MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II KEPERAWATAN PERIOPERATIF


MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II
KEPERAWATAN PERIOPERATIF


DOSEN :
Ns.MUSIANA S.Kep, M.Kes

ADELLIA (1714401005)
ALMA ANDAMI (1714401018)
JAINURI ULAN SARI (1714401022)
OLA VANIA AUORORA (1714401023)
UMAYA BUANA PUTRI (1714401031)
SIRLIA SALSABILA BREN (1714401036)
DEBBY CHYNTIA DEWI (1714401037)
M. ARIFUDIN (1714401044)
DIAN THALITA SARI (1714401050)
TINGKAT 2 REGULER 1

POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
D-3 KPERAWATAN TANJUNG KARANG
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu berupa sehar fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas akhir dari mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II dengan judul “Keperawatan Perioperatif”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Demikian, dan apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Bandar Lampung, 14 Maret 2019


Penyusun









DAFTAR ISI

JUDUL............................................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR...................................................................................................... 2
DAFTAR ISI..................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 4
1.1  LATAR BELAKANG................................................................................................ 4
1.2  RUMUSAN MASALAH............................................................................................ 4
1.3  TUJUAN MAKALAH............................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 6
2.1 PENGERTIAN........................................................................................................... 6
2.2 TAHAP DALAM KEPERAWATAN PERIOPERATIF........................................ 6
2.3 PEMBEDAHAN : INDIKASI DAN KLASIFIKASI............................................. 11
2.4 AKTIVITAS KEPERAWATAN DALAM PERAN PERAWAT
      PERIOPERATIF PENGKAJIAN........................................................................... 13

BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN.......................................................................................................... 15
3.2 SARAN....................................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA







BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pembedahan pasien. Istilah perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pembedahan, yaitu preoperative phase, intraoperative phase dan post operative phase. Masing- masing fase dimulai pada waktu tertentu dan berakhir pada waktu tertentu pula dengan urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah dan masing-masing mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yang dilakukan oleh perawat dengan menggunakan proses keperawatan dan standar praktik keperawatan. Disamping perawat kegiatan perioperatif ini juga memerlukan dukungan dari tim kesehatan lain yang berkompeten dalam perawatan pasien sehingga kepuasan pasien dapat tercapai sebagai suatu bentuk pelayanan prima.
Keperawatan preoperatif merupakan tahapan awal dari keperawatan perioperatif.Sedangkan tindakan keperawatan preoperatif merupakan tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam rangka mempersiapkan pasien untuk dilakukan tindakan pembedahan dengan tujuan untuk menjamin keselamatan pasien intraoperatif.Persiapan fisik maupun pemeriksaan penunjang serta persiapan mental sangat diperlukan karena kesuksesan suatu tindakan pembedahan klien berawal dari kesuksesan persiapan yang dilakukan selama tahap persiapan. Kesalahan yang dilakukan pada saat tindakan preoperatif apapun bentuknya dapat berdampak pada tahap-tahap selanjutnya, untuk itu diperlukan kerjasama yang baik antara masingmasing komponen yang berkompeten untuk menghasilkan outcome yang optimal, yaitu kesembuhan pasien secara paripurna
Peran perawat dalam fase preoperasi untuk mempersiapkan aspek fisik dan psikologis pasien tidak harus dilakukan dalam waktu yang terpisah.Menurut Supartini (2003) aspek fisik dan psikologis seorang pasien bisa diintervensi dalam waktu yang bersamaan oleh seorang perawat.Berdasarkan hasil penelitian Agung (2003) didapatkan 53% perawat sering melakukan pengkajian status psikologis pasien bersamaan dengan pemeriksaan tanda-tanda vital pasien dengan komunikasi terapeutik. Menurut Kamarullah (2005) keberhasilan setiap fase dalam keperawatan perioperatif akan dicapai ketika aspek fisik dan psikologis pasien dipersiapkan dengan maksimal sesuai standar yang ada.

