LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA
LAPORAN
PENDAHULUAN
KEPERAWATAN
JIWA

DISUSUN OLEH :
DIAH AYU APRILIYANA
1614401020
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNGKARANG
JURUSAN KEPERAWATAN TANJUNGKARANG
TAHUN 2017
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur atas kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rakhmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini penulis
banyak memperoleh bantuan dari berbagai pihak oleh karena
itu kami menyampaikan rasa hormatdan terikakasih kepada
Teman-teman yang memberikan dukungan penyelesaian makalah
ini.
Kami menyadari,bahwa makalah ini masih banya kekurangan
maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran dari anda sekalian
demi menambah sempurnanya makalah ini semoga makalah ini bermanfaat bagi
pembaca umumnya dan bagi kami semua.
Bandar Lampung, Juni 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................ i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang................................................................................... 1
B.
Rumusan
masalah................................................................................ 3
C.
Tujuan ................................................................................................ 3
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pengertian............................................................................................ 4
B.
Etiologi................................................................................................ 4
C.
Patofisiologi........................................................................................ 5
D.
Pathways............................................................................................. 6
E.
Manifestasi
Klinis............................................................................... 7
F.
Penatalaksanaan.................................................................................. 7
G.
Pemeriksaan
Penunjang...................................................................... 8
H.
Gambaran
Klinis................................................................................. 8
I.
Gejala Diabetes Mellitus .................................................................... 12
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok
penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi
karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Diagnosis
DM umumnya akan dipikirkan bila ada keluhan khas
DM berupa poliuria, polidipsia, polifagia, dan
penurunan berat badan
yang
tidak
dapat dijelaskan
sebabnya.
Secara epidemiologik
diabetes
seringkali tidak terdeteksi dan dikatakan onset atau mulai terjadinya adalah 7 tahun sebelum
diagnosis ditegakkan,
sehingga
morbiditas dan mortalitas dini
terjadi pada
kasus yang tidak
terdeteksi (Soegondo,
et al., 2005).
Diabetes mellitus jika
tidak
dikelola dengan baik akan
dapat mengakibatkan
terjadinya berbagai
penyakit menahun, seperti
penyakit serebrovaskular, penyakit
jantung koroner,
penyakit
pembuluh darah tungkai, penyakit pada mata,
ginjal, dan syaraf. Jika kadar glukosa darah dapat selalu
dikendalikan dengan baik, diharapkan semua penyakit menahun tersebut dapat
dicegah, atau
setidaknya dihambat. Berbagai faktor genetik, lingkungan dan cara hidup berperan dalam perjalanan penyakit
diabetes (Soegondo, et al.,
2005).
Berbagai penelitian menunjukan bahwa kepatuhan pada pengobatan penyakit yang bersifat kronis baik dari segi
medis maupun nutrisi, pada umumnya rendah. Dan penelitian terhadap penyandang diabetes mendapatkan 75 % diantaranya menyuntik insulin dengan cara yang tidak tepat, 58 % memakai dosis yang salah, dan 80 % tidak mengikuti diet yang tidak dianjurkan.(Endang Basuki
dalam Sidartawan Soegondo, dkk 2004).
Jumlah
penderita
penyakit
diabetes
melitus
akhir-akhir
ini menunjukan
kenaikan
yang
bermakna
di
seluruh dunia.
Perubahan gaya hidup seperti pola makan dan berkurangnya aktivitas fisik dianggap sebagai
faktor-faktor penyebab terpenting. Oleh karenanya, DM dapat saja timbul pada orang tanpa riwayat DM dalam keluarga dimana proses terjadinya penyakit memakan
waktu bertahun-tahun
dan
sebagian besar berlangsung tanpa gejala. Namun
penyakit DM dapat dicegah jika kita mengetahui dasar-dasar penyakit dengan baik dan mewaspadai
perubahan gaya hidup kita (Elvina Karyadi,
2006).
