MAKALAH FARMAKOLOGI OBAT ANTI JAMUR
MAKALAH FARMAKOLOGI
OBAT ANTI JAMUR

DI SUSUN OLEH
KARINA ANGGRAINI
KARINA ANGGRAINI
NIM 14390018
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN FARMASI
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis
dapat menyelesaikan penyusunan makalah Farmakologi yang berjudul “Obat
AntiJamur”. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan
untuk menyelesaikan tugas mata kuliah farmakologi.
Dalam
Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan, baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam
penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak
terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan tugas makalah
ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih
luas kepada pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita semua.amin.
Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Infeksi jamur terjadi pada tempat yang sedikit
menerima aliran darah, seperti pada kulit,kuku,
dan rambut. Hal ini menyebabkan distribusi obat ke daerah itu sangat sulit jika
diberika secara sistemik. Jamur membelah atau berkembang biak lebih lambat dibandingkan bakteri, padahal peristiwa membelah merupakan saat yang tepat bagimikroba untuk
membunuh fungi. Terjadi atau tidaknya infeksi jamur sangat ditentukanoleh peran
hospest mengingat banyak infeksi
jamur bersifat oportunistik.Kebanyakan jamur
sangat resisten terhadap obat-obat antibakteri. Hanya sedikit bahankimia yang diketahui dapat menghambat jamur
pathogen pada manusia, dan banyak di
antaranya relative toksik. Kebutuhan untuk mendapat obat anti jamur yang lebih
baik ditekankan dengan sangat meningkatnya insidens infeksi jamur, baik lokal maupunmeluas pada pasien
yang kurang imun.Mengingat tempat infeksi
jamur di daerah yang vaskularisasinya (aliran darah) sangat rendah maka pemberian obat secara topical sangat penting. Dengan demikian sangat penting adanya antifungi lokal maupun antifungi sistemik
1.2 RUMUSAN
MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang
dipaparkan sebelumnya, maka perumusanmasalah dalam makalah adalah:Bagaimana
mekanisme obat-obat anti mikroba yang menghambat perubahan permeabitas membrane
sel?
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Obat anti
jamur adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan
oleh jamur.
Sebuah jamur
adalah anggota kelompok besar eukarotik organisme yang meliputi mikroorganisme
seperti ragi dan jamur. Kadang disebut juga fungi, yang diklasifikasikan
sebagai sebuah kerajaan yang terpisah dari tanaman, hewan, dan bakteri. Salah
satu perbedaan utama adalah bahwa sel-sel jamur memiliki dinding sel yang
mengandung kitin.
Mengingat tempat infeksi jamur di daerah yang
vaskularisasinya (aliran darah) sangat rendah maka pemberian obat secara topical sangat penting. Dengan demikian sangat penting adanya
antifungi lokal maupun antifungi
sistemik. Antifungi dapat diklasifikasikan berdasarkan cara kerjanya ataupun strukrur kimiawinya. golongan polien adalah amfoterisin B dan nistatin
yang bekerja mengikat ergosterol pada dinding sel jamur. Terikatnya ergosterol oleh polien menyebabkanmembrane sel jamur bocor dan
lisis. Membran sel manusia tidak mengandung ergosterol melainkan kolesterol sehingga antifungi golongan polien tidak dapat merusaknya. Inilah yang
menyebabkan toksisitasselektif dari
antifungi.Struktur kimia polien mirip dengan ergosterol atau asam lemak
penyusun membrane sel,inilah yang menyebabkan dapat berikatan dengan dinsing
sel jamur.
Jamur adalah organisme
mikroskopis tanaman yang terdiri dari sel, seperti cendawan, dan ragi. Beberapa
jenis jamur dapat berkembang pada permukaan tubuh yang bisa menyebabkan infeksi
kulit, kuku, mulut atau vagina. Jamur yang paling umum menyebabkan infeksi
kulit adalah tinea. For example, tinea pedis ('athletes foot) . Infeksi umum
yang ada pada mulut dan vagina disebut seriawan. Hal ini disebabkan oleh
Candida. Candida merupakan ragi yang merupakan salah satu jenis jamur. Sejumlah
Candida umumnya tinggal di kulit.
2.2 Jenis obat-obatan antijamur
Ada beberapa jenis obat-obatan antijamur
a.
