengan dental floss atau alat
pembersihan interdental lainnya. Sikat gigi elektromekanik ini dianjurkan untuk
pasien yang membutuhkan pembersihan plak yang ekstra.
2.
Alat
pembersih interdental
Embrasure interdental merupakan
daerah dengan akumulasi plak yang sulit dibersihkan. Sikat gigi manual kurang berperan
dalam pembersihan plak interdental dan gingivitis. Pilihan alat tergantung dari
besarnya daerah dan bentuk dari embrasure interdental serta kondisi jaringan
lunak disekitar gigi.
a)
Dental
floss
Dental
floss merupakan alat pembersih interdental yang paling sering digunakan.
Panjang dental floss kira kira 12-15 inci lalu dililitkan pada jari dengan
gerakan flossing yang berulang-ulang
dari atas ke bawah sehingga plak dapat dibersihkan. Selain untuk membersihkan
plak atau sisa makanan, flossing juga
dapat menunjukkan bagian kontak gigi yang terbuka dan membutuhkan restorasi.
Sehingga penting dijelaskan kepada pasien bahwa tujuan dari flossing bukanlah untuk membersihkan
sisa makanan, tetapi untuk melihat hubungan dari permukaan interproximal dari
setiap gigi.
Floss
terbagi dua menjadi floss threader
dan superfloss. Floss threader digunakan pada gigi tiruan cekat, dimana floss tidak dapat lewat di bagian kontak
interdental karena tertutup. Floss
threader digunakan untuk membersihkan daerah dibawah bridge. Alat alternatif dari floss
threader adalah superfloss,
merupakan tipe floss yang menggabungkan bahan plastik rigid yang dapat
digunakan dibawah gigi tiruan cekat. Superfloss
lebih mudah digunakan daripada floss
threader. Bagian yang rigid masuk ke dalam ruang embrasure antara retainer dan pontik dan dapat ditarik melewati
bagian lingual. Bagian yang berongga digunakan dengan gerakan dari apikal ke
koronal di daerah interproksimal dari gigi abutment.
1)
Floss
holders
Merupakan
tangkai plastik untuk memegang benang yang berfungsi sebagai pengganti jari.
Berguna khususnya untuk pasien dengan manual
dexterity. Benang digerakkan seperti gergaji, dilewatkan dibagian kontak
interdental dan sekali melewati kontak, benang ditarik berlawanan di bagian
interproksimal gigi dan digerakan dari apikal ke koronal.
2)
Automated
interdental cleaners
Merk yang dijual : The Braun
Interclean
3)
Tusuk
gigi
Tusuk
gigi merupakan alat yang digunakan untuk bagian interproksimal dengan beberapa desain
yaitu bulat, rata, dan segitiga. Tusuk gigi baik digunakan pada bagian
interdental papil yang mengalami resesi ringan. Tusuk gigi triangular merupakan
alat yang efektif, namun agak sulit digunakan pada regio posterior karena
desain triangular harus melewati jarak embrasure
pada sudut tertentu.
4)
Sikat
interdental
Kepala
sikat interdental berbentuk konus atau silindris, sangat baik digunakan pada
daerah embrasure yang terbuka dengan
papila yang pendek dimana sikat dapat masuk tanpa menyebabkan trauma disekitar
papil. Banyak studi mengemukakan bahwa sikat interdental lebih baik dibanding
tusuk gigi untuk daerah embrasure terbuka.
E.
Frekuensi Pembersihan Plak
Beberapa studi menunjukkan bahwa
pembersihan plak yang dilakukan setiap 48 jam sangat efektif untuk mencegah
terjadinya gingivitis. Namun jika terjadi peradangan pada gingiva, plak akan lebih
banyak terdapat di daerah yang meradang dibanding daerah yang tidak meradang.
Sehingga, durasi dan pembersihan plak yang seksama lebih berpengaruh daripada
frekuensinya.
F.
Kontrol Plak dengan Bahan
Kimia
Bahan kimia dapat menghambat
pembentukan kalkulus supragingiva. Kalkulus supragingiva menggambarkan plak
gigi yang termineralisasi, dan permukaannya dilapisi lapisan plak yang tidak
termineralisasi. Kalkulus supragingiva tersusun dari kalsium yang mengandung
mineral, termasuk brushite, octacalcium
phosphate, hydroxyapatite dan whitelocke. Bahan kimia anti kalkulus
bertujuan untuk mengurangi pembentukan kalkulus melalui adhesi pada kristal
kalkulus yang sedang berkembang, sehingga menghambat pembentukan kristal yang
lebih jauh. Pyrophosphate dibuktikan
dapat digunakan sebagai agen anti kalkulus. Pasta gigi yang mengandung 2% zinc chloride dapat mengurangi
pembentukan kalkulus secara signifikan.
G.
Irigasi di Rumah sebagai
Perawatan Penyakit Periodontal
1. Irigasi
supragingiva dan gingivitis
Irigasi
supragingiva digunakan untuk menghilangkan plak supragingiva yang berperan
sebagai penyebab gingivitis. Dilaporkan aliran air intermitten lebih baik
dibanding aliran air yang kontinu. Aliran air yang kontinu dibuktikan dapat
menekan jaringan dan mencegah drainase sulkular, sebaliknya aliran air yang
intermiten hanya menekan jaringan secara intermiten, sehingga dapat
membersihkan bakteri pada fase dekompresi. Efek efek kilinis yang terjadi
dimungkinkan karena hancurnya lapisan biofilm, dan pembersihan mediator-mediator
inflamasi.
2. Irigasi subgingiva dan periodontitis
Beberapa
bahan untuk irigasi subgingiva dalam perawatan periodontitis yaitu stannous fluoride, tetrasiklin, dan
bermacam obat kumur antiseptik. Beberapa diantaranya telah dibuktikan lebih
baik dibandingkan irigasi menggunakan air. Banyak studi menyatakan bahwa
irigasi di rumah dapat mengurangi mediator inflamasi. Irigasi subgingiva dengan
air pada pasien dengan periodontitis kronis menghasilkan keadaan periodontal
yang lebih baik dan mengurangi mediator inflamasi pada cairan krevikular,
seperti interleukin-1, spesies reaktif oksigen, dan prostaglandin E2.
H.
Irigasi dan Implan
Beberapa studi menjelaskan bahwa
irigasi yang dilakukan pada daerah periimplan dengan menggunakan clorhexidine 0,06%
atau dengan clorhexidine 0,12% akan menghasilkan daerah mukosa periimplan yang
tidak meradang bila dibandingkan dengan daerah periimplan yang tidak diirigasi.
I.
Aplikasi Klinis
Menurut suatu studi, irigasi yang
dilakukan secara signifikan dapat mengurangi inflamasi gingiva dan plak pada
pasien ortodontik. Namun, pada daerah paska bedah, irigasi sebaiknya dilakukan
setelah 1 bulan kemudian.
J.
Agen untuk Hipersensitivitas
dan Karies Akar
Karies
akar merupakan komplikasi dari penyakit periodontal yang terjadi karena beberapa
faktor, antara lain; host, karbohidrat yang terfermentasi,
dan mikroflora. Adanya salah satu atau lebih faktor diatas dapat meningkatkan
resiko berkembangnya lesi karies akar. Karies akar dapat dihambat dengan cara
perawatan dirumah yang cermat dan aplikasi fluoride. Pengggunaan fluoride
menjadi tidak efektif jika pasien tidak menjaga kebersihan mulut dengan baik.
Plak pada karies akar dibagian bukal lebih mudah dibersihkan dibandingkan
daerah distal.
Diet
yang benar dan mengurangi konsumsi karbohidrat juga dapat mengurangi terjadinya
karies akar. Selama proses penghalusan akar, riwayat karies akar pada pasien
akan membuat praktisi memodifikasi rencana perawatannya. Prosedur bedah yang
dapat menyebababkan eksposur permukaan akar harus dihindari. Perlunya
kecermatan dalam pemberian fluoride pada bagian permukaan akar gigi yang baru
terekspos saat penyembuhan paska bedah.
K.
Hipersensitivitas Dentin
Dentin yang hipersensitif merupakan
suatu keadaan dimana permukaan akar yang terekspos menjadi sensitif terhadap
rangsang taktil, termal dan kimia. Keadaan ini banyak terjadi pada permukaan
bukal dan pada orang dengan tingkat kebersihan yang tinggi. Abrasi dapat
terjadi akibat trauma penyikatan gigi dan bedah periodontal resektif. Beberapa
bahan dapat digunakan untuk mengurangi sensitivitas, seperti pasta gigi yang
menutup tubuli dentin terbuka. Bahan yang digunakan antara lain strontium chloride, potassium nitrate,
potassium citrate, formaldehyde, dan varian flouride.
