MAKALAH FARMAKOLOGI ANTI BIOTIK
MAKALAH
FARMAKOLOGI
ANTI BIOTIK

DI SUSUN OLEH
KARINA ANGGRAINI
KARINA ANGGRAINI
NIM 14390018
POLITEKNIK
KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN
FARMASI
TAHUN 2017
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas
rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah Farmakologi yang
berjudul “ANTI BIOTIK”. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan
persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah farmakologi.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan,
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang
dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis
harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima
kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan
tugas makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita
semua.amin.
Tim
Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Terminologi antibiotik
didefinisikan sebagai suatu senyawa organik hasil metabolisme dari
mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan dan
bahkan mematikan mikroorganisme lain akibat aktivitas sejumlah kecil senyawa
antibiotik tersebut. Antibiotik memiliki kegunaan yang sangat luas
dibidang farmasi dan pertanian dan dibedakan atas antibiotik yang
bersifat anti bakteri atau anti mikroba, anti jamur dan anti tumor. Penisilin,
tetrasiklin, eritromisin dan streptomisin merupakan contoh-contoh
antibiotik yang bersifat anti bakteri (Sarah, M. 2002).
1.2.
Tujuan
Penulisan
-
Ingin
memperdalam pengetahuan mengenai obat Antibiotik yaitu obat yang menghambat pertumbuhan organisme lain pada golongan Penisillin
-
Untuk
melengkapi tugas mata kuliah kimia farmasi.
1.3.
Manfaat Penulisan
-
Bisa dengan mudah kita untuk memahami macam - macam
golongan penisillin, mekanisme kerja, dan efek samping antibiotik.
-
Memahami
lebih dalam lagi tentang Antibiotik terutama
mengenai Penisillin
BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1.
Definisi Antibotik
Antibiotika berasal dari bahasa latin yang terdiri
dari anti = lawan, bios = hidup. Antibiotika adalah zat-zat yang
dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan bakteri tanah, yang dapat menghambat
pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain, sedangkan toksisitasnya terhadap
manusia relatif kecil.
Antibiotik pertama kali ditemukan oleh sarjana Inggris
dr.Alexander Fleming (Penisilin) pada tahun 1928. Tetapi penemuan ini baru
dikembangkan dan digunakan dalam terapi di tahun 1941 oleh dr.Florey. Kemudian
banyak zat dengan khasiat antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik lain
di seluruh dunia, namun toksisitasnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan
sebagai obat. Antibiotik juga dapat dibuat secara sintetis atau semisintetis.
2.2. Mekanisme Kerja Antibiotik
Mekanisme kerja antibiotika antara lain :
a.
Menghambat
sintesa dinding sel, akibatnya pembentukan dinding sel tidak sempurna dan tidak
dapat menahan tekanan osmosa dari plasma, akhirnya sel akan pecah, seperti
penisilin dan sefalosporin.
b.
Menghambat
sintesa membran sel, molekul lipoprotein dari membran sel dikacaukan
pembentukannya, hingga bersifak lebih permeabel akibatnya zat-zat penting dari
isi sel dapat keluar seperti kelompok polipeptida.
c.
Menghambat
sintesa protein sel, akibatnya sel tidak sempurna terbentuk seperti
klindamisin, linkomisin, kloramfenikol, makrolida, tetrasiklin, gentamisin.
d.
Mengganggu
pembentukan asam-asam inti (DNA
dan RNA) akibatnya sel tidak dapat berkembang seperti metronidasol, kinolon,
novobiosin, rifampisin.
e.
Menghambat
sintesa folat seperti sulfonamida dan trimetoprim.
2.3.
Efek
Samping Antibiotika
Efek samping dari antibiotika yaitu :
a.
Sensitisasi/hipersensitif,
seperti gatal-gatal, kulit kemerah-merahan, bentol-bentol atau lebih hebat lagi
dapat terjadi syok. Contohnya penisilin dan klorampenikol.
b.
Resistensi,
terjadi bila obat digunakan dengan dosis yang terlalu rendah atau waktu terapi
kurang lama. Untuk mencegah resistensi dianjurkan menggunakan kemoterapi dengan
dosis yang tepat atau dengan menggunakan kombinasi obat.
c.