Penderita diabetes mellitus
dari
tahun ke tahun mengalami peningkatan menurut Federasi
Diabetes Internasional (IDF), penduduk dunia yang menderita diabetes mellitus sudsh mencakupi
sekitar 197 juta jiwa, dan dengan angka kematian sekitar
3,2
juta orang. WHO memprediksikan penderita diabetes mellitus akan menjadi sekitar 366 juta
orang pada
tahun 2030. Penyumbang peningkatan angka tadi merupakan negara-negara berkembang, yang
mengalami kenaikan penderita diabetes mellitus 150 % yaitu negara penderita diabetes mellitus terbanyak adalah India (35,5 juta orang), Cina (23,8 juta orang), Amerika Serikat (16 juta orang), Rusia (9,7
juta orang), dan Jepang (6,7 juta orang).
WHO menyatakan, penderita
diabetes mellitus di Indonesia
diperkirakan akan mengalami kenaikan 8,4 juta jiwa
pada tahun 2000,menjadi 21,3 juta jiwa pada tahun 2030. Tingginya angka
kematian tersebut menjadikan Indonesia menduduki ranking ke-4 dunia setelah Amerika Serikat, India
dan
Cina (Depkes
RI, 2004).
Berdasarkan hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), terjadi pengukuran prevalensi Diabetes mellitus (DM) dari tahun 2001 sebesar 7,5 % menjadi 10,4 % pada tahun 2004, sementara
hasil survey BPS tahun 2003 menyatakan bahwa prevalensi diabetes mellitus mencapai 14,7
% di perkotaan dan 7,2 % di
pedesaan.
Berdasarkan data rawat jalan di Rumah Sakit Umum Propinsi Sulawesi Tenggara (Poli Interna)
tahun 2009 penderita diabetes melitus sebanyak 779 orang atau 16,1 % dari jumlah pasien sebanyak 4837 pasien, tahun 2010 penderita diabetes mellitus sebanyak 1124 orang atau 25,8 %
dari
jumlah pasien sebanyak 4345 pasien, sedangkan pada tahun 2011 dari
Januari sampai
dengan Juni 2011
jumlah penderita diabetes
mellitus 793 orang atau 38,7 % dari jumlah pasien sebanyak 2044 orang.
Olehnya itu, makalah ini akan membahas penyakit
Diabetes Militus secara terperinci
B.
Rumusan
masalah
Adapun rumusan masalah
dalam makalah ini adalah “bagaimana tinjauan mengenai penyakit Diabetes Melitus baik
darisegi pengertian, klasifikasi
etiologis, epidemiologi, gambaran klinis,
patofisiologi, diagnosa, komplikasi,
dan pemberian obat atau prngobatan pasian Diabetes Melitus”?
C.
Tujuan
Tujuan makalah
ini adalah mengetahui tinjauan mengenai penyakit Diabetes Melitus baik darisegi pengertian, klasifikasi etiologis,
epidemiologi, gambaran klinis, patofisiologi, diagnosa, komplikasi,
dan pemberian obat atau prngobatan pasian Diabetes Melitus.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan
heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau
hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes mellitus adalah gangguan
metabolisme yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan manifestasi
berupa hilangnya toleransi karbohidrat.(Price and Wilson)
Diabetes Mellitus adalah suatu
kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya
peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut
maupun relatif (Arjatmo, 2002).
B. Etiologi
1. Faktor
Genetik
Penderita
diabetes cenderung ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
2. Faktor
Imunologi
Adanya respons otoimun yang
merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh
dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah
sebagai jaringan asing. Antibodi yang menyerang ini yang sering disebut
autoantibody yang merusak imunologik sel-sel yang memproduksi insulin.
3. Faktor
Lingkungan
Virus
atau toksin yang memicu proses autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta.
4. Factor
resiko :
a. Usia
b. Obesitas
c. Riwayat
Keluarga
C. Patofisiologi
Individu
yang peka secara genetic tampaknya memberikan respon terhadap kejadian-kejadian
pemicu yang di duga berupa infeksi virus, dengan memproduksi autoantibody
terhadap sel-sel beta, yang akan mengakibatkan berkurangnya sekresi insulin
yang dirangsang oleh glukosa. Manifestasi klinis diabetes melitus terjadi jika
lebih dari 90% sel-sel beta menjadi rusak. Pada DM dalam bentuk yang lebih
berat, sel-sel beta telah dirusak semuanya sehingga terjadi insulinopenia dan
semua kelainan metabolic yang berkaitan dengan defisiensi insulin.
