makalah hakikat akhlak


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Memahami akhlaq merupakan masalah fundamental dalam islam, akhlaq karena merupakan salah satu hal yang pokok dalam ajaran islam. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, akhlaq sudah mulai luntur dari pribadi individu-individu yang ada. Karena akhlaq merupakan hal yang penting maka seseorang perlu untuk memahami hakikat akhlaq yang sebenarnya dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika seseorang sudah memahami akhlaq dan menghasilkan kebiasaan hidup yang baik, maka akhlaq sudah merasuk dan tertanam pada diri seseorang tersebut. Akhlaq merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlaq yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian. Semua yang telah dilakukan itu akan melahirkan perasaan moral yang terdapat di dalam diri manusia itu sendiri sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

B.     Rumusan Masalah   
1.      Apa hakikat akhlak?
2.      Apa hakikat akhlak pribadi?
3.      Bentuk-bentuk akhlak pribadi?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui hakikat akhlak
2.      Mengetahui hakikat akhlak pribadi
3.      Mengetahui bentuk-bentuk akhlak pribadi




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Akhlaq
a.       Secara Bahasa
Akhlaq berasal dari bahasa Arab yaitu jamak dari khuluqun, yang menurut lughat diartikan adat kebiasaan, perangai, watak, tabiat, atau pembawaan, adab atau sopan santun, dan agama. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalaqa yang berarti menciptakan dan khalqun yang berarti juga kejadian.
Kata khalqun, erat hubungannya dengan Khaliq yang berarti pencipta dan makhluq  yang berarti yang di ciptakan dan dari sinilah asal mula perumusan ilmu akhlak yang merupakan koleksi urgensi yang memungkinkan timbulnya hubungan yang baik antara Makhluk dengan Khaliq dan antara Makhluk dengan makhluk.
Luis Ma’luf (1986 : 194), Abuddin Nata (2002 : 1) dan Sofyan Sauri (2008 : 136) menjelaskan bahwa Akhlak adalah bentuk jama dari khuluq, yang bermakna al-sajiyah (perangai), ath-thabi’ah (kelakuan, tabi’at, watak dasar), al-adat (kebiasaan, kelaziman), al-muru’ah (peradaban yang baik) dan ad-din (agama). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007 : 20) akhlak bermakna budi pekerti.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat kita simpulkan bahwa akhlak secara bahasa adalah perangai, kelakuan, tabiat, watak dasar, kebiasaan, kelaziman, peradaban yang baik, agama, dan budi pekerti yang baik.
b.      Secara Istilah
Abuddin Nata (2002:3-5) mencatat berbagai pengertian tentang akhlaq secara istilah menurut para ulama, yaitu :
1.      Menurut Ibnu Maskawaih
Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.


2.      Menurut Imam Ghozali
Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
3.      Menurut Ibrahim Anis                                                                                     
Sifat yang tertanam didalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
4.      Abdul Karim Zaidan
Akhlaq adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk, untuk kemudian memilih melakukan atau meninggalkannya.
Dari perngertian para ulama di atas, dapat kita gambarkan bahwa akhlaq setidaknya memiliki          lima karakteristik yaitu :
·         Tertanam kuat di dalam jiwa seseorang
·         Akhlaq di lakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran
·         Akhlaq timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya tanpa ada
·         paksaan dan tekanan dari luar
·          Akhlaq dilakukan dengan sesungguhnya, bukan main-main atau karena bersandiwara
·          Akhlaq dilakukan ikhlas semata-mata karena Allah bukan karena ingin dipuji orang atau karena ingin mendapatkan sesuatu pujian.

B.     Akhlaq Pribadi
Akhlaq pribadi atau dalam bahasa arab adalah al akhlaq al fardiyah, yakni akhlaq yang terdiri dari :
·         Yang diperintahkan                            ( al awamir )
·         Yang dilarang                                     ( an nawahi )
·         Yang dibolehkan                                 ( al mubahat )
·         Akhlaq dalam keadaan darurat           ( al mukhalafah bi al al idhtirar )