Superinfeksi,
yaitu infeksi sekunder yang timbul selama pengobatan dimana sifat dan penyebab
infeksi berbeda dengan penyebab infeksi yang pertama. Selain antibiotik yang
menekan sistem kekebalan tubuh yaitu kortikosteroid dan imunosupressiva lainnya
dapat menimbulkan suprainfeksi.
2.4.
Penggolongan Antibiotik
2.4.1. Pengolongan berdasarkan
luas aktivitas kerjanya
a.
Zat-zat
dengan aktivitas sempit (narrow spektrum)
Zat yang aktif terutama terhadap satu atau beberapa jenis
bakteri saja (bakteri gram positif atau bakteri gram negatif saja). Contohnya
eritromisin, kanamisin, klindamisin (hanya terhadap bakteri gram positif),
streptomisin, gentamisin (hanya terhadap bakteri gram negatif saja).
b.
Zat-zat
dengan aktivitas luas (broad spektrum)
Zat yang berkhasiat terhadap semua jenis bakteri baik
jenis bakteri gram positif maupun gram negatif. Contohnya ampisilin,
sefalosporin, dan klorampenikol.
2.4.2. Pengolongan berdasarkan
mekanisme kerja
a. Penghambatan
sintetis dinding bakteri
b. Penghambat
membran sel
c. Penghambatan
sintetis protein di ribosom
d. Penghambatan
sintetis asam nukleat
e. Penghambatan
metabolik (antagonis folat)
![]() |
Dari masing-masing golongan terdapat mekanisme kerja, farmakokintetik, farmakodinamik, serta aktivitas antimikroba yang berbeda-beda. Perbedaan ini menyebabkan perbedaan kegunaan di dalam klinik Karena perbedaan ini juga maka mekanisme resisistensi dari masing-masing golongan juga mengalami perbedaan.
Gambar
1. Tempat Kerja dari Masing-Masing Golongan Antibiotik
2.4.3. Pengolongan berdasarkan
daya kerjanya
a.
Bakterisid :
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman. Termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.
Antibiotika yang bakterisid secara aktif membasmi kuman. Termasuk dalam golongan ini adalah penisilin, sefalosporin, aminoglikosida (dosis besar), kotrimoksazol , polipeptida, rifampisin, isoniazid dll.
b.
Bakteriostatik :
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan kuman, tidak membunuhnya, sehingga pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dll.
Antibiotika bakteriostatik bekerja dengan mencegah atau menghambat pertumbuhan kuman, tidak membunuhnya, sehingga pembasmian kuman sangat tergantung pada daya tahan tubuh. Termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamida, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, trimetropim, linkomisin, makrolida, klindamisin, asam paraaminosalisilat, dll.
2.4.4. Pengolongan berdasarkan
struktur kimianya
a.
Golongan
Aminoglikosida
Diantaranya amikasin, dibekasin, gentamisin, kanamisin, neomisin,
netilmisin, paromomisin, sisomisin, streptomisin, tobramisin.
b.
Golongan
Beta-Laktam
Diantaranya golongan
karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin,
sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam
monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin).
c.
Golongan
Glikopeptida
Diantaranya
vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.
d.
Golongan
Poliketida
Diantaranya golongan
makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), golongan
ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin,
klortetrasiklin).
e.
Golongan
Polimiksin
Diantaranya polimiksin dan kolistin.
Diantaranya polimiksin dan kolistin.
f.
Golongan
Kinolon (fluorokinolon)
Diantaranya asam
nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan
trovafloksasin.
g.
Golongan
Streptogramin
Diantaranya
pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin.
h.
Golongan
Oksazolidinon
Diantaranya linezolid
dan AZD2563.
i.
Golongan
Sulfonamida
Diantaranya
kotrimoksazol dan trimetoprim.
j.
Antibiotika
lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat.
BAB
III
TINJAUAN
KHUSUS
2.1. Sejarah Penisilin
Pada tahun 1928 di London, Alexander Fleming menemukan
antibiotika pertama yaitu Penisilin yang satu dekade kemudian dikembangkan oleh
Florey dari biakan Penicillium notatum
untuk penggunaan sistemik. Kemudian digunakan P. chrysogenum yang menghasilkan Penisilin lebih banyak.
