MAKALAH KETERAMPILAN KOMUNIKASI DALAM KEGIATAN KELOMPOK
MAKALAH
KETERAMPILAN
KOMUNIKASI DALAM
KEGIATAN
KELOMPOK

DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK
10
1.
FIRDA AGUSTINA (1615301032)
2.
SAFITRI WULANDARI (1615301042)
3.
BINA ARDIAYANTI (1615301032)
POLTEKKES
KESEHATANA TANJUNGKARANG
JURUSAN
KEBIDANAN
TAHUN
2017
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karna
rahmat dan hidayah-Nya, penyusunan makalah ini bisa diselesaikan. Untaian
sholawat dan salampun tidak lupa dituturkan tertuju kepada junjungan kita,
Baginda Nabi Muhammad SAW. Kami tidak hanya bersyukur kepada-Nya saja tetapi
kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu kami.
Kami membuat makalah ini bertujuan untuk
menyelasaikan tugas yang diberikan oleh
dosen. Dari pembuatan makalah ini tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi
bertujuan menambah pengetahuan dan wawasan kita yang berkaitan dengan Diskusi
Kelompok, Mengenai Tugas Ketua Dan Partisipan.
Kiranya makalah ini bisa menambah pengetahuan bagi pembaca. Meski
begitu, penulis sadar bahwa makalah ini perlu untuk dilakukan perbaikan dan
penyempurnaan. Untuk itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca akan
kami terima dengan senang hati.
Bandar
Lampung, Juni 2017
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................. i
KATA PENGANTAR........................................................................... ii
DAFTAR ISI.......................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang............................................................................ 1
B.
Tujuan......................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengantar
kegiatan kelompok..................................................... 2
B. Kepemimpinan dalam Kelompok............................................... 4
C. Ciri-ciri Kelompok yang Kompak.............................................. 4
D. Pengorganisasian Kegiatan kelompok........................................ 7
E. Membangun Tim atau Kelompok / Team
bulding...................... 9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................. 16
B. Saran........................................................................................... 16
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam kehidupan bersosial, kita
sebagai manusia tidak dapat untuk tidak berkomunikasi “We can’t not
communicate”. Sama hal nya pada saat kita berkelompok. Komunikasi
seakan menjadi ruh dalam jasad sebuah kelompok.
Salah satu faktor penting yang dapat
mempengaruhi sukses atau gagalnya suatu kelompok/komunitas bergantung pada
komunikasinya. Seberapa intens dan efektif suatu komunikasi dapat dibangun.
Dalam komunikasi kelompok kita harus mengetahui pengertian, sifat, klasifikasi
dan lain-lain yang termasuk kedalam unsur-unsur komunikasi kelompok.
Saat ini, banyak permasalahan yang
terjadi di kalangan sebuah kelompok dan inti masalahnya adalah kurangnya
komunikasi. Permasalahan komunikasi yang terjadi pun tak hanya intern saja tapi
juga eksternalnya. Oleh karena itu penulis akan memaparkan hal tersebut.
Berdasarkan permasalahan di atas,
Maka dari itu, penulis mencari informasi dan menyusun makalah mengenai materi
komunikasi kelompok ini yang mudah-mudahan bisa menambahkan wawasan kita
mengenai salah satu dari bentuk komunikasi ini. Hal ini pun merupakan salah
satu upaya pemenuhan tugas mata kuliah Teori Komunikasi.
B. Tujuan
Setelah
mengikuti perkuliahan, mahasiswa mampu :
1.
Pengantar kegiatan kelompok
2. Menjelaskan
pengertian kelompok
3. Menjelaskan
ciri-ciri kelompok yang kompak
4. Menjelaskan
tentang organisasi kegiatan kelompok
5. Membangun
Tim/ kegiatan kelompok
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengantar kegiatan kelompok
Manusia pada hakekatnya adalah mahkluk
sosial, yang dalam kehidupan sehari- hari tidak bisa lepas dari kegiatan
interaksi dan komunikasi. Komunikasi merupakan bagian integral kehidupan
manusia, apapun statusnya di masyarakat. Sebagai mahkluk sosial, kegiatan
sehari- hari selalu berhubungan dengan orang lain dalam upaya pemenuhan
kebutuhan hidup.
