KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN



KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN
(Teknik pemberian obat melalui mata, epidural, dan zit bath)




 


















DISUSUN OLEH :
FITRI ANDRIANI
FRISKI VERAMIDA
SERI YUNITA MARLENA




POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES TANJUNG KARANG
PRODI DIV KEBIDANAN TANJUNG KARANG
2014
KATA PENGANTAR


Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penyusun sehingga dapat menyelesaikan makalah laporan ini yang berjudul :‘’MAKALAH KETRAMPILAN DASAR KEBIDANAN “
Penyusun menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini berkat banntuan Tuhan YME dan tidak lepasdari bantuan berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini penyusun menghanturkan rasa hormat dan terimah kasih kepada dosen Ketrampilan Dasar Kebidanan, serta teman-teman yang membantu dalam makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam proses makalah ini masih jauh dari kesempatan kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penyusun telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat menyelesaikan dengan baik dan oleh karenanya, penyusun dengan rendah hati menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Akhirnya penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.


Bandar Lampung,07 Maret  2014


Penulis













DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii

BAB I PENDHULUAN
1.1 Latar Belakang Makalah........................................................................ 1
1.2 Tujuan Penulis....................................................................................... 1
1.3 Rumusan Masalah.................................................................................. 1
1.4   Manfaat Penulis.................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Obat.................................................................... 2
2.2 Macam- Macam Pemberian Obat.......................................................... 5...........            

BAB IIIPENUTUP
3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 14
3.2 Saran ................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA













BAB I
PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang Makalah

Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah tentang kebutuhan  dasar manusia dan berfungsi untuk mencari ilmu dan menambah ilmu untuk memperluas suatu konsep dalam diri kita sendiri. Dan perilaku manusia untuk mencari bahan-bahan untuk suatu ilmu yang berkaitan tentang Kebutuhan  dasa manusiadan tak lupa untuk memperluas suatu ilmu pengetahuan didalam diri kita sendiri dan membuat untuk belajar yang lebih giat lagi. Supaya lebih luas pengetahuannya.

1.2  Tujuan Penulis
Penyusunan Laporan ini bertujuan untuk :
1.      Untuk mengetahui bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui mata.
2.      Untuk mengetahui bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui epidural.
3.      Untuk mengetahui bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui zit bath.

1.3    Rumusan Masalah
 Adapun rumusan masalah di dalam laporan makalah ini:
1. Bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui mata?
2. Bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui epidural?
3. Bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui zit bath?

1.4    Manfaat Penulis
Manfaat penulis dalam pembuatan makalah ini untuk mengetahui bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui mata, epidural, dan zit bath.


