MAKALAH LUKA ULKUS
MAKALAH
LUKA ULKUS

DISUSUN
OLEH :
DWI
PUTRI PRATIWI
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
JURUSAN
KEPERAWATAN
TAHUN
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Luka Ulkus.
Kami meyadari dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kurang dan
lebihnya kami mohon maaf. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Banadar Lampung, Januari 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAM JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah........................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan............................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Ulkus
Diabetikum............................................................. 4
2.2 Anatomi Fisiologi.......................................................................... 5
2.3 Prevalensi........................................................................................ 6
2.4 Etiologi........................................................................................... 7
2.5 Faktor Resiko................................................................................. 8
2.6 Klasifikasi....................................................................................... 13
2.7 Manifestasi Klinik.......................................................................... 13
2.8 Pemeriksaan Penunjang.................................................................. 14
2.9 Penatalaksanaan Medis.................................................................. 17
2.10Proses Penyembuhan..................................................................... 22
2.11Komplikasi..................................................................................... 23
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..................................................................................... 24
3.2 Saran............................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ulkus kaki diabetik sampai saat ini
menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia, karena kasus yang semakin
meningkat, ulkus bersifat kronis dan sulit sembuh, mengalami infeksi dan
iskemia tungkai dengan risiko amputasi bahkan mengancam jiwa, membutuhkan
sumber daya kesehatan yang besar, sehingga memberi beban sosio-ekonomi bagi
pasien, masyarakat, dan negara. Berbagai metode pengobatan telah dikembangkan
namun sampai saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan.
Peningkatan populasi penderita diabetes
mellitus (DM), berdampak pada peningkatan kejadian ulkus kaki diabetik sebagai
komplikasi kronis DM, dimana sebanyak 15-25% penderita DM akan mengalami ulkus
kaki diabetik di dalam hidup mereka (Singh dkk., 2005). Di Amerika Serikat,
Huang dkk. (2009) memproyeksikan jumlah penyandang DM dalam 25 tahun ke depan
(antara tahun 2009-2034) akan meningkat 2 kali lipat dari 23,7 juta menjadi
44,1 juta, biaya perawatan per tahun meningkat sebanyak 223 miliar dolar dari
113 menjadi 336 miliar dolar Amerika Serikat. Biaya pengobatan DM dan
komplikasinya pada tahun 2007 di Amerika Serikat mencapai 116 miliar dolar, dimana
33% dari biaya tersebut berkaitan dengan pengobatan ulkus kaki diabetik (
Driver dkk, 2010).
Di Indonesia, berdasarkan laporan
Riskesdas 2007 yang dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan, Republik 2 Indonesia, prevalensi nasional
penyakit DM adalah 1,1% (Riskesdas, 2007). Indonesia kini telah menduduki
rangking keempat jumlah penyandang DM terbanyak setelah Amerika Serikat, China
dan India. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penyadang
diabetes pada tahun 2003 sebanyak 13,7 juta orang dan berdasarkan pola
pertambahan penduduk diperkirakan pada 2030 akan ada 20,1 juta penyandang DM
dengan tingkat prevalensi 14,7 persen untuk daerah urban dan 7,2 persen di
rural. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation, WHO) memprediksi
kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000
menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030 (Pusat Data dan Informasi PERSI,
2012).
Risiko infeksi dan amputasi masih cukup
tinggi, yaitu 40-80% ulkus kaki diabetik mengalami infeksi (Bernard, 2007),
14-20% memerlukan amputasi (Frykberg dkk., 2000), 66% mengalami kekambuhan dan
12% memiliki risiko amputasi dalam 5 tahun setelah sembuh. Kebanyakan pasien
datang berobat dalam fase lanjut, terlihat dari proporsi ulkus kaki diabetik
Wagner III-V mencapai 74,6 % dibandingkan dengan Wagner I-II yang hanya
mencapai 25,4 % dari seluruh kasus ulkus kaki diabetik yang dirawat di RS
Sanglah, dengan kecendrungan semakin tinggi derajat ulkus semakin besar risiko
amputasi (Muliawan dkk., 2005). Keadaan ini sangat berkaitan dengan
keterlambatan diagnosis dan konsultasi, penanganan yang tidak adekuat, serta
luasnya kerusakan jaringan (Van Baal, 2004). Amputasi kaki lebih sering
dilakukan atas dasar infeksi jaringan lunak yang luas atau kombinasi dengan
osteomielitis, disamping faktor-faktor lain seperti iskemia oleh karena
Peripheral artery disease (PAD), dan neuropati (Van Baal, 2004 ; Widatalla 3
dkk., 2009). Dengan program pelayanan kesehatan yang terstruktur, dimana semua
disiplin ilmu yang terkait bekerja secara koordinatif tercapai penurunan
bermakna angka amputasi major ulkus kaki diabetik lebih dari 75% dibandingkan
dengan pelayanan standar (Weck, 2013). Tanpa adanya perubahan strategi
penanganan, maka peningkatan populasi penderita DM, dan peningkatan biaya
pengobatan DM dan komplikasinya, akan menjadi beban berat bagi sistem pelayanan
kesehatan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa definisi ulkus diabetikum?
2.
Apa saja etiologi dan faktor resiko ulkus diabetikum?
3.
Bagaimana patofisiologi ulkus diabetikum ?
4.
Bagaimana penatalaksanaan klien ulkus diabetikum?
5.
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan ulkus
diabetikum?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui definisi ulkus diabetikum
2.
Untuk mengetahui etiologi dan faktor resiko ulkus diabetikum
3.
Untuk mengetahui patofisiologi ulkus diabetikum
4.
Untuk mengetahui penatalaksanaan klien ulkus diabetikum
5.
Untuk mengrtahui asuhan keperawatan pada klien dengan ulkus
diabetikum
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Ulkus Diabetikum
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput
lender dan ulkus adalah kematian jaringan yang luas dan disertai invasive kuman
saprofit. Adanya kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus
diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM
dengan neuropati perifer.(Andyagreeni,2010)
Ulkus Diabetik merupakan
komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus sebagai sebab utama morbiditas,
mortalitas serta kecacatan penderita Diabetes. Kadar LDL(bahaya >160mg/dl)
yang tinggi memainkan peranan penting untuk terjadinya Ulkus Diabetik
melalui pembentukan plak atherosklerosis pada dinding pembuluh darah.(Zaidah, 2005).
Luka kaki diabetes adalah penyebab
hilangnya anggota tubuh pada pasien diabetes yang disebabkan oleh banyak
faktor, termasuk deformitas, neuropati sensori, kondisi kulit yang tidak sehat
dan infeksi (Pei, 2013).
Ulkus diabetikum adalah keadaan ditemukannya infeksi, tukak
dan atau destruksi ke jaringan kulit yang paling dalam di kaki pada pasien
Diabetes Mellitus (DM) akibat abnormalitas saraf dan gangguan pembuluh darah
arteri perifer (Rizky
, 2015).
Ulkus merupakan komplikasi dari Diabetes Mellitus (DM) yang
diawali dengan infeksi superficial pada kulit penderita. Kadar glukosa darah
yang tinggi menjadi tempat strategis perkembangan bakteri. (Abidah,2016).
Kesimpulan : Ulkus Diabetikum
merupakan merupakan komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus sebagai
sebab utama morbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita
Diabetes. Ulkus Diabetikum disebabkan oleh banyak faktor, termasuk
deformitas, neuropati sensori, kondisi kulit yang tidak sehat dan infeksi. Ulkus
Diabetikum diawali
dengan infeksi superficial pada kulit penderita. Kadar glukosa darah yang tinggi
menjadi tempat strategis perkembangan bakteri. Adanya kuman saprofit
tersebut menyebabkan ulkus berbau.
2.2. Anatomi
Fisiologi
Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar
yang panjangnya kira – kira 15 cm, lebar 5 cm, mulai dari duodenum sampai
ke limpa dan beratnya rata – rata 60 – 90 gram. Terbentang pada
vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung.
Pankreas merupakan kelenjar endokrin
terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan (
kepala ) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum
dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari
organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak
pada alat ini. Dari segi perkembangan embriologis, kelenjar pankreas
terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus.
Pankreas terdiri dari dua jaringan
utama, yaitu :
(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.
(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.
(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.
(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.
Pulau – pulau Langerhans yang menjadi
sistem endokrinologis dari pamkreas tersebar di seluruh pankreas dengan berat
hanya 1 – 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans berbentuk ovoid
dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil
adalah 50 m, sedangkan yang terbesar 300 m, terbanyak adalah yang besarnya 100
– 225 m. Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 – 2
juta.
Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel
utama, yaitu :
1) Sel – sel A (
alpha ), jumlahnya sekitar 20 – 40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi faktor
hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai “ anti insulin like activity“
2) Sel – sel B (
betha ), jumlahnya sekitar 60 – 80 % , membuat insulin.
3) Sel – sel D (
delta ), jumlahnya sekitar 5 – 15 %, membuat somatostatin.
Masing – masing sel tersebut, dapat
dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop
pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung pembuluh
darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda dengan sel
beta yang normal dimana sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk
insulin sehingga dianggap tidak berfungsi.
Insulin merupakan protein kecil dengan
berat molekul 5808 untuk insulin manusia. Molekul insulin terdiri dari dua
rantai polipeptida yang tidak sama, yaitu rantai A dan B. Kedua rantai ini
dihubungkan oleh dua jembatan ( perangkai ), yang terdiri dari disulfida.
Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino.
Insulin dapat larut pada pH 4 – 7 dengan titik isoelektrik pada 5,3. Sebelum
insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar
di dalam membrana sel.
Insulin di sintesis sel beta pankreas
dari proinsulin dan di simpan dalam butiran berselaput yang berasal dari
kompleks Golgi. Pengaturan sekresi insulin dipengaruhi efek umpan balik kadar
glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa darah meningkat diatas 100
mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila kadar glukosa normal atau
rendah, produksi insulin akan menurun. Selain kadar glukosa darah, faktor
lain seperti asam amino, asam lemak, dan hormon gastrointestina merangsang
sekresi insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama insulin
untuk meningkatkan kecepatan transport glukosa melalui membran sel ke jaringan
terutama sel – sel otot, fibroblas dan sel lemak.
2.3. Prevalensi
Beberapa penelitian di Indonesia melaporkan
bahwa angka kematian ulkus gangren pada penyandang diabetes melitus
berkisar 17%-32%, sedangkan angka laju amputasi berkisar antara 15%-30%.
Para ahli diabetes memperkirakan ½ sampai ¾ kejadian amputasi dapat dihindarkan
dengan perawatan kaki yang baik.
Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa
pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3
juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM
pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu
14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%
Penderita diabetes mempunyai resiko 15%
terjadinya ulkus kaki diabetik pada masa hidupnya dan resiko terjadi
kekambuahan dalam 5 tahun sebesar 70%. Penderita diabetes meningkat setiap
tahunnya. Di Indonesia dilaporkan sebanyak 8,4 juta jiwa pada tahun 2001,
meningkat menjadi 14 juta tahun 2006 dan diperkirakan menjadi sekitar 21,3 juta
pada tahun 2020. Indonesia menduduki peringkat ke-4 dengan jumlah diabetes
terbanyak setelah India (31,7juta jiwa), China(20,8juta jiwa), Amerika Serikat
(17,7juta jiwa).
Hasil survey Departemen Kesehatan angka
kejadian dan komplikasi DM cukup tersebar sehingga dikatakan sebagai masalah
nasional yang harus mendapat perhatian karena komplikasinya sangat mengganggu
kualitas penderita. Angka kematian ulkus pada penyandang DM berkisar antar
17-32%, sedangkan laju amputasi berkisar antara 15-30%. Para ahli DM memperkirakan
½ sampai ¾ kejadian amputasi dapat dihindarkan dengan perawatan luka yang baik,
lebih dari satu juta amputasi dilakukan pada penyandang luka diabetes khususnya
diakibatkan oleh ulkus gangren diseluruh dunia
(Depkes,2010)(Kristiyaningrum,Indanah,Suwarto.tahun2012)
2.4. Etiologi
Faktor- faktor penyebab yang berpengaruh atas terjadinya
ulkus diabetikum dibagi menjadi faktor endogen dan eksogen :
a.
Faktor Endogen : genetik metabolik, angiopati diabetik,
neuropati diabetik
b.
Faktor Eksogen : traum, infeksi, obat-obatan
Faktor utama yang berperan pada timbulnnya ulkus diabetikum
adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Adanya neuropati perifer akan
menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga mengalami
trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan
motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki sehingga merubah
titik tumpu yang menyebabkan ulsestrasi pada kaki klien. Adanya angiopati
tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan nutrisi, oksigen serta
antibiotika sehingga menyebabkan terjadinya luka yang sukar sembuh.
