MAKALAH MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
MAKALAH MIKROBIOLOGI DAN
PARASITOLOGI
Anterobacter-butanediol

Disusun oleh :
Fitria Lufti Azhana
(1748401011)
JURUSAN DIII FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
2018-2019
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan
kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan
kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini. Dan tidak lupa pula
kami panjatkan syukur kami kepada nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita
dari alam kebodohan menjadi alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti
sekarang ini. Tak lupa pula kami berterimakasih kepada pembimbing yang telah
memberikan ilmu dalam mata kuliah ini.
Dalam makalah ini, kami membahas tentang Aspergillus-Asam
Laktat
Kami selaku penyusun makalah ini berharap
supaya makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dipergunakan dalam perkuliahan.
Kami menyadari bahwa makalah ini
belumlah sempurna, oleh karena itu Kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun dari pembaca supaya makalah ini bisa menjadi lebih
baik.
Bandar Lampung, 25 Mei 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................ i
KATA PENGANTAR.............................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang............................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Klasifikasi enterobacter.................................................................. 2
B. Ciri-ciri morfologi............................................................................ 2
C. Sejarah
penemuan bakteri............................................................... 3
D. Reproduksi
dan siklus hidupnya...................................................... 4
E. Manfaat enterobacter...................................................................... 11
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan.................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Bakteri adalah nama sekelompok mikroorganisme yang termasuk
prokariotik yang bersel satu, berkembang biak dengan membelah diri
dan bahan-bahan genetiknya tidak terbungkus dalam membran inti. Pada umumnya
bakteri tidak mempunyai klorofil, kecuali beberapa spesies tertentu yang
mempunyai pigmen fotosintesis. Oleh karena itu, ada bakteri yang
hidupnya heterotrof dan ada juga bakteri yang hidup autotrof. Bakteri
heterotrof dapat dibedakan menjadi bakteri yang hidup sebagai parsit dan
saprofit, Sedangkan bakteri autotrof dapat dibedakan berdasarkan atas sumber
energi yang digunakan untuk mensentetis makanannya menjadi bakteri fotoautotrof
dan kemoautotrof. Bakteri dapat hidup dimana saja, ada yang merugikan manusia,
hewan maupun tumbuhan. Namun demikian ada juga bakteri yang menguntungkan bagi
umat manusia.
Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri. Struktur sel bakteri relatif sederhana: tanpa nukleus / inti sel, kerangka
sel, dan organel-organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan antara sel prokariot dengan sel eukariot yang lebih kompleks.
Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara, dalam simbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Klasifikasi Enterobacter
Kingdom : Bakteri
Divisi : Proteobacteria
Class : Gammaproteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
family : Enterobactericea
Genus :
Enterobacter
Spesies : Aerogenes
Enterobacter, E. amnigenus, E. asburiae, E. cancerogenus, E. cloacae, E.
cowanii, E. dissolvens, E. gergoviae, E. hormaechei, E. intermedius, E. kobei,
E. nimipressuralis; E. pyrinus , E. sakazakii,
B.
CIRI-CIRI Morfologi
Enterobacter merupakan
genus umum Gram-negatif , anaerob fakultatif , berbentuk
batang ,-tidak membentuk spora bakteri dari
keluarga Enterobacteriaceae . Beberapa
strain bakteri ini patogen dan
menyebabkan infeksi
oportunistik di immunocompromised biasanya
dirawat di rumah sakit) host dan pada mereka yang berada pada ventilsi
mekanik . The kemih dansaluran
pernapasan adalah situs yang paling umum
dari infeksi . The
genus Enterobacteradalah anggota dari coliform kelompok
bakteri. Itu bukan milik coliform
fecal (atau coliform tahan panas) kelompok bakteri, seperti
halnya Escherichia
coli , karena tidak mampu tumbuh pada 44,5 ° C dengan
adanya garam empedu. Dua spesies dari genus klinis penting ini
adalah E. aerogenes dan E. cloacae
Bakteri Enterobacter yang
motil, sel-sel berbentuk batang, beberapa di antaranya dikemas. Mereka
juga memiliki flagela peritrichous. Sebagai anaerob fakultatif,
beberapa bakteri Enterobacter memfermentasi
glukosa dan laktosa sebagai sumber karbon. Gas yang dihasilkan dari proses
metabolisme, tetapi mereka tidak menghasilkan hydrogen sulfida. Enterobacter
cloacae A-11 dan bakteri lain yang terkait erat adalah prototrofik,
regangan glikolitik Enterobacter yang ditemukan pada sejumlah
benih yang berbeda dan tanaman.
