MAKALAH PEMBERDAYAAN KADER DAN DUKUN


MAKALAH
PEMBERDAYAAN KADER  DAN DUKUN












DISUSUNOLEH :


1.      AJENG SAPUTRI
NPM.17340037P
2.      ALEN TIARA PERMATA
NPM.17340038P
3.      ASRI SUGIARTI
NPM.17340047P
4.      AYU ANGGRAINI
NPM.17340048P
5.      CHELY PUTRI MAYASARI
NPM.17340049P
6.      DEVIANA BREDA AMANDA
NPM.17340054P


7.      DINI RENITA PUTRI
NPM.17340057P
8.      ELY SURYATI
NPM.17340667P
9.      ELYA ELVA
NPM.17340067P
10.  HARYATI FATMA
NPM.17340078P
11.  LINDA ARMIYANTI
NPM.17340037P









UNIVERSITAS MALAHAYAITI BANDAR LAMPUNG
JURUSAN DIV KEBIDANAN
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah “ PEMBERDAYAAN KADER DAN DUKUN” dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.
Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena, itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Bandar Lampung, April  2018

Penyusun













DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................ 1
1.2 Tujuan Penulisan............................................................................. 1
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Pembinaan Kader........................................................................... 2
2.2. Dukun Bayi.................................................................................... 6
2.3 Tujuan Pembinaan Dukun Bayi...................................................... 9
2.4 Langkah Pembinaan Dukun Bayi................................................... 10
2.5 Upaya Pembinaan Dukun Bayi...................................................... 10
2.6 Klasifikasi Pembinaan Dukun Bayi................................................ 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..................................................................................... 14
3.2 Saran............................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA














BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Dalam usaha meminimalkan AKI dan AKB, persalian yang dilakukan oleh dukun harus dialihkan kepada bidan. Dengan kata lain hal-hal yang berbau adat istiadat tetap dilakukan oleh dukun namun diawasi oleh bidan (kemitraan bidan dengan dukun tersebut).
Salah satu kasus kesehatan yang masih banyak terjadi di Indonesia adalah persalinan dengan pertolongan oleh dukun bayi. Kenyataannya, hampir semua masyarakat Indonesia baik itu yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan lebih senang ditolong oleh dukun. Hal tersebut disebabkan oleh tradisi dan adat istiadat setempat. Dan cara atau strategi untuk membangun cohesive network di antara para pemuka setempat, masyarakat, dukun dan bidan dalam melaksanakan pelayanan kesehatan maternal dan perinatal secara bersama-sama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik yang digunakan adalah wawancara mendalam. Informan yang dipilih adalah dukun bayi, bidan, ibu yang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi dan ibu yang melahirkan dengan pertolongan bidan.

1.2 TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1.         Untuk mengembangkan pengetahuan tentang “ASKEB V (Kebidanan Komunitas)” khususnya pada pembahasan tentang Pembinaan Dukun Bayi, Pemberitahuan Ibu Hamil untuk Bersalin di Tenaga Kesehatan (Promosi Tenaga Kesehatan)
2.         Untuk menambah wawasan kita sebagai mahasiswa Akademi Kebidanan khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.
3.         Sebagai pemenuhan tugas dari mata kuliah ASKEB V (Kebidanan Komunitas)

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 PEMBINAAN KADER
1. Pengertian Kader
Kader kesehatan masyarakat adalah laki-laki atau wanita yang dipilih oleh masyarakat dan dilatih untuk menangani masalah-masalah kesehatan perseorangan maupun masyarakat untuk berkerja dalam hubungan yang amat dekat dengan tempat-tempat pemberian pelayanan kesehatan.
Kader merupakan tenaga masyarakat yang dianggap paling dekat dengan masyarakat departemen kesehatan membuat kebijakan mengenai latihan untuk kader yang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan, menurunkan angka kematian ibu dan anak. Para kader kesehatan masyarakat itu seyogyanya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup sehingga memungkinkan mereka untuk membaca, menulis dan menghitung secara sedarhana.
Kader kesehatan masyarakat bertanggung jawab atas masyarakat setempat serta pimpinan yang ditujuk oleh pusat-pusat pelayanan kesehatan. Diharapkan mereka dapat melaksanakan petunjuk yang diberikan oleh para pembimbing dalam jalinan kerja dari sebuah tim kesehatan.
Para kader kesehatan masyarakat untuk mungkin saja berkerja secara fullteng atau partime dalam bidang pelayanan kesehatan dan mereka tidak dibayar dengan uang atau bentuk lainnya oleh masyarakat setempat atau oleh puskesmas. Namun ada juga kader kesehatan yang disediakan sebuah rumah atau sebuah kamar serta beberapa peralatan secukupnya oleh masyarakat setempat.