Autoantibodi
yang diproduksi di pulau langerhans tersebut telah merusak sel-sel β sehingga
produksi insulin yang membantu proses penyerapan glukosa tersebut tidak
mencukupi atau produksi insulinnya sedikit bahkan dapat juga tidak memproduksi
insulin. Tubuh yang tidak bisa memenuhi kebutuhan insulin ini disebut
resistensi insulin. Karena produksi insulin tidak mencukupi sehingga penyerapan
glukosa di dalam usus yang akan disimpan di dalam hati dan otot menjadi
sedikit. Hal ini menyebabkan kadar gula dalam darah menjadi meningkat.
D. 
Pathways
![]() |
||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
![]() |
||||||||||||||||||||
E. Manifestasi
Klinis
Tanda
dan gejala umum pada orang yang terkena DM meliputi :
1. Peningkatan pengeluaran urine
(poliuria)
2. Mudah rasa haus (polidipsia)
3. Mudah merasa lapar (polifagia)
Menurut Supartondo, gejala-gejala
akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
1. Katarak
2. Glaukoma
3. Retinopati
4. Gatal seluruh badan
5. Pruritus Vulvae
6. Infeksi bakteri kulit
7. Infeksi jamur di kulit
8. Dermatopati
9. Neuropati perifer
10. Neuropati viseral
11. Amiotropi
12. Ulkus Neurotropik
13. Penyakit ginjal
14. Penyakit pembuluh darah perifer
15. Penyakit koroner
16. Penyakit pembuluh darah otak
17. Hipertensi
F. Penatalaksanaan
1. Diet
Pasien penderita DM dilakukan untuk menurunkan kadar gula
dalam darah dan juga untuk menurunkan berat badan pada orang yang menderita
obesitas untuk mengurangi komplikasi pada penderita DM.
2. Aktivitas dan latihan
Dengan latihan dan beraktivitas dapat memperbaiki sensivitas
otot-otot terhadap insulin, sehingga gula lebih mudah ditimbun dalam otot
daripada dibiarkan meningkat dalam peredaran darah.
3. Pemantauan
Pemantauan ini dilakukan untuk memantau kadar gula darah
pada penderita DM agar gula darahnya tidak terlalu tinggi dan cenderung stabil.
4. Terapi insulin
Terapi ini dilakukan jika diperlukan. Biasanya dilakukan
pada pasien yang terkena Diabetes tipe 1 yang
tidak bisa memproduksi hormone
insulin.
5. Pendidikan
Pendidikan dilakukan untuk memberi pengetahuan pada
penderita DM dan keluarganya bagaimana cara menghadapi DM.
G. Pemeriksaan
Penunjang
1. Pemeriksaan
Kadar gula sewaktu
2. Pemeriksaan
Kadar gula darah puasa
H. Gambaran
Klinis
1. Gejala
khas DM (keluhan klasik)
a.
Poliuria (banyak kencing
bisa 3l per hari)
Kadar glukosa darah yang
tinggi menyebabkan banyak kencing, terutama malam hari (pada malam
hari kadar gula dalam darah relatif tinggi).
Pada penderita Dm terjadi
hiperglikemi (peningkantan kadar glukosa darah). Salah satu efek dari
hiperglikemi ini meningginya kadar glukosa melebihi treshold (ambang batas)
ginjal melakukan reabsorbsi sehingga terjadi glikosuria. Glikosuria adalah
adanya glukosa dalam urin, ini yg akan menginduksi diuresis osmotik. Diuretik
osmotik itu mengacu pada zat non elektrolit yang mudah dan
cepat diekskresi oleh ginjal serta menarik air. Karena glukosa di dalam urin memiliki
aktivitas osmotik, maka air akan tertarik kedalam urine karena aktivitas
osmotik dan diekskresikan bersama
glukosa dalam urin sehingga terjadi poliuria.
b. Polidipsi
(banyak minum)
Banyaknya cairan yang
keluar melalui kencing menyebabkan penderita merasa haus, dan akhirnya banyak
minum
c. Polifagia
(lapar)
Insulin bermasalah sehingga sel
tubuh tak bisa menyerap gula dengan baik. Mau tidak mau tubuh akan kekurangan
energi, dan saat hal ini terjadi otak akan merespon kurang makan.
d. Berat
badan turun tanpa sebab yang jelas
idealnya orang turun
berat badannya karena kurang makan atau terlalu banyak pikiran atau pekerjaan.