L.
Instruksi Kebersihan
Mulut dan Heath Promotion
Instruksi untuk menjaga kebersihan
mulut atau health promotion dilakukan
untuk meningkatkan derajat kesehatan pada sekelompok orang berdasarkan usaha
dari masing-masing individu. Beberapa metode dari instruksi menjaga kebersihan
mulut yaitu instruksi one-on-one dan
pendekatan instruksi perorangan lainnya. Bagaimanapun juga, pembersihan plak
harus dilakukan dalam praktek kedokteran gigi. Program-program yang dilakukan
harus dengan pendekatan yang berbeda mengingat perilaku pasien yang bervariasi.
M.
Kemauan dan Motivasi
Pasien
Ketaatan pasien didasarkan pada
tingkat kemauan pasien dalam menjaga gaya hidupnya dan mengikuti saran dokter
gigi. Pasien yang memiliki hubungan terapeutik yang baik dengan paraktisinya
memiliki prognosis yang lebih baik dalam perawatan masalah kesehatan gigi dan
mulutnya.
1. Tingkat Prevensi
a. Primer
Strategi promosi dan perlindungan
kesehatan yang bertujuan agar pasien dapat meningkatkan kesehatannya.
b. Sekunder
Prevensi dengan tujuan diagnosis
dan perawatan pada tahap awal. Misalnya perawatan pada tahap awal gingivitis
dan periodontitis.
c. Tersier
Prevensi tersier fokus pada
pembatasaan disabilitas dan peningkatan rehabilitasi. Contohnya pada bedah periodontal
ekstensif dan bedah implan untuk memperbaiki gigi yang hilang dan mengatasi penyakit
periodontal.
2. Penyakit
Kronis
Mencegah
penyakit kronis lebih mudah dan tidak memakan biaya dibanding mengobatinya.
Banyak penyakit gigi dan mulut dapat dicegah dengan mudah dengan prosedur home care (perawatan dirumah). Faktor
resiko penyakit periodontal banyak berkaitan dengan perilaku pasien atau
psikologikal pasien seperti merokok, stress, dan tidak menjaga kebersihan
mulut. Oleh karena itu, kini terdapat bidang psikologi kesehatan yang
mengidentifikasi dan mempelajari faktor-faktor psikologis yang berkaitan dengan
perilaku dalam menjaga kesehatan.
Health belief model merupakan teori dasar
mengenai pendidikan dan promosi kesehatan, dimana dipaparkan bahwa kepercayaan
seorang individu tentang penerapan kesehatan akan mempengaruhi perilaku
kesehatan, termasuk pelaksanaan suatu rekomendasi. Model ini dapat dimanfaatkan
untuk merencanakan pendidikan kesehatan dan dijadikan sebagai alat untuk
memprediksi perilaku kesehatan seseorang. Sebagai contoh, apabila pasien tidak
merasa bahwa penyakit gigi tidak begitu penting, maka ia akan enggan untuk
melakukan tindakan yang sesuai dengan perilaku kesehatan yang tepat, misalnya
memakai dental floss atau kontrol berkala ke dokter gigi. Banyak akademisi di
bidang periodonti mendukung sebuah pendekatan dimana pasien diberi pendidikan
tentang proses penyakit periodontal dan akibatnya. Strategi ini berdasarkan
teori health belief model yang bertujuan
untuk mengubah kepercayaan seseorang untuk meraih ketepatan pemberian
pengobatan yang tepat.
Meskipun
penyampaian informasi yang berfokus pada manfaat dari kebersihan mulut yang
baik ini diduga dapat sedikit berpengaruh pada banyak pasien, kenyataannya hal
ini tidak efektif pada orang yang beranggapan bahwa penyakit periodontal
terlihat biasa dan tidak membahayakan. Sebagai contoh, seseorang diberikan
demonstrasi tentang bakteri subgingiva yang dapat dilihat melalui mikroskop dan
dianggap dapat meningkatkan tingkat kecemasan akan penyakit periodontal. Hal ini
terlihat masuk akal dan diberikan sebagai salah satu strategi motivasional,
namun kenyataannya pasien yang telah melihat bakteri mereka sendiri beranggapan
bahwa skor plak dan gingivitisnya sama dengan mereka yang sehat.
Strategi
lain diharapkan dapat meliputi sebuah perbandingan yang berdasarkan pada faktor
sosial sebagai perbandingan lain yang berdasarkan penyakit atau kesehatan.
Penampakan dan kesehatan wajah dan mulut merupakan komponen penting dari
kecantikan fisik dan berdampak pada penghargaan diri dan gambaran diri. Hal ini
dapat dijadikan motivasi kepada pasien daripada melihat dari sisi kesehatan. Apapun
strategi yang digunakan, sangat penting untuk pasien mengerti pentingnya
menjaga kebersihan mulut dan mengontrol kondisi sistemiknya.
Pelaksanaan
rekomendasi perawatan sebagian besar rendah, terutama pada penyakit kronis,
dimana keadaan ini tidak berlangsung tiba-tiba atau mengancam keselamatan.
Ketika kelangsungan hidup berada dalam keadaan yang baik, banyak pasien yang
sulit untuk melaksanakannya. Pada penggunaan peralatan pembersih interdental, rekomendasi
penggunaan dental floss cukup buruk. Pasien sering mengalami kesulitan dalam
membersihkan bagian interdentalnya. Padahal, penyakit periodontal lebih sering
menyerang bagian interproksimal dan pada daerah ini yang sering terbentuk plak.
Pada studi yang berfokus pada pembersihan daerah interproksimal menunjukkan tingkat
pelaksanaan yang cukup buruk atau rendah.
Pada
sebuah studi dari pelaksanaan dengan perawatan terekomendasi, Wilson dkk. berhasil
menurunkan 50% dari jumlah ketidaktaatan pelaksanaan dengan cara melakukan pelatihan
periodonti secara privat dengan menggunakan beberapa perubahan. Dalam formulir
yang telah dilakukan sedikit perubahan, perubahan-perubahan ini tercatat di bawah,
dengan anjuran yang spesifik mengenai cara mereka mengaplikasikannya dalam
menjaga kebersihan mulut:
- Sederhanakan susunan (menggunakan peralatan kebersihan mulut yang lebih sedikit)
- Sesuaikan dengan pilihan pasien (apabila seseorang menolak untuk menggunakan dental floss, anjurkan penggunaan tusuk gigi interdental)
- Kirim pengingat (kartu dikirim kepada pasien untuk mengingatkan mereka dalam menjaga kebersihan mulut)
- Terus mencatat pelaksanaan (salinan diagram plak dan pendarahan tentang skor sekarang, skor target, dan skor pada kunjungan terakhir diberikan kepada pasien)
- Berikan dorongan positif (pujian terhadap proses)
- Mengidentifikasi hal-hal yang berpotensi untuk tidak dilakukan dan memodifikasi perawatan apabila dibutuhkan (menghindari pembedahan pada pasien dengan kontrol plak yang buruk)
Pada
saat ini, penerapan konsep perilaku sosial ini pada praktek gigi sebenarnya
cukup sulit. Bukan berarti suatu dimensi model akan selalu berguna.
Kenyataannya, model-model rumit telah dikembangkan untuk dipergunakan pada
faktor-faktor yang bervariasi dalam mempengaruhi perilaku pasien. Seperti model
new century model of oral health dari
Inglehart dan Tedesco. Mereka menekankan pada pendekatan yang lebih mengarah
pada perasaan dan emosi pasien, faktor kognitif seperti persepsi kesehatan
gigi, perilaku kesehatan yang lalu atau sekarang, dan situasi kehidupan pasien
sekarang ini. Inglehart dan Tedesco telah mengembangkan perspektif yang lebih
luas daripada model sebelumnya. New century model mereka tentunya lebih
konsisten dengan biopsychosocial model.
Pendekatan ini mempunyai implikasi yang signifikan terhadap pemeliharaan
pasien, promosi kesehatan, dan pendidikan kesehatan gigi.
N. Pengkajian
Pemeliharaan di Rumah
Penilaian efektivitas pengendalian
plak pada pasien merupakan proses yang berkelanjutan, dimulai pada awal
evaluasi dan terus sepanjang terapi, termasuk pemeliharaan. Perawatan di rumah
dapat dinilai dengan menggunakan berbagai metode. Pertama, gigi dapat diperiksa
secara visual untuk mengetahui ada tidaknya plak. Ini adalah metode yang paling efektif, karena
plak mungkin sulit untuk dilihat. Kedua, plak dapat dilihat melalui disclosing
solution. Disclosing solution tersedia dalam bentuk cair atau tablet. Cairan
dapat diterapkan pada gigi yang menggunakan kapas kecil aplikator atau pasien
dapat berkumur dengan bahan untuk beberapa detik dan kemudian meludah. Tablet
dikunyah dan larut dalam air liur, yang kemudian berdesir di mulut dan
dikeluarkan. Cairan dapat menawarkan beberapa keuntungan bahwa operator dapat
memastikan bahwa semua permukaan terdeteksi. Disclosing agent merah memiliki
kelemahan: dapat menodai bibir dan gusi. Lip
balm atau petroleum jelly dapat
meminimalkan pewarnaan bibir, dimana beberapa pasien merasa keberatan. Kontak
dengan pakaian harus dihindari, karena noda sulit untuk dihilangkan.
