LAPORAN PENDAHULUAN KESEHATAN TBC
PRODI DIII KEPERAWATAN TANJUNG
KARANG
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
Kampus:
Jl. Soekarno Hatta No. 1 Bandar Lampung Telp/Fax: (0721) 703580
LAPORAN PENDAHULUAN
PROMOSI KESEHATAN TBC
Nama
Mahasiswa ` : Firdha Khusnul Khotimah
Tingkat/Semester/Kelas : 2/4/Reguler 1
Tempat
Praktik : RSUD Abdul
Moeloek
A.
Latar Belakang
Tuberculosis
(TBC) adalah penyakit lama, namun sampai saat ini masih belum bisa dimusnahkan.
Jika dilihat secara global, TBC membunuh 2 juta penduduk dunia setiap tahunnya,
dimana angka ini melebihi penyakit infeksi lainnya. Bahkan Indonesia adalah
Negara terbesar ketiga dengan jumlah pasien TBC terbanyak didunia setelah cina
dan india. Sulit memusnahkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Myobacterium
tuberculosis ini disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah munculnya
bakteri yang resisten terhadap obat yang digunakan. Karena itu, upaya penemuan
obat bar uterus dilakukan.
B.
Rencana Promosi Kesehatan
1. Tujuan umum
Setelah dilakukan pelatihan tentang
TBC klien beserta keluarganya dapat memahami mengenai pentingnya menjaga
kesehatan keluarga.
2. Tujuan khusus
Setelah dilakukan pelatihan tentang TBC diharapkan keluarga
Ny. S dapat:
a. Menjelaskan kembali pengertian TBC
b. Menyebutkan penyebab TBC
c. Menyebutkan tanda dan gejala TBC
d. Menjelaskan cara penanganan TBC
e. Menjelaskan cara pencegahan TBC
C.
Rancangan Kegiatan
1.
Topik : Demam Berdarah Dengue (DBD)
2.
Metode : a) Ceramah
a)
Tanya Jawab
3.
Tempat :
Ruang penyakit menular wanita
4.
Waktu :
60 menit
D.
Evaluasi
1. Struktur
a. Ruang kondusif untuk kegiatan
b. Peralatan memadai dan berfungsi
c. Media dan materi tersedia dan
memadai
d. SDM memadai
2. Proses
a. Ketepatan waktu pelaksanaan
b. Peran serta aktif klien
c. Penyampaian penyaji materi promosi kesehatan
oleh penyaji
d. Faktor pendukung dan penghambat
kegiatan
3. Hasil terkait dengan tujuan yang
ingin dicapai :
a. Penyaji mengajukan beberapa
pertanyaan secara langsung kepada klien tentang materi yang dijelaskan.
b. Bila klien dapat menjawab >60%
dari pertanyaan yang diajukan, maka dikategorikan pengetahuan baik.
E.
Materi : TBC
1. Pengertian TBC
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu
penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa.
Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu
lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru
dibandingkan bagian lain tubuh manusia.
TBC atau dikenal juga dengan
Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh basil tahan asam disingkat BTA,
nama lengkapnya Mycobacterium tuberculosis. Penyakit
ini pada umumnya menyerang paru-paru, namun terkadang juga dapat menyerang
organ lain seperti ginjal, tulang, limpa, dan otak.
Tuberculosis
berasal dari bahasa Latin “Tuberkel” yang artinya tonjolan kecil dan
keras yang terbentuk sewaktu sistem kekebalan tubuh membangun dinding pengaman
untuk membungkus bakteri Mycobacterium tuberculosis di dalam paru-paru.
2. Penularan TBC
Tuberculosis
ditularkan melalui droplet (percikan dahak) atau titik-titik air dari bersin
atau batuk dari orang yang terinfeksi kuman tuberkulosis, Bakteri TBC terhisap
melalui saluran pernapasan masuk ke dalam paru, kemudian bakteri masuk lagi ke
saluran limfe paru dan dari ini bakteri TBC menyebar ke seluruh tubuh melalui
aliran darah. Melalui aliran darah inilah bakteri TBC menyebar ke berbagai
organ tubuh. Anak-anak sering mendapatkan penularan dari orang dewasa di
sekitar rumah maupun saat berada di fasilitas umum seperti kendaraan umum,
rumah sakit dan dari lingkungan sekitar rumah.