BAB II
PEMBAHASAN



2.1 Definisi Obat
Obat merupakan sebuah subtansi yang diberikan kepada manusia sebagai perawatan atau pengobatan bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuh. Dalam pelaksanaan tenaga medik memiliki tanggung jawab dalam keamanan obat dan pemberian secara langsung ke pasien hal ini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Pentingnya bidan untuk mempelajari farmakologi agar dapat memahami tentang efek dari obat yang diharapkan sehingga mampu mengevaluasi efek pengobatan.
Obat adalah suatu subtansi atau bahan yang di gunakan untuk mendiagnosa, menyembuhkan, mengatasi, membebaskan suatu penyakit untuk mendapatkan efek terafeutik namun bisa salah dapat mengakibatkan alergi dan shock bahkan kematian oleh karena itu sebagai tenaga kesehatan harus mengetahui betul hal-hal yang berhubungan dengan pemberian obat dan teknik pemberian obat.
·         Persiapan Sebelum Pemberian Obat
            Sebelum meberikan obat kepada pasien ada bebeapa persyaratan yang perlu diperhatikan untuk menjamin keamanan dalam pemverian obat diantaranya :
1.    benar obat
Sebelum mempersiapkan obat ketempatnya petugas medis harus memperhatikan kebenaran obat sebanyak 3 kali, yakni ketika memindahkan obat dari tempat penyimpananobat, saat obat diprogramkan, dan saat mengembalikan obat ketempat penyimpanan.
2.    benar dosis
            Untuk menghindari kesalahan dalam pemberian obat, maka penentuan dosis harus diperhatikan dengan mengguankan alat standar, dengan demikian penghitungan dosis benar untuk diberikan ke pasien
3.    benar pasien
            Obat yang diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan. Hal ini dilakukan dengan mengidentifikasi identitas kebenaran obat yaitu mencocokan nama, nomer, register, alamat dan program pengobatan pada pasien
4.    benar jalur pemberian
            Kesalahan rute pemberiuan dapt menimbulkan efek sistemik yang fatal pada pasien, untuk itu cara pemb eriannya adalah dengan melihat jalur obat pada lebel yang ada sebelum memberikan pada pasien.
5.    Benar  waktu
            Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengan waktu yang diprogramkan karena berhubungan denag kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari obat.
·         Bentuk Obat Dan Jenis Obat
Ø  Kapsul  adalah obat dalam bentuk bubuk, cair atau minyak yang dibungkus dengan genaltin.
Ø  Puyer adalah obat yang di tumbuk halus.
Ø  sirup adalah obat cair menganmdung gula.
Contohnya adalah obat batuk, atau obat penurun panas untuk anak-anak.
Ø  salep adalah jenis obat yang  dalam bentuk semi padat contohnya adalah obat untuk   kecantikan.
Ø  Pil  adalah obat satu atau lebih obat  yang di campur dengan bahan kohesift berbentuk lonjong, bulat atau lempeng, contohnya adalah pil untuk kontrasepsi dan tablet penambah darah (fe)
Ø  Tablet adalah bentuk obat bubuk yang dipadatkan yang mengandung bahan utama. Contohnya adalah paracetamol, antasida, vitamin C.
Ø  Kaplet obat bubuk yang dipadatkan berbentuk lonjong seperti kapsul dan bersalut hingga lebih mudah ditelan. Contohnya asam mefenamat.
Ø  Lotion adalah sediaan obat berupa emoli yang jernih di oleskan pada kulit contohnya adalah anti septik.
Ø  Larutan adalah zat yang berkhasiat dalam aqua atau pelarut contohnya adalah aquabidest, tetes mata.
Nurse.onlin
Ø  Gel atau jelly adalah obat semi padat yang bisa tembus cahaya mencair saat di oleskan di kulit contohnya adalah jelly untuk USG.
Ø  In    haler adalah jenis obat yang berbrntuk gas atau uap obat ini dapat di gunakan untuk penderita  sesak nafas atau asma.
Ø  posituria adalah obat yang berbentuk seperti peluru agar dapat dimasukan kedalam tubuh dan meleleh pada suhu tubuh.




2.2 Macam- Macam Pemberian Obat
1. Pemberian Obat pada Mata
Cara memberikan obat pada mata dengan tetes mata atau salep mata obat tetes mata. Obat yang biasa digunakan oleh klien ialah tetes mata dan salep, meliputi preparat yang biasa dibeli bebas , misalnya air mata buatan dan vasokonstrikstor (misalnya visine, dsb). Namun banyak klien menerima resep obat-obatan oftalmic untuk kondisi mata seperti glaukoma dan untuk terapi setelah suatu prosddur, misalnya ekstraksi katarak. Persentase besar klien yang menerima obat mata ialah klien  lanjut usia. Masalah yang berhubungan dengan usia termasuk penglihatan yang buruk, tremor tangan dan kesulitan dalam memegang atau menggunakan botol obat, mempengaruhi kemudahan lansia menggunakan obat mata secara mandiri. Perawat atau bidan memberi penjelasan kepada klien dan anggota keluarga tentang teknik yang digunakan dalam pemberian obat mata. (Donnelly. 1987) menganjurkan untuk memperlihatkan klien setiap langkah prosedur pemberian obat tetes mata untuk meningkatkan kepatuhan klien.
Obat mata dapat digolongkan menjadi
a.       Obat mata golongan antiseptik dan antiinfeksi
b.      Obat mata golongan kortikosteroid
c.       Obat mata lainnya
Tujuan pemberian obat pada mata diantaranya:
·         digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa,
·         digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
·         Obat mata golongan antiseptik dan antiinfeksi digunakan pada gangguan mata karena adanya infeksi oleh mikroba, masuknya benda asing ke dalam kornea mata atau kornea mata yang luka/ ulkus.
·         Obat mata kortikosteroid digunakan untuk radang atau alergi mata atau juga bengkak yang bisa disebabkan oleh alergi itu sendiri atau oleh virus. Karena infeksi mata oleh virus itu resisten terhadap pengobatan biasanya digunakan obat mata golongan kortikosteroid untuk menghilangkan gejalanya saja. Kalaupun dengan antiseptik hal itu menghindari infksi sekunder.
·         Gabungan antiseptik dengan kortikosteroid digunakan untuk masalah mata yang disebabkan oleh mikroba dan dengan keluhan bengkak/ radang juga gatal atau alergi.
·         Digunakan untuk keluhan mata karena habis operasi.