Terlepas dari bagaimana plak
divisualisasikan, persediaan harus dibuat untuk mengukur jumlah plak. Berbagai
indeks telah dikembangkan untuk tujuan ini. Indeks tersebut dapat berguna untuk
dua tujuan: (1) untuk digunakan dalam memantau kemajuan pasien (untuk menilai
apakah perawatan di rumah memadai untuk mengijinkan intervensi bedah), atau (2)
sebagai alat motivasi pasien. Secara umum, indeks plak sederhana lebih baik.
Satu indeks yang banyak digunakan adalah O'Leary plak indeks. Disclosing
solution yang digunakan dan persentase daerah plak yang terlihat dihitung.
Target berguna (jika agak sewenang-wenang) mungkin tidak lebih dari 20% dari
permukaan dengan plak yang terlihat. Modifikasi O'Leary plak indeks lebih disukai
oleh beberapa dokter, di mana persentase permukaan dengan plak dikurangi dari
100. Ini memberikan persentase permukaan bebas plak. Beberapa pasien lebih suka
berusaha untuk mencapai skor 100% dengan modifikasi O'Leary plakat indeks ini,
daripada berusaha untuk mencapai nilai 0% dengan index pada umumnya.
O.
Strategi untuk
Meningkatkan Kinerja Perawatan di Rumah
Langkah pertama dalam mengatasi
kekurangan perawatan di rumah adalah menentukan penyebab masalah. Pada
dasarnya, ada tiga kemungkinan:
a.
Pasien
tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak bisa melakukannya (kurangnya
keterampilan)
- Pasien tidak tahu apa yang harus dilakukan (kurangnya pengetahuan)
- Pasien tahu apa yang harus dilakukan, mampu melakukannya, tetapi tidak mau melakukannya (kurangnya motivasi).
Untuk menentukan masalah,
diperlukan pengamatan pasien dalam pelaksanaan prosedur yang direkomendasikan.
Ini merupakan hal yang terbaik yang dapat dilakukan di kamar dengan dinding
cermin dipasang, karena sulit untuk beberapa pasien melakukan prosedur
kebersihan sambil duduk di kursi dokter gigi. Tanpa pengamatan, tidak ada cara
intervensi yang akan efektif.
Kasus 1 : pada pengamatan, pasien
ini terlihat kurang mampu untuk menggunakan sikat secara efektif. Dia tidak
memposisikan sikat dengan benar. Terutama dalam menggunakan floss untuk
menghilangkan makanan dari antara gigi daripada menggunakan itu untuk
menghilangkan plak. Pasien kurang memahami apa yang harus dilakukan untuk
menghilangkan plak. Pengulangan instruksi diperlukan, alternatif yang mungkin
dianggap, seperti teknik menyikat lain atau EMB.
Kasus 2 : Home care pasien agak buruk meskipun setelah instruksi teknik yang tepat. Pada
pengamatan terlihat antusias tetapi usahanya tidak efektif. Hal ini tampaknya
karena kurangnya keluwesan, yang mungkin merupakan konsekuensi dari lama
berdiri dan rheumatoid arthritis yang parah. Lebih baik apabila ditemukan
metode alternatif yang akan meningkatkan usahanya, atau pasien perluk kontrol
yang lebih sering untuk pemeliharaan.
Kasus 3 : Pasien ini mengerti
tentang prosedur yang direkomendasikan dengan baik. Hal ini tidak menjadi hal
yang baru karena ia telah menerima instruksi berulang-ulang kali. Pada
pengamatan tidak ditemukan bahwa ia mempunyai kekurangan dalam ketangkasan.
Bahkan, ia mengemukakan akan melakukannya dua kali sehari di rumah, tetapi
semua itu bohong karena ditemukan banyak plak dan daerah pendarahan. Apa yang
tampaknya hilang adalah motivasi atau disiplin diri yang diperlukan untuk
mempertahankan tingkat kebersihan yang memuaskan. Mengingat tingginya noncompliaance didokumentasikan dalam
literatur penelitian, pasien yang tidak memenuhi target kebersihan tidak boleh
diabaikan.
P.
Kompensasi untuk
Kebersihan Mulut yang Buruk
Kepatuhan adalah hal yang
signifikan dalam terapi periodontal. Mengingat literatur kepatuhan, dokter akan
menemui pasien yang tidak mengikuti instruksi mengenai home care, lebih tepatnya dokter akan memiliki banyak pasien yang tidak
mengikuti petunjuk secara menyeluruh. Sebagai contoh pada pasien yang tidak
menggunakan dental floss, meskipun menerima petunjuk dan beberapa nasihat untuk
melakukannya. Apakah ini kurangnya kepatuhan pasien untuk pengobatan gagal?
Belum tentu. Ada beberapa strategi untuk mengkompensasi kebersihan mulut yang
buruk.
Perangkat baru seperti EMB akan
sering memberikan perbaikan, setidaknya dalam jangka pendek. EMB juga memiliki
keuntungan lebih baik untuk membersihkan plak interproksimal. Hal ini penting
karena wilayah interproksimal adalah daerah yang sering diabaikan oleh pasien.
Strategi yang sama mungkin menyarankan alat bantu interdental alternatif. Beberapa
pasien yang memiliki kesulitan dengan benang (dan banyak melakukan) akan siap
menerima alat bantu interdental lainnya, seperti Stim-U-Dents. Penggunaan alat
bantuan mungkin memberikan tingkat yang dapat diterima dalam pembersihan plak.
Kebersihan mulut mungkin kurang
penting dalam menentukan hasil dari kepatuhan terhadap perawatan profesional.
Hal ni mungkin karena kelebihan dalam pembersihan subgingiva dan perawatan
supragingiva di rumah . Satu intervensi, maka akan menjadi peningkatan
frekuensi pemeliharaan kunjungan. Strategi lain mungkin menggunakan berbagai
alat bantu yang dapat memberikan manfaat tambahan, seperti obat kumur
antimikroba. Namun, itu harus diingat bahwa strategi ini juga memerlukan
kepatuhan.
Banyak pasien yang merokok juga
memiliki home care yang kurang ideal
dan merokok merupakan faktor risiko besar untuk periodontitis. Klinisi harus
mendorong pasien yang tidak patuh untuk berhenti merokok. Faktor risiko merokok
dihapus melalui pemberhentian kebiasaan merokok pasien. Pasien yang patuh dan
mungkin lebih mudah untuk melakukan pemeliharaan.
Strategi bagi pasien yang tidak
patuh mungkin dengan mengubah rencana perawatan. Hindari operasi pada pasien
dengan home care yang kurang baik.
Pasien tersebut mungkin lebih baik dikelola dengan cara non-bedah yang meliputi
perawatan inisial dan melakukan pemeliharaan sesering mungkin. Jenis pasien seperti
ini sebaiknya diberikan agen antigingivitis topikal atau kumur.
Q.
Efek Buruk dari Peralatan
Kebersihan Mulut
Tidak ada perlakuan terapeutik
tanpa efek buruk yang terjadi, termasuk pada latihan kebersihan mulut. Abrasi
gigi dan resesi gingiva merupakan 2 efek buruk yang terjadi karena trauma
menyikat gigi. Sangat sulit untuk mempelajari fenomena ini karena terdapat
beberapa variabel yang membingungkan.
1. Abrasi Gigi
Kejadian
dimana sikat gigi menyebabkan abrasi pertama kali ditemukan pada studi in
vitro, laporan kasus, dan cross sectional studies. Beberapa penelitian
mengatakan menyikat gigi secara horizontal merupakan faktor resiko yang lebih
penting daripada kekakuan bulu. Penelitian lain mengatakan bahwa pasta gigi
abrasif merupakan penyebab utama dari abrasi gigi. Ada banyak kejadian dimana
EMB lebih sedikit menyebabkan abrasi, kemungkinan karena tekanan yang lebih
kecil yang diaplikasikan pada sikat ini.
2.