(Levin,2001)
2.5 Faktor Resiko
Faktor risiko
terjadi ulkus diabetika yang menjadi gambaran dari kaki diabetes
pada penderita diabetes mellitus terdiri atas faktor-faktor risiko
yang tidak dapat diubah dan faktor-faktor risiko yang dapat diubah
(Tambunan, 2006; Waspadji, 2006).
1.
Faktor-faktor risiko yang tidak dapat diubah :
a.
Umur ≥ 60 tahun.
Pada usia tua fungsi tubuh secara fisiologis menurun karena
proses aging terjadi penurunan sekresi atau resistensi insulin sehingga
kemampuan fungsi tubuh terhadap pengendalian glukosa darah yang tinggi kurang
optimal . proses aging menyebabkan penurunan sekresi atau resistensi insulin
sehingga terjadi makroangiopati, yang akan mempengaruhi penurunan sirkulasi
darah salah satunya pembuluh darah besar atau sedang di tungkai yang lebih
mudah terjadi ulkus kaki diabetes
b.
Terjadinya gangguan neurophati periferLama DM ≥ 10 tahun.
Ulkus kaki diabetes terutama terjadi pada penderita
diabetes mellitus yang telah menderita 10 tahun atau lebih, apabila kadar
glukosa darah tidak terkendali, karena akan muncul komplikasi yang berhubungan
dengan vaskuler sehingga mengalami makroangiopati dan mikroangiopati yang akan
terjadi vaskulopati dan neuropati yang mengakibatkan menurunnya sirkulasi darah
dan adanya robekan / luka pada kaki penderita diabetes mellitus yang sering
tidak dirasakan karena terjadinya gangguan neurophati perifer
2.
Faktor-Faktor Risiko yang dapat diubah, (termasuk
kebiasaan dan gaya hidup):
a.
Neuropati (sensorik, motorik, perifer).
Kadar glukosa darah yang tinggi semakin lama akan terjadi
gangguan mikro sirkulasi, berkurangnya aliran darah dan hantaran oksigen
pada serabut saraf yang mengakibatkan degenerasi pada serabut syaraf yang
lebih lanjut akan terjadi neuropati. Syaraf yang rusak tidak dapat
mengirimkan sinyal ke otak dengan baik, sehingga penderita dapat kehilangan
indra perasa selain itu juga kelenjar keringat menjadi berkurang, kulit kering
dan mudah robek. Neuropati perifer berupa hilangnya sensasi rasa yang berisiko
tinggi menjadi penyebab terjadinya lesi yang kemudian berkembang menjadi ulkus
kaki diabetes
b.
Obesitas.
Pada obesitas dengan index massa tubuh ≥ 23 kg/m2
(wanita) dan IMT (index massa tubuh) ≥ 25 kg/m2 (pria) atau berat badan ideal
yang berlebih akan sering terjadi resistensi insulin. Apabila kadar insulin
melebihi 10 μU/ml, keadaan \ini menunjukkan hiperinsulinmia yang dapat
menyebabkan aterosklerosis yang berdampak pada vaskulopati, sehingga terjadi
gangguan sirkulasi darah sedang / besar pada tungkai yang menyebabkan tungkai
akan mudah terjadi ulkus / ganggren sebagai bentuk dari kaki diabetes
c.
Hipertensi
Hipertensi (TD > 130/80 mm Hg) pada penderita diabetes
mellitus karena adanya viskositas darah yang tinggi akan berakibat menurunnya
aliran darah sehingga terjadi defesiensi vaskuler, selain itu hipertensi yang
tekanan darah lebih dari 130/80 mmHg dapat merusak atau mengakibatkan lesi pada
endotel. Kerusakan pada endotel akan berpengaruh terhadap makroangiopati
melalui proses adhesi dan agregasi trombosit yang berakibat vaskuler defisiensi
sehingga dapat terjadi hipoksia pada jaringan yang akan mengakibatkan
terjadinya ulkus
d.
Glikolisasi Hemoglobin (HbA1C) Tidak Terkontrol.
Glikosilasi Hemoglobin adalah terikatnya glukosa yang
masuk dalam sirkulasi sistemik dengan protein plasma termasuk hemoglobin dalam
sel darah merah. Apabila Glikosilasi Hemoglobin (HbA1c) ≥ 6,5 % akan menurunkan
kemampuan pengikatan oksigen oleh sel darah merah yang mengakibatkan hipoksia
jaringan yang selanjutnya terjadi proliferasi pada dinding sel otot polos sub
endotel
e.
Kadar Glukosa Darah Tidak Terkontrol.
Pada penderita diabetes mellitus sering dijumpai adanya
peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol plasma, sedangkan konsentrasi HDL
(highdensity - lipoprotein) sebagai pembersih plak biasanya rendah ( ≤ 45
mg/dl). Kadar trigliserida ≥ 150 mg/dl, kolesterol total ≥ 200 mg/dl dan HDL ≤
45 mg/dl akan mengakibatkan buruknya sirkulasi ke sebagian besar jaringan dan
menyebabkan hipoksia serta cedera jaringan, merangsang reaksi peradangan dan
terjadinya aterosklerosis. Konsekuensi adanya aterosklerosis adalah penyempitan
lumen pembuluh darah yang akan menyebabkan gangguan sirkulasi jaringan sehingga
suplai darah ke pembuluh darah menurun ditandai dengan hilang atau berkurangnya
denyut nadi pada arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea, kaki menjadi
atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis jaringan
sehingga timbul ulkus yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai
f.
Kebiasaan Merokok.
Pada penderita diabetes mellitus yang merokok ≥ 12 batang
per hari mempunyai risiko 3x untuk menjadi ulkus kaki diabetes dibandingkan
dengan penderita diabetes mellitus yang tidak merokok. Kebiasaan merokok akibat
dari nikotin yang terkandung di dalam rokok akan dapat menyebabkan kerusakan
endotel kemudian terjadi penempelan dan agregasi trombosit yang selanjutnya
terjadi kebocoran sehingga lipoprotein lipase akan memperlambat clearance lemak
darah dan mempermudah timbulnya aterosklerosis. Aterosklerosis berakibat
insufisiensi vaskuler sehingga aliran darah ke arteri dorsalis pedis, poplitea,
dan tibialis juga akan menurun
g.
Ketidakpatuhan Diet DM.
Kepatuhan diet diabetes mellitus merupakan upaya yang
sangat penting dalam pengendalian kadar glukosa darah, kolesterol, dan
trigliserida mendekati normal sehingga dapat mencegah komplikasi kronik,
seperti ulkus kaki diabetes. Kepatuhan diet penderita diabetes mellitus
mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu mempertahankan berat badan normal,
menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, menurunkan kadar glukosa
darah, memperbaiki profil lipid,meningkatkan sensitivitas reseptor insulin dan
memperbaiki sistem koagulasi darah
h.
Kurangnya Aktivitas Fisik.
Aktivitas fisik (olah raga) sangat bermanfaat untuk
meningkatkan sirkulasi darah, menurunkan berat badan dan memperbaiki
sensitivitas terhadap insulin, sehingga akan memperbaiki kadar glukosa darah.
Dengan kadar glukosa darah terkendali maka akan mencegah komplikasi kronik
diabetes mellitus. Olah raga rutin (lebih 3 kali dalam seminggu selama 30
menit) akan memperbaiki metabolisme karbohidrat, berpengaruh positif terhadap
metabolisme lipid dan sumbangan terhadap penurunan berat badan. Aktivitas fisik
yang dilakukan termasuk senam kaki. Senam kaki dapat membantu memperbaiki
sirkualsi darah dan memperkuat otot - otot kecil kaki dan mencegah terjadinya
kelainan bentuk kaki (deformitas), selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot
betis dan otot paha (Gastrocnemeus, Hamsring, Quadriceps) dan juga mengatasi
keterbatasan gerak sendi.
i.
Pengobatan Tidak Teratur.
Pengobatan rutin dan pengobatan intensif akan dapat mencegah
dan menghambat timbulnya komplikasi kronik, seperti ulkus diabetika. Sampai
pada saat ini belum ada obat yang dapat dianjurkan secara tepat untuk
memperbaiki vaskularisasi perifer pada penderita Diabetes Mellitus, namun bila
dilihat dari penelitian tentang kelainan akibat arterosklerosis ditemapt lain
seperti jantung dan otak, obat seperti aspirin dan lainnya yang sejenis dapat
digunakan pada pasien Diabetes Mellitus meskipun belum ada bukti yang cukup
kuat untuk menganjurkan penggunaan secara rutin
j.
Perawatan Kaki Tidak Teratur.
Perawatan kaki penderita diabetes mellitus yang teratur
akan mencegah atau mengurangi terjadinya komplikasi kronik pada kaki. Acuan
dalam perawatan kaki pada penderita diabetes mellitus yaitu meliputi seperti
selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, membersihkan dan mencuci kaki setiap
hari dengan air suam-suam kuku dengan memakai sabun lembut dan mengeringkan
dengan sempurna dan hati-hati terutama diantara jari-jari kaki, memakai krem
kaki yang baik pada kulit yang kering atau tumit yang retak-retak, supaya kulit
tetap mulus, dan jangan menggosok antara jari-jari kaki (contoh: krem
sorbolene), tidak memakai bedak, sebab ini akan menyebabkan kulit menjadi
kering dan retak-retak. menggunting kuku hanya boleh digunakan untuk memotong
kuku kaki secara lurus dan kemudian mengikir agar licin. Memotong kuku lebih
mudah dilakukan sesudah mandi, sewaktu kuku lembut, kuku kaki yang menusuk
daging dan kalus, hendaknya diobati oleh podiatrist. Jangan menggunakan pisau
cukur atau pisau biasa, yang bias tergelincir; dan ini dapat menyebabkan luka
pada kaki, jangan menggunakan penutup kornus/corns. Kornus-kornus ini
seharusnya diobati hanya oleh podiatrist, memeriksa kaki dan celah kaki setiap
hari apakah terdapat kalus, bula, luka dan lecet dan menghindari penggunaan air
panas atau bantal panas
k.
Penggunaan Alas Kaki Tidak Tepat
Penderita diabetes mellitus tidak boleh berjalan tanpa
alas kaki karena tanpa menggunakan alas kaki yang tepat memudahkan terjadi
trauma yang mengakibatkan ulkus kaki diabetes yang diawali dari timbulnya lesi
pada tungkai kaki, terutama apabila terjadi neuropati yang mengakibatkan
sensasi rasa berkurang atau hilang. Pencegahan dalam faktor mekanik dengan
memberikan alas kaki yang pas dan nyaman untuk penderita diabetes mellitus.
Penggunaan alas kaki yang tepat harus memperhatikan hal hal berupa tidak boleh
berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir, memakai sepatu yang sesuai atau
sepatu khusus untuk kaki dan nyaman dipakai, sebelum memakai sepatu, memerika
sepatuterlebih dahulu, kalau ada batu dan lain-lain, karena dapat menyebabkan
iritasi/gangguan dan luka terhadap kulit, sepatu harus terbuat dari kulit,
kuat, pas (cukup ruang untuk ibu jari kaki) dan tidak boleh dipakai tanpa kaus
kaki, sepatu baru harus dipakai secara berangsur-angsur dan hati-hati, memakai
kaus kaki yang bersih dan mengganti setiap hari, kaus kaki terbuat dari bahan
wol atau katun. Jangan memakai bahan sintetis, karena bahan ini menyebabkan
kaki berkeringat dan memakai kaus kaki apabila kaki terasa dingin
2.6 Klasifikasi
Menurut Wagner (1983) membagi gangren
kaki diabetik menjadi enam tingkatan yaitu :
a. Derajat 0 :
Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai
kelainan bentuk kaki seperti “ claw,callus “.
b. Derajat I : Ulkus
superfisial terbatas pada kulit.
c. Derajat II :
Ulkus dalam menembus tendon dan tulang.
d. Derajat III :
Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis.
e. Derajat IV :
Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis.
f.
Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.
Sedangkan Brand (1986) dan Ward (1987)
membagi gangren kaki menjadi dua golongan :
a.
Kaki Diabetik akibat Iskemia (KDI)
Disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat
adanya makroangiopati (arterosklerosis) dari pembuluh darah besar ditungkai,
terutama di daerah betis.Gambaran klinis KDI :Penderita mengeluh nyeri waktu
istirahat, pada perabaan terasa dingin, pulsasi pembuluh darah kurang kuat, dan
didapatkan ulkus sampai gangren.
b.
Kaki Diabetik akibat Neuropati (KDN)
Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik, tidak ada
gangguan dari sirkulasi. Klinis di jumpai kaki yang kering, hangat, kesemutan,
mati rasa, oedem kaki, dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik.
2.7 Manifestasi Klinik
Ulkus
Diabetikum akibat mikroangiopatik disebut juga ulkus panas walaupun nekrosis,
daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh peradangan dan biasanya
teraba pulsasi arteri dibagian distal . Proses mikroangipati menyebabkan
sumbatan pembuluh darah, sedangkan secara akut emboli memberikan gejala klinis
5 P yaitu:Pain (nyeri), Paleness (kepucatan), Paresthesia (kesemutan),
Pulselessness (denyut nadi hilang) dan Paralysis (lumpuh).Bila terjadi sumbatan
kronik, akan timbul gambaran klinis menurut pola dari Fontaine, 1992:
1.