Tidak Enterobacter genom
bakteri telah diurutkan, namun, beberapa gen telah dipelajari melalui mutan dan
sarana lain seperti itu. Misalnya, mutasi pada pfkA di Enterobacter
cloacae menyebabkan perubahan dari apa yang pertumbuhan yang cepat
pada karbohidrat tertentu yang dideteksi dalam eksudat benih pertumbuhan jauh
lebih lambat pada karbohidrat lain, asam amino, dan asam organik (Roberts et
al. 1999)
C. Sejarah penemuan bakteri
Pada
abad ke-17 ditemukan salah satu musuh terbesar tubuh manusia: bakteri. Penemuan
ini pada akhirnya membuat orang sadar bahwa paparan terhadap mikroorganisme
tertentu dapat menyebabkan penyakit. Penemuan ini juga mendasari teori baru
tentang antiseptik yang secara dramatis berhasil menekan angka kematian akibat
pembedahan.
Antoni van
Leeuwenhoek, seorang penjaga gedung paruh waktu dan penjual kain yang bekerja
di Delft, Belanda, menemukan bakteri dan mikroorganisme lain dengan menggunakan
mikroskop yang ia kembangkan sendiri. Lewat pengaruh temannya, seorang dokter
berkebangsaan Belanda, dia diminta untuk menulis surat ke Royal Society di
London, sebuah perkumpulan yang didedikasikan untuk kemajuan ilmu pengetahuan.
Surat ini diterjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris dan
dipublikasikan dalam jurnal Philosophical Transactions.
Surat
Leeuwenhoek yang paling terkenal dipublikasikan pada tanggal 16 Maret 1677.
Dalam surat tersebut dia menggambarkan penglihatannya pada setetes air hujan
lewat mikroskop. Air itu diambil dari wadah di mana air tersebut telah
tergenang selama beberapa hari. Yang mengagetkan, dia melihat suatu hewan yang
sangat kecil, yang sekarang dikenal sebagai protozoa, sedang berenang di dalam
air. Dia juga mengamati hewan lain yang tidak bergerak sama sekali, yang
sekarang disebut bakteri. Tidak ada seorang pun di Royal Society yang tahu
tentang binatang-binatang kecil tersebut, yang oleh Leeuwenhoek disebut
animalcules. Atas permintaan anggota Royal Society, beberapa penduduk Delft
yang paling disegani diminta untuk memverifikasi penemuan Leeuwenhoek. Mereka
membenarkannya, dan pada 1680, Leeuwenhoek dipilih sebagai anggota Royal
Society.
Penemuan-penemuan
selanjutnya membuktikan betapa pentingnya hasil kerja Leeuwenhoek, terutama
sebuah temuan hebat dari ilmuwan Jerman, Robert Koch pada 1876. Koch menemukan
bahwa bakteri anthrax bacillus dapat menyebabkan penyakit yang serius pada
manusia. Sebelum penemuan Koch, banyak ilmuwan meragukan bahwa makhluk-makhluk
mikroskopik dapat membahayakan hewan yang jauh lebih besar dan juga manusia.
Pada 1882, Koch menunjukkan bahwa jenis lain bakteri, tubercle bacillus,
menyebabkan tuberculosis, penemuan yang membuatnya memenangkan hadiah Nobel
pada tahun 1905.
Tidak
seperti Koch yang merupakan seorang dokter ketika dia menemukan temuannya,
Louis Pasteur, seorang ahli kimia dan biologi berkebangsaan Prancis, sangat
membenci dokter. Oleh karena itu, dia tidak mempekerjakan seorang dokter pun di
laboratoriumnya. Meskipun begitu, dia sangat tertarik terhadap berbagai macam
penyakit. Pasteur menemukan bahwa pembusukan disebabkan oleh mikroorganisme
yang mengambang di air. Pasteur mempelajari bahwa dia dapat mencegah proses
pembusukan dengan cara memanaskan substansi organik pada suhu sedang, suatu
proses yang dikenal sebagai pasteurization.