Namun jika berat badan turun, padahal makan secara normal dan bahkan berlebihan
maka sebaiknya kita curiga terhadap kondisi kesehatan tersebut. Glukosa dalam
darah tidak masuk dalam sel -> sel kekurangan bahan bakar utk menghasilkan
tenaga.
Utk kebutuhan tenaga yg
diperlukan saat beraktivitas diambilkan dari cadangan lain yaitu sel lemak dan
sel otot -> penderita kehilangan jaringan lemak dan otot -> berat badan
menurun
2. Gejala
tidak khas DM
a. Lemas,
astenia (kekurangan energi), sering mengantuk
akibat katabolisme
protein di dalam otot dan ketidakmampuan sebagian besar sel untuk menggunakan
glukosa sebagai energi.
b. Kesemutan
Neuropati
(Gangguan pada sel syaraf). Gangguan pada persarafan ini biasanya juga tergantung berapa
lama pasien menderita dm.
c. Luka
yang sulit sembuh
Luka yang dialami
penderita diabetes akan sulit sembuh karena oksigen dan zat penyembuh lainnya
sulit mencapai luka. Lamanya penyembuhan luka penderita diabetes ini karena
terkait kadar kadar kortisol atau hormon stres. Kadar kortisol akan meningkat
jika penderita diabetes depresi atau frustasi. Semakin depresi maka semakin
tinggi kadar kortisolnya.
Penelitian di University of Nottingham mengungkapkan hubungan kadar kortisol dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka (ulcer) di kaki. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia edisi bulan Agustus.
Penelitian di University of Nottingham mengungkapkan hubungan kadar kortisol dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan luka (ulcer) di kaki. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal Diabetologia edisi bulan Agustus.
Gangguan pada kaki
Pada penderita diabetes
yang telah menahun dapat menyebabkan luka pada kaki. Awalnya kaki kurang peka
(seperti mati rasa) terhadap lingkungan seperti udara dingin, luka atau infeksi.
Hal ini disebabkan berkurangnya suplai darah menuju kaki akibat menyempitnya
pembuluh darah. Ciri khas pada gejala ini yaitu apabila kaki penderita diabetes
terluka, maka luka tersebut sulit untuk sembuh sehingga mudah terinfeksi.
Apabila semakin parah, dapat menyebabkan kaki membusuk sehingga harus
diamputasi.
d. Gatal
Karena mudah terjadi
infeksi pada kulit
e. Mata
kabur
Retinopati
Retina merupakan bagian salah satu bagian penting mata, karena retina berfungsi sebagai tempat jatuhnya bayangan benda yang masuk melalui lensa mata. Pada penderita diabetes retina dapat mengalami kerusakan pada bagian pembuluh-pembuluh darah yang bertugas memasok glukosa dan nutrisi lain yang diperlukan sel-sel mata. Gangguan inilah yang dinamakan retinopati.
Retina merupakan bagian salah satu bagian penting mata, karena retina berfungsi sebagai tempat jatuhnya bayangan benda yang masuk melalui lensa mata. Pada penderita diabetes retina dapat mengalami kerusakan pada bagian pembuluh-pembuluh darah yang bertugas memasok glukosa dan nutrisi lain yang diperlukan sel-sel mata. Gangguan inilah yang dinamakan retinopati.
Biasanya pasien yang
telah disuntik insulin akan merasakan pandangan yang kabur, namun ini akan
hilang dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan. Pandangan yang mengabur
disebabkan pada waktu insulin masuk dalam aliran darah, kadar gula dalam darah
akan turun dengan cepat sehingga lensa mata akan mengalami dehidrasi karena
sejumlah cairan mata keluar.
f.
Disfungsi ereksi pada
pria
kurangnya kemampuan
mempertahankan proses ereksi untuk melakukan aktivitas seksual dengan baik. Ereksi merupakan hasil dari interaksi yang kompleks dari faktor psikologik, neuro-endokrin dan mekanisme vaskuler yang bekerja pada
jaringan ereksi penis
Pada dasarnya disfungsi
ereksi terbagi dalam dua faktor penyebab, psikis dan organis. Penyebab faktor
psikis biasanya dilatarbelakangi oleh faktor kejenuhan, kejengkelan,
kekecewaan, hilangnya daya tarik terhadap pasangan, trauma seksual hingga rasa
takut gagal yang terpicu dari kurangnya rasa kepercayaan diri.