Stadium I : asimptomatis atau gejala tidak khas
(kesemutan).
2.
Stadium II : terjadi klaudikasio (rasa sakit yang
disebabkan oleh aliran darah terlalu sedikit yang
bersifat intermiten).
3.
Stadium III : timbul nyeri saat istitrahat.
4.
Stadium IV : terjadinya kerusakan jaringan karena anoksia
(ulkus).
Smeltzer dan
Bare (2001: 1220). Sedangkan tanda dan gejala lainnya adalah
sebagai berikut:
1.
Sering kesemutan
2.
Nyeri kaki saat istirahat
3.
Sensasi rasa berkurang
4.
Kerusakan jaringan (nekrosis)
5.
Penurunan denyut nadi arteri dorsalis pedis
6.
Tibialis (neuralgia tibialis posterior) adalah nyeri di
pergelangan kaki dan jari kaki yang disebabkan oleh penekanan atau kerusakan
pada saraf yang menuju ke tumit dan telapak kaki.
7.
Aneurisma arteri poplitea adalah tonjolan abnormal yang
muncul pada dinding arteri pada daerah dibelakang sendi lutut yang dapat
menimbulkan masalah gumpalan darah dan menutup aliran darah sepenuhnya.
8.
Kaki menjadi atrofi
9.
Dingin dan kuku menebal
10. Kulit kering
2.8
Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan
fisik pada penderita dengan ulkus diabetes dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
a.
Pemeriksaan ulkus dan keadaan umum ekstremitas
Ulkus diabetes mempunyai kecenderungan terjadi pada
beberapa daerah yang menjadi tumpuan beban terbesar, seperti tumit, area kaput
metatarsal di telapak, ujung jari yang menonjol (pada jari pertama dan kedua).
Ulkus dapat timbul pada malleolus (mata kaki) karena pada daerah ini sering
mendapatkan trauma. Kelainan-kelainan lain yang ditemukan pada pemeriksaa
fisik: Callus hipertropik, Kuku yang rapuh/pecah , Hammer toes( deformitas kaki di mana tikungan kaki ke bawah pada
sendi tengah, menyebabkan ia menyerupai palu),Fissure.
b.
Penilaian kemungkinan isufisiensi vaskuler
Pemeriksaan fisik memperlihatkan hilangnya atau
menurunnya nadi perifer dibawah level tertentu. Penemuan lain yang berhubungan
dengan penyakit aterosklerosis meliputi adanya bunyi bising (bruit) pada arteri
iliaka dan femoralis, atrofi kulit, hilangnya rambut pada kaki, sianosis jari
kaki, ulserasi dan nekrosis iskemia, kedua kaki pucat pada saat kaki diangkat
setinggi jantung selama 1-2 menit. Pemeriksaan vaskuler noninvasif meliputi
pengukuran oksigen transkutan, anklebrachial index (ABI), tekanan sistolik jari
kaki. ABI merupakan pemeriksaan noninvasif yang dengan mudah dilakukan dengan
menggunakan alat Doppler. Cuff tekanan dipasang pada lengan atas dan dipompa
sampai nadi pada brachialis tidak dapat dideteksi Doppler. Cuff kemudian
dilepaskan perlahan sampai Doppler dapat mendeteksi kembali nadi brachialis.
Tindakan yang sama dilakukan pada tungkai, dimana cuff dipasang pada calf
distal dan Doppler dipasang pada arteri dorsalis pedis atau arteri tibialis
posterior. ABI didapatkan dari tekanan sistolik ankle dibagi tekanan sistolik
brachialis.Normalnya Pada keadaan normal, nilai ABI berkisar antara 0,9-1,30,
sedangkan nilai ABI < 0,9 dapat menegakkan diagnosis PAD (peripheral artery
disease).
c.
Kemungkinan neuropati perifer
Tanda neuropati perifer meliputi hilangnya sensasi rasa
getar dan posisi, hilangnya reflek tendon dalam, ulserasi tropik, foot drop(keterbatasan atau
ketidakmampuan untuk mengangkat bagian depan kaki yang mengacu kepada kelemahan
otot-otot yang memungkinkan seseorang untuk melenturkan pergelangan kaki dan
jari kaki), atrofi otot, dan pemembentukan calus hipertropik khususnya
pada daerah penekanan misalnya pada tumit. Status neurologis dapat diperiksa
dengan menggunakan monofilament Semmes-Weinsten (salah satu alat berbentuk
benang untuk mengukur ketajaman luka) untuk mengetahui apakah penderita masih
memiliki "sensasi protektif', Pemeriksaan menunjukkan hasil abnormal jika
penderita tidak dapat merasakan sentuhan monofilamen ketika ditekankan pada
kaki dengan tekanan yang cukup sampai monofilamen bengkok.
2) Pemeriksaan
laboratorium
a. Pemeriksaan
darah : lekositosis mungkin menandakan adanya abses atau infeksi lainnya pada
kaki. Penyembuhan luka dihambat oleh adanya anemia. Adanya insufisiensi
arterial yang telah ada, keadaan anemia menimbulkan nyeri saat istirahat.
b. Profil
metabolik : pengukuran kadar glukosa darah, glikohemoglobin dan kreatinin serum
membantu untuk menentukan kecukupan regulasi glukosa dan fungsi ginjal.
c. Pemeriksaan laboratorium
vaskuler noninvasif : Pulse Volume Recording (PVR) atau plethymosgrafi.
3) Pemeriksaan
Radiologis
a. Pemeriksaan
foto polos pada kaki diabetik dapat menunjukkan demineralisasi dan sendi
Charcot serta adanya osteomielitis.
b. Computed Tomographic
(CT) scan dan Magnetic Resonance Imanging (MRI): meskipun pemeriksa yang
berpengalaman dapat mendiagnosis abses dengan pemeriksaan fisik, CT scan atau
MRI dapat digunakan untuk membantu diagnosis abses apabila pada pemeriksaan
fisik tidak jelas.
c. Bone scaning
masih dipertanyakan kegunaannya karena besarnya hasil false positif dan false
negatif. Penelitian mutakhir menyebutkan 99mTc-IabeIed ciprofolxacin sebagai
penanda (marker) untuk osteomielitis.
d. Arteriografi
konvensional: apabila direncanakan pembedahan vaskuler atau endovaskuler,
arteriografi diperlukan untuk memperlihatkan luas dan makna penyakit
atherosklerosis. Resiko yang berkaitan dengan injeksi kontras pada angiografi
konvensional berhubungan dengan suntikan dan agen kontras.
2.9 Penatalaksanaan Medis
Tujuan utama pengelolaan Ulkus diabetikum (UKD),
yaitu untuk mengakses proses kearah penyem-buhan luka secepat mungkin karena
per-baikan dari ulkus kaki dapat menurunkan kemungkinan terjadinya amputasi dan
ke-matian pasien diabetes. Secara umum pe-ngelolaan UKD meliputi penanganan
iske-mia, debridemen, penanganan luka, menu-runkan tekanan plantar pedis
(off-loading), penanganan bedah, penanganan komorbidi-tas dan menurunkan risiko
kekambuhan serta pengelolaan infeksi
1.
Penanganan Iskemia
Perfusi arteri merupakan hal penting dalam proses
penyembuhan dan harus dini-lai awal pada pasien UKD. Penilaian kom-petensi
vaskular pedis pada UKD seringkali memerlukan bantuan pemeriksaan penun-jang
seperti MRI angiogram, doppler mau-pun angiografi. Pemeriksaan sederhana
se-perti perabaan pulsasi arteri poplitea, tibialis posterior dan dorsalis
pedis dapat dilakukan pada kasus UKD kecil yang ti-dak disertai edema ataupun
selulitis yang luas. Ulkus atau gangren kaki tidak akan sembuh bahkan dapat menyerang
tempat lain di kemudian hari bila penyempitan pembuluh darah kaki tidak diatasi.
Bila pemeriksaan kompetensi vaskular menunjukkan adanya
penyumbatan, bedah vaskular rekonstruktif dapat meningkat-kan prognosis dan
selayaknya diperlukan sebelum dilakukan debridemen luas atau amputasi parsial.
Beberapa tindakan bedah vaskular yang dapat dilakukan antara lain angioplasti
transluminal perkutaneus (ATP), tromboarterektomi dan bedah pintas terbuka (by
pass). Berdasarkan peneliti-an, revaskularisasi agresif pada tungkai yang
mengalami iskemia dapat menghin-darkan amputasi dalam periode tiga tahun
sebesar 98%. Bedah bypass dilaporkan e-fektif untuk jangka
panjang. Kesintas-an (survival rate) dari ekstremitas bawah dalam 10
tahun pada mereka yang mema-kai prosedur bedah bypass lebih
dari 90%. Penggunaan antiplatelet ditujukan terhadap keadaan
insufisiensi arteri perifer untuk memperlambat progresifitas sumbat-an dan
kebutuhan rekonstruksi pembuluh darah.
2.
Debridemen
Debridemen merupakan upaya untuk membersihkan semua
jaringan nekrotik, karena luka tidak akan sembuh bila masih terdapat
jaringan nonviable, debris dan fis-tula. Tindakan debridemen juga
dapat menghilangkan koloni bakteri pada lu-ka. Saat ini terdapat beberapa jenis
de-bridemen yaitu autolitik, enzimatik, meka-nik, biologik dan tajam.
Debridemen dilakukan terhadap semua jaringan lunak dan
tulang yang nonviable. Tujuan debridemen yaitu untuk
mengeva-kuasi jaringan yang terkontaminasi bakteri, mengangkat jaringan
nekrotik sehingga da-pat mempercepat penyembuhan, menghi-langkan jaringan kalus
serta mengurangi risiko infeksi lokal.16 Debridemen yang teratur dan dilakukan
secara terjadwal akan memelihara ulkus tetap bersih dan merang-sang
terbentuknya jaringan granulasi sehat sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan
ulkus.
3.
Perawatan luka
Prinsip perawatan luka yaitu mencipta-kan
lingkungan moist wound healing atau menjaga agar luka
senantiasa dalam keada-an lembab. Bila ulkus memroduksi se-kret banyak maka
untuk pembalut (dress-ing) digunakan yang bersifat absorben. Se-baliknya
bila ulkus kering maka digunakan pembalut yang mampu melembabkan ul-kus. Bila
ulkus cukup lembab, maka dipilih pembalut ulkus yang dapat mempertahan-kan
kelembaban.
Disamping bertujuan untuk menjaga kelembaban, penggunaan
pembalut juga se-layaknya mempertimbangkan ukuran, ke-dalaman dan lokasi
ulkus.Untuk pemba-lut ulkus dapat digunakan pembalut kon-vensional yaitu kasa
steril yang dilembab-kan dengan NaCl 0,9% maupun pembalut modern yang tersedia
saat ini. Beberapa jenis pembalut modern yang sering dipakai dalam
perawatan luka, seperti: hydrocol-loid, hydrogel, calcium alginate,
foam dan sebagainya. Pemilihan pembalut yang akan digunakan hendaknya
senantiasa memper-timbangkan cost effective dan kemampuan ekonomi
pasien
4.
Menurunkan tekanan pada plantar pedis (off-loading)
Tindakan off-loading merupakan salah
satu prinsip utama dalam penatalaksanaan ulkus kronik dengan dasar neuropati.
Tin-dakan ini bertujuan untuk mengurangi te-kanan pada telapak kaki. Tindakan off-loading dapat
dilakukan secara parsial maupun total. Mengurangi tekanan pada ul-kus neuropati
dapat mengurangi trauma dan mempercepat proses penyembuhan lu-ka. Kaki yang
mengalami ulkus harus sedapat mungkin dibebaskan dari penekan-an. Sepatu pasien
harus dimodifikasi sesuai dengan bentuk kaki dan lokasi ulkus.6 Metode yang
dipilih untuk off-loading ter-gantung dari karakteristik fisik
pasien, lokasi luka, derajat keparahan dan ketaatan pasien.10 Beberapa
metode off loading an-tara lain: total non-weight
bearing, total contact cast, foot cast dan boots,sepatu
yang dimodifikasi (half shoe, wedge shoe), serta alat penyanggah
tubuh seperti cruthes dan walker
5.
Penanganan bedah
Jenis tindakan bedah tergantung dari berat ringannya UKD.
Tindakan elektif di-tujukan untuk menghilangkan nyeri akibat deformitas seperti
pada kelainan spur tu-lang, hammertoes atau bunions.