Pada tahun
1865, Joseph Lister, seorang ahli bedah berkebangsaan Inggris, membaca
penelitian Pasteur mengenai pembusukan. Lister pun teringat bahwa jika patah
tulang ringan hampir selalu dapat disembuhkan, tidak demikian halnya dengan
compound fractures (patah tulang yang menembus kulit) yang hampir selalu akan
membusuk. Lister yakin bahwa proses infeksi yang berbahaya ini disebabkan oleh
mikroorganisme jahat yang telah Pasteur gambarkan. Untuk menguji teori
tersebut, Lister menutup luka pasiennya yang mengalami compound fractures, yang
sebelumnya terpapar ke udara, dengan kain katun yang telah direndam ke dalam
asam karbolat/fenol. Dia percaya bahwa asam karbolat dapat membunuh
mikrorganisme yang ditularkan lewat udara.
Lister
mengobati compound fractures dan luka pembedahan yang terbuka dengan asam
karbolat selama 9 bulan dan dia mengamati bahwa tidak ada infeksi pada pasien
bedahnya. Hasil penelitiannya yang dipublikasikan pada 1867, mendorong lahirnya
antiseptik untuk pembedahan. Meskipun teknik antiseptik dari Lister ini pada
awalnya ditentang oleh dokter-dokter lain, tetapi teknik tersebut segera meluas
dan diterima banyak pihak, yang pada akhirnya berhasil secara drastis
menurunkan angka kematian karena infeksi di ruang bedah.
D.
REPRODUKSI
DAN SIKLUS HIDUPNYA
Pembelahan
Umumnya
bakteri berkembang biak dengan amitosis dengan pembelahan menjadi 2 bagian (binary
division). Waktu diantara pembelahan disebut generation time dan ini berlainan
untuk tiap jenis kuman, bervariasi antara 20 menit sampai 15 jam. Sebagai
contoh mycobacterium tuberculosis mempunyai
generation time 15 jam.
Pembentukan
tunas atau cabang
Kuman
membentuk tunas, tunas akan melepaskan diri dan membentuk kuman baru.
Reproduksi dengan pembentukan cabang didahului dengan pembentukan tunas yang
tumbuh menjadi cabang dan akhirnya melepaskan diri. Dapat dijumpai pada kuman
dari family Sreptomycetaceae.
Pembentukan
Filamen
Pada
pembentukan filament, sel mengeluarkan serabut panjang, filament yang tidak
bercabang. Bahan kromosom kemudian masuk ke dalam filament. Filament
terputus-putus menjadi beberapa bagian. Tiap bagian membentuk kuman baru. Dijumpai
terutama dalam keadaan abnormal, misalnya bila kuman Haemophilus influenza dibiakan pada pembenihan yang basah
Reproduksi
secara seksual
Bakteri
berbeda dengan eukariota dalam hal cara penggabungan DNA yang datang dari dua
individu ke dalam satu sel. Pada eukariota, proses seksual secara meiosis dan
fertilisasi mengkombinasi DNA dari dua individu ke dalam satu zigot. Akan
tetapi, jenis kelamin yang ada pada ekuariota tidak terdapat pada prokariota.
Meiosis dan fertilisasi tidak terjadi, sebaliknya ada proses lain yang akan
mengumpulkan DNA bakteri yang datang dari individu-individu yang berbeda.
Proses-proses ini adalah pembelahan transformasi, transduksi dan konjugasi.