Resesi Gingiva
Resesi gingiva merupakan hasil dari
interaksi antara faktor pencetus, seperti trauma pada jaringan gingiva dan
faktor pendukung, seperti tipisnya jaringan. Resesi gingiva, yang terjadi pada
permukaan bukal, sering disebabkan karena trauma menyikat gigi. Hal ini masuk
akal apabila jaringan gingiva yang tipis lebih mudah terjadi resesi. Pada
jaringan marginal yang tipis, resesi bukal juga berhubungan dengan adanya narrow
zone dari attach gingiva dan labioversi atau akar yang menonjol. Gigi yang
telah dilakukan perawatan orthodonti lebih mudah terkena resesi, apalagi jika
gigi telah berpindah melalui tulang kortikal labial.
Metode
menyikat gigi merupakan penyebab resesi gingiva yaitu bulu sikat kaku,
frekuensi menyikat gigi, pasta gigi abrasif, dan ujung pemotong bulu sikat. Hal
ini merupakan sumber dari trauma gingiva seperti ulserasi dapat terjadi karena
menyikat gigi yang salah. Perlu disadari bahwa resesi gingiva juga dapat
disebabkan karena kerusakan jaringan periodontal.
Pasien
beresiko tinggi meliputi pasien yang rentan terkena trauma menyikat gigi, gigi
yang terletak lebih labial, tulang alveolar yang tipis, dan luas dan ketebalan
gingiva yang minimal. Beberapa pasien beresiko pada bertambah parahnya resesi
gingiva, terlebih jika faktor-faktor ini berkombinasi dengan rencana perawatan
ortodonti karena dapat menyebabkan kesalahan letak labial dari gigi. Pada
sebagian kasus, sikat gigi yang sangat halus atau EMB dapat dijadikan solusi.
Celah
gingiva terkadang disebabkan karena flossing yang kurang benar atau terlalu
bersemangat. Peralatan interdental lainnya, seperti tusuk gigi segitiga dan
tusuk gigi dapat menyebabkan kerusakan jika digunakan dengan cara yang salah dan
terlalu bersemangat. Pasien harus diajarkan tentang penggunaan alat-alat ini.
3. Kemungkinan
Efek Buruk dari Irigasi di Rumah
Beberapa
peneliti telah memeriksa efek dari penggunaan alat denyut pancaran air pada gingiva dan mukosa dan kebanyakan
menyimpulkan bahwa ada resiko kecil pada kerusakan jaringan ketika peralatan
itu digunakan sesuai dengan instruksi pabrik. Pada suatu penelitian, penggunaan
alat irigasi sebesar 60psi pada poket periodontal tidak terawat tidak
menimbulkan adanya kerusakan jaringan dibanding dengan kontrol grup yang tidak
diirigasi. Ada beberapa pertanyaan mengenai irigasi menyebabkan bakterimia.
Beberapa peniliti menyatakan hal itu tidak benar dan ada peneliti lain yang
menyatakan irigasi dapat menyebabkan bakterimia. Karena hal ini berdampak pada
individu yang beresiko mengalami endokarditis, beberapa penulis telah
merekomendasikan agar alat tersebut tidak digunakan pada individu yang
beresiko.
4. Kebersihan
Mulut setelah Prosedur Regeneratif
Pembersihan
plak secara menyeluruh dapat meningkatkan hasil terapi bedah regeneratif dan
dapat membantu menyediakan stabilitas untuk keuntungan klinis yang dicapai.
Dalam periode pasca operasi, kontrol plak dilakukan dengan agen kemoterapi
seperti obat kumur chlorhexidine glukonat dan pembersihan plak secara manual
dihindari. Hal penting untuk hasil regeneratif adalah stabilitias luka dan
pelestarian hubungan fibrin halus yang terbentuk pada permukaan akar gigi.
Adanya bekuan fibrin ini dapat mencegah penurunan epitel, sehingga memungkinkan
regenerasi attachment aparatus. Pembersihan plak yang terlalu bersemangat, pada
profesional atau pribadi, dapat merugikan kepada proses penyembuhan dan harus
dihindari.
R.
Terapi Non Bedah
Tujuan dari terapi periodontal yaitu
menghilangkan penyakit dan mengembalikan jaringan periodonsium yang sehat,
yaitu kenyamanan, fungsi, dan estetik yang dapat dipelihara dengan baik, baik
dari pasien maupun dokter gigi. Perubahan atau penghilangan bakteri patogen
periodontal dan penyembuhan inflamasi merupakan hal terpenting dari terapi non
bedah, hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kesehatan periodontal
dan menurunkan perkembangan penyakit. Terapi non bedah termasuk perawatan
kebersihan mulut, instrumentasi periodontal dan agen kemoterapeutik untuk
mencegah, menghentikan, dan mengeliminasi penyakit periodontal.
S.
Dasar Pemikiran dan
Fakta
Instrumentasi dilakukan sebagai
bagian dari terapi non bedah yang bertujuan secara langsung untuk mengubah
prevalensi dari bakteri patogen periodontal atau mengurangi jumlah dari
mikroorganisme ini. Pembersihan secara langsung dari organisme patogenik dan
produksi mereka atau pembersihan faktor-faktor yang berkontribusi seperti kalkulus dan tambalan yang
overhanging, tujuannya adalah untuk mengurangi kuantitas dari organisme dan
mengembalikan komposisi flora normal dalam mulut yang berhubungan dengan
kesehatan.
Skeling dan penghalusan akar dan
pembersihan daerah subgingiva merupakan perawatan yang efektif dalam perawatan
penyakit periodontal. Instrumentasi subgingiva menghasilkan pengurangan jumlah
yang signifikan dari bakteri gram negatif anaerob dan mendukung peningkatan
dari bakteri gram positif coccus dan rods yang berhubungan dengan kesehatan.
Jumlah dari spirochetes, pergerakan
mikroba, dan bakteri periodontal yang spesifik seperti Porphyromonas
gingivalis, Pervotella intermedia, dan Actinobacillus actinomycetemcomytans,
sebagai spesies Bacteroides, dapat berkurang setelah dilakukan skeling dan
penghalusan saluran akar. Pengurangan dari sel sitokin penyebab peradangan yang
membuat kerusakan jaringan dan ditemukan pada gingivitis dan periodontitis
secara perlahan menurun setelah flora dalam mulut seimbang. Microba ini berubah
dengan sekejap secara aami, dan skeling serta penghalusan saluran akar harus
dilakukan secara berkala agar hasil positif dapat dipertahankan.
Perubahan dari mikroflora setelah
skeling dan penghalusan saluran akar bersamaan dengan perubahan klinis dari
ukuran periodontal yang sehat. Menurunnnya pendarahan saat probing dapat
mencapai 45% dengan kedalaman probing pertama kali 4 sampai 6,5mm merupakan
fakta bahwa peradangan berkurang. Perubahan pada kedalaman probing dan tingkat
perlekatan setelah skeling dan penghalusan saluran akar sangat tergantung pada
ukuran awal dan pada umumnya berhubungan dengan kombinasi antara meningkat
dalam perlekatan klinis dan menghilangnya pembengkakan atau penyusutan
(resesi). Daerah kedalaman probing awal 1-3mm
memperlihatkan rata-rata pengurangan kedalaman probing 0,03mm dan
kehilangan perlekatan 0,34mm, dimana daerah yang probing awalnya 4-6mm
memperlihatkan penurunan kedalaman probing sebesar 1,29mm dan 0,55 pembesaran
perlekatan. Ukuran yang mirip pada daerah awal kedalaman probing dari 7mm atau
lebih besar termasuk 2,16mm berarti penurunan di dalam kedalaman probing dan
1,19 peningkatan pada perlekatan.
T.
Tantangan dan Pembatasan
Skeling dan penghalusan akar
merupakan prosedur klinis yang membutuhkan waktu dan keterampilan. Pembersihan
seluruh plak dan kalkulus dari permukaan akar, terutama yang ada di dalam
poket, merupakan prosedur yang sulit dan jarang berhasil. Pembersihan akar
hanya 65% dalam sekali pembersihan pada poket sedalam 5mm atau lebih.
Penelitian terdahulu menyatakan bahwa pembersihan kalkulus baik dengan atau
tanpa pembedahan periodontal menyisakan kalkulus residual sebanyak 11-85%.
Daerah yang paling banyak terdapat kalkulus residual setelah keling dan
penghalusan akar yaitu furkasi, kontur gigi, CEJ, dan akar yang cekung.
Meskipun demikian, instrumentasi yang tepat dapat mempengaruhi keberhasilan
terapi periodontal.
Walaupun permukaan akar yang halus
dan mengkilap sering dijadikan indikator dalam instrumentasi perawatan
periodontal bahwa permukaan akar sudah bersih, faktor utama yang mempengaruhi
keberhasilan perawatan periodontal masih
belum jelas. Pembersihan seluruh sementum yang bertujuan untuk mengeliminasi ikatan
endotoksin pada permukaan akar dan dapat menyebabkan gigi sensitif.