Penisilin yang digunakan dalam pengobatan terbagi
dalam penisilin alam dan penisilin semisintetik. Penisilin semisintetik
diperoleh dengan cara mengubah struktur kimia Penisilin alam atau dengan cara
sintesis dari inti Penisilin, yaitu asam 6-aminopenisilanat (6-APA). Sebagai bahan dasar untuk penisilin
semisintetik, 6-APA dapat pula
diperoleh dengan memecah rantai samping.
Penicillin yang paling terkenal dan pertama ditemukan
adalah penicillin-G yang ditemukan oleh Flamming pada 1929. Senyawa ini
dihasilkan dari pembenihan spesies Penisillium notatum. Sifat dari penicillin-G adalah kepekaannya terhadap
penghacuran cincin β-lactam oleh
senyawa β-lactamase dan tidak aktif
secara relative terhadap kebanyakan bakteri gram negatif. Pengembangan terhadap
Penicillin menghasilkan
turunan-turunan penicillin yang lebih stabil terhadap asam dan aktif terhadap
bakteri gram (-) maupun gram (+).
2.2. Struktur Dasar Penisilin
Penisilin merupakan asam organik, terdiri dari satu
inti siklik dengan satu rantai samping. Inti siklik terdiri dari cincin
tiazolidin dan cincin betalaktam. Rantai samping merupakan gugus amino bebas
yang dapat mengikat berbagai jenis radikal. Dengan mengikat berbagai radikal
pada gugus amino bebas tersebut akan diperoleh berbagai jenis penisilin,
misalnya pada penisilin G, radikalnya adalah gugus benzyl. Penisilin G untuk
suntikan biasanya tersedia sebagai garam Na atau K. Bila atom H pada gugus
karboksil diganti dengan prokain, diperoleh penisilin G prokain yang sukar
larut dalam air, sehingga dengan suntikan IM akan didapatkan absorpsi yang
lambat dan masa kerja lama.
Beberapa penisilin akan berkurang aktivitas antimikrobanya
dalam suasana asam sehingga penisilin kelompok ini harus diberikan secara
parenteral. Penisilin lain hilang aktivitasnya bila dipengaruhi enzim
betalaktamase (dalam hal ini, penisilinase) yang memecah cincin betalaktam.
Radikal tertentu pada gugus amino inti 6-APA
dapat mengubah sifat kerentanan terhadap asam, penisilinase, dan spektrum sifat
antimikroba. Beberapa bentuk ester penisilin, misalnya pivampisilin dan
bakampisilin, mempunyai bioavailabilitas yang lebih baik.
Gambar 2.1.
Inti Penisilin

2.3. Jenis Penisilin
Beberapa
jenis penisilin :
a. Penisilin
Alam
- Benzil
penisilin (Penisilin G)
- Fenoksimetil
Penisilin (Penisilin V)
b.Penisilin
Antistafilokokus
- Metisilin
- Nafsilin
c. Penisilin
Isoksazolil
- Oksasilin
- Kloksasilin
- Dikloksasilin
- Flukloksasilin
d.Aminopenisilin
- Ampisilin
- Amoksisilin
e. Penisilin
Antipseudomonas
- Karbenisilin
- Tikarsilin
- Azlosilin
f. Penisilin
dengan Spektrum Diperluas
- Mezlosilin
- Piperasilin
2.4. Aktivitas Antimikroba
Penisilin menghambat pembentukan Mukopeptida yang
diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba. Terhadap mikroba yang sensitif,
Penisilin akan menghasilkan efek bakterisid (membunuh kuman) pada mikroba yang
sedang aktif membelah. Mikroba dalam keadaan metabolik tidak aktif (tidak
membelah), yang disebut juga sebagai persisters, praktis tidak dipengaruhi oleh
Penisilin; kalaupun ada pengaruhnya hanya bakteriostatik (menghambat
perkembangan).
Mekanisme kerja antibiotika betalaktam dapat diringkas
dengan urutan sebagai berikut :
a.
Obat
bergabung dengan penicillin-binding
protein (PBPs) pada kuman.
b.
Terjadi
hambatan sintesis dinding sel kuman karena proses transpeptidasi antar rantai
peptidoglikan terganggu.
c.
Kemudian
terjadi aktivasi enzim proteolitik pada dinding sel.