2.Peran Fungsi Kader
Peran dan fungsi kader sebagai pelaku penggerakan masyarakat:
1.         perilaku hidup bersih dan sehat
2.         pengamatan terhadap masalah kesehatan didesa
3.         upaya penyehatan dilingkungan
4.         peningkatan kesehatan ibu, bayi dan balita
5.         permasyarakatan keluarga sadar gizi
Kader di tunjukan oleh masyarakat dan biasanya kader melaksanakan tugas-tugas kader kesehatan masyarakat yang secara umum hampir sama tugasnya dibeberapa Negara yaitu:
1.         pertolongan pertama pada kecelakaan dan penanganan penyakit yang ringan
2.         melaksanakan pengobatan yang sederhana
3.         pemberian motivasi dan saran-saran pada ibu-ibu sebelum dan sesudah melahirkan
4.         menolong persalinan
5.         pemberian motivasi dan saran-saran tentang perawatan anak
6.         memberikan motivasi dan peragaan tentang gizi
7.         program penimbangan balita dan pemberian makanan tambahan
8.         pemberian motivasi tentang imunisasi dan bantuan pengobatan
9.         melakukan penyuntikan imunisasi
10.     pemberian motivasi KB
11.     membagikan alat-alat KB
12.     pemberian motivasi tentang sanitasi lingkungan,kesehatan perorangan dan kebiasaan sehat secara umum.
13.     pemberian motivasi tentang penyakit menular,pencegahan dan perujukan.
14.     pemberian motivasi tentangperlunya fall up pada penyakit menular dan perlunya memastikan diagnosis.
15.     penenganan penyakit menular.
16.     membantu kegiatan di klinik.
17.     merujuk penderita kepuskesmas atau ke RS
18.     membina kegiatan UKS secara teratur
19.     mengumpulkan data yang dibutuhkan oleh puskesmas membantu pencatatan dan pelaporan.

3. pembentukan kader
Mekanisme pembentukan kader membutuhkan kerjasama tim. Hal ini disebabkan karena kader yang akan dibentuk terlebih dahulu harus diberikan pelatihan kader. Pelatihan kader ini diberikan kepada para calon kader didesa yang telah ditetapkan. Sebelumnya telahdilaksanakan kegiatan persiapan tingkat desa berupa pertemuan desa, pengamatan dan adanya keputusan bersama untuk terlaksanakan acara tersebut. Calon kader berdasarkan kemampuan dan kemauan berjumlah 4-5 orang untuk tiap posyandu. Persiapan dari pelatihan kader ini adalah:
ü  calon kader yang kan dilatih
ü  waktu pelatihan sesuai kesepakatan bersama
ü  tempat pelatihan yang bersih, terang, segar dan cukup luas
ü  adanya perlengkapan yang memadai
ü  pendanaan yang cukup
ü  adanya tempat praktik ( lahan praktik bagi kader )
Tim pelatihan kader melibatkan dari beberapa sector. Camat otomatis bertanggung jawab terhadap pelatihan ini, namun secara teknis oleh kepala puskesmas. Pelaksanaan harian pelatihan ini adalah staf puskesmas yang mampu melaksanakan. Adapun pelatihannya adalah tanaga kesehatan, petugas KB (PLKB), pertanian, agama, pkk, dan sector lain.
Waktu pelatihan ini membutuhkan 32 jam atau disesuaikan. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, simulasi, demonstrasi, pemainan peran, penugasan, dan praktik lapangan. Jenis materi yang disampaikan adalah:
1.         pengantar tentang posyandu
2.         persiapan posyandu
3.         kesehatan ibu dan anak
4.         keluarga berencana
5.         imunisasi
6.         gizi
7.         penangulangan diare
8.         pencatatan dan pelaporan