Tindakan bedah profilaktif diindikasikan untuk men-cegah terjadinya ulkus atau
ulkus berulang pada pasien yang mengalami neuropati de-ngan melakukan koreksi
deformitas sendi, tulang atau tendon. Bedah kuratif diindika-sikan bila ulkus
tidak sembuh dengan pera-watan konservatif, misalnya angioplasti atau bedah
vaskular. Osteomielitis kronis merupakan indikasi bedah kuratif.10 Bedah emergensi
adalah tindakan yang paling se-ring dilakukan, dan diindikasikan untuk
menghambat atau menghentikan proses infeksi, misalnya ulkus dengan daerah
infeksi yang luas atau adanya gangren gas. Tindak-an bedah emergensi dapat
berupa amputasi atau debridemen jaringan nekrotik.
6.
Penanganan komorbiditas
Diabetes merupakan penyakit sistemik multiorgan sehingga
komorbiditas lain ha-rus dinilai dan dikelola melalui pendekatan tim
multidisiplin untuk mendapatkan hasil yang optimal. Komplikasi kronik lain baik
mikro maupun makroangiopati yang menyertai harus diidentifikasi dan dikelola
secara holistik. Kepatuhan pasien juga merupakan hal yang penting dalam
menentukan hasil pengobatan.
7.
Mencegah kambuhnya ulkus
Pencegahan dianggap sebagai elemen kunci dalam menghindari
amputasi kaki. Pasien diajarkan untuk memperhatikan ke-bersihan kaki, memeriksa
kaki setiap hari, menggunakan alas kaki yang tepat, meng-obati segera jika
terdapat luka, pemeriksaan rutin ke podiatri, termasuk debridemen pada kapalan
dan kuku kaki yang tumbuh ke dalam. Sepatu dengan sol yang mengu-rangi tekanan
kaki dan kotak yang melin-dungi kaki berisiko tinggi merupakan ele-men penting
dari program pencegahan.
8.
Pengelolaan infeksi
Infeksi pada UKD merupakan faktor pemberat yang turut
menentukan derajat agresifitas tindakan yang diperlukan dalam pengelolaan UKD.
Dilain pihak infeksi pa-da UKD mempunyai permasalahan sendiri dengan adanya
berbagai risiko seperti sta-tus lokalis maupun sistemik yang imuno-compromised pada
pasien DM, resistensi mikroba terhadap antibiotik, dan jenis mi-kroba yang
adakalanya memerlukan anti-biotik spesifik yang mahal dan berkepan-jangan.
Dasar utama pemilihan antibiotik dalam penatalaksanaa UKD yaitu berdasar-kan
hasil kultur sekret dan sensitivitas sel.
infeksi yang tidak meng-ancam tungkai biasanya terlihat
sebagai ul-serasi yang dangkal, tanpa iskemia yang nyata, tidak mengenai tulang
atau sendi, dan area selulitis tidak lebih dari 2 cm dari pusat ulkus. Pasien
tampak stabil serta ti-dak memperlihatkan tanda dan gejala infek-si sistemik.
Pengelolaan pasien dilakukan sebagai pasien rawat jalan. Perawatan di rumah
sakit hanya bila tidak ada perbaikan setelah 48-72 jam atau kondisi membu-ruk.6
Antibiotik langsung diberikan diser-tai pembersihan dan debridemen ulkus.
Penanganan ulkus ini selanjutnya seperti yang diuraikan sebelumnya, koreksi
hiperglikemia dan kontrol komorbid lainnya. Respon terhadap pengobatan
dievaluasi setelah 48-72 jam untuk menilai tindakan yang mung-kin perlu
dilakukan.6,10,12 Aspek pencegahan, pendidikan pasien, perawatan dan
pena-nganan ortotik juga dilakukan secara terpadu.
Infeksi disebut mengancam bila UKD berupa ulkus yang
dalam sampai mengenai tulang dengan selulitis yang lebih dari 2 cm dan/atau
disertai gambaran klinis infeksi sistemik berupa demam, edema, limfangi-tis,
hiperglikemia, leukositosis dan iskemia. Perlu diperhatikan, tidak semua pasien
diabetes dengan infeksi yang relatif berat akan menunjukkan tanda dan gejala
sistemik se-perti tersebut diatas. Jika ulkus mencapai tulang atau sendi,
kemungkinan besar akan terjadi osteomielitis.Pasien dengan infeksi yang
mengan-cam ekstremitas harus dirawat di rumah sakit untuk manajemen yang tepat.
Debride-men dilakukan sejak awal dengan tetap memperhitungkan ada/tidaknya
kompetensi vaskular tungkai. Jaringan yang diambil dari luka dikirim untuk
kultur. Tindakan ini mungkin perlu dilakukan berulang untuk mengendalikan
infeksi.23 Terapi empiris untuk infeksi berat harus berspektrum luas dan
diberikan secara intravena dengan mempertimbangkan faktor lain seperti biaya,
toleransi pasien, alergi, potensi efek yang merugikan ginjal atau hati,
kemudah-an pemberian dan pola resistensi antibiotik setempat.5,18 Infeksi
kronik dan berat yang mengancam tungkai umumnya disebabkan oleh infeksi
polimikroba yang mencakup organisme aerob gram positif dan negatif serta
anaerob.
Lamanya pemberian antibiotik tergan-tung pada gejala
klinis, luas dan dalamnya jaringan yang terkena serta beratnya infek-si. Pada
infeksi ringan sampai sedang antibiotik dapat diberikan 1-2 minggu, sedangkan
pada infeksi yang lebih berat anti-biotik diberikan 2-4 minggu. Debridemen yang
adekuat, reseksi atau amputasi jaring-an nekrosis dapat mempersingkat waktu
pemberian antibiotik. Pada kasus osteomielitis, jika tulang terinfeksi tidak
dievakuasi, maka antibiotik harus diberikan selama 6-8 minggu, bahkan beberapa
literatur menganjurkan sampai 6 bulan. Jika semua tulang yang terinfeksi
dievakuasi, antibiotik dapat diberikan lebih singkat, yaitu 1-2 minggu dan
ditujukan untuk infeksi jaringan lunak. Efektivitas terapi dievaluasi
dengan beberapa parameter, antara lain respon klinis pasien, suhu,
leukosit dan hitung jenis, laju endap darah dan penanda inflamasi lainnya,
kontrol gula darah dan para-meter metabolik, serta tanda-tanda penyembuhan luka
dan peradangan.
2.10 Proses Penyembuhan
Proses penyembuhan luka.Luka akan
sembuh sesuai tahapan spesifik yang dapat terjadi tumapang tindih.Fase
penyembuhan luka dibagi menjadi tiga fase yaitu :
a.
Fase inflamasi
Fase inflamasi penyembuhan luka dimulai segera setelah
terjadi kerusakan jaringan dan fase awal hemostatis.
a)
Hari ke 0 sampai 5
b)
Respons segera setelah terjadi injuri berupa pembekuan
darah untukmencegah kehilangan darah
c)
Karateristik : tumor, rubor, dolor,color, functio laesa
d)
Fase awal terjadi hemostatis
e)
Fase akhir terjadi fagositosis
f)
Lama fase ini bisa singkat jika tidak terjadi infeksi
b.
Fase proliferasi atau epitelisasi
Fase proliferasi penyembuhan luka pada hari ke4 sampai 21
setelah terjadi kerusakan jaringan/luka. Selama fase ini, jaringan granulasi
menutup permukaan luka dan keratosit bermigrasi untuk membantu penutupan luka
dengan jaringan epitel baru
a)
Hari ke 3 sampai 14
b)
Disebut juga fase granulasi karena adanya pembentukan
jaringan granulasi, luka tampak merah segar, mengkilat
c)
Jaringan granulasi terdiri dari kombinasi : fibroblas,
sel inflamasi, pembuluh darah baru, fibronektin dan asam hialuronat
d)
Epitelisasi terjadi pada 24 jam pertama ditandai dengan
penebalan lapisan epidermis pada tepian luka
e)
Epitelisasi terjadi pada 48 jam pertama pada luka insisi
c.
Fase maturasi atau remodelling
Fase remodelling penyembuhan luka pada
hari ke 21 sampai 1 tahun setelah terjadi kerusakan jaringan/luka. Fase ini
merupakan fase terlama penyembuhan luka, dimana fibrolas dan jaringan kolagen
akan memperkuat penyembuhan luka.
a)
Berlangsung dari beberapa minggu sampai 2 tahun
b)
Terbentuk kolagen baru yang mengubah bentuk luka serta
peningkatan kekuatan jaringan (tensile strength)
c)
Terbentuk jaringan parut (scar tissue) 50-80% sama
kuatnya dengan jaringan sebelumnya
d)
Pengurangan bertahap aktivitas seluler dan vaskulerisasi
jaringan yang mengalami perbaikan
2.12 Komplikasi
Penelitian Hariani (2006)
didapatkan ulkus diabetik memungkinkan masuknya bakteri serta
menimbulkan infeksi luka, apabila ulkus diabetik yang tidak terawat
dan tertangani dengan baik akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut pada
penderitaulkus diabetik, diantaranya amputasi anggota gerak, terjadi infeksi
tulang dan sepsis. Melihat data yang dijumpai pada hasil penelitian maka resiko
pasien yang mengalami ulkus diabetik semakin besar dengan kondisi pasien.
Kondisi banyaknya pasien yang mengalami ulkus diabetik perlu mendapatkan
perhatian perawat agar tidak terjadi komplikasi
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ulkus Diabetikum
merupakan merupakan komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus sebagai
sebab utama morbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita
Diabetes. Ulkus Diabetikum disebabkan oleh banyak faktor, termasuk
deformitas, neuropati sensori, kondisi kulit yang tidak sehat dan infeksi. Ulkus
Diabetikum diawali
dengan infeksi superficial pada kulit penderita. Kadar glukosa darah yang
tinggi menjadi tempat strategis perkembangan bakteri. Adanya kuman
saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau. Faktor utama yang berperan
pada timbulnnya ulkus diabetikum adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Wagner (1983)
membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan.
Tujuan utama pengelolaan Ulkus diabetikum (UKD),
yaitu untuk mengakses proses kearah penyem-buhan luka secepat mungkin karena
per-baikan dari ulkus kaki dapat menurunkan kemungkinan terjadinya amputasi dan
ke-matian pasien diabetes. Secara umum pe-ngelolaan UKD meliputi penanganan
iske-mia, debridemen, penanganan luka, menu-runkan tekanan plantar pedis (off-loading),
penanganan bedah, penanganan komorbidi-tas dan menurunkan risiko kekambuhan
serta pengelolaan infeksi. Fase penyembuhan luka ulkus dibagi menjadi
tiga fase yaitu:;
Fase inflamasi, fase proliferasi, serta fase maturasi (remodeling.)
3.2 Saran
Penderita DM memiliki lebih banyak faktor resiko untuk
mempercepat meluasnya luka dan lamanya penyambuhan luka. Oleh karena itu
penanganan ulkus pada klien diabetes harus dilakukan secara cepat dan tepat,
untuk mengurangi angkamorbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita Diabetes. Klien DM juga harus meperhatikan
dalam hal nutrisi, latihan fisik yang tepat, serta alas kaki yang baik untuk
mencegah terjadinya luka. Jika pada penderita DM terdapat luka kecil di kaki
segera bawa ke pelayanan kesehatan untuk mencegah meluasnya luka.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddarth. (2002). Buku ajar
Keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Jakarta:
EGC
Joyce
dan Jane. (2014). Keperawatan Medikal Bedah edisi 8Buku 2.Elsevier
Evelyn C. Pearce (2003). Anatomi Fisiologi; untuk
paramedis , Jakarta: PT Gramedia
Syaifuddin (2005). Anatomi Fisiologi; untuk mahasiswa
keperawatan (edisi 3), Jakarta:
EGC
Jurnal
PENATALAKSANAAN ULKUS KAKI DIABETES SECARA TERPADU.
http://dianhidayatiutami.blogspot.co.id/2017/05/asuhan-keperawatan-klien-dengan-ulkus.html

DISUSUN
OLEH :
DWI
PUTRI PRATIWI
SEKOLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
JURUSAN
KEPERAWATAN
TAHUN
2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Luka Ulkus.
Kami meyadari dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun guna penyempurnaan makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, kurang dan
lebihnya kami mohon maaf. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Banadar Lampung, Januari 2018
Penulis
DAFTAR ISI
HALAM JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2
Rumusan Masalah........................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan............................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Ulkus
Diabetikum............................................................. 4
2.2 Anatomi Fisiologi.......................................................................... 5
2.3 Prevalensi........................................................................................ 6
2.4 Etiologi........................................................................................... 7
2.5 Faktor Resiko................................................................................. 8
2.6 Klasifikasi....................................................................................... 13
2.7 Manifestasi Klinik.......................................................................... 13
2.8 Pemeriksaan Penunjang.................................................................. 14
2.9 Penatalaksanaan Medis.................................................................. 17
2.10Proses Penyembuhan..................................................................... 22
2.11Komplikasi..................................................................................... 23
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..................................................................................... 24
3.2 Saran............................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ulkus kaki diabetik sampai saat ini
menjadi masalah kesehatan utama di seluruh dunia, karena kasus yang semakin
meningkat, ulkus bersifat kronis dan sulit sembuh, mengalami infeksi dan
iskemia tungkai dengan risiko amputasi bahkan mengancam jiwa, membutuhkan
sumber daya kesehatan yang besar, sehingga memberi beban sosio-ekonomi bagi
pasien, masyarakat, dan negara. Berbagai metode pengobatan telah dikembangkan
namun sampai saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan.
