MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II KEPERAWATAN PERIOPERATIF
MAKALAH KEPERAWATAN
MEDIKAL BEDAH II
KEPERAWATAN PERIOPERATIF

DOSEN :
Ns.MUSIANA S.Kep,
M.Kes
ADELLIA
(1714401005)
ALMA ANDAMI (1714401018)
JAINURI ULAN
SARI (1714401022)
OLA VANIA
AUORORA (1714401023)
UMAYA BUANA
PUTRI (1714401031)
SIRLIA SALSABILA BREN (1714401036)
DEBBY CHYNTIA
DEWI (1714401037)
M. ARIFUDIN
(1714401044)
DIAN THALITA
SARI (1714401050)
TINGKAT 2 REGULER 1
POLITEKNIK KESEHATAN
TANJUNG KARANG
D-3 KPERAWATAN TANJUNG
KARANG
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
warahmatullahi wabarakatuh
Segala
puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya
kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat
serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi
Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis
mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas akhir dari mata kuliah
Keperawatan Medikal Bedah II dengan judul “Keperawatan Perioperatif”.
Penulis
tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih
banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah
ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila
terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya.
Demikian,
semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Bandar
Lampung, 14 Maret 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
JUDUL............................................................................................................................... 1
KATA
PENGANTAR...................................................................................................... 2
DAFTAR
ISI..................................................................................................................... 3
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................................. 4
1.1
LATAR
BELAKANG................................................................................................ 4
1.2
RUMUSAN
MASALAH............................................................................................ 4
1.3
TUJUAN
MAKALAH............................................................................................... 5
BAB
II PEMBAHASAN ................................................................................................. 6
2.1
PENGERTIAN........................................................................................................... 6
2.2
TAHAP DALAM KEPERAWATAN PERIOPERATIF........................................ 6
2.3
PEMBEDAHAN : INDIKASI DAN KLASIFIKASI............................................. 11
2.4
AKTIVITAS KEPERAWATAN DALAM PERAN PERAWAT
PERIOPERATIF PENGKAJIAN........................................................................... 13
BAB
III PENUTUP
3.1
KESIMPULAN.......................................................................................................... 15
3.2
SARAN....................................................................................................................... 15
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pembedahan pasien. Istilah perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pembedahan, yaitu preoperative phase, intraoperative phase dan post operative phase. Masing- masing fase dimulai pada waktu tertentu dan berakhir pada waktu tertentu pula dengan urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah dan masing-masing mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yang dilakukan oleh perawat dengan menggunakan proses keperawatan dan standar praktik keperawatan. Disamping perawat kegiatan perioperatif ini juga memerlukan dukungan dari tim kesehatan lain yang berkompeten dalam perawatan pasien sehingga kepuasan pasien dapat tercapai sebagai suatu bentuk pelayanan prima.
Keperawatan preoperatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif.Sedangkan tindakan keperawatan preoperatif merupakan tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam rangka mempersiapkan pasien untuk dilakukan tindakan pembedahan dengan tujuan untuk menjamin keselamatan pasien intraoperatif.Persiapan fisik maupun pemeriksaan penunjang serta persiapan mental sangat diperlukan karena kesuksesan suatu tindakan pembedahan klien berawal dari kesuksesan persiapan yang dilakukan selama tahap persiapan. Kesalahan yang dilakukan pada saat tindakan preoperatif apapun bentuknya dapat berdampak pada tahap-tahap selanjutnya, untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antara masingmasing komponen yang berkompeten untuk menghasilkan outcome yang optimal, yaitu kesembuhan pasien secara paripurna
Peran perawat dalam fase preoperasi untuk mempersiapkan aspek fisik dan psikologis pasien tidak harus dilakukan dalam waktu yang terpisah.Menurut Supartini (2003) aspek fisik dan psikologis seorang pasien bisa diintervensi dalam waktu yang bersamaan oleh seorang perawat.Berdasarkan hasil penelitian Agung (2003) didapatkan 53% perawat sering melakukan pengkajian status psikologis pasien bersamaan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital pasien dengan komunikasi terapeutik. Menurut Kamarullah (2005) keberhasilan setiap fase dalam keperawatan perioperatif akan dicapai ketika aspek fisik dan psikologis pasien dipersiapkan dengan maksimal sesuai standar yang ada.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun
rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud Keperawatan Perioperatif ?