     C.  Macam-macam Akhlaq Pribadi
1.        Iffah
Secara etimologis, iffah adalah bentuk masdar dari affa-ya’iffu-iffah yang berarti menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik,dan juga berarti kesucian tubuh.
Secara terminologis,iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yanag akan merendahkan,merusak dan menjatuhkannya.
Nilai dan wibawa seseorang tidaklah di tentukan oleh kekayaan dan jabatannya,dan tidak pula oleh bentuk dan rupanya,tapi di tentukan oleh kehormatan dirinya.Untuk menjaga kehormatan diri tersebut,setiap orang haruslah menjauhkan diri dari segala hal yang dilarang oleh Allah SWT.dia harus bisa mengendalikan hawa nafsunya.
Bentuk-bentuk Iffah
Al-qura’an dan hadis memberikan beberapa contoh dari iffah sebagai berikut:
a.       Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah seksual,seorang Muslim dan Muslimah diperintahkan untuk menjaga pandangan,penglihatan,pergaulan dan pakaiannya.                                                                               
Allah swt berfirman:

24:30
Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". (QS. An-nisa :30)
  24:31
Artinya : Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An-nisa:31)

Dan Allah SWT.berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 59,
       33:59
Artinya: “Hai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu,anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin,hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal,karena itu mereka tidak diganggu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dari ayat diatas jelaslah bagaimana Allah dan Rasulnya memberikan tuntunan tentang cara menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah seksual.                                                                             
Disamping tidak bergaul secara bebas,untuk menjaga kehormatan diri, islam mengajarkan kepada kita bagaimana mengatur pandangan terhadap lawan jenis dan berpakaian yang sopan dan benar menurut agama,yang menutup aurat,tidak ketat,tidak transparan dan tidak pula menunjukkan kesombongan.
Untuk menjaga kehormatan diri dalam hubungannya dengan masalah harta,islam mengajarkan,terutama bagi orang miskin untuk tidak menadahkan tangannya (meminta-minta). Islam juga menganjurkan kepada orang-orang yang mampu untuk membantu orang -orang miskin yang tidak mau memohon bantuan karna sikap iffah mereka.Allah berfirman dalam surat Al-Baqoroh ayat 273,
2:273
Artinya: “(Berinfaklah)kepada orang orang fakir yang terikat(oleh)jihad di jalan Allah;mereka tidak dapat (berusaha)di muka bumi ini;orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena mereka memelihara diri dari minta-minta.kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifat nya,mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak.dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan di jalan Allah maka sesungguh nya Allah Maha Mengetahui”
Meminta-minta adalah perbuatan yang merendahkan kehormatan diri.Dari pada meminta-minta seorang lebih baik mengerjakan apa saja untuk mendapatkan penghasilan asal halal sekalipun mengumpulkan kayu api.
Untuk menjaga kehormatan diri dari dalam hubungannya dengan kepercayaan orang lain kepada dirinya,seseorang harus betul-betul menjauhi segala macam ketidak jujuran, jangan sekali-kali berkata bohong, ingkar janji, khianat dan lain sebagainya.             
Rasulullah saw bersabda:
 Artinya : “Berikanlah jaminan kepadaku terhadap enam perkara,maka aku akan memberimu enam jaminan kalian masuk syurga.Yaitu, jujurlah bila kamu berkata,tepatilah bila kamu berjanji, tunaikanlah amanah kepada yang berhak jika kamu diberi amanah,jagalah kemaluanmu,tegurkanlah pandanganmu,dan tahanlah tanganmu(sehingga tidak menyakiti orang lain).” (HR.Ahmad dan Ibn Hibban)
Demikianlah sifat iffah yang sangat di perlukan untuk menjaga kehormatan dan kesucian diri sehingga tidak ada peluang sedikit pun bagi orang lain (yang tidak senang dengannya) untuk melemparkan tuduhan dan fitnahan.Orang yang mempunyai sikap iffah akan dihormati dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Dan yang lebih penting lagi dia akan mendapatkan ridho Allah swt.

