KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN
KETERAMPILAN DASAR KEBIDANAN
(Teknik pemberian obat melalui mata,
epidural, dan zit bath)
DISUSUN
OLEH :
FITRI ANDRIANI
FRISKI VERAMIDA
SERI YUNITA MARLENA
POLITEKNIK
KESEHATAN KEMENKES TANJUNG KARANG
PRODI
DIV KEBIDANAN TANJUNG KARANG
2014
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha
Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada penyusun sehingga dapat
menyelesaikan makalah laporan ini yang berjudul :‘’MAKALAH KETRAMPILAN DASAR
KEBIDANAN “
Penyusun menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini
berkat banntuan Tuhan YME dan tidak lepasdari bantuan berbagai pihak. Untuk
itu, dalam kesempatan ini penyusun menghanturkan rasa hormat dan terimah kasih
kepada dosen Ketrampilan Dasar Kebidanan, serta teman-teman yang membantu dalam
makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam proses makalah ini masih jauh
dari kesempatan kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun
demikian, penyusun telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang
dimiliki sehingga dapat menyelesaikan dengan baik dan oleh karenanya, penyusun
dengan rendah hati menerima masukan,saran dan usul guna penyempurnaan makalah
ini. Akhirnya penyusun berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca.
Bandar
Lampung,07 Maret 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I PENDHULUAN
1.1
Latar Belakang Makalah........................................................................ 1
1.2 Tujuan
Penulis....................................................................................... 1
1.3 Rumusan
Masalah.................................................................................. 1
1.4 Manfaat Penulis.................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Obat.................................................................... 2
2.2
Macam- Macam Pemberian Obat.......................................................... 5...........
BAB IIIPENUTUP
3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 14
3.2 Saran ................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Makalah
Untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah tentang kebutuhan dasar manusia dan berfungsi untuk mencari ilmu
dan menambah ilmu untuk memperluas suatu konsep dalam diri kita sendiri. Dan perilaku
manusia untuk mencari bahan-bahan untuk suatu ilmu yang berkaitan tentang
Kebutuhan dasa manusiadan tak lupa untuk memperluas suatu ilmu
pengetahuan didalam diri kita sendiri dan membuat untuk belajar yang lebih giat
lagi. Supaya lebih luas pengetahuannya.
1.2 Tujuan
Penulis
Penyusunan Laporan ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui bagaimana prinsip
prinsi pemberian obat melalui mata.
2. Untuk mengetahui bagaimana prinsip
prinsi pemberian obat melalui epidural.
3. Untuk mengetahui bagaimana prinsip
prinsi pemberian obat melalui zit bath.
1.3
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah di dalam laporan makalah ini:
1. Bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui mata?
2. Bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui epidural?
3. Bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui zit bath?
Adapun rumusan masalah di dalam laporan makalah ini:
1. Bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui mata?
2. Bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui epidural?
3. Bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui zit bath?
1.4 Manfaat Penulis
Manfaat penulis dalam pembuatan makalah ini untuk mengetahui
bagaimana prinsip prinsi pemberian obat melalui mata, epidural, dan zit bath.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Obat
Obat merupakan sebuah subtansi yang diberikan kepada manusia
sebagai perawatan atau pengobatan bahkan pencegahan terhadap berbagai gangguan
yang terjadi di dalam tubuh. Dalam pelaksanaan tenaga medik memiliki tanggung
jawab dalam keamanan obat dan pemberian secara langsung ke pasien hal ini
semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasien.
Pentingnya bidan untuk mempelajari farmakologi agar dapat
memahami tentang efek dari obat yang diharapkan sehingga mampu mengevaluasi
efek pengobatan.
Obat adalah suatu subtansi atau bahan
yang di gunakan untuk mendiagnosa, menyembuhkan, mengatasi, membebaskan suatu
penyakit untuk mendapatkan efek terafeutik namun bisa salah dapat mengakibatkan
alergi dan shock bahkan kematian oleh karena itu sebagai tenaga kesehatan harus
mengetahui betul hal-hal yang berhubungan dengan pemberian obat dan teknik
pemberian obat.