4. Strategi menjaga Eksistensi Kader
Setelah kader posyandu terbentuk, maka perlu ada nya strategi agar mereka dapat selalu eksis membantu masyarakat dibidang kesehatan.
1.         refresing kader posyandu pada saat posyandu telah selesai dilaksanakan oleh bidan desa maupun petugas lintas sector yang mengikuti kegiatan posyandu
2.         adanya perubahan kader posyandu tiap desa dan dilaksanakan pertemuan rutin tiap bulan secara bergilir disetiap posyandu
3.         revitalisasi kader posyandu baik tingkat desa maupun kecamatan. Dimana semua kader di undang dan diberikan penyegaran materi serta hiburan dan bisa juga diberikan rewards.
4.         Pemberian rewards rutin misalnya berupa kartu berobat gratis kepuskes untuk kader dan keluarganya dan juga dalam bentuk materi yang lain yang diberikan setiap tahun
Para kader kesehatan yang bekerja dipedesaan membutuhkan pembinaan atau pelatihan dalam rangka menghadapi tugas-tugas mereka, masalah yang dihadapinya.
Pembinaan atau pelatihan tersebut dapat berlangsung selama 6-8 minggu atau bahkan lebih lama lagi. Salah satu tugas bidan dalam upaya menggerakkan peran serta masyarakat adalah melaksanakan pembinaan kader.
Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam pembinaan kader adalah :
1.         Pemberitahuan ibu hamil untuk bersalin ditenaga kesehatan ( promosi bidan siaga)
2.         Pengenalan tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas serta rujukannya.
3.         Penyuluhan gzi dan keluarga berencana
4.         Pencatatan kelahiran dan kematian bayi atau ibu
5.         Promosi btabulin, donor darah berjalan,ambulan desa,suami siaga,satgas gerakan saying ibu.
Pembinaan kader yang dilakukan bidan didalamnya berisi tentang perran kader adalah dalam daur kehidupan wanita dari mulai kehamilan sampai dengan masa perawatan bayi. Adapun hal-hal yang perlu disampaikan dalam
persiapan persalinan adalah sebagai berikut :
ü  Sejak awal, ibu hamil dan suami menentukan persalinan ini ditolong oleh bidan atau dokter
ü  Suami atau keluarga perlu menabung untuk biaya persalinan.
ü  Ibu dan suami menanyakan kebidan atau kedokter kapan perkiraan tanggal persalinan
ü  Jika ibu bersalin dirumah, suami atau keluarga perlu menyiapkan terang, tempat tidur dengan alas kain yang bersih, air bersih dan sabun untuk cuci tangan, handuk kain, pakaian kain yang bersih dan kering dan pakaian ganti ibu.
Pembinaan kader yang dilakukan bidan yang berisi tentang peran kader dalam deteksi dini tanda bahaya dalam kehamilan maupun hal-hal berikut ini.
Perdarahan ( hamil muda dan hamil tua)
ü  Bengkan dikaki, tangan, wajah, atau sakit kepala kadang disertai kejang
ü  Demam tinggi
ü  Keluar air ketuban sebeleum waktunya
ü  Bayi dalam kandungan gerakannya berkurang atau tidak bergerak
ü   Ibu muntah terus dan tidak mau makan