2.      Tawadhu’
Tawadhu’ adalah sikap merendah tanpa menghinakan diri. Merendahkan diri adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhlukNya. Setiap orang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan RasulNya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya.
Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerima dari siapapun datang baik ketika suka atau dlm keadaan marah. Arti janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu. Lawan dari sifat tawadhu’ adalah takabbur sifat yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya.                          
Keutamaan Tawadhu’
1.      Akan dihargai dan dihormati oleh masyarakat
2.      Disenangi oleh masyarakat
3.      Ditinggikan derajatnya oleh Allah
4.      Mendapatkan kasih sayang dari Allah
Allah swt berfirman:
       25:63
Artinya: Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(Q.S Al-furqon:63)
Macam-macam Tawadhu’:
Telah dibahas oleh para ulama sifat tawadhu’ ini dalam karya-karya mereka baik dalam bentuk penggabungan dengan pembahasan yang lain atau menyendirikan pembahasannya. Di antara mereka ada yang membagi tawadhu’ menjadi dua:
1. Tawadhu’ yang terpuji yaitu ketawadhu’an seseorang kepada Allah dan tidak mengangkat diri di hadapan hamba-hamba Allah.
2. Tawadhu’ yg dibenci yaitu tawadhu’seseorang kepada pemilik dunia karena menginginkan dunia yg ada di sisinya.
Bentuk-bentuk tawadhu’
1.      Tidak menonjolkan diri dari orang-orang yang level atau statusnya sama, kecuali apabila sikap tersebut menimbulkan kerugian agama atau umat islam.
2.      Berdiri dari tempat duduknya dalam suatu majlis untuk menyambut kedatangan orang yang lebih mulia dan lebih berilmu daripada dirinya, dan mengantarkannya ke pintu keluar jika yang bersangkutan meninggalkan majlis.
3.      Bergaul dengan orang awam dengan ramah, dan tidak memandang dirinya lebih dari mereka.
4.      Mau mengunjungi orang lain, sekalipun lebih rendah statusnya.
5.      Mau berbaur dengan fakir miskin,orang-orang cacat tubuh, kaum dhu’afa dan bersedia memnuhi undangan mereka.
6.      Tidak makan dan minum secara berlebihan dan juga tidak memakai pakaian yang menunjukkan kemegahan dan kesombongan.
 Takabbur atau Sombong
Lawan daari tawadhu’ adalah takabbur atau sombong, yaitu sikap menganggap diri lebih dan meremehkan orang lain.


Rasulullah saw bersabda:
 
Artinya : “Dari Uqbah bin 'Amir RA, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah SAW, bersabda, "Orang yang meninggal dunia, dan ketika ia meninggal itu di dalam hatinya masih ada sebesar biji sawi dari sombong, maka tidaklah halal baginya surga, tidak mencium baunya dan tidak pula melihatnya”. (HR. Ahmad)
Bentuk-bentuk Takabbur
1.      Ingin dihormati dan dimuliakan oleh orang lain
2.      Merasa dirinya lebih hebat dan mulia daripada orang lain
3.      Meremehkan orang lain yang statusnya lebih rendah
4.      Tidak mau mengerjakan sesuatu yang merendahkan derajatnya.

3.      Malu
Malu (Al-Haya’) adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Orang yang memiliki rasa malu, apabila melakukan sesuatu yang tidak patut, rendah atau tidak baik dia akan terlihat gugup, atau mukanya merah. Sebaliknya orang yang tidak punya rasa malu, akan melakukannya dengan tenang tanpa ada rasa gugup sedikitpun.
Diceritakan oleh sering sahabat yang bernama Abu Sa’id Al-khudry bahwa Rasulullah SAW jika melihat sesuatu yang tidak disukainya warna muka beliau akan berubah.
“Adalah Rasulullah SAW lebih pemalu dari gadis pingitan. Bila melihat sesuatu yang tidak disukainya, kami dapat mengetahuinya dari wajah beliau”. (HR. Muttafaqun ‘Alaih).
Sifat malu adalah akhlaq terpuji yang menjadi keistimewaan ajaran islam Rasulullah SAW bersabda:  “Sesungguhnya semua agama itu mempunyai akhlaq, dan akhlaq islam itu adalah sifat – sifat malu.” (HR. Malik).
Rasa Malu adalah sumber utama kebaikan dan unsur kemuliaan dalam setiap pekerjaan. Rasulullah SAW bersabda: “Kekejian itu selalu membuat segala sesuatu menjadi jelek, sebaliknya malu itu selalu membuat segala sesuatu menjadi bagus.” (HR. Tirmidzi).
Bahkan menurut Rasullah SAW, andai kata sifat malu itu berbentuk manusia, dia akan tambil sebagai seorang yang saleh.
“Apabila sifat malu itu diumpamakan menjadi seorang, maka ia akan menjadi searing yang saleh. Dan andaikata sifat keji itu diumpamakan seseorang, maka dia akan menjadi orang jahat.” (HR. Thabrani).
Macam-macam malu
a.       Malu kepada Allah
Seseorang akan malu kepada Alloh apabila dia tidak mengerjakan perintah-Nya, tidak menjauhi laranganNya, serta tidak mengikuti petunjukNya.
b.      Malu kepada diri sendiri
Orang yang malu terhadap Allah, dengan sendirinya malu terhadap dirinya sendiri. Ia malu mengerjakan perbuatan salah sekalipun tidak ada orang lain yang melihat atau mendengarnya. Penolakan datang dari dirinya sendiri. Ia akan mengendalikan hawa nafsunya dari keinginan-keinginan yang tidak baik.
c.       Malu kepada orang lain
Setelah malu pada dirinya sendiri, dia akan malu melakukan sesuatu yang merugikan orang lain.
Ketiga rasa malu di atas harus ditumbuhkan dan dipelihara terus menerus oleh seorang muslim. Lebih-lebih lagi malu terhadap Allah swt, karena malu kepada Allah inilah yang menjadi sumber dari dua jenis malu lainnya.
Malu dan Iman
Malu adalah salah satu refleksi iman. Bahkan malu dan iman akan selalu hadir bersama-sama. Apabila salah satu hilang, yang lain juga ikut hilang. Semakin kuat iman seorang, semakin teballah rasa malunya, demikian pula sebaliknya.