Antijamur cream
Digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada
kulit dan vagina. Antara lain :ketoconazole, fenticonazole, miconazole,
sulconazole, dan tioconazole.
b. Antijamur
peroral
Amphotericin
dan nystatin dalam bentuk cairan dan lozenges. Obat-obatan ini tidak terserap
melalui usus ke dalam tubuh. Obat tersebut digunakan untuk mengobati infeksi Candida
(guam) pada mulut dan tenggorokan.
itraconazole,
fluconazole, ketoconazole, dan griseofulvin dalam bentuk tablet yang diserap ke
dalam tubuh. Digunakan untuk mengobati berbagai infeksi jamur. Penggunaannya
tergantung pada jenis infeksi yang ada. example:
Terbinafine
umumnya digunakan untuk mengobati infeksi kuku yang biasanya disebabkan oleh
jenis jamur tinea.
Fluconazole
umumnya digunakan untuk mengobati jamur Vaginal. Juga dapat digunakan untuk
mengobati berbagai macam infeksi jamur pada tubuh
c. Antijamur injeksi
Amphotericin,
flucytosine, itraconazole, voriconazole dan caspofungin adalah obat-obatan anti
jamur yang sering digunakan dalam injeksi.
Infeksi
jamur dapat dibagi menjadi dua yaitu :
1. Infeksi
jamur sistemik
- Amfoterisin B
- Flusitosin
- Ketokonazol
- Itakonazol
- Fluconazol
- Kalium Iodida
2. Infeksi jamur topikal (dermatofit dan mukokutan)
- Amfoterisin B
- Flusitosin
- Ketokonazol
- Itakonazol
- Fluconazol
- Kalium Iodida
2. Infeksi jamur topikal (dermatofit dan mukokutan)
2.3 Infeksi jamur
Infeksi jamur secara umum dibedakan menjadi infeksi jamur sistemik dan topikal
1. Antijamur untuk infeksi sistemik : amfoterisin B, flusitosin, grup azol (ketokonazol,flukonazol, itrakonazol), kalium iodida
2. Antijamur untuk infeksi topikal : griseofulvin, imidazol, tolnaftat, nistatin, kandisidin, asam salisilat, asam undesilinat, haloprogin, natamisin
Infeksi jamur secara umum dibedakan menjadi infeksi jamur sistemik dan topikal
1. Antijamur untuk infeksi sistemik : amfoterisin B, flusitosin, grup azol (ketokonazol,flukonazol, itrakonazol), kalium iodida
2. Antijamur untuk infeksi topikal : griseofulvin, imidazol, tolnaftat, nistatin, kandisidin, asam salisilat, asam undesilinat, haloprogin, natamisin
Antifungi dapat
diklasifikasikan berdasarkan cara kerjanya ataupun strukrur kimiawinya, yaitu
golongan azol, polien, dan golongan lain.
1.
Golongan Azol
Dinamakan azol karena semua anggotanya mempunyai cincin azol,
azol dengan 2nitrogen (N) disebut imidazol, dan dengan 3N
disebut triazol.Golongan azol juga bekerja
menghambat sintesis ergosterol. Triazol lbih baik darisegi distribusi atau efek
sampingnya lebih sedikit. Golongan azol juga merupakanantifungi
berspektrum luas.
2.
Golongan Polien
Amfoterisin menyebabkan
neprotoksik, oleh karena itu hanya digunakan pada kasus-kasus berta dan yang
mengalami gangguan imunitas. Nistatin juga sangat toksik makahanya digunakan untuk pemakaian topical. Walaupun dapat dipakai peroral, nistatintidak dapat diabsorpsi.
Saat dipakai peroral nistatin hanya untuk infeksi Candidaalbican di
mukosa GI dan pemberian secra lokal untuk terapi infeksi kulit dan vagina
3.
Golongan Lain
Terbinafin dan
griseofulfin digunakan secara oral untuk infeksi jamur superficial dikulit, rambut
dan kuku. Hal ini menarik untuk di kaji dari segi distribusi karena keduaobat
dapat sampai ke kulit, kuku,
rambut yang sangat minim vaskularisasinya.Terbinafin bekerja menghambat
sintesis ergosterol, sedangkan griseofulfin terikat dikeratin sehingga kulit
resisten terhadap infeksi jamur
2.4 Profile infeksi jamur
a.
infeksi jamur sistemik
§
AMFOTERISIN
B
Amfoterisin
A dan B merupakan hasil fermentasi streptomyces nodosus.