3.
Penyebab TBC
Seperti yang telah
dijelaskan di atas, Tuberculosis disebabkan oleh Basil Tahan Asam,
Mycobacterium tuberculosis. Di dalam jaringan tubuh, bakteri Mycobacterium
tuberculosis berada dalam keadaan dormant, yaitu tidak aktif atau tertidur
dalam waktu beberapa tahun. Mycobacterium tuberculosis akan mati dengan cepat
jika terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup selama
beberapa jam bila berada di tempat yang gelap dan lembab.
4. Tanda dan Gejala
Gejala
penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul
sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas
terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara
klinik.
1. Gejala
sistemik/umum
1) Demam tidak terlalu tinggi yang
berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam.
Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
2) Penurunan nafsu makan dan berat
badan.
3) Batuk-batuk selama lebih dari 3
minggu (dapat disertai dengan darah). Darah yang
dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau
bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat
banyak. Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya
batuk darah tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
4) Sesak Napas: Gejala ini
ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang
menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
5) Nyeri Dada: Nyeri dada pada
TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem
persarafan di pleura terkena.
6) Perasaan tidak enak (malaise),
lemah.
2. Gejala
khusus
1) Tergantung dari organ tubuh mana
yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke
paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan
menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
2) Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus
paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
3) Bila mengenai tulang, maka akan
terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk
saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan
nanah.
4) Pada anak-anak dapat mengenai otak
(lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang
selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan
kejang-kejang.
Pada
pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui
adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak
dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif.
Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru
dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan
serologi/darah.
5. Pengobatan
TBC
Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk
mengobati juga mencegah kematian, mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap
OAT serta memutuskan mata rantai penularan.
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase
intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan
terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang digunakan
sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin
dan Etambutol. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin, Kuinolon, Makrolide
dan Amoksisilin + Asam Klavulanat, derivat Rifampisin/INH.
Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus
terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil
pemeriksaan bakteriologik, hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Di
samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal
sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang
direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu:
a. Adanya komitmen
politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB.
b. Diagnosis TB
melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan
penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan
di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut.
c. Pengobatan TB
dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas
Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum
obat setiap hari.
d. Kesinambungan
ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup.
e. Pencatatan dan
pelaporan yang baku.
6. Cara Pencegahan
Berkaitan
dengan perjalanan alamiah dan peranan Agent, Hostdan
Lingkungan dari TBC, maka tahapan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
1. Pencegahan
Primer
Dengan
promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling efektif, walaupun
hanya mengandung tujuan pengukuran umum dan mempertahankan standar kesehatan
sebelumnya yang sudah tinggi.
Proteksi
spesifik dengan tujuan pencegahan TBC yang meliputi ; (1) Imunisasi
Aktif, melalui vaksinasi BCG secara nasional dan internasional pada daerah
dengan angka kejadian tinggi dan orang tua penderita atau beresiko tinggi
dengan nilai proteksi yang tidak absolut dan tergantung Host tambahan
dan lingkungan, (2) Chemoprophylaxis, obat anti TBC yang dinilai
terbukti ketika kontak dijalankan dan tetap harus dikombinasikan dengan
pasteurisasi produk ternak, (3) Pengontrolan Faktor Prediposisi, yang mengacu
pada pencegahan dan pengobatan diabetes, silicosis, malnutrisi, sakit kronis
dan mental.
2. Pencegahan
Sekunder
Dengan
diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan kasus TBC yang
timbul dengan 3 komponen utama ; Agent, Host dan
Lingkungan.