Rasullah saw bersabda, yang artinya :
“Iman itu mempunyai tujuh puluhan cabang, yang paling utama adalah (pernyataan). Tiada tuhan melainkan Allah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan duri dari tengah jalan. Dan malu adalah satu dari cabang iman.” (HR.Bukhari).
“Malu itu sebagian dari iman, dan iman itu di dalam surga. Lidah yang keji itu adalah termasuk kebengisan, dan kebengisan itu di dalam neraka. (HR.Tirmidzi).
Akibat Hilangnya Malu
Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan perbuatan yang dilarang oleh agama. Tanpa control rasa malu seseorang akan bebas melakukan apa saja yang diingkan oleh hawa nafsunya.
Rasulullah saw bersabda:
Artinya : “Sesungguhnya di antara yang di dapat oleh manusia dari kata – kata kenabian yang pertama ialah : “Jika engkau tidak lagi mempunyai sifat malu, maka berbuatlah sekehendak hatimu.” (HR.Bukhari).
Hilangnya sifat malu adalah awal dari kehancuran dan kebinasaan.
Rasullah saw bersabda:
Artinya : “Sesunggugnya Allah ‘Azza wa Jalla apabila ingin membinasakan seorang hamba, Dia akan mencabut dari dirinya rasa malu, maka engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai seorang pembenci lagi dibenci maka akan dicabut dari dirinya amanah, maka engkau tidak akan mendapatkannya kecuali sebagai seorang pengkhianat lagi dikhianati. Apabila engkau tidak mendapatkannya kecuali sebagai seorang pengkhianat lagi dikhianati maka akan dicabut dari dirinya rahmah. Apabila dicabut dari dirinya rahmah mangka engkau akan mendapatkannya kecuali sebagai orang yang terkutuk lagi mengutuk maka akan dicabut dari dirinya Islam.” (HR. Ibn Majah).
Malu, amanah, rahmah dan islam adalah empat hal yang saling berkait. Konsekuensi logis dari hilangnya malu adalah amanah. Bila amanah hilang akan hilanglah rahmah dan bila rahmah hilang, hilanglah islam.


