MAKALAH MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI


MAKALAH MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI
Anterobacter-butanediol
logo.pngm.png
Disusun oleh :
Fitria Lufti Azhana  (1748401011)




JURUSAN DIII FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
2018-2019

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur  kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan dan kesehatan kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini. Dan tidak lupa pula kami panjatkan syukur kami kepada nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam kebodohan menjadi alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini. Tak lupa pula kami berterimakasih kepada pembimbing yang telah memberikan ilmu dalam mata kuliah ini.
Dalam makalah ini, kami membahas tentang Aspergillus-Asam Laktat

Kami selaku penyusun makalah ini berharap supaya makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dipergunakan dalam perkuliahan.
Kami menyadari bahwa makalah ini belumlah sempurna, oleh karena itu Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca supaya makalah ini bisa menjadi lebih baik.
           
Bandar Lampung, 25 Mei 2018


Penulis













DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................ i
KATA PENGANTAR.............................................................................. ii
DAFTAR ISI............................................................................................ iii
BAB I  PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang............................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A.   Klasifikasi enterobacter.................................................................. 2
B.    Ciri-ciri morfologi............................................................................ 2
C.    Sejarah penemuan bakteri............................................................... 3
D.   Reproduksi dan siklus hidupnya...................................................... 4
E.    Manfaat enterobacter...................................................................... 11
BAB III PENUTUP
A.   Kesimpulan.................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA












BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Bakteri adalah nama sekelompok mikroorganisme yang termasuk prokariotik  yang bersel satu, berkembang biak dengan membelah diri dan bahan-bahan genetiknya tidak terbungkus dalam membran inti. Pada umumnya bakteri tidak mempunyai klorofil, kecuali beberapa spesies tertentu yang mempunyai pigmen fotosintesis. Oleh karena itu, ada bakteri  yang hidupnya heterotrof dan ada juga bakteri yang hidup autotrof. Bakteri heterotrof dapat dibedakan menjadi bakteri yang hidup sebagai parsit dan saprofit, Sedangkan bakteri autotrof dapat dibedakan berdasarkan atas sumber energi yang digunakan untuk mensentetis makanannya menjadi bakteri fotoautotrof dan kemoautotrof. Bakteri dapat hidup dimana saja, ada yang merugikan manusia, hewan maupun tumbuhan. Namun demikian ada juga bakteri yang menguntungkan bagi umat manusia.
Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri. Struktur sel bakteri relatif sederhana: tanpa nukleus / inti sel, kerangka sel, dan organel-organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan antara sel prokariot dengan sel eukariot yang lebih kompleks. 
Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanahairudara, dalam simbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia








BAB II
PEMBAHASAN

A.   Klasifikasi Enterobacter
Kingdom         :   Bakteri
Divisi   :   Proteobacteria
Class    :   Gammaproteobacteria
Ordo    :   Enterobacteriales
family  :   Enterobactericea
Genus  :   Enterobacter
                         Spesies      :   Aerogenes Enterobacter, E. amnigenus, E. asburiae, E. cancerogenus, E. cloacae, E. cowanii, E. dissolvens, E. gergoviae, E. hormaechei, E. intermedius, E. kobei, E. nimipressuralis; E. pyrinus , E. sakazakii,