Di antara semua penisilin, penisilin G mempunyai
aktivitas terbaik terhadap kuman gram-positif yang sensitive. Kelompok
ampisilin, walaupun spectrum AMnya lebar, aktivitasnya terhadap mikroba
gram-positif tidak sekuat penisilin G, tetapi efektif terhadap beberapa mikroba
gram-negatif dan tahan asam, sehingga dapat diberikan per oral.3
2.5. Resistensi dari Penisilin
Resistensi terhadap penisilin dibagi dalam beberapa
kategori yang berbeda :
a.
Bakteri
tertentu (misalnya, kebanyakan Staphylococcus
aureus, beberapa Haemophilus
influenzae dan gonokoku, kebanyakan batang enterik gram negatif)
menghasilkan beta-laktamase, yang menginaktifkan beberapa penisilin dengan
memecah cincin beta-laktam. Kontrol genetik pada pembentukan beta-laktamase
terdapat kira-kira 50 enzim berbeda, satu sama lain terletak pada plasmid yang
dapat dipindahkan. Penisilin lain (misalnya, nafsilin) dan sefalosporin
resisten terhadap beta-laktamase karena cincin beta-laktam tersebut dilindungi
oleh bagian aktif terhadap organisme penghasil beta-laktamase.
b.
Bakteri
lain tidak membentuk beta-laktamase tetapi resisten terhadap kerja penisilin
karena urang mempunyai reseptor spesifik atau kurangnya permeabilitas lapisan
luar, sehingga obat tersebiut tidak mencapai reseptor.
c.
Beberapa
bakteri mungkin tiddak rentan terhadap kerja penisilin yang mematikan karena
enzim autolik di dalam dinding sel tidak aktif. Organisme yang ”toleran”
tersebut (misalnya, stafilokokus tertent, streptokokus, Listeria) dihambat tetapi tidak dibunuh.
d.
Organisme
tanpa dinding sel atau(bentuk Myoplasma L)
yang secara metabolik tidak aktif bersifat tidak rentan terhadap penisilin dan
penghambat dinding sel lainnya karena mereka tidak mensintesis peptidoglikan.
e.
Beberapa
bakteri (misalnya, stafilokokus) mungkin resisten terhadap kerja penisilin yang
resisten terhadap beta-laktamase seperti metisilin.mekanisme resisten ini
tampaknya bergantung pada defisiensi atau tidak dapat dicapainya reseptor PBP.
Hal ini tidak bergantung pada produksi beta-laktamase dan frekuensinya sangat
bervariasi dengan lokasi geografis.
2.6. Farmakokinetik dari Penisilin
a. Absorpsi
Penisilin G mudah rusak dalam suasana asam (pH 2).
Cairan lambung dengan pH 4 tidak terlalu merusak penisilin. Garam Na penisilin G yang diberikan oral, diabsorpsi
terutama di duodenum. Absorpsi di duodenum ini cukup cepat, tetapi hanya 1/3
bagian dosis oral diserap. Adanya makanan akan menghambat absorpsi, yang
mungkin disebabkan absorpsi penisilin pada makanan. Kadar maksimal dalam darah
tercapai dalam 30 sampai 60 menit. Sisa 2/3 dari dosis oral diteruskan ke
kolon. Di sini terjadi pemecahan oleh bakteri dan hanya sebagian kecil obat
yang keluar bersama tinja.
Bila dibandingkan dosis oral terhadap IM, maka untuk
mendapatkan kadar efektif dalam darah, dosis penisilin G oral haruslah 4 sampai
5 kali lebih besar daripada dosis IM. Oleh karena itu penisilin G tidak
dianjurkan untuk diberikan oral.
Larutan garam Na-penisilin G 300.000 UI (= 180 mg) yang
disuntikkan IM, cepat sekali diabsorpsi dan menghasilkan kadar puncak dalam
plasma setinggi 8 UI (= 4,8 ug/ml) dalam waktu 15 sampai 30 menit. Untuk memperlambat
absorpsinya, penislin G dapat diberikan dalam bentuk repository, umpamanya
penisilin G benzatin, penisilin G prokain sebagai suspensi dalam air atau
minyak.