1.2  RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud Keperawatan Perioperatif ?
2. Apa saja Fase fase Keperawatan Perioperatif ? 
3. Apa saja Peran dan Tugas Perawat pada setiap Fase Keperawatan Perioperatif (pre, intra dan post) ?

1.3  TUJUAN MAKALAH
Adapun tujuan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.   Dapat mengetahui mengenai keperawatan perioperative.
2.   Dapat mengetahui dan memahami bagaimana fase fase keperawatan perioperative.
3. Dapat mengetahui peran dan tugas perawat pada setiap fase keperawatan perioperative (pre, intra dan post).
 



















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN
Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien. Istilah perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencakup tiga fase pengalaman pembedahan, yaitu :
·         Fase preoperatif,
·         Fase intraoperatif,
·         Fase pascaoperatif.

Masing-masing fase di mulai pada waktu tertentu dan berakhir pada waktu tertentu pula dengan urutan peristiwa yang membentuk pengalaman bedah dan masing-masing mencakup rentang perilaku dan aktivitas keperawatan yang luas yan dilakukan oleh perawat dengan menggunakan proses keperawatan dan standar praktik keperawatan. Disamping perawat kegiatan perioperatif ini juga memerlukan dukungan dari tim kesehatan lain yang berkompeten dalam perawatan pasien sehingga kepuasan pasien dapat tercapai sebagai suatu bentuk pelayanan prima.

2.2 TAHAP DALAM KEPERAWATAN PERIOPERATIF
1) Fase Preoperatif
Fase preoperatif dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi bedah dan diakhiri ketika pasien dikirim ke meja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun rumah, wawancara pra operatif dan menyiapkan pasien untuk anstesi yang diberikan dan pembedahan.
Pengkajian Keperawatan Preoperatif:
a.       Resiko pembedahan
Umur, status nutrisi, status cairan dan elektrolit, kondisi kesehatan umum, obat-obat yang digunakan dan kesehatan mental serta sikap pasien terhadap penyakitnya.
b.      Riwayat keperawatan
Hal ini akan membantu perawat dalam merencanakan asuhan keperawatan preoperative dan asuhan postoperative.
Riwayat keperawatan preoperatif meliputi :
o   Kondisi fisik (warna kulit, BB, status cairan dan tingkat energi)
o   Sikap mental (Kecemasan ringan merupakan respon normal terhadap pembedahan, akan tetapi kecemasan berat dapat meningkatkan risiko pembedahan).
o   Pemahaman terhadap prosedur pembedahan (Pasien yang berpengetahuan luas, mengetahui apa yang diharapkan secara umum dengan penanggulangannya lebih efektif dalam proses pembedahan dan masa penyembuhan).
o   Pengalaman sebelumnya (mungkin berpengaruh terhadap respon fisik dan psikis dengan pembedahan yang di rencanakan)
o   Hasil yang diharapkan (mungkin berpengaruh terhadap body image dan gaya hidup serta tingkat kecemasan yang bervariasi)
o   Pengobatan (buat daftar obat yang digunakan terakhir, obat tertentu seperti anti konfulsan dan insulin harus tetap diberikan walau operasi sedang berjalan untuk mencegah akibat yang merugikan).
o   Kebiasaan merokok (Jaringan paru perokok mengalami iritasi kronik, general anasthesi menyebabkan akan menambah iritasi lebih banyak lagi).
o   Kebiasaan mengkonsumsi alkohol (penguna alkohol berat, terus menerus dapat menyebabkan masalah selama anesthesia, pembedaan dan pemulihan).
o   Sumber koping, penggunaan mekanisme koping efektif sebelumnya atau mengembangkan strategi baru (seperti divisional aktifitas sebagai contoh membaca dan relaksasi) dapat menolong.
o   Konsep diri, latar belakang konsep diri pasien yang positif dalam pengalaman pembedahan dengan kepercayaan bahwa mereka dapat menanganinya dengan sukses.
o   Bodi image, kemungkinan mengalami kerusakan atau perubahan dalam identitas fisik menjadi perhatian sebelum pembedahan. (Pemberian informasi yang akurat dapat menghilangkan rasa takut yang disebabkan konsep yang salah).