4.      Sabar
Secara etimologis, sabar ( ash-shabr) berarti menahan dan mengekang (al-habs wa al-kuf). Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah. Yang tidak disukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak disenangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi bisa juga berupa hal -hal yang disenangi misalnya segala kenikmatan duniawi yang disukai oleh hawa nafsu. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu.
Menurut Imam Al-Ghazali, sabar merupakan ciri khas manusia. Binatang dan malaikat tidak memerlukan sifat sabar karena binatang diciptakan tunduk sepenuhnya kepada hawa nafsu, bahkan hawa nafsu itulah satu-satunya yang mendorong binatang untuk bergerak atau diam. Binatang juga tidak memiliki kekuatan untuk menolak hawa nafsunya. Sedangkan malaikat, tidak memerlukan sifat sabar karena memang tidak ada hawa nafsu yang harus dihadapinya. Malaikat selalu cenderung kepada kesucian, sehingga tidak diperlukan sifat sabar untuk memelihara dan mempertahankan kesuciannya itu.
Macam - macam Sabar
Menurut Yusuf al-Qardhawi dalam bukunya Ash-Shabr fi Al-Qur’an , sabar dapat dibagi kepada enam macam:
1.   Sabar menerima cobaan hidup
Cobaan hidup, baik fisik maupun nonfisik, akan menimpa semua orang, baik berupa lapar, sakit, rasa takut, kehilangan orang-orang yang dicintai, dll. Cobaan tersebut bersifat alami, manusiawi, oleh sebab itu tidak ada seorangpun yang dapat menghindar. Yang diperlukan adalah menerimanya dengan penuh kesabaran, seraya meluangkan segala sesuatunya kepada Allah swt.
Allah swt berfirman, yang artinya:
 “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,
mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. AL-Baqarah 2: 155-157)
2.   Sabar dari keinginan hawa nafsu
Hawa nafsu menginginkan segala macam kenikmatan hidup, kesenangan dan kemegahan dunia. Untuk mengendalikan segala keinginan itu diperlukan kesabaran. Al qur’an mengingatkan, jangan sampai harta benda dan anak-anak (diantara yang diinginkan oleh hawa nafs manusia) menyebabkan seseorang lalai dari mengingat Allah SWT.
 Allah berfirman, yang artinya :
 “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al Munafiqun 63: 9)
3.   Sabar dalam ta’at kepada Allah SWT
Dalam mena’ati perintah Allah, terutama dalam beribadah kepadaNya diperlukan kesabaran.
Allah berfirman, yang artinya :
 “ Tuhan langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam 19:65)
4.   Sabar dalam berdakwah
Jalan dakwah adalah jalan panjang berliku-liku yang penuh denga segala onak dan duri. Seseorang yang melalui jalan itu harus memiliki kesabaran.  Luqman Hakim menasehati puteranya supaya bersabar menerima cobaan dalam berdakwah.
Allah swt berfirman, yang artinya:
 “Hai anakku, dirikanlah dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadapa apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal- hal yang diwajibkan. (QS. Al-Luqman: 17)
5.   Sabar dalam berperang
Dalam peperangan sangat diperlukan kesabaran, apalagi menghadapi musuh yang lebih banyak atau lebih kuat. Dalam keadaan terdesak sekalipun, seorang prajurit islam tidak boleh lari meninggalkan medan perang, kecuali sebagai bagian dari siasat perang. (QS. Al-Anfal: 15-16).
6.   Sabar dalam pergaulan
Dalam pergaulan sesama manusia baik antara suami isteri, antara orang tua dengan anak, antara tetangga dengan tetangga, atau dalam masyarakat yang lebih luas, akan ditemui hal-hal yang tidak menyenangkan atau menyinggung perasaan. Oleh sebab itu dalam pergaulan sehari-hari diperlukan kesabaran, sehingga tidak cepat marah, atau memutuskan hubungan apabila menemui hal-hal yang tidak disukai.
 Allah swt berfirman, yang artinya :
”Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa, 4: 19)
Sifat sabar dalam islam menepati posisi yang istimewa. Al-Qur’an mengaitkan sifat sabar dengan bermacam-macam sifat mulia lainnya. Antara lain dikaitkan dengan keyakinan (QS. As-Sajdah 32: 24), syukur (QS. Ibrahim 14: 5), tawakkal (QS. An-Nahl 16: 41-42) dan taqwa (QS. Ali ‘Imran 3 : 15-17) Karena sabar merupakan sifat mulia yang istimewa, tentu dengan sendirinya orang-orang yang sabar juga menempati posisi yang istimewa. Misalnya dalam menyebutkan orang-orang beriman yang akan mendapatkan surga dan keridhaan Allah swt, orang-orang yang sabar ditempatkan dalam urutan pertama sebelum yang lain-lainnya.
Allah swt berfirman, yang artinya:
“Katakanlah: “Inginkah Aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha melihat akan hamba-hambaNya. (yaitu) orang-orang yang berdoa: Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dari siksa neraka,”
(yaitu) orang -orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (dijalan Allah), dan yang memohon ampun diwaktu sahur.” (QS. Ali-Imran : 15-17).
Keutamaan Sabar
1)   Orang yang sabar akan senatiasa bersama-sama Allah.
Dan Allah lebih mencintai orang-orang yang bersabar terhadap ujian yang diberikan oleh-Nya. Allah bersama orang-orang yang sabar. Kebersamaan yang dimaksud  oleh Allah adalah kebersamaan secara khusus yang berarti menjaga, melindungi, dan menolong mereka.
2)   Allah memberikan apresiasi  predikat taqwa kepada orang-orang yang bersabar dalam menghadapi ujian Allah. (Al-Baqoroh:177) (Ali Imran:125).
3)   Allah akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dan tanpa batas.  Orang yang berhak menerimanya adalah orang-orang yang sabar. (QS Az Zummar:10) (QS Al Qashash;80).
4)   Orang-orang yang sabar akan mendapatkan kabar gembira (QS Al Baqoroh:155).
5)   Allah memberitakan bahwa orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang mulia. (QS Asy-Syura:43).
6)   Berita gembira dari Allah bahwa hanya orang-orang yang bersabarlah yang dapat mengambil hikmah atau pelajaran yang bermanfaat dari ayat-ayat Allah (QS Ibrahim:5).
7)   Mereka memperoleh keberuntungan, keselamatan, dari sesuatu yang ditakuti dan masuk surganya Allah. (QS Ar-Ra’d:24).
8)   Sabar mewariskan derajat kepeloporan dan kepemimpinan. Sebagaimana ungkapan Syaikul Islam yang dikutip oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziah: “ Dengan kesabaran dan keyakinan dapat diperoleh kepemimpinan dalam agama.”  Lalu ia menyebutkan firman Allah (QS As-Sajdah:24).
9)   Allah menghubungkan kesabaran dengan iman, keyakinan, takwa, tawakal, syukur, amal shalih, dan rahmat yang diperoleh seseorang. Sabar merupakan bagian dari iman, ibarat kedudukan kepala dari tubuh. Tiada artinya iman bagi orang-orang tidak memiliki kesabaran, sama artinya ibarat tubuh tanpa kepala. Sehingga Umar bin Khatab berkata; “ Hidup yang paling baik ialah yang kami lalui dengan kesabaran.”
 Kita bisa belajar banyak tentang kesabaran dari para nabi-nabi Allah. Bagaimana kesabaran Nabi Yusuf menghadapi rayuan Siti Zulaikha dan dimasukkan kesumur oleh saudara-saudaranya. Kesabaran nabi Nuh dalam berjuang menyampaikan kebenaran tauhid, Nabi Ibrahim, Musa, Nabi Muhammad Saw dan nabi-nabi Allah lainnya.
Jaza'u
Lawan dari sifat sabar adalah al-jaza'u yang berarti gelisah, sedih, keluh kesah, cemas dan putus asa.
Allah swt berfirman, yang artinya :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat," (QS.Al-Ma'arij 70: 19-22).
Ketidaksabaran dengan segala bentuknya adalah sifat yang tercela. Orang yang dihinggapi sifat ini, bila menghadapi hambatan dan mengalami kegagalan akan mudah goyah, berputus asa dan mundur dari medan perjuangan. Sebaliknya apabila mendapatkan keberhasilan juga cepat lupa diri.                                                                                            
Menurut ayat di atas, kalau ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, kalau mendapat kebaikan ia amat kikir. Semestinyalah setiap Muslim dan Muslimah menjauhi sifat yang tercela ini.