Peningkatan populasi penderita diabetes
mellitus (DM), berdampak pada peningkatan kejadian ulkus kaki diabetik sebagai
komplikasi kronis DM, dimana sebanyak 15-25% penderita DM akan mengalami ulkus
kaki diabetik di dalam hidup mereka (Singh dkk., 2005). Di Amerika Serikat,
Huang dkk. (2009) memproyeksikan jumlah penyandang DM dalam 25 tahun ke depan
(antara tahun 2009-2034) akan meningkat 2 kali lipat dari 23,7 juta menjadi
44,1 juta, biaya perawatan per tahun meningkat sebanyak 223 miliar dolar dari
113 menjadi 336 miliar dolar Amerika Serikat. Biaya pengobatan DM dan
komplikasinya pada tahun 2007 di Amerika Serikat mencapai 116 miliar dolar, dimana
33% dari biaya tersebut berkaitan dengan pengobatan ulkus kaki diabetik (
Driver dkk, 2010).
Di Indonesia, berdasarkan laporan
Riskesdas 2007 yang dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Departemen Kesehatan, Republik 2 Indonesia, prevalensi nasional
penyakit DM adalah 1,1% (Riskesdas, 2007). Indonesia kini telah menduduki
rangking keempat jumlah penyandang DM terbanyak setelah Amerika Serikat, China
dan India. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penyadang
diabetes pada tahun 2003 sebanyak 13,7 juta orang dan berdasarkan pola
pertambahan penduduk diperkirakan pada 2030 akan ada 20,1 juta penyandang DM
dengan tingkat prevalensi 14,7 persen untuk daerah urban dan 7,2 persen di
rural. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organisation, WHO) memprediksi
kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000
menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030 (Pusat Data dan Informasi PERSI,
2012).
Risiko infeksi dan amputasi masih cukup
tinggi, yaitu 40-80% ulkus kaki diabetik mengalami infeksi (Bernard, 2007),
14-20% memerlukan amputasi (Frykberg dkk., 2000), 66% mengalami kekambuhan dan
12% memiliki risiko amputasi dalam 5 tahun setelah sembuh. Kebanyakan pasien
datang berobat dalam fase lanjut, terlihat dari proporsi ulkus kaki diabetik
Wagner III-V mencapai 74,6 % dibandingkan dengan Wagner I-II yang hanya
mencapai 25,4 % dari seluruh kasus ulkus kaki diabetik yang dirawat di RS
Sanglah, dengan kecendrungan semakin tinggi derajat ulkus semakin besar risiko
amputasi (Muliawan dkk., 2005). Keadaan ini sangat berkaitan dengan
keterlambatan diagnosis dan konsultasi, penanganan yang tidak adekuat, serta
luasnya kerusakan jaringan (Van Baal, 2004). Amputasi kaki lebih sering
dilakukan atas dasar infeksi jaringan lunak yang luas atau kombinasi dengan
osteomielitis, disamping faktor-faktor lain seperti iskemia oleh karena
Peripheral artery disease (PAD), dan neuropati (Van Baal, 2004 ; Widatalla 3
dkk., 2009). Dengan program pelayanan kesehatan yang terstruktur, dimana semua
disiplin ilmu yang terkait bekerja secara koordinatif tercapai penurunan
bermakna angka amputasi major ulkus kaki diabetik lebih dari 75% dibandingkan
dengan pelayanan standar (Weck, 2013). Tanpa adanya perubahan strategi
penanganan, maka peningkatan populasi penderita DM, dan peningkatan biaya
pengobatan DM dan komplikasinya, akan menjadi beban berat bagi sistem pelayanan
kesehatan.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa definisi ulkus diabetikum?
2.
Apa saja etiologi dan faktor resiko ulkus diabetikum?
3.
Bagaimana patofisiologi ulkus diabetikum ?
4.
Bagaimana penatalaksanaan klien ulkus diabetikum?
5.
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan ulkus
diabetikum?
1.3 Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui definisi ulkus diabetikum
2.
Untuk mengetahui etiologi dan faktor resiko ulkus diabetikum
3.
Untuk mengetahui patofisiologi ulkus diabetikum
4.
Untuk mengetahui penatalaksanaan klien ulkus diabetikum
5.
Untuk mengrtahui asuhan keperawatan pada klien dengan ulkus
diabetikum
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Ulkus Diabetikum
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput
lender dan ulkus adalah kematian jaringan yang luas dan disertai invasive kuman
saprofit. Adanya kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus
diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM
dengan neuropati perifer.(Andyagreeni,2010)
Ulkus Diabetik merupakan
komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus sebagai sebab utama morbiditas,
mortalitas serta kecacatan penderita Diabetes. Kadar LDL(bahaya >160mg/dl)
yang tinggi memainkan peranan penting untuk terjadinya Ulkus Diabetik
melalui pembentukan plak atherosklerosis pada dinding pembuluh darah.(Zaidah, 2005).
Luka kaki diabetes adalah penyebab
hilangnya anggota tubuh pada pasien diabetes yang disebabkan oleh banyak
faktor, termasuk deformitas, neuropati sensori, kondisi kulit yang tidak sehat
dan infeksi (Pei, 2013).
Ulkus diabetikum adalah keadaan ditemukannya infeksi, tukak
dan atau destruksi ke jaringan kulit yang paling dalam di kaki pada pasien
Diabetes Mellitus (DM) akibat abnormalitas saraf dan gangguan pembuluh darah
arteri perifer (Rizky
, 2015).
Ulkus merupakan komplikasi dari Diabetes Mellitus (DM) yang
diawali dengan infeksi superficial pada kulit penderita. Kadar glukosa darah
yang tinggi menjadi tempat strategis perkembangan bakteri. (Abidah,2016).
Kesimpulan : Ulkus Diabetikum
merupakan merupakan komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus sebagai
sebab utama morbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita
Diabetes. Ulkus Diabetikum disebabkan oleh banyak faktor, termasuk
deformitas, neuropati sensori, kondisi kulit yang tidak sehat dan infeksi. Ulkus
Diabetikum diawali
dengan infeksi superficial pada kulit penderita. Kadar glukosa darah yang tinggi
menjadi tempat strategis perkembangan bakteri. Adanya kuman saprofit
tersebut menyebabkan ulkus berbau.
2.2. Anatomi
Fisiologi
Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar
yang panjangnya kira – kira 15 cm, lebar 5 cm, mulai dari duodenum sampai
ke limpa dan beratnya rata – rata 60 – 90 gram. Terbentang pada
vertebrata lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung.
Pankreas merupakan kelenjar endokrin
terbesar yang terdapat di dalam tubuh baik hewan maupun manusia. Bagian depan (
kepala ) kelenjar pankreas terletak pada lekukan yang dibentuk oleh duodenum
dan bagian pilorus dari lambung. Bagian badan yang merupakan bagian utama dari
organ ini merentang ke arah limpa dengan bagian ekornya menyentuh atau terletak
pada alat ini. Dari segi perkembangan embriologis, kelenjar pankreas
terbentuk dari epitel yang berasal dari lapisan epitel yang membentuk usus.
Pankreas terdiri dari dua jaringan
utama, yaitu :
(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.
(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.
(1). Asini sekresi getah pencernaan ke dalam duodenum.
(2). Pulau Langerhans yang tidak tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.
Pulau – pulau Langerhans yang menjadi
sistem endokrinologis dari pamkreas tersebar di seluruh pankreas dengan berat
hanya 1 – 3 % dari berat total pankreas. Pulau langerhans berbentuk ovoid
dengan besar masing-masing pulau berbeda. Besar pulau langerhans yang terkecil
adalah 50 m, sedangkan yang terbesar 300 m, terbanyak adalah yang besarnya 100
– 225 m. Jumlah semua pulau langerhans di pankreas diperkirakan antara 1 – 2
juta.
Pulau langerhans manusia, mengandung tiga jenis sel
utama, yaitu :
1) Sel – sel A (
alpha ), jumlahnya sekitar 20 – 40 % ; memproduksi glikagon yang manjadi faktor
hiperglikemik, suatu hormon yang mempunyai “ anti insulin like activity“
2) Sel – sel B (
betha ), jumlahnya sekitar 60 – 80 % , membuat insulin.
3) Sel – sel D (
delta ), jumlahnya sekitar 5 – 15 %, membuat somatostatin.
Masing – masing sel tersebut, dapat
dibedakan berdasarkan struktur dan sifat pewarnaan. Di bawah mikroskop
pulau-pulau langerhans ini nampak berwarna pucat dan banyak mengandung pembuluh
darah kapiler. Pada penderita DM, sel beha sering ada tetapi berbeda dengan sel
beta yang normal dimana sel beta tidak menunjukkan reaksi pewarnaan untuk
insulin sehingga dianggap tidak berfungsi.
Insulin merupakan protein kecil dengan
berat molekul 5808 untuk insulin manusia. Molekul insulin terdiri dari dua
rantai polipeptida yang tidak sama, yaitu rantai A dan B. Kedua rantai ini
dihubungkan oleh dua jembatan ( perangkai ), yang terdiri dari disulfida.
Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino.
Insulin dapat larut pada pH 4 – 7 dengan titik isoelektrik pada 5,3. Sebelum
insulin dapat berfungsi, ia harus berikatan dengan protein reseptor yang besar
di dalam membrana sel.
Insulin di sintesis sel beta pankreas
dari proinsulin dan di simpan dalam butiran berselaput yang berasal dari
kompleks Golgi. Pengaturan sekresi insulin dipengaruhi efek umpan balik kadar
glukosa darah pada pankreas. Bila kadar glukosa darah meningkat diatas 100
mg/100ml darah, sekresi insulin meningkat cepat. Bila kadar glukosa normal atau
rendah, produksi insulin akan menurun. Selain kadar glukosa darah, faktor
lain seperti asam amino, asam lemak, dan hormon gastrointestina merangsang
sekresi insulin dalam derajat berbeda-beda. Fungsi metabolisme utama insulin
untuk meningkatkan kecepatan transport glukosa melalui membran sel ke jaringan
terutama sel – sel otot, fibroblas dan sel lemak.
2.3. Prevalensi
Beberapa penelitian di Indonesia melaporkan
bahwa angka kematian ulkus gangren pada penyandang diabetes melitus
berkisar 17%-32%, sedangkan angka laju amputasi berkisar antara 15%-30%.
Para ahli diabetes memperkirakan ½ sampai ¾ kejadian amputasi dapat dihindarkan
dengan perawatan kaki yang baik.
Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa
pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3
juta orang (Diabetes Care, 2004). Sedangkan hasil Riset kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi penyebab kematian akibat DM
pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan menduduki ranking ke-2 yaitu
14,7%. Dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking ke-6 yaitu 5,8%
Penderita diabetes mempunyai resiko 15%
terjadinya ulkus kaki diabetik pada masa hidupnya dan resiko terjadi
kekambuahan dalam 5 tahun sebesar 70%. Penderita diabetes meningkat setiap
tahunnya. Di Indonesia dilaporkan sebanyak 8,4 juta jiwa pada tahun 2001,
meningkat menjadi 14 juta tahun 2006 dan diperkirakan menjadi sekitar 21,3 juta
pada tahun 2020. Indonesia menduduki peringkat ke-4 dengan jumlah diabetes
terbanyak setelah India (31,7juta jiwa), China(20,8juta jiwa), Amerika Serikat
(17,7juta jiwa).
Hasil survey Departemen Kesehatan angka
kejadian dan komplikasi DM cukup tersebar sehingga dikatakan sebagai masalah
nasional yang harus mendapat perhatian karena komplikasinya sangat mengganggu
kualitas penderita. Angka kematian ulkus pada penyandang DM berkisar antar
17-32%, sedangkan laju amputasi berkisar antara 15-30%. Para ahli DM memperkirakan
½ sampai ¾ kejadian amputasi dapat dihindarkan dengan perawatan luka yang baik,
lebih dari satu juta amputasi dilakukan pada penyandang luka diabetes khususnya
diakibatkan oleh ulkus gangren diseluruh dunia
(Depkes,2010)(Kristiyaningrum,Indanah,Suwarto.tahun2012)
2.4. Etiologi
Faktor- faktor penyebab yang berpengaruh atas terjadinya
ulkus diabetikum dibagi menjadi faktor endogen dan eksogen :
a.
Faktor Endogen : genetik metabolik, angiopati diabetik,
neuropati diabetik
b.