Mekanisme
kerja
Amfoterisin B
berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel jamur
sehingga membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intrasel dan
menyebabkan kerusakan yang tetap pada sel.
Salah satu penyebab
efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh pengikatan kolesterol pada membran
sel hewan dan manusia.
Resistensi terhadap
amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan reseptor sterol pada
membran sel.
Farmakokinetik
Absorbsi
: sedikit sekali diserap melalui saluran cerna.
Waktu paruh kira-kira 24-48 jam pada dosis
awal yang diikuti oleh eliminasi fase kedua dengan waktu paruh kira-kira
15 hari, sehingga kadar mantapnya akan tercapai setelah beberapa bulan setelah
pemberian.
Ekskresi
: obat ini melalui ginjal berlangsung lambat sekali, hanya 3 % dari jumlah
yang diberikan.
Efek samping
·
Infus : kulit panas,
keringatan, sakit kepala, demam, menggigil, lesu, anoreksia, nyeri otot,
flebitis, kejang dan penurunan faal ginjal.
·
50% penderita yang mendapat
dosis awal secara IV akan mengalami demam dan menggigil.
·
Flebitis
(-) Ã menambahkan heparin 1000 unit ke dalam infus.
·
Asidosis
tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai à pemberian kalium.
·
Efek
toksik terhadap ginjal dapat ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama flusitosin.
Indikasi
·
Untuk pengobatan infeksi
jamur seperti koksidioidomikosis, aspergilosis, kromoblastomikosis dan
kandidosis.
·
Amfoterisin B merupakan
obat terpilih untuk blastomikosis.
·
Amfoterisin
B secara topikal efektif terhadap keratitis mikotik.
Sediaan
·
Amfoterisin
B injeksi tersedia dalam vial yang mengandung 50 mg bubuk
Dosis
·
Pada umumnya dimulai dengan
dosis yang kecil (kurang dari 0,25 mg/kgBB) yang dilarutkan dalam dekstrose 5 %
dan ditingkatkan bertahap sampai 0,4-0,6 mg/kgBB sebagai dosis pemeliharaan.
·
Secara umum dosis 0,3-0,5
mg/kgBB cukup efektif untuk berbagai infeksi jamur, pemberian dilakukan selama
6 minggu dan bila perlu dapat dilanjutkan sampai 3-4 bulan
§
Flusitosin
adalah primidin sintetis
yang telah mengalami fluorinasi
Mekanisme kerja
Flusitosin
masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam sitoplasma
akan bergabung dengan RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5-Fluorourasil.
Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan langsung sintesis DNA
oleh metabolit fluorourasil
Farmakokinetik
·
Absorbsi
: diserap dengan cepat dan baik melalui saluran cerna.Pemberian bersama
makanan
memperlambat penyerapan tapi jumlah yang diserap tidak berkurang. Penyerapan
juga diperlambat pada pemberian bersama suspensi alumunium
hidroksida/magnesium
hidroksida dan dengan neomisin.
·
Distribusi
:didistribusikan dengan baik ke seluruh jaringan dengan volume distribusi
mendekati
total cairan tubuh.
·
Ekskresi
: 90% flusitosin akan dikeluarkan bersama melalui filtrasi glomerulu dalam bentuk utuh, kadar dalam urin berkisar antara
200-500µg/ml.
·
Kadar
puncak dalam darah setelah pemberian per-oral dicapai 1-2 jam. Kadar ini lebih tinggi
pada penderita infusiensi ginjal.
·
Masa
paruh obat ini dalam serum pada orang normal antara 2,4-4.8 jam dan sedikit
memanjang pada bayi prematur tetapi dapat sangat memanjang pada penderita
insufisiensi ginjal.
Efek samping
·
Dapat menimbulkan anemia, leukopenia,
dan trombositopenia, terutama pada penderita dengan kelainan hematologik, yang
sedang mendapat pengobatan radiasi atau obat yang menekan fungsi tulang, dan
penderita dengan riwayat pemakaian obat tersebut.
·
Mual,muntah,
diare dan enterokolitis yang hebat.
·
Kira-kira
5% penderita mengalami peninggian enzim SGPT dan SGOT, hepatomegali.
·
Terjadi
sakit kepala, kebingungan, pusing, mengantuk dan halusinasi.