Transformasi
Dalam
konteks genetika bakteri, transformasi merupakan perubahan suatu genotipe sel
bakteri dengan cara mengambil DNA asing dari lingkungan sekitarnya. Misalnya,
pada bakteri Streptococcus pneumoniae yang tidak berbahaya dapat
ditransformasi menjadi sel-sel penyebab pneumonia dengan cara mengambil DNA
dari medium yang mengandung sel-sel strain patogenik yang mati. Transformasi
ini terjadi ketika sel nonpatogenik hidup mengambil potongan DNA yang kebetulan
mengandung alel untuk patogenisitas (gen untuk suatu lapisan sel yang
melindungi bakteri dari sistem imun inang) alel asing tersebut kemudian
dimasukkan ke dalam kromosom bakteri menggantikan alel aslinya untuk kondisi
tanpa pelapis. Proses ini merupakan rekombinasi genetik – perputaran segmen DNA
dengan cara pindah silang (crossing over). Sel yang ditransformasi ini
sekarang memiliki satu kromosom yang mengandung DNA, yang berasal dari dua sel
yang berbeda. Bertahun-tahun setelah transformasi ditemukan pada kultur
laboratorium, sebagian besar ahli biologi percaya bahwa proses tersebut terlalu
jarang dan terlalu kebetulan, sehingga tidak mungkin memainkan peranan penting
pada populasi bakteri di alam. Tetapi, para saintis sejak saat itu telah
mempelajari bahwa banyak spesies bakteri dipermukaannya memiliki protein yang
terspesialisasi untuk mengambil DNA dari larutan sekitarnya. Protein-protein
ini secara spesifik hanya mengenali dan mentransfer DNA dari spesies bakteri
yang masih dekat kekerabatannya. Tidak semua bakteri memiliki protein membran
seperti ini. Seperti contohnya, E. Coli sepertinya sama sekali tidak memiliki
mekanisme yang tersepesialisasi untuk menelan DNA asing. Walaupun demikian,
menempatkan E. Coli di dalam medium kultur yang mengandung konsentrasi ion
kalsium yang relatif tinggi secara artifisial akan merangsang sel-sel untuk
menelan sebagian kecil DNA. Dalam bioteknologi, teknik ini diaplikasikan untuk
memasukkan gen gen asing ke dalam E. Coli, gen-gen yang mengkode protein yang
bermanfaat, seperti insulin manusia dan hormon pertumbuhan.
Transduksi
Pada
proses transfer DNA yang disebut transduksi, faga membawa gen bakteri dari satu
sel inang ke sel inang lainnya. Ada dua bentuk transduksi yaitu transduksi umum
dan transduksi khusus. Keduanya dihasilkan dari penyimpangan pada siklus
reproduktif faga. Diakhir siklus litik faga, molekul asam nukleat virus
dibungkus di dalam kapsid, dan faga lengkapnya dilepaskan ketika sel inang
lisis. Kadangkala sebagian kecil dari DNA sel inang yang terdegradasi
menggantikan genom faga. Virus seperti ini cacat karena tidak memiliki materi
genetik sendiri. Walaupun demikian, setelah pelepasannya dari inang yang lisis,
faga dapat menempel pada bakteri lain dan menginjeksikan bagian DNA bakteri
yang didapatkan dari sel pertama. Beberapa DNA ini kemudian dapat menggantikan daerah
homolog dari kromosom sel kedua. Kromosom sel ini sekarang memiliki kombinasi
DNA yang berasal dari dua sel sehingga rekombinasi genetik telah terjadi. Jenis
transduksi ini disebut dengan transduksi umum karena gen-gen bakteri
ditransfer secara acak. Untuk transduksi khusus memerlukan infeksi oleh faga
temperat, dalam siklus lisogenik genom faga temperat terintegrasi sebagai
profaga ke dalam kromosom bakteri inang, di suatu tempat yang spesifik.
Kemudian ketika genom faga dipisahkan dari kromosom, genom faga ini membawa
serta bagian kecil dari DNA bakteri yang berdampingan dengan profaga. Ketika
suatu virus yang membawa DNA bakteri seperti ini menginfeksi sel inang lain,
gen-gen bakteri ikut terinjeksi bersama-sama dengan genom faga. Transduksi
khusus hanya mentransfer gen-gen tertentu saja, yaitu gen-gen yang berada
di dekat tempat profaga pada kromosom tersebut.
Konjugasi dan Plasmid
Konjugasi
merupakan transfer langsung materi genetik antara dua sel bakteri yang
berhubungan sementara. Proses ini, telah diteliti secara tuntas pada E. Coli.
Transfer DNA adalah transfer satu arah, yaitu satu sel mendonasi (menyumbang)
DNA, dan “pasangannya” menerima gen. Donor DNA, disebut sebagai “jantan”,
menggunakan alat yang disebut piliseks untuk menempel pada resipien
(penerima) DNA dan disebut sebagai “betina”. Kemudian sebuah jembatan
sitoplasmik sementara akan terbentuk diantara kedua sel tersebut, menyediakan
jalan untuk transfer DNA.