B.     CIRI-CIRI Morfologi
Enterobacter merupakan genus umum Gram-negatif , anaerob fakultatif , berbentuk batang ,-tidak membentuk spora bakteri dari keluarga  Enterobacteriaceae . Beberapa strain bakteri ini patogen dan menyebabkan  infeksi oportunistik di immunocompromised biasanya dirawat di rumah sakit) host dan pada mereka yang berada pada ventilsi mekanik .  The kemih dansaluran pernapasan adalah situs yang paling umum dari infeksi . The genus Enterobacteradalah anggota dari coliform kelompok bakteri. Itu bukan milik coliform fecal (atau coliform tahan panas) kelompok bakteri, seperti halnya Escherichia coli , karena tidak mampu tumbuh pada 44,5 ° C dengan adanya garam empedu.  Dua spesies dari genus klinis penting ini adalah E. aerogenes dan E. cloacae 
Bakteri Enterobacter yang motil, sel-sel berbentuk batang, beberapa di antaranya dikemas. Mereka juga memiliki flagela peritrichous.  Sebagai anaerob fakultatif, beberapa   bakteri Enterobacter memfermentasi glukosa dan laktosa sebagai sumber karbon. Gas yang dihasilkan dari proses metabolisme, tetapi mereka tidak menghasilkan hydrogen sulfida.  Enterobacter cloacae A-11 dan bakteri lain yang terkait erat adalah prototrofik, regangan glikolitik Enterobacter yang ditemukan pada sejumlah benih yang berbeda dan tanaman.
Tidak Enterobacter genom bakteri telah diurutkan, namun, beberapa gen telah dipelajari melalui mutan dan sarana lain seperti itu. Misalnya, mutasi pada pfkA di Enterobacter cloacae menyebabkan perubahan dari apa yang pertumbuhan yang cepat pada karbohidrat tertentu yang dideteksi dalam eksudat benih pertumbuhan jauh lebih lambat pada karbohidrat lain, asam amino, dan asam organik (Roberts et al. 1999)

C.   Sejarah penemuan bakteri
Pada abad ke-17 ditemukan salah satu musuh terbesar tubuh manusia: bakteri. Penemuan ini pada akhirnya membuat orang sadar bahwa paparan terhadap mikroorganisme tertentu dapat menyebabkan penyakit. Penemuan ini juga mendasari teori baru tentang antiseptik yang secara dramatis berhasil menekan angka kematian akibat pembedahan.
Antoni van Leeuwenhoek, seorang penjaga gedung paruh waktu dan penjual kain yang bekerja di Delft, Belanda, menemukan bakteri dan mikroorganisme lain dengan menggunakan mikroskop yang ia kembangkan sendiri. Lewat pengaruh temannya, seorang dokter berkebangsaan Belanda, dia diminta untuk menulis surat ke Royal Society di London, sebuah perkumpulan yang didedikasikan untuk kemajuan ilmu pengetahuan. Surat ini diterjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Inggris dan dipublikasikan dalam jurnal Philosophical Transactions.
Surat Leeuwenhoek yang paling terkenal dipublikasikan pada tanggal 16 Maret 1677. Dalam surat tersebut dia menggambarkan penglihatannya pada setetes air hujan lewat mikroskop. Air itu diambil dari wadah di mana air tersebut telah tergenang selama beberapa hari. Yang mengagetkan, dia melihat suatu hewan yang sangat kecil, yang sekarang dikenal sebagai protozoa, sedang berenang di dalam air. Dia juga mengamati hewan lain yang tidak bergerak sama sekali, yang sekarang disebut bakteri. Tidak ada seorang pun di Royal Society yang tahu tentang binatang-binatang kecil tersebut, yang oleh Leeuwenhoek disebut animalcules. Atas permintaan anggota Royal Society, beberapa penduduk Delft yang paling disegani diminta untuk memverifikasi penemuan Leeuwenhoek. Mereka membenarkannya, dan pada 1680, Leeuwenhoek dipilih sebagai anggota Royal Society.
Penemuan-penemuan selanjutnya membuktikan betapa pentingnya hasil kerja Leeuwenhoek, terutama sebuah temuan hebat dari ilmuwan Jerman, Robert Koch pada 1876. Koch menemukan bahwa bakteri anthrax bacillus dapat menyebabkan penyakit yang serius pada manusia. Sebelum penemuan Koch, banyak ilmuwan meragukan bahwa makhluk-makhluk mikroskopik dapat membahayakan hewan yang jauh lebih besar dan juga manusia. Pada 1882, Koch menunjukkan bahwa jenis lain bakteri, tubercle bacillus, menyebabkan tuberculosis, penemuan yang membuatnya memenangkan hadiah Nobel pada tahun 1905.
Tidak seperti Koch yang merupakan seorang dokter ketika dia menemukan temuannya, Louis Pasteur, seorang ahli kimia dan biologi berkebangsaan Prancis, sangat membenci dokter. Oleh karena itu, dia tidak mempekerjakan seorang dokter pun di laboratoriumnya. Meskipun begitu, dia sangat tertarik terhadap berbagai macam penyakit. Pasteur menemukan bahwa pembusukan disebabkan oleh mikroorganisme yang mengambang di air. Pasteur mempelajari bahwa dia dapat mencegah proses pembusukan dengan cara memanaskan substansi organik pada suhu sedang, suatu proses yang dikenal sebagai pasteurization.
Pada tahun 1865, Joseph Lister, seorang ahli bedah berkebangsaan Inggris, membaca penelitian Pasteur mengenai pembusukan. Lister pun teringat bahwa jika patah tulang ringan hampir selalu dapat disembuhkan, tidak demikian halnya dengan compound fractures (patah tulang yang menembus kulit) yang hampir selalu akan membusuk. Lister yakin bahwa proses infeksi yang berbahaya ini disebabkan oleh mikroorganisme jahat yang telah Pasteur gambarkan. Untuk menguji teori tersebut, Lister menutup luka pasiennya yang mengalami compound fractures, yang sebelumnya terpapar ke udara, dengan kain katun yang telah direndam ke dalam asam karbolat/fenol. Dia percaya bahwa asam karbolat dapat membunuh mikrorganisme yang ditularkan lewat udara.
Lister mengobati compound fractures dan luka pembedahan yang terbuka dengan asam karbolat selama 9 bulan dan dia mengamati bahwa tidak ada infeksi pada pasien bedahnya. Hasil penelitiannya yang dipublikasikan pada 1867, mendorong lahirnya antiseptik untuk pembedahan. Meskipun teknik antiseptik dari Lister ini pada awalnya ditentang oleh dokter-dokter lain, tetapi teknik tersebut segera meluas dan diterima banyak pihak, yang pada akhirnya berhasil secara drastis menurunkan angka kematian karena infeksi di ruang bedah.