Prinsip pemberian obat mata
1.    Kornea mata banyak disuplai serabut nyeri sehingga menjadi sangat sensitif terhadap apapun yang diberikan ke kornea. Oleh karena itu, perawat atau bidan menghindari obat mata apapun secara langsung ke kornea.
2.    Resiko penularan infeksi dari satu mata ke mata lain sangatlah tinggi. Perawat atau bidan menghindari menyentuh kelopak mata atau struktur mata yang lain dengan alat tetes mata atau tube salep.
3.    Perawat atau bidan menggunakan obat mata hana untuk mata yang terinfeksi. 1
Indikasi dan kontra indikasi pemberian obat pada mata
Ø  Indikasi
Biasanya obat tetes mata digunakan dengan indikasi sebagai berikur
o   meredakan sementara mata merah akibat iritasi ringan yang dapat disebabkan oleh debu, sengatan sinar matahari, pemakaian lensa kontak, alergi atau sehabis berenang.
o   antiseptik dan antiinfeksi.
o   radang atau alergi mata.
Ø  Kontraindikasi
Obat tetes mata yang mengandungnafazolin hidroksida tidak boleh digunakan pada penderita glaukoma atau penyakit mata lainnya yang hebat, bayi dan anak. Kecuali dalam pegawasan dan nasehat dokter.



2. Pemberian obat secara epidural
Teknik untuk menghilangkan rasa sakit dengan memasukan jarum kecil berisi tabung (kateter) yang sangat kecil melalui otot punggung hingga ke daerah epidural (rongga di bagian tulang belakang). Hal ini dilakukan oleh dokter anestesi.

Manajemen nyeri yang dapat dilakukan oleh bidan diantaranya mengurangi faktor yang dapat menambah nyeri misalnya ketidak percayaan, kesalah fahaman, ketakutan, kelelahan, dan kebosanan.

Memodifikasi stimulus nyeri dan menggunakan teknik-teknik seperti teknik latihan pengalihan menonton televisi, berbincang- bincang dengan orang lain, mendengarkan musik. Atau stimulasi kulit dengan menggosok  dengan halus pada daerah yang nyeri, menggosok punggung, menggunakan air hangat dan dingin, memijat dengan air mengalir.

Mekanisme kerja epidural sebagai berikut. Tulang punggung terdiri dari tulang belakang yang terpisah-pisah. Tulang belakang melindungi urat saraf tulang belakang yang membentang dari pinggul hingga ke pangkal leher. Urat saraf tulang belakang terdiri dari jutaan serabut saraf. Semuanya terhubung ke otak dan ke seluruh bagian tubuh dengan rute berbeda-beda. Secara fungsi, serabut saraf dibagi dua jenis, yaitu serabut urat saraf sensoris dan serabut urat saraf motoris. Serabut saraf sensoris berfungsi menyampaikan pesan, seperti rasa sakit, panas, dan dingin dari tubuh ke otak. Serabut saraf motoris bekerja sebaliknya, yaitu menyampaikan pesan dari otak ke bagian tubuh, antara lain “menyuruh” tubuh bergerak atau berkontraksi.