Skeling dan penghalusan akar dapat mengurangi
jumlah bakteri periodontal yang patogen secara signifikan. Kemampuan organisme
seperti Actinobacillus actinomycetemcomitans untuk
menginvasi jaringan lunak pada periodonsium, berpotensi untuk membentuk koloni
bakteri, dan terjadi respon host yang
buruk, terutama pada pasien dengan periodontitis agresif.
Beberapa penelitian telah
membandingakan efektivitas penanganan yang berbeda dalam menangani pasien
periodontitis. Walaupun beberapa penelitian menyatkan bahwa tidak ada perbedaan
bermakna pada hasil klinis antara terapi bedah dan non bedah, evaluasi tetap
harus dilakukan pada penelitian tersebut. Perbedaan dalam desain penelitian
termasuk metode instrumentasi (waktu dan skill klinisi), serta evaluasi data
(kurangnya analisa yang cukup secara statistik mengenai kedalaman poket),
menyulitkan aplikasi secara klinis. Terapi periodontal yang regenerative hanya
bisa didapatkan dengan prosedur perawatan bedah periodontal. Walaupun demikian,
terapi non bedah masih menjadi perawatan yang utama dalam menangani pasien
dengan mild hingga moderate periodontitis kronis, serta merupakan perawatan
fase pertama bagi pasien yang dirasa memerlukan perawatan bedah.
U.
Rencana Perawatan dan
Urutan
Rencana perawatan selama terapi
periodontal non bedah dimulai dengan program perawatan kebersihan mulut secara
mandiri yang didesain secara khusus untuk menemukan kebutuhan pada setiap
individu. Rencana ini meliputi berbagai macam peralatan kebersihan mulut untuk
membersihkan plak supragingiva. Perencanaan dari tahapan pembersihan
periodontal direncakan untuk mengeliminasi atau menghilangkan bakteri plak dan
byoproduct nya seperti endotoksin dan untuk menghilangkan kalkulus dari permukaan
koronal, akar, maupun pada poket periodontal. Perawatan periodontal sering
direncanakan pada beberapa kali kunjungan dan berfokus pada 1 atau 2 kuadran
pada setiap kunjungannya. Pada pasien dengan peradangan yang cukup berat dan
banyak deposit , pembersihan seluruh mulut dapat direncanakan untuk mendapatkan
penyembuhan awal, diikuti dengan perawatan khsusu selanjutnya. Informasi
terkini menyebutkan bahwa tahap pembersihan mulut atau disinfeksi yang
dilakukan pada periode yang dekat (24jam) dapat mengurangi potensi infeksi dan
dapat menghasilkan respon klinis yang baik.
V.
Evaluasi dari Hasil
Poin terakhir dari terapi non-bedah
adalah kembalinya jaringan periodontal yang sehat. Penyembuhan setelah
pembersihan periodontal biasanya terjadi selama jadwal untuk evaluasi kembali
sekitar 4-6 minggu setelah perawatan. Grafik periodontal sebaiknya dilakukan
sebagai gambaran dari keefektifan perawatan periodontal di rumah. Manfaat
setelah pembersihan periodontal miliputi penurunan dari peradangan klinis
(eritema, edema, dan pendarahan saat probing), susunan mikroba patogen menurun,
penurunan kedalaman probing, dan meningkatnya perlekatan klinis. Penyembuhan
setelah skeling dan penghalusan saluran akar menghasilkan formasi junctional
epitelium yang panjang dan hal ini akan konsisten apabila dilakukan perawatan
sendiri juga di rumah dengan baik. Faktor-faktor yang dapat mengurangi
efektivitas dari pembersihan periodontal dan memperlambat proses penyembuhan
meliputi faktor-faktor anatomis seperti kecekungan akar dan furkasi, adanya
poket yang dalam, kontrol plak yang kurang adekuat, adanya faktor sistemik, dan
keahlian klinisi yang bervariasi. Pasien yang memperlihatkan kestabilan pada
jadwal evaluasi selanjutnya ditempatkan pada program perawatan penunjangan
periodontal, dimana pasien yang masih
terjadi peradangan dapat diberikan alternatif perawatan lain termasuk
penggunaan obat-obatan, pembersihan tambahan, atau bedah periodontal.
Instrumentasi
Manual
Suksesnya
terapi periodontal non bedah tergantung dari keahlian teknis dari klinisi yang
melakukan perawatan, pengetahuan yang cukup dan pengertian akan instrumen
periodontal, desainnya dan penggunaannya, dan prinsip-prinsip teknik
penggunaannya.
Desain
Instrumen
Terdapat
tiga bagian dari dental instrumen : handle,
shank, dan working end (Gambar 14-1). Handle
merupakan bagian terbesar dari instrumen. Instrumen metal biasanya
mempunyai handle yang berongga untuk
mengurangi beratnya, dimana pengurangan tekanan dibutuhkan saat mengontrol
instrumen dan meningkatkan sensitivitas perasa. Handle instrumen memiliki berbagai macam variasi ukuran dari
5-10mm. Handle yang lebih besar dan
cukup ringan sebagian besar disukai karena dapat meningkatkan efisisensi
klinisi. Knurling – tekstur atau penomoran diaplikasi pada pola handle, membuat
kemudahan dalam pergeseran dan improvisasi instrumen.
Shank menghubungkan working end dari instrumen ke handle.
Bagian ujung dari shank yang berhubungan
dengan working end disebut terminal shank. Dua karakteristik dari shank, panjang dari lekukan menentukan
akses pada daerah bagian dalam mulut. Panjang keseluruhan dari shank, jarak dari handle ke working end,
seragam di antara instrumen. Panjang 30-40mm merupakan panjang yang ideal,
menyediakan pengaruh yang tepat pada kebanyakan prosedur dental. Jarak dari
lekukan pertama ke working end adalah
panjang fungsional, hal ini bervariasi diantara instrumen-instrumen. Shank fungsional yang lebih panjang
dibutuhkan ketika akses pada daerah perawatan terbatas – pilih instrumen dengan
shaft fungsional yang panjang untuk
gigi dengan mahkota klinis yang panjang, poket periodontal yang dalam, dan
permukaan gigi belakang.
Shank instrumen dapat diklasifikasikan
dalam bentuk lurus, melengkung, atau bersudut. Shank fungsional pada instrumen lurus sejajar dengan sumbu handle. Instrumen ini digunakan pada
daerah di dalam mulut yang tidak sulit dijangkau seperti gigi depan. Instumen
melengkung dan bersudut mempunyai shank
fungsional yang menekuk dari sumbu handle
dalam satu arah saja. Instrumen yang melengkung lebih serba guna dan lebih
mudah diadaptasikan. Shank bersudut
umumnya didesain untuk daerah yang sulit untuk dijangkau, termasuk permukan
distal pada gigi posterior dan poket yang dalam.
Desain
instrumen juga berpengaruh pada fungsi dari instrumen itu sendiri. Diameter
dari shank menentukan kekuatan dari
instrumen. Shank yang lebih tebal lebih kuat dan berguna untuk menghilangkan
deposit kalkulus yang keras. Pabrik menambahkan metal pada shank untuk
meningkatkan kekuatan dari instrumen, memberikan pelabelan nama dengan ‘P’ (prophylaxis) atau ‘R’ (rigid) dalam nama instrumen. Fleksibilitas
dari shank didapat dari panjang dan
diameter. Fleksibilitas dari shank
melepaskan gaya yang berguna saat skeling dan penghalusan akar, fungsinya yaitu
untuk mencegah kerusakan saluran akar. Instrumen dengan shank yang tipis atau fleksibel dianjurkan untuk penghalusan
saluran akar.
Instrumen
periodontal tersedia dengan ujung ganda, yang arahnya berlawanan untuk
digunakan pada permukaan gigi yang berlawanan dengan 2 ujung working end yang
berbeda, atau ujung tunggal dengan 1 working
end pada handle. Keseimbangan,
fitur kritis dari instrumen, ditentukan dari working end instrumen yang segaris dengan sumbu handle dan shank.
Instrumen yang tidak seimbang akan terasa aneh dan sulit untuk mengontrol saat
pemakaian.
Working end, disebut juga pisau
pada beberapa instrumen, adalah bagian fungsional pada instrumen. Ada 3
penamaan pada working end, pada
bagian yang paling ujung dinamakan tip,
dimana bagian akhir dari instrumen dinamakan toe. Heel adalah bagian
pertama dari working end, yang paling
dekat dengan shank. Permukaan dari
instrumen terdiri dari 2 sisi pemotong. Berlawanan dengan permukaan depan
adalah bagian belakang dari instrumen. Daerah di antara bagian sisi depan dan
belakang adalah sisi samping. Sisi pemotong dari instrumen adalah garis yang
terbentuk dari konvergensi dari permukaan depan dan samping. Sudut yang
terbentuk dari pertemuan permukaan depan dan samping disebut sudut internal.