D.   REPRODUKSI DAN SIKLUS HIDUPNYA
Pembelahan
Umumnya bakteri berkembang biak dengan amitosis dengan pembelahan menjadi 2 bagian (binary division). Waktu diantara pembelahan disebut generation time dan ini berlainan untuk tiap jenis kuman, bervariasi antara 20 menit sampai 15 jam. Sebagai contoh mycobacterium tuberculosis mempunyai generation time 15 jam.
Pembentukan tunas atau cabang
Kuman membentuk tunas, tunas akan melepaskan diri dan membentuk kuman baru. Reproduksi dengan pembentukan cabang didahului dengan pembentukan tunas yang tumbuh menjadi cabang dan akhirnya melepaskan diri. Dapat dijumpai pada kuman dari family Sreptomycetaceae.
Pembentukan Filamen
Pada pembentukan filament, sel mengeluarkan serabut panjang, filament yang tidak bercabang. Bahan kromosom kemudian masuk ke dalam filament. Filament terputus-putus menjadi beberapa bagian. Tiap bagian membentuk kuman baru. Dijumpai terutama dalam keadaan abnormal, misalnya bila kuman Haemophilus influenza dibiakan pada pembenihan yang basah
Reproduksi secara seksual
Bakteri berbeda dengan eukariota dalam hal cara penggabungan DNA yang datang dari dua individu ke dalam satu sel. Pada eukariota, proses seksual secara meiosis dan fertilisasi mengkombinasi DNA dari dua individu ke dalam satu zigot. Akan tetapi, jenis kelamin yang ada pada ekuariota tidak terdapat pada prokariota. Meiosis dan fertilisasi tidak terjadi, sebaliknya ada proses lain yang akan mengumpulkan DNA bakteri yang datang dari individu-individu yang berbeda. Proses-proses ini adalah pembelahan transformasi, transduksi dan konjugasi.
Transformasi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjvQ2mTYkov6lZoeZP4o73s4jI0r8CqB6QdIqMX8iYpuP3-Oor4vyGmbUma1_Gaq9S8lkNyUGdnJl65RCmz1YqFOKjK6pqG3ir9TjCXNaNycvnBxc-jwigVbnFc_yjbpYG_z-SwgBYeGWeV/s1600/Gambar-4.6-Reproduksi-bakteri-dengan-jalan-transformasi.jpg
Dalam konteks genetika bakteri, transformasi merupakan perubahan suatu genotipe sel bakteri dengan cara mengambil DNA asing dari lingkungan sekitarnya. Misalnya, pada bakteri Streptococcus pneumoniae yang tidak berbahaya dapat ditransformasi menjadi sel-sel penyebab pneumonia dengan cara mengambil DNA dari medium yang mengandung sel-sel strain patogenik yang mati. Transformasi ini terjadi ketika sel nonpatogenik hidup mengambil potongan DNA yang kebetulan mengandung alel untuk patogenisitas (gen untuk suatu lapisan sel yang melindungi bakteri dari sistem imun inang) alel asing tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kromosom bakteri menggantikan alel aslinya untuk kondisi tanpa pelapis. Proses ini merupakan rekombinasi genetik – perputaran segmen DNA dengan cara pindah silang (crossing over). Sel yang ditransformasi ini sekarang memiliki satu kromosom yang mengandung DNA, yang berasal dari dua sel yang berbeda. Bertahun-tahun setelah transformasi ditemukan pada kultur laboratorium, sebagian besar ahli biologi percaya bahwa proses tersebut terlalu jarang dan terlalu kebetulan, sehingga tidak mungkin memainkan peranan penting pada populasi bakteri di alam. Tetapi, para saintis sejak saat itu telah mempelajari bahwa banyak spesies bakteri dipermukaannya memiliki protein yang terspesialisasi untuk mengambil DNA dari larutan sekitarnya. Protein-protein ini secara spesifik hanya mengenali dan mentransfer DNA dari spesies bakteri yang masih dekat kekerabatannya. Tidak semua bakteri memiliki protein membran seperti ini. Seperti contohnya, E. Coli sepertinya sama sekali tidak memiliki mekanisme yang tersepesialisasi untuk menelan DNA asing. Walaupun demikian, menempatkan E. Coli di dalam medium kultur yang mengandung konsentrasi ion kalsium yang relatif tinggi secara artifisial akan merangsang sel-sel untuk menelan sebagian kecil DNA. Dalam bioteknologi, teknik ini diaplikasikan untuk memasukkan gen gen asing ke dalam E. Coli, gen-gen yang mengkode protein yang bermanfaat, seperti insulin manusia dan hormon pertumbuhan.