Angka kematian di Indonesia masih tinggi. Setiap tahun
sejumlah 18.000 ibu meninggal dunia, dua nyawa melayang setipa satu jam,karena
kehamilan dan atau persalinan. Kematian ibu ternyata tidak hanya diikuti oleh
tingginya angka kematian bayi tetapi juga meninkatkan jumlah balita yang piatu
baru (± 36.000 setiap tahun).
Risiko kematian ibu akibat kehamilan,persalinan,dn nifas
serat bayi, dapat dikurangi bila ada upaya persiapan persalinan dan kemudahan
mendapatkan pelayanan kesehatan dasar. Salah satu ujung otmbak pelayanan
kesehatan dasar bagi ibu dan bayi adalah bidan. Namun, pada kenyataannya
walaupun hmapir semua pemeriksaan antenatal datang pada bidan, sebagian besar
persalinan masih ditolong oleh dukun beranak. Hal ini menunjukkan bahwa ibu
lebih percaya kepada dukun beranak dibandingkan dengan bidan.
Salah satu penyebab keadaan tersebut diatas adalah
rendahnya kualitas keterampilan komunikasi dan konseling tenaga kesehatan
(bidan). Penelitian di Jawa Barat menyimpulkan bahwa keterampilan teknis medis
semata tidak cukup untuk memberikan pelayanan yang memuaskan ibu.
Kualitas komunikasi bidan yang rendah akan berdampak
terhadap transfer pesan kepada klien yang kurang baik, bidan menjadi kurang
peka dan kurang mampu menggali kebutuhan dan masalah klien, tidak tanggap
terhadap perasaan klien, klien tidak puas dan selanjutnya dapat diperkirankan
kredibilitas bidan tersebut diragukan.
Dari penelitian di Indonesia (Januari 1997 di dua propinsi yaitu
Jabar dan Jateng) tentang interaksi bidan-klien menunjukkan bahwa banyak bidan
yang tidak menggunakan keterampilan konseling yang baik, misalnya : Para bidan
cenderung mendominasi sesi konseling (63% ucapan didominasi oleh bidan), kurang
memberi kesempatan kepada klien untuk berbicara panjang lebar atau
mengungkapkan keinginan dan perasaannya. Para bidan lebih banyak mengajukan
pertanyaan tertutup (pertanyaan yang sifatnya mengarahkan pada jawaban ya dan
tidak). 23 % ucapan bidan adalah pengulangan kata-kata bidan itu sendiri.
Pelatihan keterampilan komunikasi interpersonal/konseling (KIP/K) untuk bidan
bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bidan dalam bidang komunikasi
interpersonal dan konseling sehingga kualitas pelayanan pada ibu hamil dan melahirkan
lebih baik.
1. Definisi
Komunikasi
kelompok adalah suatu bentuk komunikasi antara dua atau lebih orang yang
berinteraksi satu dengan yang lain untuk satu tujuan. Orang-orang yang terlibat
biasanya mengisi peran-peran dan mentaati peraturan-peraturan serta norma-norma
yang secara implisit disetujui para anggotanya (Singgsih, 2003).