DE
pada diabetes cukup tinggi yaitu 50,9%.
Untuk faktor penyebab
organis DE biasanya terkait penyakit seperti diabetes, hipertensi,
hiperkolesterol, pasca-operasi prostat dan penyempitan pembuluh darah. Faktor
usia juga dapat mempengaruhi dimana semakin tua usia semakin besar risiko DE.
Kerusakan saraf yang menuju dan meninggalkan penis juga bisa menyebabkan
impotensi
g. Pruritus
vulva pada wanita
Peningkatan angka
infeksi terjadi pada penderita DM akibat
peningkatan konsentrasi glukosa di sekresi mukus, gangguan fungsi imun, dan
penurunan aliran darah pada penderita diabetes kronik.
Pruritus pada diabetes
mellitus merupakan keluhan yang sering terdengar, tetapi tidak selalu ada.
Pruritus vulva adalah
gatal hebat pada genitalia eksternal. Penyebabnya adalah vaginitis akibat
kandida dan trikomoniasis, glikosuria, keganasan, dan penyakit psikogenik
Acanthosis Nigricans
Acanthosis Nigricans
adalah merupakan kehitaman yang ada pada kulit atau hiperpigmentasi kulit.
Biasanya terjadi pada ketiak, belakang leher, lipatan tangan dan pusar.
Acanthosis Nigricans ditandai oleh adanya penebalan kulit seperti beludru yang
berwarna kehitaman pada daerah ketiak, lipat paha dan leher bagian belakang.
Karakteristik dari acanthosis nigricans yaitu plak hiperpigmentasi,
hyperkeratosis dan terjadi simetris.3, 5
Hal ini terjadi karena
jumlah insulin yang tidak berikatan dengan reseptornya meningkat sehingga
insulin banyak berikatan dengan reseptor yang mirip dengan reseptor insulin
sehingga terjadi resistensi insulin, yang kemudian tumbuh jaringan baru yang
menyebabkan penebalan kulit dan perubahan warna (hiperpigmentasi)
I.
Gejala
Diabetes Mellitus
Gejala diabetes dapat dikelompokkan menjadi dua,yaitu
:
a.
Gejala Akut
Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi tiga
serba banyak yaitu:
-
Banyak makan
(polifagia)
-
Banyak minum
(polidipsi)
-
Banyak kencing
(poliuria)
Dalam fase ini biasanya penderita menunjukkan berat
badan yang terus bertambah, karena pada saat itu jumlah insulin masih
mencukupi. Apabila keadaan ini tidak segera diobati maka akan timbul keluhan
lain yang disebabkan oleh kurangnya insulin. Keluhan tersebut diantaranya:
-
nafsu makan
berkurang
-
banyak minum
-
banyak kencing
-
berat badan turun
dengan cepat
-
mudah lelah
-
bila tidak segera
diobati,penderita akan merasa mual bahkan penderita akan jatuh koma (koma
diabetik).
b.
Gejala Kronik
Gejala kronik akan timbul setelah beberapa bulan atau
beberapa tahun setelah penderita menderita diabetes. Gejala kronik yang sering
dikeluhkan oleh penderita, yaitu:
-
Kesemutan
-
Kulit terasa
panas
-
Terasa tebal
dikulit
-
Kram
-
Lelah
-
Mudah mengantuk
-
Mata kabur
-
Gatal disekitar
kemaluan
-
Gigi mudah goyah
dan mudah lepas
-
Kemampuan seksual
menurun
-
bagi penderita
yang sedang hamil akan mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan
atau berat bayi lahir lebih dari 4 kg.
Gambaran Klinis Diabetes Melitus Menurut Corwin (1996
: 546 – 547), terdapat 5 buah gambaran klinis dari DM, yaitu :
a.
Polifagia
(peningkatan rasa lapar) akibat keadaan pasca absorptif yang kronik, katabolik
protein dan lemak, dan kelaparan relatif sel-sel. Sering terjadi penurunan
berat badan.
b.
Polidipsia
(peningkatan rasa haus) akibat volume urin yang sangat besar dan keluarnya air
yang menyebabkan dehidrasi ekstrasel. Dehidrasi intrasel mengikuti dehidrasi
ekstrasel. Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran ADH dan menimbulkan rasa
haus.
c.