2. Apa saja Fase fase Keperawatan Perioperatif ?
1. Apa yang dimaksud Keperawatan Perioperatif ?
2. Apa saja Fase fase Keperawatan Perioperatif ?
3. Apa saja Peran dan Tugas Perawat pada
setiap Fase Keperawatan Perioperatif (pre, intra dan post) ?
1.3 TUJUAN MAKALAH
Adapun tujuan makalah ini adalah sebagai
berikut :
1. Dapat mengetahui mengenai keperawatan perioperative.
2. Dapat mengetahui dan memahami bagaimana fase fase keperawatan perioperative.
1. Dapat mengetahui mengenai keperawatan perioperative.
2. Dapat mengetahui dan memahami bagaimana fase fase keperawatan perioperative.
3. Dapat mengetahui peran dan tugas
perawat pada setiap fase keperawatan perioperative (pre, intra dan post).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang
digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan
dengan pengalaman pembedahan pasien. Istilah perioperatif adalah suatu istilah
gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan, yaitu :
·
Fase preoperatif,
·
Fase intraoperatif,
·
Fase pascaoperatif.
Masing-masing fase di mulai pada waktu tertentu dan
berakhir pada waktu tertentu pula dengan urutan peristiwa yang membentuk
pengalaman bedah dan masing-masing mencakup rentang perilaku dan aktivitas
keperawatan yang luas yan dilakukan oleh perawat dengan menggunakan proses
keperawatan dan standar praktik keperawatan. Disamping perawat kegiatan
perioperatif ini juga memerlukan dukungan dari tim kesehatan lain yang
berkompeten dalam perawatan pasien sehingga kepuasan pasien dapat tercapai
sebagai suatu bentuk pelayanan prima.
2.2 TAHAP DALAM
KEPERAWATAN PERIOPERATIF
1) Fase
Preoperatif
Fase preoperatif dimulai ketika ada keputusan untuk
dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika pasien dikirim ke meja operasi.
Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan
pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun rumah, wawancara pra operatif
dan menyiapkan pasien untuk anstesi yang diberikan dan pembedahan.
Pengkajian Keperawatan
Preoperatif:
a. Resiko
pembedahan
Umur, status nutrisi, status cairan dan elektrolit, kondisi
kesehatan umum, obat-obat yang digunakan dan kesehatan mental serta sikap
pasien terhadap penyakitnya.
b. Riwayat
keperawatan
Hal ini akan membantu perawat dalam merencanakan
asuhan keperawatan preoperative dan asuhan postoperative.
Riwayat keperawatan preoperatif meliputi :
o Kondisi
fisik (warna kulit, BB, status cairan dan tingkat energi)
o Sikap
mental (Kecemasan ringan merupakan respon normal terhadap pembedahan, akan
tetapi kecemasan berat dapat meningkatkan risiko pembedahan).
o Pemahaman
terhadap prosedur pembedahan (Pasien yang berpengetahuan luas, mengetahui apa
yang diharapkan secara umum dengan penanggulangannya lebih efektif dalam proses
pembedahan dan masa penyembuhan).
o Pengalaman
sebelumnya (mungkin berpengaruh terhadap respon fisik dan psikis dengan
pembedahan yang di rencanakan)
o Hasil
yang diharapkan (mungkin berpengaruh terhadap body image dan gaya hidup serta
tingkat kecemasan yang bervariasi)
o Pengobatan
(buat daftar obat yang digunakan terakhir, obat tertentu seperti anti konfulsan
dan insulin harus tetap diberikan walau operasi sedang berjalan untuk mencegah
akibat yang merugikan).
o Kebiasaan
merokok (Jaringan paru perokok mengalami iritasi kronik, general anasthesi
menyebabkan akan menambah iritasi lebih banyak lagi).
o Kebiasaan
mengkonsumsi alkohol (penguna alkohol berat, terus menerus dapat menyebabkan
masalah selama anesthesia, pembedaan dan pemulihan).
o Sumber
koping, penggunaan mekanisme koping efektif sebelumnya atau mengembangkan strategi
baru (seperti divisional aktifitas sebagai contoh membaca dan relaksasi) dapat
menolong.
o Konsep
diri, latar belakang konsep diri pasien yang positif dalam pengalaman
pembedahan dengan kepercayaan bahwa mereka dapat menanganinya dengan sukses.
o Bodi
image, kemungkinan mengalami kerusakan atau perubahan dalam identitas fisik
menjadi perhatian sebelum pembedahan. (Pemberian informasi yang akurat dapat
menghilangkan rasa takut yang disebabkan konsep yang salah).
c. Pemeriksaan skrining
Dokter akan
meminta pemeriksaan radiologi dan laboratorium. Perawat bertanggung jawab
terhadap order tersebut dan mengecek apakah sudah dilakukan atau belum serta
menjamin bahwa hasil pemeriksaan sudah didapat sebelum dilaksanakan.