Transduksi
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhP3nPA8Pxzq2GoCrHOhTb7y3kFXHBxulqeNCywerzsVGXLXJpe2oqhqhflynAkp2eHRjWh6Y2ZT3xCK3YnAy3QR2rfdG8Yj31uAm4u7gDtrRoDpFhw6DB5-1dqKkqF8gFSXEZ_BGSZ7m-d/s320/trnsduksie.jpg
Pada proses transfer DNA yang disebut transduksi, faga membawa gen bakteri dari satu sel inang ke sel inang lainnya. Ada dua bentuk transduksi yaitu transduksi umum dan transduksi khusus. Keduanya dihasilkan dari penyimpangan pada siklus reproduktif faga. Diakhir siklus litik faga, molekul asam nukleat virus dibungkus di dalam kapsid, dan faga lengkapnya dilepaskan ketika sel inang lisis. Kadangkala sebagian kecil dari DNA sel inang yang terdegradasi menggantikan genom faga. Virus seperti ini cacat karena tidak memiliki materi genetik sendiri. Walaupun demikian, setelah pelepasannya dari inang yang lisis, faga dapat menempel pada bakteri lain dan menginjeksikan bagian DNA bakteri yang didapatkan dari sel pertama. Beberapa DNA ini kemudian dapat menggantikan daerah homolog dari kromosom sel kedua. Kromosom sel ini sekarang memiliki kombinasi DNA yang berasal dari dua sel sehingga rekombinasi genetik telah terjadi. Jenis transduksi ini disebut dengan transduksi umum karena gen-gen bakteri ditransfer secara acak. Untuk transduksi khusus memerlukan infeksi oleh faga temperat, dalam siklus lisogenik genom faga temperat terintegrasi sebagai profaga ke dalam kromosom bakteri inang, di suatu tempat yang spesifik. Kemudian ketika genom faga dipisahkan dari kromosom, genom faga ini membawa serta bagian kecil dari DNA bakteri yang berdampingan dengan profaga. Ketika suatu virus yang membawa DNA bakteri seperti ini menginfeksi sel inang lain, gen-gen bakteri ikut terinjeksi bersama-sama dengan genom faga. Transduksi khusus hanya mentransfer gen-gen tertentu saja, yaitu gen-gen yang berada di dekat tempat profaga pada kromosom tersebut.
Konjugasi dan Plasmid
Konjugasi merupakan transfer langsung materi genetik antara dua sel bakteri yang berhubungan sementara. Proses ini, telah diteliti secara tuntas pada E. Coli. Transfer DNA adalah transfer satu arah, yaitu satu sel mendonasi (menyumbang) DNA, dan “pasangannya” menerima gen. Donor DNA, disebut sebagai “jantan”, menggunakan alat yang disebut piliseks untuk menempel pada resipien (penerima) DNA dan disebut sebagai “betina”. Kemudian sebuah jembatan sitoplasmik sementara akan terbentuk diantara kedua sel tersebut, menyediakan jalan untuk transfer DNA.
Plasmid adalah molekul DNA kecil, sirkular dan dapat bereplikasi sendiri, yang terpisah dari kromosom bakteri. Plasmid-plasmid tertentu, seperti plasmid f, dapat melakukan penggabungan reversibel ke dalam kromosom sel. Genom faga bereplikasi secara terpisah di dalam sitoplasma selama siklus litik, dan sebagai bagian integral dari kromosom inang selama siklus lisogenik. Plasmid hanya memiliki sedikit gen, dan gen-gen ini tidak diperlukan untuk pertahanan hidup dan reproduksi bakteri pada kondisi normal. Walaupun demikian, gen gen dari plasmid ini dapat memberikan keuntungan bagi bakteri yang hidup di lingkungan yang banyak tekanan. Contohnya, plasmid f mempermudah rekombinasi genetik, yang mungkin akan menguntungkan bila perubahan lingkungan tidak lagi mendukung strain yang ada di dalam populasi bakteri. Plasmid f , terdiri dari sekitar 25 gen, sebagian besar diperlukan untuk memproduksi piliseks. Ahli-ahli genetika menggunakan simbol f+ (dapat diwariskan). Plasmid f bereplikasi secara sinkron dengan DNA kromosom, dan pembelahan satu sel f+ biasanya menghasilkan dua keturunan yang semuanya merupakan f+. Sel-sel yang tidak memiliki faktor f diberi simbol f-, dan mereka berfungsi sebagai recipien DNA (“betina”) selama konjugasi. Kondisi f+ adalah kondisi yang “menular” dalam artian sel f+ dapat memindah sel f- menjadi sel f+ ketika kedua sel tersebut berkonjugasi. Plasmid f bereplikasi di dalam sel “jantan”, dan