Sudut internal seragam di antara instrumen skeling berkisar antara 70-800.
Bentuk dan kontur dari working end berbeda
pada setiap tipe instrumen. Instrumen yang digunakan pada terapi periodontal
nonbedah meliputi prob periodontal, eksplorer, skeler sickle, kuret, dan file periodontal.
Prob
periodontal digunakan selama penilaian pasien untuk dilakukan perawatan dan
mengevaluasi jaring periodonsium. Prob mempunyai bagian ujung yang panjang,
tipis, dan membulat, dan terdapat tanda ukuran milimeter untuk mengukur
struktur periodontal. Pada kenyataannya, prob bisa dalam bentuk bulat atau
datar, dengan ujung yang tumpul. Panjang dan sudut dari prob sangat
bermacam-macam seperti tanda pengukuran yang terdapat pada setiap jenis prob.
Periodontal prob juga digunakan untuk mengukur kedalaman sulkus atau poket,
untuk mengidentifikasi daerah pendarahan pada epitelium sulkular, untuk
menentukan letak mucogingival junction, dan untuk mengukur gingiva berkeratin
atau lesi oral.
Eksplorer
mempunyai ujung yang tipis, fleksibel, dan bentuknya menyerupai kawat. Eksplorer
digunakan untuk mendeteksi lesi pada struktur gigi, mengevaluasi bentuk
topografi dari permukaan gigi, menentukan apakah perlu pengangkatan deposit,
menenentukan letak kalkulus subgingiva, dan mengevaluasi perawatan.
Skeler
sickle didesain untuk mengangkat
kalkulus supragingiva. Skeler sickle memiliki
bagian segitiga pada sisi pemotong, memiliki 2 sisi pemotong dan ujung yang
runcing. Bagian belakang sickle adalah garis yang biasanya cukup tajam dan
dapat menyebabkan kerusakan jaringan lunak jika digunakan pada subgingiva. Skeler
sickle mempunyai 2 tipe yaitu dengan shank yang lurus melengkung.
Kuret
didesain untuk instrumentasi subgingiva tapi merupakan instrumen yang serbaguna.
Dapat digunakan juga untuk kalkulus supragingiva dan penghilangan stain,
skeling yang baik, penghalusan saluran akar, dan kuret jaringan. Karakteristik
yang unik dari kuret adalah memiliki bagian pemotong yang agak membulat. Bentuk
ini membuat bagian belakang dari kuret dapat digunakan pada instrumentasi
subgingiva karena tidak akan melukai jaringan. Universal kuret memiliki 2
bagian pemotong dan permukaan depan bersudut 90 derajat dengan terminal shank.
File
adalah instrumen khusus yang digunakan untuk menghancurkan dan melepaskan
deposit kalkulus yang terdapat pada bagian yang dalam, poket periodontal yang
mengerucut dimana instrumen dengan working end yang lebih panjang atau luas
tidak dapat mencapainya. File mempunyai sisi pemotong paralel yang banyak,
umumnya 3-5, tersusun pada working end yang bersambungan dengan terminal shank.
Working end berbentuk oval atau segiempat berdasarkan sisi pemotong mana yang
dipasang. Working end yang banyak dengan beragam sudut dibutuhkan untuk 4
permukaan gigi. file dapat dengan mudah merusak permukaan akar karena desain
yang berat dan klinisi harus menggunakan salah satu dengan tepat. Improvisasi
desain pada skeling ultrasonik telah mengurangi penggunaan file untuk kondisi
yang tidak biasa.
Kaca
mulut mempunyai kegunaan yang beragam pada prosedur dental, termasuk
penglihatan tidak langsung, pemantulan cahaya untuk menunjang penglihatan, dan
retraksi dari bibir, pipi, dan lidah. Kaca mulut juga berguna untuk
transiluminasi, memancarkan cahaya melalui sebuah struktur untuk memperjelas
inspeksi, dimana hal ini berguna untuk mendeteksi kalkulus yang berada pada
permukaan proksimal dari gigi anterior.
Klinisi
memegang kaca mulut pada tangan yang tidak bekerja, berlawanan dengan instrumen
kerja. Tangan yang memegang kaca mulut distabilkan pada gigi pasien dengan
tumpuan jari untuk mencegah terletaknya kaca pada gingiva atau jaringan lunak
lainnya. Hindari kontak kaca mulut dengan gigi ketika memasukkan atau
memindahkan kaca dari mulut dengan cara memposisikan kaca paralel dengan
permukaan oklusal. Ketika menarik bibir dan pipi, hindari tekanan pada sudut
labial dengan menarik pipi menjauhi gigi. Kaca yang berembun bisa ditanggulangi
dengan menempatkan kaca mulut terlebih dahulu pada suhu tubuh, kemudian
memasukkan kembali ke dalam mulut.
Posisi
Pasien dan Dokter Gigi
Prosedur
periodontal sering memakan waktu lama. Posisi yang nyaman dari dokter gigi dan
pasien dapat diatur dengan kelelahan fisik yang minimal dan derajat relaksasi
sederhana berdampak pada kesuksesan perawatan periodontal. Bangku operator
disesuaikan dengan tinggi lutut, sehingga kaki operator menapak datar pada
lantai dengan paha kira-kira paralel dengan lantai. Selama perawatan, berat
tubuh didukung pada bangku dan kaki klinisi diletakkan minimal sejajar bahu
untuk menjaga keseimbangan. Punggung dan leher lurus. Kursi dental diposisikan
sedemikian rupa sehingga kepala pasien berada pada siku operator agar bahu
operator dapat bergerak dengan alami, posisi relex, dan membantuk mencegah
cedera leher dan bahu setelah bekerja. Operator harus menjaga posisi kepala
tegak dengan tulang belakang dan menjaga jarak posisi operator minimal 14 inci
dari muka pasien.
Pasien
ditempatkan pada posisi miring atau tidur selama perawatan gigi. Bagian
belakang dari kursi pasien diatur tidak lebih dari 100 dari lantai.
Kaki pasien diangkat sampai sejajar dengan kepala. Selama perawatan, operator
memerintah pasien untuk membelokkan kepala mendekati atau menjauhi operator
untuk memusatkan daerah perawatan pada lampu dental. Lebih penting lagi, posisi
ini menjaga pernafasan pasien selama prosedur dental. Posisi kepala pasien
diatur agak naik atau turun untuk lengkungan rahang yang diperlukan. Untuk
instrumentasi gigi rahang atas, pasien diminta untuk mengangkat dagu ke atas
sehingga dataran oklusan mendekati tegak lurus terhadap lantai. Untuk gigi
rahang bawah, pasien diminta untuk menunduk atau operator dapat menaikkan
sedikit sandaran kepala sehingga permukaan oklusal sejajar dengan lantai. Arah
dari lampu dental berbeda pada setiap lengkung rahang. Awalnya, lampu diarahkan
pada daerah leher pasien dan kemudian lampu diputar perlahan di atas rongga
mulut – 450 dengan lantai untuk lengkung rahang atas dan 900
terhadap lantai untuk menyinari lengkung rahang bawah.
Gigi
geligi dibagai beberapa sextant untuk mengatur dan untuk menegakkan penilaian,
perawatan, dan evaluasi secara efisien. Setiap sextan mempunyai aspek fasial
dan lingual. Posisi klinisi secara khusus, posisi kepala pasien, dan penempatan
instrumen berbeda-beda pada 12 bagian ini.
Prinsip-Prinsip
Instrumentasi
Posisi
operator yang menggunakan tangan kanan duduk antara jam 9-12 dari pasien, dan
operator kidal duduk pada sisi yang berlawanan yaitu jam 12-3.
Rahang
atas dan bawah masing-masing dibagi menjadi 3 sextant.
·
Rahang
atas (sextant 1-3): permukaan fasial sextant 1 dan permukaan lingual sextant 3,
kepala pasien menjauhi operator dan menunduk. Posisi operator berada pada jam
9-12. Pada permukaan fasial sextant 1 dan permukaan fasial sextant 3, kepala
pasien mengarah operator dan dagu dinaikkan, posisi operator pada jam 10-12.
Pada sextant 2 permukaan fasial dan lingual dibagi pada garis midline gigi
menjadi dua yaitu daerah hijau dan biru. Pada daerah berwarna hijau, kepala
pasien menjauhi ke operator dengan kepala menunduk dan posisi operator pada jam
9-11. Pada daerah biru, kepala pasien mengarah ke operator dan dagu dinaikkan
ke atas dan posisi operator pada jam 11-12.