Kontrol
pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan aplikasi modern kemoterapi
spesifik, walau terasa berat baik dari finansial, materi maupun tenaga. Metode
tidak langsung dapat dilakukan dengan indikator anak yang terinfeksi TBC
sebagai pusat, sehingga pengobatan dini dapat diberikan. Selain itu,
pengetahuan tentang resistensi obat dan gejala infeksi juga penting untuk
seleksi dari petunjuk yang paling efektif.
Langkah
kontrol kejadian kontak adalah untuk memutuskan rantai infeksi TBC, dengan
imunisasi TBC negatif dan Chemoprophylaxis pada TBC
positif. Kontrol lingkungan dengan membatasi penyebaran penyakit,
disinfeksi dan cermat mengungkapkan investigasi epidemiologi, sehingga
ditemukan bahwa kontaminasi lingkungan memegang peranan terhadap epidemi
TBC. Melalui usaha pembatasan ketidakmampuan untuk membatasi kasus baru
harus dilanjutkan, dengan istirahat dan menghindari tekanan psikis.
3. Pencegahan
Tersier
Rehabilitasi
merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan diagnosis kasus
berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara psikis,
rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien, kemudian
rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya, pelayanan
kesehatan kembali dan penggunaan media pendidikan untuk mengurangi cacat sosial
dari TBC, serta penegasan perlunya rehabilitasi.
Pencegahan
TBC bisa juga berupa :
a. Makan makanan yang
baik dengan gizi yang seimbang.
b. Olahraga teratur.
c. Istirahat yang
cukup.
d. Mengkonsumsi
multivitamin yang membantu menjaga daya tahan tubuh.
e. Biasakan mencuci
tangan.
f. Berhenti merokok,
hindari minum minuman beralkohol, dan obat bius atau penenang.
g. Mengatur sistem
sirkulasi udara di rumah.
h. Membiarkan jendela
terbuka agar sinar matahari dapat masuk.
i. Menggunakan masker
saat kontak atau berada di dalam suatu ruangan dengan penderita TBC.
j. Pemberian vaksin
BCG ( Bacille Calmette-Guerin )
F.
Daftar Pustaka
Laban, Yoannes Y. 2007. TBC:
Penyakit & Cara Pencegahan.Yogyakarta: Kanisius
Misnadiarly. 2007. Mengenal,
Mencegah, Menanggulangi TBC. Semarang: Yayasan Obor Indonesia
Soedarto. 2009. Penyakit
Menular di Indonesia. Jakarta: Sagung Seto
Widiyanto, Sentot. 2009. Mengenal
10 Penyakit Mematikan. Yogyakarta: PT Pustaka Insan Madani
Bandar Lampung, 8 Maret 2019
Pengesahan
Pembimbing
Ketua Pelaksana
(Tumiur Sormin, S.Kp.,M.Kes) (Firdha Khusnul Khotimah)
PRODI DIII KEPERAWATAN TANJUNG
KARANG
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
Kampus:
Jl. Soekarno Hatta No. 1 Bandar Lampung Telp/Fax: (0721) 703580
SAP (Satuan Acara Penyuluhan)
Pokok
Bahasan/Topik : Tuberculosis
(TBC)
Sub
Pokok Bahasan : Menjaga
kesehatan keluarga yang terserang TBC
Sasaran : Keluarga
Ny.S
Hari
/Tanggal : Rabu/13
Maret 2019
Tempat : Ruang Penyakit Menular Wanita
A.
Latar Belakang
Tuberculosis
(TBC) adalah penyakit lama, namun sampai saat ini masih belum bisa dimusnahkan.
Jika dilihat secara global, TBC membunuh 2 juta penduduk dunia setiap tahunnya,
dimana angka ini melebihi penyakit infeksi lainnya. Bahkan Indonesia adalah
Negara terbesar ketiga dengan jumlah pasien TBC terbanyak didunia setelah cina
dan india. Sulit memusnahkan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Myobacterium
tuberculosis ini disebabkan oleh beberapa hal. Diantaranya adalah munculnya
bakteri yang resisten terhadap obat yang digunakan. Karena itu, upaya penemuan
obat bar uterus dilakukan.
B.
Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah dilakukan pelatihan tentang
TBC klien beserta keluarganya dapat memahami mengenai pentingnya menjaga
kesehatan keluarga.
2. Tujuan khusus
Setelah dilakukan pelatihan tentang TBC diharapkan keluarga
Ny. S dapat:
a. Menjelaskan kembali pengertian TBC
b. Menyebutkan penyebab TBC
c. Menyebutkan tanda dan gejala TBC
d. Menjelaskan cara penanganan TBC
e. Menjelaskan cara pencegahan TBC
C.
Materi
1. Pengertian TBC
2. Penularan TBC
3. Penyebab TBC
4. Tanda dan gejala DBD
5. Pencegahan penyakit TBC
D.
Strategi Pelaksanaan
1. Persiapan :
a. Survey karakter dan lokasi sasaran
b. Koordinasi dengan penanggung jawab
ruang perawatan/pembimbing
c. Menyiapkan alat dan bahan
2. Pelaksanaan :
|
Kegiatan
|
Waktu
|
Respon
Penghuni
|
|
Pembukaan
a) Memberikan
salam
b) Memperkenalkan
diri
c) Menjelaskan
tujuan
d) Memberikan
kesempatan untuk bertanya
|
5
menit
|
a) Menjawab
salam
b) Mendengarkan
c) Mendengarkan
d) Bertanya
|
|
Kegiatan
Inti
a) Melakukan
apersepsi
b) Menjelaskan
pengertian tentangTBC
c) Menjelaskan
penyebab TBC
d) Menyebutkan
tanda dan gejala TBC
e) Menjelaskan
cara penanganan TBC
f) Menjelaskan
pencegahan TBC
g) Memberikan
kesempatan penghuni untuk bertanya
|
15
menit
|
a) Menjawab
b) Mendengarkan
c) Bertanya
|
|
Penutup
a) Melakukan
evaluasi
b) Memberikanreinforcement
c) Menyimpulkan
kegiatan
d) Salam
penutup
|
10
menit
|
a) Menjawab
b) Mendengarkan
c) Menyimpulkan
bersama
d) Menjawab
salam
|
E.
Metode
Metode yang digunakan dalam
penyuluhan ini adalah :
1. Ceramah
2. Tanya jawab
F.
Media
Alat dan bahan peraga :
1. Leaflet
2. Lembar balik
G.
Evaluasi
1. Struktur
a) Ruang kondusif untuk kegiatan
b) Peralatan memadai dan berfungsi
c) Media dan materi tersedia dan
memadai
d) SDM memadai
2. Proses
a) Ketepatan waktu pelaksanaan
b) Peran serta aktif klien
c) Penyampaian penyaji materi promosi
kesehatan oleh penyaji
d) Factor pendukung dan penghambat
kegiatan
3. Hasil terkait dengan tujuan yang
ingin dicapai :
a) Penyaji mengajukan beberapa
pertanyaan secara langsung kepada klien tentang materi yang dijelaskan
b) Bila klien dapat menjawab >60%
dari pertanyaan yang diajukan, maka dikategorikan pengetahuan baik.
H.
Daftar Pustaka
Laban,
Yoannes Y. 2007. TBC: Penyakit & Cara Pencegahan.Yogyakarta:
Kanisius
Misnadiarly.
2007. Mengenal, Mencegah, Menanggulangi TBC. Semarang: Yayasan Obor
Indonesia
Soedarto.
2009. Penyakit Menular di Indonesia. Jakarta: Sagung Seto
Widiyanto,
Sentot. 2009. Mengenal 10 Penyakit Mematikan. Yogyakarta: PT
Pustaka Insan Madani
I.
LAMPIRAN MATERI : TBC
1.
Pengertian TBC
Tuberkulosis (TBC atau TB) adalah suatu
penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa.
Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu
lama untuk mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru
dibandingkan bagian lain tubuh manusia.