Komunikasi kelompok adalah
sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama
lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sma lain dan memandang mereka
sebagi bagian dari kelompok tersebut. Contohnya kelompok keluarga, kelompok
study dan kelompok diskusi. (Kelompok Sarjana Komunikasi Amerika, 1980)
2. Kegunaan
Berdasarkan batasan tersebut diatas,
kegunaan dalam bidang kebidanan tentulah sangat menunjang tujuan bagi kesehatan
ibu dan anak. Utamanya ketika dilakukan suatu kegiatan-kegiatan bagi para bidan
dalam sistem komunikasi kelompok tersebut, selama melalui forum tersebut
dimanfaatkan seefektif mungkin dalam berbagai bentuk dan tujuan, yakni berfokus
pada kesehatan ibu dan anak tersebut. Dalam hal ini, Handy (1985) memberikan
pengertian mengenai pentingnya kegunaan komunikasi kelompok, yakni :
a. Memenuhi kebutuhan social
b. Membentuk konsep diri
c. Memberi/menerima dukungan dan
bantuan
d. Berbagai dengan orang lain
B.
Kepemimpinan dalam Kelompok
Ciri-ciri kepemimpinan dalam
kelompok harus mengacu untuk kepentingan bersama. Untuk itu harus memenuhi
persyaratan dibawah ini :
1. Berorientasi pada tugas
2. Menggunakan waktu secara efektif,
menentukan prioritas secara jelas dan sering membuat keputusan eksekutif
3. Berorientasi pada orang
4. Lebih peduli pada perasaan-perasaan
dan masalah-masalah anggota kelompok.
C.
Ciri-ciri Kelompok yang Kompak
Kemudian setelah kita mengenal
cirri-ciri kepemimpinan seperti diatas, maka kita harus tahu bagaimana
ciri-ciri kelompok yang kompak itu, ciri-ciri kelompok yang kompak adalah :
a. Organisasi yang baik
b. Hubungan yang baik
c. Riwayat keberhasilan yang baik
Adapun salah satu bentuk ketiga cirri tersebut diatas ialah
bagaimana cara menyelesaikan masalah dalam kelompok itu dimulai dengan kelompok
pembuat keputusan, ada personal atau tim yang ditunjuk oleh manajer untuk
menyelesaikan masalah tertentu. Anggota kelompok yang lain memberikan sumbang
saran, cepat, agar terjadi pemahaman dalam penyelesaian masalah. Itulah tanda
adanya cirri-ciri kelompok kompak dan prakteknya.
Disamping
itu, pada kelompok yang kompak memiliki empat dasar pelaksanaan sumbang saran
yang harus ditaati, yakni :
a. Tidak boleh dilakukan penilaian pad
aide-ide sampai acara selesai
b. Kelompok harus menganggap dirinya
sebagai penghasil sejumlah besar ide dan tidak mengkhawatirkan kualitas dari
ide-ide
c. Anggota kelompok harus dibiarkan
untuk berfikir dengan bebas
d. Ide-ide yang ditawarkan anggota
kelompok harus dihargai dan dikembangkan oleh anggota kelompok lain.
Gaya
kepemimpinan dalam suatu kelompok komunikasi ada dua yakni :
1. Gaya tunggal yaitu berdasarkan
pencapaian tugas yang telah ditentukan bagi kelompok
2. Gaya Eklektik yaitu berdasarkan
gaya-gaya yang berpusat pada anggota kelompok atau berdasarkan pembagian pada
tugas
Karakteristik kelompok menurut
Hargreavest (1975) adalah
a. Anggotanya memiliki hubungan tatap
muka
b. Terdapat lebih dari satu anggota
c. Anggotanya memiliki tujuan atau
maksud bersama
d. Anggotanya dibeda-bedakan kedalam
struktur
e. Anggotanya menganut sekumpulan
norma-norma
Sekarang bagaimana kekompakan sutu
kelompok didasarkan besar kecilnya kelompok? (Luft 1984)
a.
Kekompakan kelompok besar lebih lemah jika dibandingkan
dengan kelompok kecil
b.
Kekompakan kecil mempunyai karakteristik kekompakan yang
unik diantar anggotanya
3. Kekompakan besar cenderung lebih
resmi
Apa
kemudian fungsi – fungsi organisasi yang dapat dicapai oleh kelompok agar
kelompok tetap kompak? Handy (1985) membagi 10 fungsi fungsi organisasi
yang dapat dicapai oleh kelompok yang kompak, yakni :
a.