Indikasi
·
infeksi sistemik, karena
selain kurang toksik obat ini dapat diberikan per oral.
·
Penggunaannya
sebagai obat tunggal hanya diindikasikan pada kromoblastomikosis
Sediaan dan dosis
·
Flusitosin
tersedia dalam bentuk kapsul 250 dan 500 mg
·
Dosis
yang biasanya digunakan ialah 50-150 mg/kgBB sehari yang dibagi dalam 4 dosis.
§
Ketokonazol
Mekanisme kerja
·
Seperti
azole jenis yang lain, ketoconazole berinterferensi dengan biosintesis
ergosterol, sehingga menyebabkan perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan
dengan membran.
Farmakokinetik
·
Absorbsi
: diserap baik melalui saluran cerna dan menghasilkan kadar plasma yang
cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur. Penyerapan melalui
saluran cerna akan berkurang pada penderita dengan pH lambung yang tinggi,pada
pemberian bersama antasid.
·
Distribusi
: ketokonazol setelah diserap belum banyak diketahui.
·
Ekskresi
: Diduga ketokonazol diekskresikan bersama cairan empedu ke lumen
usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin,
semuanya dalam bentuk metabolit yang tidak aktif.
Efek samping
·
Efek
toksik lebih ringan daripada Amfoterisin B.
·
Mual
dan muntah merupakan ESO paling sering dijumpai
·
ESO
jarang : sakit kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia, parestesia,
gusi berdarah, erupsi kulit, dan trombositopenia.
Indikasi
·
Ketokonazol terutama
efektif untuk histoplasmosis paru, tulang, sendi dan jaringan lemak.
Kehamilan dan laktasi
Obat
ini sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil karena pada tikus, dosis 80
mg/kgBB/hari menimbulkan cacat pada jari hewan coba tersebut.
§
Itrakanozol
Mekanisme
kerja
·
Seperti
halnya azole yang lain, itraconazole berinterferensi dengan enzim yang
dipengaruhi oleh cytochrome P-450, 14(-demethylase. Interferensi ini
menyebabkan akumulasi 14-methylsterol dan menguraikan ergosterol di dalam
sel-sel jamur dan kemudian mengganti sejumlah fungsi sel yang berhubungan
dengan membran
Farmakokinetik
·
Itrakonazol akan diserap
lebih sempurna melalui saluran cerna, bila diberikan bersama dengan makanan.
Dosis 100 mg/hari selama 15 hari akan menghasilkan kadar puncak sebesar 0,5
µg/ml.
·
Waktu paruh eliminasi obat
ini 36 jam (setelah 15 hari pemakaian).
Sediaan
dan dosis
·
Itrakonazol tersedia dalam
kapsul 100 mg.
·
Untuk dermatofitosis
diberikan dosis 1 x 100mg/hari selama 2-8 minggu
·
Kandidiasis vaginal diobati
dengan dosis 1 x 200 mg/hari selama 3 hari.
·
Pitiriasis
versikolor memerlukan dosis 1 x 200 mg/hari selama 5 hari.
·
Infeksi
berat mungkin memerlukan dosis hingga 400 mg sehari.
Efek samping
·
Kemerahan,
·
pruritus,
·
lesu,
·
pusing,
·
edema,
·
parestesia
·
10-15%
penderita mengeluh mual atau muntah tapi pengobatan tidak perlu dihentikan
Indikasi
·
Itrakonazol memberikan
hasil memuaskan untuk indikasi yang sama dengan ketokonazol antara lain
terhadap blastomikosis, histoplasmosis, koksidiodimikosis,
parakoksidioidomikosis, kandidiasis mulut dan tenggorokan serta tinea
versikolor.
§
Flukanozol
Farmakokinetik
·
Obat
ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya makanan
ataupun keasaman lambung.
·
Kadar
puncak 4-8 µg dicapai setelah beberapa kali pemberian 100 mg.
·
Waktu
paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal melebihi 90% bersihan
ginjal.
Sediaan
dan dosis
·
Flukonazol tersedia untuk
pemakaian per oral dalam kapsul yang mengandung 50 dan 150mg.
·
Dosis
yang disarankan 100-400 mg per hari.
·
Kandisiasis
vaginal dapat diobati dengan dosis tunggal 150 mg.