sebuah salinannya ditransfer ke sel “betina” melalui saluran konjugasi yang menghubungkan sel-sel tersebut. Pada perkawinan f+ dengan f- seperti ini, hanya sebuah plasmid f yang ditransfer. Gen-gen dari kromosom bakteri tersebut ditransfer selama konjugasi ketika faktor f dari donor sel tersebut terintegrasi ke dalam kromosomnya. Sel yang dilengkapi dengan faktor f dalam kromosomnya disebut sel Hfr ( high frequency of recombination atau rekombinasi frekuensi tinggi). Sel Hfr tetap berfungsi sebagai jantan selama konjugasi, mereplikasi DNA faktor f dan mentransfer salinannya ke f- pasangannya. Tetapi sekarang, faktor f ini mengambil salinan dari beberapa DNA kromosom bersamanya.
Gerakan acak bakteri biasanya mengganggu konjugasi sebelum salinan dari kromosom Hfr dapat seluruhnya dipindahkan ke sel f-. Untuk sementara waktu sel resipien menjadi diploid parsial atau sebagian, mengandung kromosomnya sendiri ditambah dengan DNA yang disalin dari sebagian kromosom donor. Rekombinasi dapat terjadi jika sebagian DNA yang baru diperoleh ini terletak berdampingan dengan daerah homolog dari kromosom F-, segmen DNA dapat dipertukarkan. Pembelahan biner pada sel ini dapat menghasilkan sebuah koloni bakteri rekombinan dengan gen-gen yang berasal dari dua sel yang berbeda, dimana satu dari strain-strain bakteri tersebut sebenarnya merupakan Hfr dan yang lainnya adalah F.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgMpXk3knmiLyz869aOLq8gIkkHzRtLi0MAHy0ME1AxzhlhpAybAyTP7kJg5TVvlr56heEXwJ7yzRcPKB9bltQ74n2nCYnQp0M1qnbQHyLqysLhvJ3ZfFb_hywdtqQdrXST4_cUv3P-5JTs/s320/Gambar-4.8-Reproduksi-bakteri-dengan-jalan-konjugasi.jpg
Keterangan:
  1. Sel bakteri Hfr bertemu dengan sel bakteri normal.
  2. Terbentuk tabung konjugasi, lalu terjadi perpindahan DNA dan sel Hfr ke sel normal.
  3. Terjadi rekombinasi DNA pada sel normal.
  4. Kedua sel bakteri berpindah.
Pada tahun 1950-an, pakar-pakar kesehatan jepang mulai memperhatikan bahwa beberapa pasien rumah sakit yang menderita akibat disentri bakteri, yang menyebabkan diare parah, tidak memberikan respons terhadap antibiotik yang biasanya efektif untuk pengobatan infeksi jenis ini. Tampaknya, resistensi terhadap antibiotik ini perlahan-lahan telah berkembang pada strain-strain Shigella sp. tertentu, suatu bakteri patogen. Akhirnya, peneliti mulai mengidentifikasi gen-gen spesifik yang menimbulkan resistensi antibiotik pada Shigella dan bakteri patogenik lainnya. Beberapa gen gen tersebut, mengkode enzim yang secara spesifik menghancurkan beberapa antibiotik tertentu, seperti tetrasiklin atau ampisilin. Gen gen yang memberikan resistensi ternyata di bawa oleh plasmid.
Sekarang dikenal sebagai plasmid R (R untuk resistensi). Pemaparan suatu populasi bakteri dengan suatu antibiotik spesifik baik di dalam kultur laboratorium maupun di dalam organisme inang akan membunuh bakteri yang sensitif terhadap antibiotik, tetapi hal itu tidak terjadi pada bakteri yang memiliki plasmid R yang dapat mengatasi antibiotik. Teori seleksi alam memprediksi bahwa, pada keadaan-keadaan seperti ini, akan semakin banyak bakteri yang akan mewarisi gen-gen yang menyebabkan resistensi antibiotik. Konsekuensi medisnya pun terbaca, yaitu strain patogen yang resisten semakin lama semakin banyak, membuat pengobatan infeksi bakteri tertentu menjadi semakin sulit. Permasalahan tersebut diperparah oleh kenyataan bahwa plasmid R, seperti plasmid F, dapat berpindah dari satu sel bakteri ke sel bakteri lainnya melalui konjugasi.
Kurva perkembangbiakan
Bila kuman ditanam dalam pembenihan yang sesuai dan pada waktu tertentu dan ditinjau jumlah kuman yang hidup, maka dapat dilihat suatu grafik yang dapat dibagi menjadi 4 fase, yaitu:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgjc5IAGGgltX_iaBR5_78MogUkGyW0VFOANgiF05205uDe5_HAmVzJpYdPIc1XlB927BjBwvW-AgumA8u9nT_4gUjjULaM8Mgu_2Jqf-5TWbV-IDY8W2waCyf_e5_G_WfXta6akb9Ag6NR/s320/kurva.jpg