Pembagian kerja
b.
Penyesuaian masalah dan pengambilan keputusan
c.
Pengolahan informasi
d.
Pengumpulan informasi dan ide
e.
Pengelolaan dan pengendalian kerja
f.
Menguji dan meratifikasi keputusan
g.
Koordinasi dan penghubung
h.
Meningkatkan komitmen dan keterlibatan
i.
Penyelesaian konflik
j.
Penyelidikan ke masa lalu
Sifat
dari kelompok Charles H. Cooley membuat penggolongan kelompok sosial dalam
penggolongan utama yaitu :
a.
Primary Group : kelompok primer lebih intensif dan lebih
intensif dan lebih erat antara anggotanya (Face to Face)
Kelompok
primer penting, karena disinilah manusia pertama – tama dididik dan berkembang
menajdi manusia social, memperoleh kerangka untuk mengembangkan sifat- sifat
social : mengidahkan norma – norma, melepaskan kepentingan diri demi
kepentingan kelompok sosialnya, ingin belajar dan bekerja sama dengan orang
lainh. Sifat komunikasi kelompok bercorak kekeluargaan dan berdasarkan simpati
b.
Secondary group : kelompok sekunder
Komunikasi
dalam kelompok sekunder merupakan komunikasi dalam hubungan yang tidak
langsung, tidak akrab, kurang bersifat kekurangan dan bersifar formal, lebih
objektif. Dalam berkomunikasi kelompok ini ada beberapa prinsif agar efektif :
1)
Suasana : hendaknya memberi kesan kepada semua anggota
bahs=wa mereka dianggap setaraf
2)
Rasa aman :thred reduction) berkomunikasi dengan rasa man
tanpa ancaman dari anggota yang lain. Kecurigaan dari anggota yang lain akan
menghambat produktifitas, oleh karena kecurigaan dan ketakutan menyebabkan
seseorang tidak ikut serta dengan seluruh kemmapuannya
3)
Kesadran berkelompok : komunikasi dalam kelompok dengan
menimbulkan pengertian akan kebutuhan – kebutuhan anggota kelompok masing –
masing dalam perannya apda kelompok itu, dan akan memahami kebutuhan teman –
temannya, serta dirinya sendiri dalam timbal baliknya hubungan anggota
kelompok.
Saling pengertian dan saling merasa keperluan – keperluan
anggota – anggota lainnya merupakan syarat penting agar tercapai kerjasama yang
produktif antara anggota kelompok. Jadi anggota kelompok harus belajar mengerti
dan merasakan keperluan – keperluan anggota lainnya, apabila ingin bekerja
secara efektif.
Strategi Bidan umtuk membangun
hubungan anggota kelompok yang negative (Smith dan Bass 1982)
a.
Menciptkan perasan memiliki
b.
Menciptakan lingkunagn yang berbeda
c.
Mendorong partisipasi dan kontribusi
d.
Menghargai pendapat yang berbeda
e.
Menciptakan perasaan komitmen
Keuntungan kegiatan kelompok adalah
:
a.
Efisien karena dalam waktu bersamaan banyak orang memeproleh
informasi
b.
Menjembatani pertukaran pengalaman dan saling memberi
dukungan
c.
Merupakan sebuah forum yang mendorong anggota kelompok untuk
saling membantu.
Agar
Kegiatan Kelompok Bisa Efektif Bidan Perlu Mencermati Materi yang akan
disampaikan sesuai kebutuahn dan bermanfaat bagi anggota kelompok. Para anggota
kelompok baik itu ibu – ibu, dukun bayi, toma, kader sdb mereka termasuk orang
deswasa. Selain penjelasan yang masuk akal orang dewasa juga sudah
berpengalaman dan cenderung menganalisa sesuatu berdasarkan pengalaman mereka.