·
Persiapan Sebelum Pemberian Obat
Sebelum
meberikan obat kepada pasien ada bebeapa persyaratan yang perlu diperhatikan
untuk menjamin keamanan dalam pemverian obat diantaranya :
1. benar obat
Sebelum mempersiapkan obat ketempatnya petugas
medis harus memperhatikan kebenaran obat sebanyak 3 kali, yakni ketika
memindahkan obat dari tempat penyimpananobat, saat obat diprogramkan, dan saat
mengembalikan obat ketempat penyimpanan.
2. benar dosis
Untuk menghindari kesalahan dalam pemberian obat, maka penentuan dosis
harus diperhatikan dengan mengguankan alat standar, dengan demikian
penghitungan dosis benar untuk diberikan ke pasien
3. benar pasien
Obat yang diberikan hendaknya benar pada pasien yang diprogramkan. Hal
ini dilakukan dengan mengidentifikasi identitas kebenaran obat yaitu mencocokan
nama, nomer, register, alamat dan program pengobatan pada pasien
4. benar jalur pemberian
Kesalahan rute pemberiuan dapt menimbulkan efek sistemik yang fatal pada
pasien, untuk itu cara pemb eriannya adalah dengan melihat jalur obat pada
lebel yang ada sebelum memberikan pada pasien.
5. Benar waktu
Pemberian obat harus benar-benar sesuai dengan waktu yang diprogramkan
karena berhubungan denag kerja obat yang dapat menimbulkan efek terapi dari
obat.
·
Bentuk Obat Dan Jenis Obat
Ø Kapsul adalah obat dalam bentuk
bubuk, cair atau minyak yang dibungkus dengan genaltin.
Ø Puyer adalah obat yang di tumbuk halus.
Ø sirup adalah obat cair menganmdung gula.
Contohnya adalah obat batuk, atau obat penurun
panas untuk anak-anak.
Ø salep adalah jenis obat yang dalam
bentuk semi padat contohnya adalah obat untuk
kecantikan.
Ø Pil adalah obat satu atau lebih
obat yang di campur dengan bahan
kohesift berbentuk lonjong, bulat atau lempeng, contohnya adalah pil untuk
kontrasepsi dan tablet penambah darah (fe)
Ø Tablet adalah bentuk obat bubuk yang dipadatkan yang mengandung bahan
utama. Contohnya adalah paracetamol, antasida, vitamin C.
Ø Kaplet obat bubuk yang dipadatkan berbentuk lonjong seperti kapsul dan
bersalut hingga lebih mudah ditelan. Contohnya asam mefenamat.
Ø Lotion adalah sediaan obat berupa emoli yang jernih di oleskan pada kulit
contohnya adalah anti septik.
Ø Larutan adalah zat yang berkhasiat dalam aqua atau pelarut contohnya
adalah aquabidest, tetes mata.
Nurse.onlin
Ø Gel atau jelly adalah obat semi padat yang bisa tembus cahaya mencair
saat di oleskan di kulit contohnya adalah jelly untuk USG.
Ø In haler adalah jenis obat yang berbrntuk gas atau uap obat ini dapat di
gunakan untuk penderita sesak nafas atau
asma.
Ø
posituria adalah obat yang
berbentuk seperti peluru agar dapat dimasukan kedalam tubuh dan meleleh pada
suhu tubuh.
2.2 Macam-
Macam Pemberian Obat
1. Pemberian Obat pada Mata
Cara
memberikan obat pada mata dengan tetes mata atau salep mata obat tetes mata.
Obat yang biasa digunakan oleh klien ialah tetes mata dan salep, meliputi
preparat yang biasa dibeli bebas , misalnya air mata buatan dan
vasokonstrikstor (misalnya visine, dsb). Namun banyak klien menerima resep
obat-obatan oftalmic untuk kondisi mata seperti glaukoma dan untuk terapi
setelah suatu prosddur, misalnya ekstraksi katarak. Persentase besar klien yang
menerima obat mata ialah klien lanjut usia. Masalah yang berhubungan
dengan usia termasuk penglihatan yang buruk, tremor tangan dan kesulitan dalam
memegang atau menggunakan botol obat, mempengaruhi kemudahan lansia menggunakan
obat mata secara mandiri. Perawat atau bidan memberi penjelasan kepada klien
dan anggota keluarga tentang teknik yang digunakan dalam pemberian obat mata.