Efek
samping
·
Gangguan
saluran cerna merupakan ESO paling banyak
·
Reaksi
alergi pada kulit, eosinofilia, sindrom stevensJohnson.
Indikasi
·
Flukonazol dapat mencegah
relaps meningitis oleh kriptokokus pada penderita AIDS setelah pengobatan
dengan Amfoterisin B. Obat ini juga efektif untuk pengobatan kandidiasis mulut
dan tenggorokan pada penderita AIDS.
§
Kalium iodida
·
Kalium Iodida adalah obat
terpilih untuk Cutaneous lymphatic sporotrichosis
Efek
samping
·
mual
·
rinitis
·
salivasi
·
lakrimasi
·
rasa
terbakar pada mulut dan tenggorok
·
iritasi
pada mata
·
sialodenitis
dan akne pustularis pada bagian atas bahu
DOSIS
·
Kalium
iodida diberikan dengan dosis 3 kali sehari 1 ml larutan penuh (1g/ml).
·
Dosis
ditingkatkan 1 ml sehari sampai maksimal 12-15 ml.
·
Penyembuhan
terjadi dalam 6-8 minggu, namun terapi masih dilanjutkan sampai sedikitnya 4
minggu setelah lesi menghilang atau tidak aktif lagi
b. Anti jamur untuk infeksi topikal
§ Griseofulvin
·
Griseofulvin adalah
antibiotik anti jamur yang dihasilkan oleh sejumlah spesies Penicillium dan
pertama kali diperkenalkan adalah berbentuk obat oral yang diperuntukkan bagi
pengobatan penyakit dermatophytosis
Mekanisme Kerja
·
Griseofulvin à kelompok
obat fungistatis yang mengikat protein-potein mikrotubular dan berperan untuk
menghambat mitosis sel jamur.
·
Selain
itu, griseofulvin juga inhibitor (penghambat) bagi sintensis asam nukleat.
Farmakokinetik
·
Griseofulvin kurang baik
penyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena obat ini tidak larut dalam
air.Penyerapan lebih mudah bila
griseofulvin diberikan bersama makanan berlemak
·
Dosis
oral 0.5 hanya akan menghasilkan kadar puncak dalam plasma kira-kira 1 µg/ml
setelah 4 jam.
·
Obat
ini mengalami metabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah
6-metilgriseofulvin.
·
Waktu
paruh obat ini kira-kira 24 jam, 50% dari dosis oral yang diberikan dikeluarkan
bersama urin dalam bentuk metabolit selama 5 hari.
Efek
samping
·
Leukopenia
dan granulositopenia à menghilang bila terapi dilanjutkan.
·
Sakit
kepala à keluhan utama pada kira-kira 15% penderita yang biasanya
hilang sendiri sekalipun pemakaian obat dilanjutkan.
·
artralgia,
neuritis perifer, demam, pandangan mengabur, insomnia, berkurangnya
kecakapan, pusing dan sinkop, pada saluran cerna dapat terjadi rasa kering
mulut, mual, muntah, diare dan flatulensi.
·
Pada
kulit dapat terjadi urtikaria, reaksi fotosensitivitas, eritema multiform,
vesikula dan erupsi menyerupai morbili.
Indikasi
·
Efektif untuk infeksi jamur
di kulit, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh jamur Microsporum, Tricophyton,
dan Epidermophyton.
Sediaan
dan dosis
·
Griseofulvin tersedia dalam
bentuk tablet berisi 125 dan 500 mg dan suspesi mengandung 125 mg/ml.
·
Pada anak griseofulvin
diberikan 10 mg/kgBB/hari
·
Untuk dewasa 500-1000
mg/hari dalam dosis tunggal.
·
Hasil memuaskan akan
tercapai bila dosis yang diberikan dibagi empat dan diberikan setiap 6 jam
Kontraindikasi
·
Griseofulvin bersifat
kontraindikasi pada pasien penderita penyakit liver karena obat ini menyebabkan
kerusakan fungsi hati
·
Imidazol dan Triazol
·
Griseofulvin adalah
antibiotik anti jamur yang dihasilkan oleh sejumlah spesies Penicillium dan
pertama kali diperkenalkan adalah berbentuk obat oral yang diperuntukkan bagi
pengobatan penyakit dermatophytosis
Mekanisme Kerja
Mekanisme Kerja
·
Griseofulvin à kelompok
obat fungistatis yang mengikat protein-potein mikrotubular dan berperan untuk
menghambat mitosis sel jamur.