Pada pembiusan epidural, bagian yang dibius atau diberi penawar sakit adalah urat saraf sensoris sehingga sakit saat kontraksi di rahim tidak sampai ke otak. Akibatnya, ibu pun tidak merasakan sakit. Namun, pembiusan ini tidak boleh terkena urat saraf motoris sehingga otak tetap dapat “memerintahkan” otot-otot rahim berkontraksi. Di punggung, urat saraf dikelilingi selubung berisi air yang disebut dura. Antara dura dengan tulang terdapat rongga yang dilalui serabut urat saraf menuju dan dari berbagai bagian tubuh yang disebut epidura. Pembiusan dilakukan dengan memasukkan jarum kecil berisi tabung (kateter) yang sangat kecil melalui otot punggung ibu hingga ke epidura, dan dengan sangat hati-hati menarik ujung jarum hingga tabung polythene tertinggal di dalam rongga epidura. Sekarang, dokter dapat memberi pembiusan melalui tabung di dalam rongga tersebut. Pembiusan epidural harus dilakukan dokter spesialis anestesi. Ketika memasukkan jarum suntik, ibu diminta menekuk seperti posisi bayi dalam perut. Setelah itu, ibu harus diawasi karena dapat mengalami efek samping, seperti mual, kejang, dingin, sakit kepala, hingga penurunan tekanan darah sampai titik sangat rendah yang tentu tidak balk bagi ibu maupun janin. Untuk mengatasi penurunan tekanan darah, kadang dokter menyertai pembiusan epidural dengan suntikan 500 ml cairan ke pembuluh darah sebelum pembiusan.

Selain itu, karena tidak merasakan sakit akibat suntikan epidural, mungkin ibu menjadi sulit untuk membantu kelahiran bayi dengan mengandalkan otot perutnya dan mendorong ketika terjadi kontraksi rahim. Hal ini menyebabkan persalinan tahap kedua lebih lama dibanding ibu yang tidak mendapat epidural. Ada kemungkinan, bayi dikeluarkan dengan bantuan forsep atau vacum.

Dari penelitian yang dilakukan pada bayi baru lahir alami atau per vagina dengan ibu yang menggunakan metode ini, tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pada nilai APGAR pertama dan kelima antara bayi studi dengan bayi kontrol. Selain itu, tidak didapatkan perbedaan kejadian bayi kuning dan lama perawatan di rumah sakit.