Plasmid adalah molekul DNA kecil, sirkular dan dapat bereplikasi
sendiri, yang terpisah dari kromosom bakteri. Plasmid-plasmid tertentu, seperti
plasmid f, dapat melakukan penggabungan reversibel ke dalam kromosom sel. Genom
faga bereplikasi secara terpisah di dalam sitoplasma selama siklus litik, dan
sebagai bagian integral dari kromosom inang selama siklus lisogenik. Plasmid
hanya memiliki sedikit gen, dan gen-gen ini tidak diperlukan untuk pertahanan
hidup dan reproduksi bakteri pada kondisi normal. Walaupun demikian, gen gen
dari plasmid ini dapat memberikan keuntungan bagi bakteri yang hidup di
lingkungan yang banyak tekanan. Contohnya, plasmid f mempermudah rekombinasi
genetik, yang mungkin akan menguntungkan bila perubahan lingkungan tidak lagi
mendukung strain yang ada di dalam populasi bakteri. Plasmid f , terdiri dari
sekitar 25 gen, sebagian besar diperlukan untuk memproduksi piliseks. Ahli-ahli
genetika menggunakan simbol f+ (dapat diwariskan). Plasmid f bereplikasi secara
sinkron dengan DNA kromosom, dan pembelahan satu sel f+ biasanya menghasilkan
dua keturunan yang semuanya merupakan f+. Sel-sel yang tidak memiliki faktor f
diberi simbol f-, dan mereka berfungsi sebagai recipien DNA (“betina”) selama
konjugasi. Kondisi f+ adalah kondisi yang “menular” dalam artian sel f+ dapat
memindah sel f- menjadi sel f+ ketika kedua sel tersebut berkonjugasi. Plasmid
f bereplikasi di dalam sel “jantan”, dan sebuah salinannya ditransfer ke sel
“betina” melalui saluran konjugasi yang menghubungkan sel-sel tersebut. Pada
perkawinan f+ dengan f- seperti ini, hanya sebuah plasmid f yang ditransfer.
Gen-gen dari kromosom bakteri tersebut ditransfer selama konjugasi ketika
faktor f dari donor sel tersebut terintegrasi ke dalam kromosomnya. Sel yang
dilengkapi dengan faktor f dalam kromosomnya disebut sel Hfr ( high
frequency of recombination atau rekombinasi frekuensi tinggi). Sel Hfr
tetap berfungsi sebagai jantan selama konjugasi, mereplikasi DNA faktor f dan
mentransfer salinannya ke f- pasangannya. Tetapi sekarang, faktor f ini
mengambil salinan dari beberapa DNA kromosom bersamanya.
Gerakan
acak bakteri biasanya mengganggu konjugasi sebelum salinan dari kromosom Hfr
dapat seluruhnya dipindahkan ke sel f-. Untuk sementara waktu sel resipien
menjadi diploid parsial atau sebagian, mengandung kromosomnya sendiri ditambah
dengan DNA yang disalin dari sebagian kromosom donor. Rekombinasi dapat terjadi
jika sebagian DNA yang baru diperoleh ini terletak berdampingan dengan daerah
homolog dari kromosom F-, segmen DNA dapat dipertukarkan. Pembelahan biner pada
sel ini dapat menghasilkan sebuah koloni bakteri rekombinan dengan gen-gen yang
berasal dari dua sel yang berbeda, dimana satu dari strain-strain bakteri
tersebut sebenarnya merupakan Hfr dan yang lainnya adalah F.
Keterangan:
- Sel bakteri Hfr bertemu dengan sel bakteri normal.
- Terbentuk tabung konjugasi, lalu terjadi perpindahan DNA dan sel Hfr ke sel normal.
- Terjadi rekombinasi DNA pada sel normal.
- Kedua sel bakteri berpindah.
Pada
tahun 1950-an, pakar-pakar kesehatan jepang mulai memperhatikan bahwa beberapa
pasien rumah sakit yang menderita akibat disentri bakteri, yang menyebabkan
diare parah, tidak memberikan respons terhadap antibiotik yang biasanya efektif
untuk pengobatan infeksi jenis ini. Tampaknya, resistensi terhadap antibiotik
ini perlahan-lahan telah berkembang pada strain-strain Shigella sp. tertentu,
suatu bakteri patogen. Akhirnya, peneliti mulai mengidentifikasi gen-gen
spesifik yang menimbulkan resistensi antibiotik pada Shigella dan bakteri
patogenik lainnya. Beberapa gen gen tersebut, mengkode enzim yang secara
spesifik menghancurkan beberapa antibiotik tertentu, seperti tetrasiklin atau
ampisilin. Gen gen yang memberikan resistensi ternyata di bawa oleh plasmid.