(Donnelly. 1987) menganjurkan untuk memperlihatkan klien setiap langkah
prosedur pemberian obat tetes mata untuk meningkatkan kepatuhan klien.
Obat mata dapat digolongkan menjadi
a.
Obat mata
golongan antiseptik dan antiinfeksi
b. Obat mata golongan kortikosteroid
c.
Obat mata
lainnya
Tujuan pemberian obat pada mata
diantaranya:
·
digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata
dengan cara mendilatasi pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara
melemahkan otot lensa,
·
digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
·
Obat mata golongan antiseptik dan antiinfeksi digunakan pada
gangguan mata karena adanya infeksi oleh mikroba, masuknya benda asing ke dalam
kornea mata atau kornea mata yang luka/ ulkus.
·
Obat mata kortikosteroid digunakan untuk radang atau alergi
mata atau juga bengkak yang bisa disebabkan oleh alergi itu sendiri atau oleh
virus. Karena infeksi mata oleh virus itu resisten terhadap pengobatan biasanya
digunakan obat mata golongan kortikosteroid untuk menghilangkan gejalanya saja.
Kalaupun dengan antiseptik hal itu menghindari infksi sekunder.
·
Gabungan antiseptik dengan kortikosteroid digunakan untuk
masalah mata yang disebabkan oleh mikroba dan dengan keluhan bengkak/ radang
juga gatal atau alergi.
·
Digunakan untuk keluhan mata karena habis operasi.
Prinsip
pemberian obat mata
1. Kornea mata banyak disuplai serabut
nyeri sehingga menjadi sangat sensitif terhadap apapun yang diberikan ke
kornea. Oleh karena itu, perawat atau bidan menghindari obat mata apapun secara
langsung ke kornea.
2. Resiko penularan infeksi dari satu
mata ke mata lain sangatlah tinggi. Perawat atau bidan menghindari menyentuh
kelopak mata atau struktur mata yang lain dengan alat tetes mata atau tube
salep.
3. Perawat atau bidan menggunakan obat
mata hana untuk mata yang terinfeksi. 1
Indikasi
dan kontra indikasi pemberian obat pada mata
Ø Indikasi
Biasanya obat tetes mata digunakan
dengan indikasi sebagai berikur
o meredakan sementara mata merah
akibat iritasi ringan yang dapat disebabkan oleh debu, sengatan sinar matahari,
pemakaian lensa kontak, alergi atau sehabis berenang.
o antiseptik dan antiinfeksi.
o radang atau alergi mata.
Ø Kontraindikasi
Obat tetes mata yang mengandungnafazolin
hidroksida tidak boleh digunakan pada penderita glaukoma atau penyakit mata
lainnya yang hebat, bayi dan anak. Kecuali dalam pegawasan dan nasehat dokter.
2. Pemberian obat secara epidural
Teknik untuk menghilangkan rasa sakit dengan memasukan jarum
kecil berisi tabung (kateter) yang sangat kecil melalui otot punggung hingga ke
daerah epidural (rongga di bagian tulang belakang). Hal ini dilakukan oleh
dokter anestesi.
Manajemen nyeri yang dapat dilakukan oleh bidan diantaranya mengurangi
faktor yang dapat menambah nyeri misalnya ketidak percayaan, kesalah fahaman,
ketakutan, kelelahan, dan kebosanan.
Memodifikasi stimulus nyeri dan menggunakan teknik-teknik seperti teknik
latihan pengalihan menonton televisi, berbincang- bincang dengan orang lain,
mendengarkan musik. Atau stimulasi kulit dengan menggosok dengan halus pada daerah yang nyeri,
menggosok punggung, menggunakan air hangat dan dingin, memijat dengan air mengalir.