Di negara barat, banyak ibu menggunakan metode epidural. Sepuluh persen dari mereka menyatakan metode ini tidak efektif dan rasa sakit tetap dialami. Sepuluh persen lainnya mengeluh epidural menimbulkan kejang dan dingin. Namun, 800/0 ibu merasakan manfaat metode ini. Kini, teknik epidural disempurnakan dengan dikembangkannya teknik blok epidural kontinu, yaitu teknik epidural yang dikendalikan pasien (patient controlled epidural analgesia) dan teknik kombinasi epidural spinal (combined spinal epidural analgesia).
Di bawah ini keuntungan penggunaan epidural.
         Delapan puluh persen ibu berhasil mengatasi rasa sakit.
         Tidak mengacaukan pikiran.
         Membantu dalam mengontrol tekanan darah tinggi.
         Mengembalikan kemampuan ibu mengontrol persalinan sehingga mengembalikan rasapercaya diri.
         Kini, epidural lebih canggih. Penggunaannya tidak memberi efek kebas pada kaki dan tangan.
Berikut ini kerugian penggunaan epidural.
         Mungkin, ibu merasa mati rasa hanya di sebagian tubuh. Sebagian kecil perut tidak  mengalami efek pembiusan.
         Ibu harus tetap di tempat tidur dan merasa sangat menggigil.
         Mungkin, ibu membutuhkan infus di tangan karena epidural membuat tekanan darah  beberapa wanita turun. Efeknya kurang baik bagi suplai oksigen ke bayi.
Cara   pencegahannya, tambah segera volume darah untuk membuat tekanan darah norma  kembali.
         Mungkin, kateter terpasang di kandung kemih ibu. Penggunaan epidural menyebabkan  ibu tidak dapat memperkirakan waktu untuk buang air kecil sehingga ibu buang air kecil  secara otomatis.
         Mungkin, ibu merasa tidak sepenuhnya sadar. Dengan terpasangnya tiga tabung di   tubuhnya, ibu harus diberi tahu saatnya mengejan jika efek pembiusan belum hilang pada  tahap melahirkan.
Epidural dapat memperpanjang waktu persalinan, khususnya fase mengejan dan melahirkan bayi.
         Denyut jantung bayi harus dimonitor sepanjang waktu.
         Ada kemungkinan penggunaan forsep atau vacum untuk membantu kelahiran bayi karen seringkali epidural membuat bayi tidak dapat bergerak ke posisi yang pas untuk  dikeluarkan.
         Pada saat jarum epidural dicabut dan tabungnya dilepas, kemungkinan ada kebocoran  cairan rongga epidura. Cairan ini dapat bergeskan dengan serabut saraf tulang belakang.
  Padahal, pergesekan sedikit saja dapat menimbulkan sakit kepala berat. Hal ini dapatdiatasi dengan mengambil sedikit darah dari tangan ibu. Biasanya, sehari setelahkelahiran bayi dan menyuntikkannya ke punggung untuk menutup lubang akibat jarum epidural.
         Beberapa ibu mendapat masalah berkemih setelah menggunakan epidural
Epidural tidak dapat digunakan pada persalinan di rumah.
3. Konsep Zid Bath / Kompre
Pemeriksaan suhu merupakan salah satu pemeriksan yang digunakan untuk menilai kondisi metabolisme dalam tubuh, dimana tubuh menghasilkan panas secara kimiawi melaluimetabolisme darah.
Kompres atau Zid bath adalah bantalan dari linen atau meteri lainnya yang dilipat-lipat,Zikenakan dengan tekanan; kadang-kadang mengandung obat dan dapat bersih ataupun kering,panas ataupun dingin (Kamus Dorland, 1996)
 Zid Bath atau kompres dibagi menjadi 2 :
• Kompres Hangat
Memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukan. Kompres hangat diberikan satu jam atau lebih.
• Kompres Dingin
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kompres adalah kain pembebat yang dibasahi dengan air dingin (es, dan sebagainya) untuk menyejukkan kepala dan sebagainya.
Mekanisme kompres terhadap tubuh (Barbara R Hegner, 2003)
Kompres panas dan dingin mempengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda.
1. Kompres dingin mempengaruhi tubuh dengan cara :
• Menyebabkan pengecilan pembuluh darah (Vasokonstriksi).
• Mengurangi oedema dengan mengurangi aliran darah ke area.
• Mematirasakan sensasi nyeri.
• Memperlambat proses kehidupan.
• Memperlambat proses inflamasi/peradangan(bengkak,kemerahan )
• Mengurangi rasa gatal.
2. Kompres Panas (diatermi) mempengaruhi tubuh dengan cara :
• Memperlebar pembuluh darah (Vasodilatasi).
• Memberi tambahan nutrisi dan oksigen untuk sel dan membuang sampah-sampah tubuh.
• Meningkatkan suplai darah ke area-area tubuh.
• Mempercepat penyembuhan.
• Dapat menyejukkan
Pemberian kompres panas/hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hypothalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka terhadap panas dihypotalamus dirangsang, system effektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh hypotalamik bagian anterior sehigga terjadi vasodilatasi (Wolf, 1984). Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/kehilangan energi/panas melalui kulit meningkat.
Derajat suhu air untuk kompres (Wolf, 1984)
• Dingin sekali dibawah 13ºC (55ºF)
• Dingin 10 – 18ºC (50 – 65ºF)
• Sejuk 18 – 26ºC (65 – 80ºF)
• Hangat kuku 26 – 34ºC (80 – 93ºF)
• Hangat 34 – 37ºC (93 – 98ºF)
• Panas 37 – 41ºC (98 – 105ºF)
• Sangat panas 41 – 46ºC (105 – 115ºF)
Ø  Tujuan Kompres
Tujuan pemberian kompres :
a. kompres panas
Pada umunya bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan jaringan. Tujuan khususnya yaitu :
• memperlancar sirkulasi darah
• mengurangi rasa sakit
• memberi rasa hangat, nyaman, dan tenang pada klien
• merangsang peristatik usus
• memperlancar pengeluaran eksudat
b. Kompres dingin
• menurunkan suhu tubuh
• mencegah peradangan meluas
• mengurangi kongesti (akumulasi abnormal atau berlebihan dari cairan tubuh)
• mengurangi perdarahan setempat
• mengurangi rasa sakit pada daerah setempat
Kompres panas dan dingin pada tubuh bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan jaringan. Bentuk kompres termal biasanya bergantung pada tujuannya. Kompres dingin pada bagian tubuh akan menyerap panas dari area tersebut; kompres panas, tentu saja akan menghangatkan area tubuh tersebut. Kompres panas atau dingin menghasilkan perubahan fisiologis suhu jaringan, ukuran pembuluh darah, tekanan darah kapiler, area permukaan kapiler untuk pertukaran cairan dan elektrolit, dan metabolisme jaringan. Durasi kompres juga mempengaruhi respons.
o   PenggunaanKompres
A.Penggunaan Kompres Hangat:
• Penanganan demam bukanlah dengan dikompres air dingin seperti yang biasa dilakukan dahulu kala karena orang demam jika dikompres dingin akan lebih demam lagi saat kompres dihentikan. Karena pada saat dikompres dingin, pusat pengatur suhu menerima sinyal bahwa suhu tubuh sedang dingin maka tubuh harus segera dihangatkan. Jadi justru akan bertentangan dengan hasil yang diharapkan. Lain halnya bila dilakukan kompres hangat. Pusat suhu akan menerima informasi bahwa suhu tubuh sedang hangat, maka suhu tubuh harus segera diturunkan. Inilah pengaruh yang diharapkan. Ketika demam kita memang merasa kedinginan meskipun tubuh kita sebenarnya panas. Kompres hangat membantu mengurangi rasa dingin & menjadikan tubuh terasa lebih nyaman.
o   • Untuk cedera lama/kondisi kronis, yang mana bisa membantu membuat rileks, mengurangi tekanan pada jaringan serta merangsang aliran darah ke daerah.
o   • Untuk pengobatan nyeri dan merelaksasi otot-otot yang tegang tetapi tidak boleh digunakan untuk yang cedera akut atau ketika masih ada bengkak, karena panas dapat memperparah bengkak yang sudah ada.
B.Penggunaan Kompres Dingin
• Digunakan untuk cedera tiba-tiba atau yang baru terjadi/ akut. Jika cedera baru terjadi (dalam waktu 48 jam terakhir) yang lalu timbul pembengkakan, maka dengan kompres dingin bisa membantu meminimalkan pembengkakan di sekitar cedera karena suhu dingin mengurangi aliran darah di daerah cidera sehingga memperlambat metabolisme sel dan yang paling penting adalah dapat mengurangi rasa sakit.
• Untuk keseleo pergelangan kaki, cedera berlebihan pada atlet atau luka memar.
• Membantu mengobati luka bakar dan jerawat.




BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Obat adalah suatu subtansi atau bahan yang di gunakan untuk mendiagnosa, menyembuhkan, mengatasi, membebaskan suatu penyakit untuk mendapatkan efek terafeutik namun bisa salah dapat mengakibatkan alergi dan shock bahkan kematian oleh karena itu sebagai tenaga kesehatan harus mengetahui betul hal-hal yang berhubungan dengan pemberian obat dan teknik pemberian obat.
Pentingnya bidan untuk mempelajari farmakologi agar dapat memahami tentang efek dari obat yang diharapkan sehingga mampu mengevaluasi efek pengobatan. Salah satunya yaitu dalam pemberian obat melalui mata, epidural, dan zit bath yang dilakukan dalam praktik kebidanan.

3.2   Saran
Dalam penulisan makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan dan kesalahan, baik dari segi penulisan maupun dari segi penyusunan kalimatnya dan dari segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kepada para pembaca makalah ini agar dapat memberikan kritikan dan masukan yang bersifat membangun.






DAFTAR PUSTAKA

Alimul Hidayat, A. Aziz.2006, Keterampilan Dasar Praktik Klinik Edisi 2. salemba medika   widjaya grand center D7. jakarta hal 207-229
Saifudin. Abdul bari. 2010, Ilmu Kebidanan. Bina pustaka prawiro hardjo hal jakarta hal 67-80.
Kusmiati, Kusmiati. 2007, Keterampilan Dasar praktik Klinik kebidanan. Fitramaya.yogyakarta hal 85-122.
Rochimah.Ns. 2011, Keterampilan Dasar praktik Klinik (KDPK).CV. trans info media jakarta hal 395-433.
https://bidannilna.wordpress.com/2014/10/24/teknik-pemberian-obat-melalui-zid-bath


Komentar

Postingan Populer