Faktor Eksogen : traum, infeksi, obat-obatan
Faktor utama yang berperan pada timbulnnya ulkus diabetikum
adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Adanya neuropati perifer akan
menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki, sehingga mengalami
trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan
motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki sehingga merubah
titik tumpu yang menyebabkan ulsestrasi pada kaki klien. Adanya angiopati
tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan nutrisi, oksigen serta
antibiotika sehingga menyebabkan terjadinya luka yang sukar sembuh.
(Levin,2001)
2.5 Faktor Resiko
Faktor risiko
terjadi ulkus diabetika yang menjadi gambaran dari kaki diabetes
pada penderita diabetes mellitus terdiri atas faktor-faktor risiko
yang tidak dapat diubah dan faktor-faktor risiko yang dapat diubah
(Tambunan, 2006; Waspadji, 2006).
1.
Faktor-faktor risiko yang tidak dapat diubah :
a.
Umur ≥ 60 tahun.
Pada usia tua fungsi tubuh secara fisiologis menurun karena
proses aging terjadi penurunan sekresi atau resistensi insulin sehingga
kemampuan fungsi tubuh terhadap pengendalian glukosa darah yang tinggi kurang
optimal . proses aging menyebabkan penurunan sekresi atau resistensi insulin
sehingga terjadi makroangiopati, yang akan mempengaruhi penurunan sirkulasi
darah salah satunya pembuluh darah besar atau sedang di tungkai yang lebih
mudah terjadi ulkus kaki diabetes
b.
Terjadinya gangguan neurophati periferLama DM ≥ 10 tahun.
Ulkus kaki diabetes terutama terjadi pada penderita
diabetes mellitus yang telah menderita 10 tahun atau lebih, apabila kadar
glukosa darah tidak terkendali, karena akan muncul komplikasi yang berhubungan
dengan vaskuler sehingga mengalami makroangiopati dan mikroangiopati yang akan
terjadi vaskulopati dan neuropati yang mengakibatkan menurunnya sirkulasi darah
dan adanya robekan / luka pada kaki penderita diabetes mellitus yang sering
tidak dirasakan karena terjadinya gangguan neurophati perifer
2.
Faktor-Faktor Risiko yang dapat diubah, (termasuk
kebiasaan dan gaya hidup):
a.
Neuropati (sensorik, motorik, perifer).
Kadar glukosa darah yang tinggi semakin lama akan terjadi
gangguan mikro sirkulasi, berkurangnya aliran darah dan hantaran oksigen
pada serabut saraf yang mengakibatkan degenerasi pada serabut syaraf yang
lebih lanjut akan terjadi neuropati. Syaraf yang rusak tidak dapat
mengirimkan sinyal ke otak dengan baik, sehingga penderita dapat kehilangan
indra perasa selain itu juga kelenjar keringat menjadi berkurang, kulit kering
dan mudah robek. Neuropati perifer berupa hilangnya sensasi rasa yang berisiko
tinggi menjadi penyebab terjadinya lesi yang kemudian berkembang menjadi ulkus
kaki diabetes
b.
Obesitas.
Pada obesitas dengan index massa tubuh ≥ 23 kg/m2
(wanita) dan IMT (index massa tubuh) ≥ 25 kg/m2 (pria) atau berat badan ideal
yang berlebih akan sering terjadi resistensi insulin. Apabila kadar insulin
melebihi 10 μU/ml, keadaan \ini menunjukkan hiperinsulinmia yang dapat
menyebabkan aterosklerosis yang berdampak pada vaskulopati, sehingga terjadi
gangguan sirkulasi darah sedang / besar pada tungkai yang menyebabkan tungkai
akan mudah terjadi ulkus / ganggren sebagai bentuk dari kaki diabetes
c.
Hipertensi
Hipertensi (TD > 130/80 mm Hg) pada penderita diabetes
mellitus karena adanya viskositas darah yang tinggi akan berakibat menurunnya
aliran darah sehingga terjadi defesiensi vaskuler, selain itu hipertensi yang
tekanan darah lebih dari 130/80 mmHg dapat merusak atau mengakibatkan lesi pada
endotel. Kerusakan pada endotel akan berpengaruh terhadap makroangiopati
melalui proses adhesi dan agregasi trombosit yang berakibat vaskuler defisiensi
sehingga dapat terjadi hipoksia pada jaringan yang akan mengakibatkan
terjadinya ulkus
d.
Glikolisasi Hemoglobin (HbA1C) Tidak Terkontrol.
Glikosilasi Hemoglobin adalah terikatnya glukosa yang
masuk dalam sirkulasi sistemik dengan protein plasma termasuk hemoglobin dalam
sel darah merah. Apabila Glikosilasi Hemoglobin (HbA1c) ≥ 6,5 % akan menurunkan
kemampuan pengikatan oksigen oleh sel darah merah yang mengakibatkan hipoksia
jaringan yang selanjutnya terjadi proliferasi pada dinding sel otot polos sub
endotel
e.
Kadar Glukosa Darah Tidak Terkontrol.
Pada penderita diabetes mellitus sering dijumpai adanya
peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol plasma, sedangkan konsentrasi HDL
(highdensity - lipoprotein) sebagai pembersih plak biasanya rendah ( ≤ 45
mg/dl). Kadar trigliserida ≥ 150 mg/dl, kolesterol total ≥ 200 mg/dl dan HDL ≤
45 mg/dl akan mengakibatkan buruknya sirkulasi ke sebagian besar jaringan dan
menyebabkan hipoksia serta cedera jaringan, merangsang reaksi peradangan dan
terjadinya aterosklerosis. Konsekuensi adanya aterosklerosis adalah penyempitan
lumen pembuluh darah yang akan menyebabkan gangguan sirkulasi jaringan sehingga
suplai darah ke pembuluh darah menurun ditandai dengan hilang atau berkurangnya
denyut nadi pada arteri dorsalis pedis, tibialis dan poplitea, kaki menjadi
atrofi, dingin dan kuku menebal. Kelainan selanjutnya terjadi nekrosis jaringan
sehingga timbul ulkus yang biasanya dimulai dari ujung kaki atau tungkai
f.
Kebiasaan Merokok.
Pada penderita diabetes mellitus yang merokok ≥ 12 batang
per hari mempunyai risiko 3x untuk menjadi ulkus kaki diabetes dibandingkan
dengan penderita diabetes mellitus yang tidak merokok. Kebiasaan merokok akibat
dari nikotin yang terkandung di dalam rokok akan dapat menyebabkan kerusakan
endotel kemudian terjadi penempelan dan agregasi trombosit yang selanjutnya
terjadi kebocoran sehingga lipoprotein lipase akan memperlambat clearance lemak
darah dan mempermudah timbulnya aterosklerosis. Aterosklerosis berakibat
insufisiensi vaskuler sehingga aliran darah ke arteri dorsalis pedis, poplitea,
dan tibialis juga akan menurun
g.
Ketidakpatuhan Diet DM.
Kepatuhan diet diabetes mellitus merupakan upaya yang
sangat penting dalam pengendalian kadar glukosa darah, kolesterol, dan
trigliserida mendekati normal sehingga dapat mencegah komplikasi kronik,
seperti ulkus kaki diabetes. Kepatuhan diet penderita diabetes mellitus
mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu mempertahankan berat badan normal,
menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, menurunkan kadar glukosa
darah, memperbaiki profil lipid,meningkatkan sensitivitas reseptor insulin dan
memperbaiki sistem koagulasi darah
h.
Kurangnya Aktivitas Fisik.
Aktivitas fisik (olah raga) sangat bermanfaat untuk
meningkatkan sirkulasi darah, menurunkan berat badan dan memperbaiki
sensitivitas terhadap insulin, sehingga akan memperbaiki kadar glukosa darah.
Dengan kadar glukosa darah terkendali maka akan mencegah komplikasi kronik
diabetes mellitus. Olah raga rutin (lebih 3 kali dalam seminggu selama 30
menit) akan memperbaiki metabolisme karbohidrat, berpengaruh positif terhadap
metabolisme lipid dan sumbangan terhadap penurunan berat badan. Aktivitas fisik
yang dilakukan termasuk senam kaki. Senam kaki dapat membantu memperbaiki
sirkualsi darah dan memperkuat otot - otot kecil kaki dan mencegah terjadinya
kelainan bentuk kaki (deformitas), selain itu dapat meningkatkan kekuatan otot
betis dan otot paha (Gastrocnemeus, Hamsring, Quadriceps) dan juga mengatasi
keterbatasan gerak sendi.
i.
Pengobatan Tidak Teratur.
Pengobatan rutin dan pengobatan intensif akan dapat mencegah
dan menghambat timbulnya komplikasi kronik, seperti ulkus diabetika. Sampai
pada saat ini belum ada obat yang dapat dianjurkan secara tepat untuk
memperbaiki vaskularisasi perifer pada penderita Diabetes Mellitus, namun bila
dilihat dari penelitian tentang kelainan akibat arterosklerosis ditemapt lain
seperti jantung dan otak, obat seperti aspirin dan lainnya yang sejenis dapat
digunakan pada pasien Diabetes Mellitus meskipun belum ada bukti yang cukup
kuat untuk menganjurkan penggunaan secara rutin
j.
Perawatan Kaki Tidak Teratur.
Perawatan kaki penderita diabetes mellitus yang teratur
akan mencegah atau mengurangi terjadinya komplikasi kronik pada kaki. Acuan
dalam perawatan kaki pada penderita diabetes mellitus yaitu meliputi seperti
selalu menjaga kaki dalam keadaan bersih, membersihkan dan mencuci kaki setiap
hari dengan air suam-suam kuku dengan memakai sabun lembut dan mengeringkan
dengan sempurna dan hati-hati terutama diantara jari-jari kaki, memakai krem
kaki yang baik pada kulit yang kering atau tumit yang retak-retak, supaya kulit
tetap mulus, dan jangan menggosok antara jari-jari kaki (contoh: krem
sorbolene), tidak memakai bedak, sebab ini akan menyebabkan kulit menjadi
kering dan retak-retak. menggunting kuku hanya boleh digunakan untuk memotong
kuku kaki secara lurus dan kemudian mengikir agar licin. Memotong kuku lebih
mudah dilakukan sesudah mandi, sewaktu kuku lembut, kuku kaki yang menusuk
daging dan kalus, hendaknya diobati oleh podiatrist. Jangan menggunakan pisau
cukur atau pisau biasa, yang bias tergelincir; dan ini dapat menyebabkan luka
pada kaki, jangan menggunakan penutup kornus/corns. Kornus-kornus ini
seharusnya diobati hanya oleh podiatrist, memeriksa kaki dan celah kaki setiap
hari apakah terdapat kalus, bula, luka dan lecet dan menghindari penggunaan air
panas atau bantal panas
k.
Penggunaan Alas Kaki Tidak Tepat
Penderita diabetes mellitus tidak boleh berjalan tanpa
alas kaki karena tanpa menggunakan alas kaki yang tepat memudahkan terjadi
trauma yang mengakibatkan ulkus kaki diabetes yang diawali dari timbulnya lesi
pada tungkai kaki, terutama apabila terjadi neuropati yang mengakibatkan
sensasi rasa berkurang atau hilang. Pencegahan dalam faktor mekanik dengan
memberikan alas kaki yang pas dan nyaman untuk penderita diabetes mellitus.
Penggunaan alas kaki yang tepat harus memperhatikan hal hal berupa tidak boleh
berjalan tanpa alas kaki, termasuk di pasir, memakai sepatu yang sesuai atau
sepatu khusus untuk kaki dan nyaman dipakai, sebelum memakai sepatu, memerika
sepatuterlebih dahulu, kalau ada batu dan lain-lain, karena dapat menyebabkan
iritasi/gangguan dan luka terhadap kulit, sepatu harus terbuat dari kulit,
kuat, pas (cukup ruang untuk ibu jari kaki) dan tidak boleh dipakai tanpa kaus
kaki, sepatu baru harus dipakai secara berangsur-angsur dan hati-hati, memakai
kaus kaki yang bersih dan mengganti setiap hari, kaus kaki terbuat dari bahan
wol atau katun. Jangan memakai bahan sintetis, karena bahan ini menyebabkan
kaki berkeringat dan memakai kaus kaki apabila kaki terasa dingin
2.6 Klasifikasi
Menurut Wagner (1983) membagi gangren
kaki diabetik menjadi enam tingkatan yaitu :
a. Derajat 0 :
Tidak ada lesi terbuka, kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai
kelainan bentuk kaki seperti “ claw,callus “.
b. Derajat I : Ulkus
superfisial terbatas pada kulit.
c. Derajat II :
Ulkus dalam menembus tendon dan tulang.
d. Derajat III :
Abses dalam, dengan atau tanpa osteomielitis.
e. Derajat IV :
Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis.
f.
Derajat V : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai.
Sedangkan Brand (1986) dan Ward (1987)
membagi gangren kaki menjadi dua golongan :
a.