Mekanisme kerja epidural sebagai berikut. Tulang punggung terdiri dari tulang
belakang yang terpisah-pisah. Tulang belakang melindungi urat saraf tulang
belakang yang membentang dari pinggul hingga ke pangkal leher. Urat saraf
tulang belakang terdiri dari jutaan serabut saraf. Semuanya terhubung ke otak
dan ke seluruh bagian tubuh dengan rute berbeda-beda. Secara fungsi, serabut
saraf dibagi dua jenis, yaitu serabut urat saraf sensoris dan
serabut urat saraf motoris. Serabut saraf sensoris berfungsi
menyampaikan pesan, seperti rasa sakit, panas, dan dingin dari tubuh ke otak.
Serabut saraf motoris bekerja sebaliknya, yaitu menyampaikan pesan dari otak ke
bagian tubuh, antara lain “menyuruh” tubuh bergerak atau berkontraksi.
Pada pembiusan
epidural, bagian yang dibius atau diberi penawar sakit adalah urat saraf
sensoris sehingga sakit saat kontraksi di rahim tidak sampai ke otak.
Akibatnya, ibu pun tidak merasakan sakit. Namun, pembiusan ini tidak boleh
terkena urat saraf motoris sehingga otak tetap dapat “memerintahkan” otot-otot
rahim berkontraksi. Di punggung, urat saraf dikelilingi selubung berisi air
yang disebut dura. Antara dura dengan tulang terdapat rongga yang dilalui
serabut urat saraf menuju dan dari berbagai bagian tubuh yang disebut epidura.
Pembiusan dilakukan dengan memasukkan jarum kecil berisi tabung (kateter) yang
sangat kecil melalui otot punggung ibu hingga ke epidura, dan dengan sangat
hati-hati menarik ujung jarum hingga tabung polythene tertinggal di dalam
rongga epidura. Sekarang, dokter dapat memberi pembiusan melalui tabung di
dalam rongga tersebut. Pembiusan epidural harus dilakukan dokter spesialis
anestesi. Ketika memasukkan jarum suntik, ibu diminta menekuk seperti posisi
bayi dalam perut. Setelah itu, ibu harus diawasi karena dapat mengalami efek
samping, seperti mual, kejang, dingin, sakit kepala, hingga penurunan tekanan
darah sampai titik sangat rendah yang tentu tidak balk bagi ibu maupun janin.
Untuk mengatasi penurunan tekanan darah, kadang dokter menyertai pembiusan
epidural dengan suntikan 500 ml cairan ke pembuluh darah sebelum pembiusan.
Selain itu, karena tidak merasakan sakit akibat suntikan
epidural, mungkin ibu menjadi sulit untuk membantu kelahiran bayi dengan mengandalkan otot perutnya dan mendorong ketika terjadi
kontraksi rahim. Hal ini menyebabkan persalinan tahap kedua lebih lama
dibanding ibu yang tidak mendapat epidural. Ada kemungkinan, bayi dikeluarkan
dengan bantuan forsep atau vacum.
Dari penelitian yang dilakukan pada bayi baru lahir alami
atau per vagina dengan ibu yang menggunakan metode ini, tidak didapatkan
perbedaan yang bermakna pada nilai APGAR pertama dan kelima antara bayi studi
dengan bayi kontrol. Selain itu, tidak didapatkan perbedaan kejadian bayi
kuning dan lama perawatan di rumah sakit.
Di negara barat, banyak ibu menggunakan metode epidural.
Sepuluh persen dari mereka menyatakan metode ini tidak efektif dan rasa sakit
tetap dialami. Sepuluh persen lainnya mengeluh epidural menimbulkan kejang dan
dingin. Namun, 800/0 ibu merasakan manfaat metode ini. Kini, teknik epidural
disempurnakan dengan dikembangkannya teknik blok epidural kontinu, yaitu teknik
epidural yang dikendalikan pasien (patient controlled epidural analgesia) dan
teknik kombinasi epidural spinal (combined spinal epidural analgesia).
Di
bawah ini keuntungan penggunaan epidural.
•
Delapan
puluh persen ibu berhasil mengatasi rasa sakit.
•
Tidak
mengacaukan pikiran.
•
Membantu
dalam mengontrol tekanan darah tinggi.
•
Mengembalikan
kemampuan ibu mengontrol persalinan sehingga mengembalikan rasapercaya diri.
•
Kini,
epidural lebih canggih. Penggunaannya tidak memberi efek kebas pada kaki dan tangan.