·
Rahang
bawah (sextant 4-6): pada permukaan fasial sextant 4 dan permukaan lingual
sextant 6, kepala pasien mengarah operator dan menunduk, posisi operator pada
jam 9-11. Pada permukakan lingual sextant 4 dan permukaan fasial sextant 6,
kepala pasien menjauhi operator dan dagu dinaikkan, posisi operator pada jam
9-10. Pada sextant 5, permukaan fasial dan lingual dibagi pada garis midline
gigi menjadi dua yaitu daerah hijau dan biru. Pada daerah hijau, kepala pasien
menjauhi operator dan menunduk. Pada daerah biru, kepala pasien mengarah
operator dan menunduk.
Modified pen grasp dilakukan pada kebanyakan
prosedur non-bedah dimana jari telunjuk dan jempol memegang instrumen dan berada
pada sisi yang berlawanan pada ujung handle
yang mendekati shank. Jari tengah
diletakkan pada handle untuk
memberikan stabilitas. Jari manis tidak memberikan fungsi pada genggaman tapi
memberikan dukungan saat prosedur. Keempat jari saling bersentuhan agar tangan
bekerja dalam kesatuan selama instrumentasi. Genggaman ini memberikan kontrol
maksimum pada instrument, memudahkan pergerakan instrumentasi, meningkatkan
sensitivitas sentuhan, dan menurunkan kepenatan operator.
Pada
prosedur skeling, jari manis berperan sebagai tumpuan untuk instrumen dan
sebagai sandaran jari, berfungsi untuk menstabilisasikan tangan. Pada prosedur
periodontal, instrumen digerakkan untuk mencongkel deposit dari permukaan gigi.
Lokasi ideal sebagai tumpuan yaitu pada gigi yang merupakan tumpuan intraoral.
Stabilitas yang baik didapatkan pada tumpuan pada permukaan oklusal atau
insisal gigi yang berdekatan dengan gigi yang dikerjakan, bisa pada rahang atau
kuadran yang sama. Hindari bertumpu pada gigi prostetik karena kurang aman dan
dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada pasien. Posisi tangan untuk
instrumentasi rahang atas disebut “palm
up” dimana telapak tangan menghadap bidang oklusal, dan sebaliknya untuk
rahang bawah disebut “palm down”.
Tumpuan
ekstraoral juga diperlukan pada beberapa keadaan seperti; terdapat gigi yang
hilang atau goyang, TMJD, keterbatasan membuka mulut. Hindari menekan pada satu
titik, untuk mengurangi tekanan pada jaringan lunak pasien gunakkan telapak
atau punggung tangan.
Tumpuan
substitute dapat menjadi pilihan bila
terdapat kesulitan dalam menemukan tumpuan intraoral. Jari telunjuk dari tangan
yang tidak memegang instrumen diletakkan pada daerah yang berdekatan dengan
gigi yang dikerjakan, atau pada permukaan oklusal pada gigi sekitar.
Contoh
penggunaan working end instrumen yang
tepat seperti pada gambar 14-27:
ujung instrumen ditunjuk ke sisi interproksimal dan terminal shank sejajar dengan sumbu gigi.
Adaptasi
merupakan hubungan working end pada
permukaan gigi, didapatkan dengan cara menyesuaikan ujung instrumen pada
berbagai kontur pada tiap permukaan gigi dengan memutar handle menggunakkan jempol dan jari telunjuk. Tujuan utama adaptasi
yaitu menjaga ujung instrumen tetap berkontak dengan permukaan selama
pergerakan instrumen. Adaptasi ujung instrumen yang buruk dapat menyebabkan
trauma dan terlewatnya pengambilan deposit dari permukaan akar. Pengetahuan
anatomi gigi dan akar sangat penting untuk mendapatkan adaptasi instrumen yang
tepat.
Angulasi
merupakan hubungan antara permukaan ujung blade instrumen terhadap permukaan
gigi. Sudut yang tepat instrumen selama pergerakan disebut working angulation, dengan sudut lebih dari 450 dan
kurang dari 900. Sudut ideal untuk skeling yaitu 880, root planning 45-800. Bila
permukaan ujung blade sejajar dengan permukaan gigi, maka sudut instrumen 00
yang disebut closed angulation, digunakan
untuk gerakan eksploratorik untuk menemukan letak deposit kalkulus, dan juga
untuk insersi inisial instrumen ke poket periodontal. Angulasi instrumen kurang
dari 400 tidak dapat menghilangkan deposit dan menyebabkan deposit
menjadi halus sehingga sulit untuk diambil. Open
angulation yaitu sudut permukaan ujung blade yaitu 900 atau lebih
terhadap permukaan gigi.
Aktivasi
merupakan pergerakan poros tangan pada tumpuan yang menciptakan gerakan
instrumen. Aktivasi dilakukan dengan pergerakan pergelangan tangan yang
berputar mulai dari jari tumpuan. Memutar pergelangan tangan melibatkan gerakan
lengan seperti membuka gagang pintu. Gerakan pergerakan tangan sama seperti
melambaikan tangan atau melukis dengan kuas. Aktivasi tidak digunakan hanya
dengan jari saja karena jari memiliki otot yang lebih kecil dan lemah, dengan
pergerakan yang terbatas dan tidak melibatkan tumpuan.
Selama
aktivasi, tekanan yang dikeluarkan tidak terlalu kecil karena pengungkitan
terganggu, namun bila tekanan terlalu tinggi dapat menyebabkan rasa tidak
nyaman pada pasien dan kelelahan pada operator. Tekanan yang digunakan selama
aktivasi yaitu tekanan moderat, disesuaikan selama perawatan.
Stroke adalah satu gerakan instrumen pada
satu arah yang dilakukan sesuai dengan fungsi instrumen tersebut. Selama stroke gaya dialirkan dari sumbu tumpuan
ke working end instrumen yang disebut
dengan tekanan lateral. Stroke pendek dan kuat digunakan untuk
memecahkan tepi deposit atau deposit kalkulus yang besar. Stroke yang lebih panjang dan pelan dilakukan pada pembuangan
kalkulus yang lebih lunak atau stain. Stroke
pada penghalusan akar menggunakkan lebih sedikit tekanan lateral untuk
mengurangi jumlah struktur akar yang dibuang.
Stroke instrumen dibagi sesuai fungsinya
menjadi stroke eksploratorik, skaling
dan penghalusan akar. Stroke eksploratorik merupakan gerakan instrumen untuk
mendeteksi deposit atau untuk mengidentifikasi struktur, menggunakan genggaman
dan tekanan lateral yang ringan agar getaran dan stimuli taktil lainnya dapat
dialirkan dari working end ke jari.
Skaling merupakan pembuangan plak, kalkulus dan stain dari permukaan mahkota
dan akar gigi.
Arah
dari stroke sesuai dengan sumbu
panjang gigi. Arah-arah stroke yaitu
vertikal, oblik, horizontal, dan sirkumferensial. Skaling memerlukan tekanan
lateral yang besar biasanya menggunakan stroke
vertical dan oblik. Stroke instrumen
juga dapat disebut menarik, menekan dan walking
stroke. Stroke dengan menarik yaitu menggerakkan instrumen ke arah korona
menjauhi gingiva. Stroke mendorong
digunakkan dengan menggerakkan instrumen ke apikal menuju gingiva, namun gerakan
ini jarang digunakan dalam prosedur karena dapat menyebabkan luka pada jaringan
lunak. Walking stroke dilakukan
dengan menggerakkan instrumen pada kedua arah (dorong dan tarik) dengan sedikit
jarak antar stroke, biasanya
dilakukan dengan prob periodontal dan eksplorer.
Setiap
stroke harus overlap dengan stroke
sebelumnya untuk memastikan tidak ada permukaan gigi yang terlewat. Insersi
imstrumen merupakan elemen yang penting dari adaptasi. Insersi yang tepat
bertujuan untuk memastikan ujung instrumen mencapai bagian paling apikal dari
sulkus atau poket periodontal. Untuk mencapai dasar poket, insersikan ujung
instrumen lalu dorong ringan ke bawah poket sampai berkontak dengan jaringan
lunak.