2.2. Dukun Bayi
Dukun bayi adalah seorang anggota masyarakat, pada umumnya seorang wanita yang mendapat kepercayaan serta memiliki keterampilan menolong persalinan secara tradisional dan memperoleh keterampilan tersebut dengan cara turun-temurun belajar secara praktis atau cara lain yang menjurus kearah peningkatan keterampilan tersebut serta melalui petugas kesehatan.
Dukun bayi adalah seorang wanita atau pria yang menolong persalinan. Kemampuan ini diperoleh secara turun menurun dari ibu kepada anak atau dari keluarga dekat lainnya (Kusnada Adimihardja)
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat sudah mengenal dukun bayi atau dukun beranak sebagai tenaga pertolongan persalinan yang diwariskan secara turun-temurun. Dukun bayi yaitu mereka yang memberi pertolongan pada waktu kelahiran atau dalam hal-hal yang berhubungan dengan pertolongan kelahiran, seperti memandikan bayi, upacara menginjak tanah, dan upacara adat serimonial lainnya. Pada kelahiran anak dukun bayi yang biasanya adalah seorang wanita tua yang sudah berpengalaman, membantu melahirkan dan memimpin upacara yang bersangkut-paut dengan kelahiran itu (Koentjaraningrat, 1992)
Sekitar 70% - 80% pertolongan persalinan di pedesaan ditangani oleh dukun bayi. Dukun bayi mendapat kepercayaan penuh sebagai orang tua yang dapat melindungi klien dan keluarga. Biaya pertolongan bayi oleh dukun di berikan secara bertahap yang dianggap murah, meskipun bila dihitung relatif mahal.
Pembagian Dukun Bayi, Menurut Depkes RI, dukun bayi dibagi menjadi 2 yaitu :
1.         Dukun Bayi Terlatih, adalah dukun bayi yang telah mendapatkan pelatihan oleh tenaga kesehatan yang dinyatakan lulus.
2.         Dukun Bayi Tidak Terlatih, adalah dukun bayi yang belum pernah terlatih oleh tenaga kesehatan atau dukun bayi yang sedang dilatih dan belum dinyatakan lulus.
Kesalahan yang sering dilakukan oleh dukun sehingga dapat mengakibatkan kematian ibu dan bayi, antara lain :
ü  Terjadinya robekan rahim karena tindakan mendorong bayi didalam rahim dari luar sewaktu melakukan pertolongan pada ibu bersalin
ü  Terjadinya perdarahan pasca bersalin yang disebabkan oleh tindakan mengurut-ngurut rahim pada waktu kala III
ü  Terjadinya partus tidak maju, karena tidak mengenal tanda kelainan partus dan tidak mau merujuk ke puskesmas atau RS.
Untuk mencegah kesalahan tindakan dukun tersebut di perlukan suatu bimbingan bagi dukun.
Supervisi / pembinaan adalah bimbingan teknis yang terus menerus dan berkesinambungan untuk mencapai suatu tujuan. Menjangkau 2 aspek :
1. Pembinaan keterampilan dukun bayi
2. Pembinaan hasil kegiatan yang dilaksanan oleh dukun bayi.
Tujuan supervisi / bimbingan dukun bayi :
ü  Menjaga, mempertahankan, meningkatkan keterampilan dukun bayi
ü  Menjaga, mempertahankan dan meningkatkan cakupan hasil kegiatan dukun dalam merawat bumil, bulin dan bufas.
ü  Sebagai bahan asupan dalam penyusunan laporan kegiatan petugas puskesmas.
Pelaksana supervisi / bimbingan / pembinaan :
1. Dokter
2. Bidan
3. Perawat kesehatan
4. Petugas imunisasi
5. Petugas gizi

Tempat pelaksanaan pembinaan dukun bayi :
1. Posyandu pada hari buka oleh petugas / pembina posyandu
2. Perkumpulan dukun bayi dilaksanakan di puskesmas.
3. Home to home

Waktu pelaksanaan pembinaan dukun bayi :
ü  Saat kunjungan supervisi petugas puskesmas di posyandu di desa tempat tinggal dukun.
ü  Pertemuan rutin yang telah disepakati
ü  Waktu-waktu lain saat petugas bertemu dengan dukun bayi
ü  Saat mendampingi dukun bayi waktu menolong persalinan

Dukun mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1.         Pada umumnya adalah seorang anggota masyarakat yang cukup dikenal di desa.
2.         Pendidikan tidak melebihi pendidikan orang biasa, umumnya buta huruf
3.         Pekerjaan sebagai dukun umumnya bukan untuk tujuan mencari uang tetapi karena ‘panggilan’ atau melalui mimpi-mimpi, dengan tujuan untuk menolong sesam
4.         Disamping menjadi dukun, mereka mempunyai pekerjaan lainnya yang tetap. Misalnya petani, atau buruh kecil sehingga dapat dikatakan bahwa pekerjaan dukun hanyalah pekerjaan sambilan
5.         Ongkos yang harus dibayar tidak ditentukan, tetapi menurut kemampuan dari masing-masing orang yang ditolong sehingga besar kecil uang yang diterima tidak sama setiap waktunya
6.         Umumnya dihormati dalam masyarakat atau umumnya merupakan tokoh yang berpengaruh, misalnya kedudukan dukun bayi dalam masyarakat

Kelebihan dan Kekurangan persalinan yang ditolong oleh dukun antara lain :
1. Kelebihan
· Dukun merawat ibu dan bayinya sampai tali pusatnya putus.
· Kontak ibu dan bayi lebih awal dan lama
· Persalinan dilakukan di rumah
· Biaya murah dan tidak ditentukan.
2. Kekurangan
· Dukun belum mengerti teknik septik dan anti-septik dalam menolong persalinan.
· Dukun tidak mengenal keadaan patologis dan kehamilan, persainan, nifas dan bayi baru lahir.
Pengetahuan dukun rendah sehingga sukar ditatar dan di ikutsertakan dalam program pemerintah. (Pedoman Supervise Dukun Bayi, 1992).