Berikut
ini kerugian penggunaan epidural.
•
Mungkin,
ibu merasa mati rasa hanya di sebagian tubuh. Sebagian kecil perut tidak mengalami efek pembiusan.
•
Ibu harus
tetap di tempat tidur dan merasa sangat menggigil.
•
Mungkin,
ibu membutuhkan infus di tangan karena epidural membuat tekanan darah beberapa wanita turun. Efeknya kurang baik bagi
suplai oksigen ke bayi.
Cara
pencegahannya, tambah segera volume
darah untuk membuat tekanan darah norma kembali.
•
Mungkin,
kateter terpasang di kandung kemih ibu. Penggunaan epidural menyebabkan ibu tidak dapat memperkirakan waktu untuk
buang air kecil sehingga ibu buang air kecil secara otomatis.
•
Mungkin,
ibu merasa tidak sepenuhnya sadar. Dengan terpasangnya tiga tabung di tubuhnya,
ibu harus diberi tahu saatnya mengejan jika efek pembiusan belum hilang pada tahap melahirkan.
Epidural dapat memperpanjang waktu persalinan, khususnya fase mengejan dan melahirkan bayi.
Epidural dapat memperpanjang waktu persalinan, khususnya fase mengejan dan melahirkan bayi.
•
Denyut
jantung bayi harus dimonitor sepanjang waktu.
•
Ada
kemungkinan penggunaan forsep atau vacum untuk membantu kelahiran bayi karen seringkali
epidural membuat bayi tidak dapat bergerak ke posisi yang pas untuk dikeluarkan.
•
Pada saat
jarum epidural dicabut dan tabungnya dilepas, kemungkinan ada kebocoran cairan rongga epidura. Cairan ini dapat
bergeskan dengan serabut saraf tulang belakang.
Padahal,
pergesekan sedikit saja dapat menimbulkan sakit kepala berat. Hal ini
dapatdiatasi dengan mengambil sedikit darah dari tangan ibu. Biasanya, sehari
setelahkelahiran bayi dan menyuntikkannya ke punggung untuk menutup lubang
akibat jarum epidural.
•
Beberapa
ibu mendapat masalah berkemih setelah menggunakan epidural
•Epidural tidak dapat digunakan pada persalinan di rumah.
3.
Konsep Zid Bath / Kompre
Pemeriksaan
suhu merupakan salah satu pemeriksan yang digunakan untuk menilai kondisi
metabolisme dalam tubuh, dimana tubuh menghasilkan panas secara kimiawi
melaluimetabolisme darah.
Kompres
atau Zid bath adalah bantalan dari linen atau meteri lainnya yang
dilipat-lipat,Zikenakan dengan tekanan; kadang-kadang mengandung obat dan dapat
bersih ataupun kering,panas ataupun dingin (Kamus Dorland, 1996)
Zid Bath atau kompres dibagi menjadi 2 :
•
Kompres Hangat
Memberikan
rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang
menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukan. Kompres hangat diberikan
satu jam atau lebih.
• Kompres Dingin
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kompres adalah kain pembebat yang dibasahi dengan air dingin (es, dan sebagainya) untuk menyejukkan kepala dan sebagainya.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kompres adalah kain pembebat yang dibasahi dengan air dingin (es, dan sebagainya) untuk menyejukkan kepala dan sebagainya.
Mekanisme kompres
terhadap tubuh (Barbara R Hegner, 2003)
Kompres panas dan dingin mempengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda.
1. Kompres dingin mempengaruhi tubuh dengan cara :
• Menyebabkan pengecilan pembuluh darah (Vasokonstriksi).
• Mengurangi oedema dengan mengurangi aliran darah ke area.
• Mematirasakan sensasi nyeri.
• Memperlambat proses kehidupan.
• Memperlambat proses inflamasi/peradangan(bengkak,kemerahan )
• Mengurangi rasa gatal.
Kompres panas dan dingin mempengaruhi tubuh dengan cara yang berbeda.
1. Kompres dingin mempengaruhi tubuh dengan cara :
• Menyebabkan pengecilan pembuluh darah (Vasokonstriksi).