Proses Non
Bedah Terapi Periodontal
Operator
harus mengerti prinsip penggunaan instrumen sebagai langkah awal dalam
melakukan terapi awal terapi periodontal. Tentukan daerah yang akan dirawat dan
posisikan pasien dengan tepat. Periksa kondisi periodontium pasien dari dental chart pasien atau dengan prob
periodontal. Awali debridement
subgingival dengan instrumen manual atau mekanik, lalu lakukan perawatan yang
diperlukan pada tiap permukaan. Untuk memulai, gunakan stroke eksploratorik dengan eksplorer atau kuret untuk menemukan
kalkulus yang tersisa. Bila ditemukan deposit, letakkan ujung kuret pada tepi
terluar kalkulus, eratkan genggaman, tetapkan cutting edge pada sudut 880 dari permukaan, berikan
tekanan yang sesuai pada tumpuan dan aktivasi stroke skeling untuk mengeluarkan deposit. Gerakan diulang dan
overlap dari stroke awal ke stroke berikutnya hingga kalkulus
residual, altered cementum, dan plak
tidak ada lagi pada seluruh permukaan dengan menggunakan kuret spesifik dengan stroke penghalusan akar, angulasi yang
dikurangi dan tekanan lateral yang lebih ringan.
Evaluasi
permukaan gigi diawali dari memeriksa kehalusan menggunakan eksplorer. Irigasi
poket dan tekan jaringan selama 15-30 detik untuk menghentikan pendarahan. Lalu
evaluasi respon jaringan, identifikasi apabila ada pendarahan berkelanjutan, epithelial tissue tag, perubahan warna.
Evaluasi keberhasilan perawatan dilakukan setelah 4-6 minggu prosedur untuk
menyelesaikan masa pembengkakan dan
memberikan waktu untuk penyembuhan.
Powered
Mechanical Instrumentation
Dua
kelompok powered mechanical instrumen
untuk debridement periodontal sesuai
dengan frekuensi operasinya yaitu sonik dan ultrasonik. Skeler sonic
menggunakkan frekuensi rendah yaitu 3000-8000 kHz digerakkan oleh tekanan udara
dari dental unit.
Skeler
ultrasonik dapat dikategorikan menjadi magnetostrictive dan piezoelectric.
Skeler ultrasonik magnetostrictive bergetar pada 18000-42000 kHz, bergetar
dengan pola elliptical atau orbital, dimana seluruh permukaan tip instrumen
berperan dalam proses debridement. Skeler ultrasonik piezoelectric yang
beroperasi pada 24000-45000 kHz, bergetar dengan pola linear yang berguna untuk
aktivasi permukaan lateral tip instrumen.
Skeler
ultrasonik juga dapat digunakan secara manual dan otomatis. Air yang mengalir
digunakan untuk mengurangi panas yang dihasilkan dari getaran tip instrumen dan
berperan sebagai pembilas pada proses debridement.
Terdapat
beberapa tip pada skeler sonik yaitu bentuk sickle
untuk membuang deposit proksimal, tip universal untuk membuang kalkulus dan
stain supragingiva, dan extended-length
periodontal tip untuk skeling subgingiva.
Tip pada skeler ultrasonik bervariasi dari diameter yang besar, tip
universal lurus untuk pembuangan kalkulus supragingiva, dan diameter yang lebih
tipis, kecil dan lurus, right atau left tip untuk pembuangan kalkulus
subgingiva.
Kontraindikasi
penggunaan powered instrumentation:
- Gigi yang mengalami demineralisasi, dapat menyebabkan pembuangan ekstensif struktur gigi dan hipersensitivitas
- Implan gigi (bisa dilakukan dengan tip khusus yang menghindari kerusakan permukaan implan)
- Pasien dengan alat pacu jantung
- Pasien dengan penyakit respiratory dapat intoleran terhadap aerosol yang dihasilkan selama powered instrumentation
- Pasien dengan penyakit infeksius
Polishing
Biasanya
polishing dilakukan pada permukaan
mahkota gigi yang terekspos menggunakan soft
rubber cup dan bahan abrasif setelah prosedur SPA. Tujuan utama polishing yaitu untuk membuang stain ekstrinsik dan plak supragingiva.
Beberapa efek samping polishing yaitu
hilangnya struktur gigi akibat bahan abrasif. Hindar melakukan polishing pada gigi dengan karies, dan
gigi dengan restorasi yang dapat dengan mudah dirusak oleh bahan abrasif. Polishing
dilakukan menggunakan handpiece dengan kecepatan rendah, dibawah 20000 revolutions/minute untuk mengurangi
abrasi.
Distribusikan
pasta abrasif pada permukaan gigi lalu gunakan rotating rubber cup secara sistematik, irigasi dan gunakan dental
floss setelah prosedur untuk membuang sisa partikel abrasif pada sela gigi.
Air-powder polishing atau jet polishing menggunakan sodium
bikarbonat sebagai bahan abrasif untuk membuang plak dan stain ekstrinsik
dengan abrasi mekanik. Pada gigi yang mengalami resesi gingiva, air-powder polishing tidak membuang
struktur gigi sebanyak instrumen manual. Kontraindikasi air-powder polishing yaitu pada pasien sodium-restricted diet, pasien dengan penyakit respiratory, pasien yang memakai lensa kontak, restorasi komposit,
dan enamel yang terdemineralisasi. Handpiece pada prosedur air-powder polishing dipegang dengan modified pen grasp, tidak harus dengan tumpuan karena tidak
diperlukan tekanan selama stroke. Jarak
antara tip instrumen dengan permukaan gigi sejauh 4-5mm, digerakkan dalam gerakan konstan yang memutar brushlike strokes. Tip
diarahkan dengan sudut 900 untuk permukaan oklusal, 600
untuk permukaan lingual dan fasial pada gigi anterior, dan 800 pada
permukaan lingual dan fasial gigi posterior.
Instrumentation
Sharpening
Instrumen
yang tajam merupakan hal yang fundamental dalam kesuksesan prosedur non-bedah.
Instrumen yang tajam dapat membuang kalkulus dengan jumlah stroke yang lebih sedikit, menciptakan permukaan akar yang lebih
halus, meningkatkan sensitivitas taktil, memerlukan tekanan lateral yang lebih
sedikit, meningkatkan kontrol saat melakukan stroke, dan mengurangi kelelahan operator.
Sharpening dilakukan dengan
membuang metal sepanjang permukaan lateral pijau dengan sharpening stone untuk menjadikan cutting edge kembali tajam. Sharpening
yang paling sederhana, efisien dan terjangkau untuk alat skeling manual yaitu
melalui menajamkannya secara manual dengan stone.
Beberapa armamentarium untuk prosedur sharpening
diantaranya flat stone, cylindrical atau conical stone, lubricant untuk
stone, gauze steril untuk membersihkan debris dari working end setelah sharpening,
magnifikasi untuk mengobservasi cutting
edge, tes pada tangkai plastik untuk mengevaluasi ketajaman, dan sumber
cahaya yang cukup, biasanya dengan dental
lamp.
Ketajaman
instrumen dapat dievaluasi dengan dua cara. Cara pertama yaitu dengan mengamati
working end dengan alat magnifikasi
dan penerangan yang terang. Instrumen yang tajam merefleksikan cahaya sepanjang
cutting edge. Cara yang lain untuk
menguji ketajaman cutting edge yaitu
dengan menggunakan working angulation pada
akrilik atau tangkai plastik. Instrumen yang tajam akan tertancap pada tekanan
ringan.
Beberapa
macam stone untuk menajamkan
instrumen diantaranya batu mineral seperti batu Arkansas, atau batu buatan
seperti ruby dan ceramic stone. Lubrikasi dengan minyak diperlukan sebelum menajamkan
instrumen dengan batu mineral untuk menghindari partiel metal tertancap ke
permukaan. Sedangkan pada batu artifisial, lubrikasi dilakukan dengan air untuk
mengurangi panas friksional yang dapat mengubah metal dari instrumen. Sharpening stone memiliki beberapa
tingkat abrasif. Fine stone lebih
baik untuk sharpening karena metal
yang dibuang lebih sedikit selama proses penajaman. Medium grit stone digunakan hanya untuk me-rekontur instrumen.
BAB
III
KESIMPULAN
A.
Kesimpulan
Teknik menyikat gigi adalah cara yang umum dianjurkan
untuk membersihkan deposit lunak pada permukaan gigi dan gusi dan merupakan
tindakan preventif dalam menuju keberhasilan dan kesehatan rongga mulut yang
optimal.
Ada
perbedaan dalam menjaga kebersihan mulut yang dilakukan personal (dilakukan
oleh pasien) dan professional debridement
(dilakukan oleh dokter gigi). Sebagian besar penyakit periodontal dapat
dicegah. Seperti penyakit kronis lainnya, perilaku atau gaya hidup memegang peranan
penting dalam pathogenesis periodontitis. Beberapa faktor resiko yang terlibat
dalam penyakit periodontal diantaranya flora subgingiva, predisposisi faktor
genetik, stress, dan penyakit sistemik.
Beberapa faktor resiko seperti faktor genetik tidak dapat diatasi.
Sedangkan perawatan dapat dilakukan pada penyakit periodontal akibat rendahnya
faktor kebersihan mulut.
DAFTAR PUSTAKA
![]() |

Komentar
Posting Komentar