Penisilin tahan asam pada umumnya dapat menghasilkan
kadar obat yang dikehendaki dalam plasma dengan penyesuaian dosis oral yang
tidak terlalu bervariasi; walaupun beberapa penisil oral diabsorpsi dalam
proporsi yang cukup kecil. Adanya makanan akan menghambat absorpsi; tetapi
beberapa di antaranya dihambat secara tidak bermakna. Penisiln V walaupun
relative tahan asam, 30% mengalami pemecahan di saluran cerna bagian atas,
sehingga tidak sempat diabsorpsi. Jumlah ampisilin dn senyawa sejenisnya yang
diabsorpsi pada pemberian oral dipengaruhi besarnya dosis dan ada tidaknya
makanan dalam saluran cerna. Dengan dosis lebih kecil persentase yang
diabsorpsi relative lebih besar.
Absorpsi ampisilin oral tidak lebih baik daripada
penisilin V atau fenetisilin. Adanya makanan dalam saluran cerna akan
menghambat absorpsi obat. Perbedaan absorpsi ampisilin bentuk trihidrat dan
bentuk anhidrat tidak memberikan perbedaan bermakna dalam penggunaan di klinik.
Sering absorpsi ampisilin oral tidak cukup memuaskan sehingga perlu
meningkatkan dosis. Ester ampisilin misalnya pivampisilin, bakampisilin dan
hetasilin diabsorpsi lebih baik daripada ampisilin. Berbagai enzim dalam mukosa
saluran cerna, serum dan jaringan lain menghidrolisis ester-ester ini dan
membebaskan ampisilin.
Absorpsi amoksisilin di saluran cerna jauh lebih baik
daripada ampisilin. Dengan dosis oral yang sama, amoksisilin mencapai kadar
dalam darah yang tingginya kira-kira 2 kali lebih tinggi daripada yang dicapai
oleh ampisilin, sedang masa paruh eliminasi kedua obat ini hampir sama.
Penyerapan ampisilin terhambat oleh adanya makanan di lambung, sedang
amoksisilin tidak.
Mesilin dan nafsilin tidak diberikan peroral sebab cepat
dirusak oleh asam lambung dan absorpsinya buruk. Karbenisilin tidak diabsorpsi
di saluran cerna. Dalam bentuk ester, indanil karbenisilin sangat tahan asam
dan dapat diberikan oral. Pada pemberian 1 g IM, kadar puncak karbenisilin
dalam plasma mencapai 15 sampai 20 μg/ml dalam 0,5 sampai 2 jam. Aktivitasnya
hilang sekitar 6 jam sesudah pemberian. Waktu paruh eliminasi pada indivudi
dengan fungsi ginjal normal, sekitar 1 jam dan dapat memanjang hingga 2 jam
bila ada kelainan fungsi hati. Sekitar 50% obat ini terikat pada protein
plasma.
b.Distribusi
Penisilin G didistribusi luas dalam tubuh.
Ikatan proteinnya ialah 65%. Kadar obat yang memadai dapat tercapai dalam hati,
empedu, ginjal, usus, limfe dan semen, tetapi dalam CSS
sukar dicapai. Bila meningen dalam keadaan normal, sukar sekali dicapai kadar
0,5 UI/ml dalam CSS walaupun kadar
plasmanya 50 UI/ml. Adanya radang meningen lebih memudahkan penetrasi penisilin
G ke CSS tetapi tercapai tidaknya
kadar efektif tetap sukar diramalkan. Pemberian intratekal jarang dikerjakan karena risiko yang lebih tinggi dan
efektivitasnya tidak lebih memuaskan.
Distribusi fenoksimetil penisilin, fenitisilin, penisilin
isoksazolil dan metisilin pada umumnya sama dengan penisilin G. Dengan dosis
yang sama kadar puncak dalam serum tertinggi dicapai oleh diklosasilin,
sedangkan kadar tertinggi obat bebas dalam serum dicapai oleh flukloksasilin.
Distribusi amoksisilin secara garis besar sama dengan
ampisilin. Karbenisilin pada umumnya memperlihatkan sifat distribusi yang sama
dengan penisilin lainnya termasuk distribusi ke dalam empedu, dan dapat
mencapai CSS pada meningitis.
2.7.Penggunaan Klinik
Obat ini dikenal karena paling luas kegunaannya. Semua
penicillin oral harus diberikan
minimal 1 jam sebelum/sesudah makan.
- Penicillin-G
Obat ini masih digunakan pada infeksi pneumococcus,
streptococcus, meningococcus, staphilococcus yang tidak menghasilkan β-lactamase, gonococcus, Treponema pallidum, Bacillus anthracic dan bakreti gram (+) lainnya, clostridium,
actinomyces, listeria, dan bacterioid.