• Mengurangi oedema dengan mengurangi aliran darah ke area.
• Mematirasakan sensasi nyeri.
• Memperlambat proses kehidupan.
• Memperlambat proses inflamasi/peradangan(bengkak,kemerahan )
• Mengurangi rasa gatal.
2. Kompres Panas
(diatermi) mempengaruhi tubuh dengan cara :
• Memperlebar pembuluh darah (Vasodilatasi).
• Memberi tambahan nutrisi dan oksigen untuk sel dan membuang sampah-sampah tubuh.
• Meningkatkan suplai darah ke area-area tubuh.
• Mempercepat penyembuhan.
• Dapat menyejukkan
• Memperlebar pembuluh darah (Vasodilatasi).
• Memberi tambahan nutrisi dan oksigen untuk sel dan membuang sampah-sampah tubuh.
• Meningkatkan suplai darah ke area-area tubuh.
• Mempercepat penyembuhan.
• Dapat menyejukkan
Pemberian kompres panas/hangat pada daerah tubuh akan memberikan
sinyal ke hypothalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang
peka terhadap panas dihypotalamus dirangsang, system effektor mengeluarkan
sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran
pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai
otak, dibawah pengaruh hypotalamik bagian anterior sehigga terjadi vasodilatasi
(Wolf, 1984). Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/kehilangan
energi/panas melalui kulit meningkat.
Derajat suhu air untuk
kompres (Wolf, 1984)
• Dingin sekali dibawah 13ºC (55ºF)
• Dingin 10 – 18ºC (50 – 65ºF)
• Sejuk 18 – 26ºC (65 – 80ºF)
• Hangat kuku 26 – 34ºC (80 – 93ºF)
• Hangat 34 – 37ºC (93 – 98ºF)
• Panas 37 – 41ºC (98 – 105ºF)
• Sangat panas 41 – 46ºC (105 – 115ºF)
• Dingin sekali dibawah 13ºC (55ºF)
• Dingin 10 – 18ºC (50 – 65ºF)
• Sejuk 18 – 26ºC (65 – 80ºF)
• Hangat kuku 26 – 34ºC (80 – 93ºF)
• Hangat 34 – 37ºC (93 – 98ºF)
• Panas 37 – 41ºC (98 – 105ºF)
• Sangat panas 41 – 46ºC (105 – 115ºF)
Ø Tujuan Kompres
Tujuan pemberian kompres :
a. kompres panas
Pada umunya bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan jaringan. Tujuan khususnya yaitu :
• memperlancar sirkulasi darah
• mengurangi rasa sakit
• memberi rasa hangat, nyaman, dan tenang pada klien
• merangsang peristatik usus
• memperlancar pengeluaran eksudat
Tujuan pemberian kompres :
a. kompres panas
Pada umunya bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan jaringan. Tujuan khususnya yaitu :
• memperlancar sirkulasi darah
• mengurangi rasa sakit
• memberi rasa hangat, nyaman, dan tenang pada klien
• merangsang peristatik usus
• memperlancar pengeluaran eksudat
b. Kompres dingin
• menurunkan suhu tubuh
• mencegah peradangan meluas
• mengurangi kongesti (akumulasi abnormal atau berlebihan dari cairan tubuh)
• mengurangi perdarahan setempat
• mengurangi rasa sakit pada daerah setempat
• menurunkan suhu tubuh
• mencegah peradangan meluas
• mengurangi kongesti (akumulasi abnormal atau berlebihan dari cairan tubuh)
• mengurangi perdarahan setempat
• mengurangi rasa sakit pada daerah setempat
Kompres panas dan dingin pada tubuh bertujuan untuk meningkatkan
perbaikan dan pemulihan jaringan. Bentuk kompres termal biasanya bergantung
pada tujuannya. Kompres dingin pada bagian tubuh akan menyerap panas dari area
tersebut; kompres panas, tentu saja akan menghangatkan area tubuh tersebut.