2.3 TUJUAN PEMBINAAN DUKUN BAYI
Dukun bayi merupakan tokoh kunci dalam masyarakat yang berpotensi untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Peran dan pengaruh dukun sangat bervariasi sesuai dengan budaya yang berlaku. Peran dukun dalam masa perinatal sangat kecil atau dukun memiliki wewenang yang terbatas dalam pengambilan keputusan tentang cara penatalaksanaan komplikasi kehamilan atau persalinan, sehinngga angka kematian masih tinggi.
Untuk mengatasi hal tersebut di atas, yaitu untuk meningkatkan status dukun dalam pengambilan keputusan, maka di lakukan upaya pelatihan dukun bayi agar mereka memiliki pengetahuan dan ide baru yang dapat di sampaikan dan di terima oleh anggota masyarakat.
Beberapa program pelatihan dukun bayi memperbesar peran dukun bayi dalam program KB dan pendidikan kesehatan di berbagai aspek kesehatan reproduksi dan kesehatan anak. Pokok dari pelatihan dukun adalah untuk memperbaiki kegiatan-kegiatan yang sebenarnya sudah di lakukan oleh dukun, seperti memberikan saran tentang kehamilan, melakukan persalinan bersih dan aman, serta mengatasi masalah yang mungkin muncul pada saat persalinan, sehingga angka kematian ibu dan bayi dapat di kurangi atau di cegah sedini mungkin.

2.4 LANGKAH PEMBINAAN DUKUN BAYI
Pembinaan dukun dilakukan dengan memperhatikan kondisi, adat, dan peraturan dari masing-masing daerah atau dukun berasal ,karena tidak mudah mengajak seseorang dukun untuk mengikuti pembinaan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan bidan dalam pembinaan dukun adalah sebagai berikut:
a. Fase I : Pendaftaran Dukun
ü  Semua dukun yang berpraktek didaftar dan diberikan tanda terdaftar
ü  Dilakukan assesment mengenai pengetahuan/ ketrampilan dan sikap mereka dalam penanganan kehamilan dan persalinan
b.      Fase II : Pelatihan
ü  Dilakukan pelatihan sesuai dengan hasil assesment
ü  Diberikan sertifikat
ü  Diberikan penataan kembali tugas dan wewenang bidan dalam pelayanan kesehatan ibu
ü  Yang tidak dapat sertifikat tidak diperkenankan praktek
c. Fase III : Pelatihan oleh tenaga terlatih
ü  Persalinan hanya boleh dilakukan oleh tenaga trelat
ü  Pendidikan bidan desa diprioritaskan pada anak dan keluarga dukun

2.5 UPAYA PEMBINAAN DUKUN BAYI
Dalam praktiknya, melakukan pembinaan dukun di masyarakat tidaklah mudah. Masyarakat masih menganggap dukun sebagai tokoh masyarakat yang patut dihormati, memiliki peran penting bagi ibu-ibu di desa. Oleh karena itu, di butuhkan upaya agar bidan dapat melakukan pembinaan dukun. Beberapa upaya yang dapat dilakukan bidan di antaranya adalah sebagai berikut:
1.            Melakukan pendekatan dengan para tokoh masyarakat setempat.
2.            Melakukan pendekatan dengan para dukun.
3.            Memberikan pengertian kepada para dukun tentang pentingnya persalinan yang bersih dan aman.
4.            Memberi pengetahuan kepada dukun tentang komplikasi-komplikasi kehamilan dan bahaya proses persalinan.
5.            Membina kemitraan dengan dukun dengan memegang asas saling menguntungkan.
6.            Menganjurkan dan mengajak dukun merujuk kasus-kasus resiko tinggi kehamilan kepada tenaga kesehatan.
Pelaksana supervisi / bimbingan / pembinaan
·         Dokter
·         Bidan
·         Perawat kesehatan
·         Petugas imunisasi
·         Petugas gizi
Tempat pelasanaan pembinaan dukun bayi
·         Posyandu pada hari buka oleh petugas / pembina posyandu
·         Perkumpulan dukun bayi dilaksankan di puskesmas.
Waktu pelaksanaan pembinaan dukun bayi
·         Saat kunjungan supervisi petugas puskesmas di posyandu di desa tempat tinggal dukun.
·         Pertemuan rutin yang telah disepakat
·         Waktu-waktu lain saat petugas bertemu dengan dukun bayi
·         Saat mendampingi dukun bayi waktu menolong persalinan