·
Selain
itu, griseofulvin juga inhibitor (penghambat) bagi sintensis asam nukleat.
Farmakokinetik
·
Griseofulvin kurang baik
penyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena obat ini tidak larut dalam
air.Penyerapan lebih mudah bila
griseofulvin diberikan bersama makanan berlemak
·
Dosis
oral 0.5 hanya akan menghasilkan kadar puncak dalam plasma kira-kira 1 µg/ml
setelah 4 jam.
·
Obat
ini mengalami metabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6-metilgriseofulvin.
·
Waktu
paruh obat ini kira-kira 24 jam, 50% dari dosis oral yang diberikan dikeluarkan
bersama urin dalam bentuk metabolit selama 5 hari.
Efek samping
·
Leukopenia
dan granulositopenia à menghilang bila terapi dilanjutkan.
·
Sakit kepala à keluhan utama pada
kira-kira 15% penderita yang biasanya hilang sendiri sekalipun pemakaian obat
dilanjutkan.
·
artralgia,
neuritis perifer, demam, pandangan mengabur, insomnia, berkurangnya
kecakapan, pusing dan sinkop, pada saluran cerna dapat terjadi rasa kering
mulut, mual, muntah, diare dan flatulensi.
·
Pada
kulit dapat terjadi urtikaria, reaksi fotosensitivitas, eritema multiform,
vesikula dan erupsi menyerupai morbili.
Indikasi
·
Efektif untuk infeksi jamur
di kulit, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh jamur Microsporum, Tricophyton,
dan Epidermophyton.
Sediaan dan dosis
·
Griseofulvin tersedia dalam
bentuk tablet berisi 125 dan 500 mg dan suspesi mengandung 125 mg/ml.
·
Pada anak griseofulvin
diberikan 10 mg/kgBB/hari
·
Untuk dewasa 500-1000 mg/hari
dalam dosis tunggal.
·
Hasil memuaskan akan
tercapai bila dosis yang diberikan dibagi empat dan diberikan setiap 6 jam
MIKONAZOL
·
Mikonazol merupakan turunan
imidazol sintetik yang relatif stabil, mempunyai spektrum ani jamur yang lebar
baik terhadap jamur sistemik maupun jamur dermatofit.
Mekanisme Kerja
·
Mikonazol
menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan permeabilitas membran sel jamur
meningkat
Farmakokinetik
·
Daya
absorbsi Miconazole melalui pengobatan oral kurang baik..
·
Miconazole
sangat terikat oleh protein di dalam serum. Konsentrasi di dalam CSF tidak
begitu banyak, tetapi mampu melakukan penetrasi yang baik ke dalam peritoneal
dan cairan persendian.
·
Kurang
dari 1% dosis parenteral diekskresi di dalam urin dengan komposisi yang tidak
berubah, namun 40% dari total dosis oral dieliminasi melalui kotoran dengan
komposisi yang tidak berubah pula.
·
Miconazole
dimetabolisme oleh liver dan metabolitnya diekskresi di dalam usus dan urin.
Tidak satupun dari metabolit yang dihasilkan bersifat aktif
Indikasi
·
Diindikasikan
untuk dermatofitosis, tinea versikolor, dan kandidiasis mukokutan.
Efek
samping
·
Berupa
iritasi dan rasa terbakar dan maserasi memerlukan penghentian terapi.
Sediaan
dan dosis
·
Obat ini tersedia dalam bentuk
krem 2% dan bedak tabur yang digunakan 2 kali sehari selama 2-4 minggu.
Indikasi
·
Krem 2 % untuk penggunaan
intravaginal diberikan sekali sehari pada malam hari untuk mendapatkan retensi
selama 7 hari.
·
Gel 2%
tersedia pula untuk kandidiasis oral.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Mengingat tempat infeksi jamur di daerah yang
vaskularisasinya (aliran darah) sangat rendah maka pemberian obat secara topical sangat penting. Dengan demikian sangat penting adanya
antifungi lokal maupun antifungi
sistemik. Antifungi dapat diklasifikasikan berdasarkan cara kerjanya ataupun strukrur kimiawinya
3.2
Saran
Semoga apa yang kami sampaikan bisa
bermanfaat. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.
Terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Komentar
Posting Komentar