Fase penyesuaian diri (lag phase)
Waktu penyesuaian ini umumnya berlangsu selama 2 jam. Kuman belum berkembang biak dalam fase ini, tetapi aktifitas metaboliknya sangat tinggi. Fase ini merupakan persiapan untuk fase berikutnya.
Fase pembelahan (logarhutmik phase)
Kuman berkembang biak dengan berlipat 2, jumlah kuman meningkat secara eksponensial. Pada kebanyakan kuman fase ini berlangsung selama 18-24 jam. Pada pertengahan fase ini pertumbuhan kuman sangat ideal, pembelahan terjadi secara teratur, semua bahan dalam sel berada dalam keadaan seimbang (balanced growth).
Fase stasioner (stationary phase)
Dengan meningkatnya jumlah kuman, meningkat juga jumlah hasi metabolism yang toksis. Kuman mulai ada yang mati, pembelahan terhambat. Pada suatu saat jumlah kuman yang hidup tetap sama.
Fase kemunduran ( period of deathline)
Jumlah kuman yang hidup berkurang da menurun. Keadaan lingkunga menjadi sangat jelek. Pada beberapa jenis kuman timbul bentuk-bentuk abnormal.

E.    MANFAAT ENTEROBACTER
Bakteri enterobacter sp, berperan dalam menghambat pertumbuhan fungi/bercak daun.
Enterobacter sp yang berperan penting dalam menghambat pertumbuhan fungi Curvularia sp yang menyebabkan penyakit bercak daun pada tanaman mentimun 