2.6 KLASIFIKASI PEMBINAAN DUKUN BAYI
Berikut adalah klasifikasi materi yang di berikan untuk melakukan pembinaan dukun:

1.      Promosi Bidan Siaga
Salah satu cara untuk melakukan promosi bidan siaga, yaitu dengan melakukan pendekatan dengan dukun bayi yang ada di desa untuk bekerja sama dalam pertolongan persalinan. Bidan dapat memberikan imbalan jasa yang sasuai apabila dukun menyerahkan ibu hamil untuk bersalin ke tempat bidan. Dukun bayi dapat di libatkan dalam perawatan bayi baru lahir. Apabila cara tersebut dapat di lakukan dengan baik, maka dengan kesadaran, dukun akan memberitaukan ibu hamil untuk melakukan persalinan di tenaga kesehatan (bidan). Ibu dan bayi selamat, derajat kesehatan ibu dan bayi di wilayah tersebut semakin meningkat.
2.      Pengenalan Tanda Bahaya Kehamilan, Persalinan, Nifas, dan Rujukan
Dukun perlu mendapatkan peningkatan pengetahuan tentang perawatan pada ibu hamil, sehingga materi tentang pengenalan terhadap ibu hamil yang beresiko tinggi, tanda bahaya kehamilan, persalinan, nifas, dan rujukan merupakan materi yang harus di berikan, agar dukun bayi dapat melakukan deteksi dini kegawatan atau tanda bahaya pada ibu hamil, bersalin, nifas dan segera mendapatkan rujukan cepat dan tepat.
Berikut ini adalah materi-materi dalam pelaksanaan pembinaan dukun:
a.       Pengenalan golongan resiko tinggi
Ibu yang termasuk dalam golongan resiko tinggi adalah ibu dengan umur terlalu muda (kurang 16 tahun) atau terlalu tua (lebih 35 tahun), tinggi badan kurang dari 145 cm, jarak antara kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) atau terlalu lama (lebih dari 10 tahun), ibu hamil dengan anemia, dan ibu dengan riwayat persalinan buruk (perdarahan, operasi, dan lain-lain)
b.      Pengenalan tanda-tanda bahaya pada kehamilan
Pengenalan tanda-tanda bahaya pada kehamilan meliputi perdarahan pada kehamilan sebelum waktunya; ibu demam tinggi; bengkak pada kaki, tangan dan wajah; sakit kepala atau kejang; keluar air ketuban sebelum waktunya; frekuensi gerakan bayi kurang atau bayi tidak bergerak; serta ibu muntah terus menerus; dan tidak mau makan


c.       Pengenalan tanda-tanda bahaya pada persalinan
Tanda-tanda bahaya pada persalinan, yaitu bayi tidak lahir dalam 12 jam sejak ibu merasakan mulas, perdarahan melalui jalan lahir, tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir, ibu tidak kuat mengejan atau mengalami kejang, air ketuban keruh dan berbau, plasenta tidak keluar setelah bayi lahir, dan ibu gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat.
d.      Pengenalan tanda-tanda kelainan pada nifas
Tanda-tanda kelainan pada nifas meliputi: perdarahan melalui jalan lahir; keluarnya cairan berbau dari jalan lahir; demam lebih dari dua hari; bengkak pada muka, kaki atau tangan; sakit kepala atau kejang-kejang; payudara bengkak disertai rasa sakit; dan ibu mengalami gangguan jiwa.


BAB III
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
Salah satu kasus kesehatan yang masih banyak terjadi di Indonesia, adalah persalinan yang ditolong oleh dukun bayi. Kenyataannya, hampir semua masyarakat Indonesia baik yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan sekalipun lebih senang ditolong oleh dukun. Hal tersebut disebabkan oleh tradisi dan adat istiadat setempat. Masalah kesehatan bagi penduduk di kota maupun di pedesaan Indonesia masih saja merupakan masalah yang pelik.
Upaya untuk meyakinkan sasaran agar dapat menerima pelayanan kesehatan yang memberi manfaat bagi mereka tidak lain adalah melalui promosi kesehatan.

3.2 SARAN
Setelah membaca makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami dan mengerti mengenai isi dari makalah, yaitu tentang Pembinaan Dukun Bayi, Pemberitahuan Ibu Hamil untuk Bersalin di Tenaga Kesehatan (Promosi Tenaga Kesehatan).

DAFTAR PUSTAKA


Machfoedz, Ircham, dkk, Pendidikan Kesehatan Bagian Dari Promosi Kesehatan, Fitramaya, Yogyakarta, 2007, Hal. 78-106.
Dep Kes RI.1994.”Pedoman Supervisi Dukun Bayi
Syafrudin, SKM, M. Kes, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta : EGC
Yulifah, Rita. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika

Komentar

Postingan Populer