5.      Pemaaf
Pengertian Pemaaf
     Pemaaf adalah sikap suka memberi maaf terhadap kesalan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas.
     Dalam bahasa arab sifat pemaaf disebut dengan al-‘afwu yang secara etimologi berarti kelebihan atau yang berlebih. Kata al-‘afwu kemudian berkembang menjadi penghapusan. Dalam konteks bahasa ini memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. Sikap pemaaf merupakan salah satu dari akhlaq mulia yang juga merupakan salah satu kriteria sekaligus manifestasi dari ketakwaan seseorang.
Allah swt berfirman, yang artinya:
 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya, seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali ‘Imran (3): 133-134).
Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa ciri orang yang bertakwa adalah orang yang mau memaafkan orang lain tanpa harus menunggu orang lain itu meminta maaf. Jadi yang dimaksudkan dalam ayat di atas bukan meminta maaf, tetapi memberi maaf. Sikap memberi maaf jauh lebih mulia dari sikap meminta maaf. Dalam kehidupan sehari-hari Orang yang memberi maaf biasanya didasari adanya kesalahan yang diperbuat orang lain terhadapnya kemudian dia dengan rela memaafkan kesalahan orang lain tersebut. Sedang orang yang meminta maaf justru sebaliknya membuat kesalahan terhadap orang lain kemudian dia meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Jadi, jelas sikap orang yang pertama lebih mulia daripada sikap orang yang kedua. Orang yang pertama dengan rela hati menerima perlakuan orang lain yang tidak baik dengan memaafkannya, sementara orang yang kedua malah membuat kesalahan terhadap orang lain kemudian dia meminta orang lain memaafkannya.                                                                                                      
Sikap orang kedua belum tentu akan diterima oleh orang yang dimintai maaf, sedang sikap orang pertama jelas akan diterima dengan baik oleh orang yang berbuat salah. Karena itulah al-Quran menyebut ciri orang bertakwa adalah orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain, bukan meminta maaf kepada orang lain.
Lapang Dada
Berlapang dada dalam bahasa arab disebut dengan ash-shafah yang secara etimologi berarti lapang. Dari sini ash-shafah dapat diartikan kelapangan dada.
Dalam al-Quran juga ditegaskan bahwa sikap memberi maaf itu harus benar-benar disertai sikap lapang dada bahwa kesalahan orang lain itu benar-benar sudah dimaafkan tanpa ada perasaan dendam sedikit pun.
Allah swt berfirman, yang artinya :
 (Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya,
dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(QS. Al-Maidah: 13)
Dendam
lawan dari sifat pemaaf adalah dendam yaitu menahan rasa permusuhan di dalam hati dan menunggu kesempatan untuk membalas. Seorang pendendam tidak akan mau memmaafkan kesalahan orang lain sekalipun orang tersebut meminta maaf kepadanya.
Allah swt berfirman, yang artinya:
Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS.An-nur:22)
Hikmah Pemaaf
1.   Orang yang pemaaf akan mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari orang yang dimaafkan.
2.   Orang yang pemaaf akan memperkuat tali silaturrahmi dengan orang lain, termasuk orang yang dimaafkan.
3.   Sikap pemaaf menunjukan konsisten seorang yang bertaqwa artinya orang yang tidak memiliki sikap pemaaf berarti dia tidak disebut taqwa dalam arti yang sebenarnya.






