c.       Pemeriksaan skrining
Dokter akan meminta pemeriksaan radiologi dan laboratorium. Perawat bertanggung jawab terhadap order tersebut dan mengecek apakah sudah dilakukan atau belum serta menjamin bahwa hasil pemeriksaan sudah didapat sebelum dilaksanakan.
Pemeriksaan skrining rutin yang biasa dilakukan:
·         Urinalisis, untuk mendeteksi adanya infeksi dan gula dalam urine. Golongan darah dan cross matching, untuk mengenal golongan darah sebagai persiapan tranfusi.
·         Serum elektrolit ( Na, K, Mg, Ca, H ), untuk menentukan keseimbangan elektrolit.
Gula darah puasa, untuk medeteksi adanya glukosa dalam darah yang mengendikasikan adanya gangguan metabolisme seperti DM.
·         Blood urea nitrogen (BUN ) atau Creatinin, untuk menganalisa ekresi urin
Chest rontgenographi, untuk mengidentifikasi pathologi paru dan ukuran jantung serta lokasinya.
·         Pemeriksaan ECG, diperlukan bagi pasien tua, dan pasien dengan penyakit kardiovaskuler .
·         Pemeriksaan lain mungkin dilakukan berkenaan dengan kondisi dan perkembangan penyakit pasien

Diagnosa Keperawatan Pasien Preoperatif
a.       Takut / cemas berhubungan dengan : Pengaruh pembedahan terhadap kemampuan dalam fungsi peran biasanya hasil dari pembedahan ekplorasi keganasaan, Resiko kematian, Kehilangan kontrol selama anasthesi atau bangun selama anasthesi, Merasa pemberian analgetik post operatif yang tidak adekuat, dan Bagaimana proses pembedahan.
b.      Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan : Preoperatif routine, dan Latihan postoperatif serta aktivitas.
c.       Gangguan pola tidur berhubungan dengan : Rutinitas kegiatan RS, Stress psikologik .
d.      Kesedihan dengan terlebih dahulu berhubungan dengan merasa kehilangan bagian dari tubuh dihubungkan dengan pembedahan yang direncanakan.
e.       Tidak efektifnya koping individu berhubungan dengan konflik tata nilai (antara butuh transfusi dengan nilai keyakinan agama), Tidak jelasnya hasil pembedahan yang diharapkan, dan Pengalaman negatif mengenai pembedahan yang belum terselesaikan .

2) Fase Intraoperatif
Fase intraoperatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke instalasi bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup pemasangan IV cath, pemberian medikasi intaravena, melakukan pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Contoh : memberikan dukungan psikologis selama induksi anstesi, bertindak sebagai perawat scrub, atau membantu mengatur posisi pasien di atas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesimetrisan tubuh.
Perawat yang bekerja di kamar bedah harus telah mengambil program
proregristation education courses in anasthetic and operating theater nursing. Dalam pembedahan perawat disebut scrubbed nurse yang bertindak sebagai asisten ahli bedah. Perawat bertanggung jawab akan pemeliharaan sterilitas daerah pembedahan dan instrument dan menjamin ketersediaan peralatan ahli bedah untuk terlaksananya pembedahan yang direncanakan. Circulating nurse bertanggung jawab untuk menjamin terpenuhinya perlengkapan yang dibutuhkan oleh scrubbed nurse dan bertanggung jawab terhadap observasi dan perawatan pasien tanpa menimbulkan kontaminasi daerah steril.