TBC atau dikenal juga dengan
Tuberkulosis adalah infeksi yang disebabkan oleh basil tahan asam disingkat
BTA, nama lengkapnya Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini pada umumnya menyerang paru-paru, namun terkadang juga
dapat menyerang organ lain seperti ginjal, tulang, limpa, dan otak.
Tuberculosis
berasal dari bahasa Latin “Tuberkel” yang artinya tonjolan kecil dan
keras yang terbentuk sewaktu sistem kekebalan tubuh membangun dinding pengaman
untuk membungkus bakteri Mycobacterium tuberculosis di dalam paru-paru.
2.
Penularan TBC
Tuberculosis
ditularkan melalui droplet (percikan dahak) atau titik-titik air dari bersin
atau batuk dari orang yang terinfeksi kuman tuberkulosis, Bakteri TBC terhisap
melalui saluran pernapasan masuk ke dalam paru, kemudian bakteri masuk lagi ke
saluran limfe paru dan dari ini bakteri TBC menyebar ke seluruh tubuh melalui
aliran darah. Melalui aliran darah inilah bakteri TBC menyebar ke berbagai
organ tubuh. Anak-anak sering mendapatkan penularan dari orang dewasa di
sekitar rumah maupun saat berada di fasilitas umum seperti kendaraan umum,
rumah sakit dan dari lingkungan sekitar rumah.
3.
Penyebab TBC
Seperti yang telah
dijelaskan di atas, Tuberculosis disebabkan oleh Basil Tahan Asam,
Mycobacterium tuberculosis. Di dalam jaringan tubuh, bakteri Mycobacterium
tuberculosis berada dalam keadaan dormant, yaitu tidak aktif atau tertidur
dalam waktu beberapa tahun. Mycobacterium tuberculosis akan mati dengan cepat
jika terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup selama
beberapa jam bila berada di tempat yang gelap dan lembab.
4.
Tanda dan Gejala
Gejala
penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang timbul
sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas
terutama pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara
klinik.
a. Gejala
sistemik/umum
1) Demam tidak terlalu tinggi yang
berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam.
Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
2) Penurunan nafsu makan dan berat
badan.
3) Batuk-batuk selama lebih dari 3
minggu (dapat disertai dengan darah). Darah yang
dikeluarkan dalam dahak bervariasi, mungkin tampak berupa garis atau
bercak-bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak.
Batuk darak terjadi karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah
tergantung dari besar kecilnya pembuluh darah yang pecah.
4) Sesak Napas: Gejala ini
ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal-hal yang
menyertai seperti efusi pleura, pneumothorax, anemia dan lain-lain.
5) Nyeri Dada: Nyeri dada pada
TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. Gejala ini timbul apabila sistem
persarafan di pleura terkena.
6) Perasaan tidak enak (malaise),
lemah.
b. Gejala
khusus
1) Tergantung dari organ tubuh mana
yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke
paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan
menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
2) Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus
paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
3) Bila mengenai tulang, maka akan
terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk
saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan
nanah.
4) Pada anak-anak dapat mengenai otak
(lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang
selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan
kejang-kejang.
Pada
pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau diketahui
adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak
dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif.
Pada anak usia 3 bulan – 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru
dewasa dengan BTA positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan
serologi/darah.
5.
Pengobatan TBC
Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk
mengobati juga mencegah kematian, mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap
OAT serta memutuskan mata rantai penularan.
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase
intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan
terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang digunakan
sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin
dan Etambutol. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin, Kuinolon, Makrolide
dan Amoksisilin + Asam Klavulanat, derivat Rifampisin/INH.
Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus
terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil
pemeriksaan bakteriologik, hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Di
samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal
sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang
direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu:
a. Adanya komitmen
politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB.
b. Diagnosis TB
melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan
penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat dilaksanakan
di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut.
c. Pengobatan TB
dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan langsung oleh Pengawas
Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum
obat setiap hari.
d. Kesinambungan
ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup.
e. Pencatatan dan
pelaporan yang baku.