Kaki Diabetik akibat Iskemia (KDI)
Disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat
adanya makroangiopati (arterosklerosis) dari pembuluh darah besar ditungkai,
terutama di daerah betis.Gambaran klinis KDI :Penderita mengeluh nyeri waktu
istirahat, pada perabaan terasa dingin, pulsasi pembuluh darah kurang kuat, dan
didapatkan ulkus sampai gangren.
b.
Kaki Diabetik akibat Neuropati (KDN)
Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik, tidak ada
gangguan dari sirkulasi. Klinis di jumpai kaki yang kering, hangat, kesemutan,
mati rasa, oedem kaki, dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik.
2.7 Manifestasi Klinik
Ulkus
Diabetikum akibat mikroangiopatik disebut juga ulkus panas walaupun nekrosis,
daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh peradangan dan biasanya
teraba pulsasi arteri dibagian distal . Proses mikroangipati menyebabkan
sumbatan pembuluh darah, sedangkan secara akut emboli memberikan gejala klinis
5 P yaitu:Pain (nyeri), Paleness (kepucatan), Paresthesia (kesemutan),
Pulselessness (denyut nadi hilang) dan Paralysis (lumpuh).Bila terjadi sumbatan
kronik, akan timbul gambaran klinis menurut pola dari Fontaine, 1992:
1.
Stadium I : asimptomatis atau gejala tidak khas
(kesemutan).
2.
Stadium II : terjadi klaudikasio (rasa sakit yang
disebabkan oleh aliran darah terlalu sedikit yang
bersifat intermiten).
3.
Stadium III : timbul nyeri saat istitrahat.
4.
Stadium IV : terjadinya kerusakan jaringan karena anoksia
(ulkus).
Smeltzer dan
Bare (2001: 1220). Sedangkan tanda dan gejala lainnya adalah
sebagai berikut:
1.
Sering kesemutan
2.
Nyeri kaki saat istirahat
3.
Sensasi rasa berkurang
4.
Kerusakan jaringan (nekrosis)
5.
Penurunan denyut nadi arteri dorsalis pedis
6.
Tibialis (neuralgia tibialis posterior) adalah nyeri di
pergelangan kaki dan jari kaki yang disebabkan oleh penekanan atau kerusakan
pada saraf yang menuju ke tumit dan telapak kaki.
7.
Aneurisma arteri poplitea adalah tonjolan abnormal yang
muncul pada dinding arteri pada daerah dibelakang sendi lutut yang dapat
menimbulkan masalah gumpalan darah dan menutup aliran darah sepenuhnya.
8.
Kaki menjadi atrofi
9.
Dingin dan kuku menebal
10. Kulit kering
2.8
Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan
fisik pada penderita dengan ulkus diabetes dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
a.
Pemeriksaan ulkus dan keadaan umum ekstremitas
Ulkus diabetes mempunyai kecenderungan terjadi pada
beberapa daerah yang menjadi tumpuan beban terbesar, seperti tumit, area kaput
metatarsal di telapak, ujung jari yang menonjol (pada jari pertama dan kedua).
Ulkus dapat timbul pada malleolus (mata kaki) karena pada daerah ini sering
mendapatkan trauma. Kelainan-kelainan lain yang ditemukan pada pemeriksaa
fisik: Callus hipertropik, Kuku yang rapuh/pecah , Hammer toes( deformitas kaki di mana tikungan kaki ke bawah pada
sendi tengah, menyebabkan ia menyerupai palu),Fissure.
b.
Penilaian kemungkinan isufisiensi vaskuler
Pemeriksaan fisik memperlihatkan hilangnya atau
menurunnya nadi perifer dibawah level tertentu. Penemuan lain yang berhubungan
dengan penyakit aterosklerosis meliputi adanya bunyi bising (bruit) pada arteri
iliaka dan femoralis, atrofi kulit, hilangnya rambut pada kaki, sianosis jari
kaki, ulserasi dan nekrosis iskemia, kedua kaki pucat pada saat kaki diangkat
setinggi jantung selama 1-2 menit. Pemeriksaan vaskuler noninvasif meliputi
pengukuran oksigen transkutan, anklebrachial index (ABI), tekanan sistolik jari
kaki. ABI merupakan pemeriksaan noninvasif yang dengan mudah dilakukan dengan
menggunakan alat Doppler. Cuff tekanan dipasang pada lengan atas dan dipompa
sampai nadi pada brachialis tidak dapat dideteksi Doppler. Cuff kemudian
dilepaskan perlahan sampai Doppler dapat mendeteksi kembali nadi brachialis.
Tindakan yang sama dilakukan pada tungkai, dimana cuff dipasang pada calf
distal dan Doppler dipasang pada arteri dorsalis pedis atau arteri tibialis
posterior. ABI didapatkan dari tekanan sistolik ankle dibagi tekanan sistolik
brachialis.Normalnya Pada keadaan normal, nilai ABI berkisar antara 0,9-1,30,
sedangkan nilai ABI < 0,9 dapat menegakkan diagnosis PAD (peripheral artery
disease).
c.
Kemungkinan neuropati perifer
Tanda neuropati perifer meliputi hilangnya sensasi rasa
getar dan posisi, hilangnya reflek tendon dalam, ulserasi tropik, foot drop(keterbatasan atau
ketidakmampuan untuk mengangkat bagian depan kaki yang mengacu kepada kelemahan
otot-otot yang memungkinkan seseorang untuk melenturkan pergelangan kaki dan
jari kaki), atrofi otot, dan pemembentukan calus hipertropik khususnya
pada daerah penekanan misalnya pada tumit. Status neurologis dapat diperiksa
dengan menggunakan monofilament Semmes-Weinsten (salah satu alat berbentuk
benang untuk mengukur ketajaman luka) untuk mengetahui apakah penderita masih
memiliki "sensasi protektif', Pemeriksaan menunjukkan hasil abnormal jika
penderita tidak dapat merasakan sentuhan monofilamen ketika ditekankan pada
kaki dengan tekanan yang cukup sampai monofilamen bengkok.
2) Pemeriksaan
laboratorium
a. Pemeriksaan
darah : lekositosis mungkin menandakan adanya abses atau infeksi lainnya pada
kaki. Penyembuhan luka dihambat oleh adanya anemia. Adanya insufisiensi
arterial yang telah ada, keadaan anemia menimbulkan nyeri saat istirahat.
b. Profil
metabolik : pengukuran kadar glukosa darah, glikohemoglobin dan kreatinin serum
membantu untuk menentukan kecukupan regulasi glukosa dan fungsi ginjal.
c. Pemeriksaan laboratorium
vaskuler noninvasif : Pulse Volume Recording (PVR) atau plethymosgrafi.
3) Pemeriksaan
Radiologis
a. Pemeriksaan
foto polos pada kaki diabetik dapat menunjukkan demineralisasi dan sendi
Charcot serta adanya osteomielitis.
b. Computed Tomographic
(CT) scan dan Magnetic Resonance Imanging (MRI): meskipun pemeriksa yang
berpengalaman dapat mendiagnosis abses dengan pemeriksaan fisik, CT scan atau
MRI dapat digunakan untuk membantu diagnosis abses apabila pada pemeriksaan
fisik tidak jelas.
c. Bone scaning
masih dipertanyakan kegunaannya karena besarnya hasil false positif dan false
negatif. Penelitian mutakhir menyebutkan 99mTc-IabeIed ciprofolxacin sebagai
penanda (marker) untuk osteomielitis.
d. Arteriografi
konvensional: apabila direncanakan pembedahan vaskuler atau endovaskuler,
arteriografi diperlukan untuk memperlihatkan luas dan makna penyakit
atherosklerosis. Resiko yang berkaitan dengan injeksi kontras pada angiografi
konvensional berhubungan dengan suntikan dan agen kontras.
2.9 Penatalaksanaan Medis
Tujuan utama pengelolaan Ulkus diabetikum (UKD),
yaitu untuk mengakses proses kearah penyem-buhan luka secepat mungkin karena
per-baikan dari ulkus kaki dapat menurunkan kemungkinan terjadinya amputasi dan
ke-matian pasien diabetes. Secara umum pe-ngelolaan UKD meliputi penanganan
iske-mia, debridemen, penanganan luka, menu-runkan tekanan plantar pedis
(off-loading), penanganan bedah, penanganan komorbidi-tas dan menurunkan risiko
kekambuhan serta pengelolaan infeksi
1.
Penanganan Iskemia
Perfusi arteri merupakan hal penting dalam proses
penyembuhan dan harus dini-lai awal pada pasien UKD. Penilaian kom-petensi
vaskular pedis pada UKD seringkali memerlukan bantuan pemeriksaan penun-jang
seperti MRI angiogram, doppler mau-pun angiografi. Pemeriksaan sederhana
se-perti perabaan pulsasi arteri poplitea, tibialis posterior dan dorsalis
pedis dapat dilakukan pada kasus UKD kecil yang ti-dak disertai edema ataupun
selulitis yang luas. Ulkus atau gangren kaki tidak akan sembuh bahkan dapat menyerang
tempat lain di kemudian hari bila penyempitan pembuluh darah kaki tidak diatasi.
Bila pemeriksaan kompetensi vaskular menunjukkan adanya
penyumbatan, bedah vaskular rekonstruktif dapat meningkat-kan prognosis dan
selayaknya diperlukan sebelum dilakukan debridemen luas atau amputasi parsial.
Beberapa tindakan bedah vaskular yang dapat dilakukan antara lain angioplasti
transluminal perkutaneus (ATP), tromboarterektomi dan bedah pintas terbuka (by
pass). Berdasarkan peneliti-an, revaskularisasi agresif pada tungkai yang
mengalami iskemia dapat menghin-darkan amputasi dalam periode tiga tahun
sebesar 98%. Bedah bypass dilaporkan e-fektif untuk jangka
panjang. Kesintas-an (survival rate) dari ekstremitas bawah dalam 10
tahun pada mereka yang mema-kai prosedur bedah bypass lebih
dari 90%. Penggunaan antiplatelet ditujukan terhadap keadaan
insufisiensi arteri perifer untuk memperlambat progresifitas sumbat-an dan
kebutuhan rekonstruksi pembuluh darah.
2.
Debridemen
Debridemen merupakan upaya untuk membersihkan semua
jaringan nekrotik, karena luka tidak akan sembuh bila masih terdapat
jaringan nonviable, debris dan fis-tula. Tindakan debridemen juga
dapat menghilangkan koloni bakteri pada lu-ka. Saat ini terdapat beberapa jenis
de-bridemen yaitu autolitik, enzimatik, meka-nik, biologik dan tajam.
Debridemen dilakukan terhadap semua jaringan lunak dan
tulang yang nonviable. Tujuan debridemen yaitu untuk
mengeva-kuasi jaringan yang terkontaminasi bakteri, mengangkat jaringan
nekrotik sehingga da-pat mempercepat penyembuhan, menghi-langkan jaringan kalus
serta mengurangi risiko infeksi lokal.16 Debridemen yang teratur dan dilakukan
secara terjadwal akan memelihara ulkus tetap bersih dan merang-sang
terbentuknya jaringan granulasi sehat sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan
ulkus.
3.
Perawatan luka
Prinsip perawatan luka yaitu mencipta-kan
lingkungan moist wound healing atau menjaga agar luka
senantiasa dalam keada-an lembab. Bila ulkus memroduksi se-kret banyak maka
untuk pembalut (dress-ing) digunakan yang bersifat absorben. Se-baliknya
bila ulkus kering maka digunakan pembalut yang mampu melembabkan ul-kus. Bila
ulkus cukup lembab, maka dipilih pembalut ulkus yang dapat mempertahan-kan
kelembaban.
Disamping bertujuan untuk menjaga kelembaban, penggunaan
pembalut juga se-layaknya mempertimbangkan ukuran, ke-dalaman dan lokasi
ulkus.Untuk pemba-lut ulkus dapat digunakan pembalut kon-vensional yaitu kasa
steril yang dilembab-kan dengan NaCl 0,9% maupun pembalut modern yang tersedia
saat ini. Beberapa jenis pembalut modern yang sering dipakai dalam
perawatan luka, seperti: hydrocol-loid, hydrogel, calcium alginate,
foam dan sebagainya. Pemilihan pembalut yang akan digunakan hendaknya
senantiasa memper-timbangkan cost effective dan kemampuan ekonomi
pasien
4.
Menurunkan tekanan pada plantar pedis (off-loading)
Tindakan off-loading merupakan salah
satu prinsip utama dalam penatalaksanaan ulkus kronik dengan dasar neuropati.
Tin-dakan ini bertujuan untuk mengurangi te-kanan pada telapak kaki. Tindakan off-loading dapat
dilakukan secara parsial maupun total. Mengurangi tekanan pada ul-kus neuropati
dapat mengurangi trauma dan mempercepat proses penyembuhan lu-ka. Kaki yang
mengalami ulkus harus sedapat mungkin dibebaskan dari penekan-an. Sepatu pasien
harus dimodifikasi sesuai dengan bentuk kaki dan lokasi ulkus.6 Metode yang
dipilih untuk off-loading ter-gantung dari karakteristik fisik
pasien, lokasi luka, derajat keparahan dan ketaatan pasien.10 Beberapa
metode off loading an-tara lain: total non-weight
bearing, total contact cast, foot cast dan boots,sepatu
yang dimodifikasi (half shoe, wedge shoe), serta alat penyanggah
tubuh seperti cruthes dan walker
5.