Diagnosa Keperawatan Intraoperatif:
1.      Resiko tinggi tidak efektifnya jalan napas berhubungan dengan efek anasthesi.
2.      Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan dan pembatasan intake cairan
3.      Resiko tinggi infeksi berhubungan denga proses penyakitnya.
4.      Resiko cidera berhubungan dengan: posisi pasien yang tidak tepat selama pembedahan dan benda asing yang tertinggal

Tindakan Keperawatan Intraoperatif:
ü  Ukur tanda – tanda vital
ü  Cek data fisik termasuk penyakit pernafaan.
ü  Observasi pemakaian intubasi
ü  Monitor kelancaran jalan nafas.
ü  Pertahankan keseimbangan cairan.
ü  Kaji tanda – tanda syok secara dini.
ü  Kolaborasi dengan operator persiapan darah jumlah? Jenis?
ü  Bersihkan daerah yang akan dioprasi dengan hibiscrub, nacl, alkohol.
ü  Cek kadaluarsa alat yang dipakai
ü  Pertahankan sterilitas selama operasi.
ü  Cuci tangan secara steril
ü  Tutup luka operasi dengan kassa steril.
ü  Pastikan posisi pasien sesuai
ü  Cek daerah penekanan selama operasi
ü  Pasang sabuk atau tali pengaman.
ü  Hitung jumlah kassa, jarum, bisturi, depper, sebelum dan sesudah operasi.

3) Fase Pascaoperatif
Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien ke ruang pemulihan (recovery room) dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. Lingkup aktivitas keperawatan mecakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen anestesi dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan dan rehabilitasi serta pemulangan.     

Pengkajian postoperatif:
o   Fungsi pernafasan
o   Fungsi cardiovaskuler
o   Keseimbangan cairan dan elektrolit
o   Dressing, tubes dan drains
o   Neurologik status
o   Pain
o   Safety


Diagnosa Keperawatan Postoperatif
o   Resiko tinggi tidak efektif jalan nafas b.d penumpukan secret
o   Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b.d  output berlebihan dan Pembatasan intake output
o   Hipotensi b.d Lingkungan OK dan Efek anasthesi
o   Resiko cedera b.d pasien belum sadar penuh
o   Gangguan rasa nyaman nyeri b.d adanya luka operasi.

Tindakan Keperawatan postoperative
Ø  Monitor TTV tiap 5 menit
Ø  Monitor kelancaran pernafasan pasien
Ø  Berikan posisi nyaman bagi pasien
Ø  Pasang guedel / mayo sesuai indikasi
Ø  Kolaborasi pemberian O2 …… lt / mnt
Ø  Monitor tanda dehidrasi
Ø  Ukur intake output
Ø  Kaji tanda-tanda syok
Ø  Kolaborasi pemberian cairan IV
Ø  Beri selimut tebal
Ø  Pasang pemanas
Ø  Pasang pagar pengaman tempat tidur
Ø  Tidak meninggalkan pasien sewaktu gelisah
Ø  Anjurkan pasien untuk tarik nafas dalam
Ø  Kaji lokasi dan intensitas nyeri

2.3 PEMBEDAHAN : INDIKASI DAN KLASIFIKASI
Tindakan pembedahan dilakukan dengan berbagai indikasi, diantaranya adalah :
a.       Diagnostik : biopsi atau laparotomi eksplorasi
b.      Kuratif : Eksisi tumor atau mengangakat apendiks yang mengalami inflamasi
c.       Reparatif : Memperbaiki luka multiple
d.      Rekonstruktif/Kosmetik : mammoplasty, atau bedah platik
e.       Palliatif : seperti menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah, contoh : pemasangan selang gastrostomi yang dipasang untuk mengkomponsasi terhadap ketidakmampuan menelan makanan.

Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan, maka tindakan pembedahan dapat diklasifikasikan menjadi 5 tingkatan, yaitu :
a.      Kedaruratan/Emergency
Pasien membutuhkan perhatian segera, gangguan mungkin mengancam jiwa. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa di tunda. Contoh : perdarahan hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang tengkorak, luka tembak atau tusuk, luka bakar sanagat luas.
b.      Urgen
Pasien membutuhkan perhatian segera. Pembedahan dapat dilakukan dalam 24-30 jam. Contoh : infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu pada uretra.
c.       Diperlukan
Pasien harus menjalani pembedahan. Pembedahan dapat direncanakan dalam bebeapa minggu atau bulan. Contoh : Hiperplasia prostat tanpa obstruksi kandung kemih. Gangguan tyroid, katarak.
d.      Elektif
Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi pembedahan, bila tidak dilakukan pembedahan maka idak terlalu membahayakan. Contoh : perbaikan Scar, hernia sederhana, perbaikan vaginal.
e.       Pilihan
Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan sepenuhnya pada pasien. Indikasi pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan estetika. Contoh : bedah kosmetik.

Sedangkan menurut faktor resikonya, tindakan pembedahan dibagi menjadi:
a.         Minor
            Menimbulkan trauma fisik yang minimal dengan resiko kerusakan yang minim.
            Contoh : incisi dan drainage kandung kemih, sirkumsisi.
b          Mayor
            Menimbulkan trauma fisik yang luas, resiko kematian sangat serius.
            Contoh : Total abdominal histerektomi, reseksi colon, dan lain-lain.

2.4 AKTIVITAS KEPERAWATAN DALAM PERAN PERAWAT PERIOPERATIF
PENGKAJIAN
Rumah/Klinik:
1) Melakukan pengkajian perioperatif awal
2) Merencanakan metode penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan pasien
3) Melibatkan keluarga dalam wawancara.
4) Memastikan kelengkapan pemeriksaan pra operatif
5) Mengkaji kebutuhan klien terhadap transportasi dan perawatan pasca operatif

Unit Bedah :
1) Melengkapi pengkajian praoperatif
2) Koordianasi penyuluhan terhadap pasien dengan staf keperawatan lain.
3) Menjelaskan fase-fase dalam periode perioperatif dan hal-hal yang diperkirakan terjadi.
4) Membuat rencana asuhan keperawatan

Ruang operasi :
1) Mengkaji tingkat kesadaran klien.
2) Menelaah ulang lembar observasi pasien (rekam medis)
3) Mengidentifikasi pasien
4) Memastikan daerah pembedahan

Perencanaan :
1) Menentukan rencana asuhan
2) Mengkoordinasi pelayanan dan sumber-sumber yang sesuai (contoh: Tim Operasi).



Dukungan Psikologis :
1) Memberitahukan pada klien apa yang terjadi
2) Menentukan status psikologis
3) Memberikan isyarat sebelumnya tentang rangsangan yang merugikan, seperti : nyeri.
4) Mengkomunikasikan status emosional pasien pada anggota tim kesehatan yang lain yang berkaitan.

























BAB III
PENUTUP

3.1.   KESIMPULAN
Perawatan pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan perioperatif  yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan.
Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja bedah dan berakhir bila pasien di transfer ke wilayah ruang pemulihan.
Perawatan post operasi merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre dan intra operatif yang dimulai saat klien diterima di  ruang pemulihan /pasca anaestesi dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya.

3.2.   SARAN
Dalam pembuatan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Namun untuk meningkatkan pemahaman tentang tindakan kolaboratif persiapan operasi, maka penulis berkeinginan menyumbangkan beberapa pemikiran yang dituangkan dalam bentuk saran sebagai berikut :
a.     Bagi pembaca
Bisa menambah pengetahuan tentang tindakan kolaboratif persiapan sebelum dan sesudah operasi. Sehingga, dapat dijadikan sebagai penambahan ilmu dalam bidang keperawatan
b.    Bagi Pendidikan
Untuk meningkatkan dan memperlancar dalam proses pembuatan makalah, hendaknya pihak pendidikan menambah literature-literatur di perpustakaan khususnya tindakan kolaboratif persiapan sebelum dan sesudah operasi.

 









DAFTAR PUSTAKA

Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.



Komentar

Postingan Populer