erobacter aerogenesis  Saproba di dalam usus besar vertebrata



















BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
Bakteri Enterobacter yang motil, sel-sel berbentuk batang, beberapa di antaranya dikemas. Mereka juga memiliki flagela peritrichous.  Sebagai anaerob fakultatif, beberapa   bakteri Enterobacter memfermentasi glukosa dan laktosa sebagai sumber karbon. Gas yang dihasilkan dari proses metabolisme, tetapi mereka tidak menghasilkan hydrogen sulfida.  Enterobacter cloacae A-11 dan bakteri lain yang terkait erat adalah prototrofik, regangan glikolitik Enterobacter yang ditemukan pada sejumlah benih yang berbeda dan tanaman.
Tidak Enterobacter genom bakteri telah diurutkan, namun, beberapa gen telah dipelajari melalui mutan dan sarana lain seperti itu. Misalnya, mutasi pada pfkA di Enterobacter cloacae menyebabkan perubahan dari apa yang pertumbuhan yang cepat pada karbohidrat tertentu yang dideteksi dalam eksudat benih pertumbuhan jauh lebih lambat pada karbohidrat lain, asam amino, dan asam organik (Roberts et al. 1999)













DAFTAR PUSTAKA

http://maksumprocedure.blogspot.co.id/2012/03/reproduksi-dan-fase-perkembangbiakan.html



Komentar

Postingan Populer