Kompres panas atau dingin menghasilkan perubahan fisiologis suhu jaringan,
ukuran pembuluh darah, tekanan darah kapiler, area permukaan kapiler untuk
pertukaran cairan dan elektrolit, dan metabolisme jaringan. Durasi kompres juga
mempengaruhi respons.
o
PenggunaanKompres
A.Penggunaan Kompres Hangat:
A.Penggunaan Kompres Hangat:
•
Penanganan demam bukanlah dengan dikompres air dingin seperti yang biasa
dilakukan dahulu kala karena orang demam jika dikompres dingin akan lebih demam
lagi saat kompres dihentikan. Karena pada saat dikompres dingin, pusat pengatur
suhu menerima sinyal bahwa suhu tubuh sedang dingin maka tubuh harus segera
dihangatkan. Jadi justru akan bertentangan dengan hasil yang diharapkan. Lain
halnya bila dilakukan kompres hangat. Pusat suhu akan menerima informasi bahwa
suhu tubuh sedang hangat, maka suhu tubuh harus segera diturunkan. Inilah
pengaruh yang diharapkan. Ketika demam kita memang merasa kedinginan meskipun
tubuh kita sebenarnya panas. Kompres hangat membantu mengurangi rasa dingin
& menjadikan tubuh terasa lebih nyaman.
o
• Untuk cedera lama/kondisi
kronis, yang mana bisa membantu membuat rileks, mengurangi tekanan pada
jaringan serta merangsang aliran darah ke daerah.
o
• Untuk pengobatan nyeri dan
merelaksasi otot-otot yang tegang tetapi tidak boleh digunakan untuk yang
cedera akut atau ketika masih ada bengkak, karena panas dapat memperparah
bengkak yang sudah ada.
B.Penggunaan
Kompres Dingin
•
Digunakan untuk cedera tiba-tiba atau yang baru terjadi/ akut. Jika cedera baru
terjadi (dalam waktu 48 jam terakhir) yang lalu timbul pembengkakan, maka
dengan kompres dingin bisa membantu meminimalkan pembengkakan di sekitar cedera
karena suhu dingin mengurangi aliran darah di daerah cidera sehingga memperlambat
metabolisme sel dan yang paling penting adalah dapat mengurangi rasa sakit.
• Untuk keseleo pergelangan kaki, cedera berlebihan pada atlet atau luka memar.
• Membantu mengobati luka bakar dan jerawat.
• Untuk keseleo pergelangan kaki, cedera berlebihan pada atlet atau luka memar.
• Membantu mengobati luka bakar dan jerawat.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Obat adalah suatu subtansi atau bahan
yang di gunakan untuk mendiagnosa, menyembuhkan, mengatasi, membebaskan suatu
penyakit untuk mendapatkan efek terafeutik namun bisa salah dapat mengakibatkan
alergi dan shock bahkan kematian oleh karena itu sebagai tenaga kesehatan harus
mengetahui betul hal-hal yang berhubungan dengan pemberian obat dan teknik
pemberian obat.
Pentingnya bidan untuk mempelajari farmakologi agar dapat
memahami tentang efek dari obat yang diharapkan sehingga mampu mengevaluasi
efek pengobatan. Salah satunya yaitu dalam pemberian obat melalui mata,
epidural, dan zit bath yang dilakukan dalam praktik kebidanan.
3.2 Saran
Dalam
penulisan makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan dan kesalahan, baik dari
segi penulisan maupun dari segi penyusunan kalimatnya dan dari segi isi juga
masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kepada
para pembaca makalah ini agar dapat memberikan kritikan dan masukan yang
bersifat membangun.
DAFTAR
PUSTAKA
Alimul Hidayat, A. Aziz.2006, Keterampilan Dasar Praktik Klinik Edisi 2. salemba medika widjaya grand center D7. jakarta hal
207-229
Saifudin. Abdul bari. 2010, Ilmu Kebidanan. Bina pustaka prawiro hardjo hal jakarta hal 67-80.
Kusmiati, Kusmiati. 2007, Keterampilan Dasar praktik Klinik kebidanan. Fitramaya.yogyakarta
hal 85-122.
Rochimah.Ns. 2011, Keterampilan
Dasar praktik Klinik (KDPK).CV. trans info media jakarta hal 395-433.
https://bidannilna.wordpress.com/2014/10/24/teknik-pemberian-obat-melalui-zid-bath
Komentar
Posting Komentar