Pemeriksaan
skrining rutin yang biasa dilakukan:
·
Urinalisis, untuk mendeteksi adanya infeksi dan gula dalam
urine. Golongan darah dan cross matching, untuk mengenal golongan darah sebagai
persiapan tranfusi.
·
Serum elektrolit ( Na, K, Mg, Ca, H ), untuk menentukan
keseimbangan elektrolit.
Gula darah puasa, untuk medeteksi adanya glukosa dalam darah yang mengendikasikan adanya gangguan metabolisme seperti DM.
Gula darah puasa, untuk medeteksi adanya glukosa dalam darah yang mengendikasikan adanya gangguan metabolisme seperti DM.
·
Blood urea nitrogen (BUN ) atau Creatinin, untuk menganalisa
ekresi urin
Chest rontgenographi, untuk mengidentifikasi pathologi paru dan ukuran jantung serta lokasinya.
Chest rontgenographi, untuk mengidentifikasi pathologi paru dan ukuran jantung serta lokasinya.
·
Pemeriksaan ECG, diperlukan bagi pasien tua, dan pasien
dengan penyakit kardiovaskuler .
·
Pemeriksaan lain mungkin dilakukan berkenaan dengan kondisi
dan perkembangan penyakit pasien
Diagnosa Keperawatan Pasien Preoperatif
a. Takut
/ cemas berhubungan dengan : Pengaruh pembedahan terhadap kemampuan dalam
fungsi peran biasanya hasil dari pembedahan ekplorasi keganasaan, Resiko
kematian, Kehilangan kontrol selama anasthesi atau bangun selama anasthesi, Merasa
pemberian analgetik post operatif yang tidak adekuat, dan Bagaimana proses
pembedahan.
b. Kurangnya
pengetahuan berhubungan dengan : Preoperatif routine, dan Latihan postoperatif
serta aktivitas.
c. Gangguan
pola tidur berhubungan dengan : Rutinitas kegiatan RS, Stress psikologik .
d. Kesedihan
dengan terlebih dahulu berhubungan dengan merasa kehilangan bagian dari tubuh
dihubungkan dengan pembedahan yang direncanakan.
e. Tidak
efektifnya koping individu berhubungan dengan konflik tata nilai (antara butuh
transfusi dengan nilai keyakinan agama), Tidak jelasnya hasil pembedahan yang
diharapkan, dan Pengalaman negatif mengenai pembedahan yang belum terselesaikan
.
2) Fase
Intraoperatif
Fase intraoperatif dimulai ketika pasien masuk atau
dipindah ke instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang
pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup pemasangan IV
cath, pemberian medikasi intaravena, melakukan pemantauan kondisi fisiologis
menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Contoh
: memberikan dukungan psikologis selama induksi anstesi, bertindak sebagai
perawat scrub, atau membantu mengatur posisi pasien di atas meja operasi dengan
menggunakan prinsip-prinsip dasar kesimetrisan tubuh.
Perawat yang bekerja di kamar bedah harus telah
mengambil program
proregristation education courses in anasthetic and operating theater nursing. Dalam pembedahan perawat disebut scrubbed nurse yang bertindak sebagai asisten ahli bedah. Perawat bertanggung jawab akan pemeliharaan sterilitas daerah pembedahan dan instrument dan menjamin ketersediaan peralatan ahli bedah untuk terlaksananya pembedahan yang direncanakan. Circulating nurse bertanggung jawab untuk menjamin terpenuhinya perlengkapan yang dibutuhkan oleh scrubbed nurse dan bertanggung jawab terhadap observasi dan perawatan pasien tanpa menimbulkan kontaminasi daerah steril.
proregristation education courses in anasthetic and operating theater nursing. Dalam pembedahan perawat disebut scrubbed nurse yang bertindak sebagai asisten ahli bedah. Perawat bertanggung jawab akan pemeliharaan sterilitas daerah pembedahan dan instrument dan menjamin ketersediaan peralatan ahli bedah untuk terlaksananya pembedahan yang direncanakan. Circulating nurse bertanggung jawab untuk menjamin terpenuhinya perlengkapan yang dibutuhkan oleh scrubbed nurse dan bertanggung jawab terhadap observasi dan perawatan pasien tanpa menimbulkan kontaminasi daerah steril.