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Akhlak pribadi terhadap diri sendiri meliputi kewajiban terhadap dirinya disertai dengan larangan merusak, meminasakan dan menganiyaya diri sendiri baik secara jasmani maupun secara rohani. Akhlak pribadi seseorang itu ada dua macam yaitu akhlak pribadi yang baik dan akhlak pribadi yang buruk. Akhlak yang baik misalnya shidiq, amanah, istiqomah, iffah, mujahaddah, syaja’ah, tawadhu’, malu, sabar dan pemaaf. Akhlak pribadi yang buruk misalnya suka berbohong, berkhianat, pantang menyerah tidak tahu malu dan lain sebagainnya.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi akhlak pribadi seseorang yaitu antara lain, faktor intern yaitu faktor. yang mempengaruhi dalam diri sendiri, faktor ekstern yaitu faktor dari luar baik dari keluarga, kelompok, sahabat ataupun masyarakat. Oleh karena itu sifat pribadi seorang muslim selalu terjaga dengan baik ada beberapa cara agar akhlaq pribadi seseorang terbentuk baik diantaranya sebagai berikut: Aqidah (keyakinan) yang benar , berdoa kepada Allah swt, mujahadah (perjuangan), muhasabah (intropeksi diri), tafakur (merenung) dampak  postif dari akhlak mulia, melihat dampak negatif dari akhlak tercela, jangan pernah berputus asa, bercita-cita yang tinggi, berpaling dari orang-orang yang bodoh dan lain sebagainya.









DAFTAR PUSTAKA

Ilyas,Yunahar, Kuliah Akhlak. Yogyakarta: LPPI UMY
Sulaiman, Umar. 1996. Ciri-ciri kepribadian muslim. Jakarta: Raja Grafindo persada
Zakiah Haradjat, dkk. 1990. Dasar – dasar Akhlak . Jakarta























Komentar

Postingan Populer