Kebanyakan dosis yang digunakan adalah dosis sehari (6 gram) dan umumnya
diberikan secara bolus intermittent IV. Penicillin-V
diindikasikan pada infeksi ringan saluran pernafasan dengan dosis harian
1-4 g. Pemberian oral tidak boleh diberikan terhadap infeksi yang berat.
- Benzathine Penicillin
Obat ini berbentuk garam yang mempunyai kelarutan
dalam air yang sangat rendah dan menghasilkan kadar rendah tetapi bertahan
lama. Kegunaannya adalah diberikan secara 1,2 juta unit IM untuk profilaksi
reinfeksi streptokokus selama 3-4 minggu.
- Ampicillin, Amoxicillin, carbenicillin, Ticarcillin, Piperacillin, mezlocillin, Azlocillin
Obat ini berbeda dengan penicillin-G karena punya akitivitas lebih besar terhadp bakteri
gram (-).
Ampicillin
dan amoxicillin mempunyai aktivitas
sama. Namun amoxicillin lebih mudah
diserap dalam usus. Diberikan secara oral untuk ISK oleh bakteri koliformis
gram (-) dan infeksi bakteri campuran saluran nafas (sinusitis, otitis,
bronchitis). Dosis yang diberikan adalah
250-500 mg 3x sehari. Obat ini kurang efektif terhadap enterobacter,
pseudomonas dan gastroenteritis salmonella noninvasive.
Carbenicillin
lebih efektif terhadap pseudomonas dan proteus namun lebih cepat menjadi
resisten. Pemberian dengan dosis 12-30g/hari IV biasanya diberikan berkombinasi
dengan antibiotik golongan lain untuk pengobatan sepsis pseudomonas pada luka
baker.
Ticarcillin
menyerupai carbenicillin tetapi dosisnya lebih rendah (200-300mg/kg/hari). Obat
yang lain mempunyai aktivitas yang kebanyakan sama
- Penicillin yang resisten terhadap β-lactamase
Golongan yang resisten terhadap β-lactamase adalah Oxacillin,
Cloxacillin, Dicloxacillin, dan Nafcillin.
Indikasi penggunaan hanya digunakan pada infeksi staflokokus penghasil β-lactamase. Dosis yang digunakan adalah
0,25-0,5 g setiap 4-6 jam peroral. Untuk infeksi yang berat diberikan 8-12
g/hari nafcillin intermittent bolus
IV tiap 2-4 jam (1-2 g tiap pemberian). Methicillin
jarang digunakan karena bersifat nefrotoksis.
2.8. Efek Samping dari Penisilin
a.
Reaksi
hipersensitif, mulai ruam dan gatal sampai serum sickness dan reaksi
alergi sistemik yang serius.
b. Nyeri tenggorokan atau lidah, lidah terasa berbulu
lembut, muntah, diare.
c.
Mudah marah, halusinasi,
kejang.
d.
Reaksi alergi dapat
terjadi sebagai syok anafilaktik yang khas.
2.9. Sediaan dari Penisilin
a.
Amoksisilin
dan campurannya (asam klavulamat)
§ Bentuk tablet atau kapsul dengan kandungan Amoksisilin
250mg, 500 mg dan 875 mg. Agar Amoksisilin tidak
rusak oleh asam lambung, Amoksisilin ada yang dikombinasi dengan asam
Klavulamat 125 mg. Untuk sediaan ini tidak boleh dibagi/diracik karena
kandungan optimum Asam Klavulamat untuk bentuk sediaan tablet 125 mg.
§ Bentuk
sediaan sirup dengan kandungan Amoksisilin 125 dan 250 mg / 5 ml. Bila
dikombinasi dengan Asam Kavulamat, 31,25 mg Asam Klavulamat dan 125 mg
Amoksisilin atau 62,5 mg Asam Klavulamat dan 250 mg Amoksisilin.
§ Untuk
sediaan injeksi biasa dalam bentuk vial 1.000 mg, dengan kombinasi Asam
Klavulamat 200 mg.
b. Ampisilin
§
Bentuk
sediaan kapsul atau tablet dengan kandungan 250 mg, 500 mg atau 1000 mg.