Diagnosa
Keperawatan Intraoperatif:
1. Resiko
tinggi tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan efek anasthesi.
2. Resiko
defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan dan pembatasan intake
cairan
3. Resiko
tinggi infeksi berhubungan denga proses penyakitnya.
4. Resiko
cidera berhubungan dengan: posisi pasien yang tidak tepat selama pembedahan dan
benda asing yang tertinggal
Tindakan Keperawatan Intraoperatif:
ü Ukur
tanda – tanda vital
ü Cek
data fisik termasuk penyakit pernafaan.
ü Observasi
pemakaian intubasi
ü Monitor
kelancaran jalan nafas.
ü Pertahankan
keseimbangan cairan.
ü Kaji
tanda – tanda syok secara dini.
ü Kolaborasi
dengan operator persiapan darah jumlah? Jenis?
ü Bersihkan
daerah yang akan dioprasi dengan hibiscrub, nacl, alkohol.
ü Cek
kadaluarsa alat yang dipakai
ü Pertahankan
sterilitas selama operasi.
ü Cuci
tangan secara steril
ü Tutup
luka operasi dengan kassa steril.
ü Pastikan
posisi pasien sesuai
ü Cek
daerah penekanan selama operasi
ü Pasang
sabuk atau tali pengaman.
ü Hitung
jumlah kassa, jarum, bisturi, depper, sebelum dan sesudah operasi.
3) Fase
Pascaoperatif
Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien ke
ruang pemulihan (recovery room) dan
berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah.
Lingkup aktivitas keperawatan mecakup rentang aktivitas yang luas selama
periode ini. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen anestesi dan
memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian
berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan,
perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan dan
rehabilitasi serta pemulangan.
Pengkajian postoperatif:
o Fungsi
pernafasan
o Fungsi
cardiovaskuler
o Keseimbangan
cairan dan elektrolit
o Dressing,
tubes dan drains
o Neurologik
status
o Pain
o Safety
Diagnosa
Keperawatan Postoperatif
o
Resiko tinggi tidak
efektif jalan nafas b.d penumpukan secret
o
Resiko gangguan
keseimbangan cairan dan elektrolit b.d output
berlebihan dan Pembatasan intake output
o
Hipotensi b.d Lingkungan
OK dan Efek anasthesi
o
Resiko cedera b.d pasien
belum sadar penuh
o
Gangguan rasa nyaman
nyeri b.d adanya luka operasi.
Tindakan Keperawatan postoperative
Ø Monitor
TTV tiap 5 menit
Ø Monitor
kelancaran pernafasan pasien
Ø Berikan
posisi nyaman bagi pasien
Ø Pasang
guedel / mayo sesuai indikasi
Ø Kolaborasi
pemberian O2 …… lt / mnt
Ø Monitor
tanda dehidrasi
Ø Ukur
intake output
Ø Kaji
tanda-tanda syok
Ø Kolaborasi
pemberian cairan IV
Ø Beri
selimut tebal
Ø Pasang
pemanas
Ø Pasang
pagar pengaman tempat tidur
Ø Tidak
meninggalkan pasien sewaktu gelisah
Ø Anjurkan
pasien untuk tarik nafas dalam
Ø Kaji
lokasi dan intensitas nyeri
2.3 PEMBEDAHAN : INDIKASI
DAN KLASIFIKASI
Tindakan pembedahan dilakukan dengan berbagai
indikasi, diantaranya adalah :
a. Diagnostik
: biopsi atau laparotomi eksplorasi
b. Kuratif
: Eksisi tumor atau mengangakat apendiks yang mengalami inflamasi
c. Reparatif
: Memperbaiki luka multiple
d. Rekonstruktif/Kosmetik
: mammoplasty, atau bedah platik
e. Palliatif
: seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah, contoh : pemasangan
selang gastrostomi yang dipasang untuk mengkomponsasi terhadap ketidakmampuan
menelan makanan.
Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan, maka
tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan menjadi 5 tingkatan, yaitu :
a.
Kedaruratan/Emergency
Pasien membutuhkan perhatian segera, gangguan mungkin mengancam jiwa. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa di tunda. Contoh : perdarahan hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar sanagat luas.
Pasien membutuhkan perhatian segera, gangguan mungkin mengancam jiwa. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa di tunda. Contoh : perdarahan hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar sanagat luas.
b.
Urgen
Pasien membutuhkan perhatian segera. Pembedahan dapat dilakukan dalam 24-30 jam. Contoh : infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu pada uretra.