Poliuria
(peningkatan pengeluaran urin), pada orang nondiabetes, semua glukosa yang
difiltrasi ke dalam urin akan diserap secara aktif kembali ke dalam darah.
Pengangkut-pengangkut glukosa di ginjal yang membawa glukosa keluar urin untuk
masuk kembali ke darah akan mengalami kejenuhan dan tidak dapat mengangkut
glukosa lebih banyak. Karena glukosa di dalam urin memiliki aktivitas osmotik,
maka air akan tertahan di dalam filtrat dan diekskresikan bersama glukosa dalam
urin sehingga terjadi poliuria.
d.
Rasa lelah dan
kelemahan otot akibat katabolisme protein di dalam otot dan ketidakmampuan
sebagian besar sel untuk menggunakan glukosa sebagai energi.
e.
Peningkatan angka
infeksi akibat peningkatan konsentrasi glukosa di sekresi mukus, gangguan
fungsi imun, dan penurunan aliran darah pada penderita diabetes kronik.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Diabetes Mellitus
adalah Suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan
oleh
adanya peningkatan kadar
glukosa dalam
darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Subekti, et
al.., 1999). Klasifikasi Etiologis Diabetes Melitus Menurut ADA 2003 terdriri atas
Diabetes Melitus
Tipe 1, Diabetes
Melitus Tipe 2 dan Diabetes
Melitus Tipe Lain.
Secara epidemiologi
DM seringkali tidak terdeteksi. Berbagai
faktor
genetik, lingkungan dan
cara
hidup berperan dalam
perjalanan penyakit diabetes. Ada kecenderungan penyakit ini timbul dalam keluarga. Disamping itu juga ditemukan perbedaan kekerapan dan komplikasi diantara ras,
negara dan kebudayaan. DM tipe 2 akan meningkat menjadi 5 – 10 kali lipat karena terjadi perubahan perilaku
rural-tradisional menjadi
urban. Faktor resiko yang berubah secara epidemiologis adalah bertambahnya
usia, jumlah dan lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani dan
hiperinsulinemia. Semua faktor
ini berinteraksi dengan beberapa faktor genetik yang berhubungan
dengan terjadinya DM tipe 2 (Soegondo, 1999).
Tanpa intervensi yang efektif, kekerapan DM tipe 2 akan meningkat disebabkan
oleh berbagai
hal
misalnya bertambahnya usia harapan hidup,
berkurangnya kematian akibat infeksi dan meningkatnya
faktor resiko
yang
disebabkan oleh karena
gaya
hidup yang salah seperti kegemukan, kurang gerak/ aktivitas dan pola makan tidak sehat dan tidak teratur (Slamet
Suyono Dalam Pusat Diabetes dan Lipid, 2007).
Kejadian DM diawali dengan kekurangan
insulin sebagai
penyebab
utama. Di sisi lain timbulnya DM bisa berasal dari kekurangan insulin yang bersifat relatif yang disebabkan oleh adanya
resistensi insulin (insuline recistance). Keadaan ini ditandai
dengan ketidakrentanan/ ketidakmampuan
organ menggunakan insulin, sehingga insulin tidak
bisa berfungsi
optimal dalam mengatur
metabolisme glukosa. Akibatnya, kadar
glukosa darah meningkat (hiperglikemi) (M.N Bustan, 2007).
Baik pada DM tipe 1 maupun pada DM tipe 2 kadar glukosa darah jelas meningkat dan bila
kadar itu melewati batas ambang ginjal, maka glukosa itu akan keluar melalui
urin. Mungkin inilah
sebabnya penyakit
ini
disebut juga penyakit kencing manis (Suyono, 1999).
Diagnosa DM harus didasarkan
atas
pemeriksaan kadar glukosa
darah, tidak dapat ditegakan
hanya atas dasar adanya glukosuria saja. Dalam menentukan diagnosa DM harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosa DM, pemeriksaan yang
dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan darah kapiler (Perkeni,1998).
DAFTAR
PUSTAKA
Mansjoer,
Arif, dkk.. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1 Edisi 3. Jakarta:
Media Aesculapius.
Nathan,
David M. dan Linda M. Delahanty. 2005. Menaklukan Diabetes. Jakarta: PT
Bhuana Ilmu Populer.



Komentar
Posting Komentar