Sekarang
dikenal sebagai plasmid R (R untuk resistensi). Pemaparan suatu populasi
bakteri dengan suatu antibiotik spesifik baik di dalam kultur laboratorium
maupun di dalam organisme inang akan membunuh bakteri yang sensitif terhadap
antibiotik, tetapi hal itu tidak terjadi pada bakteri yang memiliki plasmid R
yang dapat mengatasi antibiotik. Teori seleksi alam memprediksi bahwa, pada
keadaan-keadaan seperti ini, akan semakin banyak bakteri yang akan mewarisi
gen-gen yang menyebabkan resistensi antibiotik. Konsekuensi medisnya pun
terbaca, yaitu strain patogen yang resisten semakin lama semakin banyak,
membuat pengobatan infeksi bakteri tertentu menjadi semakin sulit. Permasalahan
tersebut diperparah oleh kenyataan bahwa plasmid R, seperti plasmid F, dapat
berpindah dari satu sel bakteri ke sel bakteri lainnya melalui konjugasi.
Kurva perkembangbiakan
Bila
kuman ditanam dalam pembenihan yang sesuai dan pada waktu tertentu dan ditinjau
jumlah kuman yang hidup, maka dapat dilihat suatu grafik yang dapat dibagi
menjadi 4 fase, yaitu:
Fase penyesuaian diri (lag phase)
Waktu
penyesuaian ini umumnya berlangsu selama 2 jam. Kuman belum berkembang biak
dalam fase ini, tetapi aktifitas metaboliknya sangat tinggi. Fase ini merupakan
persiapan untuk fase berikutnya.
Fase pembelahan (logarhutmik phase)
Kuman
berkembang biak dengan berlipat 2, jumlah kuman meningkat secara eksponensial.
Pada kebanyakan kuman fase ini berlangsung selama 18-24 jam. Pada pertengahan
fase ini pertumbuhan kuman sangat ideal, pembelahan terjadi secara teratur,
semua bahan dalam sel berada dalam keadaan seimbang (balanced growth).
Fase stasioner (stationary phase)
Dengan
meningkatnya jumlah kuman, meningkat juga jumlah hasi metabolism yang toksis.
Kuman mulai ada yang mati, pembelahan terhambat. Pada suatu saat jumlah kuman
yang hidup tetap sama.
Fase kemunduran ( period of deathline)
Jumlah
kuman yang hidup berkurang da menurun. Keadaan lingkunga menjadi sangat jelek.
Pada beberapa jenis kuman timbul bentuk-bentuk abnormal.
E.
MANFAAT ENTEROBACTER
Bakteri
enterobacter sp, berperan dalam menghambat pertumbuhan fungi/bercak daun.
Enterobacter
sp yang berperan penting dalam menghambat pertumbuhan fungi Curvularia sp yang
menyebabkan penyakit bercak daun pada tanaman mentimun
erobacter
aerogenesis Saproba di dalam usus besar
vertebrata
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Bakteri Enterobacter yang
motil, sel-sel berbentuk batang, beberapa di antaranya dikemas. Mereka
juga memiliki flagela peritrichous. Sebagai anaerob fakultatif,
beberapa bakteri Enterobacter memfermentasi
glukosa dan laktosa sebagai sumber karbon. Gas yang dihasilkan dari proses
metabolisme, tetapi mereka tidak menghasilkan hydrogen sulfida. Enterobacter
cloacae A-11 dan bakteri lain yang terkait erat adalah prototrofik,
regangan glikolitik Enterobacter yang ditemukan pada sejumlah
benih yang berbeda dan tanaman.
Tidak Enterobacter genom
bakteri telah diurutkan, namun, beberapa gen telah dipelajari melalui mutan dan
sarana lain seperti itu. Misalnya, mutasi pada pfkA di Enterobacter
cloacae menyebabkan perubahan dari apa yang pertumbuhan yang cepat
pada karbohidrat tertentu yang dideteksi dalam eksudat benih pertumbuhan jauh
lebih lambat pada karbohidrat lain, asam amino, dan asam organik (Roberts et
al. 1999)
DAFTAR
PUSTAKA
http://maksumprocedure.blogspot.co.id/2012/03/reproduksi-dan-fase-perkembangbiakan.html




Komentar
Posting Komentar