Pasien membutuhkan perhatian segera. Pembedahan dapat dilakukan dalam 24-30 jam. Contoh : infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu pada uretra.
c.
Diperlukan
Pasien harus menjalani pembedahan. Pembedahan dapat direncanakan dalam bebeapa minggu atau bulan. Contoh : Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih. Gangguan tyroid, katarak.
Pasien harus menjalani pembedahan. Pembedahan dapat direncanakan dalam bebeapa minggu atau bulan. Contoh : Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih. Gangguan tyroid, katarak.
d.
Elektif
Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi pembedahan, bila tidak dilakukan pembedahan maka idak terlalu membahayakan. Contoh : perbaikan Scar, hernia sederhana, perbaikan vaginal.
Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi pembedahan, bila tidak dilakukan pembedahan maka idak terlalu membahayakan. Contoh : perbaikan Scar, hernia sederhana, perbaikan vaginal.
e.
Pilihan
Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan sepenuhnya pada pasien. Indikasi pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan estetika. Contoh : bedah kosmetik.
Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan sepenuhnya pada pasien. Indikasi pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan estetika. Contoh : bedah kosmetik.
Sedangkan menurut faktor resikonya, tindakan pembedahan dibagi menjadi:
a.
Minor
Menimbulkan trauma fisik yang
minimal dengan resiko kerusakan yang minim.
Contoh : incisi dan drainage kandung
kemih, sirkumsisi.
b
Mayor
Menimbulkan trauma fisik yang luas,
resiko kematian sangat serius.
Contoh : Total abdominal
histerektomi, reseksi colon, dan lain-lain.
2.4 AKTIVITAS KEPERAWATAN
DALAM PERAN PERAWAT PERIOPERATIF
PENGKAJIAN
PENGKAJIAN
Rumah/Klinik:
1) Melakukan pengkajian perioperatif awal
1) Melakukan pengkajian perioperatif awal
2) Merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan
kebutuhan pasien
3) Melibatkan keluarga dalam wawancara.
4) Memastikan kelengkapan pemeriksaan pra operatif
5) Mengkaji kebutuhan klien terhadap transportasi dan
perawatan pasca operatif
Unit Bedah :
1) Melengkapi pengkajian praoperatif
2) Koordianasi penyuluhan terhadap pasien dengan staf
keperawatan lain.
3) Menjelaskan fase-fase dalam periode perioperatif
dan hal-hal yang diperkirakan terjadi.
4) Membuat rencana asuhan keperawatan
Ruang operasi :
1) Mengkaji tingkat kesadaran klien.
2) Menelaah ulang lembar observasi pasien (rekam
medis)
3) Mengidentifikasi pasien
4) Memastikan daerah pembedahan
Perencanaan :
1) Menentukan rencana asuhan
2) Mengkoordinasi pelayanan dan sumber-sumber yang
sesuai (contoh: Tim Operasi).
Dukungan Psikologis :
1) Memberitahukan pada klien apa yang terjadi
2) Menentukan status psikologis
3) Memberikan isyarat sebelumnya tentang rangsangan
yang merugikan, seperti : nyeri.
4) Mengkomunikasikan status emosional pasien pada
anggota tim kesehatan yang lain yang berkaitan.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Perawatan pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan perioperatif yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan.
Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah dan berakhir bila pasien di transfer ke wilayah ruang pemulihan.
Perawatan post operasi merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre dan intra operatif yang dimulai saat klien diterima di ruang pemulihan /pasca anaestesi dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya.
3.2. SARAN
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Namun untuk meningkatkan pemahaman tentang tindakan kolaboratif persiapan operasi, maka penulis berkeinginan menyumbangkan beberapa pemikiran yang dituangkan dalam bentuk saran sebagai berikut :
a. Bagi pembaca
Bisa menambah pengetahuan tentang tindakan kolaboratif persiapan sebelum dan sesudah operasi. Sehingga, dapat dijadikan sebagai penambahan ilmu dalam bidang keperawatan
b. Bagi Pendidikan
Untuk meningkatkan dan memperlancar dalam proses pembuatan makalah, hendaknya pihak pendidikan menambah literature-literatur di perpustakaan khususnya tindakan kolaboratif persiapan sebelum dan sesudah operasi.
DAFTAR PUSTAKA
Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit.
Jakarta.
http://makalah-kesehatan-online.blogspot.com/2009/01/konsep-dasar-keperawatan-perioperatif.html, di akses 13 Maret 2019
Komentar
Posting Komentar