§
Bentuk
sediaan sirup dengan kandungan 125 mg atau 250 mg/5 ml sirup.
§
Untuk
sediaan injeksi biasa dalam bentuk vial dengan kandungan 200 mg, 500 mg dan
1.000 mg Ampisilin. Dan ada kombinasi 1.000 mg Ampisilin dan 500 mg Sulbactam
atau 500 mg Ampisilin dan 250 mg Sulbactam.
c.
Flucloxacilin
§
Di
pasaran terdapat dalam bentuk kapsul dengan kandungan 250 mg dan 500 mg zat
aktif juga dalam bentuk sirup dengan kandungan zat aktif 125 mg / 5 ml.
d.
Cloxacilin
§
Di
pasaran terdapat dalam bentuk kapsul dengan kandungan 250 mg dan 500 mg zat
aktif juga dalam bentuk vial dengan kandungan zat aktif 250 mg, 500 mg dan
1.000 mg /vial.
e.
Piperacilin
§
Di
pasaran terdapat dalam kombinasi; 4 gram Piperacilin dengan 500 mg Tazobactam
dalam bentuk vial.
f.
Sulbenicilin
§
Di
pasaran terdapat dalam bentuk vial dengan kandungan 1 gram dan 2 gram zat
aktif.
g.
Derivat
penisilin lainnya
§
Seperti
Phenoxymethyl Penicillin dan Benzathine Penicillin dalam bentuk vial untuk
pemakaian injeksi.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1.1
Kesimpulan
Sampai saat ini penisilin merupakan antibiotika
yang paling luas penggunaannya. Beberapa ribu ton obat ini telah diberikan pada
manusia selama 40 tahun yang lalu. Populasi pada banyak negara dalam proporsi yang bermakna (mungkin 1-5%)
telah menjadi hipersensitif. Dalam banyak kasus, tidak diragukan bahwa
sensitisasi dapat timbul bila penisilin diberikan tanpa indikasi yang tepat.
Namun, hipersensitivitas bersifat sementara.
Kejenuhan lingkungan tertentu (misalnya, rumah
sakit) pada penisilin telah menghasilkan penekanan terseleksi terhadap
mikroorganisme yang sensitif penisilin dan menghasilkan lebih banyak organisme
yang resisten terhadap penisilin. Dalam tahun 1950-an, rumah sakit menjadi
tempat yang penting untuk proliferasi dan seleksi stafilokokus penghasil
betalaktamase. Sekarang stafilkokus penghasil betalaktamase terdapat
dimana-mana dan menyebabkan 80% infeksi stafilokokus yang terdapat di
masyarakat.
Penekanan pada flora normal menghasilkan sebagian
kekosongan yang biasanya diisi oleh organisme resisten obat yang lazim
ditemukan. Penisilin diberikan sebagian besar penderita di rumah sakit. Penderita
tersebut dibuat rentan terhadap penyakit secara selektif terhadap superinfeksi
dengan mikroorganisme yang berasal dari lingkungan rumah sakit (proteus,
pseudomonas, enterobakter, serratia, stafilokokus, dan sebagainya).
1.2
Saran
Gunakan
antibiotik
Penisilin dengan dosis yang sesuai untuk
menghindari terjadinya efek samping yang akan merugikan
untuk kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (2013), Antibiotic, Wikipedia, diambil
tanggal 10 Juni 2013, dari http://en.wikipedia.org/wiki/Antibiotic
Bhat, V., (2013), Classification of
Antibiotik, Mediacal Notebook, diambil tanggal 10 Juni 2013, dari http://pre-pg.blogspot.com/2007/03/classification-of-antibiotics.html
Darmansjah, I., Nelwan, R., (1994) Antibiotic guideline : Farmacological, medical journal of university of Indonesia. diambil tanggal 10 Juni 2013, dari http://www.iwandarmansjah.web.id/attachment/at_antibiotic%20guidelines.pdf
Katzung, E.G, (1997), Obat-Obat
Kemoterapeutika, dalam Farmakologi Dasar & Klinik, EGC : Jakarta
Rosen, E.J., Quinn, F.B., (2000), Microbiology, infections, and
antibiotic therapy, diambil tanggal 10
Juni 2013, dari http://www.utmb.edu/
otoref/grnds/Infect-0003/Infect-0003.pdf

Komentar
Posting Komentar