6. Cara Pencegahan
Berkaitan
dengan perjalanan alamiah dan peranan Agent, Hostdan
Lingkungan dari TBC, maka tahapan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain :
d. Pencegahan
Primer
Dengan
promosi kesehatan sebagai salah satu pencegahan TBC paling efektif, walaupun
hanya mengandung tujuan pengukuran umum dan mempertahankan standar kesehatan
sebelumnya yang sudah tinggi.
Proteksi
spesifik dengan tujuan pencegahan TBC yang meliputi ; (1) Imunisasi
Aktif, melalui vaksinasi BCG secara nasional dan internasional pada daerah
dengan angka kejadian tinggi dan orang tua penderita atau beresiko tinggi
dengan nilai proteksi yang tidak absolut dan tergantung Host tambahan
dan lingkungan, (2) Chemoprophylaxis, obat anti TBC yang dinilai
terbukti ketika kontak dijalankan dan tetap harus dikombinasikan dengan
pasteurisasi produk ternak, (3) Pengontrolan Faktor Prediposisi, yang mengacu
pada pencegahan dan pengobatan diabetes, silicosis, malnutrisi, sakit kronis
dan mental.
e. Pencegahan
Sekunder
Dengan
diagnosis dan pengobatan secara dini sebagai dasar pengontrolan kasus TBC yang timbul
dengan 3 komponen utama ; Agent, Host dan
Lingkungan.
Kontrol
pasien dengan deteksi dini penting untuk kesuksesan aplikasi modern kemoterapi
spesifik, walau terasa berat baik dari finansial, materi maupun tenaga. Metode
tidak langsung dapat dilakukan dengan indikator anak yang terinfeksi TBC
sebagai pusat, sehingga pengobatan dini dapat diberikan. Selain itu,
pengetahuan tentang resistensi obat dan gejala infeksi juga penting untuk
seleksi dari petunjuk yang paling efektif.
Langkah
kontrol kejadian kontak adalah untuk memutuskan rantai infeksi TBC, dengan
imunisasi TBC negatif dan Chemoprophylaxis pada TBC
positif. Kontrol lingkungan dengan membatasi penyebaran penyakit,
disinfeksi dan cermat mengungkapkan investigasi epidemiologi, sehingga ditemukan
bahwa kontaminasi lingkungan memegang peranan terhadap epidemi
TBC. Melalui usaha pembatasan ketidakmampuan untuk membatasi kasus baru
harus dilanjutkan, dengan istirahat dan menghindari tekanan psikis.
f. Pencegahan
Tersier
Rehabilitasi
merupakan tingkatan terpenting pengontrolan TBC. Dimulai dengan diagnosis kasus
berupa trauma yang menyebabkan usaha penyesuaian diri secara psikis,
rehabilitasi penghibur selama fase akut dan hospitalisasi awal pasien, kemudian
rehabilitasi pekerjaan yang tergantung situasi individu. Selanjutnya, pelayanan
kesehatan kembali dan penggunaan media pendidikan untuk mengurangi cacat sosial
dari TBC, serta penegasan perlunya rehabilitasi.
Pencegahan
TBC bisa juga berupa :
a. Makan makanan yang
baik dengan gizi yang seimbang.
b. Olahraga teratur.
c. Istirahat yang
cukup.
d. Mengkonsumsi
multivitamin yang membantu menjaga daya tahan tubuh.
e. Biasakan mencuci
tangan.
f. Berhenti merokok,
hindari minum minuman beralkohol, dan obat bius atau penenang.
g. Mengatur sistem
sirkulasi udara di rumah.
h. Membiarkan jendela
terbuka agar sinar matahari dapat masuk.
i. Menggunakan masker
saat kontak atau berada di dalam suatu ruangan dengan penderita TBC.
j. Pemberian vaksin
BCG ( Bacille Calmette-Guerin )
J.
LAMPIRAN
TES LISAN
1. Apa pengertian TBC?
2. Bagaimana cara penularan TBC?
3. Apa penyebab TBC?
4. Apa saja tanda dan gejala TBC?
5. Bagaimana cara pencegahan TBC?
Komentar
Posting Komentar