Makalah Crown & Bridge 1 Crown Porcelain Fused To Metal
Pada bab ini saya akan
menguraikan tentang “Prosedur Pembuatan Crown Porcelain Fused To Metal Pada
Molar Satu Rahang Bawah Dengan Implant
Sebagai Penyangga".
Persiapan
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan
adalah sebagai berikut:
|
Ø
Lekron
|
Ø
Crucible Former
|
|
Ø
Scapel
|
Ø
Clay
|
|
Ø
Lampu Spritus
|
Ø
Burn Out Machine
|
|
Ø
Bowl dan Spatula
|
Ø
Induction
Machine
|
|
Ø
Kuas
|
Ø
Pen Blaster
|
|
Ø
Spatula Porselen
|
Ø
Sandblaster
|
|
Ø
Pisau Ukir
|
Ø
High Speed
Grinder
|
|
Ø
Tisu
|
Ø
Macam – macam Mata Bur
|
|
Ø
Caliver
|
Ø
Micromotor
|
|
Ø
Arteri Clamp
|
Ø
Porcelain
Furnance
|
|
Ø
Glass Plate
|
Ø
Casting Ring
|
|
Ø
Vibrator
|
|
Bahan-bahan yang
digunakan adalah sebagai berikut:
|
Ø
Die Spacer
|
Ø
Logam Cobalt
Cromium
|
|
Ø
Hardener
|
Ø
Opaque
|
|
Ø
Blue Inlay
|
Ø
Bubuk dentin, enamel, transparan
|
|
Ø
Spritus
|
Ø
Glaze
|
|
Ø
Wax Sprue
|
Ø
Liquid Porcelain
|
|
Ø
Phospat Bonded
|
|
Prosedur
Laboratorium
Langkah pembuatan mahkota
metal porselen adalah sebagai berikut:
1. Persiapan Model
Persiapan model adalah
menerima cetakan model dari dokter gigi dengan informasi tentang perintah kerja
dalam pembuatan restorasi gigi. Biasanya tercantum dalam SPK (Surat Perintah
Kerja). Setelah menerima model dari dokter gigi, bersihkan model kerja dari
nodul-nodul sehingga dapat memudahkan dalam pembuatan PFM. Perlu diperhatikan
ketika membersihkan nodul pada model kerja dibagian cetakan implannya, karena mudah
patah.

2. Pelapisan Die Spacer
dan Hardener
Model kerja pada bagian
1/3 servikal cetakan implan dilapisi dengan menggunakan hardener agar tidak rapuh, kemudian dilapisi die spacer pada bagian cetakan implan yang bertujuan untuk memberi
jarak antara penyangga dengan coping sebagai tempat pelekatan pada saat
penyemenan oleh dokter gigi.

3. Pembuatan Pola Malam/
waxing
Setelah model dilapisi hardener dan die spacer maka bentuk pola malam dengan cara meneteskan blue inlay
wax sedikit demi sedikit pada cetakan implan. Sebelum meneteskan dengan blue
inlay wax, ulasi terlebih dahulu dengan separating medium pada bagian cetakan implan agar saat
pembentukan pola malam mudah untuk melepaskannya. Kemudian pola malam dibentuk
semestinya dengan hati-hati karena cetakan implan yang kecil.

4. Pemasangan Sprue
Tahap selanjutnya adalah
pemasangan sprue pada pola malam yang
menjadi jalan masuk logam cair kedalam mold dan berfungsi sebagai reservoir
logam waktu casting. Sprue diletakan pada bagian paling tebal dari pola malam
dan panjang sprue yaitu 6-8 mm dan tidak lebih dari 1 cm dengan diameter
2,5 mm. Sprue harus
dibuat halus dan tidak ada step agar logam cair dapat mengalir dengan baik.

5. Investing
Setelah sprue dipasang, maka pola malam
dimasukkan kedalam casting ring,jarak
pola malam dengan tepi casting ring
6 mm, pada penanaman pola
malam bahan yang digunakan adalah phospat
bonded investment dengan perbandingan antara polimer dan monomernya sesuai
dengan aturan pabrik.

6. Pembuangan Pola Malam
(Burning Out)
Setelah bahan investment setting time, crucible former dibuka,
pembuangan pola malam dilakukan dengan menggunakan alat preheating furnace atau biasa juga disebut dengan burn out furnace. Prosedur ini akan
dilakukan untuk menghilangkan wax agar menghasilkan mould space untuk dimasukkannya logam cor. Casting ring kemudian dimasukkan kedalam burn out furnace dengan temperatur awal 200
setelah itu temperatur akan dinaikkan menjadi
900

7. Casting
Casting
merupakan
pencairan logam yang kemudian akan dialirkan kedalam mould space sehingga akan mendapatkan sebuah coping logam mahkota.
Setelah pembuangan wax selesai kemudian dilakukan casting dengan menggunakan mesin induction.

8. Divesting
Divesting
merupakan
suatu proses yang dilakukan setelah casting
dan casting ring sudah tidak
panas, hasil casting dapat
dikeluarkan dari casting ring dengan
menggunakan palu.

9. Sandblasting
Sandblasting
merupakan
suatu proses untuk menghilangkan bahan tanam yang masih tersisa dicoping logam
dengan menggunakan mesin sandblasting.
10. Grinding
Tahap selanjutnya adalah grinding yaitu memotong sprue dengan menggunakan high speed grinding dan meratakan coping
logam yang masih tebal denganmenggunakan mesin micromotor.

11. Penblasting
Penblasting
merupakan
suatu proses yang dilakukan sebelum aplikasi porselen untuk memberi retensi
mekanik antara coping dan porselen sehingga terjadi perlekatan yang baik antara
logam dan porselen saat aplikasi pembuatan restorasi gigi metal porselen.

12. Aplikasi Porselen
a.
Opaque
Pelapisan opek dilakukan
dengan dua kali lapisan yang bertujuan untuk menutupi warna metal pada coping
logam. Pelapisan pertama dilakukan dengan opaque
pasta sebagai warna dasar, setelah itu dibakar kemudian lakukan pelapisan opaque kedua dengan opaque dentin dilapisi sedikit tebal agar warna metal coping logam
lebih tertutupi. Setelah selesai pelapisan maka bakar opaque dengan mesin porcelain
furnace.

13. Aplikasi Body
Porcelain
Setelah pelapisan opaque pertama dan kedua maka tahap
selanjutnya adalah pembentukan body porselen. Awal pertama pembentukan dengan
melapisi coping logam pada bagian cervical
margin agar pada bagian cervical tidak
terlihat warna metal. Cervical merupakan
salah satu bagian penting yang harus diperhatikan dalam estetika. Setelah
melapisi pada bagian cervical maka
langsung dilapisi dentine pada bagian
seluruh gigi bentuk sesuai dengan anatom gigi, jangan terlalu tebal dalam
melapisi dentine karena untuk ruangan lapisan enamel dan transparan. Setelah
itu tambahkan enamel sebagai efek natural kemudian tambahkan transparant
disepertiga incisal gigi tengan atau pada cusp gigi dan bentuk sesuai dengan
anatomi gigi molar satu rahang bawah. Pada pelapisan cervical margin, dentine,
enamel dan transparant dilakukan
secara sekaligus kemudian dibentuk dan dibakar dengan mesin porcelain furnace.

14 Finishing
Pada tahap ini setelah
porselen selesai dibakar dan suhu gigi porselen sudah dingin kemudian dilakukan:
carving/grinding untuk memperbaiki
bentuk dan menghaluskan bagian-bagian yang kasar dengan menggunakan green stone,diamond stone,macam-macam diamond bar dan articulating paper. Setelah
restorasi terbentuk maka dilakukan glazing
agar warna keramik mengkilap mirip seperti gigi asli dan sesuai dengan
instruksi dokter gigi. Setelah selesaikan metal/colar yang terlihat pada bagian
servical dipoles dengan baham poles.

Simpulan
Adapun kesimpulannya
yaitu;
1. Manfaat implan gigi
sebagai penyangga gigi tiruan adalah dapat menjadi fondasi yang kuat serta
kokoh, dalam jangka panjang implan gigi mempunyai waktu yang lebih lama dari
pada restorasi gigi alami. Menjaga jaringan gigi alami dengan menghindari
dipreparasinya gigi alami, mengurangi resobsinya tulang alveolar, dan
mengurangi beban dari struktur oral atau gigi yang masih sisa.
2. Indikasi pemakaian
implan sebagai penyangga pada gigi tiruan adalah pasien yang menolak gigi
aslinya untuk diasah dalam pembuatan jembatandan mahkota, Refleks muntah
terhadap pemakaian gigi tiruan lepasan dan penderita yang memerlukan jembatan
dengan bentangan yang panjang.
3. Prosedur pembuatan crown porcelain fused to metal pada gigi
molar saturahang bawah ini sama dengan pembuatan PFM seperti biasanya namun ada
perbedaan dalam gigi yang menjadi penyangganya yaitu diganti dengan implan.
4. Dalam pembuatan crown porcelain fused to metal dengan
implan sebagai penyangga terdapat dua teknik yaitu teknik direct dimana model kerja sudah terdapat cetakan implan, sehingga
tekniker tinggal melanjutkan untuk pembuatan suatu restorasi, dan teknik indirect dimana model kerja membutuhkan
implan analog sebagai panduan dalam pembuatan restorasi gigi tiruan.
Saran
1. Melihat perkembangan
ilmu dalam bidang kedokteran gigi saat ini, perbaikan gigi yang hilang dengan
implan gigi yang dibuatkan suatu restorasi gigi tiruan cekat, tekniker bisa
memanfaatkannya dengan baik sehingga bisa menambah wawasan dan keterampilan tekniker
dalam pembuatan gigi tiruan cekat dengan implan sebaga dukungan.
2. Sebaiknya teknisi gigi
memiliki pendidikan, dan keterampilan yang baik dalam pembuatan gigi tiruan
mahkota seperti pembutan crown porcelain
fused to metal dengan implan sebaga penyangga.
3. Perlu diperhatikan
bagi tekniker ketika dalam prosedur pembuatan suatu restorasi implan, teknisi
gigi haruslah cermat, teliti, disiplin, bersih, dan tepat waktu.
4. Perlunya ketersediaan
alat dan bahan yang memadai dalam pembuatan gigi tiruan mahkota dilaboratorium.
5.Teknisi gigi perlu
menjalin komunikasi dengan baik antara dokter gigi, dan teknisi lainnya agar
pekerjaan menjadi lebih mudah dan menghasilkan gigi tiruan yang baik dan nyaman
untuk pasien.
Makalah
Crown
& Bridge 1
Crown
Porcelain Fused To Metal
Pada
Molar Satu Rahang Bawah Dengan Implant
Sebagai Penyangga

Dosen
: drg. Sri Wahyuni, M.pd
Disusun
Oleh :
Nama
: Della Anggeraini
Nim
: 1712401038
Jurusan
Teknik Gigi Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang
Tahun
2018
DAFTAR
PUSTAKA
AAID
(American Academy Of Implant Dentistry), 2006.
Tersedia (http://www.aaid-implant.org,
[24 Mei 2016]).
Baum,Lylod,Philips;dkk.1997.
Buku ajar Ilmu Konversi Gigi.
Diterjemahkan oleh Rasinta Tarigan. EGC. Jakarta.445 hlm.
Chice,
Gerard J. Pinault, Alain, 1995, Mahkota
Keramik: suatu prosedur klinis dan estetik. Diterjemahkan oleh Lilian Yuwono, Widya
Medika, Jakarta: 15 hlm.
Cranin
A.Norman. 1999. Atlas Of Oral implantologi.
St.Louis:Mosby.Ine
Strauman,
Basic Information On The Prosthetic Procedures. ITI
(International Team For Implantologi). Tersedia
(www.straumann.com
[16-05-2016.14.18]). 150 hlm
Komentar
Posting Komentar