Hal – hal ini perlu disadasari oleh Bidan agar kegiatan berjalan efektif dan
diterima kelompok.
D.
Pengorganisasian Kegiatan kelompok
Langkah – langkah penyelengaran kegiatan kelompok
1. Merencanakan pengorganisasian kegiatan
kelompok
a.
Merencanakan masalah atu topic
b.
Siapa yang akan menjadi peserta kegiatan
c.
Sasaran ekgiatan
d.
Kapan atau waktu pelaksanaan atau tempat kegiatan
e.
Metode pengajaran yang akan digunakan
f.
Perlangkapan yang akn dibutuhkan (alat bantu visul/audio)
g.
Jenis pencairan kelompok yang digunakan
h.
Evaluasi kegiatan
2.
Mempersiapkan tempat
a.
Mempersiapkan ruangan dan perlengakapn
b.
Persiapan alat tulis, alat bantu visual, materi cetak dalam
jumlah yang cukup
c.
Pengeras suara baikMeletakkan alat bantu sesuai keinginan
3.
Melaksanakan kegiatan
Sebuah
kegiatan kelompok yang baik harus mempunyai struktur berkesinambungan. Oleh
karena itu setiap kegiatan kelompok mempunyai bagian – bagian sbb :
a. Pembukaan yang efektif
Pembukaan
akan menentukan jalannya presentasi/diskusi kelompok pembukaan dapat membuat
sukses atau menggagalkan kegiatan tersebut, pembukaann yang baik akan :
1)
Menarik perhatian segera
2)
Membina hbungan baik dengan peserta
3)
Memperkenalkan topic, tujuan kegiatan dan mengapa penting
4)
Mengantisipasi kelanjutan presentasi/diskusi
b.
Bagian utama kegiatan
Mencakup
materi – materi utama yang perlu diberikan selama kagiatan
c.
Bagian penutup
Merupakan bagian terpenting dari seluruh
kegiatan. Biasa dialukan dengan meringkas. Keterampilan mengakhiri merupakan
tehnik dalam proses konseling. Mengakhir ini dapat dilakukan dengan cara :
1) Mengatakan bahwa waktu sudah habis
2) Merangkum isi pembicraan
3) Menunjukkan pada peretemuan yang
akan dating
4) Berdiri
5) Isyarat gerak tangan
6) Menunjukkan catatan – catatan singkat
7) Memberikan tugas tugas terent
4. Mengevaluasi kegiatan
Evaluasi
terjadi pada setiap tahap dari kegiatan kelompok. Merupakn bagian penting
dalam komunikasi karena dapat :
a.
Mengetahi kebutuhan peserta untuk memeprsiapkan
b.
Menganalisa kebutuhan para peserta untuk mempersiapkan
pembicaraan dimasa mendatang
c.
Memperbaiki pelaksanaan kegiatan yang kan dating
d.
Mengetahui dampak kegiatan yang akan dating
e.
Mengetahui dampak kegiatan kelompok dan menentukan apakah
tujuan telah dicapai.
E. Membangun Tim atau Kelompok / Team bulding
Pengertian
1. Team bulding adalah suatu upaya yang
dibuat secara sadar untuk mengembangkan kerja kelompok dalam suatu organisasi.
2. Perlunya membangun tim/ team bulding
Pada prinsipnya kita memerlukan team
bulding untuk memperbaiki kinerja kelompok yang kita miliki, namun ada beberapa
kondisi yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan team bulding antara lain :
a.
Kondisi kelompok yang memerlukan peningkatan moralitas dan
hasil kerja tim
b.
Puncak pimpinan yang jarang berfikir dan bertindak sebagai
bagian sebuah kelompok
c.
Terjadi kurang pengertian antara sesame anggota kelompok,
tidak ada arahan dan semangat kerja yang timbul dalam suatu kelompok sehingga
kelompok kehilangan arah kerja
d.
Dalam kelompok baru dinama terdapat beberapa individu yang
menonjol tapi tidak dapat bekerja bersama dalam kelompok
e.
Kurangnya rasa percayma diri antara sesama tim dan adanya
ketidaktahuan akan kemungkinan peluang yang dapat dilakukan oleh anggota tim.
3. Manfaat membangun Tim/ Team bulding
Team bulding yang dilakukan secara
benar dan berkesinabungan akan memberikan hasil perubahan yang sering kali jauh
lebih baik dari dugaan semula.
4. Bagi pimpinan tim/ kelompok
a.
Pimpinan tim akan menjadi lebih kuat dan lebih efektif
b.
Pimpinan tim utama menyesuaikan gaya kepemimpinannya, dengan
lebih memperhatikan kepentingan dan tanggung jawab kelompok dibandingkan
kepentingan pribadi
c.
Terdapat apresiasi yang lebih besar dari pimpinan tim
terhadap kebutuhan anggota tim dan bagian-bagian dalam tim
d.
Pimpinan menjadi lebih mampu untuk berkomunikasi secara
langsung kepada anggota tim sehingga terjadi hubungan pengertian yang lebih
baik antara pimpinan dan anggota tim
e.
Pimpinan tim memiliki inisiatif untuk lebih memahami prakasa
anggotanya
f.
Pimpinan mempunyai komitmen yang lebih tinggi terhadap
sasaran kerja dan memiliki harapan yang lebih besar.
5. Bagi individu anggota tim/kelompok
a.
Sebagai besar individu memiliki pendekatan yang lebih
persuasif, toleransi menjadi lebih tinggi dan memiliki kepercayaan untuk
mengajukan argumentasi tanpa terikat oleh hirarki
b.
Komunikasi dan dialog antar sesama anggota kelompok menjadi
lebih bebas dan terbuka, yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama
dalam perkembangan kelompok
c.
Terdapat ‘ ruang’ yang lebih terbuka untuk mengakui beberapa
kelemahan-kelemahan pribadi, bahkan kadang kala tidak jarang yang mengundurkan
dirikarena kesadaran sendiri.
d.
Banyak masalah antara pribadi sesama anggota tim/ kelompok
selama ini mengganjal dapat dipecahkan dengan lebih mudah karena keterbukaan
semua anggota tim
6. Bagi pelaksana kerja tim/ kelompok
a.
Pertemuan tim/ kelompok menjadi lebih struktur dan efektif
b.
Hasil yang diperoleh lebih dapat diterima dan terdistribusi
dengan baik kepada sesama peserta
c.
Terjadi perbaikan kerja dalam mencapai sasaran, peningkatan
kemampuan dalam mengevaluasi individu dan kelompok dengan cara yang lebih professional
d.
Tingkat komunikasi dalam dan antara kelompok menjadi lebih
komprehenshif dan efektif, walaupun dalam kondisi lingkungan yang kurang
menguntungkan
e.
Komitmen yang lebih kuat terdapat sasaran-saran baru
f.
Terciptanya otonomi yang lebih besar pada tingkat manajemen
g.
Lebih banyak waktu digunakan untuk bekerja untuk bekerja
sama dengan kkolega dan bekerja sama dalam mencapai tujuan
Menurut Smith dan Bass (1982)
a. Menciptakan
perasaan yang dimiliki
c. Mendorong
partisipasi dan kontribusi
d. Menghargai
pendapat yang berbeda
e. Menciptakan
perasaan komitmen
Menurut Tarigan (2002)
a. Tipe Pasif
Strategi bidan adalah : mengajukan pertanyaan
langsung pada peserta; meminta berbagi perasaan dengan pasangannya; meminta untuk menulis komentar;
memberikan insentif; mengubah metode penyampaian.
b. Tipe Agresif
Strategi bidan adalah : mengajukan pertanyaan tentang
penyebab agresif; memberi kesempatan untuk mencurahkan perasaan dirinya; tidak
menggangap orang tersebut sebagai wakil kelompok; mempresentasikan data; memprakarsai
diskusi secara pribadi.
c. Tipe Banyak
Bicara
Strategi bidan adalah : memberi tanggung jawab
tertentu dan memberikan kesempatan berperan sebagai pemimpin kelompok; menghindarkan
pandangan atau menghadapkan tubuh pemandu ke arah peserta lain; beritahu
dengan cara yang halus; memberi tugas secara tertulis.
d. Tipe Pesimis
Strategi bidan adalah : menjadi pendengar yang aktif; memberi
jawaban yang positif; menanyakan pendapat anggota lainnya tentang pendapat
orang tersebut
1. Proses Pengorganisasian
Menurut Stoner
(1996) langkah-langkah dalam proses pengorganisasian terdiri dari lima langkah:
a. Merinci seluruh
pekerjaan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi
b. Membagi beban
kerja ke dalam kegiatan-kegiatan yang secara logis dan memadai dapat dilakukan
oleh seseorang atau oleh sekelompok orang.
c. Mengkombinasi
pekerjaan anggota perusahaan dengan cara yang logis dan efisien
d. Penetapan
mekanisme untuk mengkoordinasi pekerjaan anggota organisasi dalam satu kesatuan
yang harmonis
e. Memantau
efektivitas organisasi dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk
mempertahankan atau meningkatkan efektivitas.
Menurut T Hani
Handoko (1999) proses pengorganisasian dapat ditunjukkan dengan tiga langkah
prosedur sebagai berikut:
a. Pemerincian
seluruh kegiatan yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi.
b. Pembagian beban
pekerjaan total menjadi kegiatan-kegiatan yang secara logis dapat dilaksanakan
oleh satu orang. Pembagian kerja ini sebaiknya tidak terlalu berat juga tidak
terlalu ringan.
c. Pengadaan dan
pengembangan suatu mekanisme untuk mengkoordinasikan pekerjaan para anggota
organisasi menjadi kesatuan yang terpadu dan harmonis.
2. Pembagian Pekerjaan
Ada dua aspek
utama dalam proses penyusunan struktur organisasi, yaitu departementalisasi dan
pembagian kerja (division of labor). Departementalisasi merupakan
pengelompokan kegiatan-kegiatan kerja suatu organisasi agar kegiatan-kegiatan
yang sejenis dan saling berhubungan dapat dikerjakan bersama. Pembagian kerja
adalah pemerincian tugas pekerjaan agar setiap individu dalam organisasi
bertanggung jawab untuk melaksanakan sekumpulan kegiatan yang terbatas. Prinsip
pembagian kerja ini merupakan tiang dasar pengorganisasian.
Dalam pembagian
kerja, spesialisasi pekerjaan merupakan hal yang utama. Manfaat spesialisasi
pekerjaan adalah menyebabkan kenaikan produktivitas. Hal ini disebabkan tidak
seorangpun yang secara fisik akan mampu melaksanakan seluruh kegiatan dalam
tugas-tugas yang paling rumit. Pekerjaan yang paling rumit memerlukan beberapa
langkah dan memerlukan pembagian langkah-langkah yang perlu dilakukan oleh
beberapa orang. Pembagian kerja yang dispesialisasikan seperti ini memungkinkan
orang mempelajari keterampilan dan menjadi pakar dalam bidang pekerjaan
tertentu.
Akan tetapi
selain manfaat yang didapat dari spesialisasi pekerjaan, adalah dampak negatif
dari spesialisasi pekerjaan. Beberapa penulis manajemen menyebutkan bahwa
spesialisasi pekerjaan akan berdampak pada demoralisasi dari
pekerjaan-pekerjaan yang menjemukan dan repetitif.
3. Struktur Organisasi
Struktur
organisasi dapat didefinisikan sebagai mekanisme-mekanisme formal dimana
organisasi dikelola. Struktur organisasi menunjukkan kerangka dan susunan
perwujudan pola tetap hubungan-hubungan di antara fungsi-fungsi, bagian-bagian
maupun orang-orang yang menunjukkan kedudukan, tugas, wewenang dan tanggung
jawab yang berbeda-beda dalam suatu organisasi.
a. Faktor-faktor
utama yang menentukan perancangan struktur organisasi adalah:
1) Strategi
organisasi untuk mencapai tujuannya.
2) Teknologi yang
digunakan
3) Anggota dan
orang-orang yang terlibat dalam organisasi
4) Ukuran
organisasi
b. Sedangkan
unsur-unsur struktur organisasi terdiri dari:
1) Spesialisasi
kegiatan berkenaan dengan spesifikasi tugas-tugas individual dalam organisasi.
2) Standarisasi
kegiatan yang digunakan organisasi untuk menjamin terlaksananya kegiatan
seperti yang direncanakan
3) Koordinasi
kegiatan yang mengintegrasikan fungsi-fungsi satuan kerja organisasi
4) Sentralisasi
dan desentralisasi pembuatan keputusan
5) Ukuran satuan
kerja menunjukkan jumlah karyawan dalam suatu kelompok kerja.
4. Bagan Organisasi
Bagan
organisasi memperlihatkan susunan fungsi-fungsi, departemen-departemen, atau
posisi-posisi organisasi dan menunjukkan hubungan di antaranya. Bagan
organisasi memperlihatkan lima aspek utama suatu struktur organisasi:
a. Pembagian
kerja.
b. Manajer dan
bawahan atau rantai perintah.
c. Tipe pekerjaan
yang dilaksanakan
d. Pengelompokkan
segmen-segmen pekerjaan
e. Tingkatan
manajemen
1) Bentuk-bentuk
bagan organisasi terdiri dari:
a) Bentuk piramid. Bentuk yang
paling banyak digunakan karena sederhana, jelas dan mudah dimengerti.
b) Bentuk vertikal. Bentuk yang
agak menyerupai bentuk piramid dalam hal pelimpahan kekuasaan dari atas ke
bawah, hanya bagan vertikal berwujud tegak sepenuhnya.
c) Bentuk
horizontal. Bagan ini digambarkan secara mendatar, aliran wewenang dan tanggung jawab
digambarkan dari kiri ke kanan.
d) Bentuk
lingkaran. Bagan ini menekankan pada hubungan antara satu jabatan dengan jabatan
lain.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kelompok
adalah sekumpulan orang orang yang terdiri
dari tiga orang atau lebih. Kelompok
memiliki hubungan yang intensif diantara satu sama lainnya, terutama kelompok primer.
Komunikasi
kelompok
adalah komunikasi
yang dilakukan oleh lebih dari dua orang,
tetapi dalam jumlah terbatas dan materi komunikasi
hanya diakes oleh kalangan kelompok tersebut.
Kelompok kecil
adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing-masing dihubungkan
oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu
diantara mereka.
B. Saran
Setelah
mengikuti perkuliahan, kami harapkan mahasiswa mampu memahami konsep dasar
konseling kelompok dalam memberikan asuhan pelayanan kebidanan.
DAFTAR PUSTAKA
Suparyanti, R. 2008. Handout Komunikasi Kelompok.
Tyastuti, dkk., 2008, Komunikasi & Konseling Dalam Praktik Kebidanan,
Yogyakarta: Fitramaya.
Wiryanto, 2004. Ilmu Komunikasi. PT Gramedia, Jakarta.
Romlah,
Tatiek. 2006. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang.
http://www.lusa.web.id/kegiatan-kelompok-sebagai-salah-satu-kegiatan-bidan/
Komentar
Posting Komentar