Penanganan bedah
Jenis tindakan bedah tergantung dari berat ringannya UKD.
Tindakan elektif di-tujukan untuk menghilangkan nyeri akibat deformitas seperti
pada kelainan spur tu-lang, hammertoes atau bunions.
Tindakan bedah profilaktif diindikasikan untuk men-cegah terjadinya ulkus atau
ulkus berulang pada pasien yang mengalami neuropati de-ngan melakukan koreksi
deformitas sendi, tulang atau tendon. Bedah kuratif diindika-sikan bila ulkus
tidak sembuh dengan pera-watan konservatif, misalnya angioplasti atau bedah
vaskular. Osteomielitis kronis merupakan indikasi bedah kuratif.10 Bedah emergensi
adalah tindakan yang paling se-ring dilakukan, dan diindikasikan untuk
menghambat atau menghentikan proses infeksi, misalnya ulkus dengan daerah
infeksi yang luas atau adanya gangren gas. Tindak-an bedah emergensi dapat
berupa amputasi atau debridemen jaringan nekrotik.
6.
Penanganan komorbiditas
Diabetes merupakan penyakit sistemik multiorgan sehingga
komorbiditas lain ha-rus dinilai dan dikelola melalui pendekatan tim
multidisiplin untuk mendapatkan hasil yang optimal. Komplikasi kronik lain baik
mikro maupun makroangiopati yang menyertai harus diidentifikasi dan dikelola
secara holistik. Kepatuhan pasien juga merupakan hal yang penting dalam
menentukan hasil pengobatan.
7.
Mencegah kambuhnya ulkus
Pencegahan dianggap sebagai elemen kunci dalam menghindari
amputasi kaki. Pasien diajarkan untuk memperhatikan ke-bersihan kaki, memeriksa
kaki setiap hari, menggunakan alas kaki yang tepat, meng-obati segera jika
terdapat luka, pemeriksaan rutin ke podiatri, termasuk debridemen pada kapalan
dan kuku kaki yang tumbuh ke dalam. Sepatu dengan sol yang mengu-rangi tekanan
kaki dan kotak yang melin-dungi kaki berisiko tinggi merupakan ele-men penting
dari program pencegahan.
8.
Pengelolaan infeksi
Infeksi pada UKD merupakan faktor pemberat yang turut
menentukan derajat agresifitas tindakan yang diperlukan dalam pengelolaan UKD.
Dilain pihak infeksi pa-da UKD mempunyai permasalahan sendiri dengan adanya
berbagai risiko seperti sta-tus lokalis maupun sistemik yang imuno-compromised pada
pasien DM, resistensi mikroba terhadap antibiotik, dan jenis mi-kroba yang
adakalanya memerlukan anti-biotik spesifik yang mahal dan berkepan-jangan.
Dasar utama pemilihan antibiotik dalam penatalaksanaa UKD yaitu berdasar-kan
hasil kultur sekret dan sensitivitas sel.
infeksi yang tidak meng-ancam tungkai biasanya terlihat
sebagai ul-serasi yang dangkal, tanpa iskemia yang nyata, tidak mengenai tulang
atau sendi, dan area selulitis tidak lebih dari 2 cm dari pusat ulkus. Pasien
tampak stabil serta ti-dak memperlihatkan tanda dan gejala infek-si sistemik.
Pengelolaan pasien dilakukan sebagai pasien rawat jalan. Perawatan di rumah
sakit hanya bila tidak ada perbaikan setelah 48-72 jam atau kondisi membu-ruk.6
Antibiotik langsung diberikan diser-tai pembersihan dan debridemen ulkus.
Penanganan ulkus ini selanjutnya seperti yang diuraikan sebelumnya, koreksi
hiperglikemia dan kontrol komorbid lainnya. Respon terhadap pengobatan
dievaluasi setelah 48-72 jam untuk menilai tindakan yang mung-kin perlu
dilakukan.6,10,12 Aspek pencegahan, pendidikan pasien, perawatan dan
pena-nganan ortotik juga dilakukan secara terpadu.
Infeksi disebut mengancam bila UKD berupa ulkus yang
dalam sampai mengenai tulang dengan selulitis yang lebih dari 2 cm dan/atau
disertai gambaran klinis infeksi sistemik berupa demam, edema, limfangi-tis,
hiperglikemia, leukositosis dan iskemia. Perlu diperhatikan, tidak semua pasien
diabetes dengan infeksi yang relatif berat akan menunjukkan tanda dan gejala
sistemik se-perti tersebut diatas. Jika ulkus mencapai tulang atau sendi,
kemungkinan besar akan terjadi osteomielitis.Pasien dengan infeksi yang
mengan-cam ekstremitas harus dirawat di rumah sakit untuk manajemen yang tepat.
Debride-men dilakukan sejak awal dengan tetap memperhitungkan ada/tidaknya
kompetensi vaskular tungkai. Jaringan yang diambil dari luka dikirim untuk
kultur. Tindakan ini mungkin perlu dilakukan berulang untuk mengendalikan
infeksi.23 Terapi empiris untuk infeksi berat harus berspektrum luas dan
diberikan secara intravena dengan mempertimbangkan faktor lain seperti biaya,
toleransi pasien, alergi, potensi efek yang merugikan ginjal atau hati,
kemudah-an pemberian dan pola resistensi antibiotik setempat.5,18 Infeksi
kronik dan berat yang mengancam tungkai umumnya disebabkan oleh infeksi
polimikroba yang mencakup organisme aerob gram positif dan negatif serta
anaerob.
Lamanya pemberian antibiotik tergan-tung pada gejala
klinis, luas dan dalamnya jaringan yang terkena serta beratnya infek-si. Pada
infeksi ringan sampai sedang antibiotik dapat diberikan 1-2 minggu, sedangkan
pada infeksi yang lebih berat anti-biotik diberikan 2-4 minggu. Debridemen yang
adekuat, reseksi atau amputasi jaring-an nekrosis dapat mempersingkat waktu
pemberian antibiotik. Pada kasus osteomielitis, jika tulang terinfeksi tidak
dievakuasi, maka antibiotik harus diberikan selama 6-8 minggu, bahkan beberapa
literatur menganjurkan sampai 6 bulan. Jika semua tulang yang terinfeksi
dievakuasi, antibiotik dapat diberikan lebih singkat, yaitu 1-2 minggu dan
ditujukan untuk infeksi jaringan lunak. Efektivitas terapi dievaluasi
dengan beberapa parameter, antara lain respon klinis pasien, suhu,
leukosit dan hitung jenis, laju endap darah dan penanda inflamasi lainnya,
kontrol gula darah dan para-meter metabolik, serta tanda-tanda penyembuhan luka
dan peradangan.
2.10 Proses Penyembuhan
Proses penyembuhan luka.Luka akan
sembuh sesuai tahapan spesifik yang dapat terjadi tumapang tindih.Fase
penyembuhan luka dibagi menjadi tiga fase yaitu :
a.
Fase inflamasi
Fase inflamasi penyembuhan luka dimulai segera setelah
terjadi kerusakan jaringan dan fase awal hemostatis.
a)
Hari ke 0 sampai 5
b)
Respons segera setelah terjadi injuri berupa pembekuan
darah untukmencegah kehilangan darah
c)
Karateristik : tumor, rubor, dolor,color, functio laesa
d)
Fase awal terjadi hemostatis
e)
Fase akhir terjadi fagositosis
f)
Lama fase ini bisa singkat jika tidak terjadi infeksi
b.
Fase proliferasi atau epitelisasi
Fase proliferasi penyembuhan luka pada hari ke4 sampai 21
setelah terjadi kerusakan jaringan/luka. Selama fase ini, jaringan granulasi
menutup permukaan luka dan keratosit bermigrasi untuk membantu penutupan luka
dengan jaringan epitel baru
a)
Hari ke 3 sampai 14
b)
Disebut juga fase granulasi karena adanya pembentukan
jaringan granulasi, luka tampak merah segar, mengkilat
c)
Jaringan granulasi terdiri dari kombinasi : fibroblas,
sel inflamasi, pembuluh darah baru, fibronektin dan asam hialuronat
d)
Epitelisasi terjadi pada 24 jam pertama ditandai dengan
penebalan lapisan epidermis pada tepian luka
e)
Epitelisasi terjadi pada 48 jam pertama pada luka insisi
c.
Fase maturasi atau remodelling
Fase remodelling penyembuhan luka pada
hari ke 21 sampai 1 tahun setelah terjadi kerusakan jaringan/luka. Fase ini
merupakan fase terlama penyembuhan luka, dimana fibrolas dan jaringan kolagen
akan memperkuat penyembuhan luka.
a)
Berlangsung dari beberapa minggu sampai 2 tahun
b)
Terbentuk kolagen baru yang mengubah bentuk luka serta
peningkatan kekuatan jaringan (tensile strength)
c)
Terbentuk jaringan parut (scar tissue) 50-80% sama
kuatnya dengan jaringan sebelumnya
d)
Pengurangan bertahap aktivitas seluler dan vaskulerisasi
jaringan yang mengalami perbaikan
2.12 Komplikasi
Penelitian Hariani (2006)
didapatkan ulkus diabetik memungkinkan masuknya bakteri serta
menimbulkan infeksi luka, apabila ulkus diabetik yang tidak terawat
dan tertangani dengan baik akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut pada
penderitaulkus diabetik, diantaranya amputasi anggota gerak, terjadi infeksi
tulang dan sepsis. Melihat data yang dijumpai pada hasil penelitian maka resiko
pasien yang mengalami ulkus diabetik semakin besar dengan kondisi pasien.
Kondisi banyaknya pasien yang mengalami ulkus diabetik perlu mendapatkan
perhatian perawat agar tidak terjadi komplikasi
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ulkus Diabetikum
merupakan merupakan komplikasi kronik dari Diabetes Melllitus sebagai
sebab utama morbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita
Diabetes. Ulkus Diabetikum disebabkan oleh banyak faktor, termasuk
deformitas, neuropati sensori, kondisi kulit yang tidak sehat dan infeksi. Ulkus
Diabetikum diawali
dengan infeksi superficial pada kulit penderita. Kadar glukosa darah yang
tinggi menjadi tempat strategis perkembangan bakteri. Adanya kuman
saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau. Faktor utama yang berperan
pada timbulnnya ulkus diabetikum adalah angiopati, neuropati dan infeksi. Wagner (1983)
membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan.
Tujuan utama pengelolaan Ulkus diabetikum (UKD),
yaitu untuk mengakses proses kearah penyem-buhan luka secepat mungkin karena
per-baikan dari ulkus kaki dapat menurunkan kemungkinan terjadinya amputasi dan
ke-matian pasien diabetes. Secara umum pe-ngelolaan UKD meliputi penanganan
iske-mia, debridemen, penanganan luka, menu-runkan tekanan plantar pedis (off-loading),
penanganan bedah, penanganan komorbidi-tas dan menurunkan risiko kekambuhan
serta pengelolaan infeksi. Fase penyembuhan luka ulkus dibagi menjadi
tiga fase yaitu:;
Fase inflamasi, fase proliferasi, serta fase maturasi (remodeling.)
3.2 Saran
Penderita DM memiliki lebih banyak faktor resiko untuk
mempercepat meluasnya luka dan lamanya penyambuhan luka. Oleh karena itu
penanganan ulkus pada klien diabetes harus dilakukan secara cepat dan tepat,
untuk mengurangi angkamorbiditas, mortalitas serta kecacatan penderita Diabetes. Klien DM juga harus meperhatikan
dalam hal nutrisi, latihan fisik yang tepat, serta alas kaki yang baik untuk
mencegah terjadinya luka. Jika pada penderita DM terdapat luka kecil di kaki
segera bawa ke pelayanan kesehatan untuk mencegah meluasnya luka.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddarth. (2002). Buku ajar
Keperawatan Medikal Bedah edisi 8. Jakarta:
EGC
Joyce
dan Jane. (2014). Keperawatan Medikal Bedah edisi 8Buku 2.Elsevier
Evelyn C. Pearce (2003). Anatomi Fisiologi; untuk
paramedis , Jakarta: PT Gramedia
Syaifuddin (2005). Anatomi Fisiologi; untuk mahasiswa
keperawatan (edisi 3), Jakarta:
EGC
Jurnal
PENATALAKSANAAN ULKUS KAKI DIABETES SECARA TERPADU.
http://dianhidayatiutami.blogspot.co.id/2017/05/asuhan-keperawatan-klien-dengan-ulkus